Anda di halaman 1dari 11

http://katakini.com/berita-peneliti-indonesiakembangkan-kelapa-jadi-bioavtur------.

html
Peneliti Indonesia Kembangkan Kelapa Jadi
Bioavtur

Para peneliti Indoneesia melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sedang
mengembangkan buah kelapa menjadi bioavtur untuk menggantikan avtur yang digunakan
sebagai bahan bakar pesawat terbang.
"Ini adalah pengembangan generasi kedua, saya telah mengembangkan katalis yang dapat
mengonversikan minyak kelapa menjadi bioavtur dan bisa langsung digunakan tanpa
mencampurnya dengan avtur," kata peneliti senior di Divisi Energi Terbarukan BPPT, Dr. Erlan
Rosyadi.
Erlan telah mencoba berbagai jenis minyak untuk dijadikan bioavtur seperti minyak sawit dan
minyak kanola, tetapi minyak kelapa paling mudah dijadikan bioavtur. "Kunci mengonversikan
biomassa menjadi bioavtur adalah selektifitas, semakin banyak fraksinya yang dominan maka
semakin gampang," kata Erlan.
Menurut Erlan, semua bagian tanaman bisa dijadikan bahan bakar terbarukan hanya saja perlu
kemauan dari pemerintah untuk mendukung pengembangan ilmu ini agar Indonesia tidak lagi
menggunakan bahan bakar minyak bumi. Seharusnya, Indonesia membuat industri katalis
sehingga tidak bergantung dengan imporir yang berakibat meningkatnya harga bahan bakar,
ujarnya.

Sementara peneliti lainnya, Dr. Arif Yudiarto, spesialis teknisi di bidang Bahan Bakar Nabati
BPPT mengatakan, "Kilang minyak bio ini alatnya hampir sama dengan kilang minyak mentah.
Bedanya kilang minyak harus dimasukkan minyak mentah, kalau kilang minyak bio dimasukkan
semua biomassa, dan hasil produksinya sama.
Dengan hasil pengembangan ini, Arif berharap pemerintah membangun kilang biomassa.
Karena sebenarnya Indonesia mempunyai sumber daya alam dan konsep untuk menggantikan
bahan bakar bumi menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan, ujarnya. Red
- See more at: http://katakini.com/berita-peneliti-indonesia-kembangkan-kelapa-jadibioavtur------.html#sthash.ywdD58u8.dpuf

Prarancangan pabrik bioavtur (aviation biofuel) ini dibuat atas dasar untuk
memenuhi kebutuhan bioavtur nasional mulai tahun 2020. Bioavtur memiliki
prospek bisnis dan pangsa pasar yang potensial karena didukung oleh kebijakan
Menteri Perhubungan yang mewajibkan implementasi bioavtur secara bertahap
pada bandar udara dengan bauran 2% pada tahun 2016, 3% pada tahun 2020, dan
5% pada tahun 2025. Pabrik bioavtur ini menggunakan tandan kosong kelapa sawit
(TKKS) sebagai bahan baku utama dengan kapasitas produksi sebesar 35.500
ton/tahun. Proses pembuatan bioavtur secara BTL terdiri atas lima tahap utama,
yaitu persiapan bahan baku, gasifikasi, pembersihan gas sintesis, sintesis
hidrokarbon (Fischer-Tropsch Synthesis), serta pemisahan bioavtur dengan minyak
mentah sintesis fraksi ringan (light syncrude). Bentuk perusahaan yang
direncanakan adalah Perseroan Terbatas (PT) dengan menggunakan metode
struktur garis dan staf dengan waktu kerja selama 330 hari per tahun. Kebutuhan
tenaga kerja untuk menjalankan perusahaan ini berjumlah 155 orang. Lokasi pabrik
direncanakan didirikan di Desa Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru,
Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh dengan luas lahan 30.340 m2. Sumber air
pabrik bioavtur berasal dari Sungai Tamiang. Untuk memenuhi kebutuhan listrik
seluruh pabrik sebesar 2.838,68 kW, maka pabrik bioavtur ini memiliki pembangkit
listrik sendiri dengan menggunakan bahan bakar solar. Hasil analisa ekonomi yang
diperoleh adalah: a. Fixed Capital Investment = Rp. 402.930.811.727 b. Working
Capital Investment = Rp. 69.531.860.708 c. Total Capital Investment = Rp.
472.462.672.436 d. Total Production Cost = Rp 333.023.641.761 e. Hasil Penjualan
= Rp. 622.219.832.911 f. Laba bersih = Rp. 216.897.143.363 g. Pay Out Time (POT)
= 4,29 tahun (4 tahun 4 bulan) h. Break Event Point (BEP) = 40,72% i. Internal Rate
of Return (IRR) = 17,96% Keywords: bioavtur, biomass to liquid, Fischer-Tropsch
Synthesis, kebijakan Menteri Perhubungan, tandan kosong kelapa sawit
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/70087

