Anda di halaman 1dari 14

GERIATRIK DAN GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN

SEMINAR PROSTODONSIA

Eri Lupitasari
Vart Madona Pasaribu
Kadek Seruni Kusumanegara

PEMBIMBING :
Drg. Taufik Sumarsongko, Sp.Pros (K)

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
BANDUNG
2016
Populasi geriatrik telah mengalami perkembangan luar biasa yang telah
berdampak pada bidang kedokteran gigi dan terutama pembuatan gigi tiruan

sebagian lepasan. Perkembangan meningkat setiap tahun disebabkan oleh Baby


Boomers, tingkat kesuburan yang rendah, kemajuan dalam bidang kedokteran
yang dapat meningkatkan harapan hidup.
Kemampuan fungsional mempengaruhi seseorang mampu atau tidak
melakukan aktivitas sehari-hari atau Activity of Daily Living (ADLs). Kinerja
ADL menjadi perhatian dokter gigi karena merupakan indikator kemampuan
mengelola dan menjaga kesehatan gigi dan mulut serta protesa lepasan termasuk
didalamnya. Orang tua lanjut usia yang fungsionalnya menurun akan
mengandalkan bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
Terdapat tantangan yang dihadapi populasi orangtua lanjut usia selain
kemampuan fungsional terganggu, yaitu kondisi medis, masalah psikososial, akses
perawatan, dan kemungkinan keuangan yang terbatas. Terlepas mengenai
tantangan tersebut, orangtua lanjut usia juga mengalami positif faktor seperti
mempertahankan gigi agar dapat berfungsi lebih lama, meningkatkan teknologi
perawatan gigi, perawatan kesehatan gigi dan mulut yang lebih baik,
meningkatkan kunjungan ke dokter gigi, dan peduli terhadap estetika serta
mengganti dan memelihara gigi yang hilang.
Topik demografi dan psikososial, perubahan fisik dan psikologis akan
dibahas dalam rangka mencapai tujuan untuk lebih memahami dampak populasi
orangtua lanjut usia dalam bidang kedokteran gigi terutama gigi tiruan sebagian
lepasan.
Demografi

Perubahan populasi adalah kekuatan dinamis yang mempengaruhi semua


bidang disiplin ilmu termasuk profesi dokter gigi. Hal tersebut jelas berpengaruh
terhadap pertumbuhan populasi orangtua lanjut usia, dan sesseorang dengan usia
65 tahun atau lebih. Sebagai contohnya, terdapat peningkatan jumlah rumah
pensiun, peningkatan bantuan hidup, perawatan jangka panjang atau rumah
perawatan untuk orangtua/ panti jompo. Pengaruh yang terlihat dalam bidang
kedokteran gigi adalah yaitu telah meningkatnya kebutuhan akan kesehatan
jaringan periodontal, restoratif, prostodontik, endodontik, dan pelayanan
pecegahan penyakit.
Populasi orangtua lanjut usia dan populasi penduduk usia 65 tahun atau
lebih telah mengalami peningkatan di Amerika Serikat sejak tahun 1900. Satu
dari delapan orang Amerika lebih tua yang mewakili 12,4 % dari populasi
Amerika Serikat. Populasi penduduk berusia 65 tahun atau lebih tua diperkirakan
meningkat dari 35 juta pada tahun 2000 menjadi 40 juta pada tahun 2010, dan 55
juta pada tahun 2010. Jadi, selama satu dekade telah mengalami peningkatan 36%.
Selain itu, penduduk berusia 85 tahun atau lebih adalah kelompok yang
paling cepat berkembang dari kelompok usia tua. Penduduk berusia 85 tahun atau
lebih tua diperkirakan meningkat dari4,2 juta pada tahun 2000 menjadi 6,1 juta
pada tahun 2010, dan kemudian menjadi 7,3 juta pada tahun 2020. Kenaikan 44%
selama satu dekade pada kelompok penduduk usia 85 tahun atau lebih ini
terutama karena usia Baby Boomers dan peningkatan harapan hidup. Penduduk
usia 85 tahun atau lebih sering disebut sebagai usia tertua. Tingkat pertumbuhan
penduduk usia 65 tahun dan lebih tua diperkirakan melambat setelah tahun 2030

