Anda di halaman 1dari 19

Bab II.

Pembahasan
AKUNTANSI UNTUK PAJAK PENGHASILAN
Laba yang dihasilkan oleh perusahaan merupakan obyek pajak penghasilan.

Jumlah Laba Kena Pajak (SPT) dihitung berdasar ketentuan dan Undang undang
yang berlaku dalam tahun fiskal yang bersangkutan

Jumlah Laba Akuntansi (Lap. Rugi/Laba) ditentukan sesuai dengan prinsip


akuntansi yang lazim.

Perbedaan ini berakibat adanya perbedaan jumlah Pajak Penghasilan yang diperhitungkan
(menurut laba akuntansi) dengan jumlah Pajak Penghasilan yang Terhutang (menurut SPT).
Sehingga masalah yang timbul dalam akuntansi adalah :
Bagaimana mengakui dan mencatat perbedaan tersebut dalam rekening pembukuan serta
menyajikan pengaruhnya dalam Laporan Keuangan.
Perlakuan Akuntansi Terhadap Pajak Penghasilan
Pajak Penghasilan diperlakukan sebagai biaya bagi perusahaan.Oleh karena itu Pajak
Penghasilan harus diasosiasikan dengan laba dimana pajak penghasilan tersebut dikenakan
atau diperhitungkan. Proses untuk mengasosiasikan Pajak Penghasilan dengan laba dimana
pajak itu dikenakan disebut Alokasi Pajak.
Karena tarif Pajak Penghasilan berubah-ubah dari waktu ke waktu, maka diperlukan suatu
metode alokasi agar diperoleh kepastian dan perlakuan yang konsisten terhadap pajak
penghasilan tersebut beserta penyajiannya dalam Laporan Keuangan.
Pada dasarnya terdapat 3 alternatif metode alokasi pajak yang bisa dipakai, yaitu :
1

Deferred Method

Menurut metode ini, selisih jumlah Pajak Penghasilan Terhutang (berdasar SPT)
dengan Biaya Pajak Penghasilan (berdasar laba akuntansi) dalam suatu periode harus dicatat
dan disajikan dalam Laporan Keuangan sebagai Pajak yang Ditangguhkan.
Jumlah Pajak yang Ditangguhkan ditentukan berdasar tarif pajak yang berlaku pada saat
terjadinya transaksi atau item yang menyebabkan terjadinya perbedaan atau selisih antara
laba kena pajak dan laba akuntansinya.
Deffered Method berorientasi pada Laporan Rugi Laba dan menitik beratkan pada
tercapainya proper matching antara pendapatan dan biaya dalam periode di mana selisih
perhitungan pajak terjadi.

2. Liability Method
Menurut metode ini jumlah Pajak yang Ditangguhkan ditentukan berdasar tarif pajak
yang diharapkan akan berlaku dalam periode di mana selisih pajak akan dikompensasikan.
Perhitungan Pajak yang Ditangguhkan bersifat tentatif yang selalu memerlukan penyesuaian
pada setiap kali terjadi perubahan tarif pajak penghasilan.
Menurut liability method, Pajak yang Ditangguhkan harus dipandang sebagai kewajiban
ekonomis untuk Pajak yang Terhutang atau sebagai aktiva untuk Pajak yang Dibayar Dimuka.
3. Net of Tax Method
Menurut metode ini, melaporkan Pajak yang Ditangguhkan dalam neraca tidak
dibenarkan karena Biaya Pajak Penghasilan yang dilaporkan dalam Laporan Rugi Laba
harus sama dengan jumlah Pajak Penghasilan Terhutang atau pajak yang harus dibayar untuk
periode yang bersangkutan.
Selisih yang terjadi karena adanya perbedaan laba kena pajak dan laba akuntansi tidak
dibukukan dalam suatu rekening tersendiri, tetapi ditambahkan atau dikurangkan kepada
aktiva atau hutang tertentu serta unsur pendapatan atau biaya yang bersangkutan.
Prinsip Prinsip Alokasi Pajak
Pada dasarnya Alokasi Pajak Penghasilan bagi perusahaan sebagai wajib pajak bisa
mencakup dua hal :
1. Interperiod Allocation
Yaitu proses alokasi pajak penghasilan antar periode tahun buku yang satu dengan
periode-periode tahun buku berikut atau sesudahnya. Alokasi pajak penghasilan antar periode
tahun buku ini diperlukan karena adanya perbedaan terhadap jumlah laba kena pajak dan laba
akuntansi.
2. Intraperiod Allocation
Yaitu proses alokasi pajak penghasilan dalam suatu periode akuntansi karena adanya
perbedaan tarif pajak yang dikenakan terhadap tiap-tiap komponen laba atau pendapatan
(Misal : tarif pajak untuk laba sebelum pos luar biasa berbeda dengan tarif pajak untuk laba
atau rugi luar biasa.) Karena Undang-Undang Perpajakan di Indonesia tidak mengenal
diskriminasi tarif yang diberlakukan terhadap tiap-tiap komponen laba atau pendapatan, maka
masalah Intraperiod Allocation praktis tidak pernah dijumpai, sehingga pembahasan lebih
dititikberatkan pada masalah Interperiod Allocation.

