Anda di halaman 1dari 59

1

JUDUL YANG RELEVAN DENGAN KONSEP PTS:

NILAI POSITIF PEMBINAAN KONSEP


PEMBELAJARAN
NUMERIC SYSTEM PADA GURU MENGAJAR
MATEMATIKA DI SDN ________

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah PTS


Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah,
masyarakat, dan orang tua. Kerja sama antara ketiga pihak diharapkan
terwujudnya tujuan Pendidikan Nasional yaitu :
Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia
Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, kepribadian yang mantap
dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU
Sisdiknas No. 20 ; 2003 pasal 4)
Sedangkan dalam pasal 1 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003
tentang sistem Pendidikan Nasional ialah : "Pendidikan adalah usaha sadar
untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan
latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang".
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar telah berkembang amat
pesat, baik materi maupun penggunaannya. Perkembangan ini sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membutuhkan
penggunaan matematika, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi itu memacu perkembangan matematika itu sendiri. Oleh karena itu
pemahaman

tentang

matematika

sekolah

yang

diperoleh

melalui

pembelajaran di SD dapat dijadikan sebagai landasan untuk memahami atau

menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi pada tingkatan pendidikan


selanjutnya.
Sebagai program pendidikan, pemerintah menyusun kurikulum untuk
tiap jenjang pendidikan, dari mulai jenjang pendidikan dasar sampai dengan
jenjang pendidikan tinggi sesuai dengan kemampuan peserta didik. Di dalam
pendidikan dasar, terutama di SD, pemerintah dewasa ini menggiatkan
kemampuan dasar siswa dengan melalui program kemampuan Calistung
(membaca, menulis dan menghitung). Terutama bagi siswa kelas awal,
dengan asumsi bahwa kemampuan calistung merupakan modal utama untuk
belajar, kemampuan belajar tersebut dapat dicapai dengan dua mata pelajaran
yaitu pelajaran bahasa Indonesia untuk kemampuan membaca dan menulis,
serta pelajaran matematika untuk berhitung.
Pembelajaran matematika diberikan di SD sejak siswa duduk di kelas
I. Hal ini menunjukan pemerintah menganggap pembelajaran matematika
bagi siswa SD sangat penting, sehingga dalam kurikulum ditetapkan
matematika diberikan di kelas awal dengan jumlah jam pelajaran yang sama
dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu 10 jam pelajaran di kelas I
sampai dengan kelas III dan 8 jam pelajaran untuk kelas IV sampai dengan
kelas VI. Dalam Kurikulum 1994 pembelajaran matematika di SD memiliki
berbagai tujuan, baik tujuan secara umum maupun tujuan secara khusus di
antaranya :
Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan
didalam kehidupan dan didunia yang selalu berkembang, melalui latihan
bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur,

dan efektif. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika


dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam
mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Matematika tersebut terdiri atas bagian-bagian matematika yang
dipilih,

guna

menumbuhkembangkan

kemampuan-kemampuan

dan

membentuk pribadi siswa serta berpandu pada perkembangan ilmu


pengetahuan dan teknologi. Mata pelajaran matematika berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan simbol
serta ketajaman penalaran yang dapat membantu dan memperjelas masalah
dalam kehidupan. Kemampuan setiap siswa mengenal ide-ide matematika
berkembang sesuai dengan kemampuan kognitifnya, dan perlu dikembangkan
secara matematis dalam bentuk materi pelajaran yang diajarkan secara
berencana.
Pengusaan siswa

terhadap konsep-konsep matematika dan

keterampilan menyelesaikan soal antara lain dapat dilihat dari hasil belajar
yang diperoleh siswa setelah pembelajaran matematika. Hasil belajar
umumnya dipandang sebagai salah satu indikator bagi mutu pendidikan. Oleh
karena itu "Hasil belajar perlu mendapat perhatian yang serius dan perlu
disadari bahwa hasil belajar adalah bagian dari hasil pendidikan". (Soedjadi,
2004:10). Dengan demikian diperlukan adanya suatu proses usaha yang serius
dan konsisten untuk meningkatkan hasil belajar matematika.
Rendahnya nilai matematika yang berarti tidak tercapainya tujuan
pembelajaran berdampak kurang baik pada proses belajar mengajar
selanjutnya.

Jadi

keberhasilan

dalam

pembelajaran

matematika

ikut

menentukan keberhasilan siswa selanjutnya sehingga diperlukan usaha


perbaikan. Hasil belajar matematika dipengaruhi banyak faktor. Salah satu dari
faktor tersebut adalah model pembelajaran yang digunakan. Hal ini sesuai
dengan yang dikemukakan oleh Ruseffendi (1988:7) "Salah satu faktor yang
mempengaruhi keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar matematika
adalah model penyajian materi".
Peran supervisi pendidikan sangatlah dibutuhkan berkaitan dengan
masalah di atas, salah satu fungsi peran pengawas sekolah terhadap
pelaksanaan pendidikan di sekolah dasar adalah pengarahan dan pembinaan
secara konseptual berupa model pembelajaran yang tepat dan efektif bagi
pengembangan pengajaran matematika yang akan dipakai oleh guru sebelum
mengadalan kegiatan proses belajar mengajar di kelas.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengadakan penelitian
tindakan sekolah yang bertemakan "Strategi Peningkatan mutu pengajaran
matematika di SDN _____ Kecamatan ____

Kabupaten _____Propinsi

_____ dengan mengadakan pembinaan konseptual model pembelajaran


Numeric System ".

B. Rumusan Masalah PTS


Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah penelitian ini
memfokuskan kepada aspek pengarahan dan pembinaan secara simultan
tentang konsep pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric System
guna meningkatkan kompetensi guru dan kinerja guru dalam membeikan
materi matematika". Adapun rumusannya sebagai berikut :

1.

Bagaimana guru

menerima dan menerapkan konsep Konsep Media

Pembelajaran Numeric System sebagai media pembelajaran matematika


di SDN _____ Kecamatan ____ Kabupaten _____Propinsi _____?
2.

Bagaimana

guru

memberdayakan

Pembelajaran Numeric System

pembelajaran

Konsep

Media

sebagai media pembelajaran secara

efektif di SDN _____ Kecamatan ____

Kabupaten _____Propinsi

_____?

C. Tujuan Penelitian Tindakan Sekolah


Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan sekolah ini yaitu
untuk :
1. Meningkatkan pemahaman konseptual dan kemampuan prosedural guru
yang mengajar matematika terhadap pembelajaran Numeric System
2. Mengetahui aktivitas

mengajar guru dan aktivitas siswa dalam

menghadapi hambatan - hambatan dalam proses pembelajaran Konsep


Media Pembelajaran Numeric System .
3. Mengetahui kinerja guru yang mengajar matematika dan prestasi belajar
siswa dalam pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric System

D. Manfaat Penelitian Tindakan Sekolah


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang
bersifat teroritis dan praktis

sebagai upaya meningkatkan kualitas

pembelajaran guru dan dapat meningkatkan

prestasi belajar siswa dalam

keterampilan proses matematika dan dapat meningkaikan hasil belajar siswa

pada pelajaran matematika di sekolah dasar.

Penelitian ini juga diharapkan dapat bermantaat untuk berbagai pihak


yaitu :
1. Bagi

siswa,

diharapkan

dapat

meningkatkan

kemampuan

dalam

keterampilan proses tertentu, hal ini sesuai dengan tujuan diberikannya


matematika di sekolah dasar, yaitu siswa sanggup menghadapi keadaan di
dalam kehidupan dunia yang selalu berkembang.
2. Bagi guru

yang mengajar matematika, hasil penelitian ini dapat

memberikan manfaat agar mereka memperoleh pengalaman dan contoh


model pembelajaran yang dapat dikembangkan pada pokok bahasan pokok bahasan yang lainnya
3. Bagi penulis, dengan penelitian ini menambah wawasan dalam
pembelajaran dan pengalaman yang sangat berharga selama menjabat
sebagai pengawas sekolah

TK, SD dan PLS Kecamatan

_____

Kabupaten ________ Propinsi __________

E. Definisi Operasional.
1. Strategi Peningkatan Pembelajaran
Strategi artinya teknik atau pola pada suatu kegiatan, tetapi di dalam
penelitian ini strategi peningkatan pembelajaran yang dimaksud adalah
berbagai strategi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas belajar,
sehingga

pembelajaran

dapat

tercapai

secara

maksimal.

