Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri pulp (bubur kertas) dan kertas merupakan salah satu industri hasil
hutan yang memiliki peran yang besar bagi perekonomian Indonesia saat ini.
Peluang Indonesia untuk meningkatkan dan memperluas industri pulp dan kertas
di pasar ekspor masih terbuka lebar mengingat potensi hutan di Indonesia masih
memiliki tingkat kemajuan yang besar.
PT.Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) adalah salah satu industri pulp
dan kertas yang ternama di Indonesia. Produk-produk yang dihasilkan telah
menembus pasar internasional dengan kualitas baik dan kuantitas besar. Mesinmesin yang digunakan merupakan penerapan dari Sistem Otomatisasi dimana
peran teknologi sangat diutamakan untuk menghasilkan mutu yang baik dan
tingkat ketelitian yang tinggi.

1.2 Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan


Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan di PT.RAPP pada Departemen
Chemcal Plant , dilakukan pada bulan Juli 2015 Agustus 2015 dengan
penjadwalan sebagai berikut.
1. Pengenalan Perusahaan yang dilaksanakan di APRIL Learning Institute (ALI),
yang meliputi pengenalan bagian-bagian unit bisnis dan departemen, serta
kuliah singkat tentang Teknik Kesehatan dan Keselamatan Kerja (TK3) di
Safety Campus, yang dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2015.
2. Observasi di lapangan mengenai perkerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh
mekanik dan operator di Chemical Plant mengenai Maintenance, Proses kerja
alat dan mesin, dan Jalur Proses antar Mesin pada tanggal 21 Juli 2015 3
Agustus 2015.
3. Pengumpulan data pengamatan dan pembuatan laporan tanggal 4 Agustus 2015
20 Agustus 2015.

1.3. Tujuan Praktek Kerja Lapangan


1

Praktek Kerja Lapangan be rtujuan untuk memberikan kesempatan bagi


para Mahasiswa untuk memperoleh pengalaman nyata dan pembelajaran
mengenai mesin-mesin yang sebelumnya hanya bisa diketahui dari buku / teori.
Tentunya dalam Praktek Kerja Lapangan, Mahasiswa dapat langsung mengamati
sekaligus ikut berperan dalam pekerjaan yang dilakukan oleh mekanik di
lapangan. Mahasiswa juga dapat menganalisa Troubleshooting seputar alat / mesin
yang terjadi. Mahasiswa juga memfokuskan diri untuk dapat mengusai suatu
mesin yang akan dijadikan sebagai bahan untuk karya akhir Diploma III. Lebih
lanjut, Mahasiswa juga dapat mempersiapkan diri dengan lingkungan kerja sejak
dini dan mempersiapkan bahan-bahan serta pengetahuan yang akan dibutuhkan
kelak saat bekerja.

1.4 Profil Perusahaan


PT. Riau Andalan Pulp and Paper merupakan perusahaan yang bergerak
dibidang bubur kertas (pulp) dan keras (paper) yang berada di bawah naungan PT.
Raja Garuda Mas Internasional (RGMI). Saat ini RGMI berubah nama menjadi
PT. Royal Golden Eagle (RGE). PT.RGE yang berpusat di Jakarta merupakan
suatu grup industri yang unggul di Asia Pasifik dan asetnya melebihi USD 4,6
Milyar. APRIL (Asia Pasific Resources International Holding Limited) merupakan
perusahaan pemegang saham untuk sektor hasil hutan dari grup RGE. Pusat dari
kantor APRIL terletak di Singapura dan merupakan perusahaan pulp dan kertas
terbesar di Asia. APRIL mengoperasikan pabrik pulp dan kertas Changshu Fine
Paper Mill di Tiongkok dan PT. Riau Andalan Pulp and Paper di Indonesia.
APRIL sendiri merupakan anak cabang perusahaan RGE yang saat ini memiliki
80 anak perusahaan yang terbesar di Indonesia dan di Asia Pacific.
APRIL sendiri memiliki visi yaitu Menjadi perusahaan pulp dan kertas
terbesar di dunia dengan manajemen terbaik, paling menguntungkan, dan
berkelanjutan serta menjadi pilihan utama bagi pelanggan dan karyawan.
Visi lainnya dari perusahaan diantaranya :

Mengimplementasikan dan mempertahankan sistem manajemen mutu yang


berdasarkan Standar ISO:9001.
Menyusun dan menentukan tujuan mutu yang realistis dengan uraian sasaran
dan tanggung jawab memantau pelaksanaan-pelaksanaan guna menjamin
peningkatan mutu yang berkesinambungan.
Secara aktif mencari dan menampung informasi baik dari pelanggan kita
tentang produk dan pelayanan yang kita berikan.

Memastikan kebijakan ini dimengerti dan dilaksanakan oleh setiap karyawan


dalam ruang lingkup pekerjannya masing-masing.
Selalu melakukan sesuatu dengan benar pada awal dan seterusnya.

Pendiri dan sekaligus CEO perusahaan ini adalah Sukanto Tanoto, Beliau
lahir pada 29 Desember 1949. Beliau merupakan anak tertua dari tujuh
bersaudara. Beliau telah banyak berkiprah di dunia bisnis. Pada tahun 1967,
Beliau bergabung dalam perusahaan milik keluarga sebagai penyuplai suku
cadang kendaraan bermotor dari Jepang. Pada tahun 1973, Beliau mendirikan
industri kayu lapis yang diberi nama RGMI (saat ini menjadi RGE). Pada saat itu
menjadi saat-saat era keemasan kayu lapis Indonesia. Beliau mendirikan
perusahaan minyak kelapa sawit yang diberi nama Asian Agri pada tahun 1979.
Pada tahun 1983 dibangun pabrik dissolving pulp di daerah Porsea, Sumatera
Utara yang diberi nama PT. Indorayon (saat ini berubah nama menjadi PT. Toba
Pulp Lestari) yang mulai dioperasikan tahun 1988.
Pendirian pabrik PT. Riau Andalan Pulp and Paper ini dilakukan pada
tahun 1991 dengan masa pengerjaan proyek selama 2 tahun dengan investasi awal
sebesar 1,3 milyar dan termasuk Penanaman Modal Asing (PMA). Pada akhir
tahun 1993, pabrik selesai dibangun dengan menempati areal sebesar 650 ha dari
lahan 1750 ha milik PT. Riau Andalan Pulp and Paper. Pada awal bulan Pebruari
hingga Maret 1994 dilakukan start-up (running test) pabrik dan pada tahun 1995
dimulai produksi komersil pertama. Pada Pertengahan tahun 1995, dimulai masa
comissioning (percobaan mesin) produksi selama 5 bulan dan setelah itu barulah
mulai berproduksi secara komersil pada bulan berikutnya. Pada tahun 1996,
dimulai survei untuk pabrik kertas dan pada tahun 1997 pabrik kertas sudah mulai
beroperasi walaupun belum beroperasi sepenuhnya.

Gambar 1.1 Pabrik PT.RAPP


PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) terletak di Pangkalan Kerinci,
Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan yang berjarak sekitar 75 km dari
Ibukota Propinsi Riau, Pekanbaru. Sedangkan kantor pusat dan urusan
administrasi serta kerjasama terletak di Jl. Teluk Betung no. 31 Jakarta Pusat
10230. PT. RAPP merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pulp dan
kertas. Lokasi produksi PT. RAPP yang terletak di Pangkalan Kerinci merupakan
lokasi yang strategis karena dekat dengan sumber bahan baku yakni kawasan
Hutan Taman Industri (HTI) dengan iklim yang sesuai untuk pertumbuhan pohon
yang menjadi bahan baku pulp dan kertas. Bahan baku pendukung produksi
berupa air juga mudah diperoleh karena kawasan ini dekat dengan Sungai
Kampar. Bahan baku diperoleh dari lahan konsesi pabrik seluas 280.500 ha,
dimana rencana tata ruang HTI diperkirakan seluas 189.000 ha dan areal efektif
tanam seluas 136.000 ha. Pada tahun 2000, bahan baku yang berasal dari kayu
alam Mixed Hard Wood (MHW) mulai digantikan dengan kayu hasil tanam yaitu
jenis akasia. Akasia yang ditanam yaitu acacia mangium, acacia crassicarpa dan
eucaliptus. Untuk eucaliptus sendiri saat ini mulai belum bisa dipanen karena
dalam masa percobaan.

Gambar 1.2 Hutan Taman Industri (HTI) PT.RAPP


PT. RAPP mulai beroperasi secara penuh pada kuartal ketiga tahun 1996.
Pada saat itu, produksi rata-rata per hari sebesar 200 ton pulp. Nilai produksi ini
bervariasi pada bulan-bulan berikutnya sekitar 180-200 ton pulp per hari. Pada
tahun 2003, jumlah produksi pulp dan kertas mengalami peningkatan hingga
1.975.000 ton per tahun. Pada tahun 2004-2006 tercapai target sebesar 2.000.000
ton pulp dan kertas atau sekitar 5.500 ton per hari. Riau Pulp menggunakan sistem
Super Batch Cooking dan Continuos Cooking dengan kapasitas produksi
2.700.000 ton per tahun. Hal ini menjadikan PT.RAPP sebagai pabrik single line
pulp terbesar di Asia dan salah satu yang menghasilkan biaya produksi rendah di
dunia. Perusahaan ini memakai teknologi Elemental Chlorine Free (ECF)
sehingga memenuhi mutu dan lingkungan industri secara internasional. Semua
kegiatan proses produksinya ditunjang oleh teknologi sistem operasi yang maju
dan langsung melalui DCS (Distributed Control System).

PT.RAPP terdiri dari empat unit bisnis diantaranya :

Riau Andalan Pulp atau Riaupulp, merupakan unit bisnis yang bergerak di bidang
produksi Pulp.
Riau Andalan Kertas atau Riaupaper, merupakan unit bisnis yang bergerak di
bidang produksi kertas.

