Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi cacing usus masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
di Indonesia dan beberapa negara di dunia terutama pada negara
berkembang di daerah tropis. Dalam kehidupan sehari-hari cacingan
merupakan penyakit yang banyak dijumpai, terutama pada masyarakat
golongan sosial ekonomi rendah. Walaupun infeksi cacing sangat jarang
menimbulkan kematian, tetapi dalam keadaan kronis dapat menimbulkan
masalah di bidang kesehatan, seperti akibat infeksi berat dan kronis dapat
menyebabkan kurang gizi, kurang darah (anemi), yang mana secara tidak
langsung dapat menyebabkan gangguan fisik, gangguan kognitip,
gangguan pertumbuhan anak, penurunan daya kerja dan kuwalitas hidup,
serta masa depan dari penderita. Infeksi cacing dapat mengenai semua
golongan umur tetapi prevalensi tinggi terutama pada golongan anak usia
sekolah dasar. Trikuriasis merupakan penyakit infeksi cacing Trichuris
trichiura yang diperkirakan mencapai 800 juta kasus di seluruh dunia. Di
daerah tropis dan lembab seperti di Indonesia, penderita dengan infeksi
berat dan menahun, terutama pada anak-anak sering dengan gejala khas,
seperti sindroma disentri, anemia, penurunan berat badan, disertai dengan
infeksi mikro organisme lain, bahkan dapat terjadi prolapsus rekti.
Pada negara berkembang termasuk Indonesia infeksi cacing usus
yang ditularkan melalui tanah / Soil-Transmitted Helminths (STH)
mempunyai angka prevalensi yang sangat tinggi terutama

pada

anak

usia

bawah lima

golongan anak sekolah dasar.


Dari penelitian pada

tahun (Balita) ataupun

tahun

1995

didapatkan

prevalensi penyakit cacingan yang ditularkan melalui tanah


sebesar 60 70%. Anak usia sekolah dasar dan merupakan
kelompok yang rentan terhadap penularan penyakit ini
(Subahar R; Mahfudin H; Ismid IS).
Hasil penelitian tahun 1996 pada anak SD di Jakarta
Utara menemukan prevalensi askariasis 59.6 % dan
trikuriasis sebesar 79.64 %. Tinggi rendahnya penularan
penyakit askariasis dan trikuriasis sangat berhubungan
erat

dengan

pencemaran

tanah

oleh

tinja

yang

mengandung telur cacing (Subahar R; Mahfudin H; Ismid


IS).
Dalam usaha pencegahan dan pengobatan penyakit
kecacingan,

pemerintah telah

melaksanakan

berbagai

program pemberantasan penyakit kecacingan, terutama


pada anak usia sekolah dasar. Kegiatan tersebut meliputi
penyuluhan kepada murid, guru, dan orang tua murid
mengenai
tanah,

penyakit cacingan yang ditularkan

termasuk

penyebab,

pencegahan,

melalui

dan

cara

penanggulangan serta pemberian obat cacing.


Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian
Albendazole dosis sekali sehari selama 1 hari untuk
menanggulangi trikuriasis belum memberikan efek yang

optimal. Berdasar kenyataan ini perlu diteliti berapa lama


pemberian Albendazole dosis sekali sehari untuk mencapai
efek yang optimal pada penanggulangan infeksi Trichuris
trichiura (Sirivichayakul C, Pojjoen Anant C,Wisetsing P dkk,
2005)
Albendazole

merupakan

obat

cacing

derivate

benzimidazole serspektrum lebar yang dapat diberikan per


oral. Dosis tunggal efektif untuk infeksi cacing Kermi,
cacing Gelang, cacing TriKuris, cacing S.Stercoralis, dan
cacing Tambang. Juga merupakan obat pilihan untuk
penyakit hidatid dan sistiserkosis (Syarif A, Ascobat P, Setiabudi
R.dkk, 2011).
Dibandingkan

prazikuantel,

Albendazole

lebih

menguntungkan karena lebih mudah menenbus masih


kecairan serebrospinal dan bila dikombinasikan dengan
kontikosteroid,

kadar

plasma

Albendazole

meningkat,

sebaliknya kadar plasma Prazikuantel menurun

(Syarif A,

Ascobat P, Setiabudi R.dkk, 2011).


Ablendazole juga dipakai bersama sama dengan
DEC oleh WHO dalam program eliminasi global filariasis
limfatik didunia, yang diharapkan dapat dicapai pada tahun
2020. Program ini dicanangkan oleh WHO sejak tahun 2000
melalui pemberian obat antifilaria masal dengan kombinasi
DEC (Syarif A, Ascobat P, Setiabudi R.dkk, 2011).

