Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK NYERI KRONIS PADA LANSIA


DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA
BUDI SEJAHTERA BANJARBARU
Tanggal Praktik 14 s.d 19 Maret 2016
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Program Pendidikan Profesi
Pada Stase Keperawatan Gerontik

Oleh:
Rizka Hayyu Nafiah, S.Kep
NIM. I4B111206

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2016

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN NYERI KRONIS PADA LANSIA
DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA
BUDI SEJAHTERA BANJARBARU

Tanggal 14-19 Maret 2016

Oleh:
Rizka Hayyu Nafial, S. Kep
NIM. I4B111206

Banjarbaru,

Maret 2016

Mengetahui,
Pembimbing Akademik

Pembimbing Lahan

Kurnia Rachmawati, S. Kep., Ns., MNSc

Mutya Ilfah, S.Kep

a.

1.

Konsep Nyeri
Definisi Nyeri
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan

akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial (Smeltzer & Bare,
2002). Menurut Potter dan Perry (2006) nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih
dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu. Nyeri sangat
bersifat subjektif dan sangat bersifat individual. Berdasarkan beberapa pengertian
di atas dapat disimpulkan bahwa nyeri merupakan kondisi yang tidak
menyenangkan yang dialami oleh seseorang sebagai akibat dari kerusakan
jaringan aktual maupun potensial, yang bersifat subjektif dan individual. Rasa
nyeri merupakan mekanisme perlindungan. Rasa nyeri timbul bila ada kerusakan
jaringan, dan hal ini akan menyebabkan individu bereaksi dengan cara
memindahkan stimulus nyeri (Guyton & Hall, 2007).
2.
a.

Jenis-jenis Nyeri
Nyeri Akut
Nyeri akut biasanya awitannya tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan

cidera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan atau cidera telah
terjadi. Nyeri akut umumnya terjadi kurang dari enam bulan dan biasanya kurang
dari satu bulan. Cidera atau penyakit yang menyebabkan nyeri akut dapat sembuh
secara spontan atau dapat memerlukan pengobatan (Smeltzer & Bare, 2002).
b. Nyeri Kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang
suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung diluar waktu penyembuhan yang
diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan penyebab atau cidera
spesifik. Nyeri kronis tidak mempunyai awitan yang dapat ditetapkan dengan
tepat dan sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan
respons terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri kronis
sering didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama enam bulan atau lebih
(Smeltzer & Bare, 2002). Nyeri kronis yang terjadi setelah suatu cidera atau
proses penyakit diduga terjadi karena ujung-ujung saraf yang normalnya hanya
mentransmisikan stimulus yang sangat nyeri, mentransmisikan stimulus yang
sebelumnya tidak nyeri sebagai stimulus yang sangat nyeri.

Karakteristik nyeri kronis adalah area nyeri tidak mudah diidentifikasi,


intensitas nyeri sukar di turunkan, rasa nyerinya biasanya meningkat, sifatnya
kurang jelas dan kemungkinan kecil untuk sembuh/ hilang,biasa terjadi perubahan
kepribadian dan penurunan berat badan.
Nyeri kronis dapat di kategorikan menjadi dua, yaitu:
1) Nyeri kronis maligna
Nyeri ini dapat digambarkan sebagai nyeri yang berhubungan dengan
kanker atau penyakit progresif lainnya.
2) Nyeri kronis non maligna
Nyeri ini biasanya dikaitkan dengan nyeri akibat kerusakan jaringan non
progresif atau telah mengalami penyembuhan.
3.
Etiologi Nyeri
a. Trauma
Mekanik : rasa nyeri timbul akibat ujung- unjung saraf bebas mengalami

kerusakan. Misalnya akibat benturan, gesekan, luka dan lain- lain.


Thermis : nyeri pinggul karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan

akibat panas, dingin, misalnya karena api dan air.


Khemis : timbul karena kontak dengan zat kimia yang bersifat asam atau

basa kuat.
Elektrik : timbul karena pengaruh aliran listrik yang kuat mengenai

reseptor rasa nyeri yang menimbulkan kekejangan otot dan luka bakar
b. Neoplasma
Jinak
Ganas
c. Peradangan
Nyeri terjadi karena kerusakan ujung- ujung saraf reseptor akibat adanya
peradangan atau terjepit oleh pembengkakan, Misanya abses.
d. Gangguan sirkulasi darah dan kelainan pembuluh darah
e. Trauma psikologis
4.

