Anda di halaman 1dari 10

BAB 7

MANAJEMEN PERMODALAN BANK


7.1. Modal dan Pasiva (Capital and Liability)
Dana yang diperoleh sebuah bisnis perbankan perlu dialokasikan dengan tepat. Untuk itu
diperlukan suatu kebijakan alokasi aktiva. Alokasi aktiva merupakan pendistribusian dana
investasi yang didasarkan pada fungsi dan kegunaan di antara berbagai kategori aktiva, termasuk
ekuivalen kas, saham, investasi pendapatan tetap, dan aktiva berwujud lainnya. Alokasi aktiva
akan berdampak baik pada risiko maupun laba. Alokasi aktiva merupakan konsep sentral dalam
perencanaan keuangan bagi manajemen investasi bisnis perbankan, kebijakan alokasi aktiva
perlu mengindahkan tingkat likuiditas, tetapi tidak mengabaikan tingkat rentabilitas. Untuk itu
dana yang diperoleh dialokasikan ke dalam cadangan primer, cadangan sekunder, kredit, dan
investasi dalam perbandingan yang tepat sesuai dengan perubahan-perubahan yang ada.
Rekening rekening modal merupakan bagian dari pasiva yang tergolong non current
artinya di luar dari kewajiban yang segera ditagih atau segera dibayar. Dalam neraca sebelah
pasiva sebuah bank, akan terlihat adanya rekening modal dan cadangan. Rekening cadangan
adalah juga berasal dari pembagian keuntungan modal yang tidak dibagikan kepada pemegang
saham, yang digunakan untuk kepentingan tertentu, misalnya untuk perluasan usaha, pemerataan
pembagian dividen, untuk menjaga likuiditas karena adanya kredit-kredit yang diragukan
/menjurus macet, untuk membayar pajak perusahaan, dan sebagainya.
7.2. Fungsi Modal Bank
Fungsi utama dari modal bank adalah untuk melindungi para penyimpan uang (depositors
atau deposan) dari kerugian yang mungkin timbul. Modal bank digunakan untuk menjaga
kepercayaan masyarakat, khususnya masyarakat peminjam (debitors atau borrowers).
Modal bank sekurang-kurangnya memiliki tiga fungsi utama yaitu fungsi operasional,
fungsi perlindungan, fungsi pengamanan dan pengaturan. Keseluruhan fungsi modal bank
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

memberikan perlindungan kepada nasabah

modal bank dapat mencegah terjadinya kejatuhan bank

untuk memenuhi kebutuhan gedung kantor dan inventaris

untuk memenuhi ketentuan permodalan minimum

meningkatkan kepercayaan masyarakat

untuk menutupi kerugian aktiva produktif bank

sebagai indikator kekayaan bank

meningkatkan efisiensi operasional bank

7.3. Kecukupan Modal Bank

Capital adequacy ratio (CAR) atau biasa juga disebut rasio kecukupan modal, adalah
perbandingan antara modal bersih yang dimiliki bank dengan total asetnya. Dalam menghitung
CAR dapat diukur dengan cara :
1. Membandingkan modal dengan dana-dana pihak ketiga
Dilihat dari sudut perlindungan kepentingan para deposan, perbandingan antara modal
dengan pos-pos pasiva merupakan petunjuk tentang tingkat keamanan simpanan masyarakat
pada bank. Perhitungannya merupakan rasio modal dikaitkan dengan simpanan pihak ketiga
( giro, deposito, dan tabungan ) sebagai berikut :
Modal dan Cadangan
-----------------------------------Giro + Deposito + Tabungan

10 %

Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa ratio modal atas simpanan cukup dengan 10% dan
dengan ratio itu permodalan bank dianggap sehat. Ratio antara modal dan simpanan masyarakat
harus dipadukan dengan memperhitungkaan aktiva yang mengandung risiko. Oleh karena itu
modal harus dilengkapi oleh berbagai cadangan sebagai penyangga modal, sehingga secara
umum modal bank terdiri dari modal inti dan modal pelengkap.
2. Membandingkan modal dengan aktiva berisiko
Penentuan berapa besar kebutuhan modal minimum yang dibutuhkan oleh bank didasarkan
pada aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). ATMR adalah faktor pembagi (denominator)
dari CAR, sedangkan modal adalah faktor yang dibagi (numerator) untuk mengukur
kemampuan modal menanggung risiko aktiva tersebut.
Modal Sendiri
CAR

