Anda di halaman 1dari 13

Gangguan Somatisasi

Ineke Putri
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510, No. Telp (021) 5694-2061
Email: ineke.2013fk355@civitas.ukrida.ac.id
Abstrak
Prevalensi kesehatan jiwa di Indonesia adalah 18,5 %, yang berarti dari 1.000 penduduk
terdapat sedikitnya 185 penduduk dengan gangguan kesehatan jiwa atau setiap rumah tangga
terdapat seorang anggota keluarga menderita gangguan kesehatan jiwa. Anamnesis yang sistemik
itu mencakup: (1) keluhan utama pasien; (2) riwayat penyakit lain yang pernah dideritanya
maupun yang pernah diderita oleh keluarganya; dan (3) riwayat penyakit yang diderita saat ini.
Pemeriksaan secara umum terdiri dari; mengidentifikasi keadaan dan kesadaran umum pasien.
Kemudian dilanjutkan dengan inspeksi,palpasi,perkusi dan auskultasi. Pemeriksaan penunjang
dapat dilakukan dengan menguji urin dan darahnya. Gangguan somatisasi adalah salah satu
gangguan somatoform spesifik yang ditandai oleh banyaknya keluhan fisik/gejala somatik yang
mengenai banyak sistem organ yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat berdasarkan
pemeriksaan fisik dan laboratorium. Depresi, hipokondriasis, dan gangguan cemas-panik juga
mempunyai gejala klinis seperti gangguan somatisasi. Ada tiga faktor yang menyebabkan
gangguan somatisasi. Wanita, pendidikan rndah, miskin sering menderita gangguan ini.
Penatalaksanaannya bertujuan untuk membantu pasien agar dapat mengetahui dan memahami
secara jelas mengenai gejala-gejala yang dideritanya. Sebagian besar pasien dengan gejala-gejala
somatik fungsional sembuh tanpa intervensi khusus. Jadi, dari hasil pemeriksaan didapatkan
bahwa tidak ada kelainan pada pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tetapi anak
perempuan tersebut mengeluhkan berbagai macam keluhan semua hasil yang didapatkan anak
perempuan tersebut didiagnosis mengalami gangguan somatisasi.
Kata kunci: gangguan somatisasi, depresi, hipokondriasis, gangguan cemas-panik
Abstract
The prevalence of mental health in Indonesia is 18.5%, which means that 1,000 residents
are at least 185 people with mental health disorders or every household there is a family member
suffering from mental health disorders. Systemic anamnesis includes: (1) the main complaints of
patients; (2) history of the disease and others who have suffered ever suffered by the family; and
(3) a history of illness today. General examination consists of; identify the circumstances and the
general awareness of patients. Then proceed with the inspection, palpation, percussion and
auscultation. Investigations can be done by testing the urine and blood. Somatization disorder is
one of the specific somatoform disorder characterized by the many complaints of physical /
somatic symptoms that affect many organ systems that can not be explained adequately by
physical examination and laboratory. Depression, hypochondriasis and anxiety-panic disorders
also have clinical symptoms such as somatization disorder. There are three factors that cause
somatization disorder. Women, education rndah, the poor often suffer from this disorder. Rx aims
to help patients in order to know and understand clearly the symptoms suffered. Most patients
with functional somatic symptoms recover without specific intervention. Thus, the results of the
examination showed that there are no abnormalities on physical examination and investigation
but the girl complained of a variety of complaints all the results obtained the girl was diagnosed
with somatization disorder.
Keywords: somatization disorder, depression, hypochondriasis, anxiety disorders-panic