B. Tujuan Penulisan
Dalam kajian diatas, telah dijelaskan secara singkat
mengenai terapi parasit usus (nematode usus) namun, pada term paper
ini akan lebi difokuskan pada obat yang digunakan yaitu Albendazole.
Secara keseluruhan, tujuan pembuatan term paper ini adalah untuk
memberikan informasi mengenai obat albendazole dan efeknya terhadap
terapi parasit usus (nematode usus). Dalam term paper ini akan dijelaskan
lebih dalam mengenai Albendoze mulai dari siat farmakologi hingga efek
sampingnya terhadap tubuh.
Manfaat yang bisa didapat dalam term paper ini adalah diharapkan
setelah membaca term paper ini pembaca dapat lebih memahami fungsi
dari obat Albendazole mulai dari kelebihan, kekurangan, hingga efek
toksik yang dapat ditimbulkan.

BAB II
ALBENDAZOLE
a. Struktur obat

b. Sifat obat
Albendazole merupakan antihelmintik dengan spektrum yang
sangat luas, termasuk dalam golongan Benzimidazole. Secara farmakologi
Benzimidazole bekerja menghambat mitochondrial fumarate reductase,
pelepasan posporilasi dan mengikat -tubulin, sehingga menghambat kerja
polimerisasi(Goodman, 1996). Pada parasit cacing Albendazole dan
metabolit-nya diperkirakan bekerja dengan jalan menghambat sintesis
mikrotubulus, dengan demikian mengurangi pengambilan glucose secara
irreversible, mengakibatkan cacing lumpuh(Bertram.G.K, 2004).
Dengan pemberian per oral Albendazole akan cepat mengalami
metabolisme dalam tubuh menjadi albendazole sulfoxide. Tiga jam setelah
pemberian per oral dengan dosis 400 mg, sulfoxide mengalami konsentrasi
maximal sekitar 113 367 ng/ml dan waktu paruh plasmanya 8 -12 jam.
Bahan metabolisme dikeluarkan dari tubuh melalui empedu dan urine.

Penyerapan Albendazole akan meningkat hingga lima kali bila diberikan


dengan makanan yang berlemak. Dengan demikian bila kita ingin membunuh
cacing yang berada di jaringan, maka obat cacing diberikan bersama
makanan, dan bila kita ingin memberantas cacing yang berada di dalam
lumen usus, maka obat cacing diberikan pada waktu sebelum makan / perut
kosong (Bertram.G.K, 2004).
Abendazole dapat bekerja sebagai larvisid dan ovisid. Obat ini
disediakan dalam berbagai bentuk dan nama dagang, seperti:
1. Helben (PT.MECOSIN INDONESIA), kaplet 400mg dan suspensi 200
mg per 5 ml.
2. Albendazole (INDOFARMA), kaplet mengandung 400 mg.
Albendazole diindikasikan untuk mengobati infeksi cacing usus
baik infeksi tunggal maupun infeksi campuran dari:
1. Ascaris lumbricoides
2. Trichuris trichiura
3. Necator americanus
4. Ancylostoma duodenale
5. Enterobius vermicularis
6. Strongyloides stercoralis
7. Taenia spp

Dosis Albendazole
a. Untuk dewasa dan anak-anak dipakai 1 kaplet atau 10 ml suspensi yang
mengandung 400 mg diberikan sebagai dosis tunggal.
b. Pada kasus strongyloidiasis dan taeniasis diberikan 1 kaplet atau
suspensi yang mengandung 400 mg diberikan selama 3 hari berturutturut.
c. Pengobatan tidak memerlukan puasa atau pemakaian pencahar.
Efek samping Albendazole
Efek samping biasanya ringan dan bersifat sementara. Gangguan
saluran pencernaan, sakit kepala, dizziness, lemas, dan insomnia dapat terjadi
pada beberapa kasus.
C. Farmakologi Umum
Khasiat
Albendazol berkhasiat membasmi cacing di usus yang hidup
sebagai parasit tunggal atau majemuk.
Indikasi:
Albendazol berkhasiat membasmi cacing di usus yang hidup
sebagai parasit tunggal atau majemuk. Albendazol efektif untuk pengobatan
cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura),
cacing kremi (Enterobius vermicularis), cacing tambang (Ancylostoma

duodenale dan Necator americanus), cacing pita (Taenia sp.) dan


Strongyloides stercoralis.
Kontra indikasi
Wanita hamil dan wanita yang sedang menyusui. Hati-hati bila
digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan gangguan fungsi
ginjal. Albendazole sebaiknya tidak diberikan pada anak usia dibawah 2
tahun (Bertram.B.K, 2004).

BAB III

a. Farmakodinamik
Obat ini bekerja dengan cara berikat dengan -turbulin parasite
sehingga mengambat polymerase mikrotubulus dan memblok pengambilan
glukosa oleh larva maupun cacing dewasa, sehingga persediaan glikogen
menurun dan pembentukan ATP berkursang, akibatnya cacing akan mati.
Obat ini memiliki khasiat membunuh larna N. Americanus dan juga dapat
merusak telur cacing gelang, tambang dan jug trikuris.

