Anda di halaman 1dari 9

A.

Muffler
Muffler adalah bagian knalpot yang berfungsi untuk mendinginkan gas
buang dan mengurangi tekanan yang ditimbulkan dari pembakaran antara udara
dan bahan bakar pada ruang bakar suatu kendaraan. Gas buang yang dihasilkan
dari proses pembakaran pada ruang bakar engine memilki temperatur 600-800 oC.
Besaran panas ini bisa mencapai 34% dari energi panas yang dihasilkan oleh
mesin. Sedangkan tekanan yang ditimbulkan dari proses pembakaran juga tinggi,
yaitu sekitar 3-5 kg/cm2. Jika gas buang dengan tekanan yang tinggi tersebut
langsung dibuang ke udara luar, maka gas akan langsung mengembang dan
menyebabkan timbulnya ledakan. Muffler yang baik harus dapat mengalirkan
debit gas buang secara optimum namun mampu meredam presure wave dengan
optimum. Aliran gas buang dan pressure wave adalah hal yang berbeda. Dimana
aliran gas buang memiliki debit/flow yang harus selancar mungkin terbuang ke
atmosfir, sedangkan pressure wave adalah gelombang tekanan yang mana bila
berbenturan langsung dengan atmosfir akan menimbulkan suara tumbukan yang
keras, inilah yang menghasilkan suara pekak.
Muffler merupakan saluran untuk melepas gas buang hasil pembakaran ke
lingkungan luar. Selain itu, muffler juga berfungsi sebagai peredam suara dan
menghilangkan percikan api. Karakter suara yang dihasilkan muffler sangat
tergantung oleh ukuran dan material dari muffler tersebut. Kebanyakan orang
salah kaprah dalam melakukan peredaman suara dengan menggunakan hal yang
justru mereduksi kemampuan mengalirnya flow tersebut. Inilah yang membuat
power mesin seperti kurang bertenaga dan boros, yaitu karena flow yang tertahan
membuat CO2 yang seharusnya terbuang ke atmosfir menjadi tertahan di dalam
ruang bakar. Ada pula yang ingin mengatasi kurang bertenaganya mesin tersebut
dengan membuat muffler yang mampu mengalirkan flow sebesar besarnya, namun
lupa bahwa flow yang jauh melebihi kebutuhan mesin bisa memiliki area yang
terlalu besar dan menghasilkan air velocity yang rendah dan lemah, alhasil torsi
yang dihasilkan menjadi berkurang dan juga boros. Di bawah ini adalah salah satu

contoh muffler straight thru atau dikenal dengan muffler freeflow dan bagianbagian yang perlu diketahui.

Gambar. Muffler straight thru


1. Inner pipe adalah jalur dimana aliran gas buang mengalir di dalamnya. Di
dalam terdapat lubang-lubang kecil (perforated). Penentuan diameter inlet
pipe dan perforated tersebut sangat berpengaruh terhadap performa
kendaraan dan juga karakteristik suara yang dihasilkan. Diameter inlet
yang terlalu kecil dapat membuat mesin susah untuk melepaskan debit gas
buang ke atmosfir bebas, namun diameter yang terlalu besar sebaliknya
dapat mengurangi kecepatan aliran udara yang mengarah keluar. Apabila
perforated pada bagian Inlet pipe memiliki jarak yang renggang maka
jumlahnya akan sedikit, dan hal ini membuat efek peredaman suara
menjadi berkurang, namun dapat menyalurkan pembuangan dengan lebih
baik. Sebaliknya, bila jaraknya rapat dan jumlahnya menjadi lebih banyak,
peredaman suara dapat terjadi secara lebih optimum, namun penyaluran
pembuangan menjadi berkurang. Diameter perforated memiliki karakter
tersendiri, bila terlalu besar maka aliran gas buang menjadi turbulen, hal
ini tidak baik bagi kelancaran proses pembuangan. Sebaliknya diameter
perforated yang kecil dapat menghasilkan aliran gas buang yang laminer.