BIOAVTUR PRODUCTION PROCESS FROM PALM OIL BASED THROUGH


HYDROGENATION AND CATALYTIC CRACKING
Avtur (aviation turbine) merupakan bahan bakar pesawat komersial yang memiliki
komponen utama berupa hidrokarbon paraffin (C10- C14). Riset mengenai bioavtur
dilakukan untuk mengatasi peningkatan konsumsi avtur dan kewajiban penurunan
emisi karbon dari sektor penerbangan. Minyak sawit (CPO) digunakan karena
Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia, sementara pemanfaatannya
di dalam negeri baru mencapai 45%. Konversi CPO menjadi bioavtur melalui tahap
proses hidrolisis trigliserida hidrogenasi ikatan tidak jenuh rantai karbon,
dekarboksilasi dan catalytic cracking, sehingga dihasilkan fraksi gas cair bioalkanes
yang karakteristiknya menyerupai avtur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui kondisi proses konversi CPO menjadi bioavtur dan karakteristik
produknya. Fraksi gas dan cair bioalkanes hasil reaksi dikoleksi setiap 30-60 menit
selama 5 jam pada suhu 300, 400 dan 450C. Analisis kualitatif fraksi meliputi bau,
warna viskositas dan kejernihan pada suhu ruang. Reaksi sintesis bioavtur diduga
optimum pada suhu 450C, ditandai dengan adanya aroma paraffin yang
menyengat, viskositas menurun dan berbentuk cair pada suhu ruang dan suhu OC.
Sementara itu pada perlakuan suhu 300C dan 400C, produk yang dihasilkan
berbentuk padat di suhu ruang disebabkan adanya proses hidrolisis dan hidrogenasi
trigliserida. Peningkatan suhu sampai 450C pada tekanan 50 atm dalam atmosfer
gas hidrogen selama 1-3,5 jam menghasilkan fraksi yang memiliki densitas 750-850
kg/cm . Fraksi ini sesuai dengan spesifikasi bahan bakar avtur Densitas tertinggi
diperoleh dan produk dengan perlakuan lama waktu proses 3,5 jam yaitu 854
kg/cm3 Dari hasil pengamatan terhadap ketahanan suhu, produk bioavtur dengan
perlakuan lama proses 3-3,5 jam berbentuk cair pada penyimpanan -55C.

http://riaupos.co/40187-arsip-pemerintah-kaji-pemanfaatan-bioavtur.html
Pemerintah Kaji Pemanfaatan Bioavtur
28 Desember 2013 - 05:59 WIB > Dibaca 95 kali

JAKARTA (RP) - Pemerintah kembali berupaya memaksimalkan penggunaan bahan


bakar nabati (BBN) untuk transportasi. Kali ini pemerintah bakal mendorong
transportasi udara untuk memanfaatkan produk yang akrab disebut biofuel
tersebut. Proyek tersebut diproyeksi bakal terealisasi 2016 nanti.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara
Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE)
Kementerian ESDM dengan Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan
kemarin (27/12). Dalam kerja sama itu kedua belah pihak bakal memulai penelitian
dan penyiapan regulasi dan pengawasan terhadap penerapan aviation biofuel.