Riau Prima Energi atau Riaupower, merupakan unit bisnis yang bergerak di
bidang penyuplai Energi (Bahan bakar dan steam).
5

Foresty/Woodyard atau RiauFiber, merupakan unit bisnis yang bergerak di


bagian forestry untuk menyuplai bahan baku kayu.

Bidang konstruksi pembangunan perusahaan, jalan dan prasarana lainnya


ini dikelola oleh PT. Pec-Tech sedangkan untuk pemilik dan pengelola seluruh
kawasan industri di RAPP oleh PT. KIK (Kawasan Industri Kampar). Riaupower
memiliki kapasitas produksi 535 MW yang menyalurkan energi listrik ke seluruh
area pabrik bahkan telah membantu menerangi kabupaten Kerinci. Riaupaper
mulai beroperasi dengan Paper Machine (PM) 1 pada bulan April 1998 dengan
kapasitas produksi 1.500 ton per hari dengan produk kertas berupa uncoated wood
free paper dengan ukuran gramatur antara 60 gsm 120 gsm. Mesin kertas yang
digunakan merupakan mesin kertas berteknologi tinggi buatan Valmet (saat ini
menjadi Metso) dengan hasil produksinya adalah jumbo roll (lebar 8,6 m dan
panjang 70.000 m) dengan kecepatan terpasang sebesar 1500 m/min. Pada tahun
2006 dibangun PM 2. Kecepatan terpasang PM 2 lebih tinggi yaitu berada pada
1600 m/min. PT.RAPP memiliki salah satu pabrik kertas paling canggih di dunia.
Unit bisnis ini memiliki banyak prestasi yang telah diraih. PM 2 telah meraih
penghargaan sebagai PM tercepat kedua oleh Metso di bawah PM 1 dari
Tiongkok. PM 1 pernah menempati peringkat pertama di tahun 2005 versi Metso.
Bentuk perusahaan Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) adalah
Perseroan Terbatas dengan struktur organisasi mengikuti tipe garis dimana
kekuasaan dan tanggung jawab bercabang pada setiap pimpinan dari yang teratas
sampai yang terbawah. Sistem manajemen PT.RAPP menganut sistem Integerated
Management System (IMS) yang bertujuan untuk mengintergrasikan seluruh unit
bisnis dan meningkatkan kemajuan perusahaan. Untuk urusan kualitas dan
pengendalian pencemaran lingkungan, PT.RAPP mengacu pada standar ISO:9001
dan ISO:14001 yang mengutamakan Customer Satisfaction dan Pollution
Abatement. Sedangkan untuk Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (SMK3) karyawan RAPP mengacu pada OHSAS:18001 yang diantaranya
yaitu wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) di area kerja. Tuntutan
konsumen akan bahan baku yang legal dan tanpa menggunakan kayu hutan alam
membuat perusahaan wajib menggunakan sertifikasi dalam legalitas kayunya
diantaranya adalah LEI, PHPL, SVLK, dan FSC CoC.
PT.RAPP memiliki karyawan lebih dari 3.600 orang yang terdiri dari
tenaga kerja dalam negeri dan tenaga ahli yang didatangkan dari luar negeri.
Berdasarkan waktu kerjanya, karyawan PT.RAPP dibagi menjadi dua yaitu
karyawan general dan karyawan shift. Dalam rangka meningkatkan disiplin serta

produktivitas karyawan maka PT.RAPP menerapkan manajemen 5S yang dianut


dari Jepang yang meliputi :
1. Seiri (Ringkas)
2. Seiton (Rapi)
3. Seiso (Resik)
4. Seiketsu (Rawat)
5. Shitsuke (Rajin)
Dalam hal peningkatan mutu, karyawan perlu dibekali dengan kemampuan
yang handal dan operator yang berstandar internasional, PT.RAPP mempunyai
training program yang disebut program Driving License Process (DLP). DLP
merupakan suatu minimum kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang operator.
Operator tersebut dapat dinyatakan berkompeten apabila sudah lulus dan
memperoleh sertifikat DLP sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing. Setiap
karyawan PT.RAPP mendapatkan training secara berkala guna meningkatkan
kemampuannya.
Kertas yang dihasilkan oleh Riaupaper dipasarkan dalam bentuk cut size,
polio maupun gulungan (roll). Adapun wilayah pemasaran produk Riaupaper
adalah Eropa, Asia, dan pasar dalam negeri.
Berbagai macam merek dagang untuk kertas yang diproduksi oleh
Riaupaper telah dikeluarkan seperti : Paper One, Copy Paper, dan Dunia Mas.
Disamping memproduksi kertas untuk dipasarkan dengan merek dagang sendiri,
Riaupaper juga memproduksi kertas untuk merek dagang pelanggan seperti :
Xerox business, Imperial, dan Galaxy.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cooling Tower


Menara pendingin atau sering disebut Cooling Tower merupakan suatu
peralatan yang digunakan untuk menurunkan suhu aliran air dengan cara
mengekstraksi panas dari air dan mengemisikannya ke atmosfir. Menara
pendingin menggunakan penguapan dimana sebagian air diuapkan ke aliran
udarayang bergerak dan kemudian dibuang ke atmosfir. Sebagai akibatnya, air
yang tersisa didinginkan secara signifikan.
Menara pendingin mampu menurunkan suhu air lebih dari peralatanperalatan yang
hanya
menggunakan
udara untuk
membuang
panas, seperti radiator dalam mobil, dan oleh karena itu biayanya lebih efektif
dan efisien energinya.
2.2 Prinsip Kerja Cooling Tower
Air panas yang masuk pada bagian atas cooling tower didistribuskan
secara merata dengan Nosel / Nozzle dari perpipaan di bagian dalam cooling
tower, lalu akan jatuh kebawah dikarenakan gaya gravitasi atau pancaran air
diarahkan ke bawah.

Gambar 2.1 Bagian Dalam Cooling Tower

Air yang masuk dan udara melalui filling arahnya searah. Disana terjadi
perpindahan panas dan perpindahan massa, dimana perpindahan panas dan
perpindahan massa terjadi dari air ke udara. Udara yang banyak memiliki
kandungan air(jenuh) disirkulasikan dengan kipas sehingga udara yang belum
jenuh masuk ke rumah cooling tower. Air dingin yang ditampung di bak
penampung digunakan kembali. Dalam proses ini, terjadi penghilangan air karena
terjadi penguapan. Sehingga harus diberi masukan air tambahan (make up water).
Air dingin yang dihasilkan dilewatkan melalui saringan agar kotoran-kotoran atau
padatan-padatan mineral tertahan dan tidak melewati alat lainnya.

Gambar 2.2 Proses Pendinginan Cooling Tower

2.3 Jenis jenis Cooling Tower


Cooling tower dapat diklasifikasikan menurut beberapa hal, antara lain:
2.3.1

Menurut metode perpindahan panas


a. Wet cooling tower (cooling tower basah), Pada cooling tower jenis ini,
air panas didinginkan sampai pada temperatur yang lebih rendah dari
temperatur bola basah udara sekitar, jika udara relatif kering. Seperti
udara jenuh yang melewati aliran air, kedua aliran akan relatif sama.
Udara, jika tidak jenuh, akan menyerap uap air lebih banyak,
meninggalkan sedikit panas pada aliran air.
b. Dry cooler (pendingin kering), Cooling tower ini beroperasi dengan
pemindahan panas melewati permukaan yang memisahkan fluida kerja
dengan udara ambient. Dengan demikian akan terjadi perpindahan

panas konveksi dari fluida kerja, panas yang dipindahkan lebih besar
daripada proses penguapan.
c. Fluid cooler (pendingin fluida), Pada cooling tower ini saluran fluida
kerja dilewatkan melalui pipa, dimana air hangat dipercikkan dan kipas
dihidupkan untuk membuang panas dari air. Perpindahan panas yang
dihasilkan lebih mendekati ke cooling tower basah, dengan keuntungan
seperti pada pendingin kering yakni melindungi fluida kerja dari
lingkungan terbuka.
2.3.2

Metode pembangkitan aliran udara


a. Natural draft (penggerak udara alami)Udara dialirkan dengan
memanfaatkan gaya buoyancy melewati cerobong yang tinggi. Udara
campuran secara alami meningkat sampai terjadi perbedaan densiti
dengan udara kering, pendingin udara luar. Udara campuran panas
memiliki densiti yang lebih kecil daripada udara yang lebih kering
pada temperatur dan tekanan yang sama. Buoyancy udara campuran
tersebut menghasilkan arus udara melewati menara.
b. Mechanical draft (penggerak udara mekanik), Menara draft mekanik
memiliki fan yang besar untuk mendorong atau mengalirkan udara
melalui air yang disirkulasi. Air jatuh turun diatas permukaan bahan
pengisi, yang membantu untuk meningkatkan waktu kontak antara air
dan udara. hal ini membantu dalam memaksimalkan perpindahan panas
diantara keduanya.

2.3.3

Menurut letak kipasnya


Jenis ini terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Induced draft,Kipas pada cooling tower ini berada di bagian keluaran yang
menghisap udara melintasi menara. Hal ini menghasilkan kecepatan udara
masukan rendah dan kecepatan udara keluaran yang tinggi, sehingga
mengurangi kemungkinan resirkulasi udara.
2. Forced draft,Pada cooling tower ini kipas terletak pada bagian masukan
tower, sehingga menyebabkan kecepatan udara yang tinggi pada bagian
masukan dan kecepatan yang rendah pada bagian keluaran. Kecepatan
yang rendah pada bagian keluaran menyebabkan lebih mudah terjadi
resirkulasi udara. Kerugian lainnya desain penggerak paksa membutuhkan
daya motor yang lebih tinggi daripada desain kipas pada tipe induced
draft. Keuntungan penggerak paksa adalah kemampuannya dalam bekerja
pada tekanan statik yang tinggi.

