Anda di halaman 1dari 20

Pemikiran

Sumber

This paper discussed the sources of modern West


thought. In writer opinion, the sources of modern
West thought derived from the values that were
generated from the renaissance and reformation
movements. The two movements constituted the
reaction and opposition to church domination,
eventhough having different orientation. The
orientation of renaissance was to turn back to
clasical civilization that had been lost in middle
age, meanwhile the orientation of reformation
was to turn back to divine book that had been
deviated by church. Inspite of the fact that the
orientation of the two was different, but the two
movements simultaneously had been able to
replace the church domination along the middle
age, and at the same time to build the foundations
of modern thought and civilization generation.

Rujukan Pemikiran
Barat Modern
Oleh Sholihan*

Kata Kunci: Renaissance, Reformation, Humanism, Protestant-ethics,


Capitalism.

Pendahuluan
Sejarah perkembangan peradaban pada umumnya dan pemikiran pada
khususnya di Barat telah melewati masa yang sangat panjang, yakni kurang
lebih dua puluh lima abad. Perkembangan yang panjang itu oleh para
ahli sejarah dibagi ke dalam tiga periode, yakni periode ancient (kuna),
periode medieval (pertengahan), dan periode modern.1 Pembagian ke
dalam tiga periode tersebut disebabkan adanya perubahan dan
perkembangan yang jelas dan membedakan antara periode yang satu
dengan periode yang lain.2 Kajian sejarah telah menunjukkan bahwa
ada perbedaan yang sangat menonjol yang menandai periode satu berbeda
dengan periode yang lain, utamanya menyangkut perbedaan konsepsi
manusia mengenai hidup dan sikap pemikiraannya.3 Meskipun masingmasing periode itu mempunyai karaktristik yang berbeda antara satu
dengan yang lain, namun ada benang merah yang menghubungkannya,

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

baik itu berupa penolakan maupun pengulangan nilai-nilai yang


berkembang pada periode sebelumnya.
Periode modern sejarah perkembangan pemikiran Barat yang
berlangsung mulai abad XVII sampai sekarang, bukanlah sebuah periode
yang muncul begitu saja di ruang hampa, melainkan ada keterkaitan
dengan periode-periode sebelumnya.4 Periode modern dalam perspektif
sejarah, jelas merupakan reaksi dari periode sebelumnya, yakni periode
pertengahan, di mana dalam periode ini gereja sedemikian rupa
mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia,5 dan tata kehidupan
masyarakat menjadi sangat feodalistik.6 Diawali dengan gerakan
Renaissance yang berlangsung pada abad XV dan XVI, Humanisme,
dan Reformasi, manusia Barat modern ingin melepaskan diri dari dominasi
gereja yang sedemikian rupa mengungkung kebebasannya. Dengan
kebebasannya itulah manusia Barat modern mampu mengembangkan
pemikiran dan peradabannya sedemikian cepat, sehingga dalam kurun
waktu kurang lebih empat abad sampai dengan sekarang ini pemikiran
dan peradaban Barat mencapai puncak kemajuan.7
Tulisan ini ingin mengkaji sumber-sumber dan akar pemikiran barat
modern, yang memungkinkan pemikiran Barat modern menjadi maju
sedemikian rupa. Di samping itu dalam makalah ini dibicarakan pula
Protestantisme, karena dalam satu segi Protestantisme ini mempunyai
kesamaan dengan sumber-sumber dan akar pemikiran Barat modern, yakni
dalam hal sama-sama merupakan reaksi dari dominasi gereja pada abad
pertengahan. Sebelum membicarakan pokok kajian dimaksud, terlebih
dahulu akan dilakukan kajian sekilas tentang pemikiran dan peradaban
abad pertengahan yang melatarbelakangi munculnya pemikiran Barat
modern dan Protestantisme tersebut.

Latar Belakang Pemikiran Barat Modern : Dominasi


Gereja
Dalam sejarah peradaban Barat, sejak munculnya agama Kristen pada
abad I sampai dengan XIV disebut sebagai abad pertengahan. Abad
pertengahan ini meliputi dua fase, yakni fase Bapak Gereja (Patristik)
yang berlangsung dari abad I sampai abad VII dan fase Skolastik yang
berlangsung dari abad ke VIII sampai abad XIV.8 Munculnya agama
Kristen dan pelembagaannya dalam kekaisaran Romawi merupakan
peristiwa besar dalam sejarah peradaban Barat. Signifikansi agama Kristen
terletak dalam kenyataan bahwa agama mengajarkan seperangkat gagasan
khusus, atau dogma, yang diterima sebagai kebenaran. Gagasan-gagasan
ini memberikan tuntunan perilaku manusia, dan alasan untuk berjuang
keras demi keyakinan, serta petunjuk perilaku yang baik dan jahat.

194

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

Kepercayaan akan suatu eksistensi yang adikodrati menjadi basis tindakan


manusia. Sedemikian kuatnya kepercayaan itu mengakar ke dalam lubuk
kesadaran manusia sehingga perubahan kebudayaan menjadi tak
terelakkan, dan akhirnya lahirlah suatu peradaban baru, yakni peradaban
Kristen, yang berbeda dengan peradaban sebelumnya, peradaban YunaniRomawi. Dari sinilah kemudian berkembang masyarakat Kristen, seni
Kristen, kesusteraan Kristen, etika Kristen, serta teologi dan filsafat
Kristen.9
Tidak ada institusi abad pertengahan yang pengaruhnya dalam segala
aspek kehidupan masyarakat begitu besar selain gereja Kristen.10 Gereja
adalah persekutuan semua umat manusia yang mengakui Kristus,
mengikuti sakramen, dan berada di bawah gembala para pendeta, yang
secara sah menjadi wakil sang pemimpin di dunia, yakni Paus. Semua
orang yang dibabtis dengan sendirinya menjadi anggota jemaah gereja,
dan hampir semua orang dibatis karena mereka lahir dari orang tua yang
telah memeluk agama Kristen.11
Gereja yang dikepalai oleh Paus, menganggap dirinya merupakan satusatunya penafsir otentik dari kehendak Tuhan, dan karenanya memiliki
otoritas yang mutlak dalam seluruh bidang rohaniah, termasuk bidang
moral. Kaedah-kaedah etika berhubungan dengan kehidupan sehari-hari,
dan karena itu pengaruh gereja meluas sampai pada urusan duniawi.
Oleh karena itu, pengadilan gereja menangani urusan-urusan yang sangat
beraneka ragam dari kehidupan masyarakat: surat-surat wasiat, catatan
sipil, pernikahan, pemungutan bunga, dan sebagaianya. Pendeknya semua
aspek kehidupan manusia, termasuk juga kehidupan intelektual ada di
bawah otoritas gereja. Universitas-universitas berada langsung di bawah
otoritas Paus, para pengajarnya adalah para gerejawan, dan gereja
mengawasi isi pelajarannya.12
Implikasi yang mungkin paling penting dari pendasaran tata
masyarakat secara teologis-religius itu ialah, bahwa tatanan ini karenanya
diberi sifat abadi. Tuhan telah menghendaki demikian, maka seterusnya
juga harus tetap demikian. Oleh karena itu, setiap ada usaha yang
menghendaki perubahan-perubahan dalam masyarakat selalu dihalanghalangi oleh gereja. Gereja menganggap setiap usaha yang menghendaki
perubahan, yang berupa protes-protes dari sebagian masyarakat itu
dianggap sebagai perlawanan terhadap tatanan yang telah diciptakan
Tuhan, dan dengan demikian merupakan tindakan murtad.13 Meskipun
demikian usaha-usaha untuk melakukan perubahan tetap saja ada,
hingga muncul apa yang kemudian terkenal dengan gerakan renaissance
dan reformasi, dua gerakan yang secara signifikan mempengaruhi
perkembangan peradaban selanjutnya, yakni dengan lahirnya periode
modern dalam peradaban Barat.14