----------------------

x 100%

ATMR

Aktiva tertimbang menurut risiko adalah komponen aktiva yang terdiri atas:

(a). Aktiva neraca yang diberikan bobot sesuai kadar risiko penyaluran dana yang melekat pada
setiap pos aktiva, yaitu: (1). Kas, emas, penempatan pada Bank Indonesia dan commemorative
coins diberi bobot 0% (nol per seratus), (2). Penempatan pada bank lain diberi bobot 20% (dua
puluh per seratus), (3). Persediaan, aktiva ijarah, nilai bersih aktiva tetap dan inventaris, antar
kantor aktiva, dan rupa-rupa aktiva diberi bobot 100% (seratus persen).
(b). Beberapa pos dalam daftar kewajiban komitmen dan kontinjensi (off balance sheet account)
yang diberikan bobot dan sesuai dengan kadar risiko penyaluran dana yang melekat pada setiap
pos setelah terlebih dahulu diperhitungkan dengan bobot faktor konversi yaitu (1). L/C yang
masih berlaku (tidak termasuk standby L/C) diberi bobot 20% (dua puluh per seratus), (2).
Jaminan bank yang diterbitkan bukan dalam rangka pemberian pembiayaan dan atau piutang,
dan fasilitas pembiayaan yang belum digunakan yang disediakan kepada nasabah sampai dengan
akhir tahun untuk tahun takwin yang berjalan diberi bobot 50% (lima puluh per seratus), (3).
Jaminan (termasuk standby L/C) dan risk sharing dalam rangka pemberian pembiayaan, serta
endosemen atau betul surat-surat berharga berdasarkan prinsip syariah diberi bobot 100%
(seratus per seratus).
(NB: Kontinjensi (contingent reserve ) yaitu dana yang disisihkan dari pendapatan
bersih untuk menutup biaya tidak terduga atau tidak diharapkan, seperti kredit
macet yang tidak terduga, pajak, dan biaya bunga yang tak terduga).
Tata-cara Perhitungan Kebutuhan modal minimum
Seperti telah disinggung di atas, perhitungan kebutuhan modal bank didasarkan pada aktiva
tertimbang menurut risiko (ATMR). Yang dimaksud dengan aktiva dalam perhitungan ini
mencakup baik aktiva yang tercantum dalam neraca maupun aktiva yang bersifat administratif
sebagaimana tercermin dalam kewajiban yang masih bersifat kontingen dan atau komitmen yang
disediakan bagi pihak ketiga. Terhadap masing-masing jenis aktiva tersebut ditetapkan bobot
risiko yang besarnya didasarkan pada kadar risiko yang terkandung dalam aktiva itu sendiri atau
yang didasarkan atas penggolongan nasabah, penjamin atau sifat barang jaminan.
Kecukupan modal bank adalah suatu regulasi perbankan yang menetapkan suatu kerangka
kerja mengenai bagaimana bank dan lembaga penyimpanan harus menangani permodalan
mereka. Kategorisasi aktiva dan modal sudah sangat distandardisasi sehingga diberi bobot risiko.
Dalam lingkup internasional, Komite Basel dalam Bank Penyelesaian Internasional mendorong
persyaratan modal di tiap-tiap negara. Pada tahun 1988, Komite Basel memutuskan untuk
memperkenalkan suatu sistem pengukuran modal yang secara umum dikenal sebagai Basel
Capital Accords. Kerangka kerja ini telah digantikan oleh suatu sistem kecukupan modal yang
jauh lebih kompleks yang dikenal sebagai Basel II.
Walaupun Basel II telah mengubah perhitungan bobot risiko secara signifikan, ia tidak
menyentuh segi perputaran modal. Rasio modal adalah persentase modal bank terhadap aktiva

