Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH ILMU KEDOKTERAN GIGI KLINIK 2 TAHAP I

SKENARIO 7

Kelompok 2 :
Awandra Evandi

(1406578294)

Caroline Jessica Gedaya

(1406570000)

Frida Avianing I. S.

(1406528371)

Hana Putri Royani

(1406528200)

Maria Julita

(1406599885)

Nabilah Siti Samiyah

(1406528705)

Sharon Nathania

(1406566590)

Siti Aliya Khairunnisa

(1406528213)

Stacia Ariella

(1406599840)

Talitha Tiffany

(1406528421)

Ukhti Maira

(1406528466)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS INDONESIA
2016

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas berkat
dan rahmat-Nya lah penulis masih dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun sehingga
penulis bisa menyelesaikan makalah Skenario 7. Mata Kuliah Ilmu Kedokteran Gigi Klinik 2
Universitas Indonesia ini. Makalah ini disusun dengan tujuan memenuhi penilaian kognitif dan
menjadi parameter keberhasilan kelas penulis dalam mencapai learning target untuk Skenario 7.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada drg. Sariesendy Sp.
Ort. selaku fasilitator kelompok IKGK 2, para dosen narasumber, dan koordinator blok IKGK 2
untuk bimbingannya. Penulis mengharapkan kritik yang membangun demi perbaikan makalah
maupun tugas penulis di kesempatan berikutnya. Atas perhatiannya penulis mengucapkan
terimakasih.

Depok, 3 April 2016

Penulis

DAFTAR ISI
BAB I - PENDAHULUAN...........................................................................................4
1.1 Latar Belakang...........................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan........................................................................................4
1.4 Analisis.......................................................................................................5
1.5 Metode Penulisan.......................................................................................6
1.6 Hipotesis.....................................................................................................6
BAB II - PEMBAHASAN............................................................................................7
BAB III - PENUTUP..................................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................28

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pasien 1 : Aminah (30 th)
a.
Gigi atas muka terasa makin terlihat ke depan
b.
Gigi bawah goyang, tidak nyaman makan
c.
Satu minggu yg lalu , gigi depan bawah lepas
d.
IO : 31 Missing,
e.
32, 41, 42 goyang derajat 3
f.
Poket absolute 4-5 mm
g.
Resesi gusi >5mm
h.
Overjet gigi anterior 15 mm
i.
Overbite gigi anterior 15 mm
j.
Jejas pada palatal anterior RA
k.
PBI 2,1 ; PI 2,8; KI 2,7
Pasien 2 : Saefudin (63 tahun)
a.
Gigi belakang RB kiri terasa sakit saat makan, awalnya tidak nyaman
b.
IO : 36 perkusi (+), PB 7 mm; PM 6 mm; PD 9 mm
c.
Gigi 36 pernah di tambal
d.
PBI 1,9; PI 2,1; KI 2,7

1.2

1.3

Pasien 3 : An. Sujiwo (8 Tahun)


a.
Kegoyangan pada gigi depan RA
b.
Sakit saat menggigit
c.
Tidak ada peradangan
d.
Tidak ada riwayat jatuh
Rumusan Masalah
a.
Apa etiologi dari TFO ?
b.
Apa saja klasifikasi TFO?
c.
Bagaimana mekanisme kerusakan tulang akibat TFO?
d.
Apa klasifikasi resorpsi (dewasa dan anak)?
e.
Bagaimana proses resorpsi pada tulang?
f.
Bagaimana mekanisme healing/ repair akibat TFO?
g.
Bagaimana cara pemeriksaan dan gejala klinis serta gambaran klinis TFO?
h.
Bagaimana gambaran radiografis TFO ? (Perubahan yang terjadi, DD)
i.
Bagaimana diagnosis, DD, dan prognosis TFO?
j.
Bagaimana rencana perawatan TFO?
k.
Bagaimana tata laksana untuk pasien TFO?
Tujuan Penulisan
Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui :
a.

Etiologi dari TFO

b.

Klasifikasi TFO

c.

Mekanisme kerusakan tulang akibat TFO

1.4

d.

Klasifikasi resorpsi (dewasa dan anak)

e.

Proses resorpsi pada tulang

f.

Mekanisme healing/ repair akibat TFO

g.

Cara pemeriksaan dan gejala klinis serta gambaran klinis TFO

h.

Gambaran radiografis TFO (Perubahan yang terjadi, DD)

i.

Diagnosis, DD, dan prognosis TFO

j.

Rencana perawatan TFO

k.

Tata laksana untuk pasien TFO

Analisis Masalah
TFO

Etiologi
Klasifikasi
Mekanisme
Kerusakan tulang
Macam macam resorpsi

Klinis

Healing

Cara pemeriksaan
Radiograf (Perubahan yang
terjadi, DD)
Diagnosis, DD, Prognosis

Rencana perawatan
Tata laksana

1.5

Metode Penulisan
Informasi dalam makalah ini didapatkan dengan metode Penjelajahan Internet dan Studi
Pustaka.

