Anda di halaman 1dari 22

al-Quran

Tafsir al-Quran secara umum bercirikan analisislinguistik yang hadir dalam kebutuhan keseharian
umat tidak jarang luput dari pertimbangan etik.
Padahal tafsir dan proses penafsiran al-Quran
semestinya memiliki keterkaitan yang erat dengan
unsur etika. Sebab, semua perbuatan manusia tidak
hanya diukur dari sisi lahiriyah, melainkan juga diukur
berdasarkan pertimbangan etika yang pada dasarnya memilki obyek perbuatan baik dan buruk
manusia. Pertimbangan akal dengan pertimbangan
baik dan buruk ini menjadi watak analisa kebahasaan
yang dikembangkan oleh Aisyah Bint al-Syati. Model
tafsiran ini memungkinkan lahirnya tafsir yang
diwarnai nilai-nilai lokal dan temporal sekaligus,
memiliki bobot nilai-nilai yang abadi dan universal.

Nuansa Etis
Dalam Surat al-Balad
(Sebuah Penafsiran Linguistik Model Bint al-Syati)
Oleh H. Imam Taufiq*

Kata Kunci: Al-Quran, Tafsir, etika, linguistik, dan sosial

Pendahuluan
Al-Quran, sebuah kitab suci yang diturunkan Allah, diyakini
merupakan inspirasi setiap gerak langkah umat Islam dalam kehidupan
ini. Maka untuk benar-benar menjadikan al-Quran sebagaiamana
mestinya, diperlukan upaya kreatif penggalian makna-makna al-Quran.
Namun untuk mengungkapkan dan menjelaskan itu semua, tidaklah
memadai bila seseorang hanya mampu membaca dan menyanyikan alQuran dengan baik. Diperlukan bukan sekedar itu, tapi lebih pada
kemampuan memahami dan mengungkap isi serta mengetahui prinsipprinsip yang dikandungnya. Kemampuan seperti inilah yang disebut
tafsir.1 Sebab itu dikatakan tafsir adalah kunci untuk membuka gudang
simpanan yang tertimbun dalam al-Quran. Tanpa tafsir orang tidak
akan bisa membuka gudang simpanan tersebut untuk mendapatkan
mutiara dan permata yang ada didalamnya.2
Sejalan dengan perjalanan waktu dan perluasan wilayah Islam, al-

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

Quran telah diterjemahkan dan ditafsirkan sejalan dengan kebutuhan


waktu dan tempat bersangkutan, mengingat kaum muslimin
berkeyakinan bahwa al-Quran merupakan rahmat dan petunjuk bagi
segenap bangsa yang berlaku sepanjang waktu dan disemua tempat.
Konsekuensinya adalah bahwa kaum muslimin akan terus
menciptakan masa depan dengan al-Quran. Itulah sebabnya setiap tokoh
yang memerankan dirinya sebagai pembaharu, akan menyusun sebuah
tafsir al-Quran-nya sendiri, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa
setiap penyusun tafsir itu adalah seorang pembaharu.3 Pada zaman modern
ini, terlebih setelah semakin berkurangnya kemampuan dalam tafsir
musalsal atau tartil telah memunculkan tafsir al-Quran yang tidak
mencakup seluruh al-Quran. Tafsir yang bersifat parsial itu, mengambil
bagian khusus dalam al-Quran baik berupa ayat-ayat maupun suratsurat tertentu. Belum lagi perkembangan terkini dengan merebaknya
jenis tafsir al-Maudhui.4
Dari diskursus yang meramaikan peta pemikiran dalam tafsir alQuran, telah menunjukkan lahirnya berbagai jenis tafsir al-Quran
dari tanah intelektual Muslim yang subur. Namun, pada prinsipnya
kesemua tafsir itu bisa dikelompokkan dalam tiga sudut pandangan;
pertama, tafsir yang dipenuhi pengadopsian temuan-temuan keilmuan
mutakhir, tafsir ilmi; kedua, tafsir yang dibasahi analisis linguistik
dan filologik; dan ketiga, tafsir yang bersinggungan dengan persoalanpersoalan keseharian umat.5 Menurut Jansen, maraknya model penafsiran
tersebut (khususnya diparoh awal abad dua puluh) merupakan imbas
intelektual dan barat muslim dengan Barat pasca renaisance, meskipun
bila dilacak lebih jauh, embrio penafsiran ini sudah ada semenjak
masa Abbasiyah pada saat umat bersentuhan dengan kemajuan
pengetahuan yang merupakan condito sine qua non dalam kehidupan
umat, dan mencapai kematangannya pada awal abad dua puluh seperi
terlihat dalam karya monumental Muhammad Tanthawi al-Jauhari
dalam Tafsir al Jawahir, tafsir berjilid-jilid yang sarat akan pengadopsian
penemuan-penemuan ilmu alam mutakhir.
Watak tafsir yang secara umum bercorak analisis-linguistik bahkan
ilmi yang hadir dan dikonsentrasikan dalam kebutuhan keseharian umat
tidak jarang luput dari pertimbangan etik. Padahal tafsir dan proses
penafsiran al-Quran semestinya memiliki keterkaitan yang erat dengan
unsur etika, Sebab semua perbuatan manusia tidak hanya diukur dari
sisi lahiriyah, melainkan juga diukur berdasarkan pertimbangan etika
yang pada dasarnya memilki obyek perbuatan baik dan buruk manusia,
yang berlandaskan akal pikiran manusia dan berdasarkan pertimbangam
naqliyah. Pertimbangan akal memungkinkan lahirnya tafsir yang
diwarnai oleh nilai-nilai lokal dan temporal, sedangkan pertimbangan

64

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

syariyah menghasilkan tafsir yang diwarnai dengan nilai-nilai yang abadi


dan universal. Dengan demikian nuansa etis dimaksudkan adalah suatu
bobot yang sarat dengan nilai-nilai etis sebagai pijakan berpikir. Makalah
ini mengarah pada pengertian etis yang lebih mendasar daripada yang
terdapat dalam perucapan sehari-hari. Dengan kata lain dikatakan
bahwa etis dimaksudkan sebagai konsep dan ajaran yang serba meliputi
dan komprehensif, yang menjadi pangkal pandangan hidup tentang baik
dan buruk.
Adalah Aisyah Abd al-Rahman bint al-Syati salah satu mufassir
perempuan yang menulis kitab tafsir, dalam perspektif perempuan-nya
mencoba membubuhkan nilai etika ke dalam tubuh tafsir al-Quran.
Pengamatan sekilas terhadap magnum opusnya, Tafsir al-Bayani li alQuran al-Karim, akan membuahkan kesan bahwa dalam memahami,
menganalisa bahkan mengamalkan produk-produk keislaman (terlebih
tafsir al-Quran), seseorang tidak boleh melepaskan pertimbanganpertimbangan etika. Tafsir al-Quran modern yang berisikan surat-surat
pendek dalam al-Quran semisal al-Dhuha, al-Zalzalah dan al-Takatsur
ini tidak mengikuti pola suatu penafsiran al-Quran secara tartil.
Menurut Issa J. Boullata, metode yang dikembangkan Bint al-Syati
tampak mengandung kehati-hatian yang sengaja dipatok agar dapat
membiarkan al-Quran berbicara mengenai dirinya sendiri, dan agar
Kitab Suci itu dipahami dengan cara yang paling langsung sebagaimana
orang-orang Arab pada masa kehidupan Nabi Muhammad.6 Rujukanrujukan al-Quran kepada orang-orang yang hidup pada masa itu
diminalkan hanya sebagai data sejarah, dengan harapan agar signifikansi
religius orang-orang maupun kejadian-kejadian tersebut dipahami pada
konteks pesan al-Quran dalam totalitasnya. Dengan demikian, tekanan
diletakkan pada apa yang menjadi maksud Tuhan dengan sebuah
pewahyuan, yang melampaui dan berada diatas peristiwa sejarah
tertentu yang menjadi latar belakangnya.
Aisyah Bint Syati memulai penelitian terhadap al-Quran dengan
upaya menggeser wilayah hermeneutik teks dari unthinkable menjadi
thinkable. Hal ini di wujudkan dengan memperlakukan teks sakral
sebagai kitab sastra Arab terbesar, sehingga segala bentuk analisis
merupakan upaya niscaya untuk mengungkap pesan moral dan hidayah
al-Quran. Ia juga melihat bahwa tafsir yang merupakan wujud riil
pemahaman umat terhadap al-Quran, harus memberikan pengaruh
sampai pada ranah affektif dan psikomotorik, karena demikianlah
seharusnya menjadi jangkauan bidang etika.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

