Anda di halaman 1dari 37

REFRAT

FILARIASIS

Oleh:
Dwiana Ardianti

(A-8/ G99141004)

Anisa Rahmatia

(A-10/ G99151043)

Daniel Purbo R

(B-1/ G99141132)

Muhammad Luthfiyanto

(B-4/ G99141135)

Pembimbing:
dr. Rustam Siregar, Sp.A(K)

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Filariasis merupakan infeksi parasit yang disebabkan oleh jenis cacing bulat
yang spesifik. Penyakit ini disebabkan parasit cacing yang disebut filaria. Filaria
cacing bulat berukuran mikroskopis yang tinggal di darah dan jaringan manusia.1
Filariasis limfatik diakui telah menyebar luas dan merupakan penyakit
serius pada orang dewasa. Sedangkan pada anakanak, filariasis limfatik hanya
terjadi secara sporadis. Filariasis limfatik merupakan penyakit menular yang
menyerang jaringan limfatik manusia pada negara tropis yang menyebabkan
limfedema pada anggota badan, hidrokel, dan serangan acute dermato
limphangioadenitis (ADLA).3
Filariasis limfatik merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
cacing filarial yang menyerang jaringan limfatik manusia dan penularannya
melalui berbagai jenis nyamuk. Ada tiga spesies penyebab filariasis limfatik yaitu
Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Ketiga spesies ini
terdapat di Indonesia. Lebih dari 70% kasus filariasis di Indonesia disebabkan
oleh Brugia malayi.3
Filariasis limfatik pada anak memiliki manifestasi awal yang tidak
menunjukkan gejala, dan selanjutnya berkembang dengan lambat sehingga
disebut Asimptomatik microfilaremia. Pasien tidak akan menunjukkan gejala
klinis meskipun ditemukan mikrofilaria didalam darahnya dengan pemeriksaan
darah pada malam hari.3
Filariasis tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dan di beberapa
daerah tingkat endemisitas cukup tinggi. Daerah endemis filariasis pada umumnya
adalah daerah dataran rendah, terutama pedesaan, pantai, pedalaman, persawahan,
rawa-rawa, dan hutan. Secara umum filariasis bancrofti tersebar di Sumatra, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Daerah endemis
Wuchereria bancrofti dibedakan menjadi tipe pedesaan dan tipe perkotaan
berdasarkan vektor yang menularkan. Wuchereria tipe pedesaan ditemukan

terutama di Papua dan Nusa Tenggara dengan vektor Anopheles, Culex dan Aides
sedangkan tipe perkotaan ditemukan di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Semarang,
Pekalongan dan Lebak pada daerah yang kumuh, padat penduduknya dan banyak
genangan air kotor dengan vektor Culex quinquefasciatus. Brugia malayi tersebar
di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan beberapa pulau di Maluku, sedangkan
Brugia timori tersebar di kepulauan Flores, Alor, Rote, Timor dan Sumba.
Berdasarkan hasil survey cepat tahun 2000, jumlah penderita kronis yang
dilaporkan sebanyak 6233 orang tersebar di 1553 desa, di 231 kabupaten, 26
propinsi. Berdasarkan survey jari tahun 1999, tingkat endemisitas filariasis di
Indonesia masih tinggi dengan microfilarial rate 3.1%.6 Daerah endemis filariasis
adalah daerah dengan microfilarial rate 1%.3
Filariasis selain menyebabkan dampak sosial dan psikologik, juga
ditetapkan oleh WHO sebagai penyebab kecacatan permanen nomor dua.2 Pada
makalah ini akan dibahas mengenai etiopatogenesis, manifestasi klinis, diagnosis
serta penatalaksanaan filariasis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Filariasis adalah penyakit yang disebabkan parasit cacing yang disebut
filaria. Filaria cacing bulat berukuran mikroskopis yang tinggal di darah dan
jaringan manusia. Penyakit yang paling penting bagi manusia adalah filariasis
limfatik, dimana cacing dewasa ditemukan di sistem limfatik. Filariasis adalah
suatu penyakit yang sering pada daerah subtropik dan tropik, disebabkan oleh
parasit nematoda pada pembuluh limfe seperti Wuchereria Bancrofti.
Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing yang menyerang jaringan
visera, parasit ini termasuk ke dalam superfamili Filaroidea, famili
onchorcercidae. Menurut lokasi kelainan yang ditimbulkan, terdapat dua
golongan filariasis, yaitu yang menimbulkan kelainan pada saluran limfe
(filariasis limfatik) dan jaringan subkutis (filariasis subkutan).
Cacing dewasa hidup di dalam kelenjar dan saluran limfe, sedangkan
mikrofilaria ditemukan di dalam darah. Secara klinis, infeksi bias terjadi tanpa
gejala atau manifestasinya berupa peradangan dan sumbatan saluran limfe.
Manusia merupakan satu-satunya hospes yang diketahui.1,3
B. Epidemiologi
W. bancrofti terutama ditemukan di daerah tropis dan subtropis.
Dilaporkan bahwa penyakit ini telah menyerang lebih dari 1 juta orang pada
lebih dari 80 negara. Di daerah endemik sekitar 10-50% laki-laki dan 10%
wanita terinfeksi oleh penyakit ini.2,3
Filariasis menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dari tahun ke
tahun jumlah provinsi yang melaporkan kasus filariasis terus bertambah.
Bahkan di beberapa daerah mempunyai tingkat endemisitas yang cukup tinggi.
Berdasarkan laporan tahun 2009, tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak
filariasis adalah Nanggroe Aceh Darussalam (2.359 orang), Nusa Tenggara
Timur (1.730 orang) dan Papua (1.158 orang). Tiga provinsi dengan kasus

terendah adalah Bali (18 orang), Maluku Utara (27 orang), dan Sulawesi Utara
(30 orang). Kejadian filariasis di NAD sangat menonjol bila dibandingkan
dengan provinsi lain dan merupakan provinsi dengan jumlah kasus tertinggi di
seluruh Indonesia. Hal ini memerlukan perhatian untuk ditindak lanjuti, dan
dicari kemungkinan penyebabnya.31
Nyamuk Anopheles dan Culex merupakan vector yang menggigit pada
malam hari untuk tipe W. bracofti periodic nokturna, sedangkan galur yang
subperiodik ditukarkan oleh nyamuk Aedes yang menggigit pada siang hari.
Di daerah endemic, pemaparan dimulai pada masa anak anak, angka
mikrofilaria meningkat bersama dengan meningkatnya umur, meskipun infeksi
tidak disertai dengan gejala klinis yang nyata.3
C. Etiologi
Penyebab utama filariasis limfatik adalah Wuchereria bancrofti, Brugia
malayi dan Brugia timori sedangkan filariasis subkutan disebabkan oleh
Onchorcercia spp. Filariasis limfatik yang disebabkan oleh W.bancrofti
disebut juga sebagai Bancroftian filariasis dan yang disebabkan oleh Brugia
malayi disebut sebagai Malayan filariasis. Filariasis limfatik ditularkan
melalui gigitan nyamuk Anopheles spp., Culex spp., Aedes spp. dan Mansonia
spp.1
Filariasis limfatik merupakan penyebab utama dari kecacatan didaerah
endemik sehingga merupakan masalah kesehatan masyarakat utama. Pada
tahun 1997, diperkirakan paling tidak 128 juta orang terinfeksi, diantaranya
adalah anak usia dibawah 15 tahun, 115 juta oleh W. bancrofti dan 15 juta oleh
Brugia spp. Penyakit ini tidak dijumpai lagi di Amerika Utara, Australia,
Jepang, dan di beberapa negara termasuk China. Di Indonesia, filariasis
merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat. Di Jawa Barat, hingga November 2008, sebanyak 875 orang telah
positif terjangkit filariasis, bahkan 420 orang di antaranya termasuk penderita
kronik,dengan penyebab utama W.bancrofti. Pada beberapa tahun belakangan
terjadi peningkatan kasus limfatik filariasis di daerah perkotaan (urban

lymphatic filariasis) yang disebabkan oleh peningkatan populasi penderita di


per-kotaan akibat urbanisasi dan tersedianya vektor di daerah tersebut.4
Tabel

dibawah

menunjukkan

berbagai

karakteristik

penyebab

filariasis dan manifestasi klinis utama yang ditimbulkannya.