Dalam

meningkatkan pembelajaran pada penelitian ini strategi yang digunakan

dalam pembelajarannya menggunakan alat peraga blok pecahan sebagai


medianya.

2. Pemahaman Konsep Penelitian


Pemahaman konsep adalah perubahan yang membuat individu lebih
mengerti pada objek yang dihadapi dan dapat rnengembangkan
kemampuannya dalam menggunakan bilangan yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari.

3.

Numeric System Learning Concepts


adalah Konsep pembelajaran inovatif dimana melibatkan

sikap

siswa dalam belajar dengan menggunakan alat (media Pembelajaran) yang


dapat membantu dalam kegiatan pembelajaran, dan siswa tersebut tanpa
menyadarinya sedang dipancing ke dalam pembelajaran yang sedang
disampaikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.

Kunjungan Sebagai Observasi Supervisi Pendidikan


Usaha untuk membantu meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber

daya guru dapat dilaksanakan dengan berbagai alat (device) dan teknik supervisi.
Umumnya alat dan teknik supervisi dibedakan dalam dua macam alat atau teknik.
Jonh Minor Gwyn (dalam sahertian, 2000: 52) mengemukakan dua teknik
supervisi yaitu teknik yang bersifat individual dan teknik yang bersifat
kelompok, yaitu teknik yang digunakan untuk melayani lebih dari satu orang.
Dalam bab ini peneliti hanya menjabarkan teknik supervisi individual sesuai
dengan konteks penelitian.
Teknik supervisi pendidikan bersifat individual antara lain perkunjungan
kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling mengunjungi kelas, dan menilai
diri sendiri.

1. Teknik Perkunjungan Kelas


Berikut adalah uraian singkat mengenai teknik perkunjuanga kelas yaitu:
a) Pengertian perkunjungan kelas ialah

teknik dimana kepala sekolah atau

supervisor datang ke kelas untuk melihat cara guru mengajar di kelas, b) Tujuan
perkunjungan kelas ialah memperoleh data mengenai keadaan sebenarnya selama
guru mengajar. Dengan data itu kepala sekolah dapat berbincang-bincang dengan

10

guru tentang kesulitan yang dihadapi guru-guru. Pada kesempatan itu guru dapat
mengemukakan pengalaman-pengalaman yang berhasil dan hambatan yang
dihadapi serta meminta bantuan, dorongan dan mengikutsertakan, c) Fungsi
perkunjungan kelas sebagai alat untuk mendorong guru agar meningkatkan cara
mengajar guru dan cara belajar siswa. Perkunjungan ini dapat memberi
kesempatan guru-guru untuk mengungkap pengalamannya sekaligus sebagai
usaha untuk memberi rasa mampu pada guru-guru untuk mengungkap
pengalamannya sekaligus sebagai usaha untuk memberikan rasa mampun pada
guru-guru. Karena guru dapat belajar dan memperoleh pengertian secara moral
bagi

pertumbuhan

kariernya

dan

d)

jenis-jenis

perkunjuangan

kelas.

Perkunjuangan kelas dibagi menjadi tiga macam yaitu:


(1) Perkunjungan tanpa diberi tahu (unannounced visitation) yaitu supervisor
tiba tiba datang datang ke kelas tanpa memberi tahu guru lebih dulu.
Perkunjungan

kelas

ini

mempunyai

kelebihan

dan

kelemahan.

Kelebihannya yaitu kepala sekolah dapat melihat keadaan yang


sebenarnya tanpa dibuat-buat. Hal ini dapat membiasakan guru agar dapat
mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Sedangkan kelemahannya yaitu
guru menjadi gugup, karena tiba-tiba didatangi kepala sekolah yang
menimbulkan prasangka bahwa ia sedang dinilai dan pasti hasilnya tidak
memuaskan. Kadang ada sebagian guru yang tidak senang bila tiba-tiba
dikunjungi tanpa diberi tahu terlebih dulu.
(2) Perkunjungan dengan cara memberi tahu lebih dulu (announced
visitation) yaitu supervisor biasanya telah memberikan jadwal kunjungan
sehingga guru-guru tahu pada hari dan jam berapa ia akan dikunjungi.

10

11

Perkunjungan kelas ini juga memiliki kelebihan dan kelemahan.


Kelebihan

teknik

ini yaitu bagi

supervisor perkunjungan yang

direncanakan sangat tepat dan mempunyai konsep pengembangan secara


kontinu dan terencana serta guru-guru dapat mempersiapkan diri sebaikbaiknya karena ia sadar bahwa perkunjungan itu akan membantu ia untuk
dinilai. Dan justru persiapan guru inilah yang nantinya akan menjadi
kelemahan yang menimbulkan hal-hal yang dibuat-buat dan serba
berlebihan.

(3) Perkunjungan Atas Undangan Guru


Perkunjungan ini akan lebih baik. Oleh karena itu guru punya usaha dan
motivasi untuk mempersiapkan diri dan membuka diri agar dia dapat
memperoleh balikan dan pengalaman baru dari hal pertemuannya dengan
supervisor. Pada sisi lain sifat keterbukaan dan merasa memiliki otonomi
dalam jabatannya. Aktualisasi kemampuannya terwujud sehingga ia selalu
belajar untuk mengembangkan dirinya. Sikap dan dorongan untuk
mengembangkan diri ini merupakan alat untuk mencapai tingkat
profesional. Teknik ini juga mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Kelebihannya bagi supervisor, dapat belajar dari pengalamannya dalam
berdialog dengan guru sedangkan guru akan lebih mudah untuk
memperbaiki dan untuk meningkatkan kemampuannya, karena motivasi
untuk belajar dari pengalaman dan bimbingan dari supervisor tumbuh dari
dalam dirinya sendiri.Dan kelemahannya yaitu ada kemungkinan timbul

11

12

sikap manipulasi, yaitu dengan dibuat-buat untuk menonjolkan diri,


padahal waktu-waktu biasa guru tidak berbuat seperti itu.

2. Teknik Observasi Kelas


Melalui perkunjungan kelas, seorang supervisor dapat mengobservasi situasi
belajar mengajar yang sebenarnya. Berikut uraian tentang supervisi teknik
observasi yaitu:
a) Ada dua macam teknik observasi ialah teknik observasi langsung (direct
observation) merupakan teknik observasi dengan menggunakan alat observasi,
supervisor dalam hal ini kepala sekolah mencatat absen yang dilihat pada saat
guru sedang mengajardan teknik observasi tidak langsung merupakan teknik
obseravsi dimana orang yang diobservasi dibatasi oleh ruang kaca dimana siswa
tidak

mengetahuinya,

pembelajaran mikro). b)

(biasanya

dilakukan

dalam

laboratorium

untuk

Tujuan teknik observasi ialah untuk: 1) Untuk

memeperoleh data yang seobyektif mungkin sehingga bahan yang diperoleh dapat
digunakan untuk menganalisis kesulitan-kesulitan yang di hadapi guru-guru dalam
usaha memperbaiki proses pembelajaran, 2) Bagi guru sendiri data yang dianalisis
akan dapat membantu untuk mengubah cara-cara mengajar kearah yang lebih
baik, 3) Bagi siswa sudah tentu akan dapat menimbulkan pengaruh positif
terhadap kemajuan belajar mereka.
c) Apa yang diobservasi, hal yang diobservasi sesuai dengan tujuan yang akan
dicapai maka supervisor harus mengetahui dengan jelas apa yang harus
diobservasi. Hal-hal yang perlu diobservasi antara lain: 1) Usaha serta kegiatan

