Anda di halaman 1dari 25

4.

Penatalaksanaan mioma uteri


a. Teori Mioma Uteri
Beberapa hal yang mempengaruhi terapi mioma uteri adalah usia, keinginan
mempunyai anak, keluhan dan gejala serta gangguan yang ditimbulkan. Adapun terapi
pada pasien mioma uteri meliputi terapi konservatif, pengobatan penunjang, pembedahan
dan radiologi.
1. Terapi konservatif
Umumnya pasien mioma uteri tidak membutuhkan pengobatan. Hal ini terutama
untuk pasien yang tidak ada keluhan atau mendekati menopause. Mioma uteri dengan
ukuran tidak lebih dari usia kehamilan tiga bulan akan mengecil sendii pada
menopause, namun perlu pengawasan yang ketat akan terjadinya degenerasi benigna
atau maligna. Tindakan konservatif terutama dilakukan untuk wanita yang masih
mempunyai anak dan ukuran mioma masih kecil. Tindakan konservatif tidak
dilakukan bila terdapat gejala-gejala yang merupakan indikasi pembedahan atau
radiasi seperti nyeri abdomen atau pelvic distorsio abdomen karena tumor-tumor
besar dan pertumbuhan tumor yang cepat.
2. pengobatan penunjang
Khusus sebagai penunjang pengobatan bagi pasien dengan anemi karena
hiperminore dapat diberikan ferum, tranfusi darah, diet kaya protein, kalsium.
3. Pembedahan
Pada pasien mioma uteri dapat dilakukan tindakan pembedahan antara lain
miomektomi dan histerektomi.
a. Miomektomi.
Yaitu operasi pengambilan sarang mioma saja tanpa pengnngkatan uterus. Tindakan
ini dapat dilakukan pada mioma submukosa yang bertangkai atau jka fungsi uterus
masih ingin dipertahankan karena keinginan mempunyai anak, maka kemungkinan
akan terjadi kehamilan 30-50 % setelah dilakukan miomektomi untuk menyelamatkan
fetus. Miomektomi bisa kambuh lagi 15-30 % untuk dilakukan miomektomi yang
kedua ( dr. Fetus,1988 ).
b. Histerektomi.
Sekitar 25-35 % pasien mioma uteri masih memerlukan histerektomi. Histerektomi
adalah operasi pengangkatan utyerus yang umumnya merupakan tindakan terpilih.

Histerektomi dapat dilakukan lewat abdomen maupun vagina. Pada histerektomi


lewat vagiona ini jarang dilakukan Karena uterus harus lebih kecil dari telur angsa
dan tidak ada perlekatan dengan sekitar uterus. Macam-macam histerektomi abdomen
antara lain: ( Jay M Black,1997 )
o Histerektomi subtotalis
Operasi yang mengangkat rahim atau uterus saja.
o Histerektomi totalis
Operasi yang mengangkat
o Histerektomi totalis dengan salpingo oforektomi bilateral
Operasi yang mengangkat rahim, leher rahim, saluran telur, indung telur,
bagian hulu vagina, ligament, kelenjar getah bening dan jaringan lemah dari
dalam rongga pinggul. Histerektomi totalis biasanya dilakukan dengan alas an
mencegah timbulnya karsinoma servik uteri.
4. Radioterapi
Tindakan ini bertujuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga pasien
mengalami menopause. Raditerapi ini umumnya hanya dikerjakan kalau terdapat
kontra indikasi untuk tindakan operasi. Radioterapi hendaknya hanya dikerjakan
apabila tidak ada keganasan pada uterus. Sinar yang digunakan untuk radioterapi :
sinar megavolt dan pengion.
5. Intervensi keperawatan
diagnosa keperawatan yang menjadi focus intervensi antara lain:
1. Gangguan keseimbangan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan syok hipovolemik. ( Lynda Jual Carpenito, 1997 )
Intervensi keperawatan:

Monitor vital sign

Monitor Intake dan output secara ketat

Monmitor tanda-tanda dehidrasi

Monitor tanda-tanda Syok

Monitor tanda-tanda perdarahan

Monitor balance cairan

2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dfengan penumpukan


secret ( MI Jakim, 1987 )
Intervensi keperawatan:

Bebaskan jalan napas bila perlu lakukan section

Monitor pernapasan

Atur posisi setengah duduk atau semi fowler

Ajarkan cara batuk efektif setiap 2 jam

Motivasi pasien untuk berlatih batuk efektif sendiri

Lakukan fisioterapi dada

Berikan oksigen yang adekuat

3. Gangguan rasa Nyaman nyeri b.d adanya luka operasi ( Black, 1997 )
Intervensi keperawatan:

Berikan penjelasan pada klien bahwa rasa nyeri setelah operasi


adalah wajar dan tidak bersifat fisiologis

Ajarkan pasien relaksasi

Ciptaakan suasana tenang

Kolaborasi pemberian analgetik

Beri fiksasi atau penekanan setiap alih posisi

4. Resti aspirasi b.d tingkat kesadaran sekunder terhadap anastesi ( Lynda


Jual Carpenito, 1997 )
Intervensi keperawatan:

Pertahankan posisi berbaring miring, jika tidak ada kontra indikasi


karena cidera.

Kaji posisi lidah, pastikan lidah tidak kebelakang, menymbat jalan


napas.

Jaga bagian kepala, tempat tidur tetap tinggi, jika tidak terjadi
kontra indikasi.

Bersihkan secret dari mulut dengan tisu atau dengan penghisap tapi
perlahan.

Kaji kembali dengan sering adanya obstruksi benda-benda dalam


mulut atau tenggorokan.

5. gangguan aktifitas fisik b.d adanya nyeri pada luka operasi ( MI Jakim,
1997 )
Intervensi keperawatan:

Bantu pasien untuk bergerak secara aktif dan pasif

Bantu memenuhi kebutuhan yang tidfak dapat dilakuakn oleh


pasien

Ubah posisi tiap 2-4 jam

Ajarkan pasien atau keluarga untuk melakuakn mobilisasi secara


bertahap.

6. Gangguan gambaran diri b.d kehilangan organ atau fungsi ( MI Jakim,


1997 )
Intervesnsi keperawatan:

Motivasi pasien untuk mengungkapkan perasaannya

Libatkan keluarga untuk memberi support pada pasien

Berikan informasi yang dapat diterima oleh pasien

Menggali hal-hal yang positif pada diri pasien

Diskusikan cara meningkatkan penampilan

7. Resiko tinggi infeksi b.d tindakan operasi ( Black, 1997 )


Intervensi keperawatan:

Monitor tanda-tanda infeksi

Jaga kebersihan

Rawat luka

Monitor tanda-tanda vital

Beri antibiotic sesuai program

8. Resti nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d nafsu makan menurun ( MI
Jakim, 1987 )
Intervensi keperawatan:

Jelaskan nutrisi penting bagi kesembuhan pasien

Beri nutrisi yang adekuat

Ajarkan untuk melakukan teknik relaksasi napas dalam sebelum


makan

Observasi elastisitas kulit dan mukosa membrane

Lakukan perawatan mulut

Kolaborasi pemberian nutrisi secara parental

9. Resti disfungsi seksual b.d perubahan struktur tubuh atau fungsi


(Doengoes, 1999 )
Intervensi keperawatan:

Kaji pengetahuan pasien

Bantu pasien untuk menyadari atau menerima tahap berduka

Dorong pasien untuk berbagi pikiran

Pathways mioma uteri dengan histerektomi


Histerektomi
General anstesi

Luka insisi

Depresi

Peristaltik

Kerusakan

Otot

terganggu

saraf

pasase

Nyeri

Menelan

batuk

Perdarahan

hilangnya Uterus ovarium


Port de entri

Estrogen
berkurang

syok

Menurun

hipovolomik

Resti
infeksi

Infertil

Perubahan

menstruasi

fisik

Gambaran

Produksi

Negative
Aspirasi

Apnoe

secret

Perut

menumpuk

kembung

Obstruksi

g3 aktftas

malaise

g3

g3

rasa

keseimbangan

Nyaman

cairan kurang

diri

kewanitaan
menurun
Libido

Jalan napas

seksual

Oksigen terg3 nafsu makan


Bersihan jalan

Resti nutrisi

Napas tak efektif

kurang

g3 pola seksual

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

RENCANA KEPERAWATAN
DIANGOSA KEPERAWATAN DAN KOLABORASI
TUJUAN (NOC)
INTERVENSI (NIC)
Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis (kanker serviks) dan agen injuri fisik (jika dilakukan terapi pembedahan)
NOC : Kontrol Nyeri
Setelah dilakukan pemberian asuhan keperawatan selama ..x 24 jam, diharapkan respon nyeri pasien dapat terkontrol dengan kriteria hasil
sebagai berikut :
Klien mampu mengenal faktor-faktor penyebab nyeri, beratnya ringannya nyeri, durasi nyeri, frekuensi dan letak bagian tubuh yang nyeri
Klien mampu melakukan tindakan pertolongan non-analgetik, seperti napas dalam, relaksasi dan distraksi
Klien melaporkan gejala-gejala kepada tim kesehatan
Klien mampu mengontrol nyeri
Ekspresi wajah klien rileks
Klien melaporkan adanya penurunan tingkat nyeri dalam rentang sedang (skala nyeri: 4 sampai 6) hingga nyeri ringan (skala nyeri : 1 sampai 3)
Klien melaporkan dapat beristirahan dengan nyaman
Nadi klien dalam batas normal (80-100x/menit)
Tekanan darah klien dalam batas normal (120/80 mmHG)
Frekuensi pernafasan klien dalam batas normal (12 20 x/menit)
NIC
1. Manajemen Nyeri
- Kaji secara komphrehensif tentang nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor
pencetus

observasi isyarat-isyarat verbal dan non verbal dari ketidaknyamanan, meliputi ekspresi wajah, pola tidur, nasfu makan, aktitas dan hubungan
sosial.
Kolaborasi pemberian analgetik sesuai dengan anjuran. Pemberian analgetik harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : prinsip pemberian
obat 6 benar (benar nama, benar obat, benar dosis, benar cara, benar waktu pemberian, dan benar dokumentasi)
Gunakan komunikiasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan nyeri
Kaji pengalaman masa lalu individu tentang nyeri
Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan
Berikan dukungan terhadap pasien dan keluarga
Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama terjadi, dan tindakan pencegahan
Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi (seperti: relaksasi, guided imagery, terapi musik, dan distraksi)
Modifikasi tindakan mengontrol nyeri berdasarkan respon pasien
Anjurkan klien untuk meningkatkan tidur/istirahat
Anjurkan klien untuk melaporkan kepada tenaga kesehatan jika tindakan tidak berhasil atau terjadi keluhan lain
PK : Anemia
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ......x 24 jam, perawat dapat meminimalkan komplikasi anemia yang terjadi dengan kriteria
hasil:
Konjungtiva merah muda
Capilary refille 2 detik
Mukosa mulut merah muda
Kadar Hb dbn (wanita dewasa: 12-14 g/dl), RBC dbn (wanita dewasa: 3,80-5,80 x 105/uL) dan Hct dbn (wanita dewasa : 37,0-47,0%)
Kaji gejala-gejala anemia yang terjadi
Pantau tanda-tanda anemia yang terjadi
Monitor hasil pemeriksaan lab untuk pemeriksaan kadar Hb, RBC, Hct
Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi makanan yang seimbang, terutama makanan tinggi kalori dan tinggi protein.
Kolaborasi pemberian suplemen besi tambahan, vitamin dan mineral sesuai indikasi
Kolaborasi pemberian transfusi darah sesuai kebutuhan
monitor efek samping dan respon pasien setelah dilakukan transfusi darah
Cemas b.d krisis situasional (histerektomi atau kemoterapi), ancaman terhadap konsep diri, perubahan dalam status kesehatan, stres
NOC: Kontrol Cemas