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

195

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

Sumber-sumberPemikiranBaratModern
Dua gerakan sebagaimana disebut di atas, renaissance dan reformasi,
kemunculannya dalam sejarah peradaban Barat terjadi secara tumpang
tindih. Sebagian kaum reformis bergabung dengan gerakan renaissance,
seperti Uriel Acosta; dan sebagian pengikut gerakan renaissance
bergabung dengan gerakan reformasi, seperti Erasmus.15 Karena
renaissance dan reformasi merupakan dua gerakan yang secara signifikan
mempengaruhi munculnya periode modern dalam peradaban Barat, maka
dapatlah dikatakan bahwa, dua gerakan itu merupakan sumber-sumber
atau akar-akar peradaban Barat modern, khususnya dalam bidang
pemikiran.
Di samping dua gerakan tersebut ada satu lagi gerakan yang muncul
dalam waktu yang kurang lebih bersamaan dengan dua gerakan tersebut,
yakni humanisme, yang muncul pertama kali di Italia pada paruh kedua
abad ke empat belas, yang juga merupakan salah satu faktor pembentuk
peradaban Barat modern.16 Bahkan menurut Abagnano, secara historis,
humanisme adalah aspek dasar dari gerakan renaissance, yang melalui
aspek itulah para pemikir-pemikir renaisssance mencoba
mengintegrasikan kembali manusia ke dalam dunia alamiah dan sejarah,
serta menginterprtetasikan manusia itu dalam perspektif ini.17 Dengan
demikian humanisme juga dapat disebut sebagai akar peradaban dan
pemikiran Barat modern, di samping renaissance dan reformasi. Pada
bagian berikut ini akan diuraiakan ketiga sumber dan akar pemikiran
Barat modern dimaksud secara sekilas.
Renaissance
Secara harfiah, renaissance berarti kelahiran kembali.Yang
dimaksudkan dengan kelahiran kembali di sini adalah usaha untuk
menghidupkan kembali kebudayaan klasik. Pada saat orang mencari jalan
baru sebagai alternatif bagi kebudayaan abad pertengahan yang sangat
didominasi oleh suasana Kristiani, perhatian diarahkan kepada satusatunya kebudayaan lain yang masih mereka kenal, yaitu kebudayaan
Yunani dan Romawi. Kebudayaan klasik itu sangat diapresiasi sedemikian
rupa dan diambil sebagai contoh ideal untuk semua bidang kultural.18
Istilah renaissance mula-mula digunakan oleh seorang sejarawan
terkenal, Michelet, dan kemudian dikembangkan oleh J. Burckhardt
untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat
individualistik, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan
manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad
pertengahan.19

196

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

Para sejarawan mengalami kesulitan dalam menentukan secara pasti


kapan abad pertengahan berakhir dan gerakan renaissance dimulai. Pada
umumnya gerakan renaisannce dipahami sebagai gerakan yang terjadi
pada abad ke lima belas dan enam belas.20 Akan tetapi sesungguhnya
beberapa perubahan yang kemudian disebut berciri sebagai gerakan
renaissance itu sudah muncul pada paruh kedua abad ke empat belas,
yakni terutama dalam bidang sastra di Italia, dengan munculnya tokohtokoh seperti Petrarca (1304-1374) dan Boccaccio (1313-1375). Mereka
disebut sebagai humanis, yakni sarjana yang mendalami sastra dan
kebudayaan Yunani kuno. Dengan demikian humanisme pada masa
kemunculan awalnya ini lebih merupakan sebuah gerakan dalam bidang
sastra yang mencari inspirasinya pada kesusasteraan klasik dari Yunani
dan Roma.21
Suatu perkembangan yang sangat penting pada masa renaissance adalah
timbulnya ilmu pengetahuan alam yang modern, berdasarkan metode
eksperimental dan matematis.22 Dengan munculnya ilmu pengetahuan
alam modern itu pandangan dunia Aristotelian yang menguasai seluruh
abad pertengahan secara definitif akhirnya ditinggalkan. Beberapa perintis
yang membuka jalan baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern
ini di antaranya adalah Nicolaus Copernikus (1473-1543), Johannes Kepler
(1571-16309), dan Galileo Galilei (1564-1643). Sementara tokoh yang
dinilai telah meletakkan dasar-dasar filosofis bagi perkembangan ilmu
pengetahuan modern itu adalah Francis Bacon (1561-1623). Karyanya
Novum Organon yang bersifat induktif dimaksudkan untuk menggantikan
Organon-nya Aristoteles yang deduktif.23
Tentu saja perubahan yang terjadi pada masa renaissance tidak hanya
berkaitan dengan dua bidang, sebagaimana telah disebut di atas, yakni
sastra dan ilmu pengetahuan. Gerakan renaissance telah membawa
perubahan signifikan dalam peradaban Barat, yang secara garis besar
meliputi berbagai aspek, yaitu:
Pertama aspek intelektual. Dalam aspek ini ditandai oleh Kebangunan
kembali Kebudayaan dan Seni (the Revival of Letter and Art), perluasan
pandangan manusia tentang kehidupan, serta perluasan pendidikan.
Manufaktur kertas serta penemuan percetakan, yang memungkinkan
penggandaan teks serta penurunan harganya, memungkinkan penyebaran
pengetahuan.Yang juga berkait erat dengan Renaissance intelektual
adalah pengadopsian kembali metode-metode ilmiah, yaitu ketika
manusia kembali mengkaji alam dan dengan pengamatan serta
eksperimen meletakkan dasar bagi semua karya ilmiah yang sejak saat
itu telah dicapai. Pengumpulan berbagai hasil pengamatan serta
perbandingan telah memungkinkan Copernicus mengembangkan teoriteorinya yang baru mengenai astronomi; perlunya cara-cara yang lebih

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

197

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

baik untuk mengamati angkasa membuat Galileo menemukan teleskop.


