Anda di halaman 1dari 22

Case Report Session

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS

Oleh :
Mutya
Restu Ayu
0910311016

Dita Eka Novriana

0910313218

PRESEPTOR:
DR. Dr. Satya Wydya Yenny, Sp.KK (K)

PUSKESMAS AIR DINGIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RS.DR.M.JAMIL PADANG
2015

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
1.1.

DEFINISI
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernafasan atas atau

bawah, menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari
penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan,
tergantung pada pathogen penyebabnya, faktor lingkungan, dan faktor pejamu. 1 ISPA adalah
suatu penyakit pernafasan akut yang ditandai dengan gejala batuk, pilek, serak, demam dan
mengeluarkan ingus atau lendir yang berlangsung sampai dengan 14 hari 2 . ISPA adalah
penyakit infeksi yang menyerang salah satu dan atau lebih bagian dari saluran napas, mulai
dari hidung (saluran pernapasan atas) hingga alveoli (saluran pernapasan bawah) termasuk
jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura yang disebabkan oleh
masuknya kuman (bakteri, virus atau riketsia) ke dalam organ saluran pernapasan yang
berlangsung selama 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut dari suatu
penyakit, meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini
dapat berlangsung lebih dari 14 hari.
1.2.

EPIDEMIOLOGI
Menurut WHO tahun 2012, sebesar 78% balita yang berkunjung ke pelayanan

kesehatan adalah akibat ISPA. ISPA lebih banyak terjadi di negara berkembang dibandingkan
negara maju dengan persentase masing-masing sebesar 25%-30% dan 10%-15%. Kematian
balita akibat ISPA di Asia Tenggara sebanyak 2.1 juta balita pada tahun 2004. India,
Bangladesh, Indonesia, dan Myanmar merupakan negara dengan kasus kematian balita akibat
ISPA terbanyak. 2
ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia.
Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98% disebabkan oleh infeksi
2

saluran pernafasan bawah. Tingkat mortalitas sangat tinggi pada bayi, anak-anak, dan orang
lanjut usia, terutama di negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dan menengah.
Begitu pula, ISPA merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di
fasilitas pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan anak. 1
Kematian balita akibat ISPA di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 20.6% dari
tahun 2010 hingga tahun 2011 yaitu 18.2% menjadi 38.8%. 3
1.3.

ETIOLOGI
Mayoritas penyebab dari ISPA adalah oleh virus, dengan frekuensi lebih dari 90%

untuk ISPA bagian atas, sedangkan untuk ISPA bagian bawah frekuensinya lebih kecil. Dalam
Harrisons Principle of Internal Medicine disebutkan bahwa penyakit infeksi saluran
pernafasan akut bagian atas mulai dari hidung, nasofaring, sinus paranasalis, sampai dengan
laring hamper 90% disebabkan oleh viral , sedangkan infeksi akut saluran nafas bagian
bawah hampir 50% disebabkan oleh bakteri. Penyebab ISPA oleh Streptococcus pneumonia
sekitar 70-90%, sedangkan Stafilococcus Aureus dan H. Influenza sekitar 10-20%. Saat ini
telah diketahui bahwa infeksi saluran pernafasan akut ini melibatkan lebih dari 300 tipe
antigen dari bakteri maupun virus. 4

Tabel 1.1. Ragam Penyebab ISPA Menurut Umur

1.4.

KLASIFIKASI
Tahun 2008, World Health Organization telah merekomendasikan pembagian ISPA

menurut derajat keparahannya :


Secara anatomis yang termasuk Infeksi saluran pernapasan akut :
a. ISPA ringan
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih
gejala-gejala sebagai berikut :
i.

Batuk

ii.

Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara


(misalnya pada waktu berbicara atau menangis).

iii.

Pilek, yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung

iv.

Panas atau demam, suhu tubuh lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba
dengan penggung tangan terasa panas.

b. ISPA sedang
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala-gejala
ISPA ringan disertai gejala-gejala berikut :
i.