Pendahuluan
Prevalensi kesehatan jiwa di Indonesia adalah 18,5 %, yang berarti dari 1.000 penduduk
terdapat sedikitnya 185 penduduk dengan gangguan kesehatan jiwa atau setiap rumah tangga
terdapat seorang anggota keluarga menderita gangguan kesehatan jiwa.1
Gangguan somatisasi ditandai oleh banyaknya gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan
secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium. Gangguan somatisasi dibedakan
dari gangguan somatoform lainnya karena banyaknya keluhan dan melibatkan sistem organ yang
multipel (sebagai contoh, gastrointestinal dan neurologis). Gangguan ini adalah kronis (dengan
gejala ditemukan selama beberapa tahun dan dimulai sebelum usia 30 tahun) dan disertai dengan
penderitaan psikologis yang bermakna,gangguan fungsi sosial dan pekerjaan, dan perilaku
mencari bantuan medis yangberlebihan.2
Pada tahun 1859, Pierre Briquet, seorang dokter Prancis menggambarkan suatu sindrom
yang pada waktu itu diberi nama dengan namanya sendiri, yaitu Briquet sindrom, dan sekarang
dalam DSM-III-R disebut gangguan somatisasi (somatization disorder). Diagnosis ganguan
somatisasi digunakan untuk individu-individu yang banyak mengalami keluhan-keluhan somatik,
berulang-ulang dan berlangsung lama, yang jelas bukan karena suatu penyebab fisik yang aktual.
Individu-individu dengan ganguan ini menolak pandangan bahwa penyebab dari keluhankeluhan mereka adalah faktor psikologis dan mereka tetap mencari pengobatan medis. Orang
yang menderita ganguan ini akan pergi ke dokter, dan kadang-kadang ke sejumlah dokter
sekaligus untuk meminta konsultasi dan pengobatan. Orang-orang yang menderita gangguan
tersebut mengeluh secara dramatis dan berlebihan, bahkan mengeluh bahwa mereka menderita
sakit sepanjang hidupnya.3
Ganguan somatisasi ini mulai sebelum usia 30 tahun dan sering pada usia belasan tahun
pada anak-anak perempuan dimana keluhan-keluhan dan keprihatinannya berhubungan erat
dengan siklus menstruasi; dan keluhan-keluhan serta keprihatinan sering merupakan simptomsimptom somatisasi yang paling awal. Gangguan ini lebih banyak terdapat pada wanita daripada
laki-laki. Selain keluhan-keluhan mengenai kesehatan, pasien yang mengalami somatisasi juga
melaporkan adanya kesulitan pribadi berupa kecemasan dan depresi. Keluhan-keluhan tersebut
bukan merupakan bagian dari gangguan itu sendiri, tetapi sebagai akibat dari kepercayaan
individu bahwa masalah penyakit atau masalah kesehatannya benar-benar berat. Kesulitan-

kesulitan dibidang pekerjaan dan perkawinan juga umum terdapat pada kalangan para penderita
ini.3
Rumusan Masalah
Anak perempuan 35 tahun datang dengan keluhan rasa tidak enak di perut, kembung,
terasa naik ke atas sehingga pasien merasa sesak, keluhan lain rasa sakit di dada kiri yang kadang
menyebar ke bagian kanan.
Hipotesis
Anak tersebut menderita gangguan somatisasi.
Sasaran pembelajaran
1. Mahasiswa mampu menjelaskan kondisi pasien dengan konteks keluhan fisik yang ada
2. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang status psikiatri
Skenario 7
Seorang anak perempuan 35 tahun datang ke dokter dengan keluhan rasa tidak enak di
perut, kembung, terasa naik ke atas sehingga pasien merasa sesak, keluhan lain rasa sakit di dada
kiri yang kadang menyebar ke bagian kanan.
Anamnesis
Anamnesis dapat dilakukan kepada pasien, yang disebut sebagai autoanamnesis, atau
dilakukan terhadap orangtua, wali, orang yang dekat dengan pasien, atau sumber lain, disebut
sebagaai aloanamnesis. Anamnesis yang sistemik itu mencakup: (1) keluhan utama pasien; (2)
riwayat penyakit lain yang pernah dideritanya maupun yang pernah diderita oleh keluarganya;
dan (3) riwayat penyakit yang diderita saat ini.4
Indentitas pribadi, menanyakan nama, tanggal dan tempat tanggal lahir, alamat,
pekerjaan, dan sebagainya. Keluhan utama, menanyakan keluhan yang dialami sekarang.
Riwayat penyakit sekarang, menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan keluhan utama. Harus
jelaskan karakteristiknya, dengan perincian, yaitu: (1) lokasi; (2) kualitas; (3) kuantitas dan
keparahan; (4) waktu, meliputi durasi dan frekuensi; (5) situasi ketika masalah terjadi; (6) factor-

