Anda di halaman 1dari 129

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Perkembangan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh perkembangan dunia
pendidikan, di mana dunia pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam
menentukan arah maju mundurnya kualitas pendidikan. Hal ini bisa dirasakan ketika
sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar
bagus, maka dapat dilihat kualitasnya, berbeda dengan lembaga pendidikan yang
melaksanakan pendidikan hanya dengan sekedarnya maka hasilnya pun biasa-biasa saja.
Selanjutnya adanya Perubahan sistem pendidikan nasional, dari undang-undang No.2
Tahun 1989 menjadi undang-undang No. 20 Tahun 2003, merupakan upaya
pembaharuan pendidikan kearah peningkatan mutu. Upaya peningkatan mutu beralih
menjadi tangggung jawab sekolah dengan diberlakukannya Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS), sejalan dengan eraotonomi daerah. Banyak konsep pendidikan dalam
UU Sisdiknas 2003 yang bernilai filosofis, yang dapat membangun Paradigma Baru
pendidikan Indonesia.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah semakin meningkatkan
tuntunan kebutuhan sosial masyarakat. Pada akhirnya tuntunan tersebut bermuara
kepada pendidikan, karena masyarakat meyakini bahwa pendidikan mampu menjawab
dan mengantisipasi berbagai tantangan tersebut. Pendidikan merupakan salah satu upaya
yang dapat. dilakukan oleh sekolah sebagai institusi tempat masyarakat berharap tentang
kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan perlu perubahan yang

2
dapat dilakukan melalui perubahan dan peningkatan dalam pengelolaan atau manajemen
pendidikan di sekolah.
Chapman (1990) dalam Fattah (2003 : 28) menjelaskan bahwa :
Manajemen berbasis sekolah (MBS) sebagai terjemahan dari School Base
Management adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk
meningkatkan, me-redisain pengelolaan sekolah, bertujuan untuk memberikan
kekuasaan dan meningkatkan partisipasi sekolah dalam upaya perbaikan
kinerjanya yang mencakup guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat.
Manajemen Berbasis Sekolah memodifikasi struktur pemerintahan dengan
memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan pemerintahan dan
manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal (local stakeholders).
Dengan mengalihkan wewenang dalam keputusan dari pemerintah tingkat
Pusat/Kanwil/Kadis ke tingkat sekolah, diharapkan sekolah akan lebih mandiri dan
mampu menentukan arah pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan tuntunan
lingkungan masyarakatnya. Pada pelaksanaannya disadari bahwa mengimplementasikan
pemberian kewenangan kepada sekolah melalui pendekatan Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) memerlukan proses dan waktu.
Organisasi berwajah lokal dalam kegiatannya cenderung berdasarkan pada
konsensus lewat dialog dan diskusi yang terbuka dan seimbang. Dalam kaitan ini,
jabatan Kepala Sekolah yang selama ini ditunjuk oleh pemerintah perlu diganti dengan
Kepala Sekolah yang dipilih oleh guru dan kelak apabila masa jabatan sudah habis
Kepala Sekolah akan dievaluasi oleh guru pula. Sekolah dengan bentuk organisasi
semacam itu akan memungkinkan sekolah sebagai suatu lembaga yang relatif otonom
dari kekuatan politik. Kerja Kepala Sekolah beserta staf administrasi tim yang
demokratis orang tua murid dilibatkan dalam pelaksanaan pendidikan sebagai
anggota bukan sebagai klien.

3
Dari berbagai problem dan tantangan yang menyertainya, baik secara konseptual
maupun secara operasional pelaksanaan model manajemen berbasis sekolah, maka
urgensi penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji lebih mendalam pada tingkat
aktualisasi realitanya yang lebih riil. Untuk itu, maka muncullah sistem baru
yaitu sistem Manajemen Berbasis Sekolah. Konsep Manajemen Berbasis sekolah (MBS)
ini pertama kali muncul di Amerika Serikat. Latar belakangnya ketika itu masyarakat
mempertanyakan tentang relevansi dan korelasi pendidikan yang diselenggarakan
di sekolah dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Bertitik tolak dari kondisi
tersebut, dipandang perlu membangun suatu sistem persekolahan yang mampu
memberikan kemampuan dasar bagi peserta didik. Muncullah penataan sekolah
melalui konsep MBS yang diartikan sebagai wujud dari reformasi pendidikan
yang meredesain dan memodifikasi struktur pemerintah ke sekolah dengan
pemberdayaan

sekolah

dalam

meningkatkan

kualitas

pendidikan

nasional.

(Sagala, 2004: 17).


Sistem Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu sistem yang menunutut
agar sekolah dapat secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas,
mengendalikan dan mempertanggung jawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik
kepada masyarakat maupun pemerintah (Mulyasa, 2006: 24). Pembelajaran berbasis
kompetensi menekankan pembelajaran ke arah penciptaan dan peningkatan serangkaian
kemampuan dan potensi siswa agar bisa mengantisipasi tantangan aneka kehidupannya.
Sehingga orientasi pembelajaran yang selama ini lebih ditekankan pada aspek
pengetahuan dan target materi yang cenderung verbalistis berubah menjadi lebih
ditekankan pada aspek kompetensi dan target keterampilan. Tujuannya adalah untuk
meningkatkan mutu pembelajaran. Peningkatan mutu pembelajaran merupakan suatu

4
proses sistematis yang dilakukan secara terus menerus dalam meningkatkan kualitas
proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan pembelajaran, dengan
tujuan agar menjadi target sekolah dapat tercapai.
Keberhasilan pendidikan dengan sistem MBS ini dapat diukur dari indikatorindikator yang meliputi: input, proses, output dan outcome. (Engkoswara, 1988: 54).
Pertama, input yaitu diantaranya adalah kualitas guru haruslah profesional dalam
pengembangan ide kreativitasnya sehingga dapat menunjang mutu pembelajaran. Kedua,
proses pembelajaran, pada umumnya pembelajaran ditekankan pada proses pengajaran
oleh guru (teacher teaching) dibandingkan dengan proses pembelajaran oleh murid
(student learning). Hal ini menyebabkan proses belajar menjadi statis dan beku. Oleh
karena itu untuk memperbaiki mutu pendidikan, upaya pemberdayaan pembelajaran
yang difokuskan siswa belajar menjadi sangat penting. Pemberdayaan yang dimaksud
tidak akan meninggalkan fungsi dan peran guru, sehingga keterampilan guru dalam
mengelola pembelajaran sangat dibutuhkan. (Rahardja, 2002: 5). Ketiga, output,
diantaranya adalah masyarakat dan dunia usaha.
Hal ini pula yang menjadi tolok ukur peningkatan mutu pembelajaran di sekolah,
karena sekolah yang baik merupakan suatu kebanggaan baik bagi pengelola (yayasan)
ataupun bagi masyarakat sekitar (Fattah, 1999: 3). Adapun untuk dunia usaha itu juga
merupakan suatu bukti ada tidaknya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah tersebut,
semakin baik dunia usaha yang dimiliki lulusan sekolah tersebut maka semakin baik
juga pula mutu sekolah tersebut. Keempat, outcome meliputi jumlah lulusan ketingkat
pendidikan berikutnya. Engkoswara, 1988: 54). Selain itu, sistem pembelajaran MBS ini
memiliki ciri-ciri lain diantaranya:

5
1. Tidak bersifat sentralistik, maksudnya semua kegiatan pendidikan tidak tergantung
pada pusat (pemerintah).
2. Memiliki hak otonomi yang luas dalam mengembangkan kreativitas dalam
memberdayakan dan mengoptimalisasi sumber-sumber daya yang ada.
3. Memiliki sifat kewiraswastaan sehingga manajemen sekolah akan lebih luwes dan
inovatif.
4. Non birokrasi yaitu sedikit mengesampingkan syarat-syarat hukum dan teknis dalam
pendirian sekolah. (Bambang Rahardja, 2002: 5).
Selain empat ciri diatas, ada empat alasan perlunya sekolah menerapkan program
sistem Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu:
1. Sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan
dirinya, sehingga mereka dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk
memajukan lembaganya.
2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya khususnya input pendidikan yang
akan dikembangkan dalam proses pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan
perkembangan anak didiknya.
3. Sekolah dapat mempertanggungjawabkan kinerja dan mutu pendidikan yang
dihasilkan sekolah masing-masing kepada orangtua, masyarakat dan pemerintah,
sehingga mereka akan berupaya seoptimal mungkin untuk melaksanakan dan
mencapai target mutu pendidikan yang telah direncanakan.
4. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk
meningkatkan mutu pembelajaran dengan dukungan orangtua, masyarakat dan
pemerintah daerah setempat atau bahkan pemerintah pusat. (Umaedi, 2000: 3).

6
Pada dasarnya model manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan
pendidikan yang mencoba diterapkan oleh sekolah- sekolah negeri maupun swasta, tidak
terkecuali dengan SMP Negeri 4 Khusus yang juga telah menggunakan model
manajemen berbasis sekolah. Berdasarkan observasi awal Sebagai implementasi dari
konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang demokratis berciri pada pemberian
wewenang luas pada sekolah untuk mengatur pendidikan dan pengajaran sebagai
aspirasi dari masyarakat kepada sekolah merupakan inti dari konsep MBS, maka di
ketahui bahwa SMP Negeri 4 Khusus

adalah salah satu lembaga yang mencoba

mempelopori dan menerapkan konsep MBS.


SMP Negeri 4 Khusus sebagai sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri
cukup lama dikenal sebagai sebuah lembaga yang memiliki segudang prestasi yang
sangat membanggakan baik di tingkat Kabupaten, Provinsi bahkan sampai pada tingkat
Nasional. Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang di bawah naungan pemerintah,
maka policy yang dilakukan tentu saja didasarkan pada peraturan-peraturan yang
dikeluarkan oleh pemerintah, baik dalam bidang administrasi, proses pendidikan, proses
pengelolaan dan lain sebagainya. Karena orientasi kurikulum sekarang mengacu pada
peningkatan kualitas manajemen yang berbasis sekolah, maka penekanan pengembangan
yang semula berorientasi pada kuantitas berubah menjadi kualitas, mandiri, dan
disentralisasi. Namun realitasnya bahwa belum sepenuhnya sekolah ini

mampu

melaksanakan school based management atau MBS yang diharapkan dalam


meningkatkan kualitas pendidikan.
Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas maka ada beberapa hal yang
mendasari mengapa penelitian ini mengambil lokasi di SMP Negeri 4 Khusus, yaitu:

7
1. Belum ada penelitian terdahulu yang membahas tentang bagaimana implementasi
manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus.
2. Tingkat kelulusan siswa pada setiap ujian nasional mengalami peningkatan.
3. Berdasarkan observasi awal, tenaga pengajar di sekolah tersebut telah menjalankan
aktivitas mengajar dengan konsep PAIKEM.
4. Diduga besarnya jumlah siswa pada sekolah tersebut mengindikasikan bahwa minat,
partisipasi, dan apresiasi masyarakat terhadap sekolah ini sangatlah besar.
5. Belum diketahui ketersediaan dan kesiapan input-input pendidikan yang mendukung
keterlaksanaan program manajemen peningkatan berbasis sekolah diduga belum
memadai.
6. Belum diketahui keterbukaan manajemen sekolah, baik di segi dana maupun program
belum sesuai dengan yang dikehendaki.
7. Diduga iklim kerjasama antara sesama komunitas sekolah, komunitas sekolah
dengan masyarakat belum terlaksana dengan baik.
8. Belum terdeteksi efektifitas partisipasi komite sekolah dan dewan pendidikan dalam
penggalian dana sekolah.
9. Diduga belum maskimal akuntabitas sekolah kepada stakeholders.
10. Diduga belum memadai upaya untuk memecahkan

berbagai faktor-faktor

penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri


4 Khusus.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat dikemukakan
rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

8
1. Bagaimana Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4
Khusus Kabupaten Umum?
2. Faktor-faktor apa yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan yang ingin
dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP
Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum.
2. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang menghambat dan mendukung penerapan
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis sebagai bahan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan
khususnya ilmu Administrasi Negara.
2. Manfaat praktis adalah sebagai berikut:
a. Sebagai bahan informasi bagi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
umumnya dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Sulawesi Selatan
khususnya Kabupaten Umum dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.
b. Sebagai bahan informasi kepada mereka yang berprofesi guru dalam menggali
informasi penting tentang manajemen berbasis sekolah.
c. Sumber pengetahuan aktual bagi pengelola sekolah (kepala sekolah, yayasan
pendidikan) dalam penerapan manajemen berbasis sekolah.
d. Memacu partisipasi aktif masyarakat dalam memajukan mutu pendidikan

9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Desentralisasi Pendidikan
Berlakunya Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
pada hakekatnya memberi kewenangan dan keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kewenangan diberikan kepada daerah kabupaten dan kota berdasarkan azas
desentralisasi dalam wujud otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab.
Berkaitan dengan aspirasi masyarakat, ditegaskan pula bahwa daerah dibentuk
berdasarkan kehendak masyarakat setempat dengan

mempersyaratkan kemampuan

ekonomi, potensi daerah, jumlah penduduk, luas daerah dan berbagai syarat lain yang
memungkinkan daerah menyelenggarakan otonomi daerah (Pasal 5 ayat 1 dan Pasal 7
ayat 1 UU No. 32 Tahun 2004).
Dipertegas pula Bahwa bidang pendidikan merupakan bidang yang termasuk
dalam garapan kewenangan daerah otonom atau penyerahan (pendelegasian) pemerintah
pusat yang dikenal dengan desentralisasi pendidikan.
Selanjutnya Burhanuddin (1998 : 117) Sistem Sentralisasi atau desentralisasi
dalam penyelenggaraan atau manajemen pemerintahan memiliki implikasi langsung
terhadap penyelenggaraan pendidikan, sistem pendidikan nasional dan manajemen
pendidikan. Bidang-bidang yang terkait langsung dengan sistem tersebut adalah
kebijaksanaan, pengawasan, mutu dan sumber dana pendidikan.

10

10
Pendelegasian bisa berarti penyerahan wewenang dari pusat ke daerah, atau dari
pemerintah pusat ke pemerintah daerah, atau dari unit ke unit dibawahnya, termasuk
pula dari pemerintah ke masyarakat. Salah satu wujud desentralisasi yang dimaksud
adalah terlaksananya proses otonomi dalam penyelenggaraan pendidikan. Kewenangan
itu

perlu

diklarifikasikan.

Kewenangan

begitu

luasnya,

seperti

kewenangan

merumuskan, menetapkan, melaksanakan sampai dengan melakukan evaluasi terhadap


suatu kebijakan yang jangkauannya bersifat nasional. Karena itu tidak seluruh
kewenangan dapat didesentralisasikan.
Kalster (2000 : 11), menyebutkan bahwa desentralisasi pendidikan dalam
bentuk School Base community, diyakini dapat meningkatkan efisiensi, relevansi.
pemerataan dan mutu pendidikan serta memenuhi azas keadilan dan demokrasi. Hasil
studinya menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memungkinkan keberhasilan
pelaksanaan desentralisasi pendidikan di Indonesia.
Pemberdayaan sekolah dengan memberikan otonomi lebih besar, di samping
menunjukkan sikap tanggap, pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga dapat
ditunjukkan sebagai sarana peningkatan efesiensi, mutu dan pemerataan pendidikan.
Penekanan tersebut berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan permasalahan yang
dihadapi oleh pemerintah Misalnya krisis ekonomi yang tidak dapat dihindari
dampaknya terhadap pendidikan, terutamanya berkurangnya penyediaan dana yang
cukup untuk pendidikan dan menurunnya kemampuan sebagai orang tua untuk
membiayai pendidikan anaknya. Kondisi tersebut secara langsung mengakibatkan
menurunnya mutu pendidikan dan terganggunya proses pemerataan. Dengan melibatkan
masyarakat dalam pengelolaan sekolah, pemerintah akan terbantu dalam control maupun
pembiayaan sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada masyarakat kurang mampu yang

11
semakin bertambah jumlahnya. Di samping itu, berkurangnya lapisan birokrasi dalam
prinsip desentralisasi juga mendukung efesiensi tersebut, keterlibatan kepala sekolah,
dan guru dalam pengambilan keputusan sekolah yang pada akhirnya mendorong mereka
untuk menggunakan sumber daya yang ada seefesien mungkin untuk mencapai hasil
yang optimal.
Pemberian otonomi yang luas kepada sekolah merupakan kepedulian
pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat serta upaya peningkatan
mutu pendidikan secara umum. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan
manajemen yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh
keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif guna
mendukung kemajuan dan sistem yang ada di sekolah. Dengan landasan tersebut,
pemerintah mencoba untuk menerapkan desentralisasi pendidikan sebagai solusi. Selain
hal tersebut diatas, ada beberapa faktor yang mendorong penerapan desentralisasi.
Pertama, tuntutan orang tua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan
perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan.
Kedua, anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan
baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Ketiga, ketidakmampuan
birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan
masyarakat yang beragam. Keempat, penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi
tuntutan baru dari masyarakat. Kelima, tumbuhnya persaingan dalam memperoleh
bantuan dan pendanaan. (Umiarso dan Imam Gojali,2010:47-48)
Dengan demikian, misi utama desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan, meningkatkan pendayagunaan
potensi

daerah,

serta

terciptanya

infrastruktur

kedaerahan

yang

menunjang

12
terselenggaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan zaman, seperti
terserapnya konsep globalisasi, humanisasi dan demokrasi dalam pendidikan. Penerapan
demokratisasi pendidikan dilakukan dengan mengikut sertakan unsur-unsur pemerintah
setempat, masyarakat, dan orang tua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan
dukungan positif bagi pendidikan. Kurikulum dikembangkan sesuai kebutuhan
lingkungan. Selain itu, pengembangan kurikulum juga harus mampu mengembangkan
kebudayaan daerah dalam rangka memajukan kebudayaan nasional. Pada tataran ini,
desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal, yaitu manajemen berbasis sekolah,
pendelegasian wewenang, dan inovasi pendidikan.
Hal yang menarik adalah desentralisasi pendidikan akan berimplikasi pada
tataran dunia baru pendidikan yang lebih humanis. Artinya. Ada ruang-ruang dalam
pendidikan untuk membangun peserta didik agar lebih mengerti dan berbakti untuk
kepentingan dan kesejahteraan bersama dengan landasan kearifan lingkungan. Dengan
asas tersebut, tercipta pula kearifan ekologi yang merupakan buah dari inovasi
kurikulum berbasis lingkungan atau masyarakat.
Pertanyaan terpenting tentang arah desentralisasi pendidikan adalah sampai
seberapa jauh sekolah-sekolah akan diberi kewenangan yang lebih besar menentukan
kebijakan-kebijakan tentang organisasi dan proses belajar mengajar, manajemen guru,
struktur dan perencanaan di tingkat sekolah, serta sumber-sumber pendanaan sekolah.
Desentralisasi pendidikan yang efektif tidak hanya melibatkan proses pemberian
kewenagan dan pendanaan yang lebih besar dari pusat ke daerah, tetapi juga meliputi
pemberian kewenangan dan pendanaan yang lebih besar ke sekolah-sekolah, sehingga
mereka dapat merencanakan proses belajar megajar dan pengembangan sekolah sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan masingt-masing sekolah. Oleh karena itu dalam

13
desentralisasi pendidikan ada sasaran utama progaram restrukturisasi sistem dan
manajemen pendidikan di indonesia. Restrukturisasi tersebut hendaknya mencakup halhal berikut:
(a) Struktur organisasi pendidikan hendaknya terbuka dan dinamis, serta mencerminkan
desentralisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.
(b) Sarana pendidikan dan fasilitas pembelajaran dibakukan berdasarkan prinsif
edukatif sehingga lembaga pendidikan merupakan tempat yang menyenangkan
untuk belajar, berprestasi, berkreasi, berkomunikasi, berolahraga, serta menjalankan
syariat agama.
(c) Tenaga pendidikan terutama tenaga pengajar harus melalui proses seleksi sejak
memasuki LPTK disertai sistem tunjangan ikatan dinas dan wajib mengajar.
(d) Struktur kurikulum pendidikan hendaknya mengacu pada penerapan sistem
pembelajaran tuntas, tidak terikat pada penyelesaian target kurikulum secara
seragam persemester dan tujuan ajaran.
(e) Proses pembelajaran tuntas diterapkan dengan berbagai modus pendekatan
pembelajaran, peserta didik aktif sesuai dengan tingkat kesulitan konsep-konsep
dasar yang dipelajari.
(f) Sistem penilaian hasil belajar secara berkelanjutan perlu diterapkan di setiap
lembaga pendidikan sebagi konsekuensi dari pelaksanaan pembelajaran tuntas.
(g) Kegiatan supervisi dan akreditasi. Supervisi serta pembinaan administrasi dan
akademis dilakukan oleh unsur manajemen tingkat pusat dan provinsi bertujuan
untuk pengendalian mutu, sedangkan akreditasi dilakukan untuk menjamin mutu
pelayanan kelembagaan.

14
(h) Pendidikan

berbasis masyarakat,

seperti

pondok pesantren, kursus-kursus

keterampilan dan pemagangan di tempat kerja dalam rangka pendidikan sistem


ganda harus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional.
(i) Formula pembiayaan pendidikan atau unit cost dan subsidi pendidikan harus
didasarkan pada bobot penyelenggaraan pendidikan yang memperhatikan jumlah
peserta didik, kesulitan komunikasi, tingkat kesejahteraan masyarakat, tingkat
partisipasi pendidikan, serta kontribusi masyarakat terhadap pendidikan pada setiap
sekolah.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pergeseran sistem penyelenggaraan
pendidikan yang memberikan kewenangan lebih banyak kepada daerah kabupaten dan
kota pada dasarnya memiliki tujuan agar pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan
efisien. Pemangkasan mekanisme sistem birokrasi yang berbelit-belit yang terpusat
secara sentralistik telah banyak membuang biaya dan waktu sampai tiba pada tahap
sasaran pendidikan yang sesungguhnya seperti perbaikan kualitas dan personil
pendidikan sekolah dan peserta didik di daerah. Maka Di era otonomi daerah kebijakan
strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah adalah : (1)
Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Management) yang
memberi kewenangan pada sekolah untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan
mutu secara keseluruhan; (2) Pendidikan yang berbasis pada partisipasi komunitas
(community based education) agar terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan
masyarakat, sekolah sebagai community learning centre; dan (3) Dengan menggunakan
paradigma belajar atau learning paradigma yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau
learner menjadi manusia yang diberdayakan. (4) Pemerintah juga mencanangkan

15
pendidikan berpendekatan Broad Base Education System (BBE) yang memberi
pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera.
Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan
life skills yang berisi pemahaman yang luas dan mendalam tentang lingkungan dan
kemampuannya agar akrab dan saling memberi manfaat. Lingkungan sekitarnya dapat
memperoleh masukan baru dari insan yang mencintainya, dan lingkungannya dapat
memberikan topangan hidup yang mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati
kesejahteraan dunia akhirat. Pada awal tahun 2001 digulirkan program MBS
(Manajemen Berbasis Sekolah). Program ini diyakini akan memberdayakan masyarakat
pemerhati pendidikan (stakeholders) dalam memberikan perhatian dan kepeduliannya
terhadap dunia pendidikan, khususnya sekolah. Dalam menerapkan konsep MBS,
mensyaratkan sekolah membentuk Komite Sekolah yang keanggotaannya bukan hanya
orangtua siswa yang belajar di sekolah tersebut, namun mengikutsertakan pula guru,
siswa, tokoh masyarakat dan pemerintahan di sekitar sekolah, dan bahkan pengusaha.
Tujuan program MBS di antaranya menuntut sekolah agar dapat meningkatkan
kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan (quality insurance) yang disusun
secara bersama-sama dengan Komite sekolah. Masyarakat dituntut perannya bukan
hanya membantu pembiayaan operasional pendidikan di sekolah tersebut, melainkan
membantu pula mengawasi dan mengontrol kualitas pendidikan. Salah satu di antaranya,
diharapkan dapat menetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah
(RAPBS). Realisasi dari ini, komite menghimpun dana masyarakat, termasuk dari
orangtua siswa untuk membantu operasional sekolah untuk menggapai kualitas
pendidikan.

16
Sebetulnya,sejak program MBS ini digulirkan, peran komite sekolah mulai
tampak, terutama dalam menghimpun sumber-sumber pendanaan pendidikan, baik
sebagai dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana pendidikan maupun untuk
peningkatan kualitas pendidikan. Tentu saja, termasuk pula untuk peningkatan kualitas
kesejahteraan guru di sekolah itu. Namun, peran komite di tingkatan pendidikan dasar
(SD/MI dan SMP/MTs) yang sudah mulai bagus ini terhapus kembali oleh program
berikutnya, yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Program ini sesungguhnya
sangat baik, sebagai salah satu bentuk tanggungjawab pemerintah pada pendidikan,
sehingga dapat membantu kepedulian masyarakat dalam membantu pembiayaan
pendidikan. Namun, wacana yang dikembangkan adalah Sekolah Gratis sehingga
mengubur kepedulian masyarakat terhadap pendidikan yang sudah mulai terbangun
dalam MBS. Dari hal di atas, pada beberapa sekolah yang pemahaman anggota komite
sekolah atau para pendidik masih kurang, menganggap seperti halnya BP3, maka
penetapan akuntabilitas pendidikan melalui peran stakeholders pendidikan semakin
menurun. Maka, tidak heran jika banyak sekolah yang rusak, lapuk, bahkan ambruk
dibiarkan oleh komite sekolah, sambil berharap datang sang penyelamat, yaitu
pemerintah.
Dalam hal pengelolaan mikro pendidikan pun masih terdapat beberapa masalah.
Pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu (sekolah) menjadi kewenangan
kepala sekolah. Demikian pula, penyelenggaraan pendidikan di kelas memang
seluruhnya harus menjadi kewenangan guru. Berdasarkan kewenangan profesionalnya,
guru bertugas merencanakan, melaksanakan, dan mengukur hasil pembelajaran. Namun,
pada SMTP dan SMTA sebagian kewenangan meluluskan hasil belajar siswa masih
menjadi proyek pemerintah pusat dengan alasan sebagai pengendalian mutu lulusan.

