Anda di halaman 1dari 20

Hadis

Shahih al-Bukhari is the most popular of Hadith literature.


Ulama legalized this book as source of islamic studies
beside al-Quran, al-Nawawi said that Shahih al-Bukhari
was the most authentic book after al-Quran. Many
people give appreciation to this book, one of them
gift critical, commentary atc. More then one hundred
works on Shahih al-Bukharis commentaries, among
other thing Ibn Hajars commentaries was named
Fath al-Bari, al-Qasthalanis commentaries was named
Irsyad al-Syari, and so Badr al-Din al-Ainis
commentaries was named Umdat al-Qari. All of these
works have the special character to each other. The
Excellences of Badr al-Din al-Ainis commentaries in
his book are semantic and rational approach, he
always give explanation for every hadith on Shahih
al-Bukhari with semantic analyzing and rational
explanation.

Pemahaman Hadis
Badr al-Din al-Aini
Oleh A. Hasan Asyari Ulamai*

Kata Kunci: Syarah, al-Aini, Umdat al-Qari.

Pendahuluan
Pergumulan pemahaman nash baik terhadap al-Quran maupun Hadis
Nabi Saw., terus berlangsung dan mengkristal pada dua model pendekatan
yang cukup besar yaitu pendekatan tekstual dan kontekstual.
Sementara pihak menganggap lahirnya pendekatan kontekstual baru
muncul abad 20-an, namun sebenarnya jauh pada masa Nabi Saw. dan
sahabatnya pemahaman ini telah ada, demikian pula pada generasigenerasi selanjutnya.
Dalam dunia ulumul Quran dan tafsir al-Quran, perkembangan tafsir
Al-Quran baik secara tekstual maupun kontekstual demikian pesat dan
mendapatkan perhatian banyak pihak hingga lahir karya-karya di bidang
ini yang tidak terbilang jumlahnya. Sementara pada bidang hadis dan
ulumul hadis, perhatian tersebut masih terbatas terutama pada aspek
pemahaman terhadap hadis Nabi Saw (fiqh al-hadis), padahal ulama masa

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

113

awal telah banyak melahirkan produk pemahamannya dalam karya tulis


yang dikenal kemudian sebagai kitab syarah hadis.
Lebih lanjut, kitab-kitab syarah hadis (sebagai produk ulama dalam
memahami hadis) tidak dapat dilepaskan dari pengaruh para syarih (orang
yang memberikan penjelasan itu sendiri), baik pada kapasitas keilmuan,
latar belakang kultur, masa dan tempat serta kepentingan-kepentingan
lain yang turut mewarnai proses pen-syarah-an tersebut, sehingga tidak
sedikit perbedaan yang muncul antara pen-syarah-an ulama tertentu
dengan ulama lain di samping persamaan-persamaan yang dimiliki.
Di antara mereka ada yang mencukupkan pada pen-syarah-an yang
simpel (memberikan keterangan sedikit kepada bagian teks yang musykil
saja), namun ada pula yang memberikan pen-syarah-an yang jelimet
(memberikan penjelasan secara rinci dari unsur bahasa, hikmah, dan
lainnya dari seluruh sanad hingga seluruh matan hadis yang ada).
Berangkat dari fenomena di atas, kitab syarah hadis tak terhitung
jumlahnya, dengan argumen bahwa dimungkinkan di setiap negara dan
di setiap masa telah bermunculan syarah hadis sesuai dengan bahasa
mereka.
Salah satu kitab syarah hadis yang cukup besar, namun belum banyak
dikenal di tengah masyarakat adalah Umdat al-Qari karya Badr al-Din
al-Aini, kitab ini mensyarahi Shahih al-Bukhari, bahkan kitab syarah Shahih
al-Bukhari lainnya yang lebih terkenal seperti Fath al-Bari karya Ibn Hajar
al-Asqalani banyak menyandarkan pensyarahannya terhadap kitab ini.
Untuk mengenal lebih jauh sosok Badr al-Din al-Aini berikut model
pemahaman hadisnya, -secara khusus yang telah dia tuangkan dalam
tulisan yaitu dalam kitab syarah hadisnya terhadap Shahih al-Bukhari
yang berjudul Umdat al-Qari tersebut,- berikut ini gambaran ringkasnya

Biografi Badr al-Din al-Aini


Nama lengkap Badr al-Dinn al-Aini adalah Mahmud bin al-Qadli
Syihab al-Din Ahmad bin Musa bin Ahmad bin al-Husain bin Yusuf bin
Mahmud, dengan sandaran madzhabnya al-Hanafi, kemudian nasabnya
al-Aini al-Mishri, ber-kunyah Abu Muhammad juga Abu al-Tsana dan
bergelar al-Faqih Badr al-Din.1
Badr al-Din al-Aini lahir 762 H, tepatnya pada bulan Ramadlan
di Durabkeiken dan tumbuh di Ainatab. Ayahnya (Syihab al-Din Ahmad
bin Musa) adalah seorang qadli di Ainatab yang meninggal pada tahun
784 (pada saat Badr al-Din telah berumur 22 tahun).2

114

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Melalui didikan orang tuanya, Badr al-Din al-Aini sudah menghafal


