Anda di halaman 1dari 61

Seismology, Volcanology and

Geothermal Research Group

Pengolahan Data H/V


dengan Geopsy
Training Peningkatan Kapasitas SDM
Puslitbang BMKG Jakarta
Lembang, 16-17 April 2015

Wiwit Suryanto & Prima Wira K


http://wiwit.staff.ugm.ac.id

Pendahuluan

Proyek Geopsy, Tim Geopsy mengembangkan, menyebarluaskan dan


merawat sebuah software opensource untuk keperluan penelitian dan
aplikasi di bidang geofisika.

Software ini adalah salah satu produk dari Proyek SESAME yang merupakan
proyek multinasional (European Project)-Site EectS assessment using
AMbient Exitation, 2001

Geopsy memiliki kemampuan untuk mengolah data ambient noise untuk


karakterisasi situs dan sejak 2005 sudah digunakan intensif. Secara progresif,
metode-metode baru seperti (such as MASW or refraction) ditambahkan agar
software ini lebih komprehensif untuk interpretasi eksperimen geofisika.

Pendahuluan
Geopsy
Menu multi-stasiun (Array)

Menu Stasiun tunggal


H/V

Damping

Supporting tools
(Dokumentasi/Tutorial)
figue
Editor gambar

warangps
gpfksimulator
Array response

FK

gp tools
Kurva dispersi
Kurva eliptisitas
Kurva autokorelasi
Respon Gel-SH

Capon

MASW

MSPAC

Menu Pemrosesan
Lanjut
Max2curve
spac2disp
dinver (inversi)

Menjalankan Geopsy
Tools / Menu

Menu Preferensi

Tidak boleh melebihi RAM komputer

Informasi yang akan ditampilkan


pada table viewer

Menu Preferensi

Memuat sinyal, grouping, saving

Format data

Geopsy dapat mengenali dan membaca data dalam format

Atau drag-drop

Memuat sinyal, grouping, saving

Memuat sinyal, grouping, saving

Memuat sinyal, grouping, saving

Pilihlah sinyal Capt_1_121023_0830.012 016, lihatlah dalam tabel

Memuat sinyal, grouping, saving

Pilihlah sinyal Capt_1_121023_0830.012 016, lihatlah dalam table. Untuk


membuat grup, klik Edit/New Group(s)

Nama grup

Memuat sinyal, grouping, saving

Buatlah sub-group yang terdiri dari komponen vertikal saja. Gunakan menu
Edit/Sort untuk mengurutkan komponen sinyal, drag ke menu tabel..

Memuat sinyal, grouping, saving

Grup yang khusus berisi hanya komponen vertikal saja

Menambahkan posisi koordinat

Modifikasi posisi akan berpengaruh


terhadap seluruh grup

Export sinyal

Apabila memilih Use original base name, maka


extensinya saja yang berubah, missal: .saf, .msd,

Pengolahan Waveform
Subtract value : dikurangkan dengan sebuah konsanta, DC removal
Subtract signals : dikurangkan dengan sinyal yang lainnya
Multiply
: amplitude dikalikan dengan sebuah konstanta
Filter
: Tapis/filter frekuensi tertentu
AGC
: Automatic Gain Control, mengatur perbesaran sinyal
Whiten
: pemutih spectrum (;-))
Clip
: potong amplitude event yang besarnya 3x StdDev
Phase Shift
: geser sinyal dengan fraksi dari sampling periode
Over sample
: mengalikan frekuensi sampling dengan n> 1
Taper
: menerapkan sebuah taper pada domain waktu
Cut
: memotong sinyal pada viewer
Merge
: menggabungkan sinyal pada viewer
Decimate Ampl. : mengurangi sampling amplitude
Decimate time : mengurangi frekuensi sampling (incl. antialiasing filter)
Wavelet tranfor. : menghitung konvolusi sinyal dengan wavelet Morlett
STA/LTA
: menghitung STA/LTA pada domain waktu
Rotate Comp : rotasi komponen x,y,z r, t, z
Correlations
: menghitung korelasi antar komponens
Revert to origin : back to original

Pengolahan Waveform

Coba potong dari 1m 20m

Pengolahan Waveform

Melihat spectrum amplitudonya

Exercise

Silahkan mencoba sendiri tools untuk pengolahan data waveform sampai


familiar.