ketika Baby Boomers (ledakan kelahiran) memasuki kelompok usia lebih tua.
Namun, kelompok lanjut usia yang lebih tua diperkirakan tumbuh pesat setelah
tahun 2020. Gambar 7.1 menunjukkan perkiraan perubahan populasi. Proyeksi
Baby Boomers ditampilkan dengan warna kontras.
Studi penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa tingkat edentulism menurun.
Edentulism di Amerika Serikat menurun dari 10,8 % pada tahun 1988-1994 menjadi 7,7
% pada tahun 1999-2002. Pada tahun 2004 hanya 27 % lansia yang edentulous/ tidak
bergigi. Studi menunjukkan kehilangan gigi bukanlah hal yang wajar ketika usia beranjak
tua. Sebaliknya tingkat edentulism dipengaruhi oleh budaya, faktor sosial ekonomi, akses
pelayanan perawatan kesehatan, negara, sikap terhadap kesehatan gigi dan mulut, diet,
dan nutrisi. Gambar 7.2 dan 7.3 menunjukkan penurunan tingkat edentulism di Amerika
Serikat.

Tingkat edentulism semakin menurun, dan sekitar 74 %


penduduk usia 75 tahun atau lebih sebagian besar bergigi
dengan

rata-rata

kurang

dari

sepuluh

gigi

yang

hilang.

Kehilangan gigi dapat berdampak pada psikososial, gizi, dan


secara keseluruhan termasuk kesejahteraan individu. Masih
terdapat kemungkinan besar bahwa penduduk usia 65 tahun
atau lebih membutuhkan beberapa pengganti gigi yang hilang.
Sebagian besar orangtua membayar biaya perawatan gigi dari
saku sendiri. Hanya 22% dari orangtua yang memiliki asuransi
kesehatan gigi dan mulut. Pengganti ideal gigi yang hilang yaitu
implan

dalam

kebanyakan

situasi.

Bagi

orangtua

dengan

penghasilan tetap tanpa asuransi kesehatan gigi dan mulut harus

membayar biaya perawatan sendiri, sehingga implan dapat


menjadi penghalang. Sebaliknya, gigi tiruan sebagian lepasan
dapat menjadi pilihan yang lebih terjangkau. Kecuali ada upaya
pemerintah

untuk

membantu

biaya

perawatan

gigi

yang

kompleks seperti implan, gigi tiruan sebagian lepasan akan tetap


menjadi pilihan prosthodontic.

Perubahan Pada Pasien Geriatric


Perubahan fisik, fisiologis, dan perubahan psikologis
Peningkatan usia hidup seseorang dan penurunan angka kematian. Dengan
meningkatnya usia seseorang kemungkinan memiliki risiko kelainan sistemik
yang lebih tinggi. Kehadiran satu penyakit morbiditas serta dua atau lebih
penyakit ko-morbiditas. Sebagian besar kondisi morbid menjadi kronis dan sering
mempengaruhi kehidupan dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari atau
Activity of Daily Living (ADL). Penyakit kronis yang paling umum pada orangtua
yaitu arthritis, hipertensi, penyakit jantung, perubahan kemampuan penglihatan,
dan diabetes melitus. Kondisi sistemik berdampak pada gerak motorik, fungsi
tubuh, koordinasi, dan proses berpikir seseorang.
Perubahan fisik merupakan hal normal pada orangtua lanjut usia adalah
hilangnya tonus otot, perubahan skeletal seperti postur, gangguan penglihatan dan
pendengaran. Perubahan fisiologis dapat terjadi seperti inkontinensia, perubahan
pencernaan, gaya berjalan, dan gangguan keseimbangan. Peningkatan perubahan

