Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI HEWAN AIR

PENGINDRAAN

NAMA

STAMBUK

:JIHAN AMANDA

KELOMPOK

: L211 14 310
: VIII (DELAPAN)

HARI/TANGGAL
ASISTEN

: RABU, 24 MARET 2016


: 1..,AMRIANA
2. NURI SAKINATUN NUFUS
3
.

H
A
S
T
R
I
Y
A
N
T
I
S
A
L
A
M

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN AIR


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
I. PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang


Fisiologi ikan dapat didefinisikan sebagai
ilmu yang mempelajari fungsi dan kegiatan
kehidupan zat hidup (organ, jaringan, dan sel)
dan fenomena fisika dan kimia yang
mempengaruhi seluruh proses kehidupan ikan.
Fisiologi mencoba menerangkan factor-faktor
fisik dan kimia yang bertanggung jawab akan
asal, perkembangan dan gerak maju kehidupan.
Tiap-tiap jenis kehidupan, mulai dari mahluk
sederhana seperti virus yang bersel satu sampai
manusia yang mempunyai susunan sel yang
lebih rumit. Mempunyai sifat-sifat fungsional
tersendiri. Oleh karena luasnya bidang fisiologi
maka dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih
khusus antara lain : fisiologi virus, fisiologi
bakteri, fisiologi bakteri, fisiologi tumbuhan,
fisiologi ikan, dan sebagainya. Salah satu bagian
dari fisiologi ikan sendiri yaitu pengindraan ikan
yang terdiri atas organ untuk mengetahui suatu
obyek (Fujaya,2008).
Pengindraan
adalah
upaya
untuk
mengetahui suatu objek dengan menggunakan
organ sensor baik secara alamiah maupun
buatan. Ikan memiliki indra penglihatan, indra
pendengaran, dan indra pembau. Ikan juga
memiliki indra khas yang digunakan untuk
melindungi dirinya, yaitu indra arus listrik dan
dapat merasakan getaran. Ikan merasakan
getaran dengan frekuensi sangat rendah dan

perubahan tekanan dibawah air. Hal itu terjadi


karena berkumpulnya saraf dalam suatu garis
yang terletak diantara punggung dan perutnya
yang disebut gurat sisi. Garis saraf tersebut
merupakan
organ
keseimbangan
untuk
mengetahui kedalaman air, arah gerak, dan
membaca
arah
arus
sehinggah
dapat
menyesuaikan diri (Djawad et all., 2016).
Sistem indera memerlukan bantuan system
saraf yang menghubungkan badan indera
dengan system saraf pusat. Organ indera ialah
sel-sel tertentu yang dapat menerima stimulus
dari lingkungan maupun dari dalam badan sendiri
untuk diteruskan sebagai impuls saraf melalui
serabut saraf ke pusat susunan saraf. Sistem
saraf dan sistem hormon memiliki keterkaitan
yang sangat kuat dan kerja sama secara serasi.
Misalnya, sistem saraf menerima ribuan
informasi kecil dari berbagai organ indra, seperti
suhu, salinitas, perubahan lama penyinaran
matahari (photo periodik) dan kemudian
mengintegrasikan dengan sistem endokrin untuk
mengontrol
metabolisme,
pertumbuhan,
reproduksi,
osmoregulasi
dan
lain-lain
(Burhanuddin, 2010).
Berdasarkan hal tersebut maka perlu
dilakukuan
praktikum
penginderaan
agar
mengetahui organ-organ pada ikan seperti mata
untuk penglihatan, hidung untuk penciuman,
telinga bagian dalam atau tolit berupa
pendengaran dan gurat sisi sebagai alat peraba
yang dimana diberi rangsangan dan juga bentuk
adaptasinya dalam menyeimbangkan dengan
lingkunnya. Maka dari itulah yang mendasari
perlunya ada praktikum penginderaan.
I.II Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk
mengetahui alat-alat indra dan organ sensorik
yang terdapat pada ikan serta untuk mengetahui

seberapa lama daya respon ikan sampel


menggunakan alat pengindraannya bila diberi
suatu perlakuan.
Kegunaan dari praktikum pengindraan
adalah untuk mengetahui respon organ-organ
sistem indra yang ada pada ikan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1Ikan Mas komet (Carassius auratus


auratus)

Gambar 1. Ikan Komet(Carassius auratus


auratus)(Linnaeus, 1758)
A. Klasifikasi
Klasifikasi ikan mas komet(Carassius
auratus auratus)menurut Linnaeus(1758) adalah
sebagai berikut:
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class

