Anda di halaman 1dari 170

DETERMINAN PERILAKU PENCARIAN PENGOBATAN

TRADISIONAL (TRADITIONAL MEDICATION) MASYARAKAT


URBAN CENGKARENG
JAKARTA BARAT TAHUN 2014

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

oleh:
Supriadi
1110101000073

PEMINATAN PROMOSI KESEHATAN


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H / 2014 M

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama lengkap

Supriadi

Jenis Kelamin

Laki-laki

Tempat, tanggal lahir

Jakarta, 22 Agustus 1992

Warganegara

Indonesia

Agama

Islam

Alamat

Jalan Pedongkelan Belakang No. 7, RT 010/13, Kelurahan


Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, 11720

Telepon

+628210579282 / +618561604670

Email

suprihadimulyono@gmail.com

Pendidikan Formal:
1. SDN Cengkareng Timur 17 Pagi (1998-2004)
2. SMP Negeri 248 Jakarta (2004-2007)
3. SMA Negeri 33 Jakarta (2007-2010)
4. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan


Program Studi Kesehatan Masyarakat
Peminatan Promosi Kesehatan (2010-2014)

iii

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT PROMOSI KESEHATAN
Skripsi, 30 November 2014
Supriadi, NIM: 1110101000073
Determinan Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional
(Traditional Medicine) Masyarakat Cengkareng, Jakarta Barat, Tahun 2014
(XX + 140 halaman, 38 tabel, 2 bagan, 20 lampiran)
Abstrak
Pelayanan kesehatan tradisional mengalami peningkatan peminat pada
sebagian besar masyarakat, khususnya masyarakat urban setelah tahun 1999.
Pelayanan kesehatan tradisional yang berbasis kearifan lokal (local wisdom) dapat
meningkatkan taraf kehidupan, baik secara ekonomi maupun kesehatan
masyarakat lokal. Sebagai upaya promotif dan preventif dalam bidang kesehatan,
diperlukan identifikasi terkait dengan faktor faktor yang mendorong masyarakat
dalam memilih pelayanan kesehatan tradisional. Sehingga faktor faktor yang
mendorong ini dapat digunakan sebagai dasar dibuatnya program kesehatan dalam
upaya promotif dan preventif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah faktor: predisposisi
(usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga,
suku/etnis, agama, jarak rumah dengan pelayanan kesehatan, nilai tentang sehat
dan sakit, sikap terhadap pelayanan kesehatan, dan pengetahuan tentang
pelayanan kesehatan; pendukung (asuransi kesehatan, dan tarif pelayanan
kesehatan); dan kebutuhan (pandangan subjektif terhadap penyakit yang pernah
dialami dan keadaan penyakit yang dialami sesuai dengan diagnosis medis)
memiliki hubungan dengan perilaku pencarian pelayanan kesehatan tradisional
masyarakat. Instrumen penelitian ini terdiri dari 99 pertanyaan untuk menggali
informasi dari responden.
Berdasarkan hasil uji statistik, dari 16 karakteristik masyarakat, 10
memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku penggunaan pelayanan
kesehatan tradisional pada masyarakat Cengkareng dan 6 karakteristik tidak
memiliki hubungan yang signifikan.
Saran dari hasil penelitian ini, yaitu: untuk program promosi kesehatan,
berdasarkan identifikasi faktor perilaku penggunaan pelayanan kesehatan
tradisional pada penelitian ini diharapkan data yang ada dalam penelitian ini dapat
digunakan sebagai dasar menentukan langkah langkah yang harus dilakukan
untuk melakukan program promosi kesehatan pelayanan kesehatan tradisional.
Pengintegrasian antara pelayanan kesehatan modern dan tradisional, sebaiknya
diperhatikan dengan baik dalam hal sosialisasi dan komunikasi ke pasien.
Kata kunci: pelayanan kesehatan tradisional, perilaku pencarian kesehatan,
Cengkareng

iv

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES


STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH
HEALTH PROMOTION
Undergraduate Thesis, 30th November 2014
Supriadi, NIM: 1110101000073
(XX + 140 pages, 38 tables, 2 charts, 20 attachments)
The Behavior Determinants of Health Seeking for Traditional Medication in
Urban Society at Cengkareng, West Jakarta Year 2014
Abstract
Traditional medicine increased interested people in most of society
especially the urban after 1999.Traditional health service which is based the local
can improve life both economically and community health local. As promotional
efforts and preventive in the field of health required identification associated with
factors that encouraged the community in choosing traditional health service. So
that encourage factors this can be used as the basis for the formulation of the
health program in promotional efforts and preventive.
This research aims to know whether: predisposing (age, sex, marital status,
education, occupation, family size, ethnicity, religion, home health services with
distance, values concerning health and illness, attitudes toward health services,
knowledge about disease; enabling (health insurance and cost of health services ;
and the needs (subjective views on the disease ever experienced and the state of
disease experienced in accordance with medical diagnosis) would have a
relationship with the traditional behavior the search of health services. An
instrument consisting of the 99 questions this research to obtain information from
the respondents.
Based on the statistical test, of 16 people characteristics, 10 have a
significant relation to the behavior of the use of traditional medicine at
Cengkareng and 6 characteristics of having no significant relationship.
Advice from the results of this research namely: to promotional programs
health factor based on behavior identification of the use of traditional health
service on research is expected existing data in this research can be used as a basis
determining step which is must be done to do program promotion of health
traditional health service. The integration between health services modern and
traditional should be noted with both in terms of socialization and communication
to patients.
Key word: traditional medicine, health seeking behavior, Cengkareng

1 KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahiim
Alhamdulillah, seluruh puji serta syukur selalu dilantunkan kehadirat
Allah SWT, Sang Pemilik Pengetahuan, yang dengan rahmat dan inayah - Nya
jualah maka penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul Determinan
Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional (Health Seeking
Behavior of Traditional Medicine) Masyarakat Cengkareng, Jakarta Barat,
2014.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad
Rasulullah SAW, yang atas perkenan Allah, telah mengantarkan umat manusia ke
pintu gerbang pengetahuan Allah yang Maha luas.
Dalam proses penyusunan laporan ini, penulis mendapatkan banyak dukungan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Keluarga tercinta, Sarwin Hadi Mulyono, Warsi, Widiastuti, Ristanto,
Rustiana, Rismawan yang selalu turut memberikan doa dan restu serta
dukungan yang diberikan tanpa mengenal batas waktu hingga akhirnya
penulis mampu mencapai pendidikan di jenjang universitas.
2. Prof.Dr (hc). dr. M. K. Tajudin, Sp.And sebagai Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatukkah Jakarta.
3. Ibu Fajar Ariyanti, Ph.D sebagai Kepala Program Studi Kesehatan
Masyarakat.
4. Ibu Dewi. A. Utami, Ph.D sebagai Sekretaris Program Studi Kesehatan
Masyarakat.
5. Bapak Dr. M. Farid Hamzens dan Ibu Raihana Nadra Alkaff, M. MA
selaku pembimbing yang telah memberi arahan dan masukan serta
motivasi dan doa kepada penulis agar senantiasa berupaya
dalam penyelesaian laporan magang maupun kompetensi.

vi

maksimal

6. Bapak Prof Dr. Rusmin Tumanggor, M. A, Ibu Hoirun Nisa. Ph.D, dan
Bapak dr. Yuli Prapanca Satar, MARS sebagai penguji siding skripsi.
7. Segenap bapak / ibu dosen Jurusan Kesehatan Masyarakat yang telah
memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi penulis dan
mahasiswa pada umumnya.
8. Teman - teman Peminatan Promosi Kesehatan 2010 yang selalu
mendukung penulis Icha, Prima, Siva, Ayu, Richo, Randika, Sari, Alul,
Ilmi, Dita, Yuli, Nita, Fury, dan Hervina.
9. Sahabat terbaik Agung, Misyka, Angga, Seno, Eliza, Bayti, Iqbal, Anis,
Prima serta teman-teman Kesehatan Masyarakat angkatan 2010 untuk
semangat yang diberikan.
10. Sahabat dan teman - teman penulis yang sudah memotivasi dan
mendukung penyusunan skripsi ini.
11. Tempat pengobatan tradisional dan responden yang terlibat dalam
penelitian ini.
12. Segenap pihak yang belum disebutkan satu persatu atas bantuan, semangat
dan doanya untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi.
Dan akhirnya kepada Allah SWT jualah penulis panjatkan doa dan harap,
semoga kebaikan mereka dicatat sebagai amal shaleh di hadapan Allah SWT dan
menjadi pemberat bagi timbangan kebaikan mereka kelak.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan
saran yang membangun senantiasa penulis harapkan agar dapat dijadikan
masukan di waktu mendatang.
Semoga skripsi ini dapat mendatangkan manfaat kepada penulis khususnya,
dan kepada seluruh pembaca secara keseluruhan.
Jakarta, Desember 2014

Penulis

vii

Daftar Isi
Lembar Pernyataan.. i
Lembar Pernyataan Pembimbing. ii
Daftar Riwayat Hidup iii
Abstrak iv
Kata Pengantar. vi
Daftar Isi.. viii
Daftar Tabel xvi
Daftar Bagan.. xx
BAB I. 1
Pendahuluan. 1
1.1.

Latar Belakang 1

1.2.

Rumusan Masalah 7

1.3.

Pertanyaan Penelitian 7

1.4.

Tujuan 9
1.4.1. Tujuan Umum. 9
1.4.2. Tujuan Khusus 9

1.5.

Manfaat Penelitian.. 10
viii

1.6.

Ruang Lingkup.. 11

BAB II.. 12
Tinjauan Pustaka 12
2.1.

Sistem Pengobatan ... 12

2.2.

Pengobatan Tradisional. 12
2.2.1. Definisi. 12
2.2.2. Jenis Pengobatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer 15
2.2.2.1. Obat Herbal. 16
2.2.2.2. Pijat Tradisional.. 17
2.2.2.3. Akupunktur. 23
2.2.2.4. Akupressur.. 25

2.3. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan.. 25


2.4. Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan..

26

2.4.1. Definisi Perilaku... 26


2.4.2. Faktor - Faktor yang Memengaruhi Perilaku Berdasarkan Model
Andersen.. 29
2.5.

Kerangka Teori.. 35

BAB III 36

ix

Kerangka Konsep, Definisi Operasional dan Hipotesis. 36


3.1.

Kerangka Konsep 36

3.2.

Definisi Operasional. 39

3.3.

Hipotesis. 42

BAB IV.. 43
Metodologi Penelitian 43
4.1.

Desain Penelitian 43

4.2.

Lokasi dan Waktu Penelitian.. 43

4.3.

Populasi dan Sampel 43


4.3.1. Populasi Penelitian 43
4.3.2. Sampel Penelitian 44

4.4.

Instrumen Penelitian 46

4.5.

Uji Validitas dan Realibitas 47


4.5.1. Uji Validitas. 47
4.5.2. Uji Reliabilitas 49

4.6.

Cara Pengambilan Data. 50

4.7.

Pengolahan Data.. 51

4.8.

Analisis Data 52
x

BAB V. 54
Hasil Penelitian. 54
5.1.

Gambaran Umum Wilayah Penelitian 54

5.2.

Analisis Univariat Variabel Dependen.. 54


5.2.1. Gambaran Perilaku Masyarakat dalam Menggunakan Pelayanan Kesehatan
Tradisional 54

5.3.

Analisis Univariat Variabel Independen 55


5.3.1. Gambaran Usia Responden di Wilayah Cengkareng 55
5.3.2. Gambaran Jenis Kelamin Responden di Wilayah Cengkareng.. 56
5.3.3. Gambaran Status Pernikahan Responden di Wilayah Cengkareng. 57
5.3.4. Gambaran Tingkat Pendidikan Responden di Wilayah Cengkareng. 59
5.3.5. Gambaran Pengetahuan Tentang Pelayanan Kesehatan/Pengobatan
Tradisional................ 60
5.3.6. Gambaran Pekerjaan Responden di Wilayah Cengkareng.. 62
5.3.7. Gambaran Jumlah Anggota Keluarga Responden di Wilayah Cengkareng.. 65
5.3.8. Gambaran Suku/Etnis Responden di Wilayah Cengkareng.... 66
5.3.9. Gambaran Agama Responden di Wilayah Cengkareng.... 69
5.3.10. Gambaran Jarak Rumah ke Pelayanan Kesehatan Tradisional Responden di
Wilayah Cengkareng............ 71
xi

5.3.11. Gambaran Penilaian Sehat dan Sakit Masyarakat di Wilayah Cengkareng. 73


5.3.12. Gambaran Sikap Masyarakat Terhadap Pelayanan Kesehatan Tradisional di
Wilayah Cengkareng............ 74
5.3.13. Gambaran Kepemilikan Asuransi atau Jaminan Kesehatan Responden di
Wilayah Cengkareng............ 76
5.3.14. Gambaran Tarif Pelayanan Kesehatan Tradisional Bagi Responden Pada
Masyarakat di Wilayah Cengkareng......... 77
5.3.15. Gambaran Pandangan Subjektif Terhadap Pelayanan Kesehatan Tradisional
Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng....... 79
5.3.16. Gambaran Kesesuaian Penyakit dengan Diagnosis Medis Responden Pada
Masyarakat di Wilayah Cengkareng........ 81
5.4.

Analisis Bivariat Variabel Independen Terhadap Variabel Dependen.. 83


5.4.1. Hubungan Faktor Predisposisi Terhadap Perilaku Pengobatan
Tradisional..... 83
5.4.2. Hubungan Faktor Pendukung Terhadap Perilaku Pengobatan Tradisional
.............. 84

5.4.3. Hubungan Faktor Predisposisi Terhadap Perilaku Pengobatan Tradisional


........... 85

BAB VI................... 86
Pembahasan.................. 86

xii

6.1.

Keterbatasan Penelitian............. 86

6.2.

Faktor Predisposisi Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional.. 86


6.2.1. Usia................ 87
6.2.2. Jenis Kelamin.............. 89
6.2.3. Status Pernikahan............ 91
6.2.4.

Tingkat Pendidikan.............. 93

6.2.5. Pengetahuan Tentang Pelayanan Kesehatan...... 95


6.2.6. Pekerjaan............... 96
6.2.7. Jumlah Anggota Keluarga............ 97
6.2.8. Suku/Etnis.............. 99
6.2.9. Agama.................. 101
6.2.10. Jarak Rumah ke Pelayanan Kesehatan Tradisional...... 102
6.2.11. Penilaian Tentang Sehat dan Sakit......... 103
6.2.12. Sikap.................. 104
6.3.

Faktor Pendukung Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional.... 105


6.3.1. Asuransi atau Jaminan Kesehatan.......... 105
6.3.2. Tarif Pelayanan Kesehatan Tradisional.......... 107

6.4.

Faktor Kebutuhan Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional.... 108


xiii

6.4.1. Pandangan Subjektif Terhadap Pelayanan Kesehatan.... 108


6.4.2. Kesesuaian Penyakit dengan Diagnosis Medis dan Melakukan Pengobatan
dengan Pelayanan Kesehatan Tradisional........ 108
BAB VII..................... 111
Kesimpulan dan Saran................. 111
7.1.

Kesimpulan................. 111

7.2.

Saran.................... 118

Daftar Pustaka................. 119

xiv

Daftar Tabel
Tabel 3.1. Definisi Operasional . 39
Tabel 4.1. Jumlah Sampel... 45
Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Kecamatan Cengkareng.. 45
Tabel 5.1. Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Masyarakat dalam Penggunaan
Pengobatan Tradisional di Wilayah Cengkareng... 54
Tabel 5.2. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Masyarakat di Wilayah
Cengkareng.. 55
Tabel 5.3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Masyarakat di Wilayah
Cengkareng.... 56
Tabel 5.4. Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan Masyarakat di Wilayah
Cengkareng... 57
Tabel 5.5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Masyarakat di Wilayah
Cengkareng... 59
Tabel 5.6. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Pelayanan Kesehatan
Tradisional Masyarakat di Wilayah Cengkareng... 60
Tabel 5.7. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Masyarakat di Wilayah
Cengkareng.... 62
Tabel 5.8. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga Masyarakat di
Wilayah Cengkareng.. 65
Tabel 5.9. Distribusi Responden Berdasarkan Suku/Etnis Asal Keluarga Masyarakat di
Wilayah Cengkareng.. 66
Tabel 5.10. Distribusi Responden Berdasarkan Agama yang Dianut Masyarakat di Wilayah
Cengkareng... 69
Tabel 5.11. Distribusi Responden Berdasarkan Jarak Rumah ke Pelayanan Kesehatan
Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng.

xvi

71

Tabel 5.12. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Sehat dan Sakit Pada
Masyarakat di Wilayah Cengkareng.

73

Tabel 5.13. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Terhadap Pelayanan Kesehatan


Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng...

74

Tabel 5.14. Distribusi Responden Berdasarkan Kepemilikan Asuransi atau Jaminan


Kesehatan Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng... 76
Tabel 5.15. Distribusi Responden Berdasarkan Tarif Pelayanan Kesehatan Tradisional
Bagi Responden Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng. 77
Tabel 5.16. Distribusi Responden Berdasarkan Pandangan Subjektif Responden
Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Tradisional Pada Masyarakat
di Wilayah Cengkareng... 79
Tabel 5.17. Distribusi Responden Berdasarkan Kesesuaian Penyakit dengan Diagnosis Medis
Responden Terhadap Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah
Cengkareng .... 81
Tabel 5.18. P Value Variabel Variabel Hubungan Faktor Predisposisi Terhadap
Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng ..

83

Tabel 5.19. P Value Variabel Variabel Hubungan Faktor Pendukung Terhadap


Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng ..

84

Tabel 5.20. P Value Variabel Variabel Hubungan Faktor Kebutuhan Terhadap


Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng ..

85

xvii

Daftar Bagan
Bagan 2.1. Pencarian Pelayanan Kesehatan: Individual Determinants of Health Service
Utilization by Ronald Andersen and John F. Newman (2005)

35

Bagan 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

38

xx

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pengobatan tradisional mengalami peningkatan peminat pada
sebagian besar masyarakat, khususnya masyarakat urban setelah tahun 1999.
Indonesia memiliki kekayaan suku budaya tradisional termasuk dibidang
pengobatan tradisional dari Sabang sampai Merauke. Pengobatan tradisional
yang berbasis kearifan lokal (local wisdom) dapat meningkatkan taraf
kehidupan, baik secara ekonomi maupun kesehatan masyarakat lokal. (WHO,
2010). Jika masyarakat mampu memanfaatkan pengobatan tradisional maka
akses masyarakat terhadap pengobatan pada saat mengalami gangguan
kesehatan semakin mudah karena disesuaikan dengan kemampuan daerah
atau lokal untuk menangani masalah kesehatan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1076/MENKES/SK/VII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan
Tradisional Menteri Kesehatan Republik Indonesia, pengobatan tradisional di
Indonesia diklasifikasikan dalam beberapa jenis, yaitu: keterampilan, ramuan,
pendekatan agama dan supranatural. Dari beberapa jenis pengobatan
tradisional tersebut, terdapat praktek praktek yang berbasis keterampilan,
ramuan, pendekatan agama dan supranatural yang mulai banyak muncul di
lingkungan masyarakat. (Kementerian Kesehatan, 2003)
Pengobatan tradisional telah berkembang pesat di seluruh dunia.
Berdasarkan data World Health Organization pada

tahun 2002, 75%

penduduk Perancis menggunakan pengobatan alternatif, 77% klinik terapi di


Jerman menggunakan akupuntur, 95% rumah sakit di China memiliki klinik
pengobatan tradisional dan 70% penduduk India menggunakan obat
tradisional untuk pengobatannya. Di Belanda dan Inggris masing masing
sekitar 60%, dan 74%, penduduk menggunakan pengobatan tradisional.
Presentasi

penduduk

yang menggunakan

pengobatan

alternatif

dan

komplementer di Canada, Amerika, dan Belgia berkisar 70%, 42%, dan 38%
(WHO, 2002).
Kondisi

Pengobatan

tradisional

di

Indonesia

menurut

data

Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 cakupan Pengobatan kesehatan


sudah mencakup

53,6% Kabupaten/Kota dari 416 Kabupaten/Kota di

Indonesia (223 Kabupaten/Kota). Dari cakupan wilayah tersebut, Puskesmas


yang sudah menyelenggarakan Pengobatan tradisional sudah mencapai 793
Puskesmas dari 9671 mencakup akupuntur dan akupresur (Kementerian
Kesehatan, 2013). Salah satu Puskesmas yang menyelenggarakan pengobatan
tradisional adalah Puskesmas Cengkareng. Dimana pada salah satu
layanannya terdapat akupunktur.
Perkembangan pengobatan tradisional mendapat perhatian serius dari
berbagai negara. Dari hasil kesepakatan pertemuan

World Health

Organization (WHO) dalam acara Congress on Traditional Medicine di


Beijing pada bulan November 2008 disebutkan bahwa Pengobatan tradisional
yang aman dan bermanfaat dapat diintegrasikan ke dalam sistem Pengobatan
konvensional. Dari pertemuan WHO pada tahun 2008 disebutkan dalam salah
satu resolusinya, yaitu: mendorong negara negara anggotanya agar

mengembangkan Pengobatan tradisional di negara masing - masing sesuai


dengan kondisi setempat (WHO, 2010).
Kedudukan pengobatan tradisional di Indonesia berdasarkan Undang
Undang (UU) Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
ditetapkan sebagai salah satu penyelenggara upaya kesehatan. Praktik
Pengobatan tradisional berdasarkan UU tersebut dibina dan diawasi oleh
pemerintah langsung agar dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan
keamanannya serta tidak bertentangan dengan norma agama.
Dengan adanya pergeseran pola penyakit yang terjadi di Indonesia
dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif, pemanfaatan Pengobatan
tradisional dapat menjadi rujukan bagi masyarakat untuk mengatasi
keterbatasan akses Pengobatan konvensional. Pengobatan tradisional telah
diakui keberadaannya sejak dahulu kala dan dimanfaatkan oleh masyarakat
dalam upaya preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Sampai saat ini
Pengobatan tradisional terus berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi
disertai dengan peningkatan pemanfaatannya oleh masyarakat. Hal ini
sebagai imbas dari semangat untuk kembali menggunakan hal hal yang
bersifat alamiah atau dikenal dengan istilah back to nature (Kementerian
Kesehatan, 2010).
Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2001, 57,7%
penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri. Dimana dari jumlah
tersebut, 31,7% menggunakan obat tradisional (jamu dan ramuan tradisional),
9,8% menggunakan pengobatan tradisional dan 16,1% mendiamkan

gangguan kesehatannya hingga sembuh dengan sendirinya. Lalu pada tahun


2004 penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri meningkat
menjadi 72,44% dimana 32,87% menggunakan pengobatan tradisional.
Di DKI Jakarta terdapat 306 tempat pengobatan tradisional (Yellow
Pages, 2014). Jumlah ini didapatkan berdasarkan data nomor telepon tempat
pengobatan tradisional di Jakarta. Jumlah tersebut cukup banyak, mengingat
jumlah rumah sakit di Jakarta ada 155 rumah sakit, diantaranya 32 rumah
sakit publik milik pemerintah, 54 rumah sakit publik milik swasta (nonprofit),
64 rumah sakit privat milik swasta, dan 5 rumah sakit privat milik Badan
Usaha Milik Negara (Kementerian Kesehatan, 2014). Menurut Dirjen Bina
Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan, jumlah pengobat tradisional di
Indonesia yang tercatat cukup banyak, yaitu 280.000 pengobat dengan 30
keahlian/spesialisasi (Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat Makassar,
2013).
Pengobatan tradisional memiliki banyak manfaat positif namun
disamping efek positif pengobatan tradisional, ada beberapa kasus
pengobatan tradisional yang terjadi di Indonesia yang dituduh melakukan
penipuan pengobatan dengan pendekatan agama. Pengobatan yang dilakukan
dengan pendekatan agama dan spiritual sebenarnya tidak memiliki dampak
positif bagi pasien. Hal yang merugikan seperti ini harus dihindari dari
praktik Pengobatan tradisional yang ada di Indonesia.
Kasus lain terkait pengobatan tradisional, yaitu iklan klinik
pengobatan China yang dinyatakan telah melanggar Peraturan Menteri

Kesehatan RI Nomor 1787/Menkes/Per/XII/2010 tentang Iklan dan Publikasi


Pengobatan

serta

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor

386/Men.Kes/SK/IV/1994 tentang Pedoman Periklanan Obat Tradisional.


Iklan klinik pengobatan tradisional yang berasal dari China ini mengandung
unsur pemujaan pada testimoni yang dilakukan oleh beberapa pasiennya.
Iklan klinik ini beredar di televisi swasta yang menampilkan testimoni
testimoni setelah melakukan pengobatan di klinik tersebut dan kalimat yang
diutarakan oleh pasien pasien tersebut berupa kalimat pemujaan. Hal inilah
yang menjadi pelanggaran terhadap pedoman periklanan obat tradisional oleh
klinik yang menyelenggarakan pengobatan tradisional berbasis pengobatan
tradisional China tersebut.
Belum adanya peraturan yang tegas terhadap seluruh penyelenggaraan
pengobatan tradisional di Indonesia karena masih dalam masa pengembangan
maka pelanggaran praktek pengobatan tradisional masih lebih banyak terjadi
dibandingkan dengan pengobatan konvensional (rumah sakit). Berdasarkan
pendapat

yang

dikemukan

oleh

Sarfino

(2006)

tentang

interaksi

biopsikososial akibat pelanggaran yang dilakukan oleh pengobat tradisional,


dapat mengakibatkan keterlambatan pengobatan (delay treatment) bagi pasien
pasiennya dalam memperoleh penanganan medis atau pengobatan yang
seharusnya sudah didapatkan pasien sehingga tidak menjadi komplikasi pada
gangguan kesehatannya.
Perilaku pencarian pengobatan adalah perilaku individu maupun
kelompok atau penduduk untuk melakukan atau mencari pengobatan.
Perilaku pencarian di masyarakat terutama di negara yang sedang

berkembang sangat bervariasi, diantaranya ada 5 pilihan dari yang paling


rendah sampai yang paling tinggi mengenai tindakan pada saat mengalami
gangguan kesehatan (sakit), yaitu: tidak bertindak atau tidak melakukan apa
apa (no action), tindakan mengobati sendiri (self- treatment), mencari
pengobatan ke fasilitas - fasilitas pengobatan tradisional (traditional remedy),
mencari pengobatan dengan membeli obat - obat ke warung - warung obat
(chemist shop) dan sejenisnya, termasuk ke tukang - tukang jamu, serta
mencari pengobatan ke fasilitas - fasilitas pengobatan modern yang diadakan
oleh pemerintah atau lembaga - lembaga kesehatan swasta, yan dikategorikan
ke dalam balai pengobatan, puskesmas, dan rumah sakit (Notoatmodjo,
2007).
Berdasarkan beberapa tahap perilaku pencarian pengobatan, pencarian
pengobatan tradisional termasuk tahap awal yang dilakukan untuk
menyembuhkan masalah kesehatan. Sebagai upaya promotif dan preventif
dalam bidang kesehatan, diperlukan identifikasi terkait dengan faktor faktor
yang mendorong masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional. Agar di
masa mendatang tidak terjadi penyalahgunaan Pengobatan tradisional, maka
faktor faktor yang mendorong ini dapat digunakan sebagai dasar dibuatnya
program kesehatan dalam upaya promotif dan preventif.
Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui faktor faktor
yang berhubungan dengan perilaku pencarian Pengobatan tradisional
masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014. Karena wilayah Jakarta
Barat memiliki jumlah penduduk yang paling padat di wilayah Jakarta dan

banyaknya Pengobatan tradisional yang tumbuh, terutama Pengobatan


tradisional berbasis TCM (Traditional Chinese Medicine).

