Anda di halaman 1dari 98

KOORDINASI PMT PLR 9 DAN RECLOSER PLR 19-81

PADA SISTEM PROTEKSI JARINGAN TEGANGAN MENENGAH 20 KV


DI WILAYAH KERJA PT. PLN (PERSERO) RAYON PALUR

Laporan Tugas Akhir


Program Studi Diploma III Teknik Elektro

oleh:
Bima Cahya Nugraha
NIM 21060112083009

PROGRAM KERJASAMA FT UNDIP PT. PLN (PERSERO)


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

HALAMAN PENGESAHAN
Tugas Akhir
KOORDINASI PMT PLR 9 DAN RECLOSER PLR 19-81
PADA SISTEM PROTEKSI JARINGAN TEGANGAN MENENGAH 20 KV
DI WILAYAH KERJA PT. PLN (PERSERO) RAYON PALUR

oleh :
BIMA CAHYA NUGRAHA
21060112083009
Telah disetujui oleh dosen pembimbing tugas akhir pada
Hari

Tanggal

Tempat

:
Mengetahui,

Menyetujui,

Ketua Program DIII Kerjasama

Dosen Pembimbing

FT Undip PT PLN

Ir. Bambang Winardi, M.Kom

Yuniarto, ST, MT

NIP. 196106161993031002

NIP.197106151998021001

Mengetahui,
Ketua Program DIII Teknik Elektro FT Undip

Yuniarto, ST, MT
NIP.197106151998021001

ii

HALAMAN PERSETUJUAN

TUGAS AKHIR
KOORDINASI PMT PLR 9 DAN RECLOSER PLR 19-81
PADA SISTEM PROTEKSI JARINGAN TEGANGAN MENENGAH 20 KV
DI WILAYAH KERJA PT. PLN (PERSERO) RAYON PALUR
oleh:
BIMA CAHYA NUGRAHA
NIM 21060112083009

telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal


Penguji I

Penguji II

Penguji III

Ir. Syaiful Manan, M. Priyo Sasmoko S.T, M.Eng


NIP.196101221987031001 NIP.19710916199821001

Drs Eko Ariyanto, MT


NIP.196004051986021001

Mengetahui,

Mengetahui,

Ketua Program DIII Kerjasama

Ketua Program DIII Teknik Elektro

FT Undip PT PLN

FT Undip,

Ir. Bambang Winardi, M.Kom

Yuniarto, ST, MT

NIP. 196106161993031002

NIP.197106151998021001

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas
Akhir dengan judul Koordinasi PMT PLR 9 dan Recloser PLR 19-81 pada Sistem
Proteksi Jaringan Tegangan Menengah 20 KV di Wilayah Kerja PT. PLN (Persero)
Rayon Palur. Tugas Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat akhir studi di Program
Studi Diploma III Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dan
memperoleh gelar Ahli Madya.
Dalam proses pembuatan Tugas Akhir ini penulis menemukan banyak kesulitan
dan hambatan baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Oleh karena itu pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Ir. H. Zainal Abidin, MS, selaku Ketua Program Diploma III Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro.
2. Bapak Yuniarto,ST.MT selaku Ketua Program Studi Diploma III Teknik
Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang serta Dosen Wali
Angkatan 2012 dan telah membimbing penulis dalam menyelesaikan Tugas
Akhir ini.
3. Bapak Ir. Bambang Winardi M.Kom Selaku Ketua Program DIII Kerjasama
Undip-PLN Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

iv

4. Semua Pegawai di PT. PLN Rayon Palur yang tidak dapat penulis sebutkan
satu-persatu yang telah memberi bimbingan dalam pembuatan Tugas Akhir
dan membantu dalam mendapatkan data, materi, dan informasi untuk Laporan
Tugas Akhir.
5. Orang tua yang selalu memberikan doa dan semangat juang untuk belajar dan
meraih cita-cita.
6. Teman-teman angkatan 2012 PSD III Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro terutama kelas kerjasama PT. PLN (Persero) yang
senantiasa menjaga kekompakan dan berbagi semangat selama proses
pengerjaan Tugas Akhir ini.
7. Febriawan Ramadhan, Dedy Kurstiadi, Yokanan Tri kurniawan P, Riansyah
Kurnia Wibowo dan teman-teman sekontrakan yang telah memberi semangat
dan berbagai ide selama pengerjaan Tugas Akhir ini.
8. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan Tugas Akhir ini yang
tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan Tugas
Akhir ini, sehingga kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan. Akhirnya
penulis hanya berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat.
Semarang,

Juni 2015

Penulis

ABSTRAK
Gangguan yang terjadi di jaringan 20 kV ada yang bersifat temporer (bersifat
gangguan sementara) ada juga yang permanen (bersifat permanen yang perbaikannya
butuh waktu yang lama). Bahkan gangguan yang awalnya hanya bersifat temporer
dapat berubah menjadi gangguan permanen, karena sistem proteksi yang terpasang
tidak bekerja secara optimal. Seperti yang terjadi pada penyulang Palur 9 pada triwulan
pertama tahun 2015 telah terjadi trip pada PMT sebanyak 3 kali di section kedua.
Padahal beban besar dari penyulang Palur 9 terletak pada section 1. Peralatan proteksi
yang ada di penyulang Palur 9 kurang maksimal dalam menangani gangguan yang
terjadi pada triwulan pertama tahun 2015 ini. Dari evaluasi ini recloser pada penyulang
Palur 9 diharapkan bisa melindungi beban section pertama penyulang Palur 9.
Recloser adalah pemutus balik otomatis secara fisik mempunyai kemampuan
sebagai pemutus beban yang dapat bekerja secara otomatis, untuk mengamankan
sistem dari arus lebih yang diakibatkan adanya gangguan hubung singkat dan
sebagai pelengkap untuk pengaman terhadap gangguan temporer atau permanen dan
membatasi luas daerah yang padam akibat gangguan. Pada recloser terdapat relai
sebagai pengaman gangguan antar fasa (over current relay) dan pengaman gangguan
satu fasa ke tanah (ground fault relay) yang sangat peka terhadap perubahan rangkaian
yang dapat mempengaruhi bekerjanya alat lain. Recloser diharapkan dapat bekerja
optimal dengan penempatan pada jaringan dan nilai setting kerjanya tepat. Koordinasi
waktu kerja antar peralatan proteksi juga diperlukan agar gangguan yang terjadi tidak
meluas sampai bagian yang tidak terganggu.
Kata kunci: sistem proteksi, koordinasi proteksi, PMT, recloser

vi

ABSTRACT
Disorders that occur in 20 kV network many are temporary (temporary
disturbance in nature) and permanent (the permanent fix takes a long time). Even
disorders that initially only temporary can be turned into a permanent disorder
because the protection system installed is not working optimally. As was the case at
Palur penyulang 9 in the first quarter of the year 2015 had occurred at the PMT trip
as much as three times in the second section. Whereas the burden of penyulang is
located at Palur 9 section 1. Existing protection equipment at Palur penyulang 9
insufficient in dealing with disorders that occur in the first quarter of the year 2015.
This evaluation of the recloser at Palur penyulang 9 is expected to be the first section
penyulang protecting Palur 9.
Automatic Recloser turning breaker is physically have the ability as the load
breaker can work automatically to secure the system from the current more due to the
presence of a short circuit interruption and as a complement to safeguards against
temporary or permanent disruptions and limit the area that outages due to interference.
Recloser relay there on safety as interference between the phases (over current relay)
and one phase of the disorder to the safety ground (ground fault relay) that is very
sensitive to changes in a series of works which may affect other tools. Recloser has
expected to work optimally with placement on a network and setting it works just right.
Coordination between working time protection equipment was also needed to the
disorder that occurred did not extend to the part that is not disturbed.

vii

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................................. iv
ABSTRAK ................................................................................................................... vi
DAFTAR ISI .............................................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. xii
DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xiv
DAFTAR ISTILAH .................................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................. xvi
BAB I ............................................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ............................................................................................. 3
1.3 Batasan Masalah .................................................................................................. 3
1.4 KeaslianTugasAkhir ............................................................................................ 4
1.5 Manfaat Tugas Akhir .......................................................................................... 4
1.6 Tujuan Tugas Akhir ............................................................................................ 5
BAB II ........................................................................................................................... 6

viii

2.1 Sistem Proteksi .................................................................................................... 6


2.1.1

Pengertian Proteksi ................................................................................. 6

2.1.2 Syarat Sistem Proteksi .................................................................................. 7


2.1.2

Tujuan Peralatan Proteksi ....................................................................... 9

2.2 Peralatan Proteksi Penyulang 20 KV .................................................................. 9


2.2.1

Current Transformer ............................................................................. 10

2.2.2 Potensial Transformer................................................................................. 11


2.2.3 Pemutus Tenaga (PMT) .............................................................................. 13
2.2.4 Over Current Relay (OCR) ......................................................................... 13
2.2.5 Ground Fault Relay (GFR) ......................................................................... 18
2.2.6 Recloser ...................................................................................................... 20
2.3 Analisa Perhitungan Gangguan Hubung Singkat .............................................. 25
2.3.1 Gangguan 3 fasa ......................................................................................... 25
2.3.2 Gangguan 2 Fasa......................................................................................... 28
2.3.3

Gangguan 1 Fasa Ketanah .................................................................... 30

2.4 Impedansi Ekivalen Jaringan ............................................................................ 33


2.4.1

Impedansi Sumber ................................................................................ 33

2.4.2

Impedansi Trafo .................................................................................... 34

ix

2.4.3

Impedansi Penyulang ............................................................................ 35

2.4.4

Impedansi Ekivalen ............................................................................... 36

2.5 Kesepakatan Nilai Setting OCR Penyulang 20 kV ........................................... 37


2.6 Koordinasi Proteksi PMT Outgoing-Recloser .................................................. 39
BAB III ....................................................................................................................... 41
3.1 Langkah Pengamatan ........................................................................................ 41
3.1.1

Tahap Persiapan .................................................................................... 41

3.1.2

Pengumpulan Data ................................................................................ 41

3.1.3

Pengolahan Data ................................................................................... 47

3.1.4

Penulisan Laporan ................................................................................. 47

3.2 Perhitungan Nilai Setting .................................................................................. 47


3.4 Evaluasi Koordinasi PMT PLR 9 dan Recloser 19-81 ...................................... 49
3.5 Pengujian Perhitungan Nilai Setting dengan Microsoft Excel .......................... 49
BAB IV ....................................................................................................................... 51
4.1

Evaluasi Koordinasi Proteksi feeder Palur 9 ................................................ 51

4.2

Perhitungan Impedansi Transformator ......................................................... 51

4.2.1

Reaktansi urutan positif (X1) ................................................................ 51

4.2.2

Reaktansi urutan Nol (XT0) ................................................................... 52

4.3

Perhitungan Impedansi Sumber.................................................................... 53

4.4

Perhitungan Impedansi Distribusi ................................................................ 54

4.5

Perhitungan Impedansi Ekivalen .................................................................. 56

4.5.1

Perhitungan Impedansi Ekuivalen Positif dan Negatif ......................... 56

4.5.2

Perhitungan Impedansi Equivalen Nol ................................................. 57

4.6

Perhitungan Arus Hubung Singkat ............................................................... 58

4.6

Analisa Gangguan yang Terjadi Pada Feeder PLR 09 ................................ 60

4.7 Hasil Evaluasi Koordinasi PMT PLR 9 dan Recloser PLR 19-81 .................... 73
BAB V ........................................................................................................................ 79
5.1

KESIMPULAN ............................................................................................ 79

5.2

SARAN ........................................................................................................ 81

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 82

xi

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peralatan Proteksi Penyulang 20 kV pada Gardu Induk ......................... 10
Gambar 2.2 Knee Point Trafo Arus ............................................................................ 11
Gambar 2.3 PT dan Rangkaian Ekivalen PT .............................................................. 12
Gambar 2.4 PMT 20 kV .............................................................................................. 13
Gambar 2.5 Pengaman Arus Lebih Dengan 3 Fasa OCR ........................................... 14
Gambar 2.6 Karakteristik Waktu Kerja Seketika........................................................ 15
Gambar 2.7 Karakteristik Waktu Kerja dengan Tunda tertentu ................................. 16
Gambar 2.8 Karakteristik Waktu Kerja Inverse.......................................................... 17
Gambar 2.9 Karakteristik Relai Arus Lebih Inverse Kombinasi dengan Momen ...... 18
Gambar 2.11 Wiring Koordinasi antara PMT dengan OCR GFR .............................. 21
Gambar 2.12 Alur Kerja Recloser Saat Terjadi Gangguan ......................................... 23
Gambar 2.13 Vektor Tegangan ................................................................................... 26
Gambar 2.14 Gambar Beban untuk Rangkaian 3 Fasa ............................................... 26
Gambar 2.15 Pembebanan Tiga Fasa .......................................................................... 27
Gambar 2.16 Arah Arus Masing-masing Fasa ............................................................ 27
Gambar 2.17 Pembebanan 2 fasa pada rangkaian 3 fasa ............................................ 28
Gambar 2.18 Vektor Arus Urutan Positif dan Negatif................................................ 29
Gambar 2.19 Flux Yang Timbul Dari Fasa A ............................................................. 31
Gambar 2.20 Vektor Arus Urutan Positif, Negatif Dan Nol ....................................... 32
Gambar 2.21 Wilayah Kerja PMT Outgoing .............................................................. 38

xii

Gambar 3.1 single line diagram PLR 9 ....................................................................... 43