Saat ini isu penggunaan energi fosil dan perubahan iklim menjadi perhatian
bersama. Karena itu pemerintah telah berkomitmen mengurangi emisi gas rumah
kaca sebesar 26 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan dukungan
internasional pada 2020, ujar Menteri Perhubungan E E Mangindaan di Jakarta,
Jumat (27/12).
Pada tahap awal itu, Indonesia memproyeksi penyaluran bioavtur mencapai 95 ribu
kiloliter (kl). Itu dihitung dari dua persen campuran biofuel terhadap total proyeksi
kebutuhan avtur 2016 sebanyak 4,8 juta kl. Pada 2017 penyaluran bioavtur
ditargetkan 175 ribu kl dengan mem-blending 3 persen biofuel pada avtur. Kami
memprediksi pada tahun 2020 kebutuhan avtur mencapai 5,8 juta kl, katanya.
Sementara itu Direktur Jenderal (Dirjen) EBTKE Rida Mulyana mengharapkan kerja
sama tersebut bisa berjalan lancar. Menurut dia, fakta pemanfaatan energi baru
terbarukan yang masih mencapai 5 persen perlu disayangkan. Padahal potensi
bahan baku BBN di Indonesia cukup besar. Saat ini Indonesia memiliki potensi
bahan bakar nabati terbesar kedua setelah Brasil, ujarnya.
Dia menambahkan, langkah tersebut juga memungkinkan Indonesia menjadi hub
(pusat) penerbangan lalu lintas udara internasional. Namun hal tersebut hanya bisa
terwujud jika Indonesia bisa menyediakan bioavtur untuk keperluan penerbangan
domestik maupun internasional. Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Dadan
Kusdiana mengatakan, semua pihak yang terkait siap mendukung realisasi proyek
tersebut. Salah satunya pembangunan pabrik pengolahan bioavtur. Ini kan
memberi pesan supaya pabriknya segera dibuat. Pemerintah komit ke sana. Kami
mendorong Pertamina membuatnya, ujarnya.
Menteri Perhubungan E E Mangindaan mengatakan lagi, Indonesia bakal menjadi
negara pertama yang menerapkan regulasi mengenai pemakaian biofuel. Saat ini,
baru beberapa maskapai tingkat dunia yang pernah menggunakan biofuel.
Misalnya, Lufthansa, Continental Airlines, dan KLM. Kami menargetkan bisa
mencampur 5 persen pada 2025. Rencana ini baru kami rekomendasikan oleh
badan penerbangan dunia. Selain itu, kami juga akan melakukan pemanfaatan
energi terbarukan untuk bandara sebanyak 7,5 megawatt pada 2020, tambahnya.
(bil/sof/sar)

http://ditjenbun.pertanian.go.id/pascapanen/berita-219-kelapa-sawit-berpotensibesar-sebagai-bahan-baku-bioavtur.html
Kelapa Sawit Berpotensi Besar Sebagai Bahan Baku Bioavtur
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita Utama - Dibaca: 18280 kali
0

