Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit stroke termasuk penyakit pembuluh darah otak (Cerebrovaskuler) yang
ditandai dengan kematian jaringan otak (Infark Serebral) yang disebabkan berkurangnya
aliran darah dan oksigen ke otak sehingga mengakibatkan serangkaian reaksi biokimia yang
dapat merusak atau mematikan sel-sel otak. Apabila tidak ditangani secara tepat, penyakit
ini dapat berakibat fatal seperti bentuknya dapat berupa lumpuh sebelah (Hemiplegia),
berkurangnya kekuatan sebelah anggota tubuh (hemiparesis), gangguan bicara, serta
gangguan rasa (sensasi )di kulit wajah, lengan dan tungkai dan berujung pada kematian
(Utami, 2010. h 2).
Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung
dan kanker. Menurut Riskesdas tahun 2007, hasilnya adalah penyakit stroke merupakan
pembunuh utama di kalangan penduduk perkotaan (RisKesDas 2007, diunduh pada tanggal
11 Februari

2016). Menurut yayasan Stroke Indonesia, terdapat kecenderungan

meningkatnya jumlah penyandang stroke Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Diperkirakan


ada 500.000 penduduk Indonesia yang terkena stroke setiap tahunnya dari jumlah tersebut,
sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan
sampai sedang, dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang
mengharuskan penderita terus menerus berbaring di kasur.
Kecenderungan penyakit stroke mulai menyerang generasi muda yang masih
produktif. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat
mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. (Utami, 2010. h 1). Rata-rata umur
klien yang menderita stroke antara umur 20-44 tahun adalah 198 penderita. Berarti stroke
sudah tidak lagi menyerang hanya pada lansi tetapi pada usia muda juga, kemungkinan ini
terjadi karena pola makan, pola hidup sehat, dan kurang olahraga. Oleh karena itu perlu
dilakukan tindakan pencegahan untuk mencegah akibat lanjut stroke adalah hipoksia
serebral, penurunan aliran darah serebral, dan embolisme serebral (Smeltzer & Bare 2001,
h.2137).
Pada masalah kesehatan diatas peran perawat sangat dibutuhkan dalam keluarga
khususnya yang mengalami penyakit stroke. Peran perawat dapat memberikan penyuluhan
1

mengenai penyakit stroke seperti pengertian, penyebab, tanda gejala, akibat lanjutnya.
Perawat juga dapat berperan sebagai konsultan keluarga untuk mengambil keputusan
keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Perawat juga dapat mengajarkan cara
perawatan pasien stroke dirumah dengan cara mengajarkan kepada keluarga cara latihan
rentang gerak sendi atau ROM (Range Of Motions), menganjurkan klien untuk diit stroke
yaitu membatasi konsumsi makanan yang banyak mengandung lemak dan kolesterol tinggi,
olahraga secara teratur, seta menghindari stress, merokok, minuman alkohol atau obatobatan terlarang, perawat juga dapat menjelaskan kepada keluarga cara memodifikasi
lingkungan yang nyaman bagi penderita stroke.
Perawat dapat memotivasi keluarga untuk menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
yang ada dan terjangkau. Berdasarkan hal tersebut, maka kelompok mengambil judul
makalah Asuhan Keperawatan Keluarga yang Mengalami Stroke
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah memberikan gambaran tentang asuhan
keperawatan keluarga yang mengalami Stroke di suatu wilayah.
2. Tujuan Khusus
Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah memberikan gambaran tentang :
a. Pengkajian keperawatan pada keluarga yang mengalami Stroke
b. Diagnosa keperawatan pada keluarga yang mengalami Stroke
c. Perencenaan keperawatan pada keluarga yang mengalami Stroke
d. Tindakan keperawatan pada keluarga yang mengalami Stroke
e. Evaluasi keperawatan pada keluarga yang mengalami Stroke