al-Quran dan tafaqquh (mendalami ajaran agama) sejak dini, sehingga
matang dalam memahami Islam. Pengetahuan agamanya disamping ia
peroleh dari ayahnya juga dari beberapa ulama yang hidup di wilayahnya
pada masa itu.3
Perjalanan Ilmiah Badr al-Din al-Aini dimulai dari Ainatab, baru
kemudian ia melakukan rihlah ilmiyyah (menimba ilmu) ke Halb dan
berguru kepada al-Allamah Jamal al-Din Yusuf bin Musa al-Multhi alHanafi. Selanjutnya menuju Quds dan beruru kepada al-Ala al-Sairami,
kemudian ke Kaero pada tahun 788 H.4
Di Kaero inilah, Badr al-Din al-Aini mewarisi keahlian ayahnya yaitu
menjadi seorang Qadli, hal ini disinyalir karena Badr al-Din al-Aini di
damping dikenal sebagai faqih juga memiliki kedekatan dengan Raja,
dan dalam memegang jabatan ini Badr al-Din al-Aini bertahan hingga
tahun 842 H.5
Badr al-Din al-Aini memiliki kemampuan dua bahasa yang populer
pada saat itu di wilayah Timur Tengah, yaitu bahasa Arab dan bahasa
Turki. Keilmuannya didukung oleh banyaknya buku dalam berbagai
bidang ilmu agama yang ia kuasai mulai dari tafsir, fiqh, hadis, bahasa,
nahwu, tashrif, tarikh dan lainnya,6 karenanya wajar bila wawasan ilmunya
cukup luas khususnya di bidang bahasa.
Badr al-Din al-Aini wafat pada tahun 855 H, tepatnya malam Selasa
pada tanggal 4 Dzul Hijjah di Kaero Mesir. Beberapa peninggalan berharga
dari karya muallif ini antara lain:7
1. al-Binayah fi syarh al-Hidayah li al-Marhaniyani
2. Tarikh al-Ukamsarah
3. Tarikh al-Badr fi Awshaf ahl al-Ashr
4. Hasyiyah ala syarh Ibn al-Mushannif li al-Alfiyyah
5. Al-Hawi syarh Qashidah al-Sawi fi al-Arudl
6. Durar li al-Bihar al-Zahirah fi Nudhum al-Bihar al-Zakhirah li Hisam alRahawi
7. Al-Durar al-Fakhirah syarh al-Bihar al-Zahirah
8. Ramz al-Haqaiq fi syarh Kanz al-Daqaiq
9. Zain al-Majalis Alim al-Salam
10. Siyar al-Anbiya
11. Sirah al-Mulk al-Asyraf
12. Sirah al-Mulk al-Dhahir Thughrul
13. Sirah al-Mulk al-Muayyad

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

115

14. Syarh sirah al-Muglatha


15. Syarh al-Syafiyah li Ibn al-Hajib
16. Syarh Arudl li Ibn al-Hajib
17. Syarh Quthah min Sunan Abi Dawud
18. Thabaqat al-Hanafiyyah
19. Thabaqat al-Syuara
20. Aqd al-Jaman fi Tarikh ahl al-Zaman
21. al-Ilm al-Haib fi syarh al-Kalam al-Thayyib li Ibn Taimiyyah
22. Umdat al-Qari fi syarh al-Jami al-Shahih li al-Bukhari
23. Faraid al-Awaid fi Ihtishar syarh al-Syawahid li al-Alfiyyah
24. Kasf al-Litsam fi syarh Sirah Ibn Hisyam
25. al-Masail al-Badriyyah al-Muntakhab min Fatawa al-Dhahiriyyah
26. al-Mutajammi fi syarh al-Majma li Ibn al-Saati
27. Masyarih al-Usur fi al-khuthabi wa al-mawaidhi
28. Maghani al-Akhbar fi Rijal Maani al-Atsar
29. al-Maqashid al-Nahwiyyah fi syarh Syawahid syuruh li al-Alfiyyah
30. Malah al-Arwah fi Syarh al-Marah
31. Minhah al-Suluk syarh Tuhfah al-Muluk fi al-Furu
32. Mizan al-Nushush fi ilm al-Arudl
33. Nakhab al-Afkar fi Tanqih Mabani al-Akhbar syarh Maani al-Atsar
34. Nihayah al-Bayan syarh ala al-Hidayah li al-Marghaniyani

SekilastentangUmdatal-Qari
Pensyarahan hadis sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya
merupakan proses transformasi pemahaman (fiqh al-hadits) dari budaya
lisan ke budaya tulis, artinya bahwa pada awalnya penjelasan hadis banyak
berlangsung secara safahi (lisan), kemudian berkembang kepada
penuangan dari hasil pemahaman tersebut kepada media tulisam yang
kemudian dikenal sebagai kitab syarh.
Salah satu hazanah kitab syarah hadis Nabi Saw karya Badr al-Din alAini adalah kitab Umdat al-Qari. Kitab ini mensyarahi Shahih al-Bukhari
karya Imam al-Hafidh Abu Abd Allah Muhammad bin Ismail al-Jufi alBukhari (w. 256 H) -sebagai kitab himpunan hadis yang shahih pertama
kali di antara kutub al-Sittah,8 Imam al-Nawawi dalam Syarah Muslim
yang dikutip Haji Khalifah menyatakan bahwa ulama sepakat bahwa kitab
yang paling shahih setelah al-Quran adalah Shahihani (Shahih al-Bukhari
dan Shahih Muslim), di antara keduanya Shahih al-Bukhari yang lebih
utama.9

116

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Ulama banyak yang memberikan apresiasi terhadap kitab Shahih alBukhari ini diantaranya bukti adalah munculnya kitab-kitab syarah
(penjelasan) atas kitab ini baik masih berupa naskah (makhthuth)
maupun yang telah diterbitkan (mathbu), lebih rinci dapat dilihat dalam
kitab Kasyf al-dhunun karya Haji Khalifah.10 Salah satunya adalah Umdat
al-Qari karya Badr al-Din al-Aini.
Tentang karya Badr al-Din al-Aini ini, kitabnya memiliki nama
lengkap Umdat alQari syarh Shahih al-Bukhari. Pada terbitan Dar al-Fikr
Beirut Libanon, kitab ini terdiri dari 12 jilid dengan rincian sebagai
berikut:
1. Jilid 1 terdiri dari juz 1 dan 2,
2. Jilid 2 terdiri dari juz 3 dan 4,
3. Jilid 3 terdiri dari juz 5 dan 6,
4. Jilid 4 terdiri dari juz 7 dan 8
5. Jilid 5 terdiri dari juz 9 dan 10
6. Jilid 6 terdiri dari juz 11 dan 12
7. Jilid 7 terdiri dari juz 13 dan 14
8. Jilid 8 terdiri dari juz 15 dan 16
9. Jilid 9 terdiri dari juz 17 dan 18
10. Jilid 10 terdiri dari juz 19 dan 20
11. Jilid 11 terdiri dari juz 21 dan 22
12. Jilid 12 terdiri dari juz 23, 24 dan 25
Secara khusus Badr al-Din al-Aini dalam rangka menuliskan kitab
ini, ia telah melakukan lawatan sebelumnya ke negeri Selatan al-Nadiyah
yaitu sebelum tahun 800 H dalam rangka memperoleh pengetahuan yang
langka seperti mempelajari kitab al-Lalali al-Zawahir yang terkait dengan
menampilkan rahasia kitab Shahih al-Bukhari tersebut.11
Kemudian dia kembali ke Mesir dan membuat syarah atas kitab Maani
al-Atsar karya al-Imam Abu Jafar Amad bin Muhammad bin Salamah
al-Thahawi, kemudian mensyarahi Sunan Abi Dawud al-Sijistani, baru
kemudian setelah selang beberapa waktu ia mensyarahi kitab Shahih alBukhari.12
Badr al-Din al-Aini menyatakan bahwa ada beberapa hal yang ia
hasilkan dari pensyarahan kitab Shahih al-Bukhari ini, antara lain:
1. Memahami keunggulan yang tersembunyi di dalamnya bahwa sebuah
ilmu adalah pemberian Allah
2. Penampakan dari ilmu Allah tersebut patut disyukuri agar ditambahkan
nikmatnya oleh Allah yaitu dengan menyebarluaskan ilmu itu kepada

