Anda di halaman 1dari 13

BAB IV

PEMBAHASAN

Manajemen Asuhan Kebidanan yang dilakukan pada kasus ini menggunakan


manajemen 7 langkah varney dan dengan catatan perkembangan menggunakan metode
SOAP. Pada pembahasan Studi Kasus ini penulis mencoba menyajikan pembahasan yang
membandingkan antara teori dengan pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu hamil,
persalinan normal, bayi baru lahir dan nifas yang diterapkan pada klien Ny.M G 2P1A0.
Sehingga dapat menyimpulkan apakah asuhan tersebut telah sesuai dengan teori atau tidak.
Dalam pembahasan juga dibahas mengapa kasus yang ada (diambil oleh mahasiswa) sesuai
atau tidak sesuai dengan teori, menurut argumentasi penulis yang didukung oelh teori-teori
yang ada.

4.1 Masa Kehamilan


Asuhan yang diberikan pada ibu saat kehamilan, sebelum memberikan asuhan pada
ibu terlebih dahulu dilakukan informed consent pada ibu dalam bentuk komunikasi yang
baik juga dilakukan penulis terhadap keluarga sehingga saat pengumpulan data ibu
bersedia memberikan informasi penting tentang kondisi kesehatannya.
Cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan
mendeteksi ibu dengan kehamilan normal.
Ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin
semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan atau asuhan antenatal.
Pemantauan selama kehamilan sangat diperlukan karena menurut teori setiap
kehamilan dapat berkembang atau menjadi masalah dan komplikasi setiap saat, itu
sebabnya wanita hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya, oleh karena itu

setiap

kehamilan

minimal

memerlukan

kali

kunjungan

selama

periode

antenatal/kehamilan yaitu satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua
dan dua kali pada triwulan ketiga (Saifuddin 2009)
Dari teori tersebut penulis mencoba menerapkannya pada Ny. M karena study
kasus ini dimulai pada kehamilan 35 minggu maka ibu hamil dianjurkan minimal 4 kali
memeriksakan kehamilannya, tetapi Ny. Mmelakukan4 kali periksa kehamilan, hal ini
bertujuan untuk melakukan pengawasan yang lebih ketat agar dapat mendeteksi diri
komplikasi yang terjadi dan memantau kemajuan serta pertumbuhan janin. Hal ini tidak
bertentangan dengan teori (Saifuddin,2010)
-

Satu Kali Kunjungan Selama Trimester Ke 1 : Sebelum 14 Minggu.

Satu Kali Kunjungan Selama Trimester Ke 2 : 14-28 Minggu

Dua Kali Kunjungan Selama Trimester ke 3 : 28-36 Minggu Dan Sesudah Minggu
ke 36 Minggu
Kehamilan ibu direncanakan, Ny. M mengatakan tidak mengharapkan jenis
kelamin, ibu berharap kelak bayinya lahir dalam keadaan sehat dan tidak cacat.
Kesimpulan tersebut didapat langsung dari keterangan Ny. Mdalam Menjalani masa
kehamilannya

Ny.

sangat

memperhatikan

kesejahteraan

janin

dengan

mengkonsumsi vitamin dan makan makanan yang telah dianjurkan oleh penulis, serta
melakukan pemeriksaan secara rutin.
1 Timbang berat badan dan pengukuran tinggi badan
Pada kunjungan pertama berat badan Ny. M yaitu 68 kg, dan pada kunjungan
kedua berat badan Ny. M 69 kg, pada kunjungan ketigaNy. M 69 kg, dan
keempat Ny. M 70 kg dan berat badan Ny. M sebelum hamil 57 kg, dan dihitung
Ny M mengalami kenaikan berat badan sekitar 12 kg selama hamil, kehamilan
dianggap normal sehingga dikatakan tidak ada kesenjangan dengan teori, karena
berat badan wanita hamil akan naik kira-kira diantara 6,5-16,5 kg rata-rata 12,5