1.6

Hipotesis
Aminah mengalami periodontitis kronis generalis e.c OH Buruk diperberat oleh TFO
Pak Saefudin mengalami periodontitis kronis lokalis e.c OH buruk diperberat TFO
Sujiwo mengalami konkusi karena trauma

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Etiologi dari TFO

Transmisi familial bakteri tertentu yang berhubungan dengan periodontitis kronis, yaitu strain
seperti T. Forsythensis, P. Intermedia, dan P.nigrescens lebih sering ditemukan. P. Gingivalis dan
B. forsythus dapat digunakan sebagai penanda awal saat screening penyakit periodontal
Faktor yang mempengaruhi

a. Ketidakseimbangan oklusi
Hambatan oklusal pada waktu oklusi sentries (kontak premature) dan gerak
artikulasi (blocking-kiri&kanan)
Langsung
Ketika tekanan oklusal meningkat, efek tekanan akan diterima langsung oleh
gigi yang terlibat. Pada umumnya, jika terjadi atrisi jaringan periodonsium
tetap sehat, tetapi sejumlah kasus menunjukkan bahwa atrisi dapat merusak
jaringan periodonsium terutama jika terdapat iritan lokal misalnya plak yang
menurut sejumlah ahli berhubungan dengan terbentuknya poket infraboni.

Tidak langsung
Dalam banyak kasus pergeseran dapat terjadi baik ke depan, kebelakang atau
kesamping. Jika pergeseran oklusal kedepan, gigi insisif atas menjadi subjek
meningkatnya beban horizontal (gambar 4), tetapi jika pergeseran kebelakang,
TMJ akan menerima tekanan (gambar 5). Adanya ketidakseimbangan oklusi
tidak selalu menyebabkan gejala TMJ.

Gigi hilang tidak diganti


Mobilitas gigi secara progresif
Mobilitas Fisiologis (resorpsi teratur, gigi tetapnya ngikut)
Mobilitas Patologis (perubahan mobilitas abnormal-tidak sesua usia, ga beraturan,
kemungkinan abses)
Evaluasi mobilitas gigi (ps: untuk anak2 pake test fremitus teeth)
1. Derajat pertama bila digoyangkan dengan jari telunjuk
dan ibu jari terasa tetapi tidak terlihat. Keadaan demikian
pada

umumnya

disebabkan

normal,

karena

karena

adanya

kegoyangan

membran

hanya

periodontal

(Mobilitas fisiologis)
2. Derajat kedua, bila digoyangkan dengan jari telunjuk dan
ibu jari dapat terasa dan terlihat. Disini biasanya mulai
terjadi

kelainan

pada

membran

periodontal.

Umumnya diperkirakan kerusakan tulang baru + 1/3


bagian korona.
3. Derajat ketiga, untuk gigi anterior bila ditekan dengan
lidah dapat terlihat dengan jelas goyang ke jurusan
horizontal. Untuk gigi posterior lebih kurang kegoyangan
dapat dianalogikan dengan kerusakan tulang 2/3 akar
bagian korona.
4. Derajat keempat, di samping terjadi pergerakan ke
jurusan

horizontal

vertical.

Ini

berarti

terjadi
bahwa

pergerakan

kerusakan

tulang

kearah
sudah

mencapi daerah apikal.

Perbandingan Mahkota-Akar Tidak Seimbang


Kontak Edge-to-edge
Alat prostetik dan restorasi yang buruk
b. Kebiasaan buruk
c. Perubahan kondisi gingiva

Perbesaran gingiva Mc Calls Festoon


McCall Festoons merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan
sebuah gulungan (rolled), balutan tebal gingiva yang selalu terlihat pada
gingiva dan resesinya hampir mendekati mucogingival junction.

Celah gingiva Cleft


Tipe spesifik resesi gingiva yang berbentuk sempit, dan triangular-shaped resesi
gingiva. Sebagai resesi yang berkembang pada apikal, cleft menjadi lebih luas,
mengeksplos sementum pada permukaan akar. Ketika lesi mencapai mucogingival
junction, batas apikal mukosa selalu terinflamasi karena sulit dalam mengontrol
plak dalam area ini. Akar yang terekspos membuat area ini menjadi sensitif.

Blunted papillae (a) , bulbous papillae (b) , dan cratered papillae (c)

B.

Klasifikasi TFO
Berdasarkan tingkat keparahan
a.

TFO Akut
Berasal dari tekanan oklusal yang tiba-tiba (seperti mengigit benda keras Gejala
pada TFO akut adalah:
Rasa sakit atau nyeri pada gigi
Sensitif terhadap tes perkusi
Meningkatnya mobilitas gigi geligi

b.

TFO Kronis
Menunjukkan gejala yang ebih signifikan daripada trauma oklusi akut. TFO
kronis disebabkan karena perubahan secara bertahap dari oklusi akibat adanya
pergeseran gigi, ekstrusi gigi, dan kebiasaan parafungsi seperti bruxism dan
clenching.
Berdasarkan hubungannya dengan jaringan periodontal
a.

