Anda di halaman 1dari 7

TRACHOMA

A.

Definisi
Trakoma adalah salah satu bentuk radang konjungtiva (selaput lendir mata)
yang berlangsung lama dan disebabkan oleh Chlamydia Trachomatis. Infeksi ini
menyebar melalui kontak langsung dengan sekret kotoran mata penderita trakoma
atau melalui alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan dan
lain-lain. Penyakit ini sangat menular dan biasanya menyerang kedua mata. Bila
ditangani secepatnya, trakoma dapat disembuhkan dengan sempurna. Namun bila
terlambat dalam penanganannya, trakoma dapat menyebabkan kebutaan.

B.

Etiologi
Trakoma disebabkan oleh chylamidia trachomatis dan menyebar melalui
kontak langsung dengan mata, hidung dan sekresi tenggorokan dari indivivu yang
terkena atau kontak dengan famites (benda mati), seperti handuk dan/atau lap yang
memiliki sama kontak dengan cairan. Lalat juga bisa menjadi rute transmisi mekanis.
Tidak di obat, infeksi trakoma ulang hasil dalam bentuk entropion-menakibatkan
kebutaan permanen jika kelopak mata berblik ke dalam, menyebabkan bulu maa
untuk menggaruk kornea. Anak-anak yang paling rentan terhadap infeksi karena
kecendeerungan mereka untuk dengan mudah menjadi kotor, tetapi efek menyilaukan
atau gejala yang paling parah sering kali tidak terasa sampai dewasa.
Factor yang secara tidak langsung terkait dengan keberadaan trakoma
termasuk kekurangan air, tidak adanya jamban atau toilet, kemiskinan secara umum,
lalat, dekat dengan sapi,berkerumun dan sebagainya. Namun jalur umum akhir
tampaknya hadir wajah-wajah kotor pada anak-anak yang memfasilitasi pertukaran
sering terinfeksi debit mata dari wajah seorang anak yang lain. Kebanyakan transmisi
trakoma terjadi dalam keluarga.

C.

Tanda dan Gejala


Bakteri ini memiliki masa inkubasi 5 sampai 14 hari setelah seseorang
mengalami gejala konjungtivitisatau iritasi mirip dengan mata merah muda.
Endomik kebutaan trakoma merupakan hasil dari beberapa episode terinfeksi yang
menghasilkan peradangan terus menerus pada konjungtiva. Tanpa terinfeksi,
peradangan akan berangsur-angsur mereda. Peradangan konjungtiva disebut

trachoma aktif dan biasanya terlihat pada anak-anak pra sekolah (dasar). Hal ini
ditandai dengan benjolan putih dipermukaan bawa tutup mata atas (conjunctival
folikel atau pusat-pusat germinal limfoid). Non peradangan dan penebalan tertentu
sering dikaitkan dengan papilla. Folikel mungkin juga muncul dipersimpangan kornea
dan skelera (limbal folikel). Trakoma aktif akan sering menjengkelkan dan memiliki
cairan berair. Infeksi sekunder bakteri dapat terjadi dan menyebabkan discharge
purulen.
Perubahan-perubahan structural trakoma disebut sebagai cicatrical
trachoma. Ini termasuk jaringan parut di tutup mata (konjungtiva tarsal) yang
mengarah pada distorsi tutup mata dengan tekuk dari tutup (tarsus) sehingga muncul
bulu mata gosok pada mata (trichiasis). Bulu mata ini akan mengakibatkan kekeruhan
kornea dan bekas luka dan kemudian mengarah ke kebutaan. Bekas luka linear hadir
dalam sulkus subtarsalis disebut garis arlts. selain itu, pembuluh darah dan jaringan
parut dapat menyerang bagian atas kornea (pannus). Lebih lanjut gejala termasuk :
1. Keluarnya cairan kotor dari mata bukan air mata (emisi atau sekresi cairan
2.
3.
4.
5.
6.
7.

yang mengandung lender dan nanah dari mata).


Pembengkakan kelopak mata.
Trichiasis (berbliknya bulu mata)
Pembengkakan kelenjar getah bening didepan telinga
Munculnya garis perubahan pada kornea
Komplikasi pada telinga, hidung dan tenggorokan
Komplikasi utama atau yang paling penting adalah ulkus (luka/iritasi) pada
kornea karena infeksi bakteri.
Untuk pengendalian, WHO telah mengembangkan cara sederhana untuk

menggambarkan penyakit tersebut. Ini mecakup tanda-tanda berikut :


TF

: lima atau lebih folikel pada konjungtiva tarsal superior

TI

: inflitrasi difus dan hipertrofi papilar konjungtiva tarsal superior yang


sekurang-kurangnya menutupi 50% pembuluh profunda normal

TS

: parut konjungtiva trakomatosa

TT

: trikiasis atau entrepion (bulu mata terbalik ke dalam)

CO

: kekeruhan kornea

Adanya TF dan TI menunjukan suatu traukoma infeksiosa aktif dan harus


diobati. TS adalah bukti kerusakan akibat penyakit ini. TT berpotensi membutakan
dan merupaka indikasi untuk tindakan operasi koreksi palpebra. CO adalah lesi
trakoma terakhir, yang membutakan.

D.

