Anda di halaman 1dari 22

Pemikiran

Ambarawa merupakan wilayah yang memiliki


kemajemukan dilihat dari penganut agama. Semua
agama yang diakui oleh pemerintah: Islam, Kristen,
Katolik, Hindu, dan Bhuda, serta aliran Tri Dharma
hidup. Sepintas, umat beragama di daerah ini
terkesan bisa hidup rukun dan saling menghormati.
Namun dari hasil penelitian ditemukan bahwa
kerukunan umat beragama di daerah ini masih tetap
mempunyai potensi konflik yang besar. Ketegangan
dan konflik yang ada selama ini diselesaikan dengan
cara didiamkan atau mengikuti strukur sosial secara
alamiah. Oleh karena itu peran state (negara) tetap
diperlukan sebagai fasilitator, juga regulator.
Kehidupan di negeri ini tidak bisa diserahkan
secara bebas demi kepentingan hak asasi yang
masih interpretable dan penuh dengan
kepentingan itu.

Kerukunan Umat Beragama


dan Resolusi Konflik
Studi Kasus Umat Beragama di Ambarawa
Jawa Tengah
Oleh Agus Nurhadi*

Kata Kunci: kemajemukan, agama, rukun, konflik

Pendahuluan
Kebhinekaan baik bersifat vertikal maupun horisontal merupakan
sunnatullah di dalam kehidupan masyarakat. Beragam budaya, agama,
etnis, golongan dan perbedaan lainya merupakan kenyataan yang tidak
bisa diingkari dalam kehidupan di masyarakat. Setiap agama mengajarkan
ajaran kemanusiaan (humanity values) seperti berbuat kebajikan, menjaga
kesucian, memanusiakan manusia, dan sebagainya.1 Terlebih agama yang
memiliki kesamaan nenek moyang seperti Islam, Kristen dan Yahudi yang
sering disebut dengan abrahamic religions agama dari keturunan Nabi
Ibrahim. Azyumardi Azra menyebutnya dengan istilah siblings ketiganya
di atas memiliki hubungan kakak dan adik.2
Namun, kerukunan dan kedamaian dalam masyarakat yang majemuk
itu menjadi barang mahal untuk didapatkan. Sangat sedikit dari
masyarakat yang bisa saling menghargai, menghormati, hidup dengan

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

menjunjung tinggi persaudaraan, rasa kasih sayang dan sebagainya,


meskipun semua agama secara normatif mengajarkannya. Oleh karena
itu persoalan kerukunan bukan semata persoalan doktrin agama, tetapi
persoalan sosiologis yang menyangkut struktur sosial di masyarakat. Secara
formal mungkin masyarakat bisa menunjukkan adanya kerukunan
tersebut, tetapi sebenarnya banyak pola kerukunan semu seperti main
judi kelihatannya rukun, tetapi riilnya saling menjegal, mencari
kelemahan orang lain, untuk mendapatkan kemenangan pribadi.
Upaya dialog antar agama selama ini juga banyak dinilai cenderung
elitis. Hal ini bisa dilihat dari minimnya keterlibatan masyarakat akar
rumput (grass-root) dalam dialog tersebut. Kegiatan dialog agama juga
cenderung banyak bicara persoalan teologis-normative. Sehingga bukan
pemecahan social-empirical problem yang dihasilkan, tetapi banyak debat
doktrinal yang dihasilkan.3 Akibatnya pada dataran praktis belum banyak
menghasilkan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat. Para tokoh agama
mungkin sering bertemu, tetapi bukan untuk membahas persoalan
kerukunan umat beragama, tetapi untuk mendukung pencalonan pejabat.
Di samping itu pemerintah sudah secara rutin mengadakan dialog antar
umat beragama,4 tetapi tampaknya kurang menyentuh akar persoalan
yang berkembang di masyarakat. Akibatnya kegiatan dialog lintas agama
itu kehilangan ruh, seperti layaknya ritual tahunan yang kering dan
membosankan. Ada kegiatan dialog, tetapi ruh berdialog, toleransi,
menghormati, berinteraksi, itu menghilang. Kegiatan dialog antar iman
itu sudah seperti zombie (mayat hidup) ada kegiatan, tetapi tidak ada
nilainya.
Oleh karena itu penelitian ini berusaha untuk menggali akar
kerukunan yang berkembang di masyarakat multikultur di Ambarawa.
Kota kecil ini memiliki sejarah panjang dalam hal kemajemukan,
kerukunan dan kedamaian. Etnis non-Jawa banyak dijumpai sebagai
pedagang. Pemeluk agama non-Muslim juga cukup signifikan jumlahnya.
Menurut data Ambarawa dalam angka tahun 2003, bahwa jumlah
pemeluk agama Islam di kecamatan Ambarawa sebanyak 70.247, Kristen
6.566, Katolik 6.269, Hindu: 232, dan Budha sebanyak 86 orang.5 Dan
sampai sekarang ini belum terdengar adanya konflik terbuka yang muncul
kepermukaan. Maka dulu masyarakat Ambarawa ini juga sering dikenal
dengan masyarakat Pancasila. Perbedaan etnis, agama, partai, golongan
dan sebagainya tidak menghalangi untuk mewujudkan kerukunan dan
perdamaian di tengah masyarakat.
Namun demikian, apakah kemudian berarti bahwa di dalam
masyarakat ini tidak ada konflik, ketegangan, atau gesekan antar umat
beragama? Setiap masyarakat manapun mempunyai potensi untuk
berkonflik, tetapi konflik itu ada yang bersifat destruktif dan ada yang

172

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

fungsional.6 Keragaman yang dikelola dengan baik bisa menjadi modal


sosial (social capital) untuk membangun bangsa, tetapi jika tidak mampu
mengelolanya akan menjadi ancaman yang menakutkan keutuhan
masyarakat.

RumusanMasalah(ResearchQuestions)
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi persoalan
penelitian (research questions) di dalam penelitian ini dirumuskan sebagai
berikut:
1. Bagaimana pandangan masyarakat tentang hidup bersama secara
rukun, dan pola kerukunan seperti apa yang dikembangkan oleh
masyarakat?
2. Bagaimana komunikasi dan interaksi yang dilakukan antar agama,
dan wadah seperti apa yang digunakan untuk proses interaksi itu?
3. Apa jenis konflik antar umat beragama yang pernah terjadi dan
bagaimana cara penyelesaiannya.

KerangkaTeori
Masyarakat itu saling membutuhkan antara yang satu dengan yang
lain meskipun mereka berbeda. Hidup di tengah masyarakat itu seperti
juga keadaan tubuh bagian yang satu dengan yang lain merupakan
satu kesatuan, interdependency, dan akan membuat kekuatan jika bersatu.
Elemen masyarakat yang fungsional akan menjadi potensi besar bagi
kemajuan suatu masyarakat. Dan sebaliknya, jika unsur itu berkonflik
maka justru akan meruntuhkan kekuatan masyarakat itu sendiri. 7
Namun demikian, masyarakat sendiri juga inheren dengan berbedaan
baik vertikal maupun horizontal kaya miskin, rakyat-penguasa, lakilaki perempuan, beda agama, etnis dan sebagainya. Potensi perbedaan
itu akan terus berkembang menuju konflik jika tidak ada kesadaran dari
masyarakat tentang hidup bersama, kerukunan, komunikasi dan interaksi
lintas perbedaan, instrument interaksi di masyarakat, peran dari tokoh
masyarakat dan sebagainya.
Hidup di tengah masyarakat itu merupakan bargaining process (tawar
menawar) antar elemen masyarakat menuju suatu konsensus
(kesepakatan). Dalam proses bargaining itu diperlukan saling menghargai,
menghormati, menjaga etika hidup dan sebagainya, dan tetap menjaga
kesepakatan-kesepakatan bersama meskipun tidak tertulis. Di dalam
masyarakat ditemukan norma, etika, adab, sopan santun, tata krama dan
sebagainya. Semua itu dimaksudkan sebagai kesepakatan masyarakat
untuk ditaati agar masyarakat tetap terjaga integrasinya.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

