Anda di halaman 1dari 25

PENANGANAN

KEGAWATDARURATAN NEONATUS
Dosen Pembimbing: Triatmi Andri Y. M.Keb

Kegawatdaruratan neonatus adalah


situasi yang membutuhkan evaluasi dan
manajemen yang tepat pada bayi baru lahir
yang sakit kritis ( usia 28 hari)
membutuhkan pengetahuan yang dalam
mengenali perubahan psikologis dan kondisi
patologis yang mengancam jiwa yang bisa
saja timbul sewaktu-waktu (Sharieff,
Brousseau, 2006).

Asfiksia Neonatus
Definisi : suatu keadaan gawat bayi berupa
kegagalan bernapas secara spontan dan
teratur segera setelah lahir yang disertai
dengan hipoksia, hipercapmia dan berakhir
dengan asidosis.

Penanganan umum asfiksi


neonaturum:
Bersihkan jalan napas dengan pengisap lendir dan kasa
steril.
2.
Potong tali pusat dengan teknik aseptik dan antiseptik.
3.
Segera keringkan tubuh bayi dengan handuk/kain kering
yang bersih dan hangat.
4.
Nilai status pernapasan. Lakukan hal-hal berikut bila
ditemukan tanda-tanda asfiksia
a)
Segera baringkan dengan kepala bayi sedikit ekstensi dan
penolong berdiri di sisi kepala bayi dari sisa air ketuban.
b)
Miringkan kepala bayi.
c)
Bersihkan mulut dengan kasa yang dibalut pada jari
telunjuk.
d)
Isap cairan dari mulut dan hidung.
5. Lanjutkan menilai status pernapasan.
1.

Apabila bayi belum bernapas atau


megap-megap, maka lanjutkan dengan
ventilasi, yaitu:
1.
2.

3.

4.

Pasang sungkup, perhatikan lekatan.


Ventilasi 2 kali dengan tekanan 30 cm air,
amati gerakan dada bayi
Bila dada mengembang, lanjutkan
ventilasi 20 kali dengan tekanan 20 cm
air dalam 30 detik.
Jika belum berhasil, lanjutkan evaluasi,
evaluasi tiap 30 detik selama 2 menit.
Jika belum berhasil, maka

Penanganan asfiksia
ringan:
1.

2.

3.

Jika bayi tidak mendapatkan oksigen,


izinkan bayi mulai menyusu.
Jika bayi mendapat oksigen atau
sebaliknya tidak dapat menyusu, berikan
perasaan ASI dengan menggunakan
metode pemberian makan alternatif.
Berikan perawatan lanjutan seperti asuhan
BBL normal.

Penanganan asfiksia sedang atau berat:


Pasang selang IV dan berikan hanya cairan IV selama 12 jam
pertama:
1. Batasi volume cairan sampai 60 ml/ kg berat badan selama
hari pertama, dan pantau keluaran urine.
2. Jika bayi berkemih kurang dari enam kali per hari atau tidak
menghasilkan urine.
. Jangan meningkatkan volume cairan pada hari berikutnya.
. Ketika jumlah urine mulai meningka, tingkatkan volume cairan
IV harian sesuai dengan kemajuan volume cairan tanpa
memerhatikan usia bayi (yaitu untuk bayi yang berusia empat
hari, lanjutkan dari 60 ml/kg sampai 80 ml/kg, sampai 100
ml/kg,dst. Jangan langsung 120 ml/kg pada hari pertama).
3. Ketika konvulsi terkendali dan bayi menunjukkan tanda-tanda
peningkatan respons, izinkan bayi mulai menyusu. Jika bayi
tidak dapat menyusu, berikan perasan ASI dengan
menggunakan metode pemberian makan alternative.
4. Berikan perawatan berkelanjutan.

Perawatan berkelanjutan pada bayi


dengan asfiksi:

1. Kaji bayi setiap 2 jam:


2. Dorong ibu untuk memeluk dan menggendong bayi
3. Jika bayi tidak sadar, letargi atau terkulai, pegang
dan pindahkan bayi dengan lembut untuk
mencegah cedera saat tonus otot bayi rendah.
Sangga seluruh tubuh bayi, terutama kepala.
4. Jika kondisi bayi tidak membaik setelah tiga hari,
kaji kembali untuk mengetahui adanya tanda-tanda
sepsis.
5. Jika kondisi bayi tidak membaik setelah satu
minggu tetapi bayi tidak lagi mendapatkan terapi di
RS maka diskusikan dengan ibu kemungkinan
merawat bayinya di rumah(Nike Budhi.2008: 61).

