Anda di halaman 1dari 12

BAGIAN I

PENGETAHUAN GURU
A. Pengetatuan yang perlu dimiliki seorang guru
1. Pengetahuan tentang isi (materi pelajaran)
Yaitu bahan ajar sesuai dengan bidang studinya, matematika, IPA, IPS, Bhs
dsb. Pengetahuan yang yang perlu dipahami adalah : struktur substansi,
langkah-2(sintaks), dan isi.
2. Pengetahuan pedagogi (ilmu mendidik)
Bagaimana melaksanakan pembelajaran, membuat siswa belajar yang
didasarkan pada teori psikologi dan teori belajar.
3. Pengetaahuan kurikulum, tujuan dan objektif
Kurikulum apa yang berlaku di Indonesia sekarang, Kurikulum 2013, makna,
hakikat dan arah pengembangan kurikulumnya. Biasanya berbeda pejabat
ada nuansa beda kebijakan. Misalnya sekarang lebih diarahkan kepada
pembentukan karakter, pembelajaran tematik.
Ada acuan umum yang berlaku secara nasional, seperti kompetensi dasar,
standar kompetensi, standar isi.
4. Pengetahuan siswa dan karakteristiknya
Siswa bukan wadah kosong yang akan diisi pengetahuan oleh guru, tetapi
siswa adalah pribadi yang membawa potensi individu yang berkembang
sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual mereka.
5. Pengetahuan pedagogi bidang studi (matematika)
Masing-masing bidang studi mempunyai kekhususan metode, stragegi dan
pendekatan pembelajarannya. Perlu dipilih teoriteori belajar yang relevan
dengan bidang studinya.
Lingkup pengetahuan, meliputi:
- Pengetahuan matematis
- Pengetahuan evaluasi
- Pengetahuan bagaimana siswa memahami matematika
- Pengetahuan strategi pembelajaran
6. Pengetahuan konteks pendidikan.
Seorang guru perlu memahami tentang masyarakat, wilayah, maupun
sekolahnya, ruang kelasnya dan semua setting pemebelajaran yang
dilakukan di tempat tugasnya. Sehingga pendekatan pembelajarannya dapat
disesuaikan dengan konteksnya.
7. Pengetahuan tujuan pendidikan, nilai, dasar filsofi dan sejarah
Pengetahuan ini lebih bersifat historis dan filosofis yang akan memperkokoh
belief atau keyakinan guru dalam pembelajarannya.
Karena sifat pengetahuan guru yang selalu bekembang sesuai dengan teori, maka guru
seharusnya selalu mengikuti perkembangan teori-teori atau paradigma pembelajaran
yang terjadi dunia pendidikan, melalui jurnal-juran penelitian.
Bahkan sesuai dengan tuntukan kinerja guru profesional, guru seharusnya juga
mengadakan penelitian seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK), penulisan karya
ilmiah, seminar, simposium, maupun diskusi dari komunitas profesional mereka.

Siklus pemahaman guru tentang pengetahuan yang harus dimiliki sebagai pendidik
profesional:

pemaham
an

Pemaham
an baru

transform
asi

Pengajara
n

refleksi

evaluasi

Proses tersebut juga dapat dilakukan dalam PTK atau LESSON STUDI dengan
langkah-2 pokok:
1. Identifikasi masalah
2. Perbaikan
3. Refleksi

BAGIAN 2
Strategi pembelajaran guru mengacu kepada sekumpulan tindakan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran, termasuk kapan dan bagaimana menggunakan metode
dan strategi selama proses pembelajaran. Oleh karena itu pengetahuan guru harus
mencakup tentang pengetahuan pedagogi. Guru yang efektif tidak hanya ditentukan
oleh penguasaan terhadap materi pelajaran (matemtika) saja, tetapi ianya harus
mempunyai pengetahuan tentang bagaimana seharusnya belajar matematika. Teori
perkembangan intelektual anak untuk memahami bagaimana pebelajar (anak) belajar,
dan teori-teori tentang belajar dan pembelajaran. Menurut Skemp (1971) bahwa
masalah belajar dan pembelajaran adalah permasalahan psikologis oleh karena itu
sebelum kita dapat membuat peningkatan dalam belajar dan pembelajaran matematika
kita perlu mempelajari bagaimana matematika dipelajari.
TEORI PSIKOLOGI YANG BERKAITAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
1.
2.
3.
4.
5.