Persepsi Nyeri pada manusia


Persepsi nyeri pada manusia dapat di bagi menjadi 3 jenis, yaitu :

Nyeri cepat yang terasa setempat,menusuk,cepat menghilang seperti misalnya

tertusuk jarum.
Nyeri yang perlahan timbulnya,berlangsung lama,tak jelas lokasinya di sertai
reaksi autonom dan psikis yang di sebut nyeri membara.

Nyeri viseral atau nyeri dalam yang timbul karena terangsangnya alat-alat
dalam.Nyeri primer yang di ikuti nyeri sekunder dapat di sertai reaksi refleks
somatis berupa gerakan menarik bagian badan yang nyeri ,rintihan
,teriakan.selain itu dapat pula timbul reaksi autonom berupa takikardi,

5.
-

hipertensi,hiperpne dan reaksi psikis seperti gelisah,resah,agresi,frustasi.


Fisiologi Nyeri
Masuknya aktivitas saraf aferen dimodulasi oleh mekanisme
pembukaan/penutupan gerbang (gating mechanism) di dalam tanduk dorsal
korda spinalis dan batang otak. Gerbang ini merupakan inhibitor atau
fasilitator bagi aktivitas sel Transmisi (T) yang membawa aktivitas lebih jauh

sepanjang jalur saraf.


Gerbang dipengaruhi oleh derajat relatif dari aktivitas serabut beta A dengan
diameter besar, serabut delta A diameter kecil serta serabut C. Serabut beta A
diameter besar diaktifkan oleh stimuli tidak berbahaya dan pada aktifitas
serabut aferen besar cenderung menutup gerbang sedangkan aktifitas serabut

kecil cenderung membukanya.


Mekanisme kontrol serabut saraf desendens dari tingkatan yang lebih tinggi di
susunan saraf pusat dipengaruhi oleh proses kognitif, motivasional dan afektif
Derajat mekanisme yang lebih tinggi ini juga memodulasi gerbang. Aktivitas di
dalam serabut aferen besar tidak hanya cenderung menutup gerbang secara
langsung tetapi juga mengaktifkan mekanisme kontrol pusat yang menutup

gerbang.
Saat gerbang terbuka dan aktivitas di dalam aferen yang baru masuk cukup

untuk mengaktifkan sistem transmisi, dua jalur asendens utama diaktifkan.


Yang pertama adalah jalur sensoris-diskriminatif, yang bersambung dengan
korteks somatosensoris serebri melalui thalamus ventroposterior. Jalur ini
memungkinkan penentuan tempat nyeri. Kedua, jalur asendens yang
melibatkan informasi retikuler melalui sistem thalamus dan limbus medial.
Jalur ini berurusan dengan rasa tidak enak, penolakan (aversif) dan aspek
emosional dari nyeri. Jalur desendens, selain berpengaruh pada gerbang
6.
a.

tanduk dorsal, dapat juga berinteraksi dengan kedua sistem asendens ini.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respons Nyeri
Pengalaman Masa Lalu dengan Nyeri

Seseorang yang mempunyai pengalaman multipel dan berkepanjangan


dengan nyeri akan lebih sedikit gelisah dan lebih toleran terhadap nyeri dibanding
orang yang hanya mengalami sedikit nyeri.
b. Ansietas dan Nyeri
Ansietas yang relevan atau berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan
persepsi pasien terhadap nyeri.
c.

Budaya dan Nyeri


Budaya dan etniksitas mempunyai pengaruh pada bagaimana seseorang

berespons terhadap nyeri. Namun budaya dan etnik tidak mempengaruhi persepsi
nyeri. Sebagai contoh anak anak yang sejak kecil diajarkan bahwa cidera akibat
olahraga tidak terlalu menyakitkan dibandingkan dengan cidera akibat kecelakaan
bermotor. Maka mereka memiliki persepsi bahwa cidera bermotor akan lebih
menyakitkan daripada cidera olahraga.
d. Usia dan Nyeri
Lansia memiliki cara berespon yang berbeda terhadap nyeri dibandingkan
dengan orang yang berusia lebih muda. Nyeri pada lansia mungkin dialihkan jauh
dari tempat cidera atau penyakit. Persepsi nyeri pada lansia mungkin berkurang
sebagai akibat dari perubahan patologis berkaitan dengan beberapa penyakit
(misalnya diabetes), tetapi pada individu lansia yang sehat, persepsi nyeri
mungkin tidak berubah. Karena individu lansia mempunyai metabolisme yang
lebih lambat dan rasio lemak tubuh terhadap massa otot lebih besar disbanding
individu berusia lebih muda, sehingga analgesik dosis kecil mungkin cukup untuk
menghilangkan nyeri.

e.