Alokasi Pajak Penghasilan Antar Periode Tahun Buku (Interperiod Allocation)


CONTOH KASUS
Pada tanggal 1 Januari 1997 sebuah perusahaan membeli sebuah villa berikut tanahnya
dengan harga Rp 90.000.000,- Sebesar Rp 15.000.000,- diantaranya merupakan harga
tanahnya.
Menurut ketentuan perpajakan, bangunan villa harus disusut berdasar metode garis lurus
dengan taksiran umur 20 tahun. Sementara kebijakan akuntansi pada perusahaan tersebut
menetapkan bahwa bangunan villa disusut berdasar metode garis lurus dengan taksiran umur
10 tahun.
Apabila perusahaan memperoleh pendapatan sebesar Rp 10.000.000,- dengan biaya operasi
(tidak termasuk biaya depresiasi) sebesar Rp 1.000.000,- setiap tahun selama 20 tahun,
sedang tarif pajak yang berlaku untuk tingkat laba yang dihasilkan perusahaan pada saat itu
sebesar 40 %, maka perhitungan jumlah pajak penghasilan setiap tahun selama 20 tahun adl
sbb :
Keterangan

Masa 10 tahun pertama


SPT
Akuntansi

Masa 10 tahun berikutnya


SPT
Akuntansi

Pendapatan

10.000.000

10.000.000

10.000.000

Biaya Usaha

1.000.000

1.000.000

1.000.000

10.000.00
0
1.000.000

Biaya Depresiasi

3.750.000

7.500.000

3.750.000

Laba Kena Pajak

5.250.000

1.500.000

5.250.000

9.000.000

Pajak Penghasilan

2.100.000

600.000

2.100.000

3.600.000

Tanpa alokasi pajak penghasilan, maka besarnya pajak penghasilan yang harus
disajikan dalam laporan Rugi/Laba akan sama jumlahnya dengan Pajak yang Terutang
menurut kantor Pajak (dalam SPT), yaitu sebesar Rp 2.100.000,- per tahun, yang berlangsung
selama 20 tahun.
Dengan demikian, Laporan Rugi Laba perusahaan akan tampak sebagai berikut :
Laporan Rugi Laba Partial
(Tanpa Alokasi Pajak Antar Periode)
Masa 10 tahun
Masa 10 Tahun
Pertama
Berikutnya
Pendapatan
10.000.000
10.000.000
Biaya Usaha
( 1.000.000)
( 1.000.000)
Depresiasi Bangunan
( 7.500.000)
Laba sebelum PPh
1.500.000
9.000.000
Pajak Penghasilan
( 2.100.000)
( 2.100.000)
Laba (Rugi) Bersih
600.000
6.900.000

Pada tahun buku 1997 Pajak Penghasilan dicatat dengan jurnal :


Pajak Penghasilan Rp 2.100.000,- Hutang Pajak Penghasilan - Rp 2.100.000,Perbedaan tarif depresiasi bangunan villa tersebut mengakibatkan Laporan Rugi-Laba
untuk masa 10 tahun pertama menunjukkan adanya kerugian sebesar Rp 600.000,- per tahun,
dan tarif pajak efektif sebesar 140 % dari Laba sebelum Pajak.
Sedangkan untuk 10 tahun berikutnya, di mana biaya depresiasi tidak lagi diperhitungkan,
tarif pajak efektifnya menjadi sebesar 23 % dari Laba sebelum pajak.
Alasan Perlunya Alokasi Pajak
Tanpa Alokasi Pajak, Laporan Perhitungan Rugi Laba untuk Perusahaan tersebut
tidak menunjukkan jumlah yang realistis jika dibandingkan dengan laba yang diperoleh
perusahaan. Hal ini disebabkan Biaya Depresiasi untuk tujuan akuntansi diperhitungkan atas
dasar taksiran umur bangunan selama 10 tahun, sedang untuk perhitungan pajak penghasilan
ditetapkan umur bangunan adalah 20 tahun. Sebagai akibatnya, Pajak Penghasilan dilaporkan
(dalam Laporan Rugi Laba) tidak sesuai dengan Laba Kena Pajaknya.
Oleh karena itu perlu diadakan alokasi pajak antar periode agar Pajak Penghasilan
menunjukkan korelasinya dengan laba yang diperoleh perusahaan, sehingga apliksi prosedur
alokasi pajak Pada Laporan Perhitungan Rugi Laba perusahaan setiap tahunnya selama 20
tahun sbb :
Laporan Rugi Laba Partial (Dengan Alokasi Pajak Antar Periode)
Masa 10 tahun
pertama

