Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN
MASERASI
a. Pengertian
Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa latin, artinya merendam) :
adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati yaitu
direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut non polar) atau setengah air,
misalnya etanol encer, selama periode waktu tertebtu sesuai dengan aturan dalam
buku resmi kefarmasian (FI Ed. IV).
Maserasi merupakan cara ekstraksi yang sederhana. Istilah maceration berasal
dari bahasa latin macere, yang artinya merendam. Jadi maserasi dapat diartikan
sebagai proses dimana obat yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam
menstruum sampai meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang
mudah larut akan melarut (Ansel, 1989).
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan
dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan
menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif,
zat aktif akan larut dan karena adanya perbedan konsentrasi antara larutan zat aktif di
dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar.
Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan
di luar sel dan di dalam sel (Depkes RI, 1986).
Maserasi adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan
nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut nonpolar) atau
setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu tertentu sesuai dengan
aturan dalam buku resmi kefarmasian (Depkes RI, 1995).
b. Prinsip
Prinsip maserasi adalah ekstraksi zat aktif yang dilakukan dengan cara
merendam serbuk dalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada temperatur
kamar terlindung dari cahaya, pelarut akan masuk ke dalam sel dari tanaman
melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara
larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan
terdesak keluar dan diganti oleh pelarut dengan konsentrasi rendah (proses difusi).
Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di
luar sel dan di dalam sel. Selama proses maserasi (biasanya berkisar 2-14 hari)
dilakukan pengadukan / pengocokkan dan penggantian pelarut setiap hari.
Pengocokkan memungkinkan pelarut segar mengalir berulang-ulang masuk ke
seluruh permukaan simplisia yang sudah halus. Endapan yang diperoleh dipisahkan
dan filtratnya dipekatkan (Ansel, 1989).
Maserasi biasanya dilakukan pada temperatur 15 - 20 C dalam waktu selama
3 hari sampai bahan-bahan yang larut, melarut (Ansel, 1989).
Pada umumnya maserasi dilakukan dengan cara 10 bagian simplisia dengan
derajat kehalusan yang cocok, dimasukkan kedalam bejana kemudian dituangi
dengan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari

c.

d.

e.

f.

g.

cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari diserkai, ampas diperas. Pada
ampas ditambahkan cairan penyari secukupnya, diaduk dan diserkai sehingga
diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian. Bejana ditutup, dibiarkan ditempat sejuk,
terlindung dari cahaya, selama 2 hari kemudian endapan dipisahkan.
Cara Kerja
- 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan kedalam
bejana, lalu dituangi 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5
hari terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk
- Setelah 5 hari, sari diserkai, ampas diperas
- Ampas ditambah cairan penyari secukupnya, diaduk dan diserkai, sampai
diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian
- Setelah itu, sari dipekatkan dengan cara diuapkan pada tekanan rendah dan suhu
50C hingga konsentrasi yang dikehendaki.
Keuntungan
Keuntungan metode maserasi adalah :
- Alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam.
- Biaya operasionalnya relatif rendah.
- Prosesnya relatif hemat penyari.
- Tanpa pemanasan.
- Proses maserasi ini menguntungkan dalam isolasi bahan alam karena selama
proses perendaman sampel akan terjadi proses pemecahan dinding dan
membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar selnya
sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam
pelarut organik dan senyawa akan terekstraksi sempurna karena dapat diatur
lama perendaman yang dilakukan.
Kelemahan
- Proses penyarian tidak sempurna, karena zat aktifnya hanya mampu terekstraksi
sebesar 50% saja
- Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari.
- Penyariannya kurang sempurna (dapat terjadi kejenuhan cairan penyari sehingga
kandungan kimia yang tersari terbatas).
Kerugian
Kerugian dari metode maserasi ini adalah : perlu dilakukannya pengadukan untuk
meratakan konsentrasi larutan diluar butir serbuk simplisia sehingga tetap terjaga
adanya derajat konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara larutan didalam sel dengan
larutan diluar sel.
Metode Ekstraksi Maserasi
Maserasi termasuk metode ekstraksi cara dingin. Metode ini artinya tidak ada proses
pemanasan selama proses ekstraksi berlangsung, tujuannya untuk menghindari
rusaknya senyawa yang dimaksud akibat proses pemanasan.
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut
dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada tenperatur ruangan
(kamar). Maserasi bertujuan untuk menarik zat-zat berkhasiat yang tahan pemanasan
maupun yang tidak tahan pemanasan. Secara teknologi maserasi termasuk ekstraksi
dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada kesetimbangan. Maserasi