65

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

MetodologiTafsirBintal-Syati
Nama lengkapnya adalah Aisyah Abd al-Rahman. Ia terlahir di
Dameitta (Dumyat), wilayah di sebelah barat Delta Nil, sekitar 15
kilometer dari Mediterranean pada tanggal 6 Nopember 1913, dan tumbuh
dewasa di tengah sebuah lingkungan yang taat dan ketat dalam
melaksanakan ajaran-ajaran Islam.
Ayahnya, Abd al-Rahman, semula berasal dari Subra Bakhum, sebuah
desa kecil indah di tepian Manufiyyah. Setelah menamatkan
pendidikannya di Universitas al-Azhar Mesir, Abd al-Rahman diangkat
menjadi guru pada sekolah teologi di Demeitta. Disana ia bertemu dan
akhirnya menikah dengan anak seorang syaikh terkenal yang juga jebolan
al-Azhar, al-Syaikh Ibrahim Damhuji al-Kabir.
Sejak kecil Bint al-Syati sudah terbiasa dengan mendengarkan alQuran yang dilantunkan oleh Ayah dan koleganya, sebab ia sering diajak
Ayahnya ke ruang pribadinya di rumah atau di kantornya di Jami alBahr. Kebiasaan ini amat berbeda dengan umumnya anak-anak seusianya
yang terbiasa dalam suasana canda dan bermain-main dengan sebayanya.
Maka di usia yang ke-5, Aisyah memulai belajar membaca dan menulis
dengan karib ayahnya yaitu Syaikh al-Mursi di Subra Bakhum. Kemudian
dilanjutkan dengan belajar kaedah bahasa Arab dan tauhid bersama
sang Ayah tercinta sendiri sampai akhirnya ia mampu menghapal alQuran secara keseluruhan pada tahun 1920.
Di tahun yang sama, dalam menanggapi pertanyaan ayahnya mengapa
dia tidak terlihat bahagia, Aisyah untuk pertama kalinya berterus terang
menyatakan keinginannya untuk belajar di sekolah formal. Akan tetapi
dengan tegas ayahnya menolak dan mengatakan tidak ada alasan bagi
anak-anak perempuan untuk belajar di sekolah yang mengajarkan
kebobrokan moral, mereka harus belajar di rumahnya masing-masing.
Pada waktu itu ayahnya memintanya untuk membaca surat al-Ahzab
ayat 33 dan 34 sebagai alasan penolakan, sebab bagi ayahnya pendidikan
non Islami adalah bentuk pengajaran yang selayaknya tidak diikuti oleh
orang Islam, apalagi bagi keluarga syaikh.
Melihat sikap keras Abd Rahman terhadap keinginan Aisyah tersebut,
timbul rasa simpati ibunya, yang kemudian mengadukan kepada
kakeknya, syaikh Ibrahim Damhuji. Setelah melalui diskusi dengan buyut
Aisyah, akhirnya ayahnya menyetujui keinginan putrinya untuk belajar
di sekolah dengan beberapa syarat yang ditentukan.
Setelah merampungkan studinya di Sekolah Dasar dan tingkat
menengah dengan nilai yang sangat memuaskan dan dilanjutkan dengan
sekolah keguruan di Tanta selama satu tahun, Aisyah pulang kembali
ke kampung halaman dan berhenti sekolah, yang semestinya diselesaikan

66

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

dalam tiga tahun, sebab buyutnya telah meninggal dan ayahnya kembali
memaksa untuk tinggal di rumah bersama keluarganya. Aisyah dan ibunya
merasa bahwa mereka telah kehilangan seorang yang sangat penting
yang mau mendukung studinya. Untuk itu, hanya ada satu jalan baginya
untuk melanjutkan pendidikannya dengan jalan meminjam buku-buku
wajib untuk tahun kedua dan ketiga sekolah keguruan dari temantemanya dan untuk menyiapkan ujian akhir keguruan.
Setelah lulus tes akhir di sekolah keguruan dan mencapai ranking
pertama dari 130 peserta, pada tahun 1931, ia melanjutkan
pendidikannya di SMA. Dengan tanpa hadir di kelas, satu tahun
berikutnya ia berhasil mendapat ijazah SMA. Dua tahun kemudian, 1934,
dia memperoleh gelar baccalaureat di bidang sastra Arab. Pada tahun
1939, ia menyelesaikan program lisence pada disiplin ilmu bahasa dan
kesusanteraan Arab di Universitas Fuad I Kairo, dan kemudian mendapat
gelar master pada bidang yang sama pada tahun 1941. Dan terakhir, dia
mendapat gelar doktor (Ph.D) pada tahun 1950.
Keterterikannya kepada dunia al-Quran sangat dipengaruhi oleh
lingkungan sufistik yang mengitarinya, dimana salah satu ajaran pokok
tarekat yang dianut oleh ayah dan masyarakatnya adalah membaca alQuran. Apalagi, Aisyah di sekitar usia delapan dan sembilan tahun
pernah mendapatkan mimpi yang penting dan amat mengesankan, yaitu
saat dirinya belajar di kamarnya, datang Malaikat dari langit yang
membawakannya satu buah cover biru. Setelah dibuka pemberian
Malaikat itu ternyata isinya adalah lembar-lembar dari mushaf al-Quran.
Stelah kejadian itulah, dia menjadi lebih aktif dalam mengikuti ayahnya
beraktivitas dengan koleganya di Jami al-Bahr dalam kajian dan halaqah
sufistik mereka.
Secara khusus, Aisyah menjadi lebih tertarik kepada tafsir al-Quran,
bermula dari kuliah perdana tafsir al-Quran di Universitas Kairo yang
diberikan oleh Professor Amin al-Khuli, yang dikemudian hari menjadi
suaminya pada tanggal 6 Nopember 1936.
Aisyah yang mempunyai nama samaran Bint al-Syati, sejak masa
mudanya dikenal sebagai seorang penulis yang handal. Penggunaan
sebutan Bint al-Syati dilakukannya saat ia berada pada fase yang cukup
aktif dan produktif dalam menulis ide dan gagasannya dalam majalah
dan surat kabar bonafide di Kairo. Minat dan bakat Bint al-Syati dalam
menulis dimulai saat ia pertama kali berhubungan dengan surat kabar
ketika masih berada di sekolah tingkat lanjutan. Tradisi menulis ini
dimulai sejak ia biasa membeli surat kabar untuk buyutnya. Ia juga sering
membantu menulis artikel dengan mengambil diktat sang kakek. Kadang-