Gambar 3.2 Pengukuran Beban Per-Section ............................................................... 44
Gambar 3.3 Spesifikasi Transformator III G.I Palur .................................................. 45
Gambar 3.4 Setting Over Curent Relay PMT outgoing Palur 9 tahun 2014.............. 46
Gambar 3.5 Setiing recloser exisiting PLR 19-81 ...................................................... 47
Gambar 4.1 Kurva OCR yang bekerja saat terjadi gangguan di T2-12/8C ................ 61
Gambar 4.2 Kurva GFR yang bekerja saat terjadi gangguan di T8-5/24 ................... 62
Gambar 4.3 Kurva OCR yang bekerja saat terjadi gangguan di T2-12/8C ................ 64

xiii

DAFTAR TABEL
Tabel 2.2 Kesepakatan Proteksi 2012 ......................................................................... 38
Tabel 3.1 Beban Per-Section Feeder Palur 9 .............................................................. 44
Tabel 3.2 History Gangguan di feeder Palur 9............................................................ 45
Tabel 4.1 Tahanan dan Reaktansi Penghantar AAAC tegangan 20 KV ..................... 54
Tabel 4.2. Arus hubung singkat yang terjadi pada feeder PLR 01 ............................. 59
Tabel 4.3 Data History Gangguan dan Letak Gangguan ............................................ 60
Tabel 4.4 Nilai setting PMT Palur 9 dan Recloser PLR 19-81 ................................... 73
Tabel 4.5 Nilai setting recloser di T2-12/27 ............................................................... 78
Tabel 4.6 Perbandingan kerugian KWh akibat gangguan........................................... 78

xiv

DAFTAR ISTILAH
OCR

: Over Current Relay

GFR

: Ground Fault Relay

PMT

: Pemutus Tenaga

PLR 9

: Palur 9

PLR 19-81

: Palur 19-81

KV

: Kilo Volt

GIS

: Gas Insulated Substation

CT

: Current Transformer

PT

: Potential Transformer

Ip

: Arus Pick Up

Id

: Arus Drop Off

SI

: Standart Inverse

DC

: Direct Current

TD

: Time Delay

HS1

: High Set 1

HS2

: High Set 2

HIS 150 kV

: Arus Hubung Singkat 150 kV

MVA

: Mega Volt Ampere

Tms

: Time Multiple Setting

Iset

: I setting

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Trafo GI Palur ............................................................................... 1


Lampiran 2 Setting Relai Proteksi 2014 ...................................................................... 2
Lampiran 3 Daftar Beban Persection ........................................................................... 3
Lampiran 4 Single Line Diagram Trafo Distribusi Penyulang PLR09 ........................ 4
Lampiran 5 Data Asset Jaringan TM ........................................................................... 5
Lampiran 6 Formulir Gangguan Tegangan Menengah ................................................ 6

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


PT. PLN (Persero) sebagai Perusahaan BUMN yang bertugas untuk memenuhi
kebutuhan listrik, dituntut untuk menyediakan energi listrik yang cukup, baik secara
kuantitas maupun kualitas. Tuntutan tersebut semakin nyata dengan diberlakukannya
UU No. 30 Tahun 2009 yang memungkinkan penyediaan energi listrik untuk
kepentingan umum diberlakukan oleh BUMD, Pihak Swasta atau badan usaha lain
diluar PT PLN (Persero). PT PLN (Persero) harus mampu menjawab tantangan ini
dengan peningkatan pelayanan dan penyediaan energi listrik yang andal, aman dan
efisien. Listrik yang disalurkan ke pelanggan harus secara kontinyu, aman digunakan,
dan efisien dalam biaya pengoperasianya.
Sistem distribusi merupakan bagian dari sistem ketenaga listrikan yang paling
dekat dengan beban/pelanggan, yang menyalurkan tenaga listrik melalui dengan
mempergunakan tegangan 20 KV pada Jaringan Tegangan Menengah (JTM) serta
tegangan 220 / 380 V pada jaringan Tegangan Rendah (JTR). Sebagian besar jaringan
distribusi 20 KV di Indonesia mempergunakan saluran Udara Tegangan Menengah
(SUTM) yang melintasi udara terbuka, sehingga tidak menutup kemungkinan
terjadinya gangguan seperti gangguan karena petir atau gangguan yang diakibatkan
pepohonan dan binatang. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya hubung singkat antar

fasa (3 fasaatau 2 fasa) atau antara 1 fasa ketanah, yang dapat bersifat temporer maupun
permanen.
Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan pemasangan peralatan proteksi
yang berupa relai arus lebih (OCR) yang mengamankan gangguan 2 fasa maupun 3
fasa serta relai gangguan tanah(GFR) untuk mengamankan gangguan fasa - tanah. Pada
sistem distribusi, kedua relai tersebut terpasang pada Gardu Induk serta gardu hubung
jaringan distribusi. Pada gardu hubung jaringan distribusi, relai-relai tersebut berada
dalam peralatan recloser. Peralatan proteksi tersebut akan mengamankan sistem dari
gangguan listrik dengan cara memisahkan bagian sistem yang mengalami gangguan,
sehingga daerah yang padam karena gangguan dapat dipersempit.
Agar diperoleh kinerja recloser yang maksimal maka relai OCR dan GFR pada
recloser perlu dikoordinasikan dengan relai OCR GFR pada sisi outgoing di Gardu
Induk. Untuk mencoba hasil perhitungan koordinasi relai OCR GFR pada PMT
outgoing dengan recloser maka dapat disimulasikan terlebih dahulu dalam software
Microsoft Excell agar didapat nilai setting yang tepat sebelum diaplikasikan pada
peralatan yang berada di jaringan. Berdasarkan permasalah tersebut dibuatlah suatu
Tugas Akhir dengan judul : KOORDINASI PMT PLR 9 DAN RECLOSER PLR
19-81 PADA SISTEM PROTEKSI JARINGAN TEGANGAN MENENGAH 20
KV DI WILAYAH KERJA PT. PLN (PERSERO) RAYON PALUR.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan yang terjadi
adalah :
1. Bagaimana koordinasi PMT outgoing dengan recloser dalam menselektivitas arus
gangguan, dimana sumber arus gangguan berada di hilir recloser PLR 19-81.
2. Bagaimana melakukan perhitungan dan analisa nilai setting OCR GFR PMT
outgoing dan setting OCR GFR recloser .
3. Perbandingan antara koordinasi PMT outgoing dengan recloser sebelum setting
dan setelah setting baru.
4. Mensimulasikan setting baru dengan software Microsoft Excell untuk mengetaui
selektivitas kerja dengan setting baru.
1.3 Batasan Masalah
Penulisan Tugas Akhir ini akan dibatasi pada masalah-masalah sebagai berikut :
1. Pembahasan hanya

pada koordinasi antara PMT outgoing PLR 19 dengan

recloser PLR 19-81.


2. Perhitungan arus gangguan hubung singkat yang dicari perhitungan arus hubung
singkat satu fasa, dua fasa, dan tiga fasa.
3. Hanya melakukan perhitungan nilai setting yang baru, tidak membahas teknis
untuk melakukan uji dan setting relay pada PMT outgoing.

4. Tidak membahas secara detail mengenai trafo tenaga pada GI dan recloser pada
penyulang karena penulis hanya mengambil data-data dari peralatan tersebut
untuk dilakukan perhitungan nilai setting OCR pada PMT outgoing.
5. Software Microsoft Excell hanya untuk mensimulasikan koordinasi perlatan
proteksi antara PMT Outgoing dan recloser.
1.4 KeaslianTugasAkhir
Evaluasi perhitungan Nilai Setting Koordinasi OCR dan GFR pada sisi Outgoing
dan Recloser memang sudah dilakukan oleh karyawan PT PLN (Persero), namun dalam
tugas akhir ini dilakukan evaluasi perhitungan yang baru, dengan tujuan agar setting
OCR GFR pada PMT dan recloser dapat diketahui adanya kurang tepatnya nilai setting
akibat perubahan jaringan.
1.5 Manfaat Tugas Akhir
Manfaat penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :
1.

Manfaat bagi PT PLN (Persero) evaluasi perhitungan dapat digunakan sebagai


bahan pertimbangan untuk setting pada PMT dan recloser.

2.

Mengetahui kekurangan dari sistem proteksi pada penyulang Palur 9 selama


ini.

3.

Manfaat bagi Program Studi Diploma III Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro, tugas akhir ini dapat digunakan sebagai wawasan
tambahan untuk materi koordinasi proteksi OCR GFR yang diterapkan oleh
PT PLN (Persero).

4.

Manfaat bagi Mahasiswa, sebagai referensi tambahan untuk mempelajari


matakuliah sistem proteksi.

1.6 Tujuan Tugas Akhir


Adapun tujuan dalam penyusunan tugas akhir ini, antara lain :
1.Untuk menganalisa koordinasi proteksi PMT dengan recloser yang bekerja pada
sistem distribusi 20 Kv.
2.Untuk perhitungan nilai setting relay OCR GFR dalam upaya peningkatan
keandalan koordinasi sistem proteksi.
3.Untuk analisa system proteksi yang bekerja di penyulang 20 kv saat ini.
4.Memberi bahan pertimbangan bagi PT. PLN (persero) Area Surakarta dari hasil
evaluasi koordinasi yang dilakukan oleh penulis.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Proteksi


2.1.1 Pengertian Proteksi
Proteksi distribusi merupakan perlindungan yang terpasang di sistem distribusi
tenaga listrik, bertujuan untuk mencegah atau membatasi kerusakan pada jaringan
dan peralatannya serta untuk keselamatan umum. (Sarimun N, 2012 : 26)
Sistem proteksi adalah susunan perangkat proteksi secara lengkap yang terdiri
dari perangkat utama dan perangkat-perangkat lain yang dibutuhkan untuk
melakukan fungsi tertentu berdasarkan prinsip-prinsip proteksi. (Pandjaitan,
Bonar, 2013: hal 4)
Sistem proteksi bekerja untuk mengamankan gangguan atau menghilangkan
kondisi tidak normal pada sistem tenaga listrik. Proteksi tersebut bekerja saat
terjadinya gangguan dalam kawasan yang harus dilindunginya. (lEC 15-05-025
dalam Utami, 2014 : 12)
Sistem proteksi sangat penting peranannya dalam upaya untuk meningkatkan
pelayanan listrik ke konsumen. Dengan sistem proteksi yang baik, maka kualitas
pelayanan listrik kepada pelanggan juga lebih baik. Sistem distribusi tenaga listrik
memiliki keamanan dalam mengatasi gangguan, sehingga saat terjadi gangguan
tidak membahayakan lingkungan di sekitar jaringan tersebut. Selain itu juga

kontinuitas pelayanan energi listrik terus terjaga di wilayah yang jauh dari
gangguan tersebut.
2.1.2 Syarat Sistem Proteksi
Sistem proteksi harus memiliki syarat dalam menjalankan fungsinya sebagai
pengaman peralatan distribusi tenaga listrik. Syarat tersebut harus dipenuhi oleh
setiap peralatan proteksi, sehingga sistem proteksi akan berjalan baik sesuai
dengan fungsinya. Beberapa persyaratan sistem proteksi yang harus dipenuhi
adalah sebagai berikut :
Setiap peralatan proteksi tentunya memiliki persyaratan yang harus dipenuhi
agar dapat mengamankan peralatan yang dilindunginya. Adapun persyaratannya
adalah sebagai berikut :
a. Kepekaan (Sensitivity).
b. Keandalan (Reability).
c. Selektifitas (Selectivity).
d. Kecepatan (Speed). (Affandi dalam Aziz, 2014: 9)
Berikut ini adalah penjelasan dari beberapa persyaratan sistem proteksi diatas :
a. Kepekaan (Sensitivity)
Prinsipnya peralatan proteksi harus dapat mendeteksi gangguan dengan
rangsangan minimum dari sumber gangguan. Misalnya adalah gangguan
hubung singkat fasa dengan tanah, dimana kawat penghantar putus dan

mengenai pohon atau rumah. Pohon dan rumah memiliki tahanan yang cukup
besar, sehingga arus gangguan satu fasa-tanah yang dirasakan oleh relay kecil.
b. Keandalan (Reability)
Sistem proteksi harus dapat diandalkan selama mungkin, sehingga ketika
terjadi gangguan atau kondisi yang tidak normal maka sistem proteksi tersebut
dapat bekerja sewaktu-waktu untuk melindungi peralatan distribusi. Keandalan
sistem proteksi dari awal setting harus terjaga untuk jangka waktu selama
mungkin.
c. Selektifitas (Selectivity)
Peralatan proteksi harus selektif bekerja pada sistem yang terkena gangguan,
sehingga sistem yang tidak terkena gangguan tidak terpengaruhi oleh sistem
proteksi tersebut. Selain itu proteksi juga dapat membedakan apakah gangguan
terdapat di daerah pengaman utama atau pengaman cadangan, dan proteksi
harus bekerja secara instant atau dengan delay waktu.
d. Kecepatan (Speed)
Untuk memeperkecil/meminimalisir kerugian akibat gangguan, maka
bagian yang terganggu harus dipisahkan secepat mungkin, sehingga peralatan
proteksi juga harus bekerja secara cepat untuk membebaskan bagian yang
terganggu. Keterlambatan kerja peralatan proteksi dapat mengganggu sistem
atau merusak peralatan secara thermal stress.