Efek Plasebo
Efek plasebo terjadi ketika seseorang berespons terhadap pengobatan atau

tindakan lain karena suatu harapan bahwa pengobatan atau tindakan tersebut akan
memberikan hasil bukan karena tindakan tersebut benar-benar bekerja, namun
karena menerima pengobatan atau tindakan saja sudah memberikan efek positif
bagi mereka.
7.

Penilaian Nyeri

Penilaian nyeri merupakan elemen yang penting untuk menentukan terapi


nyeri paska pembedahan yang efektif. Skala penilaian nyeri dan keterangan pasien
digunakan untuk menilai derajat nyeri. Intensitas nyeri harus dinilai sedini
mungkin selama pasien dapat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi nyeri
yang dirasakan. Ada beberapa skala penilaian nyeri pada pasien sekarang:
a.

Wong-Baker Faces Pain Rating Scale


Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda, dimulai

dari senyuman sampai menangis karena kesakitan. Skala ini berguna pada pasien
dengan gangguan komunikasi, seperti anak-anak, orang tua, pasien yang
kebingungan atau pada pasien yang tidak mengerti dengan bahasa lokal setempat.

b.

Verbal Rating Scale (VRS)


Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan berdasarkan skala

lima poin; tidak nyeri, ringan, sedang, berat dan sangat berat.

c.

Numerical Rating Scale (NRS)


Pertama sekali dikemukakan oleh Downie dkk pada tahun 1978, dimana

pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan menunjukkan


angka 05 atau 010, dimana angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka 5
atau 10 menunjukkan nyeri yang hebat.

d.

Visual Analogue Scale (VAS)


Skala yang pertama sekali dikemukakan oleh Keele pada tahun 1948 yang

merupakan skala dengan garis lurus 10 cm, dimana awal garis (0) penanda tidak
ada nyeri dan akhir garis (10) menandakan nyeri hebat. Pasien diminta untuk
membuat tanda digaris tersebut untuk mengekspresikan nyeri yang dirasakan.
Penggunaan skala VAS lebih gampang, efisien dan lebih mudah dipahami oleh
penderita

dibandingkan

dengan

skala

lainnya.

Penggunaan VAS

telah

direkomendasikan oleh Coll dkk karena selain telah digunakan secara luas, VAS
juga secara metodologis kualitasnya lebih baik, dimana juga penggunaannya
realtif mudah, hanya dengan menggunakan beberapa kata sehingga kosa kata tidak
menjadi permasalahan. Willianson dkk juga melakukan kajian pustaka atas tiga
skala ukur nyeri dan menarik kesimpulan bahwa VAS secara statistik paling kuat
rasionya karena dapat menyajikan data dalam bentuk rasio. Nilai VAS antara 04
cm dianggap sebagai tingkat nyeri yang rendah dan digunakan sebagai target
untuk tatalaksana analgesia. Nilai VAS > 4 dianggap nyeri sedang menuju berat
sehingga pasien merasa tidak nyaman sehingga perlu diberikan obat analgesik
penyelamat (rescue analgetic).

8.
a.

Penatalaksanaan Nyeri
Terapi non-Farmakologis
Ada beberapa metode metode non-farmakologi yang digunakan untuk
membantu penanganan nyeri paska pembedahan, seperti menggunakan terapi
fisik (dingin, panas) yang dapat mengurangi spasme otot, akupunktur untuk
nyeri kronik (gangguan muskuloskletal, nyeri kepala), terapi psikologis
(musik, hipnosis, terapi kognitif, terapi tingkah laku) dan rangsangan elektrik
pada sistem saraf (TENS, Spinal Cord Stimulation, Intracerebral Stimulation.

b.

Terapi Farmakologis
Modalitas analgetik paska pembedahan termasuk didalamnya analgesik
oral parenteral, blok saraf perifer, blok neuroaksial dengan anestesi lokal dan
opioid intraspinal. Pemilihan teknik analgesia secara umum berdasarkan tiga
hal yaitu pasien, prosedur dan pelaksanaannya. Ada empat grup utama dari
obat-obatan analgetik yang digunakan untuk penanganan nyeri paska
pembedahan.

Obat farmakologis untuk penanganan nyeri

c.

Pencegahan primer
Lansia adalah subjek terhadap nyeri akut dari infeksi, pembedahan, dan

trauma.Masalah-masalah keseimbangan, vertigo, ketidakstabilan sendi, kelemahan


otot, dan penurunan ketajaman penglihatan merupakan predisposisi bagi lansia
untuk mengalami kecelakaan.Hal yang penting untuk mencegah dan mengatasi
rasa nyeri adalah mempertahankan kesehatan yang optimal.Nutrisi, hidrasi, tidur,
dan aktivitas perlu ditingkatkan.
d.

