Anda di halaman 1dari 16

STUDI KASUS PT.

UNILIVER
Tugas ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen pada
semester 4 tahun 2016

Disusun :
Ima Nurfitriani
1147050080
IF B

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
1. Fungsi manajemen bagi perusahaan PT.Uniliver :

Sebagi pengatur pengeluaran dan pemasukan barang yang dipasarkan,


mempromosikan produk yang dihasilkan kepada masyarakat luas dengan
berbagai cara.
2. Model manajemen yang digunakan :
Model manajemen yang digunakan adalah Majemen Organisasi dengan
model POLC(Planning, Organizing, Leading, Controlling) dengan
cakupan perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian.
3. Peranan manajemen didalamnya :
Pembagian pertama adalah berdasarkan pada produk yang dihasilkan:
a. Director Food: adalah orang yang mengatur segala kegiatan berkaitan
dengan produk makanan yang dihasilkan Unilever
b. Director Ice Cream adalah orang yang mengatur segala kegiatan
berkaitan dengan produk ice cream yang dihasilkan Unilever.
Pembagian kedua adalah berdasarkan fungsionalnya:
a. Chief financial officer adalah orang yang mengatur segala kegiatan
berkaitan dengansemua keuangan yang ada pada Unilever.
b. Home dan personal care adalah bekerja mengurusi semua yang ada
di dalam perusahaan , berkaitan dengan individu kepegawaian.
c. Supplaychain adalah bagian untuk Mengatasi permasalahan bahan
baku (suply chain)
d. Customer development adalah bagian untuk mengurusi tentang
masalah customer, merangkul customer sebanyak banyak nya.
e. Human Resources dan corporate relation: adalah bagian untuk
human resource dan hubungan antar perusahaan atau yang
bekerjasama dengan perusahaan.
4. Keterampilan yang dimiliki oleh manajer tersebut :
Manjer tersebut mampu mengkondisionalkan keadaan perusahaan saat
mengalami kerugian ataupun keuntungan. Para manajer juga dapat
mengatur produksi barang agar terkoordinir dengan baik dengan cara

bekerja sama dengan bawahannya hal itu dilakukakn agar silaturahmi tetap
terjaga dan informasi tetap terjaga.

DATA STUDI KASUS PT.UNILIVER


A. Sejarah Perusahaan
PT Unilever Indonesia Tbk (perusahaan) didirikan pada 5
Desember 1933 sebagai Zeepfabrieken N.V. Lever dengan akta No. 33
yang dibuat oleh Tn.A.H. van Ophuijsen, notaris di Batavia. Akta ini
disetujui oleh Gubernur Jenderal van Negerlandsch-Indie dengan surat
No. 14 pada tanggal 16 Desember 1933, terdaftar di Raad van Justitie
di Batavia dengan No. 302 pada tanggal 22 Desember 1933 dan
diumumkan dalam Javasche Courant pada tanggal 9 Januari 1934
Tambahan No. 3.
Dengan akta No. 171 yang dibuat oleh notaris Ny. Kartini
Mulyadi tertanggal 22 Juli 1980, nama perusahaan diubah menjadi PT
Unilever Indonesia. Dengan akta no. 92 yang dibuat oleh notaris Tn.
Mudofir Hadi, S.H. tertanggal 30 Juni 1997, nama perusahaan diubah
menjadi PT Unilever Indonesia Tbk. Akta ini disetujui oleh Menteri
Kehakiman dengan keputusan No. C2-1.049HT.01.04TH.98
tertanggal 23 Februari 1998 dan diumumkan di Berita Negara No.
2620 tanggal 15 Mei 1998 Tambahan No. 39.
Perusahaan mendaftarkan 15% dari sahamnya di Bursa Efek
Jakarta dan Bursa Efek Surabaya setelah memperoleh persetujuan dari
Ketua Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) No. SI009/PM/E/1981 pada tanggal 16 November 1981. Pada Rapat Umum
Tahunan perusahaan pada tanggal 24 Juni 2003, para pemegang saham
menyepakati pemecahan saham, dengan mengurangi nilai nominal
saham dari Rp 100 per saham menjadi Rp 10 per saham. Perubahan
ini dibuat di hadapan notaris dengan akta No. 46 yang dibuat oleh
notaris Singgih Susilo, S.H. tertanggal 10 Juli 2003 dan disetujui oleh
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
dengan keputusan No. C-17533 HT.01.04-TH.2003.
Perusahaan bergerak dalam bidang produksi sabun, deterjen,
margarin, minyak sayur dan makanan yang terbuat dari susu, es krim,
makanan dan minuman dari teh dan produk-produk kosmetik.
Sebagaimana disetujui dalam Rapat Umum Tahunan Perusahaan pada
tanggal 13 Juni, 2000, yang dituangkan dalam akta notaris No. 82
yang dibuat oleh notaris Singgih Susilo, S.H. tertanggal 14 Juni 2000,
perusahaan juga bertindak sebagai distributor utama dan memberi

