Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Narkoba (Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif berbahaya lainnya) adalah
zat psikoaktif yang bekerja pada SSP (Susunan Syaraf Pusat) dan berpengaruh terhadap
proses mental. Zat adiktif akan mengakibatkan seseorang yang mengkonsumsinya menjadi
senang atau hilang rasa nyerinya. Namun yang patut dicatat adalah adanya proses
neuroadaptasi yaitu beradaptasinya sel syaraf terhadap pasokan zat adiktif karena struktur
kimia yang serupa antara neurotransmitter dengan zat tersebut. Efek lebih jauh adalah
terjadinya toleransi yaitu diperlukan jumlah zat yang lebih dari biasanya guna memberikan
efek yang diharapkan, yang kemudian akan menimbulkan gejala putus obat ataupun
intoksikasi1.
Bila zat adiktif digunakan dengan benar di bawah pengawasan medis, maka efeknya
dimaksud sebagai terapi. Tetapi bila zat itu dikonsumsi oleh seseorang di luar maksud medis
dan atau penelitian, hal tersebut dapat disebut sebagai salah guna (drug/substance abuse)
yaitu penggunaan yang persisten atau sporadis berlebih dan inkonsisten dengan atau tak
berhubungan dengan pemakaian medis yang diterima. Hal ini menuntun pada definisi zat
adiktif yang dikembangkan oleh WHO yaitu menjadi zat psikoaktif yang dipakai dan
menyebabkan kerusakan kesehatan, baik mental maupun fisik (harmful use). Dalam DSM IV
(Diagnostic Statistical on Mental Disorders) yang dimaksud dengan penyalahgunaan adalah
apabila individu menggunakan zat psikoaktif sedikitnya dalam satu bulan dengan pola yang
menetap.1
Salah satu contoh dari Zat-Zat Psikoaktif yang menyebabkan ketagihan misalnya
adalah

Amfetamin atau

lebih

dikenal

dengan

sebutan Shabu-Shabu.

Amfetamin

merupakan satu jenis narkoba yang dibuat secara sintetis dan kini terkenal di wilayah Asia
Tenggara. Amfetamin dapat berupa bubuk putih, kuning, maupun coklat, atau bubuk putih
kristal kecil. Dengan amfetamin, para atlet olahraga dapat meningkatkan penampilannya,
misalnya berlari dengan kecepatan yang luar biasa. Amfetamin juga mempengaruhi organorgan tubuh lain yang berhubungan dengan hipotalamus, seperti peningkatan rasa haus,
ngantuk ataupun lapar. 1

Oleh karena hal tersebut, penulis tertarik untuk membuat suatu tulisan yang
berhubungan dengan salah satu contoh dari Zat-Zat Psikoaktif yang menyebabkan ketagihan
yaitu Amfetamin atau lebih dikenal dengan sebutan Shabu-Shabu. 1

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian Amfetamin
Amfetamin adalah kelompok obat psikoaktif sintetis yang disebut stimulan sistem

saraf pusat (SSP) (stimulants). Amfetamin merupakan satu jenis narkoba yang dibuat secara
sintetis dan kini terkenal di wilayah Asia Tenggara. Amfetamin dapat berupa bubuk putih,
kuning, maupun coklat, atau bubuk putih kristal kecil.2,3
Senyawa ini memiliki nama kimia methylphenethylamine merupakan suatu
senyawa yang telah digunakan secara terapetik untuk mengatasi obesitas, attention-deficit
hyperactivity disorder (ADHD), dan narkolepsi. Amfetamin meningkatkan pelepasan
katekolamin yang mengakibatkan jumlah neurotransmiter golongan monoamine (dopamin,
norepinefrin, dan serotonin) dari saraf pra-sinapsis meningkat. Amfetamin memiliki banyak
efek stimulan diantaranya meningkatkan aktivitas dan gairah hidup, menurunkan rasa lelah,
meningkatkan mood, meningkatkan konsentrasi, menekan nafsu makan, dan menurunkan
keinginan untuk tidur. Akan tetapi, dalam keadaan overdosis, efek-efek tersebut menjadi
berlebihan. 2,3
Secara klinis, efek amfetamin sangat mirip dengan kokain, tetapi amfetamin memiliki
waktu paruh lebih panjang dibandingkan dengan kokain (waktu paruh amfetamin 10 15
jam) dan durasi yang memberikan efek euforianya 4 8 kali lebih lama dibandingkan
kokain. Hal ini disebabkan oleh stimulator-stimulator tersebut mengaktivasi reserve powers
yang ada di dalam tubuh manusia dan ketika efek yang ditimbulkan oleh amfetamin
melemah, tubuh memberikan signal bahwa tubuh membutuhkan senyawa-senyawa itu
lagi. Berdasarkan ICD-10 (The International Statistical Classification of Diseases and
Related Health Problems), kelainan mental dan tingkah laku yang disebabkan oleh
amfetamin diklasifikasikan ke dalam golongan F15 (Amfetamin yang menyebabkan
ketergantungan psikologis). 2,3
Cara yang paling umum dalam menggunakan amfetamin adalah dihirup melalui
tabung. Zat tersebut mempunyai mempunyai beberapa nama lain: ATS, SS, ubas, ice, Shabu,
Speed, Glass, Quartz, Hirropon dan lain sebagainya. Amfetamin terdiri dari dua senyawa
yang

