Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Masyarakat dan kebudayaan adalah dua konsep yang berbeda tetapi satu dengan lainnya
tidak dapat dipisahkan. Ada masyarakat ada kebudayaan. Sulit dibayangkan bagaimana sebuah
masyarakat tanpa kebudayaan dan sebaliknya. Dengan kata lain, kebudayaan tidak pernah ada
tanpa masyarakat pendukungnya. Fungsi kebudayaan dalam sebuah masyarakat adalah sebagai
pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku (Suparlan, 1995). Ini artinya, fungsi kebudayaan
dalam suatu masyarakat sangat penting (vital). Oleh karena itu, betapun sederhananya suatu
masyarakat pasti akan menumbuh-kembangkannya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya kebudayaan,
antara lain: geografis dan kesejarahan. Keadaan geografis dan kesejarahan yang berbeda pada
gilirannya akan membuahkan kebudayaan yang berbeda. Padahal, kondisi geografis dan
kesejarahan masyarakat kita (Indonesia) berbeda-beda. Kondisi yang demikian pada gilirannya
membuat masyarakat Indonesia bersifat majemuk (Boedhisantoso, 1998). Kemajemukan itu,
tidak hanya ditandai oleh adanya berbagai macam agama dan adat-istiadat, tetapi juga
sukubangsa yang satu dengan lainnya mengembangkan budaya yang berberda. Budaya yang
ditumbuh-kembangkan oleh orang Jawa berbeda dengan orang Minangkabau, berbeda dengan
orang Batak, dan seterusnya. Melalatoa (1995) menyebutkan bahwa di Indonesia sedikitnya ada
500 sukubangsa.
Kondisi masyarakat Indonesia yang multietnik dan sekaligus multikultural ini di satu
pihak memang sangat membanggakan. Akan tetapi, di lain pihak justeru sulit untuk menentukan
kebijakan yang dapat diterima oleh berbagai pihak. Sesungguhnya integrasi dan jatidiri bangsa
Indonesia telah dicetuskan jauh sebelum Indonesia merdeka melalui “Sumpah Pemuda”, Namun,
dewasa ini justeru hal-hal yang mengarah ke disintegrasi dan disjatidiri semakin marak. Hal itu
tercermin tidak hanya dari sebagian orang Papua yang ingin memisahkan diri dari NKRI, tetapi
juga sikap kita yang semakin hari semakin tidak ramah. Padahal, bangsa Indonesia telah dikenal
oleh bangsa lain sebagai bangsa yang ramah. Ini artinya, kehidupan berbangsa dan bernegara kita
sedang dalam “masalah”. Padahal, masyarakat Indonesia memiliki nilai-nilai luhur yang pada
gilirannya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa.

RUMUSAN MASALAH

Ada beberapa permasalah yang akan kami bahas dalam makalah ini, yaitu :
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-
nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia
dalam masyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

1
BAB II
PEMBAHASAN

WUJUD KEBUDYAAN

Menurut Koentjaraningrat (2002: 186-187) ada tiga wujud kebudayaan:

1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma
peraturan dan sebagainya.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ativitas serta tidakan berpola dari manusia dalam
masyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Apa yang ditulis Koentjaraningrat tentu tidak terlepas dari apa yang diketengahkan J.J.
Honigman, adanya tiga ‘gejala kebudayaan’, yaitu: ideas, activities, dan artifacs. Dalam kalimat
lain, ada ide, ada aktivitas sebagai aplikasi dari ide, dan ada hasilnya.
Wujud pertama kebudayaan disebut wujud ideal. Wujud ideal kebudayaan tidak dapat
didekati dengan alat indera; dilihat, didengar, dicium, ‘dicicipi’, atau diraba; ada di alam pikiran
individu atau alam pikiran masyarakat pendukung kebudayaan; bersifat abstrak. Tetapi, kalau
ditulis, dalam arti sebagaimana hal abstrak tersebut ‘ditangkap’, maka ‘tempatnya’ berpindah.
Kita mengenal buku atau karya ilmiah ahli-ahli ilmu sosial, bahkan laporan pewarta, yang
menjadi ‘lokasi baru’ kebudayaan ideal. Harap dicatat, hal-hal ideal tidak selalu, bahkan jarang
sepadan, dengan kondisi obyektif.
Hal-hal ideal, bisa jadi, tidak hanya ada di kepala individu, tetapi menyebar dalam
komunitas atau pendukung kebudayaan. Saling berkait dan menjadi suatu sitem, yang disebut
sebagai cultural system. Kita bisa mendeteksinya dari adat atau norma yang berlaku di
masyarakat pendukung kebudayaan.
Ide-ide dan gagasan-gagasan manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu
masyarakat, member jiwa kepada masyarakat itu. Gagasan-gagasan itu tidak berada lepas satu
dari yang lain, melainkan selalu berkaitan, menjadi suatu system. Para ahli antropologi dan
sosiologi menyebut sistem ini sistem budaya, atau cultural system. Dalam bahasa Indonesia
terdapat juga istilah lain yang sangat tepat untuk menyebut wujud ideal dari kebudayaan ini,
yaitu adat, atau adat-istiadat untuk bentuk jamaknya.
Wujud kedua kebudayaan disebut sistem social atau social system. Social system adalah
tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem social ini terdiri dari aktivitas-aktivitas
manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain dari detik ke
detik, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun, selalu menurut pola-pola tertentu yang
berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai rangkaian aktivitas manusia-manusia dalam suatu
masyarakat, sistem sosial itu bersifat konkret, terjadi disekeliling kita sehari-hari, bias
diobservasi, difoto dan didokumentasi.