jasa-jasa penelitian pemasaran. Akta ini disetujui oleh Menteri Hukum


dan Perundang-undangan (dahulu Menteri Kehakiman) Republik
Indonesia dengan keputusan No. C-18482HT.01.04-TH.2000.
Perusahaan memulai operasi komersialnya pada tahun 1933.

B. Perluasan Unilever Indonesia


Pada tanggal 22 November 2000, perusahaan mengadakan
perjanjian dengan PT Anugrah Indah Pelangi, untuk mendirikan
perusahaan baru yakni PT Anugrah Lever (PT AL) yang bergerak di
bidang pembuatan, pengembangan, pemasaran dan penjualan kecap,
saus cabe dan saus-saus lain dengan merk dagang Bango, Parkiet dan
Sakura dan merk-merk lain atas dasar lisensi perusahaan kepada PT
Al.
Pada tanggal 3 Juli 2002, perusahaan mengadakan perjanjian
dengan Texchem Resources Berhad, untuk mendirikan perusahaan
baru yakni PT Technopia Lever yang bergerak di bidang distribusi,
ekspor dan impor barang-barang dengan menggunakan merk dagang
Domestos Nomos. Pada tanggal 7 November 2003, Texchem
Resources Berhad mengadakan perjanjian jual beli saham dengan
Technopia Singapore Pte. Ltd, yang dalam perjanjian tersebut
Texchem Resources Berhad sepakat untuk menjual sahamnya di PT
Technopia Lever kepada Technopia Singapore Pte. Ltd.
Dalam Rapat Umum Luar Biasa perusahaan pada tanggal 8
Desember 2003, perusahaan menerima persetujuan dari pemegang
saham minoritasnya untuk mengakuisisi saham PT Knorr Indonesia
(PT KI) dari Unilever Overseas Holdings Limited (pihak terkait).
Akuisisi ini berlaku pada tanggal penandatanganan perjanjian jual beli
saham antara perusahaan dan Unilever Overseas Holdings Limited
pada tanggal 21 Januari 2004. Pada tanggal 30 Juli 2004, perusahaan
digabung dengan PT KI. Penggabungan tersebut dilakukan dengan
menggunakan metoda yang sama dengan metoda pengelompokan
saham (pooling of interest). Perusahaan merupakan perusahaan yang
menerima penggabungan dan setelah penggabungan tersebut PT KI
tidak lagi menjadi badan hukum yang terpisah. Penggabungan ini
sesuai dengan persetujuan Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM) dalam suratnya No. 740/III/PMA/2004 tertanggal 9 Juli
2004.

Pada tahun 2007, PT Unilever Indonesia Tbk. (Unilever) telah


menandatangani perjanjian bersyarat dengan PT Ultrajaya Milk
Industry & Trading Company Tbk (Ultra) sehubungan dengan
pengambilalihan industri minuman sari buah melalui pengalihan
merek Buavita dan Gogo dari Ultra ke Unilever. Perjanjian telah
terpenuhi dan Unilever dan Ultra telah menyelesaikan transaksi pada
bulan Januari 2008.

