Anda di halaman 1dari 10

PENETAPAN NILAI HEMATOKRIT (Hct)

ATAU PACKED CELL VOLUME (PCV)

I.

TUJUAN
a. Tujuan Instruksional Umum
1. Mahasiswa dapat memahami penetapan nilai Hematokrit (Hct).
2. Mahasiswa dapat mengetahui cara penetapan nilai Hematokrit (Hct) pada darah
propandus.
3. Mahasiswa dapat menjelaskan cara penetapan nilai Hematokrit (Hct) pada darah
probandus.
b. Tujuan instruksional Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan cara penetapan nilai Hematokrit (Hct)

pada darah

probandus.
2. Mahasiswa dapat mengetahui volume eritrosit dalam 100 ml darah probandus.
3. Mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil penetapan nilai Hematokrit (Hct) pada
darah probandus.
II.
III.

METODE
Metode yang digunakan adalah Mikrometode
PRINSIP
Apabila darah disentrifuge, sel-sel yang lebih berat (Eritrosit) akan turun ke dasar tabung,

sedangkan sel-sel yang lebih ringan (Leukosit dan Trombosit) berada di atas sel-sel yang berat
tadi.
IV.

DASAR TEORI
Hematokrit merupakan salah satu penentu utama viskositas darah, dan peningkatan

hematokrit mungkin mendukung pembentukan gumpalan dengan meningkatkan waktu


beredarnya trombosit dan faktor koagulasi berdekatan dengan endotelium disfungsional.
Selanjutnya, hematokrit yang meningkat ditunjukkan untuk mendorong transportasi trombosit
terhadap dinding pembuluh, sehingga meningkatkan interaksi dengan pembuluh darah.
Pembekuan darah juga tergantung pada gradien kecepatan di mana pembekuan berlangsung.
Pengaruh hematokrit pada viskositas darah meningkat saat laju geser menurun. Dalam kondisi

aliran rendah, seperti dalam sistem vena, peningkatan hematokrit mungkin memiliki pengaruh
yang kuat pada aliran darah dan, dengan hasil yang klinis. (Braekkan dkk, 2010)
Hematokrit, proporsi volume darah yang ditempati oleh sel darah merah (RBC), adalah
salah satu penentu utama viskositas darah. Peningkatan hematokrit dikaitkan dengan peningkatan
viskositas darah, mengurangi aliran balik vena, dan meningkatkan kerekatan trombosit. Hal ini
juga diketahui bahwa subjek dengan kadar hematokrit di atas kisaran normal pada penduduk,
seperti di erythrocytosis primer atau sekunder, cenderung untuk kedua penyakit kardiovaskular
arteri dan trombosis vena. Hematokrit juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit
kardiovaskular dan semua penyebab kematian pada populasi umum. (Braekkan dkk, 2010)
Terdapat cukup banyak bukti, termasuk yang diberikan dengan percobaan acak dan
penelitian observasi, terdapat asosiasi hematokrit (HCT) atau hemoglobin (Hb) yang menunjuk
semua penyebab dari angka kematian, angka kematian penyakit tertentu, atau kualitas hidup yang
diukur dalam populasi tertentu seperti orang tua dan pasien dengan stadium akhir penyakit ginjal,
gagal jantung, kanker, human immunodeficiency virus (HIV)/sindrom defisiensi imun (AIDS),
dan keadaan inflamasi seperti rheumatoid arthritis atau penyakit iritasi usus besar. Penelitian dari
HCT pada populasi umum, namun, telah banyak terfokus pada asosiasi dari HCT tinggi dengan
penyakit kardiovaskular (CVD). Sebagian besar penelitian ini telah dilakukan di Eropa dan
Amerika Utara, di mana proporsi individu dengan HCT suboptimal kecil, dan karena itu telah
dibatasi oleh data yang cukup untuk individu dengan HCT rendah. Jadi misalnya , kategori
terendah HCT dianalisis oleh Kunnas dan rekannya pria Finlandia dalam sebuah penelitian
mendapat hasil di bawah 44 % . Beberapa penelitian yang berbasis populasi telah menyelidiki
korelasi antara HCT dan kematian akibat penyebab lain dari CVD. (Boffetta dkk, 2013)

V.

ALAT DAN BAHAN


a. Alat

Tabung Mikrokapiler
Centrifuge mikrohematokrit
Alat pembaca hematokrit (reading device)

Tabung EDTA

b. Bahan
Darah vena dengan antikoagulan EDTA
Dempul/lilin/wax
Tissue
VI.

CARA KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Dihomogenkan darah pada tabung EDTA, lalu dimasukkan ke dalam tabung
3.
4.
5.
6.

VII.

