Anda di halaman 1dari 28

Peran Masyarakat dalam Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Peranan pendidikan dalam kemajuan suatu bangsa dan masyarakat merupakan hal yang
sangat penting.Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang harus selalu
ditingkatkan dan dijaga mutunya. Jika mutu pendidikan rendah, maka akan berdampak
pada ketidaktepatan investasi pendidikan, bahkan dapat menimulkan pula masalah
social baru ke depannya.(Furqon,2007)
Pendidikan dikatakan sebuah investasi jangka panjang karena dapat menghasilkan insaninsan terdididk yang akan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Hal ini senada
dengan pendapat Alfian,(2008) bahwa pendidikan adalah lahan untuk mencetak insaninsan terdidik yang akan membawa perubahan bagi kehidupan manusia(dengan ilmu
pengetahuan yang dimilikinya, tentunya). Dengan pendidika, manusia dapat memahami
hakikat diri dan akhirnya mmpu melaksanakan tugas di dunia sebagai khalifah atau
pengelola sumber daya di dunia ini.
Untuk menngkatkan mutu dan kualitas pendidikan selain dengan meningkatkan kualitas
pengajar melalui sertifikasi guru, juga dapat dilakukan melalui penilaian hasil belajar
siswa. Adapun cara penilaian hasil belajar, dapat berupa penilaian kelas, kenaikan kelas,
dan ujian akhir satuan pendidikan.
Hasil belajar siswa data dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya factor internal,
yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri dan factor eksternal,
yaitu faktor-faktor yang bersumber dari luar diri siswa, misalnya factor lingkungan, baik
lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaiman pengembangan pendidikan di Indonesia?
2. Apa bentuk aktualisasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan?
3. Bagaimana peran masyarakat dalam pendidikan?
BAB I I
PEMBAHASAN
1. Pengembangan Pendidikan di Indonesia
Secara singkat pendidikan merupakan produk dari masyarakat. Pendidikan tidak lain
merupakan proses tranmisi pengetahuan , sikap, kepercayaan, ketrampilan dan
aspekperilaku-perilaku lainnya kepada generasi kegenerasi. Dengan pengertian
tersebut,sebenarnya upaya diatas sudah dilakukan sepenuhnya oleh kekuatan-kekuatan
masyarakat. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari adalah hasil dari hubungan kita
dengan orang lain,baik dirumah, sekolah, tempat bermain, pekerjaan dan lainnya.
Dengan kata laindimanapun kita berada kita pasti akan belajar dan mendapatkan ilmu
pengetahuan. Bagi suatu masyarakat, hakikat pendidikan diharapkan mampu berfungsi
menunjang kelangsungan kemajuan hidupnya, agar masyarakat itu dapat melanjutkan
eksistensinya,maka diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, ketrampilan dan bentuk tata

perilaku lainnya bagi generasi muda. Tiap masyarakat selalu berupaya meneruskan
kebudayaannya dengan proses adaptasi tertentu sesuai coraknya masing-masing
periode zamannya kepada generasi muda melalui pendidikan atau secara khusu melalui
interaksi social. Dengan demikian fungsi pendidikan tidak lain adalah sebagai proses
sosialisai {Nasution : 1999}.
Dalam pengertian sosialisasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa aktifitas pendidikan
sebenarnya sudah dimulai sejak ia dilahirkan kedunia yaitu keluarga. Didalam
keluargalah anak pertama menerima pendidikan dan pendidikan yang diperoleh dalam
keluarga ini merupakan pendidikan utama atau terpenting terhadap perkembangan
pribadi anak.Pada didalam kehidupan keluarga memberi corak pola kepribadian anak
yang hidup di dalam keluarga. Alam keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama
sejak timbulnya adapt kemanusiaan hingga sekarang, hidup keluarga itu selalu
mempengaruhi bertumbuhnya budi pekerti dari tiap-tiap manusia { Dewantara dalam
Suwarno, 1972 : 72}.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri pula ternyata masyarakat dunia secara global telah
ikut mempengaruhi iklim pendidikan. Pengaruh modernisasi di berbagai sektor kehidupan
telahmelahirkan karakter pendidikan yang hampir sama di seluruh dunia, memiliki
mempunyai ciri khas tertentu di tiap- tiap Negara. Dalam masyarakat yang sudah maju,
proses pendidikan sebagian dilaksanakan dalam lembaga pendidikan yang disebut
sekolah danpendidikan dalam lembaga tersebut merupakan suatu kegiatan yang lebih
teratur dan terdeferensiasi.Inilah pendidikan formal yang biasa dikenal oleh
masyarakatsebagaiSchooling { Tilaar : 2003 }. Perkembangan teknologi dan informasi
menyebabkan peranan sekolah sebagai lembagapendidikan akan mulai tergeser. Sekolah
tidak lagi menjadi satu-satunya pusatpembelajaran karena aktivitas belajar tidak lagi
terbatasi oleh ruang dan waktu. Peran gurutidak akan menjadi satu-satunya sumber
belajar karena banyak sumber belajar daninformasi yang mampu memfasilitasi orang
untuk belajar. Oleh karena itu aktualisasipartisipasi masyarakat dalam pengembangan
pendidikan sangat diperlukan.
2. Aktualisasi Masyarakat Dalam Pengembangan Pendidikan
Bentuk aktualisasi dan pernyataan penyadaran diri masyarakat secara kolektif dapat
berupa partisipasinya dalam proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan
kebutuhan dirinya dan kelompoknya dalam komunitas yang melingkupinya. Cara-cara
kolektif berpartisipasi dalam bermasyarakat bisa teraktualisasikan dalam bentuk
musyawarah dan juga terbentuknya institusi lokal oleh masyarakat itu sendiri.
Musyawarah adalah sebuah pendekatan kultural khas Indonesia yang dapat dimasukkan
dalam proses ekplorasi kebutuhan dan identifikasi masalah. Musyawarah juga
merupakanbentuk sarana untuk meningkatkan rasa partisipasi dan rasa memiliki atas
keputusan danrencana pembangunan. Musyawarah dapat merupakan cara analisis
kebutuhan dan tidak sekedar keinginan yang bersifat superfisial demi pemenuhan
kebutuhan sesaat. Oleh karena itu pemilihan orang-orang yang mewakili sebagai peserta
musyawarah untuk suatu keperluan seperti merumuskan kebutuhan masyarakat
haruslah benar-benar yang mampu menyalurkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya.

Langkah lain dalam proses partisipasi masyarakat itu adalah pembentukan kelompok.
Melalui kelompok akan dibina solidaritas kerjasama, musyawarah, rasa aman dan
percaya kepada diri sendiri { Karsidi : 2001 }. Salah satu cara yang efektif untuk
membentuk kelompok adalah melalui pendekatan kepentingan yang sama secara
primordial. Dalam kelompok primordial itu, para anggota kelompok akan memperoleh
referensi yang sama, Dengan bertolakbelakang dari kelompok primordial, maka para
anggota akan merasakan adanya hal-hal baru jika mereka bersedia membandingkannya
dengan situasi lama. Ini akan menimbulkan keasyikan dan motivasi sendiri. Melalui
kelompok, para anggota akanmenyusun program, bekerja secara sistematis serta bisa
merasakan adanya perkemabangan dan kemajuan sebagai hasil kegiatan mereka.
Pada dasarnya, partisipasi masyarakat telah terjadi di sekolah dalam praktik
penyelenggaraan musyawarah maupun pembentukan institusi lokal.2 jenis kebijakan
pemerintah tentang MBS disekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah serta Majelis
Wali Amanah di perguruan tinggi BHMN adalah contoh dari bentuk perwujudan
mekanisme dan struktur kelembagaan untuk menyalurkan partisipasi masyarakat dalam
pengembangan pendidikan.
Cara untuk penyaluran partisipasi dapat diciptakan dengan berbagai variasi cara sesuai
dengan kondisi masing-masing wilayah atau tempat komunitas masyarakat dan lembaga
pendidikan itu berada. Kondisi ini menuntut kesiapan para pemegang kebijakan dan
manajer pendidikan untuk mendistribusi peran dan kekuasaannya agar bisa menampung
sumbangan partisipasi masyarakat.Sebaliknya dari pihak masyarakat juga harus belajar
untuk kemudian bisa memiliki kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam
pengembangan pendidikan.
Sebagai contoh adalah tanggungjawab dunia usaha/ industri. Mereka tidak bisa tinggal
diam menunggu dari suatu lembaga pendidikan/ sekolah sampai dapat meluluskan
alumninya, lalu menggunakannya jika menghasilkan output yang baik dan mengkritiknya
jika terdapat output yang tidak baik. Partisipasi dunia usaha/ industri terhadap lembaga
pendidikan harus ikut bertanggungjawab untuk menghasilkan output yang baik sesuai
dengan rumusan harapan bersama. Demukian juga kelompok masyarakat lain, termasuk
orangtua siswa. Dengan cara demikian, maka mutu pendidikan dalam suatu lembaga
pendidikan menjadi tanggungjawab bersama antara lembaga pendidikan dan komponenkomponen lainnya dimasyarakat.
Tanggungjawab Negara terhadap pengembangan pendidikan bukan bermaksud untuk
mengurangi tanggungjawab pemerintah sebagai penyelenggara Negara dalam bidang
pendidikan. Sebagaimana diamanatkan oleh UU Sisdiknas 2003 bahwa pemerintah dan
pemerintah daerah juga berhak mengarahkan, membimbing, membantu dan mengawasi
penyelenggaraan pendidikan serta berkewajiban memberikan layanan dan kemudahan
penyelenggaraan pendidikan yang bermutu bagi setiap warga Negara tanpa diskriminasi.
Pemerintah dan pemerinmtahan daerah juga wajib menjamin tersedianya dana guna
terselenggaranya pendidikan bagi setaip warga Negara dari usia 7-15 tahun. Lebih dari
itu, sebenarnya peluang bagi orang tua / warga dan kelompok masyarakat masih
sangatlah luas.
Untuk itu , maka dalam kondisi kualitas layanan dan output pendidikan sedang banyak
dipertanyakan mutu dan relevansinya, maka pemerintah seharusnya memberikan