12

13

guru dan siswa, 2) Usaha dan kegiatan guru dan siswa dalam hubungan dengan
penggunaan alat dan bahan pelajaran, 3) Usaha dan kegiatan guru dan siswa
dalam memperoleh pengalaman belajar, dan 4) Lingkungan sosial, fisik sekolah
baik didalam maupun diluar kelas, dan faktor-faktor penunjang lainnya.
d) Syarat-syarat untuk memperoleh data dalam observasi. Hal ini tergantung dari
sikap dan cara si pengamat itu sendiri ketika mengadakan observasi antar lain:
1) Menciptakan situasi yang wajar (cara masuk kelas), mengambil tempat di
dalam kelas yang tidak menjadi pusat perhatian anak-anak, tidak mencampuri
guru yang sedang mengajar, sikap waktu mencatat tidak akan menimbulkan
prasangka dari pihak guru. 2)Harus dapat membedakan mana yang penting untuk
dicatat dan mana yang kurang penting. 3) Bukan melihat kelemahan, melainkan
melihat bagaimana memperbaikinya. 4 ) Harus diperhatikan kegiatan atau reaksi
siswa tentang proses belajar.
e) Kriteria yang dipakai dalam observasi
Segala sesuatu yang dicatat dan dikumpulkan dalam observasi haruslah:
1) Bersifat objektif yaitu segala sesuatu yang dicatat adalah data yang sebenarnya
tanpa ada pengaruh unsur subjektif dari supervisor, 2) Apa yang dicatat harus
tepat sasaran seperti apa yang dimaksud. Sering terjadi orang mencatat sesuatu
bukan berdasarkan apa yang dilihat tetapi pada apa yang dipikirkannya, dan 3)
Data yang dicatat harus dapat dipercaya.
f) Alat-alat observasi
Untuk memperoleh data tentang situasi belajar mengajar digunakan
beberapa alat yaitu check list adalah suatu alat untuk mengumpulkan data dalam

13

14

melengkapi keterangan-keterangan yang lebih objektif terhadap situasi belajar dan


mengajar yang terjadi didalam kelas.

3.

Teknik percakapan Pribadi (individual conference)


Berikut uraian tentang percakapan pribadi antara lain:

a)

Pengertian teknik percakapan pribadi merupakan percakapan pribadi antara


supervisor dengan seoarang guru tentang proses pembelajaran dalam rangka
memecahkan problema atau masalah yang dihadapi oleh seorang guru.

b)

Tujuan teknik percakapan pribadi ini adalah untuk: 1) Memberikan


kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan
kesulitan yang dihadapi, 2) memupuk dan mengembangkan hal mengajar yang
lebih

baik,

3)

memperbaiki

kelemahan-kelemahan

dan

kekurangan-

kekurangan yang sering dialami oleh seorang guru dalam melaksanakan


tugasnya disekolah, 4) menghilangkan dan menghindari segala prasangka yang
bukan-bukan, misalnya kesan guru diawasi atau dinilai pekerjaannya.

c)

Jenis Jenis percakapan pribadi menurut ahli yaitu:


Menurut George Kyte, dalam sahertian (2000: 74) ada dua jenis

percakapan melalui perkunjungan kelas yaitu 1) percakapan pribadi setelah


perkunjungan kelas (formal) yakni setelah supervisor mengadakan kunjungan
kelas, sewaktu guru kelas melaksanakan tugas mengajar, dimana supervisor
membuat catatan tentang segenap aktivitas guru dalam mengajar. Kemudian atas
kesepakatan bersama-sama akan mengadakan individual conference untuk

14

15

membicarakan hasil kunjungan tersebut, 2) percakapan pribadi melalui


percakapan biasa sehari-hari (informal), hal ini dilakukan oleh kepala sekolah
dalam perbincangan sehari-hari dikemukakan sesuai masalah yang dihadapi oleh
guru.
1

Selain pembagian diatas ada juga pembagian teknik percakapan pribadi

yang dikemukakan Mildred E. Sweringen, dalam Sahertian (2000: 75) yaitu:


(1) classroom-conference merupakan percakapan pada saat siswa-siswa tidak ada
lagi di kelas, misal pada saat siswa-siswa beristirahat, (2) office conference
merupakan percakapan yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang
guru, (3) Casual conference merupakan percakapan yang dilaksanakan secara
kebetulan, yang tidak diharapkan.

B.

Belajar dan Strategi Pembelajaran


1. Belajar
Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah
perilakunya sebagai pengalaman. Gagnie 1984 (dalam Dahar 2001: 11).
Belajar memiliki tiga pokok diantaranya :
-

Belajar merupakan proses mental emosional atau aktifitas perasaan.

Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik yang menyangkut


kognitif, psikomotor, maupun afektif.

Belajar berkat pengalaman, baik pengalaman secara langsung maupun


tidak langsung (melalui media), dengan kata lain belajar terjadi di
dalam interaksi dengan lingkungan (lingkungan fisik dan lingkungan
sosial).

15

16

Belajar akan terjadi secara efektif apabila memperhatikan motivasi


untuk melakukan kegiatan belajar baik motivasi intrinsik maupun motivasi
ekstrinsik, dan aktifitas itu sendiri bila perasaan dan fikiran siswa tidak
terlibat aktif dalam situasi pembelajaran, pada hakikatnya siswa tersebut tidak
belajar, untuk mengatasinya menggunakan metode dan media yang bervariasi
yang dapat merangsang siswa lebih aktif, mengadakan umpan balik didalam
belajar dan mampu menyadarkan siswa pada kesalahan yang diperbuat juga
meningkatkan pemahaman delam pembelajaran. Lingkungan pembelajaran
yang baik ialah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa belajar.
Belajar dengan menggunakan alat peraga biasanya lebih merangsang siswa
dalam belajar lebih giat.
Matematika sebagai suatu sistem dari konsep-konsep, prinsip-prinsip
dan proses-proses yang dapat dimengerti. Tes belajar harus mengungkapkan
kemampuan intelektual siswa dalam melihat antara bilangan, dan kemampuan
untuk menghadapi aritmatika dengan pemahaman yang sempurna antara
aspek matematikanya maupun aspek praktiknya. Menurut Morgan 1986
(dalam Soekanto; 8) "Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap
dan terjadi, sebagai hasil latihan atau pengalaman"
Bruner (dalam Ruseffendi 2003: 177) dalam teori-teorinya bahwa proses
belajar siswa sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda
(alat peraga). Dengan alat peraga, siswa dapat melihat langsung bagaimana
keteraturan serta pola yang terdapat pada benda yang sedang digunakan.
Menurut Bruner (dalam Ruseffendi,

2003:-178) mengemukakan dalam

proses belajar siswa melewati tiga tahap, yaitu : seorang siswa dalam

16

17

melakukan suatu kegiatan, mempunyai kecenderungan untuk bertindak atau


melakukan kegiatan tertentu dan kemudian dia benar melakukan kegiatan
tersebut, maka tindakannya akan melahirkan keputusan bagi dirinya, jika
hubungan stimulus respon sering terjadi akibatnya hubungan akan semakin
kuat. Kenyataan menunjukkan bahwa pengulangan yang akan memberikan
dampak positif adalah pengulangan yang frekuensinya teratur, bentuk
pengulangannya tidak membosankan dan kegiatannya di sajikan dengan cara
yang menarik.
Maka dapat disimpulkan bahwa jika terdapat asosiasi yang kuat antara
pemyataan dan jawaban, maka bahan yang disajikan akan tertanam lebih lama
dalam ingatan siswa (dalam Ruseffendi, 2003: 184).

2. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran yaitu tehnik kegiatan dalam pembelajaran untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran yang maksimal. Dalam penggunaan
strategi pembelajaran ada beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu
tujuan dan bahan pelajaran, alat dan sumber, siswa dan guru.
Pada tujuan dan bahan pelajaran didalam memilih dan menggunakan
strategi pembelajaran berani sekaligus mempertimbangkan faktor materi
dalam implikasinya, pada faktor atau bagian-bagian, dapat digunakan dalam
mengajar konsep baik konsep konkret maupun konsep terdefinisi.
-

Strategi Induktif yang mengelola materi dari yang khusus ke yang umum,
generalisasi atau rumusan. Strategi induktif dapat digunakan dalam
mengajarkan konsep konkret dan konsep terdefinisi.