kg atau dengan kata lain ibu mengalami kenaikan berat badan 0,3kg/minggu.
Tinggi badan Ny. M 155 cm dan menurut teori itu termasuk tinggi badan yang
normal untuk ibu hamil.
2 Ukur tekanan darah
Ukuran tekanan Darah (TD). Hal ini juga dilakukan setiap kali ibu melakukan
kunjungan. Di dapat hasil bahwa tekanan darah Ny.S adalah 110/70 mmHg,
sampai dengan 120/70 mmHg, dan dianggap normal, karena umumnya terjadi
penurunan tekanan darah sistolik sebesar 5-10 mmHg, dan diastolic sebesar 1015 mmHg
3 Status gizi
Jika dilihat dari teori IMT ada kesenjangan penambahan berat badan selama
kehamilan berdasarkan Indeks Massa Tubuh, Ny. M mempunyai IMT 28 dan
termasuk dalam kategori tinggi. Sehingga terdapat kesenjangan antara teori dan
praktek dikarenakan pola makan ibu yang berlebihan dan sebeum hamil berat
badan ibu sudah berlebihan.
4 Ukur tinggi fundus uteri
Pemeriksaan TFU dilakukan dengan palpasi, dilakukan untuk mengetahui usia
kehamilan. Dan didapatkan hasil pada Ny. M pada kunjungan pertama yaitu
30cm, pada kunjungan ke dua 30cm, pada kunjungan ke tiga 31 cm, dan pada
kunjungan ke empat 31 cm, seharusnya pada usia kehamilan 35 minggu : 31
cm diatas simfisis, 38 minggu : 33 cm diatas simfisis, (Mochtar, 2011.).
Sehingga ada kesenjangan antara teori dan hasil pengkajian.
5). Presentasi janin dan dengarkan DJJ
Pemeriksaan DJJ dilakukan rutin setiap kunjungan dan didapat hasil pada
kunjungan pertama 130x/m, kunjungan kedua 134x/m, kunjungan ketiga DJJ
134x/m , dan pada kunjungan ke empat DJJ 138x/m. Teori menjelaskan bahwa
DJJ normal dalah 120-160x per menit. Sehingga dapat disimpulkan bahawa
tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek.

6). Imunisasi Tetanus Toxoid


Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan2 kali , dengan dosis 0,5 cc disuntikkan
secara intramuskuler / subkutan (di bawah otot atau di bawah kulit ) . Imunisasi
TT harus diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi
TT lengkap . Dan Ny. M sudah diberikan imunisasi lengkap sebelum usia
kehamilan 32 minggu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada kesenjangan
antara teori dan praktek.
7). Tes Laboratorium
Tes laboratorium sederhana yang dilakukan selama perawatan prenatal adalah
Hb pemeriksaan untuk menilai status anemia pada wanita hamil. Dan
pemeriksaan Hb pada Ny. Mdi lakukan pada kunjungan pertama dengan hasil
10,9 gr%, kunjungan kedua dan ketiga tidak dlakukan peeriksaan Hb, dan pada
kunjungan keempat dilakukanpemeriksaan Hb di dapatkan hasil 11,3 gr % ,
Sesuai teori Hb : 11 gr% tidak anemia, Hb: 9-10 gr% anemia ringan, Hb: 7-8
gr% anemia sedang,

Hb: <7 gr% anemia berat. Pada pemeriksaan Hb

kunjungan pertamabisa dikategorikan anemia ringan dan diberikan terapi Fe,


sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan antara teori dan
praktek.

8). Pemberian Tablet Fe


Pada pemeriksaan Hb didapat hasil pertama tergolong anemia ringan, hal
tersebut dipengaruhi banyak faktor seperti Ny. M yang tidak kooperatif sehingga
ibu sering lupa untuk meminumnya, pada pelaksanaannya tablet Fe yang tidak
diminum secara teratur sehingga berdampak pada Hb. Tetapi pada
pelaksanaannya tablet Fe selalu diberikan setiap kunjungan. Sehingga Tablet Fe
kurang lebih 90 tablet sudah diberikan.Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak
ada kesenjangan antara teori dan praktek.