C. Visi

1.
2.

3.
4.

Produk Unilever telah menyentuh sekitar 2 milyar orang setiap


hari, baik itu melalui perasaan yang luar biasa karena mereka
memiliki rambut yang kemilau dan senyum yang menawan, membuat
rumah mereka segar dan bersih, atau dengan menikmati secangkir
kopi, makanan yang lezat atau snack yang sehat.
Empat pilar utama dari visi kami menggambarkan arah jangka
panjang dari perusahaan kemana tujuan kami dan bagaimana kami
menuju ke arah sana:
Kami bekerja untuk membangun masa depan yang lebih baik setiap
hari.
Kami membantu orang-orang merasa nyaman, berpenampilan baik
dan lebih menikmati kehidupan dengan brand dan pelayanan yang
baik bagi mereka dan bagi orang lain.
Kami menjadi sumber inspirasi orang-orang untuk melakukan hal
kecil setiap hari yang dapat membuat perbedaan besar bagi dunia.
Kami akan mengembangkan cara baru dalam melakukan bisnis
dengan tujuan membesarkan perusahaan kami dua kali lipat sambil
mengurangi dampak lingkungan.
Kami selalu percaya akan kekuatan brand kami dalam meningkatkan
kualitas kehidupan orang-orang dan dalam melakukan hal yang benar.
Semakin bertumbuhnya bisnis kami, meningkat pula tanggung jawab
kami. Kami mengenali tantangan global seperti perubahan iklim yang
menjadi kepedulian kita bersama. Mempertimbangkan dampak yang
lebih luas dari tindakan kami selalu menyatu dalam nilai-nilai kami
dan merupakan bagian fundamental mengenai siapa diri kami.

D. Misi
1.

Menjadi yang pertama dan terbaik di kelasnya dalam memenuhi


kebutuhan dan aspirasi konsumen

2.

Menjadi rekan yang utama bagi pelanggan,konsumen dan


komunitas.
3.
Menghilangkan kegiatan yang tak bernilai tambahdari segala proses.
4.
Menjadi perusahaan terpilih bagi orang-orangdengan kinerja yang
tinggi.
5. Bertujuan meningkatkan target pertumbuhan yang menguntungkan dan
memberikan imbalan di atas rata-rata karyawan dan pemegang saham.

E. Budaya
1.

2.
3.

4.
5.

6.

7.

F.

Memiliki hirarki organisasi yang jelas dan tanggungjawab masingmasing tugas dipegangoleh tenaga ahli dan pakar di berbagai daerah
karena area geogerafik .
Suasana kantor terkesan antik dan anggun, serius dan seragam yang
rapi, suasana heningdengan irama klasik .
Para manajer bekerja dengan tekun, budaya memperbaiki diri untuk
meningkatkankompetensi menjadikan budaya organisasi unilever
menjadi kuat.
Ruang rapat tersusun formal, rapi, bersih dan anggun. Penciptaan
suasana kerja akanmendorong kinerja karyawan lebih baik.
Suasana rapat jarang terjadi konfrontasi langsung namun digunakan
sebagai sarana pemberitahuan keputusan perusahaan dan informasiinformasi.
Budaya menciptakan produk yang bermutu/berkualitas adalah hal
yang utama agar suatuorganisasi dapat bersaing dan unggul dalam
persaingan global.
Budaya hidup sehat dengan fasilitas kesejahteraan karyawan, di
antara adalah ruang penitipan bayi ( Nursery Room) dan sarana
olahraga (Gym).