1.2.

Rumusan Masalah
Kemajuan dunia kedokteran konvensional (modern) yang sudah
sangat pesat saat ini dapat menjadi rujukan masyarakat terutama masyarakat
kota atau masyarakat yang tinggal di wilayah yang relatif sudah maju.
Namun, fenomena pemanfaatan Pengobatan (pengobatan) tradisional sebagai
pilihan pengobatan, khususnya masyarakat urban meningkat. Hal ini ditandai
oleh banyaknya praktek pengobatan tradisional di lingkungan tempat tinggal
masyarakat urban. Dari semua pengobatan tradisional yang ada di
masyarakat, belum semuanya memiliki izin praktek pengobatan. Hal ini
mengakibatkan praktek pengobatan tradisional yang dilakukan Pengobatan
tradisional yang tidak memiliki izin tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pengobatan tradisional yang banyak dipilih oleh masyarakat
dilatarbelakangi oleh faktor faktor tertentu. Hal inilah yang membuat
peneliti tertarik mengidentifikasi faktor faktor apa saja yang berhubungan
dengan perilaku pencarian kesehatan ke Pengobatan tradisional.

1.3.

Pertanyaan Penelitian
1.

Bagaimana gambaran predisposisi (usia, jenis kelamin, status pernikahan,


pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga, suku/etnis, agama, jarak
rumah dengan Pengobatan, nilai tentang sehat dan sakit, sikap terhadap
Pengobatan, dan pengetahuan tentang Pengobatan) masyarakat

yang

memilih

pengobatan

tradisional

sebagai

pilihan

Pengobatan

di

Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?


2.

Bagaimana gambaran pendukung (asuransi kesehatan, tarif Pengobatan)


masyarakat

yang memilih pengobatan tradisional sebagai pilihan

Pengobatan di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?


3.

Bagaimana gambaran kebutuhan (pandangan subjektif terhadap penyakit


yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang dialami sesuai dengan
diagnosis medis) masyarakat

yang memilih pengobatan tradisional

sebagai pilihan Pengobatan di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?


4.

Bagaimana hubungan predisposisi (usia, jenis kelamin, status pernikahan,


pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga, suku/etnis, agama, jarak
rumah dengan Pengobatan, nilai tentang kesehatan dan penyakit, sikap
terhadap Pengobatan, dan pengetahuan tentang Pengobatan) dengan
perilaku pengobatan tradisional masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat
tahun 2014?

5.

Bagaimana hubungan pendukung (asuransi kesehatan, tarif Pengobatan)


dengan perilaku pengobatan tradisional masyarakat di Cengkareng,
Jakarta Barat tahun 2014?

6.

Bagaimana hubungan kebutuhan (pandangan subjektif terhadap penyakit


yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang dialami sesuai dengan
diagnosis medis) dengan perilaku pengobatan tradisional masyarakat di
Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

1.4.

Tujuan

1.4.1. Tujuan Umum


Mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku
pemilihan

pengobatan

tradisional

masyarakat

di

Kecamatan

Cengkareng, Jakarta Barat, tahun 2014.

1.4.2. Tujuan Khusus


1. Diketahuinya gambaran predisposisi (usia, jenis kelamin, status
pernikahan, pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga, suku/etnis,
agama, jarak rumah dengan Pengobatan, nilai tentang sehat dan sakit,
sikap terhadap Pengobatan, dan pengetahuan tentang Pengobatan)
masyarakat

yang memilih pengobatan tradisional sebagai pilihan

Pengobatan di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?


2. Diketahuinya gambaran pendukung (asuransi kesehatan, dan tarif
Pengobatan) masyarakat

yang memilih pengobatan tradisional

sebagai pilihan Pengobatan di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?


3. Diketahuinya gambaran karakteristik kebutuhan (pandangan subjektif
terhadap penyakit yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang
dialami sesuai dengan diagnosis medis) masyarakat yang memilih
pengobatan tradisional sebagai pilihan Pengobatan di Cengkareng,
Jakarta Barat tahun 2014?
4. Diketahuinya hubungan karakteristik predisposisi (usia, jenis kelamin,
status

pernikahan, pendididikan, pekerjaan,

jumlah keluarga,

suku/etnis, agama, jarak rumah dengan Pengobatan, nilai tentang

10

kesehatan dan penyakit, sikap terhadap Pengobatan, dan pengetahuan


tentang

Pengobatan)

dengan

perilaku

pengobatan

tradisional

masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?


5. Diketahuinya hubungan karakteristik pendukung (asuransi kesehatan,
dan tarif Pengobatan) dengan perilaku pengobatan tradisional
masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?
6. Diketahuinya hubungan karakteristik kebutuhan (pandangan subjektif
terhadap penyakit yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang
dialami sesuai dengan diagnosis medis) dengan perilaku pengobatan
tradisional masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014?

1.5.

Manfaat Penelitian
1. Untuk program, yaitu dapat digunakan sebagai salah satu masukan
terhadap program promosi pengobatan tradisional, tidak saja bagi
pembuat program namun juga untuk mereka yang menaruh
perhatian terhadap program tersebut. Hasil penelitian ini juga
diharapkan dapat dijadikan data dasar

bagi pengembangan

program promosi kesehatan yang terkait dengan pengobatan


tradisional jika dibutuhkannya gambaran partisipasi masyarakat,
khususnya pada masyarakat urban.
2. Untuk ilmu pengetahuan, diharapkan hasil penelitian dapat
menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya dan dimanfaatkan
sebanyak banyaknya untuk kepentingan pengembangan ilmu
pengetahuan.

11

3. Untuk universitas, diharapkan hasil penelitian sebagai salah satu


bentuk program tri darma perguruan tinggi, yaitu bidang
penelitian.

1.6.

Ruang Lingkup
Studi ini dilakukan di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat
untuk

melihat

karakteristik

masyarakat

yang

menggunakan

pengobatan tradisional sebagai Pengobatan pilihannya dan untuk


melihat apa saja faktor faktor yang mendorong masyarakat untuk
menggunakan pengobatan tradisional sebagai Pengobatan yang
pilihannya. Dengan tujuan yang telah dirumuskan oleh peneliti, maka
ditetapkan penelitian ini bersifat kuantitatif dengan metode cross
sectional. Lingkup objek responden dalam studi kuantitatif ini dibatasi
untuk menggambarkan faktor faktor pendorong masyarakat memilih
pengobatan tradisional sebagai pengobatan pilihan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Sistem Pengobatan

Sistem pengobatan atau pengobatan di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu:


pengobatan konvensional atau modern dan pengobatan tradisional. Pengobatan
konvensional atau modern adalah pengobatan yang berbasis pada ilmu kedokteran
konvensional yang telah lama berkembang sejak sebelum abad ke 19. Pengobatan
dengan metode yang mengacu pada pengobatan secara medis oleh dunia Barat yang
ditunjang dengan berbagai peralatan madis yang canggih dan obat obatan yang
bersifak kimia (buatan).
Sedangkan pengobatan tradisional adalah pengobatan yang berbasis kearifan
lokal (local wisdom) baik cara penyembuhan atau terapi yang digunakan maupun
obat obatan yang digunakan adalah bahan bahan alami. Pengobatan tradisional
terbagi dalam dua versi yaitu klasik dan modern. Tradisional klasik dlakukan secara
turun temurun tanpa ilmu atau penelitian sedangkan versi modern adalah pengobatan
yang berkonsep holistik dan sebagai komplemen (pelengkap) dari pengobatan medis.

2.2.

Pengobatan Tradisional
2.2.1. Definisi
Menurut WHO (2000), pengobatan tradisional adalah jumlah total
pengetahuan, keterampilan, dan praktek - praktek yang berdasarkan pada
teori - teori, keyakinan, dan pengalaman masyarakat yang mempunyai adat

12

13

budaya yang berbeda, baik dijelaskan atau tidak, digunakan dalam


pemeliharaan kesehatan serta dalam pencegahan, diagnosa, perbaikan atau
pengobatan penyakit secara fisik dan juga mental.
Menurut WHO (2000) pengobatan tradisional (Traditional Medicine
disingkat TM) mengacu pada pengetahuan, keterampilan serta praktek
berdasarkan teori, kepercayaan dan pengalaman masyarakat adat istiadat
dan budaya yang berbeda, digunakan dalam pemeliharaan kesehatan dan
pencegahan, diagnosis, perbaikan atau pengobatan penyakit fisik dan mental.
Obat tradisional mencakup berbagai terapi dan praktek yang berbeda dari satu
negara dengan negara lain dan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Di
beberapa negara, hal ini disebut sebagai "alternatif" atau "komplementer"
obat (Complementary Alternative Medicine disingkat CAM).
Seperti di Indonesia, pengobatan alternatif komplementer diartikan
sebagai pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas,
keamanan, dan efektivitas yang tinggi dan berlandaskan ilmu pengetahuan
biomedik,

yang

belum

diterima

dalam

kedokteran

konvensional

(Kementerian Kesehatan, 2007). Dari pengertian tersebut, pengobatan


tradisional, alternatif dan komplementer dapat diartikan sebagai pengobatan
yang berasal dari kepercayaan turun temurun dan digunakan sampai
sekarang dengan tujuan untuk meningkatan derajat kesehatan masyarakat.

14

Pengobatan tradisional telah digunakan selama ribuan tahun dengan


kontribusi besar yang dibuat oleh praktisi kesehatan manusia, khususnya
sebagai penyedia perawatan kesehatan primer di tingkat masyarakat.
TM/CAM telah mempertahankan popularitasnya di seluruh dunia. Sejak tahun
1990 - an penggunaannya telah meningkat di banyak negara maju dan
berkembang. Selain itu, pengobatan tradisional juga salah satu cabang
pengobatan alternatif yang bisa didefinisikan sebagai cara pengobatan yang
dipilih oleh seseorang bila cara pengobatan konvensional tidak memberikan
hasil yang memuaskan (Asmino, 1995).
Menurut Kementerian Kesehatan (2008), Pengobatan tradisional
adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu
pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris dapat
dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di
masyarakat, diluar ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan.
Upaya

kesehatan

tradisional

adalah

upaya

kesehatan

yang

diselenggarakan dengan cara lain diluar ilmu kedokteran yang mencakup cara
- teknik (metode), obat, sarana, dan pengobatnya (sumber daya manusia,
penyelenggara) yang mengacu pada pengetahuan, pengalaman, dan
keterampilan turun temurun, baik yang diperoleh dengan cara berguru atau
malalui pendidikan.

15

2.2.2. Jenis Pengobatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer


Jenis pengobatan tradisional, alternatif dan komplementer (Permenkes
RI, no: 1109/Menkes/Per/2007) adalah:
1.

Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body intervention): hipnoterapi,


mediasi, penyembuhan spiritual, doa, dan yoga.

2.

Sistem

pelayanan

pengobatan

alternatif:

akupuntur,

akupresur,

naturopati, homeopati, aromaterapi, dan ayurveda.


3.

Cara penyembuhan manual: chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu,


osteopati, dan pijat urut.

4.

Pengobatan farmakologi dan biologi: jamu, herbal, dan gurah

5.

Diet nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan: diet makro nutrient,


micro nutrient.

6.

Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan: terapi ozon, hiperborik, dan
EECP.
Jenis Pengobatan Tradisional menurut Asmino (1995), pengobatan

tradisional ini terbagi menjadi dua, yaitu: cara penyembuhan tradisional atau
traditional healing, yang terdiri daripada pijatan, kompres, akupuntur dan
sebagainya serta obat tradisional atau traditional drugs, yaitu: menggunakan
bahan - bahan yang telah tersedia dari alam sebagai obat untuk
menyembuhkan penyakit. Obat tradisional ini terdiri dari tiga jenis, yaitu:
pertama dari sumber nabati yang diambil dari bagian - bagian tumbuhan
seperti buah, daun, kulit batang dan sebagainya. Kedua, obat yang diambil
dari sumber hewani seperti bagian kelenjar - kelenjar, tulang - tulang maupun

16

dagingnya dan yang ketiga adalah dari sumber mineral atau garam garam
yang bisa didapatkan dari mata air yang keluar dari tanah contohnya, air mata
air zam - zam yang terletak di Mekah Mukarramah.
2.2.2.1. Obat Herbal
Obat herbal didefinisikan sebagai obat - obat yang dibuat dari
bahan alami seperti tumbuhan yang sudah dibudidayakan maupun
tumbuhan liar. Selain itu, obat herbal juga bisa terdiri dari obat yang
berasal dari sumber hewani, mineral atau gabungan antara ketiganya
(Mangan, 2003). Sebanyak 150,000 daripada 250,000 spesis
tumbuhan yang diketahui di dunia adalah berasal dari kawasan
tropika. Di Malaysia saja, kira kira 1,230 jenis spesies tumbuhan
telah lama digunakan di dalam rawatan tradisional (Dharmaraj, 1998).
Kaum Melayu misalnya sering menggunakan akar susun kelapa
(Tabernaemontana divaricata), akar melur (Jasminum sambac), bunga
raya (Hibisus rosa sinensis) dan ubi memban (Marantha arundinacea)
untuk rawatan kanser (Dharmaraj, 1998).
Dalam pengobatan tradisional ini, memang masih kurang data
data laboratorium tentang khasiat serta manfaat tanaman - tanaman
tersebut. Oleh sebab itu, di kalangan ahli dokter modern menganggap
pengobatan alternatif ini kurang ilmiah karena tidak didukung dengan
data klinis yang valid. Para ahli pengobatan tradisional ini pada
dasarnya melihat kesehatan sebagai satu pendekatan holistik dimana
jika adanya berlaku gangguan pada salah satu organ tubuh maka ini
akan menyebabkan ketidakseimbangan pada organ tubuh yang

17

lainnya. Tujuan utama pengobatan ini dilakukan lebih kepada


penyembuhan dengan menyeimbangkan kondisi organ - organ ini dan
bukan hanya untuk menghilangkan gejala saja (Mursito, 2002).
Keuntungan utama dalam menggunakan obatan herbal ini
adalah biayanya yang murah (Moh, 1998). Ini karena mudahnya dapat
bahan baku ini termasuklah bisa ditanam sendiri di halaman rumah
sebagai bekalan. Kebanyakan tumbuhan ini mudah membesar dan
tidak memerlukan kos penjagaan yang tinggi jika ditanam sendiri.
Selain itu, efek samping yang ditimbulkannya relatif kecil sehingga
lebih aman digunakan daripada obat obatan modern yang banyak
efek sampingnya. Bahkan, di kalangan masyarakat, obat herbal ini
dianggap tidak memiliki efek samping walaupun sebenarnya dalam
setiap tumbuhan ini memiliki bahan kimia hanya dalam dosis yang
relatif kecil sehingga tidak memberikan efek yang besar pada
penggunanya (Mangan, 2003).
2.2.2.2. Pijat Tradisional
Pijat adalah sebuah perlakuan hands-on, dimana terapis
memanipulasi otot dan jaringan lunak lain dari tubuh untuk
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Berbagai jenis pijat dari
lembut membelai hingga teknik manual yang lebih dalam untuk
memijat otot serta jaringan lunak lainnya. Pijat ini telah dipraktikkan
sebagai terapi penyembuhan selama berabad - abad yang hampir ada
dalam setiap kebudayaan di seluruh dunia. Ini dapat membantu
meringankan ketegangan otot, mengurangi stres, dan membangkitkan

18

rasa ketenangan. Meskipun pijat mempengaruhi tubuh secara


keseluruhan, hal itu terutama mempengaruhi aktivitas, sistem
muskuloskeletal, peredaran darah, limfatik, dan juga saraf.
Jenis pijatan, ada hampir 100 pijat tubuh yang berbeda - beda
tekniknya. Setiap teknik unik dirancang untuk mencapai tujuan
tertentu. Jenis yang paling umum diterapkan di Amerika Serikat dan
semakin berkembang di negara - negara lain meliputi:
1.

Pijatan Aromaterapi: Minyak essensial dari tanaman dipiijat di


atas kulit untuk meningkatkan penyembuhan dan efek relaksasi
dari pijatan itu. Minyak essensial ini diyakini memiliki pengaruh
kuat pada suasana hati dengan merangsang dua struktur jauh di
dalam otak, yaitu: sistem limbik dan hipokampus yang
merupakan penyimpan emosi dan memori.

2.

Pijatan Craniosakral: tekanan lembut diterapkan pada kepala dan


tulang belakang untuk memperbaiki ketidakseimbangan dan
memulihkan aliran cairan serebrospinal di daerah - daerah
tersebut.

3.

Pijatan Limfatik: Pijatan yang lembut dan berirama digunakan


untuk meningkatkan aliran getah bening (cairan berwarna yang
membantu melawan infeksi dan penyakit) ke seluruh tubuh. Salah
satu bentuk yang paling populer dari pijat limfatik, drainase
limfatik manual (MLD), berfokus pada pengeringan kelebihan

19

getah bening. MLD biasanya digunakan setelah operasi (seperti


mastektomi untuk kanker payudara) untuk mengurangi bengkak.
4.

Pijatan Miofasial: tekanan lembut dan memposisi tubuh


digunakan untuk relaksasi dan peregangan otot - otot, fasia
(jaringan ikat), dan struktur terkait. Biasanya terapis fisik dan
terapis pijat yang terlatih menggunakan teknik ini.

5.

Terapi Polaritas: Suatu bentuk energi penyembuhan, terapi


polaritas menstimulasi dan menyeimbangkan aliran energi dalam
tubuh untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan.

6.

Refleksi: teknik khusus menggunakan ibu jari dan jari diterapkan


pada tangan dan kaki. Refleksologis percaya bahwa daerah ini
mengandung "titik refleks" atau koneksi langsung ke organ
tertentu dan struktur pada seluruh tubuh.

7.

Rolfing: Tekanan diterapkan pada fasia (jaringan ikat) untuk


meregangkan, memperpanjang, dan membuatnya lebih fleksibel.
Tujuan dari teknik ini adalah untuk menyelaraskan tubuh
sehingga menghemat energi, melepaskan ketegangan, dan fungsi
yang lebih baik.

8.

Shiatsu: tekanan lembut jari tangan diterapkan terhadap titik


titik tertentu pada tubuh untuk menghilangkan rasa sakit dan
meningkatkan aliran energi (dikenal sebagai qi) melalui jalur
energi tubuh (disebut meridian).

20

9.

Pijatan Olahraga: Sering digunakan pada atlet profesional dan


individu aktif lainnya, pijatan olahraga dapat meningkatkan
kinerja dan mencegah serta mengobati cedera yang berhubungan
dengan olahraga.

10. Pijatan Swedia: Berbagai stroke dan teknik tekanan yang


digunakan untuk meningkatkan

aliran darah ke jantung,

menghilangkan hasil metabolisme dari jaringan, meregangkan


ligamen dan tendon, serta meredakan ketegangan fisik dan
emosional.
11. Pijatan Trigger Point : Tekanan diterapkan untuk "memicu
poin" (daerah lembut di mana otot - otot telah rusak) untuk
mengurangi kejang otot dan sakit.
12. Sentuhan Integratif: Suatu bentuk terapi pijat lembut yang
menggunakan teknik nonsirkulasi. Hal ini dirancang untuk
memenuhi kebutuhan pasien yang dirawat di rumah sakit atau
dalam perawatan hospis.
13. Sentuhan Pengasih: Menggabungkan satu - satu fokus perhatian,
sentuhan yang disengaja, dan pijatan sensitif dengan komunikasi
untuk meningkatkan kualitas hidup untuk pasien usia lanjut, sakit,
atau pasien kritis (ADAM, 2010).
Pijat diyakini dapat mendukung penyembuhan, meningkatkan
energi, mengurangi waktu pemulihan cedera, meringankan rasa sakit,

21

dan meningkatkan relaksasi, suasana hati, dan kesejahteraan. Hal ini


berguna untuk banyak masalah muskuloskeletal, nyeri punggung,
osteoarthritis, fibromyalgia, dan terkilir. Pijat juga dapat mengurangi
depresi pada orang dengan sindrom kelelahan kronis, mudah sembelit
(bila

teknik

pembengkakan

ini

dilakukan

setelah

di

daerah

mastektomi

perut),

(pengangkatan

menurunkan
payudara),

mengurangi gangguan tidur, dan meningkatkan citra diri. Di tempat


kerja, pijat telah terbukti dapat mengurangkan stres dan meningkatkan
kewaspadaan mental. Sebuah studi (Cambron, 2006) menemukan
bahwa pijat jaringan dapat mengurangi tingkat tekanan darah
(pengurangan rata - rata 10,4 mm Hg dalam tekanan sistolik dan
penurunan tekanan diastolik sebesar 5,3 mm Hg).
Studi

lain

menunjukkan

bahwa

pijat

memiliki

efek

menguntungkan pada rasa sakit langsung dan suasana hati di antara


pasien dengan kanker tingkat lanjut (Kutner, 2008). Menurut studi
klinis yang dilakukan (Furlan, 2008), menunjukkan bahwa pijat
mengurangi rasa sakit punggung kronis lebih efektif daripada
perlakuan lainnya (termasuk akupunktur dan perawatan medis
konvensional untuk kondisi ini), dan dalam banyak kasus, biayanya
juga kurang dari perlakuan lainnya.
Ibu dan bayi yang baru lahir juga tampak manfaat dari pijat.
Ibu yang dilatih untuk memijat bayi mereka sering merasa kurang
tertekan dan memiliki ikatan emosional yang lebih baik dengan bayi
mereka. Bayi yang menerima pijatan dari ibu mereka juga cenderung

22

lebih sedikit menangis, dan lebih aktif, waspada, dan ramah. Bayi
prematur yang menerima terapi pijat telah menunjukkan penambahan
berat badan lebih cepat daripada bayi prematur yang tidak menerima
terapi ini. Bayi yang menerima pijat secara teratur juga mendapat tidur
lebih baik, mengurangi masalah kembung perut atau kolik, dan
memiliki kesadaran tubuh yang lebih baik serta pencernaan lebih
teratur (Beider, 2007).
Studi yang dilakukan Vennesy pada tahun 2007 yang
menyentuh tentang pengobatan secara fisik ini menunjukkan bahwa
pijat bisa menjadi pengobatan yang efektif untuk anak - anak muda
dan remaja dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk:
1.

Autism: Anak - anak autistik, yang biasanya tidak suka disentuh,


menunjukkan perilaku yang kurang autis dan lebih sosial serta
perhatian setelah menerima terapi pijat dari orang tua mereka.

2.

Dermatitis atopik: Anak - anak dengan masalah ini, tampaknya


berkurangan kemerahan, bersisik serta gatal - gatal dan gejala
lain jika menerima pijat. Pijat sebaiknya tidak digunakan saat
kondisi kulit meradang secara aktif.

3.

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD): Pijat dapat


memperbaiki suasana hati pada anak dengan ADHD dan
membantu mereka merasa kurang gelisah dan hiperaktif.

23

4.

Bulimia: Studi menunjukkan bahwa remaja dengan gangguan


makan merasa kurang tertekan dan cemas setelah menerima
terapi pijat.

5.

Diabetes: Pijat dapat membantu mengatur kadar gula darah dan


mengurangi kecemasan dan depresi pada anak dengan diabetes.

6.

Rheumatoid arthritis: Anak - anak remaja dengan rheumatoid


arthritis (JRA) telah terbukti kurang mengalami rasa sakit,
kekakuan pada waktu pagi, dan kecemasan hasil daripada terapi
pijat.
Orang - orang yang mempunyai kondisi seperti gagal jantung,

gagal ginjal, infeksi pada vena superfisial atau selulitis pada bahagian
kaki dan lain - lain, pengumpalan darah pada kaki, masalah koagulasi,
dan infeksi kulit yang bisa berjangkit. Bagi pasien yang menderita
kanker, perlu mendapatkan pengesahan daripada dokter mereka
karena pijatan ini bisa merusakkan tisu yang rapuh akibat dari
kemoterapi atau pengobatan radiasi. Begitu juga dengan pasien goiter,
ekzema dan lesi - lesi kulit lainnya ketika masih sedang kambuh serta
pasien yang menderita osteoporosis, demam tinggi, kurang sel darah
putih, masalah mental dan yang sedang pulih dari pembedahan harus
mengelakan dari melakukan pijatan ini.
2.2.2.3. Akupunktur
Akupunktur adalah cara pengobatan yang menggunakan cara
menusuk jarum pada titik - titik tertentu pada tubuh badan manusia

24

dan

digunakan

untuk

mengembalikan

serta

mempertahankan

kesehatan seseorang dengan menstimulasi titik - titik itu. Indikasi


melakukan akupunktur (WHO, 1991):
1.

Saluran pencernaan dan lambung, untukmengatasi berbagai


masalah fungsional seperti masalah ekskresi asam lambung,
nyeri kolik, otot dan peradangan,

2.

Saluran nafas, untuk mengatasi kondisi alergi dan meningkatkan


daya tubuh,

3.