Spesies

Penyebaran

Wuchereria

Negara

bancrofti

Tropis

Vektor

Nyamuk

Tempat

Tempat

Manifestasi

hidup

hidup

klinis utama

cacing

mikrofila

dewasa

ria

Saluran

Darah

Limfangitis

limfe
Elefantiasis
Hidrokel

Brugia

Asia Selatan, Nyamuk

Saluran

malayi

Timur,

limfe

dan

Darah

Elefantiasis

Tenggara
Brugia timori

Di beberapa Nyamuk

Saluran

pulau

limfe

di

Darah

Afrika
Tengah

Limfangitis
Elefantiasis

Indonesia
Loa-loa

Limfangitis

Chrysops
dan spp.

Jaringan

Darah

ikat

Calabar
Sweeling

Barat
Onchorcerca

Afrika,

Simulium Kulit

valvulus

Yaman,

spp.

Amerika
Tengah

Kulit

Dermatitis,
nodula,

lesi

mata
dan

Selatan
Tabel 1. Perbandingan Filariasis berdasarkan etiologinya

Di Indonesia jenis cacing filarial yang paling sering menginfeksi adalah


Wuchereria bancrofti
a. Wuchereria bancrofti
Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran kalenjar limfe,
bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. Cacing betina
berukuran 65 100 mm x 0,25 mm dan cacing jantan 40 mm x 0,1 mm.
Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung dengan ukuran
250 300 mikron x 7 - 8 mikron. Mikrofilaria ini hidup didalam darah
dan terdapat di aliran darah tepi pada waktu tertentu saja, jadi
mempunyai periodisitas. Pada umumnya, mikrofilaria W. Bancrofti
bersifat periodisitas nokturna, artinya mikrofilaria hanya terdapat di
dalam darah tepi pada waktu malam. Pada siang hari, mikrofilaria
terdapat di kapiler organ dalam (paru-paru, jantung, ginjal). W.
Bancrofti ada dua strain W. bancrofti, yaitu perkotaan dan pedesaan.
Umumnya di Indonsia banyak yang perkotaan dan sampai saat ini bukan
merupakan masalah. Tetapi yang pedesaan belum banyak diketahui baik
vektor maupun epidemiologinya.
b. Brugia malayi dan Brugia timori
Cacing dewasa berbentuk silindrik seperti benang, berwarna
putih kekuningan. Pada ujung anteriornya terdapat mulut tanpa bibir dan
dilengkapi baris papila 2 buah, baris luar 4 buah dan baris dalam 10
buah. Cacing betina berukuran 55x0,16 mm dengan ekor lurus, vulva
mempunyai alur tranfersal dan langsung berhubungan dengan vagina
membentuk saluran panjang. Cacing jantan berukuran 23x0,09 mm,
ekor melingkar dan bagian ujungnya terdapat papila 3-4 buah, dan di
belakang anus terdapat sepotong papila. Pada ujung ekor terdapat 4-6
papila kecil dan spikula yang panjangnya tidak sama.4
D. Daur Hidup Filaria

Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu


Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Filaria mempunyai
siklus hidup bifasik dimana perkembangan larva terjadi pada nyamuk
(intermediate host) dan perkembangan larva dan cacing dewasa pada manusia
(definive host). 1,2
1. Definitive Host yaitu hostdimana parasit dapat berkembang biak
didalamnya secara seksual. Manusia yang mengandung parasit dapat
menjadi sumber infeksi bagi orang lain yang rentan. Pada umumnya
laki-laki lebih dominan terinfeksi karena memiliki lebih banyak
kesempatan untuk terinfeksi (exposure).
2. Intermediate Host yaitu host yang dapat sebagai sumber infeksi bagi
manusia. Brugia malayi yang dapat hidup pada hewan merupakan
sumber infeksi untuk manusia. Hewan yang sering ditemukan
mengandung infeksi adalah kucing dank kera terutama jenis presbytis.
3. Vektor
Nyamuk merupakan vektor dari filarial tergantung jenis filarianya.
Culex

quinquefasciatus merupakan

vektor W.

Bancrofti

jenis

perkotaan. Untuk yang jenis pedesaan belum banyak diketahui baik


vektor maupun epidemiologinya. Apakah W. bancrofti jenis pedesaan
yang ada di Indonesia sama dengan yang ada di Malaysia di mana
vektornya adalah Anopheles (maculatus, letifer dan whartoni).
Vektor yang kedua adalah B. malayi periodik di Sumatera dengan
berbagai jenis

Mansonia terutama Ma. Bonneae / dives dan Ma.

uniformis. Sedangkan Anopheles spp yang potensial dapat bertindak


sebagai

vektor

adalah An.

paditaeniatus dan An.

nigerrimus10 .

Sedangkan vektor B. Malayi subperiodik adalah terutama Ma.uniformis,


Ma. indiana dan Ma. bonneae/dives.
Vektor jenis yang ketiga adalah Vektor B. timori ada tiga spesies
Anopheles yaitu barbirostris, vagus dan subpictus tetapi yang telah
dikonfirmasikan adalah An. Barbitoris.

Gambar 1. Siklus hidup Wuchereria bancrofti


Siklus penularan penyakit terdiri dari 2 tahap :
1. Tahap perkembangan dalam tubuh nyamuk
a. Saat nyamuk menghisap darah penderita (mikrofilarianemia),
beberapa microfilaria ikut terhisap bersama darah dan masuk
kedalam lambung nyamuk
b. Beberapa saat setelah berada dilambung nyamuk, microfilaria
melepas selubung dan menerobos dinding lambung menuju
kerongga badan dan selanjutnya kejaringan otot thorak
c. Didalam jaringan otot thorak, larva stadium 1 (L1) berkembang
membentuk larva stadium 2 (L2) dan selanjutnya berkembang
membentuk larva stadium 3 (L3) yang infektif.
d. Masa inkubasi dari L1 L3 untuk W. Brancofti adalah 10-14 hari, B.
Malayi adalah 7-10 hari.6
9

Gambar 2. Siklus hidup B. malayi dan B. timori


e. Microfilaria stadium L3 bergerak menuju proboscis nyamuk dan
akan dipindahkan ke manusia (definitive host) dan binatang
(intermediate host). Berbeda dengan penularan pada malaria dan
demam berdarah, seseorang dapat terinfeksi filariasis, apabila orang
tersebut mendapat gigitan nyamuk infektif ribuan kali, sedangkan
pada penularan malaria dan demam berdarah seseorang akan sakit
dengan sekali gigitan nyamuk yang infektif. Di samping sulit
terjadinya penularan dari nyamuk ke manusia, sebenarnya
kemampuan

nyamuk

untuk

mendapatkan

mikrofilaria

saat

menghisap darah yang mengandung mikrofilaria juga sangat


terbatas, nyamuk yang menghisap mikrofilaria terlalu banyak dapat
mengalami kematian, tetapi jika mikrofilaria yang terhisap terlalu

10

sedikit dapat memperkecil jumlah mikrofilaria stadium larva L3


yang akan ditularkan
f. Microfilaria dalam tubuh nyamuk hanya mengalami perubahan
bentuk

dan

tidak

mengadakan

perkembangan

(cyclicodevelopmental)
2. Tahap perkembangan dalam tubuh manusia
a. Pada saat nyamuk yang infektif menggigit manusia maka
microfilaria akan masuk ke pembuluh limfe dan berkembang
menjadi cacing dewasa jantan dan betina.
b. Cacing dewasa betina ovovivipar akan memproduksi microfilaria
yaitu larva yang masih terbungkus kulit telur yang menjadi sarung
microfilaria. Microfilaria dalam sistem limfatik akan keluar ke
peredaran darah tepi secara periodik, sebagian besar perioditas
nokturna yaitu 2 jam sesudah matahari terbenam.
c. Perkembangan L3 menjadi cacing dan menghasilkan microfilaria
untuk W.brancofti selama 9 bulan, B. Malayi dan B. Timori 3 bulan.
Dan cacing filarial dewasa akan dapat hidup selama 5-10 tahun.6
Cacing betina dewasa aktif bereproduksi selama lebih kurang 5 tahun.
Cacing dewasa berdiam di pembuluh limfe dan menyebabkan pembuluh
berdilatasi, sehingga memperlambat aliran cairan limfe. Sejumlah besar cacing
dewasa ditemukan pada saluran limfe ekstremitas bawah, ekstremitas atas dan
genitalia pria.4
Melalui kopulasi, cacing betina mengeluarkan larva stadium 1 (bentuk
embrionik/mikrofilaria ) dalam jumlah banyak, dapat lebih dari 10.000 per
hari. Mikrofilaria masuk ke dalam sirkulasi darah mungkin melalui duktus
thoracicus, mikrofilaremia ini terutama sering ditemukan pada malam hari
antara tengah malam sampai jam 6 pagi. Pada saat siang hari hanya sedikit
atau bahkan tidak ditemukan mikrofilaremia, pada saat tersebut mikrofilaria
berada di jaringan pembuluh darah paru. Penyebab periodisitas nokturnal ini
belum diketahui, namun diduga sebagai bentuk adaptasi ekologi lokal, saat
timbul mikrofilaremia pada malam hari, pada saat itu pula kebanyakan vektor

