Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lutut merupakan suatu sendi yang komplek meskipun merupakan suatu sendi
engsel biasa. sendi lutut adalah salah satu sendi terbesar pada tubuh. Sendi ini
dibentuk oleh dua tulang yaitu tulang femur (paha) dan tulang tibia (betis) dan
dihubugkan oleh empat ligament yang sangat kuat. Ligament ini berfungsi untuk
menstabilkan dan mengontrol gerakan pada sendi lutut. Diantara kedua tulang ini
terdapat bantalan yang disebut meniscus. Lutut merupakan sendi engsel penahan
berat badan terbesar dan harus melakukan hal tersebut sementara memperbaiki
kemiringan varus yang normal terjadi pada pinggul. Cedera lutut yang paling
sering terjadi yaitu pada olahragawan ( Sport injury) adalah segala macam cidera
yang timbul, baik pada waktu latihan atau berolahraga.2,3
Lutut adalah bagian dari tubuh yang sering mengalami cidera disepanjang
umur kita. Kerusakan ini sering terjadi pada saat olahraga dan aktivitas atletik
(jalan, lari, lempar, lompat). Banyak cidera lutut ini diobati dengan pengobatan
konservatif dengan istirahat, es (pendinginan), gerakan dan fisioterapi. Tetapi ada
juga cidera lutut yang harus diobati dengan operasi. Lutut mudah sekali terserang
cedera traumatik. Persendian ini kurang mampu melawan kekuatan medial, lateral,
tekanan, dan rotasi, karena lemahnya otot, dan mudah mendapat luka memar.
Mekanisme datangnya cedera sendi lutut yang berakibat serabut ligamen utama
dari lutut bisa menjadi putus tergantung pada aplikasi dari kekuatan, pukulan,
tekanan, gerakan yang melebihi batas keregangan dan cedera ini dapat terjadi
karena suatu gaya pada garis lurus straigth line) langsung atau melalui bidang
tunggal (singgle plane),atau karena suatu gaya berputar mendadak.2,3
Luka akut dan kronis pada lutut dapat mengakibatkan ketidakstabilan sendi,
lutut yang terluka diperiksa stabilitasnya secepat mungkin setelah cedera dan
dilakukan hanya oleh tenaga yang sudah terlatih dan profesional. Lutut yang
cedera dan lutut yang tidak cedera dites dan dikontraskan atau dibedakan untuk
menentukan suatu perbedaan dalam tingkat stabilitasnya. Tes tekanan valgus dan
varus dimaksudkan untuk menampakkan kelemahan kompleks kestabilan lateral
dan medial, khususnya serabut ligamen colateral. Tes untuk menentukan integritas
dari ligamen cruciate dapat dilakukan dengan menggunakan: 1) tes Drawer pada
fleksi 90 derajad , 2) tes Drawer Lachman, 3) tes pivot-shift, dan 4) tes Drawer

fleksi-rotasi. Sedangkan untuk memastikan ketidakstabilan ligamen cruciate


sebelah posterior dapat dilakukan dengan: 1) tes Drawer posterior, 2) tes
recurvatum rotasi eksternal, dan 3) tes SagPosterior. Adapun untuk menentukan
meniscus yang robek dapat menggunakan tiga cara yaitu dengan: 1) tes
McMurray, 2) tes kompresi apleydan 3) tes distraksi apley.2,3
Dilaporkan di Amerika Serikat Pada tahun 2007, Banyak atlit olahraga yang
mengalami cedera lutut yaitu 17.127.376 atlit, dimana dilaporkan bahwa cedera
lutut yang paling sering terlibat adalah ligament collateral anterior (ACL) (terlibat
sekitar 36.1% dari cedera lutut, 0.80 cedera per 10.000 atlit), diikuti dengan
tendon patella (29.5%, 0.65), ligament cruciata medial (MCL) (25.4%, 0.56),
meniscus (23.0%, 0.51), ligament collateral lateral (LCL) (7.9%, 0.17) dan
ligament cruciata posterior (PCL) (2.4%, 0.05). Pembagian utama cedera yang
dikhususkan melibatkan tendon patella (26.3%), MCL (25.1%), ACL (12.2%),
Meniskus (10.7%), LCL (5.1%) dan ACL + meniscus (4.7%). Cedera tendon
patella merupakan dislokasi (32.7% dari cedera tendon patella), kontusio (24.2%),
dan tendonitis (16.55).2,3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Sistem muskuloskeletal
Sistem muskuloskletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengurus
pergerakan. Komponen utama dari sistem muskuloskletal adalah tulang dan
jaringan ikat yang menyusun kurang lebih 25% berat badan dan otot menyusun

kurang lebih 50%. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendon,
ligamnet, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungan struktur-struktur
ini.1,2
a. Tulang
Tulang adalah jaringan yang paling keras diantara jaringan ikat lainnya yang
terdiri atas 50% air dan bagian padat. Selebihnya terdiri dari bahan mineral
terutama kalsium kurang lebih 67% dan bahan seluler 33%.
Fungsi dari tulang adalah sebagai berikut:
1. Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh
2. Melindungi organ tubuh (jantung, otak, paru-paru, dan jaringan lunak
3. Memberikan pergerakan (otot berhubungan dengan kontraksi dan
pergerakan)
4. Membentuk sel-se darah merah di dalam sumsung tulang belakang
5. Menyimpan garam-garam mineral (kalsium, fosfor, dan magnesium)
Tulang dalam garis besar dibagi atas:
1. Tulang panjang
Yang termasuk tulang panjang misalnya (femur, tibia,ulna dan
humerus) dimana daerah batas tersebut dan daerah yang berdekatan
dengan garis epifisis disebut metafisis. Tulang panjang terdiri dari
epifisis, diafisis, metafisis. Epifisis merupakan tempat menempel
nya tendon dan mempengaruhi kestabilan sendi. Diafisis adalah
bagian utama dari tulang panjang yang memberikan stuktural
tulang. Metafisis merupakan bagian yang melebar dari tulang
panjang antara epifisis dan diafisis.
2. Tulang pendek (contoh dari tulang pendek antara lain tulang
vertebra dan tulang-tulang karpal
3. Tulang pipih (yang termasuk tulang pipih antara lain tulang iga,
tulang scapula, dan tulang pelvis.

