Anda di halaman 1dari 11

ANTIINFLAMASI EKSTRAK RIMPANG KENCUR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Inflamasi merupakan respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan
jaringan, yang berfungsi menghancurkan , mengurangi baik agen pencedera maupun jaringan
yang cedera itu. (Dorland, 2002). Apabila jaringan yang cidera misalnya karena terbakar,
teriris atau karena infeksi kuman maka pada jaringan ini akan terjadi rangkaian reaksi yang
memusnahkan agen yang membahayakan jaringan atau yang mencegah agen menyebar lebih
luas. Reaksi-reaksi ini kemudian juga menyababkan jaringan yang cidera diperbaiki atau
diganti dengan jaringan-jaringan baru. Rangkaian reaksi ini disebut inflamasi. (Rukmono,
1973).

Gejala inflamasi dapat berupa edema (pembengkakan), eritema (kemerahan), panas, nyeri,
dan hilangnya fungsi jaringan. Penyakit ini sampai sekarang mekanisme inflamasi tingkat
bioselular masih belum dapat dijelaskan secara rinci, walaupun demikian banyak hal yang
telah diketahui dan disepakati. Fenomena inflamasi ini meliputi kerusakan mikrovaskuler,
meningkatnya permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit kejaringan radang. (Wilmana, 1995)

Dalam pengobatan infamasi, kelompok obat yang banyak diberikan adalah obat antiinflamasi
non steroid (AINS). Obat ini merupakan obat sintetik dengan struktur kimia
heterogen. Prototype obat golongan ini adalah aspirin, karena itu sering disebut juga obat
mirip aspirin ( Wilmana dan Gan, 2007 ). Efek terapi AINS berhubungan dengan mekanisme
kerja penghambatan pada enzim siklooksigenase-1 (COX-1) yang dapat menyebabkan efek
samping pada saluran cerna dan penghambatan pada enzim siklooksigenase-2 (COX-2) yang
dapat menyebabkan efek samping pada system kardiovaskular. Kedua enzim tersebut
dibutuhkan dalam biosintesis prostalglandin (Lelodan Hidayat, 2004).

Tanaman kencur khususnya bagian rimpang dapat digunakan sebagai antiinflamasi. Rimpang
kencur mengandung flavonoid, saponin dan minyak atsiri yang dapat berfungsi sebagai
antiinflamasi. Antiinflamasi pada kencur merupakan yipe anti inflamasi non steroi. Flavonoid
dapat menghambat jalur metabolism asam arakidonat, pembentukan prostalglandin dan
pelepasan histamine pada radang.(Logio dkk, 1986). Saponin bersifat seperti detergen diduga
mampu berinteraksi dengan banyak membrane lipid seperti fosfolipid yang merupakan
perkusor prostalglandin mediator-mediator inflamasi lainnya.(Sri Rastava, 1993). Minyak

atsiri dapat menghambat agregasi platelet dengan cara menghambat pembentukan


tromboksan sehingga juga berperan dalam efek antiinflamasi.(Sri Rastava, 1993)

Di Indonesia sendiri rimpang kencur mudah ditemui dan sering digunakan sebagai jamu
dalam sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan potensi tanaman kencur
sebagai obat antiinflamasi dengan melakukan uji antiinflamasi dan formulasi sediaan
suspensi rimpang kencur.

1.2

Rumusan Masalah

Pada penelitian ini terdapat beberapa rumusan masalah yaitu :


a.

Bagaimanakah pembuatan simplisia rimpang kencur dan cara ekstraksinya?

b. Bagaimanakah cara melakukan ekstraksi maserasi rimpang kencur ?


c.

Bagaimana cara melakukan uji antiinflamasi ekstrak rimpang kencur pada mencit ?

d. Bagaimana cara membuat formulasi sediaan suspense ekstrak rimpang kecur ?


e.

1.3

Bagaimana uji evaluasi sediaan suspense ekstrak rimpang kencur ?

Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :


a. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara melakukan uji efektivitas anti inflamasi
rimpang kencur.
b. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara membuat formulasi sediaan suspense dari
ekstrak rimpang kencur.
c.

1.4

Mahasiswa dapat melakukan evaluasi sediaan suspensi dari ekstrak rimpang kencur.

Manfaat

Manfaat dari penelitian ini adalah dapat menambah pengetahuan akan kegunaan rimpang
kencur sebagai anti inflamasi serta cara pengolahan sediaan suspensi. Selain itu dapat
memberikan informasi akan penyakit inflamasi serta mekanisme penyembuhan obat
antiinflamasi.

BAB II
TINJUAN PUSTAKA

2.1

Tinjauan Tanaman Kencur

Kencur (Kaemferia galangal L) merupakan salah satu dari lima jenis tumbuhan yang
dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia. Kencur merupakan tanaman obat yang
bernilai ekonomis cukup tinggi sehingga banyak dibudidayakan. Bagian rimpangnya
digunakan sebagai bahan baku industry obat tradisional, bumbu dapur, bahan makanan,
maupun minuman penyegar lainnya (Rostiana dkk., 2003). Adapun klasifikasi tanaman
kencur sebagai berikut :
Nama daerah :

Kencur (jawa).

Kingdom

Plantae.

Divisi

Spermatophyta.

Subdivisi

Angiospermae.

Kelas

Liliopsida.

Ordo

Zingiberales.

Family

Zingiberaceae.

Species

Kaemferia galangal L.

2.1.2

Ciri morfologi tanaman

Habitat semak semusim tinggi 30-70 cm, akar bergerombol, bercabang-cabang,


serabut putih, coklat gelap berkesan mengkilap. Batang lunak berpelepah membentuk
rimpang, hitam keabu-abuan. Daging buah mempunyai daging buah paling lunak, tidak
berserat, berwarna putih, kulit luar berwarna coklat.
2.1.3

Kandungan kimia

Saponin, flavonoid, minyak atsiri, kandungan utama kencur antara lain etil sinamat, pmetoksitilen, Karen, borneol dan paraffin (Afriastini, 1990). Kandungan minyak atsiri dari
rimpang kencur diantaranya terdiri atas miscellaneous compounds (misalnya etil pmetoksinamat 58,47%, isobutyl -2-furilakrilat 30,90% dan heksil format 4,78%) derivate
monoterpen teroksigenasi (misalnya borneol 0,03% dan kamfer hidrat 0,83%), serta
monoterpen hidrokarbon (misalnya kamfer 0,04% dan terpinolen 0,02%) (Sukari dkk., 2008).
2.1.4

Mekanisme antiinflamasi rimpang kencur

a. Flavonoid
: penghambatan pada jalur metabolism asam arakidonat
pembentukan prostalglandin, pelepasan histamine pada radang (Logia dkk., 1986).
b. Saponin
: bersifat seperti detergen, diduga mampu berinteraksi dengan
banyak membrane lipid seperti fosfolipid yang merupakan perkusor prostalglandin mediatormediator inflamasi lainnya.
c. Minyak atsiri
: dapat menghambat agregasi platelet dengan cara menghambat
pembentukan tromboksan sehingga juga berperan dalam efek antiinflamasi (Srirastava,
1993).

2.2.1

Inflamasi

Inflamasi merupakan respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh cidera atau
kerusakan jaringan yang berfungsi menghancurkan, mengurangi baik agen pencedera maupun
jaringan yang cedera itu (Dorland, 2002). Apabila jaringan yang cidera misalnya karena
terbakar atau karena infeksi kuman, maka pada jaringan ini akan terjadi rangkaian reaksi
yang memusnahkan agen yang membahayakan jaringan atau yang mencegah agen menyebar
lebih luas. Reaksi-reaksi ini kemudian juga menyebabkan jaringan yang cidera diperbaiki
atau diganti dengan jaringan-jaringan baru. Ragkaian reaksi ini disebut inflamasi (Rukmono,
1973).