11

menggigit manusia. Diduga pula pH darah yang lebih rendah saat malam hari
berperan dalam terjadinya periodisitas nokturnal. Darah yang mengandung
mikrofilaria dihisap nyamuk, dan dalam tubuh nyamuk larva mengalami
pertumbuhan menjadi larva stadium 2 dan kemudian larva stadium 3 dalam
waktu 10 12 hari. Cacing dewasa dapat hidup sampai 20 tahun dalam tubuh
manusia, rata-rata sekitar 5 tahun.
Patogenesis filariasis sudah diperdebatkan sejak lama, terdapat
beberapa hal yang menyebabkan penelitian terhadap terjadinya penyakit ini
terhambat. Diduga 4 faktor berperan pada patogenesis filariasis: cacing
dewasa hidup, respon inflamasi akibat matinya cacing dewasa, infeksi
sekunder akibat bakteri, dan mikrofilaria.
Cacing dewasa hidup akan menyebabkan limfangiektasia. Karena
pelebaran saluran limfe yang difus dan tidak terbatas pada tempat dimana
cacing dewasa hidup ada, diduga cacing dewasa tersebut mengeluarkan
substansi yang secara langsung atau tidak menyebabkan limfangiektasia.
Pelebaran tersebut juga menyebabkan terjadinya disfungsi limfatik dan
terjadinya manifestasi klinis termasuk limfedema dan hidrokel. Pecahnya
saluran limfe yang melebar menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam
saluran kemih sehingga terjadi kiluria dan kilokel. Matinya cacing dewasa
menyebabkan respon inflamasi akut yang akan memberikan gambaran klinis
adenitis dan limfangitis.1
E. Patofisiologi filariasis
Parasit memasuki sirkulasi saat nyamuk menghisap darah lalu parasit
akan menuju pembuluh limfa dan nodus limfa. Di pembuluh limfa terjadi
perubahan dari larva stadium 3 menjadi parasit dewasa. Cacing dewasa akan
menghasilkan produk produk yang akan menyebabkan dilatasi dari
pembuluh limfa sehingga terjadi disfungsi katup yang berakibat aliran limfa
retrograde. Akibat dari aliran retrograde tersebut maka akan terbentuk
limfedema.

12

Perubahan larva stadium 3 menjadi parasit dewasa menyebabkan


antigen parasit mengaktifkan sel T terutama sel Th2 sehingga melepaskan
sitokin seperti IL 1, IL 6, TNF . Sitokin - sitokin ini akan menstimulasi sumsum tulang sehingga terjadi eosinofilia yang berakibat meningkatnya mediator
proinflamatori dan sitokin juga akan merangsang ekspansi sel B klonal dan
meningkatkan produksi IgE. IgE yang terbentuk akan berikatan dengan parasit
sehingga melepaskan mediator inflamasi sehingga timbul demam. Adanya
eosinofilia dan meningkatnya mediator inflamasi maka akan menyebabkan
reaksi granulomatosa untuk membunuh parasit dan terjadi kematian parasit.
Parasit yang mati akan mengaktifkan reaksi inflamasi dan granulomatosa.
Proses penyembuhan akan meninggalkan pembuluh limfe yang dilatasi,
menebalnya dinding pembuluh limfe, fibrosis, dan kerusakan struktur. Hal ini
menyebabkan terjadi ekstravasasi cairan limfa ke interstisial yang akan
menyebabkan perjalanan yang kronis.7,8
Pada dasarnya perkembangan klinis filariasis tersebut disebabkan
karena cacing filaria dewasa yang tinggal dalam saluran limfe menimbulkan
pelebaran (dilatasi) saluran limfe dan penyumbatan (obstruksi), sehingga
terjadi gangguan fungsi sistem limfatik :9
1. Penimbunan cairan limfe menyebabkan aliran limfe menjadi lambat dan
tekanan hidrostatiknya meningkat, sehingga cairan limfe masuk ke
jaringan menimbulkan edema jaringan. Adanya edema jaringan akan
meningkatkan kerentanan kulit terhadap infeksi bakteri dan jamur yang
masuk melalui luka-luka kecil maupun besar. Keadaan ini dapat
menimbulkan peradangan akut (acute attack).
2. Terganggunya pengangkutan bakteri dari kulit atau jaringan melalui
saluran limfe ke kelenjar limfe. Akibatnya bakteri tidak dapat
dihancurkan (fagositosis) oleh sel Reticulo Endothelial System (RES),
bahkan mudah berkembang biak dapat menimbulkan peradangan akut
(acute attack).

13

3. Kelenjar limfe tidak dapat menyaring bakteri yang masuk dalam kulit.
Sehingga bakteri mudah berkembang biak yang dapat menimbulkan
peradangan akut (acute attack).
4. Infeksi bakteri berulang menyebabkan serangan akut berulang
(recurrent acute attack) sehingga menimbulkan berbagai gejala klinis
sebagai berikut:
a. Gejala peradangan lokal, berupa peradangan oleh cacing dewasa
bersama-sama dengan bakteri, yaitu :

Limfangitis, peradangan di saluran limfe.

Limfadenitis, peradangan di kelenjar limfe

Adeno limfangitis, peradangan saluran dan kelenjar limfe.

Abses

Peradangan oleh spesies W. bancrofti di daerah genital (alat


kelamin) dapat menimbulkan epididimitis, funikulitis dan
orkitis.

b.

Gejala peradangan umum, berupa; demam, sakit kepala, sakit


otot, rasa lemah dan lain-lainnya.8

5. Kerusakan sistem limfatik, termasuk kerusakan saluran limfe kecil yang


ada di kulit, menyebabkan menurunnya kemampuan untuk mengalirkan
cairan limfe dari kulit dan jaringan ke kelenjar limfe sehingga dapat
terjadi limfedema.
6. Pada penderita limfedema, adanya serangan akut berulang oleh bakteri
atau jamur akan menyebabkan penebalan dan pengerasan kulit,
hiperpigmentasi, hiperkeratosis dan peningkatan pembentukan jaringan
ikat (fibrouse tissue formation) sehingga terjadi peningkatan stadium
limfedema, dimana pembengkakan yang semula terjadi hilang timbul
(pitting) akan menjadi pembengkakan menetap (non pitting).
Limfedema khususnya pada filariasis bancrofti biasanya mengenai
seluruh tungkai. Limfedema tungkai ini dapat dibagi menjadi 4 tingkat, yaitu:

14

1. Tingkat 1. Edema pitting pada tungkai yang dapat kembali normal


(reversibel) bila tungkai diangkat.
2. Tingkat 2. Pitting/ non pitting edema yang tidak dapat kembali normal
(irreversibel) bila tungkai diangkat.
3. Tingkat 3. Edema non pitting, tidak dapat kembali normal (irreversibel)
bila tungkai diangkat, kulit menjadi tebal.
4. Tingkat 4. Edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan verukosa pada
kulit (elephantiasis).9
F. Gejala Klinis Filariasis
Manifestasi gejala klinis filariasis disebabkan oleh cacing dewasa pada
sistem limfatik dengan konsekuensi limfangitis dan limfadenitis. Selain itu,
juga oleh reaksi hipersensitivitas dengan gejala klinis yang disebut occult
filariasis.
Dalam proses perjalanan penyakit, filariasis bermula dengan limfangitis
dan limfadenitis akut berulang dan berakhir dengan terjadinya obstruksi
menahun dari sistem limfatik.9
Manifestasi klinis filariasis dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk
usia, jenis kelamin, lokasi anatomis cacing dewasa filaria, respon imun,
riwayat pajanan sebelumnya, dan infeksi sekunder. Berdasarkan pemeriksaan
fisik dan parasitologi, manifestasi klinis filariasis dibagi dalam 4 stadium
yaitu:
1.

