Anda di halaman 1dari 26

Filsafat

Filsafat paripatetik yang dianggap paling unggul,


oleh Suhrawardi dinilai mengandung banyak
kekurangan. Secara Epistemologis, ia tidak bisa
menggapai seluruh realitas wujud. Sedangkan
secara ontologis, Suhrawardi tidak bisa menerima
konsep paripatetik, antara lain dalam soal eksistensiessensi. Baginya yang fundamental dari realitas
adalah essensi, bukan eksistensi. Tujuan dasar filsafat
illuminasi Suhrawardi disamping merumuskan jalan
yang jelas menuju suatu kehidupan filosofis dan
sebagai sarana yang secara ilmiah lebih valid untuk
meneliti sifat dan hakikat sesuatu serta sarana untuk
mencapai kebahagiaan, juga untuk meraih
kebijaksanaan yang lebih praktis.

Revitalisasi dan Koreksi


Terhadap Filsafat Paripatetik
Analisis Terhadap Konsep Shihb al-Dn al-Suhraward
Oleh Suparman Syukur*

Kata Kunci: al-Hikamah al-Isyraqiyyah, Kararis fi al-hikmah, Philosopia


generalis, al-Hikmah al-Ammah, al-Hakim al-Mutaallih,
Hikmah bahtsiah Hikmah dzawqiyyah, Daqiqah Isyraqiyyah,
Dhawabit Isyraqiyyah, al-Hudhuri al-Isyraqi

Pendahuluan
Pada masa, ketika spirit sejarah Islam telah menjadi lebih dari sekedar
manifestasi hilangnya spiritualitas ketimbang proses penyingkapannya,
warisan Suhraward memberi suatu metode alternatif penyelidikan
tentang hakekat sesuatu. Filsafat itu muncul pasca Ibn Rusyd. Formulasi
awalnya, diakhir abad ke 12 H., filsafat iluminasi telah dipakai oleh banyak
pemikir yang mempertanyakan paripatisme-sinkretik sebagai filsafat Islam
asli. Maka, Suhraward datang dengan ide yang ingin mentransendentasikan filsafat paripatetik berdasarkan posisi epistimologis yang penting
kepada wahyu, inspirasi personal dan visi mistis. Penamaan aliran ini
diberikan berdasarkan karya utama sang penggagas, yaitu kitab al-Hikmah
al-Isyrqiyyah. Suhraward sendiri mendapat gelar Syaikh al-Isyrq, yang
artinya Guru Agung Filsafat Pencerahan.1

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Pemikiran Illuninatif (Isyrqiyyah) secara ontologis maupun


epistimologis, lahir sebagi alternatif atas kelemahan-kelemahan yang ada
pada filsafat sebelumnya, khususnya paripatetik Aristotelian.2 Menurut
Suhraward,3 filsafat paripatetik yang sampai saat itu dianggap paling
unggul, ternyata mengandung bermacam kekurangan. Secara
epistimilogis, ia tidak bisa menggapai seluruh realitas wujud. Ada sesuatu
yang tidak bisa dicapai oleh penalaran rasional, bahkan silogisme rasional
sendiri, pada saat tertentu, tidak bisa menjelaskan atau mendifinisikan
sesuatu yang diketahuinya.
Sementara itu, dari sisi ontologis, Suhraward tidak bisa menerima
konsep paripatetik, antara lain, dalam soal eksistensi-essensi. Baginya,
yang fundamental dari realitas adalah essensi, bukan eksisitensi seperti
diklaim kaum paripatetik. Esensilah yang primer, sedangkan eksistensi
hanya sekunder, murupakan sifat dari essensi dan hanya ada dalam
pikiran.4 Ini sekaligus mengembalikan konsep Plato, bahwa eksistensi
hanyalah bayangan dari ide dalam pikiran.5
Tujuan dasar filsafat iluminasi Suhraward adalah merumuskan jalan
yang jelas menuju suatu kehidupan filosofis sekaligus merupakan sarana
yang secara ilmiah lebih valid untuk meneliti sifat dan hakikat sesuatu
serta sarana untuk mencapai kebahagiaan, dan juga jalan untuk meraih
kebijaksanaan yang lebih praktis, yang dapat dan harus digunakan untuk
mengabdi kepada kekuasaan yang adil. Berangkat dari ide ini, Suhraward
banyak mengkritisi beberapa pemikiran Ibn Sina, seperti yang
dilakukannya ketika merujuk kepada buku yang berjudul Karrs fi alHikmah, yang dinisbahkan oleh Ibn Sina sebagai metode orang Timur
dalam berfilsafat. Pertama-tama Suhrawardi menegaskan keraguan atas
klaim Ibn Sina, bahwa Karrs didasarkan atas prinsip-prinsip ketimuran.
Kemudian ia melanjutkannya dengan menolak dengan penegasan Ibn
Sina bahwa Karrs merupakan filsafat Timur baru atas dasar sepasang
argumen berikut.
Pertama, tidak ada filsafat Timur sebelum Suhraward menciptakan
filsafat iluminasi. Filasafat iluminasi tidak boleh dianggap Timur dalam
pengertian kultur ataupun geografis, tetapi lebih menekankan
Iluminasionis (isyrq, agar tak terkacaukan dengan masyrq). Kedua,
Suhraward bersikeras menunjukan bahwa Karrs sesungguhnya disusun
semata-mata sesuai dengan kaidah-kaidah Paripatetik yang sudah mapan,
yang terdiri dari masalah-masalah yang hanya dimasukan dalam apa yang
olehnya dikhususkan sebagai philosophia generalis (al-hikmah al ammah).
Suhraward menyimpulkan bahwa modifikasi-modifikasi sederhana yang
dilakukan Ibn Sina tidak menjadikan ia seorang filosof Timur.6
Secara umum, tujuan Suharaward adalah menjelaskan pendapatpendapatnya selaras dengan metode Paripatetik konvensional. Paripatetik

24

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

konvensional disebutnya sebagai metode diskursif yang baik namun


tidak memadai untuk mencapai tujuan pencarian Tuhan (mutaallih) yang
ingin tiba pada tingkat pengalaman kebijaksanaan ataupun hikmah,
atau bagi yang ingin memadukan metode diskursif dan pengalaman-batin
sekaligus. Tugas inilah yang telah dituntaskannya dalam bukunya yang
berjudul Hikmah Al-Isyrq (Filsafat Iluminasi).7
Munculnya Suhraward, dengan mengusung Filsafat Iluminasi
merupakan sebuah hal yang wajar (thab), karena berangkat dari sebuah
fenomena yang sangat dinamis, di era kolaraborasi pemikiran filsafat dari
banyak unsur; Filsafat Yunani, Persia, India, Kristen, dan Shbiiyyah.8
Untuk memahami lebih jauh, di bawah ini akan dikaji kandungan filsafat
iluminasi tersebut.

Suhraward:SeketsaBiografis
Adalah Syihb al-Dn Yahy Ibn Habasy Ibn Amrak Ab al-Futh alSuhraward, seorang filosof yang sangat fenomenal dalam catatan sejarah
Islam, sebagai Guru Iluminasi (Syaikh al-Isyrqi). Dia lahir di kota kecil
Suhraward di Persia Barat Laut9 pada 549 H/1154 M. Ia menemukan
kematian tragis melalui eksekusi di Aleppo pada 587 H/1191 M, karena
itu, ia sering disebut dengan julukan Guru Yang Terbunuh (Al-Syaikh
Al-Maqtl), Julukan ini untuk membedakannya dengan dua tokoh
Suhraward yang lain.10 Umur Suhrward relatif pendek dibanding
dengan filosof yang lain, dia hanya hidup sekitar tiga puluh delapan tahun
Qomariah (tigapuluh enam tahun Syamsiyah), waktu yang sangat singkat
bagi seorang filosof besar.
Suhraward belajar di Maraghah, kota yang nantinya sangat terkenal
karena menjadi lokasi aktivitas astronomi al-Thsi, sekaligus tempat
kelahirannya. Ia juga belajar di Isfahn, di mana ia menjadi teman sekelas
Fakhruddn al-Rz. Suhraward pertama kali belajar filsafat kepada Majd
Jl, seorang mutakallim yang terpengaruh doktrin Masysyiyah.11.
Kemudian pergi ke Isfahn untuk memperdalam kajian filsafat kepada
Fakhr al-Dn al-Mardn (w. 594 H/1198 M). Setelah itu, ia belajar kepada
Zhhir al-Dn al-Qri al-Fars dan mengkaji kitab al-Bashir al-Nshiriyyah
karya Umar Ibn Sahln al-Sw, yang juga dikenal sebagai komentator
Rislah al-Thair karangan Ibn Sina, ahli logika terkenal sekaligus salah
satu pemikir Illuminasionis awal dalam Islam.12
Hal yang sangat sulit untuk mengkaji sejarah perjalanan Suhraward
adalah, mengetahui secara pasti, kapan ia menyelesaikan studi atau kapan
mulai mengajar dan menulis karya-karyanya. Hossein Ziai memberi asumsiasumsi untuk memberi jawaban dengan mengatakan:

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

25

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur


Suhraward mungkin menyelesaikan studinya dengan al-Jll pada permulaan
umur duapuluhan dan dengan al-Mardn pada pertengahan umur duapuluhan.
Mari kita asumsikan bahwa, setelah menyelesaikan studinya, sebuah periode antara
tiga sampai lima tahun lewat sebelum masa ketika sekelompok murid atau siswa
yang sering disebut sebagai saudara atau sahabat, mendekatkan diri kepadanya.
Untuk merekalah yang menuntutnya dengan keras ia menulis kebanyakan
karyanya. Ini juga berarti bahwa, Suhrward telah menyampaikan ajaranajarannya pada saat ia mengajar secara lisan, sebelum diturunkan dalam bentuk
tulisan. Tidak mungkin karya-karya Suhrward yang penting itu ditulis sebelum
akhir umur duapuluhan. Suhrward paling banter mempunyai waktu sepuluh
tahun untuk menyusun semua karya-karyanya yang penting, dan mungkin
kebanyakan karya-karya lainya termasuk cerita-cerita alegoris.13

Setelah pembelajaranya, ia banyak melawat ke Persia, Anatolia (asia


kecil), Damaskus dan Syiria. Dalam pengembaraannya, Surhraward
banyak bergaul dengan kalangan sufi dan menjalani kehidupan zahid,
sambil memperdalam ajaran tasawuf. Menurut Hussein Nasr, Suhrward
memasuki putaran kehidupannya melalui jalan sufi dan cukup lama
berkhalwat untuk mempelajari dan memikirkanya, perjalanannya semakin
lebar hingga mencapai Anatolia dan Syiria.14 Setelah banyak melawat
beberapa kawasan, akhirnya, ia menetapkan untuk pergi ke Aleppo.
Segera setelah kedatangannya di Aleppo, Suhraward mulai mengabdi
pada pangeran al-Mlik al-Zhir Ghzi, Gubernur Aleppo yang juga
dikenal sebagai Mlik Zhir Syh, putra Sultan Ayubiyyah Salh al-Dn,
yang dikenal di Barat dengan sebutan Saladin, seorang pejuang besar
dan pemimpin dalam perang salib. Karena kepiawainnya, ia berhasil
membuat pangeran simpati hingga dijadikan pembimbingnya dan hidup
di istana. Dari sinilah Suhraward mulai mengenalkan filsafatnya kepada
pangeran, ia berhasil memadukan metode diskursif dan pengalaman batin
sekaligus untuk mencari dan memahami Tuhan. Menurutnya, filsafat
Paripatetik, gagal untuk tujuan tersebut yakni mencari Tuhan (mutaallih).
Untuk mengilustrasikan hal ini , Mehdi Amin Razavi dalam bukunya
Suhrward and The School of Illumination mengutip perkataan muridnya
Shahrzuri:
Malik liked the Syaikh and he liked him. The ulam of Syiria gathered araound
the Syaikh and heard his worlds. In discussions, he clarified the thoughts of hukam
and their validity and weakened the opinion of the opponents of the hukama.15

Keberhasilan Suhraward dikalangan Istana justru menimbulkan fitnah,


kedengkian dan kecemburuan yang biasa terjadi di Abad Pertengahan.
Sehingga, kalangan yang berada di sekitar istana seperti Hkim, Wazr
dan Fuqoh Aleppo kurang suka dengan keberadaan Suhraward. Pada

26

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

akhirnya, salah satu Hakim bernama Qdh al-Fdhil mengirim surat


kepada Saladin untuk mengeksekusi dan mengakhiri nasib Suhraward.
Mereka menuduh sang Imam sebagai seorang zindiq (anti agama), perusak
agama dan menyesatkan pangeran muda al-Mlik al-Zhir. Menurut
beberapa kalangan, tuduhan tersebut sangat kontroversial dan sarat
dengan nilai subyektivitas.16
Dugaan yang paling kuat seputar pembunuhannya, adalah masalah
doktrin politik sang filosof yang terungkap dalam karya-karyanya tentang
filsafat iluminasi, seperti yang diungkapkan oleh Hossein Ziai dalam
tulisannya sebagai doktrin politik Iluminasi. Di sisi lain, tahun eksekusi
tersebut bertepatan dengan gejolak konflik politik dan militer. Raja Inggris,
Richard Hati Singa, mendarat di Ache dan pertempuran-pertempuran
besar berlangsung antara Muslim dan Kristen yang secara logika, Saladin
tentu lebih berkonsentrasi dengan hal tersebut daripada menghiraukan
eksekusi sang Mistikus, pengembara yang tidak dianggap sebagai ancaman
nyata bagi keamanan politik.17
Satu hal yang sering terlupakan ketika membahas biografi Suhraward,
menurut Dr. Mustof Ghlib adalah aktifitas tersembunyi Sang Imam.
Sebenarnya, Suhraward sangat aktif dalam gerakan underground (sirriyah)
untuk mempropagandakan dakwah ajaran Ismiliyyah18, dimana ia
mempunyi hubungan yang sangat erat (ittishl qawiy) dengan perkumpulan
dakwah li Maut, yang mempunyai gerakan di Moghol (al-Andhul) dan
Syiria.19 Pemimpin gerakan yang diikuti Suhraward di Syiria adalah
Sannn Rasyd al-Din, yang nantinya menyuruh Suhraward untuk tidak
melakukan perdebatan dengan ulama dan ahlu fiqh, yang akan
menghantarnya kepada eksekusi di tiang gantungan. Melihat fenomena
yang ada, menurut Mustaf Ghlib, ulama yang ada pada masanya
memegang tradisi yang sangat kuat dan terkesan konservatif, ini berbeda
dengan pemikiran Suhraward yang yang cukup progresif, menggabungkan
aql dengan naql.20 Di sinilah sebenarnya, salah satu perbedaan yang
mencolok yang terjadi pada masa itu.

Karya-Karyanya
Suhraward merupakan penulis yang sangat produktif, khususnya dalam
bidang filsafat dan gnosis, baik itu dalam bahasa Arab maupun bahasa
Persia. Walaupun keadaan sosio-politik waktu itu sangat tidak
mendukung, di mana ia dituduh melakukan konspirasi (mumaroh) untuk
melawan pemerintah dan keluar agama, serta menyebarkan doktrin
Ismiliyyah seperti yang diterangkan di atas, ia masih menyempatkan
untuk menuangkan idenya dalam karya, walaupun nantinya karyakaryanya terabaikan. 21 Melihat fenomena ini, para muridnya

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

27

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

mengumpulkan karya tersebut yang dapat dikelompokkan kedalam lima


bagian, seperti yang dipaparkan Sayyid Hossein Nasr.22
1. Berisi pengajaran dan kaedah filosofi yang merupakan penafsiran dan
modifikasi terhadap Filasafat Paripatetik. Ada empat buku tentang
hal ini yang ditulis dalam bahasa Arab, yaitu: Tahwlt (The Book of
Intimations), Muqwamt (The Book of Oppositions), Muthraht (The
Book of Conversations) dan Hikmat al-Isyrq (The Teosofi of the Orient
of Light). Hikmat al-Isyrq merupakan karya pamungkas, yang secara
seimbang menggunakan metode bahsiah dan dzauqiyyah, dan
merupakan buku yang mewakili filsafatnya yang masyhur itu.
2. Karangan pendek tentang filsafat, ditulis dalam bahasa Arab dan Persia
dengan gaya bahasa yang disederhanakan, yaitu: Haykil al-Nr (The
Temple of Light), al-Alwh al-Imdiyyah (Tablets Dedicated to
Imaduddin), Partawnamah (Treatise on Ilumination), Fi Itiqd al-Hukam
(Symbol of Faith of Philosofer), al- Lamaht (The Flases of Light), Yazdan
Syinakht (The Knowledge of God) dan Bustn al-Qulb (The Garden
of The Heart).
3. Karangan pendek yang bermuatan dan berlambang mistis, pada
umumnya ditulis dalam bahasa Persia, meliputi Aql-I Surrkh (The Red
Archangel atau Literally Intelect), Awaz-i-Par-I Jibrail (The Chanof The
Wing of Gabriel) al-Ghurbat al- Gharbiyyah (The Occidental Exile),
Lughat-I Muram (The Language of Termites) Risalah fi al-Mirj (Treatise
on Nocturaol Journey) dan Syafir-I Simurgh (The Song of The Griffin)
4. Komentar dan terjemahan dari filsafat terdahulu dan ajaran-ajaran
keagamaan, seperti Rislah al-Thair (The Treatise of Birds) karya Ibn
Sna, diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. Komentar terhadap kitab
Isyrt karya Ibn Sna, serta tulisan dalam Rislah fi al-Haqqot al-Isyrq
yang terpusat pada Rislah Ibn Sina Fi Isyrq; serta sejumlah tafsir AlQuran dan Hadits Nabi.
5. Doa-doa yang lebih dikenal dengan al-Wridt wa al-Taqdst (Doa
dan Penyucian).
Banyak naskah yang memuat karangan Syeikh al-Isyrq yang hilang
dan ada pula yang dimusnahkan. Naskah yang memuat karyanya sangat
sedikit yang diterbitkan dan diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa
orang muslim di luar bahasa Arab dan Persia. Kebanyakan manuskrip
yang memuat karya Suhraward disimpan di perpustakaan di Iran
(Teheran), India, dan Turki.23

PandanganSuhrawardTentangFilsafat
Sebagai seorang sarjana yang dianggap sebagai pembangkit bentuk
tertentu kebijaksanaan Iran yang dirancang dengan simbol Pahlvi atau