10

2.3.4 Menurut arah aliran udara terhadap aliran air.


1. Aliran crossflow, Pada tipe ini, aliran udara bergerak memotong secara
tegak lurus terhadap aliran air pada bahan pengisi. Kemudian udara
melintasi menara melalui bagian keluaran udara akibat gaya tarik dari fan
yang berputar. Gambar 2.3 menunjukkan desain tipe cooling tower dengan
aliran crossflow.

Gambar 2.3 Cooling tower tipe aliran crossflow


2. Aliran counterflow Pada tipe ini, aliran udara pada saat melewati bahan
pengisi (fill material) sejajar dengan aliran air dengan arah yang
berlawanan. Gambar 2.4 menunjukkan desain tipe cooling tower dengan
aliran counterflow.

11

Gambar 2.4. Cooling tower tipe aliran counterflow


2.4 Perbedaan Pendinginan Absorpsi dengan Kompresi
Mesin refrigrasi siklus absorpsi sedikit berbeda dengan mesin refrigerasi
siklus kompresi uap. Komponen sistem seperti kondensor, alat ekspansi dan
evaporator juga digunakan pada mesin refrigerasi absorpsi. Sedangkan
kompresor pada sistem refrigerasi siklus kompresi uap diganti fungsinya oleh
generator(concentrator), absorber, dan pompa seperti yang ditunjukkan pada
gambar 2.5.

Gambar 2.5 Perbedaan Siklus Pendinginan

Ada beberapa jenis dari sistem refrigerasi siklus absorpsi diantaranya:

Continuous absorption system


o Continuous absorption system with pump
o Continuous absorption system with out pump
Intermitten absorption system

Sebagai sumber energi penggerak sistem adalah energi panas (kalor)


sehingga sering disebut heat-operated cycle. Sebagai sumber energi panas
didapatkan dari gas alam, kerosin, elemen pemanas listrik, uap panas, gas panas
buang dan sumber-sumber panas yang lainnya. Aplikasi dari sistem ini dapat
diterapkan pada refrigerasi domestik maupun pada sistem refrigerasi komersial
dan juga pada pengkondisian udara.
Secara umum fluida kerja yang digunakan pada sistem refrigerasi siklus
absorpsi adalah refrigeran dua substansi berupa campuran tak bereaksi seperti:
12

Amonia - air (NH3 H2O)


lithium bromide - air (LiBr H2O)

Pada sistem Air - Amonia, air berfungsi sebagai absorbent dan amonia
berfungsi sebagai refrigerant. Sedangkan pada sistem Lithium Bromide - air,
Lithium Bromide berfungsi sebagai absorbent dan air sebagai refrigerant.
Mesin refrigerasi siklus absorpsi dengan pompa sering disebut dengan
siklus refrigerasi absorpsi dua tekanan. Pada siklus ini ada sisi tekanan tinggi dan
tekanan rendah yang dibatasi oleh katup ekspansi dan katup throtle yang terdapat
antara absorber dan generator. Dan sebagai ilustrasi dari siklus ini dapat dilihat
pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Siklus Pendinginan Sederhana


Komponen utama dari siklus refrigerasi absorpsi dua tekanan adalah;
generator, absorber, pompa, kondensor, evaporator, alat ekspansi, dan katup
throtle.
Adapun
cara
kerjanya
adalah
sebagai
berikut
:
Campuran kuat refrigeran-absorben (strong solution) dipanaskan di dalam
generator sehingga refrigeran menguap dan terpisah dari absorbennya. Uap
refrigeran selanjutnya dimurnikan dalam rectifier dengan mendinginkannya
sehingga absorben yang ikut menguap akan mengembun dan mengalir kembali ke
generator. Uap refrigeran murni kemudian mengalir melalui kondensor. Di
kondensor refrigeran didinginkan sehingga refrigeran mengalami proses
pengembunan. Kondensatnya yang sudah berupa wujud cair yang keluar dari
kondensor, kemudian dialirkan menuju alat ekspansi. Pada alat espansi refrigeran
diekspansikan sehingga tekanannya menjadi rendah (tekanan evaporator) dan
13

disertai dengan turunnya temperatur refrigeran. Di dalam evaporator refrigeran


mengalami proses penguapan dengan menyerap panas yang ada disekeliling
evaporator. Proses absorpsi uap refrigeran oleh absorbennya berlangsung di
dalam absorber dengan cara melepas kalor, dimana absorben yang datang dari
generator sudah berupa larutan lemah (weak solution) sehingga bisa menyerap
uap refrigeran yang datang dari evaporator. Dengan terjadinya penyerapan uap
refrigeran oleh absorben, maka di absorber terbentuklah larutan kuat (strong
solution) yang selanjutnya akan dialirkan lagi menuju generator dengan
menggunakan pompa. Demikian proses ini berlagsung secara terus menerus.

2.5 Senyawa Lithium Bromide (LiBr)


Litium Bromida, atau LiBr adalah senyawa kimia litium dan bromin.
karakteristiknya higroskopis ekstrim membuat LiBr berguna sebagai pengering
dalam sistem pendingin udara tertentu.
1. Produksi dan Sifat
LiBr disiapkan oleh pengobatan litium karbonat dengan asam
bromida. Garam membentuk beberapa hidrat kristal, tidak seperti logam
alkali bromida lainnya. Bentuk garam anhidrat kristal kubik mirip dengan
garam (natrium klorida). Litium hidroksida dan asam bromida (larutan
hidrogen bromida) akan mengendap dengan adanya air.
LiOH + HBr LiBr + H2O
2. Penggunaan
Litium Bromida digunakan dalam sistem AC sebagai pengering.
Litium Bromida digunakan sebagai garam dalam penyerapan dingin
bersama dengan air dan juga berguna sebagai reagen dalam sintesis
organik. Misalnya reversibel membentuk adduct dengan beberapa obatobatan.
3. Aplikasi Medis
Litium Bromida digunakan sebagai obat penenang, dimulai pada
awal 1900-an, tetapi tidak digunakan lagi di tahun 1940-an ketika
beberapa pasien jantung meninggal setelah menggunakannya sebagai
pengganti garam. Seperti litium karbonat dan litium klorida, itu digunakan
sebagai pengobatan untuk gangguan bipolar. Dosis serendah 225 mg / hari
LiBr dapat menyebabkan bromism.
4. Bahaya

14

Garam litium yang psikoaktif dan agak korosif. Ketika litium


bromida dilarutkan ke dalam air, reaksi yang terjadi adalah eksotermik.
2.6 Komponen-Komponen Pendinginan
Sistem refrigerasi sangat menunjang peningkatan kualitas hidup manusia.
Kemajuan dalam bidang refrigerasi akhir-akhir ini adalah akibat dari
perkembangan sistem kontrol yang menunjang kinerja dari sistem
refrigerasi. Aplikasi dari sistem refrigerasi tidak terbatas, tetapi yang paling
banyak digunakan adalah untuk pengawetan makanan dan pendingin suhu,
misalnya lemasi es, freezer, cold strorage, AC(Air Conditione)) Window, AC split
dan AC mobil. Dengan perkembangan teknologi saat ini, refrigeran (bahan
pendingin) yang di pasarkan dituntut untuk ramah lingkungan, di samping aspek
teknis lainnya yang diperlukan. Apapun refrigeran yang dipakai, semua memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing oleh karena itu, diperlukan kebijakan
dalam memilih refrigerant yang paling aman berdasarkan kepentingan saat ini dan
masa yang akan datang.
Prinsip terjadinya suatu pendinginan di dalam sistem refrigerasi adalah
penyerapan kalor oleh suatu zat pendingin yang dinamakan refrigeran. Karena
kalor yang berada di sekeliling refrigeran diserap, akibatnya refrigeran akan
menguap sehingga temperatur di sekitar refrigeran akan bertambah dingin. Hal ini
dapat terjadi mengingat penguapan memerlukan kalor.
Di dalam suatu alat pendingin (misal lemari es) kalor diserap
di evaporator dan dibuang ke kondensor. Uap refrigeran yang berasal dari
evaporator yang bertekanan dan bertemperatur rendah masuk ke kompresor
melalui saluran hisap. Di kompresor uap refrigeran tersebut dimampatkan,
sehingga ketika ke luar dari kompresor uap refrigeran akan bertekanan dan
bersuhu tinggi, jauh lebih tinggi dibanding temperatur udara sekitar. Kemudian
uap menuju ke kondensor melalui saluran tekan. Di kondensor uap tersebut akan
melepaskan kalor, sehingga akan berubah fasa dari uap menjadi cair
(terkondensasi) dan selanjutnya cairan tersebut terkumpul di penampungan cairan
refrigeran. Cairan refrigeran yang bertekanan tinggi mengalir dari penampung
refrigean ke katup ekspansi. Keluar dari katup ekspansi tekanan menjadi sangat
berkurang dan akibatnya cairan refrigeran bersuhu sangat rendah. Pada saat itulah
cairan tersebut mulai menguap yaitu di evaporator, dengan menyerap kalor dari
sekitarnya hingga cairan refrigeran habis menguap. Akibatnya evaporator menjadi
dingin. Bagian inilah yang dimanfaatkan untuk mengawetkan bahan makanan atau
untuk mendinginkan ruangan. Kemudian uap refrigeran akan dihisap oleh
kompresor dan demikian seterusnya proses-proses tersebut berulang kembali.