psikologis seperti demensia, depresi, dan gangguan tidur. Karena perubahan


tersebut, orangtua dengan lanjut usia keadaan umumnya menjadi lemah.
Proses penuaan secara normal disertai kondisi sitemik dapat mempengaruhi
kemampuan pasien untuk beradaptasi dengan gigi tiruan sebagian lepasan.
Hilangnya fungsi otot dan kemampuan motorik akan mempengaruhi kemampuan
orangtua untuk membersihkan, meletakkan, dan mempertahankan gigi tiruan
sebagian lepasan. Perubahan psikologis akan berdampak pada keinginan dan
kepatuhan serta pemeliharaan gigi tiruan sebagian lepasan.

Gambar 7.1 Perubahan dan Proyeksi Populasi di Amerika Serikat pada tahun
1980 2040. Proyeksi populasi tahun 2030 menunjukkan peningkatan yang besar
pada kelompok usia 65 tahun dan kelompok usia yang lebih tua jika dibandingkan
dengan kelompok yang sama di tahun 1980. Pertumbuhan ini disebabkan karena
meningkatnya harapan hidup. Generasi baby boomers ditandai dengan warna
merah. Sumber : Issued December 2005. Laporan Arus Populasi. Special Studies.
http://www.cencus.gov/prod/2006pubs/p23-209.pdf. Diakses pada 10 September
2007. Public domain.

Gambar 7.2 Prevalensi edentulous berusia 65+ tahun di Amerika Serikat.


Perbandingan selama 10 tahun dari tahun 1980, tingkat edentulous menurun pada
usia 65 tahun dan usia yang lebih dari 65 tahun. Tingkat ini diharapkan akan terus
menurun pada orang yang lebih tua. Sumber : Vargas, C., Kramarow, E.,
Yellowitz, J. The oral Health of Older Americans. CDC, Aging Trends No. 3.
Hyattsville, MD: National Center for Health Statistics. Maret 2001. Public
Domain.

Arthritis
Penyakit yang paling umum dan sering muncul pada orang tua adalah
arthritis. Di Amerika Serikat, penyakit ini adalah penyebab cacat fisik yang paling
sering dan lazim terjadi pada setengah orang berusia 65 tahun dan lebih dari 65
tahun. Arthritis adalah penyebab kecacatan paling tinggi pada masyarakat. .
Tanda-tandanya berupa kekakuan di pagi hari, nyeri sendi, kadang radang dan
pembengkakan. Wanita lebih cenderung terkena arthritis. Arthritis dapat muncul
pada berbagai macam penyakit seperti arthritis rheumatoid, osteoarthritis,
diabetes, penyakit jantung, encok, lupus sistemik dan fibromyalgia.
Penyakit arthritis dapat menyebabkan kemampuan untuk membersihkan
mulut dan melepaskan protesa dari mulut menjadi semakin sulit. Kesulitan untuk
membuka mulut karena perubahan sendi temporomandibular juga dapat muncul.
Sikat gigi elektrik atau memodifikasi sikat untuk meningkatkan genggaman
sangat membantu pasien ini.

Stroke
Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), stroke
adalah penyebab kematian paling tinggi di Amerika Serikat. Penyakit ini sering
mengakibatkan cacat fisik dalam waktu yang lama. Sebagian besar stroke muncul
pada orang yang berusia lebih dari 65 tahun. Setelah usia 55 tahun, stroke dua kali
lipat lebih berisiko pada setiap dekade kehidupan. Perubahan fisik karena stroke
dapat bervariasi tergantung dari keparahan stroke. Kecacatan tergantung pada
ukuran, lokasi dan tipe lesi. Biasanya stroke mempengaruhi salah satu sisi tubuh,
disebut hemiplegia. Akibatnya adalah hilangnya kekuatan dan proprioseptif otot.
Akibatnya, akan menjadi lebih sulit untuk melepaskan dan menempatkan
protesa sebagian lepasan. Komplikasi lainnya pada mulut penderita stroke adalah
kesulitan mengunyah dan melembutkan makanan dengan lidah. Parsial unilateral
merupakan kontraindikasi pada pasien stroke karena tingginya resiko aspirasi.
Proses bicara juga dapat berubah dan menggunakan alat di dalam mulut akan
membuat proses bicara semakin sulit. Kebersihan mulut seringkali buruk dan
proses

membersihkan protesa lepasan akan sulit. Sikat gigi elektrik atau

pegangan sikat yang besar akan membantu bagi pasien stroke.

