Anda di halaman 1dari 32

RS Ibu dan Anak

Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

THERAPI PENGATURAN GULA DARAH


(GLUCOSE TIGHT CONTROL)
No. Dokumen
No. Revisi
04.05.B.001

SOP

Tanggal terbit

Halaman

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian
Tujuan
Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

Menjaga kadar gula darah pada kisaran 120-140 mg/dL


Mencegah terjadinya gagal organ karena kerusakan sel akibat kadar gula
darah yang tinggi
Jika GD < 120 mg/dL dosis insulin sesuai dengan penurunan GD, periksa
GD jam kemudian.jika GD sampai > 200 mg/dL dosis insulin =
GDS/150U/jam
STOP insulin bila GD < 80 mg/dL beri glukose 40% 25 cc ulang GD 15
menit kemudian
Untuk penderita DM dosis insulin disesuaikan dengan kebutuhan insulin
sebelumnya
GD 120 140 mg/dL (Normal) tanpa insulin 1 jam GD > 20 %
insulin turun sesuai dengan penurunan GDS (cth;GD 25 % insulin
turun 25 % target : 120-140 mg/dL)
140-200 mg/dL insulin 1 U/jam 1 jam tetap 20% 1-2 jam
target : 120-140 mg/dL
> 200 mg/dL insulin (GDS/100)U/jam 1 jam GD ,insulin (GDS/150)
U/jam (bila dosis insulin < awal dosis tetap) bila GD tidak dapat
dikendalikan insulin 1 unit tiap jam target 120-140 mg/dL
Bagian anestesiologi dan Reanimasi
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Bagiab Bedah
Bagian Neurologi

PROTOKOL
PENGATURAN GULA DARAH
TARGET GULA DARAH : 120 140 mg/dL
KADAR GULA DARAH SAAT MASUK ICU:
120 140 mg/dL (Normal)

140 200 mg/dL

Tanpa Insulin

Insulin 1 U/jam

> 200 mg/dL

Insulin GDS U/jam


100

1 jam

1 jam

1 jam

GD > 20 %

Tetap 20 %

GD , Insulin GDS U/jam


150
Bila dosis Insulin < awal
dosis tetap

Insulin sesuai dengan


Penurunan GDS
(misal:GD 25%
Insulin 25%)

Bila GD tidak dapat


dikendalikan
Insulin 1 Unit tiap jam

Target : 120 140 mg/dL


HIPOGLIKEMIA :

Jika GD < 120 mg/dL dosis Insulin sesuai penurunan GD dan GD diperiksa jam kemudian,jika
GD sampai > 200 mg/dL dosis Insulin = GDS/150 U/jam.
STOP Insulin bila GD < 80 mg/dL beri glukosa 40% 25 cc Ulang GD 15 menit kemudian.
Untuk penderita DM dosis Insulin disesuaikan dengan kebutuhan Insulin sebelumnya.

PRINSIP PEMBERIAN OBAT ( 6 B )


RS Ibu dan Anak
Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

SOP

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

03.5.01.2031.16

00

2/2

Tanggal terbit
5 April 2010

Prosedur
8.

Unit Terkait

IRJA,IRNA,INSTALASI RAWAT DARURAT

RS Ibu dan Anak

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Banda Aceh

04.05.A.00..

1/1

SOP

Tanggal terbit

Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Ditetapkan,
Direktur
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian
Tujuan

Kebijakan
Prosedur
Unit Terkait
Dokumen Terkait

PROSEDUR PENGELOLAAN NGT DAN NUTRISI ENTERAL


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

04.05.B.002

SOP

Tanggal terbit

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Tujuan

Penatalaksanaan nutrisi dini pada pasien yang masuk ke Instalasi Rawat


Intensif

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka


morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Pengelolaan NGT dan Nutrisi enteral ini dilakukan terhadap setiap pasien
dengan hemodinamik stabil dan mendapat PEEP < 15 cmH2O

Prosedur

Pasien masuk ke iCU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Penilaian terhadap status mental atau tanpa gangguan reflex,
2. Bila didapatkan perubahan status mental atau tanpa gangguan
reflex,dilakukan pemeriksaan terhadap bising usus, flatus atau BM dan
Penilaian NGT
3. Bila produksi NGT < 200 cc/4 jam dan HOB elevated 30, dapat dilakukan
pelepasan (aff) NGT.
4. Bila produksi NGT > 200 cc/4 jam, dilakukan HOB elevated > 30 dan
NGT tetap dipertahankan.
5. Bila tidak didapatkan perubahan status mental atau tanpa gangguan
reflex dan produksi NGT < 200 cc/4 jam, NGT dapat dilepas dan
dilakukan HOB elevated > 30.
6. Bila produksi NGT > 200 cc/4 jam,dilakukan koneksi NGT penampungan.
7. Bila dalam penampungan <100 cc/2 jam, NGT dapat dilepas dan
dilakukan HOB elevated >30.
8. Bila dalam penampungan >100 cc/2 jam, NGT tetap dipertahankan dan
dialirkan.

Unit Terkait

1. UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif


2. UPF Ilmu Bedah
3. UPF Gizi Medik

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

PROSEDUR SEDASI JANGKA PANJANG (> 48 JAM)


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

Banda Aceh

04.05.B.003

SOP

Tanggal terbit

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian
Tujuan

Penatalaksanaan dini pada pasien yang memerlukan sedasi untuk jangka


panjang (> 48 jam) sejak pasien masuk ke instalasi rawat intensif
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Pemberian sedasi untuk jangka panjang (> 48 jam) dilakukan segera setelah
ditentukan target skor sedasi.

