Anda di halaman 1dari 11

LEMBAR PENILAIAN DAN PENGESAHAN

No.
1

Materi
Pendahuluan

2
3
4
5
6
7
8

Tinjauan Pustaka
Materi dan Metode
Hasil
Pembahasan
Penutup
Daftar Pustaka
Lampiran
T O TAL

Nilai

Semarang, 24 Maret 2016

Asisten Praktikum

Praktikan

Achmad Agustian Fahreza


NIM.26020112140056

M. Amanun Tharieq
NIM.26020115130134

Mengetahui,
Koordinator Asisten

Faishal Widiaputra Nugraha


NIM.26020112140077

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Secara umum lipid dibagi menjadi dua golongan besar yaitu lipid
sederhana dan lipid komplek . Termasuk golongan lipid sederhana
adalah senyawa-senyawa yang yang tidak mempunyai gugus ester dan tidak
dapat dihidrolisis. Golongan ini meliputi steroid. Golongan lipid komplek
tersusun oleh senyawa-senyawa yang mempunyai gugus fungsi ester dan
dapat dihidrolisis. Golongan ini meliputi minyak, lemak, dan lilin.
Lipid merupakan senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak
larut dalam air dan bersifat non polar. Senyawa non polar akan larut dalam
pelarut non polar, dan lemak merupakan senyawa non polar sehingga
senyawa ini mudah larut dalam pelarut non polar, seperti kloroform, karbon
disulfida, karbon tetraklorida, dan sebagainya. Kelarutan dari lemak perlu
diketahui untuk menentukan dasar pemilihan pelarut dalam pengambilan
lemak dengan ekstraksi lemak dari bahan yang diduga mengandung lemak.
1.2. Tujuan
1.2.1.
Mengetahui ekstraksi metode Soxhletasi
1.2.2.
Menentukan kadar lipid dari ekstrak cumi cumi
1.2.3.
Mengenal tentang proses destilasi
1.3. Manfaat
1.3.1.
Praktikan dapat mengetahu tentang ekstraksi metode Soxhletasi
1.3.2.
Praktikan dapat menentukan kadar lipid dari proses
ekstraksi cumi-cumi
1.3.3.
Praktikan dapat mengenal proses dari Destilasi

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ekstraksi

Ekstraksi merupakan proses atau aktivitas pemisahan satu atau


beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan dengan bantuan pelarut.
Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau lebih komponen dari
suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven) sebagai
separating agen. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda
dari komponen-komponen dalam campuran. (Wibawa, 2010)
Dalam pemisahan zat-zat terlarut dua cairan yang tidak saling
mencampur dengan bantuan alat corong pisah. Terdapat suatu jenis proses
pemisahan dimana dalam satu fase dapat berulang-ulang mengalami kontak
dengan fase yang lain, misalnya ekstraksi berulang-ulang suatu larutan dalam
pelarut air dan pelarut organik, yaitu dengan alat ekstraktor soxhlet.
(Wibawa,2010).
Menurut Maulida (2010), Ekstraksi merupakan suatu metoda dalam
proses pemisahan suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan
sejumlah massa bahan (solven) sebagai tenaga pemisah. Proses pemisahan
dengan cara ekstraksi terdiri dari tiga langkah dasar, antara lain :
1. Proses penyampuran sejumlah massa bahan ke dalam larutan yang akan
dipisahkan komponen komponennya.
2. Proses pembantukan fase seimbang.
3. Proses pemisahan kedua fase seimbang.
Prinsip dasar ekstraksi adalah melarutkan senyawa polar dalam pelarut
polar dan senyawa non-polar dalam pelarut non-polar. Serbuk simplisia
diekstraksi berturut-turut dengan pelarut yang berbeda polaritasnya. Dengan
kata lain proses ekstraksi merupakan penarikan zat pokok yang diinginkan
dari bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih dengan zat
yang diinginkan larut. (Maulida, 2010).

Ekstraksi lebih menguntungkan jika dalam jumlah tahap yang banyak.