Gambar Anatomi lutut


Berdasarkan histologi secara mikroskopis terdiri dari:
1. Sistem harvest (saluran yang berisi serabut saraf, pembuluh darah, aliran
limfe)
2. Lamella (lempeng tulang yang tersusun konsentris)
3. Lacuna (ruangan kecil yang terdapat di antara lempengan-lempengan yang
mengandung sel tulang)
4. Kanalikuli (memancar diantara lacuna dan tempat difusi makanan sampai
ke osteon).
Tulang tersusun dari 3 jenis sel yaitu:
a. Osteoblast
Osteoblast berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan
matrik tulang. Matrik tulang tersusun atas 98% kolagen dan 2% substansi
dasar (glukosaminoglikan/ asam polisakarida dan proteoglikan)
b. Osteosit
Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak

sebagai

pemeliharaan fungsi tulang dan terletak pada osteon. Osteon yaitu


fungsional mikroskopikn tulang dewasa yang ditengahnya terdapat kapiler
dan disekelilingi kapiler terdapat matrik tulang yang disebut dengan
lamella.
c. Osteoklast
Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak memungkinkan mineral dan
matriks tulang dapat diabsorpsi, pengancuran dan remodelling tulang.

Gambar cell of
bone
b. Sendi
Sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang-tulang ini
dipadukan dengan berbagai cara misaknya dengan kapsul sendi, pita fibrosa,
ligamen, tendon dan fasia (otot). Dalam membentuk rnagka tubuh, tulang yang
satu berhubungan dengan tulang yang lain melalui jaringan penyambung yang
disebut persendian.1,2,3
Klasifikasi dan jenis sendi sebagai berikut:
1. Sindesmosis
Adalah sendi dimana dua tulang ditutupi hanya oleh tulang jaringan
fibrosa.
2. Sinkondrosis
Sinkondrosis adalah sendi dimana kedua tulang ditutupi oleh tulang
rawan. Lempeng epifisi merupakan suatu sinkondrosis yang bersifat
sementara yang menghubungkan antara epifisis dena metafisis.
3. Sinostosis
Bila sendi mengalami obliterasi dan terjadi penyambungan antara
keduanya, maka keadaan ini disebut dengan sinostosis.
4. Simfisis
Simfisis adalah suatu jenis persendian dimana kedua permukaannya
ditutupi leh tulang rawan hialin dan dihubungkan oleh fibrokartilago
serta jaringan fibrosa yang kuat.
5. Sendi sinovial
Sendi sinovial adalah sendi dimana permukaanya ditutupi oleh tulang
rawan hialin dan pinggirnya oleh kapsula sendi berupa jaringan fibrosa
dan didalamnya mengandung cairan sinovial.

c. Otot
Otot melekat pada tulang memungkinkan tubuh bergerak.
Kontraksi otot menghasilkan suatu usaha mekanik untuk gerakan
maupun produksi panans untuk mempertahankan temperature tubuh.
Jaringan otot terdiri atas semua jaringan kontraktil.
Otot dikaitkan di dua tempat tertentu, yaitu:
1. Origo (tempat yang kuat dianggap sebagai tempat dimana otot timbul)
2. Insersio ( lebih dapat bergerak dimana tempat kearah mana otot
berjalan)
d. Ligamen
Ligamen adalah suatu susunan serabut yang terdiri dari jaringan
ikat keadaannya kenyal dan fleksibel. Ligament mempertemukan kedua
ujung tulang dan mempertahankan stabilitas.
e. Tendon
Tendon adalah jaringan fibrous yang padat yang merupakan ujng
dari otot yang menempel pada tulang. Tendon merupakan ujung dari otot
dan menempel pada tulang.
f. Fascia
Fascia adalah suatu permukaan jaringan yang menyambung
longgar yang didapatkan langsung dari bawah kulit.
2.2 Fisiologi kontraksi otot
Impuls listrik menyebar ke seluruh sel ototsampai ke miofibril melalui
tubulus T, kemudian menyebabkan ion calsium keluar dari retikulum
sarkoplasmaion calcium yang sampai ke miofibril berikatan dengan
troponin Cikatan ion calcium dan troponim C Menyebabkan tropomiosis
bergeser dan binding site aktin untuk kepala myosin yang ditempati
tropomiosin terbuka aktin berikatan dengan kepala myosin yang
mengandung ATP-ase yang memecah ATP menjadi ADP sehingga
menghasilkan energi untuk menggerakkan aktin kontraksi impuls listrik
berakhir dan ion calcium dan troponin C dan terbukanya binding site untuk
myosin pada aktin karena tertutupnya oleh tropomiosinRelaksasi.
2.3 Etilogi
Penyebab terjadinya cedera lutut berasal dari luar seperti misalnya
kontak keras dengan lawan pada olahragawan, karena benturan, lingkungan
seperti licin sehingga menyebabkan pasien terjatuh dan terkilir kakinya.