28

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Fahlavn dan Kiyn, salah satu aspek penting pandanganya terhadap


filsafat, adalah sikapnya terhadap Aristoteles dan filsafat dikursif.
Suhraward secara eksplisit menegasan bahwa, filosof yang sempurna
adalah orang yang mengkombinasikan kemampuan intuitif dengan
metodologi diskursif. Suhraward sendiri meyakini bahwa filsafat
illuminasinya adalah suatu kombinasi yang sempurna semisal itu.
Plato diakui sebagi guru filsafat intuitif dan ia dikatakan sebagi bagian
dari tradisi panjang yang menggabungkan cabang Yunani-Mesir dengan
cabang Iran, yang keduanya bersumber dari Hermes, Bapak Para Filosof.
Sementara Aristoteles, diakui sebagai bapak filsafat diskursif. Suhraward
melalui filsafat illuminasinya, menganggap dirinya sebagai pemersatu yang
sempurna atas kedua bentuk filsafat tersebut. Dalam pandangannya, peran
filosof dalam sejarah adalah sebagai orang bijak yang mengkombinasikan
pengetahuan intuitif dengan metodologi diskursif yang ia sebut sebagai
filosof ilhiyah (al-hkim al-mutaallih) dalam posisinya sebagai pemilik
kebijaksanaan. Orang bijaksana itu harus dianggap sebagai pemimpin
(imm) masyarakat. Kepemimpinan dalam dimensi aktual, temporal,
esoterik dan spiritual. Kebijaksanaan dalam pengertian ini, adalah apa
yang membedakan perintah yang baik dari perintah yang zalim dan korup.
Oleh karena itu, ajaran aristoteles dan filsafat paripatetik secara umum,
harus tidak dianggap sebagai suatu sistem filsafat yang jelas-jelas terpisah
dari filsafat iluminasi, juga harus tidak dianggap sebagai bentuk tertentu
yang diyakini Suhraward pada masa muda, atau hanya dalam sejumlah
karyanya saja. Kombinasi filsafat diskursif (hikmah bahtsiah) dan filsafat
intuitif (hikmah dzawqiyyah) kombinasi yang dikatakan sebagi filsafat
ilhiyyah (hikmah mutaallih) adalah apa yang membedakan filsafat
iluminasi baik dari teosofi mistisisme maupun filosofis.24

PengertianIlluminasidanSumber-Sumbernya
Untuk mengetahui secara mendalam tentang filsafat ini, kita perlu
memahami secara terminologis. Kata Isrq mempunyai beberapa arti, bisa
berarti terbit, berseri-seri, terang karena disinari, dan menerangi. Ini
bisa dipahami bahwa Isyrqi digunakan sebagai lambang kekuatan,
kebahagian, kesenangan dan hal lain yang membahagiakan. Antonim
darinya adalah kegelapan yang dijadikan sebagai lambang kesusahan,
keburukan dan semua hal yang membuat manusia menderita.25 Sedang
kata Illumination, dalam bahasa Inggris, yang dijadikan padanan kata
isyrq berarti cahaya atau penerangan.26
Kata isyrq yang digunakan oleh Suhraward merujuk pada
pengetahuan atau kearifan yang diperoleh melalui pencerahan kalbu atau
penyingkapan batin (kasyf). Kalbu yang tercerahkan tidak sukar menerima
pengetahuan yang diturunkan langsung dari Yang Ghaib. Seperti halnya

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

29

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

kata isyrq, kata masyrq yang berarti timut atau tempat terbitnya matahari,
merujuk pada tempat sumber pengetahuan hakiki atau tempat sumber
datangnya pencerahan, yang kaidah pencapainnya berbeda dengan
pengetahuan diskursif.27
Salah satu alasan Suhraward memilih kata isyrq ini sebenarnya telah
termaktub dalam buku Mantiq al-Masyrqiyyah karya Ibn Sina. Di dunia
ini, katanya, sebenarnya wujud suatu bentuk hikmah yang bersifat sejagat
(universal) dan abadi telah lama ada. Hikmah tersebut lebih unggul
dibanding filsafat al-Masysyiyyah yang bercorak Aristotelian, terutama
dalam menjelaskan kebenaran tertinggi yang meliputi seluruh kehidupan.
Ibn Sina menyebut hikmah tersebut sebagai hikmah masyrqiyyah, karena
seluruh kandungannya dapat membawa semangat pencerahan dan
ketuhann28
Menurut Sayyed Hussein Nasr, sumber-sumber pengetahuan yang
membentuk pemikiran Isyrq Suhraward terdiri atas lima aliran. Pertama,
pemikiran-pemikiran Sufisme, khususnya karya-karya al-Hallj (858-913
H), yang mana keduanya bukan hanya sama-sama dieksekusi, tetapi
mempunyai kesamaan tentang api suci (define fire) yang berada dalam
ruh Suhraward (Suhrawardis soul).29 dan al-Ghazali (1058-1111M). Salah
satu karya al-Ghazali Misykat al-Anwar, yang menjelaskan hubungan
antara al- nr (cahaya) dengan iman, mempunyai pengaruh langsung pada
pemikiran Illuminasi Suhraward. Kedua, pemikiran filsafat paripatetik
Islam, khususnya filsafat Ibn Sina. Meski Suhraward mengkritik sebagian
idenya, tetapi ia memandangnya sebagai azas penting dalam memahami
keyakinan-keyakinan isyrq. Mencermati pengaruh Ibn Sina terhadap
Suhraward, Dr Ibrhim Hill mengatakan bahwa, walaupun Suhraward
mempunyai ide yang indepenen, tetapi secara substansi tidak bisa
melepaskan pengaruh yang ada dari Ibn Sina, seperti tentang difinisi
dan hakekat ruh (haqqat al-nafs). Bahkan menurutnya, Suhraward
banyak menyitir terminologi yang digunakan oleh Ibn Sina.30
Ketiga, pemikiran filsafat sebelum Islam. Yakni aliran Pyitagoras (580500 SM), Platonisme31 dan Hermenisme sebagaimana yang tumbuh di
Alexandria, kemudian dipelihara dan disebarkan di Timur Dekat oleh
kaum Syabiah Harran, yang memandang kumpulan aliran Hermes sebagai
kitab samawi mereka. Tentang Plato, dalam buku Hikmat al-Isyrq, yang
menjadi mognum opusnya, Suhraward mengatakan bahwa ilmu cahaya
akan sangat membantunya dan siapa saja yang akan mengetahui Tuhan
dan itu merupakan inti ajaranya, yang mucul dari perasaan Guru Besar
Filsafat (Imm al-Hikmah) yaitu Plato.32
Keempat, pemikiran-pemikiran Iran kuno. Di sini, Suhraward
mencoba membangkitkan keyakinan-keyakinannya secara baru dan
memandang para pemikir Iran kuno sebagai pewaris langsung hikayat

30

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

yang turun sebelum datangnya bencana taufan yang turun menimpa kaum
Nabi Idris.
Kelima, bersandar pada ajaran Zoroaster dalam menggunakan
lambang-lambang cahaya dan kegelapan, khususnya dalam ilmu malaikat,
yang kemudian ditambah dengan istilah-istilah sendiri.33Namun demikian,
secara tegas Suhraward menyatakan bahwa dirinya bukan penganut
dualisme dan tidak menuduh mazhab Zhiriyah sebagai penganut
Zoroaster. Ia mengkaim dirinya sebagai anggota jamaah Hukam Iran,
pemilik keyakinan-keyakinan kebatinan yang berdasarkan prinsip
kesatuan ketuhanan dan pemilik sunnah yang tersembunyi di lubuk
masyarkat Zoroaster.34
Sayeed Husein Nasr memberi garis besar silsilah pemikiran Suhraward
seperti tampak dalam diagram di bawah ini.
H ermes/N abi Idris
A gath ademon /N abi Syis

A scpelius

M ah aresi Zoroaster

Ph ytagoras

G ayumarz

Empedocles

Faridun

Plato

Kay Kh usraw

Plotin us/

Bayazid al-Bistami

N eo-platon isme
Zun n un M isri

M an sur al-H allaj

A bu Sah l al-T ustari

A bu H asan Karkon i

A l-Suh raward al M aqtul

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

31

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

TentangDefinisi
Menilik hubungan Filsafat Iluminasi dengan Filsafat Paripatetik, di
sana terdapat beberapa perbedaan pandangan di antara para sarjana.
Dalam hal ini, tradisi orientalis yang lebih tua menganggap bahwa filsafat
iluminasi bukanlah hal baru. Mereka menganggap bahwa catatan-catatan
singkat dan pendek Ibn Sina mengenai filsafat timur (al-hikmah almasyrqiyyah) sebenarnya telah mendahuluinya. Mereka menganggap
bahwa filsafat iluminasi tidak berbeda secara esensial dengan filsafat
paripatetik dan kemudian menggeneralisasinya sebagai penerus filsafat
Ibn Sina. Di kalangan beberapa pemikir, pandangan tersebut dianggap
kurang valid karena tidak menimbang teks-teks Arab dan Persia pasca
Ibn Sina, karena tidak dianggap mempunyai argumen filosofis yang baru
dan segar.35
Hossein Ziai dalam tulisannya mengatakan bahwa, Filsafat Iluminasi
merupakan konstruksi sistematis dan filosofis khas yang dirancang untuk
menghindari inkonsistensi-inkonsisitensi logis, epistemologis dan metafisis
yang dirasakan oleh Suhrward dalam filsafat paripatetik. Maka dari itu,
dalam buku al-Tahwlt walaupun ditulis berdasarkan metode paripatetik,
tetapi ia masih memasukan sesuatu yang tidak dan belum didefinisikan
oleh ajaran Paripatetik yang sudah diakui umum, yang sebagian diterima
oleh Suhraward dan sebagian ditolak dan diperbaiki olehnya. Maka dari
itu, di seluruh karyanya, Suhraward menggunakan istilah-istilah khusus
yang sangat berbeda. Seperti istilah kaidah illuminasionis (qidah
isyrqiyyah), aturan-aturan iluminasionis (dhawbith isyrqiyyah),
argumen-argumen dasar iluminasionis (daqqoh isyrqiyyah). Definisi
seperti itulah yang secara gamblang menjadi komponen-komponen
esensial Filsafat Iluminasi dan membedakan dengan Filsafat Paripatetik.
Untuk bisa memahami inti filsafat Illuminasi, akan sedikit dipaparkan
maksud dari terminologi yang sering dipakai oleh Suhraward: Untuk
epistimologi atau teori ilmu pengetahun ia menurunkan istilah qaidah
al-isyrqiyyah, dan terhadap kandungan filsafat ia menyebut daqqah alisyrqiyyah. Melalui istilah ini, Suhraward merumuskan kembali
pemikiran tentang logika, epistimologi, fisika dan metafisika, sehingga
menjadi filsafat baru bercorak religius.36
Istilah lain adalah musyhadah al-isyrqiyyah (penyaksian dengan
pencerahan) atau visi illuminasionis untuk menyebut tahap akhir
pencapian pengetahuan hakiki, yang menerangkan cara mengetahui
secara langsung,37berbeda dengan pengalaman mistikal atau kesufian.
Ada juga hubungan iluminasionis (idhfah isyrqiyyah) atau kaitan
pencerahan untuk menguraikan hubungan tak terduga yang timbul antara
subjek (maudh) dan asas logis teori pengetahuan.38 Muncul lagi alhudhri al-isyrq, yaitu pengetahuan yang dicapai filosof Isyrqiyyah, suatu