Marketing Mix Perusahaan


Produk
PT. Unilever Indonesia, Tbk. yang beroperasi di Indonesia sejak
tahun 1933, telah tumbuh menjadi perusahaan penyedia consumer
product yang mempunyai peran penting di Indonesia. Unilever adalah
produsen merk-merk terkenal di seluruh dunia yang juga terkenal di
tingkat regional dan lokal, antara lain Pepsodent, Lifebuoy, Lux,

Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Rinso, Molto, Ponds, Blue Band,


Royco, Sariwangi, Bango, Taro dan masih banyak lagi.
Posisi Unilever yang kuat sebagai pemimpin pasar telah diakui
melalui berbagai penghargaan nasional dan regional yang diterima
oleh perusahaan. PT. Unilever Indonesia, Tbk melalui brand-brandnya kembali membuktikan keunggulannya dengan meraih peringkat
dalam Packaging Consumer Branding Award 2005 yang
diselenggarakan oleh Indonesia Brand Identity Summit (IBS)
bekerjasama dengan majalah SWA dan MIX.
Berikut adalah peringkat yang diraih oleh brand-brand Unilever
dalam setahun Indonesia Packaging Consumer Award 2005. Sunsilk,
Pepsodent, Lux, Molto, Lifebuoy, Axe dan Clear merupakan merk
produk perawatan rumah dan tubuh (Home and Personal Care) yang
tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Sedangkan untuk
produk makanan dan ice cream, ada Blue Band yang legendaris,
Bango, Sari Wangi, Royco dan Walls. Masih ada sederet merk produk
lagi yang bila disebutkan satu persatu namanya, terasa sangat akrab
dengan kehidupan kita.
Produk-produk yang dihasilkan oleh PT. Unilever Indonesia,
Tbk:
1.
Surf
2.
Rinso
3.
Buavita
4.
Sunsilk
5.
Taro
6.
Pepsodent
7.
Molto
8.
Lifebuoy
9.
Clear
10. Close Up
11. Citra
12. Axe
13. Royco
14. Kecap Bango
15. SariWangi
16. Blue Band
17. Walls
18. Sunlight
19. Ponds
20. Lux

21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.

Rexona
Pure It
CIF
Vaseline
Dove
Domestos Nomos
Viso
Wipol
Vixal
Lipton
She
Molto

Price
Sejumlah nilai yang ditukarkan dengan manfaat dari memiliki atau
menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh pembeli
dan penjual melalui tawar menawar atau ditetapkan oleh penjual untuk
harga yang sama terhadap semua pembeli. Harga yang di tawarkan
untuk produk ini juga relatif murah sesuai dengan kualitas yang di
hasilkan.
Place
Distribusi merupakan kegiatan yang dilakukan perusahaan agar
produk dapat diperoleh dengan mudah tersedia bagi konsumen sasaran
sebagaian besar produsen menggunakan perantara pemasaran untuk
memasarkan produk, khususnya barang dengan membangun satu
saluran distribusi, yaitu sekelompok organisasi yang saling bergantung
dalam keterlibatan mereka pada proses yang memungkinkan suatu
produk atau jasa tersedia bagi penggunaan atau konsumsi oleh
konsumen atau pengguna industrial. Distribusi untuk produk ini
biasanya dapat berlangsung di gudang distribusi, supermarket, pasar
tradisonal, dan warung-warung eceran.
Promotion
Promosi merupakan berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan
untuk mengkonsumsi manfaat produknya dan meyakinkan konsumen
agar mau melakukan tindakan pembelian. Biasanya promosi yang
dilakukan PT. Unilever Indonesia melalui pengiklan di televisi, eventevent, dll.