17
Demikian pula pada tingkat SD di kabupaten/kota, ujian akhir masih menjadi
kewenangan dinas pendidikan kabupaten/kota, dengan dalih ikut-ikutan pemerintah
pusat mengendalikan mutu pendidikan di daerah. Padahal, ditinjau dari hakikat
pengajaran dan sejalan dengan desentralisasi pendidikan, evaluasi merupakan bagian
dari tugas pengajaran seorang guru, sehingga kewenangan itu jangan direbut oleh
birokrasi pendidikan.
Kenyataan itu menunjukkan bahwa impelementasi MBS pada tataran mikro yang
masih setengah hati diserahkan. Sehubungan dengan evaluasi kebijakan pendidikan Era
Otonomi masih belum terformat secara jelas maka di lapangan masih timbul bermacammacam metode dan cara dalam melaksanakan program peningkatan mutu pendidikan.
Sampai saat ini hasil dari kebijakan tersebut belum tampak, namun berbagai improvisasi
di daerah telah menunjukkan warna yang lebih baik. Misalnya, beberapa langkah
program yang telah dijalankan di beberapa daerah, berkaitan dengan kebijakan
pendidikan dalam rangka peningkatan mutu berbasis sekolah dan peningkatan mutu
pendidikan berbasis masyarakat diimplementasikan sebagai berikut :
(1) Telah berlakunya UAS dan UAN sebagai pengganti EBTA /EBTANAS
(2) Telah dibentuknya Komite Sekolah sebagai pengganti BP3.
(3) Telah diterapkan muatan lokal dan pelajaran ketrampilan di sekolah SLTP
(4) Dihapuskannya sistem Rayonisasi dalam penerimaan murid baru
(5) Pemberian insentif kepada guru-guru negeri
(6) Bantuan dana operasional sekolah, serta bantuan peralatan praktik sekolah
(7)Bantuan peningkatan SDM sebagai contoh pemberian beasiswa pada guru untuk
mengikuti program Pascasarjana.

18
Kebijakan otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah sebagai berikut,
diantaranya: a) Secara general otonomi pendidikan menuju pada upaya meningkatkan
mutu pendidikan sebagai jawaban atas kekeliruan kita selama lebih dari 20 tahun
bergelut dengan persoalan-persoalan kuantitas, b) Pada sisi otonomi daerah, otonomi
pendidikan

mengarah

pada

menipisnya

kewenangan

pemerintah

pusat

dan

membengkaknya kewenangan daerah otonom, atas bidang pemerintahan berlabel


pendidikan yang harus disertai dengan tumbuhnya pemberdayaan dan partisipasi
masyarakat, c) Terdapat potensi tarik menarik antara otonomi pendidikan dalam konteks
otonomi daerah dalam menempatkan kepentingan ekonomik dan finansial sebagai
kekuatan tarik menarik antara pemerintahan daerah otonom dan institusi pendidikan.
d) Kejelasan tempat bagi institusi-institusi pendidikan perlu diformulasikan agar
otonomi pendidikan dapat berjalan pada relny, e) Pada tingkat persekolahan, otonomi
pendidikan berjalan atas dasar desentralisasi dan prinsip School Based Management
pada tingkat pedidikan dasar dan menengah; penataan kelembagaan pada level dan
tempat yang menjadi faktor kunci keberhasilan otonomi pendidikan, f) Sudah
selayaknya jika otonomi pendidikan harus bergandengan dengan kebijakan akuntabiliti
terutama yang berkaitan dengan mekanisme pendanaan atau pembiayaan pendidikan,
g)Pada level pendidikan tinggi, kebijakan otonomi masih tetap berada dalam kerangka
otonomi keilmuan, h) Dalam konteks otonomi daerah, kebijakan otonomi pendidikan
tinggi dapat ditempatkan bukan pada kepentingan daerah semata-semata melainkan pada
kenyataan bahwa pendidikan tinggi adalah aset nasional, i) Secara makro, apapun yang
terkandung di dalamnya, otonomi pendidikan tinggi haruslah menonjolkan keunggulankeunggulannya. (Yoyon, 2000:6)

19
Menurut Fransisca Kemmerer dalam Ali Muhdi 2007:149, ada empat bentuk
desentralisasi pendidikan, yakni:
a) Dekonsentrasi, yakni pengalihan kewenangan ke pengaturan tingkat yang lebih
rendah dalam jajaran birokrasi pusat.
b) Pendelegasian, yaitu pengalihan kewenangan ke badan quasi pemerintah atau badan
yang dikelola secara publik
c) Devolusi, yakni pengalihan ke unit pemerintahan daerah
d) Swastanisasi, berupa pendelegasian kewenangan ke badan usaha swasta atau
perorangan.
Dalam kasus Indonesia, sejauh yang telah dilakukan nampaknya cenderung
mengambil bentuk yang terakhir, swastanisasi.Menguatnya aspirasi otonomi dan
desentralisasi khususnya di bidang pendidikan, tidak terlepas dari kenyataan adanya
kelemahan konseptual dan penyelenggaraan pendidikan nasional, khususnya selama
orde baru. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa di antara masalah dan
kelemahan yang sering diangkat dalam konteks ini adalah:1)

Kebijakan pendidikan

nasional yang sangat sentralistik dan serba seragam, yang pada gilirannya mengabaikan
keragaman sesuai dengan realita masyarakat Indonesia di berbagai daerah.2) Kebijakan
dan penyelenggaraan pendidikan nasional lebih berorientasi kepada pencapaian target
kurikulum, pada gilirannya mengabaikan proses pembelajaran yang efektif dan mampu
menjangkau seluruh ranah dan potensi anak didik. Proses pembelajaran sangat
berorientasi pada ranah kognitif dengan pendekatan formalisme dan pada saat yang
sama, cenderung mengabaikan ranah afektif dan psikomotorik.
B.

Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas.

20
Kebijakan (policy) secar etimologi (asal kata) diturunkan dari bahasa Yunani,
yaitu Polis yang artinya kota (city). Dalam hal ini, kebijakan berkenaan dengan
gagasan pengaturan organisasi dan merupakan pola formal yang sama-sama diterima
pemerintah/lembaga sehingga dengan hal itu mereka berusaha mengejar tujuannya
(Monahan dalam Syafaruddin, 2008:75). Abidin (2006:17) menjelaskan kebijakan
adalah keputusan pemerintah yang bersifat umum dan berlaku untuk seluruh anggota
masyarakat.Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal
organisasi, yang bersifat mengikat, yang mengatur prilaku dengan tujuan untuk
menciptakan tata nilai baru dalam masyarakat. Kebijakan akan menjadi rujukan utama
para anggota organisasi atau anggota masyarakat dalam berprilaku (Dunn, 1999).
Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan proaktif. Berbeda dengan
Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation), kebijakan lebih adaptif dan interpratatif,
meskipun kebijakan juga mengatur apa yang boleh, dan apa yang tidak boleh.
Kebijakan juga diharapkan dapat bersifat umum tetapi tanpa menghilangkan ciri lokal
yang spesifik. Kebijakan harus memberi peluang diinterpretasikan sesuai kondisi
spesifik yang ada.Masih banyak kesalahan pemahaman maupun kesalahan konsepsi
tentang kebijakan. Beberapa orang menyebut policy dalam sebutan kebijaksanaan, yang
maknanya sangat berbeda dengan kebijakan. Istilah kebijaksanaan adalah kearifan yang
dimiliki oleh seseorang, sedangkan kebijakan adalah aturan tertulis hasil keputusan
formal organisasi. Contoh kebijakan adalah : (1) Undang-Undang, (2) Peraturan
Pemerintah, (3) Keppres, (4) Kepmen, (5) Perda, (6) Keputusan Bupati, dan
(7) Keputusan Direktur. Setiap kebijakan yang dicontohkan disini adalah bersifat
mengikat dan wajib dilaksanakan oleh objek kebijakan. Contoh ini juga memberi
pengetahuan pada kita bahwa ruang lingkup kebijakan dapat bersifat makro, meso, dan

21
mikro. Ali Imron dalam bukunya Analisis Kebijakan Pendidikan menjelaskan bahwa
kebijakan pendidikan adalah salah satu kebijakan Negara. Carter V Good (1959)
memberikan pengertian kebijakan pendidikan (educational policy) sebagai suatu
pertimbangan yang didasarkan atas system nilai dan beberapa penilaian atas factorfaktor yang bersifat situasional, pertimbangan tersebut dijadikan sebagai dasar untuk
mengopersikan pendidikan yang bersifat melembaga. Pertimbangan tersebut merupakan
perencanaan yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengambil keputusan, agar tujuan
yang bersifat melembaga bisa tercapai.
Kebijakan pendidikan sangat erat hubungannya dengan kebijakan yang ada
dalam lingkup kebijakan publik, misalnya kebijakan ekonomi, politik, luar negeri,
keagamaan dan lain-lain. Konsekuensinya kebijakan pendidikan di Indonesia tidak bisa
berdiri sendiri. Ketika ada perubahan kebijakan publik maka kebijakan pendidikan bisa
berubah. Ketika kebijakan politik dalam dan luar negeri, kebijakan pendidikan biasanya
akan mengikuti alur kebijakan yang lebih luas. Bahkan pergantian menteri dapat pula
mengganti kebijakan yang telah mapan pada jamannya. Bukan hal yang aneh,ganti
menteri berganti kebijakan. Masih ingat dibenak kita ada pelajaran PSPB yang secara
prinsipil tidak jauh berbeda dengan IPS sejarah dan lucunya materi itu pun di pelajari di
PMP (sekarang PKN/PPKN).
Isu akuntabilitas akhir-akhir ini semakin gencar dibicarakan seturut dengan
adanya tuntutan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Bahkan resonansinya
semakin keras sekeras tuntutan akan reformasi dalam segala bidang. Ini membuktikan
bahwa kecenderungan masyarakat pada masa kini berbeda dengan masa lalu. Fasli Jalal
dan Dedi Supariadi (2001) menyatakan: Bila di masa lalu masyarakat cenderung

22
menerima apa pun yang diberikan oleh pendidikan, maka sekarang mereka tidak dengan
mudah menerima apa yang diberikan oleh pendidikan.
Masyarakat yang notabene membayar pendidikan merasa berhak untuk
memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi dirinya dan anak-anaknya.
Bagi lembaga-lembaga pendidikan hal ini mulai disadari dan disikapi dengan melakukan
redesain sistem yang mampu menjawab tuntutan masyarakat. Caranya adalah
mengembangkan model manajemen pendidikan yang akuntabel. Fasli Jalal dan Dedi
Supriadi (2001) menyatakan: Upaya untuk mencapai akuntabilitas institusi memerlukan
kurikulum yang relevan yang memperhitungkan kebutuhan masyarakat, kemampuan
manajemen yang tinggi, komitmen yang kuat untuk mencapai keunggulan, sarana
penunjang yang mamadai, dan perangkat aturan yang jelas dan dilaksanakan secara
konsisten oleh institusi pendidikan yang bersangkutan. Empat hal penting yang
dikemukakan di atas membutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat. Sebab tidak
saja dibutuhkan kemauan tetapi juga kemampuan untuk melaksanakannya. Dalam teori
perubahan, orang dapat berubah, jika ia memiliki kemauan sekaligus kemampuan.
Akuntabilitas pendidikan juga mensyaratkan adanya manajemen yang tinggi.
Di Indonesia telah lahir Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang bertumpu
pada sekolah dan masyarakat. Model manajemen ini menuntut keterlibatan yang tinggi
dari stakeholders sekolah. Susan Mohrman menyatakan, "Untuk mendukung pencapaian
MBS telah muncul manajemen berpartisipasi tinggi yang membutuhkan empat sumber
daya penting: 1) informasi, 2) pengetahuan, 3) keterampilan, 4) penghargaan dan
sanksi." Empat sumber daya ini jika dikelola secara baik akan meningkatkan efektivitas
manajemen sekolah. Dan efektifitas manajemen sekolah akan ditunjukkan dengan output
yang berkualitas.

23
Akuntabilitas yang tinggi hanya dapat dicapai dengan pengelolaan sumber daya
sekolah secara efektif dan efisien. Akuntabilitas tidak datang dengan sendiri setelah
lembaga-lembaga pendidikan melaksanakan usaha-usahanya. Ada tiga hal yang
memiliki kaitan, yaitu kompetensi, akreditasi dan akuntabilitas. Menurut Fasli Jalal dan
Dedi Supriadi (2001:88): Tiga aspek yang dapat memberi jaminan mutu suatu lembaga
pendidikan, yaitu kompetensi, akreditasi, dan akuntabilitas. Lulusan pendidikan yang
dianggap telah memenuhi semua persyaratan dan memiliki kompetensi yang dituntut
berhak mendapat sertifikat. Lembaga pendidikan beserta perangkat-perangkatnya yang
dinilai mampu menjamin produk yang bermutu disebut sebagai lembaga terakreditasi
(accredited).
Lembaga pendidikan yang terakreditasi dan dinilai mampu untuk menghasilkan
lulusan bermutu, selalu berusaha menjaga dan menjamin mutuya sehingga dihargai oleh
masyarakat adalah lembaga pendidikan yang akuntable. Institusi pendidikan yang
akuntabel adalah institusi pendidikan yang mampu menjaga mutu keluarannya sehingga
dapat diterima oleh masyarakat. Jadi, dalam hal ini akuntabel tidaknya suatu lembaga
pendidikan bergantung kepada mutu outputnya. Di samping itu, akuntabilitas suatu
lembaga

juga

bergantung

mempertanggungjawabkan

kepada
pengelolaan

kemampuan
keuangan

suatu

lembaga

kepada

pendidikan

publik.

Penulis

mengelompokkan akuntabiltas yang pertama sebagai akuntabilitas kinerja, sementara


yang kedua sebagai akuntabilitas keuangan. Manajemen Berbasis Sekolah yang
diterapkan di Indonesia juga mensyaratkan kemampuan akuntabilitas sekolah kepada
publik.
Menurut Slamet (2005:6): MBS harus dipahami sebagai model pemberian
kewenangan yang lebih besar kepada sekolah, yang meliputi kewenangan mengatur dan

24
mengurus sekolah, mengambil keputusan, mengelola, memimpin, dan mengontrol
sekolah. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan
sekolah, maka sekolah harus bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan. Untuk itu
sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang
dikerjakan sebagai konsekuensi dari mandat yang diberikan oleh publik. Itu berarti
akuntabilitas publik menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban
penyelenggara

sekolah.

Bagaimana

sekolah

mampu

mempertanggungjawabkan

kewenangan yang diberikan kepada publik, tentu menjadi tantangan tanggung jawab
sekolah. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88) menyatakan di Indonesia banyak
instituasi pendidikan yang lemah dan tidak sedikit institusi pendidikan yang tidak
akuntabel.
Pada tahun 1976 Prime Minister Callaghan mengusulkan bahwa pendidikan
sudah seharusnya lebih akuntabel kepada masyarakat dan kecenderungan umum bahwa
isu-isu pendidikan seharusnya terbuka telah membuka ruang bagi untuk menanggapinya,
sekalipun itu bersifat non-profesional." (Gipps and Golstein, 1983 dalam Rita
Headington, 2000). Di Indonesia akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan, juga
masih menempuh jalan panjang. Ketika terjadi perubahan mendasar dalam sistem
pendidikan, isu akuntabilitas sepertinya memperoleh nafas baru. Sekolah-sekolah
sebagai basis penerapan manajemen pendidikan dituntut harus mampu mewujudkan
akuntabilitas bagi publik. Kalau begitu apa sebenarnya akuntabilitas itu? Menurut
Slamet (2005:5), "Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung
jawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara
organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewajiban untuk meminta keterangan
atau pertanggungjawaban. Sementara Zamroni (2008:12) mendefinsikan akuntabilias

25
dikaitkan dengan partisipasi. Ini berarti akuntabilitas hanya dapat terjadi jika ada
partisipasi dari stakeholders sekolah. Semakin kecil partisipasi stakeholders dalam
penyelenggaraan manajemen sekolah, maka akan semakin rendah pula akuntabilitas
sekolah.Jadi,kalau

disimpulkan

akuntabilitas

adalah

kemampuan

sekolah

mempertanggungjawabkan kepada publik segala sesuatu mengenai kinerja yang


diperoleh sebagai hasil partisipasi dari stakeholders.
Rita Headington berpendapat bahwa "Accountability has moral, legal and
financial dimensions and operates at all levels of the education system." Ketiga dimensi
yang terkandung dalam akuntabilitas, yaitu moral, hukum, dan keuangan menuntut
tanggung jawab dari sekolah untuk mewujudkannya, tidak saja bagi publik tetapi
pertama-tama harus dimulai bagi warga sekolah itu sendiri. Sebagaimana dikatakan Rita
Headington (2000:83), "Teacher have a moral and legal responsibility to provide
appropriate educational experiences for pupils and to report to parents and other
professionals." Headington menekankan akuntabilitas dari guru. Secara moral maupun
secara formal (aturan) guru memiliki tanggung jawab bagi siswa maupun orang tua
siswa untuk mewujudkan proses pembelajaran yang baik. Pendapat Headington
memberi tekanan pada akuntabilitas kinerja pembelajaran. Di Indonesia, juga di Negaranegara yang telah menerapkan MBS, terjadi kekacauan dalam memahami MBS, bahwa
seringkali aspek pembelajaran dipahami terpisah dengan MBS. Apa yang dikatakan oleh
David Marsh merupakan sebuah peringatan keras akan bahaya kekacauan dalam
penerapan MBS. Bahwa MBS tidak dipahami sebagai sebuah inovasi yang terpisah dari
pembelajaran. Jadi, kalau Rita Headington memberi tekanan akuntabiltas pada aspek
pembelajaran yang dimotori oleh guru, maka sebenarnya ini adalah bagian hakiki dalam
penerapan MBS yang tidak boleh diabaikan oleh sekolah.

26
Tujuan akuntabilitas adalah agar terciptanya kepercayaan publik terhadap
sekolah. Kepercayaan publik yang tinggi akan sekolah dapat mendorong partisipasi yang
lebih tinggi pula terdapat pengelolaan manajemen sekolah. Sekolah akan dianggap
sebagai agen bahkan sumber perubahan masyarakat. Slamet (2005:6) menyatakan:
Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja
sekolah sebagai salah satu syarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya.
Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggung
jawabkan hasil kerja kepada publik. Selain itu, tujuan akuntabilitas adalah menilai
kinerja sekolah dan kepuasaan publik terhadap pelayanan pendidikan yang
diselenggarakan oleh sekolah, untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan
pelayanan pendidikan dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan
pendidikan kepada publik. Rumusan tujuan akuntabilitas di atas hendak menegaskan
bahwa, akuntabilitas bukanlah akhir dari sistem penyelenggaran manajemen sekolah,
tetapi merupakan faktor pendorong munculnya kepercayaan dan partisipasi yang lebih
tinggi lagi. Bahkan, boleh dikatakan bahwa akuntabilitas baru sebagai titik awal menuju
keberlangsungan manajemen sekolah yang berkinerja tinggi.
b.1. Pelaksanaan Akuntabilitas dalam MBS.
Penerapan prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan manejemen sekolah
mendapat relevansi ketika pemerintah menerapkan otonomi pendidikan yang ditandai
dengan pemberian kewenangan kepada sekolah untuk melaksanakan manajemen sesuai
dengan kekhasan dan kebolehan sekolah. Dengan pelimpahan kewenangan tersebut,
maka pengelolan manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat yang adalah
pemberi mandat pendidikan. Oleh karena manajemen sekolah semakin dekat dengan
masyarakat, maka penerapan akuntabilitas dalam pengelolaan merupakan hal yang tidak

27
dapat ditunda-tunda. Pelaksanaan prinsip akuntabilitas dalam rangka MBS tiada lain
agar para pengelola sekolah atau pihak-pihak yang diberi kewenangan mengelola urusan
pendidikan itu senantiasa terkontrol dan tidak memiliki peluang melakukan
penyimpangan untuk melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Dengan prinsip ini mereka terus memacu produktifitas profesionalnya sehingga
berperan besar dalam memenuhi berbagai aspek kepentingan masyarakat. Akuntabilitas
menyangkut dua dimensi, yakni akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas horisontal.
Akuntabilitas vertikal menyangkut hubungan antara pengelola sekolah dengan
masyarakat. Sekolah dan orang tua siswa. Antara sekolah dan instansi di atasnya (Dinas
pendidikan). Sedangkan akuntabilitas horisontal menyangkut hubungan antara sesama
warga sekolah. Antar kepala sekolah dengan komite, dan antara kepala sekolah dengan
guru. Pengelola sekolah harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh komponen
pengelolaan MBS kepada masyarakat. Komponen pertama yang harus melaksanakan
akuntabilitas adalah guru. Mengapa, karena inti dari seluruh pelaksanaan manajemen
sekolah adalah proses belajar mengajar. Dan pihak pertama di mana guru harus
bertanggung jawab adalah siswa. Guru harus dapat melaksanakan ini dalam tugasnya
sebagai pengajar.
Akuntabilitas dalam pengajaran dilihat dari tanggung jawab guru dalam hal
membuat persiapan, melaksanakan pengajaran, dan mengevaluasi siswa. Selain itu
dalam hal keteladan, seperti disiplin, kejujuran, hubungan dengan siswa menjadi penting
untuk diperhatikan. Sebagaimana dikatakan oleh Headington (2004:88) bahwa, "Teacher
are, first and foremost, accountable to their pupils. They are responsible for providing
work which is interesting and challenging, maintaining pupils' involvement and helping
them make progress in their learning. Akuntabilitas tidak saja menyangkut proses

28
pembelajaran, tetapi juga menyangkut pengelolaan keuangan, dan kualitas output.
Akuntabilitas keuangan dapat diukur dari semakin kecilnya penyimpangan dalam
pengelolaan keuangan sekolah. Baik sumber-sumber penerimaan, besar kecilnya
penerimaan, maupun peruntukkannya dapat dipertanggungjawabkan oleh pengelola.
Pengelola keuangan yang bertanggung jawab akan mendapat kepercayaan dari
warga sekolah dan masyarakat. Sebaliknya pengelola yang melakukan praktek korupsi
tidak akan dipercaya. Akuntabilitas tidak saja menyangkut sistem tetapi juga
menyangkut moral individu. Jadi, moral individu yang baik dan didukung oleh sistem
yang baik akan menjamin pengelolaan keuangan yang bersih, dan jauh dari praktek
korupsi.
Fakta menyangkut praktek korupsi dalam dunia pendidikan bukan hal baru.
Temuan Indonesian Corruption Watch (ICW) awal tahun 2008 bahwa, korupsi dalam
dunia pendidikan telah menjamah, mulai dari Departemen Pendidikan, Dinas
Pendidikan, hingga di sekolah-sekolah. Kenyataan ini sangat ironis, karena berbanding
terbalik dengan apa yang seharusnya diajarkan lembaga pendidikan kepada anak bangsa,
tidak saja dari segi intelektual tetapi juga moral. Informasi ini merupakan "tamparan"
keras bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu dalam rangka penerapan MBS ini,
pengelolaan keuangan sekolah harus jauh dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme.
Akuntabilitas

juga

semakin

memiliki

arti,

ketika

sekolah

mampu

mempertanggungjawabkan mutu outputnya terhadap publik. Sekolah yang mampu


mempertanggungjawabkan kualitas outputnya terhadap publik, mencerminkan sekolah
yang memiliki tingkat efektivitas output tinggi. Dan sekolah yang memiliki tingkat
efektivitas

outputnya

tinggi,

akan

meningkatkan

b.2. Faktor-Faktor Penghambat Akuntabilitas dalam MBS.

efisiens

eksternal.

29
Codd (1999), seorang pakar kebijakan pendidikan dalam Marks Olssen, dkk
(2004), menyatakan bahwa dalam perspektif global, akuntabilitas dipengaruhi oleh
kecenderungan manusia yang mengutamakan kebebasan. Kebebasan yang muncul
secara baru (neoliberalisme) ikut mempengaruhi ketahanan moral orang dalam
melaksanakan akuntabilitas.

Menurutnya Terdapat dua tipe akuntabilitas, masing-

masing akuntabilitas eksternal dan akuntabilitas internal. Keduanya memiliki ciri yang
berbeda, ini disebabkan oleh karena titik tolak kedunya berbeda. Akuntabilitas eksternal
didasarkan manajemen hirarkis, sedangkan akuntabilitas internal didasarkan pada
tanggung jawab profesional, dengan melekat sebuah konsep agen moral. Oleh karena
pendasaran kedua jenis akuntabilitas ini berbeda, maka hal-hal yang diperlihatkanpun
berbeda. Misalnya, akuntabilitas eksternal memiliki kepercayaan yang rendah,
sedangkan pada akuntabilitas internal justru sebaliknya memiliki kepercayaan yang
tinggi. Selanjutnya dari segi tanggung jawab, pada akuntabilitas eksternal terdapat
kontrol yang hirarkis, sedangkan pada akuntabilitas internal tanggung jawab
professional didelegasikan.
Dari segi pelaksanaan tugas, pada akuntabilitas eksternal terikat pada kontrak,
sedangkan akuntabilitas internal menekankan pada komitmen, loyalitas, rasa memiliki,
dan kecakapan. Akuntabilitas eksternal memperlihatkan proses formal dalam pelaporan
dan perekaman untuk manajamen hirarkhis, sedangkan dalam akuntabilitas internal
akuntabel banyak konstituen. Dalam akuntabilitas eksternal kurang mengutamakan
peran moral, ketimbang etika kebiasan, dan etika struktur. Sedangkan jenis akuntabilitas
internal peran moral tinggi sehingga pertimbangannya matang dan memiliki kebebasan
untuk bertindak. Kedua jenis akuntabilitas di atas memiliki pendasaran yang sangat
berbeda. Kalau akuntabilitas eksternal pengaruh faktor luar sangat besar, di sisi lain

30
faktor dalam sangat lemah. Sebaliknya pada akuntabilitas internal faktor dari dalam diri
lebih kuat ketimbang faktor luar. Kekuatannya terletak pada motivasi dan komitmen
individu untuk melaksanakan akuntabilitas organisasi.
Akuntabilitas dan Faktor nilai-budaya Sekolah sebagai tempat penyelenggaran
manajemen yang akuntabel merupakan suatu pranata sosial. Dikatakan sebagai pranata
sosial karena di tempat tersebut teradapat orang-orang dari berbagai latar belakang sosial
yang membentuk suatu kesatuan dengan nilai-nilai dan budaya tertentu. Nilai-nilai dan
budaya tersebut potensial untuk mendukung penyelenggaraan manajemen sekolah yang
akuntabel, tetapi juga sebaliknya bisa menjadi penghambat. Dalam sebuah ilustrasi
perusahaan, Stephen Robins (2001:14) menyatakan: Workforce diversity has important
implication for management practice. Manager will need to shift their philosophy from
treating every one alike to recognizing differences and responding to those differences in
ways that will ensure employe retention and greater productivity while, at the same time
not discriminating. Artinya, keberagaman tenaga kerja mempunyai implikasi penting
pada praktik manajemen.
Para manejer harus mengubah filosofi mereka dari memperlakukan setiap orang
dengan cara yang sama menjadi mengenali perbedaan dan menyikapi mereka yang
berbeda dengan cara-cara yang menjamin kesetiaan karyawan dan peningkatan
produktifitas sementara, pada saat yang sama, tidak melakukan diskriminasi. Apa yang
dikemukakan Robins berangkat dari asumsi akan perbedaan nilai dan budaya dari setiap
anggota organisasi. Ada nilai-nilai yang dapat mendukung nilai-nilai organisasi, tetapi
ada juga yang sebaliknya. Dalam konteks ini, dibutuhkan peran pemimpin untuk dapat
mengelolanya.