2.2.2 Tahapan Inflamasi


a. Inflamasi akut adalah inflamasi yang terjadi segera setelah adanya rangsang iritan.
Pada tahapan ini terjadi pelepasan plasma dan komponen seluler darah kedalam ruang-ruang
jaringan ekstra seluler. Termasuk didalamnya granulosit neutrofil yang melakukan pelahapan
(fagositosis) untuk membersihkan debris jaringan dan mikroba (Soesatyo, 2002). Inflamasi
akut dapat terjadi cepat (menit-hari) dengan cirri khas utama eksudasi cairan, akumulasi
neutrofil memiliki tanda-tanda umum berupa rubor (kemerahan), color (panas), tumor
(pembengkakan), dolor (sakit), function laesa (kegagalan fungsi).
b. Inflamasi kronis adalah inflamasi yang berdurasi panjang (berminggi-minggu atau
bertahun-tahun) dan terjadi proses secara simultan dari inflamasi aktif, cedera jaringan dan
penyembuhan. Perbedaan dari radang akut ditandai dengan adanya perubahan vaskuler,
edema dan infiltrasi sel mononuklir (seperti makrofag, limfosit dan sel plasma) dekstruksi
jaringan dan perbaikan (meliputi poliferasi pembuluh darah baru) angiogenesis dan fibriosis
(Mitchell & Coltran, 2003).
2.2.3

Gejala Inflamasi

Eritema (kemerahan) terjadi pada tahap pertama inflamasi. Darah berkumpul pada
daerah cidera jaringan akibat pelepasan mediator kimia tubuh (Kinin, prostalglandin dan
histamine).

Edema (Pembengkakan) merupakan tahap kedua dari inflamasi, plasma menembus


kedalam jaringan intestinal pada tempat cidera. Kinin mendilatasi asteriol, meningkatkan
permeabilitas kapiler.
Kolor (Panas) dapat disebabkan oleh bertambahnya pengumpulan darah, atau
mungkin disebabkan pathogen/pirogen yaitu substansi yang menyebabkan panas atau demam
yang mengganggu pusat pengatur panas pada hipotalamus.
Dolor (Nyeri) disebabkan oleh penumpukan cairan pada tempat cidera jaringan dank
arena rasa nyeri. Keduanya mengurangi mobilitas pada daerah yang terkena (Kee dan Hayes,
1996).
Functio Laesa (hilangnya Fungsi) disebabkan oleh penumpukan cairan pada tempat
cedera jaringan dank arena rasa nyeri. Keduanya mengurangi mobilitas pada daerah yang
terkena (Kee dan Hayes, 1996)
2.2.4

Patofisiologi Inflamasi

Terjadinya inflamasi adalah reaksi setempat dari jaringan atau sel terhadap suatu
rangsangan untuk dilepaskannya zat kimia tertentu yang akan menstimulasi terjadinya
perubahan jaringan pada reaksi radang tersebut, diantaranya histamine, serotonin,
breadikinin, leukotrin dan prostalglandin. Histamine bertanggungjawab pada perubahan yang
paling awal yaitu menyebabkan vasodilatasi pada arteriol yang didahului dengan vasodilatasi
awal dan peningkatan permeabilitas kapiler. Hal ini menyebabkan perbedaan distribusi sel
darah merah dank arena aliran darah yang lambat sel darah merah akan menggumpal,
akibatnya sel darah putih terdobak kepinggir. Makin lambar aliran darah maka sel darah putih
akan menempel pada dinding pembuluh darah, makin lama akan meningkat. Perubahan
permeabilitas ini menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan berkumpul di jaringan.
Bradikuinon bereaksi local menimbulkan rasa sakit. Vasodilatasi meningkatkan permeabilitas
kapiler , sebagai penyebab radang , prostalglandin berpotensi kuat setelah bergabung dengan
mediator lainnya (Lumbonjara,L.B,. 2009).
2.3

Anti Inflamasi

Antiinflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan
karena mikroorganisme (non infeksi). Gejala inflamasi dapat disertai dengan gejala panas,
kemerahan, pembengkakan, rasa nyeri dan gangguan fungsi. Obat-obat yang digunakan
sebagai antiinflamasi adalah golongan obat yang memiliki aktifitas menekan atau mengurangi
peradangna. Obat ini terbagi atas dua golongan, yaitu golongan antiinflamasi steroid dan anti
inflamasi non steroid (AINS). Kedua golongan obat ini selain berguna untuk mengobati juga
memiliki efek samping yang dapat menimbulkan reaksi toksisitas kronis bagi tubuh
(Katzung, 1992).

