Anda di halaman 1dari 10

PENULISAN ESAI GEOLOGI (GEO-340114)

PS Teknik Geologi TA 2015/2016 Semester Gasal

PERKEMBANGAN AWAL CEKUNGAN SUMATERA SELATAN


Aditya
Januardi
Oke Aflatun
Ridho Rizky Amanda
Wahidin Zuhri
Teknik Geologi, Universitas Sriwijaya, Palembang

ABSTRAK: Pulau sumatera merupakan continent sundaland yang membentuk beberapa cekungan-cekungan. Cekungan
Sumatera Selatan merupakan back arc basin yang terbentuk selama kala Paleogen, dimana terjadi empat fase yaitu
compresion, extension, up lifting, dan compresion. Menurut Sudarmono et al,(1997) Paleogen ditandai oleh syn-rift
mengalami keretakan pada continent dan marine. Fase Rifting dibagi menjadi 3 tahap utama yaitu, early rif, middle rif,
dan late rift. Berdasarkan De coster (1974) stratigrafi cekungan sumatera selatan dibagi beberapa Formasi yaitu,
Basement Pra Tersier, Formasi Lemat, Benakat Member, Formasi Talangakar, Basal Telisa Limestone Member, Formasi
Telisa, Lower Palembang Formation, Middle Palembang formation, Upper Palembang Formation.
Kata Kunci: Compresion, Extension, Rift, Formation

PENDAHULUAN
Paper ini menjelaskan tentang perkembangan
awal cekungan sematera selatan yang bersumber dari
penelitian terdahulu yang sudah dipublikasikan oleh
Proceedings Indonesia Petroleum Association (IPA).
Studi pustaka ini difokuskan pada hasil studi yang
dilaporkan oleh Sudarmano et al, Tantomo et al,
Adiwijaya and De Coster, Sudarmono et al, dan
Pullonggono et al.
Menurut Pullonggono (1992) bahwa genesa
terbentuknya cekungan sumatera selatan (back arc
basin) dipengaruhi oleh kontrol struktur-struktur
sesar geser yang membuka (rifting). Akibatnya
terbentuk pola-pola cekungan yang bersifat Pull a
Part Basin
dihasilkan
pada early Paleogen.
Sedangkan untuk perkembangan sedimen mengisi
cekungan-cekungan yang telah terbentuk ketika
Neogen (Sudarmono et.al ). Stratigrafi nya
tersususun dari basement Pra-Tersier yang di overlay
batuan Tersier (De Coster, Tantomo, Sitompul et al ).
TEKTONIK REGIONAL

Pulau sumatera merupakan continent sundaland


yang membentuk beberapa cekungan-cekungan .
Awalnya terjadi pada masa Pra-tersier mengalami
pergerakan lempeng samudra hindia-australia berarah
arah barat laut yang mengalami subdukdi dengan
lempeng Eurasia. Kecepatan pergerakan antara
lempeng tersebut rata-rata mencapai 6-7 cm/tahun.
Kontrol struktur yang berkembang seperti
vulkanisme ,pergeseran dan zona-zona subduksi.
Akibat dari aktivitas itu menghasilkan cekungan
yang mempunyai orientasi terhadap busur (arc) yaitu
non volcanic fore-arc dan volcano-plutonik back-arc.
Cekungan Sumatera Selatan merupakan back arc
basin yang terbentuk selama kala Paleogen dilihat
dari block area di sepanjang sumbu utama WNWESE (lematang) dan arah N-S sesar medatar dari Pratersier yang berubah menjadi sesar normal pada
tersier akibat dari fase extensional yang bekerja
(Pullonggono,1992). Secara umum cekungan ini
berarah NW-SE diakibatkan oleh tumbukan antar 3
lempeng yaitu Eurasia , Pasifik dan Indo Australia
dengan pola oblique memiliki arah yang demikian.
Dibatasi oleh Tinggian Lampung yang berada di sisi
tenggara, pegunungan bukit barisan di barat , dan
sesar Semangko pada bagian selatan. Sedangkan