Masa 10 tahun
Berikutnya

Pendapatan

10.000.000

10.000.000

Biaya Usaha

( 1.000.000)

( 1.000.000)

Depresiasi Bangunan

( 7.500.000)

Laba sebelum Pajak

1.500.000

9.000.000

Pajak Penghasilan 40 %

( 600.000)

( 3.600.000)

Laba Bersih

900.000

5.400.000

Dengan alokasi pajak antar periode tidak berarti jumlah pajak yang harus dibayar
perusahaan tiap tahunnya menjadi berbeda. Pada dasarnya perusahaan tetap diwajibkan
membayar pajak Penghasilan sebesar Rp 2.100.000,- setiap tahun selama 20 tahun.
Perbandingan kedua prosedur tersebut dilihat dari segi pengaruhnya terhadap pajak
penghasilan yang dilaporkan dalam Laporan Rugi Laba adalah sbb :

Keterangan

Jumlah Pajak Penghasilan


Disajikan dalam Laporan Rugi - Laba
Dengan Alokasi
Dibayarkan Tanpa Aloksi

Masa 10 tahun Pertama :


1. Jumlah per-tahun

2.100.000

2.100.000

600.000

2. Jumlah selama 10 tahun

21.000.000

21.000.000

6.000.000

1. Jumlah per-tahun

2.100.000

2.100.000

3.600.000

2. Jumlah selama 10 tahun

21.000.000

21.000.000

36.000.000

TOTAL (20 tahun)

42.000.000

42.000.000

42.000.000

Masa 10 tahun Berikutnya :

Prosedur Pembukuan Alokasi Pajak Antar Periode


MISAL :
Perusahaan melakukan setoran pajak penghasilan setiap bulan sebesar Rp 125.000,- dimulai
pada bulan Januari 1997. Dengan demikian, sampai dengan akhir bulan Desember 1987
Pajak Penghasilan yang sudah disetor sebesar Rp 1.375.000,- (Rp 125.000 x 11 bulan
Setoran pajak dalam bulan tertentu diperlakukan sebagai angsuran pajak untuk bulan
sebelumnya Januari 1997 untuk Desember 1996, Februari 1997 untuk Januari 1997, dst)
Apabila Pajak Penghasilan yang Terhutang untuk tahun 1997 sebesar Rp 2.100.000,- dan
Pajak Penghasilan yang diperhitungkan dari laba akuntansinya sebesar Rp 600.000,- maka
jurnal yang dibuat untuk tahun 1997 adalah sbb :
1. Mencatat setoran Pajak Penghasilan bulanan (Februari Desember 1997)
Uang muka Pajak Penghasilan Rp 125.000,- Kas - Rp 125.000,2. Mencatat Pajak Penghasilan yang diperhitungkan untuk tahun 1987
Pajak Penghasilan Rp 600.000,- Hutang Pajak Penghasilan - Rp 600.000,3. Mencatat perhitungan penyelesaian Uang Muka Pajak Penghasilan Terutang menurut
SPT tahunan pada tahun 1997

Pajak Penghasilan yang Ditangguhkan Rp 1.500.000,- Uang Muka Pajak Penghasilan - Rp 1.375.000,Hutang Pajak Penghasilan - Rp 125.000,Dalam Buku Besar perusahaan, rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan akan
tampak sbb :