BAB II
ISI

A. Konsep Dasar Penyakit


1) Pengertian Stroke

Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang


diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi
penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)
Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progesi cepat, berupa
defisit neurologis fokal dan/ atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung
menimbulkan kematian, dan sematamata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak
non traumatik (Mansjoer, 2000).
Menurut Price & Wilson (2006) pengertian dari stroke adalah setiap gangguan
neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui
sistem suplai arteri otak. Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian
stroke adalah gangguan sirkulasi serebral yang disebabkan oleh sumbatan atau penyempitan
pembuluh darah oleh karena emboli, trombosis atau perdarahan serebral sehingga terjadi
penurunan aliran darah ke otak yang timbulnya secara mendadak.
Stroke diklasifikasikan menjadi dua :
1.Stroke Non Hemoragik

Suatu gangguan peredaran darah otak tanpa terjadi suatu perdarahan yang ditandai
dengan kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak atau hemiparese, nyeri kepala,
mual, muntah, pandangan kabur dan dysfhagia (kesulitan menelan). Stroke non
haemoragik dibagi lagi menjadi dua yaitu stroke embolik dan stroke trombotik
(Wanhari, 2008).
2. Stroke Hemoragik
Suatu gangguan peredaran darah otak yang ditandai dengan adanya perdarahan
intra serebral atau perdarahan subarakhnoid. Tanda yang terjadi adalah penurunan

kesadaran, pernapasan cepat, nadi cepat, gejala fokal berupa hemiplegi, pupil mengecil,
kaku kuduk (Wanhari, 2008).
2) Klasifikasi Stroke
Klasifikasi stroke non hemoragik menurut Tarwoto, dkk (2007, hal. 69) stroke non
hemoragik dapat diklasifikasikan berdasarkan perjalanan penyakitnya, yaitu
1. TIA (Trans Ischemic Attack).
Yaitu gangguan neurologist sesaat, beberapa menit atau beberapa jam saja dan gejala
akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
2. Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defisit).
Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1
minggu dan maksimal 3 minggu.
3. Stroke in Volution (progresif).
Perkembangan stroke terjadi perlahan lahan sampai akut, munculnya gejala makin
memburuk, proses progresif berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari.
4. Stroke komplit
neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent, dari sejak awal serangan dan
sedikit tidak ada perbaikan.
3) Etiologi Stroke
Menurut Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131. Penyebab-penyebabnya antara lain:
1. Trombosis yaitu bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak atau leher
2. Embolisme cerebral yaitu bekuan darah atau material lain lain yang di bawa ke otak dari
bagian tubuh yang lain.
3. Iskemia yaitu penurunan aliran darah ke area otak
4. Hemoragi serebral yaitu pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam
jaringan otak atau ruang sekitar otak.
Akibat dari keempat kejadian diatas maka terjadi penghentian suplai darah ke otak, yang
menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan, berpikir, memori, bicara,
atau sensasi.
Sedangkan faktor resiko pada stroke yaitu:
1. Yang tidak dapat diubah: usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, riwayat stroke,
penyakit kardiovaskuler (arteria koronaria, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium,
penyakit jantung kongestif)
2. Yang dapat diubah: hipertensi, Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis
terakselerasi), merokok, obesitas, kolesterol tinggi, penyalahgunaan alkohol dan obat,
kontrasepsi oral, dan peningkatan hematocrit (resiko infark serebral).
4) Manifestasi Klinis Stroke
4

