Anda di halaman 1dari 4

WORKSHOP MITIGASI BENCANA GEOLOGI

Sabtu, 23 Januari 2016


Aula Musem Geologi

Kondisi geologi Indonesia membuat Negara kita memiliki potensi sumber daya energi yang
melimpah serta daerah wisata yang menakjubkan. Namun dibalik itu semua, geologi Indonesia
juga menyimpan potensi bencana yang harus kita waspadai.
Secara geologi Indonesia berada diantara tiga lempeng besar dunia, yaitu Lempeng Eurasia,
Lempeng Pasifik dan Lempeng Australia. Hal ini menyebabkan banyak gempa bumi terjadi di
tanah air kita ini. Indonesia juga termasuk kedalam jalur Ring of Fire, sehingga 129 gunungapi
aktif di Indonesia membentang dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa tenggara hingga Maluku.
Selain itu masih ada bencana banjir, longsor, dan tsunami yang setiap saat dapat terjadi.
Hal inilah yang melatarbelakangi Planet Sains serta Badan Geologi untuk menyelenggarakan
workshop mitigasi bencana geologi bagi guru-guru SD, SMP dan SMA di Bandung dan
sekitarnya. Bandung memiliki potensi bencana yang harus di waspadai, seperti gempa bumi yang
sewaktu-waktu dapat di sebabkan oleh aktifnya sesar lembang, letusan gunungapi tangkuban
perahu, banjir yang sering melanda bandung
bagian selatan dan bencana lainnya. Pengetahuan
akan bencana geologi dan mitigasi perlu dimiliki
oleh para guru sehingga dapat disampaikan kepada
para muridnya sebagai pencerdasan sejak dini.
Workshop

mitigasi

bencana

geologi

ini

diselenggarakan pada hari sabtu, 23 Januari 2016,


di Aula Museum Geologi. Acara dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi penyampaian materi oleh Dr.
Ir. Igan S. Sutawidjaja, MSc. dan Ir. Hari Utomo serta sesi workshop eksperimen detektor
bencana banjir.

Peserta sangat antusias mengikuti workshop ini.


Pak

Igan,

pemateri

dari

Badan

Geologi,

menyampaikan tentang bahaya gunungapi diawal


presentasinya. Pak Igan menjelaskan bahwa
gunungapi terbentuk akibat dari tumbukan antar
lempeng, dimana lempeng samudra menunjam
dibawah lempeng benua. Akibat gesekan antar
lempeng tersebut terjadi peleburan batuan sehingga membentuk larutan pijar yang disebut
magma. Tempat keluarnya magma tersebutlah yang disebut gunungapi. Tentu pengetahuan ini
merupakan hal yang baru bagi para peserta.
Kemudian dijelaskan pula bahaya gunungapi yang dapat berpengaruh bagi kehidupan kita.
Bahaya gunungapi antara aliran lava, awan panas, hujan abu, lahar, ataupun gas vulkanik yang
beracun. Lava merupakan cairan magma yang telah keluar ke permukaan dari gunungapi.
Temperatur lava dapat mencapai 8000C sehingga dapat membakar apapun yang dilewatinya.
Awan panas atau sering disebut wedhus gembel juga menjadi ancaman bagi penduduk di sekitar
gunungapi karena memiliki temperatur yang tinggi serta bergerak dengan kecepatan mencapi
ratusan kilometer per jam.
Oleh karena itu usaha mitigasi perlu dilakukan. Pak Igan menjelaskan upaya mitigasi bahaya
gunungapi telah dilakukan oleh PMVBG. Setiap gunungapi memiliki stasiun pengamatan. Ketika
aktifitasnya meningkat maka akan ada pemberitahuan pada manyarakat untuk segera mengungsi.
Sehingga masyarakat dapat dipindahkan ke daerah yang lebih aman.
Itulah salah satu materi yang disampaikan oleh Pak Igan. Kemudian pemateri kedua, Pak Hari
dari Planet Sains, menyampaikan tentang pentingnya kesadaran mitigasi bencana alam melalui
eksperimen sains. Pak Hari menyebutkan pentingnya mitigasi bencana alam antara lain :

Menghindarkan terjadinya korban jiwa akibat bencana.

Mengurangi dampak kerusakan baik berupa infrastruktur maupun bangunan, ekonomi


akibat bencana.

Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi dampak


bencana.

Kemudian Pak Hari menyampaikan salah satu


metode yang dapat dilakukan untuk pencerdasan
terhadap mitigasi bencana alam adalah dengan
metode eksperimen sains. Keuntungan metoda ini
adalah meningkatkan kemampuan kognitif siswa
dan guru, meningkatkan keterampilan afektif, dan
meningkatkan

keterampilan

psikomotor

para

siswa.
Pada sesi kedua, peserta diajak untuk mensimulasikan salah satu kit eksperimen detektor banjir.
Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari empat orang tiap kelompoknya.
Dalam waktu 20 menit peserta harus menyelesaikan miniatur detektor bencana banjir. Peserta
sangat antusias mengikuti simulasi ini. Ada kelompok yang mengerjakan sesuai petunjuk dengan
lancar, namun ada juga yang terlihat kesulitan.

Setelah kurang lebih 15 menit berlalu, ada satu kelompok yang berhasil menyelesaikannya.
Kemudian miniatur detektor banjir tersebut diuji coba pada suatu wadah yang sedikit demi
sedikit ditambah air. Ketika air mencapai ketinggian tertentu, detektor banjir tersebut dapat
menyala, tandanya awas banjir. Kelompok pertama telah berhasil membuat miniatur detektor
banjir. Kemudian kelompok lain, satu per satu juga menyelesaikan detektor banjir tersebut.
Diakhir acara peserta dan pembicara melakukan sesi foto bersama.