Anda di halaman 1dari 23

HUBUNGAN PENCABUTAN

GIGI DENGAN PENYAKIT


DIABETES MELLITUS
OLEH :
I MADE ARI GUNAWAN SONTRA
FRISKA INJELIA SILOW

A. DEFINISI DIABETES MELLITUS

Diabetes Melitus merupakan suatu penyakit


multisistem dengan ciri hiperglikemia akibat
kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau
kedua-duanya. Kelainan pada sekresi/kerja
insulin tersebut menyebabkan abnormalitas
dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein. Hiperglikemia kronik pada diabetes
berhubungan dengan kerusakan jangka panjang,
disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh,
terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan
pembuluh darah.

Faktor predisposisi penderita Diabetes Mellitus


itu :
Kelainan genetika diabetes dapat menurun
menurut silsilah keluarga yang mengidap DM
karena kelainan gen sehingga mengakibatkan
tubuhnya tak dapat menghasilkan insulin
dengan baik
Usia umumnya manusia mengalami
perubahan fisiologis yang secara drastis
menurun dengan cepat setelah usia 40thn.
Diabets sering kali muncul setelah seseorang
memasuki usia 45thn pada mereka yang berat
badannya berlebih, sehingga tubuhnya kurang
peka terhadap insulin

Stress stess yang kronis cenderung membuat


seseorang mencari makanan yang manis-manis
dan berlemak tinggi
Pola makan salah kurang gizi atau kelebihan
berat badan sama-sama meningkatkan risiko
terkena diabetes
Hormonal beberapa faktor hormonal seperti
pankreastomi, penyakit pankreas, hipofisi,
suprarenalis, dan kelainan tiroid.
Obat telah dibuktikan bahwa korison dan
beberapa derivatnya dapat menyebabkan
hiperglikemia.

Untuk mengenal gejala klinis atau tanda klinis


ketika seseorang menderita Diabetes Mellitus
yaitu:
a. Gejala gejala sebagai akibat hiperglikemia,
berupa:
Poliuri (sering buang air kecil terutama di
malam hari)
Polidipsi (rasa haus)
Luka susah sembuh karena mudah infeksi
Mulut berbau aseton

b. Gejala gejala sebagai akibat ketidakmampuan


pengolahan gula berupa:
Badan menjadi kurus
Rasa lapar
Tidak bertenaga / cepat letih
c. Gejala gejala sebagai akibat perubahan
vaskularisasi pada:
Permukaan kulit berupa: rasa kesemutan, luka
susah sembuh, gangrene, rasa dingin pada ujung
jari-jari tangan dan kaki
Mata, berupa penglihatan terganggu tampak
bercak-bercak putih bila melihat sesuatu
Ginjal, berupa adanya perasaan pegal pada
daerah setinggi ginjal dan urin tampak keruh

Dalam mendiagnosa Diabetes Mellitus, juga


terdapat klasifikasi dari DM tersebut, yang
dimana berdasar Worl Health Organization
(WHO):
a. Diabetes tipe I
DM ini dikenal dengan tipe juvenile onset dan
tipe dependen insulin (Insulin Dependent
Diabets Mellitus / IDDM). Bentuk ini terutama
ditemukan pada anak-anak dan remaja,
sepertinya diantaranya ditemukan pada orang
dewasa bahkan terkadang orangtua. Bentuk ini
produksi insulin sangat kurang bahkan bisa
tidak ada.

b. Diabetes tipe II
DM ini dikenal juga sebagai tipe dewasa atau tipe
onset maturitas dan tipe nondependen insulin (NonInsulin Dependent Diabetes Mellitus/NIDDM);
Terdapat bukti yang baik yang muncul dan latar
belakang resistensi membran sel terhadap insulin
dan fungsi reseptor insulin mungkin teratur.
Faktor genetik: mendasari kerentanan genetik
tampaknya berperan dalam NIDDM dan IDDM
Faktor lingkungan: obesitas merupakan faktor
lingkungan mayor yang sering dikaitkan dengan
penyakit ini.
Haemochoromatosis berkaitan dengan
diabetogenesis.
Pada umumnya ditemukan pada umur 30 thn
keatas.