Mata, kelainan mata yang bersifat radang dan fungsional otot


serta refraksi,

4.

Mulut; untuk mengatasi rasa nyeri setelah pencabutan gigi


ataupun peradangan kronis,

5.

Saraf, otot dan tulang; yaitu masalah yang berkaitan dengan


nyeri, kelemahan, kelumpuhan serta peradangan pada sendi.
Akupunktur juga dapat digunakan sebagai terapi alternatif

untuk penyakit yang secara konvensional belum jelas pengobatannya


dan apabila pengobatan konvensional sudah kurang bereaksi terhadap
panyakit tersebut. Akupunktur juga dapat digunakan secara beriringan
dengan terapi konvensional ini dan terbukti dapat membantu penderita
yang diserang penyakit berat seperti stroke dalam rehabilitasi mereka.
Seperti yang telah diketahui, semua jenis pengobatan pasti ada
kontraindikasinya. Bagi akupunktur, kontraindikasinya adalah bagi
penderita yang dalam keadaan hamil. Selain itu, penderita yang
menggunakan pacu jantung ataupun pacemaker juga dinasihatkan

25

untuk tidak memilih pengobatan akupunktur ini. Dan dalam kerja


menusuk, seorang akupunkturis tidak bisa menusuk dekat daerah
tumor ganas dan juga pada kulit yang sedang meradang. WHO juga
sedang meninjau tentang

perlindungan dan pencegahan terhadap

penularan Hepatitis dan HIV/AIDS melalui jarum akupunktur.


Praktisi akupunktur dan masyarakat yang menggunakan khidmat
pengobatan akupunktur ini diharapkan diberi pendidikan tentang
risiko yang bisa dialami dan cara kerja yang benar untuk menanggung
ulangan keadaan ini.
2.2.2.4. Akupressur
Akupressur berasal dari kata accus dan pressure, yang berarti
jarum dan menekan. Istilah ini dipakai untuk cara penyembuhan yang
menggunakan teknik penekanan dengan jari pada titik titik
akupunktur sebagai pengganti penusukan jarum pada system
penyembuhan akupunktur. Tujuan penekanan pada titik titik
akupressur

adalah

melancarkan

aliran

energy

untuk

dapat

menjalankan fungsinya. Fungsi organ organ tubuh akan terganggu


jika tidak mendapatkan aliran energi yang cukup. Gangguan fungsi
tubuh akan mengganggu keseimbangan system tubuh (Kementerian
Kesehatan, 2012).

2.3.

Pemanfaatan Pengobatan
Menurut Levey dan Loomba (1973), yang dimaksud dengan Pengobatan

adalah setiap upaya yng diselenggarakan sendiri atau bersama-sama dalam suatu

26

organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan seseorang, keluarga,


kelompok dan masyarakat (Ilyas, 2003). Pengobatan merupakan suatu produk yang
unik jika dibandingkan dengan produk jasa lainnya, karena Pengobatan memiliki tiga
ciri utama, yaitu:
1. Uncertainly
Pengobatan bersifat uncertainly artinya adalah Pengobatan tidak dapat
dipastikan waktu, tempat dan besarnya biaya yang dibutuhkan maupun tingkat
urgensi dari pelayanan tersebut.
2. Asymetry of Information
Suatu keadaan kesehatan dengan penggunaan atau pembeli jasa Pengobatan.
Pemanfaatan Pengobatan adalah hasil dan proses pencarian Pengobatan oleh
seseorang maupun kelompok. Pengetahuan tentang faktor yang mendorong individu
membeli kesehatan merupakan informasi kunci untuk mempelajari utilisasi
Pengobatan. Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pemanfataan/ utilisasi
(Ilyas, 2003).

2.4.

Perilaku Pemanfaatan Pengobatan


2.4.1. Definisi Perilaku
Pemanfaatan Pengobatan adalah hasil dari proses pencarian
Pengobatan oleh seseorang maupun kelompok. Pengetahuan tentang faktor
yang mendorong individu membeli Pengobatan merupakan informasi kunci
untuk mempelajari utilisasi Pengobatan. Mengetahui faktor-faktor yang

27

mempengaruhi pencarian Pengobatan berarti juga mengetahui faktor-faktor


yang memengaruhi pemanfaatan/utilisasi. Menurut Andersen R (1968)
perilaku orang sakit berobat ke Pengobatan secara bersama dipengaruhi oleh
faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pemungkin (enabling
factors), dan faktor kebutuhan (need factors).
Menurut Notoadmodjo (2007) perilaku pencarian pengobatan adalah
perilaku individu maupun kelompok atau penduduk untuk melakukan atau
mencari pengobatan. Perilaku pencarian di masyarakat terutama di negara
yang sedang berkembang sangat bervariasi, respons seseorang apabila
sakit adalah sebagai berikut:
Pertama, tidak bertindak atau tidak melakukan apa-apa (no action),
alasannya antara lain bahwa kondisi yang demikian tidak akan mengganggu
kegiatan atau kerja mereka sehari-hari. Mungkin mereka beranggapan bahwa
tanpa bertindak apapun simptom atau gejala yang dideritanya akan lenyap
dengan sendirinya. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan belum merupakan
prioritas di dalam hidup dan kehidupannya.
Kedua, tindakan mengobati sendiri (self treatment) dengan alasan
yang sama seperti telah diuraian. Alasan tambahan dari tindakan ini adalah
karena orang atau masyarakat tersebut sudah percaya kepada diri sendiri, dan
sudah merasa bahwa berdasar pengalaman yang lalu usaha sendiri sudah
mendatangkan kesembuhan. Hal ini mengakibatkan pengobatan keluar tidak
diperlukan.

28

Ketiga,

mencari

pengobatan

ke

fasilitas-fasilitas

pengobatan

tradisional (traditional remedy). Keempat, mencari pengobatan dengan


membeli obat-obat ke warung-warung obat (chemist shop) dan sejenisnya,
termasuk ke tukang tukang jamu. Kelima, mencari pengobatan ke fasilitasfasilitas pengobatan modern yang diadakan oleh pemerintah atau lembagalembaga kesehatan swasta, yang dikategorikan ke dalam balai pengobatan,
puskesmas, dan rumah sakit (Notoatmodjo, 2007).
Fasilitas Pengobatan yang kurang di daerah pedesaan menyebabkan
sebagian besar masyarakat masih sulit mendapatkan atau memperoleh
pengobatan. Selain itu hal penting yang mempersulit usaha pertolongan
terhadap masalah kesehatan pada masyarakat desa adalah kenyataan yang
sering terjadi dimana penderita atau keluarga penderita tidak dengan segera
mencari pertolongan pengobatan. Perilaku yang menunda untuk memperoleh
pengobatan dari praktisi kesehatan ini disebut dengan treatment delay
(Sarafino, 2006).
Treatment delay adalah rentang waktu yang telah berlalu ketika
individu mengalami simptom awal sampai individu memasuki Pengobatan
dari praktisi kesehatan (Sarafino, 2006). Rendahnya penggunaan fasilitas
kesehatan ini, seringkali kesalahan dan penyebabnya dikarenakan faktor jarak
antara fasilitas tersebut dengan masyarakat yang terlalu jauh, tarif yang
tinggi, pelayanan yang tidak memuaskan dan sebagainya. Perilaku
merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari
luar). Perilaku juga dapat dikatakan sebagai totalitas penghayatan dan
aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama antara beberapa faktor.

29

Sebagian besar perilaku manusia adalah operant response yang berarti


respons yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus tertentu
yang disebut reinforcing stimulation atau reinfocer yang akan memperkuat
respons. Oleh karena itu untuk membentuk perilaku perlu diciptakan adanya
suatu kondisi tertentu yang dapat memperkuat pembentukan perilaku
Prasetijo (2004).
2.4.1. Faktor - Faktor yang Memengaruhi Perilaku Berdasarkan Model
Andersen
Berdasarkan perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, pasien
akan memutuskan menggunakan Pengobatan. Untuk menjelaskan tentang
proses pemanfaatan Pengobatan oleh masyarakat atau pasien oleh Andersen
(1995) dikemukakan bahwa keputusan seseorang dalam memanfaatkan
Pengobatan tergantung pada:
1. Karakteristik Predisposisi (predisposing characteristic)
Karakteristik ini digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa tiap
individu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan Pengobatan yang
berbeda-beda. Karakteristik predisposisi dapat dibagi ke dalam 3 kelompok
yakni:
a. Ciri - ciri demografi : umur, jenis kelamin, status pernikahan, dan
penyakit yang pernah diderita.
b. Struktur sosial : jenis pekerjaan, status sosial, pendidikan, ras, jumlah
anggota keluarga, agama, kesukuan, dan jarak ke Pengobatan.

30

c.

Kepercayaan:

keyakinan,

sikap,

serta

pengetahuan

terhadap

Pengobatan dan penyakitnya.


2. Karakteristik Pendukung (enabling characteristic)
a. Sumber daya keluarga : penghasilan keluarga, kemampuan membeli
jasa pelayanan dan keikutsertaan dalam asuransi kesehatan.
b. Sumber daya masyarakat : jumlah sarana Pengobatan, jumlah tenaga
kesehatan, rasio penduduk dengan tenaga kesehatan dan lokasi sarana
serta karakteristik masyarakat (urban atau rural).
3. Karakteristik Kebutuhan (need characteristic)
Kebutuhan

merupakan

dasar

dan

stimulus

langsung

untuk

menggunakan Pengobatan. Karakteristik kebutuhan dapat dibagi menjadi 2


kategori yakni :
a. Perceived (subject assessment).
b. Evaluated (clinical diagnosis).
Komponen kebutuhan yang dirasakan (perceived need), diukur
dengan perasaan subjektif individu terhadap Pengobatan. Jadi secara umum
dapat dikatakan bahwa faktor kebutuhan (need) merupakan penentu akhir
bagi individu dalam menentukan seseorang memanfaatkan Pengobatan
(Andersen, 1995).
Manusia adalah makhluk bio-psiko-sosial-spiritual yang utuh dan unik
sehingga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia berbeda dengan

31

makhluk lain yang ada dimuka bumi ini. Teori kebutuhan manusia
memandang manusia

sebagai

suatu keterpaduan, keseluruhan

yang

terorganisir dalam upaya memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia


dipandang sebagai tekanan internal hasil dari perubahan keadaan sistem dan
tekanan ini diwujudkan dengan adanya suatu perilaku yang dilakukan agar
terpenuhinya suatu kebutuhan.
Menurut Abraham Maslow kebutuhan manusia terdiri dari 5 yaitu (i)
kebutuhan fisiologis, (ii) kebutuhan rasa aman dan keselamatan, (iii)
kebutuhan dicintai dan dimiliki, (iv) kebutuhan akan harga diri dan (v)
kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan kesehatan (health needs) pada
dasarnya bersifat objektif yaitu kebutuhan kesehatan yang ditentukan oleh
tenaga medis dan karena itu untuk meningkatkan derajat kesehatan pada
perseorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat, upaya untuk
memenuhinya bersifat mutlak.
Sebagai sesuatu yang bersifat objektif maka munculnya kebutuhan
sangat ditentukan oleh masalah kesehatannya. Berbeda halnya dengan
kebutuhan, permintaan kesehatan (health demand) yang pada dasarnya
bersifat objektif yaitu kebutuhan kesehatan yang ditentukan oleh persepsi
pasien tentang kesehatannya. Oleh karena itu pemenuhan permintaan tersebut
pada saat itu saja (Notoadmodjo, 2007). Kebutuhan terhadap Pengobatan
seringkali

disalahtafsirkan

dengan

permintaan

terhadap

perawatan,

pemenuhan kebutuhan Pengobatan belum tentu merupakan pemenuhan


permintaan perawatan Pengobatan seseorang (Azwar, 1996).

32

Menurut Ewless dan Simnett ada empat macam kebutuhan yaitu (i)
kebutuhan normatif, (ii) kebutuhan yang dirasakan, (iii) kebutuhan yang
dinyatakan, dan (iv) kebutuhan komparatif. Kebutuhan normatif adalah
kebutuhan yang ditetapkan oleh seorang ahli atau seorang profesional sesuai
dengan kebutuhan normatif, seperti peraturan kesehatan makanan, ditetapkan
oleh undang-undang. Kebutuhan yang dirasakan adalah kebutuhan yang
diidentifikasikan orang- orang sebagai apa yang mereka inginkan. Kebutuhan
yang dirasakan dapat sedikit atau tak terbatas banyaknya tergantung pada
kesadaran dan pengetahuan orang tentang apa yang dapat tersedia. Kebutuhan
yang dinyatakan adalah apa yang orang katakan mereka butuhkan dan telah
diubah menjadi permintaan yang terungkap/dinyatakan. Tidak semua
kebutuhan yang dirasakan dapat berubah menjadi kebutuhan yang
dinyatakan. Tidak ada kesempatan, motivasi atau keberanian menyatakan
sesuatu dapat menjadi hambatan pengungkapan kebutuhan yang dirasakan.
Kebutuhan komparatif adalah kebutuhan yang ditatapkan ahli dengan
membandingkan kebutuhan masing-masing kelompok sasaran. Dalam hal ini,
kelompok yang belum mendapat perlakuan dianggap merupakan kelompok
yang memiliki kebutuhan.
Dalam

menjelaskan

keputusan

dalam

pencarian

pengobatan/pemanfaatan Pengobatan, model Andersen adalah yang paling


banyak digunakan (Becker, 1974). Model perilaku penggunaan Pengobatan
ini dikembangkan sekitar tahun 1960-an, untuk memahami mengapa keluarga
menggunakan Pengobatan, mengukur kelayakan akses Pengobatan, dan untuk

33

membantu mengembangkan kebijakan dalam mempromosikan akses yang


layak (Andersen, 1995).
Menurut model ini, penggunaan Pengobatan oleh seseorang
merupakan fungsi dari predisposisi dalam menggunakan Pengobatan, faktor
pemungkin dan kebutuhan akan pengobatan. Karakteristik predisposing,
faktor demografi seperti umur dan jenis kelamin mempresentasikan secara
biologis bahwa orang orang akan memerlukan perawatan kesehatan
(Whuka dan Eat dalam Andersen, 1995). Struktur sosial diukur dengan faktor
faktor determinan status seseorang di masyarakat, kemampuan dia untuk
mengatasi masalah masalah tersebut. Pengukuran tradisional untuk menilai
struktur sosial adalah pendidikan, pekerjaan, dan suku bangsa (Andersen,
1995).
Health belief/kepercayaan kesehatan adalah sikap, nilai nilai dan
pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang kesehatan dan Pengobatan yang
bias mempengaruhi persepsi mereka akan kebutuhan dan penggunaan
Pengobatan. Health belief menyediakan sebuah arti untuk menjelaskan
bagaimana struktur social bias mempengaruhi sumber daya pemungkin
(enabling resources), persepsi kebutuhan, dan kebutuhan subsekuent
(subsequent use).
Sumber daya yang memungkinkan dari masyarakat dan pribadi harus
ada untuk penggunaan Pengobatan. Pertama, petugas kesehatan dan fasilitas
kesehatan harus tersedia dimana orang orang tinggal dan bekerja.
Kemudian orang orang harus mempunyai tujuan dan mengetahui

34

bagaimana mendapatkan dan menggunakan pelayanan tersebut. Perjalanan


dan waktu tunggu merupakan pengukuran yang penting disini (Andersen,
1995).
Model health service harus mempertimbangkan bagaimana orang
orang memandang kesehatan mereka secara umum, bagaimana mereka
merasakan gejala gejala penyakit, nyeri, dan kekhawatiran tentang
kesehatan mereka. Hal ini bisa menjadikan keputusan penting bagi mereka
dalam pencarian pengobatan. Perceived need adalah fenomena sosial dan
harus dijelaskan dengan struktur sosial dan kepercayaan kesehatan (health
belief). Evaluated need (kebutuhan yang dievaluasi) menggambarkan
pernyataan tenaga professional tentang status kesehatan seseorang dan
kebutuhan mereka akan Pengobatan. Tentunya untuk evaluated need tidaklah
sederhana. Untuk pengukuran vaiditas dan reliabilitasnya harus melalui ilmu
biologi dan membutuhkan kompetensi dari para ahli/professional dalam
melakukan penilaian. Harapan logis dari model adalah bahwa perceived need
akan lebih menolong kita dalam pencarian pengobatan. Sedangkan evaluated
need

akan

lebih

dekat

menghubungkan

untuk

jenis

jenis

treatment/pengobatan/perlakuan yang akan disediakan setelah seorang pasien


dipertemukan dengan penyedia Pengobatan.
Hipotesis Andersen menyatakan bahwa faktor predisposing, enabling,
dan need akan mempunyai perbedaan kemampuan dalam menjelaskan
penggunaan, tergantung dari tipe pelayanan yang digunakan (Andersen, 1968
dalam Andersen, 1995).

35

2.5. Kerangka Teori


Predisposing

Enabling

Demograpic: Age,
Sex, Marital
Status, Past Illness

Family: Health
Insurance, Type of
Regular Source,
access to Regular
Source

Perceieved:
Disability,
Symptoms,
Diagnoses,
General State

Community: Ratios
of Health
Personnel and
Facilities to
Population, Price
of Health Health
Services, Region of
Country, Urban
Rural Character

Evaluated:
Symptoms,
Diagnoses

Social Structure:
Education, Race,
Occupation,
Family Size,
Athnicity, Religion,
Residential
Mobility

Need

Beliefs: Values
Concerning Health
and Illness,
Attitudes Toward
Health Services,
Knowledge About
Disease

Bagan 2.1
Perilaku Pencarian Pengobatan
Individual Determinants of Health Service Utilization
by Ronald Andersen and John F. Newman (2005)

Presipi
-tating
factor

Health
Service
Use

BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL
DAN HIPOTESIS
3.1.

Kerangka Konsep
Berdasarkan teori Ronald M. Andersen tentang perilaku pencarian
pengobatan dalam penelitian ini dikhususkan pengobatan tradisional,
beberapa

faktor

yang

diduga

mempengaruhi

perilaku

seseorang

diantaranya, yaitu:
1. Faktor predisposisi, dibagi menjadi 3, yaitu:
A. Demografi, yang meliputi: usia, jenis kelamin, dan status
pernikahan,
B. Struktur sosial, yang meliputi: tingkat pendidikan, pekerjaan,
jumlah anggota keluarga dalam satu rumah, suku/etnis, agama,
serta jarak rumah dengan pengobatan tradisional
C. Kepercayaan, yang meliputi: penilaian tentang sehat dan sakit,
sikap terhadap pengobatan tradisional, serta pengetahuan tentang
pengobatan tradisional.
2. Faktor pendukung, dibagi menjadi 2, yaitu:
A. Keluarga, yang meliputi asuransi atau jaminan kesehatan yang
dimiliki oleh keluarga.
B. Masyarakat, yang meliputi tarif pengobatan tradisional.

36

37

3. Faktor kebutuhan, dibagi menjadi 2, yaitu:


A. Pandangan subjektif pengobatan pada saat sakit
B. Keadaan penyakit yang dialami sesuai dengan diagnosis medis

38

Bagan 3.1. Kerangka Konsep Penelitian


Pendukung
Predisposisi
Demografi:

Keluarga:
13. Asuransi/
jaminan kesehatan

1. Usia
Masyarakat:
2. Jenis kelamin
3. Status pernikahan
Struktur Sosial:

14. Tarif
pengobatan
tradisional,

4. Tingkat pendidikan
5. Pekerjaan
6. Jumlah keluarga

Perilaku

7. Suku/etnis

Pencarian

8. Agama

Pelayanan

9. Jarak rumah
dengan pengobatan

Kesehatan
Tradisional

Kepercayaan:
10. Nilai tentang
sehat dan sakit
11. Sikap terhadap
pengobatan
tradisional
12. Pengetahuan
tentang pengobatan
tradisional

Kebutuhan
15. Pandangan
subjektif
pengobatan pada
saat sakit
16. Keadaan
penyakit yang
dialami sesuai
dengan diagnosis
medis

39

3.2.

Definisi Operasional
Tabel 3.1. Definisi Operasional

Variabel

Perilaku
Pencarian
Pengobatan
Tradisional

Usia

Jenis
Kelamin

Status
Pernikahan

Tingkat
Pendidikan

Pekerjaan

Definisi
Operasional
Frekuensi
responden
mengakses
pengobatan
tradisional pada
saat mengalami
gangguan
kesehatan.
Lamanya hidup
responden yang
dihitung
dari tahun lahir
sampai
ulang tahun
terahir.
Kondisi biologis
reponden sejak
dilahirkan.
Data yang
dimiliki oleh
responden pada
saat
pengambilan
data
berdasarakan
data yang
terdaftar dalam
pencatatan sipil
terkait dengan
pernikahannya.

Alat Ukur

Cara Ukur

Skala

Hasil Ukur
1. Jarang

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

2. Kadang
kadang
3. Sering

Kuesioner

Wawancara

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

Ordinal

1. 30 tahun
2. > 30 tahun

1.Pria
2.Wanita

1.Sudah
Menikah
Kuesioner

Wawancara

Ordinal

2.Belum
Menikah
3.Duda/Janda

Jenis pendidikan
formal yang
terakhir yang
Kuesioner
diselesaikan
oleh responden

Wawancara

Aktivitas atau
rutinitas yang
dilakukan
sebagai profesi

Wawancara

Kuesioner

Ordinal

Nominal

1.Rendah
(tidak sekolah
sampai SMA)
2.Tinggi (D3
sampai S3)
1.Tidak
Bekerja/
Pensiunan

40

untuk memenuhi
kebutuhan
sehari hari.

Jumlah
Anggota
Keluarga

Suku/ Etnis

Agama

Jarak Rumah
dengan
Pengobatan
Tradisional

Nilai tentang
Kesehatan
dan Penyakit

Total anggota
keluarga yang
tinggal dalam
satu rumah
dengan
responden.

Suku bangsa
yang dimiliki
oleh responden

Ajaran atau
kepercayaan
yang diakui di
Indonesia dan
menjadi
keyakinan oleh
responden
Seberapa jauh
responden dari
rumahnya ke
pengobatan
yang menjadi
rujukan pada
saat sedang
sakit.
Pandangan
responden
terhadap suatu
penyakit

2.Pegawai
Negeri Sipil
atau TNI atau
POLRI
3.Pegawai/
Karyawan
Swasta
4.Wiraswasta/
Pedagang
5.Buruh/
Pekerja Kasar

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

1.Baik ( 4
orang)
2.Buruk (> 4
orang)
1.Suku Betawi
2.Suku Jawa
3.Suku Batak
4.Suku Melayu
5.Suku Sunda
6.Etnis
Tionghoa
7.Suku Bali
1.Islam
2.Kristen
Katolik
3.Protestan
4.Budha
5.Hindu
6.Konghuchu

Kuesioner

Wawancara

Nominal

Kuesioner

Wawancara

Nominal

Kuesioner

Wawancara

Nominal

1.Dekat
2.Jauh

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

1.Baik
2.Sedang
3.Buruk

41

Sikap
Terhadap
Pengobatan
Tradisional

Pengetahuan
Tentang
Pengobatan
Tradisional

Asuransi
atau Jaminan
Kesehatan
Keluarga

Tarif
Pengobatan
Tradisional

Pandangan
Subjektif
Terhadap
Penyakit.

Keadaan
Penyakit
Berdasarkan
Diagnosis
Medis

Respon yang
timbul dalam
menghadapi
pengobatan
Pengetahuan
yang dimiliki
oleh responden
tentang
pengobatan
tradisional pada
saat
pengambilan
data penelitian
Jaminan
kesehatan untuk
menanggung
biaya
pengobatan
yang dimiliki
oleh anggota
keluarga.
Biaya yang
dikenakan pada
saat melakukan
pemeriksaan
kesehatan/
berobat
Persepsi
responden
terhadap
gangguan
kesehatan yang
pernah dialami
oleh responden
Pernyataan
responden
mengenai
keluhan yang
dirasakan
terhadap gejala
gejala
gangguan
kesehatan.

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

Ordinal

1. Buruk
(33,65)
2. Baik
(>33,65)

1. Rendah
(59,7)
2. Tinggi
(>59,7)

Kuesioner

Wawancara

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

1.Ada
2.Tidak ada

Kuesioner

Wawancara

Ordinal

1.Tinggi
2.Sedang
3.Rendah

Kuesioner

Kuesioner

Wawancara

Wawancara

Ordinal

Nominal

1. Buruk
(3,76 )
2. Baik(>3,76 )

1. Masalah
pada otot
dan sendi
2. Kolesterol
tinggi
3. Asam urat
4. Diabetes
5. Stroke
6. Reumatik

42

3.3.

Hipotesis
Berdasarkan kerangka konsep yang telah dibuat dalam penelitian ini,

rumusan hipotesis peneliti adalah:


1. Ada hubungan antara faktor predisposisi (usia, jenis kelamin, status
pernikahan, pendididikan, pekerjaan, jumlah keluarga, suku/etnis, agama,
jarak rumah dengan pengobatan tradisional, penilaian tentang sehat dan
sakit, sikap terhadap pengobatan, dan pengetahuan tentang pengobatan)
dengan perilaku pengobatan tradisional masyarakat,
2. Ada hubungan antara pendukung faktor (asuransi kesehatan dan tarif
pengobatan) dengan perilaku pengobatan tradisional masyarakat,
3. Ada hubungan antara faktor kebutuhan (pandangan subjektif terhadap
penyakit yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang dialami sesuai
dengan diagnosis medis) dengan perilaku pengobatan tradisional
masyarakat.

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1.

Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif
dengan desain penelitian cross sectional, dimana pengumpulan data dan
pengukuran variabel independen dan variabel dependen dilakukan pada
waktu yang bersamaan. Lalu dari data yang terkumpul dilakukan uji
statistik dengan uji chi square. Pemilihan desain ini didasarkan pada
tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui faktor faktor yang
berhubungan terhadap perilaku pencarian pelayanan kesehatan tradisional
masyarakat urban di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat tahun 2014.

4.2.

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014 di wilayah
Cengkareng, Jakarta Barat.

4.3.

Populasi dan Sampel


4.3.1. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang dewasa
yang bertempat tinggal di Cengkareng serta pernah melakukan
pencarian pelayanan kesehatan (pengobatan) tradisional.