31
Akuntabel merupakan nilai yang hendak ditegakan organisasi, apakah anggota
organisasi dapat mendukungnya? Menjadi tantangan, oleh karena latar belakang tadi.
Jadi, faktor yang mempengaruhi akuntabilitas terletak pada dua hal, yakni faktor sistem
dan faktor orang. Sistem menyangkut aturan-aturan, tradisi organisasi. Sedangkan faktor
orang menyangkut motivasi, persepsi dan nilai-nilai yang dianutnya mempengaruhi
kemampuannya akuntabilitas. Kalau ditelisik lebih jauh faktor orang sendiri sebenarnya
tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan produk dari masyarakat dengan budaya
tertentu.
b.3.Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas dalam MBS.
Bagaimanapun juga pengelolaan MBS mensyaratkan akuntabilitas yang tinggi,
oleh karena itu perlu ada upaya nyata sekolah untuk mewujudkannya. Menurut Slamet
(2005:6) ada delapan hal yang harus dikerjakan oleh sekolah untuk peningkatan
akuntabilitas: Pertama, sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas
termasuk mekanisme pertanggungjawaban. Kedua, sekolah perlu menyusun pedoman
tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem
pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. Ketiga, sekolah menyusun rencana
pengembangan sekolah dan menyampaikan kepada publik/stakeholders di awal setiap
tahun anggaran. Keempat, menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja
sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. Kelima, melakukan pengukuran
pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada
publik/stakeholders diakhir tahun. Keenam, memberikan tanggapan terhadap pertanyaan
dan pengaduan publik. Ketujuh, menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik
yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. Kedelapan, memperbaharui rencana
kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. Kedelapan upaya di atas,

32
semuanya bertumpu pada kemampuan dan kemauan sekolah untuk mewujudkannya.
Alih-alih sekolah mengetahui sumber dayanya, sehingga dapat digerakan untuk
mewujudkan dan meningkatkan akuntabilitas.
Sekolah dapat melibatkan stakeholders untuk menyusun dan memperbaharui
sistem yang dianggap tidak dapat menjamin terwujudnya akuntabilitas di sekolah.
Komite sekolah, orang tua siswa, kelompok profesi, dan pemerintah dapat dilibatkan
untuk melaksanakannya. Dengan begitu stakeholders sejak awal tahu dan merasa
memiliki akan sistem yang ada. Untuk mengukur berhasil tidaknya akuntabilitas dalam
manajemen berbasis sekolah, dapat dilihat pada beberapa hal, sebagaimana dinyatakan
oleh Slamet (2005:7): Beberapa indikator keberhasilan akuntabilitas adalah:
1. Meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah.
2. Tumbuhnya

kesadaran

publik

tentang

hak

untuk

menilai

terhadap

penyelenggaraanpendidikan di sekolah
3. Meningkatnya kesesuaian kegiatan-kegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang
berkembang di masyarakat.
Ketiga indikator di atas dapat dipakai oleh sekolah untuk mengukur apakah
akuntabilitas manajemen sekolah telah mencapai hasil sebagaiamana yang dikehendaki.
Tidak saja publik merasa puas, tetapi sekolah akan mengalami peningkatan dalam
banyak hal sehingga kepercayaan masyarakat akan kinerja sekolah menjadi lebih tinggi
dan dengan sendirinya partsipasi bertambah.
C. Manajemen Pendidikan
Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan
kualitas pendidikan. Hasil penelitian Balitbangdikbud (1991:47) menunjukkan bahwa

33
manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas
pendidikan.
Selanjutnya Gaffar (1989 : 59), mengemukakan bahwa :
Manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang
sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan
nasional. Manajemen pendidikan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu
berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah maupun tujuan jangka
panjang.
Substansi manajemen pendidikan lebih memusatkan diri pada substansi yang
berkaitan dengan proses pendidikan, yaitu manajemen pengajaran, peserta didik,
ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan sekolah dan masyarakat dan
layanan-layanan khusus.
Mugatroyd dan Morgan (dalam Mantja, 2002 : 131) mengemukakan empat
gagasan dasar yang sangat sentral bagi keefektifan manajemen persekolahan. Pertama,
adalah bahwa lembaga pendidikan merupakan mata rantai

yang

menghubungkan

pelanggan (customer client) dan pemasok (supplier), Kedua, yang merupakan gagasan
kunci adalah semua hubungan antara pelanggan dan pemasok ditengahi oleh proses.
Ketiga, orang yang paling melakukan perbaikan adalah mereka yang dekat dengan
pelanggan dalam proses tersebut. Keempat, bahwa untuk menjamin terdapatnya
dukungan

perbaikan

performansi

kualitas

terhadap

sekolah

dipersyaratkan

kepemimpinan yang bervisi, yang mendukung dan meningkatkan kinerja terhadap


mereka yang dekat (familiar) dengan klien.
D. Manajemen Berbasis Sekolah
1. Konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)

34
Istilah Manajemen berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari .School Based
Management.. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat ketika masyarakat
mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dan perkembangan
masyarakat setempat. Pengertian Manajemen berbasis Sekolah menurut beberapa ahli:
Menurut E. Mulyasa (2004:24) : .MBS merupakan salah satu wujud dari
reformasi pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan
yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik. Otonomi dalam manajemen
merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para staff, menawarkan
partisipasi langsung kelompok-kelompok yang terkait, dan meningkatkan pemahaman
masyarakat terhadap pendidikan.
Menurut Nanang Fatah (2006:32) MBS merupakan pendekatan politik yang
bertujuan untuk mendesain ulang pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan
kepada kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan
kinerja sekolah yang mencakup guru, siswa, komite sekolah, orang tua siswa dan
masyarakat. Manajemen berbasis Sekolah mengubah sistem pengambilan keputusan
dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap
yang berkepentingan di tingkat lokal Local Stakeholder.
Menurut Bedjo sudjanto (2005:37) MBS merupakan model manajemen
pendidikan yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Disamping itu, MBS
juga mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua
warga sekolah yang dilayani dengan tetap selaras pada kebijakan nasional pendidikan.
Hal yang penting dalam implementasi/pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah
manajemen terhadap komponen-komponen sekolah itu sendiri.

35
Menurut Mulyasa (2004 : 118), sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah
yang harus dikelola dengan baik dalam rangka pelaksanaan MBS, yaitu
Kurikulum dan program pengajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan, keuangan,
sarana, dan prasarana pendidikan, pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat serta
manajemen layanan khususnya lembaga pendidikan.
Manajemen berbasis sekolah sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah
sebuah model pengelolaan sekolah yang mengarah pada kemandirian lembaga
pendidikan sekolah dan terintegratif dengan tuntutan perkembangan masyarakat.
Olehnya itu, jika model ini dikembangkan dua syarat pokok yang harus dipenuhi oleh
setiap pendidikan sekolah, pertama sekolah menjamin adanya kultur sekolah yang
kondusif dan demokratis menanggapi respon masyarakat secara terbuka sebagai wujud
pertanggungjawaban public.
Jadi, MBS merupakan sebuah strategi untuk memajukan pendidikan dengan
mentransfer keputusan penting memberikan otoritas dari negara dan pemerintah daerah
kepada individu pelaksana di sekolah. 11MBS menyediakan kepala sekolah, guru, siswa,
dan orang tua kontrol yang sangat besar dalam proses pendidikan dengan memberi
mereka tanggung jawab untuk memutuskan anggaran, personil, serta kurikulum.
2. Karakteristik MBS
MBS memiliki karakter yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan
menerapkannya, karakteristik tersebut merupakan ciri khas yang dimiliki sehingga
membedakan dari sesuatu yang lain. MBS memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Adanya otonomi yang luas kepada sekolah
b. Adanya partisipasi masyarakat dan orang tua siswa yang tinggi
c. Kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional
d. Adanya team work yang tinggi, dinamis dan profesional

36
Karakteristik Manajemen

Berbasis Sekolah (MBS) dapat dilihat pula melalui

pendidikan sistem. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah
sistem sehingga penguraian karakteristik MBS berdasarkan berdasarkan pada input,
proses dan output
1. Input Pendidikan
Dalam input pendidikan ini meliputi; (a) memiliki kebijakan, tujuan, dan sasaran
mutu yang jelas, (b) sumber daya yang tersedia dan siap, (c) staf yang kompeten dan
berdedikasi tinggi, (d) memiliki harapan prestasi yang tinggi,(e) fokus pada
pelanggan.
2. Proses
Dalam proses terdapat karakter yaitu; (a) PBM yang memiliki tingkat efektifitas yang
tinggi, (b) Kepemimpinan sekolah yang kuat, (c) Lingkungan sekolah yang aman dan
tertib, (d) Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif, (e) Sekolah memiliki
budaya mutu, (f) Sekolah memiliki team work yang kompak, cerdas, dan dinamis.
(d) Output yang diharapkan
Output Sekolah adalah Prestasi sekolah yang dihasilkan melalui proses pembelajarn
dan manajemen di sekolah. Pada umumnya output dapat di klasifikasikan menjadi
dua yaitu output berupa prestasi akademik yang berupa NEM, lomba karya ilmiah
remaja, cara-cara berfikir ( Kritis, Kreatif, Nalar, Rasionalog, Induktif, Deduktif dan
Ilmiah. Dan output non akademik, berupa keingintahuan yang tinggi, harga diri,
kejujuran, kerjasama yang baik, toleransi, kedisiplinan, prestasi olahraga, kesenian
dari para peserta didik dan sebagainya.
Karakteristik MBS bisa diketahui juga antara lain dari bagaimana sekolah dapat
mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, proses belajar mengajar, pengelolaan

37
sumber daya manusia,dan pengelolaan sumber daya administrasi. Menurut Depdiknas
fungsi yang dapat didesentralisasikan ke sekolah adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan dan evaluasi program sekolah
Sekolah di beri kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan
kebutuhannya, Sekolah juga diberi kewenangan untuk melakukan evaluasi
khususnya evaluasi internal atau evaluasi diri.
2. Pengelolaan Kurikulum.
Sekolah dapat mengembangkan, namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang
berlaku secara nasional yang dikembangkan oleh pemerintah pusat. Sekolah juga di
beri kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal.
3. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar.
Sekolah di beri kebebasan untuk memilih strategi, metode, dan teknik pembelajaran
dan pengajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik
siswa, karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah.
4. Pengelolaan ketenagaan.
Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis kebutuhan perencanaan, rekrutmen,
pengembangan, penghargaan dan sanksi, hubungan kerja hingga evaluasi kinerja
tenaga kerja sekolah dapat dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri yang
sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya.
5. Pengelolaan keuangan
Pengelolaan keuangan, terutama pengalokasian atau penggunaan uang sudah
sepantasnya dilakukan oleh sekolah. Sekolah juga harus di beri kebebasan untuk
untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan, sehingga
sumber keuangan tidak semata-mata bergantung pada pemerintah.

38
6. Pelayanan siswa
Pelayanan siswa mulai dari penerimaan siswa baru, pengembangan, pembinaan,
pembimbingan, penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia
kerja hingga pengurusan alumni dari dulu telah didesentralisasikan. Yang diperlukan
adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya.
7. Hubungan sekolah dan masyarakat
Esensi hubungan sekolah dan masyarakat adalah untuk meningkatkan, kepedulian,
kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan finansial
yang dari dulu telah didesentralisasikan. Yang diperlukan adalah peningkatan
intensitas dan ekstensitasnya.
3. Tujuan Manajemen berbasis Sekolah
Tujuan utama Manajemen Berbasis Sekolah adalah meningkatkan efisiensi,
mutu,dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan
mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat, dan penyederhanaan birokrasi.
Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua, kelenturan pengelolaan
sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai
kontrol, serta hal lain yang dapat menumbuh k Sementara itu baik berdasarkan kajian
pelaksanaan dinegara-negara lain, maupun yang tersurat dan tersirat dalam kebijakan
pemerintah dan UU sisdiknas NO. 20 Tahun 2003, tentang Pendidikan Berbasis
Masyarakat pasal 55 ayat 1:Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis
masyarakat pada pendidikan formal dan non formal sesuai dengan kekhasan agama,
lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Berkaitan dengan pasal
tersebut setidaknya ada empat aspek yaitu: kualitas (mutu) dan relevansi, keadilan,
efektifitas dan efisiensi, serta akuntabilitas.

39
1) MBS bertujuan mencapai mutu quality dan relevansi pendidikan yang

setinggi-

tingginya, dengan tolok ukur penilaian pada hasil output dan outcome bukan pada
metodologi atau prosesnya. Mutu dan relevansi ada yang memandangnya sebagai
satu kesatuan substansi, artinya hasil pendidikan yang bermutu sekaligus yang
relevan dengan berbagai kebutuhan dan konteksnya. Bagi yang memisahkan
keduanya, maka mutu lebih merujuk pada dicapainya tujuan spesifik oleh siswa
(lulusan), seperti nilai ujian atau prestasi lainnya, sedangkan relevansi lebih merujuk
pada manfaat dari apa yang diperoleh siswa melalui pendidikan dalam berbagai
lingkup/tuntutan kehidupan (dampak), termasuk juga ranah pendidikan yang tidak
diujikan.
2) MBS bertujuan menjamin keadilan bagi setiap anak untuk memperoleh layanan
pendidikan yang bermutu disekolah yang bersangkutan. Dengan asumsi bahwa setiap
anak berpotensi untuk belajar, maka MBS memberi keleluasaan kepada setiap
sekolah untuk menangani setiap anak dengan latar belakang social ekonomi dan
psikologis yang beragam untuk memperoleh kesempatan dan layanan yang
memungkinkan semua anak dan masing-masing anak berkembang secara optimal.
Sungguhpun antara sekolah harus saling memacu prestasi, tetapi setiap sekolah harus
melayani setiap anak (bukan hanya yang pandai), dan secara keseluruhan sekolah
harus mencapai standar kompetensi minimal bagi setiap anak yang diluluskan.
Keadilan ini begitu penting, sehingga para ahli sekolah efektif menyingkat tujuan
sekolah efektif hanya mutu dan keadilan atau .quality and equity.
3) MBS bertujuan meningkatkan efektifitas MBS bertujuan meningkatkan efektifitas
dan efisiensi. Efektifitas berhubungan dengan proses, prosedur, dan ketepat-gunaan
semua input yang dipaki dalam proses pendidikan disekolah, sehingga menghasilkan

40
hasil belajar siswa seperti yang diharapkan (sesuai tujuan). Efektif-tidaknya suatu
sekolah diketahui lebih pasti setelah ada hasil, atau dinilai hasilnya. Sebaliknya untuk
mencapai hasil yang baik, diupayakan menerapkan indikator-indikator atau cirri-ciri
sekolah efektif. Dengan menerapkan MBS diharapkan setiap sekolah, sesuai kondisi
masing-masing, dapat menerapkan metode yang tepat (yang dikuasai), dan input lain
yang tepat pula (sesuai lingkungan dan konteks social budaya), sehingga semua input
tepat guna dan tepat sasaran. Atau dengan kata lain, efektif untuk meningkatkan mutu
pendidikan. Sementara itu, efisiensi berhubungan dengan nilai uang yang dikeluarkan
atau harga (cost) untuk memenuhi semua input (proses dan semua input yang
digunakan dalam proses) dibandingkan atau dihubungkan dengan hasilnya (hasil
belajar siswa).
4. MBS bertujuan meningkatkan akuntabilitas sekolah dan komitmen semua stake
holders. Akuntabilitas adalah pertanggung jawaban atas semua yang dikerjakan sesuai
wewenang dan tanggung jawab yang diperolehnya. Selama ini pertanggung jawaban
sekolah lebih pada masalah administratif keuangan dan bersifat vertical sesuai jalur
birokrasi. Pertanggung jawaban yang bersifat teknis edukatif terbatas pada
pelaksanaan program sesuai petunjuk dan pedoman dari pusat (pusat dalam arti
nasional, maupun pusatpusat irokrasi di bawahnya),tanpa pertanggung jawaban hasil
pelaksanaan program.
4. Langkah-langkah MBS
Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan behasil melalui
strategi- strategi berikut ini:
Pertama, sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal, yaitu dimilikinya
otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan, pengembangan pengetahuan dan

41
keterampilan secara berkesinambungan, akses informasi ke segala bagian dan pemberian
penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil.
Kedua, adanya peran serta masyarakat secara aktif, dalam hal pembiayaan,
prosespengambian keputusan terhadap kurikulum. Sekolah harus lebih banyak
mengajaklingkungan dalam mengelola sekolah karena bagaimanapun sekolah adalah
bagian dari masyarakat luas.
Ketiga, kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan
pengembangan sekolah secara umum. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai
designer, motivator, fasilitator. Bagaimanapun kepala sekolah adalah pimpinan yang
memiliki kekuatan untuk itu. Oleh karena itu, pengangkatan kepala sekolah harus
didasarkan atas kemampuan manajerial dan kepemimpinan dan bukan lagi didasarkan
atas jenjang kepangkatan.
Keempat, adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan
dewan sekolah yang aktif. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus
mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Konsumen
yang harus dilayani kepala sekolah adalah murid dan orang tuanya, masyarakat dan para
guru. Kepala sekolah jangan selalu menengok ke atas sehingga hanya menyenangkan
pimpinannya namun mengorbankan masyarakat pendidikan yang utama.
Kelima, semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara bersungguh
sungguh. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada
sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Siapa kebagian peran apa dan melakukan
apa, sampai batas-batas nyata perlu dijelaskan secara nyata.
Keenam, adanya guidlines dari departemen pendidikan terkait sehingga mampu

42
mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. Guidelines itu
jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah.
Artinya, tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan
MBS, yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing.
Ketujuh, sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal
diwujudkan dalam laporan pertanggung jawabannya setiap tahunnya. Akuntabilitas
sebagai bentuk pertanggung jawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Untuk itu
sekolah harus dijalankan secara transparan, demokratis, dan terbuka terhadap segala
bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait.
Kedelapan, Penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan
lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Perlu dikemukakan
lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun
berpotensi untuk itu. Oleh karena itu, usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian
prestasi belajar siswa.
Kesembilan, implementasi diawali dengan sosialsasi dari konsep MBS, identifikasi
peran masing-masing pembangunan kelembagaan capacity building mengadakan
pelatihan pelatihan terhadap peran barunya, implementasi pada proses pembelajaran,
evaluasi atas pelaksanaan dilapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Bagi sekolah
yang sudah beroperasi ( sudah ada / jalan) paling tidak ada 6 (enam) langkah, yaitu :
1) evaluasi diri self assessment; 2) Perumusan visi, misi, dan tujuan; 3)Perencanaan;
4) Pelaksanaan; 5) Evaluasi; dan 6) Pelaporan.
Masing-masing langkah dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)

Evaluasi diri self assessment

43
Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi sekolah yang ingin, atau akan
melaksanakan manajemen mutu berbasis sekolah.Kegiatan ini dimulai dengan curah
pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah, guru, dan seluruh staf, dan
diikuti juga anggota komite sekolah. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah.
memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita
meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu
pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu?
Kegiatan ini bertujuan:
a) Mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen
sekolah), kemajuan yang telah dicapai, maupun masalah-masalah yang dihadapi
ataupun kelemahan yang dialami.
b) Refleksi/Mawas diri, untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting
dan perlunya pendidikan yang bermutu, sehingga timbul komitmen bersama untuk
meningkatkan mutu sense of quality.
c) Merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau
akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. Titik awal ini penting karena
sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu, mereka tidak berangkat dari
nol, melainkan dari kondisi yang dimiliki.
2) Perumusan Visi, Misi, dan tujuan
Bagi sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan, perumusan visi dan misi serta
tujuan merupakan langkah awal/pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan
kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan.
Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili
pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun

44
orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa, sejauh
tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU No.
23 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Kondisi yang diharapkan/diinginkan dan diimpikan
dalam jangka panjang itu, kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi.
Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu
pendidikan. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan, kemanusiaan, keadilan,
keluhuran budi pekerti, ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan
sebelumnya. Sedangkan misi, merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan.
Dengan kata lain, misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk
mewujudkan visi. Tujuan merupakan tahapan antara, atau tonggak tonggak penting
antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya
tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka
menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan
tujuan berikutnya, sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya) masih tetap. Tujuan
(jangka menengah), dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut
target/sasaran, dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk
perencanaan.
3) Perencanaan
Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk
menjawab: apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan
tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang
bersangkutan, termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang

45
direncanakan. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu
tentang apa-apa yang harus dilakukan, prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk
mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi.
Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang
akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang dihar apkan,
dalam bentuk tertulis. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan
dilakukan, seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan
dikerjakan, bagaimana, kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya, serta hasil
seperti apa yang diharapkan.
4) Pelaksanaan
Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita
kenal sebagai fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/penggerakkan atau
pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi, maka langkah pertama sampai
dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk
sekolah) sudah dibahas. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaanperencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu
(bulanan,semesteran, bahkan mingguan), atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus,
misalnya menghadapi lomba bidang studi, atau kegiatan lainnya. Tahap pelaksanaan,
dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai
suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama
dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada, dapat berjalan sebagaimana
mestinya (efektif dan efisien). Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses
kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan.

46
Selanjutnya Sidi, mengemukakan bahwa kemandirian sekolah yang ditegaskan
dalam manajemen berbasis sekolah, sangat menekankan pada optimalisasi pelaksanaan
proses belajar mengajar, partisipasi masyarakat dan kinerja kepala sekolah. Khususnya
mengenai pelaksanaan belajar mengajar, guru-guru memegang peranan yang sangat
menentukan, sebab sekalipun sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai
sumber dana yang cukup memadai, tetapi kalau sumber daya manusianya yaitu para
guru-gurunya tidak melaksanakan tugasnya dengan baik dalam proses belajar mengajar,
maka tidak dapat diharapkan mutu output pendidikan akan meningkat.
E. Kinerja Kepala Sekolah
Kepala sekolah sebagai organisator memiliki peran yang sangat penting
menentukan jalannya organisasi sekolah. Sekolah memerlukan suatu organisasi kerja
yang baik, sehingga kepala sekolah dituntut mampu menumbuhkembangkan kreativitas
kerja guru dan staf sekolah. Olehnya itu, kinerja kepala sekolah seharusnya
mencerminkan lebih baik daripada guru dan staf lainnya. Kinerja kepala sekolah itu
harus tampak dalam memainkan perannya secara professional.
Peran kepala sekolah sebagai administrator pendidik bertolak dari hakikat
administrasi pendidikan, yakni mendayagunakan berbagai sumber

(manusia sarana

dan prasarana serta berbagai media pendidikan lainnya) secara optimal, relevan, efektif
dan efisien guna menunjang pencapaian pendidikan. Secara kongkret pelaksanaan
tugas dan fungsi administrator dalam administrasi pendidikan mencakup
substansi

lingkup

administrasi pendidikan (sekolah) (1) kurikulum atau pengajaran,

(2) kesiswaan, (3) perlengkapan, (4) keuangan., (5) kepegawaian dan (6) hubungan
sekolah dan masyarakat (IKIP Malang, 1995). Sehubungan dengan itu tugas-

tugas

kepala sekolah sebagai administrator, (Burton dalam Mantja 2002) menyarankan bahwa:

47
Beberapa kompetensi dasar yang perlu dikuasai oleh Kepala Sekolah yakni
(1) memahami kurikulum sekolah, (2) membantu melaksanakan kegiatan belajar
mengajar dalam kelas, (3) mengadakan hubungan dengan masyarakat di sekitarnya
untuk keefektifan pelaksanaan pengajaran di sekolah khususnya para orang tua murid,
(4) mampu menciptakan hubungan baik guru dengan murid di sekolahnya,
(5) mengelolah sarana dan fasilitas sekolah; dan (6) mampu melaksanakan program
kerja pengajaran.
Kompetensi yang diperlukan administrator menekankan perlunya kompetensi
dasar yang harus dikuasai yaitu: teknis, manusiawi, dan konseptual. Keterampilan teknis
yang ditunjuk kerjakan oleh administrator sekolah Budgeting, schedule, staffing, dan
berbagai tanggung jawab administrasi yang sejenisnya. Keterampilan manusiawi (insani)
mengacu kepada keterampilan yang diperlukan dalam keberhasilan kerja dengan orang
per orang atau dalam latar kelompok. Sedangkan keterampilan konseptual adalah
kemampuan yang diperlukan oleh administrator untuk melihat gambaran keseluruhan
dan hubungan-hubungannya diantara dan di dalam bagian-bagian yang berlainan.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, kepala sekolah harus memiliki
kompetensi yang mengacu pada perbuatan dan kinerja yang bersifat rasional dan
memenuhi spesifikasi tertentu di dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu termasuk tugas
kepala sekolah sebagai administrator, manajer, pimpinan, sekolah supervisor secara
substansial merupakan tugas-tugas pokok kepala sekolah yang menurut kinerja kepala
sekolah secara profesional.
F. Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar
Bangsa dan negara akan dapat memasuki era globalisasi dengan tegar apabila
memiliki sistem pendidikan yang berkualitas. Kualitas pendidikan, terutama ditentukan
oleh proses belajar mengajar yang berlangsung dalam ruang kelas. Dalam proses belajar
mengajar, guru memegang peranan yang penting, guru adalah kreator proses belajar
mengajar.

