Anda di halaman 1dari 19

DERMATITIS SEBOROIK

Ketombe (pitiriasis sika) merupakan bentuk ringan dari


dermatitis seboroik. Pada jenis yang berminyak, pitiriasis

I.PENDAHULUAN

steatoides, disertai oleh eritema dan akumulasi krusta yang

Dermatitis seboroik merupakan penyakit peradangan

tebal. Dalam kasus yang ekstrim seluruh kulit kepala ditutupi

kulit kronis yang sangat umum, ditandai dengan skuama

oleh krusta berminyak, kotor dengan bau yang tidak enak.

kuning keabu-abuan dan makula eritematosa yang berbatas

Pada bayi, lesi coklat atau kuning pada kulit kepala dengan

tidak terlalu jelas. Biasanya dapat disertai rasa gatal dan terjadi

akumulasi debris epitelial disebut cradle cap.1,3

di daerah yang memiliki aktivitas kalenjar sebasea yang sangat

II. EPIDEMIOLOGI

aktif. Misalnya, kulit kepala, wajah, daerah presternal, dan


daerah lipatan tubuh. Lesi umumnya simetris, dimulai di
daerah yang berambut dan meluas meliputi kulit kepala, alis,
lipatan nasolabial, belakang telinga, dada, aksila dan daerah
lipatan kulit.1,2

Dermatitis seboroik dianggap salah satu gangguan kulit


yang paling sering, meskipun perkiraan prevalensi terbatas
karena kurangnya kriteria baku untuk diagnosis atau
menentukan tingkat keparahan,

namun sebagai salah satu

kelainan kulit yang paling umum, dapat mengenai sekitar


11,6% dari populasi umum dan lebih dari 70% pada bayi di

umur tiga bulan pertama. Pada orang dewasa, angka kejadian

yang jarang membuatnya lebih buruk. Dermatitis seboroik

paling tinggi pada dekade ketiga dan keempat. Angka kejadian

adalah salah satu manifestasi kulit pada penderita infeksi HIV

sekitar 3% - 5% dari populasi dan paling sering mengenai laki-

& AIDS. Keparahan dermatitis seboroik berkorelasi dengan

laki. Pada laki-laki dominan terlihat pada semua umur, tanpa

tingkat kerusakan klinis. Penyakit saraf , termasuk penyakit

memandang tempat predileksi, ataupun transmisi horizontal.1,7

Parkinson, cedera kepala, dan facial nerve palsy juga

III. ETIOLOGI
Penyebabnya belum diketahui pasti. Malasseizia furfur
dikatakan berperan dalam patogenesis dermatitis seboroik,
juga respon terhadap ketokonazol dan selenium sulfid
mengindikasikan adanya jamur yang patogen. Abnormalitas
imunologik, aktivitas kelenjar sebasea dan kerentanan pasien
juga ikut berperan.1,5,8
Stres, kelelahan, cuaca ekstrim, trauma wajah seperti
garukan, kulit berminyak dan keramas atau pembersih kulit

berhubungan dengan dermatitis seboroik. Beberapa obatobatan yang dapat memicu dermatitis seboroik seperti erupsi
termasuk griseofulvin, cimetidine, lithium, methyldopa,
arsenik, haloperidol.1,6,9,10
IV. PATOGENESIS
Mekanisme dermatitis seboroik sampai saat ini belum
diketahui secara pasti, namun dermatitis seboroik erat dengan
keaktifan glandula sebasea. Banyak penelitian telah dilakukan
untuk menghubungkan penyakit ini dengan infeksi bakteri atau

Pitysporum ovale yang merupakan flora normal manusia.