2.1.2 Tujuan Peralatan Proteksi


Peralatan proteksi dipasang untuk menjalankan fungsi dan tujuan untuk
keamanan pelayanan distribusi tenaga listrik kepada pelanggan. Ada beberapa
penjelasan mengenai tujuan dari pemasangan peralatan proteksi distribusi, yaitu :
a. Untuk meminimalisir kerusakan peralatan akibat adanya gangguan, terutama
peralatan yang penting dalam penyaluran tenaga listrik. Hal itu disebabkan
peralatan seperti trafo, dan PMT sangat vital dalam distribusi tenaga listrik,
sehingga proteksi peralatan tersebut juga saling berkoordinasi.
b. Untuk meminimalisir daerah gangguan padam, sehingga peralatan lain yang
jauh dari daerah gangguan dibebaskan dari gangguan tersebut.
c. Untuk memberikan pelayanan listrik yang handal, aman, dan memiliki mutu
yang baik kepada konsumen.
d. Untuk memberikan keamanan bagi manusia, makhluk hidup, atau benda lain
yang berada di sekitar peralatan listrik.
2.2 Peralatan Proteksi Penyulang 20 KV
Sistem proteksi penyulang 20 KV merupakan kumpulan dari peralatan-peralatan
proteksi jaringan distribusi yang bekerja dalam satu kesatuan utuh yang untuk
melindungi peralatan penyulang 20 KV. Peralatan proteksi penyulang 20 KV yang
terletak di Gardu Induk antara lain adalah CT (Current Transformer), PT (Potensial
Transformer), PMT (Pemutus Tenaga), Catu Daya, dan Pengawatan.

10

Gambar 2.1 Peralatan Proteksi Penyulang 20 kV pada Gardu Induk


(Sumber : Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 :1)

Semua peralatan proteksi harus memiliki unjuk kerja yang bagus, baik secara
individu maupun koordinasi antar peralatan tersebut. Tidak hanya relay nya saja, tetapi
semua peralatan yang mendukung sistem proteksi berjalan dengan baik.
2.2.1 Current Transformer
Trafo arus yaitu peralatan yang digunakan untuk melakukan pengukuran
besaran arus pada instalasi tenaga listrik di sisi primer (TET, TT, dan TM) yang
berskala besar dengan melakukan transformasi dari besaran arus yang besar
menjadi besaran arus yang kecil secara akurat dan teliti untuk keperluan
pengukuran dan proteksi. (Oktavia, 2013 : 78)
Trafo arus berfungsi untuk menurunkan arus besar/tinggi pada tegangan
tinggi/menengah menjadi arus kecil pada tegangan rendah yang biasanya disebut
arus sekunder. Arus dari tegangan menengah diturunkan untuk masukkan

11

peralatan proteksi dan meter, karena peralatan proteksi dan meter tidak dapat
mendeteksi arus yang besar. Selain itu CT juga berfungsi sebagai isolasi atau
pemisah peralatan HV (High Voltage) dan perealatan LV (Low Voltage).

Gambar 2.2 Knee Point Trafo Arus


(Sumber : Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 2)
2.2.2 Potensial Transformer
PT

(Potensial

Transformer)

adalah

tarfo

yang

digunakan

untuk

mentrasformasikan tegangan menengah ke tegangan rendah, dimana tegangan sisi


sekundernya tersebut sebagai input peralatan proteksi dan pengukuran. Berbeda
dengan trafo tenaga, PT dibutuhkan tingkat ketelitian dan tegangan yang sesuai
dengan peralatan di sisi sekundernya, sedangkan trafo tenaga dibutuhkan tegangan
dan kemampuan daya trafo tersebut. Tegangan sekunder dari PT dugunakan
sebagai pengukuran di kWh meter kubikel, dan sistem proteksi untuk relai UFR
(Under Frekwensi Relay).
Adapun perbedaan kerja dari transformator potensial dan transformator arus
adalah :

12

Pada transformator potensial, arus primer sangat tergantung beban


sekunder, sedangkan pada transformator arus, arus primer tidak tergantung
kondisi rangkaian sekunder

Pada transformator potensial, tegangan jaringan dipengaruhi terminalterminalnya sedangkan transformator arus dihubung seri dengan satu
jaringan dan tegangan kecil berada pada terminal-terminalnya. Namun
transformator arus mengalirkan semua arus jaringan.

Pada kondisi kerja normal tegangan jaringan hampir konstan dan karena itu
kerapatan fluks serta arus penguat dari transformator potensial hanya
berubah di atas batas larangan sedangkan arus primer dan arus penguatan
dari transformator arus berubah di atas batas kerja normal.

Gambar 2.3 PT dan Rangkaian Ekivalen PT


Sumber (website http://id.scribd.com/doc/146974094/Load-BreakSwitch: 24/06/2014; 06:28)

13

2.2.3 Pemutus Tenaga (PMT)


Pemutus Tenaga (PMT) merupakan peralatan saklar / switching mekanis, yang
mampu menutup, mengalirkan dan memutus arus beban dalam kondisi normal
serta mampu menutup, mengalirkan (dalam periode waktu tertentu) dan memutus
arus beban dalam spesifik kondisi abnormal / gangguan seperti kondisi short
circuit / hubung singkat. Fungsi utamanya adalah sebagai alat pembuka atau
penutup suatu rangkaian listrik dalam kondisi berbeban, serta mampu membuka
atau menutup saat terjadi arus gangguan ( hubung singkat ) pada jaringan atau
peralatann lain.

Gambar 2.4 PMT 20 kV


( Sumber : GI 150 kV Weleri)
2.2.4 Over Current Relay (OCR)
Relay arus lebih atau OCR adalah relay pengaman yang bekerja berdasarkan
kenaikan arus diatas batas setting relay tersebut. Kenaikan arus dapat disebabkan
oleh gangguan hubung singkat antar fasa , hubung singkat fasa-tanah, dan beban
lebih. OCR yang dipasang di recloser digunakan sebagai pengaman utama untuk

14

jaringan SUTM/SKTM 20 kV dan OCR pada PMT digunakan sebagai pengaman


cadangannya.

Gambar 2.5 Pengaman Arus Lebih Dengan 3 Fasa OCR


Sumber(websitehttp://anggerrose.wordpress.com/2012/05/08/relaiarus-lebih, 20/06/2014; 21:33)

Prinsip kerja arus lebih mendeteksi arus yang melalui SUTM/SKTM dimana
sebelum masuk ke relai arus tersebut ditransformasikan terlebih dahulu oleh trafo
arus. Isekunder dari trafo arus yang masuk ke relai, pada saat terjadi gangguan Iprimer
pada tafo arus besar, begitu pula dengan Isekunder trafo yang menyebabkan arus
melewati batas setting relai arus lebih, sehingga relai akan mengirimkan indikasi
trip pada tripping coil relai untuk bekerja membuka peralatan seperti recloser atau
PMT.

Arus yang bekerja pada relai terbagi menjadi dua, yaitu :

15

1. Arus pick-up (Ip) adalah nilai arus minimum yang dapat menyebabkan rele
bekerja dan menutup kontaknya. Arus ini biasa disebut sebagai arus kerja.
2. Arus drop-off (Id) adalah nilai arus maksimum yang menyebabkan rele berhenti
bekerja sehingga kontaknya membuka kembali. Arus ini biasa disebut sebagai
arus kembali. (Firdaus dalam Utami, 2014 : 25)
Karakterisitik kerja relai arus lebih dibagi menjadi empat, yaitu :
a. Karakteristik relai arus lebih seketika / instantaneous
Jangka waktu relai mulai pick up, sampai selesainya kerja relai sangat pendek
( 40 s/d 80 mili detik ) karakterisitik relai ini bekerja pada arus gangguan yang
terjadi didekat gardu induk yang merupakan arus gangguan maksimum.
t

SET

I SET Moment

Gambar 2.6 Karakteristik Waktu Kerja Seketika


(Sumber : Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 14)

b. Relai arus lebih tunda waktu tertentu ( definite time OCR )

16

Jika jangka waktu relai mulai pick up sampai selesai, diperpanjang dengan
nilai waktu tertentu dan tidak tergantung dari besarnya arus yang
menggerakannya.

Tset

t SET

Iset
Gambar 2.7 Karakteristik Waktu Kerja dengan Tunda tertentu
I SET
(Sumber : Pusat
Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 14) I
c. Relai arus lebih waktu berbanding terbalik ( inverse time OCR )
Jangka waktu relai mulai pick up sampai selesai kerja relai , diperpanjang
dengan waktu yang berbanding terbalik dengan besarnya arus yang

17

menggerakannya ( arus gangguan ).


Relai arus lebih inverse dapat dibagi menjadi :
normal / standart inverse
very inverse
extremely inverse
long time inverse

Gambar 2.8 Karakteristik Waktu Kerja Inverse


(Sumber : IEC 60255 dalam Utami, 2014 : 29)

d. Relai arus lebih waktu tertentu maupun relai arus lebih inverse biasanya

18

dikombinasi dengan moment / instantaneous


Bila arus yang menggerakan relai lebih besar dari arus setting tunda waktu
dan lebih kecil dari setting arus seketika maka relai akan bekerja dengan
tunda waktu.
Bila arus lebih besar dari setting seketika maka relai akan bekerja tanpa
tunda waktu. Relai tunda waktu biasanya digunakan untuk koordinasi
dengan pengaman lain untuk mendapatkan selektivitas.

t
tSEtT

tSEtT Momen
tTT
t

ISEtT

I SET Momen
TT
t
Gambar 2.9 Karakteristik Relai Arus Lebih
Inverse Kombinasi dengan Momen
(Sumber : Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 16)
2.2.5 Ground Fault Relay (GFR)
Cara koordinasi relai arus lebih gangguan tanah, pada prinsipnya sama dengan
cara koordinasi OCR, tetapi perlu dipahami proses mendeteksi arus gangguan
tanah, dapat dijelaskan sebagai berikut:

19

1.

Arus gangguan tanah selalu masuk ke relai gangguan tanah (GFR), baik
yang diperoleh dari resultante ketiga arus fasa maupun dari current
transformer (CT) netral.

2.

Besarnya nilai arus gangguan tanah tergantung pada tahanan pentanahan


netral.

3.

Bila tahanan pentanahan mempunyai nilai yang besar kurva arus pada
karakteristik inverse akan landai dan tidak memberikan waktu yang lebih
cepat. Bila terdapat hal seperti ini setelan relai dipilih karakteristik invers
yang sesuai dengan kurva arus.

4. Dengan pentanahan langsung, kurva arus gangguan menjadi curam, setelan


relai dengan mempergunakan karakteristik inverse, dapat menekan
komulasi waktu dan relai gangguan fasa dapat mengamankan untuk
gangguan tanah.

20

Gambar 2.10 Pengaman Arus Lebih GFR


Sumber(websitehttp://anggerrose.wordpress.com/2012/05/08/relaiarus-lebih, 20/06/2014; 21:33)

2.2.6 Recloser
Recloser artinya membuka kembali,di pergunakan untuk mengamankan
peralatan listrik/jaringan tegangan menengah bila terjadi gangguan hubung singkat
temporer atau permanen. Gangguan temporer yang menyebabkan recloser bekerja
seperti
1.

Terhubungnya antar konduktor karena tarikan kurang kencang dan tertiup


angin.

2.

Karena tersambar petir.

3.

Tersentuh cabang pepohonan.

4.

Binatang yang melinasi konduktor yang menyebabkan hubung singkat


(burung, tikus dll). (Sarimun, 2012:206)

21

Pengaman jenis ini dapat disetting cepat untuk gangguan yang temporer dan
lambat untuk gangguan yang permanen, dengan kata lain disetting delay atau
instan. Setelan lambat perlu dikoordinasikan dengan pengaman lain seperti OCR,
GFR pada outgoing. Dimisalkan jaringan udara tersentuh pohon yang sesaat
karena tertiup angin dan pohon tersebut hanya beberapa detik menyentuh pohon
maka settingan delay yang bekerja dan recloser buka/tutup sesuai settingan dan
lamnaya waktu untuk delay. Recloser juga bisa menjadi instan ketika arus
gangguan hubung singkatnya melebihi arus settingan instan pada recloser.
Settingan ini sesuai keinginan petugas yang mensetting recloser tersebut tentunya
ada juga faktor yang mempengaruhi besarnya settingan tersebut.