Menurut Suzzane C. Smelzzer, dkk, (2001, hlm. 2133-2134) menjelaskan ada enam tanda
dan gejala dari stroke non hemoragik yang mana tergantung pada lokasi lesi (pembuluh
darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat dan jumlah aliran
darah kolateral. Adapun gejala Stroke non hemoragik adalah:
1. Kehilangan motorik: stroke adalah penyakit neuron atas dan mengakibatkan kehilangan
kontrol volunter. Gangguan kontrol volunter pada salah satu sisi tubuh dapat
menunjukan kerusakan pada neuron atas pada sisi yang belawanan dari otak. Disfungsi
neuron paling umum adalah hemiplegi (paralisis pada salah satu sisi tubuh) karena lesi
pada sisi otak yang berlawanan dan hemiparises (kelemahan salah satu sisi tubuh)
2. Kehilangan komunikasi: fungsi otak lain yang yang dipengaruhi oleh stroke adalah
bahasa dan komunikasi. Stroke adalah penyebab afasia paling umum. Disfungsi bahasa
dan komunikasi dapat dimanifestasikan oleh hal berikut:
a. Disatria (kesulitan berbicara), ditunjukan dengan bicara yang sulit dimengerti yang
disebabkan oleh paralisis otot yang bertanggung jawab menghasilkan bicara.
b. Disfasia atau afasia (kehilangan bicara), yang terutama ekspresif atau reseptif.
c. Apraksia, ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya.
3. Defisit lapang pandang, sisi visual yang terkena berkaitan dengan sisi tubuh yang
paralisis yaitu kesulitan menilai jarak, tidak menyadari orang atau objek ditempat
kehilangan penglihatan
4. Defisit sensori, terjadi pada sisi berlawanan dari lesi yaitu kehilangan kemampuan untuk
merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh.
5. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik, bila kerusakan pada lobus frontal,
mempelajari kapasitas, memori atau fungsi intelektual mungkin terganggu. Disfungsi ini
dapat ditunjukan dalam lapang perhatian terbatas, kesulitan dalam pemahaman, lupa dan
kurang motivasi.
6. Disfungsi kandung kemih, setelah stroke pasien mungkin mengalami inkontenensia
urinarius karena kerusakan kontrol motorik.
5) Patofisiologi Dan Pathway Stroke
Stroke adalah penyakit gangguan peredaran darah ke otak, disebabkan oleh karena
penyumbatan yang dapat mengakibatkan terputusnya aliran darah ke otak sehingga
menghentikan suplay oksigen, glukosa dan nutrisi lainya kedalam sel otak yang mengalami
serangan pada gejala gejala yang dapat pulih, seperti kehilangan kesadaran, jika
kekurangan oksigen berlanjut lebih dari beberapa menit dapat meyebabkan nekrosis

mikroskopis neuron neuron, area nekrotik disebut area yang mengalami infark. (Arif
Muttaqin, 2008, halaman. 131)
Mekanisme iskemik (non-hemoragik) terjadi karena adanya oklusi atau sumbatan di
Pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti.
Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya stroke, yang disebut stroke iskemik.
1. Stroke iskemik
Stroke iskemik terjadi karena tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan
aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. 80% stroke adalah stroke
Iskemik. Penyumbatan dapat terjadi karena penumpukan timbunan lemak yang
mengandung koleserol (plak) dalam pembuluh darah besar (ateri karotis) atau pembuluh
darah sedang (arteri serebri) atau pembuluh darah kecil.
Plak menyebabkan dinding dalam arteri menebal dan kasar sehingga aliran darah
tidak lancar, mirip aliran air yang terhalang oleh batu. Darah yang kental akan tertahan
dan menggumpal (trombosis), sehingga alirannya menjadi semakin lambat. Akibatnya
otak akan mengalami kekurangan pasokan oksigen. Jika kelambatan pasokan ini berlarut,
sel-sel jaringan otak akan mati. Tidak heran ketika bangun tidur, korban stroke akan
merasa sebelah badannya kesemutan. Jika berlajut akan menyebabkan kelumpuhan.
Penyumbatan aliran darah biasanya diawali dari luka kecil dalam pembuluh darah
yang disebabkan oleh situasi tekanan darah tinggi, merokok atau arena konsumsi
makanan tinggi kolesterol dan lemak. Seringkali daerah yang terluka kemudian tertutup
oleh endapan yang kaya kolesterol (plak). Gumpalan plak inilah yang menyumbat dan
mempersempit jalanya aliran darah yang berfungsi mengantar pasokan oksigen dan
nutrisi yang diperlukan otak. Stroke iskemik ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Stroke Trombotik
Pada stroke trombotik didapati oklusi ditempat arteri serebral yang bertrombus.
Trombosis merupakan bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher dan
penyebab stroke yang paling sering. Arteriosclerosis serebral dan perlambatan
sirkulasi serebral adalah penyebab utama trombosis serebral. Tanda-tanda trombosis
serebral bervariasi, sakit kepala adalah awitan yang tidak umum. Beberapa pasien
mengalami pusing, perubahan kognitif atau kejang dan beberapa awitan umum
lainnya. Secara umum trombosis serebral tidak terjadi secara tiba-tiba, dan kehilangan
bicara sementara, hemiplegia atau parestesia pada setengah tubuh dapat mendahului
awitan paralysis berat pada beberapa jam atau hari. Proses aterosklerosis ditandai oleh
6