dengan keluhan gatal biasanya terjadi pada daerah kulit kepala

Pertumbuhan Pitysporum ovale yang berlebihan dapat

dan liang telinga. Dermatitis seboroik yang ringan hanya

mengakibatkan

produk

mengenai kulit kepala berupa skuama-skuama yang halus,

metabolitnya yang masuk ke dalam epidermis, maupun karena

mulai dari bercak kecil yang kemudian mengenai seluruh kulit

sel jamur itu sendiri, melalui aktifasi sel limfosit T dan sel

kepala dengan skuama-skuama yang halus dan kasar. Kelainan

Langerhans.5,11

tersebut disebut pitiriasis sikka (ketombe, dandruff).5,12

reaksi

inflamasi,

baik

akibat

Pasien dengan dermatitis seboroik memperlihatkan


peningkatan regulasi interferon (IFN) , interleukin (IL)-6,
IL1, dan IL-4. Peningkatan aktivasi sitotoksik dan kumpulan
sel natural killer juga ditemukan.3
V. GAMBARAN KLINIS
Lesi kulit ditandai dengan perubahan warna menjadi
agak kekuningan, kemerahan, inflamasi infilrat, berminyak,
skuama tipis, krusta dan batasnya agak kurang jelas. Pasien

Ketombe biasanya merupakan manifestasi awal dari


seboroik

dermatitis.

Pada

tahap

selanjutnya,

eritema

perifollikular dan skuama secara bertahap meluas membentuk


bercak yang berbatas tegas, atau menyatu untuk melibatkan
bagian terbesar dari kulit kepala dan melampaui batas rambut
depan sebagai 'korona seborrhoeica'. Dalam kasus-kasus kronis
mungkin ada beberapa derajat rambut rontok, yang reversibel
bila peradangan ditekan. Bentuk dermatitis seboroik biasanya

dimulai sekitar 1 minggu setelah lahir dan dapat bertahan


selama beberapa bulan. Awalnya, skuama terlihat berminyak
ringan di daerah depan kepala dan vertex, yang dapat meluas
selama peradangan ke seluruh kulit kepala, dan akhirnya bisa
menjadi skuama-skuama dan krusta meliputi sebagian besar
kulit kepala (cradle cap). Lesi yang meluas, biasanya
intensitas lebih rendah, mungkin timbul pada wajah, lipatan
retroaurikuler, leher, badan dan ekstremitas proksimal.
Dermatitis seboroik dapat bersama-sama dengan akne yang
berat. Jika meluas terjadi eritroderma, pada bayi disebut
penyakit Leiner.2,5,6

Gambar 1a

Gambar 1b

Gambar 1c
Gambar 1a, 1b & 1c. Dermatitis seboroik pada bayi.10,12

Belakang telinga dapat terjadi kemerahan dan skuama


berminyak, dan krusta sering berkembang di daerah lipatan.

Adanya krusta dan skuama dapat meluas ke dalam kulit kepala


yang berdekatan. Kedua sisi pinna, wilayah periaurikuler dan
sisi leher juga terlibat. Otitis eksterna yang mudah iritasi dapat
menyertai dermatitis seboroik di bagian lain, atau dapat terjadi
sendirian. Terdapat skuama di kanal telinga dan lubang telinga,
biasanya ditandai dengan rasa gatal. 3,6

Gambar 2a

Gambar 2b

Gambar 2c
Gambar 2a. Dermatitis seboroik pada belakang telinga.
2b & 2c. Dermatitis seboroik pada wajah.6

Pada wajah khas seboroik, melibatkan bagian medial


alis, glabela dan lipatan nasolabial. Daerah yang mengalami
eritem dan skuama, biasanya berhubungan dengan keterlibatan
kulit kepala. Blefaritis juga sering terjadi. Batas dari kelopak
memerah ditutupi oleh skuama putih yang kecil. Krusta kuning
juga

bisa

terbentuk,

dan

menyebabkan

bisul

kecil,

penyembuhan akan membentuk bekas luka yang menimbulkan


kerusakan folikel bulu mata.6
Pada daerah tubuh, yang paling sering pada daerah
petaloid (disebut karena lesi berbentuk kelopak). Hal ini sering
terlihat di laki-laki di dada bagian depan dan interskapuler.
Lesi awal kecil merah-coklat papula folikular, ditutupi oleh