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

67

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

kadang kakeknya memintanya untuk mengedit dan memperbaiki bentuk


artikel yang dibuatnya.
Pada Desember 1932, Bint al-Syati mencoba merealisasikan minat
tersebut dengan mengirim puisi perdanannya ke Majalah al-Nahdah alNisaiyah. Setelah puisinya diterima dan di publikasikan, ia berusaha agar
artikel-artikelnya dapat dan terus dipublikasikan di majalah yang sama.
Bulan Oktober 1933, ia dipercaya menjadi pimpinan dewan redaksi
dan editor majalah al-Nahdah al-Nisaiyah, dan ia juga diberi kehormatan
menulis pada penerbitan majalah untuk kepentingan publikasi. Di
samping bekerja di majalah tersebut Bint al-Syati juga mengirimkan
cerita-cerita pendek, artikel, dan puisi ke berbagai surat kabar dan
majalah seperti al-Hilal. Pada masa inilah, dengan maksud agar tidak
dikenal oleh ayahnya, ia mulai menggunakan nama samaran dengan
sebutan Bint al-Syati, yang sebelumnya memakai nama ibnat al-Syati
atau berarti putri pantai.
Masa kecil yang dihabiskannya di desa dan sekitarnya, ia menyaksikan
kondisi riil masyarakat yang mayoritasnya adalah petani. Dengan menaruh
perhatian kepada mereka ia mulai menulis artikel yang bertemakan
keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat desa. Ia sering
mengedepankan desakan kepada pemerintah dan para tuan-tuan tanah
untuk memberikan perhatian serius kepada nasip petani, termasuk juga
ladang dan ternak mereka. Atas usaha tidak mengenal lelah inilah, ia di
tahun 1936 menerima penghargaan pemerintah Mesir terutama atas
artikelnya yang berjudul Tarqiyah al-Rif Ijtimaiyyan .
Karya Bint al-Syati yang pertama di terbitkan dalam bentuk buku
yaitu al-Rif al-Misr pada tahun 1936. Secara keseluruhan, ia menulis lebih
dari enam puluh risalah penerbitan yang berkaitan dengan bidang
keislaman dan sekitar ratusan artikel berhubungan dengan bahasa Arab,
sastra, isu-isu sosial dan emansipasi wanita. Pada tahun 1950, Bint alSyati diberi penghargaan untuk bidang studi-studi tekstual oleh Akademi
Bahasa Arab dan pada tahun 1954 ia juga menerima penghargaan untuk
cerita pendek dan berikutnya, ia menjadi anggota Dewan Tinggi Seni
dan Sastra di Mesir pada tahun 1960.
Adapun karier profesionalnya, dimulai ketika ia menjadi guru di
Madrasah tingkat dasar al-Masyurah khusus putri pada tahun 1929,
kemudian atas usul pengawas pengajaran di Kementrian Pendidikan,
agar memperoleh kesempatan menggunakan laboratorium untuk belajar
bahasa Inggris dan Perancis, ia di pindah ke perguruan tinggi khusus
putri pula pada tahun 1932. Setelah bekerja sebagai juru tulis, dua tahun
kemudian, tahun 1934, ia diangkat menjadi sekretaris di perguruan tinggi
tersebut.

68

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

Pada tahun 1939, Bint al-Syati menjadi asisten dosen di Universitas


Kairo, kemudian tahun 1942 disamping menjadi peneliti bahasa arab
dan sastra di Kementrian Pendidikan, ia juga menjabat sebagai kritikus
satra untuk surat kabar al-Ahram. Tahun 1950 -1957 ia membantu sebagai
dosen bahasa Arab di Universitas Ain al-Syam. Dari tahun 1957 sampai
tahun 1962, ia menjadi asisten professor sastra Arab di universitas yang
sama, dan pada tahun 1962 ia diangkat menjadi guru besar sastra Arab
untuk u niversitas khusus wanita. Dan pada tahun 1967, Bint al-Syati
ditetapkan menjadi guru besar penuh bidang bahasa Arab dan
Kesusasteraan di Universitas Ain al-Syam. Secara periodik, ia diundang
untuk membantu sebagai guru besar tamu di Universitas Islam Umm
Durman di Sudan serta sebagai guru besar studi-studi al-Quran di
Universitas Qarawiyyin di Maroko, ia juga sering menghadiri berbagai
seminar dan kongres, seperti konferensi tentang internasional tentang
pertanian di Kairo tahun 1936, kongres internasional tentang bahasa
Arab di Munich Jerman tahun 1957. Kemudian berturut-turut, tahun
1960 seminar tata bahasa Rab di Ghana, Kuwait dan Baghdad. Tahun
1961, seminar sastra Arab di Roma, Itali, serta berbagai seminar dan
kongres internasional tentang bahasa Arab, satra dan al-Quran lainnya.
Secara jujur Bint al- Syati dalam menafsirkan al-Quran mengakui
menggunakan metode yang dikembangkan oleh suaminya yaitu Amin
al-Khuli (wafat tahun 1966), yang tertuang dalam buku Manahij tajdid fi
an Nahwi wa al-Balaghah wa al-Tafsir wa al Adab. Menurut al-Khuli,
pertama kali, al-Quran mesti dilihat sebagai karya agung dalam bahasa
arab yang telah ter-eksternalisasi dalam bahasa arab itu sendiri dan juga
masyarakat yang mengitarinya. Maka untuk memahami arti kata-kata
yang termuat dalam kitab suci itu, harus dicari arti linguistik aslinya
yang memiliki rasa keakraban kata tersebut dalam berbagai penggunaan
material dan figuratif. Maksudnya al-Quran sebagai teks sakral mesti
diperlakukan sebagai kitab sastra arab terbesar, al-Kitab al-Arabiyah alAkbar, sehingga analitis linguistik dan filologis teks merupakan upaya
niscaya untuk menangkap pesan moral dan hidayah al-Quran.
Setelah mendudukan al-Quran sebagai a sacred Arabic literaty text
seperti di atas, al-Khuli menekankan pentingnya tertib al-Quran dalam
menafsirkan ayat-ayatnya. Al-Quran bukanlah karya ilimiyah yang
tersusun secara sitematis berdasarkan tema atau issue, bukan pula
tersusun menurut tatanan kronologis pewahyuan. Masing-masing surat
memuat beberapa tema yang berbeda yang mungkin dapat dijumpai di
surat-surat yang lain. Karena itu untuk memahami gagasan tertentu yang
terkandung dalam al-Qran. Mesti dilihat menurut konteksnya dan ayatayat disekitar gagasan itu harus disusun menurut kronologis
pewahyuannya. Berbicara tentang kisah Adam as. misalnya, tidak akan

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

69

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

mendapat gambaran yang komplit bila hanya merujuk al- Baqarah 30


saja, tanpa menengok cerita-ceritanya yang ada dalam surat al-Araf 1013, al-Hijr 20-42 atau al-Kahfi 48.
Untuk mencapai sasaran tersebut, al-Khuli membagi kajian teks alQuran menjadi dua tahap, yakni kajian sekitar al-Quran, Dirasah ma
haul al-Quran atau a contextual study of Quran, dan kajian terhadap alQuran itu sendiri, Dirasah fi al-Quran Nafsih atau Textual study on the
Quran itself. Kajian kontekstual terhadap al-Quran mencakup sebab al
Nuzul (sosio historis), kodifikasi, tatacara tilawah dan bidang-bidang
yang termasuk dalam lingkup ulum al-Quran. Tahapan pertama ini
diarahkan kepada investigasi aspek fisik dan lingkkungan spirituil dan
struktur sosial masyarakat Arab di mana al-Quran diturunkan.
Tahapan kedua adalah study tekstual al-Quran itu sendiri. Kajian
ini dimulai dengan menganalisa kata-kata redaksi al-Quran. Bagi alKhuli, seorang mufassir harus memahami evolusi makna dari setiap term,
frasa dalam al-Quran dan pengaruh kebahasaannya. Langkah pertama
dalam tahapan ini, mufassir melakukan telaah leksikografis terhadap katakata yang hendak ditafsirkan. Hal ini dimaksudfkan dalam rangka
mendapatkan pengertian kata yang paling tepat dan memastikan apakah
ia kata dan bahasa arab asli atau saduran dari bahasa non arab. Langkah
ini dilanjutkan dengan studi terhadap kata-kata tersebut dengan
melakukan komparasi dengan kata-kata yang sama dam sisnonimnya,
untuk memperolrh pengertian dan mewakili kata tersebut dalam
terminologi al-Quran. Setelah langkah ini barulah ayat dikaji dengan
pendekatan gramatikal.
Tawaran metodologis al-Khuli tersebut di atas diaplikasikan secara
apik oleh Bint al Syati dalam kitab tafsirnya. Hal ini terlihat setiap
memulai telaahnya tentang satu bahasan, ia mengungkapkan waktu dan
tempat di mana al-Quran diturunkan. Bagi Bint al Syati pemahaman
terhadap asbab al Nuzul ini dimaksudkan untuk mendapat batas situasi
yang behubungan dengan teks khusus al-Quran yang sesuai dengan
kaidah al ibrah bi umum al lafd la bikhusus al sabab.
Dengan menekankan pendekatan tahliliyah, Bint al Syati memberikan
analisis linguistik terhadap ayat al-Quran, khususnya yang berhubungan
dengan kata sisnonimnya. Ia tidak hanya menekankan pembahasan dari
tinjauan ini, tetapi juga berusaha untuk menemukan arti etimologis
kata dari telaah leksikografis dan proses pembentukan makna kata. Ketika
menjelaskan kata al-Dhalal dan al Huda misalnya, dia mengatakan
bahwa arti dasar kata al Dhalal adalah kehilangan arah atau menjadi
bingung dan al Huda memiliki arti yang berlawanan. Dalam bahasa Arab
kata al Huda asal mulanya digunakan untuk mengungkapkan batu yang
menonjol dalam air yang dapat mengamankan seseorang dari