pada arah utara dan timurnya dibatasi oleh paparan


sunda (De Coster,1974). Perkembangan awal
cekungan tersebut dipengaruhi oleh 4 fase tektonik
(gambar 1, gambar 2) yang bekerja. Antara lain
adalah fase compression, extensional, tektonik
miosen dan compressional lagi.
Fase compressional terjadi pada masa Jura awal
sampai Kapur mengalami pergerakan lempeng
samudra hindia dengan arah barat laut mengalami
kompresi (saling bertumbukan dengan lempeng
lainnya). Kontrol tektonik yang berpusat oblique
terhadap garis tepi berarah WNW-ESE sundaland
mengalami subduksi. Akibat dari hal tersebut terjadi
vulkanisme menghasilkan intrusi granitoid. Disertai
arah sesar geser dekstral yang saat ini dilihat sebagai
kelurusan Musi,Kepayang, Pantai selatan Lampung
dan Sesar Lematang (mempunyai trend N 30 W dari
pusat lempeng samudra hindia ke garis tepi yang
membentuk sudut miring sebesar 30 ca). Zona
subduksi selama masa jura awal dan cretaceus akhir
juga membentuk kelurusan saka membentang ke
selatan
Fase kedua yaitu extensional , dimana pada fase
ini terjadi pembentukan dari graben berlangsung
pada masa Pre-Tersier. Gaya ektensional yang
terekam pada masa Kapur atas Tersierbawah.Oleh
karena itu lineaments (kelurusan) ataupun sesar
normal berorientasi utara-selatan dan WNW-ESE
yang mengalami pemekaran. Sehingga membentuk
graben atau depresi. Pada fase itu juga dimulainya
pengisian sedimen-sedimen ke cekungan diatas
basement bersamaan dengan aktivitas vulkanisme.
Formasi awal terisi adalah formasi Lahat.
Fase ketiga adalah fase adanya tektonik miosen
yang menyebabkan uplift pada tepi-tepi cekungan
dan diikuti dengan pengendapan material klastik.
Seperti terendapkannya Formasi Talang Akar,
Baturaja, Gumai, Air Benakat dan MuaraEnim.
Fase keempat compressional lagi, pada PlioPleistosen. Zona subduksi berubah dari pulau
sumatera membentuk konvergensi oblique dan
arahnya N 6 E. Hal tersebut membuat terbentuk blok
sesar geser Semangko.Akibatnyamenghasilkan
wrenching,rejuvenationdan inversi tectonic beserta
Bukit Barisan Orogeny. Pegunungan Bukit Barisan
ini membentang luas dari utara-selatan berbentuk
miring dan berarah NW-SE. Pegunungan ini yang
membatasi cekungan sumatera selatan pada bagian
barat daya(Pullonggono,1974). Merupakan hasil dari
proses subduksi yang berlangsung pada kala itu ,
selain itu membentuk pulau-pulau kecil sekitar jalur
itu. Terjadilah pembagian arc menjadi fore arc,
magmatic arc dan back arc basin seperti sekarang.

