Anda di halaman 1dari 24

DISUSUN OLEH :

Nama Kelompok : Kelompok 2


Dianira G. Maengkom
Fernanda Roel
Sarlota
Kelas
Prodi

: C
: Pendidikan Kimia

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang


karena kasih karunia Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
berjudul

Relativitas.

Adapun

penulisan

makalah

ini

untuk

menyelesaikan salah satu tugas fisika dasr 2.Kami ingin mengucapkan


terima

kasih

kepada

semua

pihak

khususnya

dosen

pembimbing

Prof.Dr.R.L.Palilingan,M.Si , asisten dosen F.Tumimomor,M.Si serta

orang

tua.
Dengan

kerendahan

hati

penulis

mohon

perkenaan

para

pembaca untuk memberikan saran dan kritik. Harapan kami makalah


ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Terima kasih.

Tondano,

Mei 2014

Kelompok 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................................2
.......................................................................................................................................... DAFTAR ISI
................................................................................................................................................................ 3
..................................................................................................................... BAB 1 PENDAHULUAN
................................................................................................................................................................ 4
..........................................................................

a.Latar Belakang

................................................................................................................................................................ 4
.......................................................................................................................

b.Tujuan Masalah

................................................................................................................................................................ 4
...................................................................................................................

c.Rumusan Masalah

................................................................................................................................................................ 4
BAB 2 PEMBAHASAN......................................................................................................................6
...................................................................................................................

a.Teori Relativitas

................................................................................................................................................................ 6
...................................................................................................................... b.Teori Relativitas Khusus
................................................................................................................................................................ 9
...................................................................................................................... c.Teori Relativitas Umum
..............................................................................................................................................................18
................................................................................................................................................................
BAB 3 PENUTUP ............................................................................................................................20
..................................................................................................................................................................
a.Kesimpulan........................................................................................................................................20
..........................................................................................................................................

b.Saran

..............................................................................................................................................................20
............................................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA
..............................................................................................................................................................21

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah spesies yang diciptakan oleh Tuhan dengan keingintahuan

yang

menemukan

sangat

besar,

pengetahuan

yang

yang

kemudian

kemudian

mendorongnya

dikenal

dengan

untuk
istilah

berfilsafat. Namun seiring perkembangan ilmu pengetahuan, filosofi


dianggap sudah tidak mengimbangi kemajuan terkini dalam sains, terutama
fisika. Para ilmuwan telah menjadi pemegang obor penemuan dalam
perjalanan pencarian pengetahuan.
Fisika

abad

ke-20

berbeda

dangan

fisika

klasik.

Terdapat

dua

perkembangan yang paling menyolok. Pertama, relativitas (kenisbian) oleh


Albert Einstein pada 1905 dan teori kuantum oleh Max Planck pada 1900.
Dua perkembangan ini adalah contoh revolusi ilmiah yang telah mengubah
cara pandang manusia mengenai alam semesta secara mendasar.
Teori klasik Newton mengenai ruang dan waktu yang sebelumnya telah
dipelajari, menyisakan keganjalan-keganjalan yang menggelitik rasa keingintahuan para ilmuwan untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan.
Memasuki abad ke-19, Sebuah peristiwa yang cukup termahsyur yakni
peristiwa dua orang kembar yang terpisah. Seseorang yang ada di bumi
setelah berpuluh tahun lamanya mendapati saudara kembaranya yang telah
melakukan perjalanan dari luar angkasa memiliki perberdaan umur dengan
dirinya. Saudara kembarnya berumur lebih muda dari pada dirinya. Apa yang
terjadi? Pertanyaan seperti ini tidak dapat di jawab dengan menggunakan
teori ruang dan waktu oleh Newton yang menyatakan bahwa waktu adalah
mutlak dimanapun tempatnya.
Oleh karena itu diperlukan suatu gagasan baru mengenai konsep ruang
dan waktu serta pandangan baru mengenai konsep alam semesta. Untuk
lebih memahami mengenai gagasan-gagasan dan pandangan terbaru

mengenai alam semesta tersebut maka kita mempelajari teori terbaru di


abad 19 yakni teori relativitas Einstein meliputi teori relativitas khusus dan
teori relativitas umum. Kedua teori inilah yang memberikan pemahaman
yang baru mengenai konsep ruang-waktu 4 dimensi serta bentuk alam
semesta yang berhingga tapi tak terbatas.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.