faktor yang memperburuk dan mengurangi gejala. Riwayat penyakit dahulu, hal-hal yang
berhubungan dengan penyakit yang pernah diderita sebelumnya dan masih berlanjut hingga saat
ini atau pernah mengalami dan sudah sembuh. Riwayat keluarga, tanyakan apakah pada
keluarganya ada yang mengalami keluhan yang sama. Riwayat personal social, menanyakan
vlingkungan tempat tinggal, kebiasaan sehari-hari, pola makan, dan lainnya. 4
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan secara umum terdiri dari; mengidentifikasi keadaan dan kesadaran umum
pasien. Keadaan umum ini dapat meliputi kesan keadaan sakit termasuk ekspresi wajah dan
posisi pasien, kesadaran (GCS/Gasglow Coma Scale), yang dapat meliputi penilaian secara
kualitas seperti compos mentis, apatis, somnolen, sopor, koma, delirium, dan status gizinya.
Dilanjutkan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital terlebih dahulu baik tekanan darah, suhu,
frekuensi napas (RR), serta nadi.5
Kemudian dilanjutkan dengan inspeksi,palpasi,perkusi dan auskultasi untuk mengamati
abdomen dengan mencari adanya nyeri, distensi(proses peningkatan tekanan abdominal yang
menghasilkan peningkatan tekanan dalam perut dan menekan dinding perut) yang dapat
disebabkan oleh massa, dilatasi usus,asites atau pembesaran organ.5
Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis. Urin adalah pengujian dari sampel urin. Sampel urin dikumpulkan dalam
wadah khusus di kantor penyedia perawatan kesehatan atau fasilitas komersial dan dapat diuji di
lokasi yang sama atau dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. pH > 7,6 biasanya ditemukan
kuman urea splitting organisme yang dapat membentuk batu magnesium amonium prostat. pH
yang rendah menyebabkan pengendapan batu asam urat (organik). Sedimen; sel darah meningkat
(90%) ditemukan pada pasien dengan batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan
meningkat.5
Kultur urin. Sebuah kultur urin dilakukan dengan menempatkan bagian dari sampel urin
dalam tabung atau piring dengan zat yang mendorong bakteri yang hadir untuk tumbuh. Sampel
urin dikumpulkan dalam wadah khusus di kantor penyedia layanan kesehatan atau fasilitas
komersial dan dikirim ke laboratorium untuk kultur. Setelah bakteri ini berkembang biak, yang
biasanya memakan waktu 1 sampai 3 hari, mereka dapat diidentifikasi. Penyedia layanan

kesehatan kemudian dapat menentukan perawatan terbaik. CCT untuk melihat fungsi ginjal.
Ekskresi Ca, fosfor, asam urat dalam urin 24 jam untuk melihat apakah terjadi hiperekskresi.5
Darah lengkap. Hemoglobin; leukosit normal atau meningkat, anemia normositik atau
mikrositik, tipe penyakit kronis.5
Diagnosis Kerja
Gangguan somatisasi adalah salah satu gangguan somatoform spesifik yang ditandai oleh
banyaknya keluhan fisik/gejala somatik yang mengenai banyak sistem organ yang tidak dapat
dijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium.6-8
Diagnosis gangguan somatisasi menurut DSM-IV-TR memberi syarat awitan gejala muda
sebelum usia 30 tahun. Selama perjalanan gangguan, keluhan pasien harus memenuhi minimal 4
gejala nyeri, 2 gejala gastrointestinal, 1 gejala seksual, dan 1 gejala pseudoneurologik, serta tak
satu pun dapat dijelaskan melalui peemeriksaan fisik dan laboratorik. Berikut kriteria diagnosis
dengan gangguan somatisai menurut DSM-IV-TR6,9
a. Adanya riwayat keluhan-keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang
berlangsung dalam periode beberapa tahun dan mencari-cari penyembuhannya atau
terjadi hambatan bermakna dalam fungsi-fungsi sosial, pekerjaan, atau area penting
lainnya.
b. Setiap kriteria berikut selama ini harus terpenuhi dimana gejala-gejala individu terjadi
pada suatu waktu dalam perjalanan gangguan:
- 4 gejala nyeri: riwayat nyeri pada minimal 4 tempat atau fungsional (misalnya kepala,
-

