Anda di halaman 1dari 13

ParafAsisten

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK


Judul

:Idntifikasi Gugus Fungsi Senyawa Organik

TujuanPercobaan

:1. Mempelajari teknik pengukuran fisik untuk mengidentifikasi suatu


senyawa organik
2. uji kimia untuk mengidentifikasi gugus fungsional senyawa organik

Pendahuluan
Keberagaman sifat suatu zat dapat dipengaruhi oleh jenis ikatan atau jenis gugus
fungsional yang terikat. Perbedaan sifat ini dapat terletak pada sifat kimianya maupun sifat
fisikanya yaitu seperti titik didih, titik beku dan lain sebagainya. Jenis gugus fungsi dan jenis
ikatan (rangkap) dapat dideteksi dengan mereaksikan senyawa dengan pereaksi, seperti yang
akan dilakukan pada percobaan yang dilakukan(Fesenden, 1986).
Suatu senyawa yang hanya mengandung dua unsur yaitu karbon dan hidrogen disebut
sebagai hidrokarbon. Misalnya: metana(CH4), etilena(CH2 = CH2) dan benzena (senyawa
aromatik). Hidrokarbon dengan hanya karbon sp3 (yaitu hanya dengan ikatan-ikatan tunggal )
disebut alkana (atau sikloalkana jika atom karbon itu membentuk cincin). Suatu hidrokarbon
yang memiliki ikatan rangkap dua (sp2) disebut alkena atau juga disebut olefin. Hidrokarbon
yang memiliki ikatan rangkap tiga (sp) disebut alkuna, asetilena (

HC

CH

) adalah alkuna

sederhana. Senyawa hidrokarbon dapat di bedakan atas hidrokarbon jenuh dan hidrokarbon tak
jenuh. Alkana di golongkan sebagai senyawa hidrokarbon jenuh, sedangkan alkena, alkuna dan
senyawa aromatik termasuk senyawa hidrokarbon tak jenuh(Fessenden, 1986).
Ikatan pada alkana merupakan ikatan tunggal, kovalen, dan non polar. Oleh karena itu
alkana relatif tidak reaktif. Alkana tidak bereaksi dengan kebanyakan asam, basa, pengoksidasi
atau pereduksi, karena sifatnya yang tidak bereaksi ini, alkana dapat digunakan sebagai pelarut
untuk ekstraksi atau untuk melakukan reaksi-reaksi kimia zat lain. Namun alkana bereaksi
dengan beberapa pereaksi seperti oksigen dan halogen. Jika alkana dan halogen di simpan pada
suhu rendah dalam kamar gelap, reaksi tidak terjadi. Di bawah sinar atau suhu tinggi terjadi
reaksi eksoterm (Rasyid, Muhaidah, 2014).
Sifat kimia dari senyaa hidrokarbon ini ditentukan oleh bagaimana gugus fungsi itu
menempel. Senyawa dengan gugus fungsi yang sama akan memberikan sifat kimia yang sama
namun sifat fisika yang berbeda. Berdasarkan hal inilah maka senyawa ini dapat dikelompokkan.

Beberapa gugus fungsi yang diketahui adalah sebagai berikut:


Gugus fungsi
-OH

Nama
Hidroksil

Golongan Senyawa
Alkohol

-OR

Alkoksi

Eter

-C=O

Karbonil

Keton

-CHO

Formil

Aldehid

-COOH

Karboksil

Karboksilat

-NH2

Amino

Amina

Halogen

Halida

-X
(Anonim, 2014).
Adapun

reaksi-reaksi

yang

terjadi

pada

alkohol

adalah

sebagai

berikut

1. Reaksi Substitusi
Reaksi ini terjadi dalam larutan asam sedangakn dalam keadaan netral tidak, karena gugus pergi
haruslah suatu basah yang cukup lemah, jika alkohol pada kondisi netral atau basa adalah basa
kuat, ion yang terbentuk jika diprotonkan adalah ion oksonium (OH 2+) ini merupakan gugus
pergi yang baik dalam asam.
2. Reaksi Eleminasi
Reaksi ini menghasilkan alkena, karena melepaskan air maka reaksi ini disebut reaksi dehidrasi.
Kondisi yang diharapkan dalam reaksi ini adalah asam sehingga hanya menggunakan asam kuat
seperti H2SO4.
3.Reaksi Oksidasi
Reaksi

ini

digunakan

untuk

membedakan

alkohol

primer,

sekunder,

dan

tersier.