peluang yang luas bagi partisipasi masyarakat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh
Suryadi Prawirosentono { 2002 : 12 } bahwa ada 6 hal yang bisa mempengaruhi produk
dan salah satunya adalah SDM. SDM kita ibaratkan sebagai kelompok masyarakat, yang
mana bisa membawa pengaruh pendidikan yang ada dalam sebuah Negara.Lebih dari
itu, pemerintah perlu menyusun mekanisme sehingga orang tua dan kelompok-kelompok
masyarakat dapat berpartisipasi secara optimal dalam pengembangan pendidikan di
Indonesia.
3. Peran Masyarakat dalam Pendidikan
Di Negara yang menjunjung tinggi demokrasi, diyakini bahwa pemerintah dibuat dari,
oleh, dan untuk rakyat.Kebijaksanaan-kebijaksanaan negaranya, termasuk kebijaksanaan
pendidikannya, sebagai bagian dari perangkat untuk menjalankan pemerintahan di
Negara tersebut, juga berasal dari, oleh, dan untuk rakyat.Selain alasan demokrasi,
kebijaksanaan pendidikan tersebut secara konkrit dimaksudkan untuk memecahkan
masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyat dibidang pendidikan. Rakyat lebih banyak
tahu mengenai masalah mereka sendiri, dan bahkan juga banyak mengetahui
bagaimana cara memecahkannya. Maka, keterlibatan dan partisipasi masyarakat dalam
pelaksanaan kebijaksanaan tersebut, justru memperkukuh pelaksanaan kebijaksanaan
yang dilakukan oleh pelaksana formal.
Pembangunan yang dilakukan oleh Negara termasuk salah satu wujud dari implementasi
kebijaksanaan yang diformulasikan.Bentuk pembangunan tersebut tidak hanya masalah
fisik dan mental, melainkan juga sekaligus pembangunan partisipasi
masyarakat.Partisipasi masyarakat, dengan demikian termasuk bagian atau objek dari
pembangunan itu sendiri. Masyarakat juga dipandang sebaai modal dasar pembangunan,
yang jika digalakkan akan besar sumbangannya terhadap pembangunan. Keterlibatan
mereka dalam melaksanakan kebijaksanaan kebijaksanaan Negara, termasuk
kebijaksanaan pendidikannya, adalah manifestasi dari pemanfaatan dan pendayagunaan
modal dasar pembangunan.Keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan kebijaksanaan,
tidak saja sekadar dipandang sebagai loyalitas rakyat atas pemerintahnya, melainkan
yang juga tak kalah penting adalah sebagai miliknya. Dengan adanya perasaan memiliki
terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan, masyarakat akansemakin banyak sumbangannya
dalam pelaksanaan-pelaksanaan kebijaksanaan, termasuk kebijaksanaan pendidikan.
Masyarakat selaku pengguna jasa lembaga pendidikan memiliki kewajiban untuk
mengembangkan serta menjaga keberlangsungan penyelenggaraan proses pendidikan,
sebagaimana diamanatkan oleh Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20
Tahun 2003 BAB IV yang didalamnya memuat bahwasannya pendidikan merupakan
tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Peran serta
masyarakat / partisipasi masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta
perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha dan organisasi
kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan
pendidikan .selain itu masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana dan
pengguna hasil.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 1992 BAB III pasal 4 peran serta / partisipasi
maysarakat dapat berbentuk:

a) Pendirian dan penyelenggaraan satuan pendidikan pada jalur pendidikan sekolah atau
jalur pendidikan luar sekolah, pada semua jenis pendidikan kecuali pendidikan kedinasan,
dan pada semua jenjang pendidikan di jalur pendidikan sekolah.
b) Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga kependidikan untuk melaksanakan atau
membantu melaksanakan pengajaran, pembimbingan dan/atau pelatihan peserta didik.
c) Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga ahli untuk membantu pelaksanaan
kegiatan belajar-mengajar dan/atau penelitian dan pengembangan.
d) Pengadaan dan/atau penyelenggaraan program pendidikan yang belum diadakan
dan/atau diselenggarakan oleh Pemerintah untuk menunjang pendidikan nasional.
e) Pengadaan dana dan pemberian bantuan yang dapat berupa wakaf, hibah,
sumbangan, pinjaman, beasiswa, dan bentuk lain yang sejenis.
f) Pengadaan dan pemberian bantuan ruangan, gedung, dan tanah untuk melaksanakan
kegiatan belajar-mengajar.
g) Pengadaan dan pemberian bantuan buku pelajaran dan peralatan pendidikan untuk
melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
h) Pemberian kesempatan untuk magang dan/atau latihan kerja.
i) Pemberian bantuan manajemen bagi penyelenggaraan satuan pendidikan dan
pengembangan pendidikan nasional.
j) Pemberian pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan penentuan kebijaksanaan
dan/atau penyelenggaraan pengembangan pendidikan.
k) Pemberian bantuan dan kerjasama dalam kegiatan penelitian dan pengembangan, dan
l) Keikutsertaan dalam program pendidikan dan/atau penelitian yang diselenggarakan
oleh Pemerintah di dalam dan/atau di luar negeri.
Partisipasi merupakan prasyarat penting bagi peningkatan mutu. Partisipasi
merupakanproses eksternalisasi individu, sebagaimana dijelaskan oleh Berger, bahwa
eksternalisasiadalah suatu pencurahan kehadiran manusia secara terus menerus
kedalam dunia, baikdalam aktifitas fisik maupun mental. Pada proses eksternalisasi
menurut Berger, adalahsuatu keharusan karena manusia pada praktiknya tidak bisa
berhenti dari prosespencurahan diri kedalam dunia yang ditempatinya. Manusia akan
bergerak keluarmengekspresikan diri dalam dunia sekelilingnya. Partisipasi sebagai
proses interaksi socialditentukan oleh objektifitas yang ditentukan oleh individu dalam
dunia intersubjektif yangdapat dibedakan oleh kondisi sosiokultural sekolah.
Bagi sekolah partisipasi masyarakat dalam pembangunan pendidikan adalah
kenyataanobjektif yang dalam pemahamannya ditentukan oleh kondisi subjektif orang
tua siswa.Dengan demikian, partisipasi menuntut adanya pemahaman yang sama atau
objektivasi dari sekolah dan orang tua dalam tujuan sekolah. Artinya, tidak cukup
dipahami oleh sekolah bahwa partisipasi sebagai bagian yang penting bagi keberhasilan
sekolah dalam meningkatkan mutu, karena tujuan mutu menjadi sulit diperoleh jika
pemahaman dalam dunia intersubjektif (siswa, orang tua, dan guru) menunjukkan
kesenjangann pengetahuan tentang mutu.Tujuan partisipasi juga meberi peluang secara
luas peran masyarakat dalam bidang pendidikan ini sekaligus menunjukkan bahwa
Negara bukan satu-satunya penyelenggara pendidikan.
4. Bentuk-bentuk Peran Masyarakat dalam Pendidikan.