Gambar 3a
Gambar 3b
Gambar 3a & 3b. Dermatitis seboroik pada daerah petaloid &

skuama berminyak.6

lipatan aksila.6

Pada daerah lipatan terutama di aksila, lipatan paha,


daerah anogenital dan umbilikus, dermatitis seboroik muncul
sebagai intertrigo yang difus, eritema tidak berbatas tegas dan
skuama berminyak. Alat kelamin bisa terlibat, dan lesi
menunjukkan eritema minimal dan skuama untuk dermatitis
yang lebih parah.6
VI. DIAGNOSIS
Diagnosis dermatitis seboroik sebagian besar dapat
ditentukan dari anamnesis dan pemeriksaan klinis. Pada

Gambar 4. Tempat predileksi Dermatitis Seboroik.9

anamnesis penyakit ini lebih sering terkena di daerah kulit

Kelainan kulit terdiri atas eritema dan skuama yang

kepala, alis, kelopak mata, lipatan nasolabial, bibir, telinga,

berminyak dan agak kekuningan, batasnya kurang tegas.

daerah sternum, aksila, lipatan di bawah payudara, umbilikus,

Penampilan kulit kepala dermatitis seboroik bervariasi dari

lipatan paha, dan sekitar bokong. Kekambuhan seringkali

ringan, skuama yang luas, tebal atau krusta. Plak jarang terjadi.

terjadi dan dipicu oleh kelelahan atau stres.3,4,6

Dari kulit kepala, dermatitis seboroik dapat menyebar ke dahi,

bagian belakang leher, dan kulit belakang telinga, seperti pada

inguinal, perineum, atau lipatan anogenital, yang juga mungkin

psoriasis.5,13

ada. Pada bayi, bagian depan dari kulit kepala ditutupi dengan

Lesi kulit dermatitis seboroik dapat bermanifestasi


berminyak lebih merah, kulit meradang. Hipopigmentasi dapat

skuama-skuama kekuningan dan kumpulan debris-debris epitel


disebut cradle cap.5,12,13

terlihat pada orang kulit hitam. Dermatitis eczematoid terjadi


dengan keluarnya cairan dan pengerasan kulit, menunjukkan
adanya infeksi sekunder. Blefaritis seboroik juga dapat terjadi
secara tersendiri.13
Distribusi mengikuti daerah berminyak dan rambutbantalan kepala dan leher, seperti kulit kepala, dahi, alis, garis
bulu mata, lipatan nasolabial, janggut, dan kulit postaurikuler.
Perpanjangan pada kulit submental dapat terjadi. Keterlibatan
presternal atau interskapuler lebih umum dari pada nonscaling
intertrigo pada umbilikus, aksila, lipatan inframamma dan

Gambar 5. Cradle Cap14

Dua pola berbeda dermatitis seboroik pada tubuh yang


dapat terjadi. Sebuah skuama petaloid anular adalah yang
paling sering (Gambar. 3a). Berbagai pitiriasiformis jarang
dapat dilihat pada tubuh dan leher, dengan skuama perifer
sekitar bercak bulat telur, menyerupai pitiriasis rosea. Orang

dari Afrika dan Amerika yang lebih gelap dari Afrika dan
orang lainnya dari ras berkulit gelap rentan terhadap dermatitis
seboroik anular, juga disebut petaloid dermatitis seboroik atau

Biopsi kulit mungkin diperlukan pada pasien dengan


eritroderma eksfoliatif, dan kultur jamur dapat digunakan
menyingkirkan

tinea

kapitis.

Temuan histologis berupa temuan dermatopatologik dermatitis


seboroik tidak spesifik. Hiperkeratosis, akantosis, penekanan
rete ridges, spongiosis fokal, dan parakeratosis merupakan
karakteristik. Psoriasis dapat dibedakan oleh akantosis biasa,
rete ridges menipis, eksositosis, parakeratosis, dan tidak
adanya spongiosis. Neutrofil dapat dilihat pada kedua
penyakit.13

lainnya:8,9
Pemeriksaan

petaloides seborrhea.13

untuk

Jika tidak yakin dapat pula dilakukan pemeriksaan

lampu

wood:

negatif

pada

dermatitis seboroik.
Pemeriksaan KOH: negatif pada dermatitis
seboroik.
VII. DIAGNOSA BANDING
Dermatitis atopik
Inflamasi difus wajah pada dermatitis seboroik
sulit dibedakan dengan dermatitis atopik.
Keduanya mempengaruhi kulit kepala dan
wajah dengan eritema tidak berbatas tegas.
Dermatitis seboroik cenderung pada skuama

yang lebih luas, gatal yang kurang dibanding


dermatitis atopik. Dermatitis atopik sering
terjadi selama masa bayi dan anak-anak, sering
berhubungan dengan peningkatan kadar IgE
dalam serum dan riwayat atopik pada keluarga
atau penderita (dermatitis atopik, rinitis alergi,
dan atau asma bronkial).11,15

Gambar 6a

Gambar 6b

Gambar 6a & 6b. Dermatitis Atopi3

Psoriasis
Psoriasis

merupakan

penyakit

yang

penyebabnya autoimun, bersifat kronis dan


residif. Ditandai dengan adanya bercak-bercak
eritema berbatas tegas dengan skuama yang

10

kasar, berlapis-lapis dan transparan; disertai


fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner.5

Gambar 8. Tinea Kapitis2

Kandidosis
Gambar 7: Psoriasis vulgaris2

Tinea kapitis

Kandidosis adalah penyakit jamur, yang bersifat


akut atau subakut disebabkan oleh spesies

Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan

Candida,

biasanya

oleh

spesies

Candida

rambut kepala yang disebabkan oleh spesies

albicans dan dapat mengenai mulut, vagina,

dermatofita. Kelainan ini dapat ditandai dengan

kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang kadang

lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia, dan

dapat menyebabkan septikemia, endokarditis,

kadang-kadang terjadi gambaran klinis yang

atau meningitis.5,17

lebih berat, yang disebut kerion.5,16

11

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan


oleh infestasi dan sensitasi terhadap Sarcoptes
scaibei var, hominis dan produknya. Sarcoptes
scabiei secara morfologik merupakan tungau
Gambar 9. Kandidiasis Intertriginosa.1

Skabies

kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung


dan bagian perutnya rata. Ada empat tanda
kardinal pada skabies, yaitu: Pruritus nokturna,
menyerang

manusia

secara

berkelompok,

adanya terowongan (kunikula) pada tempattempat predileksi, dan ditemukan tungau.5,18

Gambar 10. Skabies.1

12

kebiasaan mereka dan bergantung sepenuhnya pada


VIII. PENATALAKSANAAN

obat untuk kontrol.9

a. Non Medikamentosa

b. Medikamentosa

Edukasi kebersihan

Pengobatan sistemik

Pembersihan yang tepat dan keramas cukup untuk

Pengobatan sistemik diindikasikan hanya pada penyakit

mengontrol dermatitis seboroik ringan. Langkah-

yang luas atau pada kasus yang refrakter. Dapat

langkah sederhana ini yang paling sering diabaikan.