:Actinopterigy
Order

: Cypriniformes
Family

: Cyprinidae
Genus

: Carassius
Species
: Carassius auratus
Subspecies
: Carassius auratus auratus
B.Morfologi

Memiliki ciri-ciri bentuk tubuh pendek, mata


lebar dan besar, bersirip panjang, disisi tubuhnya
terdapat gurat sisi dan mempunyai lembaran
insang. Bentuk lubang hidung sederhana. Di

bagian hidung terdapat tunas pembau yang tidak


berhubungan dengan organ pernapasan. Telinga
tidak tampak dari luar,fungsi telinga tersebut
hanya dapat merasakan getaran dalam air. Mata
ikan mas komet umumnya berukuran besar,
kelopak matanya kecil dan tidak bisa membuka
dan menutup. Lensa mata tidak dapat
berkontraksi luas sehingga jarak pandangnya
terbatas. Dengan demikian, mata mas komet
hanya bias melihat jelas dari jarak dekat. Mas
komet memiliki sisik yang berderet rapi, mengilap
dan menutupi tubuh seperti genteng rumah.
Warnanya cukup menarik dan variatif. Umumnya
warna sisik mas komet berwarna metalik, merah,
kekuning-kuningan, kuning, hijau, hitam atau
gabungan dari warna-warna tersebut (Bachtiar,
2005).
C. Siklus Hidup
Setiap induk betina dapat menghasilan
3.000-5.000 butir telur. Telur-telur ikan mas
biasanya akan menetas setelah 3 hari (Lesmana,
D.S., 2015). Dimulai dari perkembangandi dalam
gonad (ovarium pada ikan betina yang
menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan
yang menghasilkan sperma). Sebenarnya
pemijahan ikan komet dapat terjadi sepanjang
tahun dan tidak tergantung pada musim. Sifat
telur ikan komet adalah menempel pada substrat.
Telur ikan mas berbentuk bulat, berwarna bening,
berdiameter 1,5-1,8 mm dan berbobot 0,17-0,20
mg. embrio akan tumbuh di dalam telur yang
telah dibuahi oleh spermatozoa. Antara 2-3 hari
kemudian, telur-telur akan menetas dan tumbuh
menjadi larva. Larva berubah menjadi kebul
(larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari. Setelah
2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi buryak dan
menjadi dewasa (Khairuman et all., 2008).
D.Kebiasaan Hidup

I kan mas menyukasi tempat hidup (habitat)


di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam
dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di
pinggiran sungai atau danau. Ikan mas komet
dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian
150-600 meter di atas permukaan air laut (dpl)
dan pada suhu 25-30 C
(Khaeruman et all., 2008).
Tabiat atau kebiasaan lain ikan mas di alam
adalah selalu mencari tempat yang aman
(terutama di tempat yang ditumbuhi rumput)
karena sifat telur ikan menempel (adhesif)
(Santoso, 2006).
0

E. Kebiasaan Makan
Ikan mas komet tergolong omnivore, yakni
ikan yang dapat memangsa berbagai jenis
makanan, baik yang berasal dari tumbuhan
maupun binatang renik. Namun, makanan
utamanya adalah tumbuhan dan binatang yang
terdapat di dasar dan tepi perairan (Khaeruman
et all., 2008).
Jika dasar kolam atau akuarium berpasir,
mas komet akan mengaduk-aduknya sehingga
akan berantakan dan airnya menjadi keruh
(Bachtiar, 2005).
II.2 Organ Sensorik
A. Organ Pendengaran
Pada bagian dorsal telinga dalam ikan terdiri
dari tiga saluran semi sirkular (bidang
longitudinal, lateral dan horizontal) dan masingmasing mempunyai ampulae (ruang perasa
kelembaban cairan).Bagian dorsal dilengkapi
oleh ultrikulus dan otolith ultrikularnya, yang
fungsi
utamanya
sebagai
suatu
sistem
keseimbangan
dan
detektor
gravitasi
(Burhanuddin, 2010).
B.Organ Penglihatan
Organ penglihatan berupa sepasang mata