Figue Tool

H/V Method
Dengan Geopsy
Microseism gelombang laut T > 2 s
Microtremor noise kultural, traffic, machinery ambient noise, T< 2 s

Sejarah H/V
Yutaka Nakamura

Di Jepang, sejak tahun 30-an, semenjak gempa Kanto 1923 eek geologi
permukaan memegang peranan penting atas tingkat kerusakan bangunan.
Kebanyakan publikasi dalam bahasa Jepang, sehingga banyak yang kadang
kurang memahami isinya (e.g. Nakamura, 2014)

Yutaka Nakamura mempopulerkan metode spectral rasio ini dalam papernya


di Jurnal Riset Perkeretaapian (PJKA) Jepang.

Mengapa Populer?

Sederhana metodenya, sederhana operasional lapangannya.

Tidak perlu menunggu gempa untuk tahu tingkat resiko bahaya, sehingga:

Cocok diterapkan di wilayah yang tidak aktif secara tektonik (neo-tectonic),


mis. Malaysia, Thailand, Wilayah Kalimantan etc.

Untuk wilayah Jawa, Sumatera, Sulawesi, Papua Barat dan Bali- Nusatenggara,
sebenarnya metode ini kurang sesuai, karena tingkat kegempaanya sangat
tinggi. Pengukuran langsung dengan akselerometer !!

Karena salah kaprah tadi, di Indonesia HVSR menjadi sangat popular.

Analisis H/V dengan Geopsy

Mempelajari pengaruh parameter-parameter di dalam pengolahan data H/V


(panjang window, smoothing, dll)

Melakukan korelasi antara puncak frekuensi H/V dengan kondisi site (geologi)

Memroses data H/V dengan Geopsy cukup mudah, namun perlu sangat hatihati dalam memahami proses (Akuisisi data) dan parameter H/V untuk
mendapatkan hasil yang stabil dan reliabel

Rambu-rambu pengukuran H/V

Rambu-rambu pengukuran H/V

Rambu-rambu pengukuran H/V

Contoh Protokol
Pengukuran

Syarat keyakinan (reliability)

Memuat sinyal

Drag
!

Menu H/V

Algoritma anti-triggering

Hitung |z(t)|, |n(t)|, dan |e(t)|

Hitung rerata nilai untuk STA(t) dan LTA(t)


ketiga komponen (t_STA~0,5s 2,0s dan
t_LTA~15s 50 s)

Hitung rasio STA(t)/LTA(t) untuk ketiga


komponen

Cek dengan syarat batas, min STA~0,1-0,5


dan max STA~1,5-2,0

Window dipilih jika minSTA<STA(t)/


LTA(t)<maxSTA dengan panjang minimum
tertentu ~15 40s

Perhitungan STA/LTA

1 sec 30 sec
Max STA/LTA
Min STA/LTA

Perhitungan STA/LTA

10 sec 30 sec
Max STA/LTA
Min STA/LTA

Menu H/V

H/V toolbox: Smoothing Spectra

H/V toolbox: Smoothing Spectra

Teori

H/V toolbox: Smoothing Spectra

Tradisional

Konno & Ohmachi

H/V toolbox: horizontal component

H/V

Latihan : Pilihlah window yang sinyalnya paling stasioner dengan mengubahubah parameter HVSR

Seismology, Volcanology and


Geothermal Research Group

Pengolahan Data Seismologi


dengan Geopsy
Training Peningkatan Kapasitas SDM
Seismologi Teknik
Jakarta, 20-22 Oktober 2014

Wiwit Suryanto
http://wiwit.staff.ugm.ac.id

QC data HVSR

Such a requirement has several consequences (SESAME):

In order for a peak to be significant, we recommend checking that the following condition is
fulfilled : f0 > 10 / lw. This condition is proposed so that, at the frequency of interest, there be
at least 10 significant cycles in each window (see Table 1). If the data allow but this is not
mandatory , it is always fruitful to check whether a more stringent condition [ f0 > 20 / lw],
can be fulfilled, which allows at least ten significant cycles for frequencies half the peak
frequency, and thus enhances the reliability of the whole peak.