Asimptomatik atau filariasis subklinis


a. Individu asimptomatik dengan mikrofilaremia
Pada daerah endemik dapat ditemukan penduduk dengan
mikrofilaria positif tetapi tidak menunjukkan gejala klinis. Angka
kejadian stadium ini meningkat sesuai umur dan biasanya mencapai
puncaknya pada usia 20-30 tahun, dan lebih banyak terjadi pada pria
dibandingkan wanita.
Banyak bukti menunjukan bahwa walaupun secara klinis
asimptomatik tetapi semua individu yang terinfeksi W. bancrofti dan

15

B.malayi mempunyai gejala subklinis. Hal tersebut terlihat pada 40%


individu mikrofilaremia ini menderita hematuri dan / proteinuria yg
menunjukkan kerusakan ginjal minimal. Kelainan ginjal ini
berhubungan dengan adanya mikrofilaria dibandingkan dengan
adanya cacing dewasa, karena hilangnya mikrofilaria dalam darah
akan mengembalikan fungsi ginjal menjadi normal. Dengan
lymphoscintigraphy tampak pelebaran dan terbelitnya limfatik disertai
tidak normalnya aliran limfe. Dengan USG juga terlihat adanya
limfangiektasia. Keadaan ini dapat bertahan selama bertahun-tahun
yang kemudian secara perlahan berlanjut ke stadium akut atau
kronik.10
b. Individu asimptomatik dan amikrofilaremia dengan antigen filarial (+)
Pada daerah endemik terdapat populasi yang terpajan dengan
larva infektif (L3) yang tidak menunjukkan adanya gejala klinis atau
adanya infeksi, tetapi mempunyai antibodi-antifilaria dalam tubuhnya.
9,10

2.

Stadium akut
Manifestasi klinis akut dari filariasis ditandai dengan serangan
demam berulang yang disertai pembesaran kelenjar (adenitis) dan saluran
limfe (limfangitis) disebut adenolimfangitis (ADL). Etiologi serangan
akut masih diperdebatkan, apakah akibat adanya infeksi sekunder, respon
imun terhadap antigen filarial, dan dilepaskannya zat-zat dari cacing yang
mati atau hidup.
Terdapat dua mekanisme berbeda dalam terjadinya serangan akut
pada daerah endemik:
a. Dermatolimfangioadenitis akut (DLAA), proses di awali di kulit yang
kemudian menyebar ke saluran limfe dan kelenjar limfe. DLAA
ditandai dengan adanya plak kutan atau subkutan yang disertai dengan
limfangitis dengan gambaran retikular dan adenitis regional. Terdapat
pula gejala konstitusional sistemik maupun lokal yang berat berupa

16

demam, menggigil dan edema pada tungkai yang terkena. Terdapat


riwayat trauma, gigitan serangga, luka mekanik sebagai porte d
entre. DLAA adalah ADL sekunder yang disebabkan oleh infeksi
bakteri atau jamur. DLA secara klinis menyerupai selulitis atau
erisipelas.
b. Limfangitis filarial akut (LFA), merupakan reaksi imunologik dengan
matinya cacing dewasa akibat sistim imun penderita atau terapi.
Kelainan ini ditandai dengan adanya Nodus atau cord yang disertai
limfadenitis atau limfangitis retrograde pada ekstremitas bawah atau
atas, yang menyebar secara sentrifugal. Keadaan ini dapat terjadi
secara berulang pada lokasi yang sama. 11,12
Filariasis bancrofti
Pada filariasis yang disebabkan Wuchereria bancrofti pembuluh
limfe alat kelamin laki-laki sering terkena disusul funikulitis, epididimitis
dan orchitis. Limfadenitis inguinal atau aksila, sering bersama dengan
limfangitis retrograd yang umumnya sembuh sendiri dalam 3-15 hari.
Serangan biasanya terjadi beberapa kali dalam setahun.
Filariasis brugia
Pada filariasis yang disebabkan Brugia malayi dan Brugia timori
limfadenitis paling sering mengenai kelenjar inguinal, sering terjadi
setelah bekerja keras. Kadang-kadang disertai limfangitis retrograde.
Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri, dan sering terjadi limfedema
pada pergelangan kaki dan kaki. Penderita tidak mampu bekerja selama
beberapa hari. Serangan dapat terjadi 12 kali dalam satu tahun sampai
beberapa kali perbulan. Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses,
memecah, membentuk ulkus dan meninggalkan parut yang khas, setelah 3
minggu hingga 3 bulan. Keluhan biasanya timbul setelah bekerja berat.
Pada filariasis brugia, sistem limfe alat kelamin tidak pernah terkena.
Pada masa resolusi fase akut, kulit pada ekstremitas yang terlibat akan
mengalami eksfoliatif yang luas.

17

Keadaan akut dapat berulang 6-10 episode per tahun dengan lama
setiap episode 3-7 hari. Serangan berulang adenolimfangitis (ADL)
merupakan faktor penting dalam perkembangan penyakit. Pani dkk
membuktikan bahwa terdapat hubungan langsung antara jumlah serangan
akut dan beratnya limfedema. Makin lama gejala akut semakin ringan,
yang akhirnya menuju pada stadium kronik. DLAA lebih sering
ditemukan dibandingkan LFA.12,13

3.

Stadium kronik
Manisfestasi kronis filariasis jarang terlihat sebelum usia lebih
dari 15 tahun dan hanya sebagian kecil dari populasi yang terinfeksi
mengalami stadium ini. Hidrokel, limfedema, elephantiasis tungkai
bawah, lengan atau skrotum, kiluria adalah manifestasi utama dari
filariasis kronik.14
Filariasis bancrofti
Keadaan yang sering dijumpai adalah hidrokel. Di dalam cairan
hidrokel dapat ditemukan mikrofilaria. Limfedema dan elefantiasis terjadi
di seluruh tungkai atas, tungkai bawah, skrotum, vulva atau buah dada,
dengan ukuran pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari ukuran asalnya.
Chyluria dapat terjadi tanpa keluhan, tetapi pada beberapa penderita
menyebabkan penurunan berat badan dan kelelahan.
Filariasis brugia
Elefantiasis terjadi di tungkai bawah di bawah lutut dan lengan
bawah. Ukuran pembesaran ektremitas umumnya tidak melebihi 2 kali
ukuran asalnya.
Limfedema pada ekstremitas atas jarang terjadi dibandingkan
dengan limfedema pada ekstremitas bawah. Pada filariasis bancrofti
seluruh tungkai dapat terkena, berbeda dengan filariasis brugia yang
hanya mengenai kaki dibawah lutut dan kadang-kadang lengan dibawah

18

siku. Ada 7 stadium limfedema. Stadium 1 menggambarkan limfedema


yang ringan atau sedang sedangkan stadium 7 menggambarkan keadaan
yang paling berat. Pembagian ini berkaitan dengan beratnya limfedema,
resiko terkenanya serangan akut dan dalam penatalaksanaan. Limfedema
pada filariasis biasanya terjadi setelah serangan akut berulang kali.
Kelainan pada kulit dapat terlihat sebagai kulit yang menebal,
hiperkeratosis, hipotrikosis atau hipertrikosis, pigmentasi, ulkus kronik,
nodus dermal dan subepidermal.
Limfedema pada genitalia melibatkan pembengkakan pada
skrotum dan / penebalan kulit skrotum atau kulit penis yang akan
memberikan gambaran peau dorange yang nantinya berkembang
menjadi lesi verukosa.
Kiluria terjadi akibat bocornya atau pecahnya saluran limfe oleh
cacing dewasa yang menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam
saluran kemih. Kelainan ini disebabkan oleh W. bancrofti. Pasien dengan
kiluria mengeluhkan adanya urine yang berwarna putih seperti susu
(milky urine). Diagnosis kiluria ditetapkan dengan ditemukannya limfosit
pada urine.
Limforea sering terjadi pada dinding skrotum dimana cairan limfe
meleleh keluar dari saluran limfe yang pecah.
Pada daerah endemik, payudara dapat terkena, baik unilateral
ataupun bilateral. Hal ini harus dapat dibedakan dengan mastitis kronik
dan limfedema pasca mastektom.14,15
4.