plak berlemak pada pada lapisan intima arteria besar. Bagian intima arteria sereberal
menjadi tipis dan berserabut, sedangkan sel-sel ototnya menghilang. Lamina elastika
interna robek dan berjumbai, sehingga lumen pembuluh sebagian terisi oleh materi
sklerotik tersebut. Plak cenderung terbentuk pada percabangan atau tempat-tempat
yang melengkung. Trombi juga dikaitkan dengan tempat-tempat khusus tersebut.
Pembuluh-pembuluh darah yang mempunyai resiko dalam urutan yang makin jarang
adalah sebagai berikut : arteria karotis interna, vertebralis bagian atas dan basilaris
bawah. Hilangnya intima akan membuat jaringan ikat terpapar. Trombosit menempel
pada permukaan yang terbuka sehingga permukaan dinding pembuluh darah menjadi
kasar. Trombosit akan melepasakan enzim, adenosin difosfat yang mengawali
mekanisme koagulasi. Sumbatan fibrinotrombosit dapat terlepas dan membentuk
emboli, atau dapat tetap tinggal di tempat dan akhirnya seluruh arteria itu akan
tersumbat dengan sempurna.
b. Stroke Embolik
Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah. Penderita embolisme biasanya lebih
muda dibanding dengan penderita trombosis. Kebanyakan emboli serebral berasal
dari suatu trombus dalam jantung, sehingga masalah yang dihadapi sebenarnya adalah
perwujudan dari penyakit jantung. Setiap bagian otak dapat mengalami embolisme,
tetapi embolus biasanya akan menyumbat bagian-bagian yang sempit. Tempat yang
paling sering terserang embolus sereberal adalah arteria serebral media, terutama
bagian atas.

(pathway terlampir)

6) Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan diagnostik menurut Arif Muttaqin (2008, hlm. 139) yaitu:
a. CT Scan (Computer Tomografi Scan)
Pembidaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma adanya
jaringan otak yang infark atau iskemia, dan posisinya secara pasti. Hasil
pemerikasaan biasanya didapatkan hiperdens fokal, kadang pemadatan terlihat di
ventrikel atau menyebar ke permukaan otak.
b. Angiografi serebral
Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau
obstruksi arteri adanya titik okulasi atau raftur.
c. Pungsi Lumbal
8

Menunjukan adanya tekanan normal, tekanan meningkat dan cairan yang


mengandung darah menunjukan adanya perdarahan seperti ada thrombosis, emboli
serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau serangan iskemia otak sepintas.
Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya
hemoragik subarakhnoid atau perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat
pada kasus thrombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi.
d. Magnatik resonan imaging (MRI)
Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik dan malformasi arteriovena
e. Ultrasonografi Dopler :
Mengidentifikasi penyakit arteriovena.
f. Sinar X-Ray Kepala :
Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari
massa yang meluas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada thrombosis serebral.
g. Elektro Encephalografi (EEG)
Mengidentifikasi masalah didasarkan

pada gelombang

otak dan mungkin

memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.


2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Lumbal pungsi, pemeriksaan likuor merah biasanya di jumpai pada perdarahan yang
masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal sewaktu
hari hari pertama.
b. Pemeriksaan kimia darah, pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah
dapat mencapai 250 mg didalam serum.
7) Penatalaksaan
Tindakan medis terhadap pasien stroke meliputi:
1. Pengobatan Konservatif
Menurut Suzzane C. Smelzzer, dkk. (2001, hlm. 2137) pengobatan konservatif meliputi:
a. Diuretika: Untuk menurunkan edema serebral, yang mencapai tingkat maksimum 3
sampai 5 hari setelah infark serebral.
b. Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi dari tempat lain
dalam kardiovaskuler.
c. Anti trombosit: dapat diresepkan karena trombosit memainkan peran sangat penting
dalam pembentukan thrombus dan embolisasi.
2. Pengobatan pembedahan
Menurut Arif Muttaqin, (2008, hlm. 142) tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah
serebral :
a. Endosteroktomi karotis (lihat pada gambar 2.7)membentuk kembali arteri karotis,
yaitu dengan membuka arteri karotis di leher.
9

b. Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan manfaatnya paling


dirasakan oleh klien TIA
8) Komplikasi
Komplikasi stroke meliputi hipoksia serebral, penurunan aliran darah serebral dan luasnya
area cidera (Suzzane C. Smelzzer, dkk, 2001, hlm. 2137)
1. Hipoksia serebral
Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan ke jaringan.
Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin serta hematokrit pada
tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan. Oleh
karena itu diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah adekuat ke otak
1. Penurunan aliran darah serebral
Aliran darah serebral bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan integritas
pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan intrvena) harus menjamin penurunan
viskositas darah dan memperbaiki aliran darah serebral. Hipertensi dan hipotensi ekstrim
perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi
meluasnya area cedera.
2. Embolisme Serebral
Embolisme serebral dapat terjadi setelah infark miokard atau fibralsi atrium atau dapat
berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme akan menurunkan aliran darah ke otak
dan selanjutnya akan menurunkan aliran darah serebral. Distritmia dapat mengakibatkan
curah jantung tidak konsisten dan penghentian thrombus lokal. Selain itu, disritmia dapat
menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.
B. Pengkajian Keperawatan Keluarga
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan suatu tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan informasi
secara terus menerus tentang keluarga yang dibinanya. Pengumpulan data atau informasi
dari keluarga dapat menggunakan metode wawancara, observasi fasilitas dalam rumah,
pemeriksaan fisik pada setiap anggota keluarga dengan menggunakan data sekunder,
yaitu dengan contoh hasil laboratorium, hasil foto rontgen, rekam kesehatan unit
pelayanan kesehatan serta catatan lain yang dapat dipercaya keakuratannya (Suprajitno
2004, h.30).
Tahapan-tahapan pengkajian yang dilakukan perawat keluarga saat melakukan
pengkajian adalah sebagai berikut :
10

a. Penjajakan 1
Terdiri dari data umum antara lain berisi nama kepala keluarga, alamat keluarga,
komposisi keluarga, genogram keluarga, tipe keluarga, suku bangsa, agama, status sosial
ekonomi keluarga, kurangnya aktifitas rekreasi keluarga secara teratur, riwayat dan
tahap perkembangan, lingkungan, struktur keluarga, fungsi keluarga, stress dan koping
keluarga, harapan keluarga, data tambahan, dan pemeriksaan fisik.
Pada pengkajian yang memiliki gangguan kebutuhan keselamatan dan keamanan,
meliputi riwayat pola aktifitas klien seperti tingkat aktifitas sehari- hari yaitu pola
aktifitas sehari-hari dan jenis, frekuensi dan lamanya latihan fisik, tingkat kelelahan
:aktifitas yang membuat keselamatan dan keamanan terganggu dan riwayat sesak nafas,
jantung berdebar, gangguan pergerakan : penyebab gangguan pergerakan, tanda dan
gejala, serta efek dari gangguan pergerakan, keluhan utama yang dirasakan saat ini
seperti cepat lelah dan jantung berdebar, pusing saat beraktifitas, adanya fraktur
ekstremitas, trauma nyeri pada saat mobilisasi, kaki mengalami kontraktur, kelainan
bentuk tubuh, atropi sehingga sulit digerakan, penggunaan alat bantu untuk pergerakan
dan klien bedrest.
Pemeriksaan fisik pada klien dengan kebutuhan keselamatan dan keamanan : tingkat
kesadaran, keadaan umum klien, tanda-tanda vital, pemeriksaan paru dan jantung,
seperti adanya kelainan bunyi paru, pengembangan paru, kelainan bunyi jantung, postur
dan bentuk tubuh : skloliosis, kifosis, lordosis, cara berjalan, keadaan tulang : fraktur
ekstremitas,