tertimbang menurut risiko (ATMR). Bobot didefinisikan dengan rasio sensitivitas risiko yang
perhitungannya ditentukan oleh aturan yang sesuai.
Capital adequacy ratio merupakan rasio permodalan yang menunjukkan kemampuan bank
dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha serta menampung kemungkinan
risiko kerugian yang diakibatkan dalam operasional bank. Semakin besar rasio tersebut akan
semakin baik posisi modal (Achmad dan Kusuno, 2003). Menurut Peraturan Bank Indonesia
Nomor 10/15/PBI/2008 pasal 2 ayat 1 tercantum bank wajib menyediakan modal minimum
sebesar 8% dari aset tertimbang menurut resiko (ATMR), CAR adalah rasio yang
memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit,
penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari modal sendiri disamping
memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar bank (PBI, 2008).

Capital adequacy adalah kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam
mempertahankan modal yang mencukupi dan kemampuan manajemen bank dalam
mengidentifikasi, mengukur, mengawasi, dan mengontrol risiko-risiko yang timbul yang dapat
berpengaruh terhadap besarnya modal (Almilia, 2005). Perhitungan capital adequacy didasarkan
pada prinsip bahwa setiap penanaman yang mengandung risiko harus disediakan jumlah modal
sebesar persentase tertentu terhadap jumlah penanamannya. Sejalan dengan standar yang
ditetapkan Bank of International Settlements (BIS), seluruh bank yang ada di Indonesia
diwajibkan untuk menyediakan modal minimum sebesar 8% dari ATMR (Kuncoro dan
Suhardjono, 2002).
Ketentuan 8% capital adequacy ratio (CAR) sebagai kewajiban penyediaan modal
minimum bank menurut ketetapan Bank for International Settlement (BIS) ini dibagi ke dalam
dua bagian yaitu :
- 4% modal inti (tier 1) : shareholders equity, preferred stocks, free reserves.
- 4% modal sekunder (tier 2) : subordinate debt, loan loss provisions, hybrid securities,
revaluation reserves.

Cadangan bebas (free reserve) yaitu dana yang dengan sengaja disediakan bank untuk
digunakan dalam penanaman bank, baik dalam bentuk kredit maupun dalam bentuk
penanaman dana lain.

Saham preferen (preferred stock) adalah bagian saham yang memiliki tambahan hak
melebihi saham biasa. Ada beberapa jenis saham preferen, antara lain: (1) Saham preferen
partisipasi; saham preferen yang membagikan dividen kepada pemegangnya; pemilik saham
ini setelah menerima dividen tetap mempunyai hak untuk membagi keuntungan yang
dinyatakan sebagai dividen kepada pemegang saham biasa (participating preference shares),
(2) Saham preferen nonkumulatif; saham preferen yang tidak mempunyai hak untuk
memdapatkan dividen yang belum dibayarkan pada tahun-tahun yang lalu secara kumulatif
(noncummulative preferred stock).

Shareholders equity merupakan kepemilikan perusahaan oleh masyarakat publik.