Gambar 2.11 Wiring Koordinasi antara PMT dengan OCR GFR


Sumber http://izaal.wordpress.com/2014/07/19/recloser-penutup-balik-79/
24/06/2014; 08:47

22

2.2.6.1 Cara Kerja Recloser


Prinsip kerja dari recloser saat terjadi gangguan adalah sebagai berikut:
1.

Kondisi normal Switch S menutup. Bila terjadi gangguan fasa tanah maka
rele akan bekerja dan memberikan perintah trip ke PMT. Pada saat itu
juga recloser mulai bekerja (saat mendapat tegangan positip dari rele),
elemen yang start adalah elemen dead time (DT) dan block time (BT).

2.

Setelah beberapa waktu (sesuai setting) elemen DT menutup kontaknya


dan memberi perintah PMT untuk masuk (reclose), bersamaan itu juga
mengenergise elemen BT.

3.

Elemen BT ini segera membuka rangkaian closing coil PMT sehingga


PMT tidak akan bisa reclose lagi.

4.

Setelah waktu elemen BT terlampaui sesuai settingnya maka elemen BT


akan reset kembali. Selanjutnya recloser siap kembali untuk melakukan
reclose PMT bila terjadi gangguan baru. Secara umum setelan DT adalah
1 detik dan BT adalah 40 detik.

23

Gambar 2.12 Alur Kerja Recloser Saat Terjadi Gangguan


Sumber http://izaal.wordpress.com/2014/07/19/recloser-penutup-balik-79/
24/06/2014; 08:47

Keterangan :

Dead Time (Waktu Interval Recloser)


Ukuran setting secara waktu dari PMT trip sampai masuk kembali,

fungsinya untuk memadamkan busur api, gangguan arus dan


menghilangkan gangguan temporer.

24

Blocking/ Reclaim Time


Memblock dead time beberapa waktu setelah PMT masuk.

Memberikan kesempatan untuk memulihkan tenaga setelah melakukan


siklus reclosing.
2.2.6.2 Aplikasi Recloser
Pada suatu gangguan permanen, recloser berfungsi memisahkan daerah
atau jaringan yang terganggu sistemnya secara cepat sehingga dapat
memperkecil daerah yang terganggu pada gangguan sesaat, recloser akan
memisahkan daerah gangguan secara sesaat sampai gangguan tersebut akan
dianggap hilang, dengan demikian recloser akan masuk kembali sesuai
settingannya sehingga jaringan akan aktif kembali secara otomatis. Oleh karena
itu beberapa pengaplikasian dari recloser di antaranya adalah:
a.

Dipasang pada Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM), karena


SUTM sering mengalami gangguan hubung singkat fasa-fasa atau fasa ke
tanah yang bersifat temporer .

b.

Berfungsi menormalkan kembali SUTM atau memperkecil pemadaman


tetap oleh gangguan temporer .

c.

Sebagai pengaman seksi dalam SUTM sehingga dapat membatasi /


melokalisir daerah yang terganggu .

25

2.3 Analisa Perhitungan Gangguan Hubung Singkat


Untuk menentukan nilai setting pada OCR dibutuhkan analisa perhitungan arus
gangguan tiga fasa maupun dua fasa, berikut ini adalah analisa perhitungan arus
gangguan tiga fasa dan dua fasa.
2.3.1 Gangguan 3 fasa
Analisa arus gangguan tiga fasa dapat dihitung dengan prinsip hukum ohm,
dimana besar arus gangguan sebanding dengan tegangan dan berbanding terbalik
terhadap impedansi penyulang.
( = )(2.1)
Dalam sistem tiga fasa dikenal adanya impedansi urutan positif ( Z1), urutan
negatif (Z2 ) dan urutan nol ( Z0 ).
Dalam pembahasan gangguan 3 fasa, arus gangguannya dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
3 =

(2.2)

Dimana :
I 3 FASA = besar arus gangguan tiga fasa (dalam ampere).
Vp-n = besar tegangan tiap fasa terhadap netral sistem (dalam volt).
Z1

= Impedansi ekivalen urutan positif (dalam ohm).

(Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 :3)

26

Berikut ini merupakan penjelasan bagaimana rumus tersebut dapat terbentuk.


Besar tegangan sistem tiga fasa dalam keadaan seimbang adalah sama besar, hanya
sudut fasanya berbeda 120, seperti digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.13 Vektor Tegangan


(Sumber : Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 4)
Bila digabungkan oleh hubung ketiga fasa beban-beban tersebut, maka gambarnya
dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.14 Gambar Beban untuk Rangkaian 3 Fasa


(Sumber : Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 6)
Arus masing-masing fasa mengalir keluar, sama seperti arah tegangannya (tidak
melawan arah tegangan yang dibangkitkan) dan bertemu disatu titik untuk kembali ke

27

netral dengan nilai arus sebesar IA+IB+IC dalam vektor karena arus-arus tersebut
berbeda fasa 120.
Sehingga gambar pembebanannya seperti ini :

Gambar 2.15 Pembebanan Tiga Fasa


(Sumber : Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 7)
Dan gambarnya dapat dibuat sebagai berikut:

Gambar 2.16 Arah Arus Masing-masing Fasa


(Sumber : Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 8)
Gambar diatas sama dengan kejadian gangguan tiga fasa, dimana ketiga arus fasa
yang mengalir di masing-masing impedansi Z tidak ada yang melawan ggl EA, EB dan

28

EC yang dibangkitkan, sehingga diartikan pada arah positif. Demikian pula impedansi
yang menghambat arus itu diartikan impedansi positif. Dengan demikian dapat
dimengerti bahwa arus gangguan tiga fasa dihitung dengan rumus.
3 =

(2.3)

Arus gangguan 3 fasa besarnya tegangan fasa terhadap netral dibagi dengan Z1,
dimana Z1 adalah impedansi urutan positif dari seluruh rangkaian didalam sistem, baik
yang tersambung seri ataupun paralel yang disederhanakan menjadi satu nilai ekivalen
sebesar Z1.
2.3.2 Gangguan 2 Fasa
Gangguan dua fasa pada sistem tiga fasa, kasusnya dimana ujung dua fasa
dihubungkan dengan impedansi sebesar Z.

Gambar 2.17 Pembebanan 2 fasa pada rangkaian 3 fasa


(Sumber : Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 9)
Pada gambar dijelaskan bahwa arus yang mengalir pada rangkaian tertutup di fasa
A mengalir arus IA , di fasa B mengalir arus IB dimana IA =IB = I, dengan sumber
tegangan fasa A-B yang besarnya EAB = 3 * EA.

29

Perhatikan arus IA (yang mengalir di impedansi Z) keluar dari fasa A urutannya


sama dengan urutan ggl fasa A (positif) sehingga impedansi Z yang menghambat aliran
arus itu dapat disebut dengan impedansi urutan positif (Z1), sementara IB yang
mengalir kembali kesumber (lewat impedansi Z di fasa B) terlihat melawan urutan ggl
yang dibangkitkan difasa B (negatif), sehingga boleh kita katakan bahwa impedansi
yang menghambat aliran arus difasa B disebut dengan impedansi urutan negatif
(impedansi melawan urutan ggl yang dibangkitkan difasa B atau Z2). Pada saat fasa A
dan B terhubung akan terbentuk vektor antara arus urutan positif dan negatif di fasa A
0

dan fasa B, dimana urutan posistif di fasa A akan berbeda sudut 120 dengan urutan di
fasa B begitu juga untuk urutan negatifnya.

Gambar 2.18 Vektor Arus Urutan Positif dan Negatif


(Sumber : Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 10)
Hubungan impedansi Z1 dan Z2 didalam rangkaian diatas adalah terseri, sehingga
besarnya impedansi yang menghubungkan antara fasa A dan B adalah sebesar Z1 +
Z2. Sehingga arus yang mengalir antara fasa A dan B itu dihitung dengan rumus
sederhana satu fasa adalah sebagai berikut,

30

2 =

(2.4)

1+2

Jika impedansi Z1 adalah impedansi jaringan di fasa A dan Z2 di fasa B dan diujung
impedansi itu dihubungkan langsung, maka terbentuk suatu sistem tiga fasa yang
sedang mengalami gangguan hubung singkat dua fasa. Dengan uraian diatas, maka arus
gangguan dua fasa dapat dihitung dengan menggunakan rumus tersebut yaitu ;

...(2.5)
(Pusat Pendidikan dan Pelatihan, 2010 : 10)
Dimana impedansi Z1 dan Z2 adalah impedansi urutan positif dan impedansi urutan
negatif dari seluruh impedansi masing-masing urutan didalam sistem, baik yang
tersambung seri dan atau paralel yang disederhanakan menjadi impedansi ekivalen
urutan positif dan impedansi ekivalen urutan negatif.
2.3.3 Gangguan 1 Fasa Ketanah
Bila dalam sistem 3 fasa, salah satu fasanya (fasa A) dibebani oleh suatu
impedansi Z, sumber yang berperan dalam pembebanan ini adalah tegangan fasa (A)
yang dibebani tersebut.
Pertama kali arus yang mengalir akan melalui hambatan impedansi yang
urutannya sama dengan urutan tegangan fasa (A) yang dibebani tersebut, seperti yang

31

dijelaskan pada uraian mendapatkan perhitungan hubung singkat tiga fasa, impedansi
itu adalah impedansi urutan positif. (pusdiklat, 2010: hal 11)
Arus yang mengalir tersebut (urutan positif) didalam kumparan generator
membangkitkan flux yang mengalir di inti besi generator. Kemana berputarnya flux
tersebut, pada gambar 2.35:

S
W

Gambar 2.19 Flux Yang Timbul Dari Fasa A


Sumber (pusdiklat, 2010: hal 11)

Flux yang mengalir di inti fasa tegangan yang dibebani seperti disebutkan
diatas searah dengan urutan tegangan yang tentunya mendapat hambatan (reluktansi
inti besi, celah udara antara kutub dan stator dan berputar mengelilingi inti stator
kembali melalui fasa tang tidak dibebani (fasa B dan C). Sewaktu masuk ke fasa B dan
C, akan melawan Gaya Gerak Listrik (GGL) fasa tersebut.

32

Akibatnya di kumparan fasa B dan C tersebut akan terinduksi yang melawan


ggl yang dibangkitkan di fasa tersebut. Artinya pada kondisi ini terdapat arus yang
melawan tegangan yang dibangkitkan sehingga bisa dikatakan ada hambatan
impedansi dan biasa disebut dengan impedansi urutan negatif (berlawanan) yang
terhubung seri dengan impedansi urutan positif.
(pusdiklat: 2010, analisa sistem tenaga, hal 12)

Gambar 2.20 Vektor Arus Urutan Positif, Negatif Dan Nol


Sumber (pusdiklat, 2010: hal 12)
Fasa yang tidak dibebani ( B dan C ) tidak ada arus yang keluar karena tidak
dibebani. Oleh sebab itu ada arus lain yang mengkompensir arus urutan negatif itu di
fasa B dan C sehingga jumlahnya sama dengan nol. Akibatnya di fasa tersebut arus
yang mengalir melalui hambatan Impedansi lain yang biasa disebut dengan Impedansi
urutan nol, yang hubungannya seri.