berbeda:

dextroamphetamine

murni dan

levoamphetamine

murni.

Karena

dextroamphetamine lebih kuat daripada levoamphetamine, dextroamphetamine juga lebih


kuat daripada campuran amfetamin. 2,3

Amfetamin dapat membuat seseorang merasa energik. Efek amfetamin termasuk rasa
kesejahteraan, dan membuat seseorang merasa lebih percaya diri. Perasaan ini bisa bertahan
sampai 12 jam, dan beberapa orang terus menggunakan untuk menghindari kehilangan efek
obat. Pada dosis tertentu, hampir semua pecandu menjadi psikotik, karena amfetamin dapat
menyebabkan kecemasan hebat, paranoia dan gangguan pengertian terhadap kenyataan
hidup. Reaksi psikotik meliputi halusinasi dengar dan lihat (melihat dan mendengar benda
yang sebenarnya tidak ada) dan merasa sangat berkuasa. Efek tersebut bisa terjadi pada siapa
saja, tetapi yang lebih rentan adalah pengguna dengan kelainan psikiatri (misalnya
skizofrenia).
Ada dua jenis amfetamin, yaitu:
o Methamfetamin ice, dikenal sebagai shabu. Nama lainnya shabu-shabu. SS, ice,
crystal, crank. Cara penggunaannya dibakar dengan menggunakan kertas alumunium
foil dan asapnya dihisap, atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang
dirancang khusus (bong). Ice adalah bentuk murni dari methamphetamine yang dapat
diinhalasi, diisap seperti rokok, atau disuntikkan secara intravena oleh pelaku
penyalahgunaan zat. Ice paling banyak digunakan di Pantai Barat di Amerika Serikat
dan di Hawaii. Efek psikologis dari Ice berlangsung selama beberapa jam dan
digambarkan cukup kuat. Tidak seperti crack cocaine, yang harus diimpor, ice adalah
suatu obat sintetik yang dapat dibuat dalam laboratorium gelap setempat. Beberapa
badan hukum dan dokter ruang gawat darurat perkotaan berpendapat bahwa ice dapat
menjadi obat yang disalahgunakan secara luas selama lima tahun mendatang.
o MDMA (methylene dioxy methamphetamin), mulai dikenal sekitar tahun 1980 dengan
nama Ekstasi atau Ecstacy. Nama lain : XTC, fantacy pils, inex, cece, cein, Terdiri
dari berbagai macam jenis antara lain : white doft, pink heart, snow white, petir yang
dikemas dalam bentuk pil atau kapsul. Obat amfetamin klasik (dextroamphetamine,
methamphetamine, dan methylphenidate) mempunyai efek utamanya melalui sistem
dopaminergik. Sejumlah obat yang disebut dengan amfetamin racikan / designer
amphetamine (MDMA, ecstacy, XTC, Adam, MDEA/Eve, MMDA, DOM/STP) telah
dibuat dan mempunyai efek neurokimiawi pada sistem serotonergik dan dopaminergik
dan efek perilaku yang mencerminkan suatu kombinasi aktifitas obat mirip amfetamin
dan mirip halusinogen. Beberapa ahli farmakologis mengklasifikasikan amfetamin
racikan sebagai halusinogen; tetapi, Kaplan dan Sadock mengklasifikasikan obat
tersebut dengan amfetamin karena strukturnya yang sangat berhubungan. MDMA
4

merupakan yang paling banyak diteliti dan kemungkinan merupakan yang paling
banyak tersedia.