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

117

ummat
3. Banyaknya doa dari para sahabat dalam penulisan kitab syarah hadis
ini turut mendorong terwujudnya penjelasan yang simpel tapi jelas.13
Di dalam pengantar ini pula Badr al-Din al-Aini menyebut nama kitab
syarahnya ini dengan Umdat al-Qari fi Syarh al-Bukhari.14
Tentang penyandaran sanad kitab syarahnya ini kepada al-Imam alBukhari, Badr al-Din al-Aini mempelajarinya melalui 2 jalur yaitu:15
1. Melalui Syaikh al-Imam al-Allamah Zain al-Din Abd al-Rahim bin
Abi al-Mahasin Husain bin Abd al-Rahman al-Iraqi al-SyafiI (wafat
malam Rabu 8 Syaban 806 H di Kaero). Badr al-Din al-Aini menyimak
dari awal hinga akhir dalam beberapa majelisnya, paling akhir di
majelisnya adalah bulan Ramadlan sekitar tahun 788 H di Jami alQalah Dhahir Kaero. Melalui syaikh inilah Badr al-Din al-Aini
mendapatkan darinya pembacaan dari Syaikh Syihab al-Din Ahmad
bin Muhammad bin Manshur al-Asymuni al-Hanafi yang telah
mendengar secara utuh kitab Shahih al-Bukhari tersebut dari dua syaikh
yaitu Abu Ali Abd al-Rahim bin Abd Allah bin Yusuf al-Anshari
dan Qadli al-Qudlat Ala al-Din bin Ali bin Utsman bin Mushthafa
bin al-Turkimani. Syaikh pertama menerima dari Abu al-Abbas
Ahmad bin Ali bin Yusuf al-Dimasyqi dan Abu Amr Utsman bin
Abd al-Rahman bin Rasyiq al-RabI dan Abu al-Thahir Ismail bin
Abd al-Qawi bin Abi al-Izz bin Uzwan secara simai kecuali pada bab
al-musafir, ma yajuzu min al-syuruth fi al-makatib hingga al-syuruth fi aljihad dan beberapa bab lain yang diterima secara ijazah. Kesemua jalur
tadi bersumber dari Habbat Allah bin Ali bin Masud al-Bushiri dan
Abu Abd Allah Muhammad bin Ahmad bin Hamid al-Artahi, alBushiri menyatakan bahwa ia menerima riwayat dari Abu Abd Allah
Muhammad bin Barkat al-Saidi sementara al-Artahi menerima dari
Ibn Umar al-Farra secara ijazah, keduanya menerima dari Karimah
bint Ahmad al-Marwaziyah dari Abu al-Haitsam Muhammad bin
Makiyy al-Kasymaihani. Adapun Qadli Ala al-Din menerima dari
beberapa rawi di antaranya Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin
Harun al-Qari dari Abd Allah al-Husain bin al-Mubarak al-Zubaidi
dari Abu al-Waqt Abd al-Awwal bin Isa al-Sajzi dari Abd al-Rahman
bin Muhammad bin al-Mudhaffar al-Dawudi dari Abd Allah bin
Ahmad bin Hamawiyah, ia berkata juga al-Kasymaihani: kami
menerima riwayat dari Abu Abd Allah Muhammad bin Yusuf bin
Mathar al-Farbari dari al-Imam Abu Abd Allah Muhammad bin Ismail
al-Bukhari.