48
Dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan disadari suatu kebenaran
fundamental, yakni bahwa kunci keberhasilan menciptakan dan mempersiapkan guruguru yang profesional yang memiliki kekuatan dan tanggung jawab baru untuk
merencanakan pendidikan masa depan. Pada dasarnya peningkatan kualitas diri
seseorang harus menjadi tanggung jawab diri pribadi. Oleh karenanya usaha peningkatan
kualitas guru terletak pada diri guru sendiri. Untuk itu diperlukan adanya kesadaran pada
diri guru untuk senantiasa dan secara terus menerus meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan yang diperlukan guna peningkatan kualitas kerja sebagai pengajar
professional. Dengan demikian untuk pembinaan dan peningkatan profesional guru perlu
dikembangkan kegiatan profesional kesejawatan yang baik, harmonis, dan objektif.
Secara sistematis pengembangan kejawatan memerlukan :
a. Wadah/kelembagaan, untuk pengembangan kesejawatan adalah kelompok yang
merupakan organ yang bersifat non-struktural dan lebih bersifat formal.
b. Bentuk kegiatan kelompok yang dibentuk merupakan wadah kegiatan dimana antara
anggota sejawat biasa saling asah, asuh dan asih untuk meningkatkan kualitas diri
masing-masing khususnya dan mencapai kualitas sekolah serta pendidikan pada
umumnya.
c. Mekanisme, kegiatan kelompok dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan.
Sebagaimana konsep asah, asuh dan asih. Maka setiap anggota kelompok memiliki
hak, kewajiban dan kesempatan yang sama dalam setiap kegiatan tanpa memandang
jenjang kepangkatan jabatan dan gelar akademik yang disandangnya.
d. Standar profesional guru, pada dasarnya kelompok yang diuraikan di atas merupakan
wadah aktivitas profesional untuk meningkatkan kemampuan profesional guru.
Aktivitas yang dimaksud tidak bersifat searah melainkan bersifat multi arah, artinya

49
aktivitas yang dilaksanakan bersifat komprehensif dan total mencakup presentasi,
observasi, penilaian, kritik, tanggapan, saran dan bimbingan
G. Partisipasi Masyarakat
Dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga,
masyarakat dan pemerintah. Selanjutnya, peran serta masyarakat dalam pelaksanaan
manajemen berbasis sekolah yang diharapkan dari masyarakat, antara lain :
1. Tenaga yaitu sebagai sumber atau tenaga sukarela untuk membantu

mensukseskan

wajib belajar dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, serta memperbaiki sarana
dan prasarana baik secara individu maupun secara kelompok.
2. Dana, untuk membantu pendanaan operasional sekolah, memberikan beasiswa,
menjadi orang tua asuh, menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah, dan
sebagainya.
3. Pemikiran, yaitu memberikan masukan berupa pendapat pemikiran dalam rangka
menjaring anak-anak usia sekolah, menanggulangi anak putus sekolah, dan
meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
Salah satu kebijakan pemerintah menyangkut pembiayaan pendidikan dalam
rangka peningkatan mutu pada semua jenjang pendidikan (dasar, menengah dan tinggi)
yakni, peningkatan peran serta masyarakat dunia usaha dalam penyelenggaraan
pendidikan ditingkatkan, antara lain dengan mengembangkan mekanisme kerjasama
saling menguntungkan bagi peserta didik, lembaga pendidikan, dan masyarakat dan
dunia usaha. Kelompok masyarakat mampu perlu didorong untuk memberi sumbangan
yang lebih besar dalam membiayai pendidikan. Sementara itu, bagi masyarakat tidak
mampu disediakan bantuan, baik langsung ataupun tidak langsung demi pemusatan dan

50
keadilan pendidikan. dunia usaha didorong untuk memberi bantuan beasiswa, tenaga
fasilitas praktik dan penelitian. Masyarakat dunia usaha juga diharapkan untuk
memberikan pemikiran dan sumbangan dalam perumusan kebijakan pendidikan.
Sekolah merupakan lembaga yang tidak dapat dipisahkan masyarakat
lingkungannya, sebaliknya masyarakat pun tidak dapat dipisahkan dari sekolah.
Dikatakan demikian, karena keduanya memiliki kepentingan. Sekolah merupakan
lembaga formal yang diserahi mandat untuk mendidik, melatih dan membimbing
generasi muda bagi peranannya di masa depan sementara masyarakat merupakan
pengguna jasa pendidikan itu.
Partisipasi masyarakat merupakan wujud pemberdayaan masyarakat sebagai
daya dukung sekolah dalam rangka pengelolaan sekolah secara efektif dan efisien agar
seoptimal mungkin sasaran dan tujuan pendidikan sekolah dapat tercapai. Partisipasi
masyarakat luas seperti, kalangan dunia usaha, tokoh masyarakat dan organisasi
pemerhati pendidikan dengan upaya-upayanya yang dapat dilakukan mulai pada tahap
perumusan kebijaksanaan implementasi kebijaksanaan secara operasional serta evaluasi
dan pengawasan dan pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan sekolah.
4. Kerangka Pikir
Sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang didesain untuk dapat
berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta
peningkatan derajat sosial masyarakat bangsa, sekolah sebagai institusi pendidikan perlu
dikelola, diatur, ditata dan diberdayakan agar sekolah dapat menghasilkan produk atau
hasil

secara

optimal.

Dengan

kata

lain,

sekolah

sebagai

lembaga

tempat

penyelenggaraan pendidikan, merupakan sistem yang memiliki berbagai perangkat dan


unsur yang saling berkaitan yang memerlukan pemberdayaan.

51
Sekolah sebagai institusi/lembaga pendidikan, merupakan wadah tempat proses
pendidikan dilakukan, memiliki sistem yang kompleks dan dinamis. Dalam kegiatannya,
sekolah adalah tempat yang bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid,
melainkan berada dalam satu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan, oleh karena
itu sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan.
Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien, merupakan
suatu upaya peningkatan pengelolaan dan pemberdayaan sekolah sebagai lembaga
pendidikan. Implikasi pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah perlunya
dukungan dan peran aktif kepala sekolah, guru dan masyarakat sebagai pihak yang
terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah.
Dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah, kepala sekolah
sebagai pucuk pimpinan perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan, perencanaan dan
pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. Wibawa kepala sekolah harus
ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian, semangat belajar,
disiplin kerja, keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim
kerja yang kondusif.
Kepala sekolah dituntut untuk melakukan tugas dan fungsinya sebagai manajer
sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar, dengan melakukan supervisi
kelas, membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Disamping itu kepala
sekolah juga harus melakukan tukar pikiran sumbang saran, study banding antara
sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah yang lain.
Guru kelas sebagai pelaksana proses belajar mengajar di kelas harus dapat
berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Guru memegang peranan penting
dalam proses belajar mengajar sebab sekalipun sarana dan prasarana pendidikan lengkap

52
dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai, tetapi kalau sumber daya manusia
yaitu para guru tidak melaksanakan tugas dengan baik dalam proses belajar mengajar,
maka tidak dapat diharapkan kualitas pendidikan para murid, akan meningkat.
Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik dikelas, oleh karena
itu guru perlu siap dengan segala kewajiban baik manajemen maupun persiapan isi
materi pengajaran. Guru juga harus mampu mengorganisasikan kelas dengan baik,
jadwal pelajaran, pembagian tugas peserta didik, penempatan alat dan Iain-Iain harus
dilakukan dengan sebaik-baiknya. Suasana kelas yang menyenangkan dan penuh disiplin
sangat diperlukan untuk mendorong semangat belajar peserta didik, kreativitas dan daya
cipta guru untuk pelaksanaan MBS perlu terus menerus perlu didorong dan
dikembangkan. Partisipasi masyarakat secara material dalam pendanaan operasional
sekolah seperti pemberian beasiswa, menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah serta
bantuan moril yang diharapkan seperti orang tua asuh bagi anak-anak usia sekolah yang
kurang mampu, memberikan masukan berupa pendapat dan pemikiran dalam rangka
Pendidikan
meningkatkan mutu pendidikan Dinas
di sekolah.
Dengan demikian pelaksanaan manajemen
Kabupaten Bone

berbasis sekolah mensyaratkan dukungan dan partisipasi aktif paling tidak dari tiga
pihak terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah, yakni kepala sekolah, guru dan
SMP Negeri 4 Watampone

masyarakat. Jika ketiga unsur tersebut terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses
belajar mengajar di sekolah, dapat diharapkan kualitas pendidikan peserta didik (murid)
Manajemen Berbasis Sekolah

akan meningkat sehingga mampu mengikuti perkembangan dan tuntutan untuk tahap
pendidikan selanjutnya.
Kinerja Guru

Kinerja Kepala

Partisipasi

Masyarakat
Untuk memperoleh gambaranSekolah
yang. jelas tentang
arah penelitian ini secara

skematis digambarkan kerangka pikir ini seperti dapat dilihat pada Gambar 1
Kelengkapan Program
Mengajar
Penyajian Materi
Pelajaran
Evaluasi dan Analisis
Hasil Belajar
Program Pengajaran
dan Perbaikan

Kepsek. sebagai Educator


Kepsek. sebagai Manajer
Kepsek. sebagai Administrasi
Kepsek sebagai Supervisor
Kepsek sebagai Pemimpin
Kepsek sebagai Inovator
Kepsek sebagai Motivator

Partisipasi dalam
Perencanaan Sekolah
Partisipasi dalam
Perencanaan
Program Sekolah
Partisipasi dalam
Monitoring

53

Gambar 2.1. Sketsa Kerangka Pikir

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif
untuk menjelaskan analisis implementasi pelaksanaan manajemen berbasis Sekolah
dalam proses belajar mengajar pada tingkat Sekolah Menengah Pertama. Objek yang

54
diteliti adalah kinerja kepala sekolah, kinerja guru dan partisipasi masyarakat terhadap
proses belajar mengajar, sedangkan subjeknya adalah kepala sekolah, guru dan
masyarakat.
Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum
dengan

pertimbangan

bahwa

Sekolah

Menengah

Pertama

telah

memiliki

kewenangan dan tanggung jawab pada tahap awal pelaksanaan manajemen berbasis
sekolahdalam

berbagai

bidang

untuk

mencapai

tujuan

pendidikan

sehingga

memungkinkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan baik karena berbagi


faktor-faktor pendukung yang dimiliki seperti, sumber daya guru (lebih banyak
menggunakan guru inti), sarana dan prasarana serta infrastruktur sekolah yang cukup
memadai.
B. Defenisi Operasional Variabel
Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang akan diteliti dan dianalisis
yang diduga berkaitan dengan pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah, yakni
(1) kinerja kepala sekolah, (2) kinerja guru dalam proses belajar mengajar, (3) partisipasi
masyarakat serta (4) faktor pendukung serta faktor penghambat pelaksanaan manajemen
berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus.
Variabel tersebut didefinisikan sebagai berikut:
56
1. Manajemen berbasis sekolah adalah bentuk pengelolaan sekolah berdasarkan sumber
daya yang dimiliki sekolah secara efektif dan efisien dalam rangka, pencapaian
sasaran dan tujuan pendidikan.
2. Kinerja kepala sekolah yaitu, kemampuan melaksanakan tugas dan fungsi jabatan
sekolah. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai kepala
sekolah yang meliputi tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai: (1) manajer,

55
(2) administrator, (3) supervisor (4) pemimpin, (5) innovator, (6) motivator. Variabel
ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah, setiap
pertanyaan akan diberi skor menunjukkan kinerja kepala sekolah.
3. Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan proses belajar
mengajar di kelas. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi guru
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar meliputi : (1) kelengkapan program
belajar mengajar, (2) penyajian materi (3) evaluasi hasil proses belajar mengajar, dan
(4) program perbaikan dan pengayaan prosesbelajar mengajar. Variabel ini diukur
dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah, setiap pertanyaan
akar, diberi skor dan jumlah skor menunjukkan kinerja guru.
4. Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara sukarela dalam kegiatan
pengelolaan dan pengembangan sekolah. Indikator variabel ini adalah : (1) partisipasi
masyarakat dalam program perencanaan sekolah, (2) pelaksanaan program sekolah
menggunakan dan (3) evaluasi dan monitoring program sekolah. Variabel ini diukur
dengan mengajukan serangkaian pertanyaan masyarakat, yakni anggota komite
sekolah sebagai perwakilan orang tua siswa di sekolah, setiap pertanyaan akan
diberikan skor dan jumlah skor akan menunjukkan tinggi rendahnya partisipasi
masyarakat.
5. Faktor pendukung dan faktor penghambat adalah segala sesuatu yang dapat
mendukung dan menghambat implementasi pelaksanaan Manajemen Berbasis
Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus dalam upaya untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di sekolah tersebut
C. Variabel Penelitian

56
Berdasarkan variabel yang diteliti dan dianalisis, pelaksanaan penelitian dapat
dijabarkan sebagai berikut:
1. Manajemen Berbasis Sekolah.
Pada variabel manajemen berbasis sekolah akan diteliti tentang bagaimana kinerja
kepala sekolah dengan berbagai sub variabelnya, kinerja guru dengan sub variabelnya
dan kinerja partisipasi masyarakat dengan sub variabelnya.
2. Faktor pendukung dan penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis
sekolah di SMP Negeri 4 Khusus akan dijabarkan secara mendalam dalam penelitian
ini.
D. Instrumen Penelitian
Pengukuran variabel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
instrumen berupa daftar pertanyaan yang meliputi: (1) instrumen kinerja kepala sekolah,
(2) instrumen kinerja guru, (3) instrumen partisipasi masyarakat. Ketiga instrumen
tersebut dikembangkan berdasarkan indikator masing-masing variabel, sebagaimana
dapat dilihat pada Lampiran I.

E. Populasi dan Sampel.


Populasi penelitian ini adalah seluruh

komponen yang terdapat pada

SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum yang terlibat langsung dengan aktivitas
pembelajaran berjumlah 66 guru, baik yang berstatus sebagai pegawai tetap maupun
yang berstatus sebagai honorer. Mengingat jumlah populasi yang relatif besar, maka
dilakukan tehnik sampling.
Pemilihan sampel dilakukan secara bertujuan (purposive) dengan hanya memilih
sebahagian orang sebagai sampel. Alasan Pemilihan sampel ini karena orang-orang

57
tersebut dianggap mempunyai kesiapan dalam memberikan informasi yang diperlukan
selama penelitian. Sumber data penelitian ini terdiri dari kepala sekolah, guru, anggota
komite sekolah sebagai perwakilan orang tua/wali yang masing-masing terdapat pada
SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Selanjutnya responder dipilih secara
purposive dan dijadikan sampel yang dianggap memahami permasalahan penelitian.
Responden diambil dari kepala sekolah, 24 guru, 24 anggota komite yang mewakili
orang tua wali atau seluruhnya 49 Dengan perincian sebagai berikut:
a. Kepala sekolah, yaitu untuk memperoleh keterangan mengenai usaha-usahanya dalam
mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4
Khusus.
b. Wakil kepala sekolah, yaitu untuk memperoleh keterangan tentang upaya-upaya yang
dilakukan dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP
Negeri 4 Khusus
c. Guru-guru, yaitu untuk memperoleh keterangan sebagai pelaksana langsung dalam
implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus.
d. Wakasek kurikulum dan pengajaran dan Wakasek Kesiswaan
e. Kapala Tata Usaha
f. Orang tua siswa dalam hal ini yang diwakili Komite sekolah, yaitu untuk
memperoleh keterangan sejauh mana perannya sebagai wakil dari orang tua siswa dan
patner sekolah dalam pengimplementasian Manajemen Berbasis Sekolah di SMP
Negeri 4 Khusus.
F. Metode Pengumpulan Data
1. Metode observasi

58
Metode observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan
sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki, dalam arti yang luas observasi tidak
hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Menurut Suharsimi Arikunto (1996:57) wawancara adalah kegiatan
memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata atau pengamatan yang meliputi
kegiatan, pemusatan perhatian terhadap suatu objek dan menggunakan seluruh panca
indera (Suharsimi Arikunto, 1996:57). Sedangkan menurut Mardalis, observasi atau
pengamatan merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk
menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan, atau suatu studi yang
disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala psikis
dengan jalan mengamati dan mencatat Observasi atau pengamatan secara langsung.
Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang
pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Metode ini
digunakan untuk mengumpulkan data-data secara langsung dan sistematis terhadap
obyek yang diteliti untuk memperoleh data lengkap mengenai kondisi umum,
lingkungan sekolah, kegiatan proses belajar mengajar di SMP Negeri 4 Khusus, keadaan
dan fasilitas pendidikan, kondisi belajar siswa, keadaan manajemen-manajemen mulai
dari kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan, kesiswaan, sarana prasarana,
keuangan, Humas dan manajemen layanan khusus serta dalam melaksanakan
Manajemen Berbasis Sekolah, dan lain sebagainya.
2. Metode wawancara.
Metode wawancara atau interview adalah suatu metode yang dilakukan dengan
jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data melalui dialog (tanya jawab) secara
lisan baik langsung maupun tidak langsung untuk menyelidiki pengalaman, perasaan,

59
motif, serta motivasi. (Sutrisno Hadi, 2000: 136). Wawancara digunakan untuk
mengungkapkan data tentang: a). Bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah
bagi SMP Negeri 4 Khusus b), serta

faktor-faktor apa

yang mendukung dan

menghambat dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus.


Wawancara tampaknya merupakan alat pengumpul data (informasi) yang langsung
tentang beberapa jenis data sosial, baik yang terpadu maupun manifes.
Sedangkan menurut Lexy J. Moleong, wawancara adalah percakapan dengan
maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara
(interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
3. Metode Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis.
Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis
seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian,
dan sebagainya. Dalam pengertian yang lebih luas, dokumen bukan hanya yang
berwujud tulisan saja, tetapi dapat berupa benda-benda peninggalan seperti prasasti dan
simbol-simbol. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, legger, agenda dan
sebagainya. (Suharsimi Arikunto, 1998: 149).
Dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi dan menambah data yang
diperoleh melalui wawancara dan observasi. Sumber informasi yang dibuat dokumentasi
adalah sumber informasi yang sangat penting dan dapat menggambarkan pelaksanaan
manajemen berbasis sekolah seperti data keadaan siswa dan lain lain baik yang terdapat
pada sekoloah sampel maupun dokumen dari Dinas Pendidikan Kabupaten Umum.

60
Metode ini penulis gunakan untuk meneliti benda-benda tertulis seperti buku raport, data
dari dokumen sekolah tentang sejarah berdirinya SMP Negeri 4 Khusus, jumlah siswa,
responden yang diteliti, daftar tenaga pendidik dan kependidikan dan lain sebagainya.
G. Teknik Analisa Data
Adalah proses penyusunan, pengaturan dan pengolahan data agar dapat
digunakan untuk membenarkan atau menyalahkan hipotesis (Sudjana, 1991: 76). Dalam
menganalisa data, penulis menggunakan tekhnik analisis deskriptif kualitatif

yang

terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pengumpulan data dan sekaligus reduksi data. Penyajian
data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi (Miller&Huberman, 1992: 16). Pertama,
setelah

pengumpulan

data

selesai

kemudian

dilakukan

reduksi

data

yaitu

menggolongkan, mengarahkan, dan membuang yang tidak perlu dan pengorganisasian


sehingga data terpilahpilah. Kedua, data yang telah direduksi akan disajikan dalam
bentuk narasi. Ketiga, penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap
kedua yang didukung oleh tabel untuk mengetahui kecenderungan variabel yang diteliti
lalu selanjutnya menarik kesimpulan.
Sedangkan untuk menganalisa faktor pendukung dan penghambat maka
digunakan metode analisis SWOT yaitu Strength (kekuatan), weaknes (kelemahan),
opportunity (peluang), treath (ancaman). Dalam proses pengambilan data di lapangan
untuk menjaga kevalidan data yag diperoleh, penulis menggunakan instrumen
pengumpulan data yang berupa pertanyaan kepada responden, penulis juga melakukan
pencatatan data-data yang ada di SMP Negeri 4 Khusus

61

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Identitas Responden
Responden sebanyak 49 orang yang terdiri dari 1 orang kepala sekolah dan 24
orang guru kelas, termasuk diantaranya wakil kepala sekolah dan berbagai urusan yang
diberikan amanat untuk menjalankan tugas-tugas vital di sekolah serta 24 orang komite
sekolah (masyarakat) yang merupakan perwakilan dari orang tua siswa.
Selanjutnya untuk memperoleh informasi yang akurat maka responden dipilih
sengaja dari lokasi sampel Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone Kabupaten
Umum sebagai syarat memenuhi karakteristik sampel yang diteliti. Selanjutnya untuk
memperoleh gambaran secara rinci, akan diuraikan karakteristik responden sebagai
berikut:

62
a. Pangkat/golongan responden
Semakin

tinggi

tingkat

kepangkatan/golongan

merupakan

faktor

yang

diasumsikan signifikan dengan kualitas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya


sebagai seorang guru
Tabel 4.1. Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan
Pangkat/Golongan

Frekuensi (f)

II/a II/d

III/a III/d

20,83

IV/a IV/e

19

79,17

Jumlah
Sumber: Data Primer, 2012

24

Persentase (%)

100

Tabel 4.1 tersebut menunjukkan bahwa dari 24 responden guru yang dijadikan
sampel dapat dibuat perincian sebagai berikut yaitu untuk golongan IIa-IId adalah 0
64
persen, Untuk golongan IIIa-IIId sebanyak 20,83 persen atau sebanyak 5 orang guru, dan
untuk golongan IVa-IVe sebanyak 79,17 persen .
Jika responden guru dianalisis berdasarkan golongan seperti pada tabel yang
disajikan di atas, bahwa responden golongan 1V yang paling tinggi yaitu sebanyak 79,17
persen, hal ini menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memadai dalam rangka
pengembangan manajemen berbasis sekolah dapat terlaksana dengan baik.
b. Tingkat umur responden
Tingkat umur responden dalam penelitian ini dimulai dengan batas usia 30 tahun
sampai 55 tahun ke atas, hal ini diasumsikan keaktifan (enerjik) dalam pelaksanaan
tugas-tugas guru.
Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa responden berusia 30 tahun ke bawah
sebanyak 2 orang atau 8,33 persen, usia responden berusia 31-45 tahun sebanyak 7

63
orang atau sekitar 29,17 persen. Usia 46-55 tahun sebanyak 12 orang atau sekitar 50
persen dan hanya 3 orang responden atau 12.5 persen berusia 55 tahun ke atas.
Tabel 4.2. Penyebaran responden guru menurut kelompok umur
Kelompok Umur

Frekuensi

(f)

Persentase (%)

< 30 tahun

8,33

31-45 tahun

29,17

46- 55 tahun

12

> 55 tahun

12.5

Jumlah

24

100

50

Sumber: Data Primer, 2012


Berdasarkan tabel 4.2 terlihat bahwa dari sebanyak 24 responden guru dan
sampel yang diteliti sebanyak 21 orang atau sekitar 87.5 persen pada usia kurang dari 55
tahun masih sangat potensi dalam kedudukannya baik sebagai guru kelas maupun
kedudukannya sebagai kepala sekolah dianggap cukup enerjik dan berpengalaman
sedang sisanya yaitu sebanyak 3 orang karena berumur di atas 55 tahun atau sekitar 12.5
diasumsikan kurang enerjik.
c. Tingkat pendidikan
Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang
diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden yang berprofesi sebagai
guru. Salah satu indikasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya untuk
meningkatkan kualitas pendidikan baik output maupun inputnya adalah memberikan
kesempatan kepada seluruh tenaga pendidik untuk melanjutkan pendidikannya pada
level D.4 atau setara dengan sarjana.
Tabel 4.3. Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan
SPG Sederajat

Frekuensi (f)

Persentase (%)

64
Diploma :
1. Diploma I

2. Diploma II

3. Diploma III

12,5

4. Sarjana Strata 1

19

79,17

5. Sarjana Strata 2

8,33

Jumlah
Sumber: Data Primer, 2012

24

100

Memperhatikan tabel 4.3 penyebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan


terlihat bahwa kategori pendidikan setingkat SPG sebanyak 0 persen atau tidak ada guru
yang berpendidikan SPG sederajat, demikian halnya dengan pendidikan diploma dua
sebanyak 0 persen, diploma tiga terdapat 3 orang atau 12,5 persen sedang sarjana strata
satu 19 orang atau sekitar 79.17 persen dan 2 orang atau 8,33 persen dengan tingkat
pendidikan strata dua.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari sebanyak 24 responden
guru apabila dianalisis berdasarkan kategori pendidikan rendah. sedang dan tinggi
terlihat bahwa tidak terdapat guru yang berkualifikasi pendidikan rendah dan hanya
terdapat 3 orang guru yang berpendidikan D.III atau sekitar 12,5 persen, disusul guru
yang berpendidikan strata satu S1 tampak sangat mayoritas sebanyak 19 orang atau
sekitar 79,17 persen dan yang berpendidikan stara 2 yakni sebanyak 2 orang atau sekitar
8,33 persen.
Dengan membandingkan masing-masing tingkat pendidikan dalam tabel tersebut
dimana tingginya tingkat pendidikan tinggi (Strata satu) menyusul tingkat pendidikan
diploma

dan strata 2 dapat dikatakan bahwa Keberadaan responden guru sangat

65
signifikan dengan kualitas akademik dengan prospek pengembangan sekolah dalam
rangka pengimplementasian MBS.
1. Responden Masyarakat
Jumlah responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang. Responden
anggota komite sekolah maupun orang tua/wali murid yang dipilih sebagai lokasi sampel
penelitian. Selanjutnya karakteristik responden masyarakat akan diuraikan secara rinci
sebagai berikut:
a. Responden masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan
Responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang. Distribusi responden
menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai
pengaruh terhadap kualitas responden berpartisipasi terhadap pengembangan sekolah.
Responden masyarakat menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai
berikut:
Tabel 4.4. Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan
Tingkat Pendidikan

Frekuensi (f)

Persentase (%)

Tidak Tamat SD

SD

SLTP

8.33

SLTA

37.5

Sarjana

13

54.17

Jumlah
24
100
Sumber: Data Primer, 2012
Tabel 4.4 tentang penyebaran responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat
bahwa tingkat pendidikan menyebar dari SLTP sebanyak 2 orang atau 8.33 persen, SLTA
9 orang atau sekitar 37.5 persen sampai pada tingkat sarjana sebanyak 13 orang atau
sekitar

54.17

persen.