Pajak Penghasilan Ditangguhkan


Tanggal
Uraian
No.
Bukti
31/12/199 7
31/12/199 8
dst
31/12/200 6

Debet

Kredit

Saldo

1.500.000

1.500.000

1.500.000

3.000.000

1.500.000

15.000.000

Pada akhir tahun 1997 rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan bersaldo debet sebesar Rp
1.500.000,- yang akan disajikan dalam neraca sebagai Aktiva Lain-Lain. Situasi yang
demikian akan berlangsung untuk jangka waktu 10 tahun, yaitu sampai 31 Desember 1996,
sehingga pada akhir tahun 2006 tersebut rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan akan
mempunyai saldo Debet sebesar Rp 15.000.000,Untuk masa 10 tahun berikutnya, jumlah Pajak Penghasilan yang harus dibayarkan setiap
tahunnya sama, yaitu sebesar Rp 2.100.000,- sedangkan Pajak Penghasilan yang dilaporkan
dalam Laporan Rugi Laba setiap tahunnya sebesar Rp 3.600.000,- Sehingga dengan
demikian, selama 10 tahun terakhir tersebut rekening Pajak Penghasilan yang Ditangguhkan
harus dikredit sebesar Rp 1.500.000,- setiap tahun.
Jurnal yang dibuat perusahaan adalah sbb :
1. Mencatat PPh yang diperhitungkan untuk tahun 2007
Pajak Penghasilan Rp 3.600.000,Hutang Pajak Penghasilan - Rp 3.600.000,2. Mencatat perhitungan penyelesaian Uang Muka PPh dan PPh terutang menurut SPT
tahunan dalam tahun 2007
Hutang Pajak Penghasilan Rp 2.875.000,Uang Muka Pajak Penghasilan - Rp 1.375.000,Pajak Penghasilan yang Ditangguhkan - Rp 1.500.000,-

Dalam Buku Besar perusahaan, rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan akan tampak sbb :

Pajak Penghasilan Ditangguhkan


Tanggal
Uraian
No.
Bukti
31/12/200 6
31/12/200 7
31/12/200 8
dst
31/12/201 5
31/12/201 6

Debet

Kredit

Saldo

15.000.000

1.500.000

13.500.000

1.500.000

12.000.000

1.500.000

1.500.000

1.500.000

Melalui prosedur alokasi pajak yang demikian tersebut, maka pada akhir masa kegunaan
bangunan, yaitu pada akhir tahun 2016, rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan akan
bersaldo NIHIL (0).
Berbagai Faktor yang Memerlukan Prosedur Alokasi Pajak Antar Periode
Ada banyak faktor yang menyebabkan timbulnya perbedaan Pajak Penghasilan menurut
ketentuan perpajakan, dan Pajak Penghasilan yang dihitung berdasar laba akuntansi. Faktorfaktor tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu :
1. Perbedaan Waktu (Time Differences)
Selisih terjadi apabila terdapat item-item dari pendapatan dan biaya yang diperhitungkan
dalam penentuan laba akuntansi untuk suatu periode, tetapi diperhitungkan dalam penentuan
pendapatan atau laba kena pajak untuk periode yang berlainan.
Beberapa trransaksi yang menyangkut perbedaan waktu tersebut antara lain :
1. Pendapatan atau laba kene apajak diperhitungkan sebagai bagian dari Pendapatan
Kena Pajak lebih awal dari pada pengakuannya dalam Laba Akuntansi.
Contoh : Pendapatan Sewa, Royalti, Jasa, Bunga yang diterima dimuka
2. Pendapatan atau laba yang diperhitungkan sebagai bagian dari Pendapatan Kena Pajak
lebih akhir daripada pengakuannya dalam Laba Akuntansi.

Contoh :

Laba Kotor untuk Penjualan Angsuran

Laba Atas Kontrak Jangka Panjang (Akuntansi metode % penyelesaian, Pajak


Metode Kontrak Selesai)

Pendapatan atau hak atas laba dari investasi pada perusahaan afiliasi (Akuntansi
metode equity, Pajak metode Harga Pokok)

3. Biaya atau rugi yang diperhitungkan dalam penentuan pendapatan atau laba kena
pajak lebih awal dari pada pengakuannya dalam penentuan laba akuntansi.
Contoh :

Penggunaan metode depresiasi yang semakin berkurang jumlahnya untuk tujuan


pajak, sedang untuk tujuan akuntansinya digunakan metode garis lurus,

Penggunaan taksiran umur aktiva tetap yang lebih pendek sebagai dasar perhitungan
depresiasi untuk tujuan pajak dibanding untuk tujuan akuntansinya.

Biaya bunga selama masa konstruksi aktiva tetap yang dibebankan kepada pendapatan
pada saat terjadinya transaksi untuk tujuan pajak, sedang untuk tujuan akuntansi
dikapitalisasi sebagai bagian dari harga perolehan aktiva tetap ybs.

4. Biaya atau rugi yang diperhitungkan lebih akhir dalam penentuan lba kena pajak dari
pada pengakuannya dalam penentuan laba akuntansi.
Contoh :

Taksiran biaya garansi dan hadiah

Taksiran rugi penurunan nilai persediaan,


kontrak pembelian dengan penyerahan
kemudian, kerugian piutang, dan
penurunan nilai surat berharga.