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1.
Dilakukan penentuan target skor sedasi (TS) yang ingin dicapai.
2.
Dievaluasi apakah pasien sudah tersedasi.
3.
Bila belum tersedasi, diberikan Fentanyl 150 g dan Midazolam 2
mg secara iv bolus.
4.
Kemudian dilanjutkan dengan Lorazepam 2 mg/jam dan Fentanyl
100 g/jam.
5.
Dilakukan penilaian skor sedasi (SS) dalam 30 menit.
6.
Bila SS < TS, diberikan bolus 2 mg Lorazepam dan dinaikkan 1
mg/jam (menjadi 3 mg/jam), Fentanyl dinaikkan 50 g/jam (menjadi 150
g/jam), kemudian dilakukan penilaian SS dalam 2 jam.
7.
Bila SS tidak < TS, dilakukan penilaian ulang SS dalam 2 jam.
8.
Bila dalam 2 jam, SS < TS, diberikan bolus 2 mg Lorazepam dan
dinaikkan 1 mg/jam (menjadi 4 mg/jam), Fentanyl dinaikkan 50g/jam
(menjadi 200g/jam), kemudian dilakukan penilaian SS dalam 2 jam.
9.
Bila SS tidak < TS, dilakukan evaluasi apakah dosis sedasi dapat
dititrasi dalam 4 jam
10.
Bila dapat dititrasi dalam 4 jam, tetesan rata-rata dipertahankan dan
SS dinilai ulang dalam 2 jam.
11.
Bila tidak dapat dititrasi dalam 4 jam, tetesan Lorazepam diturunkan
0.5 mg/jam dan Fentanyl diturunkan 50 g/jam kemudian dilakukan
penilaian SS dalam 2 jam.
12.
Kemudian dievaluasi apakah tetesan rata-rata tidak berubah dalam
12 jam.
13.
Bila tidak ada perubahan tetesan rata-rata dalam 12 jam, tetesan
rata-rata dipertahankan dan SS dinilai ulang dalam 2 jam.
14.
Bila tetesan rata-rata berubah dalam 12 jam, tetesan Lorazepam
diturunkan 0.5 mg/jam dan Fentanyl diturunkan 50g/jam. Kemudian
dilakukan penilaian SS dalam 2 jam.
15. Dilakukan penilaian apakah akan dilakukan pengurangan dosis sedasi
untuk mengevaluasi status mental.
16. Bila akan dilakukan evaluasi status mental, Lorazepam diturunkan
menjadi 0.16 mg/jam. Ditunggu perbaikan status mental dan dilakukan
penilaian SS yang baru.
17. Bila tidak akan dilakukan evaluasi status mental, diperiksa apakah ada
perubahan TS.
18. Bila ada perubahan TS, dilakukan reset TS.
19. Bila SS < TS, diberikan bolus 2 mg Midazolam dan kembali ke rata-rata
infuse awal Lorazepam dan Fentanyl.
20. Kemudian dilakukan penilaian ulang SS dalam 30 menit

Unit Terkait

1. UPF Anestesiologi dan Reanimasi

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

PROSEDUR SUPERPEEP
No. Dokumen
No. Revisi

Banda Aceh

04.05.B.004

SOP

Tanggal terbit

Halaman

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Tujuan

Penatalaksanaan dini pada pasien yang masuk dengan kriteria ARDS sejak
pasien masuk ke Instalasi Rawat Intensif

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka


morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

a. Kriteria Inklusi :
Setiap pasien dengan PaO2 yang tidak memberikan respon terhadap
FiO2 100% dan memenuhi kriteria ARDS (PaO2/FiO2 < 200, PAOP < 18
mmhg, CXR infiltrat 3 kuadran).
b. Kriteria Eksklusi :
Pasien dengan PaO2 yang memberikan respon terhadap FiO2 100%.

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Pemeriksaan PAC, bila tidak oxymetric, diubah ke oxymetric PAC.
2. Kemudian PEEP diberikan sampai 10 cmH2O dan dimonitor rerata TD<
PAOP, SaO2, SvO2.
3. Bila SaO2 100% dan SvO2 > 70%, pasien diobservasi selama 10 menit,
kemudian dilakukan pemeriksaan AGD, penghitungan compliance statis
dan dinamis.
4. Bila SaO2 belum mencapaiu 100% dan SvO2 < 70%, PEEP dinaikkan
sampai 15 cmH2O dan dimonitor rerata TD, PAOP, SaO2, SvO2.
5. Bila SaO2 100% dan SvO2 70%, pasien diobservasi selama 10 menit,
kemudian dilakukan pemeriksaan AGD, penghitungan compliance statis
dan dinamis.
6. Bila SaO2 belum mencapai 100% dan SvO2 < 70%, PEEP dinaikkan 3
cmH2O dan dimonitor rerata TD, PAOP, SaO2, SvO2.
7. Bila SaO2 < 100% dan SvO2 < 70% dengan rerata TD (MAP) < 70 dan
PAOP < 18 mmHg, diberikan RL 1 liter > 20 menit dan dilakukan
observasi terhadap respon.
8. Bila SaO2 < 100% dan SvO2 < 70% dengan rerata TD (Map) < 70 dan
PAOP > 18 mmHg, mulai diberikan Epinefrin 4 g/kg/menit secara titrasi
sesuai respon.

Unit Terkait

1. UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

PROSEDUR SYOK REPERFUSI I HIPOTENSI (MAP < 65 mmHg)


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

Banda Aceh

04.05.B.005

SOP

Tanggal terbit

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Penatalaksanaan dini pada pasien yang masuk dengan kriteria syok


reperfusi I, yaitu hipotensi (MAP < 65 mmHg) sejak pasien masuk ke
Instalasi Rawat Intensif

Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka


morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Penatalaksanaan syok reperfusi I dilakukan segera dengan target : TD


(MAP > 65 mmHg), PAOP > 18 mmHg, dan ScVO2 70%

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Dilakukan pengukuran PAOP
2. bila PAOP < 18 mmHg, diberikan bolus RL 10 cc/kg sampai PAOP > 18
mmHg.
3. Bila PAOP > 18 mmHg dan SVRI < 30, dilakukan pengukuran CI.
4. Bila CI < 4.5 atau > 4.5, diberikan Norepinefrin secara titrasi sampai
MAP > 65.
5. Kemudian dilakukan pengukuran TD, PAC, dan SvO2.
6. Bila hasil pengukuran TD, PAC, dan SvO2 tercapai, maka reperfusi telah
berhasil dilakukan.
7. Bila TD, PAC, dan SvO2 tidak tercapai, dilakukan pengukuran PAOP
kembali seperti sebelumnya.

Unit Terkait

1. UPF Anestesiologi dan terapi intensif


2. UPF kardiologi
3. UPF bedah thorax dan kardiovaskular

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

PROSEDUR SYOK REPERFUSI II NORMOTENSI (70<MAP<110 mmHg)


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

Banda Aceh

04.05.B.006

SOP

Tanggal terbit

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Tujuan

Penatalaksanaan dini pada pasien yang masuk dengan kriteria syok


reperfusi II, yaitu normotensi (70<MAP<110 mmHg) sejak pasien masuk ke
Instalasi Rawat Intensif
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Penatalaksanaan syok reperfusi II dilakukan segera dengan target :


PAOP>18 mmHg, SVRI>30, CI>4.5

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Dilakukan pemeriksaan LAC, ER, dan MvO2.
2. Bila CI>4.5, dilakukan monitoring DO2I dan VO2I.
3. Bila CI<4.5, dilakukan pengukuran PAOP dan mPA.
4. Bila PAOP > 18, SVRI > 30, dan mPA < 35, diberikan Dobutamin 7.5
g/kg/menit.
5. Bila PAOP > 18, SVRI > 30, dan mPA > 35, diberikan MIRINON bolus 50
g/kg, dilanjutkan dengan drip 25 g/kg/menit selama 1 jam. Setelah itu
kecepatan pemberian dapat dinaikkan sampai 50 g/kg/menit.
6. Bila PAOP < 18, diberikan bolus RL 10 cc/kg sampai PAOP > 18 mmHg.
7. Kemudian dilakukan pengukuran PAOP dan mPA kembali seperti
sebelumnya.