173

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

Jika salah satu komponen masyarakat itu ada yang melanggar dan
tidak ada sangsi yang tegas, maka kelompok masyarakat yang lain juga
akan ikut melanggar konsensus tersebut. Supremasi hukum akan rontok
di masyarakat, dan ini merupakan tanda-tanda terjadinya konflik secara
terbuka. Masyarakat harus saling menghargai dan menghormati, bukan
diskriminatif. Reciprocity merupakan dasar dari keutuhan masyarakat.8
Proses interaksi di masyarakat merupakan faktor penting dari adanya
kehidupan yang rukun. Oleh karena itu masyarakat yang bisa bergaul
dengan banyak lapisan, lintas perbedaan, akan terhindar dari konflik,
dan sebaliknya. Masyarakat harus didorong untuk menjadi masyarakat
yang inklusif (terbuka) bebas bergaul kepada orang lain lintas budaya.
Kelompok masyarakat yang eksklusif akan mudah mengundang
kecurigaan, dan menimbulkan banyak hambatan dalam relasi pergaulan.
Dan hal ini akan direspon oleh kelompok masyarakat lain dengan sikap
yang hampir sama. Masyarakat yang membuat pagar tinggi-tinggi, akan
direspon oleh masyarakat lain dengan membuat pagar yang tinggi pula.
Jika masyarakat sudah membuat pagar yang tinggi-tinggi tanpa
memberi peluang kepada masyarakat lain untuk bergaul, berinteraksi,
berkomunikasi, saling belajar dan sebagainya, maka masyarakat itu sudah
berada dalam lorong social exclusion. Dan hal ini merupakan faktor penting
adanya konflik social secara terbuka.
Oleh karena itu, struktur sosial memiliki peran yang besar dalam
menciptakan kerukunan dan konflik di suatu masyarakat. Saluran-saluran
bertemunya masyarakat di luar agama menjadi sangat penting, sehingga
ketegangan seperti apapun tidak akan berkembang jika saluran
komunikasinya lancar.

MetodePenelitian
Penelitian ini akan dilakukan di daerah Kecamatan Ambawara,
Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah. Dipilihnya lokasi ini sebagai
wilayah penelitian dengan pertimbangan beberapa alasan. Pertama,
Ambarawa merupakan salah satu tipikal daerah yang sangat beragama
(berbhineka) di Indonesia baik dari sisi etnis, agama, kekayaan,
kekuasaan, pendidikan, partai, golongan dan sebagainya, tetapi
kehidupannya relatif aman dan damai. Jumlah etnis China sangat banyak,
khususnya yang tinggal di sekitar kota Ambarawa. Kedua, meskipun
daerah ini hanya kota kecil seluas kecamatan, tetapi sangat populer di
masyarakat. Sejak masa penjajahan daerah ini sudah menjadi terkenal,
maka pada jaman penjajahan daerah ini dipilih menjadi statisun kereta
api yang diabadikan sampai sekarang.

174

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, sehingga seluruh


prosedur metodologi menggunakan teknik terebut, baik sumber data,
teknik pengumpulan data dan analisis data. Apa yang dilakukan oleh
umat beragama di Ambarawa merupakan teks sosial yang penuh dengan
simbol. Teks tersebut dikonstruksi melalui deskripsi menggambarkan
fenomena kerukunan umat beragama, dan kemudian melakukan
interpretasi. Seluruh aspek dari kerukunan umat beragama yang
berkembang di masyarakat Ambarawa akan dicoba ditelusuri akar dan
bagaimana prosesnya itu berlangsung.
Untuk mengumpulkan data diperlukan teknik pengumpulan data
sebagai berikut. Pertama, wawancara. Peneliti mewawancarai key person
dari masyarakat Ambarawa yang tahu betul persoalan kerukunan umat
beragama dan konflik resolusi. Ulama, Romo dan Pendeta, dan tokoh
agama, tokoh masyarakat merupakan sumber informasi tentang kerukunan
antar umat beragama. Wawancara menggunakan teknik snowball bola
salju yang menggelinding, key person yang satu ke key person yang lain.
Informasi yang diperoleh bukan opini pribadi tetapi merupakan share
information yang di miliki oleh umat beragama di Ambarawa. Kedua,
observasi. Pada waktu melakukan kunjungan ke masyarakat, peneliti
melihat kondisi riil di lapangan, baik kondisi secara umum fisik dan
lingkungan sosial maupun psikisnya, juga melakukan observasi bagaimana
proses interaksi antar umat beragama berlangsung di masyarakat,
bagaimana acara ritual tahlilan itu berlangsung, siapa saja yang terlibat,
bagaimana doa dalam tahlilan tersebut, bagaimana sikap hadirin yang
diundang, siapa saja yang diundang dan sebagainya. Ketiga, studi
dokumen. Data sekunder yang telah tertulis oleh masyarakat perlu dikaji
lebih lanjut. Data tersebut sangat bermanfaat sebagai temuan awal dari
penelitian ini. Keempat, FGD (Focused Group Discussion). Setelah selesai
mengumpulkan data melalui metode di atas, peneliti ingin melakukan
cross-check melalui diskusi terbatas yang disebut dengan FGD. Mereka
yang akan terlibat di FGD ini adalah masyarakat yang mengetahui
persoalan kerukunan umat beragama dan konflik resolusi di masyarakat.
Melalui teknik ini data yang kurang akan bisa langsung dilengkapi, dan
data yang tidak valid akan bisa dilakukan checking.
Pengolahan data dan analisis data meliputi tiga kegiatan: deskripsi,
formulasi, dan interpretasi.9 Deskripsi dimulai dari menggambarkan
fenomena kerukunan umat beragama itu seperti apa, dan merentangnya
ke dalam beberapa kategorisasi, memilah-milah data sesuai berdasar
substansi temuan, dan pada saat yang sama juga dilakukan proses reduksi
data. Data yang tidak relevan dengan permasalahan akan dibuang.
Sehingga data yang diambil hanya data yang berkaitan dengan masalah
yang diteliti saja, bukan seluruh fakta. Kemudian dilakukan formulasi

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

175

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

yaitu dengan cara melihat kecenderungan-kecenderungan, mencari


hubungan asosional, misalnya Islam permisive dan pariwisata dan
sebagainya. Kemudian data tersebut dimaknai (interpretasi). Peneliti
secara konsisten dan logic melakukan pemaknaan kepada deskripsi dan
formulasi yang telah dibuat. Semua proses pengumpulan data, pengolahan
data, dan analisis data dilakukan secara siklus interaktif.10 Jika pada
waktu analisis data itu datanya dianggap kurang, maka pengumpulan
data bisa dilakukan lagi. Pola demikian akan berlangsung terus sampai
dengan penelitian dianggap selesai.

LatarSosial,EkonomidanBudaya
1. Letak Geografis dan Kependudukan
Kota Ambarawa merupakan salah satu kota kecamatan yang paling
populer di kabupaten Semarang. Ambarawa terletak di jalur utama jalan
Semarang-Yogyakarta, tepatnya di pertengahan antara SemarangMagelang. Istilah Ambarawa, menurut penuturan masyarakat, berasal
dari kata amba (Jawa: ombo) yang berarti luas, dan rawa (Jawa: rowo).
Jadi Ambarawa berarti rawa yang luas. Di daerah ini, banyak sekali lembah
yang terdiri dari rawa-rawa, dan lokasinya naik turun, perbukitan. Versi
lain menyatakan bahwa Ambarawa berasal dari ambah (Jawa: ngambah),
dan rawa (Jawa: rowo). Ambarawa berarti merambah di daerah rawa,
mulai menginjakkan kaki di wilayah yang banyak rawanya.
Kota kecamatan ini lebih ramai dibandingkan kota kecamatan lain
di kabupaten Semarang, bahkan lebih ramai dibandingkan dengan kota
Kabupaten Semarang yang berlokasi di Ungaran. Kota Ambarawa di
kelilingi oleh 4 kota kecamatan di sekitarnya, yaitu Bawen, Banyubiru,
Jambu dan Sumowono. Keempatnya memiliki titik temu yang perpusat di
Ambarawa.
Secara administrasi, kecamatan Ambarawa terdiri dari 16 desa/
kelurahan yaitu Ngampin, Pojoksari, Bejalen, Tambakboyo, Kupang,
Lodoyong, Kranggan, Panjang, Pasekan, Baran, Milir, Jetis, Duren,
Bandungan, Kenteng, dan Candi. Dari 16 desa/kelurahan tersebut yang
termasuk kategori urban adalah Kupang, Lodoyong, Kranggan dan Panjang
sebagai pusat kota Ambarawa. Kelurahan Bandungan merupakan
kelurahan wisata padat penduduk, berisi hotel dan penginapan, dan
pusat hiburan. Sedangkan desa/kelurahan lain itu termasuk kategori rural
pedesaan, banyak sawah dan tanaman.
Menurut data kecamatan Ambarawa dalam angka tahun 2003, jumlah
penduduk di kecamatan Ambarawa sebanyak 83.400 jiwa yang terdiri
dari 41.161 berjenis kelamin laki-laki, dan 42.329 berjenis kelamin
perempuan . Menurut data statistik, kepadatan penduduk per-km di desa/