15

1. Kompresor
Kompresor merupakan jantung dari sistem refrigerasi. Pada saat
yang sama kompresor menghisap uap refrigeran yang bertekanan rendah
dari evaporator dan mengkompresinya menjadi uap bertekanan tinggi
sehingga uap akan tersirkulasi.
Kebanyakan kompresor yang dipakai saat ini adalah dari jenis torak.
Ketika torak bergerak turun dalam silinder, katup hisap terbuka dan uap
refrigren masuk dari saluran hisap ke dalam silinder. Pada saat torak
bergerak ke atas, tekanan uap di dalam silinder meningkat dan katup hisap
menutup, sedangkan katup tekan akan terbuka, sehingga uap refrigeran
akan ke luar dari silinder melalui saluran tekan menuju ke kondensor.
2. Kondensor
Kondensor juga merupakan salah satu komponen utama dari
sebuah mesin pendingin. Pada kondensor terjadi perubahan wujud
refrigeran dari uap super-heated (panas lanjut) bertekanan tinggi ke cairan
sub-cooled (dingin lanjut) bertekanan tinggi. Agar terjadi perubahan wujud
refrigeran (dalam hal ini adalah pengembunan/condensing), maka kalor
harus dibuang dari uap refrigeran.
Kalor/panas yang akan dibuang dari refrigeran tersebut berasal dari :
1. Panas yang diserap dari evaporator, yaitu dari ruang yang didinginkan
2. Panas yang ditimbulkan oleh kompresor selama bekerja
Fungsi kondensor adalah untuk merubah refrigeran gas menjadi
cair dengan jalan membuang kalor yang dikandung refrigeran tersebut ke
udara sekitarnya atau air sebagai medium pendingin/condensing. Gas
dalam kompresor yang bertekanan rendah dimampatkan/dikompresikan
menjadi uap bertekanan tinggi sedemikian rupa, sehingga temperatur jenuh
pengembunan (condensing saturation temperature) lebih tinggi dari
temperature medium pengemburan (condensing medium temperature).
Akibatnya kalor dari uap bertekanan tinggi akan mengalir ke medium
pengembunan, sehingga uap refrigean akan terkondensasi.
3. Katup Ekspansi
Setelah refrigeran terkondensasi di kondensor, refrigeran cair
tersebut masuk ke katup ekspansi yang mengontrol jumlah refrigeran yang
masuk ke evaporator. Ada banyak jenis katup ekspansi; tiga di antaranya
adalah pipa kapiler, katup ekspansi otomatis dan katup ekspansi
termostatik.

16

a. Pipa Kapiler (capillary tube)


Katup ekspansi yang umum digunakan untuk sistem
refrigerasi rumah tangga adalah pipa kapiler. Pipa kapiler adalah
pipa tembaga dengan diameter lubang kecil dan panjang tertentu.
Besarnya tekanan pipa kapiler bergantung pada ukuran diameter
lubang dan panjang pipa kapiler. Pipa kapiler di antara kondensor
dan evaporator. Refrigeran yang melalui pipa kapiler akan mulai
menguap. Selanjutnya berlangsung proses penguapan yang
sesungguhnya di evaporator. Jika refrigeran mengandung uap air,
maka uap air akan membeku dan menyumbat pipa kapiler. Agar
kotoran tidak menyumbat pipa kapiler, maka pada saluran masuk
pipa kapiler dipasang saringan yang disebut strainer. Ukuran
diameter dan panjang pipa kapiler dibuat sedemikian rupa,
sehingga refrigeran cair harus menguap pada akhir evaporator.
Jumlah refrigeran yang berada dalam sistem juga menentukan
sejauh mana refrigeran di dalam evaporator berhenti menguap,
sehingga pengisian refrigeran harus cukup agar dapat menguap
sampai ujung evaporator. Bila pengisian kurang, maka akan terjadi
pembekuan pada sebagian evaporator. Bila pengisian berlebih,
maka ada kemungkinan refrigeran cair akan masuk ke kompresor
yang akan mengakibatkan rusaknya kompresor. Jadi sistem pipa
kapiler mensyaratkan suatu pengisian jumlah refrigeran yang tepat.
b. Katup Ekspansi Otomatis (KEO)
Sistem pipa kapiler sesuai digunakan pada sistem dengan
beban tetap (konstan) seperti pada lemari es atau freezer. Tetapi
dalam beberapa keadaan, untuk beban yang berubah-ubah dengan
cepat harus digunakan katup ekspansi jenis lainnya. Beberapa
katup ekspansi yang peka terhadap perubahan beban, antara lain
adalah katup ekspansi otomatis (KEO) yang menjaga agar tekanan
hisap atau tekanan evaporator besarnya tetap konstan. Bila beban
evaporator bertambah maka temperatur evaporator menjadi naik
karena banyak cairan refrigeran yang menguap sehingga tekanan di
dalam saluran hisap (di evaporator) akan menjadi naik pula.
Akibatnya bellow akan bertekan ke atas hingga lubang aliran
refrigeran akan menyempit dan ciran refrigeran yang masuk ke
evaporator menjadi berkurang. Keadaan ini menyebabkan tekanan
evaporator akan berkurang dan bellow akan tertekanan ke bawah
sehingga katup membuka lebar dan cairan refrigeran akan masuk
ke evaporator lebih banyak. Demikian seterusnya.

17

c. Katup Ekspansi Termostatik (KET)


Jika KEO bekerja untuk mempertahankan tekanan konstan
di evaporator, maka katup ekspansi termostatik (KET) adalah satu
katup ekspansi yang mempertahankan besarnya panas lanjut pada
uap refrigeran di akhir evaporator tetap konstan, apapun kondisi
beban di evaporator. Jika beban bertambah, maka cairan refrigran
di evaporator akan lebih banyak menguap, sehingga besarnya suhu
panas lanjut di evaporator akan meningkat. Pada akhir evaporator
diletakkan tabung sensor suhu (sensing bulb) dari KET tersebut.
Peningkatan suhu dari evaporator akan menyebabkan uap atau
cairan yang terdapat ditabung sensor suhu tersebut akan menguap
(terjadi pemuaian) sehingga tekanannya meningkat. Peningkatan
tekanan tersebut akan menekan diafragma ke bawah dan membuka
katup lebih lebar. Hal ini menyebabkan cairan refrigeran yang
berasal dari kondensor akan lebih banyak masuk ke evaporator.
Akibatnya suhu panas lanjut di evaporator kembali pada keadaan
normal, dengan kata lain suhu panas lanjut di evaporator dijaga
tetap konstan pada segala keadaan beban.
4. Evaporator
Pada evaporator, refrigeran menyerap kalor dari ruangan yang
didinginkan. Penyerapan kalor ini menyebabkan refrigeran mendidih dan
berubah wujud dari cair menjadi uap (kalor/panas laten). Panas yang
dipindahkan berupa Panas sensibel (perubahan tempertaur). Temperatur
refrigeran yang memasuki evaporator dari katup ekspansi harus demikian
sampai temperatur jenuh penguapan (evaporator saturation temparature).
Setelah terjadi penguapan, temperatur uap yang meninggalkan evaporator
harus pupa dinaikkan untuk mendapatkan kondisi uap panas lanjut (superheated vapor). Panas laten (perubahan wujud). Perpindahan panas terjadi
penguapan refrigeran. Untuk terjadinya perubahan wujud, diperlukan
panas laten. Dalam hal ini perubahan wujud tersebut adalah dari cair
menjadi uap atau menguap (evaporasi). Refrigeran akan menyerap panas
dari ruang sekelilingnya. Adanya proses perpindahan panas pada
evaporator dapat menyebabkan perubahan wujud dari cair menjadi uap.
Kapasitas evaporator adalah kemampuan evaporator untuk menyerap
panas dalam periode waktu tertentu dan sangat ditentukan oleh perbedaan
temperatur evaporator (evaporator temperature difference)

18

BAB III
DESKRIPSI ALAT & PROSES

Di Unit Bisnis Riaupulp, Departemen Chemical Plant , terdapat 4 Plant,


yakni :

Chlor-Alkaline (C-A) Plant yang menghasilkan produk Klorin (Cl2) dan


Caustic (NaOH).
ClO2 Plant yang menghasilkan produk Asam Klorida (HCl), ClO2 dan
Chlorate (NaClO3).
SO2 Plant yang menghasilkan produk Sulfur (SO2).
Oxygen Plant menghasilkan produk Oksigen (O2) dan Nitrogen (N2)

3.1 Komponen-Komponen Pada Cooling Tower


Komponen-komponen dari Cooling Tower adalah:
3.1.1 Rangka dan Casing
Hampir semua menara memiliki rangka berstruktur yang menutup
luar(wadah/casing ), fill, fan, dan komponen lainnya.

Gambar 3.1 Cooling Tower

19

3.1.2 Bahan Pengisi / Fill


Air jatuh di atas lapisan yang berurut dari batang pemercik
horizontal, secara terus-menerus pecah menjadi tetesan yang lebih kecil,
sambil
membasahi
permukaan
bahan
pengisi.
Bahan pengisi percikan dari plastik memberikan perpindahan panas yang
sangat baik. Terdiri dari permukaan plastik tipis dengan jarak
yang berdekatan dimana diatasnya terdapat semprotan air,
membentuk lapisan film yang tipis dan melakukan kontak
dengan udara. Permukaannya dapat berbentuk datar,
bergelombang, berlekuk, atau pola lainnya. Pada bahan
pengisi film, air membentuk lapisan tipis pada sisi-sisi
lembaran pengisi. Luas permukaan dari lembaran pengisi
adalah luas perpindahan kalor dengan udara sekitar. Jenis
bahan pengisi film lebih efisien dan memberi perpindahan
kalor yang sama dalam volume yang lebih kecil daripada
Bahan pengisi jenis splash.