Teori perkembangan intelektual dan proses belajar Jean Piaget


Teori perkembangan kognitif dan pembelajaran Jerome Bruner
Konsep matematis dan tahapan pembelajarannya Zoltan P Dienes
Teori objek langsung dan fase pembelajaran Robert Gagne
Model belajra bermakna David Ausubel

TEORI JEAN PIAGET


a. Teori Proses Belajar
- Dasar belajar adalah aktivitas pribadi (self activity) siswa ketika berinteraksi
dengan lingkungan baik secara fisik maupun sosial
- Aktivitas mental ini tersusun dalam struktur mental yang saling berhubungan
satu dengan yang lain dan dikelompokkan dalam bentuk skema.
- Aktivitas mental adalah proses adaptasi dengan lingkungan melalui asimilasi
dan akomodasi.

Asimilasi adalah proses menggabungkan setiap pengalaman baru ke dalam


skema yang sudah ada (pengetahuan sebelumnya=prior knowledge) . Anak
menginterpretasikan pengalaman baru berdasarkan pengalaman sebelumnya
di dalam skema
Akomodasi adalah penyesuaian struktur mental secara permanen untuk
memenuhi kebutuhan pengalaman baru
Belajar adalah konstruksi pengetahuan melalui akuisisi skema

b. Teori Perkembangan Intelektual Jean Piaget


- Sensori motor (0-2 tahun)
Anak berinteraksi dan memahami lingkungannya berdasarkan sensor dan
gerak. Juga mengasah kemampuan refleknya, berjalan, dan berbicara.
- Pra-operasional (2-7) tahun
Ini masa egosentrik, dimulai penggunaan bahasa sederhana dan
menggunakan simbol (tanda) untuk memvisualisasi konsep. Konsep
berfikirnya transduktif dan masih sulit membedakan konsep kuantitas, ruang,
luas dan volume.
- Operasional konkret (7-12) tahun
Egosentrisnya meningkat secara bertahap, mulai mampu menindentifikasi
karakteristik objek, dan mengklasifikasi objek ke dalam kelompok dengan
karkateristik tertentu. Belum bisa diajak berfikir abstrak dan berfikir logisnya
didasarkan pada benda konkrit.
- Opersional formal (12- ke atas)
Berfikirnya tidak terbatas pada benda konkrit tetapi sudah bisa secara abstrak
untuk memecahkan masalah yang kompleks. Dapat menggunakan simbolsimbol matematis dan berfikir induktif maupun deduktif, menghubungkan
konsep satu dengan yang lain ketika memecahkan masalah kompleks.
Piaget tidak menyediakan tentang bagaimana metode atau strategi khusus tentang
standar belajar dan pembelajaran matematika. Namun dengan mengetahui teori Piaget
seorang guru dapat memahami kesiapan anak untuk belajar matematika, sehingga guru
dapat merancang materi dan metode ataupun strategi dengan baik.
Teori Piaget mendasari teori belajar konstruktivisme tipe konstruktivisme individual
TEORI JEROME BRUNER
Perkembangan Kognitif Bruner
1. Enaktif-aksi (0-2 tahun)
Mirip tahapan sensori motor Piaget, tahapan berfikirnya didasarkan gerakan
tubuh
2. Ikonik-gambar (2-4 tahun)
Tidak terbatas pada gerakan tubuh, tetapi sudah menggunakan otak untuk
membantu berfikir dan mevisualisasikan pikirannya dengan gambar2.
3. Simboliksimbol (5-7 tahun)
Berfikir dengan menggunakan bahasa yang sesuai , memperoleh konsep baru
dengan bahasa, dan memanipulasi simbol.

Tipe material dan model representasi


Jenis Material
Manipulatif

Enaktif (0-2 th)


Benda Nyata

Ikonik (2-4th)
Gambar
3

Simbolik(5-7th)
Kartu bilangan

Cetakan

Model
-

Layar

Transparansheet
Film

Interaktif

Software
komputer

Buku teks
Poster
Foto
Transparansheet
Film
slide
Software
komputer

Kartu simbol
Buku teks
Poster
Transparansheet
Film slide
Software
komputer

Bruner memandang bahwa kesiapan anak untuk belajar bergantung kepada


penggabungan yang pas dari ketiga model representasi di atas.
Teori Belajar matematika Bruner
1. Teorema konstruksi
Untuk belajar konsep baru, cara terbaik yang dilakukan siswa adalah dengan
membangun representasi yang cocok
2. Teorema notasi
Notasi matematis yg digunakan harus cocok dengan tahapan intelektual siswa
khusunya dengan pembangunan dan representasi awal
3. Teorema kontras dan variasi
Kemajuan representasi kongkret dengan kontras dan variasi. Kurang bermakna
tanpa mekontraskan
4. Teorema koneksi
Konsep matematis, prinsip dan skill dihubungkan satu dengan yang lain.
TEORI ZOLTON P DIENES
-

Belajar matematika adalah belajar struktur, kategori, urutan, hubungan, dan


klasifikasi diantara struktur.
Belajar matematika dapat difasilitasi dengan laboratorium, objek manipulatif ( bahan
yang dapat dilihat, dipegang, diubah-ubah), dan permainan matematika, sehingga
belajar matematika menyenangkan, merangsang dan mudah.
Permainan matematika dapat digunakan dan efektif dalam memahami konsep
matematika.