Gambar 7.3. Penurunan tingkat edentulism di Amerika Serikat, 1971 - 1994. Pada
tahun 1994, hanya 28,6% dari kelompok berusia 65-74 tahun adalah edentulous.
Pada tahun 1974, kelompok yang sama ini memiliki tingkat edentulous dari
45,6%. Tren penurunan pada semua kelompok umur menunjukkan bahwa lebih
banyak dari populasi yang mempertahankan gigi asli mereka. Sumber: United
States Department of Health and Human Services. Report. Oral Health in
America: A Report of the Surgeon General. 2000. Public Domain.
Demensia
Demensia adalah penyakit umum yang berkaitan dengan usia. Setelah usia
65 tahun kemungkinan untuk terkena demensia mengganda setiap 5 tahun.
Prevalensi demensia meningkat seiring usia. Pada usia 60 prevalensinya 1% dan
kemudian meningkat sebanyak 40% pada usia 85. Demensia adalah penyakit
kronis pada 65% dari populasi geriatri. Sebagian besar dari kasus demensia adalah
non reversibel. Biasanya gangguan demensia terjadi pada penyakit alzheimer,
demensia vaskular, dan penyakit parkinson.
Gejala demensia mencakup berbagai masalah termasuk kehilangan
memori dan kognitif yang berfungsi lebih tinggi. Dengan perkembangan dari
gangguan demensia, kemampuan untuk melakukan Activities of Daily Living
(ADLs) normal menjadi semakin sulit. Mempertahankan kesehatan mulut
9

termasuk gigi tiruan sebagian lepasan dapat menjadi tidak mungkin. Seperti
pasien stroke, risiko aspirasi adalah yang harus dikhawatiran.
Hal ini penting bagi dokter gigi untuk berkomunikasi sejak awal dengan
keluarga dan pengasuh untuk memberikan instruksi dan pendidikan tentang
membantu menjaga kebersihan mulut dan melepaskan juga membersihkan gigi
tiruan lepasan. Prevalensi edentulism menurun tetapi di sisi lain terdapat
tantangan lebih sulit bagi dokter gigi dalam mempertahankan kesehatan mulut.
Terdapat prevalensi karies yang lebih tinggi terutama pada permukaan akar.
Karies akar dapat dikaitkan dengan kebersihan mulut yang buruk serta obat yang
digunakan dalam pengobatan demensia. Obat-obat ini menyebabkan disfungsi
saliva yang mengarah ke xerostomia. Seiring meningkatnya populasi lansia,
diperkirakan jumlah kasus demensia akan meningkat.

Xerostomia
Penyakit

sistemik

dan

perawatannya

seperti

obat-obatan

dapat

menyebabkan xerostomia atau mulut kering pada pasien geriatri. Mulut kering
biasa terjadi pada lansia dan menyebabkan kesulitan makan, minum,dan
berbicara. Ada juga gangguan pada ketahanan tubuh yang dapat menyebabkan
peningkatan infeksi oral serta karies. obat merupakan penyebab yang paling
umum dari xerostomia. 80% penyebab xerostomia adalah obat yang paling sering
diresepkan.
Pasien yang memakai gigi tiruan lepasan dan memiliki mulut kering
mengalami beberapa kesulitan. Terdapat peningkatan luka akibat gigi tiruan,dan