INFEKSI NEONATAL

Infeksi pada bayi baru lahir lebih sering


ditemukan pada BBLR. Infeksi lebih sering
ditemukan pada bayi yang lahir di rumah
sakit dibandingkan dengan bayi yang lahir
di luar rumah sakit. Bayi baru lahir
mendapat kekebalan tubuh transplasenta
terhadap kuman yang berasal dari ibunya.
Sesudah lahir, bayi terpapar dengan kuman
yang juga berasal dari orang lain dan
terhadap kuman dari orang lain, dalam hal
ini bayi tidak mempunyai imunitas.

PENANGANAN INFEKSI
NEONATAL
1.
2.
3.
4.

5.

Pertahankan tubuh bayi tetap hangat


ASI tetap diberikan atau diberi gula
Diberi injeksi antibiotika berspektrum luas
Penggunaan antibiotika yang banyak dan tidak
terarah dapat menyebabkan tumbuhnya jenis
mikroorganisme yang tahan terhadap
antibiotika dan mengakibatkan tumbuhnya
jamur yang berlebihan, misalnya jenis candida
albicans.
Perawatan sumber infeksi, misalnya pada
infeksi tunggal tali pusat (omfalitis) diberi
salep yang mengandung neomisin dan
basitrasin.

Penanganan Infeksi tali pusat local atau terbatas :

1.

2.

3.

Bersihkan tali pusat menggunakan larutan


antiseptic (missal klorheksidin atau iodium
povidon 2,5%) dengan kain kasa yang bersih.
Olesi tali pusat dan daerah sekitarnya dengan
larutan antiseptic (missal gential violet 0,5% atau
iodium povidon 2,5%) 8 kali sehari sampai tidak
ada nanah lagi pada tali pusat. Anjurkan ibu
melakukan ini kapan saja bila memungkinkan.
Jika kemerahan atau bengkak pada tali pusat
meluas melebihi area 1 cm, obati seperti sebagai
infeksi tali pusat berat atau meluas.

Penanganan Tetanus
Neonatorum :
DI PUSKESMAS
1.
2.

3.
4.

5.
6.
7.
8.

Bersihkan jalan napas


Masukkan sendok atau spatel dibungkus kain untuk
menekan lidah
Beri oksigen
Atasi kejang dengan
Diazepam 0,5 mg/kg/i.m atau supositoria
Apabila masih kejang ulangi tiap 30 menit
Ditambah luminal 30 mg/i.m sampai kejang berhenti
Infus glucose 10% sebanyak 80 ml/kg/hari
Antibiotika 1 kali (Penisilin Prokain 50.000 kg/hari/i.m)
Bersihkan tali pusat
Rujuk ke rumah sakit

DI RUMAH SAKIT
1. Umur lebih dari 24 jam ditambah
bikarbonas natrikus 1,5 % (4:1)
2. Dosis anti kejang i.v.dengan dosis rumat
3. Diazepam 8-10 mg/kg i.v. di ganti tiap 6
jam
4. Ampisilin 100 mg/kg i.v. atau prokain
penisilin 50.000 U/kg i.m. selama 3 hari

PERAWATAN LANJUT BAYI TETANUS


1.

2.

3.

4.

Rawat bayi di ruang tenang dan gelap untuk


menguragi rangsangan yang tidak perlu, tetapi
harus yakin bahwa bayi tidak terlantar.
Lanjutkan pemberian cairan IV dengan dosis
rumatan.
Pasang pipa lambung bila belum terpasang dan
beri asi peras diantara peiode spasme. Mulai
dengan jumlah setengah kebutuhan perhari dan
dinaikkan secara perlahan jumlah ASI yang
diberikan sehingga tercapai jumlah yang
diperlukan dalam dua hari.
Nilai kemampuan minum dua kali sehari dan
anjurkan untuk menyusu ASI secepatnya begitu
terlihat bayi siap untuk menghisap.

Lanjutan
5.

6.

Jelaskan kepada ibu bahwa angka kematian


tetanus neonatorum masih sangta tinggi
(50% atau lebih), tetapi kalau bayi bisa
bertahan hidup tidak akan mempunyai
dampak penyakitnya dimasa datang.
Bila sudah tidka terjadi spasme selama dua
hari, bayi minum baik dan tidak ada lagi
masalah yang memerlukan perawatan
dirumah sakit, maka bayi dapat
dipulangkan.

KEJANG
Kejang adalah kelainan sistem saraf
pusat yang terjadi secara mendadak
dengan manifestasi klinik kehilangan
koordinasi neuromotorik.
Kejang pada bayi baru lahir adalah
kejang yang timbul dalam masa neonatus
atau dalam 38 hari sesudah lahir. Kejang ini
merupakan tanda penting akan adanya
penyakit lain sebagai penyebab kejang,
yang dapat menyebabkan gejala sisa yang
menetap di kemudian hari.