2.2 Epidemiologi
Pada banyak Negara, penggunaan obat terlarang lebih sering terjadai pada orang
yang berusia muda, laki-laki lebih sering dari npada perempuan, dan pada orang dengan
social ekonomi yang rendah, pada daerah dengan rata-rata masalah social yang lebih
tinggi4. Dilaporkan pada masa anak usia SMA (senior high school) penggunaan stimulan
lebih tinggi dari pada penggunaan kokain.1,3
National Household Survey and Drug Abuse (NHSDA) melporkan pada tahun
1997 terdapat 4,5% dari orang yang berusia 12 tahun atau lebih menggunakan stimulan
bukan atas indikasi medis, hal ini menunjukkan peningkatan yang drastic dari pada tahun
sebelumnya. Persentasi yang paling tinggi setelah penggunaan dalam 1 tahun (1,5%)
antara umur 18-25 tahun, kemudian diikuti oleh umur 12-17 tahun. Sample ini tidak
cukup luas untuk mendeteksi peningkatan dalam penggunaan amfetamin ini disesuaikan
dengan data dari ruang emergensi untuk keracunan yang berkaitan dengan amfetamin
atau program tes panghentian obat. 1,3
Survei dua populasi digunakan sebagai kriteria dianostik yang dapat diterima
untuk

mengukur

besernya

penyalahgunaan

dan

ketergantungan

yaitu

studi

Epidemiologic Catchment Area (ECA). ECA melaporkan kombinasi kategori antara


ketergantungan dan penyalahgunaan amfetamin dan obat yang mirip amfetamin, yaitu:
prevalensi 1 bulan, 6 bulan, dan seumur hidup berturut-turut 0,1; 0,2; dan 1,7 persen.
Rata-rata ketergantungan seumur hidup untuk umur 15-54 tahun yaitu 1,7%; 15%
responden memiliki kebiasaan penggunaan stimulant tanpa indikasi medis. Diantara
yang dilaporkan tanpa indikasi medis 11% ditemukan criteria ketergantungan. 1,3

2.3 Mekanisme Kerja


Amfetamin bekerja merangsang susunan saraf pusat melepaskan katekolamin
(epineprin, norepineprin, dan dopamin) dalam sinaps pusat dan menghambat dengan
meningkatkan rilis neurotransmiter entecholamin, termasuk dopamin. Sehingga
neurotransmiter tetap berada dalam sinaps dengan konsentrasi lebih tinggi dalam jangka
waktu yang lebih lama dari biasanya. Semua sistem saraf akan berpengaruh terhadap
perangsangan yang diberikanel.4,5
5

Efek klinis amfetamin akan muncul dalam waktu 2-4 jam setelah penggunaan.
Senyawa ini memiliki waktu paruh 4-24 jam dan dieksresikan melalui urin sebanyak
30% dalam bentuk metabolit. Metabolit amfetamin terdiri dari p-hidroksiamfetamin, phidroksinorepedrin, dan penilaseton. 4,5
Karena waktu paruhnya yang pendek menyebabkan efek dari obat ini relatif cepat
dan dapat segera terekskresikan, hal ini menjadi salah satu kesulitan tersendiri untuk
pengujian terhadap pengguna, bila pengujian dilakukan lebih dari 24 jam jumlah
metabolit sekunder yang di terdapat pada urin menjadi sangat sedikit dan tidak dapat lagi
dideteksi dengan KIT. 4,5

2.4 Gambaran Klinik


Pengaruh amfetamin terhadap pengguna bergantung pada jenis amfetamin, jumlah
yang digunakan, dan cara menggunakannya. Dosis kecil semua jenis amfetamin akan
meningkatkan tekanan darah, mempercepat denyut nadi, melebarkan bronkus,
meningkatkan kewaspadaan, menimbulkan euforia, menghilangkan kantuk, mudah
terpacu, menghilangkan rasa lelah dan rasa lapar, meningkatkan aktivitas motorik,
banyak bicara, dan merasa kuat.2,5,6
Dosis sedang amfetamin (20-50 mg) akan menstimulasi pernafasan, menimbulkan
tromor ringan, gelisah, meningkatkan aktivitas montorik, insomnia, agitasi, mencegah
lelah, menekan nafsu makan, menghilangkan kantuk, dan mengurangi tidur. 2,5,6
Penggunaan amfetamin berjangka waktu lama dengan dosis tinggi dapat
menimbulkan perilaku stereotipikal, yaitu perbuatan yang diulang terus-menerus tanpa
mempunyai tujuan, tiba-tiba agresif, melakukan tindakan kekerasan, waham curiga, dan
anoneksia yang berat. 2,5,6
2.4.1. Amfetamin Klasik
Pada seseorang yang sebelumnya belum pernah menggunakan amfetamin, dosis
tunggal 5 mg meningkatkan rasa kesehatannya dan menyebabkan elasi, euforia, dan
keramahan. Dosis kecil biasanya memperbaiki pemusatan perhatian mereka dan
meningkatkan kinerja dalam tugas menulis, oral, dan kinerja. Terdapat juga penurunan
kelelahan, menyebabkan anoreksia, dan peningkatan ambang rasa nyeri. Efek yang tidak
diharapkan menyertai penggunaan dosis tinggi untuk periode waktu yang lama.2,7,8