Apakah latar belakang lahirnya teori relativitas Einstein?

2.

Bagaimanakah prinsip teori relativitas khusus ?

3.

Bagaimanakah prinsip teori relativitas umum ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain:
1.

Untuk mengetahui latarbelakang lahirnya teori relativitas Einstein.

2.

Untuk memahami konsep teori relativitas khusus yang sebenarnya.

3.

Untuk memahami konsep teori relativitas umum yang sebenarnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Relativitas
1. Latar Belakang Sejarah

Transformasi Galilean

Pada tahun sekitar 1900 mekanika Newton merupakan teori yang cukup
sukses dalam menjelaskan permasalahan dinamika partikel/benda saat
itu.Dalam mekanika Newton ada suatu kerangka khusus yang disebut
kerangka inersial dimana Hukum Newton mempunyai bentuk yang sama
dalam kerangka tersebut.
Kerangka inersial ini adalah kerangka yang memenuhi Hukum I Newton
yaitu sebuah kerangka diam atau bergerak dengan kecepatan konstan relatif
terhadap yang lain.Hubungan antara kerangka inersial satu dengan yang
lainnya adalah melalui apa yang disebut transformasi Galilean.

Tinjau dua kerangka O yang diam dan O yang bergerak dengan


kecepatan V konstan relatif terhadap O sepanjang sumbu x. Transformasi
Galilean yang menghubungkan antara O dan O adalah :

Dari transformasi diatas dapat disimpulkan bahwa waktu yaitu t


bersifat absolut dalam mekanika Newton.

Teori Elektromagnetik Maxwell


Pada intinya teori relativitas adalah teori tentang medan yang
melanjutkan perkembangan teori medan Faraday dan Maxwell. Teori medan
menekankan kemulusan ruang dan waktu. Dalam teori relativitas, ruang dan
waktu tidak melompat-lompat, tetapi mengalir secara malar (continue).
Sebaliknya,

teori

kuantum,

justru

berbicara

tentang

ketidakmalaran

(discontinue). Sebutir partikel tidak boleh mengubah energinya secara malar,


melainkan melompat-lompat. Bisa dikatakan bahwa kedua pendekatan ini
bertolak belakang. (Gerry 2004).
Teori medan elektromagnetik Faraday yang kemudian dikembangkan
oleh Maxwell

pada 1865, masih mengganggu para ilmuwan masa itu.

Sumber gangguan tersebut adalah eter sebagai zat perantara gelombang


elektromagnetik.
Eter sebagai medium rambat gelombang elektromagnetik mempunyai
sifat yang sulit dibayangkan secara fisika meski secara matematis dapat
dijelaskan secara gemilang. Semestinya eter bertabiat sebagai zat padat
karena cahaya adalah gelombang transversal. Jenis gelombang ini tidak
dapat meramat dalam medium fluida (gas atau cairan).
Berdasarkan pengamatan, eter sebegitu halus sampai-sampai tidak
menghambat Bumi yang bergerak di dalamnya kendati sosoknya samar-

samar, para ilmuwan menerima ide eter. Oleh karena itu, salah satu
tantangan utama fisika di penghujung abad ke-19 adalah menjernihkan
pemahaman
persoalan

tentang
ini,

eter

kecepatan

sesuai

persamaan

cahaya c jadi

Maxwell.Dalam
perkara.

Dalam

konteks
teori

Maxwell, c adalah kecepatan pengamat yang bergeming dalam eter.