Jakarta (26/8) - Pemerintah menargetkan penggunaan bioavtur mulai tahun 2016. Sudah ada
beberapa bahan baku bahan bakar nabati yang disiapkan, salah satunya kelapa sawit. Topik
tersebut merupakan salah satu hal yang disampaikan pada pada acara Workshop Aviation Biofuel
& Renewable Energy Task Force (ABRETF) pada tanggal 26 Agustus 2014, di Ruang Mataram
Gedung Karya Kementerian Perhubungan.
Pada Workshop yang dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan, dan dihadiri
oleh wakil dari Instansi Pemerintah, Perguruan Tinggi, Asosiasi, BUMN dan Swasta serta
perwakilan Aviation Biofuel & Renewable Energy Task Force (ABRETF) ini, Ditjen Perkebunan
menyampaikan Kebijakan Kementerian Pertanian dalam mendukung Pengembangan Bahan
Bakar Nabati (BBN) meliputi Landasan Hukum, Tugas Kementerian Pertanian sesuai Inpres No
1 tahun 2006, Kebijakan penyediaan bahan baku BBN, Prospek pengembangan BBN, Potensi
tanaman penghasil BBN, Prinsip ISPO, Kebijakan ke depan dan Masalah yang perlu dipecahkan.
Pemerintah tidak akan membuat regulasi untuk memaksa penggunaan bioavtur oleh maskapai.
Faktor penting penggunaan bioavtur justru ada pada penyediaan bahan baku. Untuk itu,
Kementerian ESDM dan PT Pertamina (Persero) akan bekerja sama dengan Kementerian
Pertanian dalam penyediaan bahan baku, seperti kelapa sawit.
Kelapa sawit mempunyai potensi yang sangat besar sebagai bahan baku biavtur. Pada tahun 2014
produksi CPO mencapai 29,5 juta ton dan diprediksi akan mencapai 61,06 juta ton pada tahun
2030. Menurut Corporate Planning PT Pertamina (Persero), Pertamina sedang mengkaji sumber
minyak nabati yang akan digunakan sebagai campuran bioavtur, yaitu kelapa sawit. Pertamina
sudah bisa memproduksi bioavtur di laboratorium Pertamina di Pulogadung, Jakarta, dan saat ini
sedang diuji di kilang Dumai, Riau. Konsumsi avtur per tahun mencapai 5 juta kiloliter,
semuanya diperoleh dari impor. Penggunaan BBN diharapkan bisa menghemat 2 % impor avtur.

Konsumsi avtur Garuda per tahun mencapai 1,8 juta kiloliter dan pada 2016, prediksi konsumsi
avtur Garuda bisa mencapai 2 juta kiloliter, ungkap Direktur Operasi PT Garuda Indonesia.
Ketua Gapki menambahkan bahwa yang harus diperhatikan dalam pengembangan bahan bakar
nabati (BBN), selain ketersediaan bahan baku adalah kestabilan harga BBN, bagaimana
menciptakan permintaan serta peningkatan infrastruktur. Sedangkan Peneliti dari IPB
menyampaikan bahwa dalam pengembangan BBN, perlu fokus pada salah satu komoditi terlebih
dahulu sehingga dapat diatur dengan baik, dan untuk komoditi lainnya lebih baik dilakukan studi
terlebih dahulu. Selanjutnya, Indonesia dapat mencontoh Brazil dengan success story nya terkait
pemanfaatan bioethanol dimana pemerintah tidak hanya memberikan bantuan berupa subsidi
namun
mendukung
aspek
perdagangannya.
Menurut Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), dalam menyusun kebijakan
harga, agar harga BBN tidak tergantung oleh harga di luar negeri. Selanjutnya, disarankan untuk
membentuk satu lembaga/unit khusus yang menangani pengembangan BBN di Indonesia.
Wakil Menteri Perdagangan juga menegaskan pentingnya peluang dan tantangan perdagangan
regional dan global CPO dalam konteks implementasi BBN penerbangan dan standar ISPO

untuk mengembangkan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Disampaikan juga, hal penting
dari workshop ini adalah emisi dan pengembangan keberlanjutan.(nenny)

http://www.energitoday.com/2016/02/industri-penerbangan-masihtakut-gunakan-bioavtur/
Industri Penerbangan Masih Takut Gunakan Bioavtur
February 19, 2016 @ 5:25 pm

Jakarta, EnergiToday-- Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya


begitu menggebu mengembangkan bahan bakar pesawat (jet fuel) berbasis minyak
kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Namun faktanya, maskapai
penerbangan masih enggan menggunakan bahan bakar campuran avtur dan CPO
demi keselamatan penumpang.
Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit Bayu
Krisnamurthi mengatakan, riset dan penelitian pengembangan bioavtur masih terus
berjalan sampai saat ini. Kesimpulan dari penelitian tersebut, bahan bakar tersebut
terbukti bisa digunakan pesawat terbang.