Setelah dilakukan asuhan keperawatann kepada pasien selama ... x 24 jam, diharapkan pasien dapat mengkontrol cemas dengan kriteria hasil
sebagai berikut:
Perawat memonitor tingkat kecemasan pasien
Klien mampu menurunkan penyebab-penyebab kecemasan
Perawat dan keluarga dapat menurunkan stimulus lingkungan ketika pasien cemas
Klien mampu mencari informasi tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan kecemasan
Klien manpu menggunakan strategi koping yang efektif
Klien melaporkan kepada perawat penurunan kecemasan
Klien mampu menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas
Klien mampu mempertahankan hubungan social, dan konsentrasi
Klien melaporkan kepada perawat tidur cukup, tidak ada keluhan fisik akibat kecemasan, dan tidak ada perilaku yang menunjukkan kecemasan
NIC
Menurunkan cemas:
Tenangkan pasien dan kaji tingkat kecemasan pasien
Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada pasien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat melakukan tindakan
Berusaha memahami keadaan pasien (rasa empati)
Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis dan tindakan dengan komunikasi yang baik
Mendampingi pasien untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kenyamanan
Dorong pasien untuk menyampaikan tentang isi perasaannya
Ciptakan hubungan saling percaya
Bantu pasien menjelaskan keadaan yang bisa menimbulkan kecemasan
Bantu pasien untuk mengungkapkan hal hal yang membuat cemas dan dengarkan dengan penuh perhatian
Ajarkan pasien teknik relaksasi
Anjurkan pasien untuk meningkatkan ibadah dan berdoa
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan yang mengurangi kecemasan pasien

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis (status hipermatebolik berkenaan dengan kanker)
dan faktor psikososial
NOC :
Status nutrisi : intake makanan dan minuman
Setelah dilakukan asuhan keperawatann kepada pasien selama ... x 24 jam, diharapkan status nutrisi meliputi intake makanan dan minuman
membaik dengan kriteria hasil sebagai berikut:
- Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
- Klien mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
- Tidak ada tanda tanda malnutrisi
- Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
NIC :
1. Manajemen Nutrisi
- Kaji adanya alergi makanan
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah nutrisi yang sesuai dengan keadaan pasien
- Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe, protein, karbohidrat, dan vitamin C
- Berikan diet yang mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
- Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi pasien
2. Monitoring nutrisi
- Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
- Berikan lingkungan yang nyaman dan bersih selama makan
- Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
- Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
- Monitor turgor kulit
- Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
- Monitor mual dan muntah
- Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
- Kaji makanan kesukaan

- Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva


- Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.
- Monitor variasi makanan yang dikonsumsi pasien
Resiko infeksi dengan faktor resiko ketidakadekuatan pertahanan sekunder; ketidakadekuatan pertahanan imun tubuh; imunosupresi
(kemoterapi), dan prosedur invasi

NOC
Pengetahuan:Kontrol infeksi
Setelah dilakukan asuhan keperawatann kepada pasien selama ... x 24 jam, diharapkan pasien dapat menjelaskan kembali cara mengkontrol
infeksi dengan kriteria hasil sebagai berikut:
Mampu menerangkan cara-cara penyebaran infeksi
Mampu menerangkan factor-faktor yang berkontribusi dengan penyebaran
Mampu menjelaskan tanda-tanda dan gejala
Mampu menjelaskan aktivitas yang dapat meningkatkan resistensi terhadap infeksi
NIC
Kontrol Infeksi
Bersikan lingkungan setelah digunakan oleh pasien
Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan
Batasi jumlah pengunjung
Ajarkan cuci tangan untuk menjaga kesehatan individu
Anjurkan pasien untuk cuci tangan dengan tepat
Gunakan sabun antimikrobial untuk cuci tangan
Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan sebelum dan setelah meninggalkan ruangan pasien
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
Gunakan universal precautions
Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV
Lakukan teknik perawatan luka dengan memperhatikan prinsip septik dan aseptik
Anjurkan istirahat