digunakan antijamur sistemik seperti, itrakonazol,

Hal ini terutama untuk pasien wanita lebih tua yang

ketokonazol, dan terbinafin dengan mempertimbangkan

jarang keramas. Pasien perlu diberitahu tentang pola

efek samping dan biayanya. Agen anti jamur dari

pembersihan

mereka

golongan azol dapat digunakan sebagai terapi denyut

mengubah kebiasaannya. Setelah diberitahu, beberapa

dengan flukonazol dosis 200 mg per hari sekali

pasien suka mengubah perilaku, sementara yang lain

seminggu atau itrakonazol 100 mg dua kali sehari

ada pula lebih memilih

selama satu minggu dalam 1 bulan hingga terjadi

dan

perawatan

kulit

agar

untuk mempertahankan

perbaikan. Ketokonazol sistemik juga efektif tetapi

13

memiliki risiko yang lebih besar dari efek samping

Produk yang mengandung hidrokortison, desonid, dan

yang serius.9,12

aklometason sangat efektif. Ini tersedia dalam krim

Kortikosteroid sistemik dapat diberikan pada kasus

vanishing dan lotion ringan. Komposisi

yang berat dengan dosis prednison 20-30 mg sehari

seringkali sama pentingnya dengan bahan aktif. Pada

yang diturunkan perlahan setelah ada perbaikan. Selain

kulit wajah dan badan diterapi dengan steroid potensi

itu dapat pula diberikan isotretinoin sistemik pada

rendah

kasus

0,1-0,3

aklometason. Pemberian kortikosteroid jangka panjang

mg/kgBB/hari yang memiliki efek untuk mengurangi

yang tidak terkontrol dapat memicu timbulnya efek

aktivitas sebasea.5,12

samping seperti fenomena rebound, steroid rosasea,

dan dermatitis perioral.9,12

yang

rekalsitran

dengan

dosis

Pengobatan Topikal

1. Steroid topikal
Steroid secara dramatis dapat meningkatkan

seperti,

hidrokortison,

desonid,

dasar

dan

2. Antijamur topikal
Dilaporkan

pemberian

antijamur

topikal

pengobatan dermatitis seboroik. Karena steroid aman,

khususnya golongan imidazol memberikan hasil yang

efektif, dan terapi murah bila diresepkan dengan tepat.

baik berkisar antara 63-90% setelah pemberian selama

14

4 minggu. Golongan imidazol yang dapat digunakan


antara

lain

ekonazol,

itrakonazol,

bifonazol,

mikonazol,

klimbazol,

flukonazol,

siklopiroks,

Pengobatan

blefaritis

seboroik

memiliki

pengobatan khusus dan unik, bahkan dermatitis

dan

seboroik yang sering diabaikan. Kelopak mata merah

siklopiroksolamin. Yang paling sering digunakan

dan bersisik dan sering ada konjungtivitis terkait, yang

adalah ketokonazol krim 2% telah dibuktikan efektif

sangat simtomatik. Blefaritis ini biasanya merespon

dan telah disetujui untuk pengobatan dermatitis

dengan cepat untuk pengobatan singkat sodium sulamid

seboroik.5,12

solution 10%. Chlortetracycline dan tetracycline mata


juga efektif.8
-

Shampo
Ada beberapa jenis shampo yang tersedia dan

efektif terhadap dermatitis seboroik. Kebanyakan


produk-produk mengandung zinc pyrithione, selenium
sulfida, belerang, parachlorometaxylenol, atau derivat
tar. Shampo ini tersedia tanpa resep dengan berbagai

15

bahan-bahan umum yang menghambat pertumbuhan

prospektif terbuka, 18 pasien dengan dermatitis

Pityrosporum ovale yang menghasilkan ragi kulit yang

seboroik berat diobati dengan Narrow-band UVB 3 kali

terlibat dalam penyebab dermatitis seboroik.5,9

per minggu sampai sembuh setelah menyelesaikan 2

Beberapa contoh shampo pengobatan, yaitu11:

bulan terapi.15

o Shampo keratolitik tar - sulfur atau asam salisil,

IX. KOMPLIKASI
Pada beberapa kasus yang ekstrim dapat terjadi

o Zinc pyrithione,
o Shampo selenium sulfida 2,5%,

eritroderma eksfoliatif (eritroderma seboroik). Ada beberapa

o Shampo ketokonazol 2%.

keadaan

yang

terdapat

pada

pasien

ini,

yaitu:

ketidakseimbangan elektrolit dan suhu. Eritroderma seboroik


disertai diare dan gagal tumbuh (penyakit Leiner) pada bayi

-Fototerapi
Pasien sering mengalami perbaikan selama musim
panas. Efek inhibisi langsung dari UVA dan UVB pada
ragi Malassezia dikultur dari kulit telah secara
eksperimen

dikonfirmasi.

Dalam

sebuah

studi

dikaitkan dengan berbagai gangguan immunodefiensi.11,12


X. PROGNOSIS
Dermatitis seboroik sangat sering terjadi, mayoritas
telah terkena pada seseorang sepanjang hidup. Keadaan

16

meningkat pada saat musim panas dan menurun pada saat


musim gugur. Kekambuhan dapat terjadi apabila terjadi

Massachuets: The McGraw-Hill Companies. 2012. p. 4851.