G. Analisis Laporan Keuangan


1). Rasio Likuiditas
Berdasarkan analisis Rasio Likuiditas, kinerja keuangan perusahaan
mengalami penurunan di tahun 2008, jika dibandingkan dengan satu
tahun sebelumnya yaitu tahun 2007. Nilai Rasio Likuiditas pada
PT.UNILEVER Indonesia Tbk, sebagian besar berada di bawah
angka 1, di mana semakin tinggi Rasio Likuiditas suatu perusahaan
seharusnya semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar
kewajiban
jangka
pendek.
Rasio
Likuiditas
yang lebih
rendah padatahun 2008 menunjukkan manajemen yang buruk atas
sumber likuiditas atau pengelolaan aktiva lancar yang kurang bagus
(kurang efisien) karena masih banyak aktiva yang menganggur.
2). Rasio Aktivitas
Berdasarkan perhitungan pada analisis rasio aktivitas, Perusahaan
hanya mengalami perbaikan pada Rasio Perputaran Persediaan
(Inventory Turnover), sementara pada analisis rasio lainnya
mengalami kenaikan dimana berdasarkan evaluasi rasio jika rasio ini
mengalami kenaikan pada tahun berikutnya maka kinerja perusahaan
tidak membaik bahkan bisa dikatakan buruk dalam hal efisiensi nilai
persediaan dan aktiva.
3). Rasio Manajemen Utang (Leverage Ratio)
Kinerja keuangan perusahaan dilihat dari sisi Leverage Ratio,
mengalami kenaikan dibandingkan dengan satu tahun sebelumnya.
Apabila semakin besar nilai Rasio Manajemen Utang pada suatu
perusahaan menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan
semakin menurun, karena tingginya nilai rasio menunjukkan bahwa
sebagian besar investasi didanai oleh utang atau dana pinjaman,
dengan kata lain porsi pemegang saham semakin kecil dalam
menjamin investasi yang mengakibatkan pembayaran bunga menjadi
semakin besar.
4). Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
Berdasarkan analisis rasio profitabilitas, perusahaan tidak mengalami
perubahan dalam kemampuan menghasilkan laba kotor, laba operasi,
maupun laba bersih. Angka yang ditunjukkan pada analisis rasio pada
tahun 2007 hampir sama dengan analisis rasio 2008 yang berarti
kinerja perusahaan dalam kemampuan menghasilkan laba tidak

mengalami peningkatan, tetapi hal ini menunjukkan hasil yang baik


dibandingkan adanya penurunan kemampuan menghasilkan laba.

1.
2.

1.
2.
3.
4.
5.

Struktur Organisasi
Pembagian pertama adalah berdasarkan pada produk yang dihasilkan:
Director Food: adalah orang yang mengatur segala kegiatan
berkaitan dengan produk makanan yang dihasilkan Unilever
Director Ice Cream adalah orang yang mengatur segala kegiatan
berkaitan dengan produk ice cream yang dihasilkan Unilever.
Pembagian kedua adalah berdasarkan fungsionalnya:
Chief financial officer adalah orang yang mengatur segala kegiatan
berkaitan dengansemua keuangan yang ada pada Unilever.
Home dan personal care adalah bekerja mengurusi semua yang ada
di dalam perusahaan , berkaitan dengan individu kepegawaian.
Supplaychain adalah bagian untuk Mengatasi permasalahan bahan
baku (suply chain)
Customer development adalah bagian untuk mengurusi tentang
masalah customer, merangkul customer sebanyak banyak nya.
Human Resources dan corporate relation: adalah bagian untuk
human resource dan hubungan antar perusahaan atau yang
bekerjasama dengan perusahaan.

H. Pesaing Perusahaan
Pesaing utama unilever adalah Prector & Gamble dan Kraft
Foods memiliki penjualan di kira-kira 140-150 negara yang berbeda
pada tahun 2003 dan Nestle, termasuk saingan utama unilever,
memiliki penetrasi pasar di hampir setiap negara di dunia. Pesaingpesaing lainnya :PT Wings, PT Kao, PT Mandom, PT Johnson &
Jhonson. Sebaiknya, Unilever harus mampu memperluas operasinya
ke 50 atau lebih negara-negara baru dan memusatkan kampanye iklan
pada preteransi konsumen, bisa secara signifikan meningkatkan
pangsa pasar dalam ekonomi global. Selain itu, Unilever harus
mempunyai kemampuan untuk mengantisipasi trend dan kebutuhan
konsumen dan kemudian memenuhi kebutuhan mereka.