2.4.2. Amfetamin Racikan


Karena efeknya pada sistem dopaminergik, amfetamin racikan memiliki sifat
mengaktifkan dan memberikan energi. Tetapi, efeknya pada sistem serotonergik, mewarnai
pengalaman dengan obat tersebut dengan suatu karakter halusinogenik. Amfetamin racikan
dikaitkan dengan disorientasi dan distorsi persepsi yang lebih sedikit daripada halusinogen
klasik seperti lysergic acid diethylamine (LSD). Rasa keakraban dengan orang lain dan rasa
nyaman pada diri sendiri dan peningkatan kecerahan objek adalah merupakan efek yang
sering dilaporkan pada MDMA. Beberapa ahli psikoterapi telah menggunakan dan
menganjurkan penelitian lebih lanjut tentang amfetamin racikan sebagai adjuvan terhadap
psikoterapi. Anjuran tersebut adalah kontroversial; dokter lain menekankan kemungkinan
bahaya dari penggunaan obat tersebut. 2,7,8
Sensasi yang ditimbulkan oleh amfetamin
Sensasi yang ditimbulkan akan membuat otak lebih jernih dan bisa berpikir lebih
fokus. Otak menjadi lebih bertenaga untuk berpikir berat dan bekerja keras, namun akan
muncul kondisi arogan yang tanpa sengaja muncul akibat penggunaan zat ini. Pupil akan
berdilatasi (melebar). Nafsu makan akan sangat ditekan. Hasrat ingin pipis juga akan ditekan.
Tekanan darah bertendensi untuk naik secara signifikan. Secara mental, pengguna akan
mempunyai rasa percaya diri yang berlebih dan merasa lebih happy. Pengguna akan lebih
talkative, banyak ngomong dan meningkatkan pola komunikasi dengan orang lain. Karena
seluruh sistem saraf pusat terstimulasi maka kewaspadaan dan daya tahan tubuh juga
meningkat. Pengguna seringkali berbicara terus dengan cepat dan terus menerus. Amfetamin
dosis rendah akan habis durasinya di dalam tubuh kita antara 3 sampai 8 jam, Setelah itu
pengguna akan merasa kelelahan. Kondisi ini akan membuat dorongan untuk kembali speedup dan kembali mengkonsumsi satu dosis kecil lagi, begitu seterusnya. Penggunaan bagi
social user dimana biasanya hanya menggunakan amfetamin pada akhir minggu biasanya
menjadi tidak bisa mengontrol penggunaannya dan banyak yang berakhir dengan penggunaan
sepanjang minggu penuh, mulai dari Sabtu ke Jumat, begitu seterusnya. 2,7,8

2.5.

Efek Mengkonsumsi Amfetamin7


Karena efeknya yang menimbulkan kecanduan dengan adanya toleransi dari zat yang

dikonsumsi, maka zat ini juga akan menimbulkan efek secara fisik. Begitu seseorang telah
7

kecanduan amfetamin, maka orang tersebut harus kembali menggunakan amfetamin untuk
mencegah sakaw (withdrawal). Karena efek yang ditimbulkan amfetamin bisa boosting
energi pada penggunanya, maka efek withdrawal yang paling sering muncul adalah
kelelahan. Pengguna zat ini kemungkinan juga akan membutuhkan waktu tidur yang lebih
lama dan sangat sensitif/mudah marah pada saat dibangunkan. Begitu efek obatnya hilang,
pengguna yang tadinya tidak merasa lapar kemudian menjadi sangat lapar. Pada beberapa
kalangan selebriti, penggunaan zat ini sering digunakan sebagai obat untuk menurunkan
nafsu makan. Namun sebenarnya sama saja karena nafsu makan akan kembali meningkat
setelah efek obatnya hilang. Itulah sebabnya banyak selebriti perempuan yang mati-matian
menjaga berat badannya dan akhirnya berakhir pada kecanduan amfetamin.
Depresi juga merupakan efek withdrawal yang paling sering pada pengguna
amfetamin. Pada kasus-kasus yang berat malahan dapat menimbulkan tentamen suicide
(hasrat ingin bunuh diri). Karena efek depresinya ini terkadang pengguna dapat menjadi
orang yang berlaku sangat kasar.
2.5.1. Efek Jangka Pendek dari Amfetamin
Berikut ini adalah beberapa efek dari mengkonsumsi Amfetamin, yaitu :