17

18

b. Atas dasar pihak pengolah pesan, terdiri dari :


-

Strategi Ekspositorik adalah materi diolah oleh guru, siswa tinggal "terima
jadi" dari guru. Strategi ini dapat digunakan dalam berbagai materi
pelajaran, kecuali yang sifatnya pemecahan masalah.

Strategi Heuristik, materi diolah oleh siswa dan guru sebagai fasilitator
yang memberi dorongan, arahan, dan bimbingan. Strategi ini dapat
digunakan untuk mengajarkan berbagai materi termasuk pemecahan
masalah. Dengan strategi Heuristik siswa mampu melakukan suatu
pekerjaan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan membentuk sikap
positif, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, dan terbuka.

c. Atas dasar pertimbangan pengaturan guru, terdiri dari :


-

Strategi seorang guru mengajar kepada sejumah siswa.

Strategi mengajar beregu (team teaching) digunakan dalam satu mata


pelajaran atau sejumlah mata pelajaran yang terpusat kepada suatu
topik tertentu.

d. Atas dasar pertimbangan jumlah siswa, terdiri dari :


-

Strategi klasikal, proses pembelajarannya dilakukan didalam kelas.

Strategi kelompok kecil, dilakukan secara berkelompok didalam kelas.

Strategi

individual,

pembelajarannya

secara

perorangan

dan

memungkinkan siswa lebih cepat maju sesuai dengan kecerdasannya.


e. Atas dasar pertimbangan interaksi guru dan siswa, terdiri dari :
-

Staretgi tatap muka, akan lebih baik dengan menggunakan alat peraga.

Strategi pengajaran melalui media, guru tidak langsung kontak dengan


siswa, tapi guru "mewakili" kepada media, siswa berinteraksi dengan

18

19

media.

C.

Media Pembelajaran
1. Jenis Media Pembelajaran
Jumlah dan jenis media pembelajaran yang ada dewasa ini sangat
banyak dan bervariasi, baik berapa media yang sengaja dirancang khusus
untuk keperluan pembelajaran (by design) maupun yang tidak dirancang
namun dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran (by utilization). Yang
sangat memungkinkan untuk diterapkan secara lebih luas yaitu pemanfaatan
media pembelajaran yang sifatnya sederhana namun relevan dengan tujuan
yang diharapkan.
Media pembelajaran yang sederhana dimaksudkan sebagai jenis-jenis
media yang mudah dibuat, bahan-bahannya mudah diperoleh, sudah
digunakan, serta sederhana meliputi, Jenis media visual terdiri dari :
-

Media gambar (still picture)

Kelompok media grafis

Media model dan realita.

Media sederhana ini sifatnya relatif yaitu tergantung kepada kondisi sekolah
itu sendiri dan pemanfaatannya.
Pemilihan

media

pembelajaran

(sederhana)

pada

hakikatnya

merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh guru untuk


menentukan jenis media mana yang lebih tepat digunakan dan sesuai dengan
tujuan pembelajaran sifat materi yang akan disampaikan, strategi yang
digunakan, serta evaluasinya.

19

20

2. Fungsi Media Pembelajaran


Dalam kahidupan sehari-hari kita sering menggunakan berbagai media
untuk keperluan, begitupun dalam proses pembelajaran, seorang guru pada
saat menyajikan bahan ajar kepada siswa kerap kali menggunakan media agar
informasi/bahan agar tersebut dapat diterima atau diserap dengan baik oleh
para siswa, dan pada akhirnya diharapkan terjadi perubahan perilaku baik
berupa pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), maupun keterampilan
(psikomotor). Pada proses pembelajaran media pembelajaran merupakan
wahana dari pesan/informasi oleh sumber pesan (guru) diteruskan kepada
penerima pesan (siswa), pesan yang disampaikan adalah materi pembelajaran,
dan tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses pembelajaran.
Pada dasarnya siswa belajar melalui yang konkret sesuai dengan
perkembangannya, sedangkan matematika adalah pembelajaran yang abstrak.
Untuk memahami konsep abstrak tersebut, maka siswa memerlukan bendabenda konkret (real) supaya perantara untuk memahami konsep matematika
yang abstrak. Selanjutnya konsep abstrak yang baru dipahaminya itu akan
mengendap, melekat dan tahan lama bila ia belajar melalui perbuatan dan
pengertian, bukan hanya mengingat fakta saja. Maka dalam pembelajaran
matematika penggunaan alat peraga untuk membantu pemahaman konseptual
siswa dalam belajar.
Dalam hal ini alat peraga sangat penting dalam memotivasi siswa agar
lebih semangat dalam belajar. Penggunaan alat peraga harus sesuai dengan
topik pembelajaran dan perkembangan sisvva. Menurut Ruseffendi ( 2001:

20

21

230) alat peraga adalah "alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep
matematika dapat berupa benda nyata juga dapat berupa gambar". Alat peraga
ini mempunyai keuntungan dan kelemahan, keuntungannya adalah dapat
dipindah-pindahkan atau dimanipulasi, sedangkan kelemahannya tidak bisa
disajikan dalam bentuk tulisan atau buku.

D. Penelitian yang Relevan


Berdasarkan hasil penelitian yang relevan dengan penelitian yang
menjadi bahan kajian penulis, maka hasilnya menunjukan bahwa alat peraga
memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Hal ini
dapat dilihat dari hasil penelitian sebagai berikut : Penelitian ini dilaksanakan
di

Kelas III Sekolah Dasar Negeri

_______ Kecamatan _____Kabupaten

_______ dan difokuskan pada penggunaan alat peraga matematika sebanyak 3


putaran. Putaran pertama menggunakan alat peraga batang kuesioner, kedua
menggunakan alat peraga modifikasi batang kuesioner dengan model kartu
domino, dan ketiga menggunakan bangun geometris yang terbuat dari karton.
Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan belajar matematika dari nilai
rata-rata kelas menjadi 6,34 atau meningkat 2,04.
Dengan demikian penggunaan alat peraga dalam penelitian tersebut
cukup efektif, karena dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan hasil
belajar sebesar 47,44 % (Surisman 2000: 106).

21

22

E.

Hipotesis Tindakan Sekolah


Pembelajaran akan berhasil dengan baik jika guru yang mengajar
matematika membuat perencanaan pengejaran melalui serangkaian proses
perbaikan dan perencanaan sebelumnya.
Hipotesis yang disajikan adalah " Ada peningkatan mutu mengajar
guru matematika dan juga ada peningkatan hasil prestasi belajar siswa
terhadap pembinaan konseptual dan pelaksanaan model pembelajaran
Konsep Media Pembelajaran Numeric System

di SDN _____ Kecamatan

____ Kabupaten _____Propinsi _____..

22

23

BAB III
METODE PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

A. Lokasi Penelitian Tindakan Sekolah


Penelitian Tindakan Sekolah ini berlokasi di SDN _____ Kecamatan
____

Kabupaten _____Propinsi _____, yang ditujukan pada semua guru

yang ada di lokasi penelitian. Adapun alasan utamanya adalah dari hasil
pengamatan dan informasi dari guru, bahwa hampir semua guru jarang dan
bahkan tidak pernah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber
belajar.

B. Perencanaan Tindakan Sekolah


Bentuk tindakan dalam penelitian ini berupa supervisi (bimbingan
kelompok) kepada guru-guru melalui rapat guru di ruang guru, agar mampu
menyusun skenario pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran
Media Pembelajaran Numeric System

Konsep

secara efektif. Secara rinci bentuk

tindakan dalam penelitian ini adalah :


1. Menyampaikan informasi tentang pemanfaatan
Media Pembelajaran Numeric System

pembelajaran Konsep

sebagai

metode mengajar

matematika.
2. Membimbing
berkaitan

guru

dalam menyusun

dengan pemanfaatan

skenario

pembelajaran

pembelajaran

yang

Konsep Media

Pembelajaran Numeric System sebagai metode mengajar matematika.