Desentralisasi pendidikan memerlukan partisipasi masyarakat.Dalam hal ini tujuan


partisipasi sebagai upaya peningkatan mutu pada satuan pendidikan cukup
variatif.Bentuk partisipatif yaitu dalam Manajemen Berbasis Sekolah, partisipasi orang
tua dalam programmutu, komite sekolah, pembiayaan sekolah, mengatasi problem anak,
partisipasi dalamdisiplin sekolah, partisipasi edukatif dalam perspektif siswa dan
partisipasi guru dalamresiliensi sekolah. Bentuk-bentuk partisipasi yang terjadi pada
satuan pendidikan danmasalah yang dihadapi oleh sekolah yang secara umum
dideskripsikan sebagai berikut:
a. Bentuk Partisipasi Masyarakat
b. Bentuk Aktivitas Masalah
c. Partisipasi dalam MBS
1. Pihak masyarakat bermusyawarah dengan sekolah.
2. Pemerintah menyediakan sarana-prasarana sekolah.
3. Komite sekolah berpartisipasi aktif.
4. Pemanfaatan potensi yang ada
5. Masyarakat memiliki gotong royong
Berdasarkan tangga partisipasi belum semua sekolah mampu menggerakkan partisipasi
masyarakat pada tangga yang tertinggi
Partisipasi masyarakat dalam pendidikan
1. Kesiapan SDM secara profesional.
2. Stakeholder mendukung program sekolah.
3. Menghadiri pertemuan sekolah untuk mengetahui perkembangan siswa.
4. Membantu murid belajar
5. Mencari sumber-sumber lain/pendukung untuk memecahkan masalah pendidikan
Belum semua masyarakat, khususnya orang tua pada sekolah menyadari bahwa untuk
terlibat secara aktif dalam pembangunan pendidikan.
5. Hambatan Dalam Mengiktsertakan Masyarakat Dalam Pendidikan.
Deskripsi diatas memberikan gambaran yang lebih empirik bahwa masyarakat pada
dasarnya cenderung berpartisipasi dalam pembangunan pendidikan, tetapi disisi lain
tidak mudah untuk mengajak masyarakat berpartisipasi. Hambatan yang dialami oleh
sekolah untuk mengajak partisipasi masyarakat dalam perbaikan mutu pendidikan
membuktikan, belum sepenuhnya disadari sebagai tanggung jawab bersama.Realitas
tersebut menguatkan asumsi sepenuhnya bahwa partisipasi tidak mudah diwujudkan,
karena ada hambatan yang bersumber dari pemerintah dan masyarakat.
Dari pihak pemerintah, kendala yang muncul dapat berupa:
1. Lemahnya komitmen politik para pengambil keputusan didaerah untuk secara
sungguh-sungguh melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan yang
menyangkut pelayanan public.
2. Lemahnya dukungan SDM yang dapat diandalkan untuk mengimplementasikan
strategi peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelayanan public.
3. Rendahnya kemampuan lembaga legislative dalam mengaktualisasikan kepentingan

masyarakat.
4. Lemahnya dukunngan angggaran, karena kegiatan partisipasi public sering kali hanya
dilihat sebagai proyek, maka pemerintah tidak menjalankan dana secara berkelanjutan
Sedangkan pihak masyarakat, kendala partisipasi muncul karena beberapa hal, antara
lain:
1. Budaya paternalism yang dianut oleh masyarakat menyulitkan untuk melakukan
diskusi cara terbuka.
2. Apatisme karena selama ini masyarakat jarang dilibatkan dalam pembuatan
keputusan oleh pemerintah daerah.
3. Tidak adanya trust masyarakat kepada pemerintah.
Upaya Meningkatkan Masyarakat Dalam Kebijakan Pendidikan.
Pembuatan dan pelasksanaan kebijaksanaan haruslah senantiasa berusaha agar
kebijaksanaan yang digulirkan melibatkan sebangay mungkin partisipasi masyarakat,
terutama dalam hal pelaksanaannya.Inilah perlunya upaya dan rekayasa.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Menawarkan sanksi atas masyarakat yang tidak mau berpartisipasi. Sanksi demikian
dapat berupa hukuman, denda, dan karugian-kerugian yang harus diderita oleh si
pelanggar.
2 .Menawarkan hadiah kepada mereka yang mau berpartisipasi. Hadiah yang demikian
berdasarkan kuantitas dan tingkatan atau derajat partisipasinya.
3. Melakukan persuasi kepada masyarakat dalam kebijaksanaan yang dilalaksanakan,
justru akan menguntungkan masyarakat sendiri, baik dalam jangka pendek maupun
jangka panjang.
4. Menghimbau masyarakat untun turut berpartisipasi melalui serangkaian kegiatan.
5. Mengaitkan partisipasi masyarakat dengan layanan birokrasi yang lebih baik.
6. Menggunakan tokoh-tokoh kunci masyarakat yang mempunyai khalayak banyak untuk
ikut serta dalam kebijaksanaan, agar masyarakat kebanyakan yang menjadi pengikutnya
juga sekaligus ikut serta dalam kebijaksanaan yang diimplementasika.
7. Mengaitkan keikutsertaan masyarakat dalam implementasi kebijaksanaan dengan
kepentingan mereka. Masyarakat memang perlu diyakini, bahwa ada banyak
kepentingan mereka yang terlayani dengan baik, jika mereka berpartisipasidalam
kebijaksanaan.
8. Menyadari masyarakat untuk ikut berpartisipasi terhadap kebijaksanaan yang telah
ditetapkan secara sah tersebut, adalah salah satu dari wujud pelaksanaan dan
perwujudan aspirasi masyarakat.
6. Peranan Masyarakat Dalam Pendidikan
Peran serta Masyarakat (PSM) dalam pendidikan memang sangat erat sekali berkait
dengan pengubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan .ini tentu saja bukan
hal yang ,mudah untuk dilakukan. Akan tetapi apabila tidak dimulai dan dilakukan dari
sekarang, kapan rasa memiliki, kepedulian, keterlibatan, dan peran serta aktif
masyarakat dengan tingkatan maksimaldapat diperolah dunia pendidikan.

1. Norma norma Sosial Budaya


Masyarakat sebagai pusat paendidikan ketiga sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai
sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan
keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya.
Masalah pendidikan di keluarga dan Sekolah tidak bisa lepas dari nilai-nilai sosial budaya
yang dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Setiap masyarakat, dimanapun
berada pasti punya karakteristik sendiri sebagai norma khas di bidang sosial budaya
yang berbeda dengan masyarakat yang lain.
Di Masyarakat terdapat norma-norma yang harus diikuti oleh warganya dan normanorma itu berpengaruh dalam pembentukan kepribadian warganya dalam bertindak dan
bersikap.Dan norma-norma tersebut merupakan aturan-aturan yang ditularkan oleh
generasi tua kepada generasi berikutnya. Penularan-penularan itu dilakukan dengan
sadar dan bertujuan, hal ini merupakan proses dan peran pendidikan dalam masyarakat.
2. Jenis jenis peran serta masyarakat dalam pendidikan
Ada bermacam-macam tingkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan
pendidikan. Yang biasa diklasifikasikan dalam, dimulai dari tingkat terendah ke tingkat
lebih tinggi,yaitu;
Peran serta dengan menggunakan jasa pelayanan yang tersedia. Jenis ini adalah jenis
tingkatan yang paling umum, pada tingkatan ini masyarakat hanya memanfaatkan jasa
sekolah untuk pendidikan anak.
Peran serta secara fasif. Artinya, menyetujui dan menerima apa yang diputuskan
lembaga pendidikan lain , kemudian menerima keputusan lembaga tersebut dan
mematuhinya.
Peran serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Pada jenis ini,
masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sarana dan
prasaranan pendidikan dengan menyumbangkan dana, barang atau tenaga
Peran serta dalam pelayanan. Masyarakat terlibat dalam kegiatan belajar mengajar,
misalnya membantu sekolah dalam bidang studi tertentu.
Peran serta sebagai pelaksana kegiatan yang didelegasikan/dilimpahkan. Misalnya,
sekolah meminta masyarakat untuk memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, dll.
Peran serta dalam pengambilan keputusan. Masyarakat terlibat dalam pembahasan
masalah pendidikan anak , baik akademis maupun non akademis. Dan ikut dalam proses
pengambilan keputusan dalam rencana pengembangan pendidikan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulannya bahwa masyarakat mempunyai peran yang penting dalam terjadinya
proses pendidikan. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari adalah hasil dari hubungan
kita dengan orang lain, baik dirumah, sekolah, tempat bermain, pekerjaan dan lainnya.
Dengan kata lain dimanapun kita berada kita pasti akan belajar dan mendapatkan ilmu
pengetahuan. Bagi suatu masyarakat, hakikat pendidikan diharapkan mampu berfungsi

menunjang kelangsungan kemajuan hidupnya, agar masyarakat itu dapat melanjutkan


eksistensinya,maka diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, ketrampilan dan bentuk tata
perilaku lainnya bagi generasi muda.
B. Saran
Dalam pengumpulan materi pembahasan di atas, tentunya ada banyak kekurangan dan
kesalahan. Oleh karena itu hendaknya pembaca memberikan tanggapan dan tambahan
terhadap makalah kami. Atas perhatiannya kami mengucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Imron, Ali. Kebijaksanaan Pendidikan Di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2002.
Sam M. Chan dan TutiT. Sam. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2005.
Hery Noer Aly dan Munzier Suparta, 2003.Pendidikan Islam Kini Dan Mendatang. Jakarta:
CV. Triasco., Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989: Balai Pustaka.
Prawirosentono, Suryadi, 2002. Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta:
PT. Bumi Aksara.
Suwarno, 1992 . Pengantar Umum Pendidikan. Surabaya.: IKIP. Undang-Undang Sisdiknas
Republik Indonesia. 2003. No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta
: CV Triasco

(Sumber: http://blog.uad.ac.id/muhammad1300001214/2015/01/14/peranmasyarakat-dalam-pendidikan/)