Menurut Sudarmono et al,(1997) Paleogen


ditandai oleh syn-rift mengalami keretakan pada
continent dan marine. Akibat dari proses tersebut
menghasilkan
blok-blok sesar normal yang
membentuk pola grabben dan setengah grabben .Blok
tersebut bervariasi pada kedalaman dan laju
penuruananya. Dimana hal tersebut mempengaruhi
lingkungan pengendapan dan jenis litologi.
Fase Rifting dibagi menjadi 3 tahap utama yaitu:
1. Early rifting
Pada fase ini terisi oleh deposit non-marine
yang terdiri dari batuan vulkaniklastik, Fluvial,
Alluvial-fan dan endapan danau dangkal.
2. Middle rift
Selama fase ini lingkungan pengendapan
umumnya ditandai oleh kedalaman danau (subsiden),
bertambahnya luas dari danau sebelumnya. Atau
lebih kecil dan saling menjauh (separasi)yang telah
berkembang selama fase awal (early rifting).
Menyebabkan tingkat penurunan lebih tinggi dari
pengendapan (pengisian sedimen).Danau disini
dimaksudkan sebagai cekungan.
Danau yang mengalami pemekaran dan dalam di
depocenter cenderung dbatasi dari besar masukan
terigeneous dan memiliki area dengan relief
bervegetasi rendah dan iklim lembab yang
menguntukan organisme organic hidup.
3. Late-rift
Pada tahap ini, danau/cekungan umumnya
diendapkan pada lingkungan dangkal dan didominasi
oleh klastik kasar proses fluvio-delta.
Secara
kronologi inkursi laut sedikit berbeda dari setiap
cekungan ke cekungan dan dikontrol oleh laju
subsiden dan kecepatan (akses) dan tutup atau
bukaan dari marine, pada bagian tepi barat dan timur
sundaland di pengaruhi oleh kondisi laut selama
akahir
Eosen
berdasarkan
sikuennya
mengindikasikan bahwa daratan terpisa menjadi fore
arc dan back arc basin selama paleogen. .
STRATIGRAFI
Stratigrafi cekungan sumatera selatan selama fase
awal perkembangan pada cekungan ini, berdasarkan
De coster (1974) dibagi beberapa Formasi antara
lain:
1. Basement Pra Tersier (248-354 Ma)
Merupakan komplek batuan yang berumur PraTersier (Paleozoikum dan Mesozoikum), dan juga
sebagai penyusun/ basement dari cekungan Sumatera
Selatan . Terdiri dari batuan beku seperti andesit ,
metamorf , metasedimen , sedimen (seperti karbonat)
,vulkanik dan permo carboniferous. Litologi tersebut

kemudian ditindih oleh batuan yang berumur tersier.


Batuan tersebut mengalami deformasi berupa
perlipatan , pensesaran dan intrusi batuan beku .
2. Formasi Lemat
Terjadi di Eosen akhir dan Oligosen awal,
didalam lingkungan darat Continent. sedimen ini
berasal dari kiopas Alluvial, Braided steam dan
piedmont deposits. Ukuran butir dominan kasar dan
pasiran dari ukuran konglomerat dan fragmen
vulkanik serta lapisan tipis batubara dalam jumlah
yang sedikit. Ketebalan lapisan kurang lebih 2500
kaki pada tepi dan pusat sampai 3000 meter.
3. Benakat Member (Eosen akhir-Oligosen Awal)
Benakat member berada di Formasi Lemat
Tepatnya berada pada pusat/Tengah Cekungan.
Stratigrafi terdiri dari Shale abu-abu sampai coklat
dan abu-abu gelap berselingan dengan abu-abu hijau
terang sampai serpih kebiruan-biruan , tuffaceous
shale dan siltstones. Beserta batupasir tufaan sesekali
batubara. Lapisan tipis batu gamping, dolomite dan
terkadang glaukonit berada pada lingkungan
pengendapan prodelta.
4. Formasi Talangakar (Oligosen Akhir-Miosen
Akhir)
Lingkungan pengendapan dari fluvial, delta dan
pantai-laut dangkal terdiri dari marine sand,
prodeltashale, pasir tufaan berasal dari sumber
material Vulkanik yang berada disekitarnya. Formasi
ini ditindih oleh Anggota Basal Telisa(batugamping
shallow marine dengan sandstones). Keberadannya
secara unconformable dengan Lemat-Benakat pada
kala oligosen akhir- miosen awal. Ketika early
miocene Basal Telisa Limestone dan Basal Telisa
Sandstone Members secara tidak selaras dengan
Talang Akar.
Pengendapan Formasi Talang Akar dapat di lihat
dari beberapa sumur minyak yang produksi dengan
target Formasi Talang Akar, Tantomo(1997) bahwa
pengendapan deltatic Formasi Talang Akar di
temukan pada lapangan Beringin, sedangkan
pengandapan Shallow marine dapat di temukan pada
lapangan minyak Air Serdang sehingga dapat di
simpulkan pengendapan pada massa Oligosen akhir
sampai Miosen awal adalah pengendapan transgresi,
tetapi tidak semua mengalami pengendapan
transgresi, di beberapa tempat pada massa itu muka
air laut mengalami penurunan, sedangkan beberapa
tempat masih mengalami pengendapan transgresi, di
temukanya endapan batuan shale pada daerah
pendopo yang merupakan bukti bahwa daerah itu
masih
mengalami
pengendapan
transgesi(sitompul.1992).