Penemuan Michelson dan Morley

Pada dasawarsa 1880-an Albert Abraham Michelson dan Edward Williams


Morley menyelidiki ketergantungan kecepatan cahaya terhadap kecepatan
pengamat.(Gerry, 2004)
Gagasan mereka adalah membandingkan kecepatan cahaya di dua
arah yang berbeda, pada posisi siku-siku. Jika kecepatan cahaya bernilai
tetap relatif terhadap eter, maka pengukuran seharusnya mengungkapkan
kecepatan cahaya yang berbeda-beda, tergantung arah gerak cahaya. Tapi
Michelson dan Moerley tak mendapat perbedaan.

Hasil percobaan Michelson-Morley jelas bertentangan dengan model


gelombang elektromagnetik yang bergerak melalui eter, dan seharusnya
model eter ditinggalkan. Namun tidak ada yang benar-benar berani

menyimpulan bahwa eter tidak ada. (Stephen Hawking & Leonard Mlodinow,
2010)
Transformasi Lorents
Ahli fisika Belanda Hendrik Antoon Lorentz menawarkan penjelasan
untuk penemuan Michelson dengan mengandaikan adanya seutas gaya
antar-molekul yang bekerja searah dengan hembusan eter. Gaya ini,
menurut Lotentz, secara fisik dapat memendekkan salah satu kaki alat
pengukuran Michelson. Oleh karena itu kecepatan cahaya akan terukur sama
ke semua arah terhadap angin eter, walaupun menurut Lorentz sebenarnya
berbeda.
Walaupun demikian ternyata saran Lorentz masih melanggar mekanika
Newton di beberapa hal. Poincare tahu persoalan itu tapi meyakini
kebenaran anjuran Lorentz. Ia menekankan perlunya menuju kenisbian
murni.
Dari sinilah awal lahirnya teori relativitas yang dipopulerkan oleh Albert
Einstein. Secara mandiri Einstein mengembangkan penyelesaian seperti
yang diusulkan Poincare. Ia berangkat dengan dua asumsi yang bersahaja
tapi jernih. Uraiannya menyelamatkan persamaan Maxwell, sementara
pengertian

Newton

tentang

ruang-waktu

mutlak

tersingkir.

Walaupun

demikian, pada kecepatan rendah, penyelesaian mendekati hasil hitung


mekanika klasik Newton.
Untuk mendapatkan penyelesaian itu, Einstein tidak memasukkan
pembenaran ke dalam system yang lama tapi justru menggubah pengertian
ruang, waktu, dan masaa serta membuat segalanya relative
kecepatan kerangka.

B. Teori Relativitas Khusus

terhadap

Pada tahun 1905, Einstein menerbitkan sebuah makalah mengenai


elektrodinamika benda bergerak, di dalamya Einstein membuat dua asumsi
sederhana.
Asumsi pertama, adalah asas relativitas. Menurut asas ini, tidak
mungkin untuk membedakan satu system dari system yang lain jika keduaduanya bergerak dengan kecepatan tetap (tidak dipercepat). Sebagai
contoh, Anda pernah berada dalam gerbong kereta api, dan melihat kereta
api lain lewat jendela. Waktu itu Anda tidak yakin mana yang bergerak,
kereta Anda atau kereta di sebelah? Tidak ada cara lain untuk mengetahui
mana yang bergerak sampai melongok keluar jendela. Semua hukum fisika,
baik mekanika ataupun elektromagnetisme, berlaku tanpa perubahan dalam
setiap kerangka yang kecepatannya tetap.
Asumsi kedua, kecepatan cahaya dalam ruang kosong adalah tetap,
bebas dari gerakan sumber cahaya maupun pengamat. (Gerry, 2004).
Ternyata gagasan ini menuntut revolusi dalam konsep ruang dan waktu.

POSTULAT RELATIVITAS KHUSUS

Hukum fisika bentuknya sama untuk semua kerangka inersial.


Laju cahaya dalam vakum adalah tetap tidak bergantung pada
gerak pengamat.