70

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

keetergelinciran. Kemudian dua kata tersebut diberlakukan untuk katakata yang bernuansa abstrak yang akhirnya digunakan digunakan dalam
dunia keberagamaan untuk menjelaskan ari percaya, iman dan tidak
percaya, tersesat atau kafir.
Di samping itu ia juga menjelaskan cara menjelaskan al-Quran,
misalnya ketika mengkaji kata waddaa dalam surat al-Dhuha, ia juga
menelusuri akar kata tertentu apakah memang termasuk bahasa Arab
asli atau tidak, lihat ketika mengungkapkan kata Nashithat yang ada
dalam surat al-Naziah, ia juga mengkaji panjang lebar tentang tata
bahasa al-Quran, semisal saat menjelaskan partikel bi dalam surat alQalam.
Dengan metode yang dikembangkan ini, tampak jelas bahwa yang
menjadi dasar metode Bint al Syati adalah bahwa al-Quran harus
dipelajari dalam keseluruhannya sebagai suatu kesatuan dengan karakter
dan gaya yang khas. Ia membiarkan al-Quran berbicara mengenai dirinya
sendiri dan agar kitab suci itu dipahami dengan cara-cara yang paling
langsung sebagaimana masyarakat Arab pada masa Nabi Muhammad,
al-Quran yufassiru badhuhum badhan. Dengan merujuk pandangan para
mufassir masa lalu terutama al-Thabari, al-Zamakhsyari, al-Razi, alAsfihani, al-Syuyuthi, al-Naisaburi, Ibn Qayyim, al-Andalusi dan
Muhammad Abduh menunjukkan sikap apresiatif terhadap tradisi tafsir
al-Quran masa lampau, meski tidak jarang ia melakukan kritik terhadap
penjelasan mereka.

Unsur-unsurEtisSuratAl-Balad
Sebagaimana uraian terdahulu bahwa etis tidak dimaksudkan sekedar
sebagai sesuatu yang hanya mengisyaratkan masalah kesopanan semata,
melainkan dimaksudkan sebagai konsep dan ajaran yang serba meliputi
atau komprehensif, yang menjadi pangkal pandangan hidup tentang baik
dan buruk, benar dan salah. Oleh karena itu ajaran etis dalam makna
yang seluas-luasnya, sebenarnya akan mencakup keseluruhan pandangan
dunia (weltanschauung) dan pandangan hidup (liebenanschauung).
Berikut ini merupakan contoh-contoh bagaimana gambaran tafsir alQurand dengan warna pendekatan etik yang terdapat dalam karyanya
al-Tafsir al-Bayani li al-Quran al-Karim dengan fokus telaah yang terdapat
dalam surat al-Balad.

1.TafsirantentangSumpah.
Surat al-Balad merupakan salah satu dari dua buah surat yang dimulai
dengan lafal qasam secara terang-terangan dan di dahului lafal la (untuk
penegasan). Surat lain selain surat yang tergolong Makkiyah ini yang

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

71

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

juga tersusun atas lafal qasam dan la adalah surat al-Qiyamah, yakni
( Saya

benar-benar bersumpah dengan hari kiamat).7


Semua ayat sumpah ini merupakan ayat-ayat Makkiyah. Dan semua fiil
qasam (kata kerja sumpah) di dalamnya disandarkan pada Allah Swt
sebagai pembicara.
Bint al-Syati dalam menjelaskan makna sumpah khususnya yang
menggunakan la uqsimu memulai dengan menyebutkan berbagai pendapat
para mufassir pendahulunya, seperti Muhammad Abduh dan Abu
Hayyan. Menurutnya, maksud dari la uqsimu (aku tidak bersumpah)
adalah uqsimu (aku bersumpah). La ditambahkan untuk penegasan, tanpa
tuntutan keterangan untuk penyimpangan dari uqsimu menjadi la uqsimu.
Muhammad Abduh mengatakan, Sesungguhnya la uqsimu merupakan
salah satu ungkapan orang Arab dalam bersumpah. Dimaksudkan
dengannya adalah mengukuhkan berita, seakan-akan karena tetapnya
dan jelasnya tidak memerlukan sumpah. Dan dikatakan bahwa ia
didatangkan di dalam qasam untuk membesarkan al-muqsam bih (yang
dipakai dalam bersumpah). Seakan-akan orang yang bersumpah
mengatakan, Sesungguhnya aku tidak membesarkannya dengan qasam
sebab dia sendiri sudah besar.8
Tentang la uqsimu terdapat pendapat lain, yang disebutkan oleh Abu
Hayyan di antara pendapat-pendapat dalam menafsirkan ayat tersebut.
Yaitu bahwa al-nafyu di sini adalah hakiki dan bukan untuk mengukuhkan
al muqsam. Arah ungkapan tersebut menurutnya adalah penafian,
Bahwa negeri ini tidak digunakan Allah untuk bersumpah karena
penduduknya telah melakukan perbuatan-perbuatan yang mewajibkan
pelepasan kehormatannya.9
Menyikapi keberbedaan tersebut Bint al-Syati terlihat mengedepankan sisi etis dari sebuah makna kebahasaan, artinya ia mencoba
menjelaskan letak dan faktor yang menyebabkan munculnya kebedaan
tersebut. Ia tidak serta merta berpendapat sesuai dengan lahiriyah ilmu
tata bahasa arab, akan tetapi menjelaskannya lewat bagaimana bahasa
Arab yang dipakai oleh para penggunannya saat al-Quran dirutunkan.
Dalam kasus ini, ia menambahkan bahwa dalam al-Quran fiil qasam
secara keseluruhan tidak disandarkan kepada Allah, kecuali yang datang
beserta la penafian. Lebih lanjut ia melengkapi argumentasinya dengan
membedakan penafsiran antara uqsimu dengan lafal uhlifu (aku
bersumpah). Menurut Bint al-Syati, dalam penggunaannya, orang arab
sering menyama-artikan penggunaan kedua lafal tersebut dalam praktik
keseharian. Misalnya, al-Nabigah mengatakan uzurnya kepada anNuman: halaftu falam atruk linafsika raibah(Aku bersumpah sehingga
aku tidak membiarkan keraguan pada dirimu). Al-Asya mengatakan
halaftu birabbi al-raqishat ila Minna (Aku bersumpah kepadanya dengan