perut, punggung, sendi, ekstremitas, dada, rektum, sewaktu coitus atau miksi).
2 gejala-gejala gastrointestinal: riwayat sedikitnya 2 gejala gastrointestinal selain nyeri
(misalnya nausea, meteorismus, vomitus diluar kehamilan, diare, intoleransi beberapa

jenis makanan).
1 gejala sexual: riwayat sedikitnya ada 1 gejala sexual atau reproduksi selain nyeri
(misalnya indiferen sexual, disfungsi ereksi atau ejakulasi, haid irregular,

hipermenorrhea, vomitus sepanjang masa kehamilan).


1 gejala pseudoneurologis: riwayat sedikitnya 1 gejala atau deficit yang mengarah
pada suatu kondisi neurologis yang tidak hanya nyeri (gejala-gejala konversi seperti
gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisa atau kelemahan lokal, sukar
menelan atau terasa adanya massa di tenggorok, aphonia, retensi urinae, halusinasi,

kehilangan sensasi nyeri dan raba, visus ganda, kebutaan, tuli, kejang; gejala-gejala
disosiatif seperti amnesia; kehilangan kesadaran selain pingsan).
c. Adanya 1 atau 2:
- Setelah penelitian yang sesuai; gejala-gejala pada kriteria B tidak dapat dijelaskan
berdasarkan kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dari zat
(penyalahgunaan obat atau medikasi).
- Ketika ada kaitan dengan suatu kondisi medis umum, keluhan-keluhan fisik atau
hambatan sosial atau pekerjaan adalah berlebihan berdasarkan riwayat, pemeriksaan fisik
atau temuan-temuan laboratorium.
d. Gejala2 tidak (dimaksudkan) dibuat-buat atau disengaja (seperti pada gangguan buatan
atau malingering.
Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia PPDGJIII dan DSM 5, dikatakan Gangguan Somatisasi (F45.0) jika memenuhi pedoman diagnostic.
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut.10
a. Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat
dijelaskan atau dasar adanya kelainan fisik, yang sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun;
b. Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada
kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan-keluhannya;
c. Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan dengan
sifat keluhan-keluhannya dan dampak perilakunya.
Diagnosis Banding
Depresi
Depresi dengan komponen psikologis, misalnya : rasa sedih, susah, rasa tak berguna,
gagal, kehilangan, tak ada harapan, putus asa, penyesalan yang patologis; dan komponen
somatic, misalnya anorexia, konstipasi, kulit lembap (rasa dingin), tekanan darah dan nadi
menurun. Ingatlah akan adanya depresi bila terdapat gangguan tidur, anorexia, serta semangat
bekerja / bergaul dan nafsu sexual menurun. Ada jenis depresi dengan penarikkan diri dan ada
pula dengan kegelisahan atau agitasi.11
Hipokondriasis
Mirip dengan somatisasi dalam pengertian bahwa individu yang menderita kedua
gangguan tersebut selalu memperhatikan simptom-simptom fisik. Perbedaannya ialah individu

yang menderita somatisasi mengeluh bermacam-macam penyakit sedangkan individu yang