Untuk mengetahui alasannya, bayangkan dua peristiwa yang terjadi di


tempat yang sama tapi pada waktu yang berbeda, dalam pesawat jet. Bagi
pengamat dalam pesawat jet, kedua peristiwa itu tak terpisah jarak. Bagi
pengamat kedua di darat, kedua peristiwa terpisah jarak yang ditempuh jet
pada waktu antara terjadinya kedua peristiwa. Itu menunjukkan bahwa
kedua pengamat yang bergerak relatif terhadap satu sama lain tak akan
sepakat mengenai jarak antara kedua peristiwa.
Berikutnya umpamakan kedua pengamat mengamati seberkas cahaya
bergerak dari ekor ke hidung pesawat. Seperti contoh di atas, mereka tak
akan sepakat mengenai jarak yang ditempuh cahaya dari kemunculannya di
ekor sampai tiba di ujung. Karena kecepatan diperoleh dari jarak yang
ditempuh dibagi waktu yang diperlukan, artinya jika mereka sepakat
mengenai kecepatan gerak berkas cahaya, kecepatan cahaya, mereka tak
akan sepakat mengenai selang waktu antara awal dan akhir pergerakan.
Yang

membuatnya

jadi

anehadalah

walaupun

kedua

pengamat

mengukur waktu yang beda, mereka menyaksikan proses fisik yang sama.
Einstein tidak mencoba membangun penjelasan arifisial untuk itu. Dia
menarik kesimpulan yang logis walau mengejutkan bahwa pengukuran
waktu,

seperti

pengukuran

jarak,

bergantung

pada

pengamat

yang

melakukan pengukuran. Efek ini adalah salah satu kunci teori dalam makalah
1905 Einstein, yang disebut relativitas khusus (special relativity).
Relativitas khusus menyatakan pemuluran waktu (Time Dilatation)
yaitu jam berjalan lebih cepat menurut pengamat yang diam relatif
terhadap jam. Bagi pengamat yang tidak diam relative terhadap jam, jam
bergerak lebih lambat. Jika kita samakan berkas cahaya yang bergerak dari
ekor ke hidung pesawat dengan detak jam, maka kita lihat bahwa bagi
pengamat di darat, jam bergerak lebih lambat karena berkas cahaya harus
menempuh jarak lebih besar dalam kerangka rujukan itu. Tapi efeknya tak

bergantung kepada mekanisme jam, efek itu berlaku untuk semua jam,
termasuk jam biologis kita.
Karya Einstein menunjukkan bahwa sebagaimana konsep diam, waktu
juga tak bisa mutlak atau absolute seperti dipikirkan Newton. Dengan kata
lain, pada setiap peristiwa mustahil menetapkan waktu yang akan disepakati
semua pengamat. Sebaliknya, pengamata memiliki pengukuran pengukuran
waktu sendiri, dan waktu yang diukur dua pengamat yang bergerak relatif
terhadap satu sama lain tak akan sama. Gagasan ini berlawanan dengan
intuisi kita karena dampaknya tak bisa diamati pada kecepatan pada
kecepatan yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi gagasan ini telah terbukti benar dalam percobaan. Salah satu
percobaan yang telah membuktikan gagasan ini adalah percobaan yang
dilakukan pada Oktober 1971, satu jam atom (atomic clock) yang amat
akurat diterbangkan mengelilingi dunia searah rotasi bumi, dari barat ke
timur. Jadi Anda bisa memperpanjang hidup anda dengan terbang ke timur
terus, walaupun efeknya amat kecil, sekitar 1/180 miliar per detik untuk tiap
kali keliling dunia (dan juga agak dikurangi efek perbedaan gravitasi).
Para ahli fisika menyebut gagasan ini sebagai penyatuan ruang dan
waktu (space-time) dengan waktu disebut sebagai dimensi keempat yang
memiliki arah tergantung terhadap kecepatan pengamat. Teori relativitas
khusus Einstein mencampakkan konsep waktu mutlak dan diam mutlak
(yaitu diam terhadap eter yang bergerak).