BAB V
EFEK SAMPING dan TOKSITAS
EFEK SAMPING
Untuk penggunaan 1-2 hari, aman. Efek samping berupa nyeri ulu hati, diare,
sakit kepala, mual, lemah, pusing, insomnia, frekuensinya sebanyak 6%. Tetapi
pada salah satu penelitian dilaporkan bahwa insidens efek samping ini tidak
berbeda dengan placebo.
Pada pengobatan/penyakit hidatid selama 3 bulan, dilaporkan timbulnya
efek samping berupa: alopesia, leukopenia yang reversible, peningkatan
transaminase yang reversible, serta gangguan cerna berupa mual, muntah dan
nyeri perut.
TOKSISITAS
Pada studi toksisitas kronik dengan hewan coba ditemukan adanya: diare,
anemia, hipotensi, depresi sumsum tulang, kelainan fungsi hati, embriotoksisitas
dan teratogenisitas.

BAB VI
PENELITIAN LAIN
A.

Prevalensi transmisi cacing tanah dan dampak Albendazole pada


indeks parasit di Kotto Barombi dan Desa Marumba II ( South-West
Kamerun )
Penelitinan ini dilakukan oleh L. Nkengazong1, F. Njiokou1*, S.
Wanji2,3, F. Teukeng1, P. Enyong2 and T. Asonganyi4 dari 1Department of
Animal Biology and Physiology, Faculty of Science, P.O. Box 812,
Yaounde, University of Yaounde I, Cameroon. 2Research Foundation of
Tropical Diseases and Environment, P.O. Box 474 Buea, Cameroon.
3

Department of Biochemistry and Microbiology, Faculty of Science,

University of Buea, P.O. Box 63, Buea, Cameroon. 4Faculty of Medicine and
Biomedical Science, University of Yaounde I, Cameroon.
Hasil:
Penelitian ini menilai prevalensi yang sebenarnya dari geohelminths
dan dampak Albendazole pada indeks parasit di Kotto Barombi dan
Marumba II. Sampel kotoran dikumpulkan dari 420 anak-anak sekolah dan
diperiksa menggunakan teknik Kato-katz feses. Peserta diobati dengan 600
mg albendazol. Prevalensi dasar dari infeksi dan parasit yang berarti beban
26,4% dan 6226.9e/g (Ascaris lumbricoides), 31,0% dan 252,4e/g (Trichuris
trichiura), dan 1,4% dan 468.0e/g (Necator americanus). Empat anak
(0,9%) terinfeksi dengan Strongyloides stercoralis. Sebuah perbedaan yang
signifikan dari prevalensi yang diamati antara dua desa untuk Ascaris
lumbricoides (P = 0,0001) dan T. trichiura (P = 0,0005), dan beban parasit
untuk T. trichiura (P = 0,0001). Infeksi tunggal (T. trichiura atau A.
lumbricoides) dan infeksi ganda (A. lumbricoides - T. trichiura) yang lebih
umum. Kontrol pasca perawatan menunjukkan penurunan prevalensi dan
berarti beban parasit menjadi 24,4% dan 2969.5e/g (A. lumbricoides), dan
24,0% dan 112.8e/g (T. trichiura), dan 0,0% untuk N. americanus dan S.
stercoralis. Tarif khasiat dan pengurangan telur yang 84,6% dan 55,3% (T.

trichiura), 82,0% dan 52,2% (A. lumbricoides), dan 100,0% untuk N.


americanus dan S. stercoralis. Hasil ini menunjukkan bahwa infeksi
geohelminths tetap fokus masalah kesehatan yang serius pada anak-anak
sekolah di Kotto Barombi.
B.

Terapi Albendazole dan Parasit enterik di Amerika Serikat-Bound


Pengungsi
Penelitian ini dilakukan oleh Stephen J. Swanson, dkk, dari Epidemic
Intelligence Service (S.J.S.) and the Centers for Disease Control and
Prevention (C.R.P., M.S.C., W.M.S.).
Hasil:
Di antara 4.370 pengungsi yang tidak diobati, 20,8% memiliki
setidaknya satu nematoda tinja, paling sering cacing tambang (di 9,2%). Di
antara 22.586 pengungsi yang diobati albendazole, hanya 4,7% memiliki
satu atau lebih nematoda, paling sering Trichuris (di 3,9%). Setelah
penyesuaian untuk jenis kelamin, usia, dan daerah, pengungsi yang diobati
albendazole kurang mungkin dibandingkan pengungsi yang tidak diobati
untuk memiliki nematoda (rasio prevalensi, 0.19), Ascaris (rasio prevalensi,
0,06), (rasio prevalensi, 0,07) cacing tambang, atau Trichuris (rasio
prevalensi, 0,27) tetapi tidak kurang cenderung memiliki giardia atau
Entamoeba. Ova Schistosoma diidentifikasi secara eksklusif di antara
pengungsi Afrika dan kurang umum di kalangan mereka yang diobati
dengan albendazole (rasio prevalensi, 0.60). Setelah pelaksanaan protokol
Albendazole, patogen yang paling umum di antara 17.011 pengungsi Afrika
yang giardia (di 5,7%), Trichuris (di 5.0%), dan Schistosoma (di 1,8%);
antara 5575 pengungsi di Asia Tenggara, hanya giardia tetap sangat lazim
(hadir dalam 17,2%). Tidak ada efek samping yang serius terkait dengan
penggunaan albendazol yang dilaporkan.