10

retensi dari protesa lepasan menurun. Permukaan mukosa di mulut menjadi sangat
kering dan rapuh. Napas yang buruk dan mulut terasa perih juga umum
ditemukan. Kesukaran dalam berbicara dan makan menyebabkan penderita
menghindari interaksi sosial. Pasien mulut kering lebih rentan untuk terkena
kandidiasis oral. Kandidiasis oral bisa juga tumbuh di protesa gigi lepasan.
Pendidikan pasien dengan penekanan pada kebersihan oral dan
pencegahan penyakit mulut adalah penting. Kunjungan ke dokter gigi diperlukan
untuk memonitor kondisi oral. Topikal fluoride rumahan dan berkumur dengan
antimikroba berguna untuk mencegah penyakit mulut. Pasien mulut kering juga
dapat menggunakan sialogogues atau obat yang merangsang aliran saliva.
Stimulasi aliran saliva dapat dilakukan dengan penggunaan permen karet tanpa
gula,

dan permen. Pasien diinstruksikan untuk membenamkan gigi tiruan

sebagian lepasan di 0,12% chlorhexidine sekali atau dua kali sehari untuk
mencegah pertumbuhan jamur. Pasien diinstruksikan untuk meningkatkan asupan
cairan ketika makan dan membawa botol air setiap saat.

Kesimpulan
Populasi lansia meningkat dan terus menunjukkan penurunan kehilangan
gigi. Hal tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh pendidikan pasien, peningkatan
pencegahan penyakit mulut, fluoride, teknologi perawatan baru, dan peningkatan
kunjungan ke dokter gigi. Seiring dengan terus meningkatnya populasi penduduk
usia lanjut, dokter gigi harus siap untuk menangani kebutuhan untuk perawatan
gigi kompleks seperti yang terlihat dalam pasien medis lansia. Perhatian harus

11

lebih ditekankan pada pelatihan siswa gigi dalam kedokteran geriatri dan
kedokteran gigi. Ketika disurvei, 25% dari siswa kedokteran gigi menunjukkan
lebih diperlukannya pelatihan geriatri di kurikulum pendidikan kedokteran gigi.
Sebagian besar sekolah memiliki program didaktik geriatri tetapi beberapa tidak
memiliki program geriatri klinis. Dokter gigi harus dilatih lebih baik dalam
memahami medis, farmakologi, dan kebutuhan psikologis dari pasien geriatri.
Keterampilan dan pelatihan spesialisasi gigi khusus sangat penting untuk dokter
gigi dalam menentukan perawatan yang sesuai untuk pasien geriatri.
Edentulism menurun dan lansia akan memiliki gigi alami dengan beberapa
kehilangan gigi. Kebutuhan untuk gigi tiruan sebagian lepasan akan terus ada
hingga masa yang akan datang. Sekolah kedokteran gigi akan selalu memiliki
kebutuhan untuk mendidik siswa tentang desain gigi tiruan sebagian lepasan.
Dengan teknologi, bahan dan desain baru, gigi tiruan sebagian lepasan harus terus
mengalami kemajuan.
Mayoritas uang para lansia keluar untuk perawatan gigi. Bagi banyak
pasien geriatri, biaya penggantian kehilangan gigi tidak terjangkau. Kedokteran
gigi harus mengambil tindakan lebih aktif dalam meningkatkan keuntungan gigi
untuk lansia di daerah dan negara. keterlibatan dalam proyek-proyek masyarakat
lanjut usia adalah lahan yang dapat bidang kedokteran gigi manfaatkan untuk
menciptakan perbedaan dalam meningkatkan kesehatan mulut pasien geriatri.
Mendidik populasi yang menua dalam pencegahan penyakit mulut, pemeliharaan
gigi yang ada, dan penggantian gigi yang hilang bisa meningkatkan kualitas hidup
secara signifikan.
12

DAFTAR PUSTAKA

Jones, D.J., L.T. Garcia. 2009. Removable Partial Dentures. Singapore. Blackwell
Publishing. PP 171-176

13

Anda mungkin juga menyukai