Penurunan muka airlaut pada Formasi Talang


Akar dapat di lihat dari interpertasi Seismik, dimana
akhir N6 laut pada Cekungan Sumatera Selatan
mengalami lowstand sikuen pada akhir N6 mulai
mengalami
pergendapan
dua
Fasies
yang
terendapkan pada Formasi ini(Sitompul,1992),
Sumbagsel(1992) dalam Tamtomo,1996 Fasies yang
terendapkan pada Formasi Talang Akar adalah: fasies
lower Talang Akar Formation dan fasies upper Talang
Akar Formation.(Tamtomo figure 3)

Lower Talang akar Formation


Fasies ini di endapakan pada penaikan muka air
laut secara Global pada saat awal N6 dengan ini
batuan yang terendapkan kebanyakan Coarse clastic
sandstone, dengan lingkungan pengendapan fluvial
sampai delta porositas 20% dengan permeabilitas
5000 milidarcy. Bagian ini banyak di temukan pada
wilayah utara, tersingkap di area kuang di tanjuang
miring dan Lematang deeps. Sedangkan untuk ilaya
selatan tidak di temukan singkapan ini karena
mengalami unconformity
dengan batuan dasar
cekungan.

Upper Talang Akar Formation


Fasies ini di endapkan pada massa akhir N6 dan
awal dari N7 dengan lingkungan pengandapan
shallow marine sampai delta, di temukan pada area
Kuang batu pasir pada Fasies ini memiliki ciri-ciri
porositas 25% denga premeabelitas 40-2400
milidarcy.
Formasi ini kebanyakan tersingkap pada
pinggiran dari Cekungan Sumatera selatan. Salah
satu tersingkap di Tebing Tinggi di Provinsi Lahat
yang ditemukan batubara yang memilki bentuk
melensa tipis dengan tebal maksimum 20cm dan
panjang sampai 100 cm dalam satuan batu pasir,
Hasil Analisa Geokimia yang di dapat pada
batubara dari Formasi Talang Akar adalah kalorinya
4575kal/gr kandungan abu 17,7% kandungan sulfur
nya 0,69% , hasil petrologinya refektan Vitrinit
antara 0,47 dan 0,60 %. Termasuk kedalam peringkat
batubara yang rendah atau lignit-subituminus.
5. Basal Telisa Limestone Member (Miosen Awal)
Merupakan formasi yang kaya akan fosil, terdapat
dua tahap perkembangan lingkungan pengendapan.
Tahap awal dimulai dari platform atau bank
limestone deposits yang terbentuk pada lingkungan
shelfal (paparan) berumur Aquitanian . Hal itu dilihat
dari fosil Spiroclypeaus orbitodeus, dan S.
tidoenganensis . Kemudian di tahap akhir berubah
menjadi lingkungan detrital,reefal dan bank deposits
yang terjadi ketika kondisi restritricted (sedikit air)
Hal ini dapat diasumsikan bahwa pada waktu itu
terjadi
pengangkatan
platform
batugamping.

