Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PRAKTIKUM

COMPOUNDING AND DISPENSING


SWAMEDIKASI

Disusun oleh:
Kelompok 5 A1
DENADA PUTRI SYABRINA
DESTY PUTRI NUR KUMALASARI
DESY IRMAWANTI S.
DEWI AGUSTINA ANGKA
DEWI TITA INDRAWATI

(1620313288)
(1620313289)
(1620313290)
(1620313291)
(1620313292)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di
Indonesia, hal ini tergambar dari data studi survei kesehatan rumah tangga
(SKRT) di berbagai propinsi di Indonesia. Survey Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) tahun 1986 menunjukkan asma menduduki urutan ke-5 dari 10

penyebab kesakitan (morbiditas) bersama-sama dengan bronkitis kronik dan


emfisema. Pada SKRT 1992, asma, bronkitis kronik dan emfisema sebagai
penyebab kematian ke-4 di Indonesia atau sebesar 5,6 %. Tahun 1995,
prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13/1000, dibandingkan bronkitis
kronik 11/1000 dan obstruksi paru 2/1000. Studi pada anak usia SLTP di
Semarang dengan menggunakan kuesioner International Study of Asthma and
Allergies in Childhood (ISAAC), didapatkan prevalensi asma (gejala asma 12
bulan terakhir/recent asthma) 6,2 % yang 64 % diantaranya mempunyai
gejala klasik.
Asma merupakan penyakit kronis saluran pernapasan yang ditandai
oleh inflamasi, peningkatan reaktivitas terhadap berbagai stimulus, dan
sumbatan saluran napas yang bisa kembali spontan atau dengan pengobatan
yang sesuai. Meskipun pengobatan efektif telah dilakukan untuk menurunkan
morbiditas karena asma, keefektifan hanya tercapai jika penggunaan obat
telah sesuai. Seiring dengan perlunya mengetahui hubungan antara terapi
yang baik dan keefektifan terapetik, baik peneliti maupun tenaga kesehatan
harus memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien.
Sistem pengobatan sendiri atau sering disebut sebagai swamedikasi
adalah Pelayanan obat non-resep oleh Apoteker kepada pasien yang
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong
dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan secara tepat, aman, dan
rasional. Oleh sebab itu peran apoteker di apotek dalam pelayanan
KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) serta pelayanan obat

kepada

masyarakat perlu ditingkatkan dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri.


Obat untuk swamedikasi meliputi obat-obat yang dapat digunakan tanpa
resep yang meliputi obat wajib apotek (OWA), obat bebas terbatas (OBT) dan
obat bebas (OB).
Apoteker dalam hal ini dapat membantu penanganan penyakit asma
dengan

mengarahkan

pasien

yang

diduga

menderita

asma

untuk

memeriksakan dirinya, memotivasi pasien untuk patuh dalam pengobatan,

memberikan informasi dan konseling serta membantu dalam pencatatan untuk


pelaporan.
B. Tujuan
Mengetahui swamedikasi untuk penyakit asma dan batuk

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Asma
Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas. Berbagai sel inflamasi
berperan, terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, netrofil dan
sel epitel. Faktor lingkungan dan berbagai faktor lain berperan sebagai
penyebab atau pencetus inflamasi saluran napas pada pasien asma. Inflamasi
terdapat pada berbagai derajat asma baik pada asma intermiten maupun asma
persisten.

Inflamasi

kronik

menyebabkan

peningkatan

hiperesponsif

(hipereaktifitas) jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang


berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama pada
malam dan/atau dini hari. Episodik tersebut berkaitan dengan sumbatan
saluran napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan
atau tanpa pengobatan.

B. Faktor Risiko
Risiko berkembangnya asma merupakan interaksi antara faktor pejamu

(host) dan faktor lingkungan.