Taksiran kerugian dari klaim ganti kerugian atau kontingensi

2. Perbedaan Permanen (Permanent Differences)


Selisih ini terjadi karena :

1. Transaksi yang diperhitungkan dalam penentuan laba akuntansi tetapi tidak diakui
untuk tujuan pajak
Contoh :

Pendapatan bunga dari deposito berjangka

Amortisasi Goodwill, amortisasi biaya pendirian

Biaya Premi asuransi jiwa para karyawan

Biaya kompensasi karyawan yang dikaitkan dengan program pemberian hak beli
saham kepada karyawan ybs.

2. Transaksi yang diakui untuk tujuan pajak, tetapi tidak diakui untuk tujuan akuntansi.
Contoh : Rugi Operasi
Selisih permanen ini tidak pernah terkompensasikan, atau dengan kata lain, selisih
permanen tidak dibenarkan atau tidak memerlukan adanya alokasi antar periode untuk tujuan
akuntansinya. Sehingga apabila dalam suatu periode terdapat selisih permanen, maka akan
dibebankan seluruhnya kepada periode ybs.
CONTOH :
PT GUNADARMA melaporkan laba sebelum pajak (Laba Akuntansi) untuk tahun
2008 s.d. 2010 sebesar Rp 5.000.000,- per tahun. Tarif pajak yang berlaku 30 %.
Informasi yang diperoleh sehubungan dengan pajak penghasilan adalah sbb :
1. Laba kotor dari penjualan angsuran pada tahun 2008 sebesar Rp 525.000,Laba tersebut untuk keperluan perpajakan seharusnya diakui secara bulanan selama 18
bulan terhitung sejak tanggal 1 Januari 2009, dengan jumlah yang sama setiap bulan.
Sedangkan untuk keperluan akuntansi, laba tersebut diakui seluruhnya dalam tahun buku
2008.
2. Perusahaan telah mengamortisasi Biaya Pendirian sebesar masing-masing Rp
375.000,- untuk tahun 2009 dan 2010 yang ternyata tidak diperkenankan untuk
tujuan perpajakan.
Rekonsiliasi yang dibuat sehubungan dengan adanya perbedaan perhitungan antara
perusahaan dengan kantor Pajak adalah sbb :
Rekonsiliasi Laba Akuntansi dan Laba Kena Pajak
serta Perhitungan Pajak Penghasilan Terhutang

Tahun
Jumlah Laba Akuntansi

2008
5.000.000

2009
5.000.000

2010
5.000.000

Selisih Permanen :
Amortisasi Biaya Pendirian

( 375.000)

( 375.000)

350.000

175.000

5.725.000
1.717.500

5.550.000
1.665.000

Selisih Temporer :
Laba
Kotor
Penjualan
Angsuran
- Jumlah mula-mula
( 525.000)
- Jumlah reversing
Jumlah Laba Kena Pajak
4.475.000
Pajak
Penghasilan 1.342.500
Terhutang (30 %)

Untuk mencatat ke dalam rekening yang berhubungan dengan Pajak Penghasilan,


maka perlu dibuat suatu perhitungan yang teliti, khususnya terhadap jumlah pajak yang
ditangguhkan.

Perhitungan Pajak Penghasilan dan Pajak Yang Ditangguhkan


2008
2009
2010
Jumlah PPh Terhutang
1.342.500
1.717.500 (K) 1.665.000 (K)
(K)
Pengaruh
selisih
laba
temporer thd PPh (Pajak yang 157.500 (K) 105.000 (D)
52.500 (D)
ditangguhkan) ***
Pajak
diperhitungkan

Penghasilan 1.500.000
(D)

1.612.500 (D) 1.612.500 (D)

*** Perhitungan :
Jumlah Selisih Laba Temporer x tarif PPh
2008 Rp 525.000 x 30 % = Rp 157.500,2009 Rp 350.000 x 30 % = Rp 105.000,2010 Rp 175.000 x 30 % = Rp 52.500,Atas dasar perhitungan di atas, maka jurnal yang dibuat untuk mengakui biaya Pajak
Penghasilan adalah sbb :
Tanggal 31/12/2008 :

Pajak Penghasilan Rp 1.500.000,- Hutang Pajak Penghasilan - Rp 1.342.500,Pajak Penghasilan Ditangguhkan - RP 157.500,Tanggal 31/12/2009 :
Pajak Penghasilan Rp 1.612.500,- Pajak Penghasilan Ditangguhkan Rp 105.000,- Hutang Pajak Penghasilan - Rp 1.717.500,Tanggal 31/12/2010
Pajak Penghasilan Rp 1.612.500,- Pajak Penghasilan Ditangguhkan Rp 52.500,- Hutang Pajak Penghasilan - Rp 1.665.000,Pada akhir tahun buku 2010, yaitu pada saat berakhirnya masa kompensasi dari selisih
temporer, maka saldo rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan menjadi NIHIL (0).