kontraktur,

deformitas/kelainan

bentuk,

trauma

medulla

spinalis,

osteoporosis, spondilitis, otot dan kulit : atropi atau hipertropi, tonus otot,
hipotonus/hipertonus, luka dekubitus, luka gangren dan kekuatan otot.
b. Penjajakan II
Pengkajian yang tergolong dalam penjajakan II diantaranya pengumpulan data-data yang
berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan
sehingga dapat ditegakkan diagnosa keperawatan keluarga. Adapun ketidakmampuan
keluarga dalam menghadapi masalahnya diantaranya meliputi lima fungsi keluarga yaitu
keluarga mampu mengenal masalah kesehatan keluarga yaitu keluarga dapat memahami
pentingnya kebutuhan keselamatan dan keamanan serta mampu mengenal masalah
stroke, keluarga mampu mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
bagi keluarga seperti keluarga mengetahui apa akibat lanjut jika tidak memperhatikan
keselamatan dan keamanan keluarga yang mengalami pasca stroke, keluarga mampu
11

merawat nggota keluarga yang mengalami masalah gangguan keselamatan dan


keamanan seperti menjaga keluarga yang mengalami stroke agar tidak terjadi resiko
cedera, keluarga mampu memodifikasi lingkungan keluarga yang mengalami stroke
seperti memberi penerangan yang cukup, jauhi keluarga dari lantai yang basah dan licin
untuk menjamin kesehatan keluarga dan keluarga mampu memanfaatkan fasilitas
pelayanan kesehatan di sekitar keluarga yaitu langsung membawa keluarga ke pelayanan
kesehatan jika kondisi keluarga semakin memburuk.
C. Diagnosa Keperawatan Keluarga
Perumusan masalah keperawatan keluarga berdasarkan data yang didapatkan pada
pengkajian yaitu dengan masalah keselamatan aktivitas : pasca stroke. Komponen diagnosis
keperawatan meliputi masalah (problem), penyebab (etiologi) dan atau tanda (sign).
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2012, h.173), diagnosa keperawatan keluarga yang
berhubungan dengan masalah keselamatan dan keamanan :
a. Gangguan kebutuhan keselamatan dan keamanan : resiko cedera
b. Resiko akibat lanjut dari stroke
c. Kurang pengetahuan tentang penyakit stroke
D. Perencanaan dan Implementasi Keperawatan Keluarga
1) Perencanaan Keperawatan
Perencanaan keperawatan keluarga mencakup tujuan umum dan khusus, didasarkan pada
masalah yang dilengkapi dengan kriteria dan standar yang mengacu pada penyebab atau
etiologi. Rencana tindakan keperawatan terhadap keluarga meliputi kegiatan, yang tujuannya
didasarkan pada 5 tugas keluarga di bidang kesehatan.
a. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah stroke
1) Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang stroke
2) Jelaskan pada keluarga mengenai pengertian tentang stroke
3) Kaji pengetahuan keluarga tentang penyebab stroke
4) Jelaskan pada kelurga tentang penyebab stroke
5) Kaji pengetahuan keluarga tentang tanda dan gejala stroke
6) Jelaskan pada kelurga tentang tanda dan gejala stroke
7) Tanyakan kembali mengenai pengertian, penyebab dan tanda gejala stroke pada
keluarga
b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam mengatasi masalah stroke
1) Kaji pengetahuan keluarga tentang akibat lanjut dari hambatan mobilitas fisik pada
stroke
2) Jelaskan tentang akibat lanjut dari hambatan mobilitas fisik pada stroke
3) Motivasi keluarga untuk mengambil keputusan
4) Tanyakan kembali tentang hal yang telah didiskusikan
12