72

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

apa pemilik para penari wanita pergi ke Mina). Termasuk juga ujar Syas
bin Abdah, saudara lelaki Alqamah al-Fahl yang mengatakan Aku
bersumpah dengan yang mengumpulkan para haji ke Mina (halaftu
bima dham al-hajij ila mina). Yang terakhir dalam al-Qamus disebutkan
pula bahwa bahwa halafa berarti aqsama (bersumpah).10
Akan tetapi penelitian terhadap kedua lafal ini mengantarkan kepada
pengertian bahwa al-Quran telah membedakan antara keduanya. Kata
ahlafa terdapat dalam al-Quran dalam 13 tempat, kesemuanya
berhubungan dengan dosa dan kesalahan akibat telah melanggar sumpah.
Enam ayat di antaranya berisi celaan terhadap orang-orang munafik,
dan disebutkan dalam surat Al-Taubah ayat 42 yang mengungkapkan
keadaan orang munafik setelah peperangan Tabuk. 11
Adapun lafal al-qasam pada umumnya digunakan dalam sumpah
sumpah yang benar.Lihat misalnya kata sifatnya datang dan disifati dengan
kebesaran di dalam ayat surat al-Waqiah: Fiilnya
juga datang dalam kesaksian serupa, dimana tidak ada tempat lagi bagi
al-hins bi al-yamin seperti kesaksian atas wasiat.12 Dan ketika al-qasam
disandarkan di dalam al-Quran kepada orang-orang yang berdosa,
menurut persangkaan mereka, meraka tidak berdosa.13 Termasuk dalam
kategori ini adalah ketika orang-orang kafir bersumpah dengan nama
Allah dengan segala kesungguhan, mereka puas dengan kebenaran
sumpah itu meski pada hakikatnya yang demikian itu adalah kedustaan.14
Dengan penafsiran yang sedemikian rupa ini Bint al-Syati terlihat
merupaya mengantarkan pemahaman kepada makna yang mendasar dari
sebuah konsep dalam al-Quran. Sumpah seperti yang dipahami Bint alSyati memiliki muatan yang tidak saja terpaku dalam diskurusus ilmu
tata bahasa akan tetapi sudah beranjak pada bagaimana kata-kata itu
diresapi oleh masyarakat Arab dan juga respon serta gambaran al-Quran
terhadap penggunaan bahasa tersebut.
Nuansa etik dalam tafsiran tentang sumpah ini semakin terlihat
tatkala Bint al-Syati mulai menjelajah lafal selanjutnya yaitu:
Bint
al-Syati mengatakan sumpah yang ada
dalam ayat ini pada dasarnya adalah untuk mengagungkan kehormatan
negeri dan menganggap besar tradisi penduduknya yang turun temurun,
dan tidak sesuai dengan keagungan kehormatannya. Ayat yang pertama
berhubungan dengan ayat sesudahnya dari
dua segi: wawu al-hal, yakni qaid (pengikat) kalimat pertama; kemudian
tikrar (pengulangan) bi hadza al-balad sebagai pengukuhan hubungan
antara kedua ayat tersebut.
Bint al-Syati, saat membahas makna hillun melihatkan posisinya seperti
atau setidaknya mendekati penggunaan kata tersebut seperti yang
digunakan masyarakat Arab kala itu. Ia juga terlihat amat apresiatif

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

73

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

kepada para ahli bahasa sebelumnya, dengan menjadikan analisa mereka


menjadi bagian dari penafsirannya, seperti saat menyebutkan pendapat
Ibn al-Qayyim, Muhammad Abduh, Abu Hayyan, al-Zamakhjari dan alRaghib al-Isfihani.
Ada empat pendapat para mufassir tentang makna hillun: pertama
menafsirkannya sebagai sesuatu pelanggaran terhadap kehormatan Rasul
di negeri suci, yang merasa aman di dalamnya seperti burung, binatang
lainnya dan juga para penjahat. Pengertian ini diungkapkan oleh Ibn
Qayyim dalam al-Tibyan, Muhammad Abduh dalam Tafsir Juz Amma,
Abu Hayyan dalam al-Bahr, dan al-Zamakhsyari dalam al-Kasyaf.
Abu Hayyan menulis: Sesungguhnya la meniadakan qasam yang
merupakan pengagungan. Ibn al-Qayyim mengatakan: Maknanya
terkandung dalam pengagungan rumah Allah dan Rasul-Nya. 15
Muhammad Abduh pernedapat: Arti hill (pelanggaran) karena
pelanggaran yang dilakukan penduduk Makkah. Mereka melanggar
dengan tidak menolong, mengusir beliau, dan memaksa beliai untuk
berhijarah. Ini menunjukkan bahwa Makkah mempunyai kedudukan
yang besar dalam semua keadaan, bahkan hingga keadaan sekarang ini
dimana penduduknya tidak menjaga kehormatan yang diperintahkan
Allah.16
Arti kedua, konon hill ini bermakna Allah mengizinkan Rasul-Nya
untuk memperlakukan Makkah dan penduduknya seperti apa yang Nabi
kehendaki. Engkau akan menguasainya di masa datang. Engkau boleh
melakukan apa yang engkau kehendaki baik membunuh ataupun
menawan musuh. Yang demikian disebabkan Allah telah membukakan
Makkah bagi beliau dan menghalalkannya kepada beliau. Ia tidak pernah
dibukakan dan dihalalkan bagi seorang pun sebelumnya, Allah
menghalalkan apa yang dikehendaki dan mengharamkan apa yang
dikehendaki.17
Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa hillun termasuk al-ihlal
(penghalalan) lawa al-ihram (pengharaman).18 Keempat, pendapat bahwa
ia berasal dari al-hulul dengan makna al-iqamah (tinggal) lawan dari alzdan (bepergian), sebagaimana disebutkan al-Raghib dalam al-Mufradat.
Menurutnya, sumpah dengan kehormatan tempat dan tinggalnya Rasul
merupakan sumpah dengan sebaik-baiknya tempat karena ia hamba
terbaik.19
Melihat berbedanya tafsiran diatas, Bint al-Syati mulai tafsirannya
dengan analisa etimologis dan proses berkembangnya kata hill selanjutnya
memberikan pendapat pribadinya. Bagi Bint al-Syati al-hill menurut
bahasa memungkinkan banyak pendapat yang disebutkan oleh para
mufassir. Ia termasuk, al-hulul sebagai lawan al-zdan, atau dari al-ihlal
sebagai lawan dari al-ihram, atai dari al-istihlal (pelanggaran) kehormatan

74

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

dan perusakannya. Dan mungkin makna asalnya adalah hill al-uqdah


(melepaskan ikatan).20 Kemudian dikatakan halaltu yang berati nazaltu.
Ia berasal dari hill al-ahmal, ketika menurunkan bawaan ketika telah
sampai.21 Kemudian ia dipindahkan menjadi istilah keagamaan dan
sebagai petunjuk keislaman. Misalnya al-hill dan al-halal, sebagai lawan
dari al-haram. Ia sering juga dipakai sebagai al-ihlal sebagai lawan dari
al-ihram seperti dalam Q.S. al-Maidah/5 ayat 2.
Dengan latar perkembangan bahasa tersebut, Bint al-Syati cenderung
sepakat dengan pengertian yang dibawa oleh Abu Hayyan yakni al-hulul
atau berada, sebab maknanya akan seiring dengan pemahaman ini.
Sedangkan pertimbangan dari petunjuk dilanggarnya kehormatan Rasul
di negeri inimemalingkan kepada keadaan-keadaan yang menonjol pada
negeri tersebut dan penduduknya. Maka segala gangguan yang terjadi
bagi Rasul hadir dan dapat disaksikan, dilihat dengan mata kepala, dan
dialami oleh Rasul Muhammad. Maka, menurut Bint al-Syati tidaklah
tepat makna al-ihlal sebagai lawan dari al-ihram, sebab konteksnya tidak
menunjang dan tidak ada indikasi yang mengarah pada pengertian
tersebut.
Melihat paparan tersebut diatas, terlihat dengan jelas cara Bint alSyati menafsirkan kata-kata dalam al-Quran yang setidaknya merupaya
mendudukkan konstelasi kata tersebut dalam wacana masyarakat Arab
dan dalam ayat-ayat al-Quran secara keseluruhan. Maka sebuah analisa
kebahasaan yang menonjolkan sisi setting perkembangan, penggunaan,
dan berikut perbandingan dengan ayat-ayat yang lain, termeasuk pula
memperbandingkan tafsiran mufassir sebelumnya, adalah termasuk dalam
konteks penafsiran yang etis, seperti yang dimaksudkan dalam bahasan
ini.