Gambar 3.2 Fill

3.1.3 Kolam Air Dingin / Bak Penampung Air


Kolam air dingin terletak pada atau dekat bagian bawah menara,
dan menerima air dingin yang mengalir turun melalui menara dan bahan
pengisi/Fill. Kolam biasanya memiliki sebuah lubang atau titik terendah
untuk pengeluaran air dingin lalu dihisap dengan menggunakan pompa
20

dan dialirkan ke mesin pabrik lainnya. desain kolam air dingin berada
dibagian bawah seluruh bahan pengisi/Fill.
3.1.4 Drift Eliminator
Alat ini berfungsi untuk menangkap tetes-tetes air yang terjebak
dalam aliran udara supaya tidak hilang ke atmosfir. Saat ini hampir
kebanyakan spesifikasi pengguna akhir mengasumsikan kehilangan karena
kerugian ini kemungkinan sebesar 0,02%.

Gambar 3.3 Drift Eliminator


3.1.5 Saluran Udara Masuk
Ini adalah titik masuk bagi udara menuju menara. Ini merupakan
titik masuk bagi udara menuju menara. Saluran masuk bisa berada pada
seluruh sisi menara (desain aliran melintang) atau berada dibagian bawah
menara (desain aliran berlawanan arah).
3.1.6 Nosel / Nozzle
Alat ini menyemprotkan air untuk membasahi bahan pengisi / Fill.
Distribusi air yang seragam pada puncak bahan pengisi adalah penting
untuk mendapatkan pembasahan yang benar dari seluruh permukaan bahan
pengisi. Nosel / Nozzle dapat dipasang dan menyemprot dengan pola
bundar atau segi empat, atau dapat menjadi bagian dari rakitan yang
berputar seperti pada menara dengan beberapa potongan lintang yang
memutar tergantung jenis menara pendingin yang dipakai.

21

Gambar 3.4 Nozzle

3.1.7 Baling Baling / Fan


Digunakan di dalam menara. Fan ini disesuaikan untuk mengirim
aliran udara yang dikehendaki. Panjang baling baling sekitar 5 meter,
dan derajat kemiringan baling baling sekitar 14 16 dejarat ini
dilakukan agar motor tidak overload karena berlebihan beban sehingga
motor rusak. Sebuah fan dengan baling-baling yang dapat diatur tidak
secara otomatis dapat digunakan diatas range yang cukup luas sebab fan
dapat disesuaikan untuk mengirim aliran udara yang dikehendaki pada
pemakaian tenaga terendah. Baling-baling yang dapat diatur secara
otomatis dapat beragam aliran udaranya dalam rangka merespon
perubahan kondisi beban.

Gambar 3.5 Baling Baling / Fan

22

3.1.8 Gear Reducer


Sering juga disebut sebagai Gearbox, merupakan suatu alat khusus
yang diperlukan untuk menyesuaikan daya atau torsi (momen/daya) dari
motor yang berputar, dan gearbox juga adalah alat pengubah daya dari
motor yang berputar menjadi tenaga yang lebih besar. Dan juga berfungsi
untuk mengatur kecepatan gerak

Gambar 3.6 Gear Reducer

3.1.9 Motor
Motor merupakan salah satu peralatan yang banyak digunakan di
Industri untuk keperluan penggerak berbagai proses terutama Fan Cooling
Tower.

Gambar 3.7 Motor

3.2 Material Menara


23

Pada mulanya menara pendingin dibuat terutama dari kayu, termasuk


rangka, wadah, louvers, bahan pengisi dan kolam air dingin. Kadangkala kolam
air dingin terbuat dari beton. Saat ini, telah digunakan berbagai macam bahan
untuk membangun menara pendingin. Bahan-bahan dipilih untuk meningkatkan
ketahanan terhadap korosi, mengurangi perawatan, dan turut mendukung
kehandalan dan umur layanan yang panjang. Baja yang sudah digalvanis, berbagai
kelas stainless steel, fiber glass, dan beton sangat banyak digunakan dalam
pembuatan menara, juga alumunium dan plastik untuk beberapa komponen.
3.2.1 Material Rangka dan Wadah
Menara yang terbuat dari kayu masih tersedia, namun beberapa
komponen dibuat dari bahan yang berbeda, seperti wadah casing fiber
glass disekitar rangka kayu, saluran masuk udara louvers dari fiber
glass, bahan pengisi dari plastik dan kolam air dingin dari baja. Banyak
menara (Wadah dan Kolam) terbuat dari baja yang di-galvanis atau pada
atmosfir yang korosif, menara dan/atau dasarnya dibuat dari stainless steel.
Menara yang lebih besar kadangkala terbuat dari beton. Fiber glass juga
banyak digunakan untuk wadah dan kolam menara pendingin, sebab dapat
memperpanjang umur menara pendingin dan memberi perlindungan
terhadap bahan kimia yang berbahaya.
3.2.2 Material Bahan Pengisi
Plastik sangat banyak digunakan sebagai bahan pengisi, termasuk
PVC, polypropylene, dan polimer lainnya. Jika kondisi air memerlukan
penggunaan splash fill,splash fill kayu yang sudah diberi perlakuan juga
banyak digunakan. Disebabkan efisiensi perpindahan panasnya lebih besar,
bahan pengisi film dipilih untuk penggunaan yang sirkulasi airnya bebas
dari sampah yang dapat menghalangi lintasan bahan pengisi.
3.2.3 Material Nosel / Nozzle
Plastik juga digunakan luas untuk nosel. Banyak nosel terbuat dari
PVC, ABS, polipropilen, dan nylon yang diisi kaca.
3.2.4 Material Fan
Bahan yang biasa digunakan untuk fan adalah alumunium, fiber
glass dan baja yang di-galvanis celup panas. Baling-baling fan terbuat dari
baja galvanis, alumunium plastik yang diperkuat oleh fiber glass cetak.

24

3.3 Perawatan Pada Cooling Tower


Perawatan yang dilakukan secara sederhana dilakukan dengan inspeksi
secara visual,dengan interval waktu setiap tugas shift/berkala.
Pemeriksaan visual dilakukan pada saatsistem beroperasi. Jenis kegiatan yang
dilakukan adalah pemeriksaan kondisi suara dan getaran kipas pada saat kipas
beroperasi, dan pemeriksaan keadaan distribusi air.Apabila terjadi gangguan/
kerusakan maka dibuat dalam laporan yang akan ditindak lanjuti untuk dilakukan
perbaikanRekomendasi Komponen utama yang perlu dilakukan perawatan ketika
peralatan tidak beroperasi, Perawatan yang dilakukan secara sederhana
Pemeriksaan visual dilakukan pada saatsistem beroperasi. Jenis kegiatan yang
dilakukan adalah pemeriksaan kondisi suara dangetaran kipas pada saat kipas
beroperasi, dan pemeriksaan keadaan distribusi air.Apabila terjadi gangguan/
kerusakan maka dibuat dalam laporan yang akanditindaklanjuti untuk dilakukan
perbaikanRekomendasi Komponen utama yang perlu dilakukan perawatan ketika
peralatan tidak beroperasi pada tabel 3.1:

No
1

Jenis
Perawatan
Kotak roda
gigi /
Gearbox

Motor

Tabel 3.1 Jenis Perawatan


Lingkup
Lingkup perawatan
Perawatan
Setiap
Ganti minyak
8000 jam
pelumas
operasi/
paling
lambat tiap
2 tahun
Setiap bulan Ganti minyak
pelumas

Pembahasan hasil perawatan


Interval perawatan tiap 8000
jam operasi atau paling
lambat 2 th, masih dikatakan
efektif. Hal ini didasarkan
pada jumlah gangguan
/kerusakan yang relatif sedikit
jumlahnya.
Lingkup perawatan
sebaiknya ada penambahan,
yaitu pemeriksaan seal,
ketinggian dan kebocoran
minyak pelumas didasarkan
pada jumlah kegagalan
operasi sistem yang
paling dominan terjadi.
Lingkup perwatan yang
selama ini hanya bersifat
perawatan bagian mekanik,
sebaiknya ditambah
dengan lingkup perawatan
yang bersifat elektrik seperti
pemeriksaan kotak terminal
25

Kipas

Inspek visual

Periksa
bagian dalam

motor, panel modul dan


pengkabelan.
Setiap bulan Cek kekencangan
Interval dan lingkup
baut pengunci
perawatan yang ada selama
frame/lempeng
ini dapat dikatakan cukup
pada daun kipas
baik dan efektif, kegagalan
dan membersihkan operasi sistem ini lebih
kipas serta
dimungkinkan Karena unsur
memeriksa sudut
peralatan yang semakin
setiap baling-baling minus. Perlu adanya
fan
penambahan pada lingkup
perawatan, yaitu
pemeriksaan kesetimbangan
kipas.
Setiap
Pemeriksaan
Interval dan lingkup
minggu
kondisi suara dan
perawatan yang ada
getaran pada saat
selama ini dapat dikatakan
kipas beroperasi
cukup efektif. Faktor
dan pemeriksaan
manusia/operator pelaksana
distribusi air.
yang bertanggung jawab,
sehingga perlu segera
ditindak lanjuti apabila
ditemukan ketidaklayakan
operasi sistem dengan
membuat laporan gangguan
dan segera di perbaiki.
Setiap satu
tahun

Pemeriksaan
Drift eliminator,
Fill, Nozzle,
Perpipaan, dan
rangka bagian
dalam menara.

bagian dalam ini dianggap


masih layak dan baik,
sehingga tidak perlu diadakan
perubahan interval perawatan
nya. Sedangkan lingkup
perawatan sebaiknya
ditambahkan pemeriksaan
dan pembersihan kisi-kisi
lubang masuk udara
pendingin.