43

44

4.3.2. Sampel Penelitian


Sampel pada penelitian ini adalah sebagian orang dewasa
yang bertempat tinggal di Cengkareng serta pernah melakukan
pencarian pelayanan kesehatan (pengobatan) tradisional.
Teknik sampling atau teknik pengambilan sampel yang
digunakan yaitu purposive dengan karakteristik responden yaitu:
orang dewasa yang pernah melakukan pencarian pelayanan
kesehatan tradisional. Untuk mendapatkan jumlah sampel, peneliti
menggunakan rumus uji hipotesis beda dua proporsi (Lemeshow,
1997) sebagai berikut :
n = {Z1-/2 2P (1-P) + Z1- P1 (1 - P1) + P2 (1 - P2)}2
(P1 - P2)2
Keterangan:
n

= Besar sampel

Z1-/2 = Derajat kemaknaan (5%)


Z1-

= Kekuatan uji (95%)

P1

= Proporsi

masyarakat yang menggunakan pelayanan

kesehatan tradisional
P2

= Proporsi masyarakat yang tidak menggunakan pelayanan

kesehatan tradisional

45

Tabel 4.1. Jumlah Sampel


Penelitian

Variabel

P1

Tiomarni Lumban Gaol


(2013)
Inggit Meliana
Anggarini (2004)

Akses pelayanan kesehatan


0,319
pada saat sakit
Pengetahuan tentang
pelayanan kesehatan
0,635
tradisional
Inggit Meliana
Keyakinan dalam
Anggarini (2004)
menggunakan pelayanan
0,646
kesehatan tradisional
terhadap efek penyembuhan
Berdasarkan perhitungan sampel dengan beberapa

P2

Jumlah
Sampel

0,681

47

0,365

86

0,354

74

nilai P dari

penelitian terdahulu, maka jumlah sampel yang akan diambil dalam


penelitian ini adalah jumlah sampel penelitian ini adalah 86 responden.
Dari jumlah tersebut ditambah 10% dari total responden, yaitu sebanyak 9
orang. Hal ini untuk mengantisipasi adanya bias. Maka jumlah
keseluruhan sampel adalah 95 responden.
Berdasarkan data kependudukan yang bersumber dari Sensus
Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, jumlah penduduk dan
pembagian responden berdasarkan kelurahan kelurahan yang terdapat di
wilayah kecamatan Cengkareng pada tahun 2010, yaitu:
Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Kecamatan Cengkareng
No.

Kelurahan

1.
Duri Kosambi
2.
Rawa Buaya
3.
Kedaung Kali Angke
4.
Kapuk
5.
Cengkareng Timur
6.
Cengkareng Barat
Total

Jumlah
Penduduk
86.352
71.231
36.821
160.083
87.293
72.140
513.920

Persentase
16,80 %
13,86 %
7,17 %
31,15 %
16,98 %
14,04 %
100 %

Jumlah
Responden
16
13
8
30
16
12
95

46

Setelah ditentukan jumlah sampel yang harus diambil pada masing


masing kelurahan, maka ditentukan sampel akan diambil pada tempat
tempat pengobatan tradisional yang ada di masing masing kelurahan
dengan kriteria:
1. Memiliki ahli pengobatan tradisonal yang sudah memiliki izin dari
Puskesmas atau sudah tergabung dalam Asosiasi Pengobat Tradisional
Indonesia.
2. Memiliki keturunan sebagai keluarga pengobat tradisional ramuan secara
turun - temurun.
Berdasarkan kriteria tersebut terdapat 6 tempat pengobatan
tradisional yang dijadikan tempat untuk pengambilan sampel, yaitu:
1. Duri Kosambi: Ramuan Tradisional Taman Sringanis
2. Rawa Buaya: Klinik Akupunktur Shinse Stephen Pang
3. Kedaung Kali Angke: Pengobatan Tradisional Al Hikmah Darul Ibtida
4. Kapuk: Pengobatan Tradisional Mbah Kyai Agung
5. Cengkareng Timur: TCM Anmo Peter Cung
6. Cengkareng Barat: TCM Shinse Jiang Taman Palem Lestari
4.4. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini adalah lembar kuesioner yang berisi 99
pertanyaan untuk menjawab semua variabel penelitian. Pertanyaan pada
kuesioner tersebut adalah perilaku pencarian pelayanan kesehatan
tradisional, usia, jenis kelamin, status pernikahan, tingkat pendidikan,
pekerjaan, jumlah keluarga yang tinggal dalam satu rumah, suku/etnis,
agama, jarak rumah dari pelayanan kesehatan tradisional, penilaian tentang

47

sehat dan sakit, sikap terhadap pelayanan kesehatan tradisional,


pengetahuan tentang pelayanan kesehtaan tradisional, kepemilikan
asuransi/jaminan kesehatan, tarif pelayanan kesehatan tradisional,
pandangan subjektif masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tradisional,
keadaan penyakit pada saat berobat ke pelayanan kesehatan tradisional.
Pada item kuesioner yang menggunakan jawaban benar dan salah,
menggunakan skoring 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah.
Item kuesioner yang menggunakan 4 poin skala Likert mulai dari sangat
tidak setuju hingga sangat setuju dan skoring diberikan dengan ketentuan
seperti dalam tabel 4.3. Dalam menentukan cut of point dari total skor
yang didapatkan untuk masing masing variabel yang belum memiliki cut
of point yang trerdapat pada definisi operasional maka ditentukan
berdasarkan nilai rata rata dari total skor yang didapatkan.
4.5 Uji Validitas dan Realibitas
4.5.1. Uji Validitas
Uji validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur
itu mengukur apa yang di ukur. Perhitungan dilakukan dengan
rumus korelasi Product Moment kemudian membandingkan antara
nilai korelasi atau r hitung dari variabel penelitian dengan r tabel.
Rumus korelasi Product Moment (Korelasi Pearson) adalah
(Sugiyono, 2007) :
r hitung=

48

Keterangan :
r

= Koefisien korelasi

= jumlah responden

= skor tiap item pertanyaan

= skor total

XY

= hasil kali skor X dan Y untuk setiap responden

X2

= kuadrat skor tiap item pertanyaan

Y2

= kuadrat skor total

Keputusan hasil dengan melihat r

hitung.

Pengujian validitas

dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :


1. Jika rhitung>rtabel, maka pertanyaan dinyatakan valid.
2. Jika rhitung<rtabel, maka pertanyaan dinyatakan tidak valid.
(Situmorang dkk, 2008).
Pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan
software uji statistik. Dari hasil uji statistik didapatkan nilai
Pearson Correlation terendah pada pertanyaan Q4A5 adalah 0.690
dan tertinggi pada pertanyaan Q4A7 adalah 0.834 sedangkan p
value semua pertanyaan adalah 0.000. Karena semua pertanyaan
pertanyaan pada kuesioner yang digunakan sebagai indtrumen
penelitian ini memiliki nilai koefisien korelasi sederhana (Pearson
Correlation) > 0.3494 (N = 30) dan memiliki p value 0.05 maka
pertanyaan pada kuesioner yang digunakan sebagai instrumen
penelitian ini dapat dinyatakan valid dan dapat digunakan pada saat
pengambilan data.

49

4.5.2. Uji Reliabilitas


Uji reliabilitas adalah suatu cara untuk melihat apakah alat
ukur dalam hal ini kuisioner akan memberikan hasil yang sama
apabila pengukuran dilakukan secara berulang-ulang. Pengukuran
variabel hanya dilakukan sekali saja dan kemudian hasilnya
dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar
jawaban pertanyaan. Pengukuran reliabilitas menggunakan uji
statistik

yang dilihat dari nilai

Cronbach alpha dengan

menggunakan bantuan komputer. Pengujian dilakukan dengan


menggunakan software uji statistik.
Pengujian reliabilitas dilakukan dengan kriteria sebagai
berikut:
a.

Jika r alpha> r tabel, maka kuesioner reliabel.

b.

Jika r alpha< r tabel, maka kuesioner tidak reliabel.

Rumus yang digunakan dalam uji ini adalah rumus Cronbach


Alpha sebagai berikut:

ri =

Keterangan :
ri

= koefisien reliabilitas yang dicari

= banyaknya item pertanyaan

Si 2 = jumlah varians item

50

St 2

= varians pertanyaan
Hasil uji coba ini menunjukkan nilai alpha sebesar 0,753.

Dengan merujuk pada pendapat Inggit Meliana Anggarini (2004)


Kuesioner atau angket yang berisi pertanyaan pertanyaan
penelitian dinyatakan reliable jika memiliki nilai Cronbach alpha
> 0,6. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa
instrumen yang telah diujicobakan ini reliable karena mempunyai
nilai alpha > 0,6.
4.6.

Cara Pengambilan Data


Data yang diambil pada penelitian ini adalah data primer. Data
yang diambil langsung dari sumbernya dan dikumpulkan melalui kuesioner
yang disebarkan oleh peneliti dan diisi langsung oleh responden atau
dibantu oleh peneliti jika diperlukan bantuan dalam pengisian kuesioner.
Pada penelitian ini pengukuran variabel dilakukan dengan
menggunakan instrument kuesioner yang terdiri dari beberapa pertanyaan
yang berkaitan dengan variabel independen dan dependen. Instrumen
penelitian ini adalah kuesioner yang diisi sendiri oleh responden atau
dibantu oleh peneliti jika diperlukan bantuan dalam pengisian kuesioner.
Kuesioner dibagi menjadi 3 bagian, yaitu data predisposisi, pendukung,
dan kebutuhan.
Data predisposisi didapatkan dari data pribadi responden
berdasarkan demografi (usia, jenis kelamin, status pernikahan, penyakit
yang pernah dialami), struktur sosial (pendididikan, ras, pekerjaan, jumlah
keluarga, suku/etnis, agama), dan

kepercayaan (jarak rumah dengan

51

pelayanan kesehatan, nilai tentang kesehatan dan penyakit, sikap terhadap


pelayanan kesehatan, serta pengetahuan tentang pelayanan kesehatan).
Data pendukung didapatkan dari pertanyaan penelitian yang berdasarkan
keluarga (asuransi kesehatan) dan masyarakat (tarif pelayanan kesehatan).
Dan data kebutuhan berdasarkan pandangan subjektif responden terhadap
penyakit yang pernah dialami dan keadaan penyakit yang dialami sesuai
dengan diagnosis medis.
4.7.

Pengolahan Data
Pengolahan data terdiri dari serangkaian tahapan yang harus
dilakukan agar data siap untuk diuji statistik dan dilakukan analisi atau
interpretasi (Yuli, 2012). Pengolahan data dapat dikelompokan menjadi :
1. Data Coding
Data coding yaitu merupakan kegiatan mengklasifikasikan data
dan memberi kode untuk masing masing kategorik yang sudah
ditentukan sesuai dengan definisi operasional.
2. Data Editing
Data editing adalah penyuntigan data dilakukan sebelum proses
pemasukan data. Penyuntingan data sebaiknya dilakukan di lapangan agar
data yang salah atau meragukan masih dapat ditelusuri kembali kepada
responden atau informasi yang bersangkutan. Pada penelitian ini dilakukan
pengecekan kembali terhadap data data yang dinilai meragukan dari data
yang didapatkan di lapangan dengan cara mengonfirmasi.
3. Data Structure

52

Data structure pada penelitian ini dilakukan dengan cara


pembuatan template sesuai dengan variabel yang sudah ditentukan dengan
menggunakan software uji statistik.
4. Data Entry
Data entry merupakan proses memasukkan data ke dalam program
atau fasilitas analisis data. Dalam penelitian ini entry data dilakukan
dengan software uji statistik. Data dimasukan sesuai dengan template yang
sudah dibuat sebelumnya.
5. Data Cleaning
Data cleaning merupakan proses pembersihan data setelah data di
entri. Cara yang dilakukan yaitu dengan melihat distribusi frekuensi dari
variabel variabel dan menilai kelogisannya. Dalam penelitian ini
dilakukan dengan pengecekan kembali pada seluruh data yang sudah
dimasukkan ke dalam software uji statistik. Dipastikan bahwa nilai nilai
yang dimasukkan ke dalam software uji statistik, di luar dari rentang yang
sudah ditentukan sesuai definisi operasional.
Setelah data cleaning, maka data siap untuk di analisis dengan
menggunakan uji chi square dengan menggunakan software uji statistik.
4.8.

Analisis Data
Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah :
1. Analisa univariat untuk melihat distribusi responden dan masingmasing variabel yaitu variabel predisposisi, pendukung, dan
kebutuhan.

53

2. Analisa

bivariat

untuk

melihat

hubungan

antara

variabel

independen dengan dependen. Masing-masing variabel independen


dengan variabel perilaku pemilihan pelayanan kesehatan sebagai
variabel dependen dilakukan dengan uji Chi-square. Hasil dari uji
chi-square berupa nilai probabilitas (p value). Penelitian ini
menggunakan tingkat kemagnaan () sebesar 0,05 (derajat
kepercayaan 95%), sehingga apabila hasil uji chi- square
didapatkan nilai p< 0,05 maka terdapat hubungan yang signifikan
diantara kedua variabel tersebut. Namun jika nilai p> 0,05 maka
dapat dikatakan tidak ada hubungan signifikan antara kedua
variabel tersebut.

BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1.

Gambaran Umum Wilayah Penelitian


Kecamatan Cengkareng secara geografis terletak di kotamadya Jakarta

Barat dan memiliki luas wilayah 27,93 km2. Secara administratif, Kecamatan
Cengkareng dibagi menjadi 6, yaitu: Kelurahan Kedaung Kali Angke, Kapuk,
Cengkareng Barat, Cengkareng Timur, Rawa Buaya, Duri Kosambi dan dihuni
oleh 85.399 kepala keluarga.
5.2.

Analisis Univariat Variabel Dependen

5.2.1. Gambaran Perilaku Masyarakat dalam Menggunakan Pengobatan


Tradisional
Tabel 5.1. Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Masyarakat dalam
Penggunaan Pelayananan Kesehatan Tradisional di Wilayah Cengkareng

Perilaku Penggunaan
Pengobatan
Tradisional
Jarang
Kadang kadang
Sering
Total

Jumlah (n)

46 orang
34 orang
15 orang
95 orang

Persentasi (%)

48.4
35.8
15.8
100

Berdasarkan tabel 5.1 diketahui pengelompokan responden dibagi


menjadi 3, yaitu: masyarakat dengan kategori jarang (baru mencoba atau
kunjungan awal pengobatan tradisional), kadang kadang, dan sering (sudah
menggunakan pengobatan tradisional sebagai layanan kesehatan rujukan pada
saat terjadi gangguan kesehatan atau sudah menjadi tempat terapi bagi masalah
kesehatannya). Masyarakat dengan kategori jarang ada sebanyak 46 orang
54

55

(48,4%). Masyarakat dengan kategori kadang kadang ada sebanyak 34 orang


(35,8%). Masyarakat dengan kategori sering ada sebanyak 15 orang (15,8%).
5.3.

Analisis Univariat Variabel Independen

5.3.1. Gambaran Usia Responden di Wilayah Cengkareng


Tabel 5.2. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Masyarakat di
Wilayah Cengkareng

Usia Dewasa

30 tahun
> 30 tahun
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%
4
21,1
9
47,4
6
31,6
42
55,3
25
32,9
9
11,8
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Total
n
19
76
95

%
100
100
100

Berdasarkan tabel 5.2 pengelompokan responden yang menggunakan


pengobatan tradisional berdasarkan usia, dikelompokkan menjadi 2, yaitu: usia
dewasa 30 tahun dan usia dewasa > 30 tahun. Usia dewasa 30 tahun
sebanyak 19 orang (20%) dari 95 orang dan usia dewasa > 30 tahun sebanyak
76 dari 95 orang (80%). Dari keseluruhan responden diketahui bahwa
responden dengan usia 30 tahun yang jarang menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 4 orang dari
19 orang (21,1%), dan responden yang kadang kadang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
9 orang dari 19 orang (47,4%), serta responden yang sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
6 orang dari 19 orang (31,6%). Sedangkan dari seluruh responden dengan usia

56

> 30 tahun, responden jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat


mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 42 orang dari 76 orang (55,3%),
dan responden yang kadang kadang menggunakan pengobatan tradisional
pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 25 orang dari 76 orang
(32,9%), serta responden yang sering menggunakan pengobatan tradisional
pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 9 orang dari 76 orang
(11,8%).
5.3.2. Gambaran Jenis Kelamin Responden di Wilayah Cengkareng
Tabel 5.3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Masyarakat
di Wilayah Cengkareng

Jenis
Kelamin
Pria
Wanita
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%
28
63,6
12
27,3
4
9,1
18
35,3
22
43,1
11
21,6
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Total
n
44
51
95

%
100
100
100

Berdasarkan table 5.3. pengelompokkan responden yang menggunakan


pengobatan tradisional berdasarkan jenis kelamin dikelompokkan menjadi 2,
yaitu: pria dan wanita. Pria yang menggunakan pengobatan tradisional ada
sebanyak 44 orang dari 95 orang (46,3%) dan yang menggunakan pengobatan
tradisional wanita sebanyak 51 orang dari 95 orang (53,7%). Dari jumlah
tersebut, diketahui bahwa responden dengan jenis kelamin pria yang jarang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 28 orang dari 44 orang (63,6%) dan responden dengan
jenis kelamin pria yang kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional

57

pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 12 orang dari 44 orang
(27,3%) serta responden dengan jenis kelamin pria yang sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
4 orang dari 44 orang (9,1%). Sedangkan responden dengan jenis kelamin
wanita yang jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 18 orang dari 51 orang (35,3%) dan
responden dengan jenis kelamin wanita yang kadang - kadang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
22 orang dari 51 orang (43,1%) serta responden dengan jenis kelamin pria yang
sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 11 orang dari 51 orang (11,6%).
5.3.3. Gambaran Status Pernikahan Responden di Wilayah Cengkareng
Tabel 5.4. Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan
Masyarakat di Wilayah Cengkareng

Status
Pernikahan
Belum
Menikah
Sudah
Menikah
Janda/Duda
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%

26,9

14

53,8

19,2

26

100

36

28,1

18

28,1

10

15,6

64

100

3
46

60
48,4

2
34

40
35,8

0
15

0
15,8

5
95

100
100

Total

Berdasarkan tabel 5.4. pengelompokkan responden yang menggunakan


pengobatan tradisional berdasarkan status pernikahannya dikelompokkan
menjadi 3, yaitu: responden dengan status belum menikah responden dengan

58

status menikah dan responden dengan status janda atau duda. Hal ini
disesuaikan oleh responden berdasarkan data kependudukan yang dimiliki oleh
masyarakat. Responden dengan status belum menikah sebanyak 26 orang
(27,4%), responden dengan status menikah sebanyak 64 orang (67,4%), dan
responden dengan status janda atau duda sebanyak 5 orang (5,3%). Dari jumlah
tersebut, diketahui bahwa responden dengan status pernikahan belum menikah
yang jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 7 orang dari 26 orang (26,9%) dan
responden dengan status pernikahan belum menikah yang kadang - kadang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 14 orang dari 26 orang (53,8%) serta responden
dengan status pernikahan belum menikah yang sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
5 orang dari 26 orang (19,2%). Untuk responden dengan status pernikahan
sudah menikah yang jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 36 orang dari 64 orang (26,9%)
dan responden dengan status pernikahan sudah menikah yang kadang - kadang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 18 orang dari 64 orang (28,1%) serta responden
dengan status pernikahan sudah menikah yang sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
10 orang dari 64 orang (15,6%).
Sedangkan responden dengan status pernikahan janda/duda yang jarang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan

59

kesehatan ada sebanyak 3 orang dari 5 orang (60,0%) dan responden dengan
status pernikahan sudah menikah yang kadang - kadang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
2 orang dari 5 orang (40,0%) serta responden dengan status pernikahan sudah
menikah yang sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan tidak ada (0%).
5.3.4. Gambaran Tingkat Pendidikan Responden di Wilayah Cengkareng
Tabel 5.5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Masyarakat di Wilayah Cengkareng

Tingkat
Pendidikan
Rendah
Tinggi
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang Jarang
Sering
Kadang
N
%
n
%
n
%
26
59,1
15
34,1
3
6,8
20
39,2
19
37,3
12
23,5
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Total
n
44
51
95

%
100
100
100

Keterangan: Pengelompokan didasarkan pada wajib belajar 12 tahun.

Berdasarkan tabel 5.5. pengelompokan tingkat pendidikan responden


yang menggunakan pengobatan tradisional dikelompokan menjadi 2, yaitu:
responden dengan tingkat pendidikan rendah (Sekolah Dasar sampai Sekolah
Menengah Atas) dan responden dengan tingkat pendidikan tinggi (D3 sampai
S3). Responden dengan kategori tingkat pendidikan rendah sebanyak 61 orang
(64%). Sedangkan responden dengan kategori tingkat pendidikan tinggi (D3
sampai S3) sebanyak 34 orang (35,8%). Dari jumlah tersebut, diketahui bahwa
responden dengan tingkat pendidikan rendah yang jarang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
26 orang dari 44 orang (59,1%) dan responden dengan tingkat pendidikan

60

rendah yang kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat


mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 15 orang dari 44 orang (34,1%)
serta responden dengan tingkat pendidikan rendah yang sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
3 orang dari 44 orang (6,8%).
Sedangkan responden dengan tingkat pendidikan tinggi yang jarang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 20 orang dari 51 orang (39,2%) dan responden dengan
tingkat pendidikan tinggi yang kadang - kadang menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 19 orang
dari 51 orang (37,3%) serta responden dengan tingkat pendidikan tinggi yang
sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 12 orang dari 51 orang (23,5%).
5.3.5. Gambaran

Pengetahuan

Tentang

Pengobatan/Pengobatan

Tradisional
Tabel 5.6. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang
Pengobatan Tradisional Masyarakat di Wilayah Cengkareng
Pengetahuan
Tentang
Pengobatan
Tradisional
Rendah
Tinggi
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
N
%
26
59,1
15
34,1
3
6,8
20
39,2
19
37,3
12
23,5
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Total
n
44
51
95

Keterangan:
59,70 adalah nilai rata rata (mean) dari keseluruhan data pengetahuan tentang
pengobatan/pengobatan tradisional

%
100
100
100

61

Berdasarkan tabel 5.6. pengelompokan pengetahuan responden


terhadap pengobatan tradisional dikelompokan menjadi 2, yaitu: responden
dengan pengetahuan rendah dan tinggi dengan cut of point nilai pengetahuan
59,70 (mean). Responden dengan pengetahuan rendah (memiliki nilai
pengetahuan 59,70) ada sebanyak 44 orang (46%) dan responden dengan
pengetahuan tinggi (memiliki nilai pengetahuan > 59,70) ada sebanyak 51
orang (53,7%). Dari jumlah tersebut, diketahui bahwa responden dengan
pengetahuan tentang pengobatan tradisional rendah yang jarang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
26 orang dari 44 orang (59,1%) dan responden dengan pengetahuan tentang
pengobatan tradisional rendah yang kadang - kadang menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 15 orang
dari

44 orang (34,1%) serta responden dengan pengetahuan tentang

pengobatan tradisional rendah yang sering menggunakan pengobatan


tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 3 orang dari
44 orang (6,8%).
Sedangkan responden dengan pengetahuan tentang pengobatan
tradisional tinggi yang jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 20 orang dari 51 orang (39,2%)
dan responden dengan pengetahuan tentang pengobatan tradisional tinggi yang
kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 19 orang dari 51 orang (37,3%) serta
responden dengan pengetahuan tentang pengobatan tradisional tinggi yang

62

sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan


kesehatan ada sebanyak 12 orang dari 51 orang (23,5%).
5.3.6. Gambaran Pekerjaan Responden di Wilayah Cengkareng
Tabel 5.7. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Masyarakat di
Wilayah Cengkareng

Jenis
Pekerjaan
Tidak
Bekerja
Pegawai
Negeri Sipil
Pegawai/
Karyawan
Swasta
Wiraswasta/
Pedagang
Buruh/
Pekerja
Kasar
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
N
%

12

36,4

12

36,4

27,3

33

100

70,0

30,0

10

100

16

59,3

29,6

11,1

27

100

45,0

40,0

15,0

20

100

40,0

60,0

100

46

48,4

34

35,8

15

15,8

95

100

Total

Keterangan: jenis pekerjaan dilakukan penyetaraan pekerjaan secara umum.

Berdasarkan tabel 5.8 pengelompokan pekerjaan responden yang


menggunakan pengobatan tradisional dikelompokan menjadi 5, yaitu: tidak
bekerja, pegawai negeri sipil, pegawai atau karyawan swasta, wiraswasta atau
pedagang, serta buruh atau pekerja kasar. Responden dengan jenis pekerjaan
tidak bekerja ada sebanyak 33 orang (34,7%). Responden dengan jenis
pekerjaan pegawai negeri sipil sebanyak 10 orang (10,5%). Responden dengan
jenis pekerjaan pegawai atau karyawan swasta sebanyak 27 orang (28,4%).
Responden dengan jenis pekerjaan wiraswasta atau pedagang sebanyak 20

63

orang (21,1%). Serta yang terakhir responden dengan jenis pekerjaan buruh
atau pekerja kasar sebanyak 5 orang (5,3%). Dari jumlah tersebut, diketahui
bahwa responden dengan jenis pekerjaan tidak bekerja (ibu rumah tangga dan
pensiunan) yang jarang dan kadang kadang menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 12 orang
dari 33 orang (36,4%). Responden dengan jenis pekerjaan tidak bekerja yang
sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 9 orang dari 33 orang (27,3%).
Untuk responden dengan jenis pekerjaan pegawai negeri sipil yang
jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 7 orang dari 10 orang (70,0%). Responden dengan
jenis pekerjaan pegawai negeri sipil yang kadang - kadang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
3 orang dari

10 orang (30,0%). Dan tidak ada responden dengan jenis

pekerjaan pegawai negeri sipil yang sering menggunakan pengobatan


tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan (0%).
Untuk responden dengan jenis pekerjaan pegawai/karyawan swasta
yang jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 16 orang dari 27 orang (59,3%). Responden
dengan jenis pekerjaan pegawai/karyawan swasta yang kadang - kadang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 8 orang dari 27 orang (29,6%). Responden dengan
jenis pekerjaan pegawai/karyawan swasta

yang sering menggunakan

64

pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak


3 orang dari 27 orang (11,1%).
Untuk responden dengan jenis pekerjaan wiraswasta/pedagang yang
jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 9 orang dari 20 orang (45,0%). Responden dengan
jenis pekerjaan wiraswasta/pedagang yang kadang - kadang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
8 orang dari

20 orang (40,0%). Responden dengan jenis pekerjaan

wiraswasta/pedagang yang sering menggunakan pengobatan tradisional pada


saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 3 orang dari 20 orang
(15,0%).
Untuk responden dengan jenis pekerjaan buruh/pekerja kasar yang
jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 2 orang dari 5 orang (40,0%). Responden dengan jenis
pekerjaan buruh/pekerja kasar yang kadang - kadang menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 3 orang dari
5 orang (60,0%). Sedangkan untuk responden dengan jenis pekerjaan
buruh/pekerja kasar tidak ada yang sering menggunakan pengobatan tradisional
pada saat mengalami gangguan kesehatan (0%).