Definisi pajak penghasilan


Pajak penghasilan final, adalah pajak penghasilan yang bersifat final, yaitu bahwa setelah
pelunasannya, kewajiban pajak telah selesai dan penghasilan yang dikenakan pajak
penghasilan final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang terkena pajak
penghasilan yang bersifat tidak final. Pajak jenis ini dapat dikenakan terhadap jenis
penghasilan, transaksi, atau usaha tertentu.
Pajak kini, adalah jumlah pajak penghasilan yang terutang (dilunasi) atas laba kena pajak
(rugi pajak) untuk satu periode.
Perbedaan temporer, adalah perbedaan antara jumlah tercatat asset atau liabilitas pada
posisi keuangan dengan dasar pengenaan pajaknya. Perbedaan temporer dapat berupa:
Perbedaan temporer kena pajak liabilitas Perbedaan temporer dapat dikurangkan asset
PROSES REKONSlLlASl
Rekonsiliasi dilakukan untuk menghilangkan perbedaan antara laporan keuangan
komersial yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan dan laporan keuangan fiskal yang
dibuat berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan Perbedaan antara
laba akuntansi pada laporan keuangan kornersial dengan penghasilan kena pajak pada laporan
keuangan fiskal dapat diidentifikasi sebagai perbedaan tetap (permanent differences) dan
perbedaan temporer (temporary differences). Disebut perbedaan perrnanen karena akurnulasi
perbedaan tersebut akan tetap ada sampai waktu yang tidak terhingga, sedangkan dalam

perbedaan temporer akan terjadi sating eliminasi antar tahun-tahun fiskal, sehingga tidak ada
perbedaan lagi. Secara rinci perbedaan permanen dan perbedaan temporer diuraikan pada
paragraf di bawah ini.
Perbedaan Permanen
Eldon S. Hendricksen dalam bukunya Accounting Theory mengernukakan pengertian
perbedaan permanen (yang diterjemahkan secara bebas) adalah perbedaan yang timbul dari
penyisihan khusus, atau pernbatasan yang diinginkan atau diisyaratkan, oleh peraturan
hukurn (=pajak), karena alasan-alasan : ekonornis, politik, atau adrninistratif, yang tidak ada
kaitannya dengan perhitungan laba bersih akuntansi.
Pada urnumnya perbedaan permanen ini muncul, disebabkan oleh kebijakan
perekonomian atau disebabkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang menghendaki
penghapusan ketentuan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang
memberatkan salah satu sektor perekonornian.
Perbedaan permanen tersebut dapat berbentuk :
1) Penghasilan tertentu, baik sebagian maupun seluruhnya dikecualikan dari pengenaan
pajak penghasilan.
2) Kelornpok wajib pajak tertentu, baik sebagian rnaupun seluruhnya dibebaskan dari
pernbayaran pajak.
3) Pengurangan-pengurangan khusus yang diberikan kepada wajib pajak atau
pengurangan-pengurangan secara selektif yang diberlakukan terhadap wajib pajak
tertentu.
Sehingga dengan dernikian akan terjadi perbedaan-perbedaan sebagai berikut :
A. Bagi akuntansi keuangan rnerupakan penghasilan, tetapi bagi fiskus penghasilan tersebut
bukan rnerupakan penghasilan (bukan objek pajak) atau merupakan penghasilan yang
ditangguhkan pengenaan pajaknya.
Misalnya :
a) penghasilan yang tidak termasuk objek pajak, sesuai pasal 4 ayat (3) UU PPh.
b) bunga deposit0 berjangka dan tabungan lainnya yang diatur dalam PP No. 51 tahun
1994,
c) pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran yang berasal dari
kapitalisasi agio saham baru dan revaluasi aktiva tetap sesuai penjelasan pasal4 ayat
(1) hutuf (g) UU PPh.
B. Bagi akuntansi keuangan sudah merupakan pengeluaran, tetapi bagi akuntansi pajak
pengeluaran tersebut tidak dapat dikurangkan sebagai biaya. Hal ini seperti yang diatur
dalam pasal9 ayat (1) dan ayat (2) UU PPh
C. Bagi akuntansi keuangan tidaklbelum merupakan biaya, tetapi bagi akuntansi pajak
pengeluaran tersebut dapat dikurangkan sebagai biaya.
D. Ketentuan perhitungan penghasilan dan biaya yang diatur secara khusus, terutama
transaksi yang dipengaruhi hubungan istimewa.
Perbedaan Temporer
Eldon S. Hendricksen dalam bukunya Accounting Theory, mengemukakan pengertian
perbedaan temporerlwaktu (yang diterjemahkan secara bebas) sebagai perbedaan yang timbul