Faktor pejamu tersebut adalah:
Predisposisi genetik asma
Alergi
Hipereaktifitas bronkus
Jenis kelamin
Ras/etnik
Faktor lingkungan dibagi 2, yaitu :
a. Yang mempengaruhi individu dengan kecenderungan /predisposisi asma
untuk berkembang menjadi asma
b. Yang menyebabkan eksaserbasi (serangan) dan/atau menyebabkan gejala
asma menetap.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi individu dengan predisposisi
asma untuk berkembang menjadi asma adalah :
Alergen di dalam maupun di luar ruangan, seperti mite domestik, allergen

binatang, alergen kecoa, jamur, tepung sari bunga


Sensitisasi (bahan) lingkungan kerja
Asap rokok
Polusi udara di luar maupun di dalam ruangan
Infeksi pernapasan (virus)
Diet
Status sosioekonomi
Besarnya keluarga
Obesitas

Sedangkan faktor lingkungan yang menyebabkan eksaserbasi dan/atau


menyebabkan gejala asma menetap adalah :
Alergen di dalam maupun di luar ruangan
Polusi udara di luar maupun di dalam ruangan
Infeksi pernapasan
Olah raga dan hiperventilasi
Perubahan cuaca
Makanan, additif (pengawet, penyedap, pewarna makanan)
Obat-obatan, seperti asetil salisilat
Ekspresi emosi yang berlebihan
Asap rokok
Iritan antara lain parfum, bau-bauan yang merangsang
C. Gejala
Gejala asma bersifat episodik, seringkali reversibel dengan/atau tanpa
pengobatan.
Gejala awal berupa :
Batuk terutama pada malam atau dini hari
Sesak napas
Napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien menghembuskan

napasnya
Rasa berat di dada
Dahak sulit keluar.
Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa.

Yang termasuk gejala yang berat adalah:


Serangan batuk yang hebat
Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal
Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut)
Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk
Kesadaran menurun
D. Pengobatan
1.
Teofilin
Cara kerja obat :
Teofilin

mempunyai

efek

bronkodilatasi

yang

tidak

diketahui

dengan jelas mekanismenya. Dosis yang diijinkan adalah 130 - 150 mg.
Efek farmakologi teofilin tidak hanya sebagai bronchodilator atau

relaksan otot polos, tapi juga mempunyai efek terhadap susunan saraf
pusat, jantung, iritasi lambung dan lain sebagainya.
Kegunaan :
Meringankan dan mengatasi serangan asma bronchial.
Tidak boleh digunakan pada :
Penderita yang alergi terhadap komponen obat ini dan juga penderita
tukak lambung
Hal yang perlu diperhatikan :

Jangan melebihi dosis yang dianjurkan


Hentikan penggunaan obat ini jika terjadi jantung berdebar-debar
Agar dikonsultasikan dengan dokter apabila dalam 1 jam gejala-

gejalanya masih tetap atau bertambah buruk


Wanita hamil dan menyusui
Penderita usia diatas 55 tahun, terutama pria
Penderita kekurangan oksigen dalam darah, hipertensi, kerusakan
fungsi hati, atau penderita yang mempunyai riwayat tukak lambung,

penyakit paru kronik.


Interaksi dengan obat lain :
Jangan diberikan bersama sediaan xantin yang lain, misalnya kafein
atau sediaan lain yang mengandung teofilin, atau minum teh, kopi,

cola, tonikum yang mengandung kafein


Simetidin, eritromisin, troleandomisin, dan kontrasepsi oral dapat

meningkatkan serum teofilin


Rifampisin menurunkan serum teofilin
Efek yang tidak diinginkan :
Sakit kepala, pusing, sukar tidur, mual, muntah, nyeri perut bagian

atas
Pada penderita yang mempunyai kecendrungan mengalami gangguan
Hiperglikemia, gatal-gatal

Aturan pemakaian :

Sediaan yang tersedia di pasaran berupa tablet, kapsul atau sirup


berkisar antara 130-150 mg/tablet atau per 5 ml. Dosis teofilin yang
optimal dinyatakan sejumlah mg per kg BB.
Dewasa : 5 mg/kg BB sebagai dosis awal pada serangan akut, diikuti

dengan 3-4 mg/kg BB setiap 6 jam untuk mengendalikan gejala asma.


Pada penderita perokok tidak lebih dari 4 mg/kg BB. Dosis total sehari
tidak lebih dari 10-12 mg/kg/hari.
Anak-anak : Sama dengan dosis dewasa, kecuali dosis pemeliharaan

sebesar 4-5 mg/kg BB setiap 6 jam. Untuk mempermudah pemakaian,


takaran yang dianjurkan adalah :
Dewasa : 3 kali sehari 1 tablet
Anak-anak 6-12 tahun : 3 kali sehari tablet atau menurut petunjuk
2.

dokter
Efedrin
Cara kerja obat :
Efedrin mempunyai

efek

bronkodilatasi

yang

lemah.