Pernapasan >50 kali per menit pada anak yang berumur >1 tahun atau >
40kali per menit pada anak yang berumur 1 tahun atau lebih.

ii.

Suhu tubuh lebih dari 390C.

iii.

Tenggorokan berwarna merah.

iv.

Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak.

v.

Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.

vi.

Pernapasan berbunyi seperti mendengkur atau mencuit-cuit. Dari gejalagejala ISPA sedang, perlu berhati-hati jika anak menderita ISPA ringan
sedangkan suhu tubuhnya lebih dari 390C atau gizinya kurang baik,atau
umurnya 4 bulan, maka anak tersebut menderita ISPA sedang dan harus
mendapat pertolongan dari petugas kesehatan.

c.

ISPA berat
Seorang anak dinyatakan menderita ispa berat jika dijumpai gejala-gejala
ISPAringan atau ISPA sedang disertai gejala berikut :
i.

Bibir atau kulit membiru.

ii.

Lubang

hidung

kembang

kempis

(dengan

cukup

lebar)

pada

waktu bernapas.
iii.

Kesadaran menurun.

iv.

Pernapasan berbunyi berciut-ciut dan anak tampak gelisah.

v.

Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas.

vi.

Nadi cepat, lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.

vii.

Tenggorokan berwarna merah.

Penderita ini harus dirawat di puskesmas atau rumah sakit, karena perlu
mendapat perawatan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan atau cairan
infus.
Menurut Depkes RI (1991), Pembagian ISPA berdasarkan atas umur dan tanda-tanda
klinis yang didapat yaitu :4
1. Untuk anak umur 2 bulan-5 tahun
Untuk anak dalam berbagai golongan umur ini ISPA diklasifikasikan
menjadi 3 yaitu :
a) Pneumonia berat
Tanda utama :
Adanya tanda bahaya yaitu tidak bisa minum, kejang, kesadaran
menurun, stridor, serta gizi buruk.
Adanya tarikan dinding dada kebelakang. Hal ini terjadi bila paru-paru
menjadi kaku dan mengakibatkan perlunya tenaga untuk menarik
nafas.
Tanda lain yang mungkin ada :

Nafas cuping hidung.

Suara rintihan.

Sianosis (pucat).

b) Pneumonia tidak berat


Tanda Utama :
Tidak ada tarikan dinding dada ke dalam.
Di sertai nafas cepat :

Lebih dari 50 kali/menit untuk usia 2 bulan 1 tahun.

Lebih dari 40 kali/menit untuk usia 1 tahun 5 tahun.


6

c) Bukan pneumonia
Tanda utama :
Tidak ada tarikan dinding dada kedalam.
Tidak ada nafas cepat :

Kurang dari 50 kali/menit untuk anak usia 2 bulan 1 tahun.

Kurang dari 40 kali/menit untuka anak usia 1 tahun 5 tahun.

2. Anak umur kurang dari 2 bulan


Untuk anak dalam golongan umur ini, di klasifikasikan menjadi 2 yaitu :
a) Pneumonia berat
Tanda utama :
Adanya tanda bahaya yaitu kurang bisa minum, kejang, kesadaran
menurun, stridor, wheezing, demm atau dingin.
Nafas cepat dengan frekuensi 60 kali/menit atau lebih.
Tarikan dinding dada ke dalam yang kuat.
b) Bukan pneumonia
Tanda utama :
Tidak ada nafas cepat.
Tidak ada tarikan dinding dada ke dalam.
1.5.

MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis meliputi demam, batuk dan sering juga nyeri tenggorok, pilek,

sesak nafas,mengi, atau kesulitan bernafas. Infeksi saluran pernafasan akut dapat terjadi
dengan berbagai gejala klinis. Untuk membedakan gejala klinik pada ISPA yang disebabkan
oleh virus atau bakteri sangat sulit untuk didentifikasi.4

Tabel 1.2. Gejala dan tanda ISPA Berdasarkan Kelompok Usia

1.6

PATOGENESIS
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, droplet melalui batuk dan bersin, udara

pernafasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke dalam saluran
pernafasannya.7
ISPA juga dapat diakibatkan oleh polusi udara. ISPA akibat polusi udara adalah ISPA
yang disebabkan oleh faktor risiko polusi udara seperti asap rokok, asap pembakaran rumah
tangga, gas buang sarana transportasi dan industry, kebakaran hutan, dan lain-lain. Agen
infeksius dapat menyebabkan timbulnya ISPA, namun keberadaan agen infeksius tidak
langsung menimbulkan ISPA karena perthanan tubuh juga menjadi faktor yang penting untuk
menentukan.8
8

Gambar 1.1. Mekanisme Penyakit

Penyebaran ISPA juga tergantung pada keadaan lingkungan. Menurut Achmadi


(2008), untuk mengetahui patogenesis ISPA dapat digunakan teori manajemen penyakit
berbasis lingkungan.9

Gambar 10. Manajemen Penyakit Berbasis Lingkungan


Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan interaksi antara virus/bakteri dengan
tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang
terdapat pada permukaan saluran pernafasan bergerak ke atas mendorong virus kea rah faring
atau dengan suatu tangkapan reflex spasmus oleh laring. Jika reflex tersebut gagal maka
virus/bakteri dapat merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan. Iritasi
virus/bakteri pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering. Kerusakan
struktur lapisan dinding sakuran pernafasan menyebabkan peningkatan aktifitas kelenjar
mucus, yang banyak terdapat pada dinding saluran pernafasan. Hal ini mengakibatkan
terjadinya pengeluaran cairan mukosa yang melebihi normal. Rangsangan cairan yang
berlebihan tersebut dapat menimbulkan gejala batuk sehingga pada tahap awal gejala ISPA
yang paling menonjol adalah batuk.10
Adanya infeksi virus merupakan faktor predisposisi terjadinya infeksi bakteri. Akibat
infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme
perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan
bakteri-bakteri pathogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti Streptococcus
pneumonia, Stafilococcus Aureus dan H. Influenza menyerang mukosa yang telah rusak
tersebut. Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mucus bertambah banyak dan
dapat menyumbat saluran pernafasan sehingga timbul sesak nafas dan batuk produktif. Invasi
bakteri ini dipermudah dengan adanya faktor-faktor cuaca dingin dan malnutrisi.10
Serangan infeksi virus pada saluran pernafasan dapat menimbulkan gangguan gizi
akut pada bayi dan anak. Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempattempat lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga dapat
menyebar ke saluran nafas bawah. Dampak infeksi sekunder bakteri menyebabkan bakteribakteri yang biasanya ditemukan di saluran nafas atas dapat menyerang saluran nafas bawah
10

seperti paru-paru sehingga menyebabkan penumia bakteri. Melalui uraian di atas, perjalanan
klinis ISPA dapat dibagi menjadi periode prepathogenesis dan pathogenesis. 10
1) Periode Prepatogenesis
Penyebab telah ada tetapi belum menunjukan reaksi. Pada periode ini terjadi antara
agen dan lingkungan serta antara host dan lingkungan.10
a. Interaksi antara agen dan lingkungan mencakup pengaruh geografis terhadap
perkembangan agen serta dampak perubahan cuaca terhadap penyebaran virus
dan bakteri penyebab ISPA.
b. Interaksi antara host dan lingkungan mencakup pencemaran lingkungan
seperti asap karena kebakaran hutan, gas buang sarana transportasi dan polusi
udara dalam rumah dapat menimbulkan penyakit ISPA jika terhirup oleh host.
2) Periode Patogenesis
Terdiri dari tahap inkubasi, tahap penyakit dini, tahap penyakit lanjut dan tahap
penyakit akhir.10
a. Tahap Inkubasi, agen infeksius penyebab ISPA merusak lapisan epitel dan
lapisan mukosa yang merupakan pelindung utama pertahanan system saluran
pernafasan. Akibatnya, tubuh menjadi lemah diperparah dengan keadaan gizi
dan daya tahan tubuh yang rendah.
b. Tahap penyakit dini, dimulai dengan gejala-gejala yang mucul akibat adanya
interaksi.
c. Tahap penyakit lanjut, merupakan tahap pengobatan yang epat untuk
menghindari akibat lanjut yang kurang baik.
d. Tahap penyakit akhir, penderita dapat sembuh sempurna, sembuh dengan
atelektasis, menjadi kronis, dan dapat meninggal akibat pneumonia.
1.7