C.

Khasiat Perbandingan Dua Dosis Tingkat Albendazole terhadap Infeksi


Nematoda Didapat Secara Alami di Kambing

Penelitian ini dilakukan oleh Habibun Nabi1*, Khalid Saeed1,


Muhammad Lateef1, Aneela Zameer Durrani2, Muhammad Haroon Akbar1,
Muhammad Imran Rashid1 dari 1Department of Parasitology, University of
Veterinary and Animal Sciences, Lahore, Pakistan; 2Department of Clinical
Medicine & Surgery, University of Veterinary and Animal Sciences, Lahore,
Pakistan.
Hasil:
Ternak ruminansia kecil terancam oleh sejumlah bahaya kesehatan di
seluruh dunia, namun, nematoda gastrointestinal dianggap paling berbahaya.
Infeksi ini dikendalikan terutama oleh berbagai agen kemoterapi. Penelitian
ini dirancang untuk memastikan tingkat terapeutik antihelmit pada kambing
karena fakta bahwa ini dimetabolisme dengan cepat pada kambing daripada
domba dan pada akhirnya memerlukan dosis yang lebih tinggi untuk efektif
control parasit. Sebanyak 30 kambing yang terinfeksi secara alami, dengan
pencernaan alami infestasi nematoda, dipilih untuk percobaan terapeutik.
Hewan ini secara acak dibagi menjadi tiga kelompok yang sama dan disebut
Grup A, B dan C dan diperlakukan dengan tingkat yang berbeda dari
Albendazole (Albasym). Hewan di grup A diperlakukan dengan laju dosis
1ml/20 Kg berat badan (direkomendasikan dosis), kelompok B diperlakukan
dengan 1,25ml/20Kg berat badan, sedangkan hewan dalam kelompok C
menjabat sebagai kontrol negatif. Persen pengurangan telur per gram tinja
(EPG) dihitung pada hari 0, 7, 14 dan 28 pasca pengobatan. Perbedaan yang
tidak signifikan (P> 0,05) dalam pengurangan telur dengan dosis yang
dianjurkan dan pada dosis yang lebih tinggi diamati sementara signifikan (P
<0,05) pengurangan telur shedding dibandingkan dengan kelompok kontrol
tercatat. Pengurangan EPG pada hari ke 7 pasca obat di direkomendasikan
dosis dan dosis yang lebih tinggi adalah 98,81% dan 100%, sementara
pengurangan pada hari ke-14 pasca pengobatan adalah 95% dan 99,93%.
Data menunjukkan bahwa dosis yang lebih tinggi dari Albendazole
mengakibatkan pengurangan 93% dalam EPG sedangkan pengurangan 81%
tercatat pada tingkat dosis yang dianjurkan di 28 hari pasca pengobatan.

Diambil bersama-sama dosis yang lebih tinggi lebih efektif dari yang
direkomendasikan

dosis

dalam

mengendalikan

nematoda

kambing,

bagaimanapun, diperlukan untuk meneliti efek jangka panjang pada


perkembangan resistensi dan kontinuitas untuk efek terapi seperti di masa.
D.