Penyebab dari dalam biasanya karena koordinasi otot dan sendi yang kurang
sempurna, ukuran tungkai yang tidak sama panjang, ketidak seimbangan otot
antagonis. Terjadinya cedera awalnya dari sel yang mengalami kerusakan dan
sel akan mengeluarkan mediator inflamasi kimia yang merangsang terjadinya
peradangan berupa histamine, bradikinin, prostaglandin, dan leukotriet yang
menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah serta penarikan mediator kimia
pada lokasi cedera. Secara fisiologis respon tubuh yang dikenal sebagai
peradangan, proses peradangan kemudian berangsur-angsur menurun sejalan
dengan terjadinya proses kerusakan sel atau jaringan.
2.4 Jenis gangguan Tersering pada extremitas bawah
Secara umum macam-macam cedera yang mungkin terjadi adalah:
cedera memar, cedera ligamentum, cedera pada otot dan tendo, perdarahan
pada kulit. Struktur jaringan di dalam tubuh yang sering terlibat dalam cedera
olahraga adalah: otot, tendo, tulang, persendian termasuk tulang rawan,
ligamen, dan fasia.
Cedera lutut
Trauma pada lutut paling sering terjadi pada sisi media dibandingkan
pada sisi lateral. Ligamentus collaterale laterale (fibulare) lebih kuat
mengikat sendi daripada ligamentum collateral medial. Kerusakan
ligamentum collaterale terjadi sebagai akibat dari pukulan pada lutut
pada sisi yang berlawanan. Pukulan yang berat pada sisi medial dari
lutut yang mana dapat menimbulkan kerusakan pada ligamentum
collaterale fibulare. Meniskus medialis melekat kuat pada ligamentum
collateral tibialis dan fruekuensi keruskan 20 kali lebih sering terjadi
dibandingkan meniscus lateralis. Bila lutut digerakkan ke anterior
secara berlebihan ataupun bila lutut hiperekstensi, ligamentum
cruciatum anterior dapat robek sehingga menyebabkan sendi lutut
menjadi tidak stabil. Dan bila sendi lutut digerakkan ke posterior
dengan berlebihan makan ligamentum cruciatum posterior dapat
robek.

Tindakan

transplantasi

bedah

ataupun

memperbaiki kerusakan.

pada

artificial

ligamentum
ligamentum

cruciatum
digunakan

melalui
untuk

Cedera pada ligament (sprain) dibagi menjadi beberapa tingkatan,


yaitu:
1. Sprain tingkat 1 (pada cedera ini terdapat sedikit hematome dalam
ligament dan hanya beberapa serabut yang putus)
2. Sprain tingkat II (pada cedera ini lebih banyak serabut otot dari
ligament yang putus tetapi lebih setengah dari serabut ligament
yang masih utuh.
3. Sprain tingkat III ( Pada cedera ini seluruh ligament terputus
sehingga kedua ujungnya terpisah
Terdapat empat ligamen pada lutut, yaitu:
1. Medial collateral ligamen (MCL) yaitu menghubungkan femur
dengan tibia pada sisi lutut sebelah kanan
2. Lateral collateral ligament (LCL) Menghubungkan femur ke fibula
sepanjang sisi luar lutut
3. Anterior cruciated ligament (ACL) Menghubungkan femur ke tibia
pada tengah sendi lutut
4. Posterior cruciated ligament (PCL) Menghubungkan femur ke tibia
pada sebelah belakang sendi lutut.
2.4.1

Cedera pada Anterior Cruciated Ligament (ACL)


Sendi yang menjaga kestabilan sendi lutut. Cedera ACL sering terjadi pada
olahragawan high impact seperti sepak bola, futsal, tenis, badminton, bola
basket dan olahraga beladiri. Dengan cedera ACL pasien akan sulit sekali
untuk dapat melakukan aktivitas olahraga high impact.
Tanda ACL injury:
Saat cedera biasanya pasien mendengar suara seperti ada yang patah dalam
sendi dan pasien tiba-tiba merasa kehilangan tenaga dan langsung jatuh.
Kadang-kadang setelah beberapa saat setelah pasien dapat berjalan kembali
tetapi pincang, sendi lutut sulit digerakkan karena nyeri dan bengkak. Pada
perkembangan nya pasien akan merasakan bahwa lututunya tidak stabil,
gampang goyang dan sering timbul nyeri.
Epidemiologi
Insiden keseluruhan cedera ACL pada populasi umum di AS tidak diketahui,
meskipun suatu penelitian di Selandia Baru menemukan kejadian 36,9 cedera
per 100.000 orang pertahun. Diperkirakan terdapat 80.000 sampai 100.000

perbaikan ACL dilakukan setiap tahun di Amerika Serikat . Cedera ACL


umumnya mulai terjadi pada akhir masa remaja. Atlet muda biasanya
mengalami cedera lempeng pertumbuhan (fraktur avulsi) daripada cedera
ligamen karena kelemahan relatif tulang rawan pada pelat epifisis
dibandingkan dengan ACL.
Berbagai penelitian telah menunjukkan 1,4-9,5 kali peningkatan risiko
cedera ACL pada wanita. Teori yang berbeda untuk dominasi pada wanita ini
telah

diusulkan,

serta

faktor-faktor

lain

yang

dapat

meningkatkan

kemungkinan cedera ACL (Tabel 1). Penelitian juga menunjukkan bahwa


intensitas bermain merupakan suatu faktor, dengan risiko 3-5 kali lebih besar
mengalami cedera ACL yang terjadi selama pertandingan dibandingkan saat
latihan.
Mekanisme Cedera
Pasien yang mengalami cedera ACL klasik menunjukkan adanya suara
pop (popping sound), diikuti dengan nyeri segera dan pembengkakan lutut.
Rasa tidak stabil pada lutut atau giving-way episode biasanya membatasi
kemampuan

untuk

berpartisipasi

dalam

kegiatan.