23

24

Prosedur penelitian yang dilakukan adalah menggunakan model


penelitian tindakan sekolah yang dikembangkan oleh Kemmis & Taggart
(2000), dimana pada prinsipnya ada empat tahap kegiatan yaitu,
perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi
dan evaluasi proses tindakan (observation and evaluation) dan melakukan
refleksi (reflecting).
.

Alur penelitian secara keseluruhan dapat digambarkan sebagai berikut :

putaran I

putaran II

Perencanaan

Perencanaan

Tindakan

Tindakan

Observasi

Observasi

Refleksi

Refleksi

Gambar 0.1. Alur Penelitian

24

25

Secara rinci prosedur tindakan yang dilakukan adalah :


1. Membagi guru dalam dua kelompok kecil.
2. Peneliti memberi penjelasan tentang pemanfaatan lingkungan sekolah
sebagai sumber belajar.
3.

Guru

menyusun

skenario

pembelajaran

dengan

memanfaakan

lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dalam diskusi kelompok.


4. Peneliti membimbing kelompok guru dalam menyusun skenario
pembelajaran.
5. Wakil kelompok guru mempresentasikan skenario pembelajaran.
6. Peneliti memberi masukan terhadap skenario pembelajaran yang telah
dibuat kelompok guru.
7. Guru melaksanakan skenario pembelajaran dalam proses pembelajaran
yang sebenarnya.
8. Peneliti mengevaluasi kemampuan guru dalam mengimplementasikan
skenario pembelajaran.
9. Dalam kelompok diskusi guru berbagi pengalaman terkait dengan
pelaksanaan pembelajaran yang memanfaakan lingkungan sekolah
sebagai sumber belajar.
10. Target yang diharapkan:
a. Guru

mampu

membuat

skenario pembelajaran

dengan

memanfaakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.


b. Guru mampu melaksanakan pembelajaran dengan memanfaakan
lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.
c. Guru mampu berdiskusi secara aktif dan kreatif,dan mampu

25

26

memanfaatkan

diskusi kelompok kerja guru secara efektif dan

efesien dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kegiatan


pembelajaran.

C. Pelaksanaan Tindakan Sekolah


1. putaran I
a. Perencanaan Penelitian.
Kegiatan penelitian ini direncanakan berlangsung selama dua
siklus,mulai bulan
_____ s/d bulan

_____ di

SDN

_____ Kecamatan ____

Kabupaten _____Propinsi _____, pada jam sekolah 07.30-12.50.


Perencanaan penelitian meliputi:
1). Pertemuan

dengan

Kepala

Sekolah

dan guru - guru,

menginformasikan tentang pelaksanaan penelitian .


2). Peneliti

menyiapkan

skenario diskusi kelompok yang akan

dilaksanakan selama proses tindakan.


3). Peneliti menyiapkan instrumen penelitian ( lembar observasi, lembar
penilaian kemampuan guru).

b. Pelaksanaan Penelitian.
Pada tahap pelaksanaan merupakan tahap inti dimana pelaksanaan
diskusi antar guru berlangsung dengan langkah-langkah berikut.

26

27

1). Pertemuan I
a). Peneliti selaku pengawas sekolah memberi arahan umum
pemanfaatan pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric
System sebagai implementasi pembelajaran inovatif

2). Pertemuan II
a). Guru melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan
pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric System
sebagai

implementasi pembelajaran inovatif

sesuai skenario

pembelajaran yang dimiliki.


b). Peneliti melakukan penilaian pada guru terkait dengan implementasi
pembelajaran sesuai skenario yang dibuat.

3). Pertemuan III


a). Kelompok kerja guru melakukan diskusi tentang kendala-kendala
pelaksanakan
Pembelajaran

pemanfaatan
Numeric

System

pembelajaran
sebagai

Konsep

Media

implementasi

pembelajaran inovatif.
b). Peneliti melakukan bimbingan dalam kelompok, terkait dengan
pembelajaran yang diterapkan guru. dan merevisi

skenario

pembelajaran sehingga menghasilkan skenario pembelajaran yang


sesuai dengan pakem.

27

28

c. Observasi dan Evaluasi


Kegiatan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan
tindakan yaitu pada saat diskusi antar guru baik pada pertemuan I, II dan
III.

Tahap

observasi

bertujuan

untuk

mengetahui

kerjasama

,kreativitas,perhatian, maupun presentasi yang dilakukan guru dalam


menyusun

skenario

pembelajaran

maupun

dalam

melaksanakan

pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber


belajar.

Pelaksanaan observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi:


Tabel : Format Observasi
Jumlah

Aspek yang diobservasi


NO

Nama Guru

Skor
Mak.100

Kerjasama Aktivitas Perhatian Presentasi


(1- 10 ) (1 40) (1 20) (1- 30)

Adapun skala penilaian yang digunakan adalah skala Likert dengan 5


katagori sikap yaitu:sangat tinggi, tinggi, rendah, sedang dan sangat rendah.
Penilaian dilakukan dengan memberi skor pada kolom yang tesedia dengan

28

29

ketentuan sebagai berikut : skor 5 = sangat tinggi, skor 4 = tinggi, skor 3 =


sedang, skor 2 = rendah, dan skor 1 = sangat rendah. Untuk mendapatkan nilai
digunakan Error: Reference source not found
Setelah diperoleh nilai,maka nilai tersebut ditransfer ke dalam bentuk
kualitatif untuk memberikan komentar bagaimana kualitas sikap guru yang
diamati dalam diskusi KKG, penyusunan skenario

pembelajaran dan

penilaian pelaksanaan pembelajaran dengan kriteria penilaian acuan patokan


skala lima sebagai berikut:
Tabel. 3. 2. Kreteria Penilaian Acuan Patokan Skala Lima
N

Rentang Nilai

1
2
3
4
5
Sutrisno Hadi (2000).

90 100
80 89
65 79
55 64
0 - 54

Kreteria

A=Baik Sekali
B=Baik
C=Cukup
D=Kurang
E=Sangat kurang

Tahap evaluasi dilakukan pada akhir tindakan yang bertujan untuk


mengetahui tingkat kemampuan guru dalam memanfaatkan pembelajaran
Konsep Media Pembelajaran Numeric System

sebagai

implementasi

pembelajaran inovatif.
Pelaksanaaan evaluasi dilakukan dengan menggunakan lembar
penilaian skenario pembelajaran dan lembar penilaian pelaksanaan
pembelajaran sebagai berikut:
Tabel. Format Penilaian Skenario Pembelajaran
NO

Nama Guru

Aspek yang dinilai


1
2
3
4

Jumlah
Skor
(1-5)

29

30

Keterangan :
1. Skenario pembelajaran sekurang-kurangnya memuat standar kompetensi,
kompotensi dasar, indikator, materi pelajaran, alat/media, sumber belajar
dan penilaian.
2. Kesesuaian

antara

materi

pelajaran

dengan media dan setrategi

pembelajaran
3. Kaitan antara materi pelajaran dengan pemilihan sumber belajar
4. Kesesuaian antara tujuan pembelajaran dengan sumber bahan dan
penilaian.

30

31

Tabel. : Format Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran


Jumlah
Skor
(1-5)

Aspek yang dinilai

NO

Nama Guru

Keterangan :
1. Kegiatan pendahuluan ( apersepsi dan motivasi )
2. Kegiatan inti pelaksanaan pembelajaran secara keseluruhan
3. Kemampuan guru mengkaitkan materi pelajaran dengan lingkungan
sekolah.
4. Kemampuan guru memberi contoh-contoh riil yang ada di lingkuan
sekolah.
5. Kemampaun membuat evaluasi berkaitan dengan pemanfaatan
pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric System sebagai
implementasi pembelajaran inovatif.
6. Penutup pelajaran (memberi penguatan, memberi PR tentang pemanfaatan
lingkungan sekolah.)

d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi selama berlangsungnya kegiatan dan
hasil evaluasi pada akhir pertemuan siklus dilakukan refleksi. Hasil refleksi
ini dijadikan acuan untuk merencanakan penyempurnaan dan perbaikan

31

32

siklus berikutnya. Semua tahap kegiatan tersebut mulai dari tahap


perencanaan, pelaksanaan maupun observasi dan evaluasi dilakukan secara
berulang-ulang melalui siklussiklus sampai ada peningkatan sesuai yang
diharapkan yaitu mencapai angka katagoribaik dengan rentang skor 80 89. Jika skor yang diperoleh kurang dari 80-89,berarti belum memenuhi
target yang ditetapkan, maka perlu bimbingan pada siklus II

2. putaran II
a. Perencanaan Penelitian.
Pada tahap ini direncanakan supervisi (pembinaan) dengan
menggunakan tehnik

diskusi

kelompok

kerja

guru,

tentang

pemanfaatan pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric System


sebagai implementasi pembelajaran inovatif oleh guru kelas maupun
guru bidang studi di

SDN

________ Kecamatan

________

Kabupaten ________Tahun Pelajaran ___/___ yang belum mencapai


hasil optimal dalam siklus I.
Berdasarkan hasil observasi dan refleksi siklus I,dilakukan
perbaikan terhadap strategi dan penyempurnaan pelaksanaan bimbingan
di siklus II.