"Risetnya sudah jadi, dan terbukti bisa dipakai. Ini sedang terus dikaji untuk pada
waktunya bisa dipakai, karena sangat terbuka menggunakan jet fuel berbasis
sawit," ujar Bayu, seperti yang dilansir dari liputan6.com, Jumat (19/2).
Mantan Wakil Menteri Perdagangan ini mengaku, maskapai penerbangan
mempunyai pertimbangan tertentu belum tertarik menggunakan bahan bakar
berbasis minyak kelapa sawit, bukan karena persoalan harga maupun lingkungan.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli berniat
mengembangkan bahan bakar jet yang berasal dari CPO (jet fuel). Langkah tersebut
sebagai upaya pemerintah mendorong hilirisasi produk sawit. (ns/L6)

https://iinparlina.wordpress.com/ragam-teknologi/teknologi-energi/bioavtur/
Seiring dengan kian populernya aneka bahan bakar nabati (BBN, biofuels) seperti bioetanol,
biodiesel dan biogas, dunia penerbangan yang sudah puluhan tahun menggunakan avtur yang
berasal dari bahan bakar fosil, kini juga mulai tertarik untuk menggunakan bahan bakar berbasis
nabati, yakni biokerosin atau bioavtur (biokerosene atau jet biofuel). Penggunaan biokerosin
sebagai bahan bakar pesawat jet dan pesawat terbang pertama kali dikembangkan di Fortaleza,
Brazil, pada periode 1980-1985. Uji pertama kali dilakukan pada pesawat yang terbang dari So
Jos dos Campos menuju Braslia dengan menggunakan biokerosin murni (tanpa adanya
tambahan mineral-mineral kerosin tradisional) yang disebut prosen. Pada kondisi yang sama, bila
dibandingkan dengan petrokerosin (kerosin yang berasal dari bahan bakar fosil) konsumsi ratarata dari biokerosin lebih besar 4.5% sampai 6.0%.
Keberhasilan pengembangan teknologi bahan bakar berbasis nabati ini kemudian disusul dengan
keberhasilan beberapa penerbangan lainnya; yang paling baru (2007) adalah penerbangan
pesawat Virgin Atlantics dari London menuju Amsterdam yang menggunakan campuran BBN
sebanyak 20%.
Virgin Atlantic bekerja sama dengan dengan Boeing, GE Aviation dan Imperium Renewables,
perusahaan utama dalam teknologi produksi biodiesel di Seattle, Washington, berhasil
menerbangkan sebuah pesawat terbang Boeing 747 yang dilengkapi dengan mesin GE dan
menggunakan bahan bakar yang mengandung 20%-volume jet biofuel yang berasal dari minyak
babassu dan minyak kelapa. Pesawat ini terbang dari London Heathrow pukul 11:30 dan tiba
dengan selamat di Amsterdam pada pukul 1:30 pm waktu setempat.
Keberhasilan ini merupakan sebuah prestasi yang cukup menggembirakan karena merupakan
demonstrasi penerbangan pesawat ber-BBN pertama dalam dunia penerbangan jet komersial
berskala besar. Kemudian, tidak lama setelah itu, Boeing, Air New Zealand dan Rolls-Royce