176

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

kelurahan Kupang: 6.492, Lodoyong: 5.572, Kranggan: 11.500, dan


Panjang: 4.136. Bila dibandingkan dengan desa/kelurahan lain rata-rata
kepadatan penduduk per-km hanya 1.000 jiwa.
Dilihat dari tingkat pendidikan, masyarakat Ambarawa juga sudah
tergolong maju. Setiap desa/kelurahan sudah banyak warganya yang lulus
perguruan tinggi. Sebanyak 2117 tamat perguruan tinggi/akademi, 11.842
tamat SLTA, 13257 tamat SLTP, dan 33.898 tamat SD.
Hal yang sama juga tergambar dalam penyediaan sarana pendidikan.
Di kecamatan Ambarawa ada sebanyak 12 SLTP, 9 di antaranya berlokasi
di empat desa/kelurahan urban tersebut. Dari data tersebut menunjukkan
tingginya tingkat kesenjangan antara fasilitas sosial antara urban dan
rural. Mungkin apa yang terjadi di Ambarawa ini menjadi gambaran umum
tentang peta pembangunan yang kurang merata di tanah air. Antara
kota-desa terjadi kesenjangan di banyak aspek pembangunan.
2. Latar Ekonomi
Di kecamatan Ambarawa terdapat beberapa pusat kegiatan ekonomi,
yaitu pasar-pusat bisinis, pasar-pariwisata, pertanian dan perkebunan.
Pasar dan pusat bisnis ini berlokasi di pusat kota Ambarawa. Lokasi inilah
center of trade and bisnis of Ambarawa. Di lokasi ini terdapat pasar
permanen, dikelilingi oleh pasar tradisional, dan di sepanjang jalan sekitar
I km persegi merupakan pusat pertokoan. Di lokasi ini juga terdapat
infrastuktur bisnis seperti perbankan, terminal, hotel, sehingga
memudahkan para pelaku ekonomi untuk melakukan kegiatan ekonomi.
Pusat kegiatan ekonomi lain yang dominan di masyarakat Ambarawa
adalah pertanian. Di sinilah sebagian masyarakat menghabiskan waktunya
untuk kegiatan ekonomi. Pertama, lahan sayuran. Masyarakat banyak
yang mengolah lahan pertanian sayur ini. Mereka mengolah tanah seakan
tanpa mengenal musim. Jenis sayur yang ditanam antara lain kol, wortel,
buncis, sawi, jipan, sledri, luncang, dan jenis sayuran lain yang biasa
hidup di daerah dingin. Di lahan ini juga menghasilkan pendapatan jika
para petani itu menanam bunga.
Kedua, lahan padi. Masyarakat yang tinggal dekat dengan lahan
pertanian yang cukup air, mereka menanam padi. Umumnya 2-3 kali
setahun memanen. Jika mereka memilih 2 kali, maka biasanya mereka
menanami dengan tanaman sela seperti jagung, lombok, atau tanaman
yang lain. Sebab kalau tertus menerus ditanami padi, hasilnya kurang
bagus. Jagung di Ambarawa juga sangat khas, karena rasanya manis alami.
Ketiga, lahan perkebunan. Kebun di Ambarawa juga menjadi lahan
produktif untuk tanaman buah-buahan seperti klengkeng, apokat, pisang,
dan tanaman yang lain. Demikian juga kebun menjadi lahan produktif

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

177

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

untuk tanaman keras, seperti kayu sengon yang sudah lama dikenal
memiliki nilai ekonomi.
Ada banyak jenis mata pencaharian bagi masyarakat Ambarawa. Secara
statistik jumlah petani : 12.454, buruh tani: 8.267, pengusaha: 1.299, buruh
bangunan: 4.170, buruh industri: 4.454, pedagang: 2.538, transportasi:
2.300, PNS: 4.406, ABRI/Polri: 1.875.11 Dari data tersebut terbaca bahwa
sebagian besar penduduk itu memiliki kegiatan sektor pertanian sebanyak
20.721 orang. Namun penduduk di Ambarawa masih bisa dikatakan hebat
karena petani yang memiliki lahan sendiri lebih banyak dibandingkan
dengan buruh tani yang tidak memiliki tanah sendiri.
3. Latar Budaya
Ambarawa dikenal masyarakat luas sebagai masyarakat yang memiliki
tradisi bhineka tunggal ika tradisi yang bermajemuk yang berasal dari
warisan budaya Jawa, warisan dari berbagai agama, pengaruh mobilitas
dari keluar dan masuknya penduduk, dan sebagainya. Semua budaya
tersebut hidup dan berkembang dengan baik di wilayah ini. Ambarawa
seakan menjadi melting pot dari berbagai budaya, agama dan keyakinan
yang berasal dari berbagai penjuru. Apa yang terjadi di Ambarawa kota
dan Ambarawa pariwisata menunjukkan gejala tersebut.
Dilihat dari lokasi, maka Ambarawa bisa dibagi menjadi 3 jenis
kategori. Pertama, Ambarawa metropolitan. Lokasi ini meliputi desa/
kelurahan Kranggan, Kupang, Lodoyong dan Panjang. Di tempat ini sangat
majemuk baik dari segi agama, etnis, budaya, dan golongan. Pada wilayah
inilah sosiolog menyebutnya dengan solidaritas organik. Orang cenderung
berinteraksi kepada kelompoknya saja, orang merasa cuek dengan orang
lain yang tidak memiliki kepentingan.
Kedua, Ambarawa pedesaan. Budaya ini sebagian besar di Ambarawa.
Di wilayah ini budaya desa berkembang. Masyarakat masih kuat
memegang prinsip guyup rukun, trisno asih, bangun binangun dan sebagainya.
Maka masyarakat pedesaan memiliki keakraban antara tetangga,
solidaritasnya mekanik (otomatis tanpa ikatan formal). Kebudayaan
mereka dibalut dengan ajaran agama, sehingga bagi umat lain cenderung
menyesuaikan. Kontrol sosial masih sangat tinggi, apalagi di desa Jetis
dan Milir yang kedua desa ini memiliki sense of religiousity nya sangat
tinggi. Jetis merupakan pusat Islam Rifaiyah yang pada jaman Belanda
juga terkenal dalam melawan penjajah. Milir merupakan pusat NU di
Ambarawa, ada beberapa lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah
di wilayah ini.
Ketiga, wisata. Ada kecenderungan bahwa daerah ini menjadi daerah
permisif (serba boleh) untuk kepentingan wisata yang berujung pada

178

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

kepentingan ekonomi. Desa Bandungan merupakan pusat wilayah wisata.


Mobilitas orang dengan berbagai kepentingan sangat tinggi. Hal ini tentu
akan membawa proses persinggungan budaya antara pendatang dengan
penduduk lokal.