Jika

distribusi

responden

tersebut

dianalisis

dengan

66
membandingkan masing-masing tingkat pendidikan yang ada, dominan responden
berpendidikan sarjana, hal ini menunjukkan bahwa peran serta masyarakat potensial
terlibat dalam setiap kegiatan sekolah.
b. Responden masyarakat berdasarkan pendapatan
Distribusi responden menurut tingkat pendapatan diasumsikan signifikan dengan
tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembangunan/pengembangan sekolah.
Responden masyarakat menurut tingkat pendapatan dapat dilihat pada tabel 4.5:
Tabel 4.5. Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan
Tingkat Pendapatan

Frekuensi (f)

Persentase (%)

< 1 Juta

20,83

1 5 Juta

12

50

< 5 Juta

29,17

Jumlah
24
100
Sumber: Data Primer, 2012
Pada tabel 4.5, menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendapatan 1-5
juta atau 50 persen. Dan bila dibandingkan dengan yang berpendapatan rendah (kurang 1
juta) lebih banyak berpendapatan tinggi (di atas 5 juta) yaitu sebesar 29,17 persen dan
jumlah sampel yang diteliti (sebanyak 24 orang). Dari Persentase ini jika dianalisis,
maka tingkat pendapatan masyarakat potensial terhadap pengembangan sekolah menjadi
lebih baik.
2. Latar belakang pekerjaan responden masyarakat
Latar belakang pekerjaan dapat diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi
masyarakat terhadap pengembangan sekolah. Biasanya tingkat pekerjaan yang dimiliki
oleh seseorang sangat mendukung dalam penetapan kebijakan pada sebuah institusi
terlepas dari konsep politik maupun sosial. Adapun tabel penyebaran tingkat dan latar
belakang pekerjaan dapat dijelaskan melalui tabel 4.6 di bawah ini:

67
Tabel 4.6. Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan
Tingkat Pendidikan

Frekuensi (f)

Persentase (%)

Pegawai Negeri

14

41,67

Pensiunan Pegawai Negeri

20.83

Wiraswasta

37.5

Jumlah
24
100
Sumber: Data Primer, 2012
Dengan melihat tabel 4.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden
memiliki latar belakang pekerjaan sebagai pegawai negeri yaitu sebanyak 9 orang atau
sekitar 41,67, menyusul wiraswasta 8 orang atau sekitar 37,5 persen sedang pensiunan
pegawai negeri yang terlibat dalam komite sekolah hanya 4 orang atau sekitar 20.83
persen.
Memperhatikan tabel tentang penyebaran responded menurut latar belakang
pekerjaan bahwa pegawai negeri sipil yang dominan memperlihatkan tingkat partisipasi
paling tinggi, kemudian kalangan wiraswasta juga memperlihatkan tingkat partisipasi
yang cukup tinggi, hal tersebut jika dianalisis bahwa selama ini perhatian dunia
usaha/wiraswasta yang menjadi sorotan masyarakat telah mengalami perubahan yang
mendasar sebagai akibat dan perubahan subsistem manajemen pendidikan yaitu
manajemen berbasis sekolah.
C. Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus
Kabupaten Umum
Secara khusus variabel kinerja kepala sekolah dalam penelitian ini diukur dengan
menggunakan quosioner sebagai pedoman wawancara untuk menganlisis aktivitas
kinerjanya sebagai kepala sekolah serta melakukan pengamatan secara seksama
mengenai kondisi riil berkaitan dengan implementasi manajemen berbasis sekolah.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja kepala sekolah adalah instrumen

68
yang sama dikeluarkan oleh departemen pendidikan nasional, Dirjen Dikdasmen tahun
2000, dengan upaya memotret keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dan sekaligus
menggambarkan kondisi obyektif profit sekolah secara utuh. Kinerja sekolah merupakan
keterpaduan semua warga sekolah yang tidak terlepas dan pelaksanaan tugas kepala
sekolah (Dirjen Dikdasmen 2000)
Untuk kinerja kepala sekolah dipakai 7 (tujuh) komponen penilaian yaitu
(1) kepala sekolah sebagai edukator (2) kepala sekolah sebagai manajer, (3) kepala.
sekolah sebagai administrator, (4) kepala sekolah sebagai supervisor, (5) kepala sekolah
sebagai leader, (6) kepala sekolah sebagai innovator, dan (7) kepala sekolah sebagai
motivator.
Kepala Sekolah sebagai Pendidik (Edukator).
Sebagai edukator, kepala sekolah bertugas untuk membimbing guru, tenaga
kependidikan, peserta didik, mengikuti perkembangan iptek, dan memberi teladan yang
baik. Dalam melakukan fungsinya sebagai edukator, kepala sekolah harus memiliki
strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di
sekolahnya. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada
warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan, serta
melaksanakan model pembelajaran yang menarik, seperti team teaching, moving class
dan mengadakan program akselerasi bagi peserta didik yang cerdas di atas normal.
Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya
sebagai edukator, khususnya dalam peningkatan kinerja tenaga kependidikan dan
prestasi belajar peserta didik adalah sebagai berikut: a) mengikutsertakan guru-guru
dalam penataran, atau pendidikan lanjutan; b) menggerakkan tim evaluasi hasil belajar
peserta didik; c) menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah, dengan cara

69
mendorong para guru untuk memulai dan mengakhiri pembelajaran sesuai waktu yang
telah ditentukan, serta memanfaatkannya secara efektif dan efisien untuk kepentingan
pembelajaran; dan sebagainya
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala SMPN 4 Watampone Drs Mahmud
MM kegiatan pembelajaran di sekolahnya berjalan dengan tertib, bahkan beliau sebagai
kepala sekolah mendapat tugas mengajar di kelas dengan jumlah jam wajib sebanyak 6
jam.
Kepala Sekolah itu adalah tugas tambahan yang dipercayakan pemerintah kepada saya
untuk memimpin lembaga ini. Tugas utama saya adalah mengajar, membimbing siswa
serta membimbing guru dalam peningkatan proses pembelajaran. dan itu fungsi utama
saya sebagai seorang edukator atau tenaga pendidik, meskipun saya menyadari kegiatan
diluar yang berkaitan dengan kepentingan sekolah terkadang membuat saya tidak
mengajar. Sekalipun demikian saya akan menggantinya atau mencarikan waktu untuk
tetap mengajar pada kelas yang saya ajar. Khusus untuk membimbing siswa, saya
serahkan ke pembina kesiswaan, sedangkan untuk pembimbingan guru diserahkan
kepada tim yang saya bentuk untuk memantau kinerja guru (14 Maret 2012).
Apa yang disampaikan oleh kepala SMPM 4 Watampone, sejalan dengan yang
diinformasikan oleh Wakasek Drs Suradi dan bapak Muh Amin sebagai urusan
Kurikulum. Tugas diluar dan tamu yang datang terkadang menyebabkan kepala sekolah
tidak masuk mengajar dikelas, tetapi tetap mencari waktu di sore hari untuk mengajar.
Oleh karena itu kami berusaha bekerja semaksimal mungkin agar tugas utama kepesek
tidak terbengkalai maka jam mengajar kepala sekolah kami tempatkan pada jam 1dan 2
setiap hari senin sampai jumat.
Kami memahami bahwa kepala sekolah memiliki kesibukan yang teramat padat
sehingga tugas mengajarnya terkadang terabaikan, meskipun beliau tetap menggantinya
di sore hari. Karena itu, kami membuat jadwal mengajar yang tetap memungkinkan
kepala sekolah tetap mengajar dengan memberi jadwal jam 1-2 setiap hari Senin-Rabu,
agar aktivitas pembelajaran siswa tidak terganggu (15 Maret 2012).
Berdasarkan keterangan diatas, kepala sekolah sebagai seorang edukator telah
bekerja sesuai standar yang berlaku. Dan menurut analisis penulis bahwa prilaku kepala

70
SMPN 4 Watampone yang mengajar dalam kelas dan berusaha menggantinya jika
berhalangan masuk adalah sebuah prilaku yang patut ditiru oleh kepala sekolah yang
lain yang terkadang hanya namanya yang tercantum dalam jadwal/roster mengajar tetapi
orang lain yang menjalankannya.
Hasil

wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah

Pertama Negeri 4 Watampone:


a) Masuk kelas mengajar, dengan jumlah jam wajib 6 jam pelajaran/minggu yang
dilaksanakannya setiap hari Senin-Rabu dengan masuk pada jam pertama sampai jam
kedua.
b) Kepala SMP Negeri 4 Khusus telah melaksanakan fungsinya sebagai Educator
(pendidik) sebagaimana yang diharapkan dalam MBS yaitu kepala sekolah tetap
menjalankan aktivitas mengajar dalam kelas.
Adapun bentuk riil dan masing-masing tugas yang telah dilakukan Kepala Sekolah
tersebut di atas adalah :
a) Bersama dengan tim yang dibentuk dari urusan kurikulum dan pengajaran, kepala
sekolah Membimbing guru dalam meningkatkan kinerja mereka terutama bagaimana
menyusun RPP dan mengajar dengan memanfaatkan tekhnologikhususnya dalam hal
kegiatan proses belajar mengajar dan
b) membimbing siswa dengan memberikan materi pembelajaran sekaligus memotivasi
siswa untuk berprestasi.
Kegiatan kepala sekolah masuk mengajar adalah selain sebagai tugas pokok juga
memberi contoh kepada guru agar guru dapat melaksanakan tugasnya secara optimal dan
siswa dapat termotivasi untuk belajar dengan baik.

71
Sebagai seorang manajer, Kepala Sekolah diharuskan mampu mensinkronkan
antara berbagai program yang telah disusun dengan memanfaatkan sumber daya sekolah
yang tersedia yang disesuaikan dengan arah dan kondisi sekolah, administrasi sekolah,
uraian tugas berdasarkan kemampuan personil serta uraian tugas organisasi. Berdasarkan
wawancara dengan ibu Rosmawati sebagai kepala tata usaha dan pak Herman sebagai
wakasek kurikulum dan pengajaran, bahwa masih terdapat beberapa kelemahan yang
dilakukan oleh kepala sekolah sebagai seorang manajer yang seharusnya kelemahan
tersebut bisa diminimalisir bahkan ditiadakan.
Potensi guru disekolah kami termasuk pegawai dari segi jumlah sangatlah besar, namun
kepala sekolah sering memberikan tugas rangkap kepada seorang guru atau pegawai
sehingga sumber daya yang seharusnya bisa dimaksimalkan perannya menjadi
berkurang, seperti dalam kegiatan ketatausahaan, banyak tenaga honorer yang terparkir
yang tenaganya hanya kadang dipakai untuk mengurus atau mengerjakan hal yang sama,
padahal masih banyak pekerjaan lain(27 Maret 2012).
Meskipun demikian, ditambahkan oleh ibu Rosmawati, bahwa kepala sekolah
tetap menempatkan orang-orang yang dianggap sangat profesional dalam hal-hal yang
sangat urgensial untuk kemajuan sekolah, karena semua urusan yang diangkat untuk
mendampingi beliau dalam membantu menjalankan tugasnya adalah orang-orang
pilihan, sehingga kelemahan-kelemahan yang terjadi dapat cepat diatasi.
Kepala sekolah sangat jeli melihat guru atau pegawai yang profesional untuk
ditempatkan pada bidang atau urusan yang sangat strategis dalam rangka pengembangan
sekolah dan sangat membantu meringankan pekerjaan kepala sekolah(23 Maret 2012).
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone sebagai seorang manajer telah
fungsinya dengan baik dengan catatan masih perlu melakukan

melaksanakan
koordinasi antar

pegawai khususnya pegawai tata usaha. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing
uraian tugas yang telah dilakukan kepala sekolah tersebut di atas adalah :

72
1. Pembuatan Program :
Program utama yang menjadi fokus antara lain adalah (1) Program kerja kepala
sekolah adanya :
a) Program jangka panjang (8 tahun), jangka menengah (4 tahun) dan jangka pendek
baik akademik maupun non akademik, penyusunan RAPBS serta dan mempunyai
mekanisme monitor dan evaluasi pelaksanaan program secara sistematika.
b) Memiliki susunan kepegawaian sekolah
c) Memanfaatkan sumber daya manusia serta sarana-prasarana secara optimal.
d) Mempunyai catatan kinerja sumber daya manusia yang ada disekolah serta program
peningkatan mutu.
Kepala Sekolah sebagai Administrator
Administrasi merupakan suatu proses yang menyeluruh dan terdiri dari
bermacam kegiatan atau aktivitas di dalam pelaksanaannya. Sebagai administator, kepala
sekolah bertanggung jawab atas kelancaran segala pekerjaan dan kegiatan administratif
di sekolahnya. Aktivitas administratif adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan
pencatatan, penyusunan dan dokumentasi program dan kegiatan sekolah. Secara
spesifik, kepala sekolah juga dituntut untuk mengelola kurikulum, mengelola
administrasi sarana dan prasarana, mengelola administrasi kearsipan, dan mengelola
administrasi keuangan.
Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsi sebagai administrator.
Adapun. bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan
kepala sekolah sebagai seorang administrator di SMPN 4 Watampone tersebut di atas
adalah :

73
a. Memiliki dokumen yang berkaitan dengan laporan penggunaan dana bos, dokumen
penyusunan RAPBS dan dokumen-dokumen lainnya yang berkaitan dengan
pemanfaatan dana.
b. inovasi yang mengikuti perkembangan dunia pendidikan dengan tujuan meningkatkan
mutu pendidikan berdasarkan pengembangan kurikulum dilakukan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan Nasiona
c. Administrasi kepala sekolah yang dapat memperlancar semua kegiatan kepala
sekolah yang dilengkapi beberapa administrasi antara lain administrasi kesiswaan,
keuangan, sarana dan prasarana dan administrasi persuratan yang bertujuan untuk
mempermudah/ memperlancar segala sesuatu tugas kepala sekolah.
Sejalan dengan fungsinya sebagai seorang administrator, Kepala SMP Negeri 4
Khusus Kabupaten Umum telah berusaha secara maksimal untuk mengadministrasikan
berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara
yang dilakukan oleh penulis kepada kepala sekolah, beliau menyatakan:
Saya berusaha untuk mengarsipkan setiap laporan yang berkaitan dengan keuangan,
kegiatan kesiswaan, persuratan, penyusunan dan dokumentasi program serta pengelolaan
pemanfaatan sarana dan prasarana. Meskipun demikian karena banyaknya dokumen
yang harus diarsipkan maka saya mempercayakan kepada kepala tata usaha untuk
menghandel sebagian dari tugas-tugas saya selaku administrator, bahkan dokumen yang
berkaitan dengan kegiatan kesiswaan juga banyak yang dipegang langsung oleh urusan
kesiswaan( 27 Maret 2012).

Kepala Sekolah sebagai Supervisor.


Supervisi juga dapat diartikan sebagai pembinaan yang diberikan kepada seluruh
staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan
situasi belajar mengajar dengan lebih baik sesuai dengan tujuan pendidikan. Kepala
sekolah sebagai supervisior mempunyai peran dan tanggung jawab untuk membina,

74
memantau, dan memperbaiki proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan. Supervisi kepala sekolah dapat dilakukan secara individual maupun
kelompok. Di antara tugas-tugas kepala sekolah sebagai supervisor adalah: 1) Membantu
stafnya menyusun program; 2) Membantu stafnya mempertinggi kecakapan dan
keterampilan mengajar; dan 3) Mengadakan evaluasi secara kontinyu tentang
kesanggupan stafnya dan tentang kemajuan program pendidikan pada umumnya.
Keberhasilan peran kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan
oleh: 1) meningkatnya kesadaran guru dan staf untuk meningkatkan kinerjanya; dan
2) meningkatakan keterampilan guru dan staf dalam melaksanakan tugasnya.
Sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan kepala sekolah, Bapak Drs.
Mahmud, MM, bahwa tugasnya sebagai seorang supervisor belumlah berlangsung
dengan optimal, karena masih ada guru yang mengajar tidak sesuai dengan program
yang telah disusunnya, disisi lain kemampuan mengajar yang diperlihatkan oleh guru
yang disupervisi terlihat masih sangat rendah.
Saya menyadari bahwa kemampuan mengajar antara guru yang satu dengan yang lain
tidaklah sama, tergantung kepada kemampuan setiap guru. Setiap 3 bulan sekali saya
melakukan supervisi akademik dan supervisi manajerial untuk memantau aktivitas
pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan selama hasil pemantauan masih ada guru
yang belum membuat RPP padahal sudah disiapkan filenya oleh urusan kurikulum dan
urusan pengajaran. Disis lain, aktivitas pembelajaran yang dilakukan belumlah
mengaktifkan siswa sehingga pembelajaran yang sifatnya Joyfull Learning masih jauh
dari harapan(27 Maret 2012).
Kepala Sekolah sebagai Leader
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat
mendorong sekolah dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui
program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Untuk kepentingan
tersebut, kepala sekolah harus mampu mempengaruhi dan menggerakkan sumber daya
sekolah dalam kaitannya dengan perencanaan dan evaluasi program sekolah,

75
pengembangan kurikulum, pembelajaran yang berkarakter, pengelolaan ketenagaan,
sarana dan sumber belajar, keuangan, pelayanan siswa, hubungan sekolah dengan
masyarakat, penciptaan iklim sekolah, dan sebagainya. Kondisi ini sejalan dengan apa
yang disampaikan oleh kepala sekolahDrs. Mahmud, MM bahwa:
Kedudukannya sebagai kepala sekolah sangat berkaitan erat dengan perencanaan dan
evaluasi program , pengelolaan ketenagaan, pemanfaatan dana serta penciptaan iklim
sekolah yang kondusif. Sebagai orang yang dipercayakan untuk memimpin SMPN 4
Watampone, terkadang sikap otoriter tetap dipakai agar sistem tetap berjalan karena jika
terlalu lemah, bawahan bisa semakin menjadi-jadi, bahkan sebagai pimpinan saya harus
berani mengambil resiko untuk kepentingan bersama. Perumusan visi dan misi demi
sebuah pembaharuan harus menjadi prioritas utama demi terselenggarannya pendidikan
yang bermartabat(27 Maret 2012).
Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing kegiatan uraian dan tugas yang
telah dilakukan kepala sekolah di atas dapat dijabarkan sebagai berikut:
a) Mengenal bawahannya
Kepala sekolah harus mengenal bawahan dari dekat diantaranya jenjang pendidikan,
tingkat golongan, kepribadian dan wawasan yang dimiliki guru serta memberikan
penghargaan bagi guru yang mengharumkan nama sekolah.
b) Berani mengambil resiko
Tidak semua kepala sekolah berani mengambil resiko atau bertanggung jawab dalam
kehidupan di sekolah. Misalkan gurunya dipindahkan tanpa pemberitahuan terlebih
dahulu, pengamperaan kekurangan gaji guru terlambat. Solusinya dikoordinasikan
bersama

dengan

semua

personil sekolah dan komite sekolah. Bahkan kepala

sekolah tidak segan untuk turun kelapangan memperjuangkan bantuan bagi siswa
yang tidak mampu.
c) Memiliki Visi dan Misi

76
Sekolah harus memiliki visi dan misi yang bertujuan untuk kesiapan kedepan demi
terlaksananya pendidikan yang efektif dan efisien.
d) Gagasan Pembaharuan
Kepala sekolah memikirkan akan perkembangan sekolahnya sehingga dapat membuat
program-program sebagai pembaharuan yang ujung-ujungnya peningkatan mutu dan
peningkatan kualitas sekolah.
e) Evaluasi.
Pelaksanaan

evaluasi

dalam

fungsinya

sebagai

leader

bahwa

semua

tanggungjawabnya dilaksanakan sepenuhnya yaitu semua stafnya dinilai berdasarkan


hasil yang sudah dicapai dengan pengajuan Kriteria yang didapat sebagai
dasar tindak lanjut perbaikan (kalau perlu), pelaksanaan pengembangan kegiatan
pembelajaran

dan

hasil

kerja

guru

penetapan

dan

Kenaikan

kelas,

administrasi, daftar hadir guru (jam dan harian), pembagian tugas guru, kesemuanya
hal tersebut di atas dilaksanakan secara demokratis. Hasil tersebut di atas
menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4
Watampone Kabupaten Umum dapat melaksanakan tugas/fungsinya sebagai leader/
pemimpin.
Berdasarkan perannya sebagai seorang leader atau pemimpin terdapat perbedaan
cara pandang antara beberapa orang guru dengan kinerja kepala sekolah sebagai seorang
leader. Jalani Salah seorang guru senior yang diwawancarai mengatakan bahwa:
Kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin dianggap belumlah memihak kepada
kepentingan guru dan siswa. Banyak kebijakan yang dibuat belum mencerminkan
kepentingan guru padahal sumber pendanaan sangat menunjang untuk berbagai kegiatan
yang dilakukan. Sambil memberi contoh tentang kegiatan ulangan, baik ulangan harian,
ulangan semester, ulangan tengah semester serta berbagai aktivitas kesiswaan kurang
mendapat perhatian dari kepala sekolah. Memang kami akui, bahwa kepala sekolah
banyak berjuang untuk siswa tidak mampu agar mendapatkan bantuan, baik bantuan dari

77
provinsi maupun bantuan dari pusat, tetapi manakala menyangkut tentang pemanfaatan
dana bos untuk kepentingan guru dan siswa, kepala sekolah terkesan bersikap
otoriter,padahal telah banyak kritikan untuk memperbaiki kinerja beliau (28 bapak
kepala 2012).
Apa yang disampaikan oleh sala seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut
adalah bentuk ketidakpuasan atas kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin
yang terkesan cenderung bersikap otoriter dan kebijakan yang dibuat belum
mencerminkan keadilan untuk guru dan siswa. Apa yang disampaikan oleh Jalani juga
dipertegas oleh salah seorang guru yang sering mengkritik kebijakan yang dibuat oleh
kepala sekolah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Andi Asrib Adnan:
Kepala sekolah belumlah bekerja maksimal untuk kepentingan guru dan siswa terutama
dalam pemanfaatan dana. RAPBS yang dibuat terkadang hanyalah dokumen belaka yang
tidak dijadikan acuan untuk melaksanakan setiap program yang telah dibuat. Bahkan
berbagai kegiatan yang dilakukan lebih banyak melibatkan orang dekat ketimbang guru
guru yang lain. Kami akui, kedekatan kepala sekolah dengan penentu kebijakan yang
berada diatasnya telah membawa manfaat besar bagi kemajuan sekolah ditinjau dari segi
bantuan untuk pembangunan infrastruktur tapi itu belumlah cukup.Kepala sekolah
haruslah mampu menyeimbangkan antara kepentingan bawahan dengan kepentingan
atasan(27 Maret 2012).
Dengan mengacu kepada pendapat dua orang guru, menunjukkan bahwa peran
kepala sekolah sebagai seorang leader atau pemimpin belumlah maksimal. Kebijakan
yang dibuat tidaklah mencerminkan kepentingan banyak guru. Bahkan RAPS yang
seharusnya dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan atau program yang disusun
tidak dijadikan acuan melainkan lebih mengarah kepada keinginan pribadi. Dalam MBS,
seorang kepala sekolah haruslah bersikap transparan dan akuntabel untuk kepentingan
semua pihak baik dalam internal sekolah maupun dengan pihak yang berada diluar
sekolah. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah bentuk
kesewenangan yang mungkin akan bertambah, maka dewan guru harus berani
mengemukakan kepada komite sekolah akan kondisi yang terjadi dan dengan demikian

78
diharapkan komite dapat menjadi penyeimbang setiap keputusan yang diambil oleh
pihak sekolah.
Kepala sekolah Sebagai Inovator.
Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai inovator, kepala sekolah
harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan
lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan
teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah dan mengembangkan modelmodel pembelajaran yang inovatif. Peran kepala sekolah sebagai innovator akan
tercermin dari cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktir, kreatif, delegatif,
integratif, rasional dan obyektif, keteladanan, disiplin, serta adaptabel dan fleksibel.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala SekolahDrs Mahmud MM dinyatakan
bahwa:
Semaksimal mungkin, saya harus menjadi teladan bagi guru yang lain, misalkan datang
disekolah tepat waktu bahkan mendahului guru yang lain termasuk ketika pulang, saya
upayakan sebagai orang terakhir yang kembali kerumah. Tujuan utamanya adalah untuk
menanamkan keteladanan dan kedisiplinan. Mendatangkan guru model untuk mengajar
pada satu kelas yang dilihat banyak guru adalah salah satu upaya yang saya lakukan
untuk memotivasi guru agar lebih inovatif dalam mengajar. Tujuan utamanya adalah
bagaimana menggali potensi anak untuk berprestasi baik ditingkat sekolah,kabupaten
maupun provinsi (27 Maret 2012).
Hasil wawancara tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsinya sebagai innovator di
sekolahnya, adapun bentuk kegiatan riil dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah
di atas, adalah :
a. Adanya ide-ide baru yang menjadi pedoman dalam melaksanakan tugas
pengembangan, pembinaan tenaga guru.
b. Melaksanakan pembaharuan di bidang kegiatan ekstrakurikuler, menggali sumber
daya dari komite.

79
c. Mampu berprestasi di sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Untuk membuktikan kebenaran dari apa yang disampaikan oleh kepala sekolah,
Peneliti mewawancarai Yusnani, sebagai salah satu pembina kesiswaan yang dikenal
memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi berdasarkan informasi dari beberapa guru
yang dimintai informasi tentang siapa guru yang paling rajin dan disiplin dimana
sebahagian besar menjawab Yusnani. Dalam wawancara yang dilakukan, beliau
menyatakan:
Berbicara tentang masalah kedisiplinan, kepala sekolah memang terkenal sangat
disiplin. Apa yang kepala sekolah lakukan tidak lain untuk menunjukkan sikap
keteladanan sebagai seorang pemimpin. Karena itu rasanya kami malu jika datang
terlambat. Meskipun demikian tetap ada beberapa orang guru yang sulit untuk datang
tepat pada waktunya padahal jam mengajarnya jam 1. Cuma kami berharap tindakan
kepala sekolah hendaknya dibarengi dengan pemberian penghargaan bagi guru yang
rajin dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan sekolah. Kami juga berharap sikap objektif
dan keterbukaan kepala sekolah juga sampai pada tataran penggunaan dana (28 Maret
2012).
Kepala sekolah Sebagai Motivator
Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk
memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas
dan fungsinya. Motivasi ini dapat tumbuh melalui pengaturan lingkungan fisik,
pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan
berbagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar. Adapun bentuk
kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas kepala sekolah di atas adalah :
a. Kemampuan mengatur lingkungan kerja adalah seorang kepala sekolah mampu
mengatur ruang kepala sekolah yang kondusif untuk bekerja ruang kelas yang
kondusif untuk kegiatan belajar mengajar, UKS dan perpustakaan, dan mengatur
halaman lingkungan sekolah yang sejuk nyaman dan teratur.

80
b. Kemampuan mengatur lingkungan kerja (non fisik) kepala sekolah menciptakan
hubungan kerjasama sesame guru, antara guru dan masyarakat (orang tua siswa) yang
harmonis dan menciptakan rasa aman di lingkungan sekolah.
c. Menetapkan prinsip motivasi yang berupa penghargaan dan hukuman
Setiap kali membicarakan motivasi, hirarki kebutuhan maslow pasti disebutsebut. Hierarki ini didasarkan pada anggapan bahwa pada waktu orang telah memuaskan
satu tingkat kebutuhan tertentu, mereka ingin bergeser ke tingkat yang lebih tinggi
(Hamzah b. Uno, 2006:40). Abraham maslow mengemukakan lima tingkat kebutuhan
yaitu (1) kebutuhan fisiologis,(2) kebutuhan akan rasa aman,(3) kebutuhan akan cinta
kasih atau kebutuhan sosial,(4) kebutuhan akan penghargaan dan (5) kebutuhan akan
aktualisasi diri.
Motivasi kerja guru merupakan hal yang sangat menunjang kinerja guru. Seorang
pemimpin pada sebuah institusi dalam memperhatikan kinerja pegawainya di dasari oleh
berbagai pertimbangan. F.W. Taylor sebagai seorang tokoh manajemen ilmiah
memusatkan perhatian pada sebuah pendekatan bahwa uang merupakan motivasi uatama
bagi seseorang yang bekerja (Hamzah b.Uno,2006:40) Namun perkembangannya
memang berbeda kepada setiap orang dan setiap pekerjaan. Orang yang bekerja dengan
pekerjaan tangan yang sulit, biasanya tidak termotivasi oleh pekerjaan itu sendiri. Dalam
keadaan seperti itu, uang merupakan pendorong semangat utama. Tampaknya
pendekatan manajemen ilmiah Taylor sebagian benar. Yang pasti, tingkat pembayaran
insentif yang tepat bagi orang-orang yang menangani pekerjaan-pekerjaan produksi
menyebabkan peningkatan produktivitas dan lebih banyak upaya. Namun kewaspadaan
perlu diterapkan untuk memastikan bahwa tidak terdapat perubahan mutu.