Bekerja

mempengaruhi sistem saraf adrenergik secara langsung maupun tidak


langsung. Karena itu hanya digunakan pada asma ringan.
Kegunaan :
Untuk meringankan dan mengatasi serangan asma bronkhial.
Tidak boleh digunakan pada:
Penderita yang alergi terhadap komponen obat ini dan penderita
hipertiroid, jantung, hipertensi
Hal yang perlu diperhatikan:
Dapat terjadi retensi urin pada penderita hipertrofi prostat
Tidak untuk serangan asma yang parah
Hati-hati pemberian pada wanita hamil, menyusui, anak-anak,

penderita dengan gangguan fungsi hati


Jangan melebihi dosis yang dianjurkan dan jika dalam 1 jam gejala

masih menetap atau memburuk


Interaksi dengan obat lain:
Jangan diberikan obat penghambat MAO atau guanetidin
Efek yang tdak diinginkan:
Pada susunan saraf pusat sakit kepala, sukar tidur, gelisah
Jantung berdebar
Aturan pemakaian:

Dosis efedrin sebagai obat asma yang beredar di pasaran berupa


tablet, kapsul atau sirup berkisar antara 8-12,5 mg/tablet atau sendok

teh 5 mL
Dewasa : 1-2 tablet, 2-3 kali sehari.
Anak-anak dibawah 12 tahun : tablet atau sendok teh, 2-3 kali
sehari

Contoh obat asma yang bisa didapat di apotek:


Asmadex (Theophylline 130 mg, Ephedrine HCl 10 mg) (Dexa

Medica)
Asmano (Theophylline 130 mg, Ephedrine HCl 12,5 mg) (Corsa)
Asmasolon (Thephylline 130 mg, Ephedrine HCl 12,5 mg) (Probus)
Neo Napacin (Theophylline 130 mg, Ephedrine HCl 12,5 mg)

(Konimex)
Theochodil (Theophyllin 130 mg, ephedrine HCl 12,5 mg) (Global
Multi Farma lab)

BAB III
ISI
A. KASUS 3
Seorang bapak bernama Bapak Restu usia 40 tahun datang ke Apotek Setia
Budi dengan keluhan dadanya sesak dan batuk. Bapak tersebut juga
mengatakan tubuhnya lemas, sejak dahulu pernah mengalami alergi terhadap
asap dan debu yang berlebihan.
Pertanyaan: dari keluhan di atas obat apa yang bisa anda sarankan?

B. Dialog Swamedikasi Apoteker-Pasien


Pada suatu hari datang bapak Restu ke Apotek Setia Budi Farma. Bapak
Restu datang ke Apotek untuk membeli obat yang bisa menyembuhkan
penyakit yang dialaminya. Bapak Restu datang dengan keluhan dadanya
sesak dan batuk. Bapak Restu juga mengatakan tubuhnya lemas, sejak dahulu
pernah mengalami alergi terhadap asap dan debu yang berlebihan.
(Bapak Restu datang Ke Apotek dan disambut oleh Asistem Apoteker)
AA

: Selamat siang bapak. Ada yang bisa saya bantu?

Pasien

: Siang mba.. mba saya mau beli obat untuk sesak nafas kira-kira
obatnya apa ya?

Apt

: Maaf dengan bapak siapa ya ?

Pasien

: Saya Bapak Restu, mbak..

AA

: Oh baiklah bapak Restu, untuk obatnya silahkan langsung


konsultasi ke apoteker saja ya bapak. Mari saya antar ke ruangan.

(AA mengantar pasien ke ruang konsultasi Apoteker)


Apt

: Selamat siang bapak, silahkan duduk. Baiklah perkenalkan saya


apoteker di apotek ini. Sebelumnya saya berbicara dengan bapak
siapa ya?

Pasien

: Saya bapak Restu.

Apt

: Baiklah bapak Restu, ada yang bisa saya bantu?