Semakin kecil maka aliran gas buang akan semakin laminer, menjadikan
lancarnya proses pembuangan, namun proses peredaman menjadi
berkurang.
2. Sound insulation chamber adalah ruang tempat bahan peredam suara
berada. Di sini merupakan tempat penyerapan suara pekak dari gas buang
yang keluar. Semakin besar volume chamber semakin baik pula
peredaman suaranya. Peredaman suara juga dibantu oleh glasswool yang
terdapat pada sound insulation chamber. Material glasswool yang baik
harus tahan terhadap panas, hal ini karena glasswool berhadapan langsung
dengan panas gas buang yang dihasilkan oleh mesin. Proses pengisian
glasswool juga dapat mempengaruhi tenaga mesin karena glasswool yang
terlalu longgar pada area yang bersentuhan langsung dengan inlet pipe
akan membuat lolosnya exhaust flow kedalam chamber menjadi
berlebihan. Hal ini juga membuat flow menjadi turbulen. Glasswool
seharusnya memiliki kerapatan yang tinggi pada bagian yang bersentuhan
dengan inlet pipe agar mencegah terjadinya aliran yang turbulen.
Glasswool seharusnya juga memiliki kerapatan lebih rendah pada bagian
yang mengarah pada housing agar dapat meredam pressure wave yang
membawa suara.
B. Polusi
Polusi atau pencemaran udara berdasarkan Undang-Undang Nomor 23
tahun 1997 pasal 1 ayat 12 mengenai Pencemaran Lingkungan, yaitu pencemaran
yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran yang berasal dari
pabrik, kendaraan bermotor, pembakaran sampah, sisa pertanian, dan peristiwa
alam seperti kebakaran hutan, letusan gunung api yang mengeluarkan debu, gas,
dan awan panas. Menurut Peraturan Pemerintah RI nomor 41 tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara, pencemaran udara adalah masuknya atau
dimasukkannya zat, energi, dari komponen lain ke dalam udara ambien oleh
kegiatan manusia, sehingga mutu udara turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya. Sedangkan

berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 1407 tahun 2002 tentang


Pedoman Pengendalian Dampak Pencemaran Udara, pencemaran udara adalah
masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam
udara oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara turun sampai ke tingkat
tertentu yang menyebabkan atau mempengaruhi kesehatan manusia. Selain itu,
pencemaran udara dapat pula diartikan adanya bahan-bahan atau zat asing di
dalam udara yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi udara dari
susunan atau keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing tersebut di
dalam udara dalam jumlah dan jangka waktu tertentu akan dapat menimbulkan
gangguan pada kehidupan manusia, hewan, maupun tumbuhan (Wardhana, 2004).
Menurut Harssema dalam Mulia (2005), pencemaran udara diawali oleh
adanya emisi. Emisi merupakan jumlah polutan atau pencemar yang dikeluarkan
ke udara dalam satuan waktu. Emisi dapat disebabkan oleh proses alam maupun
kegiatan manusia. Emisi akibat proses alam disebut biogenic emissions,
contohnya yaitu dekomposisi bahan organic oleh bakteri pengurai yang
menghasilkan gas metan (CH4). Emisi yang disebabkan kegiatan manusia
disebutan thropogenic emissions. Contoh anthropogenic emissions yaitu

hasil

pembakaran bahan bakar fosil, pemakaian zat kimia yang disemprotkan ke udara,
dan sebagainya. Nugroho (2005) menyebutkan sumber pencemaran udara dengan
istilah factor internal dan eksternal. Faktor internal terjadi secara alamiah,
sedangkan factor eksternal merupakan pencemaran udara yang diakibatkan oleh
ulah manusia. Sumber pencemaran udara dapat pula dibagi menjadi 2, yaitu: 1)
sumber bergerak, seperti kendaraan bermotor dan 2) sumber tidak bergerak.
Sumber tidak bergerak sendiri ada 2, yaitu: 1) sumber titik, seperti cerobong asap
dan 2) sumber area, seperti pembakaran terbuka di wilayah pemukiman.
DAMPAK EMISI KENDARAAN BERMOTOR
Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat pencemar udara yang
memberikan dampak negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia, serta
lingkungan hidup. Sumber pencemar ini juga menimbulkan dampak terhadap
lingkungan atmosfer yang lebih besar seperti hujan asam, kerusakan lapisan ozon