Pasien

mungkin

menggambarkan rasa tidak stabilnya dengan " double fist sign "

(yaitu,

kepalan tangan saling berhadapan, berputar dalam gerakan menggiling).


Cedera ACL disebabkan oleh kontak digambarkan dengan tungkai
bawah terfiksir (yaitu, bila tertanam) dan gaya putar dengan kekuatan yang
cukup untuk menyebabkan cedera. Cedera kontak ditemukan hanya sekitar
30% dari cedera ACL. Sisanya 70% cedera ACL adalah cedera non kontak
yang terjadi terutama selama perlambatan ekstremitas bawah, dengan
kontraktur quadricep maksimal dan di lutut atau disekitarnya ekstensi penuh.
Dalam skenario non kontak, stres pada ACL menyerupai tabrakan lutut. Ketika
lutut berada pada keadaan ekstensi penuh, kontraksi quadricep meningkatkan
gaya tarik ACL. Hamstring, yang menstabilkan ACL pada bagian posterior,
seringkali mengalami kontraktur yang minimal selama cedera tersebut,
terutama jika panggul lebar dan berat badan ditumpu pada tumit,
memungkinkan terjadi pergeseran berlebih femur ke depan pada tibia. Contoh
jenis cedera non kontak adalah pemain ski atau snowboard yang pergelangan

kakinya terkunci ketika mereka jatuh ke salju ke arah belakang; pemain sepak
bola yang melakukan manuver menyalip mendadak; atau pemain basket yang
mendarat dengan rotasi internal lutut tanpa fleksi penuh.

Gambar 2. Cedera ACL


Evaluasi
Evaluasi harus dilakukan segera setelah cedera, jika memungkinkan,
tetapi sering dibatasi oleh pembengkakan dan nyeri. Evaluasi harus dimulai
dengan mengamati kiprah pasien, serta posisi yang dia dianggap nyaman di
meja periksa. Dokter harus mencatat semua kesenjangan, termasuk kehilangan
alur peripatellar

yang menunjukkan efusi, hemarthrosis, atau keduanya.

Dalam sebuah penelitian dari 132 atlet dengan cedera lutut akut dan
hemarthrosis, 77% memiliki cedera ACL parsial atau komplit.
Sebuah efusi yang lebih halus dapat dideteksi dengan menekan aspek
medial dan superior lutut, kemudian menekan aspek lateral untuk menciptakan
gelombang cairan. Dokter juga dapat mencoba untuk mempalpasi patella
dengan kompresi suprapatellar, yang akan terasa seperti spons jika terdapat
efusi.

Ketika terdapat hemarthrosis, Volume intraartikular meningkat


menghasilkan rasa sakit yang cukup besar pada rentang gerak. Rasa sakit ini
mengakibatkan penjagaan luas dan spasme otot hamstring, selanjutnya
membatasi jangkauan gerak lutut dan membuat pemeriksaan yang akurat sulit
dilakukan. Pasien mungkin tidak dapat sepenuhnya melenturkan lutut, tetapi
kehilangan hiperekstensi lebih menunjukkan sebuah gangguan pada ACL.
Robeknya tunggul ACL akan mengkompresi tibia dan femur, serta efusi sendi,
mencegah ekstensi penuh. Ketidakmampuan untuk mencapai ekstensi penuh
juga meningkatkan kemungkinan bergesernya meniscus.
Tiga tes yang paling akurat untuk mendeteksi cedera ACL adalah
Lachman test (sensitivitas 60 sampai 100 persen, mean 84 persen), anterior
drawer test (sensitivitas 9-93 persen; mean 62 persen), dan pivot shift test
(sensitivitas 27-95 persen,mean 62 persen).
Serangkaian radiografi lutut , termasuk tampilan anterior-posterior,
lateral, tunnel, sunrise, merupakan

pencitraan awal untuk menilai patah

tulang, mengevaluasi keselarasan lutut, menentukan kematangan tulang, dan


mengidentifikasi perubahan degeneratif pada pasien usia pertengahan.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah pemeriksaan penunjang utama
yang digunakan untuk mendiagnosa cedera ACL di Amerika Serikat. Hal ini
juga memiliki manfaat tambahan mengidentifikasi cedera meniscus, cedera
ligamen kolateral, dan memar tulang. Sekitar 60 sampai 75% cedera ACL
berhubungan dengan cedera meniscus, hingga 46 persen memiliki cedera
ligamen kolateral, dan 5 sampai 24 persen berhubungan dengan cedera
ligamen kolateral komplit. Sensitivitas dan spesifisitas MRI untuk mendeteksi
cedera ACL adalah 86 dan 95 persen, yang dikonfirmasi dengan artroskopi.
Tabel 1. Mekanisme yang berkontribusi untuk cedera ACL
Faktor ekstrinsik
Akses ke fasilitas pelatihan
Tanah / lapangan bermain (lapangan yang tidak rata, basah atau kondisi berlumpur)
Tingkat persaingan (tingkat yang lebih tinggi)
Gaya bermain (lebih agresif)
Permukaan sepatu (cleat yang panjang dapat memberikan terlalu banyak traksi)
Cuaca (hujan, dingin ekstrim)
Faktor intrinsik

Ukuran tubuh dan lingkar tungkai


Fleksibilitas, kekuatan, waktu reaksi
Morfologi kaki
Kekuatan hamstring
Fluktuasi hormonal (kecurigaan pada meningkatnya kelemahan pada ovulasi dan

fase postovulatory)
Peningkatan Q angle (lebih dari 14 derajat pada pria dan lebih besar dari 17 derajat

pada wanita)
Dominasi tungkai (perbedaan dalam kekuatan, fleksibilitas, dan koordinasi antara

tungkai kanan dan kiri)