Aldehid adalah salah satu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada
sebuah atom atau duah buah atom hydrogen, sedangkan keton adalah senyawa organic yang
mempunyai sebua gugus karbonil terikat pada dua alkil, atau sebuah alkil. Keton juga dapat
dikatakan sebagai senyawa organik yang karbon karbonilnya dihubungakan dengan dua karbon
lainnya (Anonim, 2014).
Prinsip Kerja
Mengidentifikasi gugus fungsi berdasarkan sifat fisik dan kimianya.
Alat
10 buah tabung reaksi, pemanas listrik, pipet tetes, 1 buah gelas ukur 10 ml, 1 buah beaker glass
50 mL.
Bahan
Larutan 5% Br2 dalam n-oktanol atau CH2Cl2, toluena, etanol, aseton, heksena,

sikloheksena, bensaldehida, fenol, toluena, metanol, 1-propanol, 2-butanol, butiraldehida,


asetofenon, klorobensena, bensilklorida, t-butil bromida, larutan 1% Br 2, larutan FeCl3 5%,
larutan 2% KMnO4, larutan 15% NaI dalam aseton, 2% AgNO3 dalam etanol 95%, 5 gram
CrO3 dalam 15 ml air dan 5 ml H2SO4 pekat, 2,4-dinitofenilhidrasin, dietilen glikol atau DMF,
HCl pekat, larutan 5% AgNO3, larutan 5% NaOH, larutan NH3 encer, Fehling A: 34,64 g
CuSO4.5H2O dalam 500 mL larutan, Fehling B: 65 g NaOH dan 173 g KNa tartarat dalam 500
mL larutan.
Prosedur Kerja
1. Uji kimia ketidak jenuhan
a. Reaksi dengan brom
Reagen: 5% Br2 dalam oktanol atau CH2Cl2 atau 1% dalam air.
Empat tetes heksena atau sample lainnya yang disediakan, misalnya toluena, aseton,
etanol, bensaldehida dimasukkan ke dalam tabung reaksi bersih dan kering, 2 ml noktanol ditambahkan, campuran perlahan-lahan dikocok dan larutan brom tetes demi
tetes ditambahkan sampai tidak terjadi perubahan warna dan jumlah tetesnya untuk
setiap sampel dicatat.
b. Oksidasi dengan KmnO4
Reagen: larutan 2% KMnO4
Empat tetes heksena atau sample lainnya yang disediakan, misalnya toluena, aseton,
etanol, bensaldehida ditambahkan larutan KMnO4 tetes demi tetes sampai terjadi
endapan hitam (atau larutan menjadi keruh) dan jumlah tetesnya dicatat.
2. Uji adanya halogen
a. Reagen : 2% AgNO3 dalam etanol 95%
Tiga tetes klorobensena atau sample lainnya yang disediakan, misalnya n-butil
klorida, kloroform, bensil klorida, bensoil klorida, t-butil bromida dimasukkan di
dalam tabung reaksi kering dan bersih dan 2 mL reagen AgNO3 ditambahkan.
Didiamkan beberapa menit , bila belum terjadi endapan dimasukkan tabung reaksi ke
dalam penangas air (50-60oC). dicatat waktu yang diperlukan untuk terjadinya
endapan untuk setiap sampel.
b. Reagen: larutan 15% NaI dalam aseton kering
(harus dibuat dan digunakan pada hari yang sama, disimpan dalam botol coklat, bila
berwarna coklat harap dibuang)
Tiga tetes klorobensena atau sample lainnya yang disediakan, misalnya n-butil
klorida, kloroform, bensil klorida, bensoil klorida, t-butil bromida ditambahkan ke
dalam 2 mL reagen NaI di dalam tabung reaksi kering dan bersih, campuran dikocok
dalam tabung reaksi dan dibiarkan sekitar 3 menit. Bila tidak terjadi perubahan,
tabung reaksi dimasukkan dalam penangas air pada suhu 50oC dan waktu yang
diperlukan untuk terbentuknya endapan dicatat.