FAKTOR RISIKO
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya ISPA, seperti: lingkungan

dan host. Menurut berbagai penelitian sebelumnya, faktor lingkungan yang dapat
menyebabkan ISPA adalah kualitas udara dalam ruangan yang dipengaruhi oleh polusi udara
dalam ruangan (indoor air polution). Pencemaran udara dalam ruangan disebabkan oleh
aktifitas penghuni dalam rumah, seperti: perilaku merokok anggota keluarga dalam rumah
dan penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar dalam rumah tangga. Sedangkan faktor host
yang dapat mempengaruhi terjadinya ISPA antara lain: status imunisasi, Berat Badan Lahir
Rendah (BBLR), dan umur. Balita yang memiliki status imunisasi yang tidak lengkap akan
lebih mudah terserang penyakit dibandingkan dengan balita yang memiliki status imunisasi
lengkap. Balita BBLR memiliki kekebalan tubuh ynag masih rendah dan organ pernapasan
masih lemah sehingga balita BBLR lebih mudah terserang penyakit infeksi, khususnya
infeksi pernapasan dibandingkan dengan balita tidak BBLR/ normal. Hal ini disebabkan
11

karena balita yang lebih muda memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah dibandingkan
dengan balita yang lebih tua. 11
1.8

DIAGNOSIS
Diagnosis ISPA ditegakan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis seperti yang

disebutkan pada klasifikasi diatas. 4


1.9

PENATALAKSANAAN
1) Medikamentosa :
a. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotic parenteral, oksigen dan
sebagainya.
b. Pneumonia : diberi obat sesuai organisme penyebab
c. Bukan Pneumonia : tanpa pemberian antibiotik, terapinya berupa terapi simptomatik.
Diberikan perawatan dirumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk yang tidak
mengandung zat yang merugikan seperti kodein, dekstrometorfan dan antihistamin.
Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol.4
Pemberian antibiotik yang tidak sesuai untuk infeksi saluran pernafasan akut dapat

menyebabkan peningkatan prevalensi dan resistensi antibiotik. Lebih dari setengah dari
seluruh pemberian resep antibiotik untuk ISPA tidak perlu karena infeksi ini lebih sering
disebabkan oleh virus dan tidak memerlukan antibiotik. Mengetahui ISPA yang terjadi ini
karena infeksi bakteri atau virus sangatlah penting untuk menentukan jenis pengobatan yangg
akan diberikan.12
Sebelum hasil kultur keluar, maka antibiotik yang dapat diberikan adalah antibiotik
spektrum luas, yang kemudian sesuai hasil kultur diubah menjadi kultur sempit. Lama
pemberian terapi ditentukan berdasarkan adanya penyakit penyerta.13
2) Nonmedikamentosa
Penatalaksanaan Nonmedikamentosa yaitu 14
a. Perbanyak istirahat
b. Perbanyak minum air putih
c. Hindari makanan berminyak dan es
d. Konsumsi makanan gizi seimbang

12

1.10.