2.3.1 Antiinflamasi Non Steroid (AINS)


Obat antiinflamasi non steroid merupakan kelompok obat yang paling banyak
dikonsumsi diseluruh dunia untuk mendapatkan efek analgetik, antipiretik dan antiinflamasi.
OAINS merupakan pengobatan dasar untuk mengobati atau mengatasi peradangan di dalam
dan seluler sendi, seperti lumbang astralgia, osteoartitis, artitis rematoid dan gout artitis.
Disamping itu OAINS juga banyak penyakit-penyakit non rematik seperti saluran kemih,
infark miokardium dan dismenorhoea. OAINS merupakan suatu kelompok obat yang
heterogen, obat-obat mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi dan efek samping.
NSAID dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu :
1. Golongan salisilat

Aspirin, asam asetilsalisilat, metal salisilat, Mg


salisilat, Salisil Salisilat dan salisilamid.
2. Golongan asam aril alkanoat
oksametasin.

Diklofenac, endometasin, proglumetasin dan

3. Golongan profen
ketorolac.

ibuprofen, alminoprofen, indoprofen, naprofen dan

4. Golongan Asam fenamat


tolfenamat.

asam mefenamat, asam flufenam dan asam

5. Golongan turunan pirazolidin

fenilbutason, ampiron, metamizol dan fenazon.

proxicam dan meloksicam.

7. Golongan penghambat Cox-2

celeoxib dan luminacoxib.

6. Golongan oxicam

8. Golongan sulfonalimida

nimesulide.

9. Golongan lain

Licofelone dan asam lemak omega 3.

2.3.2 Antiinflamasi Steroid


Obat ini merupakan antiinflamasi yang sangat kuat karena obat-obat ini menghambat
enzyme phospolipase A2. Sehingga tidak terbentuk asam arakidonat. Asam arakidonat tidak
terbentuk berarti prostalglandin juga tidak akan terbentuk.
Senyawa steroid adalah senyawa golongan lipid yang memiliki struktur kimia tertentu
yang memiliki susunan sikloheksana dan satu asam siklopentana. Suatu molekul steroid yang
dihasilkan secara alami oleh korteks adrenal dengan nama senyawa kortikosteroid. Contoh
obat antara lain deksametason, prednisone, metal prednisolon, triamsinolon dan betametason
(Ikawati.,2006).
2.4

Suspensi

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut yang terdispersi
dalam fase cair (FI edisi IV, 1995). Suspense oral sediaan cair mengandung partikel padat
yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan
untuk penggunaan oral.
Keuntungan sediaan suspensi baik digunakan untuk pasien sukar menelan tablet /
kapsul terutama anak-anak dan lansia. Homogenitas tinggi, lebih mudah diabsorbsi dari pada
tablet/kapsul, mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air dan dapat menutupi
rasa tidak enak pada obat.
Kerugian kestabilan rendah, jika membentuk cracking sulit terdispersi kembali, aliran
menyebabkan sukar dituang, ketepatan dosis menurun dari pada sediaan larutan dan pada saat
penyimpanan kemungkinan terjadi system disperse.

2.4.2

Evaluasi Sediaan Suspensi


Uji evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas sediaan, uji tersebut meliputi :

1. Uji Organoleptis

a. Bau.

b. Warna
c.

Rasa

2. Uji Masa Jenis


a.

Piknometer kosong yang bersih dan kering ditimbang.

b. Masukkan aquadest ad tanda batas lalu ditimbang.


c.