VIII.

Mikrokapiler hingga bagian.


Salah satu ujung tabung tabung Mikrokapiler disumbat dengan dempul/lilin/wax.
Dimasukkan ke dalam centrifuge khusus (centrifuge mikrohematokrit).
Dipusingkan selama 3-5 menit dengan kecepatan 16.000 rpm atau lebih.
Setelah selesai, dibaca hematokrit dengan alat pembaca hematokrit.

NILAI RUJUKAN
Pria
Perempuan
Bayi baru lahir
Anak usia 1-3 tahun
Anak usia 4-5 tahun
Anak usia 6-10 tahun

: 40 48 %
: 37 43 %
: 44 72 %
: 35 43 %
: 31 43 %
: 33 45 %

HASIL
a. Hasil pengamatan

Sapel
Darah

Plasma

Buffy
coat
Eritrosit
Dempul

Pengukuran Kadar Hematokrit

b. Hasil pengukuran
NO
1
IX.

NAMA
PROBANDUS

UMUR

JENIS
KELAMIN

Hematokrit

KETERANGAN

A. A. Gusti Budi S.

18 TH

Perempuan

40 %

Normal

PEMBAHASAN
Hematokrit (Hmt/Hct) atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume/PCV)

adalah proporsi eritrosit dalam darah lengkap. Pada praktikum penetapan nilai hematokrit (Hct)
menggunakan metode mikro (mikrometode) dan sampel darah EDTA. Pada metode mikro,
sampel darah dimasukkan dalam sebuah tabung kapiler sekali pakai, Riswanto (2013)
menyatakan bahwa tabung ini yang mempunyai ukuran panjang 75 mm dengan diameter 1 mm.
Tabung kapiler ini ada 2 macam, yaitu tabung yang dilapisi ammonium heparin dan tabung yang
tidak mengandung antikoagulan. Tabung kapiler yang berheparin memiliki sebuah tanda garis
berwarna merah di salah satu ujungnya, digunakan untuk sampel darah kapiler segar tanpa
antikoagulan. Tabung kapiler yang tak berisi antikoagulan memiliki tanda garis berwarana biru,
yang digunakan ketika praktikum untuk sampel darah mengandung antikoagulan (EDTA).

Tabung ini dirancang berukuran kecil, digunakan dengan mikrosentrifus khusus dan sering
digunakan untuk skrining infant dan anak anemia serta klinik pediatric. Metode mikrohematokrit
lebih banyak digunakan karena selain waktunya cukup singkat, sampel darah yang dibutuhkan
juga sedikit. Teknik ini juga memungkinkan untuk memperkirakan volume secara visual lekosit
dan trombosit yang membentuk buffy coat di antara eritrosit dan plasma. Tujuan dilakukannya
pengukuran nilai hematokrit adalah untuk memantau volume eritrosit dalam darah selama terjadi
sesuatu penyakit yang melemahkan, membantu menegakkan diagnosis anemia dan polisitemia
atau hemokonsetrasi serta monitor perjalanan penyakit dan pengobatan. (Riswanto , 2013)
Untuk mengukur hematokrit, sel-sel eritrosit dalam darah dipadatkan dalam sebuah tabung
dengan cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu sehingga membentuk
kolom pada bagian bawah tabung. Padatnya kolom eritrosit yang diperoleh dengan pemusingan
darah ditentukan oleh radius sentrifus, kecepatan sentrifus, dan lamanya pemusingan.
Pada praktikum ini, menggunakan sampel darah atas nama A.A. Gusti Budi P. (18 th) yang
diputar/dipusingkan selama 10 menit dengan kecepatan 12.000 rpm, didapatkan hasil 40 % yang
menunjukkan hasil tersebut normal. Hal ini menunjukan bahwa probandus yang diperiksa tidak
mengalami kelainan atau abnormal. Karena, Riswanto (2013) menyatakan bahwa semakin tinggi
persentase hematokrit berarti konsentrasi darah semakin kental, dan diperkirakan banyak plasma
darah yang keluar dari pembuluh darah hingga berlanjut pada kondisi syok hipovolemik.
Sebaliknya kadar hematokrit akan menurun ketika terjadi penurunan hemokonsentrasi, karena
penurunan kadar selular darah atau peningkatan kadar plasma darah, antara lain saat terjadinya
anemia. Berdasarkan reprodusibilitas dan sederhananya, pemeriksaan ini paling dapat dipercaya
diantara pemeriksaan yang lainnya, yaitu kadar hemoglobin dan hitung eritrosit. Dapat
dipergunakan sebagai tes penyaring sederhana terhadap anemia.
Peningkatan kadar hematokrit dapat terjadi ketika: dehidrasi/hipovolemia, diare berat,
polisitemia vera, eritrositosis, diabetes asidosis, emfisema pulmonary tahap akhir, iskemia
serebrum sementara, eklampsia, pembedahan, luka bakar. Peningkatan kadar terjadi ketika
perubahan jumlah dan bentuk eritrosit dapat mempengaruhi kadar hematokrit. Penurunan jumlah
eritrosit serta bentuk eritrosit yang mikrositik pada anemia defisiensi besi mengakibatkan ruang
dalam darah yang terisi eritrosit menjadi lebih kecil, sehingga kadar hematokrit menjadi lebih
kecil. Misalnya pada keadaan berikut ini: kehilangan darah akut, anemia (aplastik, hemilitik,
defisiensi asam folat, pernisiosa, sideroblastik, sel sabit), leukemia(limfositik, mielositik,