Dominasi ligamen (penurunan kontrol neuromuskular medial-lateral sendi)
Kelemahan ligamen
Interkondilaris sempit pada femur distal (kontroversial apakah ini lebih sering

terjadi pada wanita)


Lebar panggul
Dominasi paha (quadricep yang lebih kuat dan penurunan kekuatan hamstring)
Ukuran ACL kecil

2.4.2

Cedera pada posterior cruciated ligament (PCL)


Sendi yang menjaga kestabilan sendi lutut bagian posterior. Cedera
PCL sering terjadi akibat kecelakaan bermotor, olahragawan high impact
seperti sepak bola, futsal, tenis, badminton, bola basket dan olahraga beladiri.
Memiliki faktor resiko terkena lebih besar pada laki-laki
Menjaga tibia bila bergeser ke belakang
Bila terjadi cedera pada PCL akan terjadi instabilitas lutut.
Cedera berasal dari depan tibia, bisanya saat lutut fleksi
Gejala: nyeri, bengkak, gangguan gerak, instabilitas, posterior drawer

test (+)
Treatment untuk nyeri dan pembengkakan dengan rest, ice,

compresion/tapping dan elevation


Bila terjadi avulsisurgery.

Gambar Posterior cruciated ligamentum


2.4.3

Cedera pada medial collateral ligament (MCL)


Cedera yang terjadi dari sisilateral dari lutut
Terjadi opening-uppada sisi medial lutut
Terdapat 2 gradasi MCL
1. Inkomplit: nyeri tekan pada sisi medial, ligament masih utuh,
gejala biasanya minimal, dapat melakukan aktivitas setelah 1
minggu.
2. Komplit: nyeri dan bengkak, lutut tidak dapat fleksi,
instabilitas, perlu knee brace, perlu waktu 6 minggu untuk

2.4.4

2.4.5

melakukan aktivitas semula.


Cedera pada lateral collateral ligament (LCL)
Sering terjadi akibat cedera dari aspek medial
Terdapat 3 gradasi LCL:
Grade 1 nyeri ringan pada sisi lateral sendi, tidak ada

pembengkakan, nyeri saat fleksi 30, joint laxity (-)


Grade 2nyeri pada sisi lateral, pembengkakan, nyeri tekan

dan joint laxity (+)


Grade 3 total ruptur ligament, nyeri, instabilitas

Meniskus Injury

Cedera meniskus merupakan cedera yang sering terjadi pada olahraga


yang melibatkan gerakan berputar. Mekanisme cedera meniskus
adalah gerakan berputar dari sendi lutut dan juga akibat gerakan fleksi
sendi lutut berlebihan
Gejala dan diagnosis cedera meniskus:
Terdapat pembengkakan
Nyeri disepanjang garis sendi
Lutut terasa seperti mengunci
2.5. Pemeriksaan orthopedi
Secara umum pemeriksaan orthopedi meliputi dari:6,7
a. Anamnesis
Terdiri dari autoanamnesis, yang perlu ditanyakan adalah mengenai mengapa
alesan datang, untuk apa dan apa yang dikeluhkan. Biarkan pasien
menceritakan tentang keluhan sejak awal dan apa yang dirasakan sebagai
ketidakberesan, bagian apa dari anggotanya/ lokasinya. Kemudian ditanyakan
gejala suatu penyakit atau beberapa penyakit serupa sebagai pembanding. Ada

beberapa hal yang menyebabkan penderita datang untuk meminta pertolongan:


Sakit/nyeri
Nilai lokasi setempat/meluas, apa penyebabnya, sudah berapa lama, tipe nyeri
apakah seperti ditusuk-tusuk, rasa panas, tertekan, dan apakah timbul nyeri

pada saat aktivitas atau beristirahat.


Kekakuan
Untuk daerah persendian tanyakan apakah ada kekakuan, apakah hanya kaku
atau disertai nyeri, apakah kekakuan ini juga disertai dengan kelemahan/

kelumpuhan.
Kelainan bentuk
Angulasi, rotasi, lihat apakah ada benjolan/pembengkakan. Pertama-tama
analisislah gaya berjalan pasien ketika ia memasuki kamar periksa. Ayunan
ekstensi/ fleksi lutut halus dan mantap. Perhatikanlah apakah ada
pembengkakan bursa setempat, pembengkekakan umum atau intra-artikuler.
Perhatikan kontur otot, apakah simetris atau tidak, dan mintalah pasien untuk
berdiri tegak. Lutut yang sedikit difleksikan pada satu sisi mengarah kepada
proses patologik pada sisi tersebut. Lutut lebih mudah dipalpasi jika
difleksikan 90. Mintalah pasien untuk duduk ditepi meja pemeriksa. Letakkan
tangan anda pada lutut sehingga jari-jari tangan anda membentuk lengkungan

disekitar daerah poplitea posterior. Palpasilah jaringan lunak dan tulang


dibagian anterior dengan kedua ibu jari tangan anda. Cari pengecilan otot yang
terlihat jelas: apakah massa otot tampak normal? Kemudian cari kelainan
terkait misalnya nodul rheumatoid, tofi gout atau tanda-tanda rematologis
sistemik. Periksa sendi untuk melihat adanya pembengkakan, deformitas,
efusi, eritema, dan nilailah kisaran gerak aktif/pasif pasien.
Tabel 1 Pemeriksaan lutut
Inspeksi