A large number of windows and of cycles is needed: we recommend that, when using the
automatic window selection with default parameters, the total number of significant
cycles : nc = lw . nw .f0 be larger than 200 (which means, for instance, for a peak at 1 Hz, that
there be at least 20 windows of 10 s each; or, for a peak at 0.5 Hz, 10 windows of 40 s each),
see Table 1 for other frequencies of interest. In case no window selection is considered (all
transients are taken into account), we recommend, for safety, this minimum nc number of
cycles be raised around 2 times at low frequencies (i.e., up to 400), and up to 4 to 5 times at
high frequencies, where transients are much more frequent (i.e., up to 1000).

An acceptably low level of scattering between all windows is needed. Large standard
deviation values often mean that ambient vibrations are strongly non-stationary and
undergo some kind of perturbations, which may significantly aect the physical meaning of
the H/V peak frequency. Therefore it is recommended that sA(f ) be lower than a factor of 2
(for f0 > 0.5 Hz), or a factor of 3 (for f0 < 0.5 Hz), over a frequency range at least equal to
[0.5f0, 2f0].

Identifikasi f0
Clear peak

The clear peak case is met when the H/V curve exhibits a "clear, single" H/V peak.

The "clarity" concept may be related to several characteristics: the amplitude of


the H/V peak and its relative value with respect to the H/V value in other
frequency bands, the relative value of the standard deviation sA (f ), and the
standard deviation sf of f0 estimates from individual windows.

the property "single" is related to the fact that in no other frequency band, does
the H/V amplitude exhibit another "clear" peak satisfying the same criteria.

We propose the following quantitative criteria for the "clarity"

Amplitude conditions:
1.

there exists one frequency f-, lying between f0/4 and f0, such that A0 / AH/V (f-) > 2

2.

there exists another frequency f+, lying between f0 and 4.f0, such that A0 / AH/V (f+) > 2

3.

A0 > 2

Identifikasi f0

Identifikasi f0

F- Analysis
Dengan Geopsy

Apakah f-?

Analisis f- atau dikenal dengan analisis slowness adalah tool standar di


dalam pegolahan data array.

Digunakan untuk menentukan kecepatan (semu) dan sudut azimuth


kedatangan gelombang seismic. Informasi kecepatan dapat digunakan untuk
mengidentifikasi jenis fase gelombang (P, S, Lg, dll) dan memperkirakan jarak
sumbernya. Dengan informasi azimuth dan jarak sumber, kita dapat
menentukan episenter gempa.

Kenapa Array?

Array sensor-sensor banyak digunakan di bidang fisika dan astronomi (radio


astronomi), untuk meningktkan kualitas S/N dan memperoleh informasi
mengenai arah kedatangan sinyal.

Untuk seismic, teknik array sudah digunakan sejak 1950 untuk monitoring
eksperimen nuklir

Kemampuan untuk mendeteksi sinyal dan menentukan lokasi sumber lebih


superior dibandingkan dengan rekaman tunggal 3 komponen.

Sampai saat ini sudah cukup maju pemahaman tentang teknik array.

Konfigurasi Array

Array Response Function

Seberapa sensitive sebuah array meresponse kedatangan gelombang seismic.

Dirumuskan

Rost & Thomas, 2002

Lets go in to more intuitive


warangps Tools

tabel
Array Response Function
ARF

Kenampakan
geometri

10 Hz

20 Hz

MSPAC
Dengan Geopsy

Pendahuluan

MASW
Dengan Geopsy

Pendahuluan