Occult filariasis
Occult

filariasis

merupakan

infeksi

filariasis

yang

tidak

memperlihatkan gejala klasik filariasis serta tidak ditemukannya


mikrofilaria dalam darah, tetapi ditemukan dalam organ dalam. Occult
filariasis terjadi akibat reaksi hipersensitivitas tubuh penderita terhadap
antigen mikrofilaria. Contoh yang paling jelas adalah Tropical Pulmonary
Eosinophilia (TPE). TPE sering ditemukan di Asia tenggara, India, dan

19

beberapa daerah di Cina dan Afrika. TPE adalah suatu sindrom yang
terdiri dari gangguan fungsi paru, hipereosinofilia (>3000/mm3),
peningkatan antibodi antifilaria, peningkatan IgE antifilaria dan respon
terhadap terapi DEC.
Manifestasi klinis TPE berupa gejala yang menyerupai asma
bronkhial (batuk, sesak nafas, dan wheezing), penurunan berat badan,
demam, limfadenopati lokal, hepatosplenomegali. Pada foto torak tampak
peningkatan corakan bronkovaskular terutama didasar paru, dan
pemeriksaan fungsi paru tampak defek obstruktif.Jika pasien dengan TPE
tidak diobati, maka penyakit akan berkembang menjadi penyakit paru
restriktif kronik dengan fibrosis interstisial. Beberapa keadaan klinis lain
seperti

arthritis,

tenosynovitis,

fibrosis

endomiokardial,

glomerulonephritis kadang-kadang merupakan manifestasi klinis dari


occult filariasis.
Pada daerah endemis, perjalanan penyakit filariasis berbeda antara
penduduk asli dengan penduduk yang berasal dari daerah non-endemis
dimana gejala dan tanda lebih cepat terjadi berupa limfadenitis,
hepatomegali dan splenomegali. Limfedema dapat terjadi dalam waktu 6
bulan dan dapat berlanjut menjadi elefantiasis dalam kurun waktu 1
tahun. Hal ini diakibatkan karena pendatang tidak mempunyai toleransi
imunologik terhadap antigen filaria yang biasanya terlihat pada pajanan
lama.10,16
Dari perjalanan penyakitnya filariasis menunjukkan spektrum luas
dalam manifestasi kliniknya, sehingga pada suatu daerah endemik dapat
terlihat individu dengan berbagai bentuk status klinik, yaitu:
a. Amikrofilaremik asimtomatik
b. Amikrofilaremik simtomatik
c. Mikrofilaremik asimtomatik
d. Mikrofilaremik simtomatik
e. Gejala klinik menahun hidrokel, elefantiasis, chyluria.

20

Resiko terjadinya manifestasi akut dan kronik pada seseorangan


yang berkunjung ke daerah endemis sangat kecil, hal tersebut
menunjukkan diperlukannya kontak/pajanan berulang dengan nyamuk
yang terinfeksi. Riwayat sensitisasi prenatal dan toleransi imunologik
terhadap antigen filarial mempengaruhi respon patologi infeksi dan
tendensi terjadinya manifestasi subklinis pada masa kanak-kanak.17
G. Diagnosa filariasis
1.

Diagnosis Klinik
Diagnosis klinik ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan
klinik. Diagnosis klinik penting dalam menentukan angka kesakitan akut
dan menahun (Acute and Chronic Disease Rate).
Pada keadaan amikrofilaremik, gejala klinis yang mendukung
dalam diagnosis filariasis adalah gejala dan tanda limfadenitis retrograde,
limfadenitis berulang dan gejala menahun.18,19

2.

Diagnosis Parasitologik
Menemukan mikrofilaria dalam sediaan darah, cairan hidrokel atau
cairan kiluria pada pemeriksaan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa,
tehnik Knott, membrane filtrasi dan tes provokasi DEC. Sensitivitas
bergantung pada volume darah yang diperiksa, waktu pengambilan dan
keahlian teknisi yang memeriksanya. Pemeriksaan ini tidak nyaman,
karena pengambilan darah harus dilakukan pada malam hari antara pukul
22.00-02.00 mengingat periodisitas mikrofilaria umumnya nokturna.
Spesimen yang diperlukan 50l darah dan untuk menegakan diagnosis
diperlukan 20 mikrofilaria/ml (Mf/ml).
Deteksi parasit dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Tehnik
ini digunakan untuk mendeteksi DNA W. bancrofti dan B. malayi. PCR
mempunyai sensitivitas yang tinggi yang dapat mendeteksi infeksi paten
pada semua individu yang terinfeksi, termasuk individu dengan infeksi
tersembunyi (amikrofilaremia atau individu dengan antigen +).21
Kekurangannya adalah diperlukan penanganan yang sangat hati-hati

21

untuk mencegah kontaminasi spesimen dan hasil positif palsu. Diperlukan


juga tenaga dan laboratorium khusus selain biaya yang mahal. 18,20
3.

Radiodiagnosis
Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan
kelenjar limfe inguinal penderita akan memberikan gambaran cacing
yang bergerak-gerak (filarial dance sign).
Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau
albumin yang dilabel dengan radioaktif akan menunjukkan adanya
abnormalitas

sistem

limfatik,

sekalipun

pada

penderita

yang

mikrofilaremia asimtomatik. 14,19


4.

Diagnosis Immunologi
Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten,
inkubasi, amikrofilaremia dengan gejala kronis, occult filariasis, maka
deteksi antibodi dan/atau antigen dengan cara immunodiagnosis
diharapkan dapat menunjang diagnosis.
Adanya antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan
mikrofilaremia, tidak membedakan infeksi dini dan infeksi lama. Deteksi
antigen merupakan deteksi metabolit, ekskresi dan sekresi parasit
tersebut, sehingga lebih mendekati diagnosis parasitologik. Gib 13,
antibodi monoklonal terhadap O. gibsoni menunjukkan korelasi yang
cukup baik dengan mikrofilaremia W. bancrofti di Papua New Guinea.
Peranan antibodi antifilaria subklas IgG4 pada infeksi aktif filarial
membantu dikembangkannya serodiagnostik berdasarkan antibodi kelas
ini. Pemeriksaan ini digunakan untuk pendatang yang tinggal didaerah
endemik atau pengunjung yang pulang dari daerah endemik. Pemeriksaan
ini tidak dapat membedakan infeksi parasit sebelumnya dan kini, selain
itu titer antibodi tidak menunjukkan korelasi dengan jumlah cacing dalam
tubuh penderita.20,21,22

5.

Deteksi Antigen

22

Pemeriksaan ini memberikan hasil yang sensitif dan spesies


spesifik dibandingkan dengan pemeriksaan makroskopis. Terdapat dua
cara yaitu dengan ELISA (enzyme-linked immunosorbent) dan ICT card
test (immunochromatographic). Hasil tes positif menunjukkan adanya
infeksi aktif dalam tubuh penderita, selain itu, tes ini dapat digunakan
juga untuk monitoring hasil pengobatan. Kekurangan pemeriksaan ini
adalah tidak sensitif untuk konfirmasi pasien yang diduga secara klinis
menderita filariasis. Tehnik ini juga hanya dapat digunakan untuk infeksi
filariasis bancrofti. Diperlukan keahlian dan laboratorium khusus untuk
tes ELISA sehingga sulit untuk di aplikasikan di lapangan. ICT adalah
tehnik imunokromatografik yang menggunakan antibodi monoklonal dan
poliklonal. Keuntungan dari ICT adalah invasif minimal (100 l), mudah
digunakan, tidak memerlukan teknisi khusus, hasil dapat langsung dibaca
dan murah. Sensitivitas ICT dibandingkan dengan pemeriksaan sediaan
hapus darah tebal adalah 100% dengan spesifisitas 96.3%.21,22,23
H. Diagnosa banding filariasis
Pasien yang datang dengan pitting edema, lihat apakah kurang dari 40
detik atau lebih dari 40 detik. Jika kurang dari 40 detik maka
hipoalbuminemia yang dapat disebabkan oleh penurunan sintesis protein atau
peningkatan

kehilangan

protein.

Jika

lebih

dari

40

detik

maka

normoalbuminemia yang dapat disebabkan oleh hipertensi vena dan


identifikasi apakah ada peningkatan tekanan vena leher. Jika ada maka
hipertensi vena sistemik (penyakit jantung) dan jika tidak maka insufisiensi
vena atau obstruksi.
Selain itu, perlu kita ketahui apakah edema unilateral atau bilateral. Jika
edema unilateral maka lihat apakah nonpitting dan nontender? Jika ya, maka
kemungkinan

adalah

limfedema,

obstruksi

oleh

filariasis,

infeksi

streptokokkus yang berulang, dan malignancy. Jika pitting dan tender, maka
kemungkinan adalah trombosis, kista Baker, dan akut selulitis.