Pencegahan Sekunder
Pelaksanaan Asuhan Keperawatan.

e.

Pencegahan Tersier
Perawat Sebagai Advokat dan Edukator Pasien
Posisi perawat dalam merawat lansia yang mengalami nyeri meliputi menjadi

model peran untuk orang lain untuk memeriksa sikap dan prasangka pasien pada
nyeri. Perawat menjadi advokat dengan mengajarkan kepada lansia dan
keluarganya untuk mengharapkan pengurangan nyeri yang adekuat.Pemerintah
telah mengembangkan pedoman praktik klinis untuk nyeri akut, nyeri punggung
bagian bawah, dan nyeri kanker melalui lembaga Health Care and Policy and
Research. Standar-standar ini, jika secara konsisten digunakan, akan memiliki
dampak yang signifikan pada masalah nyeri. Perawat harus mengetahui sumbersumber yang tersedia untuk nyeri dan penatalaksanaannya untuk membantu lansia
yang mengalami nyeri.

Nyeri bukan dan tidak boleh menjadi bagian normal dari penuaan.Melalui
advokasi dan pengajaran, upaya perawat dan upaya berbagai pihak untuk
mengurangi nyeri adalah langka pertama dalam melawan masalah nyeri pada
lansia.
Asuhan Keperawatan Nyeri pada Lansia
a) Pengkajian
Sebagian besar profesional kesehatan hanya memiliki sedikit pengetahuan
tentang prevalensi nyeri pada lansia karena kurangnya pengkajian dan
dokumentasi.Untuk dapat ditangani, nyeri terlebih dahulu harus diidentifikasi dan
didokumentasikan.Banyak orang percaya bahwa nyeri tidak dapat dihindarkan
seiring dengan penuaan.Lansia dapat menyangkal rasa nyeri yang dirasakan
karena takut menderita kanker, pengobatan medis, biaya, menjadi beban keluarga,
atau kemungkinan diinstitusionalisasi.Tersedia beberapa alat yang sangat
membantu untuk mengkaji nyeri.Salah satu alat yang paling nyaman digunakan
adalah skala intensitas nyeri 0 sampai 10.
Skala memberikan suatu pemahaman yang lebih objektif tentang nyeri
seseorang.Skala tersebut biasanya dengan mudah dapat digunakan dalam berbagai
situasi.Grafik wajah-wajah nyeri dan gambar grafik tubuh juga merupakan alat
yang sangat berguna.Lansia harus diminta untuk menggambarkan kualitas nyeri
dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Perawat dapat meminta pasien untuk
menentukan apa yang membuat nyeri terasa lebih baik atau yang membuatnya
lebih buruk. Anjurkan pasien untuk menunjuk ke daerah nyeri atau menandai
lokasinya pada grafik tubuh.
Jika lansia mengalami nyeri akut, hanya pertanyaan esensial yang harus
ditanyakan.Seringnya memposisikan pasien atau imobilisasi dapat memperberat
nyeri. Pertanyaan yang tepat adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Kapan nyeri dimulai?


Bagaimana kualitasnya, termasuk intensitas?
Apa yang telah dilakukan untuk mengatasinya?
Kapan hal itu terjadi?
Apakah anda mengalami nyeri kronis?
Di mana itu?
Bagaimana kualitasnya?

Untuk melakukan pengkajian nyeri yang lengkap, perawat harus


menanyakan kepada klien tentang riwayat medisnya. Sering kali, ketika pasien
berada dalam keadaan nyeri, ia mungkin pergi ke beberapa dokter dan menerima
berbagai jenis resep. Perawat harus menemukan pengobatan yang digunakan oleh
pasien, baik yang diresepkan maupun yang dibeli bebas.Jika terdapat penyakit
penyerta, ada resiko terjadi toksisitas dan reaksi sensitivitas karena asupan obatobat yang tidak sesuai.Apakah pasien menggunakan obat-obat tradisional untuk
nyeri?Bagaimana nyeri mempengaruhi kualitas kehidupan klien?Aktivitas?Fungsi
sosial?Apakah pasien mengalami depresi karena rasa nyerinya?
Perawat harus membangun rasa percaya dengan cara pada awalnya
membiarkan pasien mengetahui bahwa perawat percaya. Perawat harus tampak
tidak tergesa-gesa dalam pengkajian, memberikan waktu pada pasien untuk
berespon.Perawat harus menghadap kepada orang tersebut, berbicara perlahanlahan dan jelas.Pasien mungkin memiliki masalah kognitif ringan atau berat, dan
mungkin menunjukkan masalah penglihatan atau pendengaran.Perawat harus siap
untuk membaca atau menunjukkan pertanyaan atau menggambarkan skala nomor
kepada pasien.
Evaluasi pengurangan rasa nyeri yang telah dicapai sangat penting untuk
mencegah nyeri memuncak melebihi tingkat yang dapat ditoleransi. Perawat tidak
dapat bergantung pada pasien dalam melaporkan pengurangan nyeri yang tidak
adekuat karena ia percaya bahwa pengurangan nyeri yang telah dicapai adalah
yang terbaik atau permintaan bantuan yang lain mungkin ditolak. Pasien harus
dianjurkan untuk mengatakan rasa nyerinya dan membiarkan pemberi perawatan,
anggota keluarga, atau dokter mengetahui jika nyeri tidak terkendali.Namun,
perawat tidak boleh menjanjikan kepada pasien bahwa nyeri dapat dihilangkan
sepenuhnya.Tujuannya adalah untuk menurunkan nyeri sampai pada tingkat yang
dapat ditoleransi dan tingkat fungsional.
Kesulitan dalam pengkajian nyeri dapat terjadi pada lansia yang tidak dapat
mengungkapkan sesuatu secara verbal, koma, atau konfusi.Perilaku-perilaku
tertentu dapat mengekspresikan nyeri seperti mengerang, kegelisahan, atau