dilakukan dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur


ruangan atau kamar (Depkes RI, 2000)
Maserasi merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana. Dasar dari maserasi
adalah melarutnya bahan kandungan simplisia dari sel yang rusak, yang terbentuk
pada saat pengahalusan, ekstraksi (difusi) bahan kandungan dari sel yang masih
utuh. Setelah selesai waktu maserasi, artinya kesetimbangan antara bahan yang
diekstraksi pada bagian dalam sel dengan masuk kedalam cairan, telah tercapai maka
proses difusi segera berakhir. Selama maserasi atau proses perendaman dilakukan
pengocokan berulang-ulang. Upaya ini menjamin kesetimbangan konsentrasi bahan
ekstraksi yang lebih cepat di dalam cairan. Sedangkan keadaan diam selama
maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif. Secara teoritis pada suatu
maserasi tidak memungkinkan terjadinya ekstraksi absolut. Semakin besar
perbandingan simplisia terhadap cairan pengekstraksi, akan semakin banyak hasil
yang diperoleh (Voigh, 1994)
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang
mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak, dan bahan
sejenis yang mudah mengembang. Cairan penyari yang Bila cairan penyari
digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan
pengawet yang diberikan pada awal penyarian. Metode maserasi digunakan untuk
menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam
cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan lilin. Keuntungan cara
penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan yang digunakan sederhana dan
mudah diusahakan. Sedangkan digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau
pelarut lain. kerugiannya adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang
sempurna.

Maserasi dapat dilakukan modifikasi, seperti :

Digesti
Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu
40 - 50C. Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya

tahan terhadap pemanasan. Dengan pemanasan akan diperoleh keuntungan antara lain
:
a. Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisanlapisan batas.
b. Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga pemanasan tersebut
mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan.
c. Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolut dan berbanding terbalik
dengan kekentalan, hingga kenaikan suhu akan berpengaruh pada kecepatan

difusi. Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan.
Maserasi dengan mesin pengaduk
Dengan penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus-menerus, waktu proses

maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.


Remaserasi
Cairan penyari dibagi dua, seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari
pertama, sesudah diendap, dituangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan

cairan penyari yang kedua.


Maserasi melingkar
Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu bergerak
dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara
berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya. Keuntungan
cara ini :
a. Aliran cairan penyari mengurangi lapisan batas.
b. Cairan penyari akan didistribusikan secara seragam, sehingga akan memperkecil

kepekatan setempat.
c. Waktu yang diperlukan lebih pendek.
Maserasi melingkar bertingkat
Pada maserasi melingkar penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna, karena
pemindahan massa akan berhenti bila keseimbangan telah terjadi. Masalah ini dapat
diatas dengan maserasi melingkar bertingkat.

Gambar Alat Maserasi

Pelarut yang Digunakan dalam Metode Maserasi


Ekstraksi tergantung pada tekstur dan kandungan bahan dalam tumbuhan. Senyawa /
kandungan dalam tumbuhan memiliki kelarutan yang berbeda-beda dalam pelarut yang
berbeda. Pelarut-pelarut yang biasa digunakan antara lain kloroform, eter, alkohol, methanol,
etanol, dan etilasetat. Ekstraksi iasanya dilakukan secara bertahap dimulai dengan pelarut
yang nonpolar (kloroform atau n-heksana), semipolar (etilasetat atau dietil eter), dan pelarut
polar (methanol atau etanol) (Harbone, 1996).
Pelarut yang dapat digunakan untuk ekstraksi harus memenuhi dua syarat, yaitu
pelarut tersebut harus merupakan pelarut yang terbaik untuk bahan yang diekstraksi dan
pelarut tersebut harus terpisah dengan cepat setelah pengocokkan.

Cairan penyari yang biasa digunakan dalam metode maserasi dapat berupa air, etanol,
air-etanol, atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah
timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian
(Depkes RI, 1986).

