Anda di halaman 1dari 14

Teologi

Dalam lintasan sejarah, sering kita temukan


pemaknaan teologi yang tidak sensitif pembebasan.
Artinya, pembahasan teologi selama ini hanya
berkutat pada persoalan yang tidak substansial,
semisal perbedaan-perbedaan aliran berserta
konsep teologinya, yang ujung-ujungnya bersifat
komunal. Taruh misalnya, tentang konsep teologi
keselamatan yang diclaim hanya golongan ahl alsunnah wa al-jamaah saja yang akan selamat.
Anehnya, yang masuk dalam gugusan ini adalah
golongan Asyariyah dan Maturidiyah. Lalu,
bagaimana dengan kelompok yang lain, semisal
Mutazilah, Syiah, Khawarij, Ahmadiyah, dan yang
sejenisnya. Tulisan ini berusaha untuk memahami
persoalan teologi lebih melihat pada aspek praksis,
dan bukan aspek historis.

Dekonstruksi
Teologi:
Menuju Pemaknaan Teologi
yang Membebaskan
Oleh Mohammad Nor Ichwan*

Kata Kunci: ahl al-sunnah wa al-jamaah, normativitas, historisitas, tahkim,


al-murtakib al-kabair, mihnah, al-manzilah baina almanzilatain, kufr, mumin.

Pendahuluan
Dalam berbagai literatur, yang secara khusus berbicara tentang ilmu
kalam atau teologi, sering kita temukan pembahasannya lebih
diarahkan kepada adanya pertentangan-pertentangan antara satu
aliran teologi dalam Islam dengan aliran yang lainya. Pembahasan
yang demikian memang tidak salah, bahkan benar adanya. Sebab,
ditilik dari sejarahnya perkembangan teologi dalam Islam memang
demikianlah adanya.
Namun demikian, dalam konteks sekarang ini, menurut hemat saya,
pembahasan dan pemaknaan yang demikian itu sudah tidak relevan
lagi. Disamping pemaknaan yang demikian ini tidak mengusung ideide pembebasan juga sangat statis dan rigid, bahkan sangat komunal
dan menindas. Golongan Asyariyah dan Maturidiyah yang selama ini

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

diklaim sebagai kelompok Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah dipahami


sebagai kelompok yang pemahamannya selalu sesuai dengan normanorma ajaran al-Quran dan sunnah Nabi saw, sementara kelompok
lain, seperti Khawarij, Mutazlilah, Syiah, dan lain-lainnya, sebagai
kelompok yang menyimpang dan menyalahi al-Quran dan sunnah
Nabi saw. Pemikiran yang demikian ini mengandaikan bahwa
kelompok Asyariyah sebagai aliran yang benar, sementara yang lainnya
sebagai aliran yang salah.
Dengan meminjam term yang ditawarkan oleh Amin Abdullah
sebagaimana dalam judul bukunya: Studi Agama: Normativitas atau
Historisitas, maka istilah ini (Normativitas dan Historisitas) akan
digunakan untuk mengkaji lebih jauh tipologi pemahaman yang ada
dalam aliran-aliran teologi Islam tersebut. Dengan pendekatan ini,
diharapkan akan ditemukan pemahaman yang benar dan proporsional
serta sesuai dengan keadaan dan realitas yang sebenarnya. Sehingga,
satu kelompok tertentu tidak boleh mengklaim bahwa kelompok yang
berbeda dengannya sebagai kelompok yang salah dan menyimpang,
sementara kelompok yang sealiran dengannya sebagai kelompok yang
benar.

Genealogi Teologi Islam


Pada masa Rasulullah saw. masih hidup, semua persoalan yang
dihadapi oleh komunitas umat Islam saat itu, baik yang berhubungan
dengan bidang akidah, akhlak, maupun syariah, dapat secara langsung
ditangani dan mendapatkan apresiasi justifikatif yang sangat cepat dari
beliau. Namun setelah sepeninggal beliau, problematika yang dihadapi umat
Islam semakin beragam dan meningkat baik secara kwalitas maupun
kwantitas.
Sebagaimana kita ketahui bahwa persoalan awal yang muncul dalam
Islam adalah masalah-masalah yang bersifat politis ketimbang masalah
agama.1 Meskipun demikian, persoalan politis ini secara eskalatif telah
berimplikasi jauh pada masalah teologi. Polemik politik akibat terbunuhnya
Utsman b. Affan (th. 35 H.),2 berlanjut pada masa kekhalifahan Ali b.
Abi Thalib. Polemik ini mencapai puncaknya ketika terjadi perang Jamal
(th. 35 H/656 M.) antara pasukan Ali dengan pasukan Aisyah, Thalhah,
dan Zubayr, yang kemudian disusul dengan perang Siffin (th. 36 H/657
M) antara pihak Ali dengan Muawiyah.3
Pertentangan politik antara keduanya, yang pada akhirnya berujung
pada peristiwa tahkim (arbitrase),4 telah memunculkan aliran Khawarij.5
Menurut aliran ini, tahkim bukanlah penyelesaian yang dikehendaki oleh
Allah sebagaimana tertuang dalam al-Quran. Dengan berlandasakan
QS. al-Maidah/5: 44,6 kaum Khawarij menghukum orang-orang yang