Penyusun dari formasi ini didukung oleh koloni


koral(e.d.Eulepidina). Pengendapan batugamping
dimungkinkan berakhir ,ketika transgresi berlanjut.
Selama stage itu menghasilkan clay yang berselingan
dengan lapisan tipis lime mud pada laut dalam.
Sedangkan pada bagian margin diendapkan bank
limestone bergradasi pada calcaerus clays dari ukuran
butir halus- pasir sedang . Mempunyai ketebalan
rata-rata dari 200 -250 ft.
Formasi Baturaja merupakan nama lain dari Basal
Telisa Limestone. Formasi ini merupakan puncak
pada fase transgersi system pada Cekungan Sumatera
Selatan, ini dapat dilihat dari pegadapan Fase
Karbonat pada Cekungan sumatera Selatn batu
gamping pada Formasi ini memiliki permaebelitas
dan porositas yang baik sebagai Reservoir
hydrocarbon.
Menurut Sitompul,1992 batuan karbonat pada
daerah Merbau-Talang Babat di temulkan dengan
porositas yang baik ini dapat di lihat dari beberapa
sumur minyak di sana Merbau-1 porositas 14%,
Tasim 12%, Prabumenang 16%, senagkan pagardewa
15%.
6. Formasi Telisa
Adalah formasi termuda selama siklus transgresi
yang terendapakan selama early-midlle miosen .
Karakteristik batuannya yaitu fossilferous (banyak
mengandung foram plankton). Selain itu, marine
shale dengan
sisipan batugamping glaukonitan
foraminiferal seperti Bolivina dan Uvigerina .
Diindikasikan bahwa batuan tersebut pada
lingkungan yang hangat (neritic). Formasi ini
diendapkan dalam masa transgresi secara maksimum.
Sehingga mempunyai kekuatan besar dalam
mengendapkan sedimen dan adanya percampuran
antara endapan darat dan endapan laut. Akibatnya
menghasilkan pola coarsening upward dan merendam
bagian dataran rendah ketika kala itu.Hanya
meninggalkan spot-spot dataran tinggi.
7. Lower Palembang Formation
Merupakan formasi yang diendapkan selama fase
awal siklus regresi. Lingkungan pengendapan
berubah dari neritic ke shallow marine .Kemudian ke
marginal marine dan paludal-deltaic . Komposisi
dari formasi ini terdiri dari batupasir glaukonitan,
batulempung, batulanau, dan batupasir yang
mengandung unsur karbonatan. Kontak secara tidak
selaras dengan formasi Telisa. Pengendapan pada
siklus regresi yang terjadi dari Middle Miocene ke
Pliocene mengendapkan Formasi Lower Dan Middle
Palembang. Semua formasi diatas mengalami uplift,
fold dan fault selama Plio-pleistocene orogeny.
8. Middle Palembang formation

Berumur miosen akhir sampai pliosen awal ,


Formasi ini diendapkan secara tidak selaras dengan
formasi yang berada di bawahnya . Formasi Muara
Enim mempunyai litologi batupasir , batulanau dan
batu lempung serta ditemukan dengan lapisan
batubara yang menerus. Lapisan batubara dibagi
menjadi beberapa seam ( lapisan batubara ) yaitu
seam A, B dan C . Rangking batubaranya adalah
lower grade ( lignit ) hanya yang berada di dekat
intrusi andesit menjadi Antrasit. Formasi ini
diendapkan pada lingkungan laut dangkal sampai
brackist (pada bagian dasar), delta plain dan
lingkungan non marine.
Formasi Muara Enim merupakan salah satu dari
formasi pembawa batubara di cekungan sumatera
selatan.Menurut (Shell.1978,dalam Tarsis 2001)
membagi formasi ini kedalam 4 kelompok seam
batubara.
Yaitu
anggota
M1,M2,M3
dan
M4(Gambar.4). Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Tarsis(2001) pada daerah Benakat
Minyak ,Kec.Talang Ubi,Kab.Muara Enim terdapat
tiga lapisan batubara. Lapisan terebut masing-masing
satu lapisan pada anggota M2 dan dua lapisannya
anggota M3.
Seam Mangus
Pada lapisan ini ditandai dengan sisipan batubara
yang mengandung sedikit lapisan tufa. Umumnya
lapisan ini diapit oleh batulempung keabuan yang
berselingan dengan batupasir pada bagian bawahnya.
Bagian atasnya batulempung-karbonatan. Tebal dari
seam ini adalah 10 meter pada bagian utara dan
selatan mengalami penipisan menjadi 1m.
Seam Burung
Seam ini berada diatas lapisan Mangus pada
anggota M3. Dicirikan oleh batubara yang berwarna
coklat kehitaman masif dengan interburden batupasir
halus sampai batu lempung pada bagian atasnya.
Sedangkan untuk bagian bawah batulempung
karbonatan. Lapisan ini cenderung mengalami
spliting (percabangan).Tebal seam ini adalah 5 meter.
Seam Benuang
Lapisan ini memeilki ciri yang sama dengan seam
burung yang membedeakannya hanya letak yang
berada diatasnya Ketebalan lapisan ini antara 2 -4 m.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh S.M.
Tobing , dkk (1999) bahwa pada daerah tebing
tinggi. Formasi ini, kebanyakan dari seam-seamnya
berada dibawah permukaan sungai atau lapisan
penutupnya ditutupi oleh batuan yang sudah lapuk.
Lapisan batubara relative tipis hanya 1 meter. Ciri
khas berwarna hitam kecoklatan , agak kusam dan
keras . Batubara mempunyai nilai kalori: 4125 - 5205
kal/gr, kandungan abu: 5,0% - 16,5%. sulfur total:

0,71% - 3,70%, dan SG: 1,41-1,46 (dalam basis adb).


Peringkat batubaranya tergolong ke dalam low rank.
Umumnya seam tipis dan berlensa-lensa dari
berbagai ukuran . Menunjukkan kondisi terdapat di
daerah-daerah yang merupakan pinggir cekungan.
9. Upper Palembang Formation
Formasi ini merupakan formasi yang paling muda
di Cekungan Sumatra Selatan. Formasi ini
diendapkan selama Plio-Pleistosen orogeny. Pada
fase ini terjadi pengangkatan pegunungan bukit
barisan . Akibatnya sumber dan arah transportasi
sedimentasi berubah , dimana sebelumnya berasal
dari sediment tersier. Deposisinya yaitu tinggian
lampung , sunda shield dan juga dibawa oleh arah
barat daya, barat & barat laut. Tetapi dengan adanya
orogeny itu menyebabkan sumber utama bergerak
kearah timur laut. Mengendapkan tuffaceous, batuan
klastik dari kasar-halus . Terdiri dari batupasir tuffan,
lempung, dan kerakal dan lapisan tipis batubara.
Dibatasi dengan kontak tidak selaras dengan formasi
yang berada dibawahnya. Upper Palembang ditutupi
oleh alluvium atau material lepas-lepas .Menurut
Pullunggono (1976) lingkungan nya terendapkan
pada fluvial dan alluvial fan.
Batubara yang terdapat dalam Formasi Kasai
secara fisik berwarna hitam kecoklatan, kusam,
struktur tetumbuhan masih sangat jelas, relatip ke
batubara lempungan (clayey coal), agak keras dan
mengotori tangan seperti lumpur. Sama halnya
dengan batubara dalam Formasi Muara Enim,
beberapa singkapan batubara dalam Formasi Kasai
terdapat dalam sungai sehingga sulit untuk
mengetahui ketebalannya. Lapisan batubara dalam
formasi ini relatip tipis, mempunyai ketebalan kurang
dari 100cm.( S.M. Tobing , dkk (1999). Mempunyai
nilai kalori 1435-3100 kal/gr (adb), kandungan abu
sangat tinggi 34,5-55,8% (adb), sulfur total 0,791,42% (adb) dan vitrinit reflektan 0,22%. Tergolong
ke dalam peringkat batubara yang rendah seperti
lignit.

berumur

Fase compressional terjadi pada masa jura awal


sampai kapur mengalami pergerakan lempeng
samudra hindia dengan arah barat laut
mengalami kompresi (saling bertumbukan
dengan lempeng lainnya).
Fase kedua yaitu extensional , dimana pada fase
ini
terjadi
pembentukan
dari
graben
berlangsung pada masa pre-tersier.
Fase ketiga adalah fase adanya tektonik miosen
yang menyebabkan uplift pada tepi-tepi

pra-tersier

(paleozoikum

dan

mesozoikum), dan juga sebagai penyusun/


basement dari cekungan sumatera selatan.
Terdiri dari batuan beku seperti andesit,
metamorf,

metasedimen,

sedimen

(seperti

karbonat) ,vulkanik dan permo carboniferous.

Formasi Lemat Terjadi di Eosen akhir dan


Oligosen awal, didalam lingkungan darat
Continent. Sedimen ini berasal dari kiopas
Alluvial, Braided steam dan piedmont deposits.