Peran Masyarakat Dalam Peningkatan Mutu Sekolah


/Pendidikan 29 Oktober 2013 23:49:08 Diperbarui: 24 Juni 2015 05:51:31 Dibaca : 8,214
Komentar : 0 Nilai : 0
Masyarakat dan peningkatan mutu sekolah merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan
karena, salah satu prinsip yang ada dalam MBS yaitu adanya Partisipasi/ peran serta
masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah/ pendidikan.
Namun, selama ini peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan
pendidikan masih sangat minim. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada
dukungan dana, sementara dukungan lain seperti pemikiran, moral, dan barang/jasa kurang
diperhatikan oleh karena itu untuk memperbaikinya perlu dilakukan suatu upaya-upaya
perbaikan, salah satunya adalah melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan dengan
melibatkan peran serta masyarakat melalui manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.
Masyarakat memegang peran penting dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan
terutama dalam mendidik moralitas/agama, menyekolahkan anaknya, dan membiayai keperluan
pendidikan anak-anaknya.
Masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan mereka juga mempunyai
kewajiban untuk mengembangkan serta menjaga keberlangsungan penyelenggaraan proses
pendidikan, sebagaimana diamanatkan oleh Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional
Nomor 20 Tahun 2003 BAB IV yang didalamnya memuat bahwasannya pendidikan merupakan
tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Masyarakat juga dapat
terlibat dalam memberikan bantuan dana, pembuatan gedung, area pendidikan, teknis edukatif
seperti proses belajar mengajar, menyediakan diri menjadi tenaga pengajar, mendiskusikan
pelaksanaan kurikulum, membicarakan kemajuan belajar dan lain-lain. Banyak hal yang bisa
disumbangkan dan dilakukan oleh masyarakat untuk membantu terlaksananya pendidikan yang
bermutu, mulai dari menggunakan jasa pelayanan yang tersedia sampai keikutsertaannya dalam
pengambilan keputusan. Peran serta masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah mencakup
seluruh stake holder (orang tua, masyarakat dan komite sekolah)
A. Peran Serta Orang Tua
Orang tua adalah salah satu mitra sekolah yang dapat berperan serta dalam
pembelajaran, perencanaan/pengembangan maupun dalam pengelolaan kelas yang
dapat meningkatkan suatu mutu pendidikan sekolah. Tim Penulis Paket Pelatihan Awal
MBS untuk Sekolah dan Masyarakat (2003 : 2-7) menyatakan terdapat tujuh jenis peran
serta orang tua dalam pembelajaran. Adapun peran tersebut diantaranya yaitu: 1. Hanya
sekedar pengguna jasa pelayanan pendidikan yang tersedia. Misalnya, orang tua hanya
memasukkan anak ke sekolah dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. 2.
Memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga, misalnya dalam pembangunan gedung
sekolah 3. Menerima secara pasif apa pun yang diputuskan oleh pihak yang terkait
dengan sekolah, misalnya komite sekolah 4. Menerima konsultasi mengenai hal-hal yang
terkait dengan kepentingan sekolah. Misalnya, kepala sekolah berkonsultasi dengan
komite sekolah dan orang tua murid mengenai masalah pendidikan, masalah

pembelajaran matematika, dll. Dalam konsep MBS hal yang keempat ini harus selalu
terjadi. 5. Memberikan pelayanan tertentu. Misalnya, sekolah bekerja sama dengan mitra
tertentu seperti Komite Sekolah dan orang tua murid mewakili sekolah bekerjasama
dengan Puskesmas untuk memberikan penyuluhan tentang perlunya sarapan pagi
sebelum sekolah, atau makanan yang bergizi bagi anak-anak. 6. Melaksanakan kegiatan
yang telah didelegasikan atau dilimpahkan sekolah. Sekolah, misalnya, meminta komite
sekolah dan orang tua murid tertentu untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat
umum tentang pentingnya pendidikan atau hal-hal penting lainnya untuk kemajuan
bersama. 7. Mengambil peran dalam pengambilan keutusan pada berbagai jenjang.
Misalnya orang tua siswa ikut serta membicarakan dan mengambil keputusan tentang
rencana kegiatan pembelajaran di sekolah, baik dalam pendanaan, pengembangan dan
pengadaan alat bantu pembelajarannya.
B. Peran serta masyarakat Dalam UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas. Pada Bab XV Pasal
54 dinyatakan bahwa: 1. Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta
perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi
kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. 2.
Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber pelaksana dan pengguna hasil
pendidikan. 3. Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah Bentuk-bentuk
peran serta masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah diantaranya: a. Menggunakan
jasa sekolah b. Memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga c. Membantu anak
belajar di rumah d. Berkonsultasi masalah pendidikan anak e. Terlibat dalam kegiatan
ekstra kurikuler dan f. Pembahasan kebijakan sekolah. Dukungan masyarakat terhadap
peningkatan mutu pendidikan sekolah melibatkan peran serta tokoh-tokoh masyarakat
dan tokoh agama, dunia usaha dan dunia industri, serta kelembagaan sosial budaya.
Penyertaan mereka dalam pengelolaan sekolah hendaknya dilakukan secara integral,
sinergis, dan efektif, dengan memperhatikan keterbukaan sekolah untuk menumbuhkan
rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah. C.
Komite Sekolah Menurut UU RI nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang
tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli
pendidikan. Dari pengertian tersebut, Anda dapat simpulkan bahwa komite sekolah terdiri
atas unsur: orang tua siswa, wakil tokoh masyarakat (bisa ulama/rohaniwan, budayawan,
pemuka adat, pakar atau pemerhati pendidikan, wakil organisasi masyarakat, wakil dunia
usaha dan industri, bahkan kalau perlu juga wakil siswa, wakil guru-guru, dan kepala
sekolah. Tugas utama komite sekolah ialah membantu penyelanggaraan pendidikan di
sekolah dalam kapasitasnya sebagai pemberi pertimbangan, pendukung program,
pengontrol, dan bahkan mediator. Untuk memajukan pendidikan di sekolah, komite
sekolah membantu sekolah dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar,
manajemen sekolah, kelembagaan sekolah, sarana dan prasarana sekolah, pembiayaan
pendidikan, dan mengkoordinasikan peran serta seluruh lapisan masyarakat.
Kedudukannya sebagai mitra sekolah. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah

merupakan: 1. Advisory agency (pemberi pertimbangan) 2. Supporting agency


(pendukung kegiatan layanan pendidikan) 3. Controlling agency (pengontrol kegiatan
layanan pendidikan) 4. Mediator, penghubung, atau pengait tali komunikasi antara
masyarakat dengan pemerintah. Pada dasarnya pemberdayaan komite sekolah dalam
konteks MBS adalah melalui koodinasi dan komunikasi. Koordinasi yang dilakukan
kepala sekolah dengan para guru dan masyarakat dapat dilakukan secara vertikal,
horisontal, fungsional, dan diagonal. Koordinasi dapat juga dilakukan secara internal dan
eksternal. Koordinasi dilakukan secara terus menerus sebagai upaya konsolidasi untuk
memperkuat kelembagaan dalam mencapai tujuan. Tidak hanya itu, pemberdayaan juga
dapat dilakukan dengan menjalin komunikasi yang baik. Komunikasi dalam konteks
tatakrama profesional dapat meningkatkan hubungan baik antara pimpinan sekolah
dengan para guru dan staf, dan pihak sekolah dengan komite sekolah.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ichey_trezna/peran-masyarakat-dalampeningkatan-mutu-sekolah-pendidikan_552bf29c6ea83402758b4571

Peran Masyarakat Terhadap Pendidikan


5:25 PM

Ade Suherman

3 comments

Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook

Peningkatan mutu pendidikan, tidak dapat terlaksana tanpa pemberian kesempatan sebesarbesarnya pada sekolah yang merupakan ujung tombak terdepan untuk terlibat aktif secara
mandiri mengambil keputusan tentang pendidikan. Sekolah harus menjadi bagian utama
sedangkan masyarakat dituntut partisipasinya dalam peningkatan mutu yang telah menjadi
komitmen sekolah demi kemajuan masyarakat. Peningkatan mutu hanya akan berhasil jikalau
ditekankan adanya kemandirian dan kreativitas sekolah. Proses pendidikan menyangkut
berbagai hal diluar proses pembelajaran, seperti misalnya lingkungan sekolah yang aman dan
tertib, misi dan target mutu yang ingin dicapai setiap tahunnya, kepemimpinan yang kuat,
harapan yang tinggi dari warga sekolah untuk berprestasi, pengembangan diri, evaluasi yang
terus menerus, komunikasi dan dukungan intensif dari pihak orang tua, masyarakat
Hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian,
kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat baikdukungan moral maupun finansial. Masyarakat
di sini meliputi masyarakat setempat dimana sekolah itu berada, orang tua murid, masyarakat
pengguna pendidikan yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan.
Dalam konsep pendidikan diperlukan kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang dimulai
dengan komunikasi. Dalam komunikasi satu sama lain diperlukan inisiatif dari kedua belah pihak.
Komunikasi interaktif menempatkan semua pihak sama penting. diharapkan mampu
menyampaikan pesan yang berhubungan dengan kebutuhan belajar anak. Komunikasi yang
interaktif perlu dilanjutkan dengan tindakan partisipatif, yakni mengembangkan hubungan kerja
sama sekolah, orangtua dan masyarakat untuk menjadikan lingkungan kondusif dalam
menunjang efektifitas pembelajaran anak.
Salah satu wujud aktualisasinya dibentuklah suatu badan yang mengganti keberadaan Badan
Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional nomor 14. Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah didasarkan
atas perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Salah satu tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah meningkatkan tanggung jawab dan
peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Hal ini berarti
peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam peningkatkan mutu pendidikan, bukan hanya
sekadar memberikan bantuan berwujud material saja, namun juga diperlukan bantuan yang
berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi kemajuan suatu sekolah. Dengan
demikian tujuan pembentukan Komite Sekolah dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalammelahirkan
kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan pendidikan.
2. Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan di satuan pendidikan

3. Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam


penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan
(Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).
Adapun fungsi Komite Sekolah, sebagai berikut:
1. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan
pendidikan yang bermutu.
2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/ dunia usaha/dunia
industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
3. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan
pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.
4. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan pendidikan
mengenai:

kebijakan dan program pendidikan

rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah (RAPBS)

kriteria kinerja satuan pendidikan

kriteria tenaga kependidikan

kriteria fasilitas pendidikan, dan

hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan

Mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung
peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan
Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di
satuan pendidikan.
Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan, dan
keluaran pendidikan di satuan pendidikan (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).
Peran masyarakat. di sekolah adalah menerima pelayanan yang berkualitas melalui siswa-siswa
yang menerima pendidikan yang mereka butuhkan. Mereka dapat berpartisipasi dalam proses
sekolah, mendidik siswa secara kooperatif, berusaha membantu perkembangan yang sehat
kepada sekolah dengan memberi sumbangan sumber daya dan informasi, mendukung dan
melindungi sekolah pada saat mengalami kesulitan dan krisis, meningkatkan keterlibatan,
kepedulian, kepemilikan dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan finansial
dalam upaya adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya Secara kontekstual menurut
Kepmendiknas nomor: 044/U/2002 peran Komite Sekolah sebagai:
1) Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanan kebijakan

pendidikan di satuan pendidikan.


2) Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga
dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
3) Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan
dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
4) Mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan
Depdiknas dalam bukunya Partisipasi Masyarakat (2001:22), menguraikan tujuh peranan Komite
Sekolah terhadap penyelenggaraan sekolah, yakni:
a) Membantu meningkatkan kelancaran penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di sekolah
baik sarana, prasarana maupun teknis pendidikan
b) Melakukan pembinaan sikap dan perilaku siswa. Membantu usaha pemantapan sekolah
dalam mewujudkan pembinaan dan pengembangan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
pendidikan demokrasi sejak dini (kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan pendahuluan
bela negara, kewarganegaraan, berorganisasi, dan kepemimpinan), keterampilan dan
kewirausahaan, kesegaran jasmani dan berolah raga, daya kreasi dan cipta, serta apresiasi seni
dan budaya
c) Mencari sumber pendanaan untuk membantu siswa yang tidak mampu.
d) Melakukan penilaian sekolah untuk pengembangan pelaksanaan kurikulum, baik intra
maupun ekstrakurikuler dan pelaksanaan manajemen sekolah, kepala/wakil kepala sekolah,
guru, siswa, dan karyawan.
e) Memberikan penghargaan atas keberhasilan manajemen sekolah.
f) Melakukan pembahasan tentang usulan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Sekolah (RAPBS).
g) Meminta sekolah agar mengadakan pertemuan untuk kepentingan tertentu.
Untuk mewujudkan upaya tersebut diperlukan paling tidak ada lima langkah dari peran serta
masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan antara lain adalah:
a. mengidentifikasi potensi masyarakat untuk berperan serta dalam pelaksanaan program
pendidikan.
b. membentuk organisasi peran serta masyarakat
c. menyusun program peran serta masyarakat
d. melaksanakan program peran serta masyarakat
e. mengevaluasi peran serta masyarakat
Dari paparan diatas dapat ditafsirkan bahwa peran Komite sekolah dalam peningkatan mutu
pendidikan meliputi :
a. Penyusunan Program yang meliputi :
1) Perencanaan sekolah.
2) Pelaksanaan program
3) Pengelolaan sumber daya pendidikan.
b. Pengelolaan yang meliputi :
1. Pengelolaan sumber daya
2. Pengelolaan sarana dan prasarana
3. Pengelolaan anggraran
c. Pengawasan yang meliputi :
1. Mengontrol perencanaan program sekolah

2. Memantau pelaksanaan program.


Dengan demikian peranan peranan Komite Sekolah sebagai wujud peran serta masyarakat
untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan, dan dukungan baik moral maupun
financial mutlak diperlukan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Masyarakat yang
dimaksud di sini meliputi masyarakat setempat dimana sekolah itu berada, orang tua murid,
masyarakat pengguna pendidikan yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan.
(Sumber: http://adesuherman.blogspot.co.id/2011/10/peran-masyarakat-terhadappendidikan.html)

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN


Pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, orangtua, dan
masyarakat. Tanpa dukungan masyarakat, pendidikan tidak akan berhasil dengan
maksimal. Sekarang hampir semua sekolah telah mempunyai komite sekolah yang
merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah, sebab masyarakat dari
berbagai lapisan sosial ekonomi sudah sadar betapa pentingnya dukungan mereka
untuk keberhasilan pembelajaran di sekolah.
Sebetulnya banyak sekali jenis-jenis dukungan masyarakat pada sekolah. Namun
sampai sekarang dukungan tersebut lebih banyak pada bidang fisik dan materi,
seperti membantu pembangunan gedung, merehab sekolah, memperbaiki genting,
dan lain sebagainya. Masyarakat juga dapat membantu dalam bidang teknis edukatif
antara lain menjadi guru bantu, sumber informasi lain, guru pengganti, mengajar
kebudayaan setempat, ketrampilan tertentu, atau sebagai pengajar tradisi tertentu.
Namun demikian, hal tersebut belumlah terwujud karena berbagai alasan.
Pada dasarnya masyarakat baik yang mampu maupun yang tidak mampu, golongan
atas, menengah maupun yang bawah, memiliki potensi yang sama dalam membantu
sekolah yang memberikan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Akan tetapi hal ini
bergantung pada bagaimana cara sekolah mendekati masyarakat tersebut. Oleh
karena itu, sekolah harus memahami cara mendorong peran serta masyarakat agar
mereka mau membantu sekolah.
Tulisan ini berikhtiar membicarakan tiga hal antara lain; pentingnya peran serta
masyarakat utamanya peran stakeholder bagi pengembangan madrasah; jenis-jenis
peran serta masyarakat, serta cara mendorong peran serta masyarakat. Dari sini
diharapkan muncul pokok-pokok gagasan setelah melalui proses diskusi dan
simulasi yang mencakup munculnya identifikasi stakeholder (baca: kelompok
masyarakat) dalam dalam membantu pendidikan; terinventarisasinya jenis-jenis
PSM; serta teridentifikasinya beberapa cara mendorong peran serta masyarakat.
Mengapa PSM itu perlu?
Pendidikan adalah tanggungjawab bersama keluarga, masyarakat, dan negara;
Keluarga bertanggungjawab untuk mendidik moralitas/agama, menyekolahkan
anaknya, serta membiayai keperluan pendidikan anaknya;
Anak berada di sekolah antara 6-9 jam, selebihnya berada di luar sekolah (rumah
dan lingkungannya). Dengan demikian, tugas keluarga amat penting untuk menjaga
dan mendidik anaknya;
Pendidikan adalah investasi masa depan anak. Oleh karena itu, memerlukan biaya,
tenaga dan perhatian. Keberatankah orang tua membayar SPP yang sifatnya
bulanan, sedang mereka saja tidak berat untuk membeli rokok setiap hari?
Mungkinkah anak menjadi pandai tanpa biaya? Harusnya kita sadar, kita sedang

memasuki era globalisasi, dan jika anak kita tidak terdidik, kita akan kalah bersaing
dengan bangsa lain.
Anak perempuan perlu mendapat pendidikan setinggi anak laki-laki mengingat
mereka akan menjadi ibu dari bayi-bayinya. Ibu lebih dekat kepada anak dan
mendidik anak perlu pengetahuan yang memadai agar anak tidak salah
asuhan/didik;
Masyarakat berhak dan berkewajiban untuk mendapatkan dan mendukung
pendidikan yang baik. Kewajiban mereka tidak sebatas pada bantuan dana, lebih
dari itu juga pemikiran dan gagasan;
Pemerintah berkewajiban membuat gedung sekolah, menyediakan tenaga/guru,
melakukan standarisasi kurikulum, menjamin kualitas buku paket, alat peraga, dan
lain sebagainya. Karena kemampuan pemerintah terbatas, maka peran serta
masyarakat sanga diperlukan;
Kemampuan pemerintah terbatas sehingga mungkin tidak mampu untuk
mengetahui secara rinci nuansa perbedaan di masyarakat yang berpengaruh pada
bidang pendidikan. Jadi masyarakat berkewajiban membantu penyelenggaraan
pendidikan;
Masyarakat dapat terlibat dalam memberikan bantuan dana, pembuatan gedung,
lokal, pagar, dan lain sebagainya. Masyarakat juga dapat terlibat dalam bidang teknis
edukatif.
Idealnya sekolah bertanggungjawab kepada pemerintah dan juga kepada
masyarakat sekitarnya;
Bantuan teknis edukatif juga sangat mungkin diberikan, seperti: menyediakan diri
menjadi tenaga pengajar, membantu anak berkesulitan membaca, menentukan dan
memelihara guru baru yang mempunyai kualifikasi, serta membicarakan
pelaksanaan kurikulum dan kemajuan belajar.