32

33

b. Pelaksanaan Penelitian.
Pada prinsipnya langkah-langkah pelaksanaan tindakan pada siklus
I
diulang pada siklus II dengan memodifikasi dan perbaikan-perbaikan
berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
Kegiatan pada siklus II terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan dengan
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1). Pertemuan I
a). Melalui

kelompok

kerja,

permasalahan-permasalan

guru
atau

mendiskusikan
hambatan

tentang

memanfaatkan

pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric System


sebagai

implementasi pembelajaran inovatif,dalam menyusun

skenario pembelajaran yang selanjutnya dicarikan pemecahannya.


Kegiatan ini dibantu oleh guru yang dianggap

sudah cukup

mampu dalam hal tersebut..


b). Guru mempresentasikan dan mensimulasikan hasil diskusi
kelompoknya.
c). Guru merevisi dan menyempurnakan
dengan

mengoptimalkan

skenario pembelajaran

pemanfaatan pembelajaran Konsep

Media Pembelajaran Numeric System

sebagai

implementasi

pembelajaran inovatif.
2). Pertemuan II
a). Guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas

dengan

menggunakan skenario pembelajaran yang sudah direvisi.

33

34

b). Guru mendiskusikan dan menyempurnakan skenario pembelajaran


yang lengkap dengan pemanfaatan pembelajaran Konsep Media
Pembelajaran Numeric System

sebagai

implementasi

pembelajaran inovatif.
c). Guru mencatat kekurangan pembelajaran yang perlu diperbaiki
dan disempurnakan.

c. Observasi dan Evaluasi.


Observasi dilakukan peneliti saat guru berdiskusi tentang masalah
atau hambatan dan pemecahannya dalam kegiatan kelompok kerja
guru baik secara individu maupun kelompok.Observasi terhadap aspek
sikap guru dilakukan dengan menggunakan format observasi yang sama
dengan format observasi yang digunakan pada siklus I.
Evaluasi dilakukan pada akhir pertemuan siklus II, dengan
menggunakan format penilaian yang sama dengan format penilaian yang
digunakan pada siklus I. Adapun aspek yang dinilai, serta cara menilai
juga sama dengan penilaian pada siklus I
.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi selama berlangsungnya kegiatan dan
hasil evaluasi pada akhir pertemuan siklus II, maka dilanjutkan dengan
mengadakan refleksi terhadap kegiatan dan hasil kegiatan yang sudah
berlangsung.

34

35

BAB IV
HASIL P T S DAN PEMBAHASANNYA

A. Hasil Tindakan
1. putaran I
Berdasarkan pengamatan awal di SDN _____ Kecamatan ____
Kabupaten _____Propinsi _____, semua guru kelas dan guru bidang studi
jarang dan bahkan tidak pernah
Media

Pembelajaran

Numeric

pemanfaatan pembelajaran Konsep


System

sebagai

implementasi

pembelajaran inovatif, hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman dan


kemampuan guru untuk

.Selama ini guru lebih banyak menggunakan

buku paket dan alat peraga yang dimiliki sekolah sebagai sumber belajar
untuk melengkapi kegiatan pembelajaran di kelas. Demikian pula kegiatan
pembelajaran di luar kelas sangat jarang dan bahkan tidak pernah
dilakukan dengan alasan tidak cukup waktu, masalah keamanan dan
keselamatan siswa.Hal ini sudah tentu kurang sesuai dengan pembelajaran
yang menggunakan pendekatan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan (Pakem) yang harus dilaksanakan dalam penterapan
kurikulum (KBK). Kegiatan dalam siklus I ini, diawali dengan kegiatan
diskusi kelompok kerja guru (KKG) tentang permasalahan yang dihadapi
dalam

pemanfaatan

lingkungan

sekolah

sebagai

sumber

belajar,

dilanjutkan dengan informasi tentang pemanfaatan pembelajaran Konsep


Media Pembelajaran Numeric System

sebagai

implementasi

35

36

pembelajaran inovatif

bagi siswa dan implementasinya dalam proses

belajar mengajar. Saat guru berdiskusi dalam kelompok kerja guru (KKG)
di lingkungan internal SDN _______ pada siklus I, peneliti mengadakan
observasi tentang sikap guru dalam berdiskusi yang hasilnya sebagai
berikut :

Tabel. 4.1.1. Data Hasil Observasi


Nama Guru

Aspek yang diobservasi

No
1
2
3
4
5
6
7
8

Kerjasama

(Sampel Responden)
A
B
C
D
E
F
G
H

Kata

Aktivitas

Perhatian

Presentasi

(1- 10)

(1 40)

(1 20)

(1- 30)

Gori

6
8
5
8
6
8
7
8

25
17
23
30
28
33
29
30

15
16
15
15
16
16
18
14

27
26
27
27
26
22
23
25

C
B
C
B
C
B
C
B

Penilaian terhadap pemahaman guru terhadap pembelajaran Konsep


Media Pembelajaran Numeric System

sebagai

implementasi

pembelajaran inovatif dalam bentuk program perencanaan pelaksanaan


pembelajaran (RPP) yang disusum guru dalam siklus I,didapatkan hasil
sebagai berikut :

Tabel.4.1.2. Data Hasil Penilaian Skenario Pembelajaran


No
1
2

Jumlah
Jumlah NilaiKatagori
Skor

Aspek yang dinilai

Nama Guru
(Sampel Responden)

A
B

4
5

4
4

4
4

5
3

17
16

85
80

B
B

36

37

3
4
5
6
7
8

C
D
E
F
G
H
Jumlah
Rata-rata

5
4
4
4
4
5
34

4
4
4
4
3
4
31

3
4
3
3
3
3
28

5
5
4
4
3
4
33

17
17
15
15
13
16
126

85
85
75
75
65
80
630

B
B
C
C
C
B

4.25

3.88

3.50

4.13

15.75

78.75

Sedangkan penilaian implementasi pemanfaatan pembelajaran


Konsep Media Pembelajaran Numeric System

sebagai implementasi

pembelajaran inovatif dalam kegiatan pembelajaran di kelas pada siklus I


didapatkan hasil sebagai berikut :

37

38

Tabel. . Data Hasil Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nama Guru
A
B
C
D
E
F
G
H
Jumlah
Rata-rata