Piknometer dibersihkan dan dikeringkan.

d. Sediaan suspensi dimasukkan kedalam piknometer dan ditimbang.


e.

Massa jenis suspensi ditentukan dengan rumus .

3. Uji Viskositas
Menggunakan viscometer stomer, stampel dimasukkan kedalam wadah. Sampel dinaikkan
sampat tanda batas pada dayung terendam tepat letaknya ditengah sampel. Rem dilepaskan
sampai pemberat dibawah.
4. Volume Sedimentasi
Suspense dimasukkan kedalam gelas ukur 10 mL dan disimpan (V0) pada suhu kamar serta
terlindung dari cahaya secara langsung perubahan volume diukur dan dicatat. Rumus : F =
Vu/Vo
5. Pengukuran pH

Sediaan dituang kedalam wadah khusus secukupnya, dimasukkan pH meter kedalam sediaan
dan tunggu hingga nilai pada pH meter konstan.

BAB III
METODOLOGI

3.1

Rancangan Formulasi
Dosis sediaan :

45 mg/KgBB (Tikus).

Konversi Tikus Mencit

= 1.26mg/20 gram.
Konversi Mencit Manusia

= 488.754 mg/70KgBB
Formulasi Sediaan Suspensi Ekstrak Rimpang Kencur :
R/

Ekst. Rimpang Kencur

488.754mg

CMC Na

0.5%

Na Benzoat

0.02%

Syr Simplex

25%

Aquadest

ad

60mL.

S 3 dd 1.

Penimbangan Bahan :
a.

Ekstrak Rimpang Kencur

b. CMC Na

=
=

488.754 mg.
= 0,3 gram.

c.

Syr Simplex

= 15mL

d. Na Benzoat

e.

Aquadest

60mL- (0,3+0,012+15+6) = 38,68 mL.

f.

Air untuk CMC Na

20 x 0,3 gram = 6 mL.

3.2

= 0,012 gram.

Pembuatan Simplisia
A. Pengumpulan Bahan

Rimpang kencur didapat dari pasar Bandar Kediri Jawa timur sebanyak 2 kg, rimpang kencur
yang dibeli dipilah rimpang yang masih bagus.
B. Pengolahan Bahan
Rimpang kencur dibersihkan dari residu dari luar dengan air keran, kemudian dirajang
sampai tipis kurang lebih 0,5 cm. Hasil rajangan diangin-anginkan selama 3 hari, bahan
kering dihaluskan dengan blender sehingga didapat serbuk halus rimpang kencur. Hasil akhir
serbuk diayak dengan menggunakan pengayak no mesh 40 selama 3 X pengayakan.
3.3

Pembuatan Ekstrak Rimpang Kencur

Ekstrak Rimpang kencur dibuat dengan menggunakan metode maserasi. Simplisia


ditimbang 64,48 gram, serbuk tadi dimasukkan kedalam botol 500 ml. Serbuk rimpang
kencur dilarutkan dengan etanol 96% sebanyak 7X bobot serbuk rimpang kencur yaitu
451,36 mL. Larutan dikocok selama 30 menit sebanyak 3X dalam sehari. Pengocokan
dilakukan selama 2 hari.

3.4

Pembuatan Suspensi Ekstrak Rimpang Kencur

Siapkan Alat dan Bahan


CMC Na 0,6 gram dimasukkan kedalam mortir
Ditambahkan Aqua panas 6 mL
Dan digerus sampai mucilago
Dimasukkan ekstrak rimpang kencur dan Na Benzoat kedalam CMC Na gerus ad homogen
Dimasukkan Syrup Simplex kedalam mortir gerus ad homogen
Dimasukkan aquadest ad 60 mL
Dimasukkan botol dan dikemas

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil
Uji Berat Jenis
Berat piknometer kosong (W)

= 27,27 g

Berat piknometer + solven

= 76,78 g

(W)

Bobot solven (W-W=W)

= 49,51 g

Ekstrak + solven (W)