Dienes membedakan tiga jenis konsep matematika:


1. Konsep matematika murni
2. Konsep notasi
3. Konsep terapan.
Tahapan belajar konsep Dienes
1.
2.
3.
4.
5.

Bermain bebas
Permainan
Pencarian untuk kebersamaan (sifat bersama)
Simbolisasi
Formalisasi

Pendekatan belajar dan pembelajaran matematika Dienes


1. Pembelajaran matematika didasarkan kepada pengalaman belajar matematika
anak dalam membuat abstraksi dari konsep, struktur matematika dari
pengalaman yang telah mereka miliki.
4

2. Ada proses tertentu untuk memahami konsep matematika


- Game dan eksperimen
- Menyusun pengalaman yang diperoleh menjadi meaningfull (bermakna)
- Pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari
- Praktik menggunakan konsep baru dari pengalaman belajar mereka.
3. Matematika sebagai seni kreatif sehingga belajar matemtaika sebagai seni
4. Kemampuan untuk meningkatkan abstraksi, yaitu interpretasi dari situasi konkret
atau kejadian ke dalam simbol formal.
5. Konsep baru matematika memerlukan hubungan dengan konsep dan struktur
sebelumnya sehingga ada transfer belajar dari masa lalu ke kehadapan.

TEORI ROBERT GAGNE

Guru matematika harus menekankan 4 aspek yaitu fakta, skill, konsep dan
prinsip
Fakta matematis: kesepakatan matematis seperti simbol matematis 2, +
Keterampilan matematis: operasi dan prosedur yang menekankan aspek
ketepatan dan kecepatan
Konsep matematis: ide abstrak yang digunakan untuk mengklasifikasi kejadian, <
, >, segitiga, kubus, lingkaran dsb.
Prinsip matematis: rangkaian konsep dan relasi diantara konsep2, dua segitiga
kongruen jika dan hanya jika dua sudut dan satu sisi sama

Urutan fase belajar menurut Gagne

Pemahaman/pemerhatian: ketajaman siswa menstimuli atau kumpulan stimulus


dalam pembelajaran
Perolehan: pengambil alihan fakta, konsep dan prinsip untuk dipelajari
Penyimpanan: siswa mengingat dan menyimpan pengetahuan
Pencarian kembali: pencarian kembali informasi yang diperoleh dan menyimpan
dalam Long Term Memory (LTM)

Tipe Belajar
1. Belajar konsep
2. Belajar aturan
3. Pemecahan masalah
TEORI DAVID AUSUBEL
Tokoh belajar bermakna (meaningfull learning), yang menekankan kepada dua aspek
belajar :
1. Belajar yang menenekankan kepada sejumlah informasi secara bermakna dari
verbal/tekstual ke formal
2. Manfaat pengetahuan sebelumnya dalam mempengaruhi belajar

Model pembelajaran bermakna (meningfull)

Tidak mendikotomikan hapalan dan makna karena proses kontinyu


Pembelajaran menerima dan menemukan sebagai dua cara mendapatkan
pengetahuan siswa
5

Teori pengelompokan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif siswa


Pengembangan

Perbedaan belajar bermakna dan hafalan


Belajar bermakna
Tidak memaksa, nonharfiah, substantif
dalam mendapatkan pengetahuan baru
Sengaja
berusaha
untuk
menghubungkan
pengetauan
baru
dengan konsep tinggi (High Order
Thinking) ke dalam struktur kognitif
Pembelajaran berhubungan pengalaman
dengan kejadian atau obyek
Menghubungkan
pengetahuan
baru
dengan pengetahuan sebelumnya

Hafalan
Memaksa, harfiah, non substantif dalam
mendapatkan pengatuan baru
Tanpa
usaha
mengintegrasikan
pengetahuan baru dengan konsep yang
ada
Pembelajaran
tidak berhubungan
pengalaman dengan kejadian atau objek
Tidak menghubungkan pengetahuan
baru dengan pengetahuan sebelumnya