9). Tes PMS


Tes PMS tidak dilakukan pada Ny. M karena tidak terdapat tanda-tanda yang
menjurus kepada PMS.
10). Temu Wicara
Yaitu rencana asuhan yang tidak dapat dilanjutkan, tetapi memerlukan tindakan
lanjutan. Anamnesa meliputi biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan,
riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas, biopsikososial, dan pengetahuan klien.
(Ari, 2013).
Dan setiap kunjungan temu wicara telah dilakukan seperti memberikan penkes
yang dibutuhkan klien untuk kesejahteraan ibu dan janin. Seperti memberitahu
pola nutrisi yang baik, pola istirahat yang baik, memberitahu tanda bahaya pada
kehamilan, dsb. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan
antara teori dan praktek.

4.2 Masa Persalinan


Menjelang akhir kehamilannya Ny. M mengalami proses tanda-tanda persalinan
seperti : mules-mules yang frekuensinya semakin sering, durasinya semakin lama,
keluar darah bercampur lendiryang berjalan normal. Pada masa tersebut penolong
berusaha memberikan asuhan yang optimal, diantaranya dengan melibatkan keluarga,
berupa dukungan dan memberikan kesempatan pada ibu untuk mendampingi selama
proses persalinan. Asuhan sayang ibu pada saat persalinan diberikan sesuai
kebutuhannya, diantaranya mencoba memberikan posisi yang nyaman pada proses
persalinan serta memberikan nutrisi dan cairan sehingga ibu dapat meneran dengan baik
tanpa adanya hambatan. Cairan yang cukup selama persalinan akan lebih banyak
memberikan energi dan mencegah dehidrasi.

4.2.1 Kala I
Kala I Ny. M dimulai sejak tanggal 16-12-2015, pukul 08.00 WIB, ibu
datang dengan keluhan mules-mules yang sering sudah keluar lendir darah dan
belum keluar air-air, ibu datang ke BPS Kokom. kala 1 dimulai dari jam 08.00
WIB, dengan hasil VT 4 cm dan pada pukul 11.00 dengan hasil VT 7 cm. Pada
jam 13.50 WIB ibu mengatakan mules seperti akan BAB dan kemudian dilakukan
VT ulang dengan hasil pembukaan 10 cm (lengkap). Jadi dapat dihitung kala I Ny.
M yaitu 5 jam

terhitung dari pembukaan 4 cm karena pemantauan atau

pemeriksaan dimulai dari pembukaan 4 cm, dikarenakan ibu segera ke klinik


ketika merasakan mules dengan alasan mules yang semakin sering. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa ada kesenjangan antara teori dan praktek karena
menurut teori Mochtar, 2006 kala 1 pada multigravida berlangsung 7 jam.
Asuhan sayang ibu yang diberikan, telah memberikan hasil yang cukup
baik selama proses persalinan.menurut teori pada kala I diberikan asuhan yaitu:
mengobservasi TTV, pengeluaran pervaginam, kemajuan persalinan 4 jam,
mengobservasi his, nadi, DJJ setiap 30 menit, memberikan nutrisi dan cairan yang
cukup, menganjurkan ibu untuk tidak menahan BAK, menghadirkan pendamping
persalinan, ibu kelihatan semangat, dapat memberikan rasa nyaman, mobilisasi
dan support mental.
4.2.2 Kala II
Pada kala II, waktu yang diperlukan Ny. M dimulai dari pembukaan
lengkap sampai lahirnya bayi yaitu 13 menit. Hal ini dikatakan normal karena Ny.
M adalah Multigravida. Sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek.
Menurut teori menyebutkan bahwa pada Primigravida kala II berlangsung rata rata 1 jam dan pada Multigravida rata - rata 0,5 jam(Sarwono,2010).