Meningkatkan suhu tubuh

Kerusakan sistem kardiovaskular

Paranoia

Mulut kering

Meningkatkan denyut jantung

Dilatasi pupil

Meningkatkan tekanan darah

Mual

Menjadi hiperaktif

Sakit kepala

Mengurangi rasa kantuk

Perubahan perilaku seksual

Tremor

Menurunkan nafsu makan


Euforia

2.5.2. Efek Jangka Panjang dari Amfetamin


Selama jangka panjang, seseorang yang menggunakan amfetamin secara teratur akan
menemukan tanda-tanda efek samping jangka panjang yang biasanya terdiri dari :

Pandangan kabur

Pusing

Peningkatan detak jantung

Sakit kepala

Tekanan darah tinggi

Kurang nafsu makan

Nafas cepat

Gelisah
Pada penggunaan zat terus menerus akhirnya akan menimbulkan gangguan gizi dan
gangguan tidur. Pengguna akan lebih rentan untuk sakit apapun karena kondisi kesehatan
yang secara keseluruhannya buruk.
2.5.3. Intoksikasi Amfetamin
Sindrom intoksikasi oleh kokain (yang menghambat reuptake dopamin) dan
amfetamin (yang menyebabkan pelepasan dopamin) adalah serupa. Dalam DSM IV kriteria
diagnostik intoksikasi amfetamin dan intoksikasi kokain dipisahkan tetapi sebenarnya adalah
sama. DSM-IV memungkinkan spesifikasi adanya gangguan perseptual. Jika tes realitas yang
utuh tidak didapatkan, diagnosis gangguan psikotik akibat amfetamin dengan onset selama
intoksikasi diindikasikan. Gejala intoksikasi amfetamin hampir menghilang sama sekali
setelah 24 jam dan biasanya menghilang secara lengkap setelah 48 jam. 2,5,8
Kriteria diagnostik untuk intoksikasi amfetamin menurut DSM-IV: 2,5,8
A.

Pemakaian amfetamin atau zat yang berhubungan (misalnya methylphenidate) yang

belum lama terjadi.


B.

Perilaku maladaptif atau perubahan perilaku yang bermakna secara klinis (misalnya

euforia atau penumpulan afektif, perubahan sosiabilitas, kewaspadaan berlebihan, kepekaan


interpersonal, kecemasan, ketegangan, atau kemarahan, perilaku stereotipik, gangguan
pertimbangan, atau gangguan fungsi sosial atau pekerjaan) yang berkembang selama atau
segera setelah pemakaian amfetamin atau zat yang berhubungan.
C.

Dua (atau lebih) hal berikut berkembang selama atau segera sesudah pemakaian

amfetamin atau zat yang berhubungan;


(1)

takikardia atau bradikardia

(2)

dilatasi pupil

(3)

peninggian atau penurunan tekanan darah


9

D.

(4)

berkeringat atau menggigil

(5)

mual atau muntah

(6)

tanda-tanda penurunan berat badan

(7)

agitasi atau retardasi psikomotor

(8)

kelemahan otot, depresi pernapasan, nyeri dada, atau aritmia jantung

(9)

konfusi, kejang, diskinesia, distonia, atau koma

Gejala tidak disebabkan oleh kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan

oleh gangguan mental lain


Sebutkan jika: dengan gangguan persepsi
2.5.4. Putus Amfetamin
Keadaan setelah intoksikasi amfetamin dapat disertai kecemasan, gemetar, mood
disforik, letargi, fatigue, mimpi menakutkan (disertai oleh rebound tidur REM), nyeri kepala,
keringat banyak, kram otot, kram lambung, dan rasa lapar yang tidak pernah kenyang. Gejala
putus biasanya memuncak dalam dua sampai empat hari dan menghilang dalam satu minggu.
Gejala putus amfetamin yang paling serius adalah depresi, yang dapat berat setelah
penggunaan amfetamin dosis tinggi secara terus menerus dan yang dapat disertai dengan ide
atau usaha untuk bunuh diri. Kriteria diagnostik DSM-IV untuk putus amfetamin
menyebutkan bahwa suatu mood disforik dan sejumlah perubahan fisiologis diperlukan untuk
diagnosis putus amfetamin.2,8,9
Kriteria diagnostik untuk putus amfetamin menurut DSM-IV:
A.