PERKOLASI
a. Pengertian
Istilah perkolasi berasal dari bahasa latin per yang artinya melalui dan colare
yang artinya merembes. Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan
mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Perkolasi
dilakukan dalam wadah silindris atau kerucut (perkolator), yang memiliki jalan masuk
dan keluar yang sesuai. Bahan ekstraksi yang dimasukkan secara kontinu dari atas
mengalir lambat melintasi jamu yang umumnya berupa serbuk kasar. Hasil ekstraksi
berupa bahan aktif yang tinggi, ekstraksi yang kaya ekstrak. Dengan demikian
keuntungan perkolasi adalah pemanfaatan jamu secara optimal serta memerlukan waktu
yang singkat (Ansel, 1989; Voight, 1994).
Sebagai cairan pengekstraksi, air atau etanol lebih di sukai penggunaannya.
Ekstraksi air dari suatu bagian tumbuhan dapat melarutkan gula, bahan lendir, amina,
tannin, vitamin, asam organik, garam organik serta bahan pengotor lain. Pada sediaan
ekstraksi ini (infusa), zat-zat yang tersaring ialah zat-zat yang bersifat polar saja.
Penyaringan dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar
kuman dan kapang. Oleh karena itu, sari yang diperoleh tidak boleh disimpan lebih dari
24 jam. Etanol dapat menyari zat yang tidak tersari oleh air yaitu lemak, terpenoid,
antrakinon, kumarin, flavonoid polimetil, resin, klorofil, isoflavon, alkaloid bebas,
kurkumin dan fenol lain. Etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel,
sehingga memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut. Dalam bentuk sediaan ekstrak
etanol, selain dapat disimpan lebih lama, ekstrak juga dapat dipakai berulang. (Voigt,
1994).
Dalam ekstraksi ini digunakan larutan penyari etanol 70% karena merupakan pelarut
semipolar sehingga dapat menarik saponin dan tannin (Harborne, 1987). Dengan etanol
kadar 70% volume dapat dihasilkan bahan aktif yang optimal, karena bahan pengotor
hanya larut dalam skala kecil (Voight, 1994).
Di dalam melakukan proses perkolasi proses difusi yang berlangsung merupakan
fungsi dari kecepatan perkolasi, kuantitas pelarut, dan konsanta difusi obat pelarut.
Karena mudah dilakukan, perkolasi merupakan prosedur pilihan untuk kebanyakan
ekstraksi tanaman, seperti halnya maserasi. Perkolasi dapat dilakukan baik skala
laboratorium maupun skala industri.
b. Prinsip Kerja
- Serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi
sekat berpori

Cairan penyari dialirkan dari atas kebawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan
melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh
- Gerak kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan diatasnya,
dikurangi oleh daya kapiler yang cenderung untuk menahan. Kekuatan yang berperan
pada perkolasi antara lain: gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan,
difusi, osmosa, adesi, daya kapiler dan daya geseran (friksi).
c. Cara Kerja
Menurut Farmakope indonesia, penyarian dengan metode perkolasi dilakukan sebagai
berikut :
- Membasahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang
cocok dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari
- Dimasukkan kedalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam
- Kemudian massa dipindahkan sedikit-demi sedikit kedalam perkolator sambil tiap kali
ditekan-tekan hati-hati
- Setelah itu, dituangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan penyari mulai
menetes dan diatas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari.
- Perkolator ditutup dan biarkan selama 24 jam
- Selanjutnya, cairan dibiarkan menetes dengan kecepatan 1ml/menit
- Tambahkan cairan penyari berulang-ulang secukupnya, hingga selalu terdapat selapis
cairan penyari diatas simplisia, hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir
diuapkan, tidak meninggalka sisa.
- Perkolat kemudian disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih
dari 50C hingga konsistensi yang dikehendaki.
d. Keuntungan
- Tidak memerlukan langkah tambahan yaitu sampel padat (marc) telah terpisah dari
ekstrak.
- Cara perkolasi yang digunakan lebih mudah dan sederhana dilakukan
Perkolasi merupakan prosedur pilihan untuk kebanyakan ekstraksi tanaman, seperti
halnya maserasi.
- Perkolasi dapat dilakukan baik skala laboratorium maupun skala industri.
e. Kerugian
- Kontak antara sampel padat tidak merata atau terbatas dibandingkan dengan metode
refluks
- Pelarut menjadi dingin selama proses perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen
secara efisien.
- Simplisia harus dibasahi terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam perkolator
- Massa simplisia dalam perkolator tergantung pada tinggi perkolator.
- Simplisia lebih memadat (kompak) sesudah beberapa kali terjadi proses ekstraksi awal
-

dan hal ini dapat menghalangi kelancaran aliran pelarut.