stratosfer, dan

perubahan iklim global. Zat-zat yang

diemisikan dari

knalpot kendaraan bermotor adalah CO2, CO, NOx, HC, SOx, PM10, dan Pb (dari
bahan bakar yang mengandung timah hitam/timbal). Hasil kajian

terdahulu

seperti The Study on the Integrated Air Quality Management for Jakarta
Area (JICA, 1997) dan Integrated Vehicle Emission Reduction
Greater

Jakarta (ADB,

2002)

menyimpulkan

Strategy

for

bahwa sektor transportasi

memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencemaran udara perkotaan


(Suhadi, 2005). Dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh sektor transportasi
berdasarkan zat pencemar antara lain:
Karbon Monoksida (CO)
Keracunan gas monoksida (CO) dapat ditandai dari keadaan ringan, berupa
pusing, sakit kepala, dan mual. Keadaan yang lebih berat berupa menurunnya
kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskuler, serangan jantung
hingga kematian. Karakteristik biologik yang paling penting dari CO adalah
kemampuannya untuk berikatan dengan haemoglobin, pigmen sel darah merah
yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Sifat ini menghasilkan pembentukan
karboksi haemoglobin (HbCO) yang 200 kali lebih stabil

dibandingkan oksi

haemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif lambat menyebabkan


terhambatnya

kerja

molekul

sel pigmen

tersebut

dalam

fungsinya

membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat serius,
bahkan fatal, karena dapat menyebabkan keracunan. Selain itu, metabolisme otot
dan fungsi enzim intra-seluler juga dapat terganggu dengan adanya ikatan CO
yang stabil tersebut. Dampak keracunan CO sangat berbahaya bagi orang yang
telah menderita gangguan pada otot jantung atau sirkulasi darah periferal yang
parah (Depkes). Namun, dampak dari CO juga bervasiasi tergantung dari status
kesehatan seseorang pada saat terpajan. Pada beberapa orang yang berbadan
gemuk dapat mentolerir pajanan CO sampai kadar HbCO dalam darahnya
mencapai 40% dalam waktu singkat. Tetapi seseorang yang menderita sakit
jantung atau paru-paru akan menjadi lebih parah apabila kadar HbCO dalam
darahnya sebesar 510%. CO juga bisa mempengaruhi janin. Pengaruh terhadap
janin pada prinsipnya adalah karena pajanan CO pada kadar tinggi dapat