yang juga melakukan demonstrasi penerbangan biofuel dengan menggunakan pesawat terbang
Air New Zealand Boeing 747-400 dengan mesin dari Rolls-Royce.
Biokerosin atau jet biofuel merupakan bahan bakar dari bahan yang lebih mudah diperbaharui
daripada bahan bakar jet biasa, mampu mereduksi emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan
global, serta lebih ramah lingkungan. Selain itu, biokerosin dikabarkan memiliki nilai lubrisitas
(pelumasan) dan detergensi (pembersihan) yang cukup baik, sehingga memiliki kemampuan
untuk memperbaiki kinerja dari petrokerosin dan berkontribusi dalam pembersihan turbin. Akan
tetapi, walaupun tidak membutuhkan modifikasi mesin bahan bakar kendaraan, biokerosin
memiliki kecenderungan untuk membeku lebih cepat daripada bahan bakar berbasis bahan bakar
fosil biasa.
Pada bulan September 2006, perusahaan biofuel dari Brazil, Tecbio bekerjasama dengan NASA
dan Boeing untuk mengembangkan bahan bakar pesawat terbang berupa biokerosin atau disebut
Boeing sebagai jet biofuel. Tecbio menggunakan reaksi transesterifikasi untuk memproduksi
biodiesel dan biokerosin (jet biofuel) dengan menggunakan minyak babassu sebagai bahan
mentah. Biokerosin dibuat dari fraksi ester dengan berat molekul tertentu.
https://bambangprastowobioenergy.wordpress.com/2015/03/10/bahan-bakubioavtur-pesawat-udara-dari-kelapa-sawit-cukup-melimpah/
Bahan Baku Bioavtur Pesawat Udara dari Kelapa Sawit Cukup Melimpah

Bambang Prastowo
Hasil analisis menunjukkan bahwa yang paling optimal sebagai bahan bakar nabati untuk
pesawat udara (bioavtur) adalah kernel kelapa sawit dan daging buah kelapa. Potensi lahan untuk
kelapa sawit cukup luas yaitu 44,094 juta ha, namun yang sangat sesuai sebenarnya hanya sekitar

18 juta ha, termasuk di dalamnya adalah hutan konversi yang bisa dimanfaatkan yaitu sekitar
13,7 juta ha. Secara sederhana dapat diperhitungkan bahwa perluasan areal masih berpotensi
untuk ditingkatkan sampai sekitar dua kali luasan saat ini termasuk produksi kelapa sawitnya.
Ke depan pengembangan bahan bakar nabati untuk pesawat udara dari kelapa sawit tinggal
memperhitungkan seberapa porsi produksi yang dikehendaki akan dialokasikan untuk bahan
baku bioavtur tersebut.
Berdasarkan komunikasi langsung pelaku bisnis pabrik kelapa sawit, selang produksi produksi
CPO cukup lebar, yaitu sekitar 4 22 ton/ha/th, sedangkan produksi CPO umumnya sekitar 23 %
dari produksi TBS dan kernel atau inti sawit adalah sekitar 5,5%. Berdasarkan data resmi
Delegasi Indonesia pada Bilateral Meeting Indonesia Malaysia 2013, produksi CPO Indonesia
saat ini sekitar 27,5 juta ton pada luasan 9,074 juta ha, jadi rata-rata hasil CPO adalah 3,03
ton/ha. Jika diperhitungkan hasil TBS Indonesia adalah sekitar 13,2 ton/ha dan kernel hasilnya
hanya sekitar 0,73 ton/ha atau minyak kernelnya sekitar 80 % dari berat kernelnya yaitu sekitar
0,6 ton/ha.
Produksi minyak dari kernel kelapa sawit beberapa tahun terakhir ini adalah rata-rata sekitar
20% dari produksi CPO. Produksi CPO saat ini adalah sekitar 27,5 juta ton per tahun, sehingga
produksi minyak kernel adalah sekitar 5,5 juta ton per tahun dari luas lahan sawit 9,074 juta ha.
Jadi kebutuhan lahan untuk produksi satu ton minyak kernel = 9,074 juta ha/5,5 juta ton = 1,65
ha/ton atau 0,6 ton/ha. Jumlah kebutuhan bahan bakar nabati yang akan dicampur dengan avtur
konvensional berdasarkan perkiraan permintaan di masa yang akan datang dan sesuai dengan
target Rencana Aksi Nasional Gas Rumah Kaca (RAN GRK) untuk tahun 2016, 2018 dan 2020
berturut-turut adalah 114.144 KL, 211.300 KL dan 260.928 KL. Berat jenis avtur saat ini adalah
sekitar 0,8 kg/liter dan untuk menghasilkan 1 Liter avtur sintesis dibutuhkan sebanyak kurang
lebih 1,2 Liter minyak kernel. Oleh karena itu, kebutuhan minyak kernel untuk tahun 2016,
2018 dan 2020 berturut-turut adalah
: 136.973 KL = 109.578 ton, 253.560 KL = 202.848
ton dan 313.114 KL = 250.491 ton.
Berdasarkan analisa kebutuhan lahan untuk produksi minyak kernel sebelumnya, maka perkiraan
kebutuhan lahan kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak nabati pada
pesawat udara untuk tahun 2016, 2018 dan 2020 berturut-turut adalah : 180.804 ha, 334.699 ha,
dan 413.310 ha (masing-masing adalah 2 %, 4 % an 5% dari total lahan kelapa sawit saat ini).
Berdasarkan angka tersebut, terlihat bahwa areal perkebunan kelapa sawit yang kita miliki saat
ini masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar nabati pada pesawat udara
di masa mendatang. Untuk agribisnis besar dalam rangka produksi bioavtur tentu saja lebih
mudah mengelola perkebunan besar swasta dibandingkan milik petani yang tersebar dengan
ribuan kepemilikan. Hal ini tentu saja menjadi tantangan besar ke depan jika ingin melibatkan
pertanaman milik rakyat dalam mengelola industri bioavtur di Indonesia, sehingga diperlukan
sosialisasi dan penyuluhan yang intensif mulai sekarang.