Setelah terlihat adanya tanda gejala kala II, maka ibu dianjurkan untuk
mengambil posisi yang nyaman, mengajarkan teknik - teknik yang baik, dan
menolong persalinan dengan menggunakan asuhan persalinan normal 58 langkah.
Ibu dipimpin meneran sampai kepala lahir seluruhnya, biarkan kepala melakukan
paksi luar kemudian cunam ke bawah untuk melahirkan bahu depan, tarik ke atas
untuk melahirkan bahu belakang dilanjutkan dengan sanggah susur untuk
melahirkan seluruh tubuh bayi. Langsung dilakukan penilaian bayi diantaranya
bayi segera menangis, kulit kemerahan, gerak aktif. Setelah itu bayi tidak langsung
diletakkan di dada ibu untuk dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Dikarenakan
kebiasaan lahan praktek BPS Kokom setelah bayi lahir langsung diletakkan di
ruang perawatan. Hal ini tidak sesuai dengan teori dalam 58 langkah persalinan
normal dimana bayi yang baru lahir langsung dilakukan IMD.
4.2.3 Kala III
Pada kala III,waktu yang diperlukan Ny. Mselama kala III yaitu dimulai
dari lahirnya bayi sampai lahirnya plasenta selama 7 menit. Hal ini sesuai dengan
teori yang mengatakan bahwa lama kala III yaitu 10 menit. (Ai yeyeh, 2009).
Setelah bayi lahir dilakukan palpasi untuk memastikan tidak ada janin kedua lalu
dilakukan menejemen aktif kalla III diantaranya penulis memberikan suntikan
oksitoksin 10 unit injeksi IM dilakukan untuk membuat kontraksi uterus agar kuat
dan efektif, selanjutnya peregangan tali pusat terkendali dilakukan saat kontraksi
sampai plasenta lahir, kemudian melakukan massase fundus uteri dengan
mengajarkan pada ibu karena dapat mengurangi pengeluaran darah dan mencegah
pendarahan postpartum. Penanganan dapat menghasilkan kontraksi yang efektif
sehingga dapat memperpendek waktu kala III persalinan dan mengurangi
kehilangan darah dibandingkan penatalaksanaan fisiologis (APN, 2008). Semua

tindakan ini dilakukan pada Ny. M dan tidak ada kesenjangan antara teori dan
praktek.
4.2.4 Kala IV
Pada akhir kala IV kontraksi uterus baik, perineum robekan derajat II, tandatanda post partum setelah placenta lahir, tinggi fundus uteri dalam batas normal,
yaitu 2 jari dibawah pusat.
Kala IV disebut juga dengan kala pengawasan. Pengawasan yang dilakukan
dimulai dari lahirnya plasenta sampai sampai 2 jam pertama post partum.
Pemantauan dilakukan setiap 15 menit pada 1 jam pertama, dan setiap 30 menit
pada 1 jam kedua. Hal - hal yang perlu di observasi yaitu keadaan umum ibu,
tekanan darah, suhu, nadi, tinggi fundus uteri, kontraksi rahim, kandung kemih,
perdarahan. Hal tersebut penulis lakukan pada Ny. M sampai 2 jam post partum,
hasil observasi pada 15 menit pertama diantaranya adalah keadaan umum baik,
tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,5 0C, pernapasan 20
x/menit, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, kandung
kemih kosong, perdarahan 50 cc. Pada 15 menit kedua hasil observasi juga baik,
keadaan umum baik, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,5 0C,
pernapasan 20 x/menit, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus
baik, kandung kemih kosong, perdarahan 30 cc. Pada 15 menit jam ketiga tekanan
darah 120/70 mmHg, nadi 78 x/menit, respirasi 18 x/menit, tinggi fundus uteri 2
jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih 50 cc, perdarahan 20cc.
Pada 15 menit jam keempat tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 78 x/menit,
respirasi 18 x/menit, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik,
kandung kemih kosong, perdarahan 20 cc. Selanjutnya pada 30 menit pertama
pada jam kedua hasil observasi yang diperoleh keadaan umum baik, tekanan darah

110/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,60C, pernapasan 21 x/menit, tinggi fundus
uteri 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong,
perdarahan 20 cc. Pada 50 menit kedua masih dalam batas normal keadaan umum
ibu baik, TTV normal, kontraksi uterus baik tinggi fundus uteri 2 jari dibawah
pusat, perdarahan 20 cc.
Sesuai dengan hasil yang didapat terlihat kontraksi uterus yang selalu dalam
dalam kondisi baik, sehingga keadaan TFU juga baik. Diperoleh dalam
pemantauan jam kedua tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat, hal ini sesuai
dengan teori. Yang mengatakan setelah plasenta lahir tinggi fundus uteri 2 jari
dibawah pusat dalam hal ini proses proses involusi uterus berjalan dengan baik.
Selain itu jumlah perdarahan dalam 2 jam post partum ini juga masih dalam
keadaan normal yaitu 185 cc, hal ini sama dengan teori yang menyatakan
perdarahan masih dianggap normal jika jumlah perdarahan tidak melebihi 400 -500
cc (Sarwono, 2010).