I. Analisis SWOT
Kekuatan (Strengths)

1. Strategi promosi produk PT Unilever yang efektif dengan


menampilkan model-model yang tipikal muda, berkulit putih,
berambut panjang, sehingga memacu konsumen (lebih spesifik
perempuan) untuk membeli produk tersebut agar dapat mengalami
sendiri hasil yang diterima si model dalam iklan tersebut.
2. PT Unilever gencar di misi sosial, sehingga kedekatan dengan
konsumen dapat terus terjaga. Hal ini terlihat dari pembelanjaan iklan
dan promosi yang telah mendorong pertumbuhan penjualan di tengah
pasar yang kompetitif. PT Unilever Indonesia sebagai salah satu
perusahaan dengan belanja iklan terbesar menurut majalah marketing
(top Brand Survey, edisi khusus 2007)
3. Pemimpin pasar consumer goods di Indonesia.
4. Memiliki tim yang terdiri dari orang-orang berdedikasi, terampil, dan
termotivasi di segenap jajaran.
5. Adanya kenaikan pangsa pasar untuk kategori-kategori penting seperti
face care, savoury, dan ice cream.
6. Perencanaan baik dan kerja sama erat dengan para pemasok,
konsumen dan distributor untuk menghantar produk-produk dari
pabrik ke tempat-rempat penjualan.
7. PT Unilever sudah memiliki jaringan distribusi sendiri sehingga
distribusi produknya hingga ke daerah-daerah dapat terlayani.
8. PT unilever mempunyai moto operational excellent with no
compromise on quality. Unilever dalam menjalankan operasinya
dijalankan dengan baik tanpa mengabaikan kualitas produk.

1.

2.
3.
4.

5.

Kelemahan (Weaknesses)
PT Unilever memiliki struktur matriks, yang terdapat beberapa
tantangan yang mesti dihadapi perusahaan yaitu pertama, sulitnya
koordinasi kegiatan antar departemen yang mempunyai agenda dan
jadwal sendiri-sendiri. Kedua,ko munikasi pada karyawan yang bisa
menerima pesan yang berbeda-beda.Dan ketiga, resolusi konflik
antara inisiatif dari dukungan departemen (SDM, keuangan, dan lainlain) dengan departemen lini produk yang biasanya sangat
berorientasi komersial.
Rendahnya respon pasar terhadap produk-produk tertentu.
Jumlah karyawan yang tambun.
Birokrasi yang panjang karena kebijakan sentralisasi yang
menyebabkan unilever indonesia tidak bisa begitu saja memutuskan
sesuatu.
Lambatnya konsolidasi intern dalam pengambilan keputusan.

6.
7.
8.

Ketidakjelasan sertifikat halal untuk produk tertentu.


Mayoritas produk unilever memiliki entry barrier rendah.
Growth omzet penjualan dibawah rata-rata industri.

Kesempatan (Opportunities)
1. Stabilitas ekonomi yang relatif baik dengan pertumbuhan yang
menggembirakan bagi ekonomi Indonesia sebesar 6.3%.
2. Pertumbuhan ekonomi yang kuat di wilayah pulau-pulau seperti
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan papua.
3. Tingginya kepuasan konsumen terlihat dari predikat prima indeks
kepuasan konsumen
4. Banyaknya pemain pasar nasional yang belum memiliki cara produksi
kosmetik yang baik.
5. Luasnya potensial market sekitar 250 juta tepatnya 122.527.186 lakilaki (49,9%) dan 122.922.553 (50,1%) perempuan.
6. Tingginya tingkat ketergantungan masyarakat akan jenis produk
consumer goods.
7. Rekomendasi investasi pada saham dengan level beta dibawah 1.
8. Tinggi dan stabilnya tingkat kesetiaan masyarakat atas
produk consumer goods 83 %.

1.