Pengertian publik disini adalah pihak individu yang berada diluar lingkar manajemen dan
tidak memiliki hubungan istimewa dengannya. Sementara itu perusahaan perseroan (PT)
yang memiliki saham tidak dikategorikan publik. Hal ini dikarenakan ada kemungkinan
pemilik PT tersebut adalah pihak yang memiliki hubungan istimewa. Skala dari variabel ini
adalah prosentase saham yang dimiliki oleh publik.
Subordinate debt (pinjaman subordinasi) adalah yaitu pinjaman yang memenuhi syaratsyarat sebagai berikut: (1) ada perjanjian tertulis antara bank dan pemberi pinjaman; (2) ada
persetujuan terlebih dahulu dan Bank Indonesia; dalam hubungan ini pada saat bank
mengajukan permohonan, bank harus menyampaikan program pembayaran kembali
pinjaman subordinasi tersebut; (3) tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan telah
disetor penuh; (4) minimum berjangka waktu 5 tahun; (5) apabila pelunasan. sebelum
tanggal jatuh tempo harus ada persetujuan dari Bank Indonesia; dengan pelunasan tersebut
permodalan bank tetap sehat; (6) apabila terjadi likuidasi, hak tagihnya berlaku paling akhir
dari segala pinjaman yang ada; pengertian pinjaman subordinasi tersebut termasuk pula
utang, dalam rangka kredit yang dananya berasal dari Bank Dunia, Nordic Investment Bank,
dan Lembaga Keuangan Internasional serupa; perlakuan sebagai pinjaman subordinasi
tersebut mulai sejak diterimanya dana dimaksud oleh bank sampai dengan saat jatuh tempo
menurut perjanjian penerusan pinjaman tersebut; jumlah pinjaman subordinasi yang dapat
dlperhitungkan sebagai modal untuk sisa jangka waktu lima tahun terakhir adalah pinjaman
subordinasi dikurangi amortisasi yang dihitung dengan menggunakan metode garis lurus
(prorata) sebesar 50% dari modal inti; hal itu berdasarkan SEBI No.26/1/BPPP tanggal 29
Mei 1993.
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (provision for loan losses) yaitu (disingkat
PPAP), merupakan cadangan yang dibentuk dengan cara membebani perhitungan laba rugi
tahun berjalan, untuk menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dan tidak
diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif; penyisihan penghapusan aktiva
produktif yang dapat diperhitungkan sebagai komponen modal pelengkap adalah maksimum
persentase tertentu.
Hybrid security adalah bentuk pembiayaan utang atau ekuitas yang memiliki karakteristik
dari kedua utang dan pembiayaan ekuitas. Yang termasuk dalam Hybrid Security merupakan
Financial leases, convertible securities, and stock purchase warrants. Kegunaan

menggunakan derivative security yaitu bukan untuk menambah dana perusahaan tetapi
melainkan sebagai alat untuk mengatur ataupun mendeteksi adanya resiko perusahaan.
Stock purchase warrant adalah suatu instrument yang memberikan opsi kepada
pemegannya untuk membeli sejumlah tertentu saham biasa pada harga tertentu selama
jangka waktu tertentu.
Convertible securities adalah sekuritas (preferred stock dan bond) yang memberikan hak
kepada pemegangnya untuk menukarkan sekuritasnya dengan sejumlah saham biasa.
Financial (capital) lease adalah lease dengan jangka waktu yang lebih lama
dibandingkan dengan operating lease dan tidak dapat dibatalkan (noncancelable) yang
mewajibkan kepada lessee untuk membayar atas penggunaan asset dalam jangka waktu
yang telah ditentukan. Total pembayaran terhadap kontrak lease lebih besar dibandingkan
dengan investasi awal yang dikeluarkan oleh lessor untuk asset tersebut. Financial lease
biasanya dalam bentuk gedung, tanah atau peralatan. Karakteristik noncancelable ini
mirip dengan jenis hutang jangka panjang. Pembayaran lease bersifat tetap dan
merupakan pengeluaran sebagai pengurang pajak yang dibayarkan setiap tanggal tertentu.
Seperti hutang jangka panjang, kelalaian membayar kontrak lease dapat menyebabkan
kebangkrutan bagi lessee.
Cadangan revaluasi (revaluation reserve) adalah jumlah yang timbul dari revaluasi nilai
properti yang merupakan selisih antara nilai buku lama properti pada neraca dan nilai buku
barunya (revaluasi) .

7.4.1. Capital Adequacy Ratio untuk Perbankan Indonesia


Guna memenuhi ketentuan CAR yang ditetapkan oleh BIS, maka Bank Indonesia sebagai
pemegang otoritas moneter di Indonesia telah mengeluarkan ketentuan mengenai kewajiban
penyediaan modal minimum bank (Capital Adequacy Ratio) dengan Surat Keputusan Direksi
Bank Indonesia No.23/67/Kep/Dir tanggal 28 Februari 1991. Ketentuan ketentuan tersebut
antara lain :
a.