Unit Terkait

1. UPF Anestesiologi dan terapi intensif


2. UPF kardiologi
3. UPF bedah thorax dan kardiovaskular

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

PROSEDUR SYOK REPERFUSI III HIPERTENSI (MAP110 mmHg)


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

Banda Aceh

04.05.B.007

SOP

Tanggal terbit

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Tujuan

Penatalaksanaan dini pada pasien yang masuk dengan kriteria syok


reperfusi III, yaitu hipertensi (MAP110 mmHg) sejak pasien masuk ke
Instalasi Rawat Intensif
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Penatalaksanaan syok reperfusi III dilakukan segera dengan target : saturasi


O2 dan compliance normal, PAOP > 18 mmHg, SVRI < 30, laktat normal

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Pemberian sedasi dan analgesi pada pasien yang belum diberikan
sedasi maupun analgesi.
2. Dilakukan pengukuran saturasi O2 dan compliance.
3. Bila hasil pengukuran saturasi O2 dan compliance tidak normal,
diberikan terapi.
4. Bila hasil pengukuran saturasi O2 dan compliance normal, dilakukan
pengukuran PAOP.
5. Bila PAOP < 18 mmHg, diberikan bolus RL 10 cc/kg sampai PAOP > 18
mmHg.
6. Bila PAOP > 18 mmHg, dilakukan pengukuran CI dan SVRI
7. Bila CI < 4.5 dan SVRI > 30, diberikan SNP 1-3 g/kg/menit secara
titrasi sampai SVRI < 30.
8. Bila SNP diberikan > 5g/kg/menit selama > 24 jam dan kreatinin > 2.0
mg/dl, diganti dengan Cardene.
9. Bila CI < 4.5, SVRI < 30, laktat normal, atau CI > 4.5, dilakukan monitor
DO2I dan VO2I.

Unit Terkait

1. UPF Anestesiologi dan terapi intensif


2. UPF kardiologi
3. UPF bedah thorax dan kardiovaskular

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

PROSEDUR PENATALAKSANAAN ATRIAL FIBRILASI


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

Banda Aceh

04.05.B.008

SOP

Tanggal terbit

1/2
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Tujuan

Penatalaksanaan dini pada pasien yang masuk dengan takikardia


(110<HR<140) disertai perubahan hemodinamik sejak pasien masuk ke
Instalasi Rawat Intensif
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Penatalaksanaan atrial fibrilasi dilakukan segera dengan memperhatikan


stabilitas hemodinamik

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Penilaian stabilitas hemodinamik pasien, bila hemodinamik tidak stabil,
TDS < 90 mmHg, HR > 140x/menit, dilakukan synchronized
cardioversion (100 J, 200 J, 300 J, 360 J).
2. Bila hemodinamik stabil, HR<110x/menit, dan pasien tanpa Ditiazem,
dilakukan pemeriksaan klirens kreatinin.
3. Bila klirens kreatinin < 30 ml/menit, diberikan Digoksin 0.25 mg dan
diulang setelah 4 jam.
4. Bila pasien atrial fibrilasi , diberikan Prokainamid 10-15 mg/kg lebih dari
30 menit diikuti dengan infus 1-3 mg/menit.
5. Kemudian dievaluasi apakah pasien dalam irama sinus.
6. Bila sudah dalam irama sinus, infus Prokainamid diteruskan selama 24
jam dan dimonitor kadar Prokain/Napa.
7. Bila masih belum dalam irama sinus, infuse Prokainamid ditingkatkan
menjadi 1 mg/ml.
8. Dievaluasi kembali apakah pasien dalam irama sinus, bila masih belum,
dilakukan pemeriksaan kadar Prokainamid/Napa.
9. Bila Pasien dalam irama sinus, dilakukan seperti no.6.
10. Bila klirens kreatinin > 30 ml/menit, diberikan Digoksin 0.5 mg, setelah 4
jam diberikan lagi 0.25 mg dan diulangi setiap 4 jam.
11. Bila hemodinamik stabil, HR<110x/menit, dan pasien dengan Ditiazem,
dilakukan tindakan seperti no.4, 5, 6, atau 7, 8.
12. Bila hemodinamik stabil, TDS > 90 mmHg, 110<HR<140, diberikan
Ditiazem 0.25 mg/kg lebih dari 2 menit.
13. Bila HR>110x/menit setelah 15 menit, diberikan bolus ulang Ditiazem
0.35 mg/kg lebih dari 2 menit.
14. Tetapi bila HR<110x/menit setelah 15 menit dan pasien atrial fibrilasi,
dilakukan tindakan seperti no. 4, 5, 6, atau 7, 8.
15. Bila setelah pasien mendapatkan 2x bolus Ditiazem, HR<110x/menit,
diberikan Ditiazem 5-15 mg/jam.
16. Bila setelah pasien mendapatkan 2x bolus Ditiazem,
110<HR<140x/menit, diberikan Esmolol 500 g/kg selama lebih dari 1
menit, kemudian mulai drip 50 g/kg/menit.
17. Bila 110<HR<140x/menit, diberikan bolus ulang Esmolol 500 g/kg
selama lebih dari 1 menit, dan diteruskan dengan infus 50 g/kg/menit.
18. Bila HR>110x/menit dan TDS < 90 mmHg, dilakukan kardioversi.
19. Bila HR>110x/menit dan TDS > 90 mmHg, Esmolol drip ditingkatkan
menjadi 50 g/kg/menit sampai maksimal 200 g/kg/menit.

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

PROSEDUR PENATALAKSANAAN ATRIAL FIBRILASI


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

Banda Aceh

04.05.B.008

SOP

Tanggal terbit

2/2

6 Agustus 2012
Prosedur

Unit Terkait

20. Bila HR>110x/menit dengan Esmolol 200 g/kg/menit, dilakukan


kardioversi.
21. Bila HR<110x/menit dengan Esmolol 200 g/kg/menit, drip tersebut
dapat dilanjutkan.
22. Bila setelah dilakukan tindakan no.5 HR<110x/menit, rumatan Esmolol
infus 50g/kg/menit dilanjutkan.
23. Bila tidak terjadi atrial fibrilasi, Esmolol drip dilanjutkan.
24. Bila terjadi atrial fibrilasi, dilakukan tindakan seperti dalam no. 4, 5, 6,
atau 7, 8.
1. UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif
2. UPF Ilmu Penyakit Dalam
3. UPF Kardiologi

PROSEDUR PENATALAKSANAAN DEMAM LEUKOSITOSIS


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

04.05.B.009

SOP

Tanggal terbit

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian
Tujuan

Penatalaksanaan dini pada pasien yang mengalami demam (suhu > 38C)
dan leukositosis yang dirawat di Instalasi Rawat Intensif
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Penatalaksanaan dilakukan segera setelah ditemukan gejala dan tandatanda demam/leukositosis

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Resusitasi cairan dengan kristaloid dan koloid sejak 6 jam pertama jika
CVP<8 mmHg.
2. Berikan suplemen O2.
3. Intubasi dan pemasangan ventilator mekanik dengan menggunakan
sedasi, pelumpuh otot atau keduanya (bila perlu).
4. Pemasangan CVC dan arteri line.
5. Pertahankan MAP antara 65-90 mmHg dengan obat vasoaktif (bila
perlu).
6. Bila ScVO2 < 70% tranfusi PRC sampai Ht 30% dengan target
ScVO2 70%. Bila ScVO2 masih < 70% inotropik Dobutamin dimulai
dengan dosis 2.5 g/kg/mnt. Dobutamin dikurangi atau dihentikan bila
MAP < 65 mmHg atau HR > 120x/mnt.
7. Bila target ScVO2 70% belum tercapai dapat digunakan sedasi dan
pelumpuh otot (knockdown).