Khasiat Tunggal Terhadap Albendazole Dosis Berulang Untuk


Mengobati Ascaris Lumbricoides, Trichuris Trichiura Dan Infeksi
Cacing Tambang
Penelitian ini dilakukan oleh Ayola A Adegnika, dkk, dari Centre de
Recherches Mdicales de Lambarn (CERMEL), Fondation Albert
Schweitzer, BP. 118, Lambarn, Gabon.
Hasil:
Di banyak daerah endemik dosis tunggal albendazole digunakan dalam
program pemberian obat masal untuk mengendalikan infeksi transmisi
cacing tanah. Ada sedikit data tentang kemanjuran standar pemberian dosis
tunggal dibandingkan dengan rejimen alternative. Sebanyak 175 anak-anak
dimasukkan. Sebuah angka kesembuhan dan pengurangan telur memadai
atas 85% ditemukan dengan dosis tunggal albendazole untuk Ascaris (85%;
[95% CI: 73; 96%]) dan 93,8% [87.6; 100], sementara dua dosis yang
diperlukan untuk cacing tambang 92% [78, 100%] dan 92 [78; 100]. Namun,
sementara rejimen tiga hari tidak cukup untuk menyembuhkan Trichuris
(83% [73; 93%]), rejimen ini mampu mengurangi jumlah telur hingga
90,6% [83,1; 100]. Rasio tingkat dua dan tiga rejimen dosis dibandingkan
dengan pengobatan dosis tunggal yang 1,7 [1.1; 2,5] dan 2,1 [1,5; 2,9] untuk
Trichuris dan 1,7 [1.0; 2,9] dan 1,7 [1.0; 2,9] untuk cacing tambang.
Albendazole aman dan ditoleransi dengan baik pada semua rejimen.
Kesimpulan penelitian ini albendazole dosis tunggal sangat mengurangi
Ascaris, tetapi hanya memiliki efek moderat pada cacing tambang dan
Trichuris. Ini mungkin masih menjadi pilihan yang lebih disukai
menyeimbangkan efikasi, keamanan, kepatuhan selama pemberian obat
masal dan efek positif dari tingkat rendah infeksi cacing.

BAB VII
DISKUSI
A.

Prevalensi transmisi cacing tanah dan dampak Albendazole pada


indeks parasit di Kotto Barombi dan Desa Marumba II (South-West
Kamerun)
Polyparasitism dari STH telah lama diamati di desa-desa Barombi,
South West Kamerun (Couprie et al., 1986) dengan spesies parasit pokok
menjadi A. lumbricoides, T. trichiura, N. americanus, dan S. stercoralis.
Tingkat infeksi keseluruhan (42,4%) yang diamati dalam penelitian kami
cukup rendah dari yang tercatat (94,2%) dengan Couprie dkk. (1986) di
daerah yang sama, dan bahwa dari Tchuem Tchuente dkk. (2001, 2003) di
Makenene (60,0%) dan Loum (90,3%) masing-masing. Perbedaan ini
diamati mungkin berhubungan dengan sejarah masa lalu dari kemoterapi.
Sangat mungkin bahwa, studi sebelumnya dilakukan ketika anak-anak telah
menghabiskan banyak waktu tanpa mengambil pengobatan anthelminthic,
apa yang bisa menyebabkan akumulasi infeksi.
Obat auto umumnya diambil pada tingkat individu, dan mungkin bisa
menjadi alasan dari tingkat infestasi rendah dicatat selama penelitian kami.
Perbedaan ini juga dapat dikaitkan dengan perbedaan dalam metodologi.
Kami menggunakan metode Kato-katz (WHO, 1991) di mana hanya satu
slide dibacakan dari masing-masing sampel, lebih disesuaikan dengan studi
kampanye massal tetapi kurang sensitif dibandingkan dengan berkonsentrasi
formol teknik ether digunakan oleh Couprie dkk. (1986).
Hasil serupa telah diamati dalam studi sebelumnya di Malawi mana
hasil yang berbeda diperoleh ketika menggunakan teknik yang berbeda
(Phiri et al, 2000;. Cameron et
al., 2004). Distribusi parasit tidak homogen dan bervariasi dalam
kaitannya dengan wilayah geografis seperti sebelumnya diamati oleh Ratard
dkk. (1991). Hal ini dapat menjelaskan perbedaan antara hasil kami dan
yang diperoleh dalam Loum dan Makenene oleh Tchuem Tchuente dkk.
(2001; 2003). Kasus infeksi tunggal, ganda dan triple dicatat tanpa kasus