118

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

2. Melalui Syaikh al-Imam al-Alim al-Muhaddits al-Kabir Taqiy al-Din


Muhammad bin Muin al-Din Muhammad bin Zain al-Din Abd alRahman bin Haidarah bin Amr bin Muhammad al-Dajuwi al-Mishri
al-Syafiiy yaitu hasil qiraah-nya dihadapan al-Syaikh al-Imam al-Qadli
Syihab al-Din Ahmad bin Muhammad yang dikenal dengan Ibn alTaqiy al-Maliki yang ia bacakan (qiraah) dihadapan dua syaikh yaitu
Zain al-Din Abi al-Qasim Abd al-Rahman bin al-Syaikh Abi al-Hasan
Ali bin Muhammad bin Harun al-Tsalabi dan Shalah al-Din Khalil
bin Tharanthai bin Abd Allah al-Zaini al-Adili. Rawi pertama
menerima secara simaiy dari ayahnya (al-Syaikh Abu al-Hasan Ali
bin Muhammad bin Harun al-Tsalabi) dan Abu al-Hasan Ali bin Abd
al-Ghani bin Muhammad bin Abi al-Qasim bin Taimiyah dari riwayat
simaiy kepada ayahnya (Abd al-Ghani bin Muhammad) dari Abi Abd
Allah al-Husain bin al-Zubaidi (pada tingkatan keempat), sementara
Ibn Taimiyah menerima secara simaiy dari Abi al-Hasan Ali bin Abi
Bakr bin Ruzbah al-Qalansi yang keduanya menyimak dari Abi alWaqt. Rawi pertama juga menerima riwayat dari Abi Abd Allah
Muhammad bin Makiy bin Abi al-Dzikr al-Shaqli yang menyimak dari
Ibn Abi al-Dzikr dari Abi al-Zubaidi. Pada fase keempat pula riwayat
ayahnya (Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Harun al-Tsalabi)
dari al-Imam al-Hafidh Abi Amr Utsman bin Abd al-Rahman bin
Shalah dari Manshur bin Abd al-Munim al-Farawi dari empat syaikh
antara lain Abu al-Maali Muhammad bin Ismail al-Farisi, Abu Bakr
Wajih bin Thahir al-Syahami, Abu Muhammad Abd al-Wahhab bin
Syah al-Syadziyakhi serta Abd Allah Ibn Muhammad bin al-Fadll alFarawi secara simaiy maupun ijazah. Al-Farisi dan Muhammad bin alFadll menerima dari Said bin Abi Said al-Ayyar dari Abu Ali bin
Muhammad bin Umar bin Syibawaih, al-Syahami dan al-Syadziyakhi
juga Muhammad bin al-Fadll al-Farawi menerima dari Abu Sahl bin
Muhammad bin Ahmad bin Abd Allah al-Hafshi dari Abu al-Haitsam
Muhammad bin Makiy bin Muhammad al-Kasymaihani, melalui
penyimakannya juga simaiy-nya Ibn Syibawaih dari al-Farbari dari alImam al-Bukhari. Adapun dari jalur kedua yaitu Khalil al-Tharanthai
dari Abi al-Abbas Ahmad bin Abi Thalib nimah bin Hasan bin Ali
bin Bayat al-Shalihi Ibn al-Syahinah al-Hajjar dan Umm Muhammad
Wazirah ibnat Amr bin Asad bin al-Manja dari Ibn al-Zubaidi dari
Abi al-Waqt Abd al-Awwal al-Sajzi dari Jamal al-Islam Abu al-Hasan
Abd al-Rahman bin Muhammad bin al-Mudhaffar al-Dawudi dari

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

119

Abi Muhammad Abd Allah bin Ahmad bin Hamawiyah dari Abi Abd
Allah Muhammad bin Yusuf bin Mathar al-Farbari dari al-Imam alBukhari.
Disamping mengemukakan jalur penyandaran riwayat shahih al-Bukhari
tersebut kepada al-Imam al-Bukhari pada dua jalur di atas, Badr al-Din
al-Aini juga mengemukakan beberapa informasi penting dibawah sub
judul (fawaid) diantaranya adalah:
1. Penamaan kitab shahih al-Bukhari dengan al-Jami al-Musnad al-Shahih
al-Mukhtashar min Umur Rasul Allah wa sunanihi wa ayyamihi. Kitab ini
dinilai sebagai kitab yang pertama kali menghimpun hadis-hadis yang
shahih saja yang disusun dalam waktu 16 tahun di Bukhara (menurut
Ibn Thahir), menurut Ibn al-Bujair di Makkah, sementara menurut
keyakinanku (Badr al-Aini) bahwa kitab ini disusun di Makkah,
Madinah Bashrah dan di Bukhara.16
2. Status Kitab ini menurut kesepakatan ulama di Timur maupun di Barat
bahwa tidak ada kitab yang lebih shahih setelah al-Quran selain
Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, ulama Barat menempatkan shahih
Muslim atas shahih al-Bukhari sementara Jumhur (mayoritas ulama)
menempatkan shahih al-Bukhari atas shahih Muslim.17
3. Yang memenuhi syarat menurut al-Hakim adalah tidak sampai 10.000
hadis. Syarat Shahihain ini antara lain ittishal al-sanad (sanadnya
bersambung), diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah dari awal hingga
akhir sanad dengan terhindar hadisnya dari syudzudz dan illat.18
4. Hadis yang bersambung (musnad) mencapai 7275 hadis termasuk yang
diulang dan sekitar 4000 hadis bila tanpa pengulangan.19
5. Sistematika pembaban kitab Shahih al-Bukhari ini dijelaskan secara
rinci oleh Abu al-Fadll Muhammad Thahir al-Maqdisi yang
disandarkan pada riwayat al-Hamawi (rincian dapat dilihat dalam
kitab ini pula).20
6. Rawi-rawi yang digunakan al-Bukhari di dalam kitabnya ini terdiri
dari 5 thabaqat.21
7. Di dalam Shahih al-Bukhari ini juga terdapat beberapa rawi yang dinilai
cacat oleh kritikus hadis karena tidak sesuai dengan syarat yang
ditentukan seperti kritik Ibn al-Shalah terhadap Ikrimah, Ismail bin
Abi Aus dan lainnya.22
8. Al-Bukhari juga meriwayatkan suatu hadis dari jalur lain yang berstatus
mutabaah juga syahid.23
9. Terdapat nama-nama yang berulang (dari segi tulisan sama) tetapi
beda orangnya antara lain:24

120

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

a) Ubay kecuali Abi al-Lahm


b) Al-Bara kecuali Abu Masyar al-Barra dan Abu al-Aliyah al-Barra
(ditasydid) dan banyak lagi lainnya.
10. Ada beberapa hadis dan qaul shahabi di dalam kitab Shahih al-Bukhari
ini yang tidak bersanad seperti dinyatakan di dalamnya qala dan ruwiya
dan yang sejenis keduanya, maka statusnya shahih, sedangkan bila
mengunakan term al-tamridl seperti rawa dan sejenisnya, maka tidak
dapat dipastikan hukumnya shahih tetapi hadis tersebut tidak lemah,
sebab bila wahiy (lemah) pasti tidak akan masuk dalam kitab shahih
ini.25
Kemudian baru Badr al-Aini menjelaskan satu persatu hadis yang
ada dalam Shahih al-Bukhari ini dengan diawali penjelasan tentang
penamaan kitab dan bab dan seterusnya