Penghentian (atau penurunan) amfetamin (atau zat yang berhubungan) yang sudah

lama atau berat


B.

Mood disforik dan dua (atau lebih) perubahan fisiologis berikut, yang berkembang

dalam beberapa jam sampai beberapa hari setelah kriteria A:

C.

(1)

kelelahan

(2)

mimpi yang gamblang dan tidak menyenangkan

(3)

insomnia atau hipersomnia

(4)

peningkatan nafsu makan

(5)

retardasi atau agitasi psikomotor

Gejala dalam kriteria B menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau

gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain


D.

Gejala bukan karena kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan oleh

gangguan mental lain


10

2.5.5. Amfetamin Psikosis


Efek penggunaan jangka panjang bisa menimbulkan kondisi yang disebut dengan
amfetamin psikosis. Gangguan mental ini sangat mirip sekali dengan paranoid schizophrenia.
Efek psikosis ini juga bisa muncul pada penggunaan jangka pendek dengan dosis yang besar.
Kondisi psikosis inilah yang tidak disadari oleh kebanyakan pengguna amfetamin. Karena
efeknya baru muncul jangka panjang maka sering kali efek ini disalah artikan. Pengalaman
dari negara-negara lain yang sudah lebih lama muncul penggunaan amfetamin, telah banyak
korban dengan gangguan psikosis atau gangguan kejiwaan yang parah. Tanda utama dari
gangguan psikotik akibat amfetamin adalah adanya paranoia. Skizofrenia dapat dibedakan
dari gangguan psikotik akibat amfetamin oleh sejumlah karakteristik seperti menonjolnya
halusinasi visual, afek yang biasanya sesuai, hiperaktifitas, hiperseksualitas, konfusi dan
inkoherensi, dan sedikit bukti gangguan berpikir (sebagai contohnya, asosiasi longgar).
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa, walaupun gejala positif skizofrenia dan
gangguan psikotik akibat amfetamin adalah serupa, pendataran afek dan alogia dari
skizofrenia biasanya tidak ditemukan pada gangguan psikotik akibat amfetamin. Tetapi,
secara klinis, gangguan psikotik akibat amfetamin akut mungkin sama sekali tidak dapat
dibedakan dari skizofrenia, dan hanya resolusi gejala dalam beberapa hari atau temuan positif
pada uji saring urine yang akhirnya mengungkapkan diagnosis yang tepat. Beberapa bukti
menyatakan bahwa penggunaan amfetamin jangka panjang adalah disertai dengan
peningkatan kerentanan terhadap perkembangan psikosis di bawah sejumlah keadaan,
termasuk intoksikasi alkohol dan stres. Pengobatan terpilih untuk gangguan psikotik akibat
amfetamin adalah penggunaan jangka pendek antagonis reseptor dopamin seperti haloperidol.
DSM-IV menuliskan kriteria diagnostik untuk gangguan psikotik akibat amfetamin dengan
gangguan psikotik lainnya. DSM-IV memungkinkan dokter menyebutkan apakah waham
atau halusinasi adalah merupakan gejala yang menonjol. 2,5,8
2.5.6. Gangguan Lain Berhubungan Amfetamin
Gangguan lainnya yang berhubungan dengan amfetamin antara lain delirium,
gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, dan disfungsi seksual.

2.6.

Efek Merugikan

2.6.1. Amfetamin Klasik


11

Efek pada serebrovaskular, jantung, dan gastrointestinal adalah salah satu di antara
efek merugikan yang paling sering yang berhubungan dengan penyalahgunaan amfetamin.
Keadaan spesifik yang mengancam kehidupan adalah infark miokardium, hipertensi berat,
penyakit kardiovaskular, dan kolitis iskemik. Gejala neurologis yang terjadi terus menerus,
dari kedutan, tetani, kejang sampai koma dan kematian disertai dengan dosis amfetamin yang
semakin tinggi. Penggunaan amfetamin intravena berhubungan dengan transmisi HIV dan
hepatitis. Efek merugikan yang kurang mengancam kehidupan adalah kemerahan, pucat,
sianosis, demam, nyeri kepala, takikardi, palpitasi, mual, muntah, bruxism (menggesekkan
gigi), napas sesak, tremor, dan ataksia. Penggunaan amfetamin oleh wanita hamil didapatkan
berat badan lahir rendah, lingkar kepala kecil, prematur, dan retardasi pertumbuhan.
Efek psikologis yang merugikan dari amfetamin adalah kegelisahan, insomnia,
iritabilitas, sikap permusuhan, dan konfusi. Gejala gangguan kecemasan, seperti gangguan
kecemasan menyeluruh dan gangguan panik, dapat diinduksi oleh penggunaan amfetamin.
Waham rujukan, waham paranoid, dan halusinasi dapat disebabkan oleh pemakaian
amfetamin.
2.6.2. Amfetamin racikan
Amfetamin racikan mempunyai banyak efek merugikan yang sama dengan amfetamin
klasik. Tetapi, berbagai efek lainnya juga didapatkan pada amfetamin racikan. Secara klinis,
suatu efek merugikan yang berat yang berhubungan dengan MDMA adalah hipertermia yang
disebabka oleh obat dan selanjutnya dieksaserbasi oleh aktifitas yang berlebihan (seperti
berdansa dengan liar di dalam klub dansa yang panas dan padat). Terdapat sejumlah laporan
klinis tentang kematian yang berhubungan dengan pemakaian MDMA di bawah situasi
tersebut.
2.7. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium :6