infeksi dengan spesies empat parasit yang sebelumnya dicatat oleh Couprie
dkk. (1986). Infeksi ganda A. lumbricoides - T. trichiura (95,6%) adalah
yang paling sering pada populasi sampel. Pengamatan ini jelas sebagai dua
spesies parasit yang ditularkan oleh kedua fekal-oral (tangan kotor dan
makanan yang terkontaminasi) (OMS, 2006). Faktor risiko penularan N.
americanus telah terbukti terkait dengan profesi dan prevalensi pertanian
meningkat dengan usia (Couprie et al, 1986;. Gandhi et al 2001;.. Speare et
al, 2006;. Kihara et al, 2007). Tingkat infeksi rendah N. americanus (1,4%)
diperoleh dapat dijelaskan oleh dipelajari kelompok penduduk, seperti survei
yang dilakukan secara eksklusif pada anak-anak, yang tidak menghabiskan
terlalu banyak waktu di pekerjaan pertanian sebagai orang dewasa. Namun,
hasil kami berbeda dari yang diperoleh pada anak-anak sekolah (50,9%) dan
pada orang dewasa (31,7%) di Uganda (Zhang et al., 2007).
Prevalensi tinggi A. lumbricoides dan T. trichiura, dan intensitas tinggi
T. trichiura pada wanita dibandingkan dengan laki-laki adalah umum terjadi
di daerah penelitian yang sama (Couprie et al., 1986), bagian lain dari
negara (Ratard et al ., 1991;. Tchuem Tchuente et al, 2003), dan di bagian
lain dunia (Saathoff et al, 2004). Perbedaan ini dapat dikaitkan dengan pola
yang berbeda dari kontak tanah, seperti yang telah mengungkapkan bahwa
geophagy lebih sering pada wanita dibandingkan pada pria (Saathoff et al.,
2002, 2004). Hasil ini bertentangan dengan yang Hamit dkk. (2008) yang
menemukan bahwa laki-laki lebih diparasiti karena mereka menghabiskan
banyak waktu bermain daripada perempuan.
Prevalensi rendah dan beban parasit tinggi A. lumbricoides diamati
pada laki-laki daripada perempuan bertentangan dengan hasil penelitian
sebelumnya (Tchuem et al., 2003) dan tidak jelas untuk atribut perbedaan ini
untuk menjadi tuan rumah kerentanan (Flores et al., 2001 ). Ini sebagian
dapat dijelaskan oleh akuisisi awal parasit pada laki-laki dan jumlah orang
dewasa cacing betina memendam. Perbedaan signifikan beban parasit T.
trichiura diamati pada Marumba II dibandingkan dengan Kotto Barombi
(dua desa dari wilayah geografis yang sama) mungkin hanya karena
perbedaan dalam akuisisi waktu parasit. A. Lumbricoides dan T. trichiura

diamati pada semua kelompok usia dan lebih umum pada anak-anak di
bawah 11 tahun. Ini kemungkinan dapat mencerminkan sifat aktif anak-anak
dari kelompok usia ini sebagai anak-anak menghabiskan banyak waktu
bermain, apa yang mengekspos mereka untuk risiko tinggi infeksi. Hasil ini
juga menunjukkan bahwa orang masih hidup dalam kondisi higienis yang
buruk. Temuan kami ini sesuai dengan yang Couprie dkk. (1986), Ratard et
al. (1991), PNLSHI (2005), Rick dkk. (2006), dan Hamit dkk. (2008).
Albendazole cukup efektif terhadap N. americanus dan S. stercoralis
dengan tingkat pengurangan telur dan angka kesembuhan dari 100%. Efek
obat itu tidak sama untuk A. lumbricoides dan T. trichiura dengan ERR dari
52,3% dan 55,3%, dan CR dari 80,0% dan 84,6%, masing-masing. Hasil
yang diperoleh untuk A. lumbricoides berbeda dari Kihara dkk. (2007) yang
memperoleh ERR dan CR dari 100,0% pada dua bulan pasca pengobatan.
Tingkat penurunan prevalensi A. lumbricoides (7,2%) dan T. trichiura
(20,8%) yang diamati dalam penelitian kami sangat rendah dibandingkan
dengan 100,0% dan 45,0% masing-masing diperoleh Kihara dkk. (2007),
dan 48% diperoleh untuk T. trichiura oleh Oqueka dkk. (2005) setelah satu
dosis MDA.
Albendazole hanya bertindak terhadap orang dewasa A. lumbricoides
dan kemanjuran tergantung pada beban cacing pada pasien yang terinfeksi
(Jessika, 2005). Sangat mungkin bahwa beberapa bentuk larva parasit berada
di fase migrasi yang kemudian berkembang menjadi dewasa betina yang
mulai bertelur setelah perawatan. Juga, beban cacing betina bisa saja tinggi
pada pasien sehingga ada penghapusan yang tidak memadai cacing dewasa
(Jessika, 2005), apa yang dikonfirmasi oleh beban parasit yang tinggi
diamati selama pretreatment.
Khasiat obat yang rendah diamati selama penelitian kami untuk T.
trichiura telah sebelumnya telah disebutkan di daerah endemik lainnya
(Pascal et al, 1997;. Horton, 2000; Adams et al, 2004;. Speare et al, 2006;.
Kihara dkk. 2007;. Olsen et al, 2009). Hasil ini menunjukkan bahwa satu
putaran MDA menggunakan Albendazole mungkin memiliki sedikit efek
pada spesies parasit. Dua putaran MDA telah menunjukkan pengaruh yang

kecil (Zhang et al., 2007), tidak berpengaruh sama sekali (Saathoff et al.,
2004), dan resistensi anthelminthic (Albonico et al., 2004). Pengobatan
dengan dosis tunggal albendazole atau Mebendazol telah memberikan
khasiat hampir 100,0% (Norhayati et al., 1997).
Studi kami menunjukkan bahwa prevalensi dan parasit banyak infeksi
STH masih tinggi dan tetap masalah kesehatan yang serius pada anak-anak
sekolah di Kotto Barombi dan desa-desa tetangga. Juga, MDA menggunakan
200 mg albendazole selama tiga hari memiliki pengaruh yang kecil dalam
mengurangi prevalensi dan parasit beban. Dari hasil ini, pengobatan dengan
dosis tunggal albendazole atau mebendazole setiap tiga bulan akan memiliki
efek yang lebih baik dalam mengurangi prevalensi dan intensitas STH pada
anak-anak yang terinfeksi. MDA harus sama-sama dilakukan dalam
pendekatan dikombinasikan dengan pendidikan sanitasi yang tepat.
B.