65

5.3.7. Gambaran Jumlah Anggota Keluarga Responden di Wilayah


Cengkareng
Tabel 5.8. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga
Masyarakat di Wilayah Cengkareng

Jumlah
Anggota
Keluarga
Ideal
Tidak Ideal
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%
24
52,2
11
23,9
11
23,9
22
44,9
23
46,9
4
8,2
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Total
n
46
49
95

%
100
100
100

Keterangan: Pengelompokan didasarkan pada jumlah keluarga yang ideal oleh BKKbN yaitu 4
(empat) orang dalam 1 (satu) keluarga.

Berdasarkan tabel 5.8. pengelompokan berdasarkan jumlah anggota


keluarga yang tinggal dalam satu rumah dengan responden dibagi menjadi 2,
yaitu: responden dengan jumlah anggota keluarga ideal dan responden dengan
jumlah anggota keluarga tidak ideal. Responden dengan jumlah anggota
keluarga ideal sebanyak 46 orang (48,4%). Serta responden dengan jumlah
anggota keluarga tidak ideal sebanyak 49 orang (51,6%). diketahui bahwa
responden dengan jumlah anggota keluarga ideal yang jarang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
24 orang dari 46 orang (52,2%). Responden dengan jumlah anggota keluarga
ideal yang kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 11 orang dari 46 orang (23,9%).
Responden dengan jumlah anggota keluarga ideal yang sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
11 orang dari 46 orang (23,9%).

66

Untuk responden dengan jumlah anggota keluarga tidak ideal yang


jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 22 orang dari 49 orang (44,9%). Responden dengan
jumlah anggota keluarga tidak ideal yang kadang - kadang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
23 orang dari 49 orang (46,9%). Responden dengan jumlah anggota keluarga
tidak ideal yang sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 4 orang dari 49 orang (8,2%).
5.3.8. Gambaran Suku/Etnis Responden di Wilayah Cengkareng
Tabel 5.9. Distribusi Responden Berdasarkan Suku/Etnis Asal Keluarga
Masyarakat di Wilayah Cengkareng

Suku/Etnis

Suku Betawi
Suku Jawa
Suku Batak
Suku Melayu
Suku Sunda
Etnis Tionghoa
Suku Bali
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang
Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%
9
36,0
9
36,0
7
28,0
23
60,5
11
28,9
4
10,5
0
0
5
83,3
1
16,7
1
16,7
2
33,3
3
50,0
4
80,0
1
20,0
0
0
5
45,5
6
54,5
0
0
4
100
0
0
0
0
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Berdasarkan

tabel

5.9.

pengelompokan

Total
n
25
38
6
6
5
11
4
95

responden

%
100
100
100
100
100
100
100
100

berdasarkan

suku/etnis asal keluarga dibagi menjadi 7 kelompok, yaitu: responden yang


berasal dari Suku Betawi, Suku Jawa, Suku Batak, Suku Melayu, Suku Sunda,
Suku Bali dan Etnis Tionghoa. Responden yang berasal dari Suku Betawi
sebanyak 25 orang (26,3%), Suku Jawa sebanyak 38 orang (40%), Suku Batak

67

sebanyak 6 orang (6,3%), Suku Melayu sebanyak 6 orang (6,3%), Suku Sunda
sebanyak 5 orang (5,3%), Suku Bali sebanyak 4 orang (4,2%), dan Etnis
Tionghoa sebanyak 11 orang (11,6%).
diketahui bahwa responden yang berasal dari Suku Betawi dan jarang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 9 orang dari 25 orang (36,0%). Responden yang
berasal dari Suku Betawi dan kadang - kadang menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 9 orang dari
25 orang (36,0%). Responden yang berasal dari Suku Betawi dan sering
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 9 orang dari 25 orang (28,0%).
Untuk responden yang berasal dari Suku Jawa dan jarang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
23 orang dari 38 orang (60,5%). Responden yang berasal dari Suku Jawa dan
kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 11 orang dari 38 orang (28,9%). Responden
yang berasal dari Suku Jawa dan sering menggunakan pengobatan tradisional
pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 4 orang dari 38 orang
(10,0%).
Untuk responden yang berasal dari Suku Batak tidak ada yang jarang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan (0%). Responden yang berasal dari Suku Batak dan kadang - kadang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 5 orang dari 6 orang (83,3%). Responden yang berasal

68

dari Suku Batak dan sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 1 orang dari 6 orang (16,7%).
Untuk responden yang berasal dari Suku Melayu dan jarang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 1 orang dari 6 orang (16,7%). Responden yang berasal
dari Suku Melayu dan kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional
pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 2 orang dari 6 orang
(33,3%). Responden yang berasal dari Suku Melayu dan sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
3 orang dari 6 orang (50,0%).
Untuk responden yang berasal dari Suku Sunda dan jarang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 4 orang dari 5 orang (80,0%). Responden yang berasal
dari Suku Sunda dan kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional
pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 1 orang dari 5 orang
(20,0%). Tetapi tidak ada responden yang berasal dari Suku Sunda dan sering
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan (0%).
Untuk responden yang berasal dari Suku Tionghoa dan jarang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 5 orang dari 11 orang (45,5%). Responden yang
berasal dari Suku Tionghopa dan kadang - kadang menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 6 orang dari
11 orang (54,4%). Tetapi tidak ada responden yang berasal dari Suku Tionghoa

69

dan sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami


gangguan kesehatan (0%).
Untuk responden yang berasal dari Suku Bali dan jarang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
4 orang (100,0%). Namun tidak ada responden yang berasal dari Suku
Tionghoa secara kadang kadang dan sering menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan.
5.3.9. Gambaran Agama Responden di Wilayah Cengkareng
Tabel 5.10. Distribusi Responden Berdasarkan Agama yang Dianut
Masyarakat di Wilayah Cengkareng

Agama

Islam
Kristen Katolik
Protestan
Budha
Hindu
Konghuchu
Total

Perilaku Penggunaan Pelayanan


Kesehatan Tradisional Masyarakat
Kadang
Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%
38
52,1
22
30,1
13
17,8
4
36,4
7
63,3
0
0
0
0
3
60
2
40,0
0
0
2
100
0
0
2
100
0
0
0
0
2
100
0
0
0
0
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Total
n
73
11
5
2
2
2
95

%
100
100
100
100
100
100
100

Berdasarkan tabel 5.10. pengelompokan agama yang dianut responden


dibagi menjadi 6, yaitu: responden yang beragama Islam, Kristen Katolik,
Protestan, Budha, Hindu,dan Konghuchu. Responden yang menganut agama
Islam sebanyak 73 orang (76,8%), Kristen Katolik sebanyak 11 orang (11,6%),
Protestan sebanyak 5 orang (5,3%), Budha sebanyak 2 orang (2,1%), Hindu
sebanyak 2 orang (2,1%), dan Konghuchu sebanyak 2 orang (2,1%). Dari

70

jumlah tersebut diketahui bahwa responden yang beragama Islam dan jarang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 38 orang dari 73 orang (52,1%). Responden yang
beragama Islam dan kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional
pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 22 orang dari 73 orang
(30,1%). Responden yang beragama Islam dan sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
13 orang dari 73 orang (17,8).
Responden yang beragama Kristen Katolik dan jarang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
4 orang dari 11 orang (36,4%). Responden yang beragama Kristen Katolik dan
kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 7 orang dari 11 orang (63,3%). Namun tidak
ada responden yang beragama Kristen Katolik dan sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan (0%).
Untuk responden yang beragama Protestan tidak ada yang jarang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan. Sedangkan responden yang beragama Protestan dan kadang kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 3 orang dari 5 orang (60,0%). Dan responden yang
beragama Protestan dan sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 2 orang dari 5 orang (40,0%).
Untuk responden yang beragama Budha tidak ada yang menggunakan
pengobatan tradisional secara jarang dan sering. Namun responden yang

71

beragama Budha dan kadang kadang menggunakan pengobatan tradisional


pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 2 orang (100,0%).
Untuk responden yang beragama Hindu tidak ada yang menggunakan
pengobatan tradisional secara kadang - kadang dan sering. Namun responden
yang beragama Hindu dan jarang menggunakan pengobatan tradisional pada
saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 2 orang (100,0%).
Untuk responden yang beragama Konghuchu tidak ada yang
menggunakan pengobatan tradisional secara kadang - kadang dan sering.
Namun responden yang beragama Konghuchu dan jarang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
2 orang (100,0%).
5.3.10. Gambaran Jarak Rumah ke Pengobatan Tradisional Responden di
Wilayah Cengkareng
Tabel 5.11. Distribusi Responden Berdasarkan Jarak Rumah ke
Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng
Jarak Rumah
Ke
Pengobatan
Tradisional
Dekat
Jauh
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang
Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%
29
55,8
16
30,8
7
13,5
17
39,5
18
41,9
8
18,6
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Total
n
52
43
95

%
100%
100%
100%

Berdasarkan tabel 5.11. pengelompokan responden berdasarkan jarak


rumah dengan pengobatan tradisional yang diakses dibagi menjadi 2, yaitu:
rumah responden yang terjangkau dengan pengobatan tradisional dan rumah

72

responden yang kurang terjangkau dengan pengobatan tradisional. Responden


yang menyatakan rumahnya terjangkau dengan pengobatan tradisional ada
sebanyak 52 orang (54,7%). Responden yang menyatakan rumahnya kurang
terjangkau dengan pengobatan tradisional ada sebanyak 43 orang (45,3%).
diketahui bahwa responden dengan jarak rumah terjangkau ke
pengobatan tradisional dan jarang menggunakan pengobatan tradisional pada
saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 29 orang dari 52 orang
(55,8%). Responden dengan jarak rumah terjangkau ke pengobatan tradisional
dan kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 16 orang dari 52 orang (30,8%).
Responden dengan jarak rumah terjangkau ke pengobatan tradisional yang
sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 7 orang dari 52 orang (13,5%).
Untuk responden dengan jarak rumah kurang terjangkau ke pengobatan
tradisional dan jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 17 orang dari 43 orang (39,5%).
Responden dengan jarak rumah kurang terjangkau ke pengobatan tradisional
dan kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 18 orang dari 43 orang (41,9%).
Responden dengan jarak rumah kurang terjangkau ke pengobatan tradisional
dan sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 8 orang dari 43 orang (18,6%).

73

5.3.11. Gambaran Penilaian Sehat dan Sakit Masyarakat di Wilayah


Cengkareng
Tabel 5.12. Distribusi Responden Berdasarkan Penilaian Sehat dan Sakit
Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng
Penilaian
Tentang
Sehat Dan
Sakit
Buruk
Sedang
Tinggi
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang
Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%
0
0
0
0
2
100,
12
38,7
12
38,7
7
22,6
34
54,8
22
35,5
6
9,7
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Total
n
2
31
62
95

%
100,0
100,0
100,0
100,0

Berdasarkan tabel 5.12. pengelompokan berdasarkan penilaian


tentang sehat dan sakit responden dibagi menjadi 3, yaitu: responden dengan
penilaian buruk, sedang, dan tinggi. Responden dengan penilaian sehat dan
sakit buruk ada sebanyak 2 orang (2,1%). Responden dengan penilaian sehat
dan sakit sedang ada sebanyak 31 orang (32,6%). Responden dengan penilaian
sehat dan sakit tinggi sebanyak 62 orang (65,3%). diketahui bahwa tidak ada
responden dengan penilaian tentang sehat dan sakit buruk yang jarang dan
kadang kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan (0%). Namun responden dengan penilaian tentang sehat
dan sakit buruk tetapi sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 2 orang (100,0%).
Untuk responden dengan penilaian tentang sehat dan sakit sedang yang
jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 12 orang dari 31 orang (38,7%). Responden dengan
penilaian tentang sehat dan sakit sedang yang kadang - kadang menggunakan

74

pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak


12 orang dari 31 orang (38,7%). Responden dengan penilaian tentang sehat dan
sakit sedang yang sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 7 orang dari 31 orang (22,6%).
Untuk responden dengan penilaian tentang sehat dan sakit tinggi yang
jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 34 orang dari 62 orang (54,8%). Responden dengan
penilaian tentang sehat dan sakit tinggi yang kadang - kadang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
22 orang dari 62 orang (35,5%). Responden dengan penilaian tentang sehat dan
sakit tinggi yang sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 6 orang dari 62 orang (9,7%).
5.3.12. Gambaran Sikap Masyarakat Terhadap Pengobatan Tradisional di
Wilayah Cengkareng
Tabel 5.13. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Terhadap
Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng

Sikap
Terhadap
Pengobatan
Tradisional

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Total
Jarang

Kadang Kadang

Sering

Buruk

16

44,4

16

44,4

11,1

36

100

Baik

30

50,9

18

30,5

11

18,6

59

100

Total

46

48,4

34

35,8

15

15,8

95

100

Keterangan: 33,65 adalah nilai rata rata (mean) dari keseluruhan nilai total sikap responden
terhadap pengobatan tradisional

75

Berdasarkan tabel 5.13. pengelompokan berdasarakan sikap


responden terhadap pengobatan tradisional dibagi menjadi 2, yaitu responden
dengan sikap buruk dan responden dengan sikap baik. Responden dengan sikap
buruk terhadap pengobatan tradisional ada sebanyak 36 orang (37,9%) dan
responden dengan sikap baik terhadap pengobatan tradisional ada sebanyak 59
orang (62,1%). diketahui bahwa responden dengan sikap terhadap pengobatan
tradisional buruk dan jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 16 orang dari 36 orang (44,4%).
Responden dengan sikap terhadap pengobatan tradisional buruk dan kadang kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 16 orang dari 36 orang (44,4%). Responden dengan
dengan sikap terhadap pengobatan tradisional buruk dan sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
4 orang dari 36 orang (11,1%).
Untuk responden dengan dengan sikap terhadap pengobatan tradisional
baik dan jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 30 orang dari 59 orang (50,9%). Responden
dengan sikap terhadap pengobatan tradisional baik dan kadang - kadang
menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 18 orang dari 59 orang (30,5%). Responden dengan
dengan sikap terhadap pengobatan tradisional baik dan sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
11 orang dari 59 orang (18,6%).

76

5.3.13. Gambaran Kepemilikan Asuransi atau Jaminan Kesehatan


Responden di Wilayah Cengkareng
Tabel 5.14. Distribusi Responden Berdasarkan Kepemilikan Asuransi
atau Jaminan Kesehatan Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng

Asuransi/
Jaminan
Kesehatan
Ada
Tidak Ada
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang
Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%
22
50
15
34,1
7
15,9
24
47,1
19
37,3
8
15,7
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Total
N
44
51
95

%
100
100
100

Berdasarkan tabel 5.14. pengelompokan responden berdasarkan


kepemilikan asuransi atau jaminan kesehatan dibagi menjadi 2, yaitu:
responden yang memiliki dan tidak memiliki asuransi atau jaminan kesehatan.
Responden yang memiliki asuransi atau jaminan kesehatan ada sebanyak 44
orang (46,3%). Responden yang tidak memiliki asuransi atau jaminan
sebanyak 51 orang (53,7%). diketahui bahwa responden yang memiliki
asuransi/jaminan kesehatan dan jarang menggunakan pengobatan tradisional
pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 22 orang dari 44 orang
(50,0%). Responden yang memiliki asuransi/jaminan kesehatan dan kadang kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 15 orang dari 44 orang (34,1%). Responden yang
memiliki asuransi/jaminan kesehatan dan sering menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 7 orang dari
44 orang (15,9%).

77

Untuk responden yang tidak memiliki asuransi/jaminan kesehatan dan jarang


menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 24 orang dari 51 orang (47,0%). Responden yang
memiliki tidak asuransi/jaminan kesehatan dan kadang - kadang menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
19 orang dari 51 orang (37,3%). Responden yang tidak memiliki
asuransi/jaminan kesehatan dan sering menggunakan pengobatan tradisional
pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 8 orang dari 51 orang
(15,7%).
5.3.14. Gambaran Tarif Pengobatan Tradisional Bagi Responden Pada
Masyarakat di Wilayah Cengkareng
Tabel 5.15. Distribusi Responden Berdasarkan Tarif Pengobatan
Tradisional Bagi Responden Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng

Tarif
Pengobatan
Tradisional
Rendah
Sedang
Tinggi
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang
Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%
15
65,2
8
34,8
0
0
29
47,5
19
31,1
13
21,3
2
18,2
7
63,6
2
18,2
46
48,4
34
35,8
15
15,8

Total
n
23
61
11
95

%
100
100
100
100

Berdasarkan tabel 5.15. pengelompokan responden berdasarkan


pendapatnya terhadap tarif pengobatan tradisional yang diakses, dibagi menjadi
3, yaitu: responden yang berpendapat tarif pengobatan tradisional rendah,
sedang, dan tinggi. Responden yang berpendapat tarif pengobatan tradisional

78

rendah sebanyak 23 orang (24,2%). Responden yang berpendapat tarif


pengobatan tradisional sedang sebanyak 61 orang (63,2%). Responden yang
berpendapat tarif pengobatan tradisional tinggi sebanyak 11 orang (11,6).
diketahui bahwa responden dengan pendapat tentang tarif pengobatan
tradisional rendah dan jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat
mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 15 orang dari 23 orang (65,2%).
Responden dengan pendapat tentang tarif pengobatan tradisional rendah dan
kadang - kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 8 orang dari 23 orang (34,8%). Namun tidak
ada responden dengan pendapat tentang tarif pengobatan tradisional rendah
yang sering menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan (0%).
Untuk responden dengan pendapat tentang tarif pengobatan tradisional
sedang dan jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 29 orang dari 61 orang (47,5%). Responden
dengan pendapat tentang tarif pengobatan tradisional sedang dan kadang kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 19 orang dari 61 orang (31,1%). Responden dengan
pendapat tentang tarif pengobatan tradisional sedang yang sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
13 orang 61 orang (21,3%).
Untuk responden dengan pendapat tentang tarif pengobatan tradisional tinggi
dan jarang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami
gangguan kesehatan ada sebanyak 2 orang dari 11 orang (18,2%). Responden

79

dengan pendapat tentang tarif pengobatan tradisional tinggi dan kadang kadang menggunakan pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan
kesehatan ada sebanyak 7 orang dari 11 orang (63,6%). Responden dengan
pendapat tentang tarif pengobatan tradisional tinggi yang sering menggunakan
pengobatan tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak
2 orang 11 orang (18,2%).
5.3.15. Gambaran

Pandangan

Subjektif

Terhadap

Pengobatan

Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng


Tabel 5.16. Distribusi Responden Berdasarkan Pandangan Subjektif
Responden Terhadap Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada
Masyarakat di Wilayah Cengkareng
Perilaku Penggunaan Pengobatan
Tradisional Masyarakat

Pandangan
Subjektif
Terhadap
Pemanfaatan
Pengobatan
Tradisional

Buruk

24

66,7%

10

27,8%

5,6%

36

100,0%

Baik

22

37,3%

24

40,7%

13

22,0%

59

100,0%

Total

46

48,4%

34

35,8%

15

15,8%

95

100,0%

Jarang

Total

Kadang
Kadang

Sering

Keterangan: 3,76 adalah nilai rata rata (mean) dari keseluruhan nilai total pandangan
subjektif responden terhadap pengobatan tradisional

Berdasarkan tabel 5.16. pengelompokan berdasarkan pandangan


subjektif responden terhadap pemanfaatan pengobatan tradisional pada saat
sakit ringan, sedang dan berat dibagi menjadi 2, yaitu: responden yang
memiliki pandangan subjektif buruk dan baik. Responden yang memiliki
pandangan subjektif buruk sebanyak 36 orang (37,9%). Responden yang
memiliki pandangan subjektif baik sebanyak 59 orang (62,1%). diketahui

80

bahwa responden dengan pandangan

subjektif terhadap pemanfaatan

pengobatan tradisional buruk dan jarang menggunakan pengobatan tradisional


pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 24 orang dari 36 orang
(66,7%). Responden dengan pandangan subjektif terhadap pemanfaatan
pengobatan tradisional buruk dan kadang - kadang menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 10 orang
dari 36 orang (27,8%). Responden dengan pandangan subjektif terhadap
pemanfaatan pengobatan tradisional dan sering menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 2 orang dari
36 orang (5,6%).
Responden

dengan

pandangan

subjektif

terhadap

pemanfaatan

pengobatan tradisional baik dan jarang menggunakan pengobatan tradisional


pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 22 orang dari 59 orang
(37,3%). Responden dengan pandangan subjektif terhadap pemanfaatan
pengobatan tradisional baik dan kadang - kadang menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 24 orang
dari 59 orang (40,7%). Responden dengan pandangan subjektif terhadap
pemanfaatan pengobatan tradisional baik dan sering menggunakan pengobatan
tradisional pada saat mengalami gangguan kesehatan ada sebanyak 13 orang
dari 59 orang (22,0%).

81

5.3.16. Gambaran

Kesesuaian

Penyakit

dengan

Diagnosis

Medis

Responden Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng


Tabel 5.17. Distribusi Responden Berdasarkan Kesesuaian Penyakit
dengan Diagnosis Medis Responden Terhadap Pemanfaatan Pengobatan
Tradisional Pada Masyarakat di Wilayah Cengkareng
Kesesuaian
Penyakit
Dengan
Diagnosis
Medis
Masalah
pada otot dan
sendi
Kolesterol
tinggi
Asam urat
Diabetes
Stroke
Total

Perilaku Penggunaan Pengobatan


Tradisional Masyarakat
Kadang Jarang
Sering
Kadang
n
%
n
%
n
%

30

56,6

18

34,0

9,4

53

100

33,3

38,1

28,6

21

100

5
4

33,3
100

8
0

53,3
0

2
0

13,3
0

15
4

100
100

100

100

46

48,4

34

35,8

15

15,8

95

100

Total

Berdasarkan tabel 5.17. pengelompokan responden berdasarkan


penyakit yang pernah diderita dan dilakukan penyembuhan dengan
menggunakan pengobatan tradisional dibagi menjadi 5, yaitu: responden yang
memiliki penyakit masalah pada otot dan sendi, kolesterol tinggi, asam urat,
diabetes, dan stroke. Responden yang memiliki masalah pada otot dan sendi
ada sebanyak 53 orang (55,8%). Responden yang memiliki kolesterol tinggi
sebanyak 21 orang (22,1%). Responden yang memiliki asam urat sebanyak 15
orang (15,8%). Responden yang memiliki diabetes (4,2%). Responden yang
memiliki penyakit stroke sebanyak 2 orang (2,1%).
Dari data tersebut, diketahui bahwa responden dengan masalah pada
otot dan sendi yang jarang diobati dengan pengobatan tradisional ada sebanyak

82

30 orang dari 53 orang (56,6%). Responden dengan masalah pada otot dan
sendi

yang jarang diobati atau diterapi dengan pengobatan tradisional ada

sebanyak 18 orang dari 53 orang (34,0%). Responden dengan masalah pada


otot dan sendi yang jarang diobati atau diterapi dengan pengobatan tradisional
ada sebanyak 5 orang dari 53 orang (9,4%).
Untuk responden dengan kolesterol tinggi yang jarang diobati dengan
pengobatan tradisional ada sebanyak 7 orang dari 21 orang (33,3%).
Responden dengan kolesterol tinggi yang jarang diobati atau diterapi dengan
pengobatan tradisional ada sebanyak 8 orang dari 21 orang (38,1%).
Responden dengan kolesterol tinggi yang jarang diobati atau diterapi dengan
pengobatan tradisional ada sebanyak 6 orang dari 21 orang (28,6%).
Untuk responden dengan asam urat

yang jarang diobati atau diterapi

dengan pengobatan tradisional ada sebanyak 5 orang dari 15 orang (33,3%).


Responden dengan asam urat

yang jarang diobati atau diterapi dengan

pengobatan tradisional ada sebanyak 8 orang dari 15 orang (53,3%).


Responden dengan asam urat

yang jarang diobati atau diterapi dengan

pengobatan tradisional ada sebanyak 2 orang dari 15 orang (13,3%).


Sedangkan untuk responden dengan diabetes hanya ada 4 orang
(100,0%) dengan frekuensi kunjungan ke pengobatan tradisional jarang. Dan
untuk responden dengan stroke hanya ada 2 orang (100,0%) dengan frekuensi
kunjungan ke pengobatan tradisional sering.

83

5.4.

Analisis

Bivariat

Variabel

Independen

Terhadap

Variabel

Dependen
5.4.1. Hubungan Faktor Predisposisi Terhadap Perilaku Pengobatan
Tradisional
Tabel 5.18. P Value Variabel Variabel Hubungan Faktor Predisposisi
Terhadap Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di
Wilayah Cengkareng
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Variabel
Usia
Jenis kelamin
Status pernikahan
Tingkat pendidikan
Pengetahuan
Perkerjaan
Jumlah angota keluarga yang tinggal dalam satu
rumah
Suku/etnis
Agama
Jarak rumah dengan pengobatan tradisional
Penilaian tentang sehat dan sakit
Sikap

P Value
0,016
0,019
0,097
0,136
0,046
0,299
0,023
0,007
0,048
0,289
0,007
0,332

Menurut hasil uji statistik dengan uji chi square dengan nilai alpha
sebesar 0,05 didapatkan p value untuk variabel usia, jenis kelamin,
pengetahuan tentang pengobatan tradisional, jumlah anggota keluarga yang
tinggal dalam satu rumah, suku/etnis, agama, penilaian tentang sehat dan sakit
berturut turut sebesar 0,016; 0,019; 0,046; 0,023, 0,007, 0,048; dan 0,007.
Maka dapat disimpulkan varibel variabel tersebut terdapat hubungan yang
signifikan dengan perilaku penggunaan pengobatan tradisional masyarakat
karena p value hasil uji statistik variabel variabel tersebut < 0,05.
Menurut uji statistik dengan uji chi square dengan nilai alpha sebesar
0,05 didapatkan beberapa variabel faktor predisposisi yang menunjukan tidak

84

ada hubungan yang signifikan terhadap perilaku pengobatan tradisional. Hal ini
karena setelah p value yang didapatkan > 0,05. Variabel variabel tersebut
adalah status pernikahan, status pendidikan, pekerjaan, jarak rumah dengan
pengobatan tradisional, dan sikap terhadap pengobatan tradisional berturut
turut adalah 0,097; 0,136; 0,299; 0,289; dan 0,332.
5.4.2. Hubungan Faktor Pendukung Terhadap Perilaku Pengobatan
Tradisional
Tabel 5.19. P Value Variabel Variabel Hubungan Faktor Pendukung
Terhadap Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di
Wilayah Cengkareng
No.
1.
2.