yang berbentuk bulat dan terang untuk


membantu mendeteksi makanan dan bahaya ke
segala arah dengan jelas (Redaksi, 2008).
Secara garis besar struktur mata pada ikan
adalah sama dengan pada organisme vertebrata
lainnya, terdiri dari ruang depan, iris, lensa, ruang
vitroues yang berisikan cairan kental yang
dinamakan Vitroues humor dan dibatasi oleh
retina. Mata ikan peka terhadap cahaya. Berkas
cahaya masuk masuk kedalam mata melalui
pupil dinamakan iris (Burhanuddin, 2010).
C. Organ Penciuman
Organ penciuman pada ikan terletak pada
kantung di bagian atas moncong dan biasanya
tepat di depan mata. Kantung nasal ini tidak
dapat berhubungan langsung dengan faring
karena kantung ini hanya sebagai external
nares mempunyai bagian anterior dan posterior,
yang masing-masing terletak pada kedua sisi
kepala. Pendeteksian makanan merupakan
fungsi penciuman yang utama pada ikanikan
yang mencari makan dalam keadaan gelap atau
mencari makanan diantara material dasar dan
tumbuhan (Burhanuddin, 2010).
D. Organ Peraba / Gurat Sisi
urat sisi indra ikan yang berfungsi untuk
G
mengetahui perubahan tekanan air (
Ikan dipengaruhi oleh lingkungan kimia dan
fisika, sehingga dilengkapi organ indra, baik
pendeteksi perubahan fisika maupun perubahan
kimia lingkungan. Organ pendeteksi rangsangan
kimia pada ikan ada dua, yakni indra pembau
(olfaktori) dan pengecap (gustatori), yang
berperan serta dalam perubahan tingkah laku
terutama reproduksi dan pola makan (Fujaya,
2004).

III. METODEOLOGI

III.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Pengindraan dilaksanakan pada
hari Rabu,24 Maret 2016 pukul 11.30-13.00 WITA
di Laboratorium Fisiologi Hewan Air, Jurusan
Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
III.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada
praktikum ini dapat dilihat pada tabel 1 dan 2
sebagai berikut :
Tabel 1. Alat yang digunakan beserta fungsinya
No
Alat
Jumlah
Fungsi
1 Aquarium 1 buah Wadah air tawar
2 Termometer 1 buah Mengukur suhu air
3 Penggaris 1 buah Mengukur panjang, lebar
dan tinggi aquarium
4 Stopwatch 1 buah Menghitung waktu
5 Senter
1 buah Menguji penglihatan ikan

Tabel 2. Bahan yang digunakan beserta


fungsinya
No
Bahan
1 Ikan Komet
(Carassius auratusauratus)
2 Pakan
3 Air tawar
4 Es batu
5 Tissue

Jumlah
3 ekor

Fungsi
Sampel yang diuji

Secukupnya Menguji penciuman ikan


Secukupnya Media hidup ikan
8 buah
Menurunkan suhu air
Secukupnya Membersihkan
tempat
percobaan

III.3 Prosedur Kerja


Siapkan alat dan bahan yang akan
digunakan pada praktikum ini. Isi akuarium
dengan air tawar sampai setengah dari tinggi
akuarium. Gantung termometer pada bagian atas
akuarium. Ukur panjang, tinggi, dan lebar