Gaya berjalan
Memikul berat badan dan duduk
Bagian-bagian tulang yang penting, hipertropi tulang dan
perubahan anatomi, pembengkakan dan efusi sinovial serta
jaringan lunak
Palpasi

Palpasi bagian-bagian tulang yang penting (tuberositas, patela),


garis sendi, meniskus, ligamentum collateral, bursa, kapsul
sendi, otot dan ligamentum
Pemeriksaan:

Rentang gerakan (ekstensi 10, fleksi 130), Rotasi medial dan

lateral
Keutuhan ligamentum krusiatum
Ligamentum collateral
Efusi
Ketukan patella

b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua yaitu:
pemeriksaan umum (generalisata)
1) Nilai tanda-tanda vital
2) Nilai ektremitas atas dan ektremitas bawah
pemeriksaan setempat (status lokalis)
1) Look (Inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain yaitu jaringan parut,
fistula, warna kemerahan atau kebiruan atau hiperpigmentasi,
pembengkakan atau benjolan, deformitas, dan cara berjalan
penderita saat memasuki kamar periksa.
2) Feel (palpasi)

Pada waktu meraba, terlebih dulu posisi penderita diposisikan


netral atau posisi anatomi. Yang perlu dinilai pada pemeriksaan
palpasi

yaitu

perubahan

suhu

terhadap

sekitarnya

serta

kelembaban kulit. Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat


fluktuasi atau hanya edema, terutama didaerah persendian,
kemudian lakukan penilaian ada atau tidaknya nyeri tekan
(tenderness), krepitasi, catat lokasi kelainannya.
3) Move (Gerakan)
Lakukan penilaian terhadap anggota gerak dan dicatat apakah
terdapat keluhan nyeri pada pergerakkan. Pada anak periksalah
bagian yang tidak sakit dulu, apabila terdapat fraktur akan
ditemukan gerakan abnormal, gerakan sendi dicatat dengan ukuran
derajat gerakan dari setiap pergerakkan mulai dari titik 0 (posisi
netral ) atau dengan ukuran metrik. Selain pencatatan pemeriksaan
penting untuk mengetahui gangguan gerak, hal ini juga penting
untuk melihat kemajuan/ kemunduran pengobatan. Dibedakan
istilah contraction (apabila ada perubahan fisiologis) dan
contructure (apabila sudah ada perubahan anatomis).

Gambar pemeriksaan mediskus medial

Cara pemeriksaan: lakukan rotasi internal tibia agar meniskus medial


dapat dipalpasi pada garis sendi. Kalau meniskus dirotasikan kelateral,
meniskus tersebut masuk ke dalam dan anda hanya dapat mempalpasi kondilus
tibia medial dan epikondilus.

Gambar pemeriksaan lutut 2


Pemeriksaan keutuhan ligamentum kolateral lateral. Pemeriksa
memberikan tekanan pada sisi medial lutut dan pada sisi lateral pergelangan
kaki. Jika ligamentum kolateral telah terpisah, akan terlihat mobilitas
abnormal pada ruang sendi lutut dan timbulnya nyeri.

Gambar pemeriksaan lutut 3


Dengan tangan kanan pemeriksa menarik tungka bawah ke depan. Jika
ligamentum krusiatum anterior telah putus, akan terlihat pergerakan tungkai
bawah ke depan secara abnormal. Tanda tarikan dibagian posterior untuk
memeriksa keutuhan ligamentum krusiatum bagian posterior.
2.5.1

Pemeriksaan dasar pada lutut

Evaluasi tiap sendi mencakup pemeriksaan anatomi dan fungsional.


Inspeksi dan palpasi setiap sendi. Seorang pemeriksa yang berpengalaman
dapat memeriksa semua sendi secara efektif dalam 5 menit. Untuk dapat
melakukan pemeriksaan secara efektif pertama menentukan tempat bagian
tulang yang penting, memvisiualisasikan anatomi dan persendian yang normal,
dan mengingat rentang gerakan aktif dan pasif yang normal untuk setiap sendi.
Pemeriksa melakukan inspeksi cara berjalan lihat mantap atau tidaknya,
kecepatan, panjang langkah, ayunan lengan, kepincangan, penggunaan salah
satu kaki yang dominan, lakukan tes tumit jari kaki adakah tanda-tanda
spastisitas, foot drop, apraksia (gangguan gerakan kompeks walaupun fungsi
motorik dan sensoris normal), ataksia (cara berjalan yang canggung dan
meluas). Pemeriksa melakukan evaluasi terhadap nyeri tekan, pembengkakan
yang disebabkan oleh cairan atau peradangan jaringan lunak. Perubahan warna
dan suhu kulit, perubahan anatomi tulang dan jaringan lunak, deformitas,
kelemahan, dan perubahan rentang gerakan.
Adapun pemeriksaan pada cedera lutut/ olahraga pada extremitas
bagian bawah adalah:
a. Tes tekanan valgus dan vanus
Gerakan valgus adalah gerakan kesisi luar/samping (lateral),
sedangkan gerakan vanus adalah gerakan ke sisi dalam/tengah dari
sendi yang terjadi secara mendadak. Tes tekanan valgus dan vanus
dimaksudkan untuk melihat kelemahan komplek kestabilan lateral dan
medial, khususnya serabut ligament collateral.