23

Bilateral edema, perlu diketahui apakah nonpitting dan nontender? Jika


ya, maka kemungkinan adalah limfedema. Jika pitting dan tender,lihat apakah
cepat atau lambat. Jika lambat maka kemungkinan adalah oleh hipertensi vena
dan identifikasi apakah ada peningkatan tekanan vena leher. Jika ada maka
edema jantung. Jika tidak maka hipertensi vena atau oklusi. Jika cepat maka
apakah ada penurunan protein. Jika ada maka kemungkinan penurunan sintesis
protein atau peningkatan kehilangan protein.17
Selain itu, diagnosa banding dari filariasis adalah hernia inguinalis,
knobs, kiluria, pembesaran ekstremitas. Diagnosa banding untuk Tropical
Primary Eosinophyllia, lihat tabel di bawah. 24,25

Feature

TPE

Lofllers

Chronic

Allergic

syndrome

eosinophilic

aspergillosis

Wheezing
Systemic

often
often

Rare
Rare

pneumonia
often
often

often
often

syndrome
Eosinofil level

High

Moderate

Moderate to

high

IgE level
Filarial antibodies
DEC response

High
High
present

Moderate
?
?

high
?
Absent
Absent

high
Absent
Absent

Wheezing

Idiopathic

Drug

Other

Vasculitis

hypereosin allergy

helminthic

syndrome

Systemic

ofilia
Absent

Absent

infections
possible

Absent

syndrome
Eosinofil level
IgE level

Often
High

Often
Moderate to

Variable
Variable

often
Low

Low to

high
high

Moderate to

Low to

high

moderate

Filarial antibodies

moderate

24

DEC response
Absent
Absent
possible
Absent
Tabel 2. Diagnosis Banding TPE (Tropical Primary Eosinophyllia)
I. Penatalaksanaan Filariasis
Penatalaksanaan filariasis bergantung kepada keadaan klinis dan
beratnya penyakit.
1.

Asimptomatik atau subklinis


Pengobatan awal dengan anti-filaria pada pasien asimptomatik
sangat disarankan untuk mencegah kerusakan limfatik lebih lanjut.
Efektifitas terapi dapat di evaluasi dengan melakukan tes mikrofilaria 612 bulan setelah terapi.

2.

Stadium akut
Selama serangan akut pemberian DEC tidak di anjurkan, karena
diduga akan memperberat keadaan akibat matinya cacing dewasa. Terapi
supportif

harus

dilakukan

termasuk

istirahat,

kompres,

elevasi

ekstremitas yang terkena dan pemberian analgetik dan antipiretik. Pada


serangan akut ADLA pemberian antibiotik oral dapat dilakukan sewaktu
menunggu hasil kultur.
3.

Stadium kronik
Obat anti-filaria jarang digunakan untuk keadaan kronik tetapi
diberikan jika pasien terbukti menderita infeksi aktif, misalnya dengan
ditemukannya mikrofilaria, antigen mikrofilaria atau filarial dancing
sign. Kerusakan limfatik akibat filariasis bersifat permanen dan obat antifilaria tidak menyembuhkan keadaan limfedema, tetapi limfedema dapat
di tatalaksana dengan cara menghentikan serangan akut dan mencegah
keadaan menjadi berat/buruk. Terdapat 5 komponen dasar dalam
penatalaksanaan limfedema yang dapat dilakukan oleh pasien yaitu
kebersihan, pencegahan dan perawatan luka/entry lesion, latihan, elevasi
dan penggunaan sepatu yang sesuai. Komponen tambahan dalam
penatalaksanaan limfedema adalah penggunaan emolien, verban,
stocking, pijat, antibiotik profilaksis dan tindakan bedah. 26

25

Pemberian benzopyrenes, termasuk flavonoids dan coumarin dapat


menjadi terapi tambahan. Obat ini mengikat protein yang telah
terakumulasi sehingga menginduksi fagositosis makrofag menyebabkan
terpecahnya protein yang kemudian keluar kedalam vena dan dibuang
oleh sistem vascular.26
Dietilkarbamasin sitrat (DEC)
Dietilkarbamasin sitrat (DEC) merupakan obat filariasis yang ampuh,
baik untuk filariasis bancrofti maupun brugia, bersifat makrofilarisidal dan
mikrofilarisidal. Obat ini ampuh, aman dan murah, tidak ada resistensi obat,
tetapi memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara.
Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam, berupa sakit kepala, sakit pada
berbagai bagian tubuh, persendian, pusing, anoreksia, kelemahan, hematuria
transien, alergi, muntah dan serangan asma. Reaksi lokal dengan atau tanpa
demam, berupa limfadenitis, abses, ulserasi, limfedema transien, hidrokel,
funikulitis dan epididimitis. Reaksi samping sistemik terjadi beberapa jam
setelah dosis pertama, hilang spontan setelah 2-5 hari dan lebih sering terjadi
pada penderita mikrofilaremik. Reaksi samping lokal terjadi beberapa hari
setelah pemberian dosis pertama, hilang spontan setelah beberapa hari sampai
beberapa minggu dan sering ditemukan pada penderita dengan gejala klinis.
Reaksi sampingan ini dapat diatasi dengan obat simtomatik.
Reaksi samping ditemukan lebih berat pada pengobatan filariasis
brugia, sehingga dianjurkan untuk menurunkan dosis harian sampai dicapai
dosis total standar, atau diberikan tiap minggu atau tiap bulan. Karena reaksi
samping DEC sering menyebabkan penderita menghentikan pengobatan, maka
diharapkan dapat dikembangkan penggunaan obat lain (seperti Ivermectin)
yang tidak/kurang memberi efek samping sehingga lebih mudah diterima oleh
penderita.
DEC tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan diberikan
peroral sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak
dalam darah dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air kemih. DEC tidak

26

diberikan pada anak berumur kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, dan
penderita sakit berat atau dalam keadaan lemah.
Pada filariasis bancrofti, Dietilkarbamasin diberikan selama 12 hari
sebanyak 6 mg/kg berat badan, sedangkan untuk filariasis brugia diberikan 5
mg/kg berat badan selama 10 hari. Pada occult filariasis dipakai dosis 5 mg/kg
berat badan selama 23 minggu.
Pengobatan sangat baik hasilnya pada penderita dengan mikrofilaremia,
gejala akut, limfedema, chyluria dan elephantiasis dini. Sering diperlukan
pengobatan lebih dari 1 kali untuk mendapatkan penyembuhan sempurna.
Elephantiasis dan hidrokel memerlukan penanganan ahli bedah.
Dalam pelaksanaan pemberantasan dengan pengobatan menggunakan
DEC ada beberapa cara yaitu dosis standard, dosis bertahap dan dosis rendah.
Dianjurkan Puskesmas menggunakan dosis rendah yang mampu menurunkan
mf rate sampai < 1%. Pelaksanaan melalui peran serta masyarakat dengan
prinsip dasa wisma. Penduduk dengan usia kurang dari 2 tahun, hamil,
menyusui dan sakit berat ditunda pengobatannya. DEC diberikan setelah
makan dan dalam keadaan istirahat.25
1. Dosis standar
Dosis tunggal 5 mg/kg berat badan; untuk filariasis bancrofti
selama 15 hari, dan untuk filariasis brugia selama 10 hari.
2. Dosis bertahap
Dosis tunggal 1 tablet untuk usia lebih dari 10 tahun, dan 1/2 tablet
untuk usia kurang dari 10 tahun; disusul 5 mg/kg berat badan pada hari
5-12 untuk filariasis bancrofti dan pada hari 5-17 untuk filariasis brugia.
3. Dosis rendah
Dosis tunggal 1 tablet untuk usia lebih dari 10 tahun, 1/2 tablet
untuk usia < 10 tahun, seminggu sekali selama 40 minggu.
Pengobatan nonfarmakologis pada filariasis adalah istirahat di tempat
tidur, pengikatan di daerah pembendungan untuk mengurangi edema,
peninggian tungkai, perawatan kaki, pencucian dengan sabun dan air,
ekstremitas digerakkan secara teratur untuk melancarkan aliran, menjaga

27

kebersihan kuku, memakai alas kaki, mengobati luka kecil dengan krim
antiseptik atau antibiotik, dekompresi bedah, dan terapi nutrisi rendah lemak,
tinggi protein dan asupan cairan tinggi
Ivermectin
Ivermectin terbukti sangat efektif dalam menurunkan mikrofilaremia
pada filariasis bancrofti di sejumlah negara. Obat ini membunuh 96%
mikrofilaremia dan menurunkan produksi mikrofilaremia sebesar 82%. Obat
ini merupakan antibiotik semisintetik golongan makrolid yang berfungsi
sebagai agent mikrofilarisidal poten. Dosis tunggal 200-400g/kg dapat
menurunkan mikrofilaria dalam darah tepi untuk waktu 6-24 bulan. Dengan
dosis tunggal 200 atau 400l/kg dapat langsung membunuh mikrofilaremia
dan menurunkan produksi mikrofilaremia. 27
Albendazol
Obat ini digunakan untuk pengobatan cacing intestine selama bertahuntahun dan baru baru ini di coba digunakan sebagai anti-filaria. Dosis tunggal
albendazol tidak mempunyai efek terhadap mikrofilaremia. Albendazole
hanya mempunya sedikit efek untuk mikrofilaremia dan antigenaemia jika
digunakan sendiri. Dosis tunggal 400 mg di kombinasi dengan DEC atau
ivermectin efektif menghancurkan mikrofilaria.26
Tatalaksana berdasarkan Manifestasi Klinis yang ada:
Limfedema
Tindakan bedah pada limfedema bersifat paliatif, indikasi tindakan
bedah adalah jika tidak terdapat perbaikan dengan terapi konservatif,
limfedema sangat besar sehingga mengganggu aktivitas dan pekerjaan dan
menyebabkan tidak berhasilnya terapi konsevatif. Berbagai prosedur operasi
digunakan tetapi secara umum tidak memberikan hasil yang memuaskan.
Yang termasuk dalam prosedur ini adalah lymphangioplasty, lympho-venous
anastomosis dan eksisi (de-bulking) dari jaringan subkutan yang fibrotik.