81
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, Kepala SMP Negeri 4 Khusus
sedikit banyaknya telah berhasil dalam meningkatkan kinerja guru terhadap kontribusi
mereka untuk mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. Meskipun demikian
masih terdapat kelompok-kelompok tertentu yang menganggap motivasi kepala sekolah
dalam meningkatkan kinerja guru dan pegawai belum maksimal terutama dalam bentuk
pemberian penghargaan kepada guru-guru yang sudah bekerja maksimal dalam
memajukan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara peneliiti dengan beberapa orang
guru, diantaranya bapak Madeaming, Pak A. Zulfadli, ibu Harlina, ibu Hj A.Sukmawati,
Pak Syamsuddin, Pak Bachrun Djahidin dan guru-guru lainnya terdapat kesamaan
pandangan akan kinerja kepala sekolah dalam memberikan penghargaan kepada guru
yang sudah bekerja memberikan yang terbaik kepada sekolah.
Kepala Sekolah memang sudah bekerja untuk membangkitkan motivasi guru tetapi
kami rasakan bentuk penghargaan yang diberikan kepada kami belumlah maksimal.
Kami jujur, kami bekerja dengan ikhlas tetapi kami rasanya berat untuk berbuat terbaik
manakala sekolah lain yang jumlah dana BOSnya kecil tetapi bisa melakukan yang
terbaik untuk siswa maupun guru-gurunya, padahal menurut kami persoalan dana sama
sekali bukanlah masalah prinsipil.karena kami tahu, dana BOS terbesar di Kabupaten
Umum adalah SMPN 4 Watampone. Kedepan kami berharap, penghargaan yang
sifatnya materiil kepada siswa maupun guru bisa diperbaiki dan transparansi
pemanfaatan dana baik ke dewan guru maupun ke komite sekolah menjadi lebih terbuka
dan akuntabel(28-3-2012).
Adapun bentuk motivasi yang telah diterapkan oleh Kepala SMP Negeri 4
Khusus kepada guru dan pegawai antara lain:
1. Kepala sekolah berperan aktif dalam membina dan mengembangkan tugas
profesionalisme guru. Pembinaan diberikan secara menyeluruh kepada semua guru
dengan tidak berpihak pada guru tertentu serta membantu memecahkan masalah yang
dihadapi guru bila terdapat kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya.
2. Dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolah menjadikan staf dewan guru sebagai
partner dalam melakukan tugas-tugas pembelajaran di sekolah. Setiap masukan

82
ditampung dengan demokratis, sehingga guru mapun staf administrasi merasa
dihargai.
3. Mendorong partisipasi bawahan dalam melakukan tugas di sekolah dan bertanggung
jawab atas segala kegiatan yang berlangsung di sekolah. Jika terjadi keberhasilan dan
kegagalan bawahan maka itu juga merupakan kegagalan dari kepala sekolah.
4. Pemberian penghargaan meskipun belum berjalan optimal tetap dilakukan oleh
kepala sekolah, baik berupa pujian maupun dalam bentuk material.
5. Bagi guru yang dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga edukatif
yang profesional diberikan teguran, baik secara langsung maupun tidak langsung
dengan selalu mengedepankan prinsip saling menghargai.
Berdasarkan

keadaan

tersebut

maka

peran

kepala

sekolah

dalam

mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah pada bidang motivator telah


berjalan secara optimal walaupun untuk kedepannya bentuk penghargaan kepada guru
harus lebih ditingkatkan, terutama kepada guru dan staf tata usaha yang telah
mencurahkan waktunya untuk kemajuan sekolah, termasuk siswa-siswa yang telah
berjasa mengharumkan nama sekolah. Dengan demikian Kepala sekolah mampu
menerapkan/mengembangkan motivasi infernal dan eksternal bagi warga sekolah.
Serta

menerapkan

prinsip penghargaan dan hukuman. Apabila suasana seperti ini

dilakukan kepala sekolah, maka penilaian guru tentang prilaku kepemimpinan kepala
sekolah akan senatiasa mengarah pada iklim yang kondusif dan ini akan berdampak
pada peningkatan kinerja guru.
D. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama
(SMP) Negeri 4 Watampone
(1). Kelengkapan Program Mengajar

83
Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan
kelengkapan program mengajar adalah:1)Apakah guru-guru di SMPN 4 Watampone
telah memiliki, memahami dan melaksanakan KTSP baik pada dokumen satu maupun
pada dokumen dua,2)Apakah administrasi yang dimiliki oleh guru telah lengkap atau
belum, seperti RPP, silabus, daftar hadir dan daftar nilai, analisis ulangan harian,
program perbaikan dan pengayaan serta jurnal pembelajaran. Berdasarkan hasil
wawancara yang dilakukan kepada 24 responden, hampir semuanya menjawab telah
memiliki,memahami dan melaksanakan KTSP. Hal ini tercermin dari hasil wawancara
dengan ibu A.Muliati dan Ibu A.Hajar sebagai berikut:
Baik dokumen satu maupun dokumen 2 sudah kami pahami dan sudah kami jabarkan
dalam kegiatan pembelajaran. Untuk dokumen satu tidak kami pegang karena itu
menjadi dokumen sekolah, terlalu tebal dan memuat semua komponen mata pelajaran,
sedangkan yang harus kami miliki adalah dokumen dua yang berisi semua kelengkapan
untuk kepentingan kami sebagai guru dan itu dimiliki oleh semua guru karena kepala
sekolah setiap awal semester melakukan pendataan kepada semua guru karena itu
sangat berkaitan dengan penilaian kinerja(28-3-2012).
Dari jawaban yang diberikan, mengindikasikan bahwa tingkat kesadaran guru di
SMPN 4 Watampone sangatlah besar dalam menjalankan tugasnya. Kondisi ini harus
terus dijaga oleh sekolah khususnya kepala SMPN 4 Watampone, karena tanpa kontrol
yang rutin khususnya kelengkapan administrasi maka semuanya akan menjadi kacau,
karena terkadang seseorang hanya akan menjadi telaten dalam menjalankan tugas karena
tuntutan administratif dan ketaatan yang sesaat kepada pimpinan, apalagi jika pimpinan
tersebut dianggap tidak bisa mengakomodir berbagai kepentingan yang ada di sekolah.
Salah satu kekurangan terbesar yang dimiliki oleh guru SMPN 4 Watampone
menurut hasil wawancara dengan urusan kurikulum dan pengajaran, Bapak M.Amin
adalah kurangnya kemampuan guru untuk membuat jurnal pembelajaran yang berkaitan
dengan tugasnya ketika mengajar dalam kelas. Hal ini perlu diperhatikan karena

84
pembuatan jurnal pembelajaran sangat membantu guru untuk memahami setiap batasan
materi yang diajarkannya dalam kelas. Menurut Pak Amin:
Kendala terbesar yang dialami oleh guru-guru disini adalah lemahnya kemampuan
untuk membuat jurnal pembelajaran. Hanya ada beberapa diantara guru yang
melakukannya. Kemungkinan besar mereka tidak membuatnya karena menganggap hal
baru dan kurang disosialisasikan serta tidak menjadi bahan evaluasi dari kepala
sekolah maupun pengawas yang datang ketika melakukan supervisi akademik maupun
manajerial(29-3-2012).
Wujud dan pelaksanaan dari KTSP menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa,
KTSP khususnya pada dokumen 2 perlu dimiliki karena merupakan acuan untuk
menyusun program pengajaran semester/tahunan, di samping kurikulum sebagai
pedoman sekaligus acuan dalam pembuatan program pengajaran dan pembuatan tes,
KTSP juga dibuat dalam bentuk program semester dan program tahunan dan terjabarkan
dalam analisis materi pelajaran dan rencana pembelajaran artinya membuat analisis RPP,
membuat program tahunan, membuat program semester, KKM serta indikator
pembelajaran.
Setiap proses pembelajaran perlu dipahami betul RPP yang telah dibuat, agar
tidak keluar dari tujuan yang diharapkan dan wujud pelaksanaannya dituangkan dalam
program pengajaran dan persiapan mengajar. Karena kalau mengajar tanpa RPP proses
kegiatan belajar mengajar tidak berjalan lancer. Penyusunan KTSP juga merupakan
sebagai pedoman, petunjuk atau acuan dalam penyusunan program pengajaran dan
sekaligus untuk dipedomani dalam pembuatan Tujuan Pembelajaran Khusus yang
sekarang dikenal dengan istilah indikator agar dapat memperlancar proses belajar
mengajar. Untuk memperlancar hal tersebut maka pemerintah pusat telah menyusun
standar kompetensi dan kompetensi dasar agar penyusunan RPP yang akan dibuat dalam
proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dengan langkah-langkah kegiatan

85
menyiapkan materi metode. alat/media sumber usaha dan penelitian sehingga kurikulum
yang ada betul-betul berbasis kompetensi.
Hasil wawancara lain menyebutkan KTSP perlu dimiliki karena merupakan
acuan atau menyusun program pengajaran sebagai dasar atau pedoman untuk membuat
perencanaan pengajaran. Wujud ataupun bentuk dan lingkupnya administrasi mengajar
menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa KTSP, program pengajaran. persiapan
mengajar, bimbingan penyuluhan , kumpulan evaluasi, satuan pelajaran absensi, daftar
nilai dan konseling analisis termasuk jurnal pembelajaran harus dimiliki oleh setiap
guru agar pemberian pelayanan yang maksimal kepada anak didik dapat tercapai
disamping ada juga program analisis dan rencana perbaikan dan kegiatan pengayaan.
Bentuk lain dan administrasi yang sudah lengkap yaitu program pengajaran bimbingan
penyuluhan persiapan mengajar, analisis materi alat peraga, disebutkan juga dalam
wawancara yaitu program tahunan, program semester, persiapan mengajar, alat evaluasi.
analisis materi, daftar nilai. GBPP, analisis pengajaran, kumpulan soal, kumpulan nilai
buku BP analisis soal, buku satuan, rangkuman materi pelayaran.
Bentuk dan persiapan sebelum mengajar itu, menurut hasil wawancara dijelaskan
bahwa persiapan mengajar dalam bentuk satu kali pertemuan, dibukukan setiap mata
pelajaran hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa persiapannya
dalam bentuk 1 (satu) kali pertemuan atau di sesuaikan dengan kondisi yang ada.
Ditambahkan lagi bahwa tiap-tiap mata pelajaran dengan bentuk tertulis dan setiap 1
(satu) kali pertemuan di ketahui dan di tanda tangani oleh kepala sekolah.
Sumber yang lain menyebutkan bahwa bentuk persiapannya hanya berapa materi
dan pola. Ada juga persiapan mengajar harian dalam bentuk matriks, dalam bentuk
rencana pembelajaran. Meliputi inti (penjelasan materi) Tujuan Pembelajaran Khusus,

86
kegiatan awal (motivasi, apersepsi) kegiatan akhir (evaluasi/pegangan) disamping itu
ada juga yang berdasarkan KTSP, ada pula yang

berdasarkan silabus dibutuhkan

permata pelajaran dengan bentuk tertulis, satu kali pertemuan ditanda tangani oleh
kepala sekolah.
Bentuk atau model dan buku daftar nilai siswa menurut hasil wawancara yaitu
satu buku diisi sesuai mata pelajaran mencakup nilai ulangan harian, pengamatan,
portofolio dan pekerjaan rumah ada juga yang berupa ulangan harian (tertulis)
pengamatan, nilai tugas dan portofolio, daftar nilai harian tes hasil belajar hal yang sama
juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa buku daftar nilai siswa itu adalah daftar
nilai ulangan harian. pengamatan portofolio dan sumatif artinya buku itu merupakan satu
buku didalamnya terdapat format dan di isi sesuai mata pelajaran tiap semester atau satu
buku yang didalamnya terdapat format ulangan harian, pekerjaan rumah atau tugas dan
ulangan umum.
Bentuk program perbaikan dan pengayaan yang dilaksanakan menurut hasil
wawancara dengan responden yaitu dengan bentuk tindakan individu, kelompok diberi
pekerjaan/tugas bentuk bimbingan pribadi Ditambahkan pula oleh responden yang lain,
kadang individu kelompok berpasangan dan klasikal diberikan dalam bentuk bimbingan
kelompok dan perorangan. Diberikan buku latihan tanya jawab artinya program
perbaikan di tujukan terhadap siswa yang mengalami kesulitan baik secara klasikal
maupun individu.
c.2 Penyajian Materi Pelajaran.
Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan
kelengkapan penyajian materi pelajaran penguasaan kelas, kegiatan free test dan post
test baik sebelum memulai pelajaran maupun setelah melakukan pembelajaran, proses

87
umpan balik dalam setiap pembelajaran, penggunaan model-model pembelajaran yang
bervariatif serta pemanfaatn alat-alat peraga. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan
dengan kepala sekolah, Drs Mahmud MM, yang sering melakukan supervisi, terdapat
kesan guru yang mengajar banyak yang tidak menguasai kelas.
Ketika supervisi dilakukan, mulai dari awal sampai akhir pembelajaran masih ada
guru yang tidak menguasai kelas. Hal ini terbukti banyak siswa yang terkesan tidak
memperhatikan penjelasan guru, kurang aktif, banyak mengobrol dan tidak melakukan
proses umpan balik. Guru terkesan mengajar seadanya tanpa memperhatikan
keterampilan proses yang harus tercapai. Meskipun demikian, Persentase dari guru
yang bersikap seperti itu tidaklah besar, biasanya hanya dilakukan oleh guru-guru yang
mendekati usia pensiun, sementara Persentase dari guru yang mengajar dengan baik
jauh lebih besar(27-3-2012).
Salah satu faktor yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan sesuai
dengan yang diharapkan adalah sikap kepala sekolah yang terkesan agak enggan untuk
melakukan koreksi mendalam kepada guru-guru yang hampir memasuki usia pensiun.
Sehingga tidak ada upayua maksimal dari guru yang bersangkutan untuk melakukan
koreksi atas pebelajaran yang dilakukannya. Sementara itu bentuk penguasaan kelas
yang dilakukan oleh guru menurut hasil wawancara yaitu dengan motivasi siswa agar
perhatiannya pada pelajaran yang diberikan dan mengupayakan siswa untuk melibatkan
diri dalam belajar.
Bentuk yang lain yang ditentukan ialah menerangkan dan memberi motivasi serta
mengadakan tanya jawab. Hal yang lain yang dilakukan yaitu diberikan penjelasan
singkat, pembacaan doa memberikan kesempatan kepada siswa untuk ditiru oleh
temannya, keterlibatan kelas hendak diperhatikan dan memberikan motivasi berupa
penguatan materi dengan jalan

melaksanakan free test dan post test. Kegiatan ini

dilakukan agar materi yang telah dipelajari siswa dapat tertanam dengan kuat. Kondisi
ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Munir, Bahwa:

88
Penguasaan kelas sangat diperlukan oleh guru untuk mempermudah penerimaan
materi pelajaran. Tanpa penguasaan kelas, maka tujuan pelajaran yang ingin dicapai
menjadi lebih sulit. Untuk memancing respon siswa terhadap materi yang diajarkan
maka kegiatan free test sudah menjadi rutinitas bagi guru-guru di SMPN 4 begitu pula
dengan sebaliknya, kegiatan post test juga dijalankan.Persoalan hasil menjadi standar
kedua, yang penting adalah siswa mau dan terus fokus dalam mengikuti pelajaran.
Kegiatan ini berfungsi untuk memberikan pemahaman materi secara kuat kepada
siswa(28-3-2012).
Kondisi ini jelas sangat diperlukan seorang guru untuk menguasai kelas, agar
optimal dalam pengajian materi sehingga tercipta pembelajaran PAIKEM demi
melahirkan siswa-siswa yang cerdas dan kreatif serta memiliki keimanan karena mereka
juga diwajibkan membaca doa atas surah-surah pendek agar mengenal agama mulai dari
kecil sesuai dengan hadist bahwa tuntutlah ilmu dan lahir sampai liang lahat. Berkaitan
dengan penggunaan model-model pembelajaran, dari 24 responden yang memberikan
jawaban yang ditanyakan peneliti, 17 orang diantaranya atau sekitar 70,83 persen telah
menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif dan sangat menyenangkan bagi
siswa sehingga siswa antusias dalam mengikuti pelajaran, sedangkan 7 orang atau 29,17
persen masih memakai pola lama yang bersifat teacher centered. Terdapat 2 jawaban
yang berbeda atas penggunaan model model pembelajaran di dalam kelas. Ibu Dra
Rahmatiah sebagai guru bahasa inggris yang mengajar dengan model pembelajaran yang
inovatif berpendapat bahwa:
Waktu yang dipakai dengan penggunaan model pembelajaran yang inovatif
terbilang lama, karena pengaturan kelompok harus diatur sedemikian rupa, belum lagi
pengaturan tempat duduk dan meja. Meskipun demikian siswa merasa sangat senang
dengan cara baru yang dilakukan dalam belajar, dimana proses interaksi berjalan
maksimal baik guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa, sehingga tidak terasa
berjalannya waktu. Bentuk dan interaksi tersebut dapat berbentuk tanya jawab. diskusi,
pemberian tugas. tanya jawab ini biasanya guru dengan siswa, siswa dengan guru,
siswa dengan siswa. artinya interaksi ini terjadi agar antara guru dan siswa ada proses
pembelajaran yang menyenangkan dan suasana kelas hidup, baik bentuk tanya jawab
maupun demonstrasi(27-3-2012).

89
Sementara itu Bapak H.Usman Abdullah yang diwawancarai tentang penggunaan
model-model pembelajaran, punya pandangan lain tentang kegiatan pembelajaran yang
dilakukannya. Menurutnya, mengajar bahasa dengan mengajar IPA memiliki ruang
pemahaman yang berbeda, yang mana bahasa inggris, lebih menekankan kepada
kemampuan anak memahami kosakata, sedangkan IPA lebih menekankan kepada
kemampuan anak dalam menguasai dan mengaplikasikan materi, terlebih lagi jika materi
itu harus dijabarkan dalam bentuk perhitungan, sehingga pembelajaran harus lebih
didominasi oleh guru. Pandangan yang sama juga disampaikan oleh guru matematika
yang lainnya seperti ibu A. Nurfaigah S.Pd,

ibu Hamansiah S.Pd, serta pak Drs

Suryadi, M.Pd. Mereka rata-rata berpendapat bahwa:


Ada kelas yang diajar, bagaimanapun metode dan model pembelajaran yang coba
untuk dijalankan tetap sulit terlaksana. Ilmu-ilmu pasti membutuhkan ketenangan dan
keseriusan. Mungkin untuk kelas prestasi model pembelajaran yang inovatif dapat
dijalankan, tetapi bagi kelas reguler biasa, model pembelajaran inovatif menjadi sulit.
Jadi persoalannya bukan kepada mampu atau tidak mampu, tetapi lebih banyak karena
kondisi psikologis siswa yang diajar(29-3-2012).
Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh guru-guru SMPN 4 watampone,
penggunaan model pembelajaran sangat bergantung kepada kondisi psikologis siswa,
suasana hati guru yang mengajar, karakteristik mata pelajaran dan kemampuan untuk
menjalankan model pembelajaran itu sendiri. Dalam MBS, kondisi yang diharapkan
terjadi dalam proses pembelajaran adalah kondisi Joyfull Learning atau pembelajaran
yang menyenangkan. Dalam kegiatan pembelajaran diharapkan guru yang mengajar
dapat menerapkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan,
gembira dan berbobot atau yang biasa disingkat PAIKEM GEMBROT. Secara umum
dapat dianalisis bahwa guru-guru di SMPN 4 Watampone, pada hakekatnya paham
dengan apa yang diinginkan oleh MBS untuk jalannya pembelajaran yang pada akhirnya

90
akan menciptakan guru-guru yang kreatif dan diidolakan oleh siswa. Dan yang paling
penting, pembelajaran itu dapat menciptakan manusia-manusia yang berkarakter, cerdas
Intelektual, Cerdas Spiritual dan Cerdas Emosional.
Berkenaan dengan penggunaan alat-alat peraga yang dapat membantu
pelaksanaan pembelajaran hampir semua responden menjawab telah menggunakan alatalat peraga baik yang sudah tersedia maupun yang dibuat berdasarkan kreasi siswa.
Wujud dan penggunaan alat peraga yang menyatakan ya menurut hasil wawancara
dijelaskan bahwa alat peraga yang sesuai dengan materi yang dibahas, dan diupayakan
mudah diperoleh dilingkungan sekolah siswa, misalnya pemanfaatan sampah untuk daur
ulang, pembuatan pupuk organik, sistem fermentasi, baling-baling kertas memanfaatkan
energi angin, termasuk penggunaan buku paket dan buku penunjang yang lainnya.
Sementara hasil wawancara lain yang kontra dengan hasil wawancara
sebelumnya menyebutkan bahwa, kadang ya kadang tidak sebab sulitnya mencari alat
peraga yang sesuai dengan materi, karena kurangnya bahan/sumber dan kurangnya
biaya. Senada dengan hasil wawancara diatas yaitu ada materi yang tidak membutuhkan
alat peraga seperti masalah pembelajaran pada mata pelajaran sejarah pada rumpun IPS
terpadu seperti masuk dan berkembangnya agama hindu dan budha di Indonesia, hanya
memberikan gambar/perumpamaan. Ibu Hj Baraiyyah, S.Pd dan ibu Arniyanti S.Pd,
guru yang mengajar bidang studi IPS, mengatakan bahwa:
Ada saat tertentu kami memakai alat peraga, apakah itu peta, globe, chart, gambargambar pahlawan dan sebagainya jika materi yang diajarkan membutuhkan alat
peraga seperti itu. Tapi adakalanya, kami tidak memakai alat peraga, karena sulit untuk
mendapatkan bahan dari materi yang diajarkan seperti batu-batuan yang keluar dari
letusan gunung berapi, kerajaan-kerajaan hindu-budha, dan masih banyak lagi yang
lainnya. Bagaimana mungkin kami memakai alat peraga kalau di bone tidak ada
gunung berapi dan bekas kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu budha, katanya
sambil tertawa(28-3-2012).