Jumlah Jumlah Katagor


i
Skor
Nilai

Aspek yang dinilai


1

26

86.67

22

73.33

27

90.00

22

73.33

21

70.00

26

86.67

20

66.66

24

80.00

34

28

32

32

30

32

188

626.67

4.25

3.5

3.75

23.5

78.33

B
C
A
C
C
B
C
B
C

Data penelitian tindakan sekolah yang diperoleh dari hasil


observasi sikap guru dalam kegiatan diskusi kelompok kerja guru tentang
pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar pada siklus
I,hasilnya termasuk katagori kurang cukup dengan rata-rata nilai 64,7.
Hal ini menunjukkan bahwa guru dalam berdiskusi belum menampakkan
kerjasama,aktivitas dan perhatian yang baik terhadap permasalahan
pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar ,sehingga
diperlukan bimbingan yang lebih intensif.
Penilaian implementasi

pemanfaatan pembelajaran Konsep

Media Pembelajaran Numeric System


pembelajaran inovatif

sebagai

implementasi

dalam kegiatan pembelajaran di kelas,hasilnya

termasuk katagori kurang. Hal ini menunjukkan bahwa guru dalam


mengimplementasikan pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber

38

39

belajar melalui kegiatan pembelajaran di kelas belum optimal,sehingga


perlu peningkatan.
Dengan adanya hasil observasi dan penilaian pada kegiatan siklus I
maka peneliti melakukan refleksi. Dari refleksi terhadap seluruh kegiatan
pada siklus I, maka ditemukan beberapa hambatan yang mengakibatkan
belum optimalnya kemampuan guru pemanfaatan pembelajaran Konsep
Media Pembelajaran Numeric System sebagai implementasi pembelajaran
inovatif.
Adapun hambatan-hambatan tersebut, antara lain guru belum
sepenuhnya memahami

pemanfaatan pembelajaran Konsep Media

Pembelajaran Numeric System

sebagai

implementasi pembelajaran

inovatif, dan guru dalam memilih sumber belajar dan memilih strategi
pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah belum sesuai
dengan yang diharapkan. Hal ini terlihat dalam skenario pembelajaran
guru pada: aspek 1. jenis sumber belajar dari lingkungan sekolah tidak
tercantum, padahal materi pelajaran ada kaitannya dengan lingkungan
sekolah;. aspek 2. Kesesuaian antara materi pelajaran dengan media dan
setrategi pembelajaran masih kurang; aspek 4. Kesesuaian antara tujuan
pembelajaran dengan sumber bahan,lebih banyak hanya mencantumkan
buku paket sebagai satu-satunya sumber belajar.
Dari hasil refleksi pelaksanaan pembelajaran di kelas, hambatanhambatan yang ditemukan adalah sebagai berikut : aspek 1.dalam kegiatan
awal, guru tidak memberi informasi tujuan pembelajaran dan waktunya
belum sesuai dengan perencanaan; aspek 2. kegiatan

inti,

langkah -

39

40

langkah

pembelajaran

didominasi guru dengan metode ceramah

sehingga kurang sesuai dengan pembelajaran aktif, kreatif, efektip dan


menyenangkan (Pakem) ; aspek 3. Kemampuan guru mengkaitkan materi
pelajaran dengan lingkungan sekolah belum optimal; aspek 6. Penutup
pelajaran, guru kurang memberi penekanan tentang lingkungan sekolah.
Hambatan-hambatan tersebut akan disempurnakan pada kegiatan siklus II.

2. putaran II.
Pada siklus II, kegiatan yang dilaksanakan adalah mendiskusikan
hambatan-

hambatan

yang

dialami

dalam

menyusun

skenario

pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran di kelas pada siklus I melalui


kegiatan kelompok kerja guru secara internal di lingkungan sekolah SDN
_______sendiri. Adapun secara rinci uraian kegiatannya sebagai berikut :
Dalam penyusunan skenario pembelajaran khususnya pada aspek 1,
2 dan 4 guru melakukan revisi, dipandu oleh guru yang sudah mampu,
dengan bimbingan peneliti / pengawas sekolah. Dalam pelaksanaan
pembelajaran di kelas, terkait dengan hambatan pada aspek 1. kegiatan
awal, aspek 2. kegiatan inti, aspek
materi pelajaran dengan

3. kemampuan guru mengkaitkan

kemanfaatan terutama pada kemampuan

matematis, dan aspek 6. penutup pelajaran, maka guru mendiskusikan


kembali hambatan tersebut dalam kelompok kerja guru secara internal
dibimbing pengawas/peneliti. Sebelum pelaksanaan pembelajaran di kelas,
terlebih dahulu dilakukan secara simulasi atau modeling dengan
menggunakan anggota kelompok guru sebagai siswa.

40

41

Sebagaimana kegiatan peneliti pada siklus I, maka kegiatan pada


siklus keduapun dilakukan observasi, evaluasi dan penilaian. Hasil
observasi terhadap sikap guru dalam berdiskusi pada siklus II dapat
disajikan sebagai berikut :

Tabel. : Data Hasil Observasi Supervisi Pendidikan


No
1
2
3
4
5
6
7
8

Aspek yang diobservasi


Nama Guru
Kerjasama Aktivitas
Perhatian Presentasi
(Sampel Responden) (1- 10) (1 40) (1 20) (1- 30)
A
8
35
15
28
B
8
33
16
26
C
8
38
18
28
D
8
35
15
27
E
8
32
16
26
F
8
33
16
26
G
8
36
15
27
H
8
34
14
26

Jumlah
Skor
Mak.100

Kata
Gori

86
83
92
85
82
83
86
82

B
B
A
B
B
B
B
B

Hasil penilaian terhadap skenario pemanfaatan pembelajaran


Konsep Media Pembelajaran Numeric System
pembelajaran inovatif

sebagai

implementasi

dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran

(RPP) dapat disajikan sebagai berikut :

Tabel.4.2.2. Data Hasil Penilaian Skenario Pembelajaran


No
1
2

Aspek yang dinilai

Nama Guru
(Sampel Responden)
A
B

Jumlah
Skor

Jumlah
Nilai

17

85

17

85

17

85

17

85

16

80

Katagori

B
B
B
B
B

41

42

16

80

16

80

16

80

B
B
B

Hasil penilaian terhadap pelaksanaan pembelajaran Konsep Media


Pembelajaran Numeric System sebagai implementasi pembelajaran
inovatif dapat disajikan sebagai berikut:

Tabel.4.2.3. Data Hasil Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran


No

Nama Guru

A
B
C
D
E
F
G
H

2
3
4
5
6
7
8

Aspek yang dinilai


1

5
4
5
4
4
5
4
4

4
4
4
3
4
4
4
4

5
4
4
4
4
4
4
4

4
4
5
4
4
4
4
4

4
4
4
4
4
4
4
4

4
4
5
4
4
5
4
4

Jumlah
Skor

26
24
27
23
24
26
24
24

Jumlah Katago
ri
Nilai

86.67
80.00
90.00
76.67
80.00
86.67
73.33
80.00

B
B
A
C
B
B
C
B

Data yang diperoleh dari observasi sikap guru pada siklus II, setelah
dianalisis ada peningkatan kearah perbaikan yaitu berada pada katagori
baik, dengan rata-rata nilai 84.88. Sedangkan untuk penilaian skenario
pembelajaran dan penilaian

pelaksanaan pembelajaran, masing-masing

juga ada peningkatan yang ke arah yang lebih baik yaitu: untuk skenario
pembelajaran berada pada katagori baik dengan nilai rata-rata 82.50,
dan untuk penilaian pelaksanaan pembelajaran di kelas berada pada
katagori baik dengan nilai rata-rata 82.08. Dengan melihat hasil pada
siklus II, maka refleksi terhadap hasil yang diperoleh peneliti pada siklus

42

43

II ini adalah adanya peningkatan kemampuan guru atas pemanfaatan


pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric System

sebagai

implementasi pembelajaran inovatif. Hal ini dibuktikan dengan nilai ratarata yang diperoleh dalam memprogramkan pembelajaran serta dalam
implementasinya di kelas yang sudah menunjukkan adanya peningkatan
kemampuan guru untuk

pelaksanaan pembelajaran Konsep Media

Pembelajaran Numeric System


inovatif

sebagai

implementasi pembelajaran

yang lebih baik.Sedangkan dari jumlah guru ,75% sudah

mencapai kriteria yang ditetapkan.