2. Fritsch PO, Reider N. Seborrheic dermatitis. In: Bolognia

alopesia yang cukup parah. Pada Infantil prognosisnya baik


karena kondisinya jinak dan sembuh sendiri. Dermatitis
seboroik pada remaja akan menghilang sejalan dengan usia.

JM, Jorizzo JL, Rapini RP, editors. Dermatology 2nd ed.


USA: Mosby Elsevier. 2008.
3. James WD. Seborrheic dermatitis. Andrews disease of the
skin: clinical dermatology 10th ed. Pennsylvania: Saunders

Dan biasanya sembuh dengan penggunaan kortikosteroid


topikal.1,11,12

Elsevier. 2006. p. 191-2.


4. Naldi L, Rebora A. Seborrheic dermatitis. 2009 January 22.
Available

from

URL:

http://www

.nejm.org/doi/full/10.1056 /NEJMcp0806464
5. Djuanda A. Dermatosis eritroskuamosa. Dalam: Djuanda
A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu penyakit kulit dan
kelamin edisi 6. Jakarta: FKUI. 2011. hal. 189-95, 200-2.

DAFTAR PUSTAKA

6. Holden CA, Berth-Jones J. Eczema, lichenification,


prurigo and erythroderma. In: Burns, Tony, Stephen B, et al
Editors.

1. Wolff K, Johnson RA. Seborrheic dermatitis. Fitzpatricks


color atlas & synopsis of clinical dermatology 8th ed.

Rooks

textbook

of

dermatology

8th

ed.

Massachusetts: Blakwell Publishing Inc. 2010. p. 17.10-4.

17

7. Berk T, Scheinfeld N. Dermatitis seborrheic. June 2010.


Available

from

URL:

http://www.ncbi.nlm.nih

.gov/pmc/articles
8. Barankin B, Freiman A. Seborrheic dermatitis. Derm notes
dermatology clinical pocket guide. Davis Company:
Philadelphia. 2006. p. 147-8.
9. Trozak DJ, Tennenhouse DJ, Russel JJ. Seborrheic
dermatitis. Dermatology skills for primary care. New
Jersey: Humana Press. 2006. p. 67-75.

general medicine 8th ed. USA: McGraw-Hill. 2012. p. 21925.


13. Selden ST. Seborrheic dermatitis. 2014 April 28. Available
from

URL:

http://emedicine.medscape.com

/article/1108312-overview#showall
14. Boddy I. Cradle cap. 2014 November 6. Available from
URL:

http://www.webmd.com/skin-problems-and-

treatments/picture-of-cradle-cap
15. Sularsito SA, Djuanda S. Dermatitis Atopik. Dalam:

10. Habif TF. Seborrheic dermatitis. Clinical dermatology a

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit

color guide to diagnosis and therapy 4th ed. USA: Mosby

Kulit dan Kelamin edisi 6. Jakarta: FKUI. 2011. hal. 138-

Elsevier. 2004. p. 242-5.

47.

11. Mallory SB, Bree A, Chern P. Seborrheic dermatitis.

16. Budimulja U. Mikosis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M,

Ilustrated manual of pediatric dermatology diagnosis and

Aisah S, editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi 6.

management. United Kingdom: Taylor and Francis. 2005.

Jakarta: FKUI. 2011. hal. 95-6.

p. 64-6.
12. Plewig G, Jansen T. Seborrheic dermatitis. In: Wolff K,
Katz LAGS, et all editors. Fitzpatricks dermatology in

17. Kuswadji. Kandidosis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M,


Aisah S, editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi 6.
Jakarta: FKUI. 2011. hal. 106-9.

18

18. Handoko RP. Skabies. Dalam: Djuanda A, Hamzah M,


Aisah S, editor. Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi 6.
Jakarta: FKUI. 2011. hal. 122-5.

19