karena adanya perbedaan saat pembebanan (biaya) dan pengkreditan pendapatan. Pada
dasarnya perbedaan waktu disebabkan karena perbedaan waktu pengakuan penghasilan, biaya
dan beban yang bersifat sementara yang mengakibatkan adanya penundaan atau antisipasi
penghasilan atau beban. Perbedaan waktu pengakuan ini secara otomatis akan menjadi nihil
(counter balance) dengan sendirinya pada saat lampaunya waktu tersebut.
Perbedaan temporer dapat berupa:
1) Perbedaan temporer kena pajak (taxable temporary differences) adalah perbedaan
temporer yang menimbulkan suatu jumlah kena pajak (taxable amounts) dalam
penghitungan laba fiskal periode mendatang pada saat nilai tercatat aktiva dipulihkan
(recovered) atau nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi (settled); atau
2) Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan (deductible temporary differences)
adalah perbedaan temporer yang menimbulkan suatu jumlah yang boleh dikurangkan
(deductible amounts) dalam penghitungan laba fiscal periode mendatang pada saat
nilai tercatat.
Perbedaan tersebut dapat dibagi dalam empat kelompok :
A. Penghasilan yang berdasarkan akuntansi pajak sudah merupakan penghasilan yang sudah
dapat dikenakan pajak, tetapi berdasarkan akuntansi keuangan merupakan penghasilan
yang masih akan diterima.
B. Penghasilan yang berdasarkan akuntansi pajak sudah merupakan penghasilan yang sudah
dikenakan pajak, tetapi berdasarkan akuntansi keuangan merupakan penghasilan yang
diterima di muka.
C. Beban atau pengeluaran yang berdasarkan akuntansi pajak sudah dapat dikurangkan
sebagai biaya, tetapi berdasarkan akuntansi keuangan merupakan beban atau
pengeluaran yang dibayar dimuka.
D. Beban atau pengeluaran yang berdasarkan akuntansi pajak sudah dapat dikurangkan
sebagai biaya, tetapi berdasarkan akuntansi keuangan me~pakan beban atau pengeluaran
yang masih akan dibayar.

Bab I
Pendahuluan

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang bermanfaat bagi


sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Pemakai laporan keuangan
yang dimaksud adalah investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha
lainnya, pelanggan, pemerintah, dan masyarakat. Sementara itu, tugas akuntan adalah untuk
melindungi pemakai tersebut dari kesalahan membaca inforrnasi dalam akuntansi keuangan
yang disajikan oleh akuntan.
Di dalam praktiknya, perusahaan-perusahaan yang merupakan Wajib Pajak Badan
harus menghitung penghasilan dengan dua cara yang berbeda. Di satu sisi, akuntan
perusahaan harus menyajikan laporan keuangan kepada pemegang saham sesuai dengan
GAAP (Generally Accepted Accounting Principle) atau SAK (Standar Akuntansi Keuangan).
Sementara itu, di sisi lain akuntan juga harus menyajikan laporan keuangan kepada
pemerintah, dalam ha1 ini Direktorat Jenderal Pajak, sesuai dengan ketentuan perpajakan
dalam sebuah Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan atau disingkat SPT
Tahunan PPh Badan.
Tahun 1997 lkatan Akuntan lndonesia (IAl) menerbitkan Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan No. 46 (PSAK 46) mengenai akuntansi pajak penghasilan. PSAK 46 ini
dikeluarkan untuk memenuhi tuntutan dalam memasuki era globalisasi agar laporan keuangan
yang disajikan perusahaan lndonesia yang digunakan di dalam negeri maupun di luar negeri
dapat sejalan dengan perkembangan standar internasional.
PSAK 46 ini sejalan dengan SFAS 96 yang diterbitkan oleh FASB tahun 1987 dan
SFAS 109 pada tahun 1992, mengatur perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan. Masalah
yang timbul adalah bagaimana pengakuan pengaruh pajak pada periode berjalan dan periode
mendatang terhadap transaksi yang telah diakui dalam laporan keuangan dan Surat
Pemberitahuan Tahunan (SPT) serta kompensasi kerugian fiskal yang belum digunakan.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai Akuntansi Pajak Penghasilan, terlebih