Variabel
Asuransi atau Jaminan Kesehatan
Tarif Pengobatan Tradisional

P Value
0,947
0,026

Menurut hasil uji statistik dengan uji chi square dengan nilai alpha
sebesar 0,05 didapatkan p value sebesar 0,947, maka dapat disimpulkan antara
variabel asuransi/jaminan kesehatan dengan perilaku penggunaan pengobatan
tradisional masyarakat tidak terdapat hubungan yang signifikan. Karena nilai p
value > 0,05.
Menurut hasil uji statistik dengan uji chi square dengan nilai alpha
sebesar 0,05 didapatkan p value sebesar 0,026, maka dapat disimpulkan antara
variabel tarif pengobatan tradisional dengan perilaku penggunaan pengobatan
tradisional masyarakat terdapat hubungan yang signifikan. Karena nilai p value
< 0,05.

85

5.4.3. Hubungan Faktor Kebutuhan Terhadap Perilaku Pengobatan


Tradisional
Tabel 5.20. P Value Variabel Variabel Hubungan Faktor Kebutuhan
Terhadap Pemanfaatan Pengobatan Tradisional Pada Masyarakat di
Wilayah Cengkareng
No.
1.
2.

Variabel
Pandangan Subjektif Terhadap Pengobatan
Tradisional
Kesesuaian Penyakit dengan Diagnosis Medis

P Value
0,012
0,004

Menurut hasil uji statistik dengan uji chi square dengan nilai alpha
sebesar 0,05 didapatkan p value untuk variabel pandangan subjektif terhadap
pemanfaatan pengobatan tradisional dan kesesuaian penyakit dengan diagnosis
medis sebesar 0,012 dan 0,004. Oleh karena itu, dapat disimpulkan kedua
variabel tersebut terdapat hubungan yang signifikan dengan perilaku
penggunaan pengobatan tradisional masyarakat.

BAB VI
PEMBAHASAN
6.1.

Keterbatasan Penelitian
Cara pengumpulan data dengan kuesioner memiliki beberapa
kelemahan, antara lain :
1. Kuesioner yang digunakan merupakan daftar pertanyaan dan langsung
dijawab

sehingga

dapat

mengakibatkan

bias

respon

yaitu

kecenderungan responden untuk memberikan jawaban tidak sesuai


dengan

kondisi

aktual.

Namun,

dalam

penelitian

ini,

untuk

meminimalkan bias tersebut, pengisian kuesioner dipandu langsung


dengan cara wawancara oleh peneliti.
2. Tidak melihat data dengan observasi maupun wawancara mendalam
sehingga tidak mendapatkan informasi mengenai faktor faktor yang
lebih dalam dan lebih menyeluruh. Observasi dan wawancara
mendalam dapat memberikan pemahaman mendalam terhadap perilaku
masyarakat sekaligus sebagai cara untuk validasi pernyataan responden.
6.2.

Faktor Predisposisi Perilaku Pencarian Pengobatan Tradisional


Faktor predisposisi adalah faktor yang mempermudah dan
mendasari untuk terjadinya perilaku pencarian pengobatan tradisional.
Faktor ini dibagi menjadi 3, yaitu mencakup:

86

87

1. Demografi, meliputi: usia, jenis kelamin, dan status pernikahan


2. Struktur sosial, meliputi: tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah
anggota keluarga dalam satu rumah, suku/etnis, agama, serta jarak
rumah dengan pengobatan tradisional
3. Kepercayaan, meliputi: penilaian tentang sehat dan sakit, sikap

terhadap pengobatan tradisional, serta pengetahuan tentang pengobatan


tradisional.
6.2.1. Usia
Kalau dilihat dari usia, responden dengan usia muda ( 30
tahun) hanya sebanyak 19 orang (20%) yang melakukan pencarian
pengobatan ke pengobatan tradisional. Namun, dari kalangan usia
muda dapat terlihat, kepatuhan terhadap penggunaan pengobatan
tradisional lebih baik dibandingkan usia tua (> 30 tahun). Hal ini
terlihat dari persentase frekuensi sering pada kelompok responden
usia 30 tahun.
Hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh perbedaan pola
pikir dan cara pandang terhadap pengobatan tradisional. Pada
kalangan usia muda dalam penelitian ini, 31,6% responden
mengatakan sering ke pengobatan tradisional. Mungkin pada
kalangan

muda

sudah

lebih

banyak

mengetahui

manfaat

pengobatan tradisional dengan benar untuk meningkatkan derajat


kesehatannya. Pada usia tua, penggunaan pengobatan tradisional
dapat dikatakan masih belum patuh. Hal ini terlihat dari data yang

88

terkumpul,

sebanyak

55,3%

mengatakan

masih

jarang

menggunakan pengobatan tradisional. Perilaku seperti ini muncul,


mungkin karena semakin beragamnya penyakit yang diderita oleh
responden dan kemauan yang tinggi untuk menggunakan
pengobatan yang baru selain pengobatan konvensional.
Tingginya frekuensi dengan kategori jarang pada usia tua
dapat dilihat sebagai akibat dari ketidakpuasan pengobatan
konvensional atau kedokteran modern di Indonesia. Sehingga pada
kalangan tua, banyak yang mencoba pengobatan tradisional
sebagai

alternatif

untuk

pengobatannya

seiring

dengan

bertambahnya usia dan banyaknya gangguan kesehatan yang


dialaminya serta didukung ketidakpuasan terhadap pengobatan
konvensional atau kedokteran modern.
Hasil penelitian ini sejalan dengan data pada penelitian
yang dilakukan oleh Sudibyo Supardi dan Andi Leny Susyanti
(2010) yang menyatakan bahwa pengobatan tradisional lebih
banyak dipilih oleh kaum usia muda ( 30 tahun) dibandingkan
usia tua (> 30 tahun). Usia memiliki hubungan dengan tahap daur,
seiring bertambahnya usia, pengetahuan yang dimiliki seseorang
akan memberikan pelajaran bagi diri sendiri. Dan secara
berkelanjutan akan membentuk selera seseorang untuk memilih
dalam melakukan konsumsi termasuk dalam mengonsumsi atau
menggunakan pengobatan (Bilson Simamora, 2008). Adanya

89

perbedaan selera dalam memilih pengobatan tradisional pada


kelompok usia 30 tahun dengan > 30 tahun dikarenakan mungkin
adanya pengalaman yang kurang baik terhadap pengobatan
konvensional. Sehingga kalangan usia 30 tahun memilih dan
menggunakan pengobatan tradisional untuk meningkatkan derajat
kesehatannya.
Dalam upaya promosi kesehatan, untuk mengurangi
ketergantungan pada metode pengobatan Barat pada pengobatan
dan melihat antusias kalangan usia muda dalam memilih
pengobatan tradisional. Diperlukan langkah promosi mengenai
pengobatan tradisional mulai dari usia sekolah. Selain itu, upaya
promosi melalui pendidikan dengan media televisi, radio, dan
melalui dunia maya juga perlu digalakan mengingat kecanggihan
teknologi sudah maju pesat. Sehingga, masyarakat tidak hanya
mengetahui metode pengobatan atau pengobatan konvensional.
Masyarakat juga mampu memahami pengobatan tradisional dengan
baik dan mampu memanfaatkannya dengan tepat pada saat
mengalami gangguan kesehatan.
6.2.2. Jenis Kelamin
Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan yang
terdapat pada tabel 5.20. dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin
memiliki pengaruh terhadap pengambilan keputusan masyarakat
dalam memilih pengobatan tradisional karena memiliki p value

90

sebesar 0,019 atau kurang dari nilai , yaitu 0,05. Hal ini tercermin
pada distribusi masyarakat yang menjadi responden penelitian ini,
yaitu wanita sebanyak 51 orang (53,7%) memilih ke pengobatan
tradisional dan pria sebanyak 44 orang (46,3%).
Hal ini dapat diasumsikan bahwa karakteristik masyarakat
urban di Jakarta sudah tidak lagi didominasi oleh pria saja dalam
pengambilan keputusan khususnya mengenai dalam pemilihan
pengobatan . Emansipasi wanita di wilayah tempat tinggal
masyarakat urban dalam memilih pengobatan tradisional terlihat
dari distribusi data yang lebih besar wanita dibandingkan pria. Ini
disebabkan beberapa keputusan dalam keluarga tidak selamanya
bergantung pada pria.
Proses pencarian pengobatan dalam suatu keluarga
biasanya merupakan keputusan dari kepala keluarga. Kalau dalam
keluarga masih terdapat seorang ayah, maka ayah yang dominan
dalam pengamblian keputusan. Tapi kalau sudah single parent
maka, single parent tersebut yang mengambil keputusan dalam
keluarga. Oleh karena itu tingkat pemahaman kepala keluarga
tentang konsep sehat sakit serta pengetahuan tentang pentingnya
pengobatan untuk setiap gangguan kesehatan yang diderita anggota
keluarga, sangat menentukan pemilihan sarana pengobatan yang
mana untuk digunakan oleh keluarga tersebut.

91

Dalam penelitian penggunaan pengobatan tradisional ini,


ditemukan lebih banyak pengunjung pengobatan tradisional adalah
wanita. Hal tersebut memperlihatkan bahwa wanita dalam suatu
keluarga sudah memiliki peran untuk memilih pengobatan yang
digunakannya, terutama bagi dirinya sendiri.
Pada penelitian Sudibyo Supardi dan Andi Leny Susyanti
(2010) juga terlihat bahwa dalam hal penggunaan pengobatan
tradisional, wanita lebih banyak berperan pada saat memilih
pengobatan dibandingkan pria. Melihat fenomena yang ada di
lapangan, bahwa wanita lebih berperan dalam pengambilan
keputusan untuk memilih pengobatan tradisional, maka diperlukan
upaya promosi yang baik agar pengetahuan tentang pengobatan
tradisional kaum wanita tidak salah. Terlebih lagi jika wanita
tersebut sudah berkeluarga.
6.2.3. Status Pernikahan
Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan dapat
disimpulkan bahwa status pernikahan tidak memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap pengambilan keputusan masyarakat
dalam memilih pengobatan tradisional karena memiliki p value
sebesar 0,097 atau lebih dari nilai , yaitu 0,05.
Hal ini dapat menunjukan bahwa hubungan pernikahan
tidak memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perilaku

92

masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional. Fenomena ini


memperlihatkan bahwa keputusan dalam pengobatan tradisional
lebih didominasi oleh faktor pribadi masing masing, bukan
berdasarkan keputusan salah satu peran (suami atau istri). Hal
tersebut dapat terlihat juga berdasarkan jenis kelamin, lebih banyak
wanita (53,7%) sedangkan pria hanya sebesar 46,7%. Berdasarkan
jenis kelamin dan status pernikahan dapat dikaitkan bahwa perilaku
pencarian pengobatan tradisional tidak dipengaruhi oleh faktor pria
yang berperan sebagai kepala keluarga (pada kalangan yang sudah
menikah).
Pola pemilihan pengobatan tradisional pada masyarakat
urban di kota kota besar dapat terlihat bahwa dominasi salah satu
pihak (suami atau istri) tidak terlihat dengan jelas. Hal ini mungkin
karena tingkat kepercayaan diri masyarakat untuk memilih
pengobatan tradisional sebagai pengobatannya yang terbangun oleh
pengetahuannya. Dan perubahan status pernikahan seseorang
menjadi tidak terpengaruh terhadap perilaku tersebut. Dalam hal
ini, yang menjadi kontribusi adalah tingginya rasa toleransi dan
keterbukaan terhadap hal baru pada pola pikir masyarakat urban.
Sehingga tidak ada dominasi dalam hubungan suami istri dalam
memilih pengobatan tradisional.

93

6.2.4.

Tingkat Pendidikan
Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan dapat
disimpulkan bahwa pengetahuan tentang pengobatan tradisional
memiliki

pengaruh

yang

signifikan

terhadap

pengambilan

keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional


karena memiliki p value sebesar 0,136 atau kurang dari nilai ,
yaitu 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat dengan tingkat
pendidikan dalam hal ini pendidikan formal, tidak memiliki
kontribusi yang signifikan terhadap pengambilan keputusan ke
pengobatan tradisional. Dan fenomena ini memperlihatkan bahwa
pengobatan tradisional, bukan pengobatan untuk masyarakat
dengan pendidikan rendah tetapi sebaliknya. Meskipun tidak
terdapat perbedaan jumlah yang jauh antara masyarakat pendidikan
rendah (SD, SMP, dan SMA) dan tinggi (D3, SI, S2, dan S3), yaitu
sebesar 46,3% masyarakat dengan pendidikan rendah dan 53,7%
masyarakat dengan pendidikan tinggi.
Jika dikaitkan tingkat pendidikan dengan pengetahuan,
dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan formal di Indonesia
masih kurang memasukan unsur pengobatan tradisional ke dalam
kurikulum pendidikan formal. Sehingga, meskipun tingkat
pendidikan formal tergolong tinggi, belum tentu mempengaruhi
masyarakat untuk cenderung melakukan pengobatan ke pengobatan
tradisional.

94

Pendidikan dalam kehidupan manusia merupakan sebuah


proses yang harus dilakukan sepanjang hayat. Pada saat ini
pendidikan bukan hanya merupakan suatu proses pembelajaran
dalam masyarakat, tetapi sudah berkembang menjadi pusat atau
narasumber dari segala pengetahuan. Pendidikan mempunyai
fungsi utama yang selalu ada dalam perkembangan sejarah
manusia yaitu untuk meningkatkan taraf pengetahuan manusia.
Pendidikan merupakan sarana sosialisasi nilai-nilai budaya yang
ada

di

masyarakat

setempat

juga

sebagai

media

untuk

mentransmisikan nilai-nilai baru maupun mempertahankan nilainilai lama (Anwarudin, 2008).


Sukmadinata (2003) menyatakan pendidikan diperlukan
untuk mendapatkan informasi misalnya hal - hal yang menunjang
kesehatan,

sehingga

dapat

meningkatkan

kualitas

hidup.

Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku


seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk siap
berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi
tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi
sehingga makin
sebaliknya

banyak pula pengetahuan

pendidikan

yang

kurang

akan

yang dimiliki,
menghambat

perkembangannya sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru


diperkenalkan.

95

6.2.5. Pengetahuan Tentang Pengobatan


Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan dapat
disimpulkan bahwa pengetahuan tentang pengobatan tradisional
memiliki hubungan

yang signifikan terhadap pengambilan

keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional


karena memiliki p value sebesar 0,046 atau kurang dari nilai ,
yaitu 0,05. Dari distribusi data pengetahuan tentang pengobatan
tradisional dapat terlihat bahwa masyarakat pengetahuan rendah
lebih banyak mengakses pengobatan tradisional. Hal ini mungkin
terjadi akibat masyarakat masih dalam tahap mencoba khasiat dari
pengobatan tradisional dengan khasiat dari pengobatan kedokteran
modern/konvensional.
Dari data responden yang jarang menggunakan pengobatan
tradisional dalam arti di dalam penelitian ini baru pertama kali
datang atau baru mencoba pengobatan tradisional lebih banyak
dibandingkan dengan yang kadang kadang atau sering. Begitu
pula masyarakat yang kadang kadang ke pengobatan tradisional
lebih banyak daripada masyarakat yang sering (menggunakan
pengobatan tradisional sebagai terapi kesehatan pada saat
mengalami gangguan kesehatan) ke pengobatan tradisional. Hal ini
terjadi mungkin adanya penurunan tingkat kepercayaan terhadap
pengobatan

kedokteran

modern/konvensional.

Sehingga

96

masyarakat mau mencoba pengobatan tradisional sebagai alternatif


pengobatan.
Jika dilakukan perbandingan antara kelompok masyarakat
dengan pengetahuan rendah dan kelompok masyarakat dengan
pengetahuan tinggi tentang pengobatan tradisional, responden
dengan tingkat pengetahuan tinggi memiliki kepatuhan melakukan
pengobatan ke pengobatan tradisional lebih baik dibandingkan
dengan yang memiliki pengetahuan rendah.
6.2.6. Pekerjaan
Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan dapat
disimpulkan bahwa jenis pekerjaan masyarakat yang melakukan
pencarian pengobatan tradisional tidak memiliki hubungan yang
signifikan terhadap pengambilan keputusan masyarakat dalam
memilih pengobatan tradisional sebagai pengobatan rujukan pada
saat mengalami gangguan kesehatan. Hal ini berkaitan dengan
kemampuan ekonomi masyarakat.
Kalau dilihat dari segi penghasilan yang didapatkan dari
pekerjaan yang dilakukan, tidak ada hubungan antara pemilihan
pengobatan tradisional pada jenis pekerjaan pegawai negeri sipil,
pegawai swasta, wiraswasta, buruh, dan orang yang tidak bekerja.
Hal ini mungkin dipengaruhi oleh tarif pengobatan tradisional yang
dinilai sedang (terjangkau) oleh seluruh lapisan masyarakat (61

97

dari 95 orang mengatakan tarif pengobatan tradisional sedang).


Mengingat, Indonesia tergolong sebagai negara berkembang,
dimana

masyarakatnya

yang

tergolong

golongan

ekonomi

menengah mendominasi terutama di lingkungan kaum urban.


6.2.7. Jumlah Anggota Keluarga
Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan pada tabel
5.25. dapat disimpulkan bahwa jumlah anggota keluarga yang
tinggal bersama (satu rumah) dengan responden, memiliki
hubungan yang signifikan terhadap pengambilan keputusan
masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional sebagai
pengobatan rujukan pada saat mengalami gangguan kesehatan
karena memiliki p value sebesar 0,023 atau kurang dari nilai ,
yaitu 0,05.
Kalau dilihat berdasarkan jumlah anggota keluarga yang
tinggal dengan responden, hal ini berkaitan dengan kemampuan
daya beli atau status ekonomi. Kemampuan daya beli akan semakin
besar jika anggota keluarga yang tinggal dalam rumah lebih
sedikit, demikian juga sebaliknya. Kemampuan daya beli juga
memiliki pengaruh terhadap pemilihan pengobatan. Dari tabel 5.25
terlihat bahwa jumlah anggota keluarga yang ideal lebih banyak
daripada yang tidak ideal. Sehingga responden dengan jumlah
anggota keluarga ideal, lebih banyak yang melakukan melakukan
pengobatan ke pengobatan tradisional. Jika dikaitkan dengan teori

98

pemilihan pengobatan, hal ini mungkin diakibatkan responden


dengan jumlah anggota keluarga tidak ideal memilih untuk
melakukan pengobatan sendiri di rumah dibandingkan dengan ke
pengobatan tradisional.
Jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah
secara tidak langsung memberikan beban pada kondisi kesehatan
dan kemampuan untuk mengakses pengobatan. Semakin banyak
anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah, maka semakin
kurang terperhatikannya kesehatan masing masing anggota
keluarga. Dan semakin banyak anggoata keluarga, semakin tinggi
juga biaya hidup yang harus ditanggung oleh kepala keluarga. Pada
penelitian ini ditemukan jumlah anggota keluarga tidak ideal dalam
satu rumah yang lebih banyak mengakses pengobatan tradisional
dibandingkan dengan responden yang tinggal dengan jumlah
anggota keluarga ideal. Hal ini menunjukan bahwa mahalnya
pelayanan kesehtan konvensional, membuat masyarakat beralih ke
pengobatan

tradisional

untuk

melakukan

pengobatan

ke

pengobatan tradisional. Hal ini dilakukan mungkin sebagai


alternatif.
Namun, fenomena ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.
Karena pengobatan tradisional menjadi alternatif bagi masyarakat
yang memiliki ekonomi menengah ke bawah maka pengawasan
yang dilakukan oleh Direktorat Pengobatan Tradisional, Alternatif,

99

dan Komplementer Kementerian Kesehatan pada pengobatan


tradisional harus semakin ketat. Mengingat beberapa kasus
penyalahgunaan pengobatan di Indonesia masih tergolong tinggi.
Hal ini disebabkan karena pengetahuan masyarakat masih rendah
mengenai pengobatan tradisional yang sesungguhnya. Hal ini
dilakukan agar tidak merugikan masyarakat baik secara finansial
maupun secara moril.
6.2.8. Suku/Etnis
Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan pada tabel
5.26. dapat disimpulkan bahwa asal suku/etnis keluarga responden
memiliki hubungan

yang signifikan terhadap pengambilan

keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional


sebagai pengobatan rujukan pada saat mengalami gangguan
kesehatan karena memiliki p value sebesar 0,007 atau kurang dari
nilai , yaitu 0,05.
Hal ini menunjukan bahwa kebudayaan di Indonesia
memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam memilih
pengobatan. Pengobatan tradisional yang berbasis kearifan lokal
berdasarkan data pada tabel 5.26, berturut turut dari yang paling
banyak ke yang paling sedikit berdasarkan kunjungan adalah Suku
Jawa, Suku Betawi, Etnis Tionghoa, Suku Batak, Suku Melayu,
dan Suku Bali. Hal ini menunjukan bahwa suku suku di

100

Indonesia masih memiliki kepercayaan terhadap kebudayaan lokal


untuk menyembuhkan penyakit atau gangguan kesehatan.
Kultur merupakan faktor penentu paling pokok dari
perilaku seseorang. Perilaku seseorang umumnya dipelajari dari
lingkungan sekitarnya. Sehingga nilai persepsi, preferensi, dan
perilaku antara seseorang yang tinggal di suatu daerah dengan yang
di daerah lainnya dengan latar belakang suku budaya yang berbeda
dan biasanya dalam suatu keturunan suku memiliki kebiasaan atau
perilaku yang tidak berbeda jauh (Bilson Simamora, 2008).
Termasuk dalam pemilihan pengobatan, masing masing suku
memiliki kepercayaan mengenai khasiat pengobatan tradisional.
Karena akar dari pengobatan tradisional adalah

berasal dari

keturunan dan merupakan suatu kebudayaan tradisional dalam


bidang kesehatan. Sehingga suku memiliki peran yang besar dalam
memilih pengobatan tradisional.
Karena suku memiliki pengaruh terhadap pengobatan
tradisional, maka perlu dilakukan pembinaan tehadap pengobatan
tradisional yang ada pada masing masing daerah melalui Sentra
Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T)
pada masing - masing daerah atau provinsi. Agar pengobatan
tradisional di Indonesia dapat terinventarisasi dan dikembangkan
untuk kebutuhan pengembangan metode pengobatan tradisional.
Selain itu juga dapat menjadi keunggulan masing masing daerah

101

yang memiliki metode pengobatan khas untuk mengembangkan


pariwisata dalam hal kesehatan.
6.2.9. Agama
Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan pada tabel
5.27. dapat disimpulkan bahwa agama yang dianut oleh responden
memiliki hubungan

yang signifikan terhadap pengambilan

keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional


sebagai pengobatan rujukan pada saat mengalami gangguan
kesehatan karena memiliki p value sebesar 0,048 atau kurang dari
nilai , yaitu 0,05.
Hal ini memperlihatkan bahwa kepercayaan atau keyakinan
spriritual masyarakat turut mempengaruhi pengobatan yang
dipilihnya. Berdasarkan data pada tabel 5.27 terlihat bahwa agama
Islam yang paling banyak melakukan pengobatan ke pengobatan
tradisional. Hal ini mungkin karena agama Islam di Indonesia
menjadi agama mayoritas dan memang agam Islam yang banyak
menganjurkan pengobatan dengan cara tradisional salah satu
pengobatan tradisional yang berbasis agama adalah pengobatan
sesuai ajaran Rasulullah SAW. Untuk agam non - Islam lebih
banyak metode pengobatan dengan cara spiritual masing masing
yang berbasis hipnoterapi.

102

6.2.10. Jarak Rumah ke Pengobatan Tradisional


Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan pada tabel
5.28. dapat disimpulkan bahwa jarang rumah responden ke
pengobatan tradisional tidak memiliki hubungan yang signifikan
terhadap pengambilan keputusan masyarakat dalam memilih
pengobatan tradisional sebagai pengobatan rujukan pada saat
mengalami gangguan kesehatan karena memiliki p value sebesar
0,289 atau lebih dari nilai , yaitu 0,05.
Jika dikaitkan kondisi transportasi dan geografis di wilayah
Cengkareng, kemudahan transportasi dan akses jalan yang cukup
baik tidak menjadikan jarak dari rumah ke pengobatan tradisional
suatu hambatan. Sehingga masyarakat dapat melakukan pemilihan
transportasi untuk mengakses pengobatan tradisional. Melihat hasil
analisis

statistik

pandangan

subjektif

responden

terhadap

pemanfaatan pengobatan tradisional yang cukup baik yaitu sebesar


62,1% (59 orang) memiliki pandangan yang positif terhadap
pengobatan tradisional dibandingkan dengan responden yang
memiliki pandangan subjektif negatif terhadap pengobatan
tradisional sebesar 37,9% (36 orang). Pandangan subjektif inilah
yang lebih

mempengaruhi masyarakat untuk memutuskan

pemilihan ke pengobatan tradisional.