33

Arus-arus ini pada fasa B dan fasa C akan membentuk vektor sama sisi, yang
saling menghilangkan, sehingga arus urutan positif, negatif dan Nol hanya mengalir
pada fasa A yaitu: I1 , I2 dan I0. (pusdiklat, 2010: hal 12)
Arus difasa yang dibebani (fasa A), semua arus itu searah, sehingga arus yang
mengalir pada impedansi adalah I = I1 + I2 + I0 Karena I =I0 = I1 = I2 , maka I = 3 x I0
dan masing-masing urutan itu dapat dihitung dengan dengan rumus :
0 = 1 = 2 =

1 +2 +0

Sedangkan I1FASA = I1 + I2 + I0 sehingga,

1 =

3.
1 +2 +0

........................................................................... (2.6)

(pusdiklat, 2010: hal 13)


2.4 Impedansi Ekivalen Jaringan
Untuk mengetahui impedansi total dari jaringan distribusi perlu menghitung
impedansi urutan positif, negatif, dan nol pada sumber, trafo, dan penyulang. Berikut
adalah penjelasan dari perhitungan impedansi ekivalen jaringan distribusi.
2.4.1 Impedansi Sumber
Sumber untuk jaringan 20 kv adalah gardu induk 150 kv, sehingga perlu dihitung
terlebih dahulu impedansi pada sisi 150 kv, sebelum dikonversikan menjadi 20 kv.
Untuk menghitung impedansi pada tegangan tinggi 150 kv, sebagai berikut :
=

(2.7)

34

Dimana :
XsTT

: Impedansi sumber tegangan tinggi (ohm)

kV

: Tegangan sisi primer trafo tenaga (kilo volt)

MVA

: Hubung singkat sisi tegangan tinggi (MVA)

(Sarimun, 2012 : 164)


Setelah didapatkan nilai impedansi sumber dari sisi tegangan tinggi 150 kV, maka
perlu dikonversikan impedansi sumber menjadi tegangan 20 kV dengan menggunakan
persamaan seperti ini :
12
1

22
2

.(2.8)

Dimana :
kV12

: Tegangan trafo tenaga sisi primer (kV)

kV22

: Tegangan trafo tenaga sisi sekunder (kV)

Z1

: Impedansi trafo tenaga sisi primer (ohm)

Z2

: Impedansi trafo tenaga sisi sekunder (ohm)

(Sarimun, 2012 : 166)


2.4.2 Impedansi Trafo
Nilai reaktansi trafo tenaga urutan positif sama dengan urutan negatif (XT1=XT2),
sedangkan nilai impedansi urutan nol trafo bergantung pada lilitan trafo tersebut. Nilai
impedansi trafo dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
2

( 100%) = ...(2.9)

35

1 = 1 (%) ( 100%)......(2.10)
Dimana :
XT (pada 100%) : Impedansi trafo ()
kV2

: Tegangan sekunder trafo (V)

MVA

: Daya trafo (VA)

XT1 (%)

: Impedansi pada nameplat trafo (%)

XT1

: Reaktansi urutan positif ()

(Sarimun, 2012 : 166)


2.4.3 Impedansi Penyulang
Impedansi penyulang besarnya tergantung dengan jenis penghantar yang
digunakan dan panjang penyulang tersebut. Semakin panjang penyulang maka
impedansi jaringan juga akan semakin besar, impedansi bahan penghantar yang besar
juga membuat impedansi penyulang tersebut menjadi besar.
Untuk mencari impedansi urutan positif dan negatif dari penyulang menggunakan
rumus :
1 = 2 = ( + ) (2.11)
Dimana :
Z1

: Impedansi urutan positif (ohm)

Z2

: Impedansi urutan negative (ohm)

(R+jX)

: Impedansi positif/negatif per km (ohm/km)

Panjang penyulang

: Panjang jaringan (km)

36

Sedangkan untuk mencari impedansi urutan nol adalah :


0 = (0 + 0 ) .(2.12)
Dimana :
Z0

: Impedansi urutan nol (ohm)

(R+jX)

: Impedansi nol per km (ohm/km)

Panjang penyulang

: Panjang jaringan (km)

(Sarimun, 2012 : 167)


2.4.4 Impedansi Ekivalen
Impedansi ekivalen disini adalah penjumlahan ekivalen dari impedansi urutan
positif, urutan negative, dan impedansi urutan nol. Perhitungan impedansi total positif
dan impedansi total negatif dapat menjumlahkan impedansi-impeansi yang ada,
sedangkan impedansi total urutan nol dimulai dari titik gangguan sampai ke
transformator tenaga yang netralnya di tanahkan.
Persamaan untuk menghitung impedansi ekivalen :
1 = 1 + 1 + 1 (2.13)
2 = 2 + 2 + 2 (2.14)
0 = 0 + 0 + 0 (2.15)
Dimana :
Z0

: Impedansi urutan nol

Z1

: Impedansi urutan positif

Z2

: Impedansi urutan negatif

37

ZS

: Impedansi sumber

ZT

: Impedansi trafo

Zfed

: Impedansi penyulang

(Sarimun, 2012 : 169)


2.5 Kesepakatan Nilai Setting OCR Penyulang 20 kV
Nilai setting OCR penyulang 20 kV atau PMT outgoing terbagi menjadi 3 level
atau zona, yaitu Time Delay (TD), High Set 1 (HS1), dan High Set 2 (HS2). Hal ini
bertujuan untuk pembagian wilayah dan waktu kerja peralatan proteksi pada
penyulang. Pada PMT outgoing, wilayah kerja TD dan HS1 merupakan back up
protection bagi peralatan proteksi utama di jaringan. HS1 wilayah kerjanya adalah dari
gardu induk sampai recloser kedua atau jarak 7,5 km dari gardu induk. OCR yang disetting pada level HS1 bekerja dengan karakteristik definite time relay. TD wilayah
kerjanya dari gardu induk sampai dengan ujung penyulang, OCR yang di-setting pada
level TD bekerja dengan karakteristik standard inverse. Sedangkan HS2 merupakan
main protection untuk penyulang dari gardu induk sampai dengan recloser pertama
atau pada jarak 0 - 2,5 km dari gardu induk. OCR yang di-setting pada level HS2
bekerja dengan karakteristik instaneous relay.

38

Bus 20 kV

O
G

Outgoing

Bus 150 kV

High Set 2
Main Protection

Back Up Protection

High Set 1
Time Delay

Gambar 2.21 Wilayah Kerja PMT Outgoing


( Sumber : PT PLN Persero APD Jateng dan DIY)
Nilai setting OCR untuk ketiga level tersebut berbeda, penentuan nilai setting
sesuai dengan kesepakatan proteksi untuk penyulang 20 kV yang dibuat pada tahun
2012 untuk proteksi distribusi penyulang 20 kV P3B Jawa & Bali.
Tabel 2.2 Kesepakatan Proteksi 2012
Penyulang 20 kV
Jenis Relai : OCR non-directional
Iset

: 1,2 x In CCC/CT

Tset

: 0,6 detik (untuk trafo Unindo


0,35 detik)

I high set 1 : 2,0 x In Trafo (60 MVA)


: 2,2 x In Trafo (50 MVA)
: 2,4 x In Trafo (30 MVA)
: 2,6 x In Trafo (20 MVA)
: 3,0 x In Trafo (16 MVA)
: 3,2 x In Trafo (10 MVA)

39

T high set 1 : 0,3 detik


I high set 2 : 5 x In Trafo
T high set 2 : 0 detik (instant)

Untuk menghitung Tms pada level TD menggunakan rumus :


2 0,02

[(

1]

0,14

. . . . . . (2.16)

(Sarimun, 2012 : 31)


Tms atau Time Multiple Setting merupakan nilai yang dimasukkan pada relai
sebagai konstanta dalam perhitungan waktu inverse. Relai yang digunakan
menggunakan jenis Inverse Time Relay.
2.6 Koordinasi Proteksi PMT Outgoing-Recloser
Koordinasi proteksi OCR pada PMT outgoing dengan recloser salah satunya
adalah perbedaan waktu kerja ketika terjadi gangguan hubung singkat pada jaringan
distribusi. Recloser sebagai pengaman utama pada jaringan memiliki waktu kerja yang
lebih cepat daripada PMT outgoing, sehingga ketika terjadi hubung singkat di
penyulang recloser yang akan trip bukan PMT. Saat recloser yang trip maka penyulang
di wilayah kerja recloser tidak teraliri listrik, sedangkan jaringan di antara PMT
outgoing dan recloser masih dapat dialiri listrik. Ketika koordinasi ini gagal atau PMT
outgoing yang trip maka seluruh penyulang tersebut tidak teraliri listrik, sehingga
keandalan proteksi distribusi listrik kurang baik karena tidak bekerja secara selektif
dalam mengisolasi gangguan.

40

Koordinasi proteksi antara PMT outgoing dan recloser

juga harus dapat

membedakan wilayah kerjanya, ketika gangguan terjadi pada wilayah di antara PMT
outgoing dengan recloser maka PMT outgoing yang harus cepat bekerja untuk
mengisolasi gangguan agar tidak merusak peralatan pada penyulang tersebut.

41

BAB III
METODE PENGAMATAN

3.1 Langkah Pengamatan


Dalam penulisan laporan tugas akhir ini, penulis melakukan beberapa langkah
pengamatan, berikut langkah pengamatan pembuatan laporan tugas akhir :
3.1.1 Tahap Persiapan
Persiapan adalah langkah awal dalam melakukan analisa kasus. Persiapan
bertujuan untuk menentukan tahapan-tahapan yang harus dilakukan dalam
pembuatan laporan, sehingga laporan akan lebih terperinci dan efektiv dalam
menganalisa dari data yang sudah tersedia di lapangan. Beberapa tahapan persiapan
dalam pembuatan tugas akhir adalah :

Menentukan kasus yang akan dianalisa di laporan tugas akhir

Studi pustaka materi yang mendukung analisa tersebut

Menentukan data-data yang dibutuhkan

Mencari data-data untuk pembuatan tugas akhir

3.1.2 Pengumpulan Data


Pengumpulan data merupakan tahapan untuk mendapatkan data yang valid
sebagai pendukung dalam analisa kasus pada laporan tugas akhir. Data tersebut
sebagai penguat argumen penulis dan sebagai landasan penulis dalam melakukan

42

penelitian.Dalam mengumpulkan data untuk laporan tugas akhir penulis melakukan


3 metode dalam pengumpulan data, yaitu:
1.

Metode Observasi
Metode Observasi adalah metode pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara melakukan pengamatan langsung di lapangan mengenai


permasalahan yang ditinjau. Dalam pengumpulan data secara langsung penulis
melakukan kegiatan Kerja Praktek di PT. PLN (Persero) Rayon Palur. Dari
kegiatan tersebut maka diperoleh data-data yang didapat, antara lain:
a. Panjang Jaringan Tegangan Menengah Feeder Palur 9.
Pada perhitungan panjang Feeder Palur 9 dilakukan dengan cara
mengikuti jaringan dari GI sampai ujung jaringan menggunakan
kendaraan bermotor untuk kemudian dilihat jarak tempuhnya. Feeder
Palur 9 mempunyai panjang jaringan 3 phasa 9.27 kms dan jaringan 1
phasa 8.17 kms. Feeder Palur 9 terdapat recloser di pole PLR 19-81.
Jarak recloser dari G.I sekitar 5,5 kms. Palur 9 menggunakan kawat
penghantar AAAC 240 mm untuk phasa dan AAAC 150 mm untuk
netral.

43

Gambar 3.1 single line diagram PLR 9


Sumber PT. PLN (Persero) Rayon Palur
b. Beban Per-Section Feeder Palur 9.
Beban per-section dilakukan untuk mengetahui berapa besar
penggunaan listrik pada section yang diukur. Semakin besar nilai beban
(Amper) artinya semakin besar pula penggunaan listrik pada section
tersebut. Untuk mengetahui nilai beban per-section dilakukan
pengukuran

dengan

menggunakan

alat

clamp

meter

yang

disambungkan dengan telescopic stick agar bisa menjangkau jaringan


yang akan diukur. Pengukuran dilakukan dari jaringan dekat dengan GI
sampai yang terjauh dari GI.

44

Gambar 3.2 Pengukuran Beban Per-Section


sumber: PT PLN (persero) Rayon Palur

Tabel 3.1 Beban Per-Section Feeder Palur 9


Alamat

feeder

JL SOLO-SRG
JL SOLO-SRG
BRUJUL
KALING

PLR 09
PLR 09
PLR 09
PLR 09

Pole
ujung
section
T11-4
T2-12/27
T19-81
T19-114

KALING

PLR 09

T19-123

Beban
teukur

Beban
section

77,8 A
22.2 A
6,2 A
2,7 A

55,6 A
26 A
3.5 A
2,7 A

0A

0A

section
1
2
3
4
Dead
end

c. History Gangguan Feeder Palur 9


History gangguan didapatkan dengan mencatat setiap gangguan sejak
kegiatan Kerja Praktek di PT. PLN (Persero) Rayon Palur, pencatatan
dimulai dari 19 Januari 2015-17 April 2015.

45

Tabel 3.2 History Gangguan di feeder Palur 9


Feeder

Tanggal

Penyebab

PALUR 9

23-Jan-15

TRAFO
TERGANGGU
DI T2-12/8C
ISOLATOR
LONGSENG
PECAH DI T85/24
BERSAMAAN
PEMASUKAN
LBS JOIN
T19-33

12-Feb-15

16-Feb-15

2.