menderita gangguan hipokondriasis selalu mengeluh terhadap satu atau dua simptom saja
(penyakit atau simptom terbatas).3
Hipokondriasis ialah kondisi kecemasan yang kronis dimana penderita selalu merasa
ketakutan yang patologik terhadap kesehatannya sendiri. Penderita merasa yakin sekali bahwa
dirinya mengidap penyakit parah (serius). Neurosis ini lebih banyak terdapat pada kaum wanita
daripada laki-laki. Keluhan-keluhan yang diungkapkannya tidak seimbang dengan keadaan fisik
yang sebenarnya. Setiap simptom penyakit yang kecil sekalipun dirasakan sebagai malapetaka
yang bisa menyebabkan kematiannya. Misalnya, sakit kepala selalu dihubungkan dengan tumor
otak, atau bintik-bintik pada kulit selalu dihubungkan dengan penyakit kusta atau bisul yang
dapat melumpuhkan kesehatannya. Jadi, penderitaannya selalu dibesar-besarkan. Dengan
melebih-lebihkan simptom-simptom fisik itu, individu tersebut ingin mendapat simpati dan
perhatian dari orang lain dan juga ingin memperolah rasa aman tertentu.3
Orang yang mengalami gangguan hipokondriasis sering mengalami konflik-konflik intrapsikis yang berlangsung lama, kronis, parah dan tidak terselesaikan. Orang yang tidak matang
dan selalu memperhatikan diri sendiri serta mengisolasikan dirinya dari orang lain cenderung
mengembangkan reaksi-reaksi hipokondriasis. Riwayat hidupnya selalu mengungkapkan
kekhawatiran yang berlebihan mengenai keadaan kesehatan.Mereka justru akan menimbulkan
kekhawatiran tersendiri pada anak tentang kondisi badan dan jika orang itu mendapat hadiah
melalui pelarian diri kepada konversi, maka sulit sekali menganjurkannya untuk menggunakan
mekanisme-mekanisme penyesuaian diri yang adekuat. Ia ingin melarikan diri dari tegangan
kehidupan yang aktif dan konversi memberikan kepadanya perhatian dan simpati itu. Maka, ia
berpegang teguh pada sarana (konversi) ini untuk mendapatkan apa yang sangat diinginkannya.3
Gangguan Cemas-Panik
Cemas adalah rasa khawatir yang tidak menyenangkan dan tidak beralasan, kadang
disertai gejala-gejala fisiologik. Jenis gangguan cemas antara lain; gangguan cemas menyeluruh
dan gangguan panik. Prevalensi ganguan cemas paling banyak pada anak-anak 15-20% dari
semua penderita. Gangguan cemas diklasifikasikan berdasarkan dari durasi dan jumlah serta sifat
penderita. Rata-rata 1-3 dari pasien menunjukkan adanya gejala kejiwaan tetapi juga
menunjukkan gejala somatik dengan tidak adanya kondisi medis yang terdiagnosis. Khusus
untuk jenis gangguan cemas panik, menunjukkan pengulangan dan kepanikan tak terduga di

mana ada ketakutan yang berbeda dan ketidaknyamanan dengan adanya berbagai variasi gejala
kejiwaan seperti palpitasi, berkeringat, gemetar, nyeri dada, sesak,pusing dan sebuah ketakutan
yang akan datang atau kematian. Parestesia, distres gastrointestinal dan perasaan tidak realistis.12
Kriteria diagnosa membutuhkan kurang lebih 1 bulan untuk konservasi atau khawatir
tentang dampak atau perubahan perilaku .Prevalensi terjadinya gangguan ini seumur hidup 1-3%.
Serangan panik onsetnya mendadak selama 10 menit dan selalu menyelesaikannya dalam kurun
waktu 1 jam dan bekerja pada mode yang tak terduga. Serangan biasanya berlangsung selama
beberapa menit, tetapi dapat berlanjut sampai berjam-jam, dan diasosiasikan dengan dorongan
yang kuat untuk melarikan diri dari situasi dimana serangan itu terjadi. Beberapa orang dengan
serangan panik, takut untuk pergi keluar sendiri. Gangguan panik yang parah bisa berujung pada
agoraphobia (fobia berada di tengah banyak orang). Penderita agoraphobia sering takut tanpa
alasan jelas, bila dirinya berada di tempat terbuka atau harus keluar dari rumah. Serangan panik
yang berulang kemungkinan menjadi sulit untuk dihadapi sehingga penderitanya mempunyai
keinginan untuk bunuh diri.Gangguan panik biasanya dimulai pada akhir masa remaja sampai
pertengahan 30 tahun. Perempuan mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar untuk
mengembangkan gangguan panik.12
Suatu diagnosis gangguan panik didasarkan pada kriteria berikut;mengalami serangan
panik secara berulang dan tak terduga (sedikitnya dua kali) serta sedikitnya satu dari serangan
tersebut diikuti oleh paling tidak satu bulan rasa takut yang persisten akan adanya serangan
berikutnya, atau rasa cemas akan implikasi atau konsekuensi dari serangan (misalnya takut
kehilangan akal atau menjadi gila atau menderita serangan jantung), atau perubahan tingkah laku
yang signifikan (misalnya, menolak meninggalkan rumah atau keluar ke masyarakat karena takut
mendapat serangan lagi).12
Manifestasi Klinik
Pasien dengan gangguan somatisasi memiliki banyak keluhan somatik dan riwayat medik
yang panjang dan rumit. Gejala-gejala umum yang sering dikeluhkan adalah mual, muntah
(bukan karena kehamilan), sulit menelan, sakit pada lengan dan tungkai, nafas pendek (bukan
karena olahraga), amnesia, komplikasi kehamilan dan menstruasi. Sering kali pasien
beranggapan dirinya menderita sakit sepanjang hidupnya. Gejala pseudoneurologik sering
dianggap gangguan neurologik.13