2.Pengertianal-Kabad(susahpayah)
Dalam menjelaskan ayat: Sesunggunya Kami telah menciptakan manusia
berada dalam susah payah, Bint al-Syati kembali mengikuti pola
penafsirannya dengan meneliti penggunaan kata tersebut, juga dengan
menyebutkan uraian mufassir pendahulunya.
Asal al-kabad menurut bahasa adalah penyakit hati, kemudian ia
digunakan bagi arti kesakitab secara keseluruhan. Maka dikatakan
kabida (dia sakit). Dan kemudian dari pengertian tersebut diambil makna
kekerasan dan kesulitan. Seperti kedinginan telah menyulitkan sebuah
kaum). Maka al-mukabadah berarti menghadapi dengan keras dan
menderita.
Para ahli tafsir tidak berselisih pendapat dalam menafsirkannya sebagai
al-syiddah. Akan tetapi pendapata mereka bermacam-macam dalam
menentukan kekerasan ini. Misalnya, al-Zamakhyari mengatakan,

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

75

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam keadaan


berpenyakit, yakni hati dan kerusakan batin. Ibn Abbas juga
mengatakan, yang dimaksud dengan al-kabad adalah ketika dalam
kandungan, mengandung, dilahirkan, disusui, disapih, tumbuh giginya,
hidup yang berat, kemudian terakhir mati, semuanya itu merupakan
musibah.
Menurut Muhammad Abduh, pengertian ayat tersebut adalah
Sesungguhnya manusia kelelahan untuk mencurahkan kekuatan dalam
berkarya. Bahkan ia letih untuk makan, minum, menjaga keluarga dan
golongannya, sebab manusia adalah jenis yang melahirkan dan dilahirkan.
Pantas jika dia diciptakan dalam kesengsaraan, kesusahan, dan
menderita. Yang diderita Rasul berupa pukulan dari pelanggaran
kehormatan beliau yang ia rasakan saat berada di Makkah.
Namun Bint al-Syati mengatakan dengan merujuk pada pendapat
al-Hasan yang dikutip dalam al-Bahr al-Muhit bahwa Allah tidak
menciptakan suatu makhluk dengan keadaan menderita, seperti derita
anak adam. Dan semuanya boleh saja ditafsirkan begitu, akan tetapi
mesti dikaitkan dengan penggunaan qasam sebelumnya.
Lebih lanjut Bint al-Syati menjelaskan bahwa al-kabad dalam ayat
ini yang berarti penyakit hati dan kerusakan batin, adalah sebuah tafsir
yang terlalu jauh. Ia mengartikan dengan sesbuah kesiapan bagi manusia
sesuai dengan fitrahnya, berupa pemikulan tanggungjawab dan kesulitan
memilih antara kebaikan dan keburukan. Segi keterkaitan dengan
sumpah sebelumnya dengan keadaan penduduk Makkah dan yang
mereka pilih untuk diri sendiri berupa penghalalan kepada Rasul ketika
tinggal di kota sucijelas sekali. Itulah keterkaitan yang saling jelas
dengan ayat-ayat sesudahnya, berupa kesesatan, ketertipuan manusia
yang dikaruniai sarana pemahaman, dan telah dijelaskan kepadanya
jejak-jejak jalan kebaikan dan keburukan.
Penjelasan ini setidaknya memberikan pengertian bahwa dalam
tafsiran Bint al-Syati tersebut, merupakan uraian yang human artinya
mencoba mendudukkan dalam konteks manusia dan keberadaannya
dalam dunia yang nyata, tidak semata-mata didasarkan pada analisa
kebahasaan yang cenderung formalistik. Tafsiran ini juga dapat
dikategorikan sebuah gambaran penjelasan yang etis, tidak saja karena
telah menyertakan dimensi kemanusiaan, akan tetapi juga telah
mendiskripsikan sebuah pola kekhususan manusia yang diberi wewenang
penuh untuk menentukan hidupnya antara arus kebaikan atau arus
keburukan, yang ini menjadi tema sentral etika.
Gambaran etis dalam kesimpulan tersebut semakin kuat dengan
melihat tafsir terhadap firman-Nya khalaqna (Kami telah menciptakan)
sebagai kata ganti dari jaalna (Kami telah membuat). Sebab pemakaian

76

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

kata ini merupakan isyarat bahwa manusia diciptakan menurut


fitrahnyauntuk menderita, yang menjadi landasan pertanggungan
jawab terhadap beban, amanat, dan cobaan antara memilih yang buruk
dan baik menurut naluri dan visi kemanusiaannya.

3.TentangPetunjukTuhan (al-huda)
Sesudah Allah memberikan bekal berupa sarana-sarana pemahaman
yang bersifat fisik, berupa alat penglihatan dan pengucapan: Bukankah
Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir),
karunia Allah kepada manusia selanjutnya adalah berupa pengetahuan
yang dapat membedakan kualitas kebaikan dan keburukan, sebagaimana
yang difirmankan pada ayat berikutnya yang berbunyi : Dan Kami telah
menunjukkan kepadanya dua jalan.
Uraian Bint al-Syati terhadap ayat tersebut terlihat kembali
menguatkan pada dimensi kemanusiaan manusia yang juga sekaligus
dapat dimasukkan dalam kategori penafsiran yang etis. Menurutnya
penggunaan kata al-huda22 tersirat bahwa Allah mengilhamkan fitrah
kemanusiaan yang dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan.
Dan Dia menjadikan alat-alat indrawi untuk pengetahuan ini. Kata alnajdain23 merupakan satu-satunya kata yang disebutkan dalam al-Quran
dan tidak ada yang lainnya, hal ini mengandung makna kejelasan dan
keterangan, di mana manusia terlihat dua buah jalan dan memahami
keduanya, dengan apa yang telah disiapkan untuknya yakni petunjuk
Allah dan ilham fitrah.
Uraian diatas juga menunjukkan hubungan dengan dua ayat
sebelumnya secara simultan. Manusia diciptakan Allah untuk dan harus
siap menderita dalam memilih salah satu dari dua jalan itu. Allah swt
telah membekali manusia sarana-sarana pemahaman indrawi,
menunjukkan jejak-jejak kebaikan dan keburukan manusia secara jelas,
gamblang dan nyata di hadapannya. Manusia dapat melihat dua jalan di
siang hari, memahami apa yang telah disiapkan di dalam fitrahnya, serta
mampu membedakan antara kebenaran dan kesesatan.
Dengan demikian uraian tentang ayat ini juga menyisaratkan parparan
etis terhadap ayat al-Quran, artinya Bint al-Syati telah mendekatinya
secara sistemik dengan mendudukkan ayat-ayat sebelumnya dengan apik
dan saling keterkaiatan, yang kesemuanya dalam landas pijak yang human.