Penemuan Amerika dan route Cape ke wilayah Timur, memungkinkan
pemakaian kompas, yang mempengaruhi dunia, secara intelektual dan
ekonomi, dalam batas yang tidak dapat diperhitungkan.
Kedua, aspek politik. Dalam aspek ini ditandai oleh kematian ide
tentang otoritas universal Kerajaan, munculnya nasionalitas, serta
konsolidasi negara-negara yang padu, dan terorganisir secara baik; ini
yang membuat fase berikutnya dari politik Eropa sebagai politik
internasional.
Ketiga, aspek sosial. Dalam aspek ini ditandai dengan mulai terbaginya
Eropa secara vertikal, dan bukan secara horizontal seperti yang terjadi
sebelumnya. Hancurnya feodalisme, pemakaian senjata api dalam
peperangan, yang merusak superioritas pimpinan militer di hadapan
prajurit biasa, munculnya rasa nasionalitas, kekayaan dan arti penting
klas-klas ekonomi, pembebasan budak, kesemuanya ikut serta merusak
pembagian kasta-kasta sosial, dan kepentingan bersama mereka
mendorong orang dalam suatu bangsa lebih memiliki perasaan simpati
satu sama lain dibandingkan dengan orang lain yang memiliki peringkat
yang sama. Di dalam masyarakat pun individu semakin memiliki arti
penting sebagai individu, dan tidak sekedar sebagai pemegang jabatan
atau anggota suatu kelompok.
Keempat, aspek Eklessiastikal. Dalam aspek ini ditandai dengan
pecahnya ide tentang Gereja Dunia (World Church) serta munculnya
Gereja nasional. Karena semangat Renaissance untuk meneliti
menampakkan wajah yang lebih serius di Eropa, mereka menerapkan
semangat untuk meneliti itu pada permasalahan-permasalahan yang lebih
dalam tentang moral dan kehidupan keagamaan. Hak individu untuk
memikirkan dirinya, yang dalam hal-hal yang bersifat keduniaan telah
baik, juga ditegaskan dalam berbagai masalah keagamaan, dan di Jerman
khususnya, kajian bebas ini telah membangkitkan atmosfir di mana
kehancuran Gereja tidak mungkin diselamatkan, dan mati dengan
sendirinya.24
Meskipun terdapat berbagai perubahan yang begitu mendasar, namun
abad-abad renaissance, abad kelima belas dan keenam belas, tidaklah
secara langsung menjadi lahan subur bagi pertumbuhan pemikiran di
Barat. Baru pada abad ketujuh belas daya hidup yang kuat, yang telah
timbul pada masa renaissance itu, mendapatkan pengungkapannya yang
serasi di bidang pemikiran, khususnya filsafat. Jadi, perubahan-perubahan
yang terjadi pada masa renaissance itu hanya merupakan persiapan bagi
pembentukan pemikiran pada abad ketujuh belas, abad modern.25 Dengan
kata lain dapat dinyatakan bahwa renaissance adalah pintu gerbang
menuju abad modern.

198

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

Humanisme
Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, kurang lebih
bersamaan dengan munculnya gerakan renaissance, muncul pula gerakan
yang dikenal dengan humanisme dan reformasi. Ketiga gerakan ini
merupakan gerakan yang saling tumpang tindih satu sama lain, utamanya
antara renaissance dan humanisme. Sebagaimana telah disinggung pula
bahwa humanisme adalah aspek dasar dari renaissance.
Meskipun humanisme pada saat kemunculan awalnya lebih merupakan
sebuah gerakan dalam bidang sastra yang mencari inspirasinya pada
kesusasteraan klasik dari Yunani dan Roma, namun dalam
perkembangannya humanisme menjadi sebuah gerakan atau aliran yang
tidak hanya terkait dengan sastra, melainkan mencakup bidang-bidang
yang luas, sehingga gerakan humanisme itu sendiri muncul dalam
berbagai bentuk. Itulah sebabnya Magnis Suseno menilai bahwa
humanisme merupakan kata yang ambivalen (ambivalent word).26
Laeyendecker misalnya, mendefinisikan humanisme sebagai aliran yang
menekankan orientasi kepada nilai manusia sebagai individu.27 Pada abad
pertengahan, orang memperoleh nilai serta identitasnya dari kolektivitas
di mana ia menjadi anggotanya. Kesadaran tentang nilai asasi individu
hampir tidak ada sama sekali. Orang abad pertengahan juga tidak
memandang dirinya sebagai pencipta dunianya. Negara-negara kota di
Italia, terutama Florence dan Venesia, dapat dianggap sebagai tempat
kelahiran sikap jiwa yang baru itu., di mana manusia sebagai individu
otonom merupakan titik pusat. Di sanalah mulai berkembang manusia
individualistis modern. Individualisme itu terwujud dalam berbagai
bidang. Timbullah suatu bentuk prestise yang baru, kemasyhuran pribadi,
yang hanya dapat didasarkan atas prestasi individual. Berbeda dengan
abad pertengahan pada waktu mana karya-karya puisi kebanyakan
diterbitkan tanpa nama penciptanya, maka mulai abad ke empat belas
penyairnya sendiri tampil ke depan sebagai pribadi kreatif yang dengan
bangga menunjukkan prestasinya.
Humanisme juga mengajarkan kebebasan (fredom), utamanya bebas
dari institusi-institusi fundamental dunia abad pertengahan, yakni
kerajaan, gereja, dan feodalisme. Dengan kebebasan dari dominasi
berbagai institusi abad pertengahan itu, utamanya dominasi gereja,
manusia menjadi bebas untuk merancang kehidupannya di dunia secara
otonom.28 Dengan demikian yang menjadi pusat bukan lagi Tuhan,
melainkan manusia sendiri. Bukan lagi Teosentris yang merupakan ciri
abad pertengahan, melainkan antroposentris.29
Secara epistemologis, humanisme didasarkan pada asumsi bahwa akal
manusia dapat digunakan untuk menentukan kebenaran-kebenaran
moral maupun etik,30 bukan lagi pada Tuhan. Dengan demikian,