Lama Padam
(menit)
24

20

102

Studi Literatur
Salah satu cara yang digunakan penulisan dalam penulisan tugas akhir ini

adalah dengan metode studi literatur. Maksudnya adalah metode pengumpulan


data yang dilakukan dengan mengambil data-data yang diperlukan dari literaturliteratur yang berkaitan. Data-data yang diperlukan, yaitu:
1. Spesifikasi Transformator III GI Palur

Gambar 3.3 Spesifikasi Transformator III G.I Palur


Sumber APD Jateng DIY

46

2. Setting Over Current Relay dan Ground Fault Relay Existing pada
Outgoing 20 kV Feeder Palur 9.
Ratio CT pada outgoing 20 kV Palur 9 = 800/5
Setting Over Current Relay (OCR) dan Ground Fault Relay (GFR)

Gambar 3.4 Setting Over Curent Relay PMT outgoing Palur 9 tahun 2014
Sumber APD Jateng dan DIY
3. Setting Over Current Relay dan Ground Fault Relay Existing pada
Recloser r Palur 19-81
Ratio CT pada Recloser PLR 19-81 = 1000/1

47

Gambar 3.5 Setiing recloser exisiting PLR 19-81


Sumber APD Jateng dan DIY

3.1.3 Pengolahan Data


Setelah mendapatkan data yang cukup untuk melakukan analisa kasus, maka
penulis melakukan pengolahan data tersebut.pengolahan data yaitu langkah
melakukan perhitungan dan simulasi.
3.1.4 Penulisan Laporan
Penulisan laporan adalah kegiatan menyusun informasi dan data yang didapat,
sehingga memungkinkan adanya analisa kasus, penarikan kesimpulan dan
pemberian saran tindakan.
3.2 Perhitungan Nilai Setting
Setelah mendapatkan data setting yang lama langkah selanjutnya adalah
menentukan nilai setting pada outgoing 20 kV feeder Palur 9 dan recloser PLR 19-81
agar dapat berkoordinasi saat terjadinya gangguan. Berikut tahapan-tahapan
menghitung nilai setting, yaitu:

48

1. Perhitungan Impedansi Sumber


Impedansi sumber ini adalah nilai tahanan pada sisi 150 kV, yang mewakili semua
unit pembangkit beroperasi. Adapun reaktansi (impedansi) sumber mencakup:
impedansi sumber pembangkit, impedansi transformator tenaga di Pusat Listrik dan
impedansi transmisi.
2. Perhitungan Reaktansi Transformator Tenaga
Reaktansi urutan positif tercantum pada papan nama (nameplate) transformator,
besarnya tergantung dari kapasitas transformator tenaga, dimana XT1 = XT2.
3. Perhitungan Impedansi Penyulang
Perhitungan impedansi penyulang bertujuan untuk mencari besar impedansi pada
jarak tertentu berdasarkan pemakaian penghantar yang pada langkah selanjutnya
digunakan untuk mencari nilai hubung singkat 1 fasa ke tanah atau 3 fasa
4. Perhitungan Arus Hubung Singkat
Dalam mencari nilai setting, perhitungan arus hubung singkat yang dicari adalah
arus hubung singkat 1 fasa ke tanah dan 3 fasa. Penggunaan arus hubung singkat 3
fasa karena apabila menggunakan arus hubung singkat 2 fasa nilai dari kedua
perhitungan tersebut berbeda. Selain itu, penggunaan arus hubung singkat 3 fasa
adalah untuk mengantisipasi terjadinya gangguan yang terjadi pada 3 fasa

49

5. Perhitungan over current relay dan ground fault relay


Hasil perhitungan over current relay dan ground fault relay merupakan nilai setting
yang digunakan pada outgoing 20 kV serta recloser untuk bekerja dan saling
berkoordinasi apabila terjadi gangguan. Waktu kerja dan waktu koordinasi sangat
penting agar gangguan yang muncul dapat diminimalisir dampaknya.
3.4 Evaluasi Koordinasi PMT PLR 9 dan Recloser 19-81
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan data yang tersedia dengan hasil
perhitungan dari penulis. Evaluasi ini dibutuhkan agar selektivitas kerja proteksi
distribusi jaringan tegangan menengah tetap handal. Selain itu evaluasi dibutuhkan
karena adanya perubahan dilapangan antara tahun 2014 dengan sekarang. Selain
membandingkan setting 2014 dengan hasil perhitungan penulis, evaluasi juga melihat
history gangguan dari feeder Palur 9 untuk dijadikan acuan saran yang akan diberikan.
3.5 Pengujian Perhitungan Nilai Setting dengan Microsoft Excel
Pengujian dari perhitungan yang telah dilakukan untuk mengetahui benar atau
salahnya perhitungan. Apabila perhitungan yang telah dilakukan benar (sama dengan
hasil di microsoft excel), maka tahapan selanjutnya adalah mengamati kurva yang
terbentuk bedasarkan perhitungan yang telah dilakukan. Terdapat 3 kurva yang
masing-masing mewakili, sisi incoming, sisi outgoing, dan sisi recloser. Penentuan
berhasil atau tidaknya suatu nilai perhitungan setting terlihat pada kurva yang
berpotongan atau tidak. Apabila terdapat kurva berpotongan, maka nilai perhitungan

50

tersebut tidak bisa dimasukkan ke sistem jaringan. Sebaliknya, apabila tidak


berpotongan maka perhitungan nilai setting dapat dimasukkan ke sistem jaringan.
Setelah itu mensimulasikan hubung singkat terhadap jaringan dengan nilai setting dari
perhitungan penulis menggunakan Microsoft Excell dari simulasi tersebut maka akan
terlihat selektivitas kerja system proteksi antara PMT dengan recloser.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Evaluasi Koordinasi Proteksi feeder Palur 9


Evaluasi koordinasi proteksi perlu dilakukan untuk mengetahui apakah kerja
peralatan proteksi tesebut masih selektif karena adanya perubahan di jaringan yang
dapat berupa penggantian kawat penghantar dan adanya perubahan jumlah beban.
Selain itu evaluasi ini juga memperhitungkan history gangguan dari penyulang tersebut
yang akan menjadi landasan dalam pemberian saran dari hasil evaluasi tersebut.
4.2 Perhitungan Impedansi Transformator
4.2.1 Reaktansi urutan positif (X1)
Reaktansi
transformator,

urutan

positif

besarnya

tercantum

tergantung

dari

pada

papan

kapasitas

nama

(nameplate)

transformator

tenaga..

Transdformator III GI Palur menggunakan belitan YnYn tanpa belitan delta dimana
pada belitan tersebut XT1 = XT2 (

XT1

kV2

= Impedansi (%) x MVA

= 12,32% x

202
60

= 0,821
51

52

Jadi XTI=XT2 =0.821


4.2.2 Reaktansi urutan Nol (XT0)
Reaktansi urutan negatif, diperoleh dari data Transformator tenaga itu sendiri,
yaitu melihat adanya belitan delta sebagai belitan ketiga dalam transformator tenaga.
(Pusdiklat, koordinasi proteksi sistem distribusi, hal 18)

Untuk Transformator tenaga dengan hubungan belitan Y, dimana


kapasitas belitan Delta () sama besar dengan kapasitas belitan Y, maka
XT0 = XT1.

Untuk Transformator tenaga dengan hubungan belitan Yy , dimana


kapasitas belitan Delta (), sepertiga dari kapasitas belitan Y (belitan yang
dipakai untuk menyalurkan daya, sedangkan belitan delta tetap ada didalam
transformator, tetapi tidak dikeluarkan kecuali satu terminal delta untuk
ditanahkan), maka nilai XT0 = 3 x XT1.

XT0

= 3x XT1

Dari data Transformator III G.I Palur III menggunakan YnYn maka besar
reaktansi urutan nol:

X0= XTI
= 0,82

53

4.3

Perhitungan Impedansi Sumber


Impedansi sumber ini adalah nilai tahanan pada sisi 150 kV, yang mewakili

semua unit pembangkit beroperasi. Adapun reaktansi (impedansi) sumber mencakup:


impedansi sumber pembangkit, impedansi transformator tenaga di Pusat Listrik dan
impedansi transmisi.
MVAsc = 150x Ihs 3 x 3
= 150x 15,83874 x 3
= 4.110,153MVA
Karena arus gangguan hubung singkat yang akan dihitung adalah gangguan
hubung singkat disisi 20 kV (sebagai dasar perhitungan dalam perhitungan satuan
listrik pada tegangan 20 kV), maka impedansi sumber tersebut harus dikonversikan
dulu ke sisi 20 kV, sehingga perhitungan Arus gangguan hubung singkatnya nanti
sudah mempergunakan tegangan 20 kV (sebagai sumber tidak lagi mempergunakan
tegangan 150 kV, karena semua impedansi sudah di-konversikan ke sistem tegangan
20 kV).

Xsc

202

= 4110,153

54

= 0,097
4.4 Perhitungan Impedansi Distribusi
Untuk meghitung Impedansi penyulang distribusi harus mengacu pada SPLN
64:1985 tentang tahanan dan reaktansi dari jenis penghantar. Pada penyulang Palur 9
penghantarnya menggunakan AAAC 240 mm2 untuk phasa dan AAAC 150 mm2 untuk
penghantar netral.
Tabel 4.1 Tahanan dan Reaktansi Penghantar AAAC tegangan 20 KV
Sumber SPLN 64:1985

Perhitungan impedansi penyulang Palur 9 dapat dihitung menggunakan rumus


sebagai berikut :
Impedansi urutan positif dan negatif:
1 = 2 = 1 /
Impedansi urutan Nol:
0 = 0 /

55

Dengan panjang penyulang Palur 9 adalah 9.27 maka perhitungan impedansi


urutan positif, urutan negatif, dan urutan nol untuk jaringan tersebut adalah :
1 = 2 = 1 /
= (0,1340 + j0,3158)/km x 9.27 km
= 1,242 + 2.927
0 = 0 /
= (0,3631 + j1,6180)/km x 9.27 km
= 3.36 + 14,998
Impedansi penyulang untuk letak gangguan dari GI (0%) sampai dengan dead
end (100%) adalah sebagai berikut :
Untuk jarak 0% dari GI
1 = 2 = 0% (1,242 + 2.927 )
= 0
0 = 0% (3.36 + 14,998 )
= 0
Untuk jarak 3 km (letak ABSW T2-12/27) atau 32.3% dari GI
1 = 2 = 32,3% (1,242 + 2.927 )
= 0,4 + 0,945
0 = 32.3% (3.36 + 14,998 )
= 1,08 + 4,84

56

Untuk jarak 5,5 km (letak recloser PLR 19-81) atau 59.33% dari GI
1 = 2 = 59.33% (1,242 + 2.927 )
= 7,369 + 1,74
0 = 59.33% (3.36 + 14,998 )
= 1,993 + 8,89
4.5 Perhitungan Impedansi Ekivalen
Perhitungan Impedansi Ekivalen adalah perhitungan besarnya nilai impedansi
ekuivalen urutan Positif (Z1eq), impedansi ekuivalen urutan negative (Z2eq) dan
impedansi ekuivalen urutan Nol (Zo eq) dari titik gangguan sampai ke sumber.
Perhitungan Z1eq dan Z2eq langsung dapat menjumlahkan impedansi-impedansi yang
ada, sedangkan Z0eq dimulai dari titik gangguan sampai ke Transformator tenaga yang
netralnya ditanahkan.
4.5.1 Perhitungan Impedansi Ekivalen Positif dan Negatif
Impedansi Equivalen Positif & Negatif di Outgoing 20 kV
Z1 = Z2 = RL1 + J (XL1+ XT1+ Xsc)
= 0 + J (0+0,82 +0,097)
= 0 + J 0,917

Z1 = Z2 = R L1 2 + (X L1 + X T1 + X sc )2

57

= 02 + 0,9172

= 0,917
Impedansi Equivalen Positif & Negatif di Titik Recloser
Z1 = Z2 = RL1 + J (XL1+ XT1+ Xsc)
= 7,369 + J (1,74 +0,82 +0,097)
= 7,369 + J 2,567

Z1 = Z2 = R L1 2 + (X L1 + X T1 + X sc )2

= 7,3692 + 2,6572

= 61,81
= 7,833
4.5.2 Perhitungan Impedansi Ekivalen Nol
Impedansi Equivalen Nol di Outgoing 20 kV
Z0eq

= (RL0 + 3.Rn)+ J (XL0+ XT0)


= 0 +(3x0,3) +J (0+0,82 )
= 0,9 + J0,82

Z0eq

= R L0 2 + 3. Rn + (XL0 + XT0 )2

58

= 0,92 + 0,822
= 1,217
Impedansi Equivalen Nol di Titik Penempatan Recloser
Z1 = Z2 = RL0 + 3xRn + J (XL0+ XT0)
= 1,993+0,9+ J (8,89+0,82)
= 2,893 + J 9,71
Z1 = Z2 = (0 + )2 + (XL0 + XT0 )2
= 2,8932 + 9,71 2
= 10,131
4.6 Perhitungan Arus Hubung Singkat
Perhitungan arus hubung singkat maksimum
Arus hubung singkat yang terjadi di dekat rel 20 kV GI atau 0% dari GI
I hs 3

=
=
=

_
Z1

1 2 +(1 + 1 + )2
11,7
02 +0,9172

= 12.758,99
I hs 2

= Z
1 + Z2

59

=
=
=

2 1


2 (1 2 +(1 + 1 + )2 )
20

2 02 +0,9172

= 10.905,125 A
I hs 1

3
Z1 + Z2 + Z0

3()

= (2

1 )+0

(3 )

=2(

1 +1 +1 + )+(0 +3. +0 +0 )

= (2

3()
1 +0 +3 )+(2.1 +21 +2 +0 +0 )

3_()

(21 +0 +3

311,7

0,92 +2,82

)2 + (2.