Terapi Albendazole dan Parasit enterik di Amerika Serikat-Bound


Pengungsi
Kesimpulannya, data ini memberikan bukti bahwa pelaksanaan
protokol luar negeri untuk dugaan dosis tunggal terapi albendazole di
pengungsi dikaitkan dengan penurunan substansial dalam infeksi dengan
beberapa parasit usus. Penurunan moderat dalam prevalensi infeksi
strongyloides dan penurunan tak terduga pada infeksi Schistosoma diamati.
Menargetkan penyakit ini di kalangan pengungsi telah menghasilkan
pengurangan beban parasit dan dapat meningkatkan kesehatan penduduk ini.

C.

Khasiat Perbandingan Dua Dosis Tingkat Albendazole terhadap Infeksi


Nematoda Didapat Secara Alami di Kambing
Dalam penelitian ini khasiat yang lebih rendah dari yang
direkomendasikan dosis pada hari ke-28 pasca pengobatan menunjukkan
bahwa dosis yang dianjurkan memiliki efek penekanan yang lebih rendah
pada penumpahan telur dimana dosis yang lebih tinggi masih memiliki efek
penekanan pada jumlah telur feses. Penelitian ini menunjukkan bahwa
tingkat dosis tinggi 25% dari Albendazole lebih efektif daripada dosis

normal Albendazole. Hal ini disimpulkan dari penelitian ini bahwa


peningkatan laju dosis pada kambing dari yang direkomendasikan dosis
diinduksi beberapa perbaikan dalam keberhasilan Albendazole terhadap
nematoda gastrointestinal kambing. Telah jelas ditunjukkan oleh percobaan
ini bahwa peningkatan tingkat dosis dari dosis normal yang dianjurkan tidak
begitu banyak efektif tetapi perlu untuk mengevaluasi lebih lanjut efikasi
Albendazole terhadap regangan rentan dan ketahanan parasit gastrointestinal
kambing.
D.

Khasiat Tunggal Terhadap Albendazole Dosis Berulang Untuk


Mengobati Ascaris Lumbricoides, Trichuris Trichiura Dan Infeksi
Cacing Tambang
Strategi kontrol utama terhadap transmisi cacing tanah dalam
pengaturan yang sangat endemik terdiri dari cacingan melalui pemberian
obat massal dosis tunggal albendazole. Namun, ada kebutuhan untuk
mengevaluasi kembali efektivitas dan keamanan dalam percobaan klinis
yang ketat untuk menyediakan bukti ilmiah untuk terus menggunakan
intervensi tersebut. Oleh karena itu kami melakukan uji coba ini
mengevaluasi efektivitas Albendazole dalam standar dan dalam durasi
rejimen diperpanjang.
Kami menemukan angka kesembuhan dan telur tingkat pengurangan
agak 166 lebih rendah dari pengobatan tunggal albendazole terhadap A.
lumbricoides (85%) dan cacing tambang (54%) dibandingkan dengan
laporan terbaru dari daerah lain di Afrika. Laporan yang tersedia dari
Kamerun, Ethiopia dan Tanzania, dengan tingkat kesembuhan mulai 93-99%
dan 69-93%, masing-masing.
Dosis tingkat penyembuhan tunggal untuk T. trichiura dalam penelitian
kami adalah serupa dengan berbagai laporan dari wilayah geografis yang
beragam (kisaran: 8 - 36%) dan angka kesembuhan 47% ditemukan di
sebuah meta analisis berdasarkan data dari tujuh negara. Ada satu outlier
mencolok dari Pantai Gading menunjukkan angka kesembuhan dari 81%.