4.VisiKeadilanSosial
Di bagian terakhir uraian terhadap surat al-Balad, dapat dikatakan
bahwa Bint al-Syati terlihat menguraikan kata al-aqabah secara
komprehensif. Ketika menafsirkan: Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh
jalan yang mendaki lagi sukar?), terlebih dahulu ia menguraikan pengertian

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

77

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

al-iqtiham dan al-aqabah. Sambil merujuk penafsiran al-Raghib yang


mengartikan al-iqtiham dengan menempuh bencana yang menakutkan,
ia mengatakan bahwa makna dasar al-qahmah adalah sebuah kesulitan
di jalan, atau tiga malam terakhir dari bulan karena di dalamnya sulit
menempuh perjalanan, dan jalan menyesatkan.24 Sedangkan pengertian
al-aqabah adalah tempat yang sulit untuk bergerak di pegunungan. AlUqab adalaah yang terbang dan terluka, batu besar dan keras di puncak
pegunungan, atau batu keras di dalam sumur yang memecahkan ember.
Menurut Bint al-Syati al-iqtiham adalah kata yang paling sesuai untuk
al-aqabah karena diantara keduanya terdapat kesesuaian yakni
kekerasan, kesungguhan, dan memikul kesulitan. Kesesuaian antara
iqtiham al-aqabah dengan diciptakannya manusia terlihat dengan jelas.
Manusia yang diciptakan dalam keadaan kesulitan berpeluang untuk
menempuh kesusahan paling berat, menembus padang pasir yang paling
keras, dengan bermodal sarana-sarana yang telah diberikan kepada
mereka baik berupa fisik maupun pemahaman serta fitrah yang diciptakan,
yakni kemampuan untuk memikul dan menderita.
Namun ketika menjelaskan maksud al-aqabah yang dituangkan dalam
al-Quran, Bint al-Syati kelihatan agak berbeda dengan para mufassir
sebelumnya. Al-Tabari mengatakan al-aqabah dengan kesulitan, kerja
keras manusia untuk menghadapi dirinya, hawa nafsu dan setan. Pendapat
ini juga berdekatan dengan apa yang ditafsirkan oleh al-Zamakhsyari
dan Muhammad Abduh. Dikatakan pula bahwa al-aqabah adalah neraka
jahanam atau sebuh gunung yang ada didalamnya. Tidak ada yang
mampu menyelematkan diri darinya kecuali amal saleh. Inilah pendapat
Abu Hayyan di dalam al-Bahr al-Muhit dan Ibn Abbas.
Menurut Bint al-Syati maksud kata tersebut sesungguhnya telah
diapresiasikan sendiri oleh al-Quran dalam ayat-ayat berikutnya, hal
ini sejalan dengan salah satu kaidah ilmu tafsir al-Quran yang berbunyi
al-Quran yufassiru badhuhum badha.
Bagi Bint al-Syati inilah penjelasan terinci tentang al-aqabah. Sebab
apa yang diderita masyarakat Makkah berupa perbudaan, pertentangan
kelas, kejahatan dan penindasan hingga melanggar kehormatan Rasul
di tanah suci tidak lain karena kedurhakaan manusia ini. Manusia yang
tertipu oleh kekuatannya, telah memperbudak makhluk-makhluk lain
seperti dirinya sendiri, pada orang lain. Dan akibat harta kekayaan,
mereka lupa dan tidak merasa perlu melihat anak yatim yang ada di
dekatnya, atau orang miskin yang membutuhkan.
Seandainya manusia ini kembali kepada fitrah, mengikuti petunjuk,
perasaan, dan suara hatinaaya, tentu akan mengenali jejek-jejak kebaikan
dan keburukan yang ada di hadapannya. Ia akan mengetahui bahwa
dirinya meski tampaknya berkuasa lemah di depan Penciptanya

78

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

Yang Maha Kuasa. Dia yang tertipu oleh hartanya akan diperhitungkan
dan dimintai pertanggunganjwab atas kejahatan yang diperbuat di dunia
ini.
Sebagai implikasi dari pengertian diatas, Bint al-Syati mengungkapkan
untuk menapaki jalan-jalan yang sulit tersebut, manusia mesti dibekali
langkah-langkah konkret sebagai tahapan dalam menghadapi kesulitan
tersebut langkah tersebut dimulai dengan memerdekakan budak, hal
ini dilakukan untuk membebaskan dari keterbelengguan manusia serta
untuk mewujudkan kemuliaan dan kelayakan bagi manusia. Kemudian
disusul dengan anjuran-anjuran yang berorientai keadilan sosial.
Sasaranya memperbaiki kondisi yang terjadi di tengah masyarakat dengan
tujuan hidup dinamis antara orang-orang yang kaya-raya dengan para
yatim piatu yang sekerabat, serta hidup berdampingan secara proporsioanl
dengan fakir miskin yang membutuhkan makan dan bantuan lainnya.
Al-Quran meletakkan keadilan sosial ini sesudah memerdekakan budak.
Ayat tersebut turun dengan adanya kesulitan, dan bertujuan memperbaiki
kondisi yang rusak serta mendobrak perbudakan yang zalim.

Penutup
Dari paparan di atas, terlihat bagaimana Bint al-Syati menjelaskan
sebuah ayat al-Quran, disamping harus dipahami secara historis, dalam
konteks penggunaan bahasa Arab oleh masyarakat kala itu, juga mesti
memperhatikan sisi-sisi kemanusiaan yang ada dalam diri manusia.
Kriteria ini terlihat dari uraian terhadap ayat-ayat yang terdapat dalam
surat al-Balad ini, dan bahkan dalam telaah terhadap makna al-aqabah,
ia menambahkan beberapa penafsiran yang mengarah pada tindkan riil
kepada kehidupan, dengan berorientasi perbaikan kondisi sosial
sebagaimana yang dijelaskan sendiri oleh ayat-ayat al-Quran. Uraian
yang tawarkan oleh Bint al-Syati ini menunjukkan sebuah gambaran
yang sarat akan unsur-unsur etika, yang mengedepankaan visi yang paling
dasar dari ajaran Islam terutama yang menjadi dasar dari pengertian
baik dan buruk.[]

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

79

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

Catatan Akhir:
Penulis adalah dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.
Arti tafsir adalah penjelasan, uraian atau komentar. Kata ini hanya
terdapat satu kali dalam al-Quran, yakni Q.S. al-Furqan/25: 33,
Muhammad Fuad Abd. Al-Baqi, al-Mujam al-Mufahras li Alfadz al-Quran
al-Karim (Beirut: Dar al-Syaab: 1945), h. 519.
2
Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tibyan fi Ulum al-Quran (Beirut: Dar
al-Fikr, tt.), h. 21.
3
Muhammad Abduh misalnya menyusun tafsir al-Manar; dalam dunia
Syiah terdapat tafsir al-Mizan sebagai karya ulama Syiah, yaitu Ayatullah
Hossein ThabathabaI, lihat J.M.S. Baljon, Modern Muslim Koran
Interpretation (Leiden: E.J. Brill, 1968), h. 19-30.
4
Yaitu kajian terhadap satu tema tertentu yang kemudian dikumpulkan
seluruh ayat-ayat yang berbicara dalam tema tersebut kemudian dianalisa
secara historis sesuai masa turunnya. Komaruddin Hidayat, Memahami
Bahasa Agama, Sebuah Kajian Hermeneutik (Jakarta: Paramadina, 1996),
h. 193.
5
J.J.G. Jansen, Diskursus Tafsir al-Quran Modern, terj. Hairussalem,
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), h. 9-13.
6
Issa J. Boullata, Modern Quranic Exegesis: A Atudy of Bint al-Syatis
Method, The Muslim World, vol. LXIV, 1974, h. 6.
7
Selain dalam dua ayat diatas, la uqsimu termuat pula pada enam
tempat di permulaan ayat-ayat, namun bukan sebagai permulaan surat
yaitu: Q.S. al-Haqqah/69: 38-39; al-Waqiah/56: 75-76; al-Maarij/70:40;
al-Qiyamah/75: 2; al-Takwir/81:15-18; al-Insyiqaq/84: 16-18.
8
Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma (Mesir: Dar al-Kutub alArabiyah, tt), h.78.
9
Muhammad Abu Hayyan, al-Bahr al-Muhit, Juz VIII (Beirut: Dar alFikr, 1978), h. 445.
10
Dr. Aisyah Abd al-Rahman Bint al-Syati, al-Tafsir al-Bayani li alQuran al-Karim, Vol. I: (Dar al-Maarif, 1977), h. 166-167.
11
Ayat-ayat lain yang termuat dalam Q.S. Al-Taubah/9: 56; 62; 74; 96
; dan 107. Sedangkan lafal lainnya terdapat dalam Q.S.Al-Mujadalah/
58; 14; 18; Al-Qalam/68:10-12; Al-Nisa/61-64; dan Al-Maidah/5: 89.
12
Lihat AlMaidah/5: 76.
13
Lihat Q.S. Al-Rum/30: 55.
14
Misalnya yang disebutkan dalam Q.S. Al-Anam/6: 109; Al-Araf/7:
49; Ibrahim/5: 44; Al-Maidah/5: 53; Al-Nahl/16: 38; Al-Nur/24: 53; dan
Fathir/35: 42.
15
Ibn al-Qayyim, al-Tibyan, h. 37.
16
Sayyid Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma, h. 87.
*
1

80

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

Al-Zamakhsyari, al-Kasyaf, Juz IV (Beirut: Dar al-Fikr), h. 201.