PENCEGAHAN
Landasan pencegahan dan pengendalian infeksi untuk perawatan pasien ISPA meliputi

pengenalan pasien secara dini dan cepat, pelaksanaan tindakan pengendalian infeksi rutin
untuk semua pasien, tindakan pencegahan tambahan pada pasien tertentu (misalnya,
berdasarkan diagnosis presumtif), dan pembangunan prasarana pencegahan dan pengendalian
infeksi bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendukung kegiatan pencegahan dan
pengendalian infeksi). 1
Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan
umumnya didasarkan pada jenis pengendalian berikut ini:
1) Reduksi dan Eliminasi
Pasien yang terinfeksi merupakan sumber utama patogen di fasilitas pelayanan
kesehatan

dan

penyebaran

agen

infeksius

dari

sumbernya

harus

dikurangi/dihilangkan. Contoh pengurangan dan penghilangan adalah promosi


kebersihan pernapasan dan etika batuk dan tindakan pengobatan agar pasien tidak
infeksius.
2) Pengendalian administrative
Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan harus menjamin sumber daya yang
diperlukan

untuk

pelaksanaan

langkah

pengendalian

infeksi.

Ini

meliputi

pembangunan prasarana dan kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi yang


berkelanjutan, kebijakan yang jelas mengenai pengenalan dini ISPA yang dapat
menimbulkan kekhawatiran, pelaksanaan langkah pengendalian infeksi yang sesuai
(misalnya, Kewaspadaan Standar untuk semua pasien), persediaan yang teratur dan
pengorganisasian pelayanan (misalnya, pembuatan sistem klasifikasi dan penempatan
pasien). Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan juga harus melakukan perencanaan
staf untuk mempromosikan rasio pasien-staf yang memadai, memberikan pelatihan
staf, dan mengadakan program kesehatan staf (misalnya, vaksinasi, profilaksis) untuk
meningkatkan kesehatan umum petugas kesehatan.
3) Pengendalian lingkungan dan teknis
Pengendalian ini mencakup metode untuk mengurangi konsentrasi aerosol
pernapasan infeksius (misalnya, droplet nuklei) di udara dan mengurangi keberadaan
permukaan dan benda yang terkontaminasi sesuai dengan epidemiologi infeksi.
Contoh pengendalian teknis primer untuk aerosol pernapasan infeksius adalah
ventilasi lingkungan yang memadai ( 12 ACH) dan pemisahan tempat (>1m) antar
pasien. Untuk agen infeksius yang menular lewat kontak, pembersihan dan disinfeksi
13

permukaan dan benda yang terkontaminasi merupakan metode pengendalian


lingkungan yang penting.
4) Alat Pelindung Diri (APD)
Semua strategi di atas mengurangi tapi tidak menghilangkan kemungkinan
pajanan terhadap risiko biologis.Karena itu, untuk lebih mengurangi risiko ini bagi
petugas kesehatan dan orang lain yang berinteraksi dengan pasien di fasilitas
pelayanan kesehatan, APD harus digunakan bersama dengan strategi di atas dalam
situasi tertentu yang menimbulkan risiko penularan patogen yang lebih besar.
Penggunaan APD harus didefinisikan dengan kebijakan dan prosedur yang secara
khusus ditujukan untuk pencegahan dan pengendalian infeksi (misalnya, kewaspadaan
isolasi). Efektivitas APD tergantung pada persediaan yang memadai dan teratur,
pelatihan staf yang memadai, membersihkan tangan secara benar, dan yang lebih
penting, perilaku manusianya. Semua jenis pengendalian di atas sangat saling
berkaitan. Semua jenis pengendalian tersebut harus diselaraskan untuk menciptakan
budaya keselamatan kerja institusi, yang menjadi landasan bagi perilaku yang aman.
1.11.

