Anda di halaman 1dari 3

PRODI ARSITEKTUR UNS | KRITIK ARSITEKTUR

Nama:
NIM:

Iqbal Maulana Fauzi


I.0214049

Tajuk:
KRITIK NORMATIF

ARSITEKTUR NEO-VERNAKULER DI STASIUN BALAPAN


Ning Stasiun Balapan
kutha Solo sing dadi kenangan
kowe karo aku nalika ngeterke lungamu. 1
Lagu campursari Stasiun Balapan, yang dilantunkan Didi Kempot, sangat
populer. Lagu itu dinyanyikan hingga pelosok tanah Jawa, bahkan oleh
orang-orang yang belum pernah menginjakkan kaki di stasiun tepat di
jantung Kota Solo itu.
Perusahaan kereta Hindia Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg
Maatschappij membangun Stasiun Solo Balapan tahun 1873. Stasiun ini
melengkapi pembangunan jalur rel Kedungjati-Solo-Yogyakarta melalui
Gundih dan Klaten. Stasiun ini juga salah satu stasiun tertua di Indonesia.

Adalah Herman Thomas Karsten, arsitek kelahiran Amsterdam, yang


memberikan sentuhan arsitektur berbeda dibandingkan stasiun-stasiun
lain dengan menerapan elemen arsitektur lokal baik dengan tujuan
melestarikan unsur-unsur lokal yang telah terbentuk secara empiris oleh
sebuah tradisi yang kemudian diperbarui menjadi suatu karya yang lebih
modern atau maju tanpa mengesampingkan nilai-nilai tradisi setempat atau
yang sering disebut dengan Arsitektur Neo-Vernakuler.

Pada tampilan depan Solo Balapan dapat dilihat penggunaan atap tajuk
bersusun tiga pada lobi stasiun yang direnovasi pada tahun 1927
menunjukan bahwa Karsten memperhatikan unsur-unsur budaya lokal
dalam bangunan yang dia desain. Atap tajuk bersusun biasanya hanya
digunakan untuk bangunan peribadatan atau makam saja dan hanya bisa
diterapkan pada bangunan yang memiliki denah berbentuk dasar persegi.
Jika dibagi oleh sumbu vertikal dan sumbu horizontal akan membagi
bangunan, sumbu horizontal menyimbolkan hubungan manusia dengan
manusia (hablumminanas) sedangkan sumbu vertikal menyimbolkan
hubungan manusia dengan Sang Pencipta (hablumminallah) 2.

Lagu Solo Balapan, oleh Didi Kempot


Ir. Marsudi, M. T. Dalam kuliah Arsitektur Jawa di Jurusan Arsitektur Universitas
Sebelas Maret Surakarta 7 April 2016
2

PRODI ARSITEKTUR UNS | KRITIK ARSITEKTUR

Gambar 1. Makna simbolis penggunaan atap tajuk dan atap tajuk yang digunakan
pada Masjid Agung Surakarta (sumber: google.com)

Penggunaan atap tajuk bersusun pada bangunan Stasiun Solo Balapan


menunjukan kekerasan hati Karsten untuk hanya menggunakan bentukbentuk unsur lokal demi mengutamakan penampilan visual saja dan
menghiraukan aspek nonfisik (budaya, pola pikir) Jawa dalam desain,
sehingga menghasilkan bentuk baru yang belum pernah ada.

Gambar 2. Tampak depan Stasiun Solo Bapalan yang menunjukan atap tajuk lapis
tiga dan kanopi yang merupakan unsur-unsur lokal namun dikemas dengan gaya
modern(bahan bangunan yang digunakannya) (sumber: google.com)

Dalam rancanganya, penggunaan atap tajuk bersusun ditujukan untuk


memudahkan sirkulasi udara dan pencahayaan. Atap tajuk bersusun
merupakan penyesuaian terhadap bentang yang lebar agar ruangan tetap
mendapatkan sirkulasi udara dan pencahayaan yang optimal, selain itu juga
sebagai pemercantik tampilan bangunan. 3

Terdapat juga kanopi modern yang dibangun dengan bahan-bahan modern


seperti batu-bata dan baja yang dapat berfungsi seperti pendhapa pada
rumah tradisi Jawa Tengah. Keterbukaan konstruksinya ditunjukan oleh
keempat kolom yang menggambarkan sifat terbuka, merakyat, dan mudah
3

Ir. Marsudi, M. T. dalam kuliah Arsitektur Jawa di Jurusan Arsitektur Universitas


Sebelas Maret Surakarta 7 April 2016

PRODI ARSITEKTUR UNS | KRITIK ARSITEKTUR

dijangkau yang memiliki makna yang sama dengan pendhapa di rumah


tradisi Jawa Tengah.
Selain itu, orientasi Stasiun Balapan yang menghadap arah selatan juga
sama seperti bangunan di Jawa pada umumnya yang juga menghadap
selatan dikarenakan kepercayaan-kepercayaan nenek moyang terhadap
dewa-dewa yang menunggu mata angin. Selain alasan fungsional untuk
menghadap ke jalan utama, Karsten juga menghindari orientasi yang tidak
umum dan pantang dipakai dalam bangunan umum seperti arah timur yang
hanya diperuntukan untuk keraton dan arah barat yang dalam kepercayaan
Jawa ditunggui oleh Batara Yamadipati yang merupakan dewa kematian. Di
sini Karsten memperhatikan budaya dan filosofi lokal dalam desainnya.
Tampilan bangunan Stasiun Solo Balapan secara umum sudah terlihat
modern yaitu dengan menggunakan batu bata sebagai elemen partisi dan
penutup ruang, beton bertulang sebagai elemen struktural, baja sebagai
rangka atap, dan elemen-elemen hias seperti batu-batu tempel fabrikasi,
keramik dan sebagainya. Disini Karsten menunjukan kepandaiannya
memadukan elemen tradisional dengan elemen modern menjadi kesatuan
yang padu dan serasi.
Dalam desain Stasiun Solo Balapan, Karsten sudah cukup berhasil
mendesain bangunan bergaya modern rasa lokal atau sering disebut
bergaya Arsitektur Neo-Vernakuler dengan menggunakan unsur-unsur fisik
lokal seperti penggunaan atap tajuk bersusun dan adanya kanopi serta
penggunaan unsur-unsur non fisik lokal yang diterapkan dalam orientasi
bangunan dan makna simbolik unsur-unsur arsitektur namun dikemas
dengan cara baru yaitu dengan menggunaan bahan-bahan modern pada
bangunan seperti batu bata sebagai penutup ruang, beton bertulang
sebagai elemen struktur, rangka baja sebagai rangka atap, dan elemenelemen hias dengan batu tempel dan lantai keramik.
Daftar Pustaka
Jencks, Charles. 1984. The Language of Post-Modern. New York: Rizoli.
Nas, Peter. 2009. Masa Lalu Dalam Masa Kini:Arsitektur Indonesia. Jakarta:
PT.
Gramedia Pustaka Utama.
https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Solo_Balapan - diakses 23 Maret 2015
http://heritage.kereta-api.co.id/?p=1157 -diakses 23 Maret 2015
K., Ismunandar. 2001. Joglo: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Jakarta:
Effhar