LangkahPemahamanHadisBadral-Dinal-Aini
Para syarih (pensyarah hadis) pada umumnya memberikan komentar
atau penjelasan suatu hadis dalam kitab himpunan hadis tertentu dengan
menggunakan sistematika yang beragam, ada yang sangat rinci (tafshili),
ada pula yang ringkas atau terbatas bada kata ataupun kalimat tertentu
(wajiz).
Tentang sistematika pensyarahan Badr al-Din al-Aini dalam Umdat
al-Qari ini secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Muqaddimah Kitab, di antaranya memuat puji-pujian kepada Allah,
shalawat, urgensi sunnah Nabi dan pentingnya pemahaman
terhadapnya, penyendaran (isnad) Badr al-Aini terhadap imam alBukhari (melalui dua jalur), beberapa informasi di sekitar Shahih alBukhari mulai dari; penamaan, peringkat kitabnya di jajaran kitab
hadis, status hadisnya, jumlah hadisnya, pembaban, rawi-rawi yang
terlibat di dalamnya (5 Thabaqat), rawi yang dikritik, status syawahid
dan mutabi hadis-hadisnya, penetapan nama-nama yang sering
digunakan al-Bukhari serta status hadis yang tanpa sanad di dalamnya.
2. Penjelasan kitab ataupun bab. Dalam hal ini Badr al-Din al-Aini
menyatakan bahwa sudah menjadi kewajiban mushannif dalam
memulai karyanya untuk menuliskan 3 hal (risalah): basmalah,
hamdalah dan shalawat, ada pula yang menyatakan 4 yaitu ditambahkan
tentang betapa penting dan terpujinya ilmu yang sedang ditulis
tersebut.26 Kemudian tentang penamaan kitab atau bab, mulai dari
bayan al-tarjamah (penjelasan maksud isi), bayan al-lughah (telaah

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

121

bahasa), bayan al-sharf (telaah sharafiyyah), bayan al-irab (telaah Irab),


bayan al-maani (telaah makna), bayan al-bayan (telaah bayani), bayan
tafsir (telaah penafsiran ayat), bayan tashdir al-bab bi al-ayat al-madzkurah
(telaah argumentasi penggunaan ayat sebagai awal bab yang
dimaksud).
Secara umum sistematika penjelasan di atas konsist digunakan
Badr al-Din al-Aini, hanya saja penjelasan yang telah diberikan pada
bagian-bagian awal tidak diulangi kembali bada bagian-bagian
selanjutnya. Di samping itu penjelasan terhadap kitab ataupun bab
tersebut tidak semuanya diberikan penjelasan dari point perpoint,
melainkan yang dianggap perlu mendapatkan penjelasan sesuai sub
tema pada point-point tersebut saja.
3. Penjelasan hadis yang terdiri dari penjelasan sanad berikut matannya,
dalam hal ini sistematika yang digunakan Badr al-Din al-Aini sebagai
berikut: Contoh hadis:

Setelah mengemukakan hadis secara lengkap, Badr al-Din al-Aini


memulai penjelasannya dengan beberapa judul telaah (sebagaimana pada
point sebelumnya) antara lain bayan taalluq al-hadits bi al-ayah (telaah
korelasi hadis dengan ayat yang dikemukakan sebelumnya), bayan taalluq
al-hadits bi al-tarjamah (telaah korelasi hadis dengan maksud isinya),
bayan rijalihi (telaah rawi yang ada di dalam hadis tersebut), bayan dlabth
al-rijal (telaah kepastian personal rawi melalui penyebutan yang tepat
seperti al-humaidi dengan al-hamid), bayan al-ansab (telaah nasab
terutama bila ada dua nama yang sama), bayan fawaid tataallaq bi al-rijal
(telaah manfaat yang terkait dengan informasi rawi), bayan lathaif isnadihi
(telaah dari seluk beluk periwayatan di dalam rangkaian sanad hadis),
bayan nau al-Hadits (telaah jenis hadis, seperti keterangan tentang

122

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

mutawatir atau ahad-nya hadis, ittishal atau inqitha-nya sanad, musnad


ila al-Nabi atau mauqufan dan sejenisnya), bayan taaddud al-hadits fi alshahih (telaah jumlah hadis tersebut dalam shahih al-Bukhari ini, lihat
contoh),27 bayan man akhrajahu ghairuh (telaah mukharrij lain yang
mengutip hadis yang dimaksud), bayan Ikhtilaf lafdhihi (telaah perbedaan
lafadh hadis), bayan ikhtiyarihi hadza fi al-bidayah (telaah argumen
pemilihan hadis ini sebagai pendahuluan), bayan al-Lughah (telaah
bahasa), bayan al-irab (telaah irab), bayan al-maani (telaah makna),
bayan al-bayan (telaah bayani), bayan al-badi (telaah keindahan
sastranya), al-asilah wa al-ajwibah (perbincangan di sekitar hadis), bayan
al-sabab wa al-maurud (telaah sebab munculnya hadis), faedah (beberapa
manfaat hadis), bayan al-sharf (telaah sharaf), istinbath al-Ahkam (hukum
yang dapat ditarik dari nash ini), hukm al-hadits (status hadis), bayan
ikhtilaf al-riwayat (telaah berbagai perbedaan riwayat), serta Tambahan
lain pada keterangan rijal yang ada di dalam sanad maupun matan hadis,
antara lain Badr al-Din al-Aini juga memberikan keterangan tentang 1)
bayan al-asma al-waqiqh fihi (telaah nama yang dikutip dalam hadis), 2)
bayan al-asma al-mubhamah (telaah nama yang samar), 3) bayan asma alamakin fihi (telaah nama-nama tempat yan dikutip di dalamnya).
Sebagaimana penjelasan pada bab ataupun kitab, dalam konteks
penjelasan hadis inipun Badr al-Din al-Aini secara umum menggunakan
secara konsist sistematika penjelasan point-perpoint di atas, hanya saja
penjelasan yang telah diberikan pada bagian-bagian awal tidak diulangi
kembali bada bagian-bagian selanjutnya. Di samping itu penjelasan
terhadap rijal ataupun matn hadis tersebut tidak semuanya diberikan
penjelasan dari point ke point, melainkan yang dianggap perlu
mendapatkan penjelasan sesuai sub tema pada point-point tersebut saja.
Disamping itu ada beberapa penamaan sub tema dari penjelasan Badr
al-Din al-Aini ini yang digabungkan, misal gabungan antara dua sub
tema bayan taaddud al-hadits dengan bayan man akhrajahu ghairuhu,28
kemudian pada sub tema bayan al-maani denan bayan al-bayan.29 Ada
pula dari bentuk sub tema mufrad diganti dalam bentuk jama seperti
bayanal-lughahmenjadibayanal-lughat.30

PendekatandanCorakSyarah
Berdasarkan pembacaan terhadap sistematika pensyarahan di atas,
tampak sekali nuansa lughawi (corak kebahasaan) mendominasi

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

123

pensyarahan yang dilakukan oleh Badr al-Din al-Aini.