KESIMPULAN

cekungan dan diikuti dengan pengendapan


material klastik.
Fase ketiga adalah fase adanya tektonik miosen
yang menyebabkan uplift pada tepi-tepi
cekungan dan diikuti dengan pengendapan
material klastik.
Fase rifting dibagi menjadi 3 tahap utama
yaitu, early rif, middle rif, dan late rift.
Basement merupakan komplek batuan yang

Benakat member berada di Formasi Lemat


tepatnyaberadapadapusat/TengahCekungan.
Formasi Talangakar memiliki Lingkungan
pengendapan mulai dari fluvial, delta dan
pantai-laut dangkal terdiri dari marine sand,
prodeltashale, pasir tufaan berasal dari sumber
material Vulkanik yang berada disekitarnya.
Basal Telisa Limestone Member Merupakan
formasi yang kaya akan fosil, terdapat dua
tahap perkembangan lingkungan pengendapan.
Formasi Baturaja merupakan nama lain dari
BasalTelisaLimestone.Formasiinimerupakan
puncak pada fase transgersi system pada
Cekungan Sumatera Selatan, ini dapat dilihat
daripegadapanFaseKarbonatpadaCekungan
sumateraSelatnbatugampingpadaFormasiini
memilikipermaebelitasdanporositasyangbaik
sebagaiReservoirhydrocarbon.
Lower Palembang Formation Merupakan
formasi yang diendapkan selama fase awal
siklus regresi. Lingkungan pengendapan
berubah dari neritic ke shallow marine.
Middle Palembang formation Berumur miosen
akhir sampai pliosen awal, Formasi ini
diendapkan secara tidak selaras dengan formasi
yang berada di bawahnya.

FormasiMuaraEnimmerupakansalah
satudariformasipembawabatubaradi
cekungansumateraselatan.

DAFTAR PUSTAKA

Adiwidjaja

and De Coster,1973. Pre-Tertiary


Paleotopography
And
Related
Sedimentation In South Sumatra.
Proceedings Indonesian Petroleum
Association,
2th
Annual
Convention.P.89-102.
Pulunggono, A et al., 1992, Pre-Tertiary And Tertiary
Fault Systems As A Framework Of
The South Sumatra Basin; A Study
Of
Sar-Maps.
Proceedings
Indonesian Petroleum Association,
21 th Annual Convention, P.339-360
Shell Mijnbouw, 1978, Explanatory Notes to the
Geological Map of the South
Sumatera Coal
Province,
Exploration report.
Sitompul.N, et al.,1992. Effect Of Sea Level Drops
During Late Early Miocene To The
Reservoirs In South Palembang Sub
Basin, South Sumatera, Indonesia.
Proceedings Indonesian Petroleum
Association,
21 th Annual
Convention, P.309-324.
Sudarmono,
et
al.,1997. Paleogene
Basin
Development In Sundaland And It's
Role To The Petroleum Systems In
Western Indonesia. Proceedings of
the Petroleum Systems of SE Asia
and Australasia Conference, P.545560
Tamtomo,B et al.1997. Transgressive Talang Akar
Sands Of The Kuang Area, South
Sumatra Basin: Origin, Distribution
And Implication For Exploration
Play Concept. Proceedings of an
International
Conference
on
Petroleum Systems of SE Asia and
Australasia, 1997. P.699-708
Tarsis A.D.2001. Penyelidikan Batubara Bersistim
Dalam Cekungan Sumatera Selatan
Di Daerah Benakat Minyak Dan
Sekiranya, Kabupaten Muara Enim
Propinsi Sumatera Selatan. Sub
Direktorat Batubara, DIM
Tobing S.M.1999. Studi Cekungan Batubara Di
Daerah
Tebing
tinggi
Dan
Sekitarnya,Kabupaten
Lahat,
Provinsi Sumatera Selatan. Bandung
: Puslitbang Geologi Dan Dgtl .

Gambar 1. Fase Perkembangan tektonik di sumatera ( Pulunggono, et all.1992)

Gambar 2. Pola pembentukan cekungan (Pulonggono, et al. 1992)

Gambar 4. Stratigrafi dan penamaan seam batubara di Formasi Muaraenim (Shell ,1978)

PenampangGeologidariKuangberinginAreaTamtomo(1996)