Kolaborasi pemberian terapi antibiotik dengan memperhatikan prinsip pemberian obat 6 benar (benar obat, benar nama, benar dosis, benar
waktu, benar cara pemberian, dan benar dokumentasi)
Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda, gejala dari infeksi dan cara pencegahan infeksi
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit; keterbatasan kognitif (dilihat dari tingkat pendidikan);
misinterpretasi dengan informasi yang diberikan ; dan tidak familiar dengan sumber informasi
NOC
Pengetahuan : proses penyakit
Pengetahuan : prosedur perawatan
Setelah dilakukan asuhan keperawatann kepada pasien selama ... x 24 jam, diharapkan pasien dapat menjelaskan kembali tentang proses
penyakit dan prosedur perawatan dengan kriteria hasil sebagai berikut:
- Pasien mengenal nama penyakit, proses penyakit, faktor penyebab atau faktor pencetus, tanda dan gejala, cara meminimalkan perkembangan
penyakit, komplikasi penyakit dan cara mencegah komplikasi
- Pasien mengetahui prosedur perawatan, tujuan perawatan dan manfaat tindakan.

1.
2.
-

NIC
Pembelajaran : proses penyakit
Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakit
Jelaskan nama penyakit, proses penyakit, faktor penyebab atau faktor pencetus, tanda dan gejala, cara meminimalkan perkembangan penyakit,
komplikasi penyakit dan cara mencegah komplikas
Berikan informasi tentang kondisi perkembangan klien
Anjurkan klien untuk melaporkan tanda dan gejala kepada petugas kesehatan
Pembelajaran : prosedur/perawatan
Informasikan klien waktu pelaksanaan prosedur/perawatan
Informasikan klien lama waktu pelaksanaan prosedur/perawatan
Kaji pengalaman klien dan tingkat pengetahuan klien tentang prosedur yang akan dilakukan
Jelaskan tujuan prosedur/perawatan
Instruksikan klien utnuk berpartisipasi selama prosedur/perawatan
Jelaskan hal-hal yang perlu dilakukan setelah prosedur/perawatan
Ajarkan tehnik koping seperti relaksasi untuk mengurangi efek dari prosedur yang dilakukan

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan perubahan perkembangan penyakit
NOC
Meningkatkan citra tubuh,
Setelah dilakukan asuhan keperawatann kepada pasien selama ... x 24 jam, diharapkan citra tubuh atau gambaran tubuh pasien meningkat
dengan kriteria hasil sebagai berikut:
Pasien mengungkapkan penerimaan citra tubuh secara verbal maupuan non verbal
Pasien mampu mempertahankan kontak mata ketika berkomunikasi
Pasien mampu melakukan komunikasi terbuka
Pasien menunjukkan tingkat kepercayaan diri
NIC
Peningkatan citra tubuh
- Kaji penerimaan pasien tentang kondisinya saat ini
- Bantu klien untuk mendiskusikan perubahan tubuh akibta penyakit
- Bantu klien untuk mendiskusikan fungsi tubuh yang terganggu
- Kaji perasaan klien ketika berinteraksi dengan orang lain
- Kaji persepsi klien dan keluarga tentang perubahan tubuh yang terjadi
- Kaji strategi mengatasi masalah (koping) yang digunakan
- Kaji apakah perubahan gambaran diri mempengaruhi hubungan sosial klien
- Bantu klien mengidentifikasi bagian tubuh lain yang bernilai positif
- Kaji dukungan sosial yang dimiliki klien
Gangguan eliminasi fekal : Konstipasi b.d menurunnya mobilitas intestinal
NOC
Buang Air Besar
Setelah dilakukan asuhan keperawatan kepada pasien selama .x 24 jam, diharapkan pasien tidak mengalamai gangguan dalam buang air besar,
dengan kriteria hasil:
- Pasien kembali ke pola dan normal dari fungsi bowel
- Terjadi perubahan pola hidup untuk menurunkan factor penyebab konstipasi
-