TFO Primer
Injuri yang diakibatkan karena tekanan oklusal berlebihan yang diberikan
kepada gigi yang memiliki jaringan pendukung yang normal
(contohnya : kebiasaan parafungsi, restorasi yang terlalu tinggi, dan gigi tiruan
sebagian lepasan) dapat diperbaiki dengan menghilangkan faktor lokal
(seperti bakteri/produk sampingannya) dan penyesuaian oklusi

b.

TFO Sekunder

Injuri yang disebabkan karena tekanan oklusal yang normal namun diberikan
kepada gigi yang memiliki jaringan pendukung yang tidak kuat atau sudah
rusak; setelah perawatan kasus periodontitis kronis destruktif tingkat lanjut
atau bisa juga terjadi karena menurunnya kemampuan jaringan dalam menahan
tekanan oklusi.
c.

C.

TFO Kombinasi
Injuri yang berasal dari tekanan oklusal yang berlebihan dalam penyakit
periodonsium. Beberapa efek yang terjadi akibatnya ialah terjadi inflamasi,
pembentukan poket dan memperberat perkembangan penyakit.

Mekanisme kerusakan tulang akibat TFO


Tahapan Respon Jaringan terhadap Tekanan Oklusal
Respon jaringan terjadi dalam tiga tahap: injury, repair (perbaikan) dan adaptive
remodeling jaringan periodontal
Tahap 1: Injury
Injury jaringan dihasilkan oleh tekanan oklusal yang berlebihan. Tubuh kemudian
berusaha untuk memperbaiki injury dan merestore jaringan periodontal. Hal ini dapat
terjadi jika tekanan dikurangi. Jika tekanan berubah menjadi kronis, jaringan
periodontal mengalami remodeling untuk meredam dampak yang terjadi. Ligamen
periodontal mengalami pelebaran sehingga mengorbankan tulang dan menghasilkan
defek tulang angular tanpa terbentuk pocket periodontal, dan gigi menjadi goyang
(loose). Dibawah tekanan oklusal, gigi berotasi sekitar sumbu rotasi, pada gigi
dengan akar tunggal terletak di persimpangan antara sepertiga tengah dan sepertiga
apikal akar dan pada gigi dengan multi akar terletak pada pertengahan tulang
interradicular. Hal ini menciptakan area tekanan dan regangan pada daerah yang
berlawanan dari sumbu rotasi. Lesi yang berbeda akan dihasilkan dari derajat
tekanan atau regangan yang berbeda.
Area pada jaringan periodontal yang paling rentan tekanan oklusal yang berlebihan
adalah daerah furkasi. Injury pada jaringan periodontal menghaslkan depresi
semenatara aktivitas mitotik dan laju proliferasi dan differensiasi jaringan fibroblas,
pada pembentukkan kolagen, dan pada pembentukkan tulang. Semua akan kembali
normal setelah menghilangnya tekanan

10

Tahap 2: Repair
Repair secara konstan terjadi pada jaringan periodontal normal dan trauma oklusi
menstimulasi peningkatan aktivitas reparatif. Jaringan-jaringan yang rusak akan
dihilangkan dan dan sel jaringan ikat baru, serat, tulang dan sementum
dibentuksebagai usaha untuk merestore jaringan periodontal yang mengalami injury.
Ketika tulang diresorbsi oleh tekanan oklusal yang berlebihan, tubuh berusaha untuk
memperkuat tulang trabekula yang tipis dengan tulang baru. Usaha ini dilakukan
untuk mengkompensasi kehilangan tulang yang dinamakan buttressing bone
formation dan

merupakan usaha yang penting pada proses reparatif yang

berhubungan dengan TFO. Hal ini dapat terjadi ketika tulang dirusak oleh inflamasi
atau tumor osteoltik. Buttressing bone formation terjadi didalam (central buttressing)
rahang dan pada permukaan tulang (peripheal buttressing). Pada central buttressing
sel endoteal mendepositkan tulang baru, yang merestore tulang trabekular Pheriheral
buttressing merupakan pembentukkan tulang baru yang terjadi pada permukaan
facial dan lingual lempeng alveolar.
Material seperti kartilago kadang dapat berkembang pada space ligamen periodontal
sebagai hasil dari trauma. Pembetukkan kristal dari eritrosit juga kadang dapat
muncul.
Tahap 3: Remodeling adaptif pada Jaringan Periodontal
Jika proses repair tidak dapat mengimbangi destruksi yang terjadi oleh oklusi,
jaringan periodontal akan mengalami remodeling sebgai usaha untuk membuat
hubungan struktural dengan itu tekanan tidak dapat lagi menginjury jaringan
periodontal.