Gambar tes tekanan valgus dan varus


b. Tes anterior cruciated ligament
Disebutkan bahwa banyak tes yang digunakan

untuk

menentukan integritas dari ligament cruciated. Diantaranya ada test


drawer anterior, tes drawer lachman, test pivot-shift, test jerk dan test
drawer fleksi-rotasi. Adapun penjelasan beberaa macam test untuk
menentukan integritas ligament cruciated adalah seperti dibawah ini:

Test drawer anterior


Cara kerja test drawer anterior adalah penderita

berbaring pada meja pemeriksa dengan tungkai yang cedera


difleksikan sementara pemeriksa menghadap ke bagian depan
tungkai penderita yang cedera, kemudian putar dengan kedua
tangan. Jari-jari pemeriksa diletakkan pada ruang atau tempat
popliteal dari tungkai terefleksi dengan ibu jari pada garis sendi
medial dan lateral. Jari-jari dari pemeriksa terleta pada tendo
hamstring, untuk memastikan itu semua. Bila ditemukan tulang
tibia ke arah depan dari bawah tulang femur, maka diartikan tanda
drawer anterior positif. Jika tanda atau gejala drawer anterior yag
positif terjadi, maka tes sebaiknya diulang dengan tungkai yang
diputar secara internal 20 dan diputar secara eskternal 15.

Penggeseran dari tulang tibia ke depan pada saat tungkai diputar


eksternal adalah suatu indikasi bahwa bagian posteromedial dari
kapsul sendi, ligament cruciator anterior mungkin terdapat
robekan. Gerakan ketika tungkai dirotasikan ke arah internal
diindikasikan bahwa ligament cruciated anterior dan kapsul
posterolateral mungkin terdapat robekan.

Gambar tes drawer anterior


Test drawer lachman
Test drawer lachman merupakan tes pilihan oleh karena

adanya test drawer lachman pada fleksi 90, hal ini dikarekan test
tersebut tidak memaksa lutut kedalam posisi yang menyakitkan,
tetapi mengetesnya lebih nyaman pada sudut 15 alasan lain tes ini
adalah bahwa test ini mengurangi kontraksi dari otot hamstring.
Kontraksi tersebut menyebabkan kekuatan penstabilan lutut
sekunder cenderung untuk menutupi ekstensi yang nyata dari
cedera. Test drawer lachman dilaksanakan dengan meletakkan lutut

pada posisi fleksi kira-kira sudut 30 dengan tungkai diputar secara


eksternal. Satu tangan dari pemeriksa menstabilkan tungkai bawah
dengan memegang bagian akhir atau ujung distal dari tungkai atas,
dan tangan yang lain memegang bagian proksimal dari tulang tibia,
kemudian diusahakan untuk digerakkan ke arah posterior.

Gambar test drawer lachman.

Test Pivot-shift
Test ini digunakan untuk menentukan ketidakstabilan
putaran anterolateral. Test ini paling sering digunakan dalam
kondisi kronis dan merupakan test sensitif pada saat ligament
cruciated bagian depan telah robek. Cara pemeriksaan nya
adalah penderita berbaring terlentang, salah satu tangan
pemeriksan ditekan pada bagian kepala dari tulang fibula,
tangan yang satunya memegang pergelangan kaki penderita
tersebut. Untuk memulainya tungkai bawah diputar dengan
sudut 30 dari pinggul saat itu lutut difleksikan dan daya valgus
diterapkan oleh tangan bagian atas pemeriksa. Lutut difleksikan

dengan sendirinya, ini berakibat menghasilkan palpable shift


atau clunk.
c. Test Ligament cruciated sebelah posterior
Tes pada ketidakstabilan ligamen cruciated sebelah posterior
dapat dikerjakan dengan beberapa cara diantaranya termasuk test
drawer

posterior,

test

recurvatum

rotasi

eksternal.

Adapun

pelaksanaanya adalah sebagai berikut dibawah ini:


Test drawer posterior
Dibentuk dengan lutut difleksikan pada sudut 90 dan kaki
dalam keadaan netral. Daya digunakan ke dalam arah posterior
pada proksimal tibia tanpa ada perubahan. Bila tedapat drawer
posterior positif maka dapat diindikasikan tejadi kerusakan
pada cruciated posterior.

Gambar test drawer posterior

Test recurvatum rotasi eksternal


Minta pasien untuk tidur terlentang dimeja pemeriksaan
kemudian pemeriksa memegang jari-jari dan angkat tungkai
dari meja. Longgarnya posterior dan rotasi ekstenal dari tibia

mengindikasikan kerusakan pada ligament cruciated posterior


dan ketidakstabilan posteropateral.

Gambar Test recurvatum rotasi eksternal

d. Test meniskus
Pada umumnya untuk menentukan meniskus robek para
pemeriksa sering mengalami kesulitan. Terdapat tiga macam test yang
paling umum digunakan yaitu test Mcmurray, Test kompresi apley, dan
test distraksi apley.
Test McMurray
Test mcmurray digunakan untuk menentukan kehadiran badan
atau lepas dan longgar pada lutut. Cara kerjanya adalah
penderita diletakkan mengahadap ke atas dengan tungkai
cedera difleksikan secara maksimal. Pemeriska meletakkan
salah satu tangan pada telapak kaki dengan tangan satunya

diatas ujung lutut.pergelangan tangan melakukan gerakan


seperti menuliskan lingkaran kecil dan menarik tungkai ke
dalam posisi ekstensi. Pada saat ini terjadi atau dilakukan,
tangan atau lutut merasa ada respons bunyi klik. Meniskus
sebelah medial yang robek dapat dideteksi pada saat tungkai
diputar secara eksternal sedangkan rotasi internal memberiksan
deteksi dari lateral yang robek.