26

3.4 Peluang-Peluang Efisiensi Energi


Bagian ini membahas mengenai area untuk perbaikan efisiensi energi
menara pendingin.
Area utama untuk penghematan energi adalah:
Pemilihan menara pendingin yang benar (sebab aspek struktural menara
pendingin tidak dapat diubah setelah dipasang)
Bahan pengisi
Sistim distribusi pompa dan air
Fan dan motor
3.4.1 Pemilihan Menara
Setelah sebuah menara pendingin dipasang ditempatnya sangat sulit
untuk2memperbaiki kinerja energinya. Sejumlah faktor berpengaruh pada kinerja
menara pendingin dan harus dipertimbangkan bilamana memilih sebuah menara
pendingin,yaitu: kapasitas, range, approach, dan beban panas. Hal ini akan
dijelaskan
dibawah:

Kapasitas
Pemborosan panas (dalam kKal/jam) dan laju alir tersirkulasi
(m3/jam) merupakan suatu indikasi kapasitas menara pendingin. Walau
begitu, parameter-parameter desain tersebut tidak cukup untuk mengerti
kinerja menara pendingin. Sebagai contoh, sebuah menara pendingin yang
digunakan untuk mendinginkan 4540 m3/jam hingga mencapai range suhu
13,9 oC mungkin lebih besar dari menara pendingin yang mendinginkan
4540 m3/jam dengan range suhu 19,5 oC. Oleh karena itu parameterparameter desain juga diperlukan.

Range
Range ditentukan bukan oleh menara pendingin, namun oleh
proses yan melayaninya. Range pada penukar panas ditentukan seluruhnya
oleh beban panas dan laju sirkulas air yang melalui penukar panas dan
menuju ke air pendingin. Range merupakan
fungsi dari beban panas dan aliran yang disirkulasikan melalui sistim:
Range oC = Beban panas (dalam kKal/jam) / Laju sirkulasi air (l/jam)
Menara pendingin biasanya dikhususkan untuk mendinginkan laju aliran
27

tertentu dari satu suhu ke suhu lainnya pada suhu wet bulb tertentu.
Sebagai contoh, menara pendingin mungkin ditentukan untuk
mendinginkan 4540 m3/jam dari 48,9 oC ke 32,2 oC pada suhu wet bulb
26,7 oC .

Approach
Sebagaimana aturan yang umum, semakin dekat approach terhadap
wet bulb, akan semakin mahal menara pendinginnya karena meningkatnya
ukuran. Biasanya approach 2,8 oC terhadap desain wet bulb merupakan
suhu air terdingin yang digaransi pembuat menara pendingin. Bila ukuran
menara harus dipilih, maka approach menjadi sangat penting, yang
kemudian diikuti oleh laju alir, dan range dan wet bulb mungkin akan
menjadi semakin kurang penting.
Approach ( oC)= Suhu air dingin oC Suhu wet bulb oC

Beban panas
Beban panas yang diberikan pada menara pendingin ditentukan
oleh proses yang dilayaninya. Tingkat pendinginan yang diperlukan
dikontrol oleh suhu operasi proses yang dikehendaki. Pada kebanyakan
kasus, suhu operasi yang rendah adalah yang dikehendaki untuk
meningkatkan efisiensi proses atau untuk memperbaiki kualitas atau
kuantitas produk. Meskipun begitu, pada beberapa penggunaan (misalnya
mesin pembakaran dari dalam) suhu operasi yang tinggi adalah yang
dikehendaki. Ukuran dan harga menara pendingin meningkat dengan
meningkatnya beban panas. Pembelian peralatan dengan ukuran terlalu
kecil (jika beban panas yang dihitung terlalu rendah) dan peralatan dengan
ukuran berlebih/ terlalu besar (jika beban panas yang dihitung terlalu
tinggi) adalah sesuatu yang harus diperhatikan.
Beban panas proses dapat bervariasi tergantung pada proses yang terlibat
didalamnya dan oleh karena itu sukar untuk menentukan secara tepat.
Dengan kata lain, beban panas penyejuk udara/ AC dan refrigerasi dapat
ditentukan dengan ketepatan yang lebih tinggi.

3.4.2 Pengaruh Media Bahan Pengisi


Dalam menara pendingin, air panas didistribusikan diatas media pengisi
dan didinginkan
melalui penguapan ketika menuruni menara dan bersentuhan dengan udara. Media
pengisi

28

berdampak pada pemakaian energi dalam dua cara:


Digunakan listrik untuk memompa ke atas bahan pengisi dan untuk fan
yang menghasilkan air draft. Media pengisi yang dirancang secara efisien
dengan distribusi air yang cukup, drift eliminator, fan, gearbox dan motor
menyebabkan pemakaian listrik yang lebih rendah.
Pertukaran panas antara udara dan air dipengaruhi oleh luas permukaan
pertukaran panas, lamanya waktu pertukaran panas (interaksi) dan
turbulensi dalam air mempengaruhi keseksamaan pencampuran. Media
pengisi menentukan keseluruhan diatas dan oleh karena itu mempengaruhi
pertukaran panas. Makin besar pertukaran panas, makin efektif menara
pendinginnya.
Terdapat tiga jenis bahan pengisi:
Media Pengisi Penciprat (Splash).
Media pengisi splash menciptakan area perpindahan panas yang
dibutuhkan melalui cipratan air diatas media pengisi menjadi butiran air
yang kecil. Luas permukaan butiran air adalah luas permukaan
perrpindahan panas dengan udara.

Media Pengisi Film


Pada pengisi film, air membentuk lapisan tipis pada sisi-sisi
lembaran pengisi. Luas permukaan dari lembaran pengisi adalah luas
perpindahan panas dengan udara sekitar. Bahan pengisi film dapat
menghasilkan penghematan listrik yang signifikan melalui kebutuhan air
yang lebih sedikit dan head pompa yang lebih kecil.

Bahan Pengisi Sumbatan Rendah/Low-Clog Film Fills


Bahan pengisi sumbatan rendah dengan ukuran flute yang lebih
tinggi saat ini dikembangkan untuk menangani air yang keruh. Jenis ini
merupakan pilihan terbaik untuk air laut karena adanya penghematan daya
dan kinerjanya dibandingkan tipe bahan pengisi penciprat konvensional.

3.4.3 Pompa dan Distribusi Air

Pompa
Area untuk perbaikan efisiensi energi dibahas secara rinci dalam bab
Pompa dan Sistim Pemompaan.

Mengoptimalkan pengolahan air pendingin

29

Pengolahan air pendingin (misal mengendalikan padatan terlarut,


pertumbuhan alga) merupakan hal yang diharuskan untuk menara
pendingin yang tidak tergantung kepada jenis media pengisi yang
digunakannya. Dengan meningkatnya biaya untuk air, upaya untuk
meningkatkan Siklus Konsentrasi (COC), dengan pengolahan air pendingin
akan membantu menurunkan keperluan air make up secara signifikan. Pada
industri besar dan plant daya meningkatkan COC kadangkala dianggap
sebagai bagi penghematan air.

Memasang penghilang penyimpangan/ drift eliminators


Sangat sulit untuk mengesampingkan masalah penyimpangan dalam
menara pendingin. Saat ini hampir kebanyakan spesifikasi pengguna akhir
mengasumsikan kehilangan karena penyimpangan ini sebesar 0,02%.
Namun karena perkembangan teknologi dan adanya produksi PVC, para
pembuat alat telah dapat meningkatkan desain penghilang penyimpangan/
drift eliminator. Sebagai hasilnya, kehilangan penyimpangan sekarang
dapat mencapai serendah 0,003 0,001%.

3.4.4 Fan menara pendingin


Kegunaan fan menara pendingin adalah menggerakan jumlah tertentu
udara menuju sistim. Fan harus mengatasi resistansi sistim, seperti kehilangan
tekanan, untuk menggerakan udara. Keluaran fan atau kerja yang dilakukan dan
kW masuk menentukan efisiensi fan. Efisiensi fan pada gilirannya akan sangat
tergantung pada profil sudu/ blade, yaitu:
Sudu/ blades metalik, yang dibuat dengan proses ekstrusi dan pencetakan
sehingga sulituntuk memproduksi profil aerodinamik yang ideal.
Sudu/ blades plastik yang diperkuat dengan fiber (FRP) biasanya dicetak
dengan tangan sehingga lebih mudah untuk menghasilkan profil
aerodinamik optimal untuk kondisi tugas yang spesifik. Karena fan FRP
ringan, dan hanya memerlukan torque penyalaan awal yang rendah
sehingga memerlukan motor yang lebih rendah, umur gear box, motor,
dan bearing meningkat, dan perawatannya lebih mudah.

3.5 Proses Pendinginan System Water dengan Trane Water Chiller


Trane Single Stage Absorption Cold Generator didesain untuk
menggunakan Uap (Steam) dengan tekanan 12 psi.g hingga 14 psi.g atau air panas
dengan suhu maksimal 270oF. Kapasitas pendinginannya adalah 1200 TR(Ton
Refrigerant). Fluida yang bekerja di mesin yaitu Lithium Bromide (LiBr) sebagai
30

absorben, dan Air sebagai refrigeran. Steam atau air panas digunakan untuk
memisahkan refrigeran dari Campuran Lithium Bromide untuk menjaga
kelangsungan siklus. Terdapat empat bagian dalam pada mesin pendingin yaitu :
Concentrator/Generator, Condenser(Kondensor), Evaporator, dan Absorber.
Komponen tambahan meliputi Heat Exchanger, Electric Control Panel,
Pneumatic Control Panel, Katup operasi, Solution (Campuran LiBr dan Air)
pump, dan Purge(vaccum) pump.