KOMPLIKASI
ISPA (Infeksi Saluran pernafasan akut) sebenarnya merupakan penyakit yang sembuh

sendiri dalam 5-6 hari jika tidak terjad invasi kumn lain, tetapi ISPA yang tidak mendapatkan
pengobatan dan perawatan yang baik dapat menimbulkan penyakit seperti : penutupan tuba
eustachi, laryngitis, tracheitis, bronchitis, dan bronkopenumina dan berlanjut pada kematian
karena adanya sepsis yang meluas.15

Asma
Asma adalah mengi berulang atau batuk persisten yang disebabkan oleh suatu
kondisi alergi non infeksi dengan gejala : sesak nafas, nafas berbunyi wheezing,
dada terasa tertekan, batuk biasanya pada malam hari atau dini hari.

Kejang demam
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rentan lebih dari 38Oc) dengan geiala berupa serangan kejang klonik atau
tonikklonik bilateral. Tanda lainnya seperti mata terbalik keatas dengan disertai
kejang kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului
kekakuan atau hanya sentakan kekauan fokal.

Tuli

14

Tuli adalah gangguan system pendengaran yang terjadi karena adanya infeksi
yang disebabkan oleh bakteri atau virus dengan gejala awal nyeri pada telinga
yang mendadak, persisten dan adanya cairan pada rongga telinga.

Syok
Syok merupakan kondisi dimana seseorang mengalami penurunan f'ungsi dari
system tubuh yang disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : faktor obstruksi
contohnya hambatan pada system pernafasan yang mengakibatkan seseorang
kekurangan oksigen sehingga seseorang tersebut kekurang suplay oksigen ke
otak dan mengakibatkan syok.

Demam Reumatik, Penyakit Jantung Reumatik dan Glomerulonefritis, yang


disebabkan oleh radang tenggorokan karena infeksi Streptococcus beta
hemolitikus grup A (Strep Throat)

1.12.

Sinusitis

Meningitis

Abses Peritonsiler

Abses Retrofaring

PROGNOSIS
Pada dasarnya, prognosis ISPA adalah baik pabila tidak terjadi komplikasi yang berat.

Hal ini juga didukung oleh sifat penyakit ini sendri, yaitu self limiting disease sehingga tidak
memerlukan tindakan pengobatan yang rumit.Penyakit yang tanpa komplikasi berlangsung 17 hari. Kematian terbanyak oleh karena infeksi bakteri sekunder. Bila panas menetap lebih
dari 4 hari dan leukosit > 10.000/ul, biasanya didapatkan infeksi sekunder.16

15

BAB III
LAPORAN KASUS
STATUS PASIEN
1. Identitas pasien
Nama

: An. S

Umur

: 8 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Jl. Pertanian no.44, Sungai Lareh

2. Latar belakang sosial ekonomi, demografi, lingkungan keluarga


a. Status Perkawinan : Belum menikah
b. Jumlah anak

:-

c. Status ekonomi keluarga


d. KB

:-

e. Kondisi rumah

: kurang, penghasilan orang tua Rp.1.000.000,-

Rumah permanen, lantai dari semen, ventilasi dan pencahayaan cukup baik, susunan,

jamban dalam rumah


Listrik Ada
Sumber air minum dari air sumur bor
Sampah diambil petugas
Pekarangan rumah sempit
Rumah di huni oleh 4 orang yang terdiri dari Orang tua pasien, pasien dan adik pasien

Kesan : Higiene dan sanitasi lingkungan cukup


f. Kondisi lingkungan keluarga
-

Pasien tinggal di lingkungan padat penduduk


Hubungan antar tetangga baik

3. Aspek psikologis dalam keluarga


-

Hubungan dengan anggota keluarga baik

16

4. Riwayat penyakit dahulu/ Penyakit keluarga


-

Pasien pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya

Tidak ada anggota keluarga yang menglami sakit yang sama

5. Anamnesis:
Keluhan utama : Batuk sejak 4 hari yang lalu
6. Riwayat Penyakit Sekarang
-

Batuk sejak 4 hari yang lalu, berdahak, warna kuning kehijauan

Demam sejak 3 hari yang lalu, tidak tinggi, tidak berkeringat, tidak menggigil

Hidung tersumbat sejak 2 hari yang lalu

Sesak napas tidak ada

Penurunan nafsu makan dirasakan sejak keluhan batuk muncul

Mual dan muntah tidak ada

Sakit kepala tidak ada

Gangguan pendengaran tidak ada

Nyeri menelan tidak ada

Pasien sering jajan di sekolahan seperti pop ice, chiki, coklat serta minum air es warna
warni

7. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

BB

: 21 Kg

TB

: 120 cm

BB/U

: 84%

TB/U

; 94%

BB/TB

: 95%

Status gizi

: baik

Tekanan darah

:-

Nadi

: 93 x/menit

Nafas

: 23 x/ menit

Suhu

: 37 C

17

STATUS INTERNUS
Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Leher

: JVP 5-2 cmH2O

THT

: Telinga : Bentuk biasa, tidak terdapat kelainan


Hidung : bentuk biasa, tidak tampak deviasi septum, cavum nasi
sempit, tampak sekret warna kekuningan
Tenggorokan : Tonsil T1-T1 tidak hiperemis, uvula ditengah, Faring
tampak hiperemis

Thorax

Cor : Inspeksi

: iktus tidak telihat

Palpasi

: iktus teraba di linea mid klavikularis sinistra RIC V

Perkusi

: Batas jantung dalam batas normal

Auskultasi

: Irama teratur, bising tidak ada

Pulmo : Inspeksi

: Simetris kiri dan kanan dalam keadaan statis dan dinamis

Palpasi

: Fremitus sama kiri dan kanan

Perkusi

: Sonor

Auskultasi

: Vesikular, Rhonkhi tidak ada, Wheezing tidak ada

Abdomen

Inspeksi

: Tidak tampak membuncit

Palpasi

: Supel , hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: Bising usus normal

Ekstremitas

: Akral hangat, perfusi baik

8. Pemeriksaan Laboratorium Anjuran :


9. Diagnosis Kerja :
Infeksi Saluran Pernapasan Akut
10. Manajemen
Preventif :
-

Hindari makan dan minuman berpemanis buatan dan pengawet seperti chiki, es

tongtong, coklat dll


Apabila batuk agar menutup mulut dan hidung dengan menggunakan lengan atas, atau
pergunakan tissue
18

Jangan membuang dahak sembarangan, usahakan untuk membuang dahak ke dalam

lubang wc
Untuk meningkatkan daya tahan tubuh sebaiknya makan makanan bergizi yang terdiri
dari karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral dan teratur tiga kali sehari,
istirahat cukup 6-8 jam sehari, olahraga teratur 3 kali seminggu selama lebih kurang

20 menit
- Banyak minum air putih
Promotif
- Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit yang dialaminya yaitu infeksi saluran
pernapasan akut yang disebabkan paling sering oleh virus dan beberapa jenis bakteri.
Penularan melalui udara yang mengandung virus dan bakteri kemudian masuk ke
saluran pernapasan melalui hidung dan mulut, Faktor resiko tertular adalah kondisi
tubuh yang kelelahan dan penurunan sistem imun tubuh, gejala yang muncul seperti
-

batuk, sesak napas, pilek, demam


Menjelaskan bahwa penyakit ini sering berulang pada anak-anak terutama apabila
imunitas sedang menurun.

Kuratif
Amoksisilin 3 x tablet
Ambroksol 3 x tablet
Paracetamol bila demam
Rehabilitatif
- Kontrol kembali ke puskesmas apabila keluhan tidak berkurang
Prognosis
Quo ad sanam

: bonam

Quo ad vitam

: bonam

Quo ad kosmetikum : bonam


Quo ad fungsionam

: bonam

19

Resep
Dr. Mutya/Dita
SIP. 18/125/01/2008
Dinas Kesehatan Kota Padang
Puskesmas Air dingin

Tanggal 16 Februari 2015


R/ Amoksisilin tab 500 mg
S 3dd tab
R/ Ambroksol tab 30 mg
S 3dd tab
R/ Paracetamol tab 500 mg