NIC : Manajemen Konstipasi


Monitor tanda dan gejala konstipasi
Monitor warna, konsistensi, jumlah dan waktu buang air besar

Konsultasikan dengan dokter tentang pemberian laksatif, enema dan pengobatan


Berikan cairan yang adekuat

Retensi urin b.d penekanan yang keras pada uretra


NOC
Inkontinensia urin
Setelah dilakukan asuhan keperawaran selama ...x24 jam, pasien tidak mengalami inkontinensia urin, dengan kriteria hasil:
- Pasien mampu memprekdisikan pola eliminasi urin
- Pasien mampu memulai dan memghentikan aliran urin
- Tidak adanya tanda-tanda infeksi

NIC: Pemasangan Kateter


Menjelaskan prosedur dan rasional intervensi kateterisasi
Monitore intake dan output
Menjaga teknik aseptik dalam melakukan kateterisasi
Memelihara drainase urinari secara tertutup.

MIOMA UTERI
30/11/2011

BAB I
CASE
Laporan Kasus Pasien
1.1 Identitas Pasien :

Nama
: Ny. M

Umur

: 54 tahun

Alamat

: Pagelaran kepanjen

Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: IRT

Status

:M

Pendidikan

: SD

1.1.1

ANAMNESA

1. Masuk rumah sakit tanggal

: 28 Februari 2011

2. Datang dikirim oleh

: Poli OBG

3. Keluhan utama

: Perut membesar

4. Keluhan penyerta

Pasien datang dengan keluhan perut membesar sejak 5 tahun yang lalu, awalnya terasa terdapat benjolan kecil dalam perut dan semakin membesar
disertai nyeri perut yang hilang timbul seperti ditusuk tusuk. 5 bulan terakhir keluarnya darah menstruasi lebih banyak dan disertai rasa nyeri. Perut
terasa penuh, mual (-), muntah (-), flek-flek perdarahan (+). Pasien juga mengeluh nyeri pinggang.
5. Riwayat menstruasi

Menarche

= usia 12 tahun

HPHT

= 21 februari 2011

6. Riwayat perkawinan
7. Riwayat persalinan sebelumnya

: Menikah 1x, usia 25 tahun, lama 34 tahun


: Anak 1 =perempuan, persalinan normal, di dukun

Anak 2 = perempuan, persalinan normal, di dukun


Anak 3 = laki-laki, persalinan normal, di dukun
8. Riwayat penggunaan alat kontrasepsi

: pil KB, lama 3 tahun

IUD, lama 2 tahun


9. Riwayat penyakit sistemik yang pernah dialami
10. Riwayat penyakit keluarga

11. Riwayat kebiasaan

12. Riwayat pengobatan

1.1.2
1.

: solid ovarian mass 2010 MRS di RSUD

PEMERIKSAAN FISIK
a.

Status present

Keadaan umum

: cukup

Tekanan darah

: 130/80 mmHg, nadi : 62 x/mnt, suhu : 36,5C

RR
1.

: 20 x/mnt
b.