Kemajemukan,KerukunandanKonflik
1.KemajemukanUmatBeragama
Ambarawa merupakan wilayah yang memiliki kemajemukan dilihat
dari penganut agama. Semua agama yang diakui oleh pemerintah: Islam,
Kristen, Katolik, Hindu, dan Bhuda, serta aliran Tri Dharma hidup dan
berkembang dengan baik di kecataman Ambarawa ini. Hal ini bukanlah
fenomena baru, tetapi telah terjadi sejak lama karena agama yang
berkembang di kecamatan Ambarawa ini memiliki sejarah yang panjang.
Menurut data Ambarawa dalam angka tahun 2003, bahwa jumlah
pemeluk agama Islam di kecamatan Ambarawa sebanyak 70.247, Kristen
6.566, Katolik 6.269, Hindu: 232, dan Budha sebanyak 86 orang .
Secara statistik jumlah pemeluk agama Islam di Ambarawa sebanyak
70.247, dari 83.400 penduduk di Ambarawa. Secara kuantitatif jumlah
tersebut sangat besar prosentasenya, tetapi di dalam hitungan tersebut
termasuk juga mereka yang dalam kategori belum menjalankan syariat
secara utuh. Misalnya masih dalam batas administrasi KTP saja, atau
menjalani syariat hanya dalam waktu tertentu saja dan sebagainya12.
Sedangkan umat Islam di pedesaan Ambarawa secara kategorik dibagi
menjadi beberapa karakter. Pertama, Islam pada umumnya. Jenis ini
sebagian besar hidup di pedesaan. Dalam kategori Geertz mungkin disebut
dengan santri. Mereka taat beribadah, menjalankan kewajiban agama,
dan tetap menjaga tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa. Mereka
mungkin ada yang menjadi pengikut NU, dan sebagaian ada yang
mengikuti Muhammadiyah, atau tidak mengikuti keduanya.
Kedua, Islam Rifaiyah. Jenis ini banyak dijumpai di desa Jetis. Mereka
lebih NU daripada Nahdiyin. Mereka sangat kuat memegang teguh pada
madzhab Imam Syafii. Mereka merupakan Islam yang sangat kuat
memegang prinsip syariat sesuai madzhab Syafii. Konon kelompok ini
muncul sebagai protes kepada kolonial Belanda.
Ketiga, Islam Abangan. Mereka menganut agama Islam, tetapi belum
sepenuhnya menjalankan ibadah. Mereka mungkin bisa disebut Islam
awam. Mereka menjalankan ibadah yang dianggap ringan misalnya shalat
ied, zakat fitrah, dan sebagainya. Tetapi ketika puasa ramadhan, mereka
tidak puasa, shalat lima waktu dengan mudah ditinggalkan, dan
sebagainya. Jenis Islam abangan ini konon sering menjadi target para
misionaris. Seiring dengan semakin banyaknya pendidikan al-Quran bagi

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

179

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

anak-anak seperti TPQ atau TPA, maka jumlah Islam abangan ini
semakin lama semakin sedikit. Di samping itu, ada kecenderungan bahwa
pengajian model yasinan yang diselenggarakan oleh ibu-ibu di tiap RT
itu akan semakin membuat Islam abangan semakin berubah menjadi santri.
Oleh karena itu, Kuntowijoyo menyebutnya dengan istilah santrinisasi
abangan.
Di Ambarawa, agama Katolik merupakan agama yang mengikuti
pengikut terbanyak setelah Islam. Katolik masuk ke wilayah Ambarawa
sejalan dengan kedatangan kolonial Belanda. Pastur yang banyak berjasa
dalam misi Katolik di Ambarawa di antaranya C. Franssen Pr, J Sander,
Joanes F. Van der Hagen SJ, C. Stiphout SJ dan sebagainya. Pada awalnya
sebagian besar pengikut Katolik adalah anggota militer Belanda. Pada
tahun 1865 umat Katolik sebanyak 1787 orang, 1206 di antaranya berasal
dari anggota militer.13
Pusat kegitan Katolik di Ambarawa berada di sepanjang jalan utama
Mgr. Sugiyopranoto. Di lokasi ini terdapat gereja besar yang dikenal
dengan istilah gereja Jago, karena di atasnya terdapat simbol jago yang
menurut penuturan para penggagas agar gereja ini memiliki wibawa, tetap
gagah perkasa dan melindungi masyarakat. Sehingga ketika acara ulang
tahun, simbol Jago ini sering diulas untuk memberi semangat kepada
umat Katolik. Gereja ini oleh orang awam juga disebut dengan gedhong
dhuwur karena gereja ini gedungnya menjulang tinggi, bisa dilihat dari
banyak arah. Di gereja ini juga dilengkapi dengan lonceng, dan
masyarakat Ambarawa di sekitarnya banyak yang memanfaatkan lonceng
tersebut sebagai petunjuk waktu.
Di sepanjang ini terdapat sekolah: Pangudi Luhur, Kanisius, Santo
Yosep, Videlis, TK Virgo, Mater Alma, dan sebagainya. Sekolah tersebut
semuanya berafiliasi ke agama Katolik meskipun dikelola oleh yayasan
yang berbeda. Karena lokasinya berjejer di sepanjang jalan utama seakan
mengesankan bahwa Ambarawa itu pusat agama.
Agama Kristen di Ambarawa dalam mengembangkan misinya menurut
sejarah di Ambarawa datang setelah Katolik. Datangnya Kristen di
Ambarawa merupakan pengembangan dari dari pusat penyiaran agama
Kristen di Salatiga. Jadi meskipun jumlah gerejanya banyak, tetapi dari
jumlah umatnya tidak sebanyak Katolik. Sebagian besar pengikut agama
Kristen itu orang Jawa. Lokasi gereja antara yang satu dengan yang lain
bisa sangat dekat, tetapi masing-masing tidak pindah gereja dengan
seenaknya. Mereka harus mendapatkan surat pindah gereja dari pendeta
yang disebut dengan surat atestasi. Orang kalau sudah mendaftarkan
diri mengikuti kebaktian di suatu gereja, berarti telah tercatat dalam
buku induk yang kemudian terikat oleh aturan dalam gereja.

180

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

Menurut data statistik, di Ambarawa terdapat 23 gereja Kristen.


Gereja itu antara lain Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Bethel di
Indonesia (GBI), Gereja Pantekosta, Gereja Kristen Indonesia (GKI),
Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB), Gereja Kristen Muria
Indonesia, Gereja Isa Al-Masih, Gereja Pantekosta Serikat Indonesia,
Gereja Bala Keselamatan, Gereja Kristen Injili, Gereja Pimpinan Ruh
Kudus, dan sebagainya
Berkembangnya agama Hindu di Ambarawa diawali dengan datangnya
tokoh spiritual yang menetap di wilayah ini untuk mewarisi dan
memelihara ajaran nenek moyang. Meskipun pada awalnya tidak memiliki
tempat ibadah secara khusus, tetapi umat agama Hindu tetap menjalankan
ibadah di mana saja. Umat Hindu memiliki prinsip cara apapun kamu
menyembahku, aku akan terima.
Setelah sedikit demi sedikit jumlahnya bertambah, komunikasi dengan
umat Hindu di daerah lain terjalin, maka kemudian mendirikan pura
Giri Suci pada tahun 1975-1978 yang dipelopori oleh Ki Hadi Sasmito
dan alm. Aji Waluyo. Menurut data Ambarawa dalam angka, jumlah
pemeluk agama Hindu di kecamatan Ambarawa sebanyak 232 jiwa,
dengan dua pura desa Baran (Giri Suci), dan di desa Bandungan.
Umat Hindu di Ambarawa merasa senang karena tidak pernah ada
masalah dalam mengamalkan ajaran agamanya, meskipun jumlahnya
sedikit. Sebagai umat Hindu tidak begitu peduli dengan kuantitas jumlah,
yang terpenting agama yang dianut itu memiliki manfaat untuk diri,
keluarga dan masyakat di sekitarnya. Penyiaran agama Hindu tidak seperti
agama yang lain, karena agama Hindu diakui bukan agama missionaris
selalu ingin menambah kuantitas pemeluknya. Kehadiran agama Hindu
diharapkan menjadi kebutuhan umat manusia.
Sedangkan agama Budha di Ambarawa relatif lebih sedikit
pengikutnya dibandingkan agama Hindu. Menurut statistik, sebanyak
86 jiwa memeluk agama Budha, dengan fasilitas 1 vihara di desa Pojoksari.
Di kota Ambarawa ini juga terdapat klenteng yang sangat populer,
karena lokasinya juga di jalur utama jalan raya Semarang-Magelang,
dekat pecinan, dan pusat kegiatan bisnis kota Ambarawa. Tri Dharma,
dikenal merupakan perpaduan antara Konghucu, Tao, dan Budha.
Aliran Tri Dharma pada era Orde Baru tidak tampak, klentengnya
kecil dan tidak terawat. Namun ketika era Presiden Abdurahman Wahid,
aliran ini mulai berani menampakkan diri, dan bergaul dengan agama
yang lain. Banyak kegiatan yang dilakukan terutama pada tahun baru
Imlek. Karena Ambarawa menjadi kota Bisnis, maka daerah ini juga
semakin banyak diminati oleh mereka yang berasal dari keturunan
Tionghoa.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