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

199

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

sekularisme, yang merupakan salah satu unsur fundamental sistem dunia


modern (the modern world system), adalah implikasi langsung dari
humanisme.31 Namun demikian bukan berarti bahawa humanisme identik
dengan sekularisme. Dalam perkembangannya, humanisme, juga
menampakkan dalam wajah yang religius, misalnya dalam diri Erasmus,32
seorang sarjana Belanda pada abad ke enam belas, yang dinilai sebagai
puncak humanisme.33
Reformasi
Berbeda dengan dua gerakan yang telah dibicarakan di atas, yang
bersifat non-religius, gerakan reformasi ini bersifat religius. Penyebab utama
yang mendorong munculnya gerakan reformasi adalah banyaknya
penyelewengan yang terjadi dalam praktek-praktek gereja Roma Katholik
saat itu dari ajaran aslinya, yakni Bibel.34
Seperti yang sudah disinggung pada bagian terdahulu, pada abad
pertengahan gereja mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia.
Dominasi gereja yang dipimpin oleh paus ini mencapai puncaknya pada
abad ke tiga belas. Sejalan dengan memuncaknya dominasi gereja,
penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh gereja menjadi
semakin nyata, dan ini terlihat dalam kebobrokan yang terjadi di istana
paus. Kemewahan di istana paus melebihi kemewahan di istana raja-raja
di Prancis dan Inggris. Untuk kemewahan itu tentunya diperlukan uang,
dan uang itu diperoleh melalui sistem pajak kegerejaan, penjualan
jabatan-jabatan, dan apa yang dinamanakan absolusi, yakni pembebasan
dari hukuman dosa yang dapat diperoleh dengan pembayaran berupa
uang. Ini semua akhirnya menimbulkan kejengkelan para anggota gereja
yang beriktikad baik,35 yang pada gilirannya menimbulkan gerakan
reformasi.
Gerakan reformasi ini muncul dalam bentuk yang beragam, ada yang
bersifat mistis,36 teosentris, dan bahkan sosial politik yang revolusioner.37
Meskipun demikian, ada unsur penting yang menyatukan berbagai
gerakan reformasi itu, yakni keberaniannya menyentuh pusat kekuasaan,
yaitu gereja, dan monopolinya terhadap hak menentukan doktrin
keimanan dan kaedah penafsiran. Pengakuan keimanan harus dilakukan
di hadapan gereja, karena gerejalah yang dapat memberikan
pengampunan. Doa harus dilakukan di gereja, karena hanya di gerejalah
doa didengar dan dikabulkan. Sementara gerakan reformasi menolak
mediasi antara manusia dengan Tuhan, dan memposisikan hubungan
manusia dengan Tuhan sebagai hubungan langsung, baik dalam berdoa
maupun dalam memohon ampunan. Reformasi hanya mengakui kitab
suci sebagai satu-satunya sumber agama dengan jargon hanya kitab suci

200

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

dan menolak sumber lain seperti tradisi gereja, karena adanya


pertentangan antara sabda al-Masih dengan ajaran Bapak Gereja, antara
ajakan al-Masih yang etis dengan ajaran Bapak Gereja yang paganis.38
Di antara sekian banyak tokoh reformasi, Martin Luther dan John
Calvin merupakan dua tokoh yang paling menonjol. Kedua tokoh inilah
yang disebut oleh Laeyendecker sebagai peletak dasar-dasar reformasi,39
yang pada gilirannya gerakan reformasi yang digulirkannya membawa
perubahan besar dalam perkembangan sejarah gereja sendiri pada
khususnya dan perkembangan peradaban pada umumnya.
Martin Luther (1483-1546), guru besar teologi di Wittenberg, Jerman,
melancarkan kritiknya pertama-tama ditujukan ke arah penyalahgunaan
penjualan penebusan dosa, dan ini segera menyinggung kewibawaan paus
sendiri serta kemudian seluruh organisasi gereja. Menurut Luther, jabatan
paus adalah buatan manusia. Sumber keselamatan satu-satunya adalah
keyakinan pribadi. Pendeta sebagai mediator tidaklah diperlukan karena
setiap orang adalah pendeta bagi dirinya sendiri.40 Sementara John Calvin
(1509-1564) berpendapat bahwa manusia wajib berbakti kepada Tuhan
karena Tuhan telah mengangkatnya menjadi pengelola bumi ini.
Tanggungjawab terhadap kewajiban ini tidak dapat dialihkan kepada
gereja seperti yang dilakukan oleh orang Katolik. Bagi orang Katolik,
gereja dapat melebur dosa dengan memaafkannya, menurut Calvin
manusia berdiri sebagai individu tanpa perantara di hadapan penciptanya.
Menurut Calvin negara tidak mempunyai kekuasaan otonom, melainkan
merupakan alat kehendak Tuhan. Organisasi gereja haruslah bersifat
demokratis, dalam arti bahwa umat ikut serta mengurusnya. Gereja
diorganisir secara lokal: satuan umat merupakan satuan organisatoris yang
terpenting. Di dalam organisasi ini juga diadakan pengawasan yang ketat
terhadap perilaku hidup yang harus bersahaja dan tekun.41
Dengan ajaran-ajaran seperti itu, Luther dan Calvin menghancurkan
fundamen teologis yang mendasari kekuasaan gereja yang berlangsung
selama abad pertengahan. Memang gereja Katholik mempertahankan
diri dengan apa yang disebut Kontra-Reformasi. Gereja Katholik berusaha
mengadakan pembenahan intern yang lambat laun membuahkan hasil.
Di samping itu di negara-negara yang raja-rajanya memihak kepadanya,
gereja Katholik bertindak kejam terhadap pengikut gerakan reformasi
dengan apa yang disebut inkuisisi. Akan tetapi betapapun besarnya
kesengsaraan yang ditimbulkan oleh inkuisisi ini, hasil terakhir
daripadanya tidaklah seberapa. Gerakan reformasi sudah terlanjur
bercokol dengan kuat. Akibatnya kekuasaan gereja menjadi menurun.
Negara-negara nasional mulai memerdekakan diri dari kekuasaan gereja,
dan kaum awam tidak lagi begitu hormat terhadap kewibawaan gereja.
Monopoli gereja Katholik di bidang keagamaan telah diruntuhkan, dan