3. Uji adanya OH alkohol


4 tetes sampel yang disediakan, yaitu metanol, etanol, 2-butanol, metil klorida
dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang bersih dan kering, ditambahkan 1 tetes aseton,
dan 1 tetes larutan asam kromat yang dibuat dengan melarutkan 5 gram CrO3 dalam 15
ml air dan 5 ml H2SO4 pekat. campuran dikocok dan diamati perubahan yang terjadi. Test
positif jika terjadi perubahan warna dari kuning ke biru kehijauan atau terbentuk
endapan.
4. Uji aldehida dan keton
a. Reagen: 2,4-dinitofenilhidrazin, dietilen glikol atau DMF, HCl pekat.
Kedalam tabung reaksi 2 tetes sample dimasukkan (aseton, bensaldehida,
butiraldehida, asetofenon, atau yang lain), 2 ml etanol 95 %, dan 1 ml larutan
fenilhidrazin. pengojokan kuat-kuat dilakukan. Jika tidak terbentuk endapan ,
campuran dipanaskan dengan pembakar spiritus. Test positif jika terbentuk endapan
kunig-merah, perubahan warna terhadap sample aldehida dan keton dicatat.
b. Tes Fehling
Reagen: Fehling A: 34,64 g CuSO4.5H2O dalam 500 mL larutan, Fehling B: 65 g
NaOH dan 173 g KNa tartarat dalam 500 mL larutan 5
Kedalam tabung reaksi 1 mL sample dimasukkan (aseton, bensaldehida, asetofenon,
atau yang lain), 1 mL reagen Fehling A dan 1 mL reagen Fehling B. tabung reaksi
dipanaskan di dalam penangas air mendidih selama sekitar 5 menit, diamati dan
dicatat perubahan yang terjadi pada sample aldehida dan keton.
c. Tes Tollen
Reagen: larutan 5% AgNO3, larutan 5% NaOH, larutan NH3 encer (pengenceran 10
kali ammonia pekat).
Ke dalam tabung reaksi yang bersih, 1 mL sample dimasukkan, misalnya aseton,
bensaldehida, asetofenon, atau yang lain, 1 mL larutan 5% AgNO3 dan 1 mL larutan
5% NaOH dan 5 tetes ammonia. tabung reaksi dipanaskan di dalam penangas air
mendidih selama sekitar 5 menit, perubahan yang terjadi pada sample aldehida dan
keton diamati dan dicatat.
5. Uji Fenol
Ke dalam tabung reaksi yang bersih dan kering 2 tetes sampel dimasukkan, misalnya
2-butanol, fenol, 1-propanol, 1 ml etanol 95 %, dan 1 tetes larutan FeCl3 5 % .
penggojokan kuat-kuat dilakukan, perubahan berwarna yang terjadi pada setiap
sampel diamati dan dicatat. Perubahan warna dari oranye ke kehijauan akan pudar
terhadap perubahan waktu.
Data dan Perhitungan
Data Percobaan:
1. Uji kimia ketidakjenuhan

a. Reaksi dengan Brom


Sampel
Toluena
Aseton
Etanol
bensaldehida

Jumlah tetesan sampel


4
4
4
4

Keterangan
Tidak larut
Larut
Larut
Larut

b. Oksidasi dengan KmnO4


Sampel
Toluena
Aseton
Etanol
Bensaldehid

Jumlah tetesan KmnO4


4
3
4
4

Keterangan
Tidak larut
Keruh, berwarna ungu pudar
Terbentuk endapan coklat kehitaman
Terdapat endapan coklat

a
2. Uji adanya halogen
a. Reagen : 2% AgNO3 dalam etanol 95%
Sampel
klorobenzena
kloroform

Sebelum dipanaskan
Warna Keterangan
5 menit Terdapat gelembung
5 menit terbentuk 2 fasa