Penderitaan psikologik dan masalah interpersonal menonjol, dengan cemas dan depresi
merupakan gejala psikiatri yang sering muncul. Ancaman akan bunuh diri sering dilakukan,
namun bunuh diri aktual sangat jarang. Biasanya pasien mengungkapkan keluhan secara
dinamik, dengan muatan emosi dan berlebihan. Pasien-pasien ini biasanya tampak mandiri,
terpusat pada dirinya, haus penghargaan dan pujian, dan munipulatif.6
Gangguan somatisasi sering sekali disertai oleh gangguan mental lainnya, termasuk
depresif berat, gangguan kepribadian, gangguan berhubungan zat, gangguan kecemasan umum,
dan fobia. Kombinasi gangguan-gangguan tersebut dan gejala kronis menyebabkan peningkatan
insiden masalah perkawinan, pekerjaan, dan social.6
Etiologi
Faktor Psikososial
Penyebab gangguan somatisasi tidak diketahui. Secara psikososial, gejala-gejala
gangguan ini merupakan bentuk komunikasi sosial yang bertujuan untuk menghindari kewajiban,
mengekspresikan emosi, atau menyimbolkan perasaan atau keyakinan.14
Pandangan perilaku pada gangguan somatisasi menekankan bahwa pengajaran dari orang
tua, contoh dari orang tua, dan etika moral mungkin mengajarkan anak-anak untuk menggunakan
somatisasi dibandingkan anak-anak lain. Di samping itu, beberapa pasien dengan gangguan
somatisasi berasal dari rumah yang tidak stabil dan telah mengalami penyiksaan fisik. Faktor
sosial, cultural, dan etnik mungkin juga terlibat di dalam perkembangan gejala gangguan somatic
asi.6
Faktor Biologis
Beberapa penelitian mengarah pada dasar neuropsikologis untuk gangguan somatisasi.
Penelitian tersebut mengajukan bahwa pasien memiliki gangguan perhatian dan kognitif
karakteristik yang dapat menyebabkan persepsi dan penilaian yang salah terhadap masukan
(input) somatosensorik. Gangguan yang dilaporkan adalah distraktibilitas yang berlebihan,
ketidakmampuan untuk membiasakan terhadap stimulasi yang berulang, pengelompokan
konstruksi kognitif atas dasar impresionistik, asosiasi parsial dan sirkumstansial, dan tidak
adanya selektivitas. Sejumlah terbatas penelitian pencitraan otak telah melaporkan penurunan
metabolisme di lobus frontalis dan pada hemisfer nondomain.6

Data genetik mengindikasikan adanya transmisi genetik pada gangguan somatisasi.