Unit Terkait

1.
2.
3.
4.
5.
6.

UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif


UPF Ilmu Penyakit Dalam
UPF Ilmu Bedah
UPF Ilmu Penyakit Saraf
UPF Obstetri dan Ginekologi
UPF Ilmu Kesehatan Anak

PROSEDUR EVALUASI ALKALEMIA


No. Dokumen
No. Revisi

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

04.05.B.010

SOP

Tanggal terbit

Halaman

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian
Tujuan

Penatalaksanaan dini pada pasien yang masuk dengan kriteria alkalemia


(PH>7.45) sejak pasien masuk ke Instalasi Rawat Intensif
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Evaluasi alkalemia dilakukan segera terhadap pasien dengan pH>7.45 baik


alkalosis respiratorik maupun metabolik

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Apabila hasil AGD menunjukkan pH>7.45 dan pCO2 < 35 mmHg,
pasien dalam keadaan alkalosis respiratorik.
2. Bila pH > 0.008 (pCO2) menunjukkan alkalosis respiratorik akut.
3. Bila pH < 0.008 (pCO2) menunjukkan alkalosis respiratorik tidak akut
dan dilihat apakah kompensasi ginjal sesuai, yaitu awal (1-2 jam) :
HCO3 = 0.2 (pCO2), lambat (2 hari) : HCO3 = 0.5 (pCO2).
4. Bila kompensasi ginjal tidak sesuai, berarti terjadi superimposed 1
gangguan metabolic atau kompensasi inkomplit.
5. Apabila hasil AGD menunjukkan pH> 7.45 dan HCO3 > 28 mmol/L,
pasien dalam keadaan alkalosis metabolik.
6. Bila kompensasi respiratorik sesuai : pCO2 = 0.7 (HCO3)+211.5 , dan
pCO2 aktual < perkiraan, berarti alkalosis respiratorik hidden 1.
7. Bila pCO2 aktual>perkiraan, berarti terjadi asidosis respiratorik hidden
1.

Unit Terkait

1.
2.
3.
4.
5.
6.

UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif


UPF Ilmu Penyakit Dalam
UPF Ilmu Bedah
UPF Ilmu Penyakit Saraf
UPF Obstetri dan Ginekologi
UPF Ilmu Kesehatan Anak

PROSEDUR EVALUASI ASIDOSIS


No. Dokumen
No. Revisi

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

04.05.B.011

SOP

Tanggal terbit

Halaman

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian
Tujuan

Penatalaksanaan dini pada pasien yang masuk dengan kriteria asidosis


(PH<7.35) sejak pasien masuk ke Instalasi Rawat Intensif
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Evaluasi asidosis dilakukan segera terhadap pasien dengan pH<7.35 baik


asidosis respiratorik maupun metabolik

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Apabila hasil AGD menunjukkan pH<7.35 dan pCO2 > 45 mmHg,
pasien dalam keadaan asidosis respiratorik.
2. Bila pH > 0.008 (pCO2) menunjukkan asidosis respiratorik akut.
3. Bila pH < 0.008 (pCO2) menunjukkan asidosis respiratorik tidak akut
dan dilihat apakah kompensasi ginjal sesuai, yaitu awal (6-24 jam) :
HCO3 = 0.1 (pCO2), lambat (1-4 hari) : HCO3 = 0.1 (pCO2).
4. Bila kompensasi ginjal tidak sesuai, berarti terjadi superimposed 1
gangguan metabolic atau kompensasi inkomplit.
5. Apabila hasil AGD menunjukkan pH< 7.35 dan HCO3 < 20 mmol/L,
pasien dalam keadaan asidosis metabolik.
6. Bila kompensasi respiratorik sesuai : pCO2 = 1.5 (HCO3)+82 , dan
pCO2 aktual < perkiraan, berarti alkalosis respiratorik hidden 1.
7. Bila pCO2 aktual>perkiraan, berarti terjadi asidosis respiratorik hidden
1. Kemudian dilihat anion gap.
8. Bila HCO3 > Gap menunjukkan asidosis NAG hidden 1.
9. Bila HCO3 < Gap menunjukkan alkalosis metabolik hidden 1.

Unit Terkait

1.
2.
3.
4.
5.
6.

UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif


UPF Ilmu Penyakit Dalam
UPF Ilmu Bedah
UPF Ilmu Penyakit Saraf
UPF Obstetri dan Ginekologi
UPF Ilmu Kesehatan Anak

PROSEDUR EVALUASI EFEKTIVITAS BRONKODILATOR


RS Ibu dan Anak
Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

SOP

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

04.05.B.012

1/1

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Penatalaksanaan dini pada pasien yang dirawat dan memerlukan terapi


bronkodilator di Instalasi Rawat Intensif

Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka


morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Efektivitas bronkodilator yang digunakan dievaluasi dengan mengukur


perbedaan PIP dan PP sebesar > 10 cmH2O.

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Dilakukan pengukuran PIP dan PP.
2. Bila perbedaan PIP dan PP < 10 cm H2O, jangan digunakan
bronkodilator.
3. Bila perbedaan PIP dan PP > 10 cm H2O, diberikan bronkodilator,
kemudian PIP diukur ulang dalam 30 menit.
4. Apabila PIP menurun 5 cmH2O, bronkodilator dapat diberikan tiap 6
jam.
5. Bila PIP menurun < 5 cmH2O, jangan digunakan bronkodilator.