PATOFISIOLOGI

Melalui kontak langsung dengan discharge yang keluar dari mata yang terkena
infeksi atau dari discharge nasofaring melalui jari atau kontak tidak langsung dengan
benda yang terkontaminasi, seperti handuk, pakaian dan benda-benda lain yang
dicemari discharges nasofaring dari penderita. Lalat terutama musca sorbens di afrika
dan timur tengah dan spesies jenis hippelates di amerika bagian selatan, ikut berperan
pada penyebaran penyakit. Pada anak-anak yang menderita trachoma aktif,
chylamidia dapat ditemukan dari nasofaring dan rectum. Namun didaerah endemis
untuk serovarian dari trachoma tidak ditemukan reservair genital.
Masa inkubasi sukar ditentukan karena timbulnya penyakit ini adalah lambat.
Penyakit ini termasuk penyakit mata yang sangat menular.
Gambaran kliniknya dibagi atas 4 stadium:
1. Stadium I; disebut stadium insipient atau stadium permulaan, didapatkan terutama
folikel di konjungtiva tarsal superior, pada konjungtiva tarsal inferior juga terdapat
folikel, teapi ini tidak merupakan gejala khas trakoma. Pada kornea di daerah
limbus superior terdapat keratitis pungtata epitel dan sub epitel. Kelainan kornea
lebih jelas apabila diperiksa dengan melakukan tes fluoresin, dimana akan terlihat
titik-titik hijau pada defek kornea.
2. Stadium II; disebut stadium established atau nyata, didapatkan folikel-folikel di
konjngtiva tarsal superior, beberapa folikel sudah matur berwarna lebih abu-abu.
Pada kornea selain keratitis pungtata superficial, juga terlihat adanya
neovaskularisasi, yaitu pembuluh darah baru yang berjalan dari limbus ke arah
kornea bagian atas. Susunan kreatitis pungtata superficial dan neovasikularisasi
tersebut dikenal sebagai panus.
3. Stadium III; disebut stadium parut, dimulai terbetuknya sikatriks pada folikel
konjungtiva tarsal superior yang terlihat sebagai garis putih halus. Pannus pada
kornea lebih nyata. Tidak jarang pada stadium ini masih terlihat trikiasis sebagai
penyakit. Pada stadium ini masih dijumpai folikel pada konjungtiva tarsal
superior.
4. Stadium IV; disebut stadium penyembuhan. Pada stadium ini, folikel pada
konjungtiva tarsal superior tidak ada lagi, yang ada hanya sikatriks. Pada kornea
bagian atas pannus tidak aktif lagi. Pada stadium ini dijumpai komplikasikomplikasi seperti entropion sikatrisiale, yaitu pinggir kelopak mata atas
melengkung kedalam disebabkan sikatriks pada tarsus bersamaan dengan
enteropion, bulu-bulu mata letaknya melengkung kedalam menggosok bola mata
(trikiasis). Bulu mata demikian dapat berakibat kerusakan pada kornea, yang

mudah terkena infeksi sekunder, sehingga mungkin terjadi ulkus kornea, apabila
penderita tidak berobat, ulus kornea dapat menjadi dalam dan akhirnya timbul
perforasi.
E.

Penatalaksanaan
Perbaikan klinik mencolok umumnya dicapai dengan tetracycline,1-1,5 g/ hari
per os dalam empat dosis selama 3-4 minggu ; doxycycline,100 mg per os 2 kali
sehari selama 3 minggu; atau erythromycin, 1 g / hari per os dibagi dalam empat dosis
selama 3-4 minggu. Kadang-kadang diperlukan beberapa kali pengobatan agar benar
benar sembuh. Tetracycline sistemik jangan diberi pada anak dibawah umur 7 tahun
atau untuk wanita hamil. Karena tetracycline mengikat kalsium pada gigi yang
berkembang dan tulang yang tumbuh dan dapat berakibat gigi permanen menjadi
kekuningan dan kelainan kerangkan (mis, clavicula). Salep atau tetes topikal,
termasuk preparat sulfonamide, tetracycline, erythromycin dan rifampin, empat kali
sehari selama enam minggu, sama efektifnya. Saat mulai terapi, efek maksimum
biasanya belum dicapai selama 10 12 minggu. Karena itu, tetap adanya folikel pada
trasesus superior selama beberapa minggu setelah terapi berjalan jangan dipakai
sebagai bukti kegagalan terapi. Koreksi bulu mata yang membalik kedalam melalui
bedah adalah esensial untuk mencegah parut trachoma lanjut di Negara berkembang.
Tindakan bedah ini kadang kadang dilakukan oleh dokter bukan ahli mata atau orang
yang dilatih kusus

F. Komplikasi
Parut di konjungtiva adalah komplikasi yang sring terjadi pada trachoma dan
dapat merusak duktuli kelenjar lakmal tambahan dan menutupi muara kelejar
lakrimal.hal ini secara drastis mengurangi komponen air dalam film air mata prekornea, dan komponen mukus film mungkin berkurang karena hilangnya sebagian sel
goblet. Luka parut itu juga mengubah bentuk palpebra superior dengan membalik
bulu mata kedalam (trikiasis) atau seluruh tepian palpebra (entropian), sehingga bulu
mata terus menerus menggesek kornea, ini berakibat ulserasi pada kornea,infeksi
bacterial kornea, dan parut pada kornea. Ptosis , obstrusi doktus nasolakrimalis, dan
dakriosistitis adalah komplikasi umum lainnya pada trachoma.