Ketentuan umum :
(1) Modal adalah sangat penting untuk perkembangan dan kemajuan bank,
(2) Modal bank utk menjaga kemungkinan timbulnya risiko (misalnya penarikan dana
besar-besaran (rush) oleh masyarakat bisa saja terjadi setiap saat,
(3) Semua bank (pemerintah, swasta) wajib menyediakan modal minimum

b.
c.

Kewajiban penyediaan modal minimum 8% dari ATMR

Pengertian modal terdiri dari


Modal Inti (tier 1):
(1) Authorized capital,
(2) Stock agio,
(3) General reserve,
(4) Objective reserve,

(5) Retained earnings,


(6) Last year profit,
(7) Current profit,
(8) Minority interest

Modal Pelengkap (tier 2):


(1) Revaluation reserve,
(2) Classified asset depreciation reserve,
(3) Quasy capital/hybrid capital instrument,
(4) Subordinate debt
Penjelasan dari istilah-istilah di atas:

(1) Authorized capital atau modal dasar, merupakan jumlah maximum saham yang dapat diterbitkan
oleh emiten sesuai dengan anggaran dasar perseroan. Untuk merubah modal dasar, maka emiten
harus merubah anggaran dasar melalui Rapat Umum Pemegang Saham dan disahkan oleh
Menteri Kehakiman.
(2) Stock agio atau agio saham yaitu kekayaan bersih perusahaan yang berasal dari penilaian atau
penjualan saham di atas harga / nilai pari.
(3) General reserve (cadangan umum) yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba ditahan
atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak, mendapat persetujuan rapat umum pemegang
saham (baca : rapat umum tahunan) atau rapat anggota sesuai dengan ketentuan pendirian atau
anggaran dasar setiap bank.
(4) Objective reserves: cadangan yang hanya digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu
(5) Retained earnings: laba yang ditahan
(6) Last year profit: Laba tahun lalu, yaitu laba bersih tahun-tahun lalu setelah dikurangi pajak, dan
belum ditetapkan penggunaannya oleh Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota.
Jumlah laba tahun lalu yang diperhitungkan sebagai modal inti hanya sebesar 50 %. Dalam hal
bank mempunyai saldo rugi tahun-tahun lalu, maka seluruh kerugian tersebut menjadi faktor
pengurang dari modal inti.
(7) Current profit: Laba tahun berjalan, yaitu laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah
dikurangi taksiran utang pajak. Jumlah laba tahun buku berjalan yang diperhitungkan sebagai
modala inti hanya sebesar 50%. Dalam hal pada tahun berjalan bank mengalami kerugian, maka
seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.
(8)
(9) Dalam akuntansi, minority interest adalah bagian saham anak perusahaan yang tidak dimiliki
oleh perusahaan induk. Besar saham dalam anak perusahaan tersebut umumnya kurang dari 50%
dari saham total yang beredar. Atau bagian kekayaaan bersih anak perusahaan yang laporan
keuangannya dikonsolidasikan, yaitu modal inti anak perusahaan setelah dikompensasikan
dengan nilai penyertaan bank pada anak perusahaan tersebut. Yang dimaksud dengan anak
perusahaan adalah bank lain, lembaga keuangan atau lembaga pembiayaan yang mayoritas
sahamnya dimiliki oleh bank.
(10)
Revaluation reserve, yaitu salah satu cara akuntansi untuk meningkatkan nilai aset
perusahaan. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan situasi di mana saldo kas perusahaan