91
Sebagaimana yang disampaikan oleh kedua guru tersebut, sudah seharusnya
pihak sekolah menyiapkan miniatur atau meminta kepada dinas pendidikan agar segala
hal yang berkaitan dengan materi pelajaran sepanjang pengadaannya sulit diadakan di
daerah dapat di sediakan langsung oleh pemerintah pusat. Salah satu karakteristik MBS
adalah bagaimana mengajarkan materi siswa dibawah ke pengalaman langsung supaya
mereka dapat memaknai, menghayati dan merasakan apa yang dipelajari, bukan hanya
sekedar teori belaka.
Salah satu indikator dari penilaian kinerja guru dalam tataran MBS adalah
bagaimana guru mampu menjalankan fungsinya sebagai evaluator. Adapun yang
menjadi fokus penelitian atas kinerja guru disini adalah:1) Apakah pelaksanaan evaluasi
itu dilakukan secara tertulis atau lisan,2) Apakah penilaian kepada siswa itu
dilaksanakan secara obyektif, transparan dan bertanggung jawab,3) Apakah hasil
pekerjaan siswa setiap kali ulangan dikembalikan atau tidak, serta 4) apakah ada
kegiatan perbaikan/remedial bagi siswa yang tidak tuntas dan program pengayaan bagi
siswa yang dianggap sudah tuntas.
Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan, sebanyak 24 responden
menjawab ya, bahwa mereka telah melaksanakan evaluasi baik dalam bentuk tulisan
maupun dalam bentuk lisan, tetapi hampir semua responden lebih memilih menjawab
mereka melaksanakan evaluasi dengan cara tertulis dengan jumlah guru yang
melaksanakan ulangan tertulis sebanyak 21 orang atau sekitar 87,5 persen sedangkan 3
orang atau 12,5 persen guru menjawab evaluasi yang dilakukannya dengan cara lisan.
Bagi guru yang melaksanakan ujian secara lisan, mereka berpendapat anak-anak menjadi
lebih fokus dan sulit untuk saling menyontek, sebagaimana yang disampaikan oleh ibu
Dra Pancawati dan Ibu Wardana S.Ag:

92
Bentuk penilaian yang saya lakukan adalah menguji siswa dengan cara lisan, selain
lebih mudah memasukkan nilainya siswa, juga mengurangi peluang mereka untuk saling
menyontek. Meskipun agak sulit mengontrol siswa yang belum lisan tetapi dapat
mengurangi tingkat kecurangan. Jika nilainya dianggap sudah memenuhi kriteria
ketuntasan maka tidak perlu dilakukan pengulangan lisan tetapi jika belum maka akan
diadakan perbaikan(29-3-2012).
Sedangkan guru yang melakukan evaluasi dalam bentuk tulisan mempunyai
pandangan lain. Pak Munir S.Pd menyatakan:
evaluasi yang dilakukan dengan bentuk evaluasi tertulis pada setiap akhir pelajaran
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menyerap materi yang
diberikan. Setiap siswa ditanamkan kepercayaan untuk bersikap jujur dan tidak
tergantung kepada siapapun, dan pengawasan yang ketat membuat anak sulit untuk
berbuat curang. Selain tidak ribut, waktu yang diperlukan juga tidak banyak, berbeda
dengan ujian lisan yang terkadang memakan waktu yang cukup lama(29-3-2012).
Mengenai hasil pekerjaan siswa setelah ujian, sebanyak 12 responden menjawab
telah mengembalikan ujian kepada siswanya atau sekitar 50 persen, 9 responden atau
37,5 persen tidak mengembalikan tetapi hanya menyebutkan nilainya sedangkan 3
responden atau sekitar 12,5 persen menjawab tidak karena tidak melaksanakan evaluasi
tertulis. Ibu Harlina S.Pd mengatakan:
Hal tersebut dilakukan, dikarenakan setiap selesai pemeriksaan ulangan, pekerjaan
siswa dikembalikan agar anak-anak dapat mengetahui sejauh mana kemampuannya
dalam menyerap materi, sekaligus pengkoreksian manakala guru keliru dalam
memberikan peniaian, disamping itu apabila tidak dilaksanakan penilaian secara
obyektif/ transparan dan bertanggung jawab kita tidak bisa membedakan mana murid
pintar, sedang dan kurang sehingga hilanglah angka penilaian disamping itu, agar
siswa diperlakukan sama tanpa dibeda-bedakan dan hasil yang didapat siswa harus di
ketahui secara jelas agar menjadikan motivasi untuk berbuat lebih baik, sehingga dapat
dipertanggung jawabkan baik terhadap orang tua, masyarakat, dan Tuhan Yang Maha
Esa.Siswa juga merasa sangat senang jika hasilnya memuaskan begitupun
sebaliknya(30-3-2012).
Sedangkan ibu Kaerlinda Yusuf, S.Pd, punya alasan lain mengapa setiap kali
ujian hasil pekerjaan siswa tidak dikembalikan ujian kepada siswanya, hanya
menyebutkan nilainya. Alasan yang hampir sama juga dikemukakan oleh guru-guru

93
yang tidak mengembalikan pekerjaan siswa yang lebih banyak karena alasan kebersihan.
Rata-rata mereka beranggapan:
Sebelumnya setiap kali ulangan, pasti saya mengembalikan hasil pekerjaan siswa,
tetapi anak-anak tidak punya kepedulian akan apa yang mereka hasilkan, terlebih jika
nilai mereka tidak tuntas, lebih banyak dirobek atau dibuang secara sembarangan,
karena itulah saya malas mengembalikan pekerjaan siswa(30-3-2012.
Indikasi ini menunjukkan bahwa guru memiliki tanggungjawab yang teramat
besar dalam memantau hasil belajar peserta didik. Hal tersebut dilakukan karena siswa
dapat puas dengan pekerjaannya dan dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan ketika
menjawab soal-soal serta siswa yang terbelakang diberi tugas yang sejenis. Wawancara
lain menyebutkan supaya ada umpan balik antara guru dengan murid guru dengan orang
tua dan orang tua dengan anaknya, menjaga terjadinya silang pendapat antara guru siswa
dan orangtua. Hal tersebut juga dilakukan agar siswa dapat mengetahui sampai dimana
kemampuan menyelesaikan soal.Meskipun demikian ada 3 responden yang tidak
mengembalikan hasil belajar peserta didik dengan alasan ujian yang mereka lakukan
dalam bentuk lisan. Tetapi itu tidak berarti siswa tidak tahu nilainya karena siswa pun
tahu akan nilai hasil ujian lisannya setelah semua selesai lisan. Dengan demikian semua
responden sesungguhnya telah memeriksa pekerjaan siswa meskipun bentuk umpan
baliknya berbeda. Mengenai tindak lanjut dari kegiatan perbaikan yang dilakukan
apakah dalam bentuk remedial maupun pengayaan, semua responden menjawab telah
melakukan perbaikan dan pengayaan. Menurut Pak Amin, yang menangani urusan
kurikulum dan pengajaran, rata-rata guru di SMPN 4 Watampone telah melaksanakan
kegiatan remedial dan pengayaan, yang dibuktikan dengan adanya analisis ulangan
harian yang didalamnya terdapat progran remedial dan pengayaan.
Setiap akhir semester ada laporan yang berkenaan dengan pelaksanaan remedial di
sekolah kami, yang tujuannya untuk mengetahui berapa persen pencapaian target

94
penguasaan kurikulum oleh guru yang bersangkutan sekaligus memantau
perkembangan belajar siswa. Semua itu dilaporkan ke kepala sekolahdan komite agar
ada umpan balik baik dari sekolah sendiri maupun dari masyarakat (30-3-2012).
Sebagaima Hal tersebut diatas maka program yang berkaitan dengan perbaikan
dan pengayaan kepada siswa, selain harus disampaikan ke pihak sekolah juga harus di
sampaikan ke orang tua siswa agar anak tersebut mendapat perhatian orang tua dalam
hal turut membantu di rumah dalam membimbing anaknya sendiri, agar ada umpan balik
antar Kepala Sekolah, siswa dan orang tua bahwa ada upaya bimbingan dan penyuluhan
yang dilakukan, agar ada saling pengertian antara kepala sekolah maupun orang tua
siswa sehingga prinsip saling mempercayai tetap terpelihara antar warga sekolah.
E. Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus
Kabupaten Umum
(1). Partisipasi Dalam Perencanaan Sekolah
Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian yang menyangkut peran serta
masyarakat dalam pelaksanaan MBS terutama yang berkaitan dengan partisipasi dalam
perencanaan sekolah, meliputi:1) Apakah masyarakat dilibatkan dalam merumuskan
Visi, Misi, sasaran dan Tujuan sekolah,2) Apakah masyarakat memberikan usul, saran
dan pertimbangan terhadap rencana pengembangan sekolah,3) Apakah masyarakat
diundang dalam rapat komite di sekolah dan 4) Apakah kebijakan sekolah sudah sesuai
harapan masyarakat atau belum.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang tua siswa yang
menyangkut tentang peranan mereka dalam merumuskan Visi, Misi, Sasaran dan Tujuan,
sebagian besar responden yang diwakili oleh pengurus komite sekolah menyebutkan
bahwa mereka jarang dilibatkan dengan hal-hal yang dimaksud padahal seharusnya
sekolah dalam hal ini kepala sekolah sebagai penentu kebijakan mengundang tokoh-

95
tokoh masyarakat untuk dilibatkan aktif dalam perencanaan sekolah. Hal ini didasarkan
dari pendapat ketua Komite sekolah, Bapak Drs H.A. Muh Palesangi MH.
Kami memang pernah diundang ketika penyusunan RAPBS berapa tahun yang lalu
bersama beberapa anggota komite sekolah lainnya. Ketika itu kami sepakat akan
visi,misi,sasaran dan tujuan yang akan dicapai oleh SMPN 4 watampone, tetapi setelah
itu kami sangat jarang diundang untuk berpartisipasi dalam perencanaan sekolah.
Kami tidak tahu apakah Visi, Misi ,Sasaran maupun tujuan telah mengalami perubahan
atau tidak. Meskipun demikian kami tetap diundang oleh pihak sekolah manakala ada
kegiatan yang bersifat ceremonial atau keagamaan(2-4-2012).
Masyarakat jarang sekali dilibatkan dalam perumusan visi, misi, sasaran dan
tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan
ketua komite sekolah

yang menyebutkan bahwa mereka jarang

dilibatkan dalam

perumusan visi, misi, sasaran maupun tujuan sekolah. Begitupun ketika peneliti
menanyakan tentang bagaimana peranan masyarakat dalam memberikan usul,saran dan
pertimbangan dalam pengembangan sekolah, informan kunci yang menjadi sumber
informasi dalam penelitian ini juga mengatakan jarang sekali dilibatkan. Kecuali untuk
hal-hal tertentu mereka selalu diundang oleh pihak sekolah. Seandainya ada kesempatan
ketika mereka dilibatkan dalam pengembangan sekolah, banyak yang akan mereka
usulkan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Junaedi:
Kami sangat menginginkan agar sekolah bisa memiliki lapangan olahraga, karena
menurut anak kami, kegiatan olahraga di SMPN 4 Watampone tidak dilakukan di dalam
sekolah melainkan diluar sekolah. Selain membutuhkan biaya, juga mengancam
keselamatan anak-anak kami dari bahaya kendaraan, kami juga berharap ada fasilitas
internet di sekolah sehingga anak-anak tidak perlu keluar mengerjakan tugas yang
diberikan oleh gurunya manakala berkaitan dengan informasi yang sulit didapatkan
dalam buku pelajaran(3-4-2012).
Adapun usul, saran dan pertimbangan yang sering diberikan oleh masyarakat
sesuai dengan hasil wawancara adalah melengkapi sarana dan prasarana pendidikan,
sarana dan prasarana olah raga., kegiatan ekstrakurikuler ditingkatkan, agar anak tidak
ngobrol ditempat lain yang tidak bermanfaat. diupayakan anak memiliki buku cetak

96
setiap mata pelajaran, agar tugas/pekerjaan rumahnya cepat dikerjakan, jangan terlalu
banyak tugas/ pekerjaan rumah yang diberikan kepada anak setiap hari agar ada
waktunya bermain, supaya dibenahi/diadakan tempat parkir kendaraan motor bagi
guru/pegawai, diadakan ruang piket siswa bagian depan sekolah dan sebagainya. Tapi,
ada juga masyarakat yang acuh tak acuh tidak memberikan usul, saran dan pertimbangan
kepada sekolah dengan alasan usul ataupun saran yang dimasukkan tidak direspon atau
karena sekolah dianggap kurang perhatian terhadap rencana pengembangan sekolah,
tidak masuk menjadi pengurus komite sekolah, tapi ada juga masyarakat tidak terlibat
didalamnya, ada juga masyarakat yang menyatakan kami selaku orang tua tidak perlu
mencampuri urusan

kebijakan yang dibuat sekolah

karena kami percaya sekolah

memiliki orang-orang yang dapat diandalkan untuk membuat kebijakan demi kemajuan
sekolah yang artinya penyusunan RAPBS, penyusunan berbagai program sekolah yang
akan dibicarakan bersama pengurus komite melalui rapat pengurus komite sekolah
dengan dewan guru.
Sementara mengacu kepada pertanyaan mengenai kehadiran mereka dalam rapat
yang pernah diadakan di sekolah, dari 24 responden sebagai perwakilan komite hampir
semua pernah hadir dalam mengikuti rapat komite antara pengurus komite sekolah
dengan pihak sekolah.. Rapat komite itu sendiri, menurut wawancara dengan responden
isinya menyangkut berbagai kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan oleh sekolah,
termasuk diantaranya pemanfaatan dana BOS, Penyusunan RAPBS, rencana kerja,
memilih pengurus, meminta bantuan untuk meningkatkan mutu pendidikan, program
partisipasi komite terhadap program sekolah.
Selanjutnya mengacu kepada pertanyaan yang keempat tentang apakah kebijakan
yang dibuat sadah sesuai dengan harapan masyarakat atau belum. Dari 24 responden

97
dalam hal ini yang diwakili oleh informan kunci mengatakan kebijakan sekolah yang
dibuat tentu didasari oleh pertimbangan pihak sekolah untuk kepentingan siswa dan
warga sekolah. Sejalan dengan hal tersebut, Mardiana, ibu masradia, dan kasmawati dan
beberapa responden lainnya berpendapat bahwa:
Sekolah pasti sudah punya agenda dan kebijakan yang relevan dengan kemajuan anakanak kami, kami percaya sepenuhnya akan kebijakan yang dibuat dan sudah pasti kami
bisa menerima. Persoalan puas atau tidak, senang atau tidak, bukan hal yang kami
permasalahkan(5-4-2012)

(2). Partisipasi Dalam Perencanaan Program Sekolah


Adapun yang menjadi fokus pengkajian dalam partisipasi masyarakat dalam
perencanaan program sekolah meliputi (1) Sumbangan pemikiran dan tenaga
(2) Pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah. Berdasarkan hasil
wawancara yang dilakukan dengan responden sebanyak 9 responden menyatakan ya
dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga atau dengan Persentase 37.5
persen sedangkan yang menyatakan tidak sebanyak 15 orang atau dengan Persentase
62.5persen. Sumbangan Pemikiran yang diberikan menurut hasil wawancara adalah
kebersihan sekolah, masalah keamanan, perbaikan lingkungan, membantu menyusun
proposal Life Skill, pengadaan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/karyawan,
penataan sarana dan prasarana sekolah, dan pengadaan ruang piket siswa bagian depan
sekolah.
Sedangkan yang tidak memberikan pemikiran. menurut hasil wawancara, karena
kurangnya komunikasi antara masyarakat dengan kepala sekolah, tidak masuk pengurus
komite sekolah tidak pernah dimintai untuk memberikan pemikiran oleh sekolah itu.
Menurut bapak Drs Syahruddin M.Pd:

98
Kebanyakan masyarakat tidak ikut terlibat aktif dalam memberikan sumbangan
pemikiran dan tenaga karena kurangnya informasi yang disampaikan pihak sekolah
kepada mereka, padahal orang tua siswa banyak yang sangat potensial untuk
memberikan gagasan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan. Meskipun demikian
ketidakterlibatan masyarakat dalam memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaga
tidak mempengaruhi mereka untuk tetap berpartisipasi aktif. Ini semua disebabkan
karena pendekatan yang dilakukan oleh ketua komite(4-4-2012).
Selanjutnya dari hasil wawancara yang dilakukan dengan responden tentang
pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah menunjukkan jumlah
responden yang menjawab ya untuk ikut serta mengawasi pelaksanaan kebijakan dan
program sekolah sebanyak 7 orang atau dengan Persentase 29,17 persen sedangkan yang
menjawab tidak sebanyak 17 orang atau dengan Persentase sebesar 70,83persen.
Menurut bapak A. Mallaloang SH
Masyarakat banyak yang tidak berpartisipasi aktif dalam melakukan pengawasan
terhadap pelaksanaan kebijakan dan program sekolah karena lebih mempercayakan
kepada pengurus komite yang dianggap dapat mewakili semua kepentingan mereka.
Bahkan orangtua siswa sudah mempercayai peranan komite sebagai wakil dari orang
tua di sekolah. Ketidakaktifan masyarakat untuk melakukan pengawasan disebabkan
karena faktor kesibukan, karena tidak menjadi pengurus komite, karena program dan
kebijakan tidak disampaikan secara tertulis kepada mereka(5-4-2012).
Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah sangat berkaitan dengan peningkatan
kinerja kepala sekolah dimana kewenangan yang tinggi terhadap berbagai tugas dan
fungsi kepala sekolah seperti: kepala sekolah sebagai educator, manajer, administrator,
supervisor, leader, innovator dan motivator, berdasarkan hasil penelitian dapat berjalan
lebih baik.
Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan orientasi mewujudkan
pendidikan yang bermutu tinggi, maka diperlukan sumber daya bermutu tinggi pula.
Berdasarkan temuan pada lokasi penelitian bahwa kualitas sumber daya pendidikan
dimana kualitas guru dapat dilihat berdasarkan golongan berada pada kategori tinggi
yaitu diatas 50 persen golongan tiga dan tingkat pendidikan mayoritas guru sudah berada

99
pada jenjang pendidikan strata satu sementara upaya guru dan pihak sekolah terhadap
peningkatan kualitas guru masih terus dilaksanakan. Kedua faktor tersebut yaitu tingkat
pendidikan dan golongan signifikan dengan kematangan/pengalaman bagi profesi
sebagai guru.
Selanjutnya, dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah unsur masyarakat
dipandang sebagai unsur yang penting mendukung keberhasilan sekolah (Stakeholder)
olehnya itu upaya keterlibatan masyarakat dalam organisasi sekolah telah dilembagakan
dalam bentuk komite sekolah. Pemberdayaan masyarakat terhadap organisasi sekolah
baik dalam fungsinya sebagai pengawasan pengelolaan dan pengembangan sekolah juga
partisipasi mereka secara material.
Berdasarkan temuan penelitian bahwa tingkat partisipasi masyarakat lebih
banyak ditentukan oleh berbagai faktor-faktor seperti tingkat pendidikan, tingkat
pendapatan dan jenis pekerjaan.
Tingkat pendidikan berkaitan dengan kemampuan masyarakat berinteraksi
dengan organisasi sekolah mengakibatkan pemahaman masyarakat yang berbeda-beda
terhadap pengetahuan berlembaga (komite sekolah). Menurut pengamatan peneliti
bahwa tingkat pendidikan masyarakat signifikan dengan tingkat partisipasi mereka, hal
ini menunjukkan bahwa gagasan-gagasan pemikiran dalam rangka pengembangan
sekolah terdapat kecenderungan diwarnai oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan
yang lebih tinggi.
Sedang tingkat pendapatan masyarakat yang berbeda tidak menunjukkan tingkat
partisipasi masyarakat yang menjolok, baik kehadiran pada pertemuan rutin maupun
gagasan dan pemikiran terhadap pengembangan sekolah, menyangkut hal berkaitan

100
dengan sumbangan material secara umum juga tidak menunjukkan perbedaan yang
menjolok.
Dan faktor latar pekerjaan berkaitan dengan waktu dan kesempatan yang
berbeda-beda signifikan terhadap tingkat partisipasi masyarakat berperan aktif dalam
komite sekolah, hasil penelitian menunjukkan bahwa dan ketiga jenis pekerjaan yang
dianalisis keterlibatan pensiunan dan profesi wiraswasta menduduki tingkat partisipasi
yang lebih tinggi dibanding pegawai negeri sipil.
Menurut keterangan dan salah seorang responden yang berprofesi sebagai
wiraswasta; bahwa keterbukaan pihak pengelola sekolah terhadap program-program
yang direncanakan memberikan informasi kepada masyarakat baik sebagai orang tua
murid maupun masyarakat sebagai bagian dari lingkungan sekolah memberikan
kesempatan bagi pihak wiraswasta berperan serta dalam mendukung pengembangan
sekolah.
Selanjutnya bahwa dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah ketiga unsur
disebutkan sebelumnya yaitu, pertama optimalisasi kinerja kepala sekolah yang
memegang peranan penting terhadap keberhasilan sekolah, kedua kinerja guru dalam
proses belajar mengajar yang berhubungan langsung dengan peserta didik sebagai
sasaran pendidikan dan ketiga sumber daya masyarakat yang berhubungan dengan
unsur pendukung (stakeholder) dalam upaya pengembangan sekolah. Untuk lebih
jelasnya ketiga unsur tersebut akan dibahas secara rinci sebagai berikut:
1. Kinerja kepala sekolah
Kinerja kepala sekolah sangat erat kaitannya dengan model manajemen yang
diterapkan pengembangan modal manajemen berbasis sekolah yang relatif masih baru
memperlihatkan hasil cukup memuaskan terhadap kinerja kepala sekolah. Peran Kepala

101
Sekolah di mana sebelumnya harus mengikuti petunjuk dan instansi vertikal sampai
pada masalah-masalah teknis kini telah mengalami perubahan-perubahan mendasar
dengan reorientasi pada kemandirian sekolah di mana kewenangan disertai dengan
tanggung jawab yang tinggi terhadap pengembangan sumber daya sekolah.
Pada dasarnya Kepala Sekolah memiliki potensi yang cukup tinggi untuk
berkreasi dan meningkatkan kinerja, namun banyak faktor yang menghambat mereka
dalam mengembangkan berbagai potensinya secara optimal. Olehnya itu melalui
manajemen berbasis sekolah para kepala sekolah dapat melaksanakan pembinaan secara
kontinu dan berkesinambungan dengan program yang terarah dan sistematis terhadap
para guru dan personil pendidikan lain di sekolah.
Berkaitan dengan hal tersebut dalam rangka mengimplementasikan paradigma
pendidikan baru, seperti Manajemen Berbasis Sekolah. Program pembinaan guru dan
personil pendidikan tersebut yang lazim disebut supervisi pendidikan
rangkaian

kegiatan

sebagai suatu

manajemen pendidikan di mana peran kepala sekolah sebagai

supervisi pendidikan memperlihatkan hasil cukup memuaskan. Kompetensi Kepala


Sekolah diperoleh melalui pendidikan/latihan yang mengandung muatan akademik/
teoritik dan praktik sangat mendukung kinerja kepala sekolah yang bersifat rasional
dalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan, dan kompetensi tersebut sudah merupakan
persyaratan sebagai jabatan kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai administrator
pendidikan harus memenuhi fungsi dasar kepala sekolah, yakni program instruksional,
kepegawaian kesiswaan, sumber-sumber fisik dan finansial serta menjalin hubungan
kerjasama masyarakat yang dinilai berjalan cukup baik, walaupun dalam hubungan
dengan fungsi tersebut kepala sekolah pada umumnya lebih menekankan aspek
manajerial dan kepemimpinan.

102
Pemahaman terhadap berbagai undang-undang pendidikan/ peraturan sekolah
berdampak pada peran kepala sekolah sebagai administrator sekolah dalam
pengembangan

program,

kurikulum

atau

pengajaran,

administrasi

kesiswaan,

administrasi perlengkapan administrasi keuangan, administrasi kepegawaian dan


hubungan sekolah dengan masyarakat dapat pula berjalan dengan baik. Dalam hal ini
kepala sekolah menggunakan prinsip pengembangan dan pendayagunaan organisasi
secara kooperatif dan aktivitas melibatkan keseluruhan personil dan sumber daya
masyarakat sekitar. Selanjutnya, mengetahui bahwa sekolah sebagai suatu organisasi
pendidikan formal merupakan wadah kerjasama sekelompok orang yang terdiri atas
guru, staf, kepala sekolah dan siswa kepala sekolah sebagai pemimpin pemegang tugas
kelembagaan dan pencapaian tujuan organisasi sekolah. inisiatif kepala sekolah dalam
menyesuaikan sumber daya sekolah, pengorganisasian aktivitas-aktivitas kerja untuk
mencapai sasaran-sasaran dilakukan melalui suatu tim kerja. Sedang kepala sekolah
sebagai motivator lebih cenderung masih kurang profesional terhadap berbagai tugastugas di luar jam kerja guru dengan secara finansial, sebab bagaimanapun orang yang
mempunyai motivasi berprestasi tinggi selalu melihat hubungan antara usaha/kegiatan
dengan hasil yang diperoleh. Kinerja kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam
MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut:
1. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran
dengan baik, lancar, dan produktif.
2. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
3. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat
melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan
pendidikan.

103
4. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan
guru dan pegawai lain disekolah.
5. Bekerja dengan tim manajemen

2. Kinerja guru dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar


Kualitas sumber daya guru secara nyata dapat dilihat pada bagaimana proses
pendidikan itu berlangsung dengan baik sehingga output pendidikan dapat secara
maksimal dicapai. Dalam kaitannya dengan penelitian ini difokuskan pada pelaksanaan
Proses Belajar Mengajar. Proses Belajar Mengajar merupakan input pendidikan yang
menentukan output pendidikan yang berkualitas yang sangat berkaitan dengan unsurunsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi pelajaran, evaluasi dan
analisis hasil belajar siswa, serta program perbaikan/pengayaan. Dalam hubungannya
dengan penelitian ini dilihat sebagai aspek utama dalam rangka pelaksanaan manajemen
berbasis sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum.
Pelaksanaan proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian menunjukkan
bahwa unsur-unsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi, evaluasi
dan analisa, secara umum berada dalam kategori tinggi. Sedangkan unsur perbaikan dan
pengayaan masih berada dalam kategori rendah. Tingginya penilaian responden terhadap
pelaksanaan proses belajar mengajar ditunjukkan oleh keterangan salah seorang guru
bahwa selama ini perumusan materi pengajaran lebih banyak bersifat konseptual, dan
rancangan tersebut memberikan kewenangan penuh kepada guru. Dengan demikian,
sehingga proses belajar mengajar guru yang sebelumnya bersifat subyektif terhadap
murid, sekarang dituntut lebih aktif menemukan metode-metode yang sesuai, seperti
perkembangan kejiwaan anak.

104
Dengan otonomi guru yang lebih tinggi dalam proses belajar mengajar
menciptakan iklim yang kondusif terhadap organisasi sekolah, di mana bahwa hubungan
antar sesama guru, antar guru dengan pimpinan sekolah lebih banyak bersifat pelaporan
dan koordinasi mengenai hasil yang dicapai.Tingginya penilaian terhadap responden
terhadap proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian pada SMP Negeri 4
Khusus Kabupaten Umum selanjutnya akan dibahas pada bagian berikut:
a. Kelengkapan program pengajaran
Program

pengajaran

bagi

guru

dalam

menggunakan

silabus

secara

berkesinambungan mulai pada tahap penyusunan sampai pada tahap pelaksanaan


pengajaran di kelas sehingga murid sebagai sasaran pengajaran menerima materi secara
sistematis. Demikian pula kelengkapan administrasi guru mengajar di kelas seperti
absen, buku paket/buku penunjang, buku keterampilan dan buku nilai harian yang setiap
saat guru dapat menggunakan sebagai bahan evaluasi sementara dalam kelas untuk
melihat dan memahami perkembangan kemampuan belajar peserta didik.
Faktor lain yang sangat signifikan dimana proses belajar mengajar berlangsung
dengan baik ditunjang dengan infrastruktur sekolah yang cukup memadai seperti ruang
belajar, perpustakaan dan fasilitas-fasilitas ekstra kurikuler seperti alat-alat kesenian dan
olahraga. Hal ini akan menunjang siswa belajar kreatif dan innovatif pada jenjang
sekolah menengah pertama.
b. Penyajian materi pelajaran.
Penyajian materi pelajaran merupakan unsur pokok dalam proses belajar
mengajar di mana unsur berkaitan langsung guru berinteraksi dengan peserta didik
dalam kelas, olehnya itu disamping guru menguasai materi pelajaran juga memiliki
kemampuan dalam mentrasformasi materi baik dalam fungsinya berperan utama sebagai

105
media maupun sebagai motivator dalam penyajian materi pelajaran di kelas.
Dalam strategi belajar dan pembelajaran guru mampu memahami dan mengelola
kelas dalam pengertian bahwa penyajian materi pelajar tidak kaku atau fleksibel
(infrovisasi) sehingga respon peserta didik berkesan menyenangkan menerima materi
pelajaran. Guru diperkaya dengan penggunaan berbagai metode seperti diskusi, tanya
jawab ceramah, demonstrasi (disertai alat peraga/alat bantu), digunakan secara terpadu
komperatif dalam penyajian mata pelajaran.
c. Unsur evaluasi dan analisis hasil belajar siswa
Berkaitan dengan evaluasi dan analisis hasil belajar terhadap kesinambungan dan
berbagai kegiatan proses belajar mengajar dimana guru bersikap obyektif, transparan
dan bertanggung jawab sehingga hasil belajar yang diperoleh murid merupakan data
pokok yang dapat dijadikan rujukan untuk perbaikan dimasa akan datang. Kegiatan
evaluasi dilakukan secara berkala, teratur serta pembukuan hasilnya sampai pada tahap
pelaporan hasil evaluasi murid setiap semester yang akan digunakan baik untuk
kebutuhan internal sekolah sekaligus sebagai bahan laporan pendidikan.
d. Program perbaikan dan pengayaan
Berdasarkan temuan penelitian bahwa program perbaikan dan pengayaan masih
berada dalam kategori rendah, walaupun rancangan program perbaikan dan pengayaan
dimiliki oleh setiap guru namun pada tingkat pelaksanaannya hanya sebagian kecil
dilakukan oleh guru. Menurut pengamatan peneliti bahwa kegiatan ini tidak sepenuhnya
berjalan, diakibatkan pada dua hal yaitu prestasi keseluruhan murid memperlihatkan
hasil yang memuaskan, sehingga guru cukup merasa puas dengan prestasi anak didik
mereka. Dari program perbaikan dan pengayaan berkaitan dengan anggaran yang
disediakan masih relatif rendah serta keterbatasan waktu oleh guru. Seorang guru

106
memberikan keterangan dan hasil wawancara peneliti program perbaikan dan pengayaan
tidak dapat dilaksanakan dengan baik dimana anggaran yang disediakan tidak cukup
memadai padahal waktu yang digunakan untuk memberikan materi pengulangan cukup
lama dan juga menggunakan biaya pembuatan materi. Berkaitan dengan perbaikan dan
pengayaan menunjukkan bahwa masih ada sebagian guru beranggapan hanya
ditujukan kepada murid yang kurang berprestasi, pada hal sasaran utama program
perbaikan dan pengayaan adalah pendalaman materi pelajaran kepada murid secara
keseluruhan.
3. Partisipasi masyarakat
Partisipasi masyarakat yang dilembagakan dalam bentuk komite sekolah untuk
menjamin akan adanya akuntabilitas, transparansi terhadap proses pelaksanaan
pendidikan.