B. Pembahasan Atas Hasil Tindakan Supervisi


. Dari 8 orang guru yang terlibat, 5 orang guru sudah mendapat skor
dengan katagori baik sedangkan 3 orang dengan katagori cukup.Oleh
karena itu dilanjutkan dengan tindakan siklus II yang hasilnya secara umum
ada peningkatan ke arah yang lebih baik yaitu 75% guru sudah mendapatkan
katagori baik dengan skor rata-rata 80 89.Hal ini sudah sesuai dengan
kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Secara rinci perolehan nilai rata-rata
peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan pembelajaran Konsep
Media Pembelajaran Numeric System

sebagai implementasi pembelajaran

inovatif yaitu nilai rata-rata observasi hasil kegiatan diskusi 79,38 di siklus I
menjadi 84,88 di siklus II ada peningkatan 5,5. kegiatan penyusunan skenario
pembelajaran nilai rata-rata 78,75 di siklus I menjadi 82,50 di siklus II ada
peningkatan 3,75, kegiatan pembelajaran atau dalam proses belajar mengajar
nilai rata-rata 78,33 di sklus I menjadi 82,08 di siklus II, ada peningkatan 3,75.

43

44

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang kegiatan pembelajaran matematika di
SDN _________ Kecamatan ________

Kabupaten_________ Propinsi

__________, guru dalam mengajar sehari-hari cenderung mengajar langsung


secara prosedural tanpa memperhatikan prosesnya. Sehingga timbul
permasalahan siswa kurang memahami konsep yang diajarkan. Keadaan
tersebut menunjukan bahwa guru menerangkan materi secara abstrak. Hal itu
bertentangan dengan perkembangan kognitif siswa, dimana siswa memerlukan
bantuan benda konkret untuk memahami suatu konsep.
Berdasarkan permasalahan dan kesulitan siswa merupakan masalah
yang perlu dipecahkan, sehingga diadakan penelitian mengenai strategi

44

45

peningkatan pemahaman konsep pecahan dengan 3 menggunakan Numeric


System .
Salah satu strategi untuk menanamkan menciptakan suasana kelas yang
efektik maka pemanfaatan pembelajaran Konsep Media Pembelajaran
Numeric System

sebagai implementasi pembelajaran inovatif

menjadi pembelajaran yang

haruslah

tepat untuk mengatasi kendala pengajara

matematika oleh guru di kelas.


Dengan demikian penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi ajar matematika dengan menggunakan
pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric System

sebagai

implementasi pembelajaran inovatif. Dalam penelitian ini dilakukan tindakantindakan, setelah melakukan tindakan hasilnya dianalisis dan di refleksi,
kemudian pembahasan data yang hasilnya disimpulkan sebagai berikut :
1. Dengan pemanfaatan pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric
System

sebagai implementasi pembelajaran inovatif, siswa termotivasi

dan semangat dalam belajar matematika


2. Dengan pemanfaatan pembelajaran Konsep Media Pembelajaran Numeric
System sebagai implementasi pembelajaran inovatif guru dapat mengajar
matematika dengan metode yang tepat guna dan memenuhi standart target
peningkatan prestasi belajar

B. Saran
Saran-saran yang ingin disampaikan yang berhubungan dengan
penelitian ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang

45

46

terlibat dalam peningkatan kualitas pendidikan.


1. Bagi Guru Matematika
Guru matematika agar dapat mempertimbangkan perkembangan
anak sebagai acuan strategi pembelajaran dan memanfaatkan sekolah
sebagai sumber belajar, dan guru dapat meningkatkan efektifitas
pembelajaran matematika dimana guru lebih selektif dalam memilih model
pengajaran yang sesuai dengan materi pelajaran yang akan disampaikan
sehingga akan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan penerapan.

2. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan evaluasi dan instrospeksi oleh
guru maupun kepala sekolah mengenai kegiatan pembajaran yang telah
dilakukan. Hasil penelitan ini diharapkan dapat memberi masukan kepada
guru-guru SD khususnya guru kelas III tentang pengajaran matematika
untuk

memperbaiki

kekurangan

yang

ada

dalam

kegiatan

dan

pembelajaran dan memberikan suatu masukan atau gagasan untuk


peningkatan kearah yang lebih baik.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


Kepada penelitian selanjutnya agar penelitian yang telah dilakukan
dapat ditindak lanjuti karena penelitian ini hanya membatasi pada
peningkatan hasil belajar siswa, diharapkan untuk penelitian selanjutnya
akan lebih meningkat dan menambah wawasan yang lebih baik juga

46

47

bermanfaan bagi peneliti selanjutnya.

47

48

DAFTAR PUSTAKA

Dahar. ( 2003). Teori-teori Belajar. Bandung : Erlangga


..........( 2003). Teori-teori Belajar. Bandung : Erlangga
Depdiknas. ( 2004). Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar di Sekolah
Dasar. Jakarta : Direktorat Pendidikan Dasar
________. ( 2005). Kurikulum 1994, Sekolah Dasar GPBB Mata Pelajaran
Matematika. Jakarta : Depdikbud
Djadia Djadjuri. ( 2003). Hakikat Strategi Belajar Mengajar. Bandung :
Universitas Terbuka
James W. Heddens. ( 1999). Today Mathematics.
Karso. Dkk, ( 2004). Pendidikan Matematika l. Jakarta 1998 : Universitas
Terbuka
..................(1998). Pendidikan Matematika I/. Jakarta : 1998 : Unversitas Terbuka
Kennedy and Tipps. (1994). Guilding Children's Learning of Mathematics.
Belmont, CA : Wadsworth
Moloeng. J. Lexy. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja
Rosda Karya
Musser and Burger. (1991). Mathematics for Elementary Teachers. New York :
Macmilan PC
Ruseffendi ( 2003), Pendidikan Matematika III. Jakarta : Depdikbud.
Pendidikan Matematika III. Jakarta : Depdikbud.

(1995),

...............(1998). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan


Kompetensi Sedalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan
CBSA. Bandung : Tarsito
Semiawan. Dkk. (1986). Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta : Gramedia
Soedarsono. (1997). Tujuan dan kegunaan Penelitian Tindakan. Makalah disajikan
dalam seminar Penelitian Tindakan. USD Yogyakarta 1995

48

49

Soekamto. (1986). Toeri Belajar dan Model-model Pembelajaran. Depdikbud


1997
Soetawijaya. Dkk. (1991/1992). Pendidikan Matekatika II. Jakarta 1993 :
Depdikbud
Suyanto. (1997). Pedoman Pelaksanaan PTK. IKIP Yogyakarta 1996/1997
Udin. S. Dkk. Strategi Belajar Mengajar. Depdikbud 1997. Universitas Terbuka
Yayuk, Himawati, 2005, Manipulatif Material Sebagai Produk Konsep
pembelajaran Matematika Dasar, CV. Karya Bangsa, Medan (Sumut)

49

50

Lampiran I

PEDOMAN OBSERVASI
Hari/Tanggal :
Waktu

: ................................

Observasi Kegiatan Guru


NO
1

ASPEK YANG DIOBSERVASI


Cara Guru Membuka Pelajaran

DESKRIPSI

1. Membangkitkan motivasi siswa


2. Menyampaikan tujuan
2

3. Apersepsi
a. Cara
guru

mengungkapkan-

pengetahuan awal siswa


b. Jenis-jenis pertanyaan guru
c. Melibatkan siswa dalam
pembelajaran
d. Memberikan bimbingan terhadap
siswa
e. Keefektifan dalam menggunakan
3

waktu
Cara melakukan evaluasi akhir

50

51

Lampiran II

Bagan Penelitian Tindakan Sekolah


Konsep Model Pembelajaran Numeric System

51

52

Lampiran III

Daftar Hadir Guru (Responden)


Selama Penelitian Berlangsung

Aspek Kegiatan PTS

: __________________________

Tanggal Kegiatan

: __________________________

Tempat Kegiatan

: __________________________

No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nama SP

Uraian Kegiatan

TTD

_______, _______________

Pe ne l i t i

Lampiran IV

Buatlah Daftar Hadir Siswa pilihan di SDN ___

52

53

Berjumlah 20 siswa sebagai Responden Dalam Penelitian

Lampiran V

Buatlah Surat Idzin Penyelenggaraan Kegiatan PTS yang disahkan

53

54

oleh UPT Disdik Kecamatan ________ Kabupaten _____

Lampiran VI

FOTO-FOTO KEGIATAN PTS DALAM PEMBINAAN

54

55

KONSEP PEMBELAJARAN NUMERIC SYSTEM

55

56

56

57

57

58

58

59

59