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

201

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

untuk selanjutnya gereja Katholik hanyalah merupakan suatu gereja di


samping gereja-gereja lainnya.42

Protestantisme:AkardanSpektrum
Di antara gereja-gereja yang beragam itu salah satunya adalah yang
kemudian disebut dengan gereja Protestan atau agama Protestan. Gereja
atau agama Protestan ini adalah gereja atau agama yang kemunculannya
dipelopori, diantaranya oleh Luther dan Calvin.43
Sebagai penamaan gereja, Protestant tidak dikenal selama periode
Reformasi dan lama setelah itu. Di Jerman, para Reformer itu biasa
menyebut diri mereka evangelici, dan menghindari penamaan khusus
untuk komunitas mereka, yang hanya mereka pahami sebagai bagian
dari Gereja Katolik yang sesungguhnya.44 Baru setelah periode Perang
Tiga Puluh Tahun (Thirty Years War), kedua aliran besar dalam gereja
yang direformasi atau gereja evangelical menunjukkan pemisahan secara
definitif: yaitu para pengikut Calvin yang menyebut diri mereka sebagai
Reformed Church, dan para pengikut Luther sebagai Lutherans Church.
Nama Protestant mulanya diterapkan pada protes terhadap raja oleh para
lawannya, namun kemudian digunakan secara umum untuk semua
pengikut agama yang telah mengalami reformasi.45 Dengan demikian
gereja atau agama Protestan tidak lain adalah gereja yang muncul akibat
dari gerakan reformasi.
Sesungguhnya, ada banyak persamaan antara agama Protestan dengan
agama Roma Katolik maupun agama Ortodoks Timur. Jika garis besar
sejarah iman dan peribadatan Kristennya ditinjau secara umum,
sebagaimana dinyatakan oleh Smith, agama Protestan terutama lebih
bersifat Kristen daripada bersifat Protestan.46 Namun demikian, tentu
ada yang membedakan agama Protestan dari kedua agama tersebut, yakni
dua ciri khasnya yang paling menonjol, yang tidak lain adalah Pembenaran
karena Iman dan Asas Protestan.
Dalam konsepsi Protestan, iman bukan sekedar masalah kepercayaan,
yaitu diterimanya suatu pengetahuan sebagai hal yang pasti tanpa adanya
bukti. Iman adalah suatu tanggapan seluruh diri manusia. Iman adalah
suatu tanggapan pribadi agar Tuhan, yang sebelum itu merupakan suatu
dalil dari para filsuf dan teolog, menjadi Tuhan bagi diriku, Tuhanku.
Inilah makna dari pernyataan Luther, sebagaimana dikutip Smith, bahwa
Setiap orang harus menghayati imannya sendiri sebagaimana ia akan
menghadapi kematiannya sendiri.47 Penekanan agama Protestan
terhadap iman sebagai suatu tanggapan dari seluruh diri manusia ini
merupakan suatu protes terhadap kehidupan beragama yang dangkal.
Protes Luther terhadap pengampunan dosa, yang jika dibeli dianggap

202

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

akan membantu menyelamatkan si pembeli, hanyalah merupakan simbol


dari protes yang lebih luas, yang tertuju kepada berbagai hal dalam
kehidupan beragama yang dangkal itu. Inilah makna dari pekik persatuan
Protestan, Pembenaran karena Iman.
Pandangan dasar lainnya, yang disebut sebagai Asas Protestan, jika
dijelaskan secara teologis, asas itu memperingatkan pengikutnya akan
bahaya penyembahan berhala; dan jika dijelaskan secara filosofis, asas
itu memperingatkan pengikutnya akan bahaya pemutlakan terhadap yang
nisbi.48 Berdasarkan pada ajaran inilah, orang Protestan tidak dapat
menerima ajaran yang menyatakan bahwa seorang Paus tidak mungkin
keliru, karena ajaran tersebut akan meniadakan selama-lamanya
kemungkinan mengkritik pikiran-pikiran, yang dalam pandangan
Protestan tidak mungkin seluruhnya luput dari keterbatasan dan
kesalahan. Rumusan-rumusan serta pernyataan-pernyataan iman boleh
dipercayai sepenuhnya dan dengan bersungguh-sungguh. Akan tetapi
menempatkan hal itu di luar jangkauan perbaikan dalam bentuk
tantangan dan kritik, sama artinya dengan memutlakkan sesuatu yang
bersifat terbatas, yaitu meninggikan potongan-potongan benda kecil
ke tempat yang seharusnya disediakan bagi Tuhan semata.
Dalam perkembangannya agama Protestan ini terpecah ke dalam
beberapa sekte. Dalam ungkapan Smith, Agama Protestan lebih
merupakan suatu gerakan Gereja-gereja daripada suatu Gereja.49 Di
Amerika Serikat saja ada 255 sekte Protestan. Terpecahnya Protestan ke
dalam beberapa sekte ini jelas merupakan implikasi langsung dari
pandangan dasarnya, yang dikenal dengan Asas Protestan, sebagaimana
telah dijelaskan di atas. Dengan asas ini, orang Protestan menolak semua
bentuk berhala, termasuk hegemoni tafsir tertentu terhadap kitab suci,
sebagaimana terjadi dalam gereja pada abad pertengahan. Dengan
demikian orang lalu bebas memahami kitab suci, terlepas dari otoritasotoritas tertentu, sehingga muncullah penafsiran yang beragam, yang
pada gilirannya terwujud dalam bentuk sekte-sekte yang beragam pula.
Orang Protestan demikian bersungguh-sungguh memahami kitab suci
sehingga mereka bersedia untuk menciptakan bentuk-bentuk Gereja baru,
dan bentuk-bentuk yang berlainan dari sesama Protestan lainnya. Ini
disebabkan oleh kenyataan, bahwa kehidupan dan sejarah demikian
lancar mengalir, sehingga sukar untuk mengurung sabda Ilahi yang berisi
pembebasan itu dalam bentuk yang tunggal dan tidak berubah.
Sebagaimana telah disinggung pada bagian terdahulu, bahwa gerakan
reformasi yang kemudian melahirkan gereja-gereja baru, yang di antaranya
adalah gereja Protestan, adalah gerakan keagamaan. Akan tetapi dalam
kenyataannya gerakan tersebut tidak bisa lepas dari faktor-faktor lain,
selain agama itu sendiri., misalnya politik dan ekonomi.50 Ketika Luther,