Semakin kecil partikel dari bahan ekstraksi, semakin pendek jalan yang harus

ditempuh untuk reaksi. Pada ekstraksi bahan padat, tahanan semakin besar
jika kapiler-kapiler bahan padat semakin halus dan jika ekstrak semakin
terbungkus di dalam sel. (Wibawa, 2010)

2.2 Soxhletasi
Alat soxhlet adalah suatu sistem penyarian berulang dengan pelarut
yang sama yang menggunakan proses sirkulasi perubahan uap cair dari
pelarut dengan pemanasan. Polaritas cairan pelarut yang digunakan
bergantung dari sifat kimia senyawa aktif yang akan diekstraksi dan
kemampuan menembus membran sel. Ekstraksi menggunakan Soxhlet
dengan pelarut cair merupakan salah satu metode yang paling baik digunakan
dalam memisahkan senyawa bioaktif dari alam. (Rais, 2014)
Prinsip soxhlet merupakan proses ekstraksi menggunakan pelarut
yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan
jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Metode soxhlet ini
dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan
larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga
pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan
meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat. (Meliani,
2014)
Menuru Rais (2014), kelebihan cara ini jika dibandingkan dengan
hasil dari metode ekstraksi yang lain, antara lain :
1. Sampel kontak dengan pelarut yang murni secara berulang sehingga
membantu pemindahan.
2. Keseimbangan konsentrasi kandungan komponen kimia dari
simplisia ke dalam pelarut,
3. Suhu dalam system soxhlet relatif lebih tinggi banding panas yang
diperlukan tabung destilasi,

ekstraksi dapat ditingkatkan dengan

penyarian paralel,
4. Kemampuan mengekstraksi sampel lebih tanpa tergantung jumlah
pelarut.
Akan tetapi, menurut Meliani (2014), ekstraksi dengan metode
Soxhlet memiliki beberapa kekurangan yaitu :

a. Jenis pelarut yang digunakan harus mudah menguap karena faktor


utama dari mekanisme ini ada berupa uap ketika sudah mencapai
titik didih.
b. Hanya digunakan untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas,
khususnya semi-polar.

2.3. Destilasi
Destilasi merupakan suatu perubahan cairan menjadi uap dan uap
tersebut di dinginkan kembali menjadi cairan. Unit operasi distilasi
merupakan metode yang digunakan untuk memisahkan komponenkomponen yang terdapat dalam suatu larutan atau campuran dan tergantung
pada distribusi komponen-komponen tersebut antara fasa uap dan fasa air.
Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia untuk
memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih
yang jauh. (Walangare, 2013)
Sedangkan menurut Sarifudin (2010), Destilasi merupakan suatu
metode pemisahan bahan kimia yang berdasar dari perbedaan kecepatan
atau kemudahan menguap (volatilitas) suatu bahan atau didefinisikan juga
teknik pemisahan kimia yang berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam
penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Penerapan proses
ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing
komponen akanmenguap pada titik didihnya.
Menurut Walarange (2013), terdapat beberapa jenis Destilasi, antara
lain :
1. Destilasi Sederhana
Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia
untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan
titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan destilasi
biasa ini untuk memperoleh senyawa murni.

2. Destilasi Fraksionasi (Bertingkat)

Sama prinsipnya dengan destilasi sederhana, hanya destilasi


bertingkat ini memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik,
sehingga mampu memisahkan dua komponen yang memiliki perbedaan
titik didih yang berdekatan.

3. Destilasi Azeotrop
Memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih
komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan
senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut atau dengan
menggunakan tekanan tinggi.

4. Destilasi Uap
Destilasi uap adalah istilah yang secara umum digunakan untuk
destilasi campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air, dengan
cara mengalirkan uap air kedalam campuran sehingga bagian yang dapat

menguap berubah menjadi uap pada temperature yang lebih rendah dari
pada dengan pemanasan langsung.
5. Destilasi Vakum
Memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi,
motode yang digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan

lebih rendah dari 1 atm, sehingga titik didihnya juga menjadi rendah,
dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk mendistilasinya tidak perlu
terlalu tinggi.