Pasien

: Begini mbak, saya suka merasa sesak nafas dan batuk. Kira-kira
obatnya apa ya mbak?

Apt

: Bapak sesak nafasnya sudah berapa lama?

Pasien

: Sudah sejak dua hari yang lalu mbak. Tapi sesak nafasnya suka
muncul ketika saya pulang kerja.

Apt

: Bapak suka merasa pusing-pusing ngga pak?

Pasien

: Ngga sih mbak, tapi saya suka ngerasa badan saya lemas setelah
pulang kerja. Nah, kira-kira obat untuk lemasnya apa ya mbak?

Apt

: Sebelumnya pernah ada riwayat hipertensi ngga pak?

Pasien

: Ngga mbak.

Apt

: Oh begitu. Saya boleh tau bapak kegiatan sehari-harinya apa?

Pasien

: Saya sehari-harinya jadi tukang parkir mbak.

Apt

: Baiklah.. sebentar saya pilihkan obatnya dulu ya pak.

Pasien

: iya mbak.

(Apoteker meminta AA untuk menyiapkan obat yang Apoteker minta)


Apt

: Baiklah bapak. Disini ada dua pilihan obat untuk sesak nafas dan
batuknya. Ada obat neo napacin dan asma soho.

Pasien

: Kira-kira bagus yang mana ya mbak obatnya?

Apt

: Sebenarnya kedua obat ini memiliki khasiat yang sama untuk


mengobati sesak nafas dan batuk yang bapak alami. Tapi,
kebanyakan pasien yang datang kesini membeli obat neo napacin
pak.

Pasien

: Ya sudah mbak, saya ambil obat neo napacin saja.

Apt

: Nah kalau untuk lemasnya saya menyarankan untuk konsumsi


vitamin IPI B12 pak.

Pasien

: Oh begitu. Total harga untuk obat neo napacin sama vitaminnya


berapa ya mbak?

Apt

: Total biayanya Rp. 6.500 pak.

Pasien

: Ya sudah mbak, saya ambil obat neo napacin sama vitaminnya.

Apt

: Baiklah pak. Sebelumnya saya akan menjelaskan terlebih dahulu


tentang aturan pakainya. Untuk obat neo napacin diminum tiga kali
sehari sesudah makan. Untuk vitamin IPI diminum satu kali sehari
pada pagi hari. Apakah bapak sudah mengerti.

Pasien

: Iya mbak saya mengerti.

Apt

: Boleh saya meminta bapak untuk mengulang tentang apa yang


saya jelaskan tadi?

Pasien

: Untuk obat neo napacin diminum tiga kali sehari sesudah makan.
Untuk vitaminnya diminum satu kali sehari pada pagi hari. Betul
ngga mbak?

Apt

: Iya bapak, betul sekali. Oh iya, kalau bisa saya menyarankan agar
bapak menggunakan masker saat bekerja, biar tidak terhirup debu
jalanan, supaya bapak nggak sesak nafas.

Pasien

: Ohh baiklah mbak.

Apt

: Ada yang bisa saya bantu lagi bapak?

Pasien

: Ngga mbak, saya rasa cukup. Terimakasih untuk informasinya ya


mbak

Apt

: Sama-sama bapak. Semoga cepat sembuh ya pak. Obatnya nanti


dibayar di kasir depan ya pak.

(Bapak Restu kemudian membayar obat yang dibelinya di kasir)


AA
: Bapak Restu, bapak ini obat neo nepacin dan Vitamin IPI B12
Pasien
AA
Pasien

total harganya Rp. 6.500.


: ini mbak uangnya.
: iya pak, uangnya pas ya pak terima kasih.
: iya mbak sama sama.

BAB IV
PENUTUP
Asma dapat disebabkan oleh alergen seperti asap, debu, parfum dan baubauan yang merangsang. Obat yang digunakan adalah obat yang mengandung
teofilin dan efedrin. Selain diberikan obat pasien juga diberi tahu cara pencegahan
agar penyakit tidak bertambah (Terapi nonfarmakologi) .

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Asma. Direktorat Bina
Farmasi Kominitas dan Klinik: Jakarta.
ISO Indonesia Volume 46-2001 s/d 2012. PT. ISFI: Jakarta.