Unit Terkait

1. UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif


2. UPF Ilmu Penyakit Dalam

PROSEDUR PENATALAKSANAAN GAGAL WEANING


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

04.05.B.013

SOP

Tanggal terbit

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian
Tujuan

Penatalaksanaan dini pada pasien yang mengalami gagal weaning di


Instalasi Rawat Intensif
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

Penatalaksanaan dilakukan segera setelah pasien mengalami gagal


weaning dalam waktu > 72 jam

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Pasien mengalami gagal weaning > 72 jam dan menggunakan ventilator
dengan mode PS maksimal.
2. Dilakukan weaning dengan menurunkan PS sampai 50%/2-4 jam
3. Bila HR < 100x/menit, RR < 30x/menit, dan pasien menunjukkan
toleransi, weaning dapat diteruskan dengan menurunkan PS 5 cm/2 jam
sampai CPAP dan dicoba dengan udara ruangan.
4. Dilakukan pemeriksaan AGD, bila hasilnya 7.38<pH<7.45,
35<pCO2<55, dan PaO2 > 55, dihitung RSBI.
5. Bila hasil RSBI>50, dapat dilakukan ekstubasi.
6. Bila hasil AGD masih belum mememnuhi kriteria (seperti yang tersebut
pada no.4), atau RSBI > 50, mode ventilator kembali menggunakan PS
maksimal dan kembali mengikuti langkah no.2, 3, dan 4.
7. Bila setelah dilakukan tindakan no.2, pasien tidak menunjukkan
toleransi, HR>100x/menit, dan RR>30x/Menit, digunakan mode
CPAP+PS, dan dinilai ventilasi.
8. Bila terjadi hiperkapni diberikan anti cemas non sedasi, bila hipokapni
dilakukan D/C sedasi.
9. Bila ventilasi baik dan hiper/hipokapni dapat diatasi, weaning dapat
diulangi seperti no.1, 2, 3, 4, dan 5.
10. Bila pengulangan weaning tidak member hasil yang baik, dilakukan
penilaian dan perbaikan atau terapi terhadap paru-paru, jantung
(apakah ada disfungsi diastolic atau CHF), nutrisi, elektrolit, endokrin
(endokrinopati, pemeriksaan TFT dan kortisol), dan neuropati.
11. Bila tiap-tiap masalah tersebut telah diterapi, dapat dicoba kembali
pengulangan weaning.
12. Bila masih belum bisa dilakukan weaning, dilakukan evaluasi terhadap
penyebab dasar (infeksi atau abses), dan diberikan terapinya, dan
dicoba kembali pengulangan weaning.
13. Bila pasien sudah > 5 hari menjalani pengulangan weaning, dilakukan
trakheostomi, dan dilakukan kembali pengulangan weaning.
14. Bila pasien menunjukkan toleransi yang baik, weaning dilanjutkan.
15. Bila tidak menunjukkan toleransi, dilakukan pengukuran P/T muscle
strength.

Unit Terkait

1.
2.
3.
4.
5.

UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif


UPF Ilmu Penyakit Dalam
UPF Ilmu Bedah
UPF Ilmu Penyakit Saraf
UPF Telinga, Hidung, dan Tenggorokan

PROSEDUR PEMBERIAN ANTIBIOTIK UNTUK


PENATALAKSANAAN INFEKSI
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

04.05.B.14

SOP

Tanggal terbit

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

Penatalaksanaan dini pada pasien yang masuk dengan kriteria syok


reperfusi III, yaitu hipertensi (MAP 110 mmHg) sejak pasien masuk ke
ruang Intensif Care Unit (ICU)
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas
EGDT dilakukan segera dalam 6 jam pertama dengan target: CVP 8-12
mmHg, MAP 65 90 mmHg, Urine 0,5 cc/kg/jam, ScV2 70%,SaO2.
93%, Ht 30%
Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh dokter
ICU :
1. Resusitasi cairan dengan kristaloid dan koloid sejak 6 jam pertama jika
CVP < 8 mmHg
1. Berikan suplemen O2
2. Intubasi dan pemasangan ventilator mekanik dengan menggunakan
sedasi,pelumpuh otot atau keduanya (bila Perlu)
3. Pemasangan CVP dan Arteri line
4. Pertahankan MAP antara 65-90 mmHg dengan obat vasoaktif (bila perlu)
5. Bila ScVO2 < 70% Inotropik Dobutamin dimulai dengan dengan dosis
2.5 g /kg/mnt. Dobutamin dikurangi atau dihentikan bila MAP < 65
mmHg atau HR > 120 x mnt
6. Bila Target ScVO2 70% belum tercapai dapat digunakan sedasi dan
pelumpuh otot (knockdown)
1.
2.
3.
4.
5.
6.

UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif


UPF Ilmu Pemyakit Dalam
UPF Ilmu Bedah
UPF Ilmu Penyakit Saraf
UPF Obstetri dan Ginekologi
UPF Ilmu Kesehatan Anak

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

PROSEDUR PENATALAKSANAAN PERDARAHAN


SALURAN CERNA BAGIAN BAWAH
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

Banda Aceh

04.05.B.015

SOP

Tanggal terbit

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian
Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Penatalaksanaan dini pada pasien yang dirawat di Instalasi Rawat Intensif


dengan perdarahan saluran cerna bagian bawah
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas
Penatalaksanaan perdarahan saluran cerna bagian bawah ini dilakukan
terhadap pasian dengan MAP 70 mmHg, HR 100x/menit, atau Hb < 10
mg/dl dan umur > 70 tahun
Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh dokter
ICU:
1. Pada pasien yang memenuhi kriteria, dilakukan monitor dan
pemasangan NGT.Bila tidak memenuhi kriteria, dilakukan tindakan
observasi
2. Setelah dilakukan pemasangan NGT,dievaluasi jenis cairan yang keluar
melalui NGT
3. Bila berupa darah, dilakukan W/U UGIB
4. Bila bukan darah maupun cairan empedu, NGT dipertahankan selama
20 menit sampai adanya cairan empedu
5. Bila didapatkan cairan empedu, dilakukan pengukuran MAP
6. Bila MAP < 70 mmHg, diberikan bolus RL 1 liter/15 menit dan transfusi
dimulai
7. Bila MAP belum mencapai 70mmHg,diberikan ulang bolus RL 1 L/15
menit dan transfusi dilanjutkan
8. Bila MAP masih belum mencapai 70 mmHg,dilakukan subtotal
kolektomi
9. Bila MAP mencapai 70 mmHg dan tidak ada hematikhesia, dilakukan
scan perdarahan.Bila didapatkan hematokhesia,dialkukan angiography
10. Bila MAP 70 mmHg, dilakukan sigmoidoskopi
11. Bila hasil sigmoidoskopi menunjukkan adanya perdarahan hemoroid,
dilakukan hemoroidektomi
12. Bila tidak didapatkan perdarahan hemoriodektomi,dilakukan scan
perdarahan
13. Bila hasil scan perdarahan (-),dilakukan observasi penurunan
hematikrit.Bila HCT mengalami penurunan > 6 U,dilakukan subtotal
kolektomi
14. Bila tidak terjadi penurunan HCT > 6 U,dilakukan kolonoskopi
15. Bila hasil scan perdarahan (+), dilakukan angiography
16. Bila hasil angiography (+), dan didapatkan CAD,dilakukan embolisasi
17. Bila hasil angiography (+) dan tidak didapatkan CAD,diberikan piitressin
0.2 U/menit
18. Bila hasil angiography (-) dan MAP < 70 mmHg, atau hasil angiography
(-) dan MAP 70 mmHg,disertai penurunan HCT > 6 U,dilakukan
subtotal kolektomi
19. Bila hasil angiography (-) dan MAP mmHg,tanpa disertai penurunan
HCT > 6 U,dilakukan scan perdarahan atau kolonoskopi.
1. UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif

Unit Terkait

2. UPF Ilmu Penyakit Dalam


3. UPF Ilmu Bedah

SEPSIS DAN SYOK SEPTIK DEWASA


RS Ibu dan Anak
Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

SOP

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

04.05.B.016

1/1

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

- Sepsis adalah sindroma respon inflamasi sistemik disertai dengan


ditemukannya bakteriemi
- Sindroma respon inflamasi sistemik adalah ditemukannya 2 gejala sbb:
Takhikardia (> 90 x/min)
Takhipneu (RR > 20 or PCO2 <35 mmHg)
Hipertermi atau hipotermi (>38C or < 36C)
Lekositosis atau lekopeni (lekosit > 12000/mm atau < 4000/mm)
- Syok septik adalah sepsis berat disertai hipotensi yang tidak responsif
terhadap terapi cairan.
Menurunkan angka mortalitas dan morbiditas

Tujuan

Kebijakan

Kriteria inklusi:
Pasien-pasien dewasa yang didiagnosis sepsis dan syok septik
Kriteria Eksklusi:
Pasien-pasien sepsis dan syok septic yang telah disertai multi organ failure
(MOF)

Prosedur
Unit Terkait

Pasien-pasien yang sudah terdiagnosis sepsis


Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Bagian Bedah
Bagian Obstetri dan Ginekologi

POLIURIA DI ICU
RS Ibu dan Anak
Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

SOP

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

04.05.B.017

1/1

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Poliuria adalah produksi urine yang berlebihan dalam 24 jam (> 2,8 liter per
24 jam / > 3 liter per 24 jam)
Penurunan produksi urine per 24 jam dan keseimbangan cairan dan elektrolit

Tujuan
Kebijakan

Tanda-tanda hipovolemik yaitu:


Hipotensi
Takhikardi
Tanda-tanda syok
Gejala penurunan kesadaran
Tanda-tanda tersebut disebabakan oleh hipertermi dan peningkatan osmolalitas
serum
Kriteria diagnosis:
Poliuria > 30 ml/kg/jam (>5 liter / 24 jam)
Hipernatremi
Penurunan Na. urin
Peningkatan osmolalitas serum
Penurunan osmolalitas urin < 150 mMol/L
BJ urin < 1,002

Prosedur

Unit Terkait

Monitoring
Monitoring kardiovaskuler
Pemasangan CVP untuk monitoring volume intra vaskuler
Monitoring cairan masuk dan keluar
Monitoring jumlah urin / jam
Terapi
- Koreksi hipovolemik dengan hipotonik saline / D5W :
A. Cairan rumatan + (75% x jumlah urin 1 jam sebelumnya atau
B. Cairan rumatan + (jumlah urin 1 jam sebelumnya 50 cc)
- Jika urin > 300 ml/jam berikan desmopresin (minirin)nasal spray (1
2 semprotan) tiap 12 jam (DD/dengan Nefrogenik D I)
- Karbamazepin 3 x 200 mg
- Chlorpropamide
Ilmu Penyakit Dalam
Bagian Bedah
Bagian Neurologi
-

TERAPI INSULIN INTENSIF


RS Ibu dan Anak

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Banda Aceh

04.05.B.018

1/1

SOP

Tanggal terbit

Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Terapi insulin intensif adalah suatu pengaturan kadar gula darahcyang ketat
untuk mencapai kadar gula darah antara 110-140 mg/dL pada pasien-pasien
kritis dengan memberikan insulin sesuai dengan kadar gula darahnya. Pada
penelitian yang dilakukan pada 1548 pasien-pasien sakit kritis didapatkan
bahwa pengaturan gula darah yang ketat antara 80-110mg/dL dapat
menurunkan angka mortalitas dan morbiditas
Menurunkan angka mortalitas dan morbiditas

Tujuan
Kebijakan

Kriteria Inklusi :
Semua pasien kritis yang masuk ke ICU
Kriteria Ekslusi :
Pasien-pasien sakit berat sehingga ditetapkan sebagai DNAR

Prosedur
Unit Terkait

Pasien yang masuk ICU diberikan terapi insulin sesuai dengan kadar gula
darahnya.prosedur yang lebih lengkap dapat dilihat pada lampiran
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Bagian Bedah
Bagian Neurologi
Bagian orthopedic
Bagian Kulit dan Kelamin

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

PROSEDUR PENATALAKSANAAN PEEP PADA ARDS


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

Banda Aceh

04.05.B.019

SOP

Tanggal terbit

1/1
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian
Tujuan

Penatalaksanaan pemberian PEEP pada pasien yang masuk dengan kriteria


ARDS sejak pasien masuk ke Instalasi Rawat Intensif
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memperkecil angka
morbiditas dan mortalitas

Kebijakan

a. Kriteria Inklusi :
Setiap pasien dengan PaO2 yang tidak memberikan respon terhadap
FiO2 100% dan memenuhi kriteria ARDS (PaO2/FiO2 < 300, PAOP < 18
mmHg, CXR infiltrat 3 kuadran).
b. Kriteria Eksklusi :
Pasien dengan PaO2 yang memberikan respon terhadap FiO2 100%.

Prosedur

Pasien masuk ke ICU dan dilakukan pemeriksaan serta evaluasi oleh Dokter
ICU :
1. Pasien memenuhi criteria ALI/ARDS, diberikan PEEP 10 cmH2O,
dimonitor MAP dan SaO2.
2. Bila SaO2 mencapai 100%, dilakukan monitor selama 15 menit dan
diperiksa AGD serta dihitung compliance.
3. Bila hasil AGD menunjukkan PaO2 > 120, FiO2 diturunkan 10% tiap 10
menit sampai FiO2 < 50%.
4. Bila dengan FiO2 < 50%, SaO2 < 92%, PEEP dipertahankan dan FiO2
ditingkatkan ke level sebelumnya.
5. Bila setelah pemberian PEEP 10 cmH2O (pada no.1) SaO2 < 100%,
PEEP ditingkatkan sampai 15 cmH2O, kemudian dimonitor kembali
MAP dan SaO2.
6. Bila SaO2 100% tercapai, dilakukan tindakan seperti no.2, 3, dan 4.
7. Bila SaO2 tidak mencapai 100%, pasien diberikan sedasi dan paralisis,
pemasangan oksimetri dan Swan Ganz catheter, serta dilakukan
kalkulasi shunt dan PEEP ditingkatkan sampai 18 cmH2O.
8. Bila SaO2 100%, dialkukan tindakan seperti no.2, 3, dan 4.
9. Bila SaO2 < 100%, PEEP ditingkatkan 3 cmH2O setiap 5 menit, dan
dimonitor MAP, SaO2 serta SvO2.
10. Bila SvO2 < 75% dan IPAOP < 18 mmHg, diberikan RL 1 liter dalam 20
menit, kemudian diperiksa kembali SvO2.
11. Bila SvO2 < 75% dan IPAOP > 18 mmHg, mulai diberikan Epinefrin 4
g/menit secara titrasi sampai SvO2 > 75%.
12. Bila SvO2 > 75%, MAP > 70, dan SaO2 100%, dilakukan tindakan
seperti no.2, 3, dan 4.
13. Bila SvO2 > 75%, Map > 70, dan SaO2 < 100%, dilakukan tindakan
seperti no.9, 10, 11, dan 12.
14. PEEP diturunkan dalam 12-24 jam berikutnya, SaO2 dipertahankan
> 92%.
15. Bila SaO2 turun sampai < 92%, PEEP ditingkatkan ke setting
sebelumnya.
16.