Misalnya dalam menjelaskan nama bab ataupun kitab yang termuat
dalam Shahih al-Bukhari hampir keseluruhannya dijelaskan melalui
pendekatan bahasa, diantaranya telaah tarjamah, al-lughah, al-sharf, alirab, al-maani, al-bayan dan al-tafsir.
Satu point yang tidak terkait dengan pendekatan kebahasaan secara
langsung, yaitu telaah korelasi judul dengan ayat al-Quran yang
dimunculkan di tiap awal bab tersebut.
Demikian pula dalam menjelaskan hadis Nabi, sekalipun di awal
dikemukakan telaah korelasi hadis dengan ayat yang dimunculkan pada
awal bab-nya, dominasi pendekatan kebahasaan tetap lebih menonjol.
Misalkan dalam menelaah rijal dalam sanad, Badr al-Din al-Aini
menjelaskan secara detail huruf dan harakat nama-nama rawi yang ada
di dalam sanad yaitu melalui sub tema bayan rijalihi, bayan dlabth al-rijal,
bayan al-asma al-waqiah fihi, bayan al-asma al-mubhamah dan bayan alasma al-amakin fihi.
Dalam memberikan penjelasan matan hadisnya, Badr al-Din al-Aini
disamping menjelaskan keragaman redaksi di dalamnya melalui sub tema
ikhtilaf lafdhihi maupun ikhtilaf al-riwayat, ia menjelaskan banyak hal pada
isi hadis dengan pendekatan bahasa pula, seperti bayan al-lughat, bayan
al-Irab, bayan al-maani, bayan al-bayan, bayan al-sharf, dan bayan al-badi.
Dengan demikian hampir tidak kurang dari 80 prosen penjelasan Badr
al-Din al-Aini dalam Umdat al-Qari ini menggunakan pendekatan
kebahasaan sehingga warna secara umum kitab syarah ini adalah laun
al-lughawi (warna kebahasaan).
Sisanya hal-hal yang terkait dengan status hadis, Badr al-Din al-Aini
menggunakan telaah ulama terdahulu untuk memantapkan status hadis
yang sedang ia syarahi, demikian pula pada saat membandingkan riwayat
satu dengan riwayat lain, lafal satu dengan lafal lain, ia gunakan
pendekatan ilmu hadis seperti takhrij al-hadits dan itibar al-sanad.
Adapun hadis-hadis yang terkait dengan hukum ia dekati melalui
ilmu ushul yang di dalamnya memuat metode istinbath al-ahkam. Dan
lebih sering lagi ketika terkait dengan ahkam ini ia melibatkan keragaman
pendapat yang ada di sekitar madzahib al-arbaah berikut argumentasi
mereka masing-masing.
Demikian pula hadis-hadis yang secara umum memiliki latar belakang
historis (sabab al-wurud) atau hadis-hadis tentang tafsir al-Quran, Badr
al-Din al-Aini tidak meningalkan riwayat-riwayat yang masyhur dalam
rangka memperjelas maksud hadis yang disyarahi.

124

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

KecenderunganPemahamanSyarih
Syarah hadis sebagai salah satu bentuk tuangan pemikiran muallif
dalam memahami teks yang disyarahi tidak dapat dihindari adanya
kecenderungan-kecenderungan yang dimiliki syarih (pensyarah hadis)
di dalamnya, baik pada kecenderungan madzhab tertentu, pola pikir
tertentu dan sejenisnya.
Berdasarkan pemikiran di atas, posisi Badr al-Din al-Aini yang banyak
bergelut di bidang bahasa dan pemikiran-pemikiran yang berkembang
pada masanya serta madzhab yang dianutnya (madzhab Hanafi) diduga
kuat berperan atau bahkan mempengaruhi pemahaman dia terhadap hadis
Nabi yang kemudian ia tuangkan dalam kitab syarah-nya.
Untuk melihat secara utuh kecenderungan ini tidak mudah untuk
dilakukan, oleh karena itu dalam bagian ini akan penulis contohkan
beberapa sample yang dapat ditarik kesimpulan sementara tentang
kecenderungan dia dalam memahami hadis Nabi.
Sample yang akan dianalisis adalah yang terkait dengan hadis tafsir,
hadis-hadis tentang kedokteran dan hadis yang terkait dengan hukum
ibadah (fiqh ibadah).
1. Hadis tafsir surat al-Takatsur yang berbunyi:

Hadis di atas dikomentari Badr al-Din al-Aini bahwa maksud alhakum


al-takatsur adalah berbanyak-banyak dalam hal harta dan anak yang
menjadikan kalian lalai (sibuk) dari menginat Allah. Dasar penjelasan
ini disandarkan pada riwayat Ibn al-Mundzir dari jalur Ibn Juraij dari
Atha dari Ibn Abbas juga dari Qatadah. Hadis ini menurut ulama yang
dikutip tersebut munculnya karena peristiwa seoran Yahudi yang
membanggakan diri dengan mengatakan: kami lebih banyak jumlahnya
dari bani fulan ataupun banu fulan, karena kebanggaan ini mereka terlena
hingga mereka mati tetap dalam kesesatan.31
Berdasarkan keterangan yang diberikan tersebut, dan dari beberapa
pengamatan contoh lain yang terkait dengan hadis-hadis tafsir khususnya,
Badr al-Din al-Aini tidak terlalu jauh beranjak dari pendapat atau riwayat
yang telah ada. Oleh karena itu penulis menilai kecenderungan
pensyarahan Badr al-Din al-Aini terhadap hadis-hadis yang terkait dengan
penfsiran al-Quran apresiatif dengan tafsiran sahabat, tabiin (atsar)