50

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

menerima tahkim seperti Ali, Muawiyyah, Amr b. al-Ash, Abu Musa


al-Asyari, dan semua yang terlibat dan menyetujui tahkim, bahkan
Utsman, Aisyah, Thalhah, dan Zubayr - sebagai pembuat dosa besar (almurtakib al-kabair) dan oleh karenanya mereka menjadi kafir,7 lawan dari
mumin.
Paham kaum Khawarij yang demikian, telah mendorong munculnya
aliran baru dalam teologi Islam (ilm al-kalam), seperti kaum Murjiah8
yang berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar tetap sebagai
mumin dan bukan kafir.9 Sementara itu, kaum Mutazilah10 aliran teologi
ketiga setelah Khawarij dan Murjiah dan kemunculannya lebih sebagai
sintesa dari dua ekstrimitas yang berbeda tersebut tidak sependapat
dengan dua aliran sebelumnya. Menurutnya, orang yang berbuat dosa
besar tidak dihukumi sebagai kafir dan juga bukan mumin, tetapi
menempati posisi di antara keduanya, yaitu fasiq. Konsep Mutazilah yang
demikian itu, kemudian dikenal dengan istilah al-manzilah baina almanzilatain (posisi di antara dua posisi).11
Dalam perkembangannya, faham Mutazilah yang rasionalis itu,12
mendapatkan pengaruh yang sangat besar. Ini dapat dilihat dari
banyaknya penganut Wasil di daerah Tahart, suatu tempat di dekat
Tilimsan di Marokko, mencapai 30 ribu pengikut. Kemudian, pengaruh
Mutazilah ini, mencapai puncaknya pada zaman Khlaifah-khalifah Bani
Abbas al-Mamun, al-Mutashim dan al-Wasiq (813-847M), bahkan pada
masa kekhalifahan al-Mamun faham Mutazilah dijadikan sebagai
madzhab resmi negara.13 Kerena telah menjadi aliran resmi negara, kaum
Mutazilah mulai menyiarkan ajaran-ajarannya secara paksa dengan cara
mengadakan ujian (mihnah) bagi para pemuka pemerintahan dan
masyarakat, terutama faham mereka bahwa al-Quran bersifat makhluk
dalam arti diciptakan dan bukan bersifat qadim dalam arti kekal dan
tidak diciptakan.14
Faham Mutazili yang bercorak rasional ini, mendapat tantangan yang
keras dari golongan tradisional Islam, terutama pengikut aliran hadits
dan yurisprudensi (fuqaha) yang sangat keras, seperti pengikut Ahmad
Ibn Hanbal. Politik menyiarkan aliran Mutazliah secara kekerasan
berkurang setelah al-Mamun meninggal dunia pada tahun 833 M, dan
akhirnya aliran Mutazliah sebagai madzhab resmi dari negara dibatalkan
oleh Khalifah al-Mutawakkil pada tahun 856 M. Dengan demikian kaum
Mutazilah kembali kepada kedudukan mereka semula, tetapi kini mereka
telah mempunyai lawan yang tidak sedikit di kalangan umat Islam.
Perlawan ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisional
yang disusun oleh Abu al-Hasan al-Asyari (935 M), yang sebelumnya
merupakan salah seorang penganut aliran Mutazliah. Selama masih muda,
ia menjadi murid al-Jubbai, seorang Mutazili dari Basra yang sangat

