Anda di halaman 1dari 5

A.

PENDAHULUAN
a) Definisi Pneumotoraks

Pneumotoraks merupakan suatu kondisi dimana terdapat udara pada kavum pleura.
Pada kondisi normal, rongga pleura tidak terisi udara sehingga paru-paru dapat leluasa
mengembang terhadap rongga dada. Udara dalam kavum pleura ini dapat ditimbulkan
oleh ; 1) Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal dari
alveolus akan memasuki kavum pleura, dan 2) Robeknya dinding dada dan pleura
parietalis sehingga terdapat hubungan antara kavum pleura dengan dunia luar.
b) Gambaran Umum
Pada keadaan normal rongga pleura dipenuhi oleh paru-paru yang mengembang
pada saat inspirasi disebabkan karena adanya tegangan permukaaan (tekanan negatif)
antara kedua permukaan pleura, adanya udara pada rongga potensial di antara pleura
visceralis dan pleura parietalis menyebabkan paru-paru terdesak sesuai dengan jumlah
udara yang masuk kedalam rongga pleura tersebut, semakin banyak udara yang masuk
kedalam rongga pleura akan menyebabkan paru-paru menjadi kolaps karena terdesak
akibat udara yang masuk perfusi oksigen kejaringan atau organ, akibat darah yang
menuju kedalam paru yang kolaps tidak mengalami proses ventilasi, sehingga proses
oksigenasi tidak terjadi.

Gambar : Pneumothoraks pada sapi akibat tusukan benda tajam

B. ETIOLOGI
Masuknya udara ke dalam rongga dapat melalui luka pada dinding dada, atau
meluasnya radang paru-paru akibat infeksi dari berbgai faktor. Kasus pneumothoraks pada
hewan hampir sebagaian tidak diketahui penyebabnya. Pada sapi bisa terjadi melalui
diafragma, hal ini akibat tusukan benda tajam dari reticulum. Pneumothoraks pada sapi perah
banyak terjadi akibat infeksi tuberculosis. Pneumotoraks pada sapi, kambing, dan domba
biasanya bersifat unilateral. Hal ini terjadi karena mediastinum pada sapi dan spesies lain
betrsifat sempurna hingga paru-paru kanan dan kiri terdapat dalam dua rongga yang terpisah.
Terdapat beberapa jenis pneumotoraks yang dikelompokkan berdasarkan penyebabnya:
a.

Pneumotoraks spontan
Pneumotoraks spontan terjadi tanpa penyebab yang jelas. Pneumotoraks spontan
primer terjadi jika pada penderita tidak ditemukan penyakit paru-paru. Pneumotoraks ini
diduga disebabkan oleh pecahnya kantung kecil berisi udara di dalam paru-paru yang
disebut bleb atau bulla. Pneumotoraks spontan sekunder merupakan komplikasi dari
penyakit paru-paru (misalnya penyakit paru obstruktif menahun, asma, fibrosis kistik,
tuberkulosis, batuk rejan)

b. Pneumotoraks traumatik
Pneumotoraks traumatik terjadi akibat cedera traumatik pada dada. Traumanya bisa
bersifat menembus (luka tusuk) atau tumpul (benturan pada kecelakaan). Pneumotoraks
juga bisa merupakan komplikasi dari tindakan medis tertentu (misalnya torakosentesis).
Bila akibat jatuh atau patah rusuk, sering akan kita temukan emfisema subkutan, karena
pleura parietalnya juga mengalami kerusakan (robek).
c. Ketegangan pneumotoraks
Ketegangan pneumotoraks adalah pneumotoraks progresif menyebabkan kenaikan
tekanan intrapleural ke tingkat yang menjadi positif sepanjang siklus pernapasan dan
menutup paru-paru, pergeseran mediastinum, dan merusak vena kembali ke jantung. Air
terus masuk ke dalam rongga pleura tetapi tidak dapat keluar. Tanpa perawatan, gangguan
kembali vena sistemik dapat menyebabkan hipotensi dan pernapasan dan serangan
jantung (pulseless aktivitas listrik) dalam beberapa menit. Jarang komplikasi
pneumotoraks traumatik, ketika luka dada bertindak sebagai katup satu arah yang
meningkatkan volume udara dalam rongga pleura dengan inspirasi.