2.4. N-Heksana
Heksana merupakan suatu senyawa hidrokarbon alkane dengan rumus
kimia CH3(CH2)4CH3. Dengan awalan nama "Hex" menunjukkan jumlah
enam atom karbonnya (6C), sedangkan akhiran ana menunjukkan bahwa
atom karbonnya dihubungkan oleh ikatan tunggal. Isometri heksana
umumnya bersifat tidak reaktif, dan sering digunakan sebagai pelarut inert
dalam reaksi organik, karena heksana tidak polar.(Faizal, 2009)
Pada umumnya heksana digunakan untuk mengekstrak minyak dari
biji seperti pada kacang-kacangan dan flax. Karena heksana bersifat tidak

reaktif dan inert dalam reaksi organic karena bersifat sangat non-polar dan
memilki narrow distillation range dan selective power, sehingga tidak
memrlukan tingkat pemanasan yang tinggi dan daya ekstraksinya tinngi,
yang menjadikan heksana sebagai pelarut yang baik untuk mengekstrak
minyak dari bijinya. (Faizal, 2009).
Menurut Maulida (2010), n-heksana memiliki beberapa karakteristik
khas yaitu :
1. Nama lain : caproyl hydride, hexyl hydride
2. Rumus molekul : CH3(CH2)4CH3
3. Berat molekul : 86,17 kg/mol
4. Warna : berwarna
5. Melting point : - 94 oC
6. Boiling point : 69 ( P = 1 atm)
7. Spesific gravity : 0,659
8. Kelarutan dalam 100 bagian air : 0,014 ( 15 oC )
Dalam memilih jenis pelarut (solven) yang digunakan pada saat
ekstraksi jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal, menurut Maulida
(2010) terdapat beberapa hal yang perlu di perhatikan, antara lain :
1. Mempunyai keemampuan melarutkan solute tetapi sedikit atau tidak
sama sekali melarutkan diluent.
2. Mempunyai perbedaan titik didih yang cukup besar dengan solute.
3. Tidak beeraksi dengan solute maupun diluen.
4. Mempunyai keemurnian tinggi.
5. Tidak beracun.
6. Tidak meninggalkan bau.
7. Mudah direcovery.
8. Mempunyai perbedaan densitas yang tinggi dengan diluen.

2.5. Lipid
Lipid merupakan senyawa makromolekul yang terdapat pada smeua
makhluk hidup. Baik itu pada mahkluk hidup tingkat tinggi ataupun
makhluk hidup bersel satu. Lipid tidak dapat larut di dalam air, akan tetapi
lipid dapat terlarutkan dalam pelarut organik seperti hidrokarbon, eter,

kloroform, dan benzena. Minyak dan lemak termasuk golongan lipida,


karena di dalam minyak dan lemak mengandung Trigliserida. (Apriani,
2008).
Trigliserida ini merupakan senyawa hasil kondensasi satu molekul
gliserol dan tiga molekul asam lemak. Di alam, bentuk gliserida yang lain
yaitu digliserida dan monogliserida yang merupakan hasil buatan dari proses
hidrolisa yang tidak lengkap. Secara umum, lemak diartikan sebagai
trigliserida yang dalam kondisi suhu ruang dalam keadaan padat, sedangkan
minyak merupakan trigliserida dalam suhu ruang berbentuk cair.
(Hutagalung,2009)
Menurut Hutagalung (2009), lipid dapat di bagi menjadi tiga golongan
besar, yaitu :
1. Lemak sederhana, yakni ester asam lemak dengan rantai pendek.
2. Lemak gabungan, yaitu ester asam lemak dengan rantai panjang.
3. Derivat lemak, yaitu senyawa hasil dari proses hidrolisis lipid.
Lemak yang memiliki titik lebur tinggi mengandung asam lemak jenuh,
sedangkan asam lemak cair mengandung asam lemak yang tidak jenuh
(minyak). Bila ditinjau dari segi reaksi kimia, lipid berantai pendek pada
umunya dapat larut dalam air, sedangkan lipid dengan rantai yang panjang
tidak larut dalam air. Alkohol panas adalah pelarut lemak yang paling baik.
(Hutagalung, 2009).