Jenis-jenis PSM
Ada bermacam-macam tingkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan
pendidikan. Peran serta tersebut dapat diklasifikasikan dalam 7 tingkatan, yang
dimulai dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi. Tingkatan tersebut terinci sebagai
berikut:
1. Peran serta dengan menggunakan jasa yang tersedia. Jenis PSM ini merupakan
jenis paling umum. Masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah dengan
memasukkan anak ke sekolah;
2. Peran serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Masyarakat
berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah dengan

menyumbangkan dana, barang dan atau tenaga;


3. Peran serta secara pasif. Artinya menyetujui dan menerima apa yang diputuskan
oleh sekolah (komite sekolah), misalnya komite sekolah memutuskan agar orang tua
membayar iuran bagi anaknya yang bersekolah dan orangtua menerima keputusan
tersebut dengan mematuhinya;
4. Peran serta melalui adanya konsultasi. Orangtua datang ke sekolah untuk
berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya;
5. Peran serta dalam pelayanan. Orantua/masyarakat terlibat dalam kegiatan
sekolah, misalnya orangtua ikut membantu sekolah ketika ada studi banding,
kegiatan pramuka, kegiatan keagamaan, dan lain sebagainya;
6. Peran serta sebagai pelaksana kegiatan yang didelegasikan/dilimpahkan.
Misalnya, sekolah meminta orangtua/masyarakat untuk memberikan penyuluhan
tentang pentingnya pendidikan, masalah gender, gizi dan lain sebagainya.
7. Peran serta dalam pengambilan keputusan. orangtua/masyarakat terlibat dalam
pembahasan masalah pendidikan (baik akademis maupun non akademis) dan ikut
dalam proses pengambilan keputusan dalam rencana pengembangan sekolah.

Menuju Otonomi pada Tingkat Sekolah; Ikhtiar Memberdayakan Komite Sekolah


sebagi Bentuk Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan
Komite Sekolah/Madrasah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam
peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan
dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat
satuan pendidikan. (Pasal 56, ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003)
Paradigma MBS beranggapan bahwa, satu-satunya jalan masuk yang terdekat
menuju peningkatan mutu dan relevansi adalah demokratisasi, partisipasi, dan
akuntabilitas pendidikan. Kepala sekolah, guru, dan masyarakat adalah pelaku
utama dan terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sehingga segala
keputusan mengenai penanganan persoalan pendidikan pada tingkatan mikro harus
dihasilkan dari interaksi dari ketiga pihak tersebut. Masyarakat adalah stakeholder
pendidikan yang memiliki kepentingan akan berhasilan pendidikan di sekolah,
karena mereka adalah pembayar pendidikan, baik melalui uang sekolah maupun
pajak, sehingga sekolah-sekolah seharusnya bertanggungjawab terhadap
masyarakat.
Namun demikian, entitas yang disebut masyarakat itu sangat kompleks dan tak
berbatas (borderless) sehingga sangat sulit bagi sekolah untuk berinteraksi dengan
masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. Untuk penyelenggaraan pendidikan di
sekolah, konsep masyarakat itu perlu disederhanakan (simplified) agar menjadi

mudah bagi sekolah melakukan hubungan dengan masyarakat itu.


Penyederhanaan konsep masyarakat itu dilakukan melalui perwakilan fungsi
stakeholder, dengan jalan membentuk Komite Sekolah (KS) pada setiap sekolah dan
Dewan Pendidikan (DP) di setiap kabupaten/kota. DP-KS sedapat mungkin bisa
merepresentasikan keragaman yang ada agar benar-benar dapat mewakili
masyarakat. Dengan demikian, interaksi antara sekolah dan masyarakat dapat
diwujudkan melalui mekanisme pengambilan keputusan antara sekolah-sekolah
dengan Komite Sekolah, dan interaksi antara para pejabat pendidikan di pemerintah
kabupaten/kota dengan Dewan Pendidikan. Bukti tanggungjawab masyarakat
terhadap pendidikan diwujudkan dalam fungsi yang melekat pada DP dan KS, yaitu
fungsi pemberi pertimbangan dalam pengambilan keputusan, fungsi kontrol dan
akuntabilitas publik, fungsi pendukungan (supports), serta fungsi mediator antara
sekolah dengan masyarakat yang diwakilinya.
Kemandirian setiap satuan pendidikan adalah salah satu sasaran dari kebijakan
desentralisasi pendidikan sehingga sekolah-sekolah menjadi lembaga yang otonom
dengan sendirinya. Namun tentu saja, pergeseran menuju sekolah-sekolah yang
otonom adalah jalan panjang sehingga memerlukan berbagai kajian serta
perencanaan yang hati-hati dan mendalam. Jalan panjang ini tidak selalu mulus,
tetapi akan menempuh jalan terjal yang penuh dengan onak dan duri. Orang bisa
saja mengatakan bahwa paradigma baru untuk mewujudkan pengelolaan pendidikan
yang demokratis dan partisipatif, tidak dapat dilaksanakan di dalam suatu
lingkungan birokrasi yang tidak demokratis. Namun, pengembangan demokratisasi
pendidikan tidak harus menunggu birokrasinya menjadi demokratis dulu, tetapi
harus dilakukan secara simultan dengan konsep yang jelas dan transparans.
Pelaksanaan desentralisasi pendidikan sebaiknya tidak dilakukan melalui suatu
mekanisme penyerahan kekuasaan birokrasi dari pusat ke daerah, karena
kekuasaan telah terbukti gagal dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu.
Melalui strategi desentralisasi pemerintahan di bidang pendidikan, Depdiknas
tidak hanya berkepentingan dalam mengembangkan kabupaten/kota dalam
mengelola pendidikan, tetapi juga berkepentingan dsalam mewujudkan otonomi
satuan pendidikan, Depdiknas memiliki keleluasaan untuk membangun kapasitas
setiap penyelenggara pendidikan, yaitu sekolah-sekolah. MBS mengembangkan
satuan-satuan pendidikan secara otonom karena mereka adalah pihak yang paling
mengetahui operasional pendidikan. Sesuai dengan strategi ini sekolah bukan
bawahan dari birokrasi pemerintah daerah, tetapi sebagai lembaga profesional yang
bertanggung jawab terhadap klien atau stakeholder yang diwakili oleh Komite
Sekolah dan Dewan Pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tidak diukur
dari pendapat para birokrat, tetapi dari kepuasan masyarakat atau stakeholder.

Fungsi pemerintah adalah fasilitator untuk mendorong sekolah-sekolah agar


berkembang menjadi lembaga profesional dan otonom sehingga mutu pelayanan
mereka memberi kepuasan terhadap komunitas basisnya, yaitu masyarakat.
Perlu juga difahami bahwa pengembangan paradigma MBS, bukanlah kelanjutan
apalagi kemasan baru dari Badan Pembantu Pelaksanaan Pendidikan (BP3).
Adalah keliru jika DP dan KS adalah alat untuk penarikan iuran, karena penarikan
iuran yang dilakukan oleh BP3 terbukti tidak berhasil memobilisasi partisipasi dan
tanggungjawab masyarakat. Tetapi yang harus lebih difahami adalah fungsi Dewan
dan Komite sebagai jembatan antara sekolah dan masyarakat. Sekolah yang hanya
terbatas personalianya, akan sangat dibantu jika dibuka kesempatan bagi
masyarakat luas untuk ikut memikirkan pendidikan di sekolah-sekolah. Sekolah
yang sangat tertutup bagi kontribusi pemikiran dari masyarakat harus kita akhiri,
dan dengan MBS, dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ikut
serta memikirkan pendidikan di sekolah. Dengan konsep MBS, masyarakat akan
merasa memiliki dan mereka akan merasa tanggungjawab untuk keberhasilan
pendidikan di dalamnya. Jika ini dapat diwujudkan, jangankan iuran bahkan
apapun yang mereka miliki (uang, barang, tenaga, fikiran bahkan kesempatan) akan
mereka abdikan untuk kepentingan pendidikan anak-anak bangsa yang berlangsung
di sekolah-sekolah.
Pengelolaan Pendidikan pada tingkat Sekolah
Peran dan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah tidak dapat dipisahkan dari
pelaksanaan manajemen pendidikan di tingkat sekolah. Beberapa aspek manajemen
yang secara langsung dapat diserahkan sebagai urusan yang menjadi kewenangan
tingkat sekolah adalah sebagai berikut.
Pertama, menetapkan visi, misi, strategi, tujuan, logo, lagu, dan tata tertib sekolah.
Urusan ini amat penting sebagai modal dasar yang harus dimiliki sekolah. Setiap
sekolah seyogyanya telah dapat menyusun dan menetapkan sendiri visi, misi,
strategi, tujuan, logo, lagu, dan tata tertib sekolah. Ini merupakan bukti kemandirian
awal yang harus ditunjukkan oleh sekolah. Jika masa lalu sekolah lebih dipandang
sebagai lembaga birokrasi yang selalu menunggu perintah dan petunjuk dari atas,
dalam era otonomi daerah ini sekolah harus telah memiliki kesadaran untuk
menentukan jalan hidupnya sendiri. Sudah barang tentu, sekolah harus menjalin
kerjasama sebaik mungkin dengan orangtua dan masyarakat sebagai mitra kerjanya.
Bahkan dalam menyusun program kerjanya, sebagai penjabaran lebih lanjut dari
visi, misi, strategi, dan tujuan sekolah tersebut, orangtua dan masyarakat yang
tergabung dalam Komite Sekolah, serta seluruh warga sekolah harus dilibatkan
secara aktif dalam menyusun program kerja sekolah, dan sekaligus lengkap dengan
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).