Elektrolit : akut bisa memberikan gambaran hipokalemi sedangkan pada intoksikasi


amfetamin yang berat memberikan gambaran hiperkalemi.

Glukosa darah : pada pemeriksaan gula darah memberikan gambaran hipoglikemi

Fungsi ginjal : gagal ginjal berhubungan dengan rhabdomyolisis dan trombosis arteri
ginjal pernah dilaporkan pada penyalahgunaan amfetamin.

12

Urinalisis untuk skrining amfetamin atau zat adiktif lain yang digunakan bersamasama,

Tes kehamilan : semua wanita yang berada dalam usia subur sbaiknya dilkukan tes
kehamilan

Fungsi hati : kerusakan hati mungkin terjadi pada intoksikasi akut. Sebagai tambahan,
pasien yang menggunakan amfetamin beresiko untuk terinfeksi hepatitis, yang pada
akirnya bias menyebabkan perubahan mental.

Jumlah sel darah : anemia, lekositosis, dan leucopenia

Toksikologi : Urine drug screens : Benzoylecogonine (bentuk metabolic kokain) bisa


ditemukan pada urin 60 jam setelah menggunakan amfetamin. Pada pengguna
amfetamin yang berat bisa ditemukan sampai 22 hari.

Enzim jantung : pada pengguna amfetamin terdapat angka prevalensi yang tinggi
untuk terjadinya myocardial infection, pasien yang dating dengan nyeri dada dan
riwayat penggunaan amfetamin bisa dipikirkan untuk melakukan pemeriksaan enzim
jantung.

2. Gambaran Radiologi :

Chest x-Ray

CT-Scan.

3. Tes lain : Analisa gas darah, ECG


2.8.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan intoksikasi amfetamin:7
a. Bila suhu badan naik, berikan kompres dingin, minum air dingin, atau selimut
hipotermik.
b. Bila kejang, berikan diazepam 10-30 mg per oral atau parenteral; atau klordiazepoksid
10-25 mg per oral secara perlahan-lahan dan dapat diulang setiap 15-20 menit.
c. Bila tekanan darah naik, berikan obat anti hipertensi.

13

d. Bila terjadi takikardma, berikan beta-blocker, seperti propanolol, yang sekaligus juga
untuk menurunkan tekanan darah.
e. Untuk mempercepat ekskresi amfetamin, lakukan asidifikasi air seni dengan memberi
amonium klorida 500 mg per oral setiap 3-4 jam.
f. Bilatimbul gejala psikosis atau agitasi, beri halopendol 3 kali 2-5 mg.
Penatalaksanaan putus amfetamin:7
a. Rawat di tempat yang tenang dan biarkan pasien tidur dan makan sepuasnya.
b. Waspada terhadap kemungkinan timbulnya depresi dengan ide bunuh diri.
c. Dapat diberikan anti depresi.
2.9.

Pencegahan
Banyak yang masih bisa dilakukan untuk mencegah remaja menyalahgunakan

narkoba dan membantu remaja yang sudah terjerumus Penyalahgunaan Narkoba. Ada tiga
tingkat intervensi, yaitu1
1.

Primer, sebelum penyalahgunaan terjadi, biasanya dalam bentuk pendidikan,

penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba, pendekatan melalui keluarga, dll. Instansi
pemerintah, seperti halnya BKKBN, lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini.
kegiatan dilakukan seputar pemberian informasi melalui berbagai bentuk materi KIE yang
ditujukan kepada remaja langsung dan keluarga.
2.

Sekunder, pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya

penyembuhan (treatment). Fase ini meliputi: Fase penerimaan awal (initial intake)antara 1 3
hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mental, dan Fase detoksifikasi dan terapi
komplikasi medik, antara 1 3 minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan
bahan-bahan adiktif secara bertahap.
3.