181

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

2.KerukunanUmatBeragama
Di Ambarawa ini sebenarnya telah terbentuk wadah yang cukup bagus
untuk mengembangkan lebih lanjut tentang kerukunan umat beragama.
Wadah tersebut diberi nama FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama)
dirintis tahun 1997, dan dideklarasikan tahun 1998. FKUB ini berkantor
di gereja Jago. Pada awalnya institusi ini akan mengembangkan banyak
sillaturrahmi untuk menyelesaikan persoalan yang dianggap masalah agar
tidak terjadi konflik terbuka antar umat beragama. Paling tidak, para
tokoh agama sering bertemu, mengadakan kegiatan bersama, sehingga
kerukunan umat beragama akan betul-betul terwujud dalam tindakan
riil.
FKUB merupakan forum, maka wadah ini terdiri dari barbagai
perwakilan dari berbagai agama, yaitu KH. Mahfudz (Islam), Romo Pujo
(Katolik), Pdt. Natanael (Kristen), Sunardi (Hindu), Sugeng (Budha),
dan Suryo (Konghucu). Kegiatan utama dari FKUB ini mengfokuskan
pada kegiatan sosial, bukan ritual, yaitu menyalurkan bantuan beras dari
Catholic Relief Service (CRS) USA yang disalurkan kepada 250 desa,
membangun jalan, membuat makadam, penambahan gizi bagi balita dan
kegiatan sosial yang lain.
Para elit agama itu juga sering bertemu, misalnya ketika diundang
Bupati, mengisi pembinaan ruhani di kantor Pemkab, di kantor kecamatan
Ambarawa dan sebagainya. Paling tidak setiap tahun sekali mereka
mengadakan kunjungan silaturrahmi ke rumah kyai untuk halal bi halal.
Perwakilan dari berbagai agama itu mengunjungi tokoh agama Islam di
Ambarawa dan sekitarnya. Kegiatan untuk mengunjungi dan
mengucapkan selamat Idul Fitri itu juga diikuti oleh umat agama di
tingkat bawah. Biasanya 3-5 orang bergerombol mengunjungi ke rumah
pemeluk Islam, kemudian mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri.
Pendeta Natanael sendiri secara khusus melakukan sillaturrahmi dan
mengucapkan selamat idul fitri kepada semua warga di RT tempat
tinggalnya, dan kepada beberapa orang yang dianggap sepuh (tua) di
tingkat RW.
Ketika hari raya natal, umat Islam mendapatkan undangan natal, dan
mengucapkan selamat natal. Sebagian umat Islam yang tinggal di
lingkungan gereja mendapatkan undangan ke gereja. Pihak gereja
menyatakan umat Islam diundang ke gereja untuk kegiatan perayaan,
bukan ritual. Inilah yang oleh sebagian umat dianggap bersinggungan
dengan hukum Islam karena di kalangan Islam sendiri masih terjadi
perbedaan pendapat. Jika undangan natal itu ditujukan kepada ketua
MUI mungkin tidak ada kekhawatiran, tetapi kalau itu ditujukan kepada
mereka orang Islam yang masih lemah imannya, belum stabil, maka hal
itu sangat dikhawatirkan akan mempengaruhi aqidah.

182

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

Di Kabupaten Semarang juga sering diadakan kegiatan dialog antar


umat beragama. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pemkab.
Semarang kerjasama dengan Departemen Agama, dan tokoh agama. Fakus
dari kegiatan ini adalah mengembangkan tri kerukunan antar umat
beragama dari tingkat kelurahan sampai dengan tingkat kabupaten.
Dialog mengundang umat dari berbagai agama. Pada tingkat kabupaten
ada tim tri kerukunan antar umat beragama yang mendapatkan SK dari
Bupati. Kegiatannya biasanya dilakukan setiap tahun sekali dengan
anggaran dari pemda.
3. Konflik Umat Beragama
Ada beberapa contoh ketegangan yang pernah muncul, yang kemudian
diselesaikan kembali. Pertama, pengusiran muadzin masjid Mujahidin
oleh Pendeta. Menurut tokoh agama Islam Subiyono, muadzin ini
bertempat tinggal di dekat lokasi tempat tinggal Pendeta. Karena
tanahnya akan digunakan untuk perluasan gereja, maka Pendeta
menyuruh pergi, meninggalkan rumahnya. Pihak masjid kemudian bingung
ke mana muazdin ini pergi. Pihak masjid menanyakan ke Pendeta, dan
akhirnya menceritakan kejadian. Pihak pengurus masjid akhirnya
menuntut agar muadzin itu dicari dan dikembalikan. Ketegangan terjadi
antara pihak pengurus masjid dan Pendeta, bahkan pada waktu tersebut
sudah meluas ketegangan antara pihak masjid dengan pihak gereja.
Akhirnya pihak Pendeta mencari muadzin tersebut dan menemukannya,
kemudian menempati kembali rumah semula. Persoalan menjadi selesai
karena pihak Pendeta mengalah, jika tidak, bukan tidak mungkin
ketegangan tersebut akan lebih meluas. Mungkin persoalannya hanya
salah paham, tetapi kalau sudah mengarah ke identitas, maka persoalan
akan menjadi lain.
Kedua, ketegangan ini terjadi antara pihak Islam dan Katolik. Menurut
penuturan Garim, elit agama Katolik seksi kerasulan awam menyatakan
bahwa pernah terjadi ketegangan antara pihak gereja dengan pihak Islam
ketika pihak gereja akan mendirikan klinik pengobatan Mardi Rahayu.
Pihak Islam keberatan karena dianggap oleh pihak Islam akan digunakan
untuk kepentingan misionaris, bukan kemanusiaan. Pihak Islam
mendasarkan pengalaman selama ini bahwa kegiatan yang dilakukan
oleh pihak Katolik banyak yang menggunakan double standard
melakukan aktifitas kemanusiaan, tetapi pada saat yang sama melakukan
kegiatan misi. Namun demikian, pihak Katolik akhirnya melakukan
sillaturrahmi ke pihak Islam dan masyarakat sekitarnya, dan memberikan
penjelasan tentang maksud mendirikan balai pengobatan Mardi Rahayu
tersebut. Pihak Islam akhirnya memahami apa yang dijelaskan oleh pihak