menyebabkan kurangnya pasokan oksigen pada ibu hamil yang konsekuensinya


akan menurunkan tekanan oksigen di dalam plasenta dan juga pada janin dan
darah. Hal ini dapat menyebabkan kelahiran prematur atau bayi lahir dengan berat
badan lebih rendah dibandingkan keadaan normal (Tugaswati).
Nitrogen Oksida (NOx)
Kedua bentuk nitrogen oksida, NO dan NO 2, sangat berbahaya
bagi manusia. Namun, penelitian aktivitas mortalitas kedua komponen tersebut
menunjukkan bahwa NO 2 empat kali lebih berbahaya dibanding NO
(Fardiaz,1992). NO2 merupakan gas yang toksik bagi manusia dan pada umumnya
gas ini dapat menimbulkan gangguan sistem pernapasan. NO2 dapat masuk ke
paru-paru dan membentuk Asam Nitrit (HNO 2) dan Asam Nitrat (HNO3) yang
merusak jaringan mukosa (Mulia, 2005). NO 2 dapat meracuni paru-paru. Jika
terpapar NO2 pada kadar 5 ppm setelah 5 menit dapat menimbulkan sesak nafas
dan pada kadar 100 ppm dapat menimbulkan kematian (Chahaya, 2003).
Gangguan sistem pernapasan yang terjadi dapat menjadi empisema. Bila
kondisinya kronis dapat berpotensi menjadi bronkitis serta akan terjadi
penimbunan nitrogen oksida (NOx) dan dapat menjadi sumber karsinogenik atau
penyebab timbulnya kanker (Sunu, 2001).
Belerang Oksida (SOx)
Gas SO2 yang ada di udara dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan
dan kenaikan sekresi mukosa. Dengan konsentrasi 500 ppm SO 2 dapat
menyebabkan kematian pada manusia. Pencemaran SO2 yang cukup tinggi telah
menimbulkan malapetaka yang cukup serius seperti yang terjadi di lembah sungai
Nerse Belgia pada tahun 1930. Pada saat itu, kandungan SO 2 di udara mencapai
38 ppm dan menyebabkan toksisitas akut. Selain berpengaruh terhadap kesehatan
manusia, SO2 juga berpengaruh terhadap tanaman dan hewan. Pengaruh SO 2
terhadap hewan hampir menyerupai pengaruh SO2 terhadap manusia. Sedangkan
pada tumbuhan, SO2 dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna pada daun
dari hijau menjadi kuning atau terjadinya bercak-bercak putih pada daun tanaman
(Sugiarta, 2008).

Hidrokarbon (HC)
Hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa HC
pada konsentrasi

udara

ambien

memberikan

pengaruh

langsung

yang

merugikan manusia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap hewan dan


manusia diketahui bahwa hidrokarbon alifatik dan alisiklis memberikan pengaruh
yang tidak diinginkan kepada manusia hanya pada konsentrasi beberapa ratus
sampai beberapa ribu kali lebih tinggi daripada konsentrasi yang terdapat di
atmosfer (Fardiaz, 1992).
Partikel
Pengaruh partikel debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara
sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikel debu yang membahayakan
kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10 mikron. Pada
umumnya ukuran partikel debu sekitar 5 mikron merupakan partikel udara yang
dapat langsung masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Namun,
bukan berarti bahwa ukuran partikel yang lebih besar dari 5 mikron
tidak berbahaya karena partikel yang lebih besar dapat mengganggu saluran
pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi. Keadaan ini akan lebih
bertambah parah apabila terjadi reaksi sinergistik dengan gas SO 2 yang terdapat di
udara juga. Selain dapat berpengaruh negative terhadap kesehatan, partikel debu
juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan
berbagai reaksi kimia di udara (Depkes). Partikel udara dalam wujud
padat yang berdiameter kurang dari 10 m yang biasanya disebut dengan PM10
(particulate matter) diyakini oleh para pakar lingkungan dan kesehatan masyarakat
sebagai pemicu timbulnya infeksi saluran pernafasan, karena partikel padat PM10
dapat mengendap pada saluran pernafasan daerah bronki dan alveoli. PM10
sangat memprihatinkan karena memiliki kemampuan yang lebih besar untuk
menembus ke dalam paru. Sedangkan rambut di dalam hidung hanya dapat
menyaring debu yang berukuran lebih besar dari 10 m (Agusgindo, 2007).