No. X

No. X

No. X

Sprn ( tab setiap kali makan )

Pro

: An. S

Umur : 8 tahun

20

BAB IV
DISKUSI
Telah dilaporkan seorang pasien anak berumur 8 tahun dengan diagnosis infeksi
saluran pernapasan akut. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Berdasarkan anamnesis diketahui pasien mengalami batuk sejak 4 hari yang lalu, batuk
berdahak berwarna kuning kehijauan,disertai hidung tersumbat dan demam sejak 3 hari yang
lalu. Pasien juga mengeluhkan menurunnya nafsu makan sejak keluhan muncul. Di sekolah
pasien sering membeli jajanan seperti pop ice, chiki dan coklat. Pasien juga jarang minum air
putih dan lebih sering minum air es warna warni. Hal ini merupakan faktor resiko untuk
mengalami infeksi saluran pernapasan akut. Dari pemeriksaan fisik ditemukan pada cavum
hidung terdapapat sekret berwarna kehijauan dan faring yang hiperemis. Pada pemeriksaan
paru tidak ditemukan kelainan.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik ditegakkan diagnosis infeksi saluran
pernapasan akut. Sesuai dengan teori yang menyebutkan secara definisi infeksi pernapasan
akut adalah infeksi yang menyerang tenggorokan, hidung, faring dan laring yang berlangsung
kurang lebih 14 hari yang ditandai dengan batuk, hidung tersumbat serta demam. Sekret yang
dihasilkan dapat encer dan bening hingga purulent berwarna kuning kental kehijauan.
Penyebabnya adalah virus dan bakteri yang terkandung di udara lalu masuk melalui hidung
atau mulut. Apabila imunitas sedang turun maka kuman yang terdapat pada rongga tersebut
dapat mengiritasi dan menimbulkan infeksi ditandai dengan rasa gatal pada hidung dan
tenggorokan, terbentuknya sekret yang merangsang mekanisme pertahanan tubuh yaitu batuk.
Pengobatan pada pasien ini terutama sekali adalah menghindari makan sembarangan,
makan makanan yang bergizi guna memperbaiki sistem imun tubuh, banyak minum air putih,
dan minum obat berupa antipiretik yaitu parasetamol tablet, antibiotik yaitu amoksisilin
tablet, dan obat batuk yaitu ambroksol tablet sesuai dosis mengikut berat badan. Pada pasien
ini diberikan antibiotik karena melihat sekret yang dikeluarkan sudah berwarna kuning
kehijauan yang menandakan adanya infeksi bakteri.

21

DAFTAR PUSTAKA
1. WHO. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang
Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. 2008.
2. DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman Pemberantasan Penyakit
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 1992.
3. Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan. Laporan Program P2 ISPA Dinas Kesehatan
Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar: Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan. 2011
4. Rubin, Michael A, et al. Harrisons Principle of Internal Medicine, USA : McGraw
Hill. 2005.
5. Ditjen P2PL. Pedoman Tatalaksana Pneumonia Balita. Jakarta : Depkes RI. 2007
6. Abdullah. Pengaruh Pemberian ASI terhadap Kasus ISPA pada Bayi Umur 0-4 Bulan.
Tesis Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta. 2003
7. Ditjen P2PL. Pedoman Pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut.
Jakarta : Depkes RI. 2009
8. Machmud, Rizanda. Pneumonia balita di Indonesia dan peranan kabupaten dalam
menanggulanginya. Andalas University Press. 2006
9. Achamadi, Umar Fahmi. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta : UI
Press.2008
10. Rerung, Ribka. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada Balita di
Lembang Batu Sura. Jurnal FKM Universitas Hasanuddin Makassar. 2008
11. Dahlan Z. Pnuemonia. In : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Editors, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Kedokteran
Universitas Indonesia.
12. Whaley and Wrong. Nursing care of Infant And Childern, Mosby, Inc. Yasir, 2009,
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). 2000

22