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

183

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

gereja, dan persoalan menjadi selesai. Masalah ini menjadi masalah agama
karena kesalah pahaman antara pihak Islam dengan pihak gereja Katolik.
Ketiga, pendirian gereja. Pihak gereja akan mendirikan gereja Katolik/
Kristen untuk kebaktian di desa/kelurahan Kupang, kampung
Tanjungsari. Namun pihak GUPPI yang memiliki sekretariat di sekitar
wilayah ini keberatan dengan pendirian gereja tersebut, meskipun dari
pihak RW telah memberikan ijin. Ketegangan antara pihak Islam dan
pihak Katolik sempat terjadi. Namun ketegangan tersebut kemudian
mencair setelah pihak gereja masih menunda pendirian gereja tersebut.
Keempat, gesekan-gesekan yang invisible (tidak tampak). Persoalan
ini biasanya berkaitan dengan tindakan kemanusiaan tetapi dianggap
ditumpangi oleh kepentingan agama. Misalnya pengobatan gratis,
pembagian beras, pemberian beasiswa dan sebagainya. Oleh sebagian
pihak Islam hal itu adalah double standard, menggunakan kepentingan
kemanusiaan untuk pemurtadan. Gesekan-gesekan seperti ini sepertinya
menjadi perang dingin antar agama-agama yang berkembang di
Ambarawa.
Penggunaan simbol ini juga sumber perang dingin antara umat Islam
dengan Kristen/Katolik. di Ambarawa ini terdapat TPA yang biasanya
diartikan dengan Taman Pendidikan Al-Quran, tetapi di daerah ini TPA
juga bisa singkatan dari Taman Pendidikan Al-Kitab di desa Bejalen.
Orang Kristen/Katolik juga biasa menggunakan peci hitam. Umat Katolik
fasih mengucapkan assalamualaikum, al-hamdulillah, insya Allah, dan
sebagainya. Identitas ini juga dianggap melakukan peniruan yang selama
ini dianggap telah menjadi milik umat Islam. Paling tidak terjadi
pengaburan istilah Islam menjadi istilah milik semua agama. Ketika
wawancara dilakukan, hal itu dimaksudkan untuk toleransi, menghormati
agama Islam. Tetapi hal tersebut membuat kalangan Islam terkadang
agak gerah karena mengaburkan ajaran Islam menjadi ajaran agama
yang lain.

PolaKerukunan,KepentingandanResolusiKonflik
1. Pola Kerukunan
Mengkaji kerukunan umat beragama di Ambarawa sangat menarik
sekali. Antar umat beragama bisa hidup dengan rukun, tanpa ada konflik
yang berarti. Mereka sangat toleran dengan agama yang lain. Sikap toleran
itu bisa dilihat dari masyarakat bahwa mereka tidak mempermasalahkan
ketika ada orang pindah agama lain. Mereka menganggap agama itu
sama-sama mengajak orang untuk berbuat kebajikan. Ketika ada orang
yang pindah agama karena perkawinan, mereka tidak begitu
dipermasalahkan oleh tokoh agama, orang tua maupun tetangga mereka.

184

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

Kawin campur merupakan salah satu bentuk toleransi antar umat


beragama. Di sekitar Ambarawa ini sering terjadi kawin campur antar
umat beragama.
Umat beragama juga sering berinteraksi dalam kegiatan sosial. Antar
umat beragama secara wajar melakukan kegiatan sosial sebagaimana hal
itu merupakan kebutuhan masyarakat. Mereka hidup dalam suasana
gotong royong meskipun mereka berbeda agama. Ketika ada yang
meninggal, mereka tetap datang untuk membantu kebutuhan yang
mereka perlukan tanpa membedakan agama, hanya ketika urusan doa,
hal itu diserahkan kepada masing-masing umat beragama.
Meskipun kelihatannya mereka itu hidup rukun, tetapi sebenarnya
mereka saling curiga, saling mengincar, dan akan membalas jika sudah
menyentuh pada fisik. Model kerukunan umat beragama di Ambarawa
itu masih seperti orang main judi kelihatannya mereka rukun, berada
dalam satu tempat dan bertetangga, tetapi sebenarnya mereka saling
mengincar tentang apa yang akan dikeluarkan, kemudian akan
mengambil tindakan seperti apa tergantung dari apa yang dikeluarkan.
Dari perspektif pluralisme, kondisi di Ambarawa masih jauh dari harapan
untuk mewujudkan masyarakat yang di dalamnya terdapat pertalian sejati
kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagment of
diversities within the bonds fo civility). Belum adanya ikatan sejati itu karena
masing-masing agama menggunakan standard ganda (double standard).
Pendekatan institusi untuk mewujudkan kerukunan umat beragama
di Ambarawa tampaknya juga belum bisa berjalan mulus. Forum
komunikasi antar umat beragama telah terbentuk pada tahun 1998 yang
memiliki kantor sekretariat di gereja Santo Yosep (gereja jago). Forum
ini sampai sekarang belum banyak kegiatan. Pengurus menyatakan bahwa
karena ketuanya pindah tempat tugas. Hal ini menunjukkan bahwa
hubungan antar umat beragama di Ambarawa belum dikelola secara serius,
tetapi berjalan alami sebagaimana kecenderungan masyarakat Jawa yang
tetap menjaga harmoni, bukan karena dikelola dengan baik oleh tokoh
agamanya.
Di samping itu, kerukunan antar umat beragama di Ambara hanya
berada di kulit luar saja. Antar umat beragama tidak paham agama yang
lain. Orang Islam tidak mengetahui agama Katolik, Kristen, Budha dan
sebagainya. Demikian juga sebaliknya orang Katolik, Kristen tidak banyak
tahu tentang Islam, Budha, Hindu dan sebagainya. Interaksi hanya sebatas
pertemuan fisik karena ketetanggaan. Hal ini menunjukkan bahwa
meskipun Ambarawa dikenal masyarakat yang berbhineka, bisa hidup
rukun, tetapi jika terjadi salah paham tentang ajaran agama, maka bisa
menimbulkan konflik. Mereka saling tidak paham agama yang

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

185

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

berkembang di masyarakat. Di Indonesia ini sudah banyak korban yang


berupa kerusuhan yang disebabkan oleh ketidakpahaman agama.
2.KepentinganKerukunan
Kerukunan di Ambarawa ini juga dibangun oleh kepentingan. Semua
pihak pedagang sayur, pedagang makanan, yang sebagian besar Islam,
pedagang tekstil, emas yang sebagian besar Katolik, dan pihak yang lain,
memiliki kepentingan agar ekonomi tetap berjalan normal, aman dan
tidak ada gangguan keamanan. Jika terjadi konflik, maka ekonomi
masyarakat Ambarawa akan lumpuh, karena tidak ada alternatif lain.
Bahkan akan memiliki imbas kepada kecamatan yang lain, karena
kecamatan yang lain itu juga memiliki ketergantungan (dependent)
dengan pasar di Ambarawa.
Di samping itu, tentunya yang sangat penting adalah kepentingan
agama sendiri. Agama yang paling menonjol di Ambarawa itu Islam,
Katolik, Kristen, dan Aliran Tri Dharma. Lokasi pusat-pusat kegiatan
agama yang satu dengan yang lain itu sangat berdekatan. Gereja jago
yang merupakan pusat kegiatan agama Katolik itu berhadapan dengan
Masjid Besar YAMP, pusat kegiatan Tri Dharma, Masjid Mujahidin, Gereja
Bethel Indonesia dan sebagainya. Lokasi pusat kegiatan agama itu hanya
berada dalam radius 1 km persegi. Jika terjadi kerusuhan, maka semuanya
akan hancur, dan akan membawa kerugian semua pihak. Oleh karena
itu semua agama saling menjaga agar hubungan antar umat beragama
itu terjalin dengan baik, hidup berdampingan secara harmoni.
Analisis kepentingan ini penting untuk dikemukakan karena para
tokoh agama itu berbuat selalu dalam pertimbangan rasional. Mungkin
berbeda dengan jamaah pada tingkat grasroot, ketika para tokoh itu
melakukan suatu tindakan. Para elit agama selalu menggunakan
pertimbangan rasional. Ketika para elit agama Katolik dan Kristen itu
melakukan kunjungan sillaturrahmi ke rumah tokoh agama Islam pada
hari raya idul fitri, tentunya di sana ada kepentingan untuk saling
menjaga kerukunan, menjaga hidup harmoni antar umat beragama dan
sebagainya. Proses untuk memenuhi kepentingan tidak selamanya
dilakukan dengan jalan konflik, tetapi bisa dilakukan dengan jalan
kerjasama. Kerjasama menjadi pilihan terbaik, karena secara rasional
dianggap lebih sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat Ambarawa.14
Keadaan seperti ini sebenarnya telah terjadi pada masa Menteri Agama
dipimpin oleh Mukti Ali pada tahun 1971. Thesis yang beliau kembangkan
adalah dialog antar umat beragama akan mewujudkan kerukunan antar
umat beragama, sehingga pada gilirannya akan semakin mewujudkan
persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu masa menteri agama
Mukti Ali ini banyak sekali kegiatan tentang dialog antar umat beragama,