Gambar 3.8 Tipikal Trane Water Chiller Standar

3.5.1 Refrigerant dan Absorbent


Refrigeran yang digunakan pada Trane Water Chiller adalah air.
Air adalah refrigeran yang sempurna karena air mudah mendidih pada titik
tekanan evaporasi yang rendah, mempunyai efek refrigerasi yang relatif
tinggi, dan juga mudah dipisahkan dengan lithium bromide ketika
campuran tersebut mendidih.
Lithium Bromide sebagai Absorben, digunakan karena memiliki
afinitas yang luar biasa untuk uap air, melepaskan uap refrigeran pada suhu
yang relatif rendah dan memiliki titik didih yang sangat tinggi.
3.5.2 Prinsip Dasar Siklus Penyerapan

31

Empat bagian dasar dari mesin dipisahkan menjadi sisi bertekanan


tinggi dan sisi bertekanan rendah. concentrator dan kondensor terdapat
pada sisi bertekanan tinggi dan evaporator dan absorber terdapat pada sisi
bertekanan rendah. Tekanan pada sisi atas berkisar sepuluh kali lebih
tinggi daripada sisi bawah jika mesin pendingin beroperasi pada kondisi
normal.

3.5.3 Bagian Sisi Bertekanan Tinggi (Sisi Atas)


Steam atau air panas bergerak melalui pipa-pipa yang memiliki
spesifikasi :
Diameter Luar
: 19,05 mm
Diameter Dalam
: 0,71 mm
Panjang
: 7887 mm
Material
: 70% Tembaga dan 30% Nikel
Pipa-pipa dalam concentrator akan menyebabkan Campuran lithium
bromide dan air mendidih. Air akan menguap dan terpisahkan dengan
lithium bromide. Uap refrigeran akan melewati sebuah bagian eliminator
yang memisahkan antara concentrator dengan kondensor. Air pendingin
mengalir melewati pipa-pipa yang terdapat di bagian kondensor untuk
mendinginkan uap refrigeran disaat memasuki bagian kondensor. Hal ini
menyebabkan uap terkondensasi. Refrigeran yang terkondensasi akan jatuh
ke wadah kondensor dan akan diarahkan ke bagian evaporator melalui
beberapa pipa yang terdapat pada sebuah orifis(orifice).
3.5.4 Bagian Sisi Bertekanan Rendah (Sisi Bawah)
Panas dari system water digunakan untuk menguapkan refrigeran
pada suhu sekitar 40oF dalam bagian evaporator. Sebagai hasil perubahan
fase refrigeran, panas juga akan terbuang dari system water. Hasil dari
penguapan air kemudian akan terbawa ke bagian absorber yang
tekananannya relatif lebih rendah dan akan diserap oleh absorben sehingga
akan berubah menjadi campuran yang encer.
Air pendingin akan bersirkulasi melalui pipa-pipa absorber untuk
membuang panas yang terdapat pada campuran cair tadi. Lithium bromide
melalui pipa-pipa absorber akan menyirami bagian absorber dengan
tujuan untuk menyerap uap refrigeran namun kemampuannya untuk
menyerap uap refrigeran juga akan berkurang. Oleh karena itu, perlu untuk
mengembalikan campuran yang cair tadi kembali ke concentrator untuk
memisahkannya kembali.

32

3.5.5 Bagian Heat Exchanger


Campuran encer tadi dipompakan ke concentrator, tapi pertamatama melewati alat penukar panas. Fungsi penukar panas adalah untuk
secara efisien menukarkan panas antara campuran pekat panas dengan
campuran encer dingin. Selama operasi, terjadi transfer panas antara
campuran encer dingin dari absorber dan campuran pekat panas yang
kembali dari concentrator. Campuran encer akan melewati pipa-pipa dari
alat penukar panas.Alat penukar panas sangat penting untuk efisiensi
keseluruhan siklus penyerapan.
3.5.6 Sistem Vakum
Sistem pemvakuman terdiri dari tabung pick-up dan ruang
pembersihan yang terletak di dalam absorber. Pemvakuman ruang adalah
sebuah ruang yang mengisolasi bagian dari tabung absorber. Terhubung ke
sebuah pompa vakum melalui katup shut-off yang dipasang di luar mesin.
Proses kerja vakum dilakukan oleh vacuum pump(pompa vakum).
Pompa vakum merupakan jenis mechanical, rotary, oil-sealed,tipe vane,
unit bervolume rendah dengan konstruksi dua tahap dengan spesifikasi :

Kapasitas
Tegangan
Kuat Arus 50Hz
Kuat Arus 60Hz
Putaran 50Hz
Putaran 60Hz
Daya

: 25 liter per menit


: 115 V 230 V
: 2,6 A - 5,1 A
: 2,3 A - 4,6 A
: 1425 rpm
: 1725 rpm
: 25 HP

Prinsip kerja pompa vakum adalah dengan memompakan udara


bertekanan dari dalam mesin ke luar, sehingga dengan sedikitnya udara
dalam mesin akan menyebabkan tekanan ikut menurun. Tekanan yang
dibutuhkan di dalam mesin haruslah vakum agar titik didih refrigeran
dapat diperkecil.
3.5.7 Sistem Economizer
Sebuah katup economizer dapat disediakan sebagai pilihan
tambahan. Fungsi katup ini adalah untuk mengatur laju aliran dari lithium
bromide menuju bagian concentrator. Economizer bertujuan untuk
membatasi jumlah campuran lithium bromide dan air yang akan
dipompakan ke concentrator dan untuk mengurangi penggunaan steam
pada pemisahan lithium bromide dan air. Sehingga proses lebih efisien dan
hemat.

33

3.5.8 Perawatan (Maintenance)


Tabel 3.2 Panduan Perawatan Trane Water Chiller
HAL
BULANAN TAHUNAN
Periksa pompa vakum dan penjajaran pulley
pada motor
X
Periksa Tensi V-Belt
X
Bersihkan V-Belt
X
Ganti oli pompa vakum
(1)
Lubrikasi motor pompa vakum
X
Bersihkan magnetic strainer
X
Periksa pengaturan kendali
(2)
Servis katup-katup kendali utama
(2)
(2)
Inspeksi/ Cleaning absorber dan pipa
kondensor
X
(1) Diganti bulanan atau rutin sesuai kebutuhan
(2) Sesuai rekomendasi dari pabrikan
1. Perawatan Sistem Vakum
1. Periksa penjajaran pulley dan tensi dari V-Belt.
Sabuk (Belt) harus bisa ditekan dari hingga
dengan menggunakan tekanan dari tangan.
2. Bersihkan Sabuk dengan Pembersih Sabuk.
3. Ganti oli pompa vakum sesuai dengan petunjuk.
4. Cek kebocoran (Leak) yang terdapat disekitar Water
Chiller dengan cara meletakan botol berisi air pada
ujung pipa pembuangan di pompa vakum.
Kebocoran dapat menyebabkan tekanan udara di
dalam Chiller menjadi bertambah sehingga efek
refrigrasi menurun.
2. Perawatan Strainer (Penyaring)
1. Lepaskan sirkuit motor pompa dari sistem dengan
cara menutup katup A dan B. Periksa
kebocoran para seal.
2. Pegang dan tahan wadah strainer dengan satu
tangan dan longgarkan baut dibawah wadah(bowl).
34

Ayunkan support bracket ke satu sisi dan dengan


perlahan, lepaskan wadah dari sambungan strainer.

Gambar 3.9 Konstruksi Magnetic Strainer


3. Lepaskan Hex Nut yang terdapat pada bagian tengah
strainer lalu bersihkan dalam air.
4. Lepaskan Bagian Magnetic dengan memutar mur
yang terletak di bagian bawah strainer dan dibilas
dalam air
5. Ganti bagian magnit dan permukaan dalam (screen
element).
6. Cuci dan isi wadah dengan air distilasi.
7. Pasang kembali masing-masing element.

35

BAB IV
ANALISA DAN PERHITUNGAN
4.1 Pengkajian terhadap Cooling Tower
Kinerja menara pendingin dievaluasi untuk mengkaji tingkat approach dan range
saat ini terhadap nilai desain, mengidentifikasi area terjadinya pemborosan energi
dan memberikan saran perbaikan.
Selama evaluasi kinerja, peralatan pemantauan yang portable digunakan untuk
mengukur parameter-parameter berikut pada Cooling Tower PT.RAPP (Chemical
Plant):
Suhu udara wet bulb
Suhu air masuk menara pendingin
Suhu air keluar menara pendingin
Kecepatan putaran Fan
4.1.1 Menghitung Range
Ini merupakan perbedaan antara suhu air masuk dan kelua menara
pendingin. Range CT yang tinggi berarti bahwa menara pendingin telah
mampu menurunkan suhu air secara efektif, dan kinerjanya bagus.
Rumusnya adalah:
Range CT (C) = [suhu masuk CW (C) suhu keluar CW (C)]
Contoh :
Dik : Suhu masuk = 40o C
Suhu keluar = 30o C
Range
= ?
Range ( oC ) = 40oC - 29o C
Range

= 11 oC

4.2.2 Menghitung Approach


Merupakan perbedaan antara suhu air dingin keluar menara
pendingin dan suhu wet bulb ambien(Suhu diarea menara pendingin atau
suhu masuknya udara kemenara pendingin). Semakin rendah approach
semakin baik kinerja menara pendingin. Walaupun, range dan approach
harus dipantau, approach merupakan indikator yang lebih baik untuk
kinerja menara pendingin.
Approach CT (C) = [suhu keluar CW (C) suhu wet bulb (C)]
Contoh :

36

Dik : Suhu keluar


Suhu wet bulb
Approach

= 30oC
= 27oC
=?