secara keseluruhan telah meningkat, namun peningkatan ini tidak secara teknis menambah
keuntungan. Dalam kebanyakan kasus, uang ekstra yang diperoleh melalui revaluasi tidak
layak untuk dibagikan kepada pemegang saham. Cadangan revaluasi adalah kategori dalam
rekening perusahaan. Hal ini biasanya digunakan untuk aktiva tetap seperti tanah.
(11)
Classified asset depreciation reserve yaitu cadangan penyusutan aktiva atau penghapusan
aktiva yang diklasifikasikan adalah cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi
tahun berjalan. Hal ini dimaksudkan untuk menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai
akibat tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif.
(11) Modal kuasi adalah modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang sifatnya seperti
modal. Modal kuasi yang menurut BIS disebut hybrid (debt/equity) capital instrument, yaitu
modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal atau utang
dan mempunyai ciri-ciri :
a. Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan, dipersamakan dengan modal (subordinated) dan
telah dibayar penuh.
b. Tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik, tanpa persetujuan Bank Indonesia.
c. Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah kerugian bank melebihi
retained earnings dan cadangan-cadangan yang termasuk modal inti, meskipun bank belum
dilikuidasi pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila bank dalam keadaan rugi atau laba
tidak mendukung untuk membayar bunga tersebut.
Dalam pengertian modal kuasi ini termasuk cadangan modal yang berasal dari penyetoran
modal yang efektf oleh pemilik bank yang belum didukung oleh modal dasar (yang sudah
mendapat pengesahan dari instansi yang berwenang) yang mencukupi.
(12)
Subordinate debt: lihat penjelasan di atas

d.

Tata cara perhitungan kebutuhan modal minimum:


(1) Didasarkan pada ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Risiko)
(2) Bobot risiko aktiva neraca
(3) Bobot risiko aktiva administratif

e.

Perhitungan kebutuhan modal


Kebutuhan modal minimum bank (KMMB) dihitung berdasarkan ATMR Aktiva Neraca dan
ATMR Aktiva Administratif dimana ATMR Aktiva Neraca diperoleh dengan cara
mengalikan nominal aktiva tersebut dengan bobot risiko.
Misalnya: KPR senilai Rp 1 milyar dengan bobot risiko 50% maka ATMR-nya adalah Rp
500 juta.
Sedang ATMR Aktiva Administratif diperoleh dengan cara mengalihkan nominal aktiva
tersebut bobot risiko.
Misalnya: kredit yang belum dipakai yang dijamin oleh BUMN senilai Rp 1 milyar dengan
bobot risiko 100% maka ATMR-nya adalah Rp 1 milyar. Setelah angka ATMR diperoleh
maka KMMB atau CAR bank adalah 8% dari ATMR. Jadi jika ATMR-nya Rp 1 milyar
maka CAR-nya adalah Rp 80 juta.

f.

Tahap pemenuhan CAR:

(1) Tahun 1992 = 5% dari ATMR,


(2) Tahun 1993 (Maret) = 7% dari ATMR,
(3) Tahun 1993 (Desember) = 8%,
(4) Tahun 2011 - Sekarang (wacana/target) = 16 - 18% dari ATMR
g.

Perhitungan CAR
Untuk memudahkan perhitungan CAR atau KMMB, maka BI telah memberikan contoh
formulir perhitungan KMMB tersebut, yang pada pokoknya dibagi ke dalam beberapa
bagian yaitu:
(I)
ATMR yang terdiri dari (a) ATMR Aktiva Neraca dalam Rupiah dan Valas, (b) ATMR
Aktiva Administratif dalam Rupiah dan Valas,
(II)
Modal yaitu modal inti dan modal pelengkap,
(III) Modal Minimum (8% x ATMR),
(IV) Excess Capital (kelebihan modal) atau lack of capital (kekurangan modal) yaitu
jumlah modal dikurangi dengan modal minimum,
(V)
Rasio modal, yang diperoleh dari:
Jumlah Modal
-------------------- x 100%
ATMR

h.

Kondisi perbankan di Indonesia dalam menghadapi ketentuan CAR


Dalam beberapa tahun terakhir (era Pemerintahan SBY Boediono) CAR rata-rata
perbankan di Indonesia sangat bagus yaitu berkisar 19% hingga 21% dari ATMR. Lihat
tabel di bawah ini.
RASIO KECUKUPAN MODAL PERBANKAN (CAR)
DI INDONESIA
Bulan Tahun
CAR
Oktober 2007
19,82 %
September 2007
19,96 %
Agustus 2007
20,29 %
Juli 2007
20,51 %
Juni 2007
20,70 %
Mei 2007
21,39 %
April 2007
21,20 %
Maret 2007
20,70 %
Februari 2007
20,94 %
Januari 2007
20,72 %
Desember 2006
20,47 %
Nopember 2006
20,60 %
Source: www.bi.co.id