Kedua, memiliki kewenangan dalam penerimaan siswa baru sesuai dengan ruang
kelas yang tesedia, fasilitas yang ada, jumlah guru, dan tenaga administratif yang
dimiliki. Berdasarkan sumber daya pendukung yang dimilikinya, sekolah secara
bertanggung jawab harus dapat menentukan sendiri jumlah siswa yang akan
diterima, syarat siswa yang akan diterima, dan persyaratan lain yang terkait. Sudah
barang tentu, beberapa ketentuan yang ditetapkan oleh dinas pendidikan
kabupaten/kota perlu mendapatkan pertimbangan secara bijak.
Ketiga, menetapkan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang akan diadakan
dan dilaksanakan oleh sekolah. Dalam hal ini, dengan mempertimbangkan
kepentingan daerah dan masa depan lulusannya, sekolah perlu diberikan
kewenangan untuk melaksanakan kurikulum nasional dengan kemungkinan
menambah atau mengurangi muatan kurikulum dengan meminta pertimbangan
kepada Komite Sekolah. Kurikulum muatan lokal, misalnya dalam mengambil
kebijakan untuk menambah mata pelajaran seperti Bahasa Inggris dan bahasa asing
lainnya, komputer, dsb. Sudah barang tentu, kebijakan itu diambil setelah meminta
pertimbangan dari Komite Sekolah, termasuk resiko anggaran yang diperlukkan
untuk itu. Dalam kaitannya dengan penetapan kegiatan ekstrakurikuler, sekolah juga
harus meminta pendapat siswa dalam menentukan kegiatan ekstrakurikuler yang
akan diadakan oleh sekolah.
Oleh karena itu sekolah dapat melakukan pengelolaan biaya operasio-nal sekolah,
baik yang bersumber dari pemerintah Kabupaten/Kota maupun dari masyarakat
secara mandiri. Untuk mendukung program sekolah yang telah disepakati oleh
Komite Sekolah diperlukan ketepatan waktu dalam pencairan dana dari pemerintah
kabupaten/kota. Oleh kaarena itu praktik birokrasi yang menghambat kegiatan
sekolah harus dikurangi.
Keempat, pengadaan sarana dan prasana pendidikan, termasuk buku pelajaran
dapat diberikan kepada sekolah, dengan memperhatikan standar dan ketentuan
yang ada. Misalnya, buku murid tidak seenaknya diganti setiap tahun oleh sekolah,
atau buku murid yang akan dibeli oleh sekolah adalah yang telah lulus penilaian,
dsb. Pemilihan dan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah dapat
dilaksanakan oleh sekolah, dengan tetap mengacu kepada standar dan pedoman
yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat atau provinsi dan kabupaten/kota.
Kelima, penghapusan barang dan jasa dapat dilaksanakan sendiri oleh sekolah,
dengan mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah, provinsi, dan
kabupaten. Yang biasa terjadi justru, karena kewenangan penghapusan itu tidak
jelas, barang dan jasa yang ada di sekolah justru tidak pernah dihapuskan, meskipun
ternyata barang dan jasa itu sama sekali telah tidak berfungsi atau malah telah tidak
ada barangnya.

Keenam, proses pengajaran dan pembelajaran. Ini merupakan kewenangan


profesional sejati yang dimiliki oleh lembaga pendidikan sekolah. Kepala sekolah
dan guru secara bersama-sama merancang proses pengajaran dan pembelajaran
yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan lancar dan berhasil. Proses
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan direkomendasikan
sebagai model pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh sekolah. Pada masa
sentralisasi pendidikan, proses pembelajaran pun diatur secara rinci dalam
kurikulum nasional. Dalam era otonomi daerah, kurikulum nasional sedang dalam
proses penyempurnaan menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dengan
KBK ini, diharapkan para guru tidak akan terpasung lagi kreativitasnya dalam
melaksanakan dan mengembangkan kurikulum.
Ketujuh, urusan teknis edukatif yang lain sejalan dengan konsep manajemen
peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) merupakan urusan yang sejak awal
harus menjadi tanggung jawab dan kewenagan setiap satuan pendidikan.
Pemberdayaan Komite Sekolah
Desentralisasi pendidikan di tingkat sekolah merupakan satu bentuk desentraliasasi
yang langsung sampai ke ujung tombak pendidikan di lapangan. Jika kantor cabang
dinas pendidikan kecamatan, dan dinas pendidikan kabupaten/kota lebih memiliki
peran sebagai failitator dalam proses pembinaan, pengarahan, pemantauan dan
penilaian, maka sekolah seharusnya diberikan peran nyata dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan pelaporan. Hal ini disebabkan karena proses interaksi edukatif di
sekolah merupakan inti dari proses pendidikan yang sebenarnya. Oleh karena itu,
bentuk desentralisasi pendidikan yang paling mendasar adalah yang dilaksanakan
oleh sekolah, dengan menggunakan Komite Sekolah sebagai wadah pemberdayaan
peran serta masyarakat, dan dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah
(MBS) sebagai proses pelaksanaan layanan pendidikan secara nyata di dalam
masyarakat.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program
Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004, dalam rangka pemberdayaan dan
peningkatan peran serta masyarakat perlu dibentuk Dewan Pendidikan di tingkat
kabupaten/kota, dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. Amanat rakyat
ini sejalan dengan konsepsi desentralisasi pendidikan, baik di tingkat
kabupaten/kota maupun di tingkat sekolah. Amanat rakyat dalam undang-undang
tersebut telah ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite
Sekolah. Dalam Kepmendiknas tersebut disebutkan bahwa peran yang harus
diemban Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah adalah (1) sebagai advisory agency
(pemberi pertimbangan), (2) supporting agency (pendukung kegiatan layanan

pendidikan), (3) controlling agency (pengontrol kegiatan layanan pendidikan), dan


(4) mediator atau penghubung atau pengait tali komunikasi antara masyarakat
dengan pemerintah
Untuk dapat memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat, sekolah harus
dapat membina kerjasama dengan orangtua dan masyarakat, menciptakan suasa
kondusif dan menyenangkan bagi peserta didik dan warga sekolah. Itulah sebabnya
maka paradigma MBS mengandung makna sebagai manajemen partisipatif yang
melibatkan peran serta masyarakat, sehingga semua kebijakan dan keputusan yang
diambil adalah kebijakan dan keputusan bersama, untuk mencapai keberhasilan
bersama. Dengan demikian, prinsip kemandirian dalam MBS adalah kemandirian
dalam nuansa kebersamaan, dan hal ini merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip
yang disebut sebagai total quality management, melalui suatu mekanisme yang
dikenal dengan konsepsi total football dengan menekankan pada mobilisasi
kekuatan secara sinergis yang mengarah pada satu tujuan, yaitu peningkatan mutu
dan kesesuaian pendidikan dengan pengembangan masyarakat.
Pertama, Penyusunan Rencana dan Program; sebagai ujung tombak dalam
pelaksanaan pendidikan, sekolah bertanggungjawab dalam menentukan kebijakan
sekolah dalam melaksanakan kebijakan pendidikan sesuai dengan arah kebijakan
pendidikan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Sebagai penyelenggara dan
pelaksana kebijakan pendidikan nasional, sekolah-sekolah bertugas untuk
menjabarkan kebijakan pendidikan nasional menjadi program-program operasional
penyelenggaraan pendidikan di masing-masing sekolah. Program-program tersebut
terdiri dari penyusunan dan pelaksanaan rencana kegiatan mingguan, bulanan,
semesteran serta tahunan yang sesuai dengan arah kebijakan serta kurikulum yang
telah ditetapkan baik pada tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten/kota. Setiap
rencana dan program yang disusun serta dilaksanakan di sekolah harus mengacu
pada standar pelayanan minimum (SPM) yang diterapkan untuk pemerintahan
kabupaten/kota serta standar teknis yang diterapkan untuk masing-masing satuan
pendidikan. Untuk dapat memerankan fungsi ini, Komite Sekolah menjadi
pendamping bahkan penyeimbang bagi sekolah-sekolah, sehingga setiap rencana
dan program yang disusun oleh sekolah dapat diberikan masukan yang sesuai
dengan aspirasi masyarakat yang diwakili oleh Komite sekolah dimaksud. Atas nama
masyarakat yang diwakilinya, Komite Sekolah dapat menyatakan setuju atau tidak
setuju terhadap rencana dan program pendidikan yang disusun oleh sekolah.
Selain melaksanakan kurikulum yang telah ditetapkan dari pusat, propinsi dan
kabupaten.kota, sekolah-sekolah dapat juga menyusun program pendidikan life
skills yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan pada masyarakat sekitar. Dalam
penyusunan program pendidikan life skills, Komite Sekolah dapat membantu