Dimensi belajar

penerima
an

hafalan

belaj
ar

penemua
n

TEORI PEMROSESAN INFORMASI

bermakna

menganalogikan dengan dengan prosesor pada perangkat computer (Orey,


2001).
Teori ini adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan,
penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000:
175).
Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan
dapat diingat dalam waktu yang cukup lama.
Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat
memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin pada
tahun 1968

Model Pemrosesan Informasi

Rehearsa
l

SENS
SENS
ORY
ORY

Dec
ay

Transf
erred

SHOR
SHOR
TT
TERM
TERM
MEMO
MEMO
RY
RY

Transf
erred

Reriv
ed

Stimulus
from
Environ
ment

LONG
LONG
TERM
TERM
MEMO
MEMO
RY
RY

Forgo
tten

TEORI KONSTRUKTIVISMEN SOCIOCULTURAL VIGOTSKY

VigotskY memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif di antara

individu dalam konteks sosial budaya (sociocultural).


Pengetahuan dikembangkan siswa dalam konteks sosial dan budaya dan atas
interakasinya dengan teman sebaya mereka atau orang lain yang lebih mengetahui

yang disebut skafolding.


Guru sebagai mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam
upayanya membangun pengetahuan, pengertian, dan kompetensi. Dengan
demikian dalam pandangan Vygotsky bahwa pembelajaran

merupakan aspek

sosiokultural, yaitu proses yang menekankan pada aspek interaksi sosial masingmasing individu dalam hasanah budaya mereka.

Skafolding

Skafolding dideffinisikan sebagai suatu bantuan yang diberikan kepada siswa


dalam bentuk proses atau produk yang memungkinkan siswa untuk mencapai
tujuan, memecahkan masalah, atau menyelesaikan tugas yang siswa tidak
memampu melakukannya sendiri tanpa dukungan dari orang lain yang lebih ahli

atau alat.
Skafolding adalah intervensi pembelajaran yang sengaja dirancang untuk

meningkatkan pembelajaran siswa.


Skafolding diterapkan hanya bila diperlukan, yaitu siswa yang
membutuhkan

bantuan

berkaitan

dengan

kesulitan

memang

mengerjakan

tugas

pembelajaran sesuai kemampuannya, dan pemberian skafolding dikurangi bertahap

sampai mereka mampu menyelesaiakan sendiri (self regulated learning).


Skafolding diberikan siswa ketika mereka berada pada wilayah perkembangan

proksimalnya (ZPD) zone of proximal development


Menurut Vygotsky, ZPD adalah jarak antara tingkat perkembangan aktual yang
ditentukan oleh kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat
perkembangan potensial yang ditentukan melalui pemecahan masalah di bawah
bimbingan orang dewasa atau rekan-rekan yang lebih mampu.

BAGIAN 3
8

HAKIKAT BELAJAR DAN BELAJAR PEMAHAMAN

Pengertian Belajar
-

Belajar biasanya didefinisikan sebagai perubahan yang abadi dari perilaku potensial
seorang individu yang disebabkan oleh pengalaman atau praktik (Slavin, 1988;

2000).
Dari perspektif kognitif, belajar adalah perubahan struktur mental seseorang yang
membuat kemampuan untuk menunjukkan perilaku yang berbeda (Eggen &

Kauchak, 2004)
Belajar dapat terjadi tanpa ada perubahan perilaku secara langsung sebagai bukti
perubahan struktur mental dan dapat terjadi dalam selang waktu yang lama
kemudian. Struktur mental yang berubah termasuk skema, keyakinan, tujuan,

harapan dan komponen lainnya di kepala siswa.


Belajar bukan hanya perolehan materi atau konten melalui transfer pengetahuan
dari guru ke siswa, tetapi belajar dapat digambarkan sebagai suatu proses
perubahan perilaku seseorang yang relatif permanen, yang disebabkan oleh
informasi dan pengalaman

Belajar untuk Pemahaman


-

Menurut Skemp (1987, 1976)


Pemahaman adalah amis palsu. Pemahaman matematika dari dua perspektif, yaitu

pemahaman relasional dan pemahaman instrumental.


Pemahaman relasional mengacu pada pengetahuan tentang apa yang harus

dilakukan dan alasannya (mengapa)


Pemahaman instrumental hanya

kemampuan

untuk

menerapkan

aturan

(mengetahui apa yang harus dilakukan), tetapi tanpa mengetahui alasan


-

(mengapa).
Pemahaman instrumental hanya sepotong keterampilan dasar menghapal dan
algoritma sementara pemahaman relasional lebih dari sekedar hapalan dan
algoritma, tetapi ini terhubung dan penuh dengan ide-ide interkoneksi dan kurang

bergantung pada memori.