32

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

jenis pengetahuan pencerahan karena kehadiran dan penyaksian langsung


sang filosof atas objek pengetahunya. Untuk mengganti istilah wjib alwujd yang digunakan al-Farbi dan Ibn Sina ia menurunkan istilah nr
al-anwr (cahaya di atas segala cahaya). Adapun faculti akal terpisah
diganti dengan cahaya abstrak (al-nr al-mujarrad). Cahaya ini digunakan
sebagai tamsil wujud, di samping sebagai tamsil pengetahuan yang
susunannya berperingkat dari atas ke bawah.39

GradasiEssensi
Salah satu ajaran pokok yang terdapat dalam filsafat Illuminasi adalah
gradasi essensi. Ajaran penting lain yang berkaitan dengan hal ini adalah
teori kognisi, yang menekankan adanya kesadaran diri untuk meraih
persamaan dan kesatuan antara pikiran dan realitas. Teori ini sangat
berkaitan erat dengan konsep Suhraward tentang pengetahuan. Dari
dua teori ini akan lahir teori alam mitsal, dimana struktur ontologis
dari realitas spiritual atau alam atas dianggap mempunyai kemiripam
atau mengambil bentuk-bentuk gambar konkret dari alam materi atau
alam bawah.40
Menurut Suhraward, apa yang disebut eksistensi hanya ada dalam
pikiran, gagasan umum dan konsep sekunder yang tidak terdapat dalam
realitas, sedang yang benar-benar ada atau realitas yang sesungguhnya
hanyalah essensi-essensi,41 yang tidak lain merupakan bentuk-bentuk
cahaya.42 Cahaya-cahaya itu adalah sesuatu yang nyata dengan dirinya
sendiri karena ketiadaannya berarti kegelapan yang tidak dikenali, sebab
itu, ia tidak membutuhkan difinisi, bahkan tidak ada yang lebih tidak
membutuhkan definisi kecuali cahaya, sebagai realita segala sesuatu, ia
menembus setiap susunan entitas, fisik maupun non fisik sebagai komponen
essensial dari cahaya.43
Simbolisme cahaya-cahaya dinilai cocok dan sesuai untuk
menyampaikan prinsip ontologis wujud equivokal, karena lebih mudah
dipahami bahwa cahaya mungkin mempunyai intensitas yang berbeda
meskipun esensinya sama. Di sisi lain, dengan ini, lebih mudah dan tepat
untuk mengilustrasikan kedekatan (al-qurb) dan kejauhan (al-bud) dari
sumber, sebagai indikasi akan derajat kesempurnaan ketika simbolisme
cahaya digunakan. Sebagaimana contoh semakain dekat suatu entitas
dengan sumbernya, yaitu Cahaya Dari Segala Cahaya, semakin terang
cahaya entitas tersebut (al-syai al-mustanr)44
Cahaya tidak dapat didefinisikan, seperti yang telah disinggung di
atas, karena merupakan realitas yang paling nyata, di sisi lain juga
merupakan realitas yang menampkkan (to manifest), sehingga segala
sesuatu selain cahaya murni menurutnya terdiri atas zat yang

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

33

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

membutuhkan penyangga (bearer) yang disebutnya sebagai substansi gelap


atau bentuk (form) substansi yang merupakan kegelapan itu sendiri.
Dalam hubungannya dengan yang lainnya, cahaya dapat dibedakan
kepada cahaya bagi dirinya dan cahaya yang menyinari hal-hal yang lain
di luar dirinya. Selain itu, cahaya murni memiliki hirarki vertikal. Pada
puncak skala cahaya murni, berdiri Cahaya Segala Cahaya, kepadanya
tergantung seluruh rentetan cahaya yang ada dibawahnya. Sebagai asal
atau sumber segala cahaya yang lain, cahaya ini harus ada secara niscaya.
Rentetan cahaya itu haruslah berujung pada cahaya pertama atau niscaya,
sebab tidak mungkin ada satu gerak mundur yang tidak terbatas. Cahaya
Niscaya ini disebut oleh Suhraward sebagai Cahaya Segala Cahaya,
Cahaya Yang Mandiri, Cahaya Suci dan sebagainya. Selain bersifat
mandiri, cahaya di atas Cahaya ini juga bersifat tunggal. Sifat Cahaya
Segala Cahaya ini adalah Esa. Sebagai yang benar-benar Esa, Cahaya
Niscaya ini menimbulkan, melalui suatu proses emanasi. Karena jika
berasumsi tentang adanya dua cahaya primer, kita akan terlibat dalam
kontradiksi bahwa keduanya harus berasal dari cahaya ketiga yang mesti
bersifat tunggal. Di samping itu, dia juga bersifat mampu menerangi semua
cahaya sekunder yang beremanasi dari-Nya. Yang pertama di antara
cahaya-cahaya ini disebut oleh Suhrawardi dengan cahaya pertama.
Cahaya pertama ini berbeda dengan sumbernya atau Cahaya di atas Cahaya
dalam hal derajat kesempurnaan dan kemurniannya.45 Dari cahaya
pertama beremanasi cahaya-cahaya sekunder, benda-benda langit, dan
unsur-unsur fisik. Inilah (unsur fisik) disebut dengan Barzakh yang bisa
digambarkan sebagai bayangan atau penumbra dari Cahaya di atas
Cayata.46
Hubungan cahaya-cahaya yang lebih tinggi dengan yang lebih rendah,
dirumuskan oleh Suhrawad dalam istilah-istilah dominasi (qahr, yang
dapat disamakan dengan eikos empedoclean), sedangkan hubungan cahaya
yang lebih rendah dengan yang lebih tinggi dirumuskan dalam istilah
atraksi (menarik) atau cinta (isyaq: philia).47 Dalam Hikmat al Isyraq
Suhraward mengatakan:
Al-nr al-sfil (cahaya yang lebih rendah) tidak meliputi cahaya yang lebih tinggi,
melainkan cahaya yang lebih tinggi menguasai yang lebih rendah, tetapi yang
lebih rendah tetap melihatnya (karena merupakan ciri cahaya mujarrad adalah
melihat semua cahaya yang lainnya karena antara keduanya tidak ada hijab,
penghalang). Cahaya-cahaya apabila berubah menjadi banyak, maka yang tinggi
akan menguasai yang rendah dan yang dibawah (al-safil) dalam hubungannya
kepada yang tinggi, diatas (al-l) adalah rindu (syauq) dan cinta (isq). Nr alAnwr menguasai selainnya dan yang lainya tidak mencintainya kecuali dia sendiri
karena kesempurnaannya nyata dan merupaakan zat yang paling indah dan
sempurnya.48

