Anda di halaman 1dari 4

Nyeri

bermielin, kecepatan hantar saraf 0,5-2 m/detik, membawa rasa terbakar.


Karakteristik

Nyeri cepat

Nyeri Lambat

Jenis nosiseptor

Nosiseptor mekanis dan termal

Nosiseptor Polimodal

Jenis serabut saraf

Serat A

Serat C

Sensasi nyeri

Tajam menusuk

Seperti terbakar, tumpul, pegal

Kecepatan hantaran

30 m/detik

12 m/detik

Lokasi

jelas

difus

Awitan

Segera setelah rangsangan

Setelah timbul nyeri cepat

Klasifikasi
Berdasarkan waktunya:
1. Nyeri akut:
nyeri yang umumnya terjadi pada cedera, penyakit akut, atau pembedahan
dengan awitan cepat. Dapat hilang dengan sendirinya dengan atau tanpa
tindakan setelah kerusakan jaringan sembuh.
2. Nyeri kronis:
nyeri yang umumnya timbul tidak teratur, intermiten, atau bahkan persisten.
Berdasarkan lokasi:
1. Nyeri superfisial
Nyeri yg timbul akibat adanya stimulasi terhadap kulit, seperti laserasi, luka
bakar dll.
Sifat: sensasi nyeri tajam, durasi pendek dan terlokalisir.
2. Nyeri somatic
Nyeri pada otot, tulang atau struktur penyokong.
Sifat: sensasi nyeri tumpul, stimulasi bias terjadi akibat peregangan dan
iskemia.
3. Nyeri visceral

Nyeri pada organ internal.


Sifat: sensasi nyeri tumpul, dengan durasi lama.
4. Nyeri sebar
Nyeri yg meluas dari daerah asal ke jaringan sekitar. Nyeri ini biasanya
intermiten/konstan.
5. Nyeri fantom
Perasaan nyeri pada organ yg telah diamputasi.
6. Nyeri alih
Akibat nyeri viseral yg menyebar ke organ lain sesuai dermatom, sehingga
dirasakan nyeri pada beberapa tempat.

Berdasarkan organ
1.

Nyeri akibat rangsangan (aktivitas abnormal) pada sistem saraf

nyeri neuropatik.
2.

Nyeri akibat kerusakan jaringan tubuh akibat trauma atau penyakit


seperti kulit, otot, tendon, sendi, organ dalam nyeri nociceptive.

3.

Nyeri akibat proses psikologik yang mendasarinya atau akibat


pengaruh tekanan lingkungan nyeri psikologik.

Patofisiologi
1. Transduksi merupakan proses perubahan rangsang nyeri menjadi suatu
aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf. Rangsang ini dapat
berupa stimulasi fisik, kimia, ataupun panas. Dan dapat terjadi di seluruh
jalur nyeri.
2. Transmisi proses penyaluran impuls listrik yang dihasilkan oleh proses
transduksi sepanjang jalur nyeri, dimana molekul molekul di celah sinaptik
mentransmisi informasi dari satu neuron ke neuron berikutnya
3. Modulasi proses modifikasi terhadap rangsang. Modifikasi ini dapat
terjadi pada sepanjang titik dari sejak transmisi pertama sampai ke korteks

serebri. Modifikasi ini dapat berupa augmentasi (peningkatan) ataupun


inhibisi (penghambatan).
4. Persepsi proses terakhir saat stimulasi tersebut sudah mencapai korteks
sehingga mencapai tingkat kesadaran, selanjutnya diterjemahkan dan
ditindaklanjuti berupa tanggapan terhadap nyeri tlersebut.
Respon Nyeri
Psikologis
Fisiologis
Simpatik: RR>>, HR>>, gula darah >>, dilatasi pupil
Parasimpatik : pucat, nausea, vomitus
Tingkah laku

Nyeri pada organ urogenital


Nyeri ginjal
Akibat regangan kapsul ginjal, contohnya pada penyakit pielonefritis akut yang
mengakibatkan edema dan obstruksi saluran kemih atau tumor ginjal.
Nyeri Kolik
Akibat spasme otot polos ureter karena gerakan peristaltiknya terhambat oleh
batu, bekuan darah atau benda asing lain.
Sifat: sangat sakit, dan terasa hilang timbul, letak nyeri berada di sudut kostovertebra
kearah dinding depan abdomen hingga regio inguinal. Nyeri bias sampai diikuti
keluhan mual dan muntah.
Nyeri vesika
Nyeri pada daerah suprasimfisis dengan sensasi tidak nyaman di suprapubis, ini
dakibatkan oleh overdistensi vesica urinaria atau inflamasi pada vesica urinaria.
Nyeri Prostat
Nyeri karena inflamasi pada kelenjar prostat dan distensi kapsul prostat lokasi
nyeri sulit ditentukan, biasanya di abdomen bawah, inguinal, perineal, lumbosacral

atau nyeri rectum. Nyeri prostat sering diikuti keluhan miksi yaitu, frekuensinya,
dysuria hingga retensi urin.
Nyeri testis
Nyeri pada daerah kantong skrotum yang dapat berasal dari kelainan organ di
kantong skrotum (primer) atau berasal dari luar kantong skrotum.
Nyeri Penis
Nyeri saat flaksid merupakan nyeri alih yang diakibatkan inflamasi pada mukosa
vesika urinaria atau uretra, terutama di meatus uretra eksternum. Selain itu dapat pula
dikarenakan oleh parafimosis atau radang prepusium yang terasa pada ujung penis.
Nyeri saat ereksi krn syndrome peyronie atau priapismus. Syndrome peyronie
merupakan kelainan karena terdapatnya plak jaringan fibrotic yang teraba pada tunika
albuginea korpus kavernosum penis sehingga terasa nyeri dan bending saat ereksi.
Sedangkan syndrome priapismus dikarenakan ereksi terus menerus tanpa diikuti
dengan ereksi glans serta tanpa hasrat seksual dan sangat nyeri.
Referensi:
1.
2.
3.
4.

Buku ajar Fisiologi Guyton and hill


Fisiologi manusia dari sel ke sistem lauralee Sherwood
Urologi basuki
Repository.usu.co.id