KONSEKUENSI POSTULAT RELATIVITAS KHUSUS


1. Dilasi Waktu

Akibat pertama dari postulat relativitas khusus


adalah waktu bersifat relatif, ini ditandai dengan adanya fenomena dilasi
waktu. Misalkan tinjau dua kerangka O diam dan O bergerak dengan
kecepatan konstan V sepanjang sumbu x. Jika t0 adalah waktu yang diukur
oleh pengamat di O, maka waktu yang diukur oleh pengamat di O relatif
terhadap O adalah :

Jadi waktu yang diukur oleh pengamat di O lebih lama dibanding pengamat
di O.
Contoh Soal 1 :

Dua orang ahli ruang angkasa Edo & Ody adalah dua orang sahabat
baik

masing-masing

berumur

24

tahun

dan

30

tahun.

Edo

menggunakan pesawat dengan kecepatan 0.8 c ke suatu lanet yang


letaknya 4 tahun cahaya dari bumi. Setelah tiba di planet yang ia
dituju, kemudian ia rindu dengan keluarganya termasuk dengan Ody
sahabatnya sehingga ia memutuskan untuk pulang kembali ke Bumi.
Berapa umur Edo dan Ody ketika tiba di bumi?

Penyelesaian :
Pengamatan Ody terhadap waktu yang dibutuhkan oleh Edo pergi ke planet
lain adalah

t karena secara relative

Ody bergerak terhadap kejadian.

Waktu yang dibutuhkan Edo untuk pergi ke planet menurut Ody adalah :
t =

2s
v

2.4 tahun 8
=
=10 tahun
0.8 c
0.8

Sedangkan menurut Edo ( pengukuran terhadap dirinya sendiri ) waktu yang


dibutuhkan adalah t0
t = t0
t0 =

1o
=6 tahun
10
6

v = 0.8 c maka = 10/6

Dengan demikian, setelah kembali ke bumi umur Edo = 24 + 6 = 30 tahun,


sedangkan umur Ody = 30 + 10 = 40 tahun.
2. Kontraksi Panjang
Analog dengan dilasi waktu, konsekuensi lain adalah kontraksi panjang.
Tinjau pula kasus yang sama dengan sebelumnya. Jika L0 adalah panjang
benda yang diukur oleh pengamat di O, maka pengamat di O mengukur
panjang benda tersebut adalah

Jadi panjang yang diukur oleh pengamat di O lebih pendek dibanding


pengamat di O.

Contoh Soal 2 :

Sebuah roket ketika diam di bumi panjangnya 100 m, roket brgerak


dengan kecepatan 0.8 c, maka menurut orang di bumi panjang roket
tersebut selama bergerak adalah?
Penyelesaian :
Lo
L=

V = 0.8 c = 8/10 = 5/4 c


= 5/3

Maka dengan demikian, L =

100
5/3

=300 / 5 = 60 m

3. Kesetaraan Massa dan Energi

Konsekuensi lain yang dapat dilihat adalah adanya


hubungan kesetaraan antara massa dan energi. Hal ini dapat kita lihat
sebagai berikut:

Jika m0 adalah massa diam sebuah benda, maka energi total benda tersebut
adalah dan energi kinetiknya adalah :

dimana v adalah kecepatan benda tersebut.

Jika v = 0

maka K=0, tetapi E 0. Inilah yang kita sebut sebagai

energi diam benda/partikel :

Jadi sebuah benda bermassa m0 setara dengan energi sebesar m0 c2.

4. Momentum Relativistik

Contoh soal 3 :

Partikel

yang

massanya

m0 bergerak

dengan

kecepatan

0.6

berdasarkan teori relativita Einstein massa pertikel selama bergerak


adalah ? Tentukan pula perbandingan massa relativistic partikel
tersebut terhadap massa diamnya !
Penyelesaian :
M = m0
V = 0.6 c= 6/10 c = 3/5 v
= 5/4
Maka, M = m0 = 10/8 m0 = 1.25 m0
Adapun perbandingan antara massa relativistic partikel dan massa diamnya
adalah
m 10
= =5 : 4
m0 8

Agar energy kinetic benda bernilai 25 % energy diamnya, maka benda


harus bergerak dengan kelajuan berapa ?

Penyelesaian :
Ek = 25 % E0

Maka v = 3/5 c

Ek = E0
-1 =
= 5/4

Setiap detik di matahri terjadi perubahan 4 10 9 kg menjadi energy


radiasi, jika c = 3.108 m/s, maka daya yang dipancarkan oleh matahari
adalah?