28

Peranan tindakan pembedahan limfedema ekstremitas akibat filariasis sangat


terbatas.28
Hidrokel
Penatalaksanaan hidrokel adalah dengan pemberian obat anti-filaria,
perawatan dasar seperti kebersihan, dan tindakan bedah. Indikasi operasi pada
pasien dengan hidrokel adalah jika mengganggu pekerjaan, mengganggu
aktivitas seksual, mengganggu berkemih, dan memberi efek sosial terhadap
keluarga. Prosedur yang digunakan adalah dengan melakukan eksisi tunika
vaginalis sebanyak mungkin dan membalikkannya (Bergmann Wingklemann)
untuk hidrokel besar dan prosedur Lord untuk hidrokel kecil dimana dilakukan
pengecilan tunika vaginalis dengan merempel.27
Kiluria
Penatalaksanaan kiluria adalah istirahat, diet tinggi protein rendah
lemak, minum banyak (paling sedikit 2 gelas/jam selama BAK masih seperti
susu). Tindakan bedah masih kontroversi tetapi di anjurkan untuk kasus yang
berat. Prosedur yang digunakan adalah lympho-venous disconnection,
lymphangio-venous anastomosis, lymphnode-saphenous vein anastomosis.27
Tropical Pulmonary Eosinophillia
DEC adalah obat pilihan untuk TPE. Gejala pernapasan membaik secara
cepat setelah pemberian DEC. Pemberian DEC 21-28 hari menyebabkan
hilangnya microfilaria secara cepat dibandingkan dengan dosis tunggal 6
mg/kgBB, sehingga pemberian terapi lebih lama lebih disarankan.29,30
J. Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit
Tahun 1997, the World Health Assembly (WHA) mengajak anggota
WHO untuk mendukung program The Global Elimination of Lymphatic
Filariasis (GPELF) sebagai masalah kesehatan masyarakat. Tahun 2000 WHO
mulai menetapkan GPELF dan merekomendasikan semua penduduk yang

29

tinggal didaerah beresiko untuk di obati satu kali dalam satu tahun dengan dua
kombinasi obat dan diberikan dalam 4-6 tahun berturut-turut. Tiga obat antiparasit yang di sarankan adalah DEC, albendazol, ivermectin. Pencegahan
melawan infeksi filariasis juga dapat dilakukan secara individu dengan cara
menghindari terkenanya gigitan nyamuk. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
memakai kelambu dan menggunakan repellent, tetapi hal ini tidak bisa
diterapkan disemua wilayah.30
Pemberantasan filariasis ditujukan pada pemutusan rantai penularan,
dengan cara pengobatan untuk menurunkan morbiditas dan mengurangi
transmisi oleh vektor. Pemberantasan filariasis di Indonesia dilaksanakan oleh
Puskesmas dengan tujuan:
1. Menurunkan Acute Disease Rate (ADR) menjadi 0%
2. Menurunkan microfilarial (mf) rate menjadi < 5%
3. Mempertahankan Chronic Disease Rate (CDR)
Sasaran pemberantasan adalah daerah endemis lama yang potensial
masih ada penularan dan daerah endemis baru. Dengan prioritas sasaran
ditujukan pada:
1. Daerah endemis lama dengan mf rate > 5%

2. Daerah endemis lama dan baru yang merupakan daerah pembangunan,


transmigrasi, pariwisata dan perbatasan
Kegiatan pemberantasan meliputi pengobatan, pemberantasan nyamuk
dan penyuluhan. Pengobatan merupakan kegiatan utama dalam pemberantasan
filariasis, yang akan menurunkan ADR dan mf rate.
Di

suatu

daerah

yang

diperkirakan

endemik

filariasis,

perlu

diselenggarakan suatu surveilans epidemiologis. Pada daerah tersebut 10%


dari penduduknya perlu diperiksa untuk menentukan Acute Disease Rate dan
mf rate. Pengobatan massal dilakukan bila ADR > 0%, dan mf rate > 5%;
sedangkan pengobatan selektif dilakukan bila ADR = 0%, dan mf rate < 5%.
Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu
dilaksanakan sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk
menunjang penanggulangan filariasis.

30

Sasaran penyuluhan adalah penderita filariasis beserta keluarga dan


seluruh penduduk daerah endemis, dengan harapan bahwa penderita dengan
gejala klinik filariasis segera memeriksakan diri ke Puskesmas, bersedia
diperiksa darah kapiler jari dan minum obat DEC secara lengkap dan teratur
serta menghindarkan diri dari gigitan nyamuk. 30
Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas:
1. Pemberantasan nyamuk dewasa
a. Anopheles : residual indoor spraying
b. Aedes : aerial spraying

2. Pemberantasan jentik nyamuk


a. Anopheles : Abate 1%
b. Culex : minyak tanah
c. Mansonia : melenyapkan tanaman air tempat perindukan,
mengeringkan rawa dan saluran air
3. Mencegah gigitan nyamuk
a. Menggunakan kawat nyamuk/kelambu
b. Menggunakan repellent

Evaluasi hasil pemberantasan dilakukan setelah 5 tahun, dengan


melakukan pemeriksaan vektor dan pemeriksaan darah tepi untuk deteksi
mikrofilaria. 3,30
K. Prognosis filariasis
Pada kasus kasus dini dan sedang, prognosis baik terutama bila pasien
pindah dari daerah endemik. Pengawasan daerah endemik tersebut dapat
dilakukan dengan pemberian obat, serta pemberantasan vektornya. Pada kasus
kasus lanjut terutama dengan edema tungkai, prognosis lebih buruk. 30

31

BAB III
PENUTUP

Filariasis adalah kelompok penyakit yang mengenai manusia dan binatang


yang disebabkan oleh parasit kelompok nematode yang disebut filaridae,
umumnya disebut filaria. Filariasis limfatik merupakan penyebab utama dari
kecacatan didaerah endemik sehingga merupakan masalah kesehatan masyarakat
utama.
Penyakit ini tidak dijumpai lagi di Amerika Utara, Australia, Jepang, dan di
beberapa negara termasuk China. Sampai saat ini Filariasis masih merupakan
problem kesehatan di Indonesia, distribusi infeksinya luas tetapi prevalensi dan
intensitas infeksi berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain, bahkan di
beberapa daerah merupakan endemis.
Di Indonesia, filariasis merupakan penyakit menular yang masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat. Pada beberapa tahun belakangan terjadi
peningkatan kasus limfatik filariasis di daerah perkotaan (urban lymphatic
filariasis) yang disebabkan oleh peningkatan populasi penderita di per-kotaan
akibat urbanisasi dan tersedianya vektor di daerah tersebut.
Di daerah endemis biasanya banyak terdapat tempat berkembang biaknya
nyamuk yang berdekatan dengan habitat manusia, sehingga manusia dapat
berulang kali digigit oleh nyamuk dan infeksi terjadi secara bertahap, namun
demukian tidak berarti dapat selalu menyebabkan gejala klinik.
Tahun 1997, the World Health Assembly (WHA) mengajak anggota WHO
untuk mendukung program The Global Elimination of Lymphatic Filariasis
(GPELF) sebagai masalah kesehatan masyarakat. Tiga obat anti-parasit yang di
sarankan adalah DEC, albendazol, ivermectin. Pencegahan melawan infeksi
filariasis juga dapat dilakukan secara individu dengan cara menghindari
terkenanya gigitan nyamuk. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memakai
kelambu dan menggunakan repellent, tetapi hal ini tidak bisa diterapkan disemua
wilayah.