Rejimen tiga dosis albendazole menyebabkan peningkatan dalam


tingkat penyembuhan terhadap tiga spesies cacing ini dibandingkan dengan
rejimen satu atau dua dosis. Hal ini sesuai dengan laporan terbaru dari China
menunjukkan perlunya rejimen tiga dosis Albendazole untuk mencapai
tingkat kesembuhan yang cukup tinggi terhadap A. lumbricoides (92 vs 97%
untuk satu vs tiga dosis) dan terhadap cacing tambang (69 vs 92%). Khasiat
tiga dosis terhadap T. trichiura tidak cukup dalam studi (34 vs 57%). Ukuran
efek sangat mirip untuk mebendazol, dan studi di Cina dan Sri Lanka telah
dijelaskan perlunya untuk rejimen tiga hari dengan obat ini.
Muncul resistensi dari cacing untuk albendazole secara teoritis
kemungkinan untuk tingkat kesembuhan yang relatif rendah ditemukan di
sini. Ada laporan dari perlawanan terhadap turunan benzimidazol untuk
nematoda pada hewan, fenomena yang juga dapat terjadi pada manusia.
Namun, perlawanan seperti di nematoda manusia tidak diamati dalam studi
terbaru yang dilakukan di Northern Indonesia dan observasi non-sistematis
kita sendiri sebelum penelitian ini tidak menunjukkan peningkatan tajam
dalam kegagalan pengobatan selama 10 tahun terakhir.
Teknik deteksi cacing dan analisis bervariasi antara studi. Kami
menggunakan hanya satu sampel tinja dan satu teknik deteksi untuk
menentukan obat dan telur pengurangan, sedangkan penelitian lain sering
menggunakan dua atau lebih sampel dan teknik. Hal ini bisa mengakibatkan
terlalu tinggi dari tingkat kesembuhan atau telur pengurangan dalam
penelitian kami. Temuan kami menunjukkan perlunya beberapa dosis
albendazole untuk mencapai tingkat kesembuhan cukup tinggi terhadap tiga
geohelminths utama. Sementara dosis tunggal mungkin cukup untuk
menyembuhkan Ascaris, khasiat terhadap Trichuris dan cacing tambang
tidak cukup baik. Sebagai cacing tambang membutuhkan minimal 5 minggu
untuk matang dan menghasilkan telur, kita tidak bisa mengesampingkan
infeksi ulang setelah enam minggu masa tindak lanjut, meskipun efek
apapun kemungkinan akan kecil. Albendazole hanya memiliki efek moderat
pada tahap larva dari tiga spesies dan penurunan output telur cenderung
menjadi hasil dari efeknya aginst cacing dewasa untuk setiap spesies.

Pengobatan

massal

dengan

dosis

tunggal

albendazol

akan

menghilangkan cacing di hanya sebagian sederhana dari populasi di daerah


di mana ketiga spesies cacing adalah endemik. Pengobatan massal perlu
menyeimbangkan kelayakan dan kemanjuran dan dampak pada hasil
kesehatan. Sebuah rejimen tiga hari tidak mungkin untuk memiliki
kepatuhan yang tinggi dan perubahan rejimen Oleh karena itu tidak mungkin
terjadi di masa mendatang. Penelitian kami menunjukkan bahwa albendazol
dosis tunggal dilaksanakan di daerah dengan tinggi co-endemisitas dari
geohelminths mengarah ke tingkat kesembuhan memuaskan Ascaris dan
pengurangan proporsi anak-anak dengan beberapa infeksi.
Untuk saat ini, putusan masih keluar pada kegunaan cacing eliminasi.
Oleh karena itu salah satu mungkin berpendapat, yang diamati efek
Albendazole keseimbangan yang baik antara efikasi, keamanan dan
kepatuhan, dengan mempertimbangkan efek protektif yang mungkin dari
cacing terhadap penyakit atopik. Namun jika pengurangan cacing
substansial dalam populasi yang diinginkan, dosis tunggal albendozole
hanya kurang efektif.

Daftar Pustaka
Syarif Amir, Ascobat Purwantyastuti, Setiabudi Rianto.dkk. Farmokologi dan
Terapi. 2011. halaman 544.
Subahar R; Mahfudin H; Ismid IS. 1995.Pendidikan dan pengetahuan
orangtua murid sehubungan dengan upaya pemberantasan penyakit
cacing usus di Duren Sawit Jakarta Timur. Majalah Kesehatan
Masyarakat Indonesia;:4-21.
Sirivichayakul

C,

Pojjoen-anant

C,

Wisetsing

P,

Praevanit

R,Chantavanish P, Limkittikal K; 2003; The effectiveness of 3, 5


or 7 days of albendazole for the treatment of Trichuris trichiura infection;
Ann trop Med Parasitolo, 97(8): 647-53
Bertram G.Katzung . 2004. Farmakologi Dasar dan Klinis, Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Erlangga, Penerbit Salemba Medika, Mc
Graw Hill, edisi 8, Hal. 261 269.
Syarif Amir, Ascobat Purwantyastuti, Setiabudi Rianto.dkk. Farmokologi dan
Terapi. 2011. halaman 544.
Departemen kedokteran UI. 2011.

Farmakologi dan Terapi. Penerbit: Balai

Penerbit FKUI, Jakarta. Edisi 11. Hal, 545.