Olehnya

itu

masyarakat

sebagai

stekhoulder

sekolah

dituntut

keterlibatannya mulai pada tahap perencanaan program, pelaksanaan program,


monitoring sampai pada tingkat evaluasi hasil yang dicapai. Berdasarkan hasil penelitian
keempat unsur tersebut, yaitu peran serta masyarakat dalam perencanaan dan
pelaksanaan program sekolah berada dalam kategori sedang, dan unsur yang lain yaitu
peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi tergolong sangat rendah ketiga
unsur tersebut akan dibahas pada bahagian berikut:
a. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah
Keterlibatan peran serta masyarakat dalam perencanaan sekolah pada kegiatan
yang bersifat akademik. Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya peran serta masyarakat pada
kegiatan-kegiatan seperti perumusan misi, visi, sasaran, tujuan dan program sekolah dan
pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah. Hanya jika hal itu bersifat usul,
saran dan pendapat yang dominan mewarnai rapat-rapat antara komite dan pihak

107
pengelolah sekolah sedang pada tingkat pengambilan keputusan masih sering terjadi
salah pengertian.
Menurut keterangan seorang kepala sekolah, pemahaman masing-masing
masyarakat yang duduk pada organisasi komite sekolah yang relatif masih baru ini,
belum ada persepsi yang sama dan tugas masing-masing masih cenderung tumpang
tindih dan masyarakat lebih terkonsentrasi kepada masalah-masalah pengelolaan
anggaran sekolah.
Menurut pengamatan peneliti bahwa masyarakat belum dapat menempatkan diri
sepenuhnya sebagai mitra yang diperlukan oleh pengelola sekolah sampai pada tahap
perencanaan program sekolah, masih terdapat anggapan bahwa masyarakat hanya
berfungsi sebagai donatur dalam rangka pembangunan sekolah. Hal ini dapat dilihat
pada konteks perumusan misi, visi, sasaran, tujuan dan program sekolah dan pemberian
informasi/data yang diperlukan sekolah belum menunjukkan peran serta masyarakat
yang berarti.
b. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah.
Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah seperti pemberian
sumbangan tenaga, materi/uang, pengadaan sarana/prasarana sekolah dan partisipasi
masyarakat dalam pembangunan sekolah seperti pembangunan pagar dan pembangunan
sarana lainnya berdasarkan hasil penelitian berada dalam kategori tinggi. Peran serta
masyarakat mendukung material pembangunan sekolah yang disponsori melalui komite
sekolah termasuk sumbangan secara sukarela cukup besar namun di dalam pembiayaan
operasional sekolah/rutin siswa bagi mereka yang kurang mampu dibiayai oleh Dana
BOS (Dana bantuan Operasional) Sekolah.

108
Pada kegiatan ekstrakurikuler seperti pekan olahraga dan kesenian dalam rangka
perayaan hari ulang tahun kemerdekaan, dukungan masyarakat tetap ada untuk dapat
meringankan anggaran program sekolah lebih efektif membiayai yang lebih penting.
Seorang kepala sekolah memberikan keterangan berdasarkan hasil wawancara peneliti
bahwa dukungan dana masyarakat diluar dan sumbangan komite (sumbangan sukarela)
sangat bermanfaat membantu memperkuat pos-pos anggaran yang masih memerlukan
dana tambahan secara terus menerus seperti pergantian dan penambahan alat peraga
sekolah yang berkembang terus menerus sesuai dengan kebutuhan sekolah.
c. Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi sekolah
Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi merupakan hal yang
prinsipil dalam pelaksanaan pengawasan program sekolah sebagai hasil kebijakan yang
telah diputuskan secara bersama baik bagi pihak pengelola sekolah maupun masyarakat
secara khusus sebagai perwakilan masyarakat yang berada dalam komite sekolah (dewan
sekolah). Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran serta masyarakat dalam monitoring
dan evaluasi pelaksanaan program-program sekolah masih berada dalam kategori
rendah. Memantau perkembangan sekolah belum merupakan perhatian khusus bagi
masyarakat

baik

yang

bersifat

non

fisik

seperti

pengawasan

proses

belajar mengajar/perkembangan prestasi anak didik di sekolah maupun yang


bersifat fisik seperti bantuan pembangunan dan peralatan sekolah. Jikapun
temuan penelitian sebelumnya bahwa tingkat partisipasi masyarakat cukup tinggi
secara material dalam sumbangan pembangunan sekolah, namun pada tingkat
pengawasan terhadap pelaksanaan dan pengadaannya peran serta masyarakat masih
sangat minim.

109
Hal tersebut dikemukakan oleh seorang responden sebagai anggota dalam
organisasi komite sekolah: bahwa masyarakat memang mempunyai tingkat partisipasi
yang tinggi secara material terhadap pembangunan sekolah tetapi sangat jarang
masyarakat mempersoalkan bagaimana alokasi dana tersebut disalurkan. Tidak ada
penguraian secara rinci sebagai bahan evaluasi organisasi dan komite sekolah walaupun
laporan pertanggung jawaban setiap kegiatan tetap ada dan pihak pengelola sekolah dan
tidak pernah mendapat tanggapan yang serius baik dan komite sekolah maupun anggota
masyarakat yang hadir setiap pertemuan.
A. Faktor Pendukung dan Penghambat Keberhasilan Implementasi MBS
1. Faktor Pendukung
Dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa
keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta,baik faktor
internal maupun eksternal. Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya
mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan, gerakan peningkatan kualitas
pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan, potensi sumber daya manusia, organisasi
formal dan internal, organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri.
a. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan
Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi
peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya, baik dalam pertemuanpertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop.
b. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah
Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan, baik secara
konvensional maupun movatif. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan
dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk

110
mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap
jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional
telah mencanangkan .Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . pada tanggal 2 Mei 2002
c. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan
Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc
effect) dalam berbagai aktifitas. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya
dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan
Kepala Sekolah yang profesional, menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi
nyata di Sekolah. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan
keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja, terutama yang berada di
lingkungan Sekolah.
d. Potensi Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara
optimal. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap
peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam
keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal.
e. Organisasi Formal dan Optimal
Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah
Indonesia, dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal
terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja
Pengawas Sekolah (Pokjamas), Kelompok Kerja Sekolah (KKM), Musyawarah Kepala
Sekolah (MKM), Dewan Pendidikan, dan Komite Sekolah. Organisasi-organisasi
tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam
peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya.

111
f. Organisasi Profesi
Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam
meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas, KKM, Kelompok Kerja guru
(KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Persatuan Guru Republik
Indonesia (PGRI), Forum Peduli Guru (FPG), dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan
Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia, dan telah menyentuh berbagai
kecamatan. Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam
peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas
pendidikan nasional
g. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan
MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang
tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, serta komitmen dan motivasi yang kuat
untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. Tenaga kependidikan memiliki
komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang
optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di
Sekolah. Dalam pada itu, peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar
meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki.
Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang
menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan
(continous quality improvement).

h. Input Manajemen
Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen
yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif.

112
Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas, rencana yang rinci dan
sistematis, program yang mendukung implementasi, ketentuan-ketentuan (aturan main)
yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak, serta adanya sistem pengendalian mutu
yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan
di Sekolah.
Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan
oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta, 2002, bahwa faktor
pendukung keberhasilan MBS terdiri dari
a.

Kepemimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. MBS akan jika ditopang oleh
kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah
secara tepat dan akurat, serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang
mendukung terjadinya proses belajar mengajar.

b.

Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan, factor


luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat
pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. Kemampuan dalam membiayai
pendidikan, serta tingkat penghayatan, harapan dan pelibatan diri dalam mendorong
anak untuk terus belajar.

c.

Dukungan pemerintah, hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan


MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif
belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Alokasi
dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi
penentu keberhasilan.

113
d.

Profesionalisme, faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil
kerja Sekolah. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah, guru dan pengawas akan sulit
dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula.

2. Faktor Penghambat
Beberapa hambatan yang dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan
Manajemen Berbasis sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus yang dapat dianalisis
adalah sebagai berikut:
1. Tidak Berminat Untuk Terlibat.
Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang
sekarang mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang
menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak
menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran.
Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk
memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Tidak semua guru akan berminat
dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk
urusan itu.
2. Tidak Efisien.
Pengambilan

keputusan

yang

dilakukan

secara

partisipatif

adakalanya

menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang
otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan
perhatian pada tugas, bukan pada hal-hal lain di luar itu.
3. Pikiran Kelompok.
Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar
akan semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling

114
mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu
kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya.
Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit pikiran kelompok. Ini berbahaya
karena

keputusan

yang

diambil

kemungkinan

besar

tidak

lagi

realistis.

4. Memerlukan Pelatihan.
Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau
belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka
kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS
sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan
sebagainya
5.Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru.
Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan
iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan
tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak
kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu
untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan.
6. Kesulitan Koordinasi.
Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam
mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang
beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar
sama sekali menjauh dari tujuan sekolah. Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah
dilibatkan sejak awal, mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani
sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS
dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua

115
pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus memahami apa saja
tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan pada level
mana dalam organisasi.
Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang
dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Pengalaman penerapannya di tempat lain
menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan
harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan
keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik.
Berdasarkan faktor pendukung dan penghambat yang dikemukan diatas maka ada
beberapa Strategi yang dapat diterapkan diterapkan di SMP Negeri 4 Khusus untuk
meningkatakan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan MBS yaitu :
1. Peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat
dan orangtua siswa. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi
kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS.
2. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan
akuntabel.

Termasuk

membiasakan

sekolah

untuk

membuat

laporan

pertanggungjawaban kepada masyarakat. Model memajangkan RAPBS di papan


pengumuman sekolah yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE)
merupakan tahap awal yang sangat positif. Juga membuat laporan secara insidental
berupa booklet, leaflet, atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. Alangkah
serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam
media tersebut.Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi.
Dengan kata lain, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan

116
bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah,
termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah.
3. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. Bukan hanya sekedar
melakukan pelatihan MBS, yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi
kepada sekolah. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi
dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama
berupa penataran MBS.

117
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus
Kabupaten Umum diperoleh gambaran sebagai berikut:
1. Kinerja kepala sekolah terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti
kepala sekolah sebagai edukator, manajer, administrator supervisor, leader, inovator
dan motivator berjalan maksimal.
2. Kinerja guru dilihat dari empat aspek yang dinilai yakni kelengkapan program
mengajar guru, penyajian materi pelajaran evaluasi dan analisis hasil belajar murid
serta program perbaikan dan pengayaan. Dari empat aspek tersebut secara khusus
pada program perbaikan dan pengayaan masih terdapat kelemahan-kelemahan seperti
penyusunan tes dan materi berulang-ulang pada masing-masing sekolah, hal mana
menunjukkan bahwa tingkat kreatifitas guru menyusun materi masih sangat terbatas.
3. Partisipasi masyarakat terhadap pihak pengelola sekolah belum sepenuhnya
menunjukkan kerjasama yang baik diakibatkan oleh rendahnya kemampuan
akademik masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan
berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat akademik seperti, perumusan
misi, visi dalam perencanaan dan mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan
pengelolaan sekolah.
4. Adapun faktor pendukung diterapkannya manajemen berbasis sekolah di SMP
Negeri 4 Watampone antara lain: adanya kerjasama antara kepala sekolah dengan
semua pihak-pihak yang ada di sekolah, dukungan dana yang besar yang dapat
membiayai berbagai kegiatan baik ekstra maupun intra, kemampuan akademik dan
121

118
manajerial para pendidik sangat menunjang dalam proses pembelajaran, kemampuan
manajemen tenaga administratif sangat membantu kegiatan ketatausahaan, sedang
yang termasuk faktor penghambat manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4
Khusus antara lain: Transparansi dan akuntabilitas kepala sekolah belum bersifat
terbuka terutama dalam pemanfaatan dana, wilayah sekolah yang sempit tidak
seimbang dengan jumlah siswa yang teramat banyak lebih dari 1000 siswa, masih ada
guru yang bersifat acuh terhadap peningkatan kualitas pendidikan, serta banyaknya
peserta didik dengan berbagai karakter menyulitkan untuk pelaksanaan MBS
secara total.
B. Saran
1. Pihak pengelola sekolah perlu melakukan transformasi akademik secara intens
dengan masyarakat secara kelembagaan melalui organisasi komite sekolah sehingga
pemahaman masyarakat terhadap tanggung jawab keberhasilan sekolah dapat berjalan
maksimal.
2. Dalam upaya untuk meningkatkan kinerja guru agar menjadi lebih profesional sesuai
perkembangan tuntutan pendidikan maka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah
yang lebih mengedepankan kemandirian pengelolaan sekolah maka pengembangan
tugas dan tanggung jawab guru menjadi suatu kebutuhan mendesak dengan terus
memberikan pendidikan dan latihan atau bentuk kegiatan lainnya dalam rangka
pengembangan profesionalisme guru.
3. Lebih memberikan peluang lebih nyata kepada wakil masyarakat dalam komite
sekolah untuk lebih optimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya baik secara
teknis maupun secara konseptual sehingga pelaksanaan manajemen berbasis sekolah
mencerminkan demokratisasi di bidang pendidikan.

119
4. Hendaknya dalam meningkatkan efisiensi MBS, analisis serta pengkajian data dan
informasi perlu dilakukan secara terus menerus dan mendalam agar setiap unit kerja
di sekolah dapat melaksanakan MBS yang efisien.
5. Agar analisis pengimplementasian MBS menjadi lebih sempurna pada sekolah
tingkat dasar, menengah dan lanjutan diharapkan kepada peneliti lain dapat
melakukan pengkajian secara mendalam pada dimensi lain dalam MBS, sehingga
pelaksanaan MBS tidak lagi menemui kendala di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman. 1987. Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi Daerah. Jakarta : Media
Sarana Press

120
Abidin, Said Zainal. 2006. Kebijakan Publik. Jakarta. Suara Bebas
Abustam, Idrus, Djaali dan Rahman Asfah, M. 1996. Pedoman Praktis Penelitian dan
Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Ujung Pandang Lembaga Penelitian IKP Ujung
Pandang.
Arikunto, Suharsimi, 2002 Prosedur Penelitian:
Jakarta:Rineka Cipta, Cet ke-12.

Suatu Pendekatan

Praktek,

Bastian, Reza Aulia. 2002. Reformasi Pendidikan. Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama.
Berkepanjangan, ICW, 2004
Burhanuddin, 1998. Desentralisasi Manajemen Pendidikan. Malang : UNM
Danuredjo. 1977. Otonomi Indonesia Ditinjau dalam Rangka Kedaulatan. Jakarta :
Penerbit Laras
Depdiknas, 2001 MPMBS, Konsep & Pelaksanaan, Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Depdiknas. 2001. Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Jakarta Depdiknas.
Dunn, William N. 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Jogjakarta. Gajah Mada
University Press
Fatah, Nanang, 2003 Konsep Management Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah,
Bandung Pustaka Bani Quraisy.
Fattah, Nanang, 2000, Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya
Fiske, Edward. B. 1998. Desentralisasi Pengajaran. (Terjemahan Ahli Bahasa Basillius
Bengoteku). Jakarta: Grasindo.
Hasbullah, 2006. Otonomi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Imron , Ali. 1995. Kebijakan Pendiikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara
Jalal, Fasli, Supriadi dan Dedi. 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi
Daerah. Yogyakarta : Adi Cita.
Kalster, Wayang. 2000. Restrukturisasi Penyelenggaraan Pendidikan (Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan, Oktober No. 26) Jakarta : Badan penelitian dan
Pengembangan Depdiknas.
Koesoemahatmadja. 1979. Pengantar ke Arah Sistem Pemerintahan di Daerah di
Indonesia. Bandung : Binacipta

121
Lexy J. Moleong, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Mantja, W. 1990. Manajemen Pendidikan dan Supervisi Pengajaran. Malang: Wineka
Media
Mantja. W. dan Imron. AH. 1998. Manajemen Peserta Didik. Malang, Depdikbud
Mardalis, 1993, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta: Bumi Aksara.
Margono, S. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta Rineka Cipta
Mohrman Susan Albert and Wohlstette Priccilla (1994). School-Based Management,
Organizing for High Performance, San Fransisco: Jossey-Bass Publisher.
Muhdi, Ali. 2007. Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional. Yogyakarta. Pustaka
Fahima.
Mulyasa, E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan Implementasi)
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan Implementasi)
cetakan ketigabelas, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nasution, S dan Thomas. M. 2001. Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi Disertasi
Makalah. Jakarta: Bumi Aksara.
Nugroho, D. Riant. 2000. Otonomi Daerah, Desentralisasi Tanpa Revolusi. Jakarta : PT
Elex Media Computindo
Nurkholis, Manajemen Berbasis Sekolah, 2004 Teori dan Praktek Bandung: Rosda
Pongtuluran, Aris. 1995. Kebijakan Organisasi dan Pengambilan Keputusan
Manajerial. Jakarta. LPMP
Rutmini dan Juyono. 1999. Manajemen Berbasis Sekolah, Konseptual danKemungkinan
Strategi Pelaksanaan. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas.
Saleh, Syarif. 1963. Otonomi dan Daerah Otonom. Jakarta : Penerbit Endang
Sidi Indra. Djati. 2000. Kebijakan Penyelenggaraan Otonomi Daerah Bidang
Pendidikan. Bandung: PPS UPI.
Slamet PH. (2005). Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia.
Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Depdiknas RI.

122
Slamet PH. (2005). Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia.
Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Depdiknas RI
Sujanto, Bedjo, Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang
Suparno, Paul. SJ. 2002. Reformasi Pendidikan (Sebuah Rekomendasi). Yogyakarta:
Kanisius
Suryono, Yoyon. 2000. Arah Kebijakan Otonomi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi
Daerah. Yogyakarta. FIP UNY
Sutrisno Hadi, 1993 Metodologi Research Jilid I, Yogyakarta: Yayasan Penerbitan
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Syafaruddin. 2008. Efektivitas Kebijakan Pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta
Thoha, Miftah. 1995. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: Rajawali
Tilaar H.A.R. 2002. Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta . Rineka Cipta.
Tisna. Amidjaja. D.A. 1989. Pola Pembaharuan Sistem Pendidikan Tenaga
Kependidikan di Indonesia dan Pedoman Pelaksanaannya Jakarta Depdikbud.
Umiarso dan Imam Gojali, 2010, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi
Pendidikan,Jogjakarta.
Undang-Undang No. 2 Tahun 1989. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta Sinar
Grafika.
Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. Tentang Otonomi Daerah. Jakarta Sinar Grafika.
Uno, B, Hamzah.2006, Teori Motivasi dan Pengukurannya. Analisis di Bidang
Pendidikan, Jakarta: PT Bumi Aksara
Wayong J. 1979. Asas dan Tujuan Pemerintahan Daerah. Jakarta:Penerbit Djambatan
Zamroni. (2008). School Based Management. Yogyakarta: Pascarsarjana Universitas
Negeri Yogyakarta.
Zamroni. 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta Bigraf Publising.

123

JUDUL
Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum

iv

124
ABSTRAK
Manajemen berbasis sekolah merupakan usaha untuk menumbuhkan pendidikan dari
bawah, yakni berakar dari masyarakat, atas inisiatif masyarakat, dikelola masyarakat dan
untuk kepentingan masyarakat. Dengan adanya manajemen berbasis sekolah ini
memberikan kewenangan sekolah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh
lembaga yang bersangkutan. Dari studi langsung di lapangan, ada tiga faktor sebagai
penyebab mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. Ketiga faktor
itu antara lain bahwa kebijakan pendidikan kurang memperhatikan proses pendidikan,
penyelenggaraan pendidikan secara sentralistik, dan peran serta masyarakat terutama
orang tua hanya terbatas pada dukungan dana. Dalam MBS, sekolah memiliki
kewenangan yang lebih besar dalam pengelolaan sekolah. Secara filosofis sekolah yang
lebih memahami bagaimana situasi atau kondisi sekolah serta harapan apa yang akan
dicapai. Tujuan progam MBS adalah peningkatan mutu pendidikan yang meliputi
manajemen sekolah, pembelajaran aktif kreatif efektif, dan menyenangkan (PAKEM)
dan peran serta masyarakat (PSM). Penelitian ini ini bertujuan untuk mendapatkan
gambaran secara umum tentang implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP
Negeri 4 Khusus, termasuk faktor pendukung dan faktor penghambatnya. Fokus
penelitian MBS di SMP Negeri 4 adalah untuk mengetahui implementasi MBS dari
pihak manajemen sekolah dalam hal ini kenerja kepala sekolah, kinerja guru dan peran
serta masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan. Penelitian ini digolongkan
sebagai penelitian deskriftif kualitatif. Sumber data utama adalah kata-kata dan tindakan
dari kepala sekolah, Wakil kepala sekolah, guru, pengurus komite sekolah, serta tata
usaha. Teknik dalam menggali data adalah melalui pengamatan, wawancara, dan
dokumentasi. Hasil penelitian dari tiga unsur pokok menunjukkan, Pertama, bahwa
pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dilihat dari kinerja kepala sekolah berbagai
tugas dan fungsinya seperti sebagai manajer, administrator, supervisor, pemimpin,
innovator, dan motivator dapat berjalan cukup baik. Kedua, bahwa kinerja guru dinilai
melalui aspek-aspek seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi pelajaran,
evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan dan
Ketiga, bahwa partisipasi masyarakat belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang
baik dengan pihak pengelola sekolah. Hal tersebut lebih banyak disebabkan oleh
rendahnya kemampuan masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki
keterbatasan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti, perumusan misi, visi dalam
perencanaan dan pengawasan.
Kata kunci : implementasi, kebijakan, Managemen Berbasis Sekolah.

125
ABSTRACT
School based management is an effort to foster the education of, the roots of the
community, the community initiative, managed for the benefit of the community and
society. With a school-based management gives schools the authority to develop the
potential of the institution concerned. Of studies in the field, there are three factors as the
cause of the quality of education does not increase uniformly. These three factors,
among others, that the lack of attention to education policy education process, education
is centralized, and the role of the community especially the elderly is limited to financial
support. In MBS, the school has greater authority in managing the school. In
philosophical schools better understand how the situation or condition of the school and
what expectations will be achieved. MBS program goal is to improve the quality of
education, including school management, effective creative active learning, and fun
(Active Learning) and community (PSM). This study aims to gather information about
the implementation of school based management at SMP Negeri 4 Khusus, including the
factors supporting and inhibiting factors. MBS research focus in at SMP Negeri 4
Khusus is to investigate the implementation of MBS from management in this kenerja
school principal, teacher performance and community participation in improving the
quality of education. This study is classified as a descriptive qualitative research. The
main data sources are the words and actions of principals, vice principals, teachers,
administrators of the school committee and administration.Techniques in exploring the
data is through observation, interviews, and documentation. The results of three main
elements indicate, first, that the implementation of school-based management be seen
from the performance of the principal tasks and functions such as a manager,
administrator, supervisor, leader, innovator, and can run pretty good motivator. Second,
that assessed the performance of teachers through such aspects as completeness of the
teaching program, presentation of subject matter, evaluation and analysis of student
learning outcomes and program improvement and enrichment and Third, that public
participation has not been fully demonstrated good cooperation with the school
management. It is more often caused by poor ability to organize the community (school
committee) so it has limited participation in such activities, the formulation of the
mission, vision in the planning and supervision.
Keywords: implementation, policy, school based management.

DAFTAR ISI
vi

126
Halaman
HALAMAN SAMPUL ....................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................

ii

PRAKATA ......................................................................................................

iii

ABSTRAK .......................................................................................................

ABSTRACT .....................................................................................................

vi

DAFTAR ISI ....................................................................................................

vii

DAFTAR TABEL ............................................................................................

ix

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN ...........................................................................

A. Latar Belakang Masalah ............................................................

B. Rumusan Masalah .....................................................................

C. Tujuan Penelitian .......................................................................

D. Manfaat Penelitian ....................................................................

TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................

10

A. Desentralisasi Pendidikan..........................................................

10

B. Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas ......................

21

C. Manajemen Pendidikan .............................................................

34

D. Manajemen Berbasis Sekolah ...................................................

35

E. Kinerja Kepala Sekolah .............................................................

48

F. Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar...........................

49

G. Partisipasi Masyarakat ..............................................................

51

BAB II

H. Kerangka Pikir

52

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................


vii

56

127
A. Jenis dan Lokasi Penelitian .......................................................

56

B. Defenisi Operasional Variabel....................................................

56

C. Variabel Penelitian ....................................................................

58

D. Instrumen Penelitian ..................................................................

58

E. Populasi dan Sampel .................................................................

59

F. Metode Pengumpulan Data .......................................................

60

G. Teknik Analisis Data .................................................................

62

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................

64

A. Identitas Responden ..................................................................


64
B. Responden Masyarakat .............................................................
67
C. Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP
Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum..........................................
70................................................................................................
D. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone........................................
86
E. Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP
Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum..........................................
98
F. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi MBS di SMP
Negeri 4 Khusus ........................................................................
113

128
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN ........................................

121

A. Kesimpulan ...............................................................................

121

B. Saran-saran ................................................................................

122

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 124


DAFTAR TABEL
viii
Tabel 4.1.

Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan....

Tabel 4.2.

Penyebaran responden guru menurut kelompok umur................

Tabel 4.3.

Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan...........

Tabel 4.4.

Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan.

Tabel 4.5.

Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan...................

Tabel 4.6.

Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang


pekerjaan......................................................................................

129

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Sketsa Kerangka Pikir ................................................................