Hal ini akan menghasilkan pelebaran ligamen periodontal yang

membentuk funnel shaped pada puncak, dan defek angular pada tulang, tanpa adanya
pembentukkan pocket. Gigi yang terlibat akan menjadi goyang. Vaskularisasi
mengalami peningkatan.
Secara umum respon jaringan terhadap trauma oklusi ada tiga tahap. Fase
pertama yaitu fase injury menunjukkan peningkatan dalam area resorspsi dan
penurunan

pembentukkan

tulang,

sementara

fase

repair

menunjukkan

11

penurunan resorpsi dan peningkatan pembentukkan tulang. Setelah fase


remodeling adaptif jaringan periodontal, resorpsi dan pembentukkan tulang
kembali normal
D.

Klasifikasi resorpsi (dewasa dan anak)

Dalam ilmu kedokteran gigi, resorpsi akar adalah pengrusakan atau penghancuran yang
menyebabkan kehilangan struktur gigi. Hal ini disebabkan oleh kerja sel tubuh yang
menyerang bagian dari gigi. Bila kerusakan meluas ke seluruh gigi, dinamakan resorpsi
gigi. Kerusakan akar yang parah dapat terjadi bila kerusakan sudah mencapai pulpa,
sehingga sangat sulit untuk dirawat dan biasanya memerlukan ekstraksi gigi. Resorpsi akar
terjadi akibat diferensiasi makrofag menjadi odontoklas yang akan meresorpsi sementum
permukaan akar serta dentin akar.
Resorpsi akar dapat disebabkan oleh tekanan pada permukaan akar gigi. Tekanan tersebut
dapat berasal dari trauma, erupsi gigi ektopik yang mengenai akar gigi tetangga, infeksi,
beban oklusalyang berlebihan , pertumbuhan tumor yang agresif, maupun yang tidak dapat
diketahui penyebabnya atau idiopatik. Menurut Weiland, penyebab yang paling
umumadalah kekuatan ortodonti.
Resorpsi akar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu resorpsi akar internal yang dimulai
dari pulpa, dan resorpsi akareksternal yang dimulai dari luar gigi.
Resorpsi Internal
Resorpsi internal diduga terjadi akibat pulpitis kronis. Tronstad (1988) berpendapat adanya
jaringan nekrotik menyebabkan resorpsi internal menjadi progresif. Pulpitis kronis dapat
terjadi akibat trauma , karies atau prosedur iatrogenik seperti preparasi gigi yang salah,
ataupun. Defeknya bisa terdapat di mana saja di dalam saluran akar. Bila hal tersebut
terjadi pada ruang pulpa, dinamakan pink spot karena pulpa yang membesar terlihat
melalui mahkota. Penghancuran dentin yang parah dapat menyebabkan gigi fraktur.
Perawatan untuk resorpsi internal tanpa perforasi adalah dengan perawatan saluran akar.
Kasus ini memiliki prognosis yang baik dan resorpsi tidak akan terjadi lagi.

Resorpsi Eksternal
Adanya perubahan keseimbangan antara osteoblas dan osteoklas pada ligamen periodontal
dapat menghasilkan sementumtambahan pada permukaan akar (hipersementosis) atau
menyebabkan hilangnya sementum bersama dengan dentin

12

Resorpsi Permukaan
Resorpsi permukaan merupakan temuanpatologis yang umum terjadi pada permukaan
akar. Aktivitas osteoklas merupakan respon terhadap injuri pada ligamen periodontal atau
sementum. Resorpsi permukaan biasanya dapat dilihat melalui Scanning Electron
Microscopy(SEM). Permukaan akar menunjukkan resorption lacunaesuperfisial. Kondisi
ini dapat mengalami perbaikan spontan berupa pembentukan sementum baru

Resorpsi Akibat Inflamasi


Resorpsi akibat inflamasi diduga terjadi karena infeksi jaringan pulpa Daerah yang
terinfeksi biasanya berada di sekitar foramen apikal dan canalis lateralis. Sementum,
dentin, dan jaringan periodontal yang berdekatan juga dapat terlibat. Pada pemeriksaan
radiografi terlihat adanya radiolusen pada daerahersebut (Saluran akar dan tubulus dentin
terinfeksi dan nekrosis, serta respon inflamatori dengan aktivitas osteoklas terjadi di
dentin dan tulang. Pertambahan aktivitas osteoklas yang berada di dentin pada sebelah
kanan menunjukkan pengaruh bakteri yang beradadi tubulus dentin

13

Resorpsi penggantian

(Gambar 4) biasanya terjadi pada trauma yang berat.