5) Beri reinforcement positif atas keinginan keluarga memutuskan untuk merawat


keluarga yang mengalami hambatan mobilitas fisik pada stroke
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah hambatan
mobilitas fisik pada stroke
1) Diskusikan dengan keluarga tentang cara merawat klien dengan hambatan mobilitas
fisik pada stroke
2) Diskusikan dengan keluarga tentang latihan ROM
3) Demonstrasikan pada keluarga latihan ROM
4) Beri kesempatan pada keluarga untuk melakukan ROM secara mandiri
5) Beri reinforcement positif atas usaha keluarga melakukan ROM
d. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan untuk penderita stroke :
1) Berikan penjelasan cara menciptakan lingkungan dan suasana yang aman nyaman
untuk penderita stroke
2) Tanyakan kembali tentang penjelasan yang telah disampaikan
3) Beri reinforcement positif atas usaha keluarga memodifikasi lingkungan
e. Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat
1) Jelaskan pada keluarga tentang tempat pelayanan kesehatan yang dapat digunakan
untuk merujuk anggota keluarga dengan masalah stroke
2) Motivasi keluarga agar dapat menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di
masyarakat agar tidak terjadi stroke berulang
3) Beri reinforcement positif atas keinginan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan
2) Implementasi Keperawatan Keluarga dengan Stroke
Implementasi merupakan langkah yang dilakukan setelah perencanaan program.
Program dibuat untuk menciptakan keinginan berubah dari keluarga, memandirikan
keluarga. Implementasi yang dilakukan untuk klien dengan stroke yaitu :
a. Mendiskusikan pengertian, penyebab dan tanda gejala stroke dengan keluarga
b. Mendiskusikan akibat lanjut dari hambatan mobilitas fisik penderita stroke
c. Memberikan penjelasan mengenai ROM
d. Mendemonstrasikan ROM
e. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mendemonstrasikan ROM
f. Memberikan penjelasan cara menciptakan lingkungan dan suasana yang aman
nyaman bagi penderita stroke
g. Memberikan pujian atas kemampuan keluarga menyebutkan manfaat pelayanan
kesehatan
h. Memotivasi keluarga agar dapat menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang
ada di masyarakat
E. Evaluasi Keperawatan Keluarga denga Stroke

13

Hasil yang diharapkan setelah dilakukannya tindakan keperawatan pada keluarga dengan
masalah stroke, yaitu keluarga diharapkan mampu untuk :
a. Mengenal masalah stroke yang dialami oleh anggota keluarga
b. Memutuskan untuk merawat anggota keluarga yang mengalami stroke
c. Merawat anggota keluarga yang mengalami stroke
d. Memodifikasi lingkungan yang aman dan nyaman untuk penderita stroke
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk anggota keluarga yang mengalami
stroke

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progesi cepat, berupa
defisit neurologis fokal dan/ atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung
menimbulkan kematian, dan sematamata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak
non traumatik. Pada umumnya seseorang yang terkena penyakit stroke akan mengalami
defisit neurologis. Pasien dengan defisit neurologi sangat ketergantungan dengan orang lain
dalam memenuhi kebutuhannya dalam jangka waktu yang lama. Peran perawat sangat
dibutuhkan dalam keluarga khususnya yang mengalami penyakit stroke. Peran perawat
dapat memberikan penyuluhan mengenai penyakit stroke seperti pengertian, penyebab,
tanda gejala, akibat lanjutnya. Perawat juga dapat berperan sebagai konsultan keluarga
untuk mengambil keputusan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Perawat juga
dapat mengajarkan cara perawatan pasien stroke dirumah dengan cara mengajarkan kepada
keluarga cara latihan rentang gerak sendi atau ROM (Range Of Motions), menganjurkan
klien untuk diit stroke yaitu membatasi konsumsi makanan yang banyak mengandung lemak
dan kolesterol tinggi, olahraga secara teratur, seta menghindari stress, merokok, minuman
alkohol atau obat-obatan terlarang, perawat juga dapat menjelaskan kepada keluarga cara
memodifikasi lingkungan yang nyaman bagi penderita stroke. Perawat dapat memotivasi
keluarga untuk menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada dan terjangkau.
B. Saran
14

Klien sebaiknya mematuhi semua pengobatan terhadap penyakit stroke yang dideritanya
guna mempertahankan kesehatan yang optimal. Keluarga yang merawat sebaiknya
melakukan perawatan dirumah dengan penuh kesabaran dan selalu memberikan dukungan
penuh kepada klien.

15