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

51

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

mashur, tetapi ketika berusia 40 tahun, mungkin karena hasil mimpinya


bertemu dengan Rasulullah,15 ia berbalik melawan ajaran-ajaran
Mutazilah dan mencoba kembali kepada ajaran-ajaran al-Quran secara
murni. Ia pergi ke masjid Basra dan kemudian menyatakan:
Siapa yang mengatahui saya, mengetahui siapa saya, dan siapa yang tidak
mengetahui saya, kemudian mengatahui bahwa saya adalah Abu al-Hasan Ali alAsyari, yang dahulu mempertahankan bahwa al-Quran diciptakan, mata manusia
tidak akan dapat melihat Tuhan, dan menyatakan bahwa makhluk menciptakan
aktifitas gerak mereka sendiri. Oh! Saya menyesal bahwa saya telah menjadi
seorang Mutazlili. Saya meninggalkan aliran ini dan saya berjanji untuk menolak
aliran Mutazilah dan mengekspose pertumbuhan dan kejahatan mereka.16

Menurut keterangan Harun Nasution yang ia kutip dari kitab Dzuhr


al-Islam bahwa sebab lain keluarnya al-Asyari dari kelompok Mutazilah
adalah sikap ragu-ragu (syak)17 dan tidak puas lagi terhadap aliran
Mutazilah yang selama ini dianutnya. Hal ini diperkuat oleh riwayat
yang mengatakan bahwa al-Asyari mengasingkan diri di rumah selama
lema belas hari untuk memikirkan ajaran-ajaran Mutazilah. Setelah itu
ia keluar dan pergi ke masjid, naik mimbar seraya mengatakan:
Hadirin sekalian, sya selama ini mengasingkan diri untuk berfikir tentang
keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang diberikan masing-masing golongan.
Dalil-dalil yang diajukan, dalam penelitian saya, sama kuatnya. Oleh karena itu
saya meminta petunjuk dari Allah dan atas petunjuk-Nya saya sekarang
meninggalkan keyakinan-keyakinan lama dan menganut keyakinan-keyakinan
baru yang saya tulis dalam buku-buku ini. Keyakinan-keyakinan lama saya
lemparkan sebagaimana saya melemparkan baju ini.18

Selain alasan-alasan yang telah dikemukakan di atas, baik yang


dikemukakan oleh para teolog Muslim, dan juga para orientalis tentang
keluarnya al-Asyari dari aliran Mutazilah, belum dapat memberikan
jawaban yang memuaskan. Terlepas dari itu semua, yang jelas bahwa
dalam lapangan teologi Islam aliran Asyariyah dan Maturidi merupakan
refleksi dari aliran ahl al-sunnah wa al-jamaah.

Meninjau Kembali Makna Ahl al-Sunnah


waal-Jamaah
Jika melihat genealogi aliran teologi dalam Islam seperti telah
dijelaskan sebelumnya, jelas bahwa aliran Asyariyah atau Maturidiyah
merupakan aliran yang dalam sejarah kemunculannya sebagai antitesa
dari kelompok Mutazilah yang ekstrim dan rasional. Kelompok

52

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

Asyariyah ini dalam teologi Islam sering disebut sebagai aliran ahl
al-sunnah wa al-jamaah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam
al-Zabidi dalam kitab Itihaf Sadat al-Muttaqin syarah Ihya Ulumuddin karya
al-Ghazali mengatakan bahwa apabila disebut kaum ahlussunnah wal
jamaah, maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikuti rumusan
(faham) Asyari dan faham Abu Mansur al-Maturidi (Idza Uthliqa ahl alsunnah fa al-muradu bihi al-Asyariatu wa al-Maturidiyatu).19
Pernyataan semacam ini, baik secara langsung maupun tidak, akan
berdampak pada munculnya polemik yang berkepanjangan. Artinya, jika
yang dimaksud ahl al-sunnah itu hanyalah aliran Asyariyah dan
Maturidiyah, lalu bagimana dengan lairan-aliran yang lain? Seperti,
Mutazilah, Murjiah, Syiah, dan sebagainya. Padahal, sebagaimana
disabdakan Nabi saw., bahwa hanya aliran ahl al-sunnah wa al-jamaah
sajalah yang nantinya akan masuk surga, sementara kelompok yang
lainnya akan masuk ke neraka. Sehubungan dengan hal ini Nabi saw
pernah bersabda:
Bahwasannya Bani Israil telah berfirqah-firqah sebanyak 72 golongan (millah),
dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 golongan (firqah), semuanya masuk
neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya: Siapakah yang satu itu wahai
Rasulullah?. Nabi menjawab: yang satu itu adalah orang yang berpegang padaku
dan sahabat-sahabatku. (HR. Turmudzi)
Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berfirqah
umatku sebanyak 73 golongan, yang satu masuk sorga dan yang 72 masuk neraka.
Para sahabat bertanya: siapakah golongan yang tidak masuk neraka itu wahai
Rasulullah?.Rasulullahmenjawab:Ahlal-sunnahwaal-jamaah.(HR.Thabrani).20

Hadis di atas lebih merupakan eskatologi (ramalan tentang masa


depan) akan terpecahnya umat Islam menjadi beberapa golongan.
Nampaknya ramalan ini dalam sejarahnya sudah menjadi kenyataan, hal
ini dapat dilihat dari banyaknya golongan (firqah) yang berkembang di
kalangan umat Islam. Dalam sejarah perkembangan teologi Islam kita
mengenal beberapa faham seperti Syiah, Khawarij, Mutazilah, Murjiah,
Najariyah, Qadariyah, Jabariyah, Musyabbihah, Mujassimah, dan
sebagainya. Persoalannya sekarang adalah benarkah golongan-golongan
yang disebutkan ini kesemuanya akan masuk neraka?
Hadis di atas, dan beberapa hadis yang memiliki substansi yang
senada sering digunakan untuk menjastifikasi masing-masing
kelompoknya sebagai ahl sunnah wa al-jamaah. Bukan saja, kelompok
Asyariyah dan Maturidiyah yang diklaim sebagai kelompok ahl alsunnah, tetapi kelompok lain, seperti Mutazilah, Syiah, Khawarij,
Qadariyah, Jabariyah, dan sebagainya juga mengklaim bahwa

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

53

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

kelompoknya juga merupakan aliran yang menganut faham ahl alsunnah. Jika demikian keadaannya, maka semua aliran yang
berkembang dalam Islam berhak mendapatkan keselamatan
sebagaimana janji Nabi Muhammad saw. dalam hadisnya tersebut.
Kenyataannya, sekarang ini memang sulit untuk menentukan
siapakah yang termasuk kelompok ahl al-sunnah ini. Hal ini, disamping
karena masing-masing kelompok mengklaim sebagai ahl al-sunnah, juga
tidak nampak lagi perbedaannya, mana yang disebut Asyariyah,
Maturidiyah, Mutazilah, atau Syiah sekalipun. Sebab, di antara
beberapa aliran yang berkembang saat ini terutama yang masih
memiliki pengikut tidak ada yang tidak berpegang pada al-Quran,
hadis, dan juga perkataan sahabat.
Bahkan, kalau kita mau jujur, kebanyakan kita ini merupakan
bagian dari kelompok Mutazilah yang rasionalis. Mengapa demikian?
Dalam beberapa kasus, kita sering mengagung-agungkan akal dalam
memutuskan persoalan. Apalagi dengan keadaan yang seperti sekarang
ini, di mana semua aspek kehidupan manusia telah mengalami
perkembangan yang kapasitasnya jauh berbeda dengan persoalanpersoalan yang dihadapi oleh Rasulullah ketika itu. Persoalanpersoalan tersebut menuntut untuk diselesaikan melalui ijtihad
ketimbang merujuk pada al-Quran, hadis, atau aqwal sahabat. Sebab,
secara konkrit, memang persoalan-persoalan tersebut tidak ada
teksnya dalam beberapa sumber yang disebutkan terakhir itu. Oleh
karena itu, dalam memaknai persoalan-persoalan yang secara tekstual
tidak ada nashnya, baik dalam al-Quran maupun hadis Nabi, maka
kita harus menggunakan seluruh kemampuan nalar yang kita miliki,
bahkan dengan nalar itu kita bisa memaknainya jauh melampaui teks.

Menuju Teologi Yang Membebaskan


Dari beberapa pemaparan di atas, apa yang hendak saya katakan
di sini sebenarnya adalah kita harus mendekonstruksi ulang, bahkan
merekonstruksi pendikotomian yang selama ini telah menghegemoni
umat Islam dalam hal aliran-aliran teologi Islam ini. Artinya, ketika
seseorang harus mengkaji persoalan teologi dalam Islam, yang menjadi
persoalan utamanya adalah adanya pembedaan-pembedaan
pemahaman antara ahl al-sunnah wa al-jamaah, Asyariyah,
Maturidiyah, Mutazilah, dan sebagainya dengan karakteristiknya
masing-masing. Oleh karenaya, aliran-aliran yang berkembang itu
bersifat normatif ataukah historis?.
Maksud normatif di sini adalah memahami sebuah teks
berdasarkan norma-norma atau aturan-aturan yang telah mapan

54

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

sebagaimana terjadi dalam sejarah. Artinya, ketika aliran-liran teologi


dalam Islam itu harus dimaknai dengan pendekatan normatif, maka
pemaknaannya adalah suatu aliran yang lahir dan berkembang
berdasarkan norma-norma yang dibentuk oleh aliran tersebut serta
menggunakan konstituen-konstituen yang melekat pada aliran
dimaksud. Sehingga, seorang Mutazilah, harus dimaknai sebagai
orang yang secara institusional menganut paham Mutazilah dan dalam
pola pemahaman keagamaannya pun juga menjunjung tinggi nilainilai yang digariskan oleh kelompok Mutazilah. Seperti,
mendahulukan akal ketimbang teks al-Quran dan sunnah Nabi saw.
dalam memahami teks itu sendiri, sekalipun teks keagamaannya
sangat jelas tertuang dalam kedua sumber dimaksud.
Jika pendekatan yang pertama ini digunakan, maka pemaknaannya
lebih bersifat kaku, rigid dan mengikat, bahkan sangat menindas.
Apalagi untuk melihat suatu komunitas yang dalam sejarahnya telah
berkembang demikian pesat dengan atribut-atribut yang
digunakannya. Kelompok Mutazilah, misalnya, pada masa
pemerintahan al-Makmun telah menjadi aliran resmi yang ajaranajarannya diakui secara meluas oleh masyarakat. Bahkan, paham
keagamaannya dijadikan sebagai madzhab resmi negara dan
pemerintahan. Secara normatif, aliran ini, untuk masa sekarang
nampaknya untuk tidak mengatakan tidak ada sudah tidak banyak
pengikutnya, apalagi di Indonesia. Sebab, jarang ditemukan suatu
komunitas tertentu yang secara langsung mengklaim bahwa
kelompoknya adalah komunitas Mutazilah. Meskipun, nilai-nilai
Mutazilahnya jelas dapat dijumpai dalam aktifitasnya sehari-hari.
Pemaknaan pada sebuah komunitas dengan melihat perilaku, nilainilai dan pola pemahaman inilah yang kemudian saya maksudkan
sebagai pemaknaan secara historis. Yakni, pemaknaan yang
berkembang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan tempat.
Ketika kita harus memaknai term Mutazilah, maka yang
dimaksudkan bukan lagi suatu komunitas yang dengan sengaja
mengklaim bahwa kelompoknya mengaku dan secara institusional
sebagai Mutazilah, tetapi lebih melihatnya dari aspek pola
pemahaman, sifat, dan nilai-nilai yang diusung oleh komunitas
Mutazilah sebagai karakteristiknya. Hal yang demikian ini, tidak saja
berlaku bagi komuinitas Mutazilah saja, tetapi juga diterapkan pada
aliran-aliran lainnya, seperti Asyariyah, Maturidiyah, Murjiah,
Qadariyah, Jabariyah, dan sebagainya.
Jika pendekatan kedua ini yang digunakan, maka pemaknaannya
akan lebih bersifat fleksibel dan tidak komunal. Dengan melihat
karekteristik dan corak pemahamannya, kita dapat mengkategorikan

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

55

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

dari komunitas apa ia berada, sekalipun secara institusional dirinya


tidak menganut aliran atau madzhab tertentu.

Penutup
Walhasil, siapapun dan dari komunitas apapun ia berada, jika pola
pemahamannnya sesuai dengan al-Quran dan sunnah Nabi, serta
pendapat para sahabat, maka ia pun berhak mendapatkan sebutan
ahl al-sunnah wa al-jamaah. Sehingga, sebutan yang disebutkan
terakhir ini, yang nota bene oleh Nabi akan dijanjikan masuk surga,
tidak lagi menjadi monopoli dan otoritas aliran tertentu, seperti
Asyariyah atau Maturidiyah, tetapi terbuka bagi kelompok dan
komunitas apapun. Pemahaman yang demikian inilah yang menurut
saya tidak bersifat komunal, bahkan mengusung semangat
pembebasan. []

Catatan Akhir:
Ketika Nabi saw berada di Mekah kekuasaanya hanya terbatas pada
masalah agama saja. Namun hal ini segera berubah secara drastis
semenjak beliu tingal di Madinah. Beliau tidak saja punya otoritas
keagarnaan namun juga politik, bahkan saat, beliau wafat kekuasaanya
tidak saja di Madinah tetapi meliputi Semenanjung Arabia. Sehingga ketika
beliau wafat terjadi masalah siapa yang akan menjadi pemimpin pengganti
beliau, namun tidak ada implikasi teologisnya. (Lihat lebih lanjut,
Harun Nasution, Teologi Islm, Aliran-aliran, Sejarah, Analisa perbandingan
(Jakarta: UI-Press, 1986), h. 3
2
Peristiwa terbunuhnya khalifah Ustman bin Affan ini dilakukan
oleh segerombolan pemberontak dari Mesir yang tidak puas atas
pencopotan Gubernur setempat oleh Ustman dan diganti dengan saudara
dekatnya. Yakni penggantian Amr bin Ash dengan Abdullah bin Sad bin
Abi Sarh. Persoalan ini kemudian dikenal dengan sebutan al-fitnah alkubro. (Lihat, ibid., h. 4)
3
Lihat keterangan lebih lanjut pada P.K. Hitti, History of The Arabs
(London: The Macmillan Press, 1974), h. 179-186
4
Tahkim yang semula bertujuan untuk mendamaikan sengeketa antara
Ali b. Abi Thalib dan Muawiyyah b. Abi Sufyan, ternyata berjalan tidak
adil. Amr b. Ash (juru damai, hakam) yang mewakili Muawiyyah b. Abi
Sufyan dengan licik mengalahkan Abu Musa al-Asyari (juru damai,
hakam) dari pihak Ali b. Abi Thalib. Sebelumnya, kedua juru damai
tersebut sepakat untuk menjatuhkan kedua pemuka yang saling
1

56

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

bertentangan, Ali dan Muawiyyah sebagai khalifah. Ketika, Abu Musa


al-Asyari menyatakan di muka umum putusan menjatuhkan keduanya,
ternyata Amr b. Ash justru mengukuhkan Muawiyyah. (Lihat Harun
Nasution, op. cit, h. 5)
5
Kaum Khawarij merupakan pengikut-pengikut Ali b. Aba Thalib yang
meninggalkan barisannya, disebabkan oleh penerimaan Ali terhadap
arbritase (tahkim), sebagai cara penyelesaian persengketaan antara pihak
Ali dan Muawiyyah. Menurutnya, bahwa tahkim tidak dapat diputuskan
oleh manusia, tetapi hanya oleh Allah SWT, dengan cara kembali kepada
hukum-hukum yang ada dalam al-Quran. Sehingga muncul slogan La
hukma illa lillah (tidak ada hukum selain dari hukum Allah), atau La
hakama illa Allah (tidak ada juru damai selain dari Allah).
6
Terjemahan ayat tersebut selengkapnya berbunyi: Barang siapa yang
tidakmemutuskanmenurutapayangditurunkanAllah,makamerekaituadalah
orang-orang yag kafir.
7
Lihat Ali Musthafa al-Ghurabi, Tarikh al-Firaq al-Islamiyat wa Nashat
Ilm al-Kalam Inda al-Muslimin (Kairo: Maktabah Muhammad Ali Sabih,
1959), h. 18-19. Bandingkan dengan Abd al-Karim al-Shahrastani, alMilal wa al-Nihal (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 114-115
8
Kaum Murjiah adalah penganut faham irja. Secara etimologis, kata
irja mengandung dua pengertian, yaitu (1) menunda dan (2) memberi
harapan. Untuk makna yang disebutkan pertama terdapat beberapa
pemahaman yang berbeda, di antaranya (a) menunda penentuan siapa
yang benar dan yang salah dalam suatu pertikaian (Lihat Ahmad Amin,
Fajr al-Islam (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1965), h. 280);
(b) menunda penentuan apakah orang yang berbuat dosa besar akan
masuk surga atau neraka; (c) menunda kedudukan Ali b. Abi Thalib
dari posisi yang pertama kepada yang keempat; dan menunda atau
mengakhirkan amal perbuatan dari iman. (Lihat al-Sahrastani, al-Milal
wa al-Nihal (Beirut: Dar al-Fikr, 1967), h. 112). Sedangkan untuk makna
yang disebutkan terakhir, kata irja berarti memberikan harapan kepada
orang Islam yang melakukan dosa besar bahwa ia tidak akan kekal di
dalam neraka, tetapi akan masuk surga dan mendapatkan rahmat Allah
(Lihat Harun Nasution, Teologi Islam, op. cit., h. 23)
9
Menurut kaum Murjiah bahwa orang mumin pembuat dosa besar tidak
menjadi kafir, akan tetapi tetap mumin. Oleh sebab itu dosa yang
dilakukan oleh seorang mumin haruslah ditunda (irja) pembicaraannya,
atau mengharap (irja) akan mendapat ampuan dari Allah di akhirat.
(Lihat al-Sahrastani, op. cit., h. 139)
10
Term mutazilah secara bahasa berarti orang yang memisahkan diri.
Banyak versi yang menyebutkan tentang penyebab lahirnya kelompok
ini. Namun, yang paling populer adalah versi yang mengatakan bahwa

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

57

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

Washil b. Atha, memisahkan diri dari pengajian gurunya, Hasan al-Basri


di masjid Basrah berkaitan dengan orang yang melakukan dosa besar.
Bagi Hasan al-Bashri bahwa pelaku dosa besar bukan lagi sebagai mumin
murni, dan juga bukan sebagai kafir mutlak, tetapi sebagai munafik.
Sedangkan bagi Washil, pelaku dosa besar tidak dihukumi sebagai mumin
dan juga tidak kafir, tetapi di antara keduanya, yaitu fasiq. Karena
perbedaan pendapat tersebut, lalu Washil memisahkan diri dari gurunya
dan membentuk kelompok sendiri. Karena tindakannya ini, maka Hasan
al-Basri mengatakan Itazala anna Wasil (Wasil menjauhkan diri dari
kita). Karenanya, ia serta teman-temannya disebut sebagai kaum
Mutazilah. (Lihat Abd al-Rahman Badawi, Madzahib al-Islamiyyin (Beirut:
Dar al-Ilm al-Malayin, 1971), h. 37-40. Bandingkan dengan Zuhdi Jarullah,
al-Mutazilah (Beirut: al-Ahliyyat li al-Nashr wa al-Tauzi, 1973), h. 1-5
11
Lihat Harun Nasution, Teologi Islm, op. cit., h. 7. Doktrin ini
merupakan salah satu dari lima prinsip pokok ajaran Mutazilah. Empat
di antaranya adalah tauhid, al-adl (keadilan Tuhan), al-wad wa al-waid
(janji dan ancaman), dan al-amr bi al-maruf wa al-nahy an al-munkar
(menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat munkar).
12
Paham rasionalis Mutazilah di antarnya dipengaruhi oleh pemakaian
rasio atau akal yang mempunyai kedudukan tinggi dalam kebudayaan
Yunani klasik, yaitu dengan cara menterjemahkan buku-buku filsafat
dan ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab. Pemakaian rasio
ini kemudian dibawa dalam bidang teologi Islam, dan karenanya teologi
mereka mengambil corak teologi liberal. (Lihat harus Nasution, op. cit.,
h. 8)
13
Lihat Harun Nasution, op. cit., h. 61
14
Pada masa pemerintahan al-Mamun, orang yang mengakui bahwa
al-Quran itu qadim dianggap sebagai syirk, dan syirk adalah dosa yang
terbesar, dan karenanya ia tidak dapat diampuni oleh Tuhan. Di sisi lain,
orang yang berpendapat demikian, tidak boleh menduduki jabatan
penting dalam pemerintahan. Oleh karena itu, al-Mamun kemudian
menginstruksikan kepada semua gubernurnya untuk mengadakan ujian
kepada pemukan pemerintahan dan masyarakat mengenai al-Quran.
Dari sinilah kemudian timbul dalam sejarah Islam apa yang dikenal
dengan mihnah atau inquisition. Di antara yang mendapatkan ujian itu
adalah Ahmad Ibn Hanbal. (Keterangan menganai masalah ini dapat
dilihat dalam Harus Nasution, op. cit., h. 62-63)
15
Aliran Asyariyah didirikan oleh Imam Abu al-Hasan Ali bin Ismail
al-Asyari (873-935 M). Pada awalnya ia adalah murid al-Jubai (235-307
H), seorang tokoh Mutazilah. Bahkan, karena kepercayaannya terhadap
al-Asyari, al-Jubbai sering mempercayakan perdebatan kepadanya.
Namun akhirnya ia keluar meninggalkan ajaran mutazilah. Ada beberapa

58

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

riwayat yang menyebabkan keluarnya al-Asyari dari Mutazilah, di


antaranya karena masalah politik, harta dan pangkat, atau karena alAsyari dapat mengalahkan gurunya dalam berdebat, namun yang biasa
disebut adalah karena al-Asyari pernah bermimpi, yang dalam mimpi itu
Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan kepadanya bahwa madzhab
ahli hadislah yang benar, dan madzhab mutazilah salah. (Lihat keterangan
lebih lanjut pada Harun Nasution, op. cit., h. 65-66)
16
Seyyed Hossein Nasr, Intelektual Islam: Teologi, Filsafat, dan Gnosis,
terj.Suharsono daan Djamaluddin MZ (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1996),
h. 11
17
Ada beberapa pendapat yang berkembang dikalangan teolog Muslim
tentang makna syak (keragu-raguan) al-Asyari sehingga ia meninggalkan
aliran Mutazilah. Menurut Ahmad Mahmud Subhi bahwa syak itu timbul
karena al-Asyari menganut madzhab Syafii, yang memiliki pemikiran
teologi yang berbeda dengan Mutazili, seperti al-Quran itu tidak
diciptakan, tetapi bersifat qadim dan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat
kelak. Sedangkan menurut Hammudah Ghurabah bahwa ajaran-ajaran
yang diperoleh al-Asyari dari al-Jubai menimbulkan persoalan-persoalan
yang tak mendapat penyelesaian yang memuaskan, seperti soal mukmin,
kafir, dan sebagainya. (Lihat keterangan lebih lanjut pada Harun
Nasution, op. cit., h. 67
18
Ibid., h. 67
19
Dikutip dari Sirajjuddin Abbas, Itiqad Ahlussunnah Wal-jamaah
(Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 1977), h. 17)
20
Teks hadis yang senada iftiraq al-ummah - sanadnya sangat banyak
sekali. Sehingga, dikalangan para ulama terdapat perbedaan pendapat
tentang sahnya hadis-hadis tersebut. Sebagian ulama, seperti Abu
Muhammad bin Hazm pengarang al-Fashl fi al-Milal wa al-Nihal menilainya
sebagai hadis-hadis yang tidak dapat dijadikan sebagai dalil. Namun
sebagian besar ulama menerima hadis iftiraq ini, sebab diriwayatkan oleh
banyak sahabat seperti Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Darda, Jabir,
Abu Said al-Khudriy, dan sebagainya. (Lihat Dr. KH. Noer Iskandar alBarsyaniy, MA, (selanjutnya disebut Noer Iskandar), Aktualisasi
Ahlussunah Waljamaah (Purwokerto: Program Pascasarjana UNISMAPondok Pesantren al-Hidayah, 1999), h. 5

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

59

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Harun, Teologi Islm: Aliran-aliran, Sejarah, Analisa
perbandingan, Jakarta: UI-Press, 1986
P.K. Hitti, History of The Arabs, London: The Macmillan Press, 1974
al-Ghurabi, Ali Musthafa, Tarikh al-Firaq al-Islamiyat wa Nashat Ilm alKalam Inda al-Muslimin, Kairo: Maktabah Muhammad Ali Sabih,
1959
al-Shahrastani, Abd al-Karim, al-Milal wa al-Nihal, Beirut: Dar al-Fikr,
t.th.
Abdullah, Amin, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1996
Amin, Ahmad, Fajr al-Islam, Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah,
1965
Badawi, Abd al-Rahman, Madzahib al-Islamiyyin, Beirut: Dar al-Ilm alMalayin, 1971
Jarullah, Zuhdi, al-Mutazilah, Beirut: al-Ahliyyat li al-Nashr wa al-Tauzi,
1973
Nasr, Seyyed Hossein, Intelektual Islam: Teologi, Filsafat, dan Gnosis,
terj.Suharsono, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1996
Abbas, Sirajjuddin, Itiqad Ahlussunnah Wal-jamaah, Jakarta: Pustaka
Tarbiyah, 1977
al-Barsyaniy, Noer Iskandar, Dr., KH., MA, Aktualisasi Ahlussunah
Waljamaah, Purwokerto: Program Pascasarjana UNISMA- Pondok
Pesantren al-Hidayah, 1999
Ali, Anneer, The Spirit of Islarn, terj. H.B. Jassin, Jakarta, Bualn Bintang,
1978
Grunebawn, G. E. Von, Classical Islam; A History 600-1258, translated
by Katherine Watson, Chicago, Aldeline Publishing Company,
1970
Kennedy, Hugh, The Prophet and the Age of the Caliphates., New York,
Longman Inc., , 1986
Lewis, Bernard, Bangsa Arab Dalam Lintasan SeJarah, terj. Said
Jamburi, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1988

60

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

Madj id, Nurcholis, Khazanah Intellektual Islam, Jakarta: Bulan Bintang,


1988
Mahmuddunnasir, Syed, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, cet. IV, terj.
Adang Affandi, Bandung: Rosdakarya, 1994
Shaban, M, A., Sejarah Islam, Sebuah Penafsiran Baru, terj. Machnun
Hussein, Jakarta, Rajawali Press, 1993
Watt, W. Montgomery, The Formative Period of Islamic Thought, terj.
Zainul Abbas dkk., Yogjakarta: Tiara Wacana, 1999
Zahrah, Muhammad Abu, Aliran Politikdan Akidah dalam Islam, terj.
Abd Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, Jakarta: Logos, 1996

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

61

Dekonstruksi Teologi... Mohammad Nor Ichwan

62

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005