Resorpsi penggantian sering terjadi setelah replantasi, terutama bila replantasi


terlambat dilakukan. Cedera pada permukaan akar biasanya berat, sehingga penyembuhan
dengan sementum tidak dapat terjadi, yang menyebabkan kontak langsung antara tulang
alveolar dan permukaanakar (Gambar 4A). Proses ini dapat bersifat reversibel apabila
permukaan akaryang terlibat kurang dari 20%. Karena osteoklas berkontak langsung
dengan dentin, maka resorpsi dapat terus berlangsung tanpa stimulasi hingga tulang
alveolar mengggantikan dentin (Gambar 4B). Istilahankylosis dapat digunakan pada kasus
ini karena tulang alveolar melekat langsung ke dentin.Secara radiografis, ruang ligamen
periodontal tidak akanterlihat karena penggabungan tulang dengan dentin. Pada kasus ini,
saluran akar harus diobturasi untuk mencegah resorpsi akar akibat infeksi pulpa

-Resorpsi Akibat Tekanan

Tekanan pada akar gigi dapat menyebabkan resorpsi yang merusak jaringan ikat
diantara dua permukaan. Tekanan dapat disebabkan oleh gigi yang erupsi atauimpaksi
(Gambar 5), pergerakan ortodonti,trauma karena oklusi, atau jaringan patologis seperti
kista atau neoplasma. Resorpsi akibat tekanan, misalnya akibat perawatan ortodonti dapat
terjadi pada apeks gigi , dengan cedera berasal dari tekanan pada sepertiga apeks sewaktu
menggerakkan gigi (Gambar 6). Akibatnya dapat terjadi pemendekkan akar gigi (Gambar
6A).Rangsangan terhadap aktivitas osteoklas di apeks akibat tekanan berlebihan selama

14

perawatan ortodonti dapat menyebabkan terjadinya resorpsi akar (Gambar 6B). Osteoklas
dapat meluas sampai ke dentin dan mengenai tubulus dentin tanpa adanya bakteri.
Menurut Newman, gigi yang paling sering mengalami resorpsi akibat tekanan adalah gigi
insisivus karena gigi insisivus lebih sering digerakkan. Tekanan yang diberikan dapat
membangkitkan pelepasan sel-sel monosit dan pembentukan osteoklassehingga terjadi
resorpsi. Apabila penyebab tekanan dihilangkan, maka resorpsi dapat dihentikan

-Resorpsi sistemik

resorpsi yang diakibatkan adanya gangguan sistemik.

Jenis ini dapat terjadi pada sejumlah penyakit dan gangguan endokrin seperti:
Pagetsdisease, calcinosis, Gauchers disease dan Turners syndrome. Selain itu, resorpsi
ini dapat terjadi pada pasien yang menjalani terapi radiasi.

Resorpsi Idiopatik

15

E.

Proses resorpsi pada tulang


Faktor yang lerlibat dalam destruksi tulang adalah bakteri dan host perantara. Produk
bakteri plak menginduksi diferensiasi sel-sel tulang yang terdahulu menjadi
osteoklas dan menstimulasi sel-sel gingiva untuk melepaskan mediator yang
memiliki efek yang sama.
Pada perkembangan penyakit yang cepat seperti pada periodontitis juvenile yang
terlokalisasi, mikrokoloni bakteri atau sel tunggal bakteri dapat muncul di antara
serat-serat kolagen dan di atas permukaan tulang.
Beberapa faktor host melepaskan sel-sel inflamasi yang mampu menginduksi
resorpsi tulang secara in vitro dan memegang peranan dalam penyakit periodontal.
Ini termasuk produksi prostaglandin oleh host, interleukin, dan tumor necrosis factor
(TNF).
Pada saat diinjeksikan melalui kulit, prostaglandin E2 menginduksi perubahan
vaskular, pada saat diinjeksikan melalui tulang, akan menginduksi resorpsi tulang.
NSAID seperti flurbiprofen dan ibuprofen menghambat produksi prostaglandin E2
dan memperlambat kehilangan tulang.
Salah satu penyebab yang menyebabkan kerusakan tulang pada penyakit periodontal
adalah trauma from occlusion, yang dapat terjadi pada ada atau tidaknya
peradangan.
Jika tidak terdapat peradangan, perubahan yang disebabkan oleh trauma from
occlusion bermacam-macam dapat berupa peningkatan tekanan pada ligament
periodontal dan peningkatan osteoklas pada tulang alveolar hingga mengalami
nekrosis pada ligament periodontal dan tulang, serta resporsi tulang dan struktur gigi.
Perubahan tersebut reversible, artinya perubahan tersebut dapat dipulihkan apabila
gaya berlebih tersebut dihilangkan. Meskipun trauma from occlusion yang persisten
menyebabkan pelebaran berbentuk funnel-shaped pada alveolar crest ligament
periodontal, dengan resoprsi tulang sekitar. Perubahan ini dapat menyebabkan tulang
crest menjadi bersudut (angular shape), menunjukkan adaptasi jaringan periodontal
yang bertujuan sebagai bantalan dari peningkatan tekanan oklusal, tetapi bentuk

16

tulang yang telah mengalami perubahan akan melemahkan jaringan pendukung gigi
dan menyebabkan mobilitas gigi.
Ketika ada peradangan, dan ditambah dengan trauma from occlusion, kerusakan
tulang yang terjadi akan tidak biasa (bizarre bone patterns)
Trauma from occlusion dapat menyebabkan penebalan servikal margin tulang
alveolar atau perubahan morfologi tulang (seperti defek angular, tulang penopang)
yang mana peradangan dan TFO akan terlihat keduanya
F.