Untuk menangani DM ini, dapat diberikan


medikamen antidiabetik oral dimana terbagi
menjadi dua golongan, yakni:
a. Sulfonilurea
Indikasi pemakaian golongan ini untuk
penderita yang memiliki beratbadan ideal,
kebutuhan insulin >40U/hari, tidak sedang
mengalami stres (infeksi berat/operasi), dan
khusus untuk penderita diabetes yang dewasa.
Sedangkan kontraindikasinya apabila penderita
sudah mengalami komplikasi ginjal, hati, dan
tiroid.

Cara kerja dari golongan ini yaitu:


Merangsang sel betha pankreas untuk
mengeluarkan insulin, jadi hanya bekerja bila sel
betha utuh
Menghalangi pengikatan insulin
Mempertinggi kepekaan jaringan terhadap
insulin
Menekan pengeluaran glukagon agar tidak
berlebih

b. Biguanid
cara kerja golongan ini yaitu gangguan
absorbsi glukosa dalam usus, peningkatan
kecepatan ambilan glukosa dalam mulut, dan
penurunan lukoneogenesis dalam hepar. Nama
generik medikamen ini yaitu Fenformin,
Buformin, dan Meformin.
Pada penderita yang mengalami bleeding
atau susah sembuh, terutama pada kasus
mengalami luka yang tidak sembuh pada bekas
pencabutan giginya, bisa menggunakan
medikamen oral agents tersebut:
a.Aspirin
b. Anti-Inflammatories
c. Anticoagulants

DM bukan merupakan kontra indikasi untuk


setiap perawatan kedokteran gigi terutama
dalam tindakan operatif seperti pencabutan gigi,
kuretase pada poket dan sebagainya. Bila
penderita dibawah pengawasan dokter ahli
sehingga keadaannya terkontrol maka hal ini
tidak menjadi masalah bagi dokter gigi untuk
melakukan perawatan gigi dan mulut penderita
tersebut.

Pasien yang mengetahui dirinya menderita DM


harus diketahui jenis yang dideritanya,
perawatan yang pernah dilakukan, kontrol yang
memadai pada Dmnya, dan adanya komplikasi
pada syaraf, vaskuler, ginjal, dan infeksi lainnya.
Pasien harus di anamnesa secara spesifik
tentang riwayat penyakit ini, kejadian
hipoglikemik, ketoasidosis dan lain sebagainya.
Bagi pasien yang melakukan pemeriksaan
glukosa darah di rumah, hasil dari pengujian
glukosa darag yang terbaru harus dicatat.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, pasien


dapat dikelompokkan ke dalam kategori kelompok
resiko spesifik5, yaitu:
Pasien dengan resiko rendah
Yaitu kontrol metaboliknya baik dengan obat-obatan
yang dalam keadaan stabil, asimtomatik, dan tidak
ada komplikasi.
Pasien dengan resiko menengah
Yaitu memiliki simptom yang sama namun berada
dalam kondisi metabolik yang seimbang. Tidak
terdapat riwayat hipoglikemik atau ketoasidosis.
Pasien dengan resiko tinggi
Yaitu memiliki banyak komplikasi dan kontrol
metaboliknya sangat buruk, seringkali mengalami
hipoglikemi atau ketoasidosis dan sering
membutuhkan injeksi insulin.

Ingat, bahwa semua pasien, dalamrangeusia 40


tahun keatas, berat badan berlebih, mempunyai
kemungkinan untuk menderita diabetes
mellitus. Tetapi itu bukan patokan pokok. Pasien
usia 40 tahun ke bawah juga memiliki
kemungkinan yang sama besar dengan pasien
usia 40 tahun keatas untuk menderita DM.
Begitu juga pasien yang tidak terlalu gemuk.
Penderita DM memiliki masalah dengan
pembekuan darah pada luka atau perdarahan,
meskipun kecil. Sedangkan pencabutan gigi
(biasanya) akan meninggalkan bekas luka yang
besar dan (kadang) perdarahan yang banyak.