Approach (oC) = 30oC 27oC


= 3oC

Approach

4.1.3 Menghitung Efektivitas


Merupakan perbandingan antara range dan range ideal (dalam
persentase), yaitu perbedaan antara suhu masuk air pendingin dan suhu
wet bulb ambien, atau dengan kata lain adalah = Range/ (Range +
Approach). Semakin tinggi perbandingan ini, maka semakin tinggi
efektivitas menara pendingin.
Efektivitas CT (%) = 100 x (suhu masuk suhu keluar) / (suhu masuk CW
suhu WB).
Contoh :
Dik : Suhu masuk
Suhu keluar
Suhu wet bulb
Efektivitas (%)

= 40o C
= 30o C
= 32oC
=?

Efektivitas (%) = 100 x ( 40 oC 30oC) / (40oC 27oC)


= 76.9%

4.1.4 Menghitung Kehilangan Penguapan


Merupakan jumlah air yang diuapkan untuk tugas pendinginan.
Rumus berikut dapat digunakan:
Kehilangan penguapan (m3/jam) = 0,00085 x 1,8 x laju sirkulasi (m3/jam)
x (T1-T2)
T1 - T2 = perbedaan suhu antara air masuk dan keluar
Contoh :
Dik : T1 = 40OC
T2 = 30OC
Laju Sirkulasi = 1000m3/Jam (Tidak pasti, karena pemompaan
menggunakan Control Valve sehingga laju sirkulasi digunakan seperlunya
diatur dari ruang kontrol).
Maka: Kehilangan penguapan = 0.00085 x 1.8 x 1000 x (40-30)
= 15.3m3/jam

37

4.1.5 Putaran Fan


Merupakan jumlah putaran Fan / Baling-baling dari Motor.
Dengan ratio Gearbox 1 / 10.83. Sehingga :
Dik : Speed Motor(Aktual) = 1485 rpm
Ratio Gearbox 1 / 10.83
Sehingga, Putaran Fan = 1485 rpm / 10.83
= 137 rpm

4.2 Perhitungan Trane Water Chiller

Gambar 4.1 Siklus Pendinginan Trane Water Chiller

Perhitungan dilakukan berdasarkan nominal teoritis dari mesin chiller.


Berdasarkan tabel Apendiks Saturated Water, diketahui bahwa :

Entalpi (hfg) refrigeran evaporator = 1070,7 Btu/lbm.


Entalpi (hf) refrigeran condenser = 8,032 Btu/lbm.
Entalpi (hg) refrigeran concentrator = 1149,5 Btu/lbm.
Volume Spesifik (Vg) refrigeran concentrator = 27,798 ft3/lbm

38

4.2.1 Menghitung Refrigerant Effect


=hfg hf
1070,7 Btu /lbm8,032 Btu /lbm
1062,668 Btu /lbm

4.2.2 Menghitung Berat Refrigeran Bersirkulasi


Kapasitas Pendinginan(QR) Trane Water Chiller = 1.200 Ton of
Refrigeration = 4.000 Btu per second = 240.000 Btu per minute.
Maka :
W=

QR

W=

240000 Btu /m
1062,668 Btu /lbm

W =22,5846lb

4.2.3 Menghitung Kapasitas Refrigeran


Vg QR
QF=

27,798 ft 3 /lbm 240000 Btu/m

1062,668 Btu/lbm
6278,0849 ft 3 /m
4.2.4 Menghitung Teoritical Horse Power
h h
HP=0,02358 g fg QR
h fg h f

0,02358

1149,5 Btu/lbm1070,7 Btu /lbm


240000 Btu /m
1070,7 Btu /lbm8,032 Btu /lbm
419,6465 HP

4.2.5 Menghitung Coefficient of Performance


h h
CoP= fg f
hg hfg

39

1070,7 Btu /lbm8,032 Btu/lbm


1149,5 Btu /lbm1070,7 Btu /lbm

13,4856

4.2.6 Menghitung Kapasitas Condensor


h h
QC=QR g f
hfg hf
240000 Btu / m

1070,7 Btu /lbm8,032 Btu /lbm


1070,7 Btu /lbm8,032 Btu /lbm

1,0741 Btu/m

40

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapangan, dapat diambil kesimpulan
bahwa :
1. Proses pembuatan pulp di PT.RAPP menggunakan proses kimia yaitu proses
sulfat (Kraft).
2. Produk pulp yang dihasilkan oleh PT.RAPP berbasiskan ECF (Elemental
Chlorine Free).
3. Trane Water Chiller memanfaatkan air sebagai refrigeran, hal ini sangatlah
effisien karena air sangat mudah diperoleh dan sangat ramah lingkungan.
4. Trane Water Chiller memanfaatkan tekanan yang sangat vakum agar
menyebabkan air menguap dalam temperatur rendah.
5. Lithium Bromide dapat menyerap uap air. Peran Lithium Bromide sangatlah
penting dalam kelangsungan proses pendinginan.
6. Entalpi air lebih tinggi daripada entalpi Freon. Hal ini yang menyebabkan
proses pendinginan dengan air relatif lebih lemah daripada dengan Freon.
7. Daya pendinginan yang dimiliki Trane Water Chiller sangatlah tinggi, yakni
419,6465 HP. Ini setara dengan 419 Air Conditioner 1 PK( Paar de Kraft).
8. Proses kompresi pada Trane Water Chiller memanfaatkan Steam bertekanan
rendah sebagai pengganti kompresor.
9. Prinsip kerja menara pendingin adalah menurunkan suhu air pendingin dengan
cara membuang panas dari air ke atmosfer.
10. Menara pendingin di PT.RAPP di Chemical plant digunakan untuk
mensirkulasi air dingin ke Trane Chiller dan air dikembalikan ke Cooling
tower dengan suhu tinggi.
11. Menara pendingin terdiri dari rangka/ wadah, kolam penampung, fan, motor
fan,dan pipa/ saluran penyambung ke tiap unit.
12. Suhu keluar menara pendingin tergantung pada suhu wet bulp / suhu disekitar
menara pendingin.
13. Laju aliran air dan udara tidak konstan.

41

B. Saran
1. Sebaiknya pembacaan Control Panel dibuat lebih banyak yang mencakup
seluruh temperatur, tekanan dan konsentrasi dalam Trane Water Chiller.
2. Sebaiknya diletakan beberapa plat orifis pada jalur perpipaan sehingga
memungkinkan mengetahui laju aliran fluida tanpa melalui perhitungan.
3. Sebaiknya dibuat panel untuk Force Shutdown Manual bilamana ada terjadi hal
yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja sehingga Mekanik yang bekerja di
area Cooling Tower dapat aman dari kecelakaan kerja.

DAFTAR PUSTAKA

42

Firdaus, Muhammad Yusuf . SISTEM REFRIGERASI. 19 Maret 2015. web. 12


Agustus.2015.https://muhammadyusuffirdaus.wordpress.com/2012/0
3/19/sistem-refrigerasi/
Marley. Cooling Tower Counterflow Field Erected . 2005. Web. 28 Juli 2015.
<http://www.spxcooling.com>
Kelita Mea Melaca. Cooling Tower. 2012. Web. 10 Agustus 2015.
<http://www.academia.edu/6534525/COOLING_TOWER.html>
RASP Bali. Refrigerasi Siklus Absorbsi. 10 Agustus 2009. Web. 12 Agustus
2015. <http://raspbali.blogspot.com/2009/08/refrigerasi-siklusabsorbsi.html>
Trane Company. 1983. OPERATION-MAINTENANCE SINGLE STAGE
ABSORPTION COLD GENERATOR. Winconsin. U.S.A : Trane
Company
United Nations Environment Programme. Cooling Tower System. 2006. Web. 8
Agustus 2015. <https://www.energyefficiencyasia.org>
Wikipedia. Cooling Tower. 2012. Web. 10 Agustus 2015.
<http://en.wikipedia.org/wiki/Cooling_tower>
Wikipedia. Lithium bromide. 16 Juni 2015. web. 12 Agustus 2015.
<https://en.wikipedia.org/wiki/Lithium_bromide>

LAMPIRAN 1
TABEL APENDIKS REFRIGERAN AIR

43

LAMPIRAN 2
DATA PENGAMATAN TRANE WATER CHILLER #4
No
Data
.
1. Strong Soln Lvg

5 Agustus 2015

6 Agustus 2015

7 Agustus 2015

98,7 oC

98,3 oC

97,8 oC
44

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

LTG
Strong Soln Lvg
LTHX
Intmd Soln at Abs
Spray
Dilute Soln Lvg
Absorber
Dilute Soln Temp
Lvg LTHX
Active Chilled
Water Set Pt
Evap Entering
Water Temp
Evap Leaving
Water Temp
Absorber Entering
Water Temp
Cond Entering
Water Temp
Cond Leaving
Water Temp
Saturated Evap
Rfgt Temp
Saturated Cond
Rfgt Temp
Saturated Evap
Rfgt Temp
Strong Soln
Concentration
LiBr Crystltzn
Temp
Steam Condensate
Temp Lvg LTG

54,0 oC

54,2 oC

53,2 oC

48,3 oC

41,7 oC

48,5 oC

42,1 oC

41,7 oC

42,1 oC

69,2 oC

69,2 oC

69,1 oC

6,0 oC

6,0 oC

6,0 oC

23,6 oC

22,2 oC

23,1 oC

12,1 oC

11,0 oC

12,0 oC

30,7 oC

29,8 oC

30,6 oC

33,5 oC

33,7 oC

33,1 oC

37,6 oC

36,7 oC

37,5 oC

7,6 oC

6,6 oC

7,5 oC

44,8 oC

44,1 oC

43,6 oC

7,3 oC

7,4 oC

7,3 oC

62,89 % LiBr

63,20 % LiBr

63,59 % LiBr

36,2 oC

38,3 oC

40,5 oC

108,6 oC

108 oC

108 oC

45

Beri Nilai