Cara pemeriksaan dan gejala klinis serta gambaran klinis TFO


1. Anamnesa
Trauma oklusi sering disertai satu atau beberapa keluhan, yaitu :
Rasa sakit apa bila mengunyah
Kegoyangan gigi
Pembengkakan gusi (abses)
Pembesaran gusi
Migrasi gigi
2. Pemeriksaan Ekstra Oral

Pemeriksaan Asimetris wajah


Pemeriksaan kelasinan sendi temporomandibula

Berikut adalah evaluasi klinis kelainan sendi temporomandibular :


a.Evaluasi kemampuan pasien membuka rahang secara maksimal
b.
Evaluasi arah buka tutup rahang, dan deviasinya terhadap midline
c.Evaluasi adanya suara dan rasa sakit pada waktu mandibula digerakkan membuka
dan menutup mulut
d.
Evaluasi adanya keluhan pada palpasi sendiri temporomandibular
e.Evaluasi adanya keluhan pada palpasi otot temporalis dan masseter
Evaluasi klinis temporomandibular dilakukan terlebih dahulu karena analisa oklusal
yang valid didapatkan pada kondisi dimana status fungsi rahang pasien dalam
keadaan normal.
Dari evaluasi klinis sendi temporomandibular didapatkan status fungsi rahang,
dengan kemungkinan :
a.TMJ dalam batas normal
Tidak ada rasa sakit atau disfungsi rahang
Rahang dapat dibuka minimal 40 mm
Pasien ini tidak ada kontraindikasi untuk dilakukan pemeriksaan dan perawatan
lebih lanjut

17

b.

Problem TMD ringan (Temporo mandibular disorder)


Adanya keluhan ringan di daerah persendian atau otot
Dievaluasi apakah keluhan bertambah atau tidak
c. Problem TMD lebih lanjut
Memerlukan tindakan emergensi oleh adanya
Rasa sakit pada persendian atau otot
Tidak bisa membuka mulut
Pemeriksaan oklusi dan artikulasi
a.Hambatan oklusal pada saat oklusi sentrik (kontak prematur) adalah kondisi
dimana pada gerak ke arah oklusi sentris terjadi hambatan pada satu atau dua gigi
oleh gigi antagonisnya atau kondisi dimana gigi terlalu cepat berkontak sehingga
mengganggu mandibula dan TMJ. dan juga untuk melihat open bite dan deep bite
saat artikulasi.
b.
Hambatan oklusal pada gerak artikulasi (blocking) adalah kondisi dimana
pada gerak artikulasi ke anterior atau ke lateral terjadi hambatan pada satu atau dua
gigi antagonisnya ,apabila hanya 30% gigi yang berkontak saat artikulasi
menunjukkan adanya blocking.
3. Pemeriksaan Intra Oral dan Radiografik
Trauma oklusi seringkali disertai satu atau beberapa gejala klinis :
Sakit oleh perkusi dengan gambaran radiografik pelebaran ruang periodontal,
dan rusaknya lamina dura
Migrasi gigi
Poket periodontal 6-10 mm, seringkali disertai kegoyangan gigi dan abses
periodontal
Gambaran radiografik : kerusakan tulang angular atau kerusakan di daerah
bifurkasi
Gigi non vital tanpa karies, seringkali disertai abses di daerah apikal gigi,
dengan gambaran radiografik radiolusensi di daerah apikal gigi
Pembesaran gusi yang hiperplastik (McCalls Festoons : pembesaran margin
gingiva berbentuk cincin pada permukaan bukal atau labial gigi C dan P dan
sering diasosiasikan dengan trauma oklusal) tanpa kerusakan tulang
Celah gingiva (Stilmans Cleft : fisur-fisur kecil yang meluas secara apikal dari
midline marginal gingiva karena trauma)
Gigi fraktur
Migrasi gigi
Resorbsi akar
Trauma oklusi meghasilkan kerusakan yang bervariasi, bergantung pada besarnya
tekanan dan juga lamnya terjadi. Keluhan-keluhan yang biasanya muncul dari pasien
atas adanya TFO adalah :

Rasa sakit dan tidak nyaman

18

Menjadi sangat sensitive terhadap tekanan

Adanya resesi pada gingival

Rasa sakit pada wajah dan sendi tempomandibular

Adanya celah pada gingival yang dikenal dengan stillmans cleft

Adanya pembesaran gingival yang hiperplastis

Adanya poket periodontal

Terjadi kegoyangan gigi

Ada migrasi dan perubahan posisi gigi yang tidak normal

Sedangkan untuk gambaran radiogaf dari TFO adalah

Perubahan pada densitas tulang


G.