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Ancaman (Threats)
Adanya kenaikan biaya bahan baku dan bahan kemasan seperti
minyak kelapa sawit, gula kelapa, dan bahan berbahan dasar
petroleum yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak, bahan kimia
dan komoditas lainnya.
Tidak stabilnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Melemahnya daya beli konsumen.
Maraknya pemalsuan dan penyelundupan produk dari cina.
Rendahnya infrastruktur yang memadai berupa jalan yang
menyebabkan tingginya biaya pemasaran produk.
Adanya penghapusan subsidi BBM bagi industri.
Tidak konsistennya pasokan gas dari pertamina.
Adanya tren perubahan gaya hidup masyarakat dari produk
tradisional-nasional menjadi produk-produk luar negeri

J. Startegi Pemasaran
Di

dalam

menghadapi

persaingan

antar

perusahan,

PT.

UNILEVER,tbk memiliki strategi-strategi dalam menghadapi


persaingan-persaingan antar perusahaan, strategi itu antara lain:
1. kepemimpinan harga rendah
Dengan menjaga harga yang rendah dan rak-rak diisi dengan
baik menggunakan sistim pengisian kembali persediaan yang
melegenda, wal-mart menjadi pemimpin bisnis eceran di amerika
serikat. Sistem mili wal-mart mengirimkan pesanan atas barang
dagang baru secara langsung kepada pemasok ketika pelanggan
membayar pembelian mereka pada kasir.terminal titik pejualan
mencatat kode barang setiap barang yang melewati kasir dan
mengirimkan transaksi pembelian langsung kepada komputer pusat
wal-mart. Komputer mengumpulkan pesanan dari semua toko waimart dan mengirimkannya ke pemasok. Pemasok juga dapat
mengakses daa penjualan dan persediaan wal-mart menggunakan
teknologi web. Sistem ini mampu membuat wal-mart
mempertahankan biaya rendah sembari menyesuaikan persediaannya
untuk memenuhi permintaan pelanggan.
2. Diferensiasi produk
Unilever terus memperkenalkan kemasan-kemasan yang
terbaru, tetapi Unilever tetap mempertahankan kualitas produknya.
Baik itu kemasan yang botol kaca, sachet, botol kecil dan masih
banyak lagi kemasannya.
3. berfokus pada peluang pasar
Produk Unilever menggunakan sistem informasi pelanggan
yang beda dengan yang lain, produk masuk kedalam pasar dengan
cara mempromosikan barang-barangnya dengan cara terjun langsung
ke masyarakat dengan bukti-bukti kualitas secara real, misalnya
dengan diadakannya perlombaan-perlombaan kepada masyarakat
perbandingan antara produk Unilever dengan produk-produk pesaing
lainnya.
4. menguatkan keakraban pelanggan dan pemasok
Menggunakan sistem informasi untuk memfasilitasi akses
langsung dari pemasok terhadap jadwal produksi.dan bahkan
mengizinkan pemasok untuk memutuskan bagaimana dan kapan
mengirim pasokan kepada pemasok. Selain itu Unilever juga
melakukan Tanya jawab kepada para konsumen dan membuat suara
konsumen tempat para konsumen mengeluh.