monositik) penyakit Hodgkin, limfosarkoma, malignansi organ, myeloma multiple, sirosis hati,
malnutrisi protein, defisiensi vitamin(tiamin, vitamin c), fistula lambung, kehamilan, SLE. Selain
itu, keadaan lain yang dapat menurunkan kadar hematokrit adalah pengaruh obat antineoplastik,
antibiotic (kloramfenikol, penisilin), dan radioaktif.
Fakto faktor yang dapat mempengaruhi penetapan kadar hematokrit yaitu:
1. Sampel darah kapiler:
a. Pada waktu pengambilan sampel darah tusukan kurang dalam sehingga volume
darah yang diperoleh sedikit.
b. Darah diperas-peras keluar menyebakan cairan jaringan ikut terperas dan
tercampur dengan darah yang dapat mengakibatkan hematokrit rendah palsu
c. Kulit yang ditusuk masih basah oleh alcohol sehingga darah terencerkan
(hematokrit rendah palsu).
d. Terjadi bekuan dalam tetes darah karena lambat bekerja.
2. Sampel darah vena
a. Sampel darah diambil dari lengan atau tangan yang sedang menerima cairan
intra vena dapat menyebabkan hematokrit rendah palsu.
b. Memasang tourniquet terlalu lama (lebih dari 1 menit) menyebabkan
hematokrit meningkat palsu.

X.

SIMPULAN
1. Pengukuran nilai hematokrit adalah pemeriksaan untuk memantau volume eritrosit dalam
darah selama terjadi sesuatu penyakit yang melemahkan, membantu menegakkan
diagnosis anemia dan polisitemia atau hemokonsetrasi serta monitor perjalanan penyakit
dan pengobatan.
2. Untuk mengukur hematokrit, sel-sel eritrosit dalam darah dipadatkan dalam sebuah
tabung dengan cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu sehingga
membentuk kolom pada bagian bawah tabung.
3. Dari hasil pengukuran didapatkan hasil 40 % yang menunjukkan nilai hematokrit
probandus tersebut normal.

XI.

DAFTAR PUSTAKA

Boffetta, P., Islami, F., Vedanthan, R., Pourshams, A., Kamangar, F., Khademi, H., Etemadi, A.,
Salahi, R., Semnani, S., Emadi, A., Abnet, C. C., Brennan, P., Pharoah, P. D., Dawsey, S.

M., and Malekzadeh, R. (2013). A U-Shaped Relationship Between Haematocrit And


Mortality In A Large Prospective Cohort Study. Int J Epidemiol, 42(2): 601615.
Braekkan, S. K., Mathiesen, E. B., Njolstad, I., Wilsgaard, T., and Hansen, J. B. (2010).
Hematocrit And Risk Of Venous Thromboembolism In A General Population. The Tromso
Study. Haematologica, 95(2): 270275.
Herawat, Sianny, dkk. 2015. Penuntun Praktikum Hematologi. Denpasar: Politeknik Kesehatan
Denpasar.
Riswanto, 2013. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Yogyakarta: Alfamedia & Kanal
Medika.

Denpasar, 7 Oktober 2015


Praktikan
I Kadek Hardyawan
(P07134014032)
Lembar Pengesahan

Mengetahui,
Pembimbing I
( Dr. dr. Sianny Herawati, Sp.PK )
Pembimbing III

Pembimbing II
( Rini Riowati, B.Sc )
Pembimbing IV

( I Ketut Adi Santika, A.Md. AK )

( Luh Putu Rinawati, A.Md. AK)


Pembimbing V

( Surya Bayu Kurniawan, S.Si )

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI


PENETAPAN NILAI HEMATOKRIT (Hct)
ATAU PACKED CELL VOLUME (PCV)

Oleh:
I Kadek Hardyawan
(P07134014032)

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2015