34

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Dua kekuatan, dominasi dan cinta inilah yang mengatur dunia. Cahaya
Segala Cahaya, yang tidak ada bandingannya, mendominasi segala sesuatu
yang lainnya dan mencintai entitas yang paling tinggi dan paling indah,
yaitu dirinya sendiri.49
Persoalannya, bagaimana realitas cahaya yang beragam tingkat
intensitas penampakanya tersebut keluar dari Cahaya Segala Cahaya yang
Esa dan kuat kebenderanganya, Menurut Hossein Ziai, proses itu pada
dasarnya tidak berbeda dengan teori emanasi pada umumnya (1) gerak
menurun dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah, yakni emanasi diri
Cahaya Segala Cahaya, (2) peniadaan penciptaan, yakni semesta tidak
diciptakan dari tiada, apakah dalam masa tertentu atau sekaligus, tidak
ada pembuat dan tidak ada kehendak Tuhan. (3) Keabadian semesta,
(4) hubungan abadi antara wujud yang lebih tinggi dengan wujud yang
lebih rendah.50
Teori emanasi yang ditawarkan oleh Suhraward berbeda dengan apa
yang ditawarkan tentang al-aql al-ful, di mana emanasi menurutnya
lebih luas dari yang digambarkan kaum paripatetik (al-masyun) yang
berkonsentrasi pada akal sepuluh51 da lebih berfariasi tingkatan dan
tahapnya .52
Suhrawardi mengkombinasikan dua proses sekaligus, dan inilah yang
membuat pemikiran dan idenya sangat berbeda. Pertama, adanya emanasi
dari masing-masing cahaya yang berbeda di bawah Nr al-Anwr. Cahaya
ini benar-benar ada dan diperoleh (yahsul) tetapi tidak berbeda dengan
Nr al-Anwr kecuali pada tingkat intensitasnya yang menjadi ukuran
kesempurnaan.53 Cahaya-cahaya ini bercirikan, (1) ada sebagian cahaya
abstrak (2) mempunyai gerak ganda, mencintai (yuhibbuh) seta melihat
(yusyhiduh) yang diatasnya, dan mengendalikan (yaqharu) serta
menyinari (asyraqah) apa yang ada dibawahnya. (3) mempunyai atau
mengambil sandaran, dimana sandaran itu mengimplikasikan sesuatu
seperti zat yang disebut barzakh dan mempunyai kondisi (hayah); zat
dan kondisi ini sama-sama berperan sebagai wadah bagi cahaya (4)
mempunyai sesuatu semisal kualitas atau sifat, yakni kaya (ghan) dalam
hubungannya dengan cahaya dibawahnya dan miskin (fakr) dalam
kaitannya dengan cahaya diatas. Ketika cahaya pertama melihat Nur alAnwr dengan berlandaskan cinta dan keesaan, ia memperoleh cahaya
abstrak yang lain. Sebaliknya, ketika cahaya-cahaya pertama melihat
kemiskinannya, ia memperoleh zat dan kondisinya sendiri, Kondisi ini
terus berlanjut sehingga menjadi bola dan dunia dasar (elemental world)54
Kedua proses ganda, illuminasi dan visi (penglihatan), ketika cahaya
pertama muncul, ia mempunyai visi langsung pada Nr al-Anwr tanpa
durasi dan pada momen tersendiri Nr al-Anwr menyinarinya sehingga
menyalakan cahaya kedua dan zat serta kondisi yang dihubungankan

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

35

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

dengan cahaya pertama. Cahaya kedua ini pada prosesnya menerima tiga
cahaya, dari Nr al-Anwar secara langsung, dari cahaya pertama dan
dari Nur al-Anwr yang tembus lewat cahaya pertama. Proses ini terus
berlanjut dengan jumlah cahaya meningkat sesuai dengan urutan 2n-1
dari cahaya pertama55

Epistemologi
Menurut prinsip dasar Filsafat Iluminasi, bahwa mengetahui sesuatu
berarti memperoleh pengalaman tentangnya, serupa dengan intuisi primer
terhadap determinan-determinan sesuatu. Filsafat Iluminasi, seperti
tergambar dalam karya-karya Suhraward, terdiri atas tiga tahap yang
menggarap persoalan pengetahuan epistemologi, yang diikuti oleh tahap
keempat yang memaparkan pengalaman. Tahap pertama, ditandai dengan
kegiatan persiapan pada diri filosof; ia meninggalkan dunia agar mudah
menerima pengalaman. Tahap kedua, adalah tahap iluminasi
(pencerahan), ketika filosof mencapai visi (melihat) cahaya ilahi (al-nr
al-ilh). Tahap ketiga, atau tahap konstruksi, yang ditandai dengan
perolehan dan pencapaian pengetahuan tak terbatas, yaitu pegetahuan
iluminasionis itu sendiri. Tahap keempat dan terakhir adalah
pendokumentasian dalam tulisan-tulisan Suhrawardi, merupakan satusatunya komponen filsafat iluminasi, seperti yang dipraktekkan
Suhraward dan para muridnya.56
Awal tahap pertama ditandai dengan kegiatan-kegiatan seperti
melakukan uzlah selama empat puluh hari, tidak makan daging dan
mempersiapkan diri untuk menerima ilham dan wahyu. Dalam praktik
ini agak mirip dengan prktek-praktek asketik dan mistik meskipun
tentunya tidak sama persis dengan maqam-maqam dan ahwal yang
dijalankan oleh tarekat sufi. Dalam hal ini, Suhraward mengatakan
bahwa sebagian Cahaya Tuhan (al-barq al-ilh) bersemayam pada diri
filosof yang memiliki daya intuitif, maka dengan menjalani aktivitas
tersebut memungkinkan bagi seorang filosof untuk menemukan kebenaran
intuisinya sendiri melalui ilham dan penyingkapan diri. Tahap ini terdiri
atas tiga hal: (1) suatu aktifitas tertentu (2) suatu kondisi dimana
seseorang menyadari kemampuan intuisinya sendiri sampai mendapatkan
kilatan ketuhanan (3) ilham.57
Tahap pertama membawa seseorang ke tahap kedua, yaitu Cahaya
Ilahi memasuki wujud manusia. Melalui cahaya-cahaya itu, diperoleh
pengetahuan yang berfungsi sebagai pondasi ilmu-ilmu sejati (al-ulm
al- haqqiyyah). Cahaya ini mengambil bentuk sebagai serangkaian cahaya
penyingkap (al-anwr al-snihah), dengan lewat cahaya-cahaya
penyingkap tersebut, pengetahuan yang berperan sebagai pengetahuan
yang sebenarnya dapat diperoleh.58

36

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Tahap ketiga adalah tahap mengonstruksi suatu ilmu yang benar (alilmu al-sahh). Dalam tahap ini, filosof menggunakan analisis diskursif.
Kepastian yang sama yang diperoleh dengan bergerak dari data indrawi
(pengamatan dan pembentukan konsep) ke demonstrasi berdasarkan
akal, yang merupakan basis pengetahuan diskursif, dikatakan terjadi
ketika data visioner tempat filsafat Iluminasi bersandar didemonstrasikan.
Ini dipenuhi melalui proses analisis dengan tujuan mendemonstrasikan
pengalaman dan mengonstruksikan suatu sistem yang meletakkan
pengalaman pada tempatnya, kemudian mengabsahkannya bahkan
setelah pengalaman itu berakhir59.
Keempat, tahap pelukisan dan dokumentasi dalam bentuk tulisan atas
pengetahuan atau struktur yang dibangun dari tahap-tahap sebelumnya,
dan inilah yang bisa diakses oleh orang lain. Namun bagi pengikut jalan
illuminatif, ia harus melalui dua tahap, pertama lewat pengalamn langsung,
sebelum mendiskusikan dan menjelaskan fenomen-fenomena yang
diselidiki dan digambarkan.60
Dari pandangan ini, maka pengetahuan Iluminasionis yang secara
umum dikenal dengan pengetahuan dengan kehadiran (al-ilm alhudhri), tidak terbatas pada lingkaran-lingkaran filosofis dan lingkaran
spesialis lainya, seperti logika iluminasionis. Status epistimologi yang
diberikan kepada pengetahuan intuitif telah mempengaruhi apa yang
disebut mistisisme spekulatif (irfan nadhari). Dengan melintas sepintas
paradigma yang terkait dengan jalan yang dipakai oleh penyair filosofmistikus untuk menangkap dan menggambarkan kebijaksanaan, hal ini
akan terbukti.61
Dengan demikian, perolehan pengetahuan dalam isyrq, tidak hanya
mengandalkan kekuatan intuitif melainkan juga kekuatan rasio. Ia
menggabungkan keduanya, metode intuitif dan diskursif. Cara intuitif
digunakan untuk mencari segala sesuatu yang tidak tergapai oleh
kekuasaan rasio, sehingga hasilnya merupakan pengetahuan yang tertinggi
dan terpercaya.62
Berdasarkan perbedaan metode yang menghasilkan tingkat validitas
keilmuan ini, Suhraward membagi para pencari ilmu dalam empat
tingkatan (1) Para pencari ilmu yang mulai merasakan kehausan marifat,
yang pada putaran berikutnya memajukan diri untuk membahas filsafat.
(2) Para pencari yang telah memperoleh ilmu secara formal dan telah
sempurna mempelajari filsafat pembuktian (burhn), tetapi masih asing
dari pengetahuan yang sesungguhnya, Dalam pandangan Suhraward,
al-Farbi dan Ibn Sina termasuk dalam tingkatan ini. (3) Para pencari
yang belum merasa puas dengan bentuk- bentuk marifat secara mutlak
tetapi telah membersihkan diri mereka sehingga mencapai derajat
kesempurnaan akal dan iluminasi batin, seperti al-Hallj, Yazid Bustami

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

37

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

dan Tustari. (4) Para pencari yang telah menamatkan filsafat pembuktian
sebagai mana mereka mengetahui tahapan iluminasi atau pengetahuan.
Pada tahap-tahap ini, individu meningkat pada apa yang dinamakan Ahli
Hikmah Ketuhanan seperti Pythagoras dan Plato, Suhrawardi sendiri
masuk dalam tingkatan ini63