4.3 Masa Nifas


Menurut teori Saiffudin, 2009 dikatakan bahwa Selama masa nifas kunjungan
dilakukan sebanyak 4 kali yaitu kunjungan I pada 6-8 jam, kunjungan II 6 hari post
partum, kunjungan III 2 minggu post partum, kunjungan IV pda 6 minggu post
partum.Proses masa nifas berjalan dengan normal tidak ditemui tanda-tanda bahaya.
Perencanaan dan pengawasan involusi uterus dan pengeluaran lochea dimulai pada 6 jam
post partum hingga 40 hari masa nifas.

4.3.1 Kunjungan pertama (Nifas 6-8 jam)


Pada kasus Ny. M tidak ditemui tanda-tanda bahaya dan keluhan yang
mengganggu kondisi ibu dan bayinya. Perencanaan dan pengawasan involusi
uterus dan pengeluaran lochea dimulai pada 6 jam postpartum hingga 40 hari
postpartum.
Pada masa nifas ini penulis melakukan kunjungan ke BPS Kokom untuk
memberikan asuhan selama masa nifas sesuai kebutuhan ibu, selama pengawasan
masa nifas sejak 6 jam postpartum keadaan involusi uterus baik, tinggi fundus
uteri 2 jari dibawah pusat, ini adalah pengaruh oksitoksin yang dikeluarkan
kelenjar hipofisis posterior yang berpengaruh pada otot uteri dan buah dada,dan
sesuai dengan teori bahwa setelah plasenta lahir TFU berkurang 2 jari dibawah
pusat (Mochtar, 2011). Asuhan kebidanan yang diberikan 6 jam post partum yaitu
diantaranya: mengajurkan ibu untuk mobilisasi,personal hygine yang baik, tidak
menahan BAK dan BAB, memberikan ASI sesegera mungkin dan selalu menjaga
kehangatan bayi. Hal ini sejalan dengan teori bahwa salah satu program dan
kebijakan teknis yang dilakukan pada kunjungan pertama adalah pemberian ASI
awal dan menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi (Saifuddin,
2010).

4.3.2 Kunjungan kedua (Nifas 6 hari)


Pada

kunjungan

hari

penolongmemberikan

asuhan

dengan

menganjurkan ibu untukmenyusui bayinya sesering mungkin,mengingatkan ibu


memberikan ASI kepada bayinya serta memberikan penkes mengenai pola nutrisi,
karena sesuai dengan teori bahwa pada kunjungan 6 hari post partum hal yang
harus dinilai yaitu dengan memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, dan

cairan,meyakinkan ibu memberikanASI untuk bayinya, dan memberikan


konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi salah satunya yaitu menjaga bayi
agar tetap hangat (Saifuddin, 2010).
4.3.3 Kunjungan ketiga (Nifas 2 minggu)
Pada kunjungan ketiga ini dilakukan kujungan 14 hari pada masa nifas
atau 2 minggu masa nifas pada kunjungan ini asuhan yang diberikan tetap sama
yaitu pemberian ASI sesering mungkin, perawatan payudara, personal hygiene,
nutrisi, istirahat, tanda bahaya dan perawatan luka bekas oprasi. Dalam
kunjungan ini tidak ada kesenjangan dalam teori dan praktik.
4.3.4 Kunjungan keempat (Nifas 40 hari)
Pada kunjungan ke empat atau 40 hari msa nifas penulis melakukan
kunjungn untuk penyelesaian study kasus selama masa nifas. Ibu mengatakan
bahwa ibu ingin berKBsuntik 3 bulan, dan penulis memberikan KB suntik 3
bulan.
Asuhan yang diberikan selama masa nifas sesuai dengan teori walaupun
terdapat beberapa kesenjangan Penulis melakukan asuhan pada Ny. M selama
masa nifas sebanyak 4 kali pada saat 6 jam post partum, nifas 6 hari, nifas 14
minggu, dan nifas 40 hari.