e. Uji untuk cairan


Ada 4 uji cairan:
1) Fluktuasi silang ( tangan kiri menekan dan mengosongkan
kantong suprapatelar sementara tangan kanan pada bagian
depan sendi lewat patela, dengan menggencet dengan satu
tangan secara bergantian, gelombang yang berasal dari cairan
akan dialirkan ke sendi
2) Ketukan patela (kantong suprapatelar sekali lagi ditekan
dengan tangan kiri sementara jari telunjuk kanan mendorong
patelar secara keras kebelakang, bila uji positif, patela terasa
menabrak femur dan terpental lagi.
3) Uji penggelembungan ( uji ini berguna bila terdapat sedikit
sekali cairan, tangan menekan sendi itu dengan tangan
kemudian diangkat dan sisi lateral ditekan dengan keras, riak
yang nyata terlihat pada permukaan medial yang rata.
4) Uji cekungan patela (bila lutut normal berfleksi suatu
cekungan muncul di bagian lateral ligamentum patela dan
menghilang bila berfleksi lebih jauh. Jaringan lunak kemudian
kerangka tulang kemudian dipalpasi secara sistematis, sambil

meraba apakah ada penebalan dan nyeri lokal. Cara kerja nya
yaitu dengan posisikan lutut dalam posisi ekstensi dan
kemudian fleksi 90, pada posisi fleksi sendi dapat diraba
dengan lebih mudah, pemeriksa menggenggam tepi patela
dalam jepitan ibu jari dan jari tengah dan mencoba
mengangkat patela ke depan, biasanya tulang akan dapat
dipegang secara erat, tetapi jika terjadi penebalan sinovium
maka jari-jari hanya akan tergelincir dari tepi patela.
f. Uji stabilitas
Pengujian ketidakstabilan ini bertujuan untuk menilai kekenduran
ligamentum krusiatum medial dan lateral yaitu dengan cara menekan
lutut kedalam valgus dan varus, ligamentum krusiata diuji dengan
memeriksa ada tidaknya gerakan luncur yang abnormal pada bidang
anteroposterior. Dengan kedua lutut berfleksi 90 jika bisa didorong
ligamentum krusiatum posterior
2.5.2 Pemeriksaan Penunjang
a. Pencitraan
Diperlukan foto dari anteroposterior, lateral, dan kadang-kadang
patelofemoral.

Foto anteroposterior harus diambil dalam posisi

berdiri.

Gambar
posisi
anteroposterior os femur-tibia
b. Arthoskopi
c. MRI
2.6 Tatalaksana cedera lutut

Sinar-X

1. Terapi dingin ( terapi yang sangat baik untuk cedera, es adalah


vasokontriktor sehingga dapat mengurangi perdarahan internal dan
bengkak, dan mengurangi nyeri kronik setiap selesai berlatih)
2. Terapi panas (digunakan pada cedera kronis atau cedera tanpa
bengkak, meningkatkan elastisitas jaringan ikat sendi, memperbaiki
sirkulasi darah, seperti nyeri, kaku, dan nyeri sendi). Atau lebih
dikenal dengan istilah RICE
R= Rest (mengistirahatkan langsung bagian cedera 48-72 jam

untuk memberi kesempatan jaringan pulih.


I=Ice (mengompres bagian cedera dengan es untuk menghentikan

perdarahan, mengurangi bengkak dan nyeri)


C=Compression (membebat bagian cedera dengan elastic bandage

untuk mengurangi bengkak).


E=Elevated (Meninggikan bagian cedera melebihi level jantung

untuk mengurangi bengkak).


3. Terapi konservatif (dianjurkan pasien menggunakan penopang atau
pemasangan gips selama 3-4 minggu.
4. Terapi operasi, diindikasikan kalau sendi tidak dapat dibuka kuncinya,
gejala timbul berulang, robeknya mediskus dekat dengan bagian
perifer yaitu dengan teknik menisektomi.
2.7 Pencegahan cedera lutut
Menurut stevenson (2000) beberapa hal yang perlu dilakukan untuk
mencegah terjadinya cedera lutu/ cedera olahraga antara lain:
1. Pemeriksaan awal sebelum melakukan olahraga untuk menentukan
ada tidaknya kontraindikasi dalam olahraga
2. Melakukan olahraga sesuai dengan kaidah baik, benar, dan teratur
3. Memperhatikan lingkungan fisik seperti suhu dan kelembaban
udara sekelilingnya
4. Menggunakan peralatan dan perlindungan diri yang aman bagi
tubuh.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sport injury ( cedera olahraga) adalah segala macam cidera yang timbul, baik
pada waktu latihan ataupun waktu berolahraga. Yang biasa terkena adalah tulang,
otot, tendo, dan ligamentum. Tanda akut cedera olahraga yang umumnya terjadi
adalah tanda respon peradangan tubuh berupa tumor (pembekakan), kalor
(peningkatan

suhu),

rubor

(warna

merah),

dolor

(nyeri)

dan

functio

leissa( punurunan fungsi). Pada umumnya penatalaksanaan cedera olahraga


menggunakan prinsip RICE (Rest, Ice, Compression, and Elevation) yang selalu
diterapkan pada fase akut cedera sebelum penanganan selanjutnya. Indikasi RICE
dilakukan pada cedera akut atau kronis eksaserbasi akut seperti hematome, sprain,
strain, patah tulang tertutup, dislokasi setelah dilakukan reposisi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rasjad, Chairudddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: PT. Yarsif


Watampone. 2009
2. Mc Kinley, michael. Human Anatomy third edition. New York: The McGrawHill Companies. 2012
3. Soeharso, Surakarta. Sport Injuries. Media Ortopedi edisi 2. 2012
4. Solomon L, et al. Apley`s System of Orthopaedics and Fractures. seventh
Edition.Hodder Arnold: London. 2010: p.338
5. Rolf C, The Sports Injuries Handbook, Diagnosis and Management, 2007
6. Jonatan G, At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan fisik: 2007.
7. Reksoprodjo S, dkk. Ilmu bedah. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:
2010.