Dalam PT Unilever Indonesia, promosi yang dilakukan paling


banyak melalui media elektronik. Namun dalam kehidupan sehari-hari
promosi yang dilakukan PT. Unilever Indonesia tidak hanya lewat
media elektronik tetapi banyak juga melalui media cetak, sponsorship,
mengadakan event-event yang memasukkan produk-produk dari PT.
Unilever seperti Kecap Bango, Pepsodent, Shampo Pantene, dll.
Karena jika promosi yang dilakukan hanya melalui media elektronik
maka PT. Unilever Indonesia tidak mendapatkan keuntungan yang
optimal. Masyarakat di Indonesia terdiri dari berbagai kalangan dan
tingkatan sosial yang beragam. Jika perusahaan tidak bisa menyentuh
hati masyarakat semua kalangan maka perusahaan tidak dapat
berkembang pesat. Makna dari iklan yang ditawarkan oleh perusahaan
juga harus bisa dipahami oleh berbagai kalangan, karena iklan adalah
salah satu cara promosi yang bisa dilakukan oleh perusahaan agar
dapat memperoleh keuntungan yang optimal.
K. Bauran Pemasaran PT.Unilever.Tbk
1) Product
Strategi pengembangan produk yang dilakukan oleh PT.
Unilever Indonesia pada produk pasta gigi pepsodent adalah:
Line extension adalah mengembangkan item produk dengan
kategori yang sama dengan menggunakan merek yang sama seperti
rasa, bentuk, warna, dan kemasan. Dalam hal ini, Pepsodent telah
mengeluarkan berbagai varian produk yang disesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat, yaitu
a.
molto trika
b.
molto pewangi
c.
molto aromaterapi
d.
molto softener aloevera & avocado
e.
molto ultra sensasional
f.
molto ultra sekali bilas 5 in 1
g.
molto ultra sekali bilas anti bakterial
h.
molto ultra pure.
Brand extension adalah mengembangkan sebuah produk dengan
kategori baru tetapi tetap merek yang sama. Dan ini dilakukan oleh
molto ketika meluncurkan pewangi pakaian.
2) Price
Produk pewangi pakaian molto menawarkan manfaat yang
lengkap dengan harga yang terjangkau. Konsumen diberikan pilihan
untuk dapat menikmati manfaat dari varian produk molto disesuaikan

dengan kebutuhan konsumen, apakah mencari mutu atau mencari


harga rendah. Dengan demikian, strategi penetapan harga yang
dilakukan PT. Unilever Indonesia pada produk pasta gigi pepsodent
adalah Economy strategy dimana harga yang ditawarkan sebanding
dengan kualitas yang didapat oleh konsumen yaitu rendah/ terjangkau.
3) Place
Distribusi yang Dilakukan oleh PT. Unilever Indonesia pada
Produk molto,Strategi pemasaran distribusi yang dilakukan PT.
Unilever Indonesia pada produk molto adalah strategi distribusi
intensif. Strategi distribusi ini menempatkan produk dagangannya
pada banyak retailer atau pengecer serta distributor di berbagai
tempat. Distribusi untuk produk molto ini biasanya berlangsung di
gudang distribusi, supermarket, pasar tradisonal, dan warung-warung
eceran.
4) Promotion
PT. Unilever pada Produk molto Elemen marketing yang
terlihat sangat menonjol yang dilakukan PT. Unilever Indonesia pada
produk molto adalah sisi promotion.
Hal ini ditunjukkan pada uraian sebagai berikut:
o Advertising
Dalam proses mengkomunikasikan produk molto ke konsumen
juga sangat signifikan. Jika kita menonton televisi, maka molto akan
familiar dengan keharuman sepanjang hari keluarga.
o Sales promotion
Metode ini digunakan oleh molto untuk mempengaruhi
kosumennya dengan menggukan bahasa promosi tentang pengetahuan
yang mendalam mengenai produk molto. Penerapan strategi
komunikasi dan promosi yang menarik ini akan mendorong konsumen
untuk menggunakan molto. Promosi dan komunikasi yang menarik
tentunya molto akan meningkatkan brand awareness merek tersebut.
Brand loyality pun selalu diawali dari brand awareness yang
baik yang akan membawa seseorang pada tahapmencoba produk.
Setelah konsumen percaya bahwa produk yang digunakan sesuai
dengan kebutuhannya maka akan tercipta repeat purchase dengan
memberikan lebih dari yang diharapakan, repeat purchase akan
berubah menjadi loyality.
o Direct marketing
Direct marketing yang dilakukan PT. Unilever Indonesia
adalah Penggunaan teknologi internet. Penggunaan teknologi ini juga
menjadi concern dalam strategi pemasaran yang dilakukan oleh molto.

Internet dan mobile merupakan media yang memiliki potensi untuk


dikembangkan dalam rangka strategi pemasarannya.