Gambaran radiografis TFO (Perubahan yang terjadi, DD)

Perubahan radiografis Trauma Oklusi pada Dewasa


References site Jaringan Periodonsium:
Dengan mengetahui hubungan batas tulang crestlal terhadap CEJ. Jika jaraknya masih
dalam batas normal sekitar 2-3mm dan tidak ada tanda klinis dari hilangnya perlekatan,
berarti tidak ada periodontitis.
Gambaran umum jaringan periodontal yang sehat, yaitu:

Tipis, halus, tepi kortikal yang rata di tulang interdental crestal di area posterior

19

Tipis, rata, batas menguncup seperti point di tulang interdental crestal di area

anterior. Kortikasi di atas / ujung crest tidak selalu jelas, karena umumnya hanya terdapat
sedikit tulang diantara gigi anterior

Tulang interdental crestal kontinu dengan lamina dura terhadap gigi yang
berdekatan. Tepi pertemuan dari 2 sudut yang tajam.

Tipis dengan ketebalan yang rata di ruang ligament periodontal mesial dan distal.

Perubahan Radiograf yang terjadi saat adanya TFO


Selain gejala klinis yg terjadi, pada gambaran radiografis ditemukan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pelebaran bagian puncak pada ruang ligament periodonsium (LPD).


Pelebaran irregular ruang ligament periodontal (LPD).
Diskontinuitas atau penipisan pada lamina dura.
Kerusakan/ kehilangan tulang alveolar kearah vertical.
Radiolusensi pada furkasi (biasanya berbentuk triangular atau heart shape).
Radiolusensi dan kondensasi tulang alveolar
Resorpsi akar.
Kerusakaan lebih ke vertical (daripada horizontal) septum interdental.
Peningkatan Radiodensitas tulang trabecular, baik dalam ukuran maupun

jumlahnya.

A. Pelebaran bagian puncak (crest) pada


ruang ligament periodonsium.
B. Pelebaran yang irregular di seluruh ruang
ligament periodontal.
C. Bentuk kehilangan tulang angular.
D. Radiolusensi pada bagian furkasi.

20

Kesimpulannya TFO tidak menginisiasi gingivitis maupun poket periodontal, tapi dapat
menjadi faktor predisposisi dari tingkat kerusakan dan keparahan penyakit.
Radiologi Trauma from Occlusion pada anak
Tanda klinis yang paling umum adalah peningkatan mobilitas gigi. Pada tahap injury pada trauma from
occlusion, terjadi destruksi serat periodontal.yang meningkatkan mobilitas gigi. Pada tahap final,
periodonsium berakomodasi terhadap tekanan yang meningkat dengan pelebaran ligament periodontal
yang juga meningkatkan mobilitas gigi. Perlu diingat bahwa meskipun mobilitas gigi ini lebih besar
daripada normal, ini bukan keadaan patologis karena merupakan proses adaptif, bukan dikarenakan oleh
penyakit. Temuan radiografis akibat TFO pada anak dapat berupa :
1. Pelebaran ruang periodontal
2. Defek vertical
3. Menebalnya Lamina dura
4. Hipersementosis
5. Resorpsi akar
6. Pelebaran ruang periodontal, sering dengan penebalan lamina dura sepanjang aspek lateral akar
pada regio apical dan area bifurkasi.
7. Adanya destruksi vertical (daripada horizontal) pada interdental septum
8. Radiolusensi dan kondensasi tulang alveolar
9. Resorspi akar

21

Differential Diagnosis Trauma From Occlusion

1.
2.
3.
4.
5.

Meningkatnya ketebalan lamina dura


Penebalan irregular ruang periodontal
Kehilangan tulang vertikal berbentuk V
Sklerosis tulang di region periapikal dan/atau interdental bone crest
Inflamasi resorpsi akar, umumnya pada tingkat TFO lebih lanjut.

Gambaran Radiografis Jenis-Jenis Trauma pada Gigi

Ket dari kiri ke kanan concussion, luxation intrusi, luxation ekstrusi, avultion

a.

Concussion

Pada gambaran radiografis memungkinkan terjadi prubahan atau tidak. Perubahan


tersebut adalah penebalan ruang periodontal. Apabila lesi terus berkembang dalam waktu
yang lama, dapat terjadi reduksi ukuran kamar pulpa dan saluran akar.

22

b.

Luxation

Terdapat perubahan pada akar,ligament periodontal dan prosesus alveolaris. Pada


subluksasi, kerusakan yang terjadi minimal pada porsi apikal ligament.
Intrusi : mahkota terdepresi kedalam soket, obliterasi ligament periodontal apical
Ekstrusi : terjadi pelebaran ruang periodontal yang keparahannya tergantung gaya yang
menyebabkannya
c.

Avulsion

Gambaran radiograf :

Gambaran radiopak dari lamina dura pada bekas soket gigi

Terlihat healing proses (pengisian tulang baru) dan berlangsung beberapa


bulanradiopak

H.