akuaium untuk mengetahui berapa volume air


yang ada dalam akuarium. Setelah itu masukkan
ikan kedalam aquarium dan setiap orang
memelih satu ikan untuk diamatitingkah lakunya.
Setelah itu lakukan 4 pengujian yaitu antara lain:
A.Uji Pendengaran
Uji pendengaran dilakukan dengan cara
mengetuk salah satu sisi dari aquarium dengan
menjalankan stopwatch kemudian amati masingmasing ikan tersebut. Apa reaksi yang diberika
ikan saat mendengar suara ketukan dari salah
satu sisi aquarium.
B.Uji penglihatan
Uji penglihatan dilakukan dengan cara
mematikan lampu yang ada dalam ruangan
kemudian nyalakan senter yang diperkecil
penyebaran cahayanya dengan menutupi bagian
sisi samping senter tersebut. Setelah itu jalankan
stopwatch dan amati berapa lama waktu yang
dibutuhkan ikan untuk mendapatkan sumber
cahaya tersebut.
C.Uji penciuman
Uji penciuman dilakukan untuk mengetahui
berapa lama ikan merespon keberadaan
makanan dengan memberi sedikit makanan pada
permukaan perairan dan menunggu beberapa
menit respon dari ikan tersebut.
D.Uji gurat sisi
Uji gurat sisi dilakukan untuk mengetahui
indra peraba atau kemampuan ikan untuk
mempertahankan
keseimbangan
tubuhnya
dengan menambahkan sedikit es batu pada
aquarium dan menunggu es batu tersebut
sampai meleleh sambil mengamati tingkah laku
dari ikan tersebut.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.I Hasil
Hasil
pengamatan
dari
praktikum
penginderaan ikan mas komet (carassius
auratus-auratus) dapat dilihat pada tabel 3
dibawah ini:
Tabel 3. Hasil pengamatan pada ikan komet
(carassius auratus-auratus):
Uji Penginderaan Ikan ke-n Respon Ikan
Uji pendengaran Ikan 1
Ikan 1 pada waktu 10 detik
merespon dengan mendekati arah
ketukan.
Ikan 2
Ikan 2 merespon ketukaan pada
waktu1 detik.
Ikan 3
Ikan 3 merespon ketukan pada
waktu 1 detik.
Uji penglihatan
Ikan 1
Ikan 1 menuju sumber cahaya pada
waktu 6 menit 19 detik.
Ikan 2
Ikan 2 merespon sangat cepat
dengan waktu 8 detik.
Ikan 3
Ikan 3 menuju sumber cahaya pada
waktu 6 menit 19 detik.
Uji penciuman
Ikan 1
Ikan 1 memakan pakan pada aktu 5
menit 15 detik.
Ikan 2
Ikan 2 memakan pakan pada aktu 5
menit 15 detik.
Ikan 3
Ikan 3 memakan pakan dengan
cepat pada waktu 1 menit 59 detik.
Uji gurat sisi
Ikan 1
Suhu
awal
air
sebelum
dimasukkannya es batu adalah
290C, dan setelah dimasukkan
kedalam aquarium dan dibiarkan
meleleh, suhu menurun hingga 210C.
Dan ikan 1 mulai terlihat lemas
dengan perubahan suhu yang cepat
dan pergerakannya pasif.
Ikan 2
Ikan 2 terlihat lemas namun masih
dapat merespon jika sisi aquarium di
ketuk dan pergerakannya pasif.
Ikan 3
Terlihat agak lemas dan masih dapat
merespon jika sisi aquarium diketuk.

IV. Pembahasan
Pada praktikum ini menggunakan akuarium
dengan tinggi 30 cm, lebar 24,7 cm dan panjang
akuarium 49cm. Berdasarkan hal tersebut maka

jumlah volume air yang dibutuhkan yaitu 36.309


cm . Pengukuran suhu juga dilakukan dengan
3

menggunakan alat termometer dan pada suhu


awal air yaitu 29 C dan suhu akhir yaitu 21 C dan
perbedaan kedua suhu sangat berbeda
signifikan. Pengindraan ikan yang digunakan
pada praktikum ini yaitu indra pendengaran
(telinga), indra penglihatan (mata), indra
penciuman ((hidung) dan indra peraba (linea
lateralis). Berikut organ yang diuji pada praktikum
ini yaitu:
A. Organ pendengaran
Pada uji pendengaran diperoleh hasil ikan 1
merespon ketukan dengan waktu 10 detik, ikan 2
dan ikan 3 merespon pada waktu 1 detik. Dan
pada pengujian ini respon ikan terlihat bagus
karena cepat sampai ke titik suara. Berdasarkan
dari hasil di atas, menurut Gul (2007) alat
pendengaran pada ikan berupa telinga yang
terletak dibagian dalam dan terdapat alat
keseimbangan dan alat yang menerima getaran
suara.Pendengaran adalah hal mengenai deteksi
gelombang dan tekanan yang timbul, karena
gangguan makanan yang terjadi pada jarak
tertentu. Gelombang suara yang sampai pada
ikan terdapat dalam air dengan demikian
gelombang suara akan mudah masuk kedalam
telinga dalam karena ikan mendengar dengan
bagian telinga bagian dalamnya karena tidak
mempunyai telinga bagian luar. Ikan memiliki
jaringan pendengaran yang tersusun dari sel-sel
yang sangat halus dengan sel itu getaran suara
dalam air dapat ditangkap dan dihantarkan
sampai telinga bagian dalamnya.
0