Sesudah dipanaskan
Waktu
Keterangan
7 menit
Terbentuk endapan
7,48 menit
Berwarna abu-abu

b. Reagen: larutan 15% NaI dalam aseton kering


Sampel
klorobenzena
kloroform

Sebelum dipanaskan
Warna Keterangan
3 menit Terdapat gelembung
3 menit terbentuk 2 fasa

Sesudah dipanaskan
Waktu
Keterangan
8 menit
keruh
8 menit
larut

3. Uji adanya OH alkohol


Sampel
+ Asam Kromat
Metanol
Berwarna kuning keabuan
Etanol
endapan putih, larutan hijau tua
2-butanol
Endapan hijau, larutan hijau muda
Reaksi terjadi secara eksoterm
4. Uji aldehida dan keton
a. Reagen: 2,4-dinitofenilhidrazin, dietilen glikol atau DMF, HCl pekat.
Sampel
Aseton
Bensaldehida
asetofenon

Warna awal
Kuning
Kuning
Kuning

Warna setelah dipanaskan


Kuning
Kuning
Kuning

b. Tes Fehling
Sampel
Aseton

+ fehling A
Endapan biru

+ fehling B
Dipanaskan
2 fasa, biru pekat(bwh), Larut, berwarna

bensildehida
asetofenon

2 fasa

biru muda(ats)
biru tua
2 fasa, biru tua(bwh), tidak 2 fasa, biru(bwh),

2 fasa

berwarna(ats)
2 fasa, biru

biru muda(ats)
tua(bwh), 2
fasa
biru

kuning(ats)

dongker(bwh),
kuning(ats)

c. Tollen
Sampel
Aseton

+AgNO3
keruh

Bensaldehid

fasa,

gelembung

+ NaOH 5%
Endapan

+Amonia
Endapan

hitam
hitam
ada 2 fasa, ada 2
gelembung,

Dipanaskan
Keruh,

endapan hitam
fasa, Endapan abu-

endapan putih abu

endapan putih
asetofenon

fasa,

tulang
ada Endapan

gelembung,
arna

Larut

Keruh,

coklat hitam

endapan hitam

kuning

pudar.
5. Uji fenol
Sampel
2-butanol
Fenol
1-propanol

+ Etanol
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Tidak berwarna

+ FeCl3
Kuning (kurang pekat)
Kuning (sedang)
Kuning (paling pekat)

Berikut beberapa gambar hasil


(a)

percobaan:
(b)

(c)
Uji aldehid dan keton dengan Reagen: 2,4-dinitofenilhidrazin, dietilen glikol atau DMF, HCl
pekat.(a)setelah proses pemanasan.(b)proses pemanasa.

(c)Uji aldehida(tes fehling) setelah proses pemanasan


Pembahasan Hasil
1. Senyawa jenuh dan tidak jenuh
a. Reaksi dengan Brom
Sampel yang diuji atau direaksikan dengan brom yaitu bensaldehida, etanol, aseton,
toluena. Fungsi dari brom adalah untuk mengetahui ketidakjenuhan suatu senyawa. Prinsip
kerjanya yaitu brom akan menyebabkan terputusnya ikatan pi yang hanya dimiliki oleh senyawa
jenuh. Berdasarkan literatur reagen (brom) yang digunakan berwarna coklat dan setelah
direaksikan dengan senyawa jenuh (tidak berwarna) akan menghasil laruatan tidak berwarna.
Percobaan yang dilakukan menggunakan brom dan sampel tidak berwarna yang
menghasilkan campuran tidak berwarna. Etanol, aseton, toluena menghasilkan larutan,
sedangkan pada bensaldehida terdapat 2 fasa. Reaksi positif tidak dapat diamati karena tidak
mengalami perubahan warna.
Berdasarkan literatur yang telah dibaca, bensaldehida termasuk senyawa aromatik yang
tidak dapat diadisi oleh Br2 karena ikatannya telah stabil. Begitu juga dengan toluena yang
merupakan senyawa aromatik. Aseton juga merupakan senyawa tak jenuh seharusnya aseton
tidak bereaksi dengan Br2 karena aseton memiliki nukleopile yang kuat sehingga tidak bisa
diadisi oleh Br2. Etanol tidak dapat bereaksi dengan Br2 karena etanol merupakan senyawa tidak
jenuh sehingga tidak ada ikatan yang dapat diadisi oleh Br2.
b. Reaksi hidrokarbon dengan KMnO4
Pengujian senyawa jenuh dan tidak jenuh dilakukan dengan mereaksikan sampel yaitu:
toluena, aseton, etanol, bensaldehida dengan KMnO4. Larutan KMnO4 akan bereaksi
menghasilkan endapan coklat pada senyawa tak jenuh. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi
oksidasi. Toluena dan aseton tidak bereaksi dengan KMnO4, hal ini terlihat dari hasil reaksi yang
menunjukkan keduanya tidak saling melarutkan. Hal ini sesuai dengan teori bahwa toluena yang
tergolong dalam senyawa aromatik dan aseton merupakan senyawa jenuh sehingga tidak
bereaksi dengan KmnO4.
Endapan yang dihasilkan pada bensaldehida berwarna coklat, meskipun bensaldehida