103

6.2.11. Penilaian Tentang Sehat dan Sakit


Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan pada tabel
5.29. dapat disimpulkan bahwa penilaian tentang sehat dan sakit
memiliki hubungan

yang signifikan terhadap pengambilan

keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional


sebagai pengobatan rujukan pada saat mengalami gangguan
kesehatan karena memiliki p value sebesar 0,007 atau kurang dari
nilai , yaitu 0,05.
Hal ini menggambarkan bahwa kemampuan masyarakat
yang tinggi dalam menilai arti sehat dan sakit mampu mendorong
masyarakat melakukan pengobatan ke pengobatan tradisional. Hal
ini ditunjukkan oleh data pada tabel 5.29. semakin buruk
kemapuan masyarakat menilai arti sehat dan sakit, semakin kecil
kemungkinan mereka memeriksakan kesehatan ke pengobatan
tradisional. Berdasarkan teori pencarian pengobatan, masyarakat
yang memiliki kemampuan tinggi untuk mengartikan arti sehat dan
sakit pada dirinya, maka mereka akan terdorong untuk mencari
pengobatan ke pengobatan. Dan semakin buruk masyarakat mampu
mengartikan arti sehat dan sakit pada dirinya maka mereka
semakin tidak terdorong untuk melakukan pengobatan ke
pengobatan (mengobati dirinya sendiri di rumah).

104

6.2.12. Sikap
Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan pada tabel
5.30. dapat disimpulkan bahwa sikap terhadap pengobatan
tradisional tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap
pengambilan keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan
tradisional sebagai pengobatan rujukan pada saat mengalami
gangguan kesehatan karena memiliki p value sebesar 0,332 atau
lebih dari nilai , yaitu 0,05.
Hal ini menunjukkan bahwa sikap yang baik terhadap
pengobatan tradisional tidak memiliki hubungan yang signifikan
terhadap perilaku pencarian pengobatan tradisional masyarakat,
begitu pula sebaliknya. Hal ini mungkin disebabkan lebih kepada
pengaruh faktor kepercayaan dari agama dan suku asal keluarga
untuk mendorong ke pengobatan tradisional karena kedekatan
kekerabatan

keluarga

lebih

berperan

dalam

pengambilan

keputusan.
Sikap dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman, pendapat
umum, dan latar belakang. Sikap mewarnai pandangan terhadap
seseorang terhadap suatu objek, memengaruhi perilaku dan relasi
dengan orang lain. Untuk bersikap harus ada penilaian sebelumnya.
Sikap bisa baik atau tidak baik. Perasaan sering berakar dalam
sikap dan sikap dapat diubah. Sikap biasanya sedikit atau banyak
berhubungan dengan kepercayaan. Dalam beberapa hal sikap

105

merupakan akibat dari suatu kumpulan kepercayaan (Maramis,


2006). Oleh karena itu, pada penelitian ini ditemukan bahwa sikap
tidak berhubungan secara signifikan terhadap perilaku pencarian
pengobatan masyarakat ke pengobatan tradisional. Jika dikaitkan
dengan kepercayaan, dalam hal ini agama dan suku/etnis maka
pendorong masyarakat ke pengobatan tradisional lebih didominasi
oleh kedua faktor tersebut.
6.3.

Faktor Pendukung Perilaku Pencarian Pengobatan Tradisional


Faktor pendukung, dibagi menjadi 2, yaitu:
1.

Keluarga, yang meliputi asuransi atau jaminan kesehatan yang


dimiliki oleh keluarga.

2.

Masyarakat, yang meliputi tarif pengobatan tradisional.

6.3.1. Asuransi atau Jaminan Kesehatan


Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan pada tabel
5.31. dapat disimpulkan bahwa kepemilikan asuransi/jaminan
kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap
pengambilan keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan
tradisional sebagai pengobatan rujukan pada saat mengalami
gangguan kesehatan karena memiliki p value sebesar 0,947 atau
lebih dari nilai , yaitu 0,05.
Hal ini mungkin karena peraturan tentang Jaminan
Kesehatan Nasional sudah diberlakukan oleh Kementerian

106

Kesehatan sejak awal tahun 2014 melalui BPJS (Badan


Penyelenggara Jaminan Sosial). Sehingga meskipun masyarakat
sudah memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah, tetapi faktor
kebiasaan mengakses pengobatan tradisional tetap menjadi pilihan
pada saat mengalami gangguan kesehatan. Maka dari itu, tidak
terdapat hubungan signifikan antara kepemilikan asuransi atau
jaminan kesehatan dengan perilaku pemanfaatan pengobatan
tradisional.
Sudibyo Supardi (1996) dalam sebuah karya ilmiah di
bidang kesehatan mengutip pernyataan Nico S. Kalangie yang
menjelaskan

bahwa

penawaran

terhadap

pengobatan

pada

masyarakat Indonesia dipenuhi melalui tiga cara yaitu pengobatan


sendiri di rumah, pengobatan tradisional, dan pengobatan dengan
tenaga medis profesional. Pengobatan dengan tenaga medis
profesional adalah pengobatan dengan petunjuk dari tenaga
kesehatan yang dilakukan di poliklinik, puskesmas dan rumah
sakit. Sedangkan yang diartikan dengan pengobatan sendiri di
rumah adalah pengobatan tanpa petunjuk tenaga kesehatan
(dokter/perawat/tenaga

ahli

kesehatan

lainnya).

Ada

pun

pengobatan tradisional merupakan bentuk pengobatan yang


menggunakan cara, alat atau bahan yang tidak termasuk dalam
standar pengobatan medis modern baik yang dilakukan sendiri atau
dengan petunjuk tenaga kesehatan tradisional.

107

6.3.2. Tarif Pengobatan Tradisional


Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan pada tabel
5.32. dapat disimpulkan bahwa tarif pengobatan tradisional
memiliki hubungan

yang signifikan terhadap pengambilan

keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional


sebagai pengobatan rujukan pada saat mengalami gangguan
kesehatan karena memiliki p value sebesar 0,026 atau kurang dari
nilai , yaitu 0,05.
Hal ini mungkin sebagai akibat dari pernyataan atau
pendapat masyarakat yang melakukan pengobatan ke pengobatan
tradisional yang menyatakan bahwa tarif pengobatan tradisional itu
sedang. Sehingga masyarakat terdorong untuk memilih pengobatan
tradisional

daripada

ke

pengobatan

kedokteran

modern/konvensional.
Masyarakat yang memilih pengobatan tradisional mungkin
mengalami

penurunan

kepercayaan

terhadap

pengobatan

konvensional perihal penyembuhan penyakit. Di samping itu, tarif


pengobatan

di

lembaga

penyelenggara

pengobatan

swasta

tergolong cukup tinggi sedangkan di lembaga penyelenggara


pengobatan milik pemerintah jumlahnya terbatas baik dari segi
fasilitas dan sumber daya manusia yang menangani pasien. Karena
pemerintah telah meluncurkan program Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN).

108

Oleh karena itu, masyarakat mungkin lebih memilih


pengobatan tradisional untuk melakukan pengobatan karena dinilai
sudah

berkembang

dan

banyak

pilihannya

dibandingkan

pengobatan konvensional. Hal inilah yang membuat tarif


pengobatan berpengaruh terhadap perilaku pencarian pengobatan
ke pengobatan tradisional.
6.4.

Faktor Kebutuhan Perilaku Pencarian Pengobatan Tradisional


6.4.1. Pandangan Subjektif Terhadap Pengobatan
Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan pada tabel
5.32. dapat disimpulkan bahwa pandangan subjektif mengenai
pemanfaatan pengobatan tradisional responden memiliki hubungan
yang signifikan terhadap pengambilan keputusan masyarakat
dalam memilih pengobatan tradisional sebagai pengobatan rujukan
pada saat mengalami gangguan kesehatan karena memiliki p value
sebesar 0,012 atau kurang dari nilai , yaitu 0,05.
Hal ini menunjukkan bahwa pandangan subjektif turut
memberikan kontribusi dalam perilaku pencarian pengobatan ke
pengobatan tradisional. Hal ini tergambar dari jumlah responden
yang berpandangan positif yang lebih banyak dibandingkan
responden yang berpandangan negatif.
6.4.2. Kesesuaian Penyakit dengan Diagnosis Medis dan Melakukan
Pengobatan dengan Pengobatan Tradisional

109

Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan pada tabel


5.34. dapat disimpulkan bahwa kesesuaian penyakit dengan
diagnosis medis terhadap perilaku penggunaan pengobatan
tradisional

memiliki

hubungan

yang

signifikan

terhadap

pengambilan keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan


tradisional sebagai pengobatan rujukan pada saat mengalami
gangguan kesehatan karena memiliki p value sebesar 0,004 atau
kurang dari nilai , yaitu 0,05.
Berdasarkan data yang didapatkan dari lapangan, masalah
pada otot dan sendi paling banyak diderita oleh masyarakat yang
berobat ke pengobatan tradisional. Diikuti oleh beberapa gejala
penyakit degeneratif dan penyakit degeneratif, yaitu: kolesterol
tinggi, asam urat, diabetes, dan stroke. Dari beberapa responden
yang ditanya soal penyakit, mereka mengatakan bahwa pengobatan
tradisional

ini

diposisikan

sebagai

penunjang

pengobatan

tradisional disamping pengobatan konvensional/modern yang


digunakannya. Dengan harapan penyakit atau gangguan kesehatan
yang dialaminya dapat sembuh lebih cepat daripada hanya diobati
oleh pengobatan konvensional/modern oleh dokter.
Dari data yang didapatkan terkait gambaran penyakit,
terlihat bahwa penyakit yang memiliki risiko tinggi seperti
kolesterol tinggi, asam urat, diabetes, dan stroke masyarakat masih
belum yakin menggunakan pengobatan tradisional. Hal ini

110

dikarenakan pengobatan tradisional di Indonesia belum memiliki


standardisasi seperti negara negara Asia Selatan seperti Cina,
Taiwan, Korea, dan Jepang. Di Indonesia memang baru
dikembangkan dan digalakkan untuk penggunaan pengobatan
tradisional mulai tahun 2010. Diharapkan di tahun tahun
berikutnya pengobatan tradisional memang menjadi pilihan yang
setara dengan pengobatan konvensional/modern.

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN


7.1.

Kesimpulan
1. Masyarakat Cengkareng memiliki minat untuk melakukan pengobatan
di pelayanan kesehatan tradisional cukup tinggi dengan berbagai
frekuensi kunjungan sesuai dengan kebutuhan.
2. Faktor predisposisi masyarakat Cengkareng yang menggunakan
pelayanan kesehatan tradisional:
a. Usia

masyarakat

yang

menggunakan

pelayanan

kesehatan

tradisional lebih besar kelompok usia > 30 tahun (80%). Namun


dari segi kepatuhan dalam melakukan pengobatan tradisional lebih
baik kelompok usia 30 tahun. Berdasarkan uji statistik, usia
memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku penggunaan
pelayanan kesehatan tradisional dengan p value sebesar 0,016.
b. Jenis kelamin masyarakat yang menggunakan pelayanan kesehatan
tradisional lebih besar yang berjenis kelamin wanita dibandingkan
pria (53,7%). Hal ini menggambarkan untuk mengakses pelayanan
kesehatan tradisional tidak harus diputuskan oleh kepala keluarga
(pria). Dan berdasarakan uji statistik, jenis kelamin memiliki
hubungan yang signifikan terhadap perilaku penggunaan pelayanan
kesehatan tradisional dengan p value 0,019. Ini menunjukan bahwa

111

112

emansipasi wanita dalam pemilihan pengobatan khususnya untuk


diri sendiri sudah berkembang dengan baik.
c. Status

pernikahan

masyarakat

yang

mengakses

pelayanan

kesehatan tradisional didominasi oleh kelompok masyarakat yang


sudah menikah

(67,4%). Hal

ini

menggambarkan bahwa

kematangan pola pikir dalam memilih pelayanan kesehatan


tradisional turut menentukan keputusan pemilihan pelayanan
kesehatan rujukannya. Namun berdasarakan uji statistik, status
penikahan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap
perilaku penggunaan pelayanan kesehatan tradisional dengan p
value 0,097. Tingginya jumlah tersebut dan tidak adanya hubungan
signifikan antara status pernikahan dengan perilaku penggunaan
pelayanan kesehatan tradisional dikarenakan beberapa karakteristik
pendorong lain yang lebih kuat.
d. Pendididikan masyarakat yang menggunakan pelayanan kesehatan
tradisional didominasi oleh masyarakat dengan pendiddikan
rendah, yaitu masyarakat yang menamatkan pendidikan hanya
sampai tingkat SD sampai SMA (64,2%). Namun berdasarkan hasil
uji statistik, tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan yang
signifikan terhadap perilaku penggunaan pelayanan kesehatan
dengan p value 0,136. Hal ini karena masyarakat mendapatkan
informasi mengenai pelayanan kesehatan tradisional secara bebas
dari berbagai sumber dan tidak harus dipelajari secara akademik.

113

e. Jenis

pekerjaan

masyarakat

yang menggunakan

pelayanan

kesehatan tradisional adalah kelompok masyarakat yang tidak


bekerja (34,7%). Hal ini membuktikan bahwa jenis pekerjaan
seseorang tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap
perilaku penggunaan pelayanan kesehatan tradisional. Berdasarkan
uji statistik, jenis pekerjaan memiliki p value sebesar 0,299.
f. Jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah pada
masyarakat yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional
didominasi oleh masyarakat yang jumlah anggota keluarganya
tidak ideal (51,6%). Dan berdasarkan uji statistik, jumlah anggota
keluarga yang tinggal dalam satu rumah memiliki hubungan
signifikan terhadap perilaku penggunaan pelayanan kesehatan
tradisional, yaitu dengan p value 0,023. Hal ini berhubungan juga
dengan kemampuan daya beli yang kurang dan keterjangkauan
tarif pelayanan kesehatan tradisional.
g. Suku/etnis masyarakat yang menggunakan pelayanan kesehatan
tradisional didominasi oleh masyarakat yang berasal dari suku
Jawa (40,0%). Hal ini disebabkan karena letak wilayah
Cengkareng ada di Pulau Jawa dan banyaknya orang yang berasal
dari Jawa bertempat tinggal di Cengkareng. Berdasarkan hasil uji
ststistik, suku/etnis masyarakat memiliki hubungan signifikan
terhadap penggunaan pelayanan kesehatan tradisional dengan p
value 0,007. Hal ini disebabkan latar belakang masyarakat Jawa

114

yang menjunjung tinggi warisan budaya/tradisi yang dilakukan


oleh nenek moyang dalam melakukan pengobatan yaitu ke
pelayanan kesehatan tradisional.
h. Agama masyarakat yang menggunakan pelayanan kesehatan
tradisional didominasi oleh masyarakat yang beragama Islam
(76,8%). Hal ini disebabkan karena penduduk di wilayah
Cengkareng memang didominasi oleh pemeluk agama Islam.
Berdasarkan hasil uji statistik, agama masyarakat memiliki
hubungan signifikan terhadap penggunaan pelayanan kesehatan
tradisional dengan p value 0,048. Hal ini disebabkan karena
memang masyarakat Islam memiliki kecenderungan ke pelayanan
kesehatan tradisional yang berbasis kepada metode pengobatan
Islam.
i. Jarak rumah dengan pelayanan kesehatan tradisional masyarakat
yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional didominasi
oleh masyarakat yang terjangkau dengan pelayanan kesehatan
tradisional (54,7%). Hal ini berlawanan dengan hubungan jarak
dengan perilaku penggunaan pelayanan kesehatan tradisional yang
tidak memiliki hubungan berdasarkan uji statistik, dimana p value
yang didapat adalah 0,289. Hal tersebut terjadi karena kebutuhan
akan pelayanan kesehatan tradisional lebih kuat dibandingkan jarak
yang harus ditempuh untuk menuju ke pelayanan kesehatan
tradisional.

115

j. Nilai tentang sehat dan sakit masyarakat yang menggunakan


pelayanan kesehatan tradisional didominasi oleh masyarakat yang
memiliki penilaian tinggi (65,3%). Secara umum masyarakat sudah
memiliki penilaian cukup baik terhadap sehat dan sakit. Dan
berdasarkan uji statistik, penilaian tentang sehat dan sakit memiliki
hubungan signifikan terhadap penggunaan pelayanan kesehatan
tradisional yaitu dengan p value 0,007.
k. Sikap

terhadap

pelayanan

kesehatan

masyarakat

yang

menggunakan pelayanan kesehatan tradisional didominasi oleh


masyarakat yang memiliki sikap baik (62,1%). Sikap terhadap
pelayanan

kesehatan

tradisional

tidak

memiliki

hubungan

signifikan terhadap perilaku pelayanan kesehatan tradisional


dengan p value 0,332 dari hasil uji statistik yang sudah dilakukan.
Perilaku pengobatan ke pelayanan kesehatan tradisional mungkin
lebih didasarkan

atau didorong oleh faktor tradisi yang ada

berdasarakan suku asal dan agama. Sehingga pada saat memiliki


gangguan kesehatan, maka yang dilakukan adalah melakukan
pengobatan ke pelayanan kesehatan tradisional.
l. Pengetahuan tentang pelayanan kesehatan tradisional masyarakat
yang menggunakan pelayanan kesehatan tradisional didominasi
oleh masyarakat yang sudah memiliki pengetahuan yang tinggi
(53,7%). Berdasarakan uji statistik, pengetahuan masyarakat
tentang pelayanan kesehatan tradisional memiliki p value 0,46

116

yang artinya memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku


penggunaan pelayanan kesehatan tradisional. Hal ini disebabkan
informasi mengenai pelayanan kesehatan tradisional mudah
ditemukan di berbagai media massa.
3. Faktor pedukung masyarakat Cengkareng yang menggunakan
pelayanan kesehatan tradisional:
a. Kepemilikan

asuransi

kesehatan

masyarakat

yang

menggunakan pelayanan kesehatan tradisional didominasi oleh


masyarakat yang tidak memiliki asuransi kesehatan baik
asuransi dari pemerintah maupun swasta (53,7%). Dan
berdasarkan hasil uji statistik, kepemilikan asuransi tidak
memiliki hubungan signifikan terhadap penggunaan pelayanan
kesehatan tradisional dengan p value sebesar 0,947. Hal ini
disebabkan kesesuaian kemampuan daya beli yang rendah dan
tidak

adanya

jaminan

pelayanan

kesehatan,

sehingga

masyarakat lebih memilih pelayanan kesehatan tradisional.


b. Tarif pelayanan kesehatan menurut masyarakat masyarakat
Cengkareng

yang

menggunakan

pelayanan

kesehatan

tradisional, didominasi oleh yang berpendapat tarif pelayanan


sedang (64,2%) dimana dapat diasumsikan bahwa tarif
pelayanan cukup terjangkau. Berdasarkan hasil uji statistik,
tarif

pelayanan

penggunaan

kesehatan

pelayanan

tradisional

kesehatan

dengan

memiliki

perilaku
hubungan

117

signifikan dengan p value 0,026. Hal ini terlihat bahwa


kemampuan daya beli memiliki dorongan yang cukup kuat
untuk

melakukan

pengobatan

ke

pelayanan

kesehatan

tradisional.
4. Faktor kebutuhan masyarakat Cengkareng yang menggunakan
pelayanan kesehatan tradisional:
a. Pandangan subjektif masyarakat yang menggunakan pelayanan
kesehatan tradisional didominasi oleh kelompok masyarakat
yang memiliki pandangan baik terhadap pelayanan kesehatan
tradisional (62,1%). Dan berdasarkan uji statistik, pandangan
subjektif masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tradisional
memiliki hubungan terhadapperilaku penggunaan pelayanan
kesehatan tradisional dengan p value 0,012. Hal ini karena
pada saat membutuhkan pengobatan, faktor pendangan baik
terhadap pelayanan kesehatan tradisional ini dapat mendorong
faktor lainnya untuk memperkuat dorongan ke pelayanan
kesehatan tradisional.
b. Berdasarkan kesesuaian diagnosis medis, penyakit yang
diobati oleh masyarakat ke pelayanan kesehatan tradisional,
yaitu semakin sedikit jumlah penyakitnya, semakin tinggi
kecenderungan

untuk

berobat

ke

pelayanan

kesehatan

tradisional (55,8%). Berdasarkan uji statistik, penyakit yang


dialami dengan penggunaan pelayanan kesehatan tradisional

118

memiliki hubungan signifikan yaitu dengan p value 0,004. Hal


ini menunjukan bahwa untuk penyakit komplikasi, masyarakat
masih kurang yakin untuk melakukan pengobatan ke
pelayanan kesehatan tradisional.
7.2.

Saran
1. Untuk program promosi kesehatan, berdasarkan identifikasi faktor
perilaku penggunaan pelayanan kesehatan tradisional pada penelitian
ini diharapkan data yang ada dalam penelitian ini dapat digunakan
sebagai dasar menentukan langkah langkah yang harus dilakukan
untuk melakukan program promosi kesehatan pelayanan kesehatan
tradisional.
2. Adanya pergeseran pola perilaku pencarian pelayanan kesehatan yang
tidak hanya dominasi pelayanan kesehatan modern/konvensional
(kedokteran modern) tapi juga pelayanan kesehatan tradisional. Upaya
promosi dan pengembangan pelayanan kesehatan tradisional bisa
dilakukan lebih efektif dan inovatif lagi, sehingga masyarakat yang
sudah terbuka dengan informasi apapun dapat mengetahui dan dapat
memilih

pelayanan kesehatan

yang digunakannya

pada saat

mengalami gangguan kesehatan.


3. Pengintegrasian antara pelayanan kesehatan modern dan tradisional,
sebaiknya diperhatikan dengan baik dalam hal sosialisasi dan
komunikasi ke pasien. Agar tidak terjadi kesalahpahaman antara

119

petugas

kesehatan

modern/konvensional

(baik
mupun

petugas
petugas

kesehatan
pelayanan

kedotketan
kesehatan

tradisional). Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko kurangnya


tenaga kesehatan dalam menangani masalah kesehatan di masyarakat.

Daftar Pustaka
Abdullah, Syukur. Studi Imlementasi Latar Belakang Konsep Pendekatan dan Relevansinya
Dalam Pembangunan. Ujung Pandang: Persadi 1987.
Alhusin, S. Aplikasi Statistik Praktis dengan SPSS for Windows. Yogyakarta:Graha Ilmu.
2003.
Andersen, Ronald & F. John, Newman. Societal and Individual Determinants of Medical
Care Utilization in The United States. 2005. Millbank Memorial Fund: Blackwell
Publishing.
Andersen. M. Ronald. Revisiting Model and Access to Medical Care: Does It Matter?. Los
Angeles: School of Public Health, UCLA. 1995.
Asmino, P. Pengalaman Peribadi dengan Pengobatan Alternatif. Jakarta: Airlangga
University Press. 1995
Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat Makassar. Identifikasi Pelayanan Kesehatan
Tradisional

di

Kabupaten

Gowa

dan

Maros

Tahun

2013.

http://bktm-

makassar.org/assets/datas/publications/publikasi_24092013.pdf. Akses 26 Agustus


2014.
Beider, S. Mahrer, N. Gold, J. Pediatric Massage Therapy: An Overview for Clinicians.
Pediatric Clinics of North America. 2007.
Cambron, J.A, Dexheimer, J., Coe, P. Changes in blood pressure after various forms of
therapeutic massage: a preliminary study. J. Altern Complement Med. 2006
Dharmaraj, S.M. Kepentingan Perubatan Tradisional dan Kelemahan Perubatan Modern.
1998.

120

Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer. Himpunan


Peraturan Terkait Peyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan
Komplementer. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012
Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer. Laporan
Tahunan 2012: Kegiatan Pembinaan Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif,
dan Komplementer. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013
Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer. LAK 2013.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014
Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer. Modul
Orientasi Akupressur Bagi Petugas Puskesmas. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. 2012
Dunn, William N. Public Policy Analysis: And Introduction. Englewood Clipfs, NJ: Prentice
Hall. 1981.
J, Oliver Stefanie. The Role of Traditional Medicine Practice in Primary Health Care within
Aboriginal Australia: A Review of The Literature. 2013
Kartadinata, Sunaryo. Metode Riset Sosial. Bandung: Prima. 2000.
Kaufman, Roger A. Educational System Planning. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. 1972
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Himpunan Hukum Pelayanan Kesehatan
Tradisional. 2009
Kementerian Kesehatan. Rumah Sakit di Jakarta.
http://sirs.buk.depkes.go.id/rsonline/report/report_by_catrs1.php?alamat_prop=DKI+J
AKARTA&submit=Find Akses tanggal 25 Agustus 2014

121

Kutner, J.S., dkk. Massage therapy versus simple touch to improve pain and mood in patients
with advanced cancer: a randomized trial. Ann Intern Med. 2008.
Mangan, Y. Cara Bijak Menaklukan Kanker. 1st ed. Jakarta: PT Agromedia Pustaka, 2003.
Moh,

M.I.

Perubatan

Tradisional

Tempatan.

http://pkukmweb.ukm.my/~ahmad/tugasan/s3_99/moh.htm. 1998. Akses 29 April


2014.
Mursito, B. Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Jantung. Jakarta: PT Penebar Swadaya.
2002.
Notoatmodjo Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2005. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. 2007. Jakarta : Rineka Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. 2003. Jakarta: Rineka Cipta.
Riwidikdo, H. Statistik Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press. 2012
Saad, Marcelo. De, Roberta Medeiros. Complementary Therapies For The Contemporary
Healthcare. Dragana Manestar, InTech Prepress. Croatia. 2012
Sarwono, J. Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS. Yogyakarta. Andi Offset. 2006.
Saryono. Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta. Mitra Cendikia Press. 2008.
Simamora Bilson. Panduan Riset Perilaku Konsumen. 2008. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Supardi Sudibyo, dkk. Peran Warung Dalam Penyediaan Obat Dan Obat Tradisional Untuk
Pengobatan Sendiri Di Kecamatan Tanjungbintang, Lampung Selatan. 1996. Jakarta:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Litbangkes.
Suryabrata, S. Metodologi Penelitian. Jakarta. RajaGrafindo Persada. 2012.

122

Tanner, D., & Tanner, L. N. Curriculum Development. New York: Macmillan Publishing Co.
1980
Trihendradi, C. Step by Step SPSS 18: Analisis Data Statistik. Yogyakarta. Andi Offset. 2010.
Venesy, D. A. Physical Medicine and Complementary Approaches. Neurol Clin. 2007.
World Health Organization, http://www.who.int/topics/traditional_medicine/en/ diakses
tangga 29 April 2014
World Health Organization, http://www.who.int/topics/traditional_medicine/en/ diakses
tangga 29 April 2014World Health Organization. General Guidelines for
Methodologies on Research and Evaluation of Traditional Medicine. Geneva. 2000
World Health Organization. Traditional Medicine Strategy 20022005.Geneva. 2002
Y Idward. Penggunaan Pengobatan Alternatif di Seluruh Dunia. Kalimantan Tengah: SP3T
Kalimantan Tengah. 2013.
Yellow

Pages.