Tersier, yaitu upaya untuk merehabilitasi mereka yang sudah memakai dan

dalam proses penyembuhan. Tahap ini biasanya terdiri atas Fase stabilisasi, antara 3-12 bulan,
untuk mempersiapkan pengguna kembali ke masyarakat, dan Fase sosialiasi dalam
masyarakat, agar mantan penyalahguna narkoba mampu mengembangkan kehidupan yang
bermakna di masyarakat. Tahap ini biasanya berupa kegiatan konseling, membuat kelompokkelompok dukungan, mengembangkan kegiatan alternatif, dll.

14

BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Amfetamin adalah kelompok obat psikoaktif sintetis yang disebut stimulan sistem
saraf pusat (SSP). Amfetamin merupakan satu jenis narkoba yang dibuat secara sintetis dan
kini terkenal di wilayah Asia Tenggara. Amfetamin dapat berupa bubuk putih, kuning,
maupun coklat, atau bubuk putih kristal kecil. Senyawa ini memiliki nama kimia
methylphenethylamine merupakan suatu senyawa yang telah digunakan secara terapetik
untuk mengatasi obesitas, attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan narkolepsi
Amphetamine menyebabkan efek-efek perilaku karena efeknya pada neurotransmitter
di otak termasuk dopamin ,serotonin , dan norepinefrin. Ketika seseorang menggunakan
upper, zat tersebut akan merangsang sistem saraf pusat penggunanya. Zat bekerja pada
sistem neurotransmiter norepinefrin dan dopamin otak. Menggunakan amfetamin dapat
menyebabkan otak untuk menghasilkan tingkat dopamin yang lebih tinggi. Jumlah dopamin
yang berlebih di dalam otak akan menghasilkan perasaan euforia dan kesenangan yang biasa
dikenal sebagai high.
Begitu seseorang telah kecanduan amfetamin, maka orang tersebut harus kembali
menggunakan amfetamin untuk mencegah sakaw (withdrawal). Karena efek yang
ditimbulkan amfetamin bisa boosting energi pada penggunanya, maka efek withdrawal yang
paling sering muncul adalah kelelahan.
Penggunaan terus menerus dan berlanjut akan menyebabkan Ketergantungan atau
Dependensi, yang bisa juga disebut dengan Kecanduan. Tingkatan penyalahgunaan biasanya
sebagai berikut:
1.

Coba-coba

2.

Senang-senang

3.

Menggunakan pada saat atau keadaan tertentu

4.

Penyalahgunaan

5.

Ketergantungan
Banyak yang masih bisa dilakukan untuk mencegah remaja menyalahgunakan
narkoba dan membantu remaja yang sudah terjerumus Penyalahgunaan Narkoba. Ada tiga
tingkat intervensi, yaitu
15

1.

Primer,

2.

Tertier

3.

Sekunder
DAFTAR PUSTAKA
1. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Indonesia. 2014. Gambaran Umum
Penyalahgunaan Narkoba.Jakarta
2. Kaplan, Sadock. 2010. Sinopsis psikiatri. Ilmu pengetahuan perilaku psikitri klinis edisi
10. Alih bahasa: Widjaja kusuma. Jawa barat: Binarupa aksara
3. Badan Narkotika Provinsi Kalimantan timur. 2008. Pengenalan Jenis-Jenis Narkoba.
4. Elvira, Sylvia D. dan Hadisukanto, Gitayanti. 2007. Buku Ajar PSIKIATRI. Edisi ke III.
Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
5. Departemen Kesehatan R I. 2013. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan
Jiwa di Indonesia (PPDGJ). Edisi ke III. Jakarta.
6. Kusminarno, Ketut. 2002. Penanggulangan penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan
zat adiktif lainnya (NAPZA). Cermin dunia kedokteran no. 135 hal 17-20. Jakarta.
7. Drug Abuse Handbook, editor in chief: Steven B Karch, M.D, San Francisco-California,
1998 http://www.cesar.umd.edu/cesar/drugs/amphetamines.pdf
8. Elvira, Sylvia D. dan Hadisukanto, Gitayanti. 2007. Buku Ajar PSIKIATRI. Edisi ke III.
Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
9. Thomb, David A. 2006. Buku Saku PSIKIATRI. Edisi ke 6. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
10. Amphetamine Use Disorders in : Diagnostic and Statitical Manual of Mental Disorders.
Edisi ke IV. Washington DC : Penerbit American Psychiatric Association

16