2.6 Kadar Lemak dan Rendeman


2.6.1 Kadar Lemak
Lemak dan minyak merupakan senyawa organik yang
terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut
organik

non-polar,misalnya

dietil

eter

(C2H5OC2H5),

Kloroform(CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan


minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena
lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelaut
tersebut. Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam
pelarut yang sama polaritasnya dengan zat terlarut . Tetapi polaritas
bahan dapat berubah karena adanya proses kimiawi. Misalnya asam
lemak dalam larutan KOH berada dalam keadaan terionisasi dan
menjadi lebih polar dari aslinya sehingga mudah larut serta dapat

diekstraksi dengan air. Ekstraksi asam lemak yang terionisasi ini


dapat dinetralkan kembali dengan menambahkan asam sulfat encer
(10 N) sehingga kembali menjadi tidak terionisasi dan kembali
mudah diekstraksi dengan pelarut non-polar (Herlina, 2002).
Penentuan kadar lemak atau minyak suatu bahan dapat
dilakukan dengan cara menggunakan alat ekstraktor Soxhlet.
Ekstraksi dengan alat soxhlet merupakan cara ekstraksi yang efisien,
karena pelarut yang digunakan dapat diperoleh kembali. Dalam
penentuan kadar minyak atau lemak, diharuskan agar bahan yang di
uji dalam keadaan kering, karena jika masih basah akan menghambat
proses ekstraksi menjadi memakan waktu lebih lama. (Meliani,
2014).

2.6.2 Kadar Lemak pada Cumi-cumi


Cumi-cumi (Todarodes pasificus) yang biasa dikenal sebagai
ikan mangsi termasuk golongan binatang lunak (mollusca), kelas
cephalopoda yaitu menggunakan kepala sebagai alat untuk bergerak.
Pada bagian kepala terdapat mulut yang dikelilingi oleh 10 tangan
penangkap yang mempunyai alat penghisap yang berbentuk bundat.
Seluruh

organ

tubuhnya

diselaputi

oleh

membran/mantel.

Karakteristik dari cumi-cumi adalah adanya kantung tinta yang


terdapat di atas usus besar dan bermuara di dekat anus. Bila cumi
cumi diserang musuh, kantung tinta akan berkontraksi melalui pipa.
Hal tersebut menyebabkan pembentukan awan hitam di sekililingnya
yang memungkinkan cumi-cumi terhindar dari serangan musuh
(Prabawati,2005).
Menurut Zaitsev

dalam

Prabawati

(2005),

Cumi-cumi

mengandung 78,1-82,5 % air; 0,2-1,4% lemak; 14,8-18,8% protein


dan 1,2-1,7 % abu. Sedangkan bagian yang dapat dimakan meliputi

badan, kepala, dan tentakel. Kandungan protein dalam cumi-cumi


memang cukup tinggi. Dalam 100 g daging cumi-cumi mengandung
15,3 g protein; 1,0 g lemak; 79,3 g air; 1,8 g abu; 3 g karbohidrat dan
menghasilkan energi sebesar 89 kalori, sedangkan kolesterol tidak
diternukan.

2.6.3 Rendemen
Rendemen merupakan presentase berat serbuk hasil spray
dryer dari berat segar bahan yang di uji. Perbedaan suhu serta jeni
pelarut mempengaruhi hasil rendemen yang di peroleh. Perbedaan
rendemen yang dihasilkan disebabkan karena setiap pelarut memiliki
kepolaran yang berbeda-beda dalam mengekstraksi bahan yang di
uji. Pelarut heksana mampu melarutkan semua bahan yang memiliki
kepolaran yang sama dengan heksana sehingga rendemen yang
dihasilkan lebih besar dibandingkan dengan pelarut lainnya.
(Purnamasari, 2013).