2
Wujud ketiga kebudayaan disebut kebudayaan fisik, dan tak memerlukan banyak
penjelasan. Karena berupa seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua
manusia dalam masyarakat, maka sifatnya paling konkret, dan berupa benda-benda atau hal-hal
yang dapat diraba, dilihat, dan difoto. Ada benda-benda yang sangat besar seperti pabrik baja;
ada benda-benda yang amat kompleks dan canggih, seperti computer berkapasitas tinggi; atau
benda-benda yang besar dan bergerak, suatu kapal tangki minyak; ada bangunan hasi seni arsitek
seperti suatu candi yang indah; atau ada pula benda-benda kecil seperti kain batik, atau yang
lebih kecil lagi yaitu kancing baju.
Sebagai satu sistem, ketiga wujud kebudayaan saling tekait. Kebudayaan fisik menjelma
sebagai hasil aktivitas manusia dimana aktivitas tersebut berupa lanjutan dari pikiran atau
gagasan manusia. Begitu juga sebaliknya, kebudayaan fisik atau tata sosial akan mempengaruhi
pola pikir dan sebaliknya. Dalam kajian-kajian ilmu sosial kita mengenal istilah mentifact,
sociofact, dan artifact.
Kini, tinggal bagaimana kita mengambil manfaat dari kajian antropologi dalam semangat
membangun, membangun yang dimulai dari diri; memperbaiki perilaku kehidupan. Bagaimana
sebenarnya kita berpikir, bagaimana berbuat, dan bagaimana hasilnya? Hanya masing-masing
kita yang tahu. Kalau hal sedemikian sudah ‘duduk soalnya’, mari bicara tentang masyarakat,
tentang bangsa ini.
Seorang sarjana antropologi dapat meneliti hanya sistem budaya, atau adat, dari suatu
kebudayaan tertentu. Dalam pekerjaan itu ia akan mengkhususkan perhatiannya terutama pada
cita-cita, nilai-nilai budaya, dan pandagan hidup, norma-norma dan hukum, pengetahuan dan
keyakinan dari manusia yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Ia dapat juga
meneliti tindakan, aktivitas-aktivitas dan karya manusia itu sendiri, tetapi dapat juga
mengkhususkan perhatiannya pada hasil karya manusia yang bias berupa benda peralatan, benda
kesenian, atau bangunan-bangunan.
Semua unsure kebudayaan dapat dipangan dari sudut wujud masing-masing tadi. Sebagai
contoh dapat kita ambil misalnya Universitas Indonesia. Sebagai suatu lembaga pendidikan
tinggi, universitas tersebut merupakan suatu unsur dalam rangka kebudayaan Indonesia sebagai
keseluruhan. Maka oleh karena itu universitas dapat merupakan suatu unsur kebudayaan yang
ideal, yang pada khususnya terdiri dari cita-cita universitas, norma-norma untuk para karyawan,
dosen atau mahasiswanya, aturan ujian, pandangan-pandangan, baik yang bersifat ilmiah
maupun yang popular, dan sebagainya. Sebaliknya, Universitas Indonesia juga terdiri dari suatu
rangkaian aktivitas dan tindakan dimana manusia saling berhubungan atau berintekrasi dalam hal
melaksanakan berbagai macam hal. Ada orang yang memberi kuliah, ada lainnya yang
mendengarkan dan mencatat kulilah-kuliah tadi, ada orang-orang yang menguji, ada lainnya
mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian tadi, ada orang yang mengetik surat-surat,
lainnya lagi mengatu buku, dan sebagainya. Namun, lepas dari itu semua, orang dapat juga
mengadakan penelitian tentang Universitas Indonesia tanpa memperhatikan hal-hal tersebut
diatas. Ia hanya memperhatikan universitas sebagai himpunan benda fisik yang harus
diinventarisasi. Itulah sebabnya ia hanya melihat Universitas Indonesia sebagai suatu kompleks
gedung-gedung, ruang-ruang kuliah, deretan-deretan bangku kuliah, himpunan buku-buku,
sekumpulan meja tulis, mesin-mesin tik, timbunan-timbunan dan alat-alat lainnya saja.

3
BAB III
PENUTUP

Berdasarkan uraian pada pembahasan maka kesimpulan yang dapat dipaparkan dalam
makalah ini adalah :

1. Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tidak dapat diraba
atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala atau dengan perkataan lain dalam alam
pikiran.

2. Wujud kedua dari kebudayaan yang sering disebut sebagai sistem sosial, mengenai
kelakuan berpola dari manusia itu sendiri, bersifat konkret dan dapat diobservasi serta
didokumentasi.

3. Wujud ketiga dari kebudayaan disebut sebagai kebudayaan fisik, dan memerlukan
keterangan banyak, karena merupakan seluruh isi total dari hasil fisik dari aktivitas,
perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat, maka sifatnya paling konkret dan
berupa benda-benda yang dapat difoto, diraba dan diobservasi.
DAFTAR PUSTAKA

4
• Abdullah, Prof. Dr Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
• Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Radar Jaya Offset.
• Setiadi, Elly M, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana.
MAKALAH
ORIENTASI TENTANG WUJUD KEBUDAYAAN
MATA KULIAH
ANTROPOLOGI BUDAYA

OLEH :
RUSDIN
SAID ZULKIFLI
SELVIA ROZA
SYAIFUL

DOSEN PENGAMPU : JUNAIDI, S.HI, M.Hum

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM INDRAGIRI
TEMBILAHAN
2009/2010

Anda mungkin juga menyukai