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

203

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

akibat kritik-kritknya, dihukumi murtad


oleh gereja Katholik
Roma, ia kemudian diberi dukungan oleh sejumlah raja di Jerman yang
dahulu merupakan bagian dari kekaisaran. Para raja ini melihat
persengketaan antara Luther dengan gereja Katholik Roma sebagai
kesempatan untuk menguasai harta benda milik gereja. Dengan demikian
reformasi, begitu juga Protestan, yang dimaksudkan sebagai gerakan
keagamaan memperoleh juga sifat politik dan ekonomis.51

ProtestantismedanKapitalisme
Signifikansi Protestantisme dalam bidang non-keagamaan, khususnya
dalam bidang ekonomi, terlihat dalam pengaruh etika Protestan terhadap
kemunculan Kapitalisme. Dalam karyanya, The Protestant Ethic and the
Spirit of Capitalism (1958), Weber menganalisis salah satu terobosan
penting yaitu perkembangan model kapitalistik dalam organisasi sosioekonomi. Dia membuat hipotesis tentang kaitan antara pemunculan
pandangan dunia Protestan dengan pemunculan kapitalisme pada
masyarakat Barat pada waktu sesudahnya. Menurut Weber, kapitalisme
merupakan salah satu faktor signifikan dalam modernisasi. Ciri kunci
dari modernisasi adalah rasionalitasnya yang berorientasi pada cara
(means-end [i.e. functional] rationality). Weber menekankan bahwa
kapitalisme bukan sekedar ketamakan atau keserakahan namun juga
investasi waktu dan sumber daya secara rasional dan sistematik untuk
mengharapkan keuntungan di waktu yang akan datang. Selain itu,
perluasan perspektif ini ke arah sistem ekonomi yang berskala sosial
membutuhkan peran-peran yang tersedia secara sosial untuk
melaksanakan tugas-tugas ini: khususnya peran wiraswastawan
(entrepreneur).
Lebih lanjut Weber berpendapat bahwa munculnya individu-individu
yang memiliki nilai kebutuhan dan karakteristik untuk menjadi
wiraswastawan merupakan hal penting bagi pemunculan kapitalisme.
Perkembangan ini dimungkinkan dengan adanya suatu bentuk baru
individualisme, suatu hasil sampingan yang tidak disengaja dari varian
utama Protestantisme pada masa penting dalam sejarah itu. Peran sosial
wiraswastawan membutuhkan seseorang yang menghargai kerja keras
dan memandang kepuasan yang tertunda sebagai kebaikan di dalam
dirinya sendiri. Protestantisme lama, khususnya Lutheranisme,
memberikan kontribusi bagi etika ini, yaitu dengan interpretasinya
mengenai kerja (work) sebagai suatu pekerjaan (vocation). Jadi, kerja
orang awam dipandang sebagai suatu kebaikan, yang memenuhi seruan
khusus dari Tuhan. 52

204

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

Pada tahapan selanjutnya, kapitalisme menuntut kehendak orang


untuk mengingkari diri mereka sendiri secara rasional dan sistematik
demi untuk mencapai tujuan masa depan. Aliran yang dominan dari
Protestantisme (misalnya, Calvinisme, Puritanisme, Pietisme,
Anabaptisme) memunculkan sifat yang sedemikian itu karena asketisme
keduniaannya (inner-worldly), yang mendorong para anggotanya untuk
aktif di dunia, yaitu untuk membuktikan keselamatan mereka dengan
berbagai tindakan sosial ekonomi mereka. Pada saat yang sama, bentukbentuk Protestantisme ini mengharapkan para anggotanya untuk
meninggalkan kenikmatan dunia, dengan tidak membelanjakan uang
mereka untuk kemewahan, minuman keras, berjudi, atau hiburan. Oleh
karena itu, etika Protestan muncul dalam bentuk kerja keras,
ketenangan hati, hemat dan kepuasan yang tertunda. Meskipun
perolehan kapitalistik jauh dari sasaran nilai Protestan ini, menurut
Weber, perkembangan awal kapitalisme dimungkinkan oleh adanya
orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini.53
Secara simultan, Protestantisme memunculkan suatu sumber motivasi
baru yang kuat bagi tindakan ekonomi semacam itu untuk menjadi
kapitalisme. Keyakinan Protestan memunculkan suatu bentuk
individualisme baru, yaitu suatu mode baru hubungan individumasyarakat. Menurut Katolik Roma, individu itu mengalami penerimaan
yang terselubung (blanket). Posisi individu di hadapan Tuhan serta
para pengikutnya ditandai dengan pemilikan gereja serta penerimaan
sakramennya; yang dengan demikian juga berarti ditandai dengan
kepemilikan kelompok yang melegitimasi para anggotanya. Protestantisme,
khususnya kelompok Calvinist, tidak menawarkan keamanan (security)
seperti itu. Weber berpendapat bahwa etika Protestan menghendaki
individu untuk melegitimasi diri mereka sendiri. Etika Protestan
menghendaki legitimasi-diri, yang bersatu dengan asketisme keduniaan,
kemudian memunculkan motivasi yang kuat untuk melakukan tindakan
sosial ekonomi yang dituntut oleh kapitalisme. Weber mengkaitkan nilainilai dan motivasi yang ditimbulkan oleh etika Protestan itu dengan
munculnya kapitalisme, khususnya peran penting wiraswastawan. Namun
demikian, ketika telah mapan, kapitalisme sama sekali tidak
membutuhkan etika Protestan. Kapitalisme yang matang, menurut Weber,
dapat menghidupi diri sendiri.