Terjadi pada 10-20% wanita turunan pertama, sedangkan dengan saudara laki-lakinya cenderung
menjadi penyalahgunaan zat dan gangguan kepribadian antisosial. Pada kembar monozigot
terjadi 29% dan dizigot 10%.14
Faktor Kognitif
Faktor kognitif yang menyebabkan gangguan somatisasi seperti prediksi berlebih
terhadap ketakutan, keyakinan irasional, sensitivitas berlebihan mengenai sinyal-sinyal dan
tanda-tanda ancaman, harapan-harapan self efficacy (kemampuan diri) yang terlalu rendah dan
salah mengartikan sinyal-sinyal tubuh. Sehingga somatisasi terbentuk karena cara berpikir yang
terdistorsi yang membuat seseorang tersebut salah mengartikan perubahan kecil dalam sensasi
tubuhnya sebagai tanda dari bencana/ancaman yang akan terjadi. Selain itu distorsi kognitif
tersebut akan berdampak pada fungsi sosial, pekerjaan dan masyarakat.13
Berdasarkan berbagai penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor kognitif merupakan faktor yang sangat berperan penting dalam tubuh sebagai menyebabkan terjadinya
gangguan somatisasi. Kesalahan dalam proses kognitif atau terjadinya penyimpangan kognitif
dapat memberikan pengaruh negatif bagi diri individu. Somatisasi merupakan salah satu
gangguan yang terjadi akibat adanya kesalahan dalam proses kognitif yang menimbulkan
keyakinan dan pemikiran yang salah. Distorsi kognitif merupakan hasil dari pengolahan
informasi dengan cara yang diduga mengakibatkan kesalahan yang diidentifikasi kedalampikiran
atau berpikiran secara berlebihan dan tidak rasional.13
Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup gangguan pada populasi umum diperkirakan adalah 0,1-0,2%
walaupun beberapa kelompok penelitian percaya bahwa angka sesungguhnya mungkin
mendekati 0,5%.1 Wanita dengan gangguan somatisasi melebihi jumlah laki-laki sebesar 5-20
kali. Walaupun perkiraan tertinggi mungkin karena kecenderungan awal yang tidak
mendiagnosis gangguan somatisasi pada laki-laki. Namum demikian, dengan rasio wanita
berbanding laki-laki adalah 5:1, prevalensi seumur hidup gangguan somatisasi pada wanita
dipopulasi umum adalah 1 atau 2%; gangguan ini bukan gangguan yang jarang ditemukan.6
Gangguan berhubungan terbalik dengan posisi sosial, terjadi paling sering pada pasien
dengan pendidikan rendah dan miskin.2Banyak penderita gangguan somatisasi tumbuh dengan

10

menyaksikan kesakitan dari penyakit yang diderita oleh orang tuanya atau sering menderita
penyakit sewaktu anak-anak.5 Gangguan somatisasi didefinisikan dimulai sebelum usia 30
tahun,tetapi seringkali mulai usia belasan tahun.6
Penatalaksanaan
Tujuan dari medikasi untuk membantu pasien agar dapat mengetahui dan memahami
secara jelas mengenai gejala-gejala yang dideritanya. Pasien dengan gangguan somatisasi paling
baik jika mereka memiliki seorang dokter tunggal sebagai perawat kesehatan utamanya. Dokter
utama harus melihat pasien selama kunjungan yang terjadwal teratur, biasanya dengan interval
satu bulan. Kunjungan ini harus relatif singkat. Jika gangguan somatisasi telah didiagnosis,
dokter yang mengobati pasien harus mendengarkan keluhan somatik sebagai ekspresi emosional,
bukannya sebagai keluhan medis.(1,2)
Strategi jangka panjang yang baik bagi dokter perawatan primer adalah meningkatkan
kesadaran pasien tentang kemungkinan bahwa factor psikologi terlibat di dalam gejala sampai
pasien mau mengunjungi psikiatri secara teratur.6,15
Dalam lingkungan psikoterapeutik, pasien dibantu untuk mengatasi gejalanya, untuk
mengekspresikan emosi yang mendasari, dan untuk mengembangkan strategi alternatif untuk
mengekspresikan perasaan mereka.6,15
Memberikan medikasi psikotropik bilamana gangguan somatisasi timbul bersamaan
dengan gangguan mood atau gangguan anxietas selalu memiliki resiko, tetapi juga diindikasikan
terapi pada gangguan yang timbul bersamaan. Obat harus diawasi karena pasien dengan
gangguan somatisasi cenderung menggunakan obatnya dengan tidak teratur. Obat antidepresan
berguna pada pasien dengan gangguan mood yang jelas. Antidepresan trisiklik dan penghambat
ambilan kembali serotonin selektif memiliki efikasi yang sama tetapi profil toksisitasnya
berbeda.Preparat; silopram (celexa) 20-50 mg, fluoksetin (prozac) 20-80 mg, sertalin (zolofit)
25-200 mg dan sebagainya. Pilihan obat sebaiknya memperhatikan gejala fisik pasien (misalnya
trisiklik lebih baik pada pasien dengan nyeri dan insomnia tetapi sebaiknya hindari pada pasien
dengan prostatisme, gunakan hati-hati pada pasien lansia atau lemah, insufisiensi
ginjal,hati,jantung). Jika tidak ada hasil yang baik selama lebih dari 2 minggu, rujuk ke dokter
spesialis.6,16
Prognosis