Perolehan kembali pelarut yang tertahan di dalam ampas sering memerlukan proses
tambahan dan hal yang sama berlaku untuk mengeluarkan ampas dan menarik bahan
aktif dari ampas.

Secara umum proses perkolasi ini dilakukan pada temperatur ruang. Sedangkan parameter
berhentinya penambahan pelarut adalah perkolat sudah tidak mengandung senyawa aktif lagi.
Pengamatan secara fisik pada ekstraksi bahan alam terlihat pada tetesan perkolat yang sudah
tidak berwarna.
Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena:
a.

Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan

larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan


konsentrasi.
b. Ruangan diantara serbuk-serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan
penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk
mengurangi lapisan batas,sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.

Reperkolasi
Untuk menghindari kehilangan minyak atsiri pada pembuatan sari, maka cara perkolasi dapat
diganti dengan reperkolasi . Pada perkolasi dilakukan pemekatan sari dengan pemanasan.
Pada reperkolasi tidak dilakukan pemekatan. Reperkolasi dilakukan dengan cara simplisia
dibagi dalam beberapa perkolator, hasil perkolator I dipisahkan menjadi perkolat I dan sari
selanjutnya disebut susulan II, susulan II digunakan untuk menyari perkolator II. Hasil
perkolator ke dua dipisahkan menjadi perkolat II dan sari selanjutnya disebut susulan II.
Pekerjaan tersebut diulang sampai mendapat perkolat yang diinginkan. Untuk cara
reperkolasi dapat dilakukan pada herba timi.
Perkolasi Bertingkat
Dalam proses perkolasi biasa, perkolat yang dihasilkan tidak dalam kadar yang maksimal.
Selama cairan penyari melakukan penyarian serbuk simplisia, maka terjadi aliran melalui
lapisan serbuk dari atas sampai ke bawah disertai pelarutan zat aktifnya. Proses poenyaringan

tersebut akan menghasilkan perkolat yang pekat pada tetesan pertama dan terakhir akan
diperoleh perkolat yang encer.
Untuk memperbaiki cara perkolasi tersebut dilakukan cara perkolasi bertingkat. Serbuk
simplisia yang hampir tersari sempurna sebelum dibuang, disari dengan cairan penyari yang
baru. Hal ini diharapkan agar serbuk simplisia tersebut dapat tersari sempurna. Sebaliknya
serbuk simplisia yang baru disari dengan perkolat yang hampir jenuh, dengan demikian akan
diperoleh

perkolat

akhir

yang

jernih.

Perkolat

dipisahkan

dan

dipekatkan.

Cara ini cocok bila digunakan untuk perusahaan obat tradisional, termasuk perusahaan yang
memproduksi sediaan galenik. Agar dioperoleh cara yang tepat, perlu dilakukan percobaan
pendahuluan. Dengan percobaan tersebut dapat ditetapkan :
1.Jumlah perkolator yang diperlukan
2.Bobot serbuk simplisia untuk tiap kali perkolasi
3.Jenis cairan penyari
4.Jumlah cairan penyari untuk tiap kali perkolasi
5.Besarnya tetesan dan lain-lain.
Perkolator yang digunakan untuk cara perkolasi ini agak berlainan dengan perkolator biasa.
Perkolator ini harus dapat diatur, sehingga:
1.Perkolat dari suatu perkolator dapat dialirkan ke perkolator lainnya
2.Ampas dengan mudah dapat dikeluarkan.
Perkolator diatur dalam suatu deretan dan tiap perkolator berlaku sebagai perkolator
pertama.
Daftar Pustaka
Voight, R. 1994. Buku pelajaran teknologi farmasi edisi V. Yogyakarta: Universitas Gajah
Mada Pres.
Departemen Kesehatan RI. 2000. Paramater Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.
Jakarta. Diktorat Jendral POM-Depkes RI.
Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi 4. Jakarta : UI-press.
Depkes RI. 1986. Sedian Galenik. Jakarta : Depkes RI.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta : Depkes RI.
Harbone, J. B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung : Penerbit ITB.
Tim Penyusun. 2011. Penuntun Praktikum Fitokimia I. Manado : F.MIPA Unsrat.