B. Organ penglihatan
Pada pengujian ini menggunakan alat bantu
senter sebagai cahaya dan respon yang

diberikan ikan tidak terlalu bagus terlihat dari


lamanya ikan menemukan sumber cahaya
tersebut. Pada ikan 1 dan ikan 3 membutuhkan
wktu 6 menit 19 detik, sedangkan ikan 2
merespon dengan cepat di detik ke-8. Dengan
hasil yang diperoleh, menurut Burhanuddin
(2010) mengatakan bahwa organ penglihatan
pada ikan diuji dengan cara memberikan sinar
cahaya yang disenterkan pada ikan, sehingga
terlihat respon ikan apakah baik atau tidak.
Ketika ikan tidak merespon dengan baik maka
ikan tidak dapat menemukan titik cahaya yang
diberikan begitu pula kebalikannnya.Sinar
cahaya dari objek difokuskan pada retina untuk
menghasilkan gambar terbalik retina dan
mengandung dua jenis reseptor untuk cahaya
kerucut yang membedakan warna dan batang
yang memungkinkan visi pada intensitas cahaya
rendah. Secara garis besar struktur mata pada
ikan adalah sama dengan organisme vertebrata
lainnya terdiri dari ruang depan dan lensa ruang.
C. Organ penciuman
Ikan 1 memiliki respon pada waktu 5menit
15,51 detik dengan respon pergerakannya aktif
lalu naik ke permukaan untuk memakan pakan
yang ada di atas permukaan, lalu ikan 2 pada
waktu 5 menit 15,51 detik respon berenangnya
lambat sama dengan ikan 1 dan berada di bawah
permukaan kemudian ikan 3 pada waktu 1 menit
59,85 detik yaitu dengan memakan pakan
dengan cepat yang telah diberikan.Berdasarkan
dari hasil diatas pada organ penciumanIkan
memberikan respon tidak baik dengan pakan
yang ditebar dipermukaan air karena ikan
membutuhkan waktu yang lama untuk naik
kepermukaan untuk memakan pakan tersebut.
Seperti halnya yang dikatakan oleh Fujaya
(2008) bahwa organ penghidu dan pengecap

merupakan reseptor kimia. Sinyal kimia


digunakan sebagai alat komunikasi yang
selanjutnya mempengaruhi pola tingkah laku dan
reproduksi ikan.
D. Organ Peraba/Gurat Sisi
Dari
hasil
pengamatan
pada
indra
peraba/gurat sisi di atas dapat dinyatakan bahwa
saat air mulai mendingin dengan suhu 21 C, ikan
1 terlihat lemas, menetap di dasar dan
pergerakannya pasif. Lalu ikan 2 terlihat lemas
serta menetap di dasar namun masih merespon
apabila sisi aquarium diketuk.Kemudian ikan 3
terlihat agak lemas di awal namun selanjutnya
masih mampu aktif dan merespon suara dan
getaran dari ketukan. Sama halnya yang
dikatakan oleh Burhanuddin (2010) pada uji
organ peraba, sistem gurat sisi berkembang dan
digunakan dalam berbagai segi kehidupan ikan
yang memperlihatkan pola kehidupan ikan yang
berbeda-beda. Dengan bantuan mekanoreseptor,
seperti halnya pada sistem pendengaran dan
keseimbangan lainnya, gerak air dan suhu
disekitar ikan dapat terdeteksi.
0

V. PENUTUP

V.1 Simpulan
1. Ikan Komet (Carassius auratus) memiliki
alat indra berupa organ penglihatan,
pendengaran, peraba dan penciuman.
2. Pada uji pendengaran ikan 1 merespon
pada waktu 10 detik. Ikan 2 dan ikan 3
merespon dengan waktu yang sama yaitu
di detik pertama.
3. Pada uji penglihatan ikan 1 dan ikan 3
sama-sama merespon pada waktu 19
detik untuk dapat menuju sumber cahaya
dan ikan 2 merespon dengan cepat yaitu
detik ke-8.
4. Pada uji penciuman ikan 1 dan ikan 2
memakan pakan secara bersamaan pada
waktu 5 menit 15 detik kemudian ikan 3
memakan pakan pada waktu 1 menit 59
detik.
5. Pada uji gurat sisi, suhu awal air adalah
29 C dan setelah es batu dimasukkan dan
dibiarkan meleleh, suhu menjadi 21 C.
Ikan 1 terlihat lemas dan pergerakannya
pasif, ikan 2 terlihat lemas dan juga
pergerakannya pasif. Ikan 3 agak lemas
dan menetap di dasar.
0

V.2 Saran
Untuk kondisi laboratorium tetap
dipertahankan kebersihannya dan alat-alat
laboratorium dibersihkan. Kursi kalau bisa di
tambah agar saat posisi respon tidak berdiri
karena susah berpikir. Dan semoga uang yang
dikeluarkan akan dikembalikan.