C. Sansevieria
Sansevieria atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan tanaman
lidah

mertua

merupakan

marga

tanaman

hias

yang

cukup

populer

sebagai penghias bagian dalam atau luar rumah karena tanaman ini dapat tumbuh
dalam kondisi yang sedikit air dan cahaya matahari serta salah satu tanaman yang
mudah perawatannya. Ia tidak takut matahari dan mudah beradaptasi dengan
berbagai tipe tanah. Sansevieria dapat dijadikan tanaman hias karena mempunyai
bentuk beragam, tampilan yang cantik, variasi warna dan corak daun
yang tinggi, misalnya dijadikan pajangan dimeja maupun dalam ruangruang

tertentu. Sansevieria memiliki daun keras, sukulen, tegak, dengan ujung

meruncing. Selain sebagai tanaman hias sansevieria juga mempunyai manfaat


sebagai penyerap 107 jenis polutan di daerah padat lalu lintas dan ruangan yang
penuh asap rokok. Manfaat lainnya selain digunakan sebagai tanaman
hias

atau dimanfaatkan

dimanfaatkan

sebagai

pagar

rumah,

tanaman

ini

juga

serat tanamannya sebagai bahan pembuat kain dan kreasi

anyaman, sebagai bahan parfum di beberapa negara maju, dan dijadikan bahan
obat diantaranya: 1) getah digunakan sebagai obat antiseptic, 2) akar dapat
dimanfaatkan sebagai penyegar rambut/tonik dan obat wasir.
PERAN SANSIEVIERA SEBAGAI ANTI POLUTAN
Sansevieria sangat tahan terhadap polutan dan bahkan dapat menyerapnya,
udara kotor karena polusi mampu diserapnya, begitu pula dengan asap rokok dan
hasil pembakaran, radiasi dari berbagai peralatan elektronik seperti komputer,
televisi, handphone, juga perlengkapan yang memanfaatkan gelombang cahaya
dan elektromagnetik mampu diminimalisir sehingga tidak berbahaya lagi bagi
kesehatan. Sansevieria juga mampu bertahan hidup pada rentang suhu dan cahaya
yang luas, dan mampu bertahan hidup dalam suhu yang extrem sekalipun, disaat
tanaman lain tidak dapat bertahan hidup. Sansevieria merupakan jenis tanaman
dengan tingkat penyerapan paling tinggi dan selalu mengeluarkan zat O 2 tanpa
menghasilkan zat CO2 sehingga cocok ditaruh di dalam ruangan. Sansevieria
mampu menyerap 107 polutan diudara. Ini berkat kandungan bahan aktif Pregnan

Glikosida yang disinyalir dapat menyerap dan menguraikan polutan menjadi asam
organik, gula, dan beberapa senyawa asam amino. Cara kerjanya polutan diserap
dan dihancurkan melalui proses yang disebut dengan Metabolik Breakdown.
Penelitian yang dilakukan NASA selama 25 tahun menunjukkan bahwa
sansevieria mampu menyerap lebih dari 107 unsur polutan berbahaya yang ada di
udara

sebab

sansevieria

mengandung

bahan

aktif

pregnane

glikosid,

yang berfungsi untuk mereduksi polutan menjadi asam organic, gula dan asam
amino, dengan demikian unsur polutan tersebut jadi tidak berbahaya lagi bagi
manusia. Perlu diketahui penyakit yang ditimbulkan oleh polutan sebagian besar
adalah penyakit berat dengan resiko kematian tinggi. Sansivera juga menjadi
objek penelitian tanaman penyaring udara NASA untuk membersihkan udara di
stasiun ruang angkasa. Berdasarkan

riset

dari

Wolfereton

Environmental

Service, kemampuan setiap helai daun sansevieria bisa menyerap 0.938


mikrogram per jam formalheid. Bila disetarakan dengan ruangan berukuran 75
meter persegi cukup diletakkan sansevieria dengan 4 helai daun saja. Maka rumah
dengan ukuran luas 200 meter persegi sebenarnya hanya memerlukan sansevieria
sebanyak 2 pot saja. Tidak terlalu rumit jika dibandingkan dengan harus
menyediakan AC plasma Cluster yang tetap tidak bisa menyerap radiasi dan
mereduksi polutan. Jadi sansivera sangat baik diletakkan pada lokasi yang banyak
polutan dan sumber radiasi seperti di smoking area, lokasi padat kendaraan,
daerah padat penduduk atau di dekat peralatan elektronik.