d. Pneumotoraks iatrogenik
Pneumotoraks iatrogenik disebabkan oleh intervensi medis, termasuk jarum
transthoracic aspirasi, thoracentesis, penempatan kateter vena pusat, ventilasi mekanik,
dan resusitasi cardiopulmonary.
Kemungkinan pneumotoraks juga bisa disebabkan oleh:

Kronis paru-paru patologi termasuk emfisema, asma

Akut infeksi

Infeksi kronis, seperti tuberkulosis

Kerusakan paru-paru yang disebabkan oleh cystic fibrosis

Kanker

C. GEJALA KLINIS

Pada penyakit pneumothoraks akan memperlihatkan gejala-gejala yang bervariasi


tergantung pada jumlahnya udara yang masuk pada rongga plura dan luasnya paru-paru yang
mengempis. dispnoea inspiratorik yang terjadi secara mendadak dan dapat berakhir dengan
kematian dalam waktu singkat,mudah lelah, dan warna kulit kebiruan (Cyanosis) akibat
kekurangan oksigen. Apabila lubang masuknya udara segera sembuh, dan hewan masih tahan,
udara yang berlebih akan diserap hingga kesembuhan akan tercapai. Dengan adanya infeksi,
hingga terjadi radang pleura, pada auskultasi alat pernafasan akan menghasilkan suara friksi,
sedang pada pneumothoraks yang terdengar adalah suara bronchial, dengan suara vesikuler
yang hilang. Pada perkusi akan terdengan suara metalik dan hanya kadang-kandang saja suara
timpanik. Adanya bagian yang mengalami atelektasis akan menyebabkan suara seperti
belanga pecah. Oleh adanya perbedaan tekanan udara dalam pleura kanan dan kiri, mediastinu
dan jantung akan tergeser posisinya, hingga suara jantung terdengar teredam dengan suara
systole yang menurun. Oleh kurangnya bagian paru-paru yang masih berfungsi normal
frekuensi pernafasan akan dipercepat
D. PENGOBATAN
Tujuan pengobatan adalah mengeluarkan udara dari rongga pleura, sehingga paru-paru
bisa kembali mengembang. Pada pneumotoraks yang kecil biasanya tidak perlu dilakukan

pengobatan, karena tidak menyebabkan masalah pernafasan yang serius dan dalam beberapa
hari udara akan diserap. Penyerapan total dari pneumotoraks yang besar memerlukan waktu
sekitar 2-4 minggu. Jika pneumotoraksnya sangat besar sehingga menggangu pernafasan,
maka dilakukan pemasangan sebuah selang kecil pada sela iga yang memungkinkan
pengeluaran udara dari rongga pleura. Untuk pneumothoraks dengan penyebab yang jelas
seperti yang bisa terjadi pada sapi dapat dilakukan pembedahan,sedangakan penyebab akibat
infeksi tuberkulosis dilaporkan sulit untuk dilakukan pengobatan.

Daftar Pustaka

Panagopoulos, Nikolaos.et al.VATS bullectomy and apical pleurectomy for spontaneous


pneumothorax in a young patient with Swyer-James-Mc Leod syndrome: case report
presentation and literature review focusing on surgically treated cases. Journal of
Cardiothoracic Surgery 2014, 9:13.
POELOENGAN MASNIARI, KOMALA IYEP SUSAN. BAHAYA DAN PENANGANAN
TUBERCULOSIS. Balai Penelitian Veteriner.
Punarbawa I Wayan Ade,Pramana Suarjaya Putu. IDENTIFIKASI AWAL DAN BANTUAN
HIDUP DASAR PADA PNEUMOTORAKS.
Peek Simon F,Slack J.A., McGuirk Sheila M. Management of Pneumothorax in Cattle by
Continuous-Flow Evacuation. J Vet Intern Med 2003;17:119122.
Ming Lin1- Xiao.et al. Efficacy of an absorbable polyglycolic acid patch in surgery for
pneumothorax due to silicosis. Journal of Cardiothoracic Surgery 2012, 7:18.