Unit Terkait

1. UPF Anestesiologi dan Terapi Intensif

DAFTAR ISI
Halaman
1.

Therapi Pengaturan Gula Darah (Glucose Thight Control)........................................................


1

2.

Prosedur Pengelolaan Ngt Dan Nutrisi Enteral..........................................................................


3

3.

Prosedur Sedasi Jangka Panjang (> 48 Jam)...........................................................................


4

4.

Prosedur Superpeep..
5

5.

Prosedur Syok Reperfusi I Hipotensi (MAP < 65 mmHg)....


6

6.

Prosedur Syok Reperfusi II Normotensi (70<MAP<110 mmHg)...............................................


7

7.

Prosedur Syok Reperfusi III Hipertensi (MAP110 mmhg).......................................................


8

8.

Prosedur Penatalaksanaan Atrial Fibrilasi.


9

9.

Prosedur Penatalaksanaan Demam Leukositosis....................................................................


11

10.

Prosedur Evaluasi Alkalemia...


12
11.

Prosedur Evaluasi Asidosis.


13

12.

Prosedur Evaluasi Efektivitas Bronkodilator


14

13.

Prosedur Penatalaksanaan Gagal Weaning


15

14.

Prosedur Pemberian Antibiotik Untuk Penatalaksanaan Infeksi ..............................................


16

15.

Prosedur Penatalaksanaan Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah ........


17

16.

Sepsis dan Syok Septik Dewasa ..........


18

17.

Poliuria di ICU .........................................................................................................................


19

18.

Terapi Insulin Intensif ..............................................................................................................


20

19.

Prosedur Penatalaksanaan PEEP pada ARDS .....................................................................


21

20.

Pemberian Obat Inhaler Melalui Mulut ...................................................................................


22

21.

Memberikan terapi Oksigen Menggunakan Kanula Mono Nasal ..........................................


23

22.

Menghitung Denyut Nadi ........................................................................................................


24

23.

Mengukur Suhu ....................................................................................................................


25

24.

Tehnik Pemasangan Kateter .................................................................................................


26

25.

Pemasangan NGT..................................................................................................................
27

26.

Mengukur Tekanan Darah .....................................................................................................


29

27.

Memberikan terapi Oksigen Menggunakan Masker Sederhana ...........................................


30

28.

Menghisap Lendir Orofaring dan Nasofaring ........................................................................


32

29.

Menghisap Lendir Trakheo Bronkhial ..................................................................................


34

30.

Mengganti Linen Kotor dengan Pasien di Atas Tempat Tidur...............................................


37

31.

Penanganan Pasien Tirah Baring ..........................................................................................


39

DAFTAR ISI
Halaman
1.

Identifikasi Bayi dan Anak........................................................


1

2.

Menimbang Berat Badan............................................................................................................


2

3.

Penghisapan Lendir pada pasien Bayi dan Anak.......................................................................


3

4.

Memberikan Minum Bayi....


4

5.

RJP pada Anak....


6

6.

Pemberian Tranfusi darah pada Anak......................................................................................


8

7.

Menyiapkan Pasien Bayi/Anak Yang Akan Pulang...................................................................


9
8.

Suction......................................................
11

9.

Monitoring Tabung Oksigen dan Oksigen Sentral....................................................................


13

10.

Terapi Nebulizer.......................
14

11.

Memasang NGT..
15

12.

Memberika ASI melalui NGT.. .


17

13.

Penanganan Bayi dengan Hipotermi.


18

14.

Penanganan Neonatus dengan Celah Bibir dan Palatum..............................................


19

UNIT PELAYANAN INTENSIF


GENERAL INTENSIVE CARE UNIT
PERJAN RS. Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG
PROSEDUR TETAP
NOMOR
PS. 14.05.03

Perjan Rumah
Hasan Sadikin

Sakit

TANGGAL
TERBIT

REVISI KE
00

HALAMAN
1/3

DITETAPKAN OLEH :
DIREKTUR UTAMA
PERJAN RS Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

September 2007

PROSEDUR
TETAP
PEMBERIAN
THERAPI LISTRIK
(DEFIBRILASI)

1. Pengertian

2. Tujuan

3. Kebijakan

DR. Dr. Cissy R. Sudjana P., Sp. A(K)., M. Sc.


NIP 140 086 929

Therapi yang menggunakan listrik dalam waktu yang singkat secara asinkon pada
gelombang EKG Ventrikel Fibrilasi atau Vertikel Takinardi tanpa nadi sehingga terjadi
depolarisasi sel-sel miokard, repolarisasi dan kontraksi kembali.
Untuk mengembalikan irama jantung dari irama yang mengancam jiwa, sehingga
memungkinkan timbulnya kembali aktivitas listrik jantung yang terkoordinasi.
- Pemberian terapi listrik (Defibrilasi) berdasarkan kebutuhan pasien dan sesuai program
pengobatan
- Sebagai pedoman langkah-langkah perawat dalam pelaksanaan Defibrilasi
- Pelaksanaan penggunaan defibrillator hanya direkomendasikan bagi perawat dan dokter
yang telah memiliki sertifikat pelatihan ACLS (Advance Cardiac Live Support).

Prosedur

a.

2.
3.
4.
5.
6.

Tahap persiapan.
Siapkan alat-alat :
1. Defibrilator
2. Jelly
3. Troli Emergency yang berisi :
Resuscitation bag
Intubasi set
Disposible
Abocath
Infus set
Perfusor
4. Monitor EKG
5. Tissue pembersih
6. Oksigen
Siapkan pasien :
1. Pasang monitor EKG
Buat rekaman EKG
Pasang IV line
Posisi pasien terlentang
Beri oksigen
Observasi tanda - tanda vital

b. Tahapan Pelaksanaan
Perhatikan gambaran irama jantung di layer bed side monitor
Rasional : Perubahan tiba-tiba dari irama jantung akan membedakan tahapan
intervensi yang akan diberikan
Hubungkan kabel listrik ke sumber listrik
Rasional : untuk mendapatkan aliran listrik
Berikan jelly pada kedua paddle
Hidupkan defibrillator (pewer on)
5. Letakkan paddle apex pada posisi apkes (ICS V) mid klafikula kiri dan paddle
sternum pada garis stemal kanan dibawah klavikula (ICS II) dengan tekanan 10
12 kg
Rasional : ICS V merupakan letak atrio ventricular nodal dan ICS II merupakan
letaksino atrial nodal
6. Beri energi langgsung 360 joule
Rasional :
setelah 360j listrik jantung tidak berespon, jantung berhenti sirkulasi, sehingga
resusitasi jantung akan mengembalikan sirkulasi dan defibrilasi dapat diulang
setelah 1 menit dengsn energi yang sama sebesar 360j lagi sampai gambaran irama
jantung berubah
Tekan tombol pengisi energi (charger)
Rasional :
energi listrik tidak akan dikeluarkan bila tombol charge diaktifkan
8.