Terlihat bayangan radiolusen tipis yang tersisa menyerupai akar gigi

Diagnosis, DD, dan prognosis TFO serta rencana perawatan

Pasien Aminah
Diagnosis

: Periodontitis Kronis Lokalis e.c OH Buruk (plak dan kalkulus)


diperberat TFO

Prognosis

: Poor

Rencana Perawatan

: Scalling, Root Planing; Terapi bedah: Kuretase, Rekonstruksi,

Rujuk Sp. Ortho


Pasien Saefudin
Diagnosis

: Periodontitis Kronis Lokalis gigi 36 e.c OH buruk diperberat oleh


TFO karena occlusal line buruk, restorasi aus, rasio mahkota akar
tidak seimbang

Prognosis

: Questionable

Rencana Perawatan

: Scalling, root planning, perbaikan restorasi, occlusal adjustment,


DHE; Terapi bedah : Open flap periodontal

Pasien Sujiwo

23

Diagnosis

: Ekstruksi gigi anterior rahang atas e.c trauma jaringan periodontal,

dapat
Prognosis

: Baik

Rencana Perawatan

: Scalling, Root planning, splinting

I.

Tata laksana untuk pasien TFO

Terapi Oklusal
Walaupun trauma oklusi tidak menyebabkan periodontitis secara langsung, namun dapat menyebabkan
penurunan kesehatan jaringan periodontal. Oleh karena itu, trauma oklusi harus disertakan dalam
rangkaian terapi untuk periodontitis, terutama apabila mobilitas gigi berkembang secara progresif dan
severe.
Tujuan dari dilakukannya terapi oklusal adalah:

Mengembalikan bentuk anatomis dengan memperbaiki struktur yang hilang


Membangun stabilitas struktural dengan mengoptimisasi pendistribusian gaya atau tekanan
Harmonisasi fungsional seperti mastikasi, penelanan, dan berbicara.

Pada intinya yaitu untuk meningkatkan kesehatan (health), fungsi, kenyamanan (comfort), serta estetik.
Prinsip perawatan trauma oklusi adalah diagnosis harus berdasarkan jika diketahui ada injuri yang
berkaitan dengan oklusi atau mempengaruhi oklusi. Apabila data diagnostik tidak meyakinkan, maka
perawatan yang dilakukan hanya berupa terapi inisial berupa orthopedic appliances, seperti interocclusal
splint, bruxism appliance, dan nightguard.
Metode yang digunakan dalam perawatan terapi oklusal adalah dengan selective grinding. Selective
grinding

dilakukan dengan menggunakan fine wheel, flame, dan ball-shaped diamonds. Permukaan

occlusal gigi dikeringkan dan daerah yang terjadi kontak prematur ditandai dengan pita warna.

Gigi Anterior

24

Prematur kontak gigi anterior jarang muncul secara natural, namun biasanya terdeteksi setelah dilakukan
perawatan crown atau bridge. Sebelum dilakukan prosedur selective grinding, harus dilakukan pengecekan
kontak dengan melakukan gerakan protrusi. Apabila pada gigi yang terlibat ditemukan gangguan saat
melakukan gerakan protrusi, maka selective grinding dilakukan pada gigi mandibular (gambar A). Apabila
pada gigi yang terlibat tidak ditemukan gangguan saat melakukan gerakan protrusi, maka selective
grinding dilakukan pada gigi maxilla (gambar B)

Working Side
BULL rule: Buccal Upper, Lingual Lower.

Selective grinding dilakukan pada maxilla untuk mengeliminasi gangguan pada aspek buccal, sementara
grinding dilakukan pada mandibula untuk mengeliminasi gangguan pada aspek lingual.

Balancing Side
Kemiringan cusp yang sangat tajam (bulatan merah) menghambat kontak gigi lain (hijau).

25

PUBL rule:
Apabila centric contact berada diantara cusp buccal mandibula dan maxillary fossa, maka grinding
dilakukan pada bagian palatal maxilla (upper palatal/ PU). Apabila centric contact berada diantara cusp
palatal maxilla dan lower (mandibular) fossa, maka grinding dilakukan pada bagian buccal mandibula
(lower buccal/ BL)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aminah mengalami periodontitis kronis lokalis pada gigi anterior rahang bawah e.c OH
Buruk (plak dan kalkulus) diperberat oleh TFO karena gigi hilang tidak diganti, kontak
premature, dan maloklusi.
Saefudin mengalami periodontitis kronis lokalis gigi 36 e.c OH Buruk diperberat TFO
karena occlusal line buruk, rasio mahkota akar tidak seimbang, dan restorasi yang aus
Sujiwo mengalami ekstruksi gigi anterior rahang atas e.c trauma jaringan periodontal,
dapat dirawat dengan reposisi dan fiksasi secepatnya dengan splinting.

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Newman, Takei, Klakkevoid, Carranza. Carranzas Clinical Periodontologu, 11th ed. St. Louis,
Missouri: Saunders Elsevier, 2012.
2. White, Stuart C, and M. J.Pharoah. Oral Radiology. St. Louis, Mo.: Mosby/Elsevier, 2009.
3. Whaites E. Essentials of Dental Radiography and Radiology, 3th ed. London, UK: Churcill
Livingstone, 2002.

27