penarikan diri. Juga, perawat harus waspada bahwa setiap kondisi atau
penanganan yang oleh pasien yang dapat berbicara dikatakan sebagai penyebab
nyeri mungkin juga menjadi penyebab nyeri pada lansia yang tidak dapat
berbicara dalam situasi yang hampir sama. Reaksi terhadap penanganan nyeri
mungkin sama tidak bergantung pada apakah dia bisa atau tidak bisa
mengungkapkan nyeri secara verbal. Contoh kondisi ini adalah mengatur posisi
pasien dengan fraktur atau kontraktur, mengganti balutan, dan pemberian
makanan melalui slang.Pasien tersebut harus diobati walaupun mereka tidak dapat
mengungkapkan nyerinya.
No
1.

Data
DO
1. Ekspresi
tampak

wajah
menahan

nyeri

Masalah

Etiologi

Diagnosis Keperawatan

Nyeri

Agen cidera

Nyeri berhubungan dengan

biologi

agen cidera biologi ditandai


dengan

ekspresi

wajah

tampak menahan nyeri, klien

DS

mengatakan

1. Klien mengatakan
nyeri

diarea

punggung
2. Klien
mengeluh

nyeri

diarea

punggungdan klien mengeluh


sakit perut sebelah kiridan
menjalar kebelakang

sakit perut sebelah


kiridan

menjalar

kebelakang

NOC: Pain Control


Setelah diberikan intervensi keperawatan selama 1x24jam diharapkan pasien
dapat:
(1) Mengenal gejala nyeri (4)
(2) Melaporkan nyeri yang dirasakan (5)
(3) Mengenali faktor penyebab nyeri (4)
(4) Menggunakan terapi non-analgesik untuk mengurangi nyeri (4)

NIC: Pain Management


1) Observasi

ketidaknyamanan

pasien

secara

nonverbal,

khususnya

komunikasi yang tidak efektif


2) Eksplorasi pasien faktor-faktor yang dapat memperberat dan meringankan
nyeri
3) Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
4) Sediakan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama
nyeri akan berakhir dan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi
nyeri
5) Kolaborasi pemberian analgesik dengan dokter

DAFTAR PUSTAKA
1.

Dochterman, J.M.C., & Bulechek, G.M. (2004). Nursing intervention

2.

classification (4th ed.). Missouri: Mosby.


Guyton, A.C., & Hall, J.E. (2007). Buku ajar fisiologi kedokteran (11th ed.).

3.
4.
5.

Jakarta: EGC.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24986/3/Chapter%20II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31992/4/Chapter%20II.pdf
Johnson, M., Maas, M., & Moorhead, S. (2004). Nursing outcomes
classification (2nd ed.). Missouri: Mosby.

6.

Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri, R., Wardhani, W.I., & Setiowulan, W.
(Eds.).

(2009). Kapita selekta kedokteran (3rd ed. 1st vol). Jakarta: Media

7.

Aesculapius.
Potter, P.A., & Perry, A.G. (2006). Buku ajar fundamental keperawatan

8.

konsep, proses, dan praktik. (4th ed. 2nd vol). Jakarta: EGC
Santosa, B. (2005). Panduan diagnosa keperawatan NANDA. Jakarta: Prima

9.

Medika.
Smeltzer, S., & Bare, B. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah
brunner & suddarth (8th ed. 2nd vol). Jakarta: EGC.