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

125

2. Hadis-hadis tentang al-thibb (dunia kedokteran dan kesehatan)

Dalam memberikan komentar tentang kitab al-thibb ini, Badr al-Din


al-Aini mengemukakan bahwa al-thibb adalah ilmu tentang memahami
kondisi badan manusia (sehat atau tidaknya) dengan tujuan memelihara
kesehatan yang ada dan mengembalikan kesehatan yang telah hilang
darinya. Pengobatan adalah upaya mengembalikan sehat dari sakit. Dalam
konteks kitab al-thibb di dalam hadis ini adalah memuat petunjuk Nabi
yan terkait dengan sistem pengobatan yang terdiri dari pengobatan yang
dipahami dari jalan wahyu dan pengobatan yang dikenal di dalam adat
Arab serta pengobatan yang menggunakan tabbaruk sebagaimana
memohon kesembuhan melalui al-Quran.32
Tampak dari uraian tersebut Badr al-Din memandang secara obyektif
bahwa pengobatan yang diisyaratkan oleh Nabi dan yang berkembang
pada masanya sebagai bentuk pengobatan yang berkembang di dalam
tradisi bangsa Arab saat itu, lebih jelasnya kecenderungan pemikiran
obyektif dan rasional ini dalapat dilihat dalam penjelasan-penjelasan
berikutnya:

Pada statemen di atas, Badr al-Din al-Aini menegaskan bahwa apa


yang menimpa manusia pada dasarnya adalah taqdir dan taqdir-Nya pula
yang menurunkan obatnya, bila dipersoalkan banyaknya orang sakit yang
berobat tetapi tidak membaik, menurutku (Badr al-Din al-Aini) boleh
jadi karena ketidak tahuan dengan obat yang seharusnya diberikaan atau
ketidak mampuan melaksanakan identifikasi penyakitnya bukan karena
tidak ada obatnya.33
Lebih tampak jelas lagi kecenderungan Badr al-Din al-Aini dalam
memahami nash hadis yang terkait dengan ilmu-ilmu kauniyah -seperti
masalah kedokteran ini- dengan pemahaman yang rasional obyektif
sebagaimana tertuang pada penjelasan hadis berikut:

126

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Pada hadis ini Badr al-Din al-Aini memberikan komentar bahwa


selama ini (di masa dan wilayahnya) terdapat fenomena (sufi) yang
menganggap penyakit sebagai sesuatu (bala) yang harus diterima dengan
ridla, hal ini dikomentarinya sebagai sesuatu yang bertolak belakang
dengan apa yang dianjurkan syara tentang adanya obat bagi setiap penyakit
sekaligus tentang bolehnya berobat.34
Juga pada hadis berikut:

Badr al-Din al-Aini menyatakan bahwa tiga macam pengobatan yang


disebut Nabi tersebut bukan berarti tidak ada pengobatan lainnya.
Menurutnya pernyataan itu didasarkan kebiasaan orang Arab yang
mengklasifikasikan penyakit pada 3 jenis, salah satunya yang terkait
dengan darah, maka penyakit yang disebabkan darah ini cara
pengobatannya adalah dengan meneluarkannya (yan dikenal saat itu
untuk mengeluarkan darah adalah cantuk atau hajamah) bukan berarti
hanya disyaratkan pengobatannya dengan hajamah tersebut. Sebab tidak
semua daerah cocok dengan cara pengobatan demikian, boleh jadi cukup
dengan obat ringan bisa dilakukan dan sebagainya.35 Artinya sistem
pengobatan yang disebut oleh Nabi di atas tidak berlaku mutlak, demikian
pula ketika beliau melarang dengan sistem penyetrikaan atau sulutan
api, tidak mutlak ditinggalkan juga tidak mutlak digunakan melainkan
digunakan dengan mempertimbangkan beberapa kondisi, alasannya
bahwa Nabipun pernah melakukan cara penyetrikaan tersebut kepadaa
beberapa sahabatnya (demikian komentar lanjut Badr al-Din al-Aini).

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

127

3. Hadis tentang wudlu.

Pada hadis di atas, Badr al-Din al-Aini memberikan komentar pada


sub bab istinbath al-ahkam, di dalamnya Badr al-Din al-Aini cukup
akomodatif dalam mengomentari suatu perbedaan yang ada terhadap
persoalan basuhan wudlu satu kali-satu kali, ada yang dua kali-dua kali,
ada pula yang tiga kali-tiga kali, yaitu dengan mengemukakan ulama
yang berpegang pada masing-masing pilihan tersebut berikut
argumentasinya. Kompromi yang diberikannya adalah bahwa bolehnya
seluruh pilihan di atas, tiga kali-tiga kali merupakan kesempurnaan
sementara satu kali-satu kali dianggap telah memenuhi persyaratan .36
Tentang kumur misalnya, Badr al-Din al-Aini mengemukakan
beberapa versi ulama tentang hukumnya, hukum yang menurutnya
sunnah, menurut Atha, al-Zuhri, Ibn Abi Laila, Hammad dan Ishaq
menyatakan bahwa hendaknya diulang wudlunya bila tertinggal (tidak
berkumur), sementara Qatadah, Rabiah, Yahya al-Anshari, Malik, alAuzaiy, al-Syafii dan al-Zuhri (pendapat terakhir) menyatakan tidak
perlu diulang, lain halnya Ahmad yang menyatakan diulang bila