Penutup
Demikianlah telah dikemukakan uraian mengenai sumber-sumber dan
akar pemikiran Barat modern dan Protestantisme. Dari seluruh uraian
yang telah disampaikan di atas dapat diimpulkan, bahwa pemikiran Barat

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

205

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

modern pada khususnya dan peradaban Barat modern pada umunya yang
sedemikian maju, sebagaimana terlihat sekarang ini, tidaklah muncul
begitu saja di ruang hampa. Pemikiran dan peradaban Barat modern jelas
bersumber dari nilai-nilai yang dimunculkan oleh gerakan renaissance
dan gerakan reformasi yang telah berhasil mematahkan kekuasaan gereja
yang sedemikian mendominasi selama abad-abad pertengahan.
Meskipun gerakan renaissance dan reformasi sama-sama merupakan
reaksi dan perlawanan terhadap dominasi gereja, namun orientasi
keduanya berbeda. Renaissance berorientasi kembali kepada peradaban
klasik yang telah hilang pada abad pertengahan, sementara reformasi
berorientasi kembali kepada kitab suci yang telah diselewengkan oleh
gereja. Sejarah telah mencatat, meskipun orientasi keduanya berbeda,
namun kedua gerakan tersebut secara simultan telah mampu mematahkan
dominasi gereja, yang terbukti selama abad pertengahan tidak banyak
melahirkan kemajuan pemikiran dan peradaban, dan karenanya disebut
abad gelap; sekaligus mampu meletakkan dasar-dasar bagi kemunculan
pemikiran dan peradaban modern.[]

Catatan Akhir:
Penulis adalah dosen Ilmu Filsafat pada Fakultas Dakwah IAIN
Walisongo Semarang.
1
Lihat Hassan Hanafi. Oksidentalisme: Sikap Kita terhadap Tradisi Barat
(Muqaddimah fi al-Ilm al-Istighrab), terj. M. Najib Buchori (Jakarta:
Paramadina, 2000) h. 40.
2
Djoko Suryo. Sejarah Peradaban Barat, Kuliah pada Jenjang Doktor
Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Semester I, 14
September 2000.
3
Lihat Emmeline M. Tanner. The Renaissance and the Reformation: A
Textbook of European History 1494-1610 (Oxford: Clarendon Press, 1965)
h. 21.
4
Lihat Hassan Hanafi. Oksidentalisme, h. 40 dan 125-6.
5
Lihat Henry S. Lucas. Sejarah Peradaban Barat Abad Pertengahan (A
Short History of Civilzation) terj. Sugihardjo Sumobroto dan Budiawan
(Yogyakrta: Tiara Wacana, 1993) h. 163.
6
L. Laeyendecker. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: suatu Pengantar
Sejarah Sosiologi (Orde, Verandering, Ongelijkheid: een Inleiding in de
geschiedenis van de sociologie) terj. Samekto S.S. (Jakarta: Gramedia,
1983) h. 5-9. Lihat juga Nicola Abagnano. Humanism dalam Paul
Edwadrs (Ed.). The Encyclopaedia of Philosophy, Vol. IV (New York:
MacMillan Publish Co., Inc. & The Free Press) h. 69-72.
*)

206

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

Dalam bidang sains dan terknologi misalnya, terjadi perkembangan


yang luar biasa cepat dalam periode moderen, khususnya dalam dua abad
terakhir ini, sehingga abad sekarang ini disebut dengan abad sains dan
teknologi. Kemajuan sains dan teknologi yang terjadi pada periode
moderen selama kurang lebih empat abad ini sangat cepat, dibandingkan
dengan perkembangan sains dan teknologi yang berkembang secara
akumulatif dalam periode-periode sebelumnya yang berlangsung selama
kurang lebih dua puluh abad. Lihat Harold Titus. Living Issues in
Philosophy: an Introductory Textbook, Fourth Edition (New York: American
Book Company, 1964) h. 73-7.
8
Lihat Hassan Hanafi. Oksidentalisme, h. 174.
9
Lihat Henry S. Lucas. Sejarah Peradaban Barat , h. 1.
10
Ibid., h. 163. Lihat juga L. Laeyendecker. Tata, Perubahan, dan
Ketimpangan , op. cit., h. 9.
11
Ibid.
12
Lihat Laeyendecker. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan, h. 10.
13
Ibid.
14
Lihat Hassan Hanafi. Oksidentalisme, h. 273-97.
15
Ibid.
16
Lihat Nicola Abagnano. Humanism, h. 69-72.
17
Ibid.
18
Lihat K. Bertens. Ringkasan Sejarah Filsafat (Yogyakarta: Kanisius,
1991) h. 44.
19
Lihat Dagobert D. Runes (Ed.). Dictionary of Philosophy (Totowa,
New Jersey: Litlefield, Adam & Co., 1971) h. 270.
20
Bertens. Ringkasan Sejarah, h. 44. Lihat juga Laeyendecker. Tata,
Perubahan, dan Ketimpangan, h.11-2; dan Harun Hadiwijono. Sari
Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius, 1992) h. 11.
21
Ibid.
22
Ibid. Lihat juga Hassan Hanafi. Oksidentalisme, h. 292.
23
Ibid. Mengenai pemikiran Francis Bacon, lihat misalnya Hadiwijono.
Sari Sejarah, h. 15-7.
7

Tanner. The Renaissance, h. 24-25.


Lihat Hadiwijono. Sari Sejarah, h. 13. Lihat juga John R. Hale.
Zaman Renaissance (Renaissance), terj. Suwargono Wirono (Jakarta: Tira
Pustaka, t.t.) h. 11-20.
26
Lihat Franz Magnis-Suseno SJ. Religious Versus Secular Humanism?
Makalah dalam International Seminar on Islam and Humanism, IAIN
Walisongo Semarang, 5-8 Nopember 2000.
27
Lihat Laeyendecker. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan, p. 24.
28
Lihat Abagnano. Humanism, h. 70.
24
25