Pemeriksaan umum

Kulit

: cianosis (-), ikterik (-), turgor menurun (-)

Kepala

Mata

: anemi +/+, ikterik -/-, edema palpebra -/-

Wajah

: simetris

Mulut

: stomatitis (-), hiperemi pharing (-), pembesaran tonsil (-)

Leher

: pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tonsil (-)

Thorax

Paru

: Inspeksi : pergerakan nafas simetris, tipe pernafasan normal, retraksi costae -/-

Palpasi : teraba massa abnormal -/-, pembesaran kel. Axilla -/Perkusi : sonor +/+, hipersonor -/-, pekak -/Auskultasi : vesikuler +/+, suara nafas menurun -/-, Wh -/-, Rh -/Jantung

: inspeksi : iktus cordis tak teraba

Palpasi : thrill -/Perkusi : batas jantung normal


Auskultasi : denyut jantung regular

Abdomen

: inspeksi : flat -, distensi -, gambaran pembuluh darah collateral

Palpasi pembesaran uterus +, TFU setinggi pusat, teraba massa solid keras, nyeri tekan +, mobile, ukuran besar massa seperti usia kehamilan 18-20
mgg
Perkusi : pekak pada bagian massa
Auskultasi : bising usus + normal
Ekstremitas

: edema -/-

1. c.
Status obstetri
Pemeriksaan luar
TFU setinggi pusat, teraba massa solid keras, nyeri tekan +, mobile, ukuran besar massa seperti usia kehamilan 18-20 mgg
Pemeriksaan dalam
Pengeluaran pervaginam

: flek-flek perdarahan

Fluxus

Fluor

Corpus uteri

: teraba massa solid keras

OUE
Adnexa parametrium

: menutup
: teraba massa solid keras

Ukuran massa

: sulit menentukan ukuran besarnya massa

Cavum douglass

: penonjolan (-)

1.2 RINGKASAN
Anamnesa
: Pasien datang dengan keluhan perut membesar sejak 5 tahun yang lalu, awalnya terasa terdapat benjolan kecil dalam perut dan
semakin membesar disertai nyeri perut yang hilang timbul seperti ditusuk tusuk. 5 bulan terakhir keluarnya darah menstruasi lebih banyak dan
disertai rasa nyeri. Perut terasa penuh, mual (-), muntah (-), perdarahan dari jalan lahir (+), Pasien juga mengeluh nyeri pinggang
Pemeriksaan fisik
: Abdomen : Palpasi pembesaran uterus +, TFU setinggi pusat, teraba massa solid keras, nyeri tekan +, mobile, ukuran besar
massa seperti usia kehamilan 18-20 mgg
Perkusi : redup di abdomen kuadran bawah
Pemeriksaan obstetric luar : TFU setinggi pusat, teraba massa solid keras, nyeri tekan +, mobile, Ukuran massa
seperti usia kehamilan 18-20 mgg
Pemeriksaan obstetric dalam : Corpus uteri dan adnexa parametrium teraba massa solid keras
Hasil USG tgl 29/11/2010
Uterus : Terdesak massa,ukuran dan bentuk dalam batas normal
Tak tampak massa/GS
Endometrium baik.
Tampak massa solid inhomogen, batas tegas ukuran > 13,2 x 11, 7 x 13 cm.
Kesimpulan

: Solid Ovarial Mass

Hasil lab. Tgl 22 februari 2011

ukuran besar massa

Hb

7,8 gr/dL

Leukosit

6500 /ul

Trombosit

200.000/ul

Masa perdarahn 200


Masa pembekuan 1100
GD

117 mg/dL

DIAGNOSIS
Tumor Ovarium

1.3 RENCANA TINDAKAN


Infuse
Transfusi PRC
Antibiotic
Operasi
Follow up tgl 28 Feb. 2011

= nyeri perut (+)

= vital sign : T = 140/80 mmHg, N = 82, S = 36C

Status obstetric : palpasi = TFU setinggi pusat, VT pembukaan (-),Corpus uteri dan adnexa parametrium teraba massa solid keras, PPV (+)
Lab. Hb 7,3 gr/dL
A