2
1 +21 +2 +0 +0 )

= 12.535,71
Tabel 4.2. Arus hubung singkat yang terjadi pada feeder PLR 01
Lokasi

Jarak
(kms)

I hs 3 (A)

I hs 2 (A)

I hs 1 (A)

Bus 20 kV

12.758 A

10.905

12.535A

ABSW
T12-27

6049

5238

3530

Recloser
PLR 19-81

5.5

4189

3628

2213

ABSW
PLR 19-114

7.7

3359

2909

1704

Ujung JTM

9.7

2756

2387

1360

60

4.6 Analisa Gangguan yang Terjadi Pada Feeder PLR 09


Dari data macam-macam gangguan yang pernah terjadi dapat dijadikan acuan
dalam evaluasi setting existing PMT dan recloser. Dari data gangguan tersebut dapat
dilihat keandalan sitem proteksi yang telah ada. Apabila dalam analisa gangguan
ditemukan tidak selektifnya kinerja dari perlatan proteksi maka harus ada penyetingan
ulang agar keandalan distribusi tetap maksimal. Berikut data gangguan dari penyulang
Palur 9:
Tabel 4.3 Data History Gangguan dan Letak Gangguan
Feeder

Tanggal

Penyebab

23-Jan-15

TRAFO
TERGANGGU
DI T2-12/8C
ISOLATOR
LONGSENG
PECAH DI T85/24
BERSAMAAN
PEMASUKAN
LBS JOIN
T19-33

12-Feb-15
PALUR 9
16-Feb-15

Lama Padam
(menit)
24

Letak
2,2 KM
(22,68%)

20

3,8 KM
(50%)

102

3,1 KM
(31,98%)

Dari data tabel diatas dapat dianalisa sesuai tanggal terjadinya gangguan, yaitu :
1. Gangguan Fasa-Fasa yang terjadi pada 23 Januari 2015
I hs 2

= Z
.
1 + Z2

=
=


2 1

2 (1 2 +(1 + 1 + )2 )

61

20
2 0,2812 +1,6342

= 6377 A
Saat terjadi gangguan di pole T2-12/8C yang berada di section pertama
dari penyulang Palur 9 arus hubung singkat sebesar 6377A dan berada di zona
highset 1 PMT maka PMT akan trip setelah membaca gangguan selama 0.3s.

Gambar 4.1 Kurva OCR yang bekerja saat terjadi gangguan di T2-12/8C
Sumer APD Jateng DIY

2. Gangguan Fasa-tanah yang terjadi pada 12 Februari 2015


I hs 1

3
Z1 + Z2 + Z0
3()

= (2

1 )+0

62

(3 )

=2(

1 +1 +1 + )+(0 +3. +0 +0 )

= (2

3()
1 +0 +3 )+(2.1 +21 +2 +0 +0 )

3_()

(21 +0 +3 )2 + (2.1 +21 +2 +0 +0 )2

311,7

4,5222 +13,2262

= 2450

Gambar 4.2 Kurva GFR yang bekerja saat terjadi gangguan di T8-5/24
Sumber APD Jateng DIY

Saat terjadi gangguan di pole T8-5/24 atau section kedua dari penyulang Palur
9 arus hubung singkat sebesar 2450 A dan berada di invers PMT maka PMT akan trip

63

setelah membaca gangguan selama 0,62s. Gangguan ini bisa diatasi dengan recloser
apabila penempatan recloser digeser di ABSW T2-12/27 karena setting highset 1 GFR
PMT Palur 9 sebesar 2500 A. jadi masih ada jeda waktu sebelum gangguan terbaca
oleh PMT.
3. Gangguan Fasa-Fasa-Fasa yang terjadi pada 16 Februari 2015
I hs 3

=
=
=

_
Z1

1 2 +(1 + 1 + )2
11,7
0,3972 +1,8532

= 5940
Saat terjadi gangguan di pole T19-33 bersamaan dengan pemasukan LBSW
T19-33 gangguan yang terjadi adalah hubung singkat 3 fasa dengan arus gangguan
datang 5940 A.
Dari ketiga gangguan yang pernah terjadi selama januari sampai dengan april
tersebut perngujian kinerja perlatan proteksi belumlah maksimal, karena dari data tabel
4.2 semua gangguan berada di sisi sebelum recloser maka untuk mengevaluasi
selektifitas kerja peralatan proteksi belum valid maka perlu diujikan secara perhitungan
apabila terjadi gangguan 2 fasa di 65% panjang pernyulang Palur 9.
I hs 2

= Z
.
1 + Z2

=
=


2 1

2 (1 2 +(1 + 1 + )2 )

64

20
2 0,8072 +2,9032

= 3296 A
Dari pengujian gangguan 2 fasa di 65% panjang penyulang Palur 9 ditemukan
bahwa arus gangguan sebesar 3296 A. Sesuai dalam gambar kurva di bawah ini maka
recloser akan trip terlebih dahulu karena termasuk dalam zona Instantesious recloser.

Gambar 4.3 Kurva OCR yang bekerja saat terjadi gangguan di T2-12/8C
Sumber APD Jateng DIY

4.7

Pembahasan Koordinasi Setting Proteksi Feeder PLR 9


Dari data dan analisa gangguan yang terjadi pada feeder PLR 09 ini dapat

terlihat bahwa koordinasi peralatan proteksi jaringan dari gangguan hubung singkat
sudah selektif dalam mengatasi gangguan yang terjadi. Dimana saat terjadi gangguan
disebelah hilir recloser PLR 19-81 maka PMT feeder PLR 09 tidak akan trip bersama.

65

Nilai setting pada PMT PLR 9


Iset (I >) OCR (Arus setting OCR pada sisi outgoing 20 kV)
Arus setting ini merupakan arus setting yang akan dimasukkan di OCR
outgoing 20 kV. Untuk nilai arus sekunder telah ditentukan dari APD Jateng & DIY.
Arus setting ini merupakan batasan maksimal arus pada feeder Palur 9. I nominal untuk
Iset OCR adalah 400 A hal ini dikarenakan melihat kuat hantar arus perlatan distrbusi.
I > sekunder = I > primer

1
Rasio CT

(Pusdiklat, 2010: hal 36)


I > primer = 1,2

400
1

I > primer = 480 A


Iset (Io >) GFR (Arus setting GFR pada sisi outgoing 20 kV)
Arus setting ini merupakan arus setting yang akan dimasukkan di GFR
outgoing 20 kV. Untuk nilai arus sekunder telah ditentukan dari APD Jateng & DIY.
Arus setting ini merupakan batasan maksimal arus pada feeder Randugarut 01.
Io > sekunder = Io > primer
Io > primer = 0,6

400
1

1
Rasio CT

66

Io > primer = 240 A


TSET OCR 20 kV (Waktu kerja OCR pada sisi outgoing 20kV)
Pada perhitungan ini menggunakan Ihs 3 di kubikel outgoing 20 kV. Karena
belum mempergunakan penghantar sehingga tidak ada hitungan impedansi penghantar.
Hasil dari perhitungan ini didapat waktu kerja pada OCR outgoing 20 kV.

( 3 20 )

Tms

0,02

0,14
(

12571 0,02
)
1
480

0,3

tset

tset

= 0,7 s

0,14
0,14
0,0674

t set

t set

0,3

TSET GFR 20 Kv (Waktu kerja GFR pada sisi outgoing 20kV)


Perhitungan TSET GFR 20 kV dengan menggunakan Ihs 1 . Pada Ihs 1 ini
dihitung di kubikel outgoing 20 kV. Karena belum mempergunakan penghantar
sehingga tidak ada hitungan impedansi penghantar. Hasil dari perhitungan ini didapat
waktu kerja pada GFR outgoing 20 kV.

( 1 20 )

Tms

0,3

0,02

0,14
(

12343 0,02
)
1
240

0,14

t set

t set

67

0,14

tset

tset

= 0,7 s

0,0819

0,4

I Hset 1 (I >>) OCR dan IHset 2 (I>>>) OCR


Perhitungan nilai IHset

OCR digunakan untuk mendapatkan nilai batasan

apabila terjadi gangguan fasa yang besarnya melebihi batas maksimal dari penyulang
dan mencapai nilai IHset 1 OCR, maka secara otomatis PMT akan langsung trip setelah
merasakan gagguan selama 0,3s, nilai high set 1 ini biasanya ada di jarak 500m
sebelum wilayah high set 1 recloser, atau high set 1 ini sebagai back up high set 1
recloser.IHset 2 OCR digunakan untuk relai kerja instantesious atau tidak ada waktu
tunda, hal ini karena gangguan terlalu dekat GI maka arus hubung singkatnya terlalu
besar,

tujuanya

untuk

I sekunder = I primer
I primer = 4,3

melindungi
1

Rasio CT

800
5

I primer = 3440 A

I >>> primer = 8,3 x

= 6600

800
5

kerusakan

peralatan

GI

68

I Hset 1 (I o>>) GFR dan IHset 2 (I>>>) GFR


Perhitungan nilai IHset

GFR digunakan untuk mendapatkan nilai batasan

apabila terjadi gangguan satu fasa ke tanah yang besarnya melebihi batas maksimal
dari penyulang dan mencapai nilai IHset

GFR, maka secara otomatis PMT akan

langsung trip setelah merasakan gagguan selama 0,3, nilai high set 1 ini biasanya
ada di jarak 500m sebelum wilayah high set 1 recloser, atau high set 1 ini sebagai back
up high set 1 recloser. IHset 2 OCR digunakan untuk relai kerja instantesious atau tidak
ada waktu tunda, hal ini karena gangguan terlalu dekat GI maka arus hubung
singkatnya terlalu besar, tujuanya untuk melindungi kerusakan
Io sekunder = Io primer

1
Rasio CT
800

Io primer

= 3,1

Io primer

= 2500 A

Io >>> primer = 6,5 x

800
5

= 5220 A
Nilai setting pada recloser PLR 19-81
Iset pada recloser
Iset OCR =
I > sekunder = I > primer

1
Rasio CT

peralatanGI

69

I > primer = 0,3

1000
1

I > primer = 300 A


Iset GFR =
I > sekunder = I > primer

1
Rasio CT

I > primer = 0.12

1000
1

I > primer = 120 A


Tms pada recloser
Untuk menghitung nilai Tms maka harus mengetahui nilai Tset Outgoing di
titik penempatan recloser yang baru. Setelan waktu (Tset) recloser pada over current
relay (OCR), dan ground fault relay (GFR) yang dihasilkan dari perhitungan tset pada
titik penempatan recloser dikurangi 0,4 untuk mendapatkan tset recloser. Dari tset
recloser dihitung dengan persamaan Tms untuk mendapatkan nilai Tms. Dan nilai Tms
tersebut dimasukkan ke setting recloser yang akan dipasang.

70

Tset PMT OCR


Perhitungan Tset PMT OCR dengan menggunakan Ihs 3 pada jarak 5,5 km (titik
penempatan recloser). Hasil dari perhitungan ini merupakan waktu kerja antara
outgoing 20 kV feeder Palur 9 dengan recloser.
(

tms =

0,02

0,14
(

0, 30 =

4189 0,02
)
1
480

0,14
0,14

tset

tset

= 0,9 s

t set

t set

0,30

0,0442

Tset GFR
Perhitungan TSET GFR dengan menggunakan Ihs 1 pada jarak 3 km (titik
penempatan recloser). Hasil dari perhitungan ini merupakan waktu kerja antara
outgoing 20 kV feeder Palur 9 dengan recloser.
(

tms =

0, 4 =

0,02

0,14
(

2213 0,02
)
1
240

0,14
0,14

tset

tset

= 1,2 s

0,0454

t set

0,4

t set

71

Tset OCR Recloser


tset recloser

= tset PMT - t .

tset

recloser

= 0,9 0,4

tset

recloser

= 0,5 s

Tset GFR Recloser


tset recloser

= tset PMT - t

tset

recloser

= 1,2 0,4

tset

recloser

= 0,8 s

Tms OCR pada Recloser


Setelah mendapat hasil dari perhitungan tset recloser, maka tset recloser tersebut
digunakan untuk menghitung Tms recloser. Dan nilai Tms tersebut dimasukkan ke
setting recloser.

Tms

0,02

0,14
(

4189 0,02
)
1
300

Tms

Tms

Tms

= 0,21

0,14
0,0442
0,14

t set

0,4

0,4

72

Tms GFR pada Recloser


Setelah mendapat hasil dari perhitungan tset recloser, maka tset recloser tersebut
digunakan untuk menghitung Tms recloser. Dan nilai Tms tersebut dimasukkan ke
setting recloser yang akan dipasang.