= 77,09 g

= 1,5 g

= 2,49 g/cc
Uji pH

= 6

Uji Viskositas

= 285 mpAs

Uji Evektifitas Antiinflamasi Rimpang Kencur =


Diameter kaki mencit (Cm)
Sebelum
diinduksi putih
telur

30menit
setelah
diinduksi putih
telur

Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Kencur


30 menit

60 menit

90 menit

Mencit A

1,15

1,7

1,6

1,5

1,3

Mencit B

1,1

1,7

Mencit C

0,9

1,4

1,35

0,92

Hewan Coba

Uji Organoleptis =
Warna

Putih Kekuningan

Bau

Khas Kencur

Rasa

4.1

Manis

Pembahasan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang kencur yang diolah
menjadi sediaan suspense sebagai antiinflamasi. Rimpang kencur diekstraksi dengan
menggunakan metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Sebanyak 64,48
gram serbuk rimpang kencur dilarutkan dengan etanol 96% sebanyak 451,36 mL.
Dalam pengujian rimpang kencur sebagai antiinflamasi dilakukan uji evektifitas
rimpang kencur sebagai antiinflamasi dengan menggunakan hewan coba mencit dan sebagai
inflamatornya adalah putih telur. Pada uji ini digunakan 3 ekor mencit, ke 3 mencit diukur
diameter kakinya sebelum diinduksi dengan putih telur dari pengukuran diperoleh diameter
Mencit A 1,15 cm, Mencit B 1,1 cm dan Mencit C 0,9 cm. Kemudian diinsuksi dengan putih
telur dan ditunggu selama 30 menit, diameter kaki mencit mengalami tumor (pembengkakan)
dengan perubahan diameter kaki Mencit A 1,7 cm , Mencit B 1,7 cm dan Mencit C 1,4 cm.
Setelah diinduksi dengan putih telur diinduksi dengan ekstrak rimpang kencur tiap 30 menit
sebanyak 3 kali replikasi. Diameter kaki mencit A dan C saja yang mengalami pengecilan
ukuran pembengkakan, sedangkan mencit B tidak mengalami perubahan. Hal ini disebabkan
oleh pemberian ekstrak kencur pada mencit B yang tidak sepenuhnya masuk kedalam tubuh
sehingga kadar ekstrak tidak sesuai dosis yang diinginkan. Akan tetapi dengan adanya 2
mencit yang mengalami pengecilan pembengkakan maka dapat dinyatakan bahwa ekstrak
kencur dapat digunakan sebagai obat antiinflamasi.
Formulasi pada penelitian ini digunakan sediaan suspensi, digunakannya suspensi
dalam sediaan kami karena sediaan ditujukan untuk penggunaan oral yang mudah dikonsumsi
oleh anak-anak dan lansia yang sulit menelan pil atau tablet serta dengan sediaan suspensi
dikatakan lebih cocok dengan kandungan yang ditujukan sebagai antiinflamasi. Rancangan
dari sediaan ini tidak menghilangkan cirri khas dari sediaan kencur yaitu aroma yang khas
dari kencur serta warna dari kencur sendiri yaitu putih kekuningan. Rasa dari sediaan yang
diinginkan adalah manis. Dari hasil pembuatan formulasi sediaan kami memenuhi rancangan
spesifikasi yang diinginkan. Hanya saja rasa dari kencur terlalu manis disebabkan syrup
simplex yang sedikit berlebih.
Hasil uji evaluasi sediaan suspense memenuhi standart yang telah ditetapkan yaitu
untuk uji pH 6 sedangkan syarat yang ditetapkan adalah 4-6. Uji viskositas didapat 285
mpAs. Pada uji evaluasi ini seharusnya dilakukan uji volume sedimentasi untuk mengetahui
kecepatan partikel mengendap, hal ini sangat penting karena kelemahan dari sediaan suspense
adalah cracking yaitu membentuk endapan yang sukar terdispersi kembali. Tetapi bila
dilakukan uji sedimentasi hal itu bisa dikurangi dengan cara membandingkan suspending
agent yang baik untuk formulasi kami

Anda mungkin juga menyukai