4.4 Bayi Baru Lahir


4.4.1 Kunjungan bayi 6-8 jam
Melakukan pengawasan pada bayi baru lahir sejak jam-jam pertama
kehidupan diluar rahim sampai 6 jam usia bayi. Dilakukan pemantauan mengenai
penilaian awal dengan jenis kelamin laki-laki, berat badan 4000 gr, panjang badan
48 cm, hal ini masih tergolong normal, karena berat badannya diantara 2500-4000

gr dan tidak ditemukan adanya kelainan bawaan, ketika bayi lahir segera
menangis kuat dengan warna kemerahan, ini sangat berpengaruh sebagai
indikator kesehatan bayi secara umum. Seorang bayi yang normal, menangis
kuat, berat badan menunjukan bahwa bayi lahir cukup bulan. Hal-hal yang
mendasar pada bayi baru lahir seperti hipotermia, asfiksia, sionosis. Bayi tidak
diberikan injeksi Vitamin K pada saat segera setelah bayi baru lahir secara IM di
paha kiri bayi bagian anterolateral sebanyak 1 mg karena tidak tersedianya vit.K.
Sehingga adanya kesenjangan antara teori dan praktek.
Pada pengamatan selama satu jam pertama bayi baru lahir sampai pada
masa transisi berumur sekitar 6 jam, yang penulis amati, bayi tampak dalam
keadaan yang normal dan tidak menunjukan perubahan atau masalah yang disebut
diatas. Pada pemeriksaan bayi 6 jam bayi dimandikan. Dan peristaltic segera
berfungsi dengan sudah keluarnya meconeum pada saat setelah bayi lahir, adanya
meconeum menunjukan bahwa peristaltic sudah ada. Hal ini menunjukan bahwa
anus mempunyai lubang dan fungsi ginjal sudah ada dengan keluarnya miksi
setelah 2-3 jam bayi lahir. Pada asuhan bayi baru lahir Ny. M berjalan lancar dan
tidak ditemukan adanya kelainan-kelainan selama satu jam pertama sampai
periode transisi. Sehingga tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktek
4.4.2 Kunjungan bayi 6 hari
Pada kunjungan kedua Tali pusat bayi sudah puput. Keadaan ini normal
sesuai dengan teori bahwa pelepasan tali pusat biasanya terjadi dalam 2 minggu
pertama. Pada kunjungan 6 hari bayi baru diberikan HB0 sesuai dengan kebijakan
lahan, sesuai dengan Kemenkes RI 2010 pemberian HB0 sampai 7 hari setelah
bayi baru lahir, sehingga tidak ada kesenjangan teori dan praktek.
4.4.3 Kunjungan bayi 14 hari

Pada kunjungan BBL III, yang penulis lakukan pada asuhan bayi baru
lahir 2 minggu yaitu : memantau perkembangan berat badan dengan cara
menimbang BB 3800 gram, bayi mau menyusui dengan adekuat, menganjurkan
ibu memberiakan ASI selama 6 bulan, tanpa memberikan makanan tambahan dan
susu formula.Ibu bersedia memberian ASI selama 6 bulan.

4.4.1 Kunjungan bayi 40 hari


Memantau kembali perkembangan berat badan bayi, dengan BB 4.500
gram, memantau kembali apakah ibu memberikan ASI esklusif atau tidak dan
hasilnya selama 42 hari ibu memberikan ASI esklusif dan ibu bersedia untuk
memberikan ASI selama 6 bulan.
Pada tanggal 03 Januari 2016, Ny. M membawa nya bayi nya ke BPS
Kokom dengan keluhan panas dan BAB mencret lebih dari 3x/hari, lalu diberikan
terapi Paracetamol drop 0,4 dan di anjurkan perbanyak ASI. Pada tanggal 05-10
Januari 2016 Ny. M membawa bayi nya ke RS Medirosa Cikarang, karena diare
belum sembuh lalu diberikan terapi Paracetamol drop 120 mg/5ml 3x0,5 ml dan
Orezinc 20 mg 2x sendok teh.
Pada Kunjungan Nifas IV ini penulis memberi asuhan bahwa ibu terus
memberikan 5 imunisasi dasar pada bayi sesuai jadwal imunisasi.