186

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

seminar antar umat beragama, diskusi antar umat beragama dan


sebagainya. Dalam kegiatan dialog tersebut, semua umat beragama yang
terlibat harus tetap memiliki prinsip agree and disagreement setuju untuk
berdialog, tetapi tidak setuju kalau kemudian pindah agama.
Yang terjadi kemudian dibalik semua dialog antar umat beragama itu
adalah kepentingan. Banyak orang yang berlindung dibalik dialog dan
toleransi tersebut. Karena umat Katolik dan Kristen tetap melakukan
cara-cara meningkatkan jumlah pengikutnya dengan melakukan
pemurtadan kepada agama lain khususnya Islam. Menurut perhitungan
pada era 10 tahun (1971-1980) di saat menteri agama gencar melakukan
dialog antar umat beragama dan toleransi, umat Islam bertambah 24 %,
Katolik/Kristen bertambah 102,3 %.15
Dari wawancara kepada tokoh agama Islam, memang sampai sekarang
ini masih mencurigai adanya pemurtadan agama dengan cara-cara
santunan kemanusiaan. Pengobatan gratis, pemberian beasiswa, pemberian
pekerjaan, pembagian beras, dan tindakan kemanusiaan yang lainnya
diberikan kepada mereka yang telah memiliki agama. Ini juga dirasakan
menggunakan standard ganda (double standard) menggunakan
kemanusiaan untuk keperluan pindah agama. Kondisi seperti di atas pada
akhirnya bukan menimbulkan kerukunan antar umat beragama, tetapi
justru memperkeruh kerukunan menebar kemanusiaan, menuai curiga.
Jawaban para tokoh agama Islam itu bukan tanpa alasan, karena setiap
waktu dengan mudah bisa ditemukan adanya orang pindah agama (religious
conversion). Pindah agama itu bisa bermacam-macam motive, ada yang
karena pernikahan, karena sekolah, karena pekerjaan dan sebagainya.
Masyarakat di sekitar Ambarawa ini dengan mudah melakukan
perkawinan antar agama, yang kemudian yang satu harus lebur mengikuti
yang lain.

ResolusiKonflik
Harmoni antar umat beragama di Ambarawa tampaknya memiliki
kaitan erat dengan kebudayaan Jawa yang sangat mencintai hidup secara
harmoni.16 Semua agama yang berkembang di Ambarawa itu tidak bisa
meninggalkan tradisi Jawa. Masing-masing agama (Islam, Katolik, Kristen,
Hindu, Budha, dan Aliran Tri Dharma) berdialog dengan tradisi Jawa.
Bahkan menurut sebagian pengamat menilai bahwa toleransi, harmoni
itu bukan hanya warisan budaya Jawa, tetapi Asia Tenggara pada
umumnya. Musyawarah mufakat tampaknya penting dalam budaya bagi
masyarakat di sekitar kita, khususnya Jawa. Meskipun ada yang
memberikan penilaian bahwa hal itu merupakan mitos atau cara agama
pendatang (Islam dan Kristen) untuk menyesuaikan diri dengan sikap
dan perilaku tradisional.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

187

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

Ambarawa itu kotanya hanya sedikit (sekitar 1 km persegi), sebagian


besar masih berupa pedesaan. Karakter orang Jawa pedesaan itu memiliki
prinsip guyup rukun, trisno asih, bangun binangun, dan sangkul sinangkul,
rukun agawe santoso, dan sebagainya. Inti dari filosofi itu menekankan
kepada hidup yang hamoni sesama tetangga, teman dan anggota di
masyarakat meskipun berbeda keyakinan, beda pendapat. Sebagai anggota
masyarakat, mereka selalu mencoba membantu apa yang diperlukan oleh
masyarakat sekitarnya.
Pola penyelesaian ketegangan dengan cara penyesuaian sangat umum
ditemukan di masyarakat Ambarawa, dan agak susah ditemukan di
masyarakat yang lain. Bandingkan dengan kehidupan umat beragama di
kota, seperti Pekalongan, Jepara dan sebagainya. Masyarakat di Ambarawa
masih sangat tipikal masyarakat Jawa. Mereka sangat hati-hati dalam
menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga agar tidak terjadi
ketegangan, atau konflik. Oleh karena itu meskipun terjadi ketegangan,
mereka lebih baik diam, atau mengalah sebagai upaya resolusi konflik.
Geertz juga memberikan ide bahwa ada teknik bagi orang Jawa untuk
tidak memperlihatkan ketegangan yang disebut dengan ethok-ethok (purapura). Orang harus tetap tersenyum meskipun dalam keadaan sedih.
Orang harus tetap menjaga hubungan baik, meskipun benci dan
sebagainya. Konteks kerukunan, mungkin orang harus tetap rukun
meskipun terjadi ketegangan. Kekasaran bukanlah watak yang terpuji
bagi orang Jawa yang sudah njawani.
Pola penyelesaian konflik dengan menggunakan model njawani
(meniru kebudayaan Jawa) tampaknya menjadi trends menarik di
Ambarawa. Islam dengan budaya Jawa terjadi akulturasi, saling
menyesuaikan, sehingga Islam dengan leluasa di bumi Indonesia ini. Islam
dan budaya Jawa seakan tidak ada tembok pemisah. Sekarang ini agama
Katolik/Kristen juga melakukan penyesuaian dengan budaya Jawa, salah
satunya adalah pengemasan upacara daur hidup dengan yang kemudian
diisi dengan ajaran agama Katolik/Kristen.
Akumulasi gesekan, ketegangan, dan perang dingin yang tidak segera
diselesaikan dengan bijak akan menjadi sumber masalah. Masalah
kerukunan bukanlah barang yang mudah, bisa diprediksi, barang sepele
dan sebagainya, terlebih persoalan agama yang seakan mendapat
legitimasi dari Tuhan. Oleh karena itu kerukunan harus dilihat secara
utuh, melihat kasus demi kasus, tidak bisa generalisir, dan yang penting
diselesaikan dengan arif.
Meskipun harus diakui bahwa resolusi konflik yang dikembangkan
masih terbatas pada menghindari persoalan, bukan menyelesaikan
masalah. Persoalan dibiarkan dan didiamkan. Hal ini berarti potensi
konflik itu masih menyala.

188

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

Kesimpulan
Kerukunan umat beragama di Indonesia tampaknya masih menjadi
persoalan serius di masyarakat. Masyarakat agama di kecamatan
Ambarawa yang selama ini dikenal sebagai wilayah yang hidup rukun
dan damai masih tetap mempunyai potensi konflik yang besar. Api
ketegangan masih tetap menyala selama hal itu dibiarkan tanpa ada
upaya dipadamkan. Meskipun dialog antar umat beragama sering
dilakukan, forum komunikasi antar umat beragama didirikan, sepanjang
tidak berani membuka persoalan area abu-abu kemanusiaan atau
pemurtadan, kerukunan pura-pura, perlombaan menambah jumlah
pengikut dan sebagainya, maka potensi konflik antara umat beragama
masih menjadi ancaman bersama.
Gesekan antar umat beragama masih tetap terjadi. Ketegangan, konflik
atau gesekan itu biasanya disebabkan oleh kesalahpahaman, kepentingan,
dan ideology. Kesalahpahaman karena memang orang tidak tahu ajaran
agama yang lain. Saat ini masih menjadi masalah serius karena wawasan
multireligious masyarakat kita masih rendah, apalagi orang awam.
Kepentingan biasanya terjadi karena keinginan elit agama untuk balapan
memperbanyak kuantitas umatnya. Jika hal itu tidak disadari, maka akan
menimbulkan benturan antar umat beragama. Elit agama sering
melakukan race balapan untuk meningkatkan jumlah pemeluk agama.
Sehingga di masyarakat muncul istilah Kristenisasi, di sini, atau
Islamisasi di sana, dan sebagainya. Persoalan ini akan selesai jika masingmasing umat beragama itu kembali ke rumah untuk berdakwah/penyiaran
agama di kandang sendiri.
Di samping itu, kegiatan kemanusiaan yang mestinya merupakan sikap
terpuji, sebagai bentuk kepedulian agama kepada umat yang memerlukan,
umat yang terpinggirkan dan powerless (tidak berdaya). Tetapi hal tersebut
dipahami sebagai upaya pemurtadan. Pembagian beras, beasiswa, hitanan
masal dan kegiatan kemanusiaan yang lain hendaknya bisa menunjukkan
kegiatan itu adalah kemanusiaan, bukan mengajak orang untuk pindah
agama. Pembinaan kepada mereka yang diberi hendaknya terhindarkan
dari tuduhan pemurtadan. Atau, jika dilakukan pembinaan hendaknya
melibatkan semua agama sesuai dengan agama yang dianut anak
sebagaimana ruh dari hak asasi manusia.
Kerukunan di Ambarawa tampaknya masih seperti rukun dalam
permainan judi atau kerukunan yang semu. Kelihatan tampak rukun,
tetapi tetap ada kecurigaan, gesekan jika hal itu menyangkut penyiaran
agama. Kerukunan utuh terjadi jika hal itu menyangkut masalah sosial
untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti punya hajat, kerja bahkti,
kematian, dan sebagainya. Namun kalau sudah dikaitkan dengan