= tumor ovarium

= R/ Infus RL fl No. II

Simm
R/ transfuse PRC
Simm
R/ inj. ceftazidim fl No. II
Simm
Follow up tgl 01 Maret 2011
S
= perut terasa nyeri
O
= vital sign : T = 140/80 mmHg, N = 88, S = 36C
Status obstetric : palpasi TFU setinggi pusat, Corpus uteri dan adnexa parametrium teraba massa solid keras, PPV (+)
Lab. Cek Hb

A
P

= tumor ovarium
= R/ transfuse PRC

Simm
R/ inj. Ceftazidim fl No. II
Simm
Follow up tgl 02 Maret 2011
S

= perut nyeri (+)

= vital sign : T = 140/90 mmHg, N = 82, S = 36C

Status obstetric : palpasi TFU setinggi pusat, Corpus uteri dan adnexa parametrium teraba massa solid keras, PPV (+)
Lab. Hb 10,6 gr/dL
A

= tumor ovarium

= R/ infuse RL fl No. II

Simm
Follow up tgl 03 Maret 2011
S

= operasi

= vital sign : T = 160/80 mmHg, N = 86, S = 36C

Status obstetric : palpasi TFU setinggi pusat, eksplorasi uterus uk massa 25x23x20 cm, konsistensi keras padat, mobile, adnexa parametrium massa
(-).
A

= uterus myomatosus

= R/ infuse RL fl No. II

Simm
Follow up tgl 04 maret 2011
S

= nyeri post operasi total abdominal hysterectomy + bisalpingooforokistektomi (uterine and adnexal procedure)

= vital sign : T = 150/90 mmHg, N = 78, S = 36C

Status obstetric : palpasi TFU (-), massa konsistensi keras padat(-), PPV (-)
Lab. Cek Hb
A

= uterus myomatosus (post TAH+BSO)

= R/ Inj. Ceftazidim Fl No. III

Simm
R/ Inj. Kalnex fl No. III

Simm
R/ Inj. Teranol fl No. III
Simm
R/ Transfusi WB 2 labu
Simm
Follow up tgl 05 maret 2011
S

= nyeri post operasi

= vital sign : T = 140/80 mmHg, N = 78, S = 36C

Status obstetric : palpasi TFU (-), massa konsistensi keras padat(-), PPV (-)
Lab. Hb 11 gr/dL
A

= uterus myomatosus (post TAH+BSO)

= R/ Inj. Ceftazidim Fl No. III

Simm
R/ Inj. Kalnex fl No. III
Simm

R/ Inj. Teranol fl No. III


Simm

1.4 LAPORAN KELUAR RUMAH SAKIT


KRS tanggal

: 07 Maret 2011

Keadaan pasien waktu pulang

: keadaan umum cukup, T = 150/90 mmHg, N = 78, S = 36C

Hb

Fundus uteri

PPV

Massakonsistensi keras padat :

Diagnose saat pulang : uterus myomatosus (post TAH-BSO)

: 11 gr/dL
: TFU (-)
:

Gejala Objektif merupakan gejala yang ditegakkan melalui diagnosa ahli medis. Gejala objektif mioma uteri ditegakkan
melalui: i. Pemeriksaan Fisik. Pemeriksaan fisik dapat berupa pemeriksaan Abdomen dan pemeriksaan pelvik. Pada pemeriksaan
abdomen, uterus yang besar dapat dipalpasi pada abdomen. Tumor teraba sebagai nodul ireguler dan tetap, area perlunakan
memberi kesan adanya perubahan degeneratif. Pada pemeriksaan Pelvis, serviks biasanya normal, namun pada keadaan tertentu
mioma submukosa yang bertangkai dapat mengakibatkan dilatasi serviks dan terlihat pada ostium servikalis. Uterus cenderung
membesar tidak beraturan dan noduler. Perlunakan tergantung pada derajat degenerasi dan kerusakan vaskular. Uterus sering
dapat digerakkan, kecuali apabila terdapat keadaan patologik pada adneksa.