32

Pemberantasan filariasis ditujukan pada pemutusan rantai penularan, dengan


cara pengobatan untuk menurunkan morbiditas dan mengurangi transmisi oleh
vektor. Pemberantasan filariasis di Indonesia dilaksanakan oleh Puskesmas
dengan daerah sasaran utama adalah daerah endemik.

33

DAFTAR PUSTAKA

1. Chandy A, Thakur AS, Singh MP, Manigauha A. 2011. A review of


neglected tropical diseases: filariasis. Asian Pacific Journal of Tropical
Medicine; 581-586
2. Salim N, Knopp, S. 2015. Distribution and Risk Factors for Plasmodium
and Helminth Co-infections: A Cross-Sectional Survey among Children in
Bagamoyo District, Coastal Region of Tanzania. PLOS, Neglected
Tropical Diseases | DOI:10.1371/journal.pntd.0003660
3. Malhotra I. McKibben M. 2015. Effect of Antenatal Parasitic Infections on
Anti-vaccine IgG Levels in Children: A Prospective Birth Cohort Study in
Kenya. PLOS, Neglected Tropical Diseases| DOI:10.1371/journal.
pntd.0003466
4. Bal M, Sahu PK, Mandal N. 2015. Maternal Infection Is a Risk Factor for
Early Childhood Infection in Filariasis. PLOS, Neglected Tropical
Diseases | DOI:10.1371/journal.pntd.0003955
5. Mwakitalu ME, et al. 2013. Urban Lymphatic Filariasis in The City of
Tanga, Tanzania, After Seven Rounds of Mass Drug Administration. Acta
Tropica; 128: 692 700.
6. Reimer LJ, et al. 2013. Insectisidal Bed Nets and Filariasis Transmission
in Papua New Guinea. The New England Journal of Medicine; 369 : 8.
7. Rabollo MP, et al. 2015. Elimination of Lymphatic Filariasis in The
Gambia.

PLOS,

Neglected

Tropical

Diseases

DOI:10.1371/

journal.pntd.0003642
8. Menzies SK, et al. 2014. Risk Factor for Soil-Transmitted Helminth
Infections during The First 3 Years of Life in The Tropics; Findings from a
Birth Cohort. PLOS, Neglected Tropical Diseases | DOI:10.1371/
journal.pntd.0002718
9. Hamlin KL, et al. 2015. Longitudinal Monitoring of The Development of
Antifilarial Antibodies and Acquisition of Wuchereria brancofti in Highly
Endeic

Area

of

Haiti.

PLOS,

Neglected

Tropical

Diseases

DOI:10.1371/journal.pntd.000191411

34

10. Coulibaly YI, Dicko I. 2013. A Cluster Randomized Study of The Safety
of Integrated Treatment of Trachoma and Lymphatic Filariasis in Children
and Adults in Sikasso, Mali. PLOS, Neglected Tropical Diseases |
DOI:10.1371/journal.pntd.0002221
11. Aguiar-Santos AM, Medeiros Z, Bonfim C, Rocha AC, Brando E,
Miranda T, Oliveira P, Sarinho ESC. Epidemiological assessment of
neglected diseases in children: lymphatic filariasis and soil-transmitted
helminthiasis. Journal de Pediatria; 89(3): 250-255.
12. Kadam PN, Rathod KG, Chavan YH, Panchamhalkar AC, Deepa BH.
2013. Isolated left supraclavicular lymphadenopathy A rare presentation
of lymphatic filariasis in children. Journal of Evolution of Medical and
Dental Sciences; 2(29): 5426-5430.
13. Nana-Djeunga, et al. 2015. Mapping of Bancroftian Filariasis in
Cameroon: Prospects for Elimination. PLOS, Neglected Tropical Diseases
| DOI:10.1371/journal.pntd.0004001
14. Okorie PN, et al. 2013. Lymphatic Filariasis in Nigeria; Microstratification Overlap Mapping (MOM) as a Prerequisite for CostEffective Resource Utilization in Control and Surveillance. PLOS,
Neglected Tropical Diseases | DOI:10.1371/journal.pntd.0002416
15. Dolo H, Coulibaly YI, Dembele B, Konate S, Coulibaly SY, Doumbia SS,
Diallo AA, Soumaoro L, Coulibaly ME, Diakite SAS, Guindo A, Fay MP,
Metenou S, Nutman TB, Klion AD. 2012. Filariasis Attenuates Anemia
and Proinflammatory Responses Associated with Clinical Malaria: A
Matched Prospective Study in Children and Young Adults. PLOS
Neglected Tropical Diseases; 6(11): 1-9.
16. Robinson T. et al . 2015 . Deworming drugs for soil transmittedintestinal
worms in children : effects on nutritional indication, haemoglobin, and
school performance (review). The Cochrane Library : Issue 7
17. Sari MP. 2014. Filariasis pada anak. Jurnal Kedokteran Meditek; 20(54):
34-39.
18. Abudu A, Gbedemah S, Wemegah DD, Tay SCK. 2015. Wuchereria
bancrofti antigenaemia among school children: a case study of four
communities in the Kassena-Nankana east district of the upper east region

35

of Ghana. International Journal of Medicine and Medical Sciences; 7(3):


67-74.
19. Moss DM, Priest JW, Boyd A, Weinkopff T, Kucerova Z, Beach MJ,
Lammie PJ. 2011. Multiplex Bead Assay for Serum Samples from
Children in Haiti Enrolled in a Drug Study for the Treatment of Lymphatic
Filariasis. Am. J. Trop. Med. Hyg; 85(2): 229237.
20. Rajamanickam A, Babu A. 2013. Immunomodulation by filarial parasites.
International Trends in Immunity; 1(4): 12-20.
21. Dome M, Ansumana R, Covington AL, Rebollo MP, Sesay S, Jacobsen
KH, DeSouza DK, Koudou BG, Michael E, Bockarie MJ. 2014.
Lymphedema in a 7-year-old boy infected with Wuchereria bancroftiin
Sierra Leone: A case report. Acta Tropica; 134: 1316.
22. Parihar RS, Duggal S, Khatri PK, Rathore SS, Meena S, Dhoundyal R.
2015. Atypical Presentation of Cervical Lymphadenopathy in a Case of
Lymphatic Filariasis. International Journal of Scientific and Research
Publications, 5(6): 1-4.
23. Coulibaly YI, Dicko I, Keita M, Keita MM, Doumbia M, Daou A, Haidara
FC, Sankare MH, Horton J, Whately-Smith C, Sow SO. 2013. A Cluster
Randomized Study of The Safety of Integrated Treatment of Trachoma and
Lymphatic Filariasis in Children and Adults in Sikasso, Mali. PLOS
Neglected Tropical Diseases; 7(5): 1-15.
24. Dhameja N, Bhatia BD. 2014. Images in Clinical Tropical Medicine
Filariasis Presenting as Massive Diffuse Cervical Swelling in Child. Am.
J. Trop. Med. Hyg; 90(1): 5.
25. Jindal A, Sukheeja D, Midya M. 2014. Cervical lymphadenopathy in a
child an usual presentation of filariasis.International Journal of Scientific
and Research Publications; 4(8): 1-3.
26. Kumar K, Kader AM, Kolandasamy K, Vadivelan P, Saravanan S,
Kumarasamy P, Muthukumaravel K. 2015. Prevalance of occult filariasis
among patients attending the outpatient department of Raja Mirasudar
Hospital, Thanjavur, Tamilnadu, India. International Journal of Recent
Scientific Research; 6(6): 4437-4439.

36

27. Bolaji OS, Uthman-Izobo SO, Ojurongbe O, Opaleye OO, Adeyeba OA.
2014. Filariasis among asymptomatic blood donors in general hospital,
Odan Marina-Lagos, Nigeria. International Journal of Research in
Applied Natural and Social Sciences; 2(6): 177-182.
28. Karikalan B, paulson S. 2015. Two cases of lymphatic filariasis.
International Journal of Innovative and Applied Research; 3(8): 10- 12.
29. Oliveira P, Braga C, Alexander N, Brando E, Silva A, Wanderley L,
Aguiar AM, Diniz G, Medeiros Z, Rocha A. 2014. Evaluation of
diagnostic tests for Wuchereria bancrofti infection in Brazilian
schoolchildren. Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical;
47(3): 359-366.
30. Sarojini S, Senthilkumaar P. 2013. Haematological studies of lymphatic
filariae, Wuchereria bancrofti affected patients in Arakkonam area, Tamil
Nadu, India. European Journal of Experimental Biology; 3(2): 194-200.

37

Anda mungkin juga menyukai