Ibn al-Qayyim, al-Tibyan, h. 37.
19
Al-Raghib al-Isfihani, al-Mufradat, Mesir: Dar al-Kutub al-Hadisah,
tt., h. 44.
20
Seperti doa Musa: Dan lepaskanlah ikatan dari lidahku (Q.S. Thaha/
20: 27).
21
Dalam al-Quran makna ini disebutkan dalam Q.S. al-Rad/13: 31;
Q.S. Ibrahim/14: 28; Q.S. Fathir/35: 35.
22
Asal kata al-huda adalah batu menonjol di dlam air, mengamankan
dari ketergelinciran; dan terangnya siang di mana orang yang berjalan
mengetahui jalannya sehingga tidak tersesat. Kemudian ia digunakan
bagi unta-unta yang ada di depan. Misalnya al-hadi yakni al-dalil (pemberi
petunjuk) yang ada di depan kaum dan menunjukkan jalan mereka.
Dan setelah itu ia dipakai secara majaz bagi al-hidayah (petunjuk) sebagai
lawan dari al-dhalal (kesesatan). Dr. Aisyah Bint al-Syati, al-Tafsir alBayani, h. 181.
23
Secara etimologis al-najd berarti bumi yang luas dan apa yang tinggi
dan sekaligus jelas. Dan al-nujud adalah unta yang panjang lehernya,
berjalan dan maju serta mendekam di tempat yang tinggi. Selain
kejelasan dan ketinggian, al-najd juga bermakna al-dalil, Dr. Aisyah Bint
al-Syati, al-Tafsir al-Bayani, h. 181.
24
Dr. Aisyah Bint al-Syati, al-Tafsir al-Bayani, h. 183.
17

18

DAFTAR PUSTAKA
Abd al-Baq, Muhammad Fud, al-Mujam al-Mufahras li al-Fz al-Qurn,
Beirut: Dr al-Fikr, 1981.
Abd al-Jabbr, Ahmad bin al-Hamazani, Mutasybih al-Qurn, Mesir:
Dr al-Turs, 1969.
Abduh, Muhammad, Tafsr al-Manr, Kairo: Dar al-Fikr, tt.
Abdullah, M. Amin, Falsafah Kalam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1995.
Ali, A. Mukti, Metodologi Ilmu Agama Islam dalam Taufik Abdullah
dan Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama: Sebuah
Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1984.
Amin, Muhammad, A Study of Bint al-Shatis Exegesis, Jakarta: Departemen
Agam RI, 1992.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

81

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

Baidan, Nashruddin, Metodologi Penafsiran al-Quran, Yogyakarta:


Pustaka Pelajar, 1998.
Boullata, Issa J., Modern Quran Exegesis: A Study of Bint al-Shatis
Method, The Muslim World, No. 64, 1974.
, The Rhetorical Interpretation of the Quran : Ijaz and Related
Topic dalam Andrew Rippin, Approaches to the History of
Interpretation of the Quran, London : Oxford University, 1982.
Calder, Norman, Tafsir from Tabari to Ibn Kathir, Problem in Description
of Genre, ilustrated with reference to the story of Abraham, dalam
Approaches to the Quran, GR. Hawting and Kader A. Shareef (ed.),
London : and New York : Routledge, 1993.
Al-Dahabi, Muhammad Husain, AL-Tafsir wa al-Mufassirun , Beirut:
Dar al-Fikr, 1982.
, Al-Ittijahah al-Munharifah fi Tafsir al-Quran, Dawafiuh wa dafuh,
Mesir: Dar al-Itisham, 1978.
Farid, Malik Ghulam (ed.), The Holy Quran: English Translation and
Commentary, Rabwah: The Oriental and Religious Pub. Ltd., 1969.
Al-Farmawi, Abd al-Hayyi, Al-Bidayah fi Tafsir al-MAudhui, Mesir:
Maktabah al-Jumhuriyah, 1977.
Faudah, Muhammd Basuni, Al-Tafsir wa Manahijuh, Mesir: Math
Hourani, George F., Reason & Tradition in Islamic Ethics, Cambridge:
Cambidge University Press, 1985.
Jansen, J.J.G., The Interpretation of the Quran in Modern Egypt (Leiden:
E.J. Brill, 1974).
Hidayat, Komaruddin, Arkoun dan Tradisi Hermeneutika dalam
Johan H. Meuleman (ed.), Tradisi Kemodernan dan
Metamodernisme: Memperbicangkan PemikiranMohammedArkoun,
Yogyakarta: LKiS, 1996.
Izutsu, Toshihiko, Etika Beragama dalam al-Quran, terj. M.Djoely,
Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993.
, Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik terhadap alQuran, terj. Agus F. Husein dkk, Yogyakarta: Tiara Wacana,
1997.
Ibn Katsr, Tafsr al-Qurn al-Azm, Mesir: Mustafa Babi al-Halabi, tt.

82

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

Ibn Manzr, Lisn al-Arab, Mesir: Dar al-Misriyah al-Talif wa al-Tarjamah,


1968.
Kooij, C., Bint al-Shati : A Suitable Case for Biography ? dalam Ibhaim
El-Sheikh at.al., The Challange of the Middle East, Amsterdam :
University of Amsterdam, 1982.
Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Rake
Sarasin, 1998).
Al-Muhtasib, Abdul Majid Abdussalam, Visi dan Paradigma Tafsir alQuran Kontemporer, terj. M.M. Wachid, Bangil: al-Izzah, 1997.
Musa, Muhammad Yusuf, al-Quran wa Falsafah, Mesir: Dar al-Maarif:,
1958.
Rahman, Fazlur, Islam, Chicago: University of Chicago Press, 1975.
, Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin
Muhammad, Bandung: Pustaka, 1985.
, Major Themes of the Quran, Chicago: Bibliotheca Islamica,
1980.
Sutopo, Hubertus, Pengantar Penelitian Kualitatif, Surakarta: Pusat
Penelitian Universitas Sebelas Maret, tt..
al- Syti, Bint, Al al-Jisr Bain al-Hayh wa al-Maut, Kairo : al-Haiah
al-Misriyah li al-Kitb, 1986.
, Al-Qurn wa al-Tafsr al-Asr : Haza Balag li al-Ns, Kairo : Sar
al-Maarif, 1970.
, Al-Tafsr al-Bayni li al-Qurn al-Karim, Mesir : Dar al-Maarif,
1977.
, Maql f al-Insn, Dirsah Qurniyah, Mesir : Dar al-Maarif,
1979.
,al-Qurn wa Qady al-Insn, Beirut: Dar al-Ilm li al-Ma;ayin,
1972.
, Al-Syakhsyiah al-Islmiyah: Dirsah Quranioyah, Beirut: Dar Ilm
al-Malayin, 1977.
al-Tabari, Muhammad, Jami al-Bayan an Tawil ay al-Quran, Beirut :
Dar al-Fikr, tt.
Tanahi, Tahir, Bint al-Shati, dalam al-Hilal, No. 59, 1951.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

83

Nuansa Etis dalam Surat al-Balad... H. Imam Taufiq

84

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005