Jika energi sudah terisi dan siap dilepaskan, beri aba-aba pada lingkungan sekitar
Clear area, DC Siap?, OK dengan suara keras
Rasional :
energi listrik memiliki sistim konduksi. Pemberian aba-aba untuk menghindari
kecelakaan antara petugas yang masih kontak dengan tubuh pasien.
Tekan tombol pada kedua paddle secara bersamaan
Rasional :
pelepasan energi secara bersamaan akan menghentikan kedua nadus jantung secara
bersamaan pula
10. Nilai kembali irama gambaran EKG pada monitor setelah dilakukan defibrilasi
Rasional :
jika irama EKG masih menunjukan Ventrikel Fibrilasi/ Ventrikel Takhikardi tanpa
nadi, energi dapat dinaikkan menjadi 300 j maksimal 2x ulang dalam jarak 5 menit
dan paddle masih tetap diletakkan pada tubuh pasien (apabila gambaran EKG
meragukan, periksa nadi dan sensor elektroda EKG)
11. Apabila setelah 2x 300j belum berhasil, energi dapat dinaikkan sampai batas
maksimal 360j dan boleh diulang dengan energi yang sama sebesar 360j diikuti
pemberian Adrenalin 1 mg setiap 5 menit (drug shock drug shock)
Rasional :
jantung tidak akan berespon lagi dengan pemberian energi dibawahnya
12. Periksa kembali apakah perlu untuk mengakhiri defibrilasi jika irama listrik
jantung di monitor EKG masih tetap Fibrilasi (lakukan sesuai prosedur Algoritma
ACLS).

5. Unit Terkait

Rawat Inap
UGD
Intensif

PEMBERIAN THERAPI LISTRIK (DEFIBRILASI)


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman

RS Ibu dan Anak


Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

04.05.B.020

SOP

Tanggal terbit

1/2
Ditetapkan,
Direktur

6 Agustus 2012
dr. Rusdi Andid, Sp.A
Pembina Utama Muda
NIP. 19610306 198812 1 001

Pengertian

Therapi yang menggunakan listrik dalam waktu yang singkat secara asinkon
pada gelombang EKG Ventrikel Fibrilasi atau Vertikel Takinardi tanpa nadi
sehingga terjadi depolarisasi sel-sel miokard, repolarisasi dan kontraksi
kembali.

Tujuan

Untuk mengembalikan irama jantung dari irama yang mengancam jiwa,


sehingga memungkinkan timbulnya kembali aktivitas listrik jantung yang
terkoordinasi.
-

Kebijakan
-

Prosedur

Pemberian terapi listrik (Defibrilasi) berdasarkan kebutuhan pasien


dan sesuai program pengobatan
Sebagai pedoman langkah-langkah perawat dalam pelaksanaan
Defibrilasi
Pelaksanaan penggunaan defibrillator hanya direkomendasikan bagi
perawat dan dokter yang telah memiliki sertifikat pelatihan ACLS (Advance
Cardiac Live Support).
a. Tahap persiapan.
Siapkan alat-alat :
1.
Defibrilator
2.
Jelly
3.
Troli Emergency yang berisi :
Resuscitation bag
Intubasi set
Disposible
Abocath
Infus set
Perfusor
4. Monitor EKG
5. Tissue pembersih
6. Oksigen
Siapkan pasien :
1.
Pasang monitor EKG
2.
Buat rekaman EKG
3.
Pasang IV line
4.
Posisi pasien terlentang
5.
Beri oksigen
6.
Observasi tanda - tanda vital
b. Tahapan Pelaksanaan
Perhatikan gambaran irama jantung di layer bed side
monitor
Rasional : Perubahan tiba-tiba dari irama jantung akan
membedakan tahapan intervensi yang akan diberikan
2. Hubungkan kabel listrik ke sumber listrik
Rasional : untuk mendapatkan aliran listrik
3. Berikan jelly pada kedua paddle
4. Hidupkan defibrillator (pewer on)
5. Letakkan paddle apex pada posisi apkes (ICS V) mid klafikula kiri
dan paddle sternum pada garis stemal kanan dibawah klavikula
(ICS II) dengan tekanan 10 12 kg
Rasional : ICS V merupakan letak atrio ventricular nodal dan ICS II
merupakan letaksino atrial nodal

PEMBERIAN THERAPI LISTRIK (DEFIBRILASI)


RS Ibu dan Anak
Jl.Prof.A.Majid Ibrahim I No.3

Banda Aceh

SOP

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

04.05.B.020

2/2

Tanggal terbit
6 Agustus 2012

Prosedur

Unit Terkait

6. Beri energi langgsung 360 joule


Rasional :
setelah 360j listrik jantung tidak berespon, jantung berhenti sirkulasi,
sehingga resusitasi jantung akan mengembalikan sirkulasi dan
defibrilasi dapat diulang setelah 1 menit dengsn energi yang sama
sebesar 360j lagi sampai gambaran irama jantung berubah
7.
Tekan tombol pengisi energi (charger)
Rasional :
energi listrik tidak akan dikeluarkan bila tombol charge diaktifkan
8.
Jika energi sudah terisi dan siap dilepaskan, beri abaaba pada
lingkungan sekitar Clear area, DC Siap?, OK
dengan suara keras
Rasional :
energi listrik memiliki sistim konduksi. Pemberian aba-aba untuk
menghindari kecelakaan antara petugas yang masih kontak dengan
tubuh pasien.
9.
Tekan tombol pada kedua paddle secara bersamaan
Rasional :
pelepasan energi secara bersamaan akan menghentikan kedua
nadus jantung secara bersamaan pula
10.
Nilai kembali irama gambaran EKG pada monitor
setelah dilakukan defibrilasi
Rasional :
jika irama EKG masih menunjukan Ventrikel Fibrilasi/ Ventrikel
Takhikardi tanpa nadi, energi dapat dinaikkan menjadi 300 j
maksimal 2x ulang dalam jarak 5 menit dan paddle masih tetap
diletakkan pada tubuh pasien (apabila gambaran EKG meragukan,
periksa nadi dan sensor elektroda EKG)
11.
Apabila setelah 2x 300j belum berhasil, energi dapat
dinaikkan sampai batas maksimal 360j dan boleh diulang dengan
energi yang sama sebesar 360j diikuti pemberian Adrenalin 1 mg
setiap 5 menit (drug shock drug shock)
Rasional :
jantung tidak akan berespon lagi dengan pemberian energi
dibawahnya
12. Periksa kembali apakah perlu untuk mengakhiri defibrilasi jika irama
listrik jantung di monitor EKG masih tetap Fibrilasi (lakukan sesuai
prosedur Algoritma ACLS).

Rawat Inap
UGD
Intensif