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

207

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

Lihat Hassan Hanafi. Oksidentalisme, h. 296. Lihat juga


Hadiwijono. Sari Sejarah, h. 7.
30
Lihat Mark R. Woodward. Islam, Humanism and Ethics: Implications
for Contemporary Indonesia, Makalah dalam International Seminar on
Islam and Humanism, IAIN Walisongo Semarang, tanggal 5-8 Nopember
2000.
31
Berkenaan dengan sekularisme yang merupakan unsur fundamental
sistem dunia modern ini, Anthony Giddens, sebagaimana dikutip
Woodward menyatakan: Yet most of the situations of modern social life
are manifestly incompatible with religion as a pervasive influence on dayto-day life. Religious cosmology is suplanted by reflexively organized
knowledge, governed by empirical knowledge, governed by empirical
observation and logical thought, and focused upon material technology
and socially codes. Ibid.
32
Lihat M. Amin Abdullah. Religious Humanism Versus Secular
Humanism: Towards a New Spiritual Humanism Makalah dalam
International Seminar on Islam and Humanism, IAIN Walisongo Semarang,
5-8 Nopember 2000.
33
Magnis-Suseno. Religious Versus Secular Humanism?, h. 2.
34
Alister E. McGrath. Sejarah Pemikiran Reformasi (Jakarta:BPK
Gunung Mulia, 1999) h. 39.
35
Laeyendecker. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan, h. 19-20.
36
Menuirut Laeyendecker, berkembangnya mistik ini adalah
merupakan gejara protes yang pertama kali muncul terhadap kebobrokan
gereja. Mistik ini ditandai oleh kenyataan bahwa kontak dengan Tuhan
dicari melalui penghayatan iman secara batiniah dan pribadi. Jadi tanpa
perantaraan gereja. Ibid.
37
Hassan Hanafi. Oksidentalisme, hal, 274-82.
38
Ibid.
39
Laeyendecker. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan, h. 20.
40
Ibid. Mengenai ajaran-ajaran Luther secara umum, lihat misalnya
Encyclopaedia Britanica, Vol. 14 (Chicago: William Benton Publisher, 1965)
h. 436-48.
41
Ibid. Mengenai ajaran-ajaran Calvin secara umum, lihat misalnya
Encyclopaedia Britanica, Vol. 4, h. 671-4.
42
Ibid. 19-23.
43
Lihat Huston Smith. Agama-agama Manusia (The Religion of Man),
terj. Safrudin Bahar, edisi kelima (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999).
H. 403.
44
Lihat Encyclopaedia Britanica Vol. 18, hal 611. Luther sendiri
misalnya, semula tidaklah bermaksud untuk memisahkan diri dari gereja
Katholik. Dengan kritik-kritiknya ia hanya ingin mengoreksi kebobrokan
29

208

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

yang terjadi dalam gereja dan melakukan perombakan terhadapnya. Lihat


Laeyendecker. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan, h.20.
45
Ibid.
46
Lihat Smith. Agama-agama, h. 403.
47
Ibid., h. 404
48
Ibid. h. 405-9.
49
Ibid, h. 403.
50
Ibid.
51
Lihat Laeyendecker, op. cit., h. 20-1.
52
Lihat Meredith B. McGuire. Religion: The Social Context (California:
Wadsworth Publishing Company, 1981) h. 192.
53
Ibid.
54
Ibid., h. 192-3. Untuk pembahasan tesis Weber tentang pengaruh
etika Protestan terhadap kemunculan kapitalisme ini lihat juga Taufik
Abdullah. Tesis Weber dan Islam di Indonesia dalam Taufik Abdullah
(ed.). Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi (Jakarta: LP3ES,
1982) h.1-40; dan tulisan Max Weber sendiri, Sekte-sekte Protestan
dan Semangat Kapitalisme dalam Taufik Abdullah (ed.). Agama, Etos
Kerja dan Perkembangan Ekonomi (Jakarta: LP3ES, 1982) h. 41-78.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Amin. Religious Humanism Versus Secular Humanism:
Towards a New Spiritual Humanism Makalah dalam International
Seminar on Islam and Humanism, IAIN Walisongo Semarang, 5-8
Nopember 2000.
Abagnano, Nicola. Humanism dalam Paul Edwadrs (Ed.). The
Encyclopaedia of Philosophy, Vol. IV, New York: MacMillan Publish
Co., Inc. & The Free Press.
Abdullah, Taufik. Tesis Weber dan Islam di Indonesia dalam Taufik
Abdullah (ed.). Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi,
Jakarta: LP3ES, 1982.
Bertens, K.. Ringkasan Sejarah Filsafat , Yogyakarta: Kanisius, 1991.
Encyclopaedia Britanica, Vol. 4, 14, dan 18, Chicago: William Benton
Publisher, 1965.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

209

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

Hale, John R.. Zaman Renaissance (Renaissance), terj. Suwargono


Wirono, Jakarta: Tira Pustaka, t.t.
Hanafi, Hassan. Oksidentalisme: Sikap Kita terhadap Tradisi Barat
(Muqaddimah fi al-Ilm al-Istighrab), terj. M. Najib Buchori,
Jakarta: Paramadina, 2000.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2 ,Yogyakarta: Kanisius,
1992.
Laeyendecker, L.. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: suatu Pengantar
Sejarah Sosiologi (Orde, Verandering, Ongelijkheid: een Inleiding
in de geschiedenis van de sociologie) terj. Samekto S.S., Jakarta:
Gramedia, 1983.
Lucas, Henry S.. Sejarah Peradaban Barat Abad Pertengahan (A Short
History of Civilzation) terj. Sugihardjo Sumobroto dan Budiawan,
Yogyakrta: Tiara Wacana, 1993.
Magnis-Suseno, Frans SJ. Religious Versus Secular Humanism? Makalah
dalam International Seminar on Islam and Humanism, IAIN Walisongo
Semarang, 5-8 Nopember 2000.
McGrath, Alister E.. Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta:BPK Gunung
Mulia, 1999.
McGuire, Meredith B.. Religion: The Social Context, California: Wadsworth
Publishing Company, 1981
Runes, Dagobert D. (Ed.). Dictionary of Philosophy. Totowa, New Jersey:
Litlefield, Adam & Co., 1971.
Smith, Huston. Agama-agama Manusia (The Religion of Ma), terj.
Safrudin Bahar, edisi kelima, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
1999..
Suryo, Djoko. Sejarah Peradaban Barat, Kuliah pada Jenjang Doktor
Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Semester
I, 14 September 2000.
Tanner, Emmeline M.. The Renaissance and the Reformation: A Textbook of
European History 1494-1610 ,Oxford: Clarendon Press, 1965.
Titus, Harold. Living Issues in Philosophy: an Introductory Textbook, Fourth
Edition, New York: American Book Company, 1964.
Weber, Max. Sekte-sekte Protestan dan Semangat Kapitalisme dalam
Taufik Abdullah (ed.). Agama, Etos Kerja dan Perkembangan
Ekonomi, Jakarta: LP3ES, 1982.

210

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

Woodward, Mark R.. Islam, Humanism and Ethics: Implications for


Contemporary Indonesia, Makalah dalam International Seminar on
Islam and Humanism, IAIN Walisongo Semarang, tanggal 5-8
Nopember 2000.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

211

Sumber Rujukan Pemikiran Barat Modern... Sholihan

212

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005