Prinsip dasar mengatasi kejang pada


bayi baru lahir sebagai berikut:
1.Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti
kejang.
(misalnya Diazepam, Fenobarbital, Fenitoin /Dilantin)
2.Menjaga jalan nafas tetap bebas.
(perhatikan ABCD resusitasi)
3.Mencari faktor penyebab kejang.
(perhatikan riwayat kehamilan, persalinan dan
kelahiran, kelainan fisik ditemukan, bentuk kejang,
dan hasil laboratorium)
4.Mengobati penyebab kejang.
(mengobati hipoglikemia, hipokalsemia, dan lain-lain)

Penanganan kejang pada bayi


baru lahir :
1.

Bayi diletakkan dalam tempat yang hangat. Pastikan bahwa bayi


tidak kedinginan. Suhu bayi dipertahankan 36.5 o 37o C.

2.

Jalan napasbayi dibersihkan dengan tindakan penghisapan lendir


diseputar mulut, hidung sampai nasofaring.

3.

Bila bayi apnea, dilakukan pertolongan agar bayi bernapas lagi


dengan alat bantu balon dan sungkup, diberi O 2 (oksigen) dengan
kecepatan 2 liter/menit.

4.

Dilakukan pemasangan infus intravena di pembuluh darah perifer;


di tangan, kaki, atau kepala. Bila bayi diduga dilahirkan oleh ibu
berpenyakit diabetes mellitus, dilakukan pemasangan infus
melalui vena umbilikus.

5.

Bila infus sudah terpasang, diberi obat anti kejang diazepam 0,5
mg/kg suppositoria/IM setiap 2 menit sampai kejang teratasi.
Kemudian ditambah luminal (fenobarbital) 30 mg IM/IV.

6.

7.

8.

9.

10.

Dilakukan anamnesis mengenai keadaan


bayi untuk mencari faktor penyebab
kejang
Bila kejang sudah teratasi, diambil bahan
untuk pemeriksaan laboratorium untuk
mencari faktor penyebab kejang
Bila ada kecurigaan kearah sepsis
dilakukan pemeriksaan fungsi lumbal.
Obat diberikan sesuai dengan penilaian
ulang .
Apabila kejang masih berulang, diazepam
dapat diberikan lagi sampai 2 kali.

Bayi Berat Lahir Rendah


(BBLR)
Definisi
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi
baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2500 gram (sampai dengan
2499). Bayi berat lahir rendah mungkin
prematur (kurang matur), mungkin juga
cukup bulan (dismatur).Saifuddin, Abdul Bari.
2009.

Penanganan yang dilakukan pada BBLR dengan


prematuritas:
1.
2.

3.
4.
5.

Meletakkan bayi di dalam inkubator


Pemasangan sonde dan alatbantu
pernafasan.
Pencegahan infeksi pada BBLR.
Kebutuhan Nutrisi
Penimbangan dengan ketat

Penatalaksanaan BBLR Dismaturitas :


1.
2.
3.
4.

Mempertahankan suhu dengan ketat


Mencegah infeksi dengan ketat
Pengawasan nutrisi/ASI
Penimbangan ketat

Cairan dan pemberian minuman pada BBLR :


1.

2.

3.

Jika mungkin berikan cairan IV 60 Ml/g/hari


selama hari pertama kehidupan. Sebaiknya
gunakan pediatric (100mL) intravenous
burette : dengan 60 tetes = 1 mL sehingga, 1
tetes per menit = 1 mL per jam. Jika bayi sehat
dan aktif, beri 2-4 mL ASI perah tiap 2 jam
melalui pipa lambung, tergantung BB bayi
Jika mungkin, periksa darah tiap 6 jam hingga
pemberian minum enteral dimulai, terutama jika
bayi mengalami apnu, letargi atau kejang. Bayi
mungkin mememerlukan larutan glukosa 10 %.
Jika terdatap salah satu tanda bahaya atau
tanda infeksi berat, mulai pemberian antibiotik

Lanjutan.
3.

Mulai berikan minum jika kondisi bayi stabil (biasanya hari ke 2,


pada bayi yang lebih matur mungkin pada hari ke 1 ). Pemberian
dimulai minum jika perut tidak disentri dan lembut, terdapat
bising usus, telah keluar mekonium dan tidak terdapat apnu

4.

Jika toleransi minum baik tingkatkan kebutuhan perhari

5.

Pemberian susu dimulai dengan 2-4 mL setiap 1-2 jam malalui


pipa lambung

6.

Minum daapat ditingkatkan selama 2 minggu pertama kehidupan


hingga 150-180 mL/kg/hari (minum 19-23 mL setiap 3 jam untuk
bayi 1 kg dan 28-34 mL untuk bayi 1,5 kg). Setelah bayi tumbuh,
hitung krmbali volume minum berdasarkan BB terakhir.

TERIMAKASIH
SEMOGA BERMANFAAT .