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

189

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

penyiaran, maka persoalan akan menjadi sumber kecurigaan, dan masalah


umat beragama.
Wadah kerukunan seperti FKUB sangat penting bagi sarana komunikasi
dan interaksi antar umat beragama, namun hendaknya melibatkan semua
komponen umat beragama. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan
dukungan dari seluruh komponen umat beragama. Jika yang terjadi hanya
diambil sebagian saja, maka akan dianggap sebagai upaya pemecahbelah
umat. Di samping itu, dalam wadah tersebut hendaknya bisa
menyelesaikan masalah yang muncul dari gesekan antar umat beragama.
Masalah hubungan antar umat beragama sekarang ini masih menjadi
barang tabu untuk dibicarakan, sehingga masalah yang muncul juga
diketahui banyak orang. Gesekan, ketegangan, dan konflik diselesaikan
dengan cara didiamkan atau cenderung dibiarkan. Pola resolusi konflik
seperti ini kurang sehat, dan cenderung melanggengkan kecurigaan dan
gesekan.
Pemerintah tampaknya masih sangat diperlukan untuk terlibat dalam
kerukunan umat beragama ini. Bangsa ini masih dalam proses menuju
dewasa untuk hidup secara damai. Oleh karena itu peran state (negara)
yang demokratis tetap diperlukan sebagai fasilitator, juga regulator.
Kehidupan di negeri ini tidak bisa diserahkan secara bebas demi
kepentingan hak asasi yang juga interpretable dan masih penuh dengan
nuasa interest (kepentingan).[]

Catatan Akhir:
Penulis adalah dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang,
dan sekarang sedang menempuh program S-3 Sosiologi di UGM
Yogjakarta.
1
Abd Ala, 2002. Melampaui Dialog Agama, Jakarta: Kompas, hal. 5-6
2
Azyumardi Azra, 2003. Merajut Kerukunan Hidup Beragama antara
Cita dan Fakta, dalam Harmoni: Jurnal Multikultural dan Multreligious Vol
VII No. 7, hal 8.
3
Hal ini bisa dilihat dari buku yang dihasilkan dari kegiatan Dialog
antar Iman/Agama yang banyak mengupas masalah doktrin daripada
realitas.
4
Pemerintah (Depag, Pemprov, Pemkot/kab) setiap tahun
menganggarkan kegiatan untuk keperluan dialog lintas agama.
5
BPS Kabupaten Semarang, Mantri Statistik Kecamatan Ambarawa,
Kecamatan Ambarawa dalam Angka 2003, hal 22-23.
6
Loekman Sutrisno, 2003. Konflik Sosial: Studi Kasus Indonesia.
Yogyakarta: Tajidu Press, hal. 14-17
*

190

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

Pandangan ini disarikan dari pandangan aliran fungsionalism,


khususnya Talcott Parsons (1902-1979). Baca Caroline H. Persell. 1987.
Understanding Society: An Introduction to Sociology, 1987. New York: Harper
& Row Publishers, Inc. hal. 13.
8
Lihat Lewis A. Coser dan Bernard Rosenberg, 1976. Sociological
Theory, New York: Macmillan Publishing Co. hal. 172
9
Lihat Sunyoto Usman, 2004. Sosiologi: Sejarah, Teori dan Metodologi,
Yogyakarta: Cired, hal 99-101.
10
Sanapiah Faisal, 1995. Format-Format Penelitian Sosial, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, hal. 270.
11
Lihat Kecamatan Ambarawa dalam Angka tahun 2003, hal. 24-26
12
Geertz melihat fenomena tersebut sebagai agama abangan, padahal
mereka sebenarnya termasuk dalam kategori dereng nglampahi (belum
melaksanakan), artinya mereka memungkinkan menjadi umat Islam yang
sampun nglampahi (sudah melaksanakan).
13
Lihat di Kenangan 80 Tahun Pemberkatan Gereja Santo Yusup
Ambarawa 1924-2004
14
Sunyoto Usman, Opcit, hal. 79
15
Data berasal dari BPS, diolah oleh Mundiri, 2003. Kebijakan
PemerintahdalamDakwahIslamdalamHubungannyadenganKonflikIslamKristen masa Orde Baru, Penelitian IAIN Walisongo, hal. 57
16
Franz Magnis Suseno, 2001. Etika Jawa, Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama, hal. 39-40
7

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

191

Kerukunan Umat Beragama dan Resolusi Konflik... Agus Nurhadi

DAFTAR PUSTAKA
Abd Ala, 2002. Melampaui Dialog Agama, Jakarta: Kompas
Azyumardi Azra, 2003. Merajut Merajut Kerukunan Hidup Umat
Beragama antara Cita dan Fakta dalam Harmoni: Jurnal Multikultural
danMultireligius.
Budhy Munawar Rahman, 2001. Islam Pluralis. Jakarta: Paramadina
Caroline H. Persell. 1987. Understanding Society: An Introduction to Sociology,
1987. New York: Harper & Row Publishers, Inc.
Franz Magnis Suzeno, 2001. Etika Jawa, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Garim dkk, 2004. Kenangan 80 Tahun Pemberkatan Gereja Santo Yusup
Ambarawa, Paroki Ambarawa.
Hick, J. 1985. Problems of Religious Pluralism. London: Macmillan
Komarudin Hidayat dan Ahmad Gaus AF, ed. 1999. Passing Over: Melintas
Batas Agama, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Lewis A. Coser dan Bernard Rosenberg, 1976. Sociological Theory, New
York: Macmillan Publishing Co.
Loekman Sutrisno, 2003. Konflik Sosial: Studi Kasus Indonesia, Yogyakarta:
Tajidu Press.
Mantri Statistik, BPS Kab. Semarang, 2003. Kecamatan Ambarawa dalam
Angka.
Mundiri, 2003. Kebijakan Pemerintah Terhadap Dakwah Islam dalam
Hubungannya dengan Konflik Islam-Kristen Masa Orde Baru, Hasil
Penelitian.
Nur Achmad, editor, 2001. Pluralitas Agama: Kerukunan dalam Keragaman,
Jakarta:
Sanapiah Faisal, 1995. Format-Format Penelitian Sosial, Jakarta: Raja
Grafindo Persada
Sumartana, et al, editor 2001. Pluralisme, Konflik dan Pendidikan Agama di
Indonesia. Yogyakarta: Interfidie
Sunyoto Usman, 2004. Sosiologi: Sejarah, Teori dan Metodologi, Yogyakarta:
Cired.
Tarmizi Taher, 1997. Bingkai Teologi Kerukunan Umat Beragama, Jakarta:
Badan Litbang Agama, Departeman Agama

192

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005