Pengetahuan instrumental yang diperoleh seorang siswa mungkin tidak akan berarti
jika ia menghadapi situasi masalah yang sedikit berbeda sementara pengetahuan
yang diperoleh melalui pemahaman relasional lebih mudah beradaptasi dengan
tugas baru.

Perkins (1993) dan koleganya di Harvard University


-

Merumuskan

merefleksikan semangat umum konstruktivisme.


Perspektif kinerja ini menyebutkan bahwa pemahaman suatu topik studi berkaitan

konsep

pemahaman

berdasarkan

perspektif

kinerja

yang

dengan kemampuan untuk melakukan berbagai cara tuntutan-pemikiran yang


9

berkaitan dengan topik, seperti menjelaskan, mengupulkan bukti-bukti, menemukan


contoh, generalisasi, penggunaan konsep, menganalogikan dan merepresentasikan
-

dalam cara baru.


Perkins lebih lanjut menekankan bahwa kinerja dapat lebih menampilkan tuntutanpemikiran siswa, sehingga guru dapat lebih yakin bahwa siswa akan mengerti.

Hiebert dan Carpenter (1992)


-

Pemahaman sebagai suatu cara merepresentasikan dan menstrukturkan informasi.


Mereka berpendapat bahwa ide matematis, prosedur, atau fakta akan dapat
dipahami jika representasi mentalnya yang merupakan jaringan internal adalah
bagian dari jaringan representasi

Carpenter dan Lehrer (1999)


-

Menandai pemahaman matematis dan ilmu pengetahuan sebagai aktivitas mental


yang memberikan kontribusi bagi pengembangan pemahaman dan bukan sebagai
atribut statis pengetahuan seseorang. Kelima bentuk aktifitas mental adalah
sebagai berikut:
(1) Membangun hubungan; antara pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan
baru.
(2) Memperluas dan menerapkan pengetahuan matematis dan ilmiah; Belajar
adalah generatif (tumbuh). Siswa menggunakan pe ngetahuannya untuk belajar
topik baru.
(3) Refleksi; Siswa melihat kembali

pengetahuan yang telah diperoleh untuk

evaluasi.
(4) Artikulasi; kemampuan mengkomunikasikan ide dan pengetahuan baik secara
verbal, tulisan maupun gambar
(5) Menciptakan suatu pengetahuan sendiri. Bagimana seorang mengkonstruksi
pengetahuan melalui aktivitasnya sendiri untuk menciptakan pengetahuan.

Hiebert dan Carpenter (1992)


Ada beberapa manfaat bagi siswa untuk belajar sesuatu dan memahaminya dengan
benar:
(1) Pemahaman adalah generatif (berkembang), siswa membangun pengetahuan
matematis sendiri yang dapat diterapkan memecahkan berbagai masalah;
(2) Pemahaman mempromosikan mengingat seperti konstruksi hubungan diantara
representasi pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada;
10

(3) Pemahaman mengurangi jumlah yang harus diingat, karena pemahaman


merupakan jaringan representasi mental;
(4) Pemahaman meningkatkan transfer; transfer merupakan inti dari kompetensi
matematis

karena

masalah

baru

memerlukan

penyelesaian

dengan

menggunakan strategi yang sudah dimiliki siswa dan


(5) Pemahaman mempengaruhi keyakinan, pertumbuhan pengetahuan matematis
melalui kohesi potongan informasi akan memunculkan keyakinan yang
mendukungnya.

BAGIAN 4
PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING)

Apa Masalah itu ?


-

Jika tidak segera menemukan jawabanya dalam waktu singkat

Tidak ada prosedur rutin (algoritma) yang siap digunakan

Memerlukan berfikir tingkat tinggi atau dengan usaha yang sungguh2 untuk
memecahkan

Menantang untuk diselesaikan

Prasyarat dan Kegunaan

Ada masalah/soal non rutin

Manfaat: kreatifitas, kritis, mandiri dalam berfikir, sasaran soal: banyak selesaian

Model Problem solving Polya

See (memahami masalah, apa yang diketahui, yang ditanyakan)

Plann (merencanakan strategi pemecahan masalah)

Do (melaksanakan/mengerjakan apa yang direncanakan)

Cek (mengevaluasi apakah pemecahannya sudah benara atau belum)

Heuristik/strategi Problem Solving Dalam Matematika

Trial and error


11

Gambar diagram

Menemukan pola

Kerja mundur

Menyederhanakan masalah

Analogy

Membuat tabel

Eksperimen/simulasi

Menyusun data

12