128

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

meninggalkan istinsyaq sementara meninggalkan madlmadlah (kumur)


tidak diulang, pendapat ini didukung pula Abu Ubaid, Abu Tsaur.
Sedangkan Abu Hanifah dan al-Tsauri menyatakan diulang bila
meninggalkan pada mandi jinabah tidak pada wudlu.37
Pengakuan diri pada madzhabnya dapat dilihat ketika Badr al-Din alAini menguraikan lima cara berkumur, di antaranya: 1) berkumur dan
beristinsyaq dengan tiga gayung air (terdapat dalam hadis Shahih dan
lainnya), 2) menghimpun keduanya dengan satu gayung air maisng-masing
tiga kali (riwayat Ali bin Abi Thalib dari Nabi Saw), 3) dengan satu
gayung berkumur kemudian istinsyaq secara berurutan kemudian diulang
hingga tiga kali (riwayat Abdullah bin Zaid dari Nabi Saw), 4)
memisahkan dengan dua gayung air, berkumur denan satu gayung tiga
kali dan ber-istinsyaq dengan satu gayung air tiga kali (inilah yang dipilih
madzhab kami yan didasarkan pada riwayat al-Turmudzi dari Ali Ra).38
Dari uraian tersebut tampak bahwa Badr al-Din al-Aini di satu saat
kompromis namun di saat yang lain cenderung berpendapat sesuai
madzhabnya atau apa yang ia kemukakan sekaligus merupakan
representasi madzhabnya yaitu Hanafiyah.

Penutup
Demikian sekilas tentang pemahaman hadis Badr al-Din al-Aini
dengan harapan pembaca mampu mengambil pelajaran dari metodenya
di antara metode pemahaman yang dimiliki ulama lain sehingga dapat
memperkaya pemahaman pembaca dalam memahami suatu hadis Nabi
Saw. Sudah barang tentu pemaparan ini belum sempurna sehingga
menuntut adanya kritik dan informasi tambahan yang dapat
menyempurnakannya.[]

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

129

Catatan Akhir:
*Penulis adalah dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.
1
Ismail Basya al-Baghdadi, Hadayyat al-Arifin Asma al-Muallifin wa
atsar al-Mushannifin min Kasyf al-Dhunun, (Beirut: Dar al-Kutub alIlmiyyah, 1992), jilid 6, h. 420-421; Lihat pula Abu al-Falah Abd alHamid bin al-Imad al-Hanbali (w. 1089), Syadzarat al-Dzahab fi Akhbar
min dzahab, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, T.Th.), jilid 4, h. 286288; Lihat pula al-Imam al-Hafidh Abu al-Ali Muhammad Abd alRahman bin Abd al-Rahim al-Mubarakfuri (1283-1353 H), Muqaddimah
Tuhfah al-Ahwadzi Syarh Jami al-Turmudzi, (Madinah: Muhammad Abd
al-Muhsin al-Kitabi, T.Th.), h. 252
2
Ismail Basya al-Baghdadi, ibid.; Abu al-Falah, ibid.,
3
Abu al-Falah, ibid.,
4
Ibid.
5
Ibid.
6
Ibid.
7
Abu al-Falah, ibid., lihat pula Ismail Basya al-Baghdadi, loc.cit.
8
Haji Khalifah, al-Maula Mushthafa bin Abd Allah al-Qusthanthini
al-Rumi al-Hanafi (1017-1067), Kasf al-Dhunun An Asami al-Kutub wa
al-Funun, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, T.Th), Jilid 1, h. 541
9Ibid.,
10
Ibid., h. 545-554
11
Ibid., h. 3
12
Ibid., h. 3
13
Ibid., h. 3
14
Ibid., h. 4
15
Ibid., h. 4-5
16
Ibid., h. 5
17
Ibid., h. 5
18
Ibid., h. 6
19
Ibid., h. 6
20
Ibid., h. 6-7
21
Ibid., h. 7-8
22
Ibid., h. 8
23
Ibid., h. 8
24
Ibid., h. 8-10
25
Ibid., h. 10-11
26
Al-Syaikh al-Imam al-Allamah Badr al-Din Abu Muhammad

130

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Mahmud bin Ahmad al-Aini (w. 855), Umdat al-Qari Syarh Shahih alBukhari, (Beirut: Muhammad Amin Damh, T.Th.), juz 1, h. 11
27
Ibid., h. 21; antara lain di kitab al-iman, bab ma jaa inna al-amal bi
al-niyyah, di kitab al-itq, bab al-khatha wa al-nisyan fi al-ataqah wa althalaq, di bab hijrah al-Nabi Saw, di Kitab al-Nikah, bab man hajara aw
amila khairan litazwij imraah, di kitab al-aiman wa al-nudzur, bab al-niyyah
fi al-aiman, dan terakhhir pada bab tark al-hiyal.
28
Ibid., h. 39
29
Ibid., h. 95
30
Ibid., h. 40
31
Ibid., Juz 19, h. 313
32
Ibid., Juz 21, h. 229
33
Ibid., h. 229-230
34
Ibid., h. 230
35
Ibid., h. 230-231
36
Ibid., Juz 3, h. 4-11
37
Ibid., h. 8
38
Ibid., h. 8-9

DAFTAR PUSTAKA
Abu al-Falah, 'Abd al-Hamid bin al-'Imad al-Hanbali (w. 1089), Syadzarat
al-Dzahab fi Akhbar min dzahab, (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah,
tth.)
Al-'Aini, Al-Syaikh al-Imam al-'Allamah Badr al-Din Abu Muhammad
Mahmud bin Ahmad (w. 855), 'Umdat al-Qari Syarh Shahih alBukhari, Muhammad Amin Damh, Beirut, tth., juz 1, hlm. 11
Al-Mubarakfuri, al-Imam al-Hafidh Abu al-'Ali Muhammad 'Abd alRahman bin 'Abd al-Rahim (1283-1353 H), Miqaddimah Tuhfah alAhwadzi Syarh Jami' al-Turmudzi, (Madinah: Muhammad 'Abd alMuhsin al-Kitabi, tth.)
Haji Khalifah, al-Maula Mushthafa bin 'Abd Allah al-Qusthanthini alRumi al-Hanafi (1017-1067), Kasf al-Dhunun 'An Asami al-Kutub
wa al-Funun, (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, tth.)

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

131

Isma'il Basya al-Baghdadi, Hadayyat al-'Arifin Asma' al-Mu'allifin wa atsar


al-Mushannifin min Kasyf al-Dhunun, (Beirut: Dar al-Kutub al'Ilmiyyah, 1992)

132

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005