Penyelesaian :
E = mc2
P t = mc2
P=

mc2
= 4 109 (3.108 )
t

/ 1 = 3.6 1026 Watt.

KAUSALITAS DAN PARADOKS KEMBAR


Kausalitas
Dalam rumusannya, teori relativitas mengklaim bahwa waktu t
berkedudukan sama dengan koordinat spatial lainnya, yaitu x, y, z. Dari sini
disimpulkan bahwa dimensi alam semesta kita bukanlah tiga, melainkan
empat.
Berikut ini gambaran dua dimensi yang disederhanakan dari ruang waktu.

t
x

Daerah yang berbentuk kerucut yang berwarna putih disebut kerucut


cahaya, yaitu daerah dimana cahaya bergerak.
Daerah hiperbola yang berwarna hijau disebut daerah timelike, yaitu
daerah dimana benda-benda bermassa diam bergerak dan berkecepatan
lebih kecil dari cahaya. Daerah ini memiliki struktur kausalitas (sebab-akibat)
karena tidak adanya kurva tertutup yang menghubungkan antara masa lalu
(t < 0) dan masa depan (t > 0).
Daerah hiperbola yang berwarna biru disebut daerah spacelike, yaitu
daerah dimana benda-benda bergerak melebihi kecepatan cahaya. Dalam
daerah ini tidak berlaku kausalitas.
2. Paradoks Kembar
Hal yang kontroversi dari teori relativitas khusus adalah yang
disebut paradoks kembar. Misalkan A dan B dua orang kembar. A pergi ke
luar angkasa menggunakan roket dan B tinggal di Bumi. Jika A pergi dengan
kecepatan kostan dan mengukur waktunya sebesar t0 maka B di Bumi
mengukur waktu A lebih panjang.

Tetapi karena gerak sifatnya relatif, maka hal sebailiknya juga dapat
terjadi, yaitu A mengukur waktu Bumi lebih panjang. Jadi dalam hal ini jika A
dan B dalam kerangka inersial maka tidak ada yang lebih muda dan tua dan
tidak ada paradoks.
Paradoks ini dapat terjadi jika salah satunya dalam kerangka
dipercepat atau noninersial. Pada kenyataannya A yang pergi ke luar
angkasa mengalami percepatan yaitu dari diam ke bergerak dengan
kecepatan awal berubah ubah hingga mendekati konstan sehingga paradoks
pun dapat terjadi.

Kesetaraan Massa dan Energi dalam Teknologi Nuklir

Sebelum dimunculkannya teori relativitas khusus, massa dan energi


dianggap sebagai dua besaran yang sangat berbeda dan berdiri sendiri.
Pernyataan Einstein bahwa ada kesetaraan massa dengan energi yang
dinyatakan dalam persamaan Eo = moc2 atau E = mc2, merubah pandangan
manusia. Hal ini dibuktikan dengan dijatuhkannya bom atom di Nagasaki dan
Hiroshima yang telah menunjukkan massa uranium berubah menjadi energi
yang sangat besar.
Dalam teknologi masa kini, kesetaraan keduanya dimanfaatkan pada
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Kesetaraan massa dan energi dimanfaatkan pada Pembangkit Listrik Tenaga


Nuklir (PLTN)

C. Teori Relativitas Umum


Setelah sukses dengan teori relativitas khusus, tak lama kemudian
Einstein

menyadari

bahwa

agar

gravitasi

sesuai

dengan

relativitas,

diperlukan perubahan lain.


Sebelas tahun berikutnya Einstein mengembangkan teori gravitasi
baru, yang dia sebut relativitas umum (general relativity). Konsep gravitasi
dalam relativitas umum sangat berbeda dengan konsep gravitasi Newton.
Konsep gravitasi umum didasarkan kepada usul revolusioner bahwa ruangwaktu

bukan

datar

sebagaimana

diduga

sebelumnya,

melainkan

melengkung dan terdistorsi oleh massa dan energy di dalamnya.