Minyak Kelapa Paling Mudah Dijadikan


Bioavtur
Jum'at, 19 September 2014 , 22:15:00 WIB

Dok. Antara
41
0
0

0
0
0
Jakarta--Tanaman kelapa yang banyak tumbuh subur di wilayah pesisir Indonesia ternyata dapat
memberikan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Salah satunya, dijadikan sebagai bahan bakar
bioavtur untuk pesawat terbang. Saat ini, Badang Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
sedang melakukan penelitian mengembangkan minyak kelapa menjadi bioavtur.
"Ini adalah pengembangan generasi kedua, saya telah mengembangkan katalis yang dapat
mengonversikan minyak kelapa menjadi bioavtur dan bisa langsung digunakan tanpa
mencampurnya dengan avtur," kata peneliti senior di Divisi Energi Terbarukan BPPT Dr Erlan
Rosyadi, di gedung BPPT, Jakarta, Selasa (16/9), seperti ditulis Antara.
Erlan mengaku, telah melakukan percobaan berbagai jenis minyak untuk dijadikan bioavtur,
misalnya minyak sawit dan minyak kanola. Namun, berdasarkan hasil pengamatannya, minyak
kelapa merupakan bahan yang paling mudah untuk dijadikan bioavtur.
"Kunci mengonversikan biomassa menjadi bioavtur adalah selektifitas, semakin banyak
fraksinya yang dominan maka semakin gampang," jelasnya.
Erlan menambahkan, pada dasarnya semua bagian tanaman bisa dijadikan bahan bakar atau
energi terbarukan. Oleh sebab itu, perlu kemauan dari pemerintah untuk mendukung
pengembangan program ini agar Indonesia tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak bumi.
Seharusnya, lanjutnya, Indonesia bisa membuat industri katalis sehingga tidak bergantung
dengan importir yang berakibat meningkatnya harga bahan bakar. (*)
- See more at: http://www.zonalima.com/artikel/8/Minyak-Kelapa-Paling-Mudah-DijadikanBioavtur/#sthash.xAZ5YSif.dpuf

Anda mungkin juga menyukai