Tms

0,02

0,14
(

2213 0,02
)
1
120

Tms

Tms

Tms

= 0,36

0,14
0,0454
0,14

t set

0,61

0,61

Iinstant Recloser
Iinstant OCR dan GFR pada recloser digunakan untuk relai kerja instantesious
atau tidak ada waktu tunda, hal ini agar recloser dan PMT tidak bekerja dalam waktu
yang bersamaan.
Iinstant OCR =
I > sekunder = I > primer

1
Rasio CT

I > primer = 3

1000
1

I > primer = 3000 A


Iset GFR =

73

I > sekunder = I > primer

1
Rasio CT

I > primer = 1,8

1000
1

I > primer = 1800 A


Tabel 4.4 Nilai setting PMT Palur 9 dan Recloser PLR 19-81

Iset
I>>
I>>>>
Tset
Tms

PMT
OCR = 480A
GFR = 240 A
OCR = 3440 A
GFR = 2500 A
OCR = 6600 A
GFR = 5220 A
OCR = 0,7s
OCR = 0,7s
OCR = 0,3
GFR = 0,4

Recloser
OCR = 300 A
GFR = 120 A
OCR = 3000 A
GFR = 1800 A
OCR = 0,55s
GFR = 0,8s
OCR = 0,21s
GFR = 0,36s

4.7 Hasil Evaluasi Koordinasi PMT PLR 9 dan Recloser PLR 19-81
Dari analisa gangguan yang pernah terjadi di penyulang Palur 9 selama Triwulan
pertama tahun 2015, kinerja PMT PLR 9 dan recloser PLR 19-81 sudah bekerja selektif
dan tidak terjadi keselahan koordinasi kerja, akan tetapi kinerja dari recloser kurang
maksimal untuk meminimalisir zona padam di penyulang Palur 9. Akibat dari
gangguan tersebut energi yang tidak tersalurkan ke pelanggan dapat dihitung
= 3
= 3 20,4 87,8
= 6.786 KWh

146
60

0,9

74

Kerugian akibat adanya gangguan tersebut sekitar 6.786 KWh yang tidak
tersalurkan ke pelanggan. Dengan karakteristik beban dari penyulang Palur 9 sesuai
tabel 3.1 bahwa beban terbesar berada pada section 1 sebesar 55,6 A. Beban di section
1 ini sekitar 71,46 % dari jumlah beban pelanggan di palur 9.
Dari hasil evaluasi koordinasi sistem proteksi ini maka sebaiknya recloser yang
pertama di PLR 19-81 di geser ke T2-12/27, dengan pergeseran ini maka setting
recloser juga harus diperbarui. Dalam hal ini nilai setting yang dapat dirubah oleh
wilayah kerja tingkat Area Surakarta hanya di recloser jadi nilai setting pada PMT
tidak perlu di hitung kembali.
Nilai setting pada recloser usul T2-12/27
Iset pada recloser disetting 300 A
untuk OCR hal ini dikarenakan apabila penyulang palur 9 akan dilimpahkan
beban dari penyulang lain recloser tidak akan trip karena arus beban pelimpahan
dibaca sebagai arus gangguan.
Iset GFR recloser di-setting 10% dari arus hubung singkat satu fasa-tanah
minimum atau arus hubung singkat satu fasa-tanah di ujung jaringan.
= 10% 1360
= 136
Untuk menghitung nilai TMS maka harus mengetahui nilai Tset Outgoing di
titik penempatan recloser yang baru. Setelan waktu (Tset) recloser pada over current
relay (OCR), dan ground fault relay (GFR) yang dihasilkan dari perhitungan tset pada

75

titik penempatan recloser dikurangi 0,4 untuk mendapatkan tset recloser. Dari tset
recloser dihitung dengan persamaan Tms untuk mendapatkan nilai Tms. Dan nilai Tms
tersebut dimasukkan ke setting recloser yang akan dipasang.
Tset PMT OCR
Perhitungan Tset PMT OCR dengan menggunakan Ihs 3 pada jarak 3 km (titik
penempatan recloser). Hasil dari perhitungan ini merupakan waktu kerja antara
outgoing 20 kV feeder Palur 9 dengan recloser.
(

tms =

0, 30 =

0,02

0,14
(

6049 0,02
)
1
480

0,14
0,14

tset

tset

= 0,80 s

0,0519

t set

t set

0,30

Tset GFR
Perhitungan TSET GFR dengan menggunakan Ihs 1 pada jarak 3 km (titik
penempatan recloser). Hasil dari perhitungan ini merupakan waktu kerja antara
outgoing 20 kV feeder Palur 9 dengan recloser.
(

tms =

0,14

0,02

t set

76

0, 4 =

3530 0,02
)
1
240

0,14
0,14

tset

tset

= 1,01 s

0,0552

t set

0,4

Tset OCR Recloser


tset recloser

= tset PMT - t

tset

recloser

= 0,8 0,4

tset

recloser

= 0,4 s

Tset GFR Recloser


tset recloser

= tset PMT - t

tset

recloser

= 1,01 0,4

tset

recloser

= 0,61 s

Tms OCR pada Recloser


Setelah mendapat hasil dari perhitungan tset recloser, maka tset recloser tersebut
digunakan untuk menghitung Tms recloser. Dan nilai Tms tersebut dimasukkan ke
setting recloser.

Tms
Tms

=
=

0,02

0,14
(

6049 0,02
)
1
300

0,14

t set

0,4

77

0,0619

Tms

Tms

= 0,18

0,14

0,4

Tms GFR pada Recloser


Setelah mendapat hasil dari perhitungan tset recloser, maka tset recloser tersebut
digunakan untuk menghitung Tms recloser. Dan nilai Tms tersebut dimasukkan ke
setting recloser yang akan dipasang.

Tms

1
)

0,02

0,14
(

3530 0,02
)
1
136

Tms

Tms

Tms

= 0,3

0,14
0,0673
0,14

t set

0,61

0,61

Iinstant Recloser
Iinstant OCR dan GFR pada recloser digunakan untuk relai kerja instantesious
atau tidak ada waktu tunda, hal ini agar recloser dan PMT tidak bekerja dalam waktu
yang bersamaan. Iinstant pada recloser di setting 500 m setelah zona high set 1 PMT.
Iinstant OCR = 3274 A
terletak di jarak 8 Km dari GI
Iinstant GFR = 2200 A
terletak di jarak 5,5 Km dari GI

78

Tabel 4.5 Nilai setting recloser di T2-12/27


OCR

GFR

Iset

300 A

136 A

Iinstant

3274 A

2200 A

Tset

0,4 s

0,61 s

Tms

0,18

0,3

Dengan penggeseran letak dari recloser ke pole T2-12/27 maka KWh yang
tidak terjual semakin berkurang dan koordinasi PMT dan recloser ini dapat membantu
penekanan susut teknis dari penyulang palur 9.
Tabel 4.6 Perbandingan kerugian KWh akibat gangguan
Pole Recloser
PLR 19-81
(5,5 Km)

T2-12/27
(3 Km)

Letak
gangguan
2,2 Km
(T2-12/8C)
3,1 Km
(T8-5/24)
3,8 Km
(T 19-33)
2,2 Km
(T2-12/8C)
3,1 Km
(T8-5/24)
3,8 Km
(T 19-33)k

KWh terselamatkan
/ 1 Jam
0 KWh

KWh hilang
/ 1 Jam
2.778 KWh

0 KWh

2.778 KWh

0 KWh

2.778 KWh

0 KWh

2.778 KWh

1.753 KWh

1.025 KWh

1.753 KWh

1.025 KWh

BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Dalam tugas akhir yang berjudul KOORDINASI ANTARA PMT PLR 9 DAN
RECLOSER PLR 19-81 PADA SISTEM PROTEKSI JARINGAN TEGANGAN
MENENGAH 20 KV DI WILAYAH KERJA PT. PLN (PERSERO) RAYON
PALUR penulis mendapatkan beberapa kesimpulan yang dapat diambil selama
perancangan dan pembuatan tugas akhir ini :
1. Koordinasi proteksi pada penyulang Palur 9 tidak ada kesalahan dalam
selektifitas kerjanya, hal ini dapat dilihat dalam bentuk kurva dan dari
pengujian yang dilakukan dari history gangguan dan pengujian di jarak 65%
dari Gardu Induk.
2. Nilai setting Over Current Relay (OCR) pada sisi outgoing 20 kV, yaitu:
arus setting (I >) = 480 A, Time Multiple Setting (TMS) = 0,3 , arus high
setting I (I>>) =3440 A dan arus high setting 2 (I>>>) = 6600A .
Sedangkan pada recloser PLR 19-81, yaitu: arus setting (I >) = 300 A, Time
Multiple Setting (TMS) = 0,21 , arus high setting (I>>) = 3000 A.

79

80

3. Nilai setting Ground Fault Relay (GFR) pada sisi outgoing 20 kV, yaitu:
arus setting (Io >) = 240 A , Time Multiple Setting (TMS) = 0,4 , arus high
setting I (I>>) = 2500 A dan arus high setting 2 (I>>>) = 5220 A .
Sedangkan pada recloser, yaitu: arus setting (Io >) = 120 A, Time Multiple
Setting (TMS) = 0,36 , arus high setting (Io >>) = 1800.
4. Dari history gangguan selama triwulan pertama ini manfaat peralatan
proteksi kurang maksimal terutama recloser, karena penempatan recloser
di PLR 19-81 yang kurang memproteksi beban pada section pertama yang
berjumlah 71,46% dari seluruh beban yang ada di penyulang Palur 9, atau
dapat dikatakan recloser kurang mampu mempersempit daerah padam
apabila terjadinya gangguan.
5. Dari gangguan yang telah terjadi pada triwulan pertama tahun 2015 pada
penyulang Palur 9 maka PT. PLN (persero) kehilangan 6.013 KWH yang
tidak terjual ke pelanggan.
6. Hasil dari evaluasi koordinasi sistem proteksi penyulang Palur 9 ini lebih
maka baik letak recloser digeser di pole T2-12/27 agar recloser dapat
bekerja maksimal dalam memproteksi beban pada section pertama
penyulang Palur 9. Dengan penggeseran letak recloser ini apabila terjadi
gangguan di setelah recloser maka PT. PLN (persero) akan menyelamatkan
71,46% beban penyulang 9 yang akan hilang apabila terjadi gangguan yang
letaknya setelah recloser T2-12/27 atau jarak (3,4 Km-9,7 Km).

81

7. Nilai setting Over Current Relay (OCR) pada recloser T2-12/27, yaitu: arus
setting (I >) = 300 A, Time Multiple Setting (TMS) = 0,18 arus high setting
I (I>>) = 3440 A, Nilai setting Ground Fault Relay (GFR) pada recloser
T2-12/27, yaitu: arus setting (Io >) = 136 A, Time Multiple Setting (TMS)
= 0,3 arus high setting I (I>>) = 2200 A.
5.2 SARAN
1. Dalam evaluasi ini penulis belum mempertimbangkan Kajian Kelayakan
Finansial (KKF) dalam penggeseran recloser dari PLR 19-81 ke T2-12/27,
maka menyarankan PT. PLN (persero) mengkaji kelayakan finansial
apabila recloser tersebut digeser.
2. Program pengujian microsoft excel dapat dikembangkan dengan
menambah perhitungan untuk SAIDI dan SAIFI atau memadukan program
ETAP untuk mencari nilai SAIDI dan SAIFI agar nilai kehandalan yang
diperoleh lebih teruji.

82

DAFTAR PUSTAKA

Kadarsiman, dan Wahyudi Sarimun. 2009. Sistem Proteksi Penyulang. PT PLN


(Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan : Jakarta
Oktavia, Liliana Ragil N. 2013. Penggantian dan Pengujian Trafo Arus pada
Kubikel Outgoing 20 kv TJB 01 Gardu Induk Tanjung Jati B. Universitas
Diponegoro : Semarang.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan PT PLN (Persero). 2009. Analisa Proteksi
Sistem Distribusi. PT PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan :
Jakarta.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan PT PLN (Persero). 2010. Analisa Sistem Tenaga.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan PT PLN (Persero) : Jakarta.
Sarimun, Wahyudi. 2012. Proteksi Sistem Distribusi Tenaga Listrik. Garamond
: Depok.
Suryani, Riana Dwi. 2014. Pembaruan Aplikasi Program Perhitungan Nilai
Setting Koordinasi OCR GFR pada Sisi Outgoing dan Recloser dengan
Aplikasi Program Perhitungan di PT PLN (Persero) Area Semarang.
Universitas Diponegoro : Semarang.
Team O & M Transmisi dan Gardu Induk PLN Pembangkitan Jawa Barat dan
Jakarta Raya. 1981. Operasi dan Memelihara Peralatan. PLN Pembangkitan
Jawa Barat dan Jakarta Raya : Jakarta.
Utami, Tri. 2014. Koordinasi Over Current Relay (OCR) Sisi Incoming 1 dengan
OCR Sisi Outgoing KLS 03 pada Gardu Induk Kalisari. Universitas
Diponegoro : Semarang.
Wijaya, Riza Effendi. 2014. Perencanaan Pemasangan Recloser Guna
Kehandalan Sistem Distribusi Feeder Randugarut 01. Universitas
Diponegoro : Semarang.
Yudiono,
K
S.1984.
Ilmiah,.Semarang,UNDIP

Bahasa

Indonesia

Untuk

Penulisan