dahulu perlu dipahami mengenai pembukuan fiskal, akuntansi dan akuntansi pajak.
PEMBUKUAN FISKAL, AKUNTANSI DAN AKUNTANSI PAJAK
Reforrnasi peraturan perpajakan tahun 1983 telah menggulirkan pembaharuan sistem
perpajakan yang semula official assessment system menjadi self assessment system. Sistem
tersebut memberikan kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan,
meyetor dan melaporkan sendiri pajaknya. Dalam mekanisme self assessment Wajib Pajak
membutuhkan media untuk dapat menghitung jumlah pajak yang dibayarnya. Berdasarkan
undangundang, media tersebut diwujudkan dalam bentuk pembukuan.
Menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16
Tahun 2000 disebutkan :
Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk
mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi keadaan harta, kewajiban,
modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang
atau jasa yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan
rugi laba pada setiap tahun pajak berakhir
Sedangkan akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem informasi. Dari sudut
prosesnya akuntansi adalah proses pencatatan, pengelompokan, pengikhtisaran, pelaporan
dan penganalisisan data keuangan suatu organisasi. Laporan keuangan merupakan informasi
yang dihasilkan oleh akuntansi. Lnformasi akuntansi merupakan data, fakta, pengamatan atau
persepsi yang diperoleh sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan pemakainya
terutama dalam proses pengambilan keputusan. lnformasi akuntansi diharapkan dapat
mengkomunikasikan keadaan keuangan suatu perusahaan kepada pihak pemakai laporan
keuangan seperti investor, kreditor dan pihak pemakai lainnya.

Bab III
Penutup
Kesimpulan
lstilah akuntansi pajak tidak kita jumpai dalam ketentuan formal baik PSAK maupun
ketentuan pajak. Berdasarkan Pasal 28 UU KUP, media yang dipakai untuk menghitung
jumlah pajak yang terutang adalah pembukuan. Yang dimaksud pembukuan dalam pasal ini
bukanlah akuntansi.
Penghitungan pajak terutang tersebut berdasarkan laporan keuangan yang dihasilkan
oleh proses akuntansi setelah melalui proses rekonsiliasi fiskal, yaitu mengeliminasi itemitem dalam akuntansi yang tidak sesuai dengan peraturan perpajakan. Dari proses tersebut,
dihasilkanlah penghasilan net 0 menurut peratruran perpajakan yang berlaku yang pada
akhirnya dig unakan sebagai dasar penghitungan pajak terutang.
Akuntansi Pajak Penghasilan diatur dalam PSAK 46 yang sebenarnya tidak hanya
mengatur tentang pajak tangguhan tetapi secara komprehensif mengatur tentang Akuntansi
Pajak Penghasilan secara keseluruhan. Pajak tangguhan, sebenarnya lebih berfokus kepada
akuntansi atas dampak pajak di masa yang akan datang akibat adanya perbedaan temporer
dan kompensasi kerugian fiscal yang hams disajikan dalam laporan keuangan periode
berjalan.

Kata Pengantar

Puji syukur kami sebagai mahasiswa/mahasiswi Universitas Sriwijaya mengucapkan


kepada Allah SWT yang telah memberikan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
Makalah kami mengenai Akuntansi Pajak Penghasilan.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas pengetahuan kompetensi dan saya
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena keberhasilan ini tidak lepas dari
bantuan dan dorongan dari berbagai pihak.
Apabila dalam Makalah ini masih belum sempurna,maka disarankan saran dan kritik
untuk memperbaiki makalah ini dimasa yang akan mendataang. Demikian makalah ini kami
buat,apabila ada kesalahan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kepada Allah kami
mohon ampun.Akhir kata kami ucapkan terima kasih.

Daftar Isi

Daftar Isi 1
Kata Pengantar ..2
BAB I PENDAHULUAN ....3
Latar Belakang ..3
Tujuan 3
BAB II PEMBAHASAN......5
Perlakuan Akuntansi Pajak Penghasilan ...5
Alokasi Pajak Penghasilan 7
Proses Rekonsiliasi ......15
BAB III PENUTUP ...18
Kesimpulan ..18
Daftar Pustaka .19

Daftar Pustaka

http://rahmatsuharjana.blogspot.co.id/2013/02/akuntansi-untuk-pajakpenghasilan.html
http://www.asiancancer.com/indonesian/cancer-symptoms/skin-cancersymptoms/
http://ayipsyarifudinnur.blogspot.com/2012/11/makalahdermatitis_9995.html