KesadaranDiri
Dalam Filsafat Paripatetik, perolehan pengetahuan dapat dilakukan
dengan berbagai cara : (1) lewat difinisi, (2) lewat perantara predikat,
seperti X adalah Y, (3) lewat konsepsi konsepsi (tashawwur). Ini terjadi,
karena obyek yang diketahui bersifat independen dan keberadaanya
berada di luar eksistensi subyek. Di antara keduanya tidak ada kaitan
logis, ontologis atau bahkan epistimologis. Oleh sebab itu, pengetahuan
ini menuntut konfirmasi (tashdq) untuk menentukan kriteria salah dan
benar. Di katakan benar, jika ada kesesuaian antara konsepsi dalam pikiran
subyek dengan kondisi obyektif eksternal objek, dianggap salah, jika tidak
ada kesesuaian antara keduanya64
Menurut pandangan Suhraward, metode tersebut mengandung
banyak kelemahan : (1) menunjuk pada sesuatu yang tidak hadir (alsyai al-ghib) (2) terbatas, karena tidak semua objek bisa dikonsepsikan
atau didefinisikan, (3) apa yang telah ada dalam konsep mental tidak
mungkin pernah identik dengan realitas objektif yang ada di luar,
sehingga tidak terjamin validitasnya, (4) terikat pada proses waktu.65
Sesuatu harus terlihat apa adanya (ka m huwa), agar sesuatu tersebut
dapat diketahui, sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak
membutuhkan difinisi. Misalnya warna hitam, warna hitam hanya bisa
diketahi jika terlihat sepertai apa adanya, dan sama sekali tidak dapat
didefinisikan oleh dan untuk orang yaang tidak pernah melihat sebagai
mana adanya (l yumkin tarfuhu liman l yusyhiduhu ka m huwa). Dari
sini, Suhraward menuntut bahwa subjek yang mengetahui harus berada
dan memahami objek secara langsung tanpa penghalang apapun. Jenis
Hubungan Iluminasi (Idhfah Isrqiyyah) inilah merupakan ciri utama
pandangan Suhraward mengenai dasar pengetahuan, dan konsep ini
memberikan perubahan antara apa yang disebut pendekatan mental
terhadap pengetahuan dan pendekatan visi langsung terhadap objek yang
menegaskan kevalidan sebuah pengetahuan terjadi jika obyek-obyeknya
dirasakan.66
Dengan demikian, dalam pandangan Suhraward, sebuah
pengetahuan yang benar hanya bisa dicapai lewat hubungan langsung
(al-idhfah al-isyrqiyyah) dan tanpa halangan antara subjek yang
mengetahui dengan objek yang diketahui. Namun, hubungan itu sendiri
tidak bersifat pasif melainkan aktif, dimana subjek dan objek satu sama

38

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

lain hadir dan tampak pada essensinya sendiri dan diantara keduanya
saling bertemu tanpa penghalang.67
Timbul pertanyaan, di mana subjek harus menangkap essensi
sebenarnya dari objek dan juga sebaliknya, obyek mampu menghadirkan
essensinya pada subjek. Untuk hal ini, Suhraward memahamkan dengan
apa yang disebut kesadaran diri (idrk al-anniyyah) yaitu pengetahuan
langsung tentang dirinya sendiri (idrk m huwa huwa) seperti kesadaran
akan rasa sakit, akan bisa tertangkap dengan pengetahun akan sakit
dialami sendiri. Catatan penting di sini bahwa Suhraward menjelaskan,
kesadaran diri tidak boleh dimunculkan oleh ide tentang kesadaran diri,
artinya, kesadaran diri tersebut tidak dilahirkan oleh ide tentang
kesadaran, melainkan oleh kesadaran itu sendiri. Hal ini sangat penting,
sebab jika kesadaran tersebut lahir dari ide tentang keadaran, maka,
akan lahir dua hal yang berbeda, subyek yang menyadari dan objek yang
disadari, sehingga tidak diketahui essensi diri sendiri.68
Pengetahuan yang tidak dihasilkan lewat hubungan subjek-objek,
tetapi oleh kesadaran dan perasaan yang dialami secara langsung seperti
ini yang dikenal dengan ilm hudhri, (pengetahuan yang dihadirkan),
karena obyeknya justru hadir dalam kesadaran subjek yang mengetahui.
Dalam hal ini, Hossein Ziai mengatakan:
Kritik pertama atas filsafat paripatetik dituturkan melalui mulut tak kurang dari
seorang otoritas seperti Aristoteles, yang menginformasikan kepada Suhraward
bahwa pengetahuan yang benar hanya didasarkan atas pengetahuan akan diri
sendiri dan diperoleh hanya melalui modus khusus yang disebut pengetahuan
melalui iluminasi dan kehadiran.69

Kosmologi
Segala yang bukan cahaya disebut sebagai Kualitas Mutlak atau
Materi Mutlak. Ini hanyalah aspek lain penegasan atas cahaya dan
bukan suatu prinsip mandiri sebagaimana yang secara salah dianggap
oleh pengikut Aristoteles. Landasan mutlak semua benda dapat dibagi
menjadi dua jenis:
1. Yang diluar ruang -atom-atom- atau substansi tidak terang (esensiesensi menurut kaum Asyari)
2. Yang mesti didalam ruang -bentuk-bentuk kegelapan-, misalnya: berat,
bau rasa dan lain sebagainya.
Semua yang bukan cahaya dibagi menjadi:
1. Kekal abadi, misalnya: intelek, jiwa dan benda-benda angkasa, langit,
unsur-unsur tunggal, waktu dan gerak.
2. Tergantung, misalnya: Senyawa-senyawa dari berbagai unsur. Gerak
langit itu adalah abadi, dan membuat berbagai siklus alam semesta.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

39

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Ini disebabkan oleh kerinduan kuat jiwa langit untuk menerima


penerangan dari sumber segala cahaya.
Gerak hanyalah suatu aspek waktu. Perbedaan waktu lampau,
sekarang dan akan datang, dibuat hanya untuk kemudahan, dan tidak
ada dalam hakikat waktu. Kita tidak dapat membayangkan permulaan
waktu, karena permulaan yang diduga, merupakan suatu ujung waktu
itu sendiri. Karena itu, waktu dan gerak keduanya adalah kekal abadi.70
Semua fenomena alam, yaitu hujan, awan, halilintar, meteor, guntur
adalah operasi langsung dan tidak langsung cahaya pertama atas segala
sesuatu, yang satu sama lainya berbeda dalam kapasitas penerimaan banyak
sedikitnya penerangan. Singkatnya, alam ini ialah suatu hasrat yang
membantu; suatu kristalisasi kerinduan kepada cahaya.71
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa pelimpahan dari Sumber Pertama
(Tuhan) itu bersifat abadi, terus menerus, sebab pelakunya tidak berubahubah dan terus ada. Sebagai konsekuensinya, alam ini juga abadi sebagai
akibat dari pelimpahan-Nya. Dengan kata lain ada dua yang abadi, Tuhan
dan alam. Namun keduanya tetap berbeda. Alam semesta adalah
manifestasi kekuatan penerang yang membentuk pembawaan essensial
Cahaya Pertama. Karena itu, sejauh alam semesta merupakan suatu
manifestasi, maka ia hanyalah suatu maujud yang tergantung, dan
akibatnya ia tidak abadi.

Psikologi
Suhraward menganggap penting menjelaskan masalah jiwa, karena
filsafat cahaya yang dibangunnya sangat erat kaitanya dengan kemampuan
jiwa manusia menerima penerangan cahaya dari Nurul Anwar.
Dalam filsafat, terjadi diskursus yang hebat kaitanya dengan
pertanyaan, apakah penerangan abstrak individual yang kita namakan
jiwa manusia itu ada atau tidak ada sebelum penyertaan fisiknya?
Suhraward mengutip pemikiran Ibn Sina sehubungan dengan pertanyaan
ini, dan menggunakan argumentasi yang sama untuk menunjukan bahwa
jiwa individual tidak dapat dipandang sudah ada sebelum keberadaan
fisiknya. Hubungan antara jiwa dan tubuh, bukanlah hubungan sebab
akibat; ikatan kesatuan antara mereka ialah cinta. Tubuh yang
merindukan penerangan menerima penerangan melalui jiwa; dikarenakan
sifatnya tidak memungkinkan suatu komunikasi langsung antara Sumber
Cahaya dan dirinya sendiri. Tetapi jiwa tidak dapat menyampaikan sinar
yang diterima secara langsung itu kepada benda padat yang gelap karena
memang berbeda antara jiwa dan tubuh. Perbedaan itu bisa dibuktikan:
Makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh akan menyebabkan
perkembangan tubuh menusia, misalnya dari kecil menjadi besar atau

40

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

dengan kata lain, akan terus berlangsung perubahan itu dalam tubuh,
namun jiwa manusia tidak selalu menyadari adanya perubahan itu,
kendatipun jiwa mampu menyerap makna-makna yang terlepas dari jasad.
Karena itu, mestilah jiwa mempunyai karakter tersendiri yang
menyebabkan manusia eksis. Jadi, keberadaan manusia bukanlah karena
badannya masih utuh, tetapi karena jiwa masih menampakan kehidupan.
Agar terjadi hubungan satu sama lain, mereka itu memerlukan suatu
media. Sesuatu yang berdiri di tengah antara terang dan gelap. Media
inilah jiwa hewani, yaitu suatu asap yang trasparan, halus dan panas
yang tempat utamanya di rongga kiri jantung, namun berada juga pada
semua bagian tubuh. Karena itu, ideal manusia ialah meningkat terus
lebih tinggi dalam skala maujud dan menerima semakain banyak
penerangan yang berangsur-angsur membawa kebebasan sempurna dari
dunia bentuk.72
Untuk mewujudkan ideal ini, dapat ditempuh dengan dua cara yaitu
pengetahuan dan tindakan.
1. Pengetahuan
Masalah paling orisinil dalam psikologi Suhrawardi mengenai inteleksi
(pengetahuan) ialah teorinya mengenai visi (penglihatan). Sinar yang
diduga keluar dari mata mestilah substansi atau kualitas. Jika kualitas,
ia tidak dapat ditransmisikan dari satu substansi (mata) kepada substransi
lain (benda yang dapat dilihat). Karena itu, sorot cahaya tidak dapat
dianggap sebagai keluar dari mata. Pada saat suatu benda berada di
hadapan mata, suatu penerang terjadi, dan pikiran mengetahui obyek
itu melalui penerangan tersebut.
2. Tindakan
Manusia sebagai makhluk yang aktif, mempunyai kekuatan-kekuatan
penggerak berikut:
a. Akal atau jiwa kemalaikatan, yaitu sumber intelegensi, pembedaan,
dan cinta pengetahuan.
b. Jiwa binatang buas yang merupakan sumber amarah, keberanian,
domiansi dan ambisi.
c. Jiwa hewani yang merupakan sumber nafsu, lapar dan nafsu seksual.73
Yang pertama membawa ke kebijaksanaan; yang kedua dan ketiga,
jika dikendalikan oleh akal, masing-masing akan membawa kekeberanian
dan kesucian. Penggunaan secara selaras semua itu menghasilkan
keadilan. Oleh sebab itu, dengan menggabungkan pengetahuan dan
kebajikan, jiwa membebaskan dirinya dari dunia kegelapan. Bila semakin
banyak yang kita ketahui tentang hakikat segala maujud, semakin dekat
kita kepada dunia cahaya, dan cinta kepada dunia itu menjadi semakin
mendalam.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