merupakan senyawa aromatik, namun dalam reaksinya dengan KmnO4 cicin baromatik tidak
mengalami reaksi, sehingga reaksi tetap terjadi. Adapun reaksi yang terjadi:
CHO

COOH

KMnO 4

benzoic acid

benzaldehyde

Beberapa hasil percobaan tidak sesuai dengan literatur, yaitu etanol. Keduanya
merupakan senyawa jenuh, seharusnya tidak mengalami reaksi. Tetapi dihasilkan endapan coklat.
Hasil pratikum yang tidak sesuai ini kemungkinan terjadi karena adanya kontaminasi sampel
atau alat percobaan yang digunakan.
2. Uji halogen
a. Reagen : 2% AgNO3 dalam etanol 95%
Uji halogen dilakukan dengan mereaksikan sampel yaitu klorobenzena dan kloroform
dengan AgNO3 dalam tabung reaksi, setelah dilakukan pengamatan selama 5 menit kedua sampel
tidak menghasilkan endapan. Klorobenzena menghasilkan gelembung, sedangkan pada
kloroform terdapat 2 fasa. Kedua tabung dipanaskan di atas penangas listrik selama 7 menit.
Fungsi dari pemanasan ini adalah untuk mempercepat reaksi. Hasil yang diperoleh setelah
dilakukan pemanasan yaitu kedua sampel menghasilkan endapan. Kloroform menghasilkan
endapan abu-abu, hasil ini tidak sesuai dengan literatur, karena berdasarkan literatur seharusnya
kloroform tidak dapat bereaksi dengan AgNO3 karena kloroform termasuk dalam ikatan kovalen
yang tidak bereaksi dengan AgNO3 yang termasuk ikatan ion. Endapan yang hasilkan dari reaksi
klorobenzena dengan AgNO3 merupakan AgCl. Adapun reaksi yang terjadi:
Cl

O
AgNO 3

N
O

chlorobenzene

phenyl nitrate

b. Reagen: larutan 15% NaI dalam aseton kering

AgCl

endapan putih

Reagen yang digunakan dalam uji halogen selanjutnya yaitu NaI. Sampel yang digunakan
yaitu kloroform dan klorobenzena. Pengocokkan dilakukan setelah mereaksikan sampel dan
reagen, tujuannya yaitu agar reaksi terjadi lebih cepat. Perubahan tetap tidak terjadi setelah
pengocokkan sehingga dilakukukan pemanasan untuk menghasilkan reaksi yang lebih baik.
Hasil percobaan menunjukkan kedua sampel larut dengan reagen. Perubahan warna tidak
teramati oleh praktikan. Berdasarkan literatur, kedua sampel tidak dapat bereaksi dengan reagen
karena I pada NaI tidak dapat mendorong Cl karena Sifat Cl yang lebih elektronegatif. Kesalahan
yang mungkin terjadi karena terjadinya kontaminasi sampel oleh zat lain.
3. Uji adanya OH alkohol
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui gugus OH alkohol pada sampel. Sampel yang
digunakan yaitu: metanol, etanol, dan 2-butanol yang direaksikan dengan asam kromat. Asam
kromat dapat menyebabkan alkohol primer teroksidasi menjadi asam karboksilat. Bilangan
oksidasi Cr +6 (berwarna merah kecoklatan) akan tereduksi menjadi Cr +3 (berwarna hijau).
Adapun alkohol sekunder akan teroksidasi menjadi keton oleh asam kromat dan alkohol tersier
tidak dapat teroksidasi oleh asam kromat. Metanol, etanol merupakan alkohol primer sedangkan
2-butanol merupakan alkohol sekunder. Hasil percobaan yang dilakukan menunjukkan
kesesuaian dengan literatur, menghasilkan warna hijau. Adapun reaksi yang terjadi:
H3C