11

Sebagian besar pasien dengan gejala-gejala somatik fungsional sembuh tanpa intervensi
khusus. Faktor-faktor yang lebih prognostik antara lain awitan yang akut dan durasi gejala yang
singkat, usia muda, kelas sosioekonomi tinggi, tidak ada penyakit organik, dan tidak ada
gangguan kepribadian.17
Prognosa jangka panjang untuk pasien gangguan somatisasi dubia ad malam, dan biasanya
diperlukan terapi sepanjang hidup. Bila somatisasi merupakan sebuah topeng atau gangguan
psikiatrik lain, prognosanya tergantung pada prognosis masalah primernya.17
Gejala-gejala konversi yang diskret mempunyai prognosis yang lebih baik. Gejala-gejala ini
meungkin dapat hilang secara spontan bila sudah tidak diperlukan lagi atau berespons baik
terhadap psikoterapi spesifik.17
Kesimpulan
Jadi, dari hasil pemeriksaan didapatkan bahwa tidak ada kelainan pada pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang tetapi anak perempuan tersebut mengeluhkan berbagai macam
keluhan semua hasil yang didapatkan anak perempuan tersebut didiagnosis mengalami gangguan
somatisasi.
Daftar Pustaka
1. Indarjo S. Kesehatan jiwa remaja. KESMAS Juli 2009;5(1):49
2. Pedoman penggolongandan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III. Direktorat Jenderal
Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI 2002
3. Semium Y. Kesehatan mental 2. Yogyakarta:Kanisius;2006. h.378-9
4. Bickley S. Buku saku pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates. Edisi ke-5. Jakarta:
EGC; 2006.h.17
5. Gleandle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga; 2007. h.194.
6. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis psikiatri.

Edisi ke-7. Jakarta: Binarupa

Aksara;1997.h.84-106
7. Kusuma

W.

Buku

ajar

psikiatri.

Jakarta:

Fakultas

Kedokteran

Universitas

Indonesia;2010.h.265-280
8. Pardamean E. Simposium sehari kesehatan jiwa dalam rangka menyambut hari kesehatan
jiwa sedunia. Diunduh dari http://www.idijakbar.com, 1 Januari 2016

12

9. American Psychiatric Assosiation Washington, DC. Diagnostic and Statistical Manual of


Mental Disorders Fourth Edition Text Revision (DSM IV TR)
10. Maslim R. Buku Saku Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ-III dan
DSM 5. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya; 2013.h.60
11. Maramis AA, Maramis WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga
University Press; 2009.h.139
12. Harrison et al. Principles of internal medicine. Vol 2. 18 th ed. New York: Mc Graw Hill;
2012. p. 3529-42.
13. Selvera NR. Teknik restrukturisasi kognitif untuk menurunkan keyakinan irasional pada
remaja dengan gangguan somatisasi. Universitas Muhammadiyah Malang
14. Elvira, Sylvia D, Hadisukanto, Gitayanti. Buku ajar psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2010.p265-267
15. Kaplan & Sadock. Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2. Jakarta : Binarupa Aksara;1997.h.1006
16. Hibbert A, Godwin A, Dear F. Rujukan cepat psikiatri. Jakarta: EGC;2009. h. 100-1
17. Mangel MB. Referensi Manual Kedokteran Keluarga. Jakarta: Perpustakaan
Nasional;200.h.701-9

13