Pengobatan

Tradisional

dan

Alternatif

di

http://jakarta.yellowpages.co.id/browse/category/pengobatan-tradisionalalternatif?lang=id Akses 3 Juni 2014 pukul 09:36

123

Jakarta.

KUESIONER PENELITIAN
Determinan Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional (Health Seeking
Behavior of Traditional Medicine)
Masyarakat Cengkareng Tahun 2014

Assalamualaikum Wr, Wb.


Saya Supriadi, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah
yang sedang melakukan penelitian tentang perilaku pencarian pelayanan kesehatan tradisional
masyarakat di wilayah Kecamatan Cengkareng. Oleh karena itu, mohon Anda bersedia
meluangkan waktu 15 sampai 20 menit untuk mengisi kuesioner penelitian ini.
Hari /Tanggal

Jenis Pelayanan Kesehatan Tradisional :

No.Responden:
:..................

Nama

PETUNJUK PENGISIAN :
Isilah jawaban sesuai dengan keterangan yang ada dalam tanda kurung pada tempat yang sudah
disediakan. (koding diisi oleh peneliti)
No.
P1

Q1.

Q2.

Pertanyaan
Seberapa sering Anda mengakses pelayanan kesehatan
atau pegobatan tradisional untuk kepentingan kesehatan
Anda? (Pilih salah satu)
1. Jarang
2. Kadang kadang
3. Sering
Usia

Jawaban

Koding

Tahun berapa Anda lahir?

Berapa usia Anda?

Jenis Kelamin
Apa jenis kelamin Anda?
1.Pria
2.Wanita

Q3.

Status Pernikahan

Q4.

Apakah Anda sudah menikah?


1.Belum Menikah
2.Sudah Menikah
3.Duda/Janda
Pengetahuan Tentang Pengobatan Tradisional

A. Menurut Anda, masuk ke dalam jenis pelayanan


kesehatan apa daftar di bawah ini? (Jawaban:
0. Tidak tahu, 1. Tradisional 2.Konvensional/Modern)
1. Jamu,
2. Aromaterapi
3. Gurah
4. Homeopati
5. Spa
6. Akupunktur
7. Chiropraksi
8. Kop/Bekam
9. Apiterapi
10. Ceragem
11. Akupresur
12. Pijat urut
13. Pijat - urut bayi
14. Patah tulang
15. Refleksi
16. Keterampilan ahli agama

[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[

]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]

B. Dari mana Anda mengetahui adanya pengobatan


tradisional ini sehingga Anda memutuskan untuk
melakukan pengobatan di tempat ini? Siapa yang
merekomendasikan Anda untuk datang ke tempat ini?
(Jawaban, boleh lebih dari satu: 0. Tidak 1.Ya)
1.Tempat/tetangga
2.Kerabat keluarga
3.Petugas kesehatan
4.Radio/televisi/media elektronik
5.Koran/majalah/brosur

[
[
[
[
[

]
]
]
]
]

C. Apa yang dimaksud dengan pengobatan tradisional?


(Pilih salah satu)
1.Pengobatan dengan cara lain selain cara kedokteran
2.Pengobatan yang dilakukan melalui dengan
menggunakan penyinaran.
3.Sama dengan pengobatan modern.
4.Tidak tahu.

D. Apa saja bahan pengobatan tradisional yang digunakan


oleh pelayanan kesehatan tradisional yang Anda pilih?
(Jawaban untuk masing masing poin: 0. Tidak 1.Ya)
1.Tumbuh tumbuhan
2. Bahan alamiah lainnya
3. Hewan
4. Mineral
5. Bahan kimia
E. Siapa orang yang melakukan pengobatan tradisional?
(Pilih salah satu)
1. Orang yang diakui oleh masyarakat dan mampu
melakukan pengobatan secara tradisional.
2. Orang yang melakukan pengobatan secara
barat/konvensional
3. Seseorang yang harus berpendidikan tinggi.
4. Tidak tahu.
F. Bagaimana cara atau metode pengobatan tradisional
menurut pengetahuan Anda? (Pilih salah satu)
1. Menggunakan ramuan, ramuan, keterampilan, ajaran
agama, dan kebatinan.
2. Menggunakan jarum suntik.
3. Dengan cara operasi.
4.Tidak tahu.
G. Apa ciri ciri obat dari pengobatan tradisional?
(Pilih salah satu)
1. Obat obatan tradisional (bersifat alami dan tidak
mengandung bahan kimia)
2. Obat obat dalam plakon (obat suntik dan jarum suntik)
3. Menggunakan alal alat kedokteran.
4. Tidak tahu.
H. Menurut pengetahuan Anda, penyakit apa saja yang
dapat disembuhkan atau diterapi oleh pengobatan
tradisional?
(Jawaban, boleh lebih dari satu: 0. Tidak 1. Ya)
1. Demam
2. Stroke
3. Kanker
4. Darah Tinggi/Hipertensi
5. Jantung
6. Kolesterol
7. Kista

[
[
[
[
[

]
]
]
]
]

[
[
[
[
[
[
[

]
]
]
]
]
]
]

8. Hepatitis
9. Maag
10. Batu Ginjal
11. Asma
12. Asam Urat
13. Diabetes/Gula Darah
14. Masalah pada otot dan sendi
15. Migrain
16. Liver
Q5.

[
[
[
[
[
[
[
[
[
[

]
]
]
]
]
]
]
]
]
]

Q6.

Pendidikan
Apa jenjang pendidikan terakhir yang ditamatkan oleh
Anda? (Pilih Salah Satu)
1.SD
2.SMP
3.SMA
4.D3
5.S1
6.S2
7.S3
Pekerjaan

Q7.

Apa profesi/pekerjaan yang dilakukan pada saat ini?


(Pilih Salah Satu)
1. Tidak Bekerja
2. Pegawai Negeri Sipil atau TNI atau POLRI
3. Pegawai/Karyawan Swasta
4. Wiraswasta/Pedagang
5. Buruh/Pekerja Kasar
6. Pensiunan
7. Lain lain (
)
Jumlah Keluarga

Q8.

Berapa jumlah anggota keluarga yang tinggal bersama


dalam satu rumah dengan Anda?
Suku/etnis

Q9.

Apa Suku asal keluarga Anda?


1.Suku Betawi
2.Suku Jawa
3.Suku Batak
4.Suku Melayu
5.Suku Sunda
6.Etnis Tionghoa
Agama

Apa agama Anda?


1.Islam
2.Kristen Katolik
3.Protestan
4.Budha
5.Hindu
6.Konghuchu

Q10. Jarak Rumah ke Pelayanan Kesehatan Tradisional


A. Berapa jarak dari rumah ke pelayanan kesehatan
trsdisional yang diakses pada saat melakukan pengobatan?
B. Menurut Anda ,apakah jarak rumah Anda ke pelayanan
kesehatan tradisional yang Anda kunjungi terjangkau
(tidak menyulitkan Anda)?
(Pilih Salah Satu)
1.terjangkau
2.kurang terjangkau

[
[

menit]
KM]
[

Q11. Nilai Sehat dan Sakit


A. Menurut Anda, keadaan sehat itu seperti apa?
(Pilih Salah Satu)
1.Dapat beraktivitas sehari hari tanpa ada gangguan
kesehatan fisik
2.Dapat beraktivitas sehari hari meskipun ada gangguan
kesehatan fisik
B. Menurut Anda, keadaan sakit itu seperti apa?
(Pilih Salah Satu)
1. Tidak dapat aktivitas seperti biasa
2. Masih dapat beraktivitas namun tidak seperti biasanya
Q12. Sikap Terhadap Pelayanan Kesehatan Tradisional
A. Menurut Anda, apa pelayanan kesehatan mana yang
lebih efektif mengobati penyakit yang pernah Anda alami?
(Pilih salah satu)
1. Pelayanan kesehatan tradisional
2. Pelayanan kesehatan konvensional/modern
B. Pada saat Anda menderita sakit, apa tidakan Anda?
(Jawaban untuk masing masing poin: 0. Sangat
Tidak Setuju, 1. Tidak Setuju, 2. Setuju, 3. Sangat
Setuju)

1. Tidak bertindak atau tidak melakukan kegiatan


pada saat menderita sakit
2. Melakukan pengobatan sendiri pada saat menderita
sakit
3. Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas
pengobatan tradisional saat menderita sakit
4. Membeli obat-obat ke warung obat saat menderita
sakit.
5. Mencari pengobatan ke balai pengobatan saat
menderita sakit
6. Mencari pengobatan ke puskesmas saat menderita
sakit
7. Mencari pengobatan ke rumah sakit saat menderita
sakit
8. Mencari pengobatan ke praktek dokter saat
menderita sakit

[
[

]
]

[
[
[

]
]
]

C. Apa alasan menggunakan pengobatan tradisional


(Jawaban untuk masing masing poin: 0. Sangat
Tidak Setuju, 1. Tidak Setuju, 2. Setuju, 3. Sangat
Setuju)
1. Mengurangi stress dan kecemasan akibat
ketidakpastian penyakit,
2. Biaya yang rendah dan menyenangkan,
3. Penguatan dan keterlibatan langsung pasien dalam
penanganan penyakitnya,
4. Mudah untuk melakukan control jika terjadi
penyimpangan terhadap pengobatan,
5. Mengurangi trauma akibat perubahan
budaya/kebiasaan dan mempromosikan identitas
kebudayaan lokal.
D.Apa motif Anda mengunjungi pelayanan kesehatan?

(Jawaban untuk masing masing poin: 0. Sangat


Tidak Setuju, 1. Tidak Setuju, 2. Setuju, 3. Sangat
Setuju)
1. Mencari informasi
2. Memeriksakan kesehatan
3. Melakukan pengobatan
E. Apakah Anda yakin dengan obat obatan tradisional?
(Jawaban: 0. Sangat Tidak Setuju, 1. Tidak Setuju, 2.
Setuju, 3. Sangat Setuju)

F. Apakah pengobatan tradisional menimbulkan efek


samping yang berbahaya bagi tubuh? (Jawaban: 0.
Sangat Tidak Setuju, 1. Tidak Setuju, 2. Setuju, 3.
Sangat Setuju)
[

[
[
[

]
]
]

G. Apakah agama menganjurkan dan memperbolehkan


Anda berobat ke pengobatan tradisional? (Jawaban: 0.
Sangat Tidak Setuju, 1. Tidak Setuju, 2. Setuju, 3.
Sangat Setuju)
H. Apakah dengan pengobatan tradisional Anda akan
sembuh dari penyakit Anda? (Jawaban: 0. Sangat Tidak
Setuju, 1. Tidak Setuju, 2. Setuju, 3. Sangat Setuju)
Q13. Asuransi/Jaminan Kesehatan
Apakah Anda memiliki jaminan kesehatan atau asuransi
kesehatan? (Pilih Salah Satu)
1. Ada. Sebutkan: ()
2. Tidak ada.
Q14. Tarif Pelayanan Kesehatan Tradisional
Menurut Anda bagaimana tarif pelayanan kesehatan yang
ditawarkan dengan fasilitas dan pelayanan yang Anda
dapatkan?
(Pilih Salah Satu)
1. Rendah
2. Sedang
3.Tinggi
Q15. Pandangan Subjektif
Menurut Anda berdasarkan pengalaman, kapan seseorang
harus melakukan pengobatan tradisional?
(Jawaban: 0. Sangat Tidak Setuju, 1. Tidak Setuju, 2.
Setuju, 3. Sangat Setuju)
1. Menderita sakit ringan, Sebutkan: (
)
2. Menderita sakit sedang, Sebutkan: (
)
3 Menderita sakit berat, Sebutkan: (
)
Q16. Penyakit Sesuai dengan Diagnosis Medis
Apa penyakit yang pernah Anda alami, sehingga Anda
melakukan pengobatan ke pelayanan kesehatan
konvensional/modern atau ke pengobatan tradisional?
(Jawaban boleh lebih dari satu sesuai dengan riwayat
penyakit dan hasil pemeriksaan: (Jawaban untuk masing

masing poin: 1. Konvensional/modern 2.Tradisional


3. Keduanya dan Kosongkan jika belum pernah
mengalami penyakit yang disebutkan)
1. Demam
2. Stroke
3. Kanker
4. Darah Tinggi/Hipertensi
5. Jantung
6. Kolesterol
7. Kista
8. Hepatitis
9. Maag
10. Batu Ginjal
11. Asma
12. Asam Urat
13. Diabetes/Gula Darah
14. Masalah pada otot dan sendi
15. Migrain
16. Liver
15. Lainnya (.)

[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[

Terima kasih atas kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner ini.

]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]
]

Output Uji Chi Square


Variabel Dependen
Perilaku_Pengobatan_Tradisional
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Jarang

46

48.4

48.4

48.4

Kadang - kadang

34

35.8

35.8

84.2

Sering

15

15.8

15.8

100.0

Total

95

100.0

100.0

Variabel Independen
1. Usia dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value

df

sided)

.016

Likelihood Ratio

8.407

.015

Linear-by-Linear Association

8.172

.004

Pearson Chi-Square

8.314

N of Valid Cases

95

a. 1 cells (16.7%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 3.00.

2. Jenis Kelamin dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional


Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value

df

sided)

.019

Likelihood Ratio

8.057

.018

Linear-by-Linear Association

7.271

.007

Pearson Chi-Square

N of Valid Cases

7.909

95

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 6.95.

3. Status Pernikahan dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional


Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value

df

sided)

.097

Likelihood Ratio

8.829

.066

Linear-by-Linear Association

4.322

.038

Pearson Chi-Square

7.860

N of Valid Cases

95

a. 4 cells (44.4%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is .79.

4. Pendidikan dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional


Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value

df

sided)

.136

Likelihood Ratio

4.532

.104

Linear-by-Linear Association

2.951

.086

Pearson Chi-Square

3.989

N of Valid Cases

95

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 5.37.

5. Pengetahuan dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional


Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value

df

sided)

.046

Likelihood Ratio

6.523

.038

Linear-by-Linear Association

5.841

.016

Pearson Chi-Square

N of Valid Cases

6.171

95

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 6.95.

6. Pekerjaan dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional


Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value

df

sided)

Pearson Chi-Square

9.537

.299

Likelihood Ratio

11.270

.187

1.668

.196

Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

95

a. 8 cells (53.3%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is .79.

7. Jumlah Keluarga dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value
Pearson Chi-Square

df
2

.023

7.717

.021

.315

.575

7.502

Likelihood Ratio
Linear-by-Linear Association

sided)

N of Valid Cases

95

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 7.26.

8. Suku atau Etnis dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

df

sided)

12

.007

31.281

12

.002

2.658

.103

27.142

95

a. 15 cells (71.4%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is .63.

9. Agama dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional


Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value
Pearson Chi-Square

df
10

.048

23.561

10

.009

.185

.667

18.435

Likelihood Ratio
Linear-by-Linear Association

sided)

N of Valid Cases

95

a. 14 cells (77.8%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is .32.

10. Jarak Rumah dengan Pelayanan Kesehatan Tradisional terhadap Perilaku Pelayanan
Kesehatan Tradisional

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value

df

sided)

.289

Likelihood Ratio

2.497

.287

Linear-by-Linear Association

1.987

.159

Pearson Chi-Square

2.484

N of Valid Cases

95

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 6.79.

11. Penilaian tentang Sehat dan Sakit terhadap Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

df

sided)

.007

11.113

.025

7.685

.006

14.246

95

a. 4 cells (44.4%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is .32.

12. Sikap dengan terhadap Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional


Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value
Pearson Chi-Square

df
a

.332

2.220

.330

.005

.942

2.206

Likelihood Ratio
Linear-by-Linear Association

sided)

N of Valid Cases

95

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 5.68.

13. Asuransi atau Jaminan Kesehatan dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value

df

sided)

.947

Likelihood Ratio

.109

.947

Linear-by-Linear Association

.032

.857

Pearson Chi-Square

.109

N of Valid Cases

95

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 6.95.

14. Pandangan Subjektif dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional


Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value

df

sided)

.012

Likelihood Ratio

9.417

.009

Linear-by-Linear Association

8.685

.003

Pearson Chi-Square

N of Valid Cases

8.870

95

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 5.68.

15. Diagnosis Medis dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional


Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value
Pearson Chi-Square

df
a

.004

20.378

.009

2.049

.152

22.310

Likelihood Ratio
Linear-by-Linear Association

sided)

N of Valid Cases

95

a. 8 cells (53.3%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is .32.

16. Tarif Pelayanan Kesehatan Tradisional dengan Perilaku Pelayanan Kesehatan Tradisional
Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2Value
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

df

sided)

.026

14.636

.006

6.987

.008

11.034

95

a. 3 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 1.74.

Output Reliabilitas Kuesioner


Case Processing Summary
N
Cases

Valid

%
30

100.0

.0

30

100.0

Excluded
Total

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha Based on
Cronbach's

Standardized

Alpha

Items
.753

N of Items
.993

100

Q4A1

Output Validitas Kuesioner

Pearson Correlation

.757

Sig. (2-tailed)

.000

Correlations
P1

Pearson Correlation

TOTAL
.756

N
Q4A2

Sig. (2-tailed)
N
Q1

Pearson Correlation

N
Q2

Pearson Correlation

30
.806

N
Q3

Pearson Correlation

Sig. (2-tailed)

.000
30

Pearson Correlation

.698

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.780

30

Pearson Correlation

.735

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.788

N
Q4A5

Sig. (2-tailed)

.734

Q4A4
Sig. (2-tailed)

Pearson Correlation

.000

Q4A3
Sig. (2-tailed)

30

30

Pearson Correlation

.690

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30

N
Q4A6

Pearson Correlation

30

Sig. (2-tailed)

.814
N
Q4A11

Sig. (2-tailed)
N
Q4A7

Pearson Correlation

30

Pearson Correlation

.814

Sig. (2-tailed)

.000

.834
Q4A12

N
Q4A8

Pearson Correlation

30

Pearson Correlation

.839

Sig. (2-tailed)

.000

.759
Q4A13

N
Q4A9

Pearson Correlation

30

Pearson Correlation

.797

Sig. (2-tailed)

.000

.738
Q4A14

N
Q4A10

Pearson Correlation

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

.000

30

Pearson Correlation

.718

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.823
N

30

Q4A15

Pearson Correlation

.730

N
Q4B4

Sig. (2-tailed)
N
Q4A16

Pearson Correlation

N
Q4B1

Pearson Correlation

N
Q4B2

Pearson Correlation

.823

N
Q4B3

Pearson Correlation

.000
30

Pearson Correlation

.780

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.757

30

Pearson Correlation

.788

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.797

30

Pearson Correlation

.757

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.756

N
Q4D2

Sig. (2-tailed)

Sig. (2-tailed)
N

Q4D1
Sig. (2-tailed)

.806

30

Q4C
Sig. (2-tailed)

Pearson Correlation

.000

Q4B5
Sig. (2-tailed)

30

.000

Pearson Correlation

30
.734

Sig. (2-tailed)
N
Q4D3

Pearson Correlation

.000

Q4F

Pearson Correlation

.834

Sig. (2-tailed)

.000

30
.698

N
Sig. (2-tailed)
N
Q4D4

Pearson Correlation

.000

Q4G

Pearson Correlation

.759

Sig. (2-tailed)

.000

30
.735

N
Sig. (2-tailed)
N
Q4D5

Pearson Correlation

.000

Q4H1

N
Q4E

Pearson Correlation

.738

Sig. (2-tailed)

.000

30
.690

.000

Q4H2

30

Pearson Correlation

.823

Sig. (2-tailed)

.000

30
.814

N
Sig. (2-tailed)

30

Pearson Correlation

N
Sig. (2-tailed)

30

.000

Q4H3

30

Pearson Correlation

.814

Sig. (2-tailed)

.000

30

N
Q4H4

Pearson Correlation

30

Sig. (2-tailed)

.839
N
Q4H9

Sig. (2-tailed)
N
Q4H5

Pearson Correlation

30

Pearson Correlation

.757

Sig. (2-tailed)

.000

.797
Q4H10

N
Q4H6

Pearson Correlation

30

Pearson Correlation

.797

Sig. (2-tailed)

.000

.718
Q4H11

N
Q4H7

Pearson Correlation

30

Pearson Correlation

.756

Sig. (2-tailed)

.000

.730
Q4H12

N
Q4H8

Pearson Correlation

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

.000

30

Pearson Correlation

.806

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.823
N

30

Q4H13

Pearson Correlation

.780

N
Q6

Sig. (2-tailed)
N
Q4H14

Pearson Correlation

N
Q4H15

Pearson Correlation

N
Q4H16

Pearson Correlation

.788

N
Q5

Pearson Correlation

.000
30

Pearson Correlation

.690

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.757

30

Pearson Correlation

.814

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.734

30

Pearson Correlation

.834

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.698

N
Q10

Sig. (2-tailed)

Sig. (2-tailed)
N

Q9
Sig. (2-tailed)

.735

30

Q8
Sig. (2-tailed)

Pearson Correlation

.000

Q7
Sig. (2-tailed)

30

.000

Pearson Correlation

30
.759

Sig. (2-tailed)
N
Q11A

Pearson Correlation

.000

Q12B2

Pearson Correlation

.797

Sig. (2-tailed)

.000

30
.738

N
Sig. (2-tailed)
N
Q11B

Pearson Correlation

.000

Q12B3

Pearson Correlation

.718

Sig. (2-tailed)

.000

30
.823

N
Sig. (2-tailed)
N
Q12A1

Pearson Correlation

.000

Q12B4

N
Q12B1

Pearson Correlation

.730

Sig. (2-tailed)

.000

30
.814

.000

Q12B5

30

Pearson Correlation

.823

Sig. (2-tailed)

.000

30
.839

N
Sig. (2-tailed)

30

Pearson Correlation

N
Sig. (2-tailed)

30

.000

Q12B6

30

Pearson Correlation

.757

Sig. (2-tailed)

.000

30

N
Q12B7

Pearson Correlation

30

Sig. (2-tailed)

.797
N
Q12C4

Sig. (2-tailed)
N
Q12B8

Pearson Correlation

30

Pearson Correlation

.757

Sig. (2-tailed)

.000

.756
Q12C5

N
Q12C1

Pearson Correlation

30

Pearson Correlation

.734

Sig. (2-tailed)

.000

.806
Q12D1

N
Q12C2

Pearson Correlation

30

Pearson Correlation

.698

Sig. (2-tailed)

.000

.780
Q12D2

N
Q12C3

Pearson Correlation

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

.000

30

Pearson Correlation

.735

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.788
N

30

Q12D3

Pearson Correlation

.690

N
Q13

Sig. (2-tailed)
N
Q12E

Pearson Correlation

N
Q12F

Pearson Correlation

N
Q12G

Pearson Correlation

.814

N
Q12H

Pearson Correlation

.000
30

Pearson Correlation

.814

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.834

30

Pearson Correlation

.839

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.759

30

Pearson Correlation

.797

Sig. (2-tailed)

.000

.000
30
.738

N
Q15.3

Sig. (2-tailed)

Sig. (2-tailed)
N

Q15.2
Sig. (2-tailed)

.823

30

Q15.1
Sig. (2-tailed)

Pearson Correlation

.000

Q14
Sig. (2-tailed)

30

.000

Pearson Correlation

30
.718

Sig. (2-tailed)
N
Q16.1

Pearson Correlation

.000

Q16.5

Pearson Correlation

.738

Sig. (2-tailed)

.000

30
.730

N
Sig. (2-tailed)
N
Q16.2

Pearson Correlation

.000

Q16.6

Pearson Correlation

.814

Sig. (2-tailed)

.000

30
.823

N
Sig. (2-tailed)
N
Q16.3

Pearson Correlation

.000

Q16.7

N
Q16.4

Pearson Correlation

.839

Sig. (2-tailed)

.000

30
.757

.000

Q16.8

30

Pearson Correlation

.797

Sig. (2-tailed)

.000

30
.797

N
Sig. (2-tailed)

30

Pearson Correlation

N
Sig. (2-tailed)

30

.000

Q16.9

30

Pearson Correlation

.718

Sig. (2-tailed)

.000

30

N
Q16.10

Pearson Correlation

30

Sig. (2-tailed)

.730
N
Q16.15

Sig. (2-tailed)
N
Q16.11

Pearson Correlation

30

Pearson Correlation

.698

Sig. (2-tailed)

.000

.780
TOTAL

N
Q16.12

Pearson Correlation

Pearson Correlation

N
Q16.13

30

Q16.14

.000
30
.757

Sig. (2-tailed)

.000

Pearson Correlation

Sig. (2-tailed)

.788

Pearson Correlation

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

30

.000

N
Sig. (2-tailed)

.000

30
.734

30

KEMENTERIAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
Telp: (62-21) 74716718
Fax: (62-21) 7404985
Website: www.uinjkt.ac.id Email: fkik@uinjkt.ac.id

Jl. Kertamukti No.5, Pisangan, Ciputat, 15412, Jakarta

No

: Un.01/F10/ HM.00.1/

/2014

Lampiran

:-

Hal

: Permohonan izin pengambilan data

Ciputat,

September 2014

Kepada Yth,
Pengobatan Shinse (Traditional Chinese Medicine)
Jalan Kamal Raya
di Jakarta Barat
Assalamualaikum Wr. Wb
Bersama dengan ini kami sampaikan bahwa mahasiswa di bawah ini adalah
mahasiswa Peminatan Promosi Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatulah yang sedang menyelesaikan skripsi
sebagai tugas akhir untuk mendapatkan gelar SKM. Untuk itu kami mohon bantuan
Bapak/Ibu sebagai pemilik usaha kesehatan agar diizinkan melakukan pengambilan data
terkait data data yang dibutuhkan mahasiswa yang bersangkutan.
Nama

: Supriadi

NIM

:1110101000073

Judul skripsi

: Determinan Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan Tradisional (Health


Seeking Behavior of Traditional Medicine) Masyarakat Cengkareng, Jakarta
Barat, Tahun 2014.

Demikian permohonan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu
kami mengucapkan terima kasih.
Wassalamu.alaikum Wr. Wb
Kepala Peminatan Promosi Kesehatan
Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Raihana Nadra Alkaff, MA.


Tembusan:
Dekan FKIK