OH

H2CrO 4

O
H2SO4

OH
formic acid

methanol

H3C

OH
ethanol

H2CrO 4

H2SO4

OH

2Cr 2(SO 4)3

2Cr 2(SO 4)3

2Cr 2(SO 4)3

H3C

13H 2O

13H 2O

acetic acid
OH
H3C

CH3

butan-2-ol

H2CrO 4

O
H2SO 4
H3C

OH

13H 2O

1-hydroxypropan-2-one

4. Uji aldehida dan keton


a. Reagen: 2,4-dinitofenilhidrazin, dietilen glikol atau DMF, HCl pekat.
Sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah aseton, bensaldehid, asetofenon dan
direkasikan dengan etanol dengan fenil hidrazin. Semua sampel berwarna kuning tanpa endapan

setelah ditambahkan reagen dan dikocok. Berdasarkan modul praktikum, jika setelah
pengocokkan sampel tidak menghasilkan endapan, maka sampel harus dipanaskan. Berdasarkan
hasil praktikum setelah pemanasan tetap tidak mengalami perubahan warna dan tidak muncul
endapan. Kemungkianan terjadi kesalahan saat mereaksikan sampel dengan reagen. Adapun
reaksi yang terjadi:
NO 2

NO 2

H3C

O 2N

NH

O 2N

CH3

NH2

propan-2-one

(2,4-dinitrophenyl)hydrazine

NH

CH3

H2O

CH3
1-(2,4-dinitrophenyl)-2-(propan-2-ylidene)hydrazine

NO 2

NO 2

CHO

O 2N

NH

O 2N

NH

NH2

H2O

(2,4-dinitrophenyl)hydrazine

benzaldehyde

(1E)-1-benzylidene-2-(2,4-dinitrophenyl)hydrazine
NO 2

NO 2

O
CH3

1-phenylethanone

O 2N

NH
NH2

O 2N

NH

H2O

N
CH3

(2,4-dinitrophenyl)hydrazine (2Z)-1-(2,4-dinitrophenyl)-2-(1-phenylethylidene)hydrazine

b. Tes Fehling
Sampel (aseton, bensaldehida, asetofenon) yang telah dimasukkan ke dalam tabung reaksi
kemudian ditambahkan reagen fehling A dan fehling B masing-masing 1 mL (campur fehling A
dan fehling B dengan volume yang sama maka dihasilkan larutan biru tua). Lalu dipanaskan di
atas penangas air selama 5 menit, Pemanasan dilakukan karena pereaksi fehling kurang stabil
pada larutan dingin (temperatur rendah) sehingga dibutuhkan pemanasan agar fehling stabil,
tidak terjadi perubahan warna. Tidak terjadi perubahan yang signifikan pada ketiga sampel
setelah proses pemanasan. Hasil praktikum untuk aseton dan asetofenon sesuai dengan literatur
karena aseton dan asetofenon yang merupakan keton dan memiliki karbon karbonil. Gugus

karbonil pada keton tidak mengikat atom H untuk dioksidasi sehingga tidak dapat bereaksi
dengan fehling.
Bensaldehida juga tidak mengalami perubahan warna setelah proses pemanasan, hal ini
tidak sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa bensaldehida yang merupakan aldehid
akan mereduksi tembaga, biasanya larutan yang berwarna biru berubah menjadi hijau dan lambat
laun terjadi endapan tembaga (I) oksida (Cu2O) yang berwarna merah bata. Karena formaldehid
bersifat basa, maka akan teroksidasi menjadi garam dari karboksilat. Penyebab dari
ketidaksesuaian mungkin terjadi karena kesalahan praktikan saat melakukan reaksi. Adapun
reaksi yang terjadi adalah:
O
CHO