Menurut hukum gerak Newton, benda seperti peluru meriam, dan
planet bergerak menyusur garis luerus kecuali jika terpengaruh gaya seperti
gravitasi. Tapi gravitasi dalam teori Einstein bukan gaya sebagaimana gaya
lain; gravitasi justru konsekuensi kenyataan bahwa massa mendistorsi ruangwaktu, menciptakan kelengkungan. Dalam teori Einstein, benda bergerak

mengikuti geodesika, yang merupakan pendekatan bagi garis lurus dalam


ruang melengkung. Garis adalah geodesika dii budang datar, dan lingkaran
besar adalah geodesika pada permukaan bumi.
Tanpa adanya zat, geodesika pada ruang-waktu berdimensi empat
sepadan dengan garis pada ruang berdimensi tiga. Tapi ketika ada zat yang
yang mendistorsi ruang-waktu, jalur gerak benda dalam ruang berdimendi
tiga menjadi melengkung karena tarikan gravitasi menurut teori Newton.
Ketika ruang-waktu tidak datar, jalur benda tampak berbelok, sehingga
memberi kesan ada gaya yang mempengaruhinya.
Penerapan teori relativitas umum dalah model alam semesta yang amat
berbada, yang memprediksi efek-efek baru seperti gelombang gravitasi dan
lubang hitam. Teori relativitas umum menyatakan jagat raya berhingga
namun tak terbatas. Sebagaimana teori relativitas khusaus, teori relativitas
umum juga telah melalui uji sensitifitas dan semuanya menyatakan sukses.
Salah satu penjelasan yang telah teruji sukses adalah penjelasan mengenai
perihelion Planet Merkurius.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori Relativitas Einstein muncul dari kesenjangan antara mekanika
Newton

tentang

perilaku

zat

(eter)

dengan

electromagnet

Maxwell

(kecepatan cahaya).
Teori relativitas khusus menyatukan ruang dan waktu menjadi ruangwaktu. Teori ini menyatakan adanya pemuluran waktu sehingga waktu
dinyatakan sebagai dimensi keempat yang memiliki arah yang bergantung
terhadap kecepatan pengamat.
Teori relativitas umum menyuguhkan konsep baru tentang gravitasi
yang menyatukan antara gravitasi dan relativitas yakni konsep gravitasi
Einstein. Konsep gravitasi umum menyatakan bahwa ruang-waktu bukan
datar, melainkan melengkung dan terdistorsi oleh massa dan energy di
dalamnya.
Gagasan ini melahirkan pandangan bahwa alam semesta atau jagat raya
berhingga namun tak terbatas.
B. Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini, dapat menambah khasanah
pengetahuan pembaca mengenai konsep ruang-waktu, relativitas, serta
konsep alam semesta. Dengan memahami konsep relativitas ini sekiranya
dapat menambah keyakinan kita pada Sang Pencipta akan adanya jagad
raya yang diciptakan-Nya sedemikian rupa.

DAFTAR PUSTAKA

Albert, David Z.______. Philosophy of Physics. Colombia University. Colombia.


Einstein, Albert.

2005. The special and general theory (terjemahan oleh Liek

Wilardjo). Grafika Mardi Yuana. Bogor.


Russel, Bertrand. Teori Relativitas Einstein, Penjelasan Populer Untuk Umum.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Hawking, Stephen & Mlodinow, Leonard. 2010. The Grand Design. PT. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta.
Van Kliken, Gerry. 2004. Revolusi Fisika : Dari alam Gaib ke ALam Nyata. Grafika
Mardi Yuana. Bogor
http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1117172665
http://www.slideshare.net/chy_greenty/ppt-fismod
http://mgmpfisikasma9.files.wordpress.com/2010/02/xii-s2-relativitas.ppt
http://smancir1.sch.id/index.php/download/bahan-ajar-fisika/fisika/kelas-xii/110bab-8-teori-relativitas/download
http://www.kaskus.co.id/thread/51e7e49348ba546208000002/gambaran-umumteori-relativitas-albert-einstein
http://pakteguh08.files.wordpress.com/2008/02/relativitas_modul.pdf