sekolah-sekolah untuk mengumpulkan fakta-fakta mengenai kebutuhan serta


potensi sumberdaya yang tersedia di dalam masyarakat untuk diterjemahkan ke
dalam program pendidikan life skills yang dapat dilaksanakan oleh sekolah.
Mekanisme yang mungkin dapat dilakukan adalah melalui rapat Komite Sekolah
dengan sekolah yang dilaksanakan setiap semester atau tahunan, untuk menyusun,
memperbaiki serta menyesuaikan rencana dan program untuk semester berikutnya.
Kedua, Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah
(RAPBS); dalam fungsinya sebagai pelaksana pendidikan yang otonom, sekolah
berperan dalam menyusun RAPBS setiap akhir tahun ajaran untuk digunakan dalam
tahun ajaran berikutnya. Program-program yang sudah dirumuskan untuk satu
semester atau satu tahun ajaran kedepan perlu dituangkan ke dalam kegiatankegiatan serta anggarannya masing-masing sesuai dengn pos-pos pengeluaran
pendidikan di tingkat sekolah. Dari sisi pendapatan, seluruh jenis dan sumber
pendapatan yang diperoleh sekolah setiap tahun harus dituangkan dalam RAPBS,
baik yang bersumber dari pemerintah pusat, pemerintah propinsi, pemerintah
kabupaten/kecamatan, maupun sumber-sumber lain yang diperoleh secara langsung
oleh sekolah-sekolah. Dengan demikian, setiap rupiah yang diperoleh sekolah dari
sumber-sumber tersebut harus sepenuhnya diperhitungkan sebagai pendapatan
resmi sekolah dan diketahui bersama baik oleh pihak sekolah (kepala sekolah, guruguru, pegawai, serta para siswa) maupun oleh Komite Sekolah sebagai wakil
stakeholder pendidikan.
Dari sisi belanja sekolah, seluruh jenis pengeluaran untuk kegiatan pendidikan di
sekolah harus diketahui bersama baik oleh pihak sekolah maupun oleh pihak Komite
Sekolah, sesuai dengan rencana dan program yang telah disusun bersama oleh kedua
pihak tersebut. Kedua sisi anggaran tersebut dituangkan ke dalam suatu neraca
tahunan sekolah yang disebut dengan RAPBS yang harus disyahkan atas dasar
persetujuan bersama antara pihak sekolah dan Komite Sekolah yang ditandatangani
oleh kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah, sehingga menjadi APBS pendidikan
di tingkat sekolah yang resmi. Mekanisme ini diperlukan untuk memperkecil
penyalahgunaan baik dalam pendapatan maupun dalam pengeluaran sekolah,
sehingga anggaran resmi pendidikan di sekolah menjadi bertambah serta
pendayagunaannya semakin efisien.
Ketiga, pelaksanaan program pendidikan; sistem pendidikan pada masa orde baru,
pelaksanaan pendidikan secara langsung dikendalikan oleh sistem birokrasi dengan
mata rantai yang panjang sejak tingkat pusat, daerah bahkan sampai tingkat satuan
pendidikan. Pada waktu itu sekolah-sekolah adalah bagian dari sistem birokrasi yang
haru tunduk terhadap ketentuan birokrasi. Pengaturan penyelenggaraan pendidikan
pada masa birokrasi dilakukan secara uniform (one fits for all) atau dilakukan secara

baku dengan pangaturan dari pusat, sejak perencanaan pendidikan, pelaksanaan


pendidikan di sekolah termasuk persiapan mengajar, metodologi dan pendekatan
mengajar, buku dan sarana pendidikan, sampai kepada penilaian pendidikan.
Dengan kata lain, kepada sekolah-sekolah tidak diberikan kesempatan untuk
mengurus dan mengatur dirinya sendiri dalam pelaksanaan pendidikan. Kepala
sekolah tidak diberikan kesempatan untuk mengambil keputusan mereka sendiri
dalam mengelola sistem pendidikan untuk memecahkan berbagai permasalahan
pendidikan yang sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing. Kepada guruguru juga tidak diberikan kesempatan untuk berinisiatif atau berinovasi dalam
melaksanakan pengajaran atau mengelola kegiatan belajar murid secara maksimal
karena metoda mengajar dan teknik evaluasi juga diatur secara langsung melalui
juklak dan juknis yang dibuat dari pusat.
Dalam masa desentralisasi pendidikan ke depan, melalui paradigma MBS sekolahsekolah diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengurus dan mengatur
pelaksanaan pendikdikan pada masing-masing sekolah. Pelaksanaan pendidikan di
sekolah-sekolah dalam tempat yang berlainan dimungkinkan untuk menggunakan
sistem dan pendekatan pembelajaran yang berlainan. Kepala sekolah diberikan
keleluasaan untuk mengelola pendidikan dengan jalan mengadakan serta
memanfaatkan sumber-sumberdaya pendidikan sendiri-sendiri asalkan sesuai
dengan kebijakan dan standar yang ditetapkan oleh pusat. Oleh karena karakteristik
setiap murid juga berbeda-beda secara individual, maka pendekatan pembelajaran
juga dimungkinkan berbeda untuk masing-masing murid yang berlainan.
Dalam keadaan seperti itu, maka Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah akan dapat
melaksanakan peran dan fungsinya sebagai penunjang dalam pelaksanaan proses
pembelajaran yang sejalan dengan kondisi dan permasalahan lingkungan masingmasing sekolah. Komite sekolah dapat melaksanakan fungsinya sebagai partner dari
kepala sekolah dalam mengadakan sumber-sumberdaya pendidikan dalam rangka
melaksanakan pengelolaan pendidikan yang dapat memberikan fasilitasi bagi guruguru dan murid untuk belajar sebanyak munghkin, sehingga pembelajaran menjadi
semakin efektif. Komite Sekolah bisa ikut serta untuk meneliti dan berbagai
permasalahan belajar yang dihadapi oleh murid secara kelompok maupun secara
individual sehingga dapat membantu guru-guru untuk menerapkan pendekatan
belajar yang tepat bagi murid-muridnya. Dewan Pendidikan pada setiap
Kabupaten/Kota dapat melaksanakan program pendukungan dalam bentuk studi
atau penelitian terhadap berbagai permasalahan pendidikan di sekolah-sekolah agar
dapat memberikan masukan kepada Dinas Kabupaten/Kota untuk menerapkan
suatu kebijakan yang tepat dan kena sasaran. Dewan Pendidikan juga dapat
memberikan penilaian kepada berbagai kebijakan pendidikan yang diterapkan

terutama menyangkut berbagai dampak yang sudah atau mungkin terjadi dalam
penerapaan suatu kebijakan baru.
Keempat, akuntabilitas pendidikan, dalam masa orde baru, satu-satunya pihak yang
berwenang untuk meminta pertanggungjawaban pendidikan ke sekolah-sekolah
adalah pemerintah pusat. Pada waktu itu, pemerintah pusat telah menempatkan
kaki tangannya di seluruh pelosok tanah air melalui pemeriksa, pengawas atau
para penilik sekolah untuk mengawasi dan meminta pertanggungjawaban sekolahsekolah menganai proses pendidikan yang berkangsung di sekolah-sekolah. Jika
terdapat penyimpangan adminisgtratif yang dilakukan oleh kepala sekolah atau
guru-guru, maka kepada mereka diberikan sanksi administratif, seperti teguran
resmi, penilaian melalui DPK, penundaan kenaikan gaji berkala, penundaan
kenaikan pangkat dsan sejenisnya. Namun, penilalaian tersebut lebih banyak
diberikan terhadap proses administrasi pendidikan dan hampir tidak pernah ada
sanksi (punishment) atau ganjaran (rewards) kepada guru-guru atau kepala
sekolah atas dasar hasil-hasil yang dicapai dalam pembelajaran murid atau lulusan.
Dalam era demokrasi dan partisipasi, akuntabilitas pendidikan tidak hanya terletak
pada pemerintah, tetapi bahkan harus lebih banyak pada masyarakat sebagai
stakeholder pendidikan. Dewan Pendidikan pada tingkat Kabupaten/Kota perlu
menempatkan fungsinya sebagai wakil dari masyarakat untuk meminta
pertanggungjawaban atas hasil-hasil pendidikan dalam mencapai prestasi belajar
murid-murid pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. Dewan Pendidikan perlu
diberikan kesempatan untuk menyampaikan masukan bahkan protes kepada Dinas
Pendidikan jika hasil-hasil pendidikannya tidak memuaskan masyarakat sebagai
klien pendidikan. Sama halnya, Komite Sekolah dapat menyampaikan ketidakpuasan
para orangtua murid akan rendahnya prestasi yang dicapai oleh suatu sekolah.
Dewan Pendidikan atau Komite Sekolah tidak perlu melaksanakan kegiatan studi
atau penilaian pendidikan, tetapi cukup dengan menggunakan data-data yang
tersedia atau hasil-hasil penilaian yang sudah ada sebagai bahan untuk
menyampaikan kepuasan atau ketidakpuasan masyarakat terhadap Dinas
Pendidikan atau kepada masing-masing sekolah. Dengan demikian, diperlukan
suatu mekanisme akuntabilitas pendidikan yang dibentuk melalui suatu Peraturan
Daerah di bidang pendidikan
(Sumber: http://awaliamuflihati.blog.com/2012/06/12/peran-serta-masyarakatdalam-pendidikan/)