+
benzaldehyde

5OH

2Cu

2+

Cu 2O

3H 2O

benzoic acid

c. Tes Tollen
Pereaksi Tollens digunakan untuk membuktikan adanya gugus aldehid bersifat reduktor.
Reaksi tersebut menunjukan hasil positif jika terbentuk endapan cermin perak. Kandungan
Tollens A terdiri dari AgNO3 dan Tollens B terdiri dari NH3 berelebih, sehingga jika dicampurkan
endapan menjadi larut.
Sampel (aseton, bensaldehida, asetofenon) sebanyak 1 ml ditambahkan dengan reagen
kemudian dipanaskan selama 5 menit. Pemanasan berfungsi untuk mempercepat reaksi dan
untuk mengoksidasi aldehid sehingga terbentuk gugus karboksil (COO- ). Perubahan yang
terjadi pada aseton, bensaldehida dan asetofenon setelah dilakukan pemanasan yaitu terbentuk
endapan hitam.
Berdasarkan literatur akan terbentuk cermin perak pada bensaldehida yang merupakan
Ag. Aldehid akan dioksidasi menjadi asam dan reagen tollens akan direduksi oleh aldehid
menjadi perak sedangkan aseton dan asetofenon tidak terbentuk cermin perak karena gigis keton
tidak dioksidasi oleh reagen tollens. Ada tidaknya cermin perak pada praktikum tidak diketahui
karena praktikan kurang teliti saat mengamati. Adapun reaksi yang terjadi:

O
CHO

2[Ag(NO 3)2]

OH

+
NH3

2Ag

[(phenylcarbonyl)oxy]ammonium

benzaldehyde

5. Fenol
Percobaan ini digunakan untuk membedakan alkohol dengan fenol. Adapun larutan yang
diuji adalah 2-butanol, fenol, dan 1-propanol. Semua sampel tidak mengalami perubahan warna
setelah penambahan etanol, dan berwarna kuning setelah ditambahkan FeCl3.
Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa fenol dan senyawa yang mengandung gugus
hidroksi terikat pada suatu karbon tidak jenuh memberikan warna hijau bergantung pada struktur
fenol dengan besi (III) klorida. Ini disebabkan oleh terbentuknya senyawa kompleks dengan besi
(III). 1-propanol dan 2-butanol seharusnya tidak mengalami perubahan warna karena 1-propanol
dan 2-butanol tidak bereaksi dengan FeCl3. Hal ini dikarenakan pada 1-propanol dan 2-butanol
tidak terdapat aliran benzena sehingga tidak memungkinkan terjadinya resonansi. Adapun
reaksinya:
OH

3-

FeCl 3

Fe

phenol

3H

Cl

3H

Kesimpulan
Adapun kesimpulan berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan antara lain:
1.
2.
3.

Identifikasi gugus fungsi dapat dilakukan dengan suatu reagen.


Reaksi yang terjadi dapat berupa reaksi adisi, oksidasi, subtitusi.
Kandungan gugus fungsi dapat diamati dengan mengacu pada reaksi positif.

Referensi
Anonim.2014.Sifat Senyawa Organik.[serial online].http://www.chem-is-try.org.[diakses tanggal
25 Februari 2014].
Anonim.2014.Alkohol.[serialonlne].http://annisanfhusie.wordpress.com/2008/12/07/alkohol.
[diakses tanggal 24 Februari 2014].
Fessenden,Ralp J dan Fessenden John S.1986.Kimia Organik Edisi Ketiga.Jakarta:Penerbit

Erlangga.
Koordinator praktikum kimia organik. 2014. Petunjuk Praktikum Kimia Organik. Jember :
Universitas Jember.
Rasyid, Muhaidah. 2006. Kimia Organik. Makassar. UNM.
Saran
Adapun saran yang dapat saya sampaikan terkait praktikum ini adalah:
1. Jumlah alat seperti gelas ukur kurang untuk tiap kelompok
2. Ukuran pipet tetes yang tersedia untuk tiap kelompok tidak sesuai
Nama Praktikan
LAILATUL HIKMAH (121810301008)