Perhatikan, apakah ada gambaran atau gejala


yang berhubungan dengan penyakit diabetes
mellitus. Misalnya, pasien usia muda dengan
kehilangan gigi yang banyak. Atau pasien usia
lanjut dengan gigi-gigi goyang tanpa ada
penyebab yang jelas. Di Puskesmas, biasanya
penderita DM terkontrol memiliki riwayat di
kartu statusnya. Jangan pernah lupa
memperhatikan riwayat penyakit yang ada di
rekam medis umum pasien.

Perhatian. Bila mencurigai pasien menderita DM,


beri perhatian khusus pada pasien. Tanyakan
pertanyaan yang menyangkut gejala khas yang
biasanya dimiliki pasien DM seperti yang telah
dijelaskan diatas. Apakah pasien cepat merasa haus,
banyak buang air kecil pada malam hari, dlsb.
Apabila pasien mengaku bahwa dia memiliki DM,
jangan serta merta pula kita langsung membatalkan
pencabutan.
Tanyakan, apakah DMnya terkontrol secara rutin?
Kapan terakhir kali pasien kontrol?Apakah pasien
meminum obatnya secara teratur? Kapan terakhir
kali memeriksakan kadar gula darahnya?Berapa
angka yang keluar pada saat pemeriksaan gula
darah terakhirnya (baik SEWAKTU ataupun
PUASA)?

Jika kondisi pasien tidak begitu mendukung,


berdasarkan jawaban yang diberikan, baru tunda
rencana pencabutan.
Rujuk pasien ke Dokter Spesialis Penyakit
Dalam, untuk penanganan sebelum tindakan.
Biasanya rujukan ke dokter SpPD akan lebih
memudahkan tindakan pencabutan yang akan
kita lakukan nantinya.

Pencabutan gigi pada penderita Diabetes


Mellitus pada umumnya tidak bisa dilakukan
karena akan mengalami bleeding, kecuali jika
sebelum pembedahan pasien sudah diberikan
medikamen atau pasien Diabetes Mellitus
tersebut penderita yang terkontrol. Mengapa
demikian, karena pasien Diabetes Mellitus
mengalami kesulitan pembekuan darah sehingga
ketika dilakukan penccabutan, luka tersebut
sulit melakukan pembekuan dan memicu
terjadinya infeksi pada bekas pencabutan gigi
pasien tersebut

Akibat yang ditimbulkan bila pencabutan gigi


dilakukan pada saat kadar gula darah tinggi
antara lain :
1. Terjadinya infeksi pasca pencabutan pada
daerah bekas pencabutan.
2. Terjadinya sepsis atau peningkatan jumlah
bakteri dalam darah.
3. Terjadinya perdarahan yang terus menerus
akibat infeksi pasca pencabutan.
Oleh karena alasan tersebut di atas,maka
biasanya dokter gigi menunda pencabutan gigi
pada penderita diabetes melitus yang tidak
terkontrol.

Saran bagi penderita diabetes :


1. Periksakan kadar gula darah secara teratur
setiap 1 bulan sekali.
2. Menjaga asupan karbohidrat dan diet lainnya
agar tidak mempengaruhi kadar gula darah.
3. Menjaga kebugaran tubuh dengan olah raga
yang teratur.
4. Menjaga kebersihan badan termasuk gigi dan
mulut agar terhindar dari penyakit infeksi.

TIPS khusus menjaga kesehatan gigi dan mulut bagi


penderita diabetes melitus :
1. Selalu menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan
cara menyikat gigi minimal 2 kali sehari pagi
sesudah makan dan malam sebelum tidur.
2. Bersihkan karang gigi setiap 6 bulan sekali.
3. Berkumurlah dengan larutan antiseptik bila perlu.
4. Dianjurkan untuk segera menambal gigi yang
berlubang,mencabut sisa2 akar gigi agar tidak
menimbulkan infeksi.
5. konsultasikanlah dengan dokter spesialis penyakit
dalam apabila ada gigi yang memerlukan
pencabutan,sehingga dokter spesialis penyakit dalam
akan merekomendasikan surat rujukan ke dokter
gigi apabila kondisi gula darah sedang terkontrol.

TERIMA KASIH