41

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Penutup
Pemikiran Suhraward bukan merupakan sebuah teologi, ataupun
teosofi. Ia sebaliknya, menggambarkan filsafat mistis yang sistematis.
Mengabaikan sepenuhnya unsur-unsur logika dan epistemologi karyakaryanya, menjamin ketidaksempurnaan analisis dan tidak memuaskan.
Pemikiran Suhraward dicirikan oleh ketiadaan dogmatisme dengan
disposisi dimanis yang mengizinkan perubahan karena subjek berubah.
Filsafat ini, menurut Hossein Ziai, pada dasarnya adalah filsafat yang
bertujuan menyelidiki sesuatu, termasuk jawaban-jawaban yang
ditimbulkan pada manusia terhadapnya, serta berusaha mengekspresikan
secara runtut dan sistematis hasil-hasil karyanya.
Pengaruh ide baru Suhraward, rekonstruksinya terhadap filsafat yang
hampir seluruhnya Platonisme, sangat monumental. Pengaruh ini,
misalnya dapat dilihat sampai sekarang pada sedikitnya karya kajian
filosof yahudi abad ke-13 dan ahli logika Saad bin Mansr bin
Kammnah, yang juga menjadi komentator besar karya-karya logika
Suhraaward yang diberi judul al-Jadd fi al-Hikmah
Paradigma berfikir Suhraward dalam filsafat illminasi juga banyak
mempengaruhi perkembangan filsafat Islam. Pembagian metafisika
Suhraward dan upaya memperlithatkan keunggulan epistemologis modus
pengetahuan eksperiensial (berdasarkan pengalaman) yang
diobjektifikasi, banyak digunakan oleh komentator dan sejarahwan untuk
memberi tekanan pada perbedaan antara Paripatetik dan Iluminasionis.
Hal lain yang banyak berpengaruh juga adalah bidang semantik (ilm
dallah al-alfdh). Dalam logika formal, Suhraward banyak memberi
pengaruh pada generasi berikutnya: seperti dalam masalah modalitas yang
diulang-ulang, penciptaan proposisi- proposisi niscaya superafirmatif (alqadhiyyah al-dhorriyyah al-battatah), penyederhanaan terma-terma,
modalitas-modalitas temporal (al-qadhy al-muwajjahah) dan yang lainya.
Wilayah penting pengaruh Suhraward lainnya adalah teorinya tentang
kategori-kategori, yang menjadi acuan sebagian besar karya filsafat
terkemudian yang dikenal sebagai al-hikmah al-mutaliyah.
Secara umum, Filsafat Iluminasi -gagasan, bahasa dan metodenyamempunyai dampak besar pada setiap pemikiran masa-masa berikutnya
dalam Islam, yang meliputi wilayah-wilayah filsafat, mistik dan bahkan
poitik. Menurut Hossein Ziai, pengaruh sistem Filsafat Iluminasionis ini
telah menyebar sangat luas di Persia dan diikuti oleh India Muslim. Ini
juga membantu mendefinisikan gagasan kebijaksanaan puitis dan filosofis
sebagai sarana pokok yang digunakan generasi-generais kaum Muslim
untuk mencari solusi atas persoalan-persoalan intelektual dan eksistensial
yang penting.

42

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Walaupun Umat Islam kurang cerdas menangkap bola ide yang


digulirkan Suhraward, setidaknya di sana banyak Sarjana yang
menafsirkan ajarannya dan sekaligus menjadi pengembang dan pelanjut
Filsafat Illuminasi seperti: Syamsuddn Muhammad Al-Sahrasuri (w.1288),
Saad bin Mansur bin Kammnah (w. 1284), Qutubbuddn Al-Syirzi (w.
1311), Nasruddin Tssi (w. 1274), Muhammad bin Zainuddn bin Ibrhm
AhsaI (w. 1479), Qdi Jalluddn bin Saad al-Dn al-Dawni (w.1501),
Muhammad Syarf Nizmuddn al-Harwi (w. 1600), Muhammad Baqir
bin Syamsuddn Muhammad (w. 1631), serta yang lainnya. Sebuah sikap
yang bijak bagi generasi berikutnya, adalah menangkap tongkat estafet
yang telah disodorkan secara proporsial dan progresif dengan sebuah
kesadaran bahwa bangunan keilmuan muncul dari tumpukan batu bata
secara komunal dan memahami sebuah ungkapan Human being is not
perfect.[]

Catatan Akhir:
Dewan Redaksi, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (Jakarta; PT Ichtiar
Baru Van Hoeve, 1983), h. 213
2
A. Khudori Soleh, M.Ag, Wacana Baru Filsafat Islam, (Yogyakarta;
Pustaka Pelajar, 2004), h. 116
3
Mehdi Aminrazavi, Pendekatan Rasional Suhrawardi Terhadap Problem
Ilmu Pengetahuan, dalam jurnal Al-Hikmah , (Bandung; edisi 7 Desember
1992), h. 71-72
Ini tidak berbeda dengan stetemen Osman Bakar, Menurutnya kritikkritik yang diajukan para intelektual Islam yang lain terhadap burhani,
bukan karena ia berusaha mengekspresikan segala sesuatu secara rasional,
sejauh ini mungkin, tetapi karena ia berusaha merangkul seluruh realitas
kedalam alam rasio, seakan rasio sesuai dengan prinsip segala sesuatu
dan begitu juga sebaliknya. Padahal kenyataan tidak demikian. Artinya
para intelektual Islam tidak melarang rasionalisme, tetapi tidak menyukai
pemaksaan diri, karena ini berarti justru tidak rasional. Lihat A. Khudori
Soleh, M.Ag, Wacana Baru,op.cit., h. 135. Lihat Juga Osman Bakar,
Tauhid dan Sains, (Bandung; Pustaka Hidayah, 1994), h. 43
4
Hussein Nasr, Tiga Pemikir Islam, terj. Mujahid, (Bandung; Risalah,
1986), h. 85
5
Menurut Ibn Sina, eksistensi mendahului essensi. Eksistensi bersifat
primer dan merupakan satu-satunya hakikat atau realitas yang dimiliki
Tuhan, sedang essensi dan sifat-sifatnya bersifat sekunder. Tidak bisa
dibayangkan essensi tanpa eksisitensi , tetapi tidak demikian sebaliknya.
1

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

43

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Namun bagi Ibn Sina, eksistensi dan essensi ini keduanya sama-sama
merupakan realitas yang nyata. Sejalan dengan itu menurut Ibn Arabi,
eksisitensi mendahului essensi. Eksisitensi adalah realitas yang
sesungguhnya dan realitas itu hanya satu, yakni Tuhan, sedang essensi
tidak lain adalah bentuk-bentuk dalam pengetahun-Nya yang disebut
aynal-tsbitah
6
Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, Ensiklopedi Tematis Filsafat
Islam terj. Tim Penerjemah Mizan dari History of Islamic Philosophy,
(Bandung: Mizan, 2003) h. 552
7
Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam Sebuah Peta Kronologis, terj. Zaimul
Am dari A Short Introduction to Islamic Philosophy, Theology and Mysticism,
(Bandung: Mizan, 2001) h. 130
Pada salah satu bukunya, yaitu al-Tahwlt. Ia menjelaskan bahwa kaum
Paripatetik pada zamannya telah gagal memahami maksud pendirinya,
Aristoteles, Guru pertama dan Ahli al-Hikmah. Konon, Aristoteles
mendatangi al-Suhraward dalam sebuah mimpi dan pada saat itu terlibat
diskusi dengannya mengenai watak pengetahuan, hubungan dan
kesatuan, ataupun kedudukan para Filosof Islam dan tokoh-tokoh sufi
yang telah mencapai derajat pengetahuan kongkrit dan pengetahuan
visual . Mereka ini adalah para filosof sekaligus Guru Sejati.
8
Dr. Ibrhim Hill, Al-Tashawwuf Al-Islmiy Baina al-Dn Wa Al-Falsafah,
(Cairo: Dr al-Nahdhah al- Arabiyyah, 1975), h. 102
9
Beberapa Sarjana mengatakan, kelahirannya di desa kecil dekat
Zinjan di Iran Timur laut. Lihat Hossein Ziai, Suhraward dan Filsafat
Illuminasi, terj. Dr Afif Muhammad dan Drs. Munir dari Knowladge and
Illumination: A Study of Suhrawards Hikmat al-Isyraq (Bandung; Zaman
Wacana Mulia, 1998), h. 23 Lihat juga A. Khudori Soleh M.Ag. Wacana
Baru,op.cit., h. 117
10
Tokoh lain yang sama-sama bernama Suhraward adalah (1) Abd
Qdir Ab Najib Suhraward (w. 1168 M), pendiri tarekat Suhrawardiyah.
Ia murid Ahmad al-Ghazali, adik kandung Imam Ghazali (2) Syihb alDn Ab Hafis Umar Suhraward (1145-1234 M.), keponakan sekaligus
murid Suhraward yang pertama. Ia lebih berpengaruh daripada pamannya
dan menjadi Maha Guru (Syaikh al-Syuykh) ajaran sufi di Baghdad pada
masa khalifah al-Nasir. Tokoh ini adalah pengarang kitab Awrif al-Marif
yang terkenal dalam Sufisme, Lihat Annemarie Schimmel, Mystical
Dimension of Islam, (Chapel Hill; The University of North Carolina Press,
1975), h. 244-5
11
Dr. Mustafa Ghlib, Al-Suhraward, (Beirut; Izzudin, 1982), h. 16
12
Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, Ensiklopedi
Tematis,op.cit., h. 545
13
Hossein Ziai, op.cit., h. 23

44

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Hussein Nasr, Tiga Pemikir,op.cit., h. 71


Mehdi Amin Razavi, Suhraward and the School of Illumination, (Surrey;
Curzon Press, 1997), h. 1
16
Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, Ensiklopedi Filsafat,op.cit.,
h. 546
17
Ibid.
18
Salah satu pandangan Suhraward yang seiring dengan doktrin
Ismailiyyah adalah pandangannya tentang nubuwah, dimana dalam
pandangan Suhraward, kenabian itu semacam imamah, tidak mungkin
berakhir sampai akhir zaman untuk menjaga kestabilan dunia dan
kemaslahatan semesta. Lihat Dr. Mustofa Ghlib, al-Suhrawar,op.cit.,
h. 27
19
Ibid., h. 22
20
Ibid., h. 24
21
Ibid., h37
22
Hussein Nasr, op.cit. h. 72-73
23
Dewan Redaksi, op.cit., h. 214
24
Hossein Ziai, op.cit., h. 38
25
Lihat al-Munjid Fi al-Lughoh, (Beirut; Dar al-Masyriq, 1969), h. 384
26
John M Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta:
Gramedia, 1979), h. 311
27
Dewan Redaksi, op. cit., h. 215. Namun salah seorang penulis biografi
dan komentatornya yang terkemuka, Syamsudin al-Sahrazuri, menyebut
Suhraward sebagai pengarang yang menggabungkan dua kebijakan, yakni
eksperensial (al-dzzauqiyah) dan yang diskursif (al-bahtsiah). Lihat Musa
Asyarie, Filasafat Islam Kajian Ontologis, Epistemologis, Aksiologis, Historis,
Prospektis, (Yogyakarta: LESFI, 1992), h. 92-93
28
Dewan Redaksi, op.cit., h. 216
29
Annemarie Schimmel, op.cit., h. 261
30
Dr. Ibrhim Hill, op.cit., h. 112
31
Abdurrahman Badaw, al-Matsal al-Aqliyyah al-Aflatniyyah Inda
al-Suhraward, (Beirut; Dr al-Kutub, 1947), h. 11
32
SyihaBoddin Yahya Sohravardi, Oevres Philosophiques et Mystiques,
(Teheran: Academie Imperiale Irranienne de Philosopie, 1976), h 10.
Dalam buku ini dicantumkan buku Hikmah al-Isyrq sesuai teks asli
menggunakan bahasa Arab.
33
Zoroastrianisme adalah agama orang Iran kuno yang bersifat dualistik,
berkembang pada abad 7 SM.. Penciptanya diduga nabi mistik Zarathustra
(Zoroaster). Ajaran utamanaya adalah tentang pergumulan yang terus
menerus antara unsur yang berlawanan di dunia, yakni kebaikan (cahaya)
dan kejahatan (kegelapan).
34
A.Khudory Soleh, M.Ag, op.cit., h. 121
14
15

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

45

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, op.cit., h. 550


Dewan Redaksi, op. cit., h. 216
37
Ibid., h. 216
38
Ibid., h. 217
39
Ibid., h. 217
40
A. Khudioory Sholeh M, Ag, op.cit. h. 124
Ajaran ini dikembangkan Ibn Arabi (1165-1240) menjadi ide dalam
alam semesta sebagai macro anthropos (al-insn al-akbar) atau macropesonal (al-syakhsy al-akbar). Semesta ini dipolakan sebagai manusia.
Kemampuan-kemampuan kognitif manusia diproyeksikan kedalam
struktur ontologis realits yang tampak sebagai seorang, sehingga
sebagaimana manusia, semesta ini mempunyai persepsi indrawi, imajenasi,
pemikiran rasional dan intuisi spriritual. Lihat Fazlur Rahman, Islam,
(Chicago-London; , University of Chicago Press, 1979), h. 124-125
41
Mehdi Amin Razavi, Suhrawardi and The School,op.cit., h. 33
42
A. Khudori Soleh, M.Ag, op.cit., h. 124
43
Madjid Fakhry, A History of Isalamic Philosophy, (Newyork dan
London; Colonbia University Press,, 1970), h. 331-2
44
Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, op.cit., h. 558
45
Ibid., h. 131
46
Ibid., h. 132
47
Suhraward, Hikmat,op.cit., h. 136
48
Ibid., h. 136
49
Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama,
1999), h. 150
50
Hossein Ziai, op.cit., h. 148
51
Suhrraward, op.cit., h. 155
52
Dr. Ibrhim Hill, op.cit. h. 103
53
A. Khudori Soleh, M.Ag, op.cit., h. 125
54
Hossein Ziai, op.cit., h. 149
55
Ibid., h. 150
56
Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, op.cit., h.566-7
57
Hossein Ziai, op.cit., h. 36
58
A.Khudori Soleh, M.Ag, op.cit., h. 131
59
Sayyid Hussein Nasr dan Oliver Leaman, op.cit., h. 568
60
Hossein Ziai, op.cit., h. 37
61
Sayyid Hussein Nasr dan Oliver Leaman, op.cit., h. 568
62
Ibid., h. 452
63
Husein Nasr, op.cit., h 80
64
Hossein Ziai, op.cit., h. 131
65
Hossein Ziai, Suhraward dan Filsafat Illuminasi, ibid., h. 135
66
Ibid., h. 130
35

36

46

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

A.Khudori Soleh, M.Ag, op.cit., h 128. Lihat juga Ilmu Hudhuri karya
Mehdi Hairi Yazdi, h. 211
68
Hossein Ziai, op.cit., h. 36
69
Sayyid Hussein Nasr dan Oliver Leaman, op.cit., h. 559
70
Hasyimsyah Nasution, op.cit., h 160
71
Ibid., h. 160
72
Ibid., h 162
73
Ibid., h. 165
67

DAFTAR PUSTAKA
Aminrazavi, Mehdi, Pendekatan Rasional Suhrawardi Terhadap Problem Ilmu
Pengetahuan, dalam jurnal al-Hikmah, (Bandung: edisi 7 Desember
1992)
_____, Suhrawardi and the School of Illumination, (Surrey: Curzon Press,
1997)
Asyarie, Musa, Filasafat Islam Kajian Ontologis, Epistimologis, Aksiologis,
Historis,
Prospektis, ( Yogyakarta: LESFI, 1992)
Badawi, Abdurrahaman, al-Matsal al-Aqliyyah al-Aflthniyyah Inda alSuhraward, (Beirut: Dar al Kutub, 1947)
Bakar, Osman, Tauhid dan Sains (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994)
Fakhry, Madjid, Sejarah Filsafat Islam Sebuah Peta Kronologis, terj. Zainul
Am dari AShort Introduction to Islamic Philosophy, Theology ang
Mysticism, (Bandung: Mizan, 2001)
Hill, Ibrhm, al-Tasawwuf al-Islm Baina al-Dn wa al-Falsafah, (Cairo:
Dar al-Nahdhah al- Arabiyyah, 1975)
Khudori Soleh, Ahmad, MAg, Wacana Baru Filsafat Islam, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2004)
Leaman, Oliver dan Hossen Nasr, Sayyad, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam
terj. Tim Penerjemah Mizan dari History of Islamic Philosophy,
(Bandung: Mizan,2003)

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

47

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Nasr, Sayyid Hussein, Tiga pemikir Islam (Bandung: Risalah, 1986)


Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama. 1999)
Pakar, Dewan, Al-munjid fi al-Lughoh, (Beirut: Dar al-Msyriq, 1969)
Schimmel, Annemarie, Mystical Dimension of Islam, (Chapel Hill: The
University of North Carolina Press, 1975)
Shadily, Hasan dan Echols, M, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia,
1979)
Yahya Suhravardi, ShihaBoddin, Oevres Philosophiques et Mystiques,
(Teheran: Academic Imperiale Irraniene de Philosopie, 1976)
Ziai, Hossein, Suhrawardi dan Filsafat Iluminasi, terj. Dr Afif Muhammad
dan Drs. Munir dari Knowladge and Illumination: A Studi of
